Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN: 2548-1398

Vol. 5, No. 8, Agustus 2020

 

ANALISIS PERSPEKTIF KEUANGAN, PELANGGAN, PROSES BISNIS DAN PERTUMBUHAN TERHADAP KINERJA ORGANISASI PADA YAYASAN ACT JAKARTA

 

Pri Pantjaningsih

Fakultas Ekonomi STIE Manajemen Bisnis Indonesia Jakarta

Email: pripantjaningsih318@gmail.com

 

Abstract

This study aims to obtain in-depth information on the application of financial, customer, internal business, and growth perspectives in assessing organizational performance and to obtain how much from the results of data processing each perspective can assess organizational performance. This research uses a descriptive quantitative analysis method. The results of this study: (1) The financial perspective of the Aksi Cepat Tanggap Foundation is generally categorized as good (2) The overall consumer perspective can be categorized as good. (3) The perspective of internal business processes as a whole is categorized as good (4) The perspective of growth and performance learning at the Aksi Cepat Tanggap Foundation can be categorized as good. The results of this study that the performance assessment using the perspective of finance, customers, internal business, and learning & growth of the Balanced Scorecard method can be concluded that the better for each year.

 

Keywords: Balanced Scorecard; performance assessment; foundation

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi secara mendalam terhadap penerapan perspektif keuangan, pelanggan, bisnis internal dan pertumbuhan dalam menilai kinerja organisasi serta memperoleh seberapa besar dari hasil olahan data masing masing-masing perspektif dapat menilai kinerja organisasi. Penelitian menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini: (1) Perspektif keuangan Yayasan Aksi Cepat Tanggap secara umum dikategorikan baik (2) Perspektif konsumen secara keseluruhan dapat dikategorikan baik. (3) Perspektif proses bisnis internal secara keseluruhan dikategorikan baik (4) Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran kinerja Yayasan Aksi Cepat Tanggap dapat dikategorikan baik. Hasil dari penelitian ini bahwa penilaian kinerja dengan menggunakan perspektif keuangan, pelanggan, bisnis internal dan pembelajaran & pertumbuhan metode Balanced Scorecard dapat disimpulkan semakin baik untuk setiap tahunnya.

 

Kata kunci: Balanced Scorecard; penilaian kinerja; yayasan

 

 

 

Pendahuluan

Salah satu organisasi nirlaba profesional yang memfokuskan kerja-kerja kemanusiaan pada penanggulangan bencana mulai fase darurat sampai dengan fase pemulihan paska bencana yakni Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Pada umumnya sumber dana yang digunakan untuk menjalankan kegiatan organisasi ACT yakni donasi yang berasal dari sumbangan atau donatur dari orang-orang yang ingin membantu sesamanya. Donasi tersebut dapat berupa dana kemanusiaan atau sosial, sedekah dan wakaf (Setianto, 2020).

Berdasarkan hasil penelitian yang  diselenggarakan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Ford Foundation tentang potensi zakat, infaq dan shadaqah belum termasuk Wakaf (selanjutnya disingkat ZISWaf) disimpulkan bahwa potensi ZIS diluar Wakaf di Indonesia sebesar 19,3 triliun. Penelitian dengan topik yang sama diselenggarakan oleh PIRAC mencatat bahwa potensi dana ZISWaf sebesar 20 triliun. (https://www.rumahzakat.org/dahsyatnya-potensi-ziswaf-di-indonesia/). Dengan begitu besarnya potensi dana publik yakni ZISWaf maka dibutuhkan lembaga pengelola dana publik ZISWaf professional yang mampu mengahadapi persaingan bisnis.

ACT merupakan salah satu lembaga pengelola dana publik, begitu besar potensi dana publik maka dibutuhkan suatu pengukuran kinerja setiap periode. Kinerja dalam suatu periode tertentu dapat dijadikan acuan untuk mengukur tingkat keberhasilan organisasi. Oleh Karena itu, sistem kinerja yang sesuai dan cocok untuk organisasi sangat diperlukan agar suatu organisasi mampu bersaing dan berkembang.

Dari hasil uraian tersebut, dapat diartikan penelitian ini bertujuan agar dapat memperoleh hasil kinerja ACT pada suatu periode tertentu sebagai alat ukur untuk mengukur tingkat keberhasilan. Dan penelitian ini juga bermanfaat bagi donatur dan juga masyarakat agar dapat digunakan sebagai alat control ataupun evaluasi pada kinerja Lembaga ACT, serta bagi ilmu pengetahuan dapat dijadikan tolak ukur sebagai ukuran di periode tertentu.

Pengukuran kinerja menjadi salah satu faktor yang sangat penting bagi organisasi. Sistem pengukuran kinerja dapat menjadi alat pengendalian organisasi karena pengukuran kinerja dibuat dengan menetapkan reward dan punishment system. Sistem pengukuran kinerja tradisional merupakan salah satu cara yang umumnya digunakan oleh manajemen tradisional untuk mengukur kinerja (Pramadhany & Rahardjo, 2011). Pengukuran kinerja secara tradisonal lebih menekankan kepada aspek keuangan, Karena lebih mudah diterapkan sehingga tolok ukur kinerja perusahaan diukur berkaitan dengan aspek keuangan saja. Sistem ini lazim dilakukan dan mempunyai beberapa kelebihan, akan tetapi karena hanya mentikberatkan pada aspek keuangan tentunya menimbulkan adanya kelemahan.

Ukuran kinerja yang baik tidak hanya mampu meningkatkan kinerja organisasi namun juga membawa perubahan positif dalam memenuhi harapan publik atas pelayanan yang diberikan (Fitriyani, 2014). Untuk meningkatkan kinerja organisasi, maka diperlukan suatu sistem berbasis kinerja, kinerja yang baik harus mempunyai sistem pengukuran kinerja yang andal dan berkualitas, sehingga diperlukan penggunaan ukuran kinerja yang tidak hanya mengandalkan aspek keuangan saja tetapi juga memperhatikan aspek-aspek non-keuangan. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam peningkatan kinerja perusahaan di antaranya peningkatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan kualitas pelayanan yang diberikan, peningkatan kualitas manajemen dan peningkatan efisiensi (Nurhayati, 2018). Indikator  perusahaan  telah  mencapai  tujuan,  visi  dan  misi  biasanya dapat  dilihat  dari  hasil  kinerja  dan  nilai  pasar  perusahaan (Wijaya, 2012).

Balanced Scorecard merupakan alat untuk mengimplementasikan strategi, selain itu dapat menyelaraskan berbagai fungsi (divisi, departemen, seksi) agar segala keputusan dan kegiatannya di dalam masing-masing fungsi tersebut dapat dimobilisasikan untuk mencapai tujuan perusahaan. Tujuan dan tolak ukur dikembangkan untuk setiap 4 (empat) perspektif yaitu: perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses usaha dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (Alimudin, 2017).  Balanced scorecard digunakan untuk membantu perusahaan dalam merumuskan dan merencanakan strategi yang tepat untuk mengembangkan usaha tersebut dengan tidak melupakan kapasitas dari perusahaan itu sendiri (Aulia & Ikhwana, 2012).

Tabel 1 Operasional Variabel

Variabel

Dimensi

Indikator

Skala

Variabel (X) Perspektif Keuangan : rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan dengan rumus rasio efektivitas metode value for money (Hadiyati, 2014).

Realisasi perolehan donasi 2016-2018 Target penerimaan donasi 2016-2018

Rasio Efektivitas per tahun: Realisasi Penerimaan donasi x 100% Target penerimaan donasi

Rasio

Perspektif pelanggan: rasio yang digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan terhadap pelayanan organisasi (Hadiyati, 2014).

Rasio Akuisisi donatur 2016-2018

Rasio akuisisi donatur : jumlah donatur baru X 100% total donatur

Rasio

Rasio retensi donatur 2016-2018

Rasio retensi donatur: jumlah donatur lama dalam 1 periode  x 100% total jumlah donatur

Rasio

Tingkat Kepuasan donatur 2018

a. Wujud fisik

Likert

b. Keandalan

c. Daya tanggap

d. Jaminan

e. Empati

Perspektif Bisnis internal: perspektif yang digunakan untuk mengukur keunggulan organisasi melalui perbaikan proses internal organisasi.

Rasio Retensisi karyawan 2016-2018

Rasio retensisi karyawan: jumlah karyawan keluar per periode x 100% jumlah total

Rasio

Rasio Produktivitas karyawan 2016-2018

Rasio produktivitas karyawan: peningkatan penerimaan donasi x 100% jumlah total karyawan

Rasio

Tingkat keberhasilan organisasi dalam melakukan perbaikan dan menambah nilai bagi pelanggan dan stakeholders

a. Motivasi

Likert

b. Kesempatan mengembangkan diri

Likert

c. Inovasi

Likert

d. Suasana dalam bekerja

Likert

Variabel (Y) Kinerja : Kinerja merupakan hasil dari evaluasi terhadap pekerjaan yang telah selesai dilakukan, hasil dari pekerjaan tersebut dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan bersama. Pengukuran kinerja organisasi dapat dilakukan dengan penggunakan laporan internal data organisasi dan penyebaran quesioner sebagai dasar untuk melakukan pengukuran kinerja.

Herwanto (2018)

Rasio Efektivitas

Laporan hasil penilaian kinerja organisasi berdasarkan perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif bisnis internal dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran

Rasio

Rasio Akuisisi donatur

Rasio

Rasio retensi donatur

Rasio

Tingkat kepuasan donatur dan penerima

Likert

Rasio inovasi

Rasio

Rasio proses operasi

Rasio

Rasio Retensisi karyawan

Rasio

Rasio produktivitas karyawan

Rasio

Tingkat kepuasan karyawan

Likert

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1 Model Penelitian

Hipotesis

H0  :  Diduga perspektif keuangan, pelanggan, bisnis internal dan pertumbuhan & pembelajaran tidak dapat menilai kinerja organisasi

H1  :  Diduga perspektif keuangan dalam metode Balanced Scorecard dapat menilai kinerja organisasi

H2  :  Diduga perspektif pelanggan dalam metode Balanced Scorecard dapat menilai kinerja organisasi

H3  :  Diduga perspektif bisnis internal dalam metode Balanced Scorecard dapat menilai kinerja organisasi

H4  :  Diduga perspektif pertumbuhan dan pembelajaran dalam metode Balanced Scorecard dapat menilai kinerja organisasi

H5  : Diduga hasil olahan data terhadap penerapan perspektif keuangan, pelanggan, bisnis internal dan pertumbuhan dapat menilai kinerja organisasi.

 

 

 

Metode Penelitian

Sebelum dilakukan perhitungan dan pengolahan dengan menggunakan alat analisis, maka semua instrumen penelitian diuji terlebih dahulu untuk mengetahui apakah instrumen tersebut valid dan reliabel. Pengujian instrumen dilakukan dengan menggunakan :

1.        Uji Validitas

2.        Reliabilitas

Analisis data yang digunakan dengan cara mengukur masing-masing perspektif yang terdiri dari perspektif keuangan, bisnis internal, penggan serta pertumbuhan. Dalam penelitian ini analisis data yang dilakukan untuk mengetahui penilaian kinerja dengan menggunakan Balanced Scorecard, yakni dengan tahapan:

a.       Mengukur kinerja dari perspektif keuangan

Rumus = Realisasi Perolehan donasi x 100%

                  Target Penerimaan donasi

b.      Mengukur kinerja dari perspektif pelanggan

c.       Kemampuan Pemerolehan Donatur (Akuisisi Donatur):

Mengukur tingkat kemampuan lembaga dalam mendapatkan pelanggan (donatur) baru (Pramadhany & Rahardjo, 2011).

Rumus = Jumlah Donatur baru x 100%

                        Total Donatur

d.      Kemampuan Mempertahankan Donatur (Retensisi Donatur):

Mengukur tingkat dimana lembaga dapat mempertahankan hubungan dengan pelanggan dalam hal ini donatur (Pramadhany & Rahardjo, 2011)

Rumus = Jumlah Donatur non aktif dalam 1 periode x 100%

                                                Total jumlah Donatur

e.       Tingkat kepuasan Donatur

IKK=PP
        Dimana:

            IKK     = indeks kepuasan karyawan

            PP        = perceived performance

IK Maks   = R x PP x EX maks

IK Min                 = R x PP x EX min

Interval     = (IK maks – IK min)

Dimana:

PP             = Banyak pertanyaan

R              = Jumlah Responden

EX min     = skor minimal yang diberikan

EX maks   = skor maksimal yang diberikan

f.        Mengukur kinerja dari perspektif bisnis internal

1)      Inovasi,

Inovasi =       Jumlah perolehan program baru x 100%

                                                     Target program baru

2)      Proses Operasi,

Operasi = Jumlah pendapatan programx 100%

                                                     Target program

g.      Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan

Adapun pengukurannya sebagai berikut:

1)      Retensi Karyawan

Rumus = Jumlah karyawan keluar per periode x 100%

                                    Jumlah total karyawan

2)      Produktivitas Karyawan

Rumus = Peningkatan penerimaan donasi x 100%

                                            Jumlah total karyawan

3)      Peningkatan kepuasan karyawan, sebagai berikut:

IKK=PP

Dimana :

            IKK     = indeks kepuasan karyawan

            PP        = perceived performance

IK Maks                      = R x PP x EX maks

IK Min                         = R x PP x EX min

Interval                        = (IK maks – IK min)

Dimana:

PP                                = Banyak pertanyaan

R                                  = Jumlah Responden

EX min                        = skor minimal yang diberikan

EX maks                      = skor maksimal yang diberikan

5.     Penilaian Kinerja Berdasarkan Balanced Scorecard

 

Tabel 2 Rating Scale

Rating Scale Skor

Nilai

-1

Kurang

0

Cukup

1

Baik

                                  Sumber: (Radithya & Tin, 2011)

 

Setelah menentukan rating scale, selanjutnya adalah membuat ukuran kinerja berisi indikator-indikator yang akan digunakan sebagai dasar pemberian skor. Ukuran kinerja dapat dilihat pada tabel berikut ini:

 

 

 

 

 

 

Tabel 3 Ukuran Kinerja

Perspektif

Sasaran Strategik

Ukuran

Skor

 

 

Hasil

Pemacu Kinerja

 

Keuangan

Rasio Ekonomi Rasio Efisiensi Rasio Efektivitas

Penurunan biaya Pertumbuhan Pendapatan Peningkatan efisiensi

Keuangan

Revenue mix Cycle effectiveness

1

1

1

 

Pelanggan

Meningkatnya kepercayaan pelanggan

Kepuasan Pelanggan Retensi dan Akuisisi Pelanggan Profitabilitas Pelanggan

a. Bertambahnya custumer baru

b.Depth of relationship

c.Berkurangnya keluhan

1

1

1

Bisnis Internal

Meningkatnya

proses layanan kepada donator

Inovasi

Tingkat pelayanan

Efisiensi Pelayanan

1

1

 

Pembelajaran dan Pertumbuhan

Meningkatnya kapabilitas karyawan Meningkatnya

komitmen karyawan

Retensi dan Kepuasan Karyawan Pelatihan Karyawan

a.Karyawan keluar berkurang

b.Karyawan mengikuti

latihan

1

 

 

1

 

1

TOTAL

10

Sumber : (Radithya & Tin, 2011)

 

Hasil dan Pembahasan

A.    Hasil Penelitian

  1. Uji Instrumen

a.       Uji Validitas perspektif pelanggan

Untuk persepektif pelanggan terdiri dari 15 butir pertanyaan dan pengujian di lakukan terhadap 104 responden.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4 Hasil Pengujian Validitas Kuesioner Kepuasan Pelanggan

Item

N=104

Hitung

(r)

Tabel (r) = 0.195

Signifikan = 0.05

dk = n-2

Hasil

1

0.732

0.195

Valid

2

0.732

0.195

Valid

3

0.549

0.195

Valid

4

0.613

0.195

Valid

5

0.502

0.195

Valid

6

0.465

0.195

Valid

7

0.668

0.195

Valid

8

0.365

0.195

Valid

9

0.521

0.195

Valid

10

0.531

0.195

Valid

11

0.815

0.195

Valid

12

0.488

0.195

Valid

13

0.687

0.195

Valid

14

0.736

0.195

Valid

15

0.705

0.195

Valid

Sumber: Data diolah 2020

Hasil uji validitas: r hitung > r tabel yaitu 0.195 (α = 0.05) Dari hasil uji validitas pada table 4.8 dapat dilihat bahwa semua pertanyaan valid, terlihat dari r hitung lebih besar dari r tabel, jadi dapat diartikan bahwa pertanyaan mampu mengungkapkan sesuatu yang di ukur oleh kuesioner.

b.      Uji Validitas perspektif bisnis internal

Untuk persepektif bisnis internal  terdiri dari 9 butir pertanyaan dan pengujian di lakukan terhadap 218 responden.

Tabel 5 Hasil Pengujian Validitas bisnis internal

Item

N=218

Hitung

(r)

Tabel (r) = 0.138

Signifikan = 0.05

dk = n-2

Hasil

1

0.702

0.138

Valid

2

0.642

0.138

Valid

3

0.264

0.138

Valid

4

0.593

0.138

Valid

5

0.654

0.138

Valid

6

0.695

0.138

Valid

7

0.539

0.138

Valid

8

0.619

0.138

Valid

9

0.582

0.138

Valid

         Sumber: Data diolah 2020

Hasil uji validitas: r hitung > r tabel yaitu 0.138 (α = 0.05), Dari hasil uji validitas pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa semua pertanyaan valid, terlihat dari r hitung lebih besar dari r tabel, jadi dapat diartikan bahwa pertanyaan mampu mengungkapkan sesuatu yang di ukur oleh kuesioner.

c.       Uji Validitas perspektif pembelajaran dan pertumbuhan

Untuk persepektif pembelajaran dan pertumbuhan  terdiri dari 8 butir pertanyaan dan pengujian di lakukan terhadap 218 responden.

 

Tabel 6 Hasil Pengujian Validitas Persepektif Pembelajaran dan pertumbuhan

Item  N=218

Hitung (r)

Tabel (r) = 0.138  Signifikan = 0.05  

dk = n-2

Hasil

1

0.647

0.138

Valid

2

0.724

0.138

Valid

3

0.937

0.138

Valid

4

0.844

0.138

Valid

5

0.882

0.138

Valid

6

0.843

0.138

Valid

7

0.875

0.138

Valid

8

0.628

0.138

Valid

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Data diolah 2020

Hasil uji validitas: r hitung > r tabel yaitu 0.138 (α = 0.05), Dari hasil uji validitas Tabel 6 dapat dilihat bahwa semua pertanyaan valid, terlihat dari r hitung lebih besar dari r tabel, jadi dapat diartikan bahwa pertanyaan mampu mengungkapkan sesuatu yang di ukur oleh kuesioner.

  1. Reliabilitas

Pengujian reabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana suatu alat ukur dapat di percaya atau dapat di andalkan. Reliabilitas suatu konstruk variabel dikatakan baik jika memiliki nilai Cronbanch’s Alpha lebih dari 0.700 (Ghozali & Latan, 2015).

Tabel 7 Hasil Uji Reliabilitas

No

Persepektif

Cronbanch’s

Hasil

Alpha

1

Pelanggan

0.912

Reliabel

2

Bisnis Internal

0,814

Reliabel

3

Pembelajaran dan pertumbuhan

0,782

Reliabel

   Sumber : Data diolah 2020

 

  1. Perspektif Keuangan

Rasio Efektivitas

Efektivitas berkenaan dengan  apakah  suatu  alternatif mencapai  hasil (akibat) yang diharapkan, atau mencapai tujuan dari diadakan tindakan.Sehingga ukuran efektivitas dapat diartikan sebagai suatu standar akan terpenuhinya mengenai sasaran dan tujuan yang akan dicapai.

Rasio Efektivitas = Realisasi perolehan donasi x 100% 

Target perolehan donasi

 

Tabel 8 Rasio Efektivitas Aksi Cepat Tanggap

Tahun

Realisasi Perolehan

Target Perolehan

Rasio

 

Donasi

Donasi

Efektivitas

2016

Rp.146.000.000.000

186.000.000.000

78,80%

2017

Rp.308.000.000.000

300.000.000.000

102,70%

2018

Rp.616.000.000.000

664.000.000.000

92,98%

 

 

 

 

 

 

Sumber: Laporan Keuangan Aksi Cepat Tanggap

Berdasarkan Tabel 8 diatas menunjukkan bahwa, realisasi pendapatan memang menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan Aksi Cepat Tanggap terus meningkatkan baik kualitas maupun kuantitas dari program yang ditawarkan agar dapat semakin menarik minat masyarakat untuk berdonasi ke Aksi Cepat Tanggap.

  1. Perspektif Pelanggan

a.       Kemampuan Pemerolehan Donatur (Akuisisi Donatur), dengan rumus sebagai berikut:

Akuisisi Donatur = Jumlah Donatur Baru x 100%

Total Donatur

Tabel 9 Akuisisi Donatur Baru

Tahun

Donatur Baru

Jumlah Donatur

Akuisisi

2016

46.799

150.598

31,07%

2017

68.740

219.338

31,33%

2018

80.903

300,241

26,94%

Sumber : Data donatur Aksi Cepat Tanggap

Tabel 9 menunjukkan bahwa Aksi Cepat Tanggap pada tahun 2016-2018 selalu ada pertambahan donatur baru dari tahun ke tahun. Dari tahun 2016 ke tahun 2017 jumlah donatur baru yang bertambah ada 219.338 donatur. Dari tahun 2017 ke tahun 2018 jumlah donatur baru yang bertambah ada 300.241 donatur.

b.      Kemampuan mempertahankan Donatur (Retensi Donatur)

Retensi Donatur = Jumlah Donatur Lama dalam 1 periode x 100%

  Total Jumlah Donatur

Tabel 10 Retensi Donatur Aksi Cepat Tangap

Tahun

Donatur Lama

Jumlah Donatur

Retensi Donatur

2016

64.668

150.598

42,94%

2017

92.379

219.338

42,11%

2018

80.873

300,241

26,93%

Sumber : Data Donatur Aksi Cepat Tangap

Tabel 10 menunjukkan bahwa Aksi Cepat Tanggap pada tahun 2017 mengalami peningkatan jumlah donatur lama, dan mengalami penurunan di tahun 2018. Dari tahun 2016 ke tahun 2017 jumlah donatur lama  meningkat sejumlah 27.711 donatur. Dari tahun 2017 ke tahun 2018 jumlah donatur lama menurun sejumlah 11.506 donatur.

 

c.       Tingkat Kepuasan Donatur

Analisis tingkat kepuasan donatur Aksi Cepat Tanggap

Tabel 11 Hasil kuesioner tingkat kepuasan donatur

Indikator

Pernyataan kuesioner

Jumlah responden

SS

S

R

TS

STS

Wujud fisik

1.Ruang tunggu pelayanan kantor ACT bersih dan nyaman

33

68

3

0

0

2.Ketersediaan peralatan untuk mendukung kegiatan sosial Ambulance peralatan medis dan peralatan penyelamatan

38

57

9

0

0

3.ketersediaan fasilitas pendukung (tempat ibadah,kantin dan ATM)

49

53

2

0

0

Keandalan

4.kecepatan dan kemudahan prosedur pelayanan yang diberikan

42

62

0

0

0

S.keakuratan   pencatatan/administrasi donatur

40

52

12

0

0

6.ketepatan penjelasaninformasiyang diberikan karyav1an

24

71

9

0

0

Daya Tanggap

7.Komplain dari donatur langsung dttangani oleh karyawan dengan cepat dan baik

31

71

2

0

0

8.karyawan segera memberikan bantuan bila ada  kesulitan pada donatur

3S

67

2

0

0

9.karyawan mudah dihubungi oleh donatur

26

67

9

0

0

Jaminan

10.Keramahan dan kesopanan karyawan menimbulkan rasa aman dan percava

37

65

2

0

0

11.ACT merupakanlembaga profesionaldalam mendistribusikan
bantuan kenada penerima manfaat

42

62

0

0

0

12. karyawan dan relawan ACT ahlidan terampildalam membantu penyelamatan dan pemulihan para korban bencana

34

63

7

0

0

Empati

13. Pelayanan kepada semua donatur tanpa memandang status
sosial dan lain-lain

42

60

2

0

0

14. karyawan melayani donatur dengan baik dan memuaskan

27

70

7

0

0

15. Ketersedian dan kecukupan waktu bagi donatur untuk berkonsultasi

26

76

2

0

0

Bobot Skor

(5)

(4)

(3)

(2)

(1)

Persentase (%)

33,72

61,79

4,36

0

0

Sumber : Data Priemer Diolah

Dari tabel diatas 11 hasil perhitungan kuesioner di dapat 33,72 % responden menyatakan sangat puas, 61,79 % responden menyatakan puas, 4,29 % responden menyatakan ragu, 0 % responden menyatakan tidak puas dan 0 % responden menyatakan sangat tidak puas.

 

 

 

 

 

  1. Perspektif Proses Bisnis Internal

a.       Pengukuran Proses Inovasi

                        Proses Inovasi = Jumlah Pendatapan jasa/program baru x 100%

Target Inovasi

Tahun

Jumlah pendapatan program baru

Target Inovasi

Proses Inovasi

2016

3.586.158.830

5.000.000.000

71,72%

2017

28.759.277.593

35.000.000.000

82,16%

2018

60.443.880.493

70.000.000.000

86,34%

Tabel 12 Rasio proses inovasi

Sumber : Data Donatur Aksi Cepat Tangap

Tabel 12 menunjukkan bahwa Aksi Cepat Tanggap pada tahun 2016-2018 selalu mmegalami peningkatan proses inovasi.

b.      Pengukuran Proses Operasi masing-masing program, dengan rumus sebagai berikut:

                        Proses Operasi =  Realisasi perolehan masing-masing program x 100%

Target perolehan program

 

Tabel 13 Pengukuran jumlah peningkatan operasi masing-masing program

Program

Rasio Proses Operasi

2016

2017

2018

Program kemanusiaan

91%

157%

110%

Program Qurban

58%

56%

67%

Program Wakaf

40%

29%

34%

Program Wakaf

75%

70%

45%

Sumber : Data Donatur Aksi Cepat Tangap

Tabel 13 menunjukkan bahwa program kemanusiaan merupakan program yang memiliki rasio operasi yang paling tinggi diantara ketiga program lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Analisis kinerja proses bisnis dan internal

Tabel 14 Hasil Kuesioner Proses Bisnis dan Internal

lndikator

Pemyataan

Jumlah Responden

Kuesioner

SS

S

R

TS

STS

Sarana dan Prasarana

1.Tersedia prasarana sesuai kebutuhan dan dalam kondisi baik 'Peralatan dan perlengkapan, printer, komputer, mesin foto kopi,

120

95

3

0

0

2. Komputerisasi telah berjalan dengan baik dalam menunjang efisiensi dan efektivitas bekerja

68

130

17

3

0

3. Data dan informasi yang dibutuhkan dalam mendukung pekerjaan dapat diperoleh dengan mudah dan lengkap

56

142

10

6

4

Proses

4.Target dan waktu penyelesaian pekerjaan sesuai dengan kemampuan  karyawan

56

125

22

15

0

5. karyawan mampu mengatasi hambatan dalam pekerjaan dengan baik

23

174

14

7

0

6.karyawan mampu memberikan pelayanan sesuai dengan prosedur vane sudah ada

22

175

14

7

0

Kualitas

7.karyawan yang bekerja diACT memiliki kemapuan sesuai kebutuhan

38

160

14

6

0

8.Semua karyawan diACT mempunyai keterampilan yang kompeten sesuai bidang pekerjaannva.

23

167

21

7

4

9.Tingkat  kesalahan yang dilakukan karyawan dalam pekerjaannya rendah

0

190

21

7

0

Bobot Skor

(5)

(4)

(3)

(2)

(1)

Persentase (%)

20,69

69,22

6,93

2,96

0,41

Sumber : Data Priemer Diolah

Dari Tabel 14 hasil perhitungan kuesioner di dapat 20,69 % responden menyatakan sangat setuju, 69,22 % responden menyatakan setuju, 6,93 % responden menyatakan ragu, 2,96 % responden menyatakan tidak setuju dan 0,41% responden menyatakan sangat tidak setuju.

  1. Persepektif Pembelajaran dan Pertumbuhan

Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran memberikan penilaian yang merupakan pemacu untuk membangun kualitas pelayanan dan kualitas personel yang diperlukan untuk mewujudkan target keuangan, pelanggan dan proses internal. Tolok ukur yang digunakan adalah peningkatan kapabilitas karyawan dan peningkatan komitmen karyawan.

a.       Retensi Karyawan

Penilaian dilakukan untuk menilai tingkat komitmen karyawan yang dapat dinilai dari tingkat retensi karyawan. Tingkat retensi karyawan dinilai baik apabila selama periode pengamatan mengalami penurunan, dinilai sedang apabila fluktuatif dan dinilai kurang apabila mengalami peningkatan.

Retensi karyawan = Jumlah karyawan keluar per periode x 100%

Jumlah total karyawan

 

Tabel 15 Pengukuran retensi karyawan

Tahun

Jumlah karyawan keluar

Total karyawan

Retensi karyawan

 

2016

39

195

20 %

2017

53

295

17,96%

2018

59

421

14,01%

Sumber : Data Yayasan Aksi Cepat Tanggap

Tabel 15 menunjukkan bahwa tingkat retensi karyawan Aksi Cepat Tanggap dari tahun ketahun menurun yakni pada tahun 2016 sebesar 20%, tahun 2017 sebesar 17,96 % tahun 2018 sebesar 14,01 %. Dengan demikian tingkat retensi karyawan Aksi cepat tanggap dikategorikan “baik”.

 

b.      Produktivitas karyawan

Pengukuran produktivitas karyawan ditunjukkan melalui perbandingan antara pendapatan yang diperoleh Yayasan Aksi Cepat Tanggap dalam satu tahun dengan total karyawan pada tahun tersebut. Peningkatan produktivitas karyawan menunjukkan kinerja karyawan Aksi Cepat Tanggap semakin baik

Produktivitas Karyawan =           Penerimaan donasi

                                    Jumlah total karyawan

Tabel 16 Pengukuran produktivitas karyawan

Tahun

Penerimaan Donasi

Jumlah total karyawan

Produktivitas Karyawan (dalam Rupiah)

2016

146.000.000.000

195

748.717.948

2017

308.000.000.000

295

1.044.067.796

2018

616.000.000.000

421

1.463.182.897

Sumber : Data sekunder telah diolah

Berdasarkan Tabel 16 didapatkan gambaran bahwa tingkat produktivitas karyawan Aksi Cepat Tanggap mengalami peningkatan sejak tahun 2016 sampai tahun 2018. Peningkatan produktivitas karyawan menggambarkan kinerja dalam aspek produktivitas karyawan tergolong baik. Hal yang menyebabkan peningkatan produktivitas karyawan adalah jumlah pendapatan yang diperoleh selama tahun 2012 sampai tahun 2014 mengalami peningkatan.

c.       Peningkatan kepuasan karyawan

Peningkatan kapabilitas karyawan dinilai dari peningkatan pelatihan/ seminar yang diadakan baik dari dalam maupun luar rumah sakit. Tingkat pelatihan karyawan dinilai baik apabila mengalami peningkatan, dinilai sedang apabila fluktuatif dan dinilai kurang apabila mengalami penurunan selama periode penelitian.

 

  1.  Analisis perspektif pertumbuhan dan pembelajaran.

Tabel 17 Hasil kuesioner kepuasan karyawan

lndikator

Pernyataan

Jumlah responden

Kuesioner

SS

S

R

TS

STS

Motivasi

1.ACT Selalu memberikan motivasi kepada karyawannya untuk bekerja lebih baik dari sebelumnya

108

10 1

3

6

0

2.Tersedia program kompensasi yang menunjang apresiasi terhadap karyawan berprestasi

80

124

11

3

0

Kesempatan mengembankan diri

3.ACT melakukan peningkatan kinerja karyawan dengan pelatihan dan pendidikan

115

81

14

8

0

4.ACT rutin mengadakan seminar untuk meningkatkan kualitas sumber daya karyawan

80

118

13

3

4

Inovasi

5.ACT mempunyai program kompetisi ide dan saran untuk menciptakan inovasi-inovasi baru

56

111

36

15

0

6.ACT menanamkan budaya kolaborasi antar departmen atau dengan mitra untuk meninakatkan kreativitas karvawan

53

135

26

4

0

Susasana 

7.Karyawan merasa nyaman bekerja dilingkungan ACT

76

121

21

0

0

8.Fasilitas yang disediakan ACT sudah menunjang pekerjaan setiap bekerja karyawan

59

159

0

0

0

Bobot Skor

(5)

(4)

(3)

(2)

(1)

Persentase (%)

35,95

54, 47

7,11

2,24

0,23

 

Sumber : Data Priemer Diolah

Dari Tabel 17 hasil perhitungan kuesioner perspektif pertumbuhan dan pembelajaran di dapat 35,95 % responden menyatakan sangat setuju, 54,47 % responden menyatakan setuju, 7,11 % responden menyatakan ragu, 2,24 % responden menyatakan tidak setuju dan 0,23 % responden menyatakan sangat tidak setuju. Mayoritas responden menyatakan setuju dan kurang dari 10% responden yang menyatakan ragu dan tidak setuju.

 

B.     Pembahasan

Pengukuran kinerja menurut Mulyadi (2011) dengan menggunakan metode Balanced Scorecard yang terdiri dari 4 perspektif diantaranya: persfektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif bisnis dan internal dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.

Dalam perspektif keuangan semakin tinggi rasio efisiensi maka semakin baik pula kualitas dan kuantitas organisasi dalam memenuhi target input (penerimaan donasi) dan output (program atau produk). Dari Tabel 8 terjadi penurunan rasio efektivitas ditahun 2018 yakni sebesar 9,72% (102,70%-92,98%) dibandingkan tahun 2017. Hal tersebut disebabkan karna lembaga hanya mampu mencapai perolehan donasi 92,98% dari target yang telah ditetapkan.

Meskipun demikian tahun 2018 terjadi peningkatan perolehan donasi sebesar 50% atau senilai Rp 308.000.000.000 (Rp 616.000.000.000-308.000.000.000) hal tersebut disebakan pada tahun 2018 terjadi bencana alam yakni gempa Lombok. Dengan demikian untuk perspektif keuangan rasio efektivitas dikategorikan “Baik”

Perspektif pelanggan atau donatur yang terdiri dari akuisisi donatur, retensi donatur dan kepuasan donatur. Dalam rasio akuisisi donatur pada tahun 2018 mengalami penurunan 4,39% (31,33%-26,94%) dibandingkan dengan tahun 2017. Artinya pada tahun 2018 mayoritas donatur yang berdonasi adalah donatur tetap. Hal tersebut disebabkan donatur yang berdonasi adalah donatur dari lembaga/perusahaan yang sudah pernah bekerja sama, meskipun demikian ditahun 2018 donatur baru bertambah 15,03 % atau sejumlah 12.163 donatur dengan demikian kemampuan ACT dalam mengakuisisi donatur dikategorikan “Baik”

Donatur merupakan ujung tombak lembaga dalam menjalankan kegiatan operasional lembaga karnanya lembaga harus mampu menjaga hubungan baik dengan donatur.  Dalam rasio retensi donatur pada Tabel 10 terjadi penurunan rasio retensi donatur dari tahun ketahun. Khususnya pada tahun 2018 terjadi penurunan rasio retensi donatur sbesar 15,18% (42,11%-26,93%) semakin rendah rasio retensi donatur menunjukkan belum maksimalnya lembaga dalam mempertahankan donatur. Karnanya dalam hal kemampuan mempertahankan donatur sudah dikategorikan “Cukup Baik”.

Dalam perspektif kepuasan donatur tingkat kepuasan donatur terhadap pelayanan sesuai dengan Tabel 11 menjelaskan bahwa hanya 33,72% yang menyatakan sangat puas hal tersebut disebabkan sedikitnya responden yang merasa sangat puas terhadap ketepatan penjelasan informasi yang diberikan karyawan lembaga. Serta reponden menyatakan puas yakni 61,79% hal tersebut karna donatur merasa diberikan kecukupan waktu untuk berkonsultasi dengan karyawan. Dalam perspekif kepuasan pelanggan sudah dapat dikategorikan “Baik”.

Dalam perspektif proses inovasi terjadi kenaikan dari tahun ketahun. Pada tahun 2018 inovasi mencapai 86,34% karna pada tahun tersebut diluncurkan program-program baru sejumlah 20 program. Program yang banyak menghimpun donasi adalah program SKDI kapal kemanusiaan karna pada tahun tersebut terjadi konflik di Palestina sehingga lembaga mampu mencapai target perolehan donasi (program baru). Dalam hal ini proses inovasi dikategorikan “Baik”

Untuk mengetahui peningkatan donasi dimasing-masing program maka perlu dianalisis proses operasi masing-masing program. sesuai dengan tabel 15 program yang memiliki operasi dengan rasio tertinggi di tahun 2018 adalah program kemanusiaan yang mencapai 110% hal tersebut disebabkan Indonesia merupakan negara yang berada di cincin api dunia yang mempunyai potensi besar terjadi bencana seperti gempa, tsunami, banjir, longsor dan lain-lain. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab donasi kemanusiaan memegang proses operasi tertinggi.

Sedangkan program yang memiliki rasio operasi yang rendah adalah program wakaf yakni hanya 34% hal tersebut disebabkan karna program-program wakaf adalah program jangka panjang dan kurang begitu diminati oleh para donatur. Sehingga rasio dari keempat program di tahun 2018 yakni program kemanusiaan 110% , program Qurban 67%, program Wakaf  34% dan program Zakat 45%  memperoleh rata-rata rasio proses operasi 64% karnanya untuk proses operasi dikategorikan “Cukup Baik”

Pengukuran proses internal, sarana prasarana dalam perspektif proses bisnis dan internal sesuai dengan Tabel 16 menjelaskan bahwa hanya 20,69% yang menyatakan sangat puas hal tersebut disebabkan sedikitnya responden yang merasa sangat puas terhadap rendahnya tingkat kesalahan yang dilakukan karyawan dalam bekerja. Serta reponden menyatakan puas yakni 69,22% hal tersebut karna karyawan mampu memberikan pelayanan sesuai dengan prosedur yang sudah ada. Dalam perspekif proses bisnis dan internal sudah dapat dikategorikan “Baik”.

Karyawan merupakan asset lembaga yang harus terus dikembangkan dan ditingkatkan skill dan kapabilitasnya. Perspektif Pembelajaran dan pertumbuhan mengenai retensi karyawan ditahun 2018 mengalami penurunan yakni 3,95% 17,96%-14,01%) dari tahun 2017. Artinya lembaga mampu mempertahankan karyawan sebagai asset lembaga.

Kemapuan lembaga dalam  menyediakan fasilitas yang menunjang setiap karyawan merupakan salah satu indikator yang paling banyak disetujui oleh responden (karyawan). Dalam hal retensi karyawan dikategorikan sudah “baik”

Pengukuran produktivitas karyawan pada dasarnya digunakan untuk mengetahui sejauh mana tingkat efektivitas dan efisiensi kerja karyawan dalam menghasilkan suatu hasil. Rasio produktivitas karyawan Aksi Cepat Tanggap di tahun 2018 mengalami peningkatan sejumlah Rp 419.115.101 (1.0463.182.897 – 1.044.067.796)  dibandingkan dengan tahun 2017. Artinya karyawan lembaga sudah maksimal dalam tingkat efektivitas dan efisiensi dalam bekerja. Karnanya dalam produktivitas karyawan dikategorikan  “baik”

Kepuasan karyawan dalam bekerja dapat mendorong tingkat produktivitas karyawan dalam bekerja. Dalam perspektif proses pertumbuhan dan pembelajaran tingkat kepuasan karyawan sesuai dengan Tabel 17 menjelaskan bahwa hanya 35,95% yang menyatakan sangat puas hal tersebut disebabkan sedikitnya responden yang setuju terhadap budaya kolaborasi antar departemen.. Serta reponden menyatakan puas yakni 54,47% hal tersebut karna fasilitas yang disediakan lembaga sudah menunjang pekerjaan setiap karyawan. Dalam perspekif kepuasan karyawan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran sudah dapat dikategorikan “Baik”.

Berikut disajikan tabel yang merangkum hasil dari kinerja secara keseluruhan pada empat perspektif Balanced Scorecard dengan standar yang ditetapkan.

 

 

Tabel 18  Hasil Ukuran Kinerja

Perspektif

Sasaran Strategik

Ukuran

Kategori

Skor

Keuangan

Rasio efektivitas

Peningkatan efisiensi keuangan

Baik

1

Pelanggan

Meningkatnya kepercayaan donatur

Akuisisi donatur

Baik

1

Retensi donatur

Cukup

0

Kepuasan donatur

Baik

1

Bisnis

Meningkatnya proses layanan kepada donatur

Peningkatan Inovasi

Baik

1

Peningkatan Operasi

Cukup

0

Peningkatan proses bisnis & internal

Baik

1

Pembelajaran dan Pertumbuhan

Meningkatnya kapabilitas karyawan, Meningkatnya komitmen karyawan

Retensi Karyawan

Baik

1

produktivitas Karyawan

Baik

1

Kepuasan karyawan

Baik

1

Total Skor

 

 

Baik

8

Sumber: (Mulyadi, 2011)

Dari empat perspektif Balanced Scorecard yang digunakan dengan 10 ukuran kinerja, ada 8 ukuran yang mencapai standar yang telah ditetapkan, dan hanya 2 ukuran yang belum mancapai standar yakni kemampuaan retensi donatur dan proses operasi dari tahun ketahun mengalami penurunan. Dengan demikian hasil pengukuran kinerja dengan metode Balanced Scorecard dikategorikan “Baik”.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan melalui data-data yang telah dikumpulkan serta berdasarkan model penelitian  maka disimpulkan H1 perspektif keuangan, pelanggan, bisnis internal dan pertumbuhan pembelajaran dapat menilai kinerja organisasi.

 

Kesimpulan

Dari perspektif ini secara umum kinerja keuangan Yayasan Aksi Cepat Tanggap bisa dikatakan baik sebab di tahun 2018 terjadi peningkatan donasi sebesar 50% atau senilai Rp 308.000.000.000.

Kinerja Yayasan Aksi Cepat Tanggap dilihat dari perspektif Pelanggan (donatur) dengan indikator kepuasan konsumen. Secara keseluruhan dapat dikatakan baik. Dimana secara keseluruhan mayoritas hasil jawaban responden menunjukkan persentase diatas 90%. Dengan begitu berarti rata-rata hampir seluruh donatur merasa nyaman dan puas terhadap fasilitas dan pelayanan yang diberikan Yayasan Aksi Cepat Tanggap. 

Kinerja Yayasan Aksi Cepat Tanggap dilihat dari perspektif proses bisnis internal dilihat dari indikator proses operasi, inovasi dan proses bisnis internal telah mencapai standar ideal. Proses Inovasi mencapai 86,34% ditahun 2018, dan rasio operasi yang tertinggi adalah program kemanusiaan yang mencapai 110% dan program wakaf hanya mencapaik 34%. 

Pengukuran proses internal dengan indikator ketersediaan sarana dan prasarana responden menyatakan puas yakni 89,91%.

Kinerja Yayasan Aksi Cepat Tanggap dilihat dari perspektif pertumbuhan dan pembelajaran dengan indikator retensi karyawan, produktivitas karyawan dan kepuasan karyawan. Rasio retensi karyawan tahun 2018 mengalami penurunan 3,95% hal tersebut membuktikan yayasan dapat mempertahankan karyawan dengan baik. Rasio produktivitas karyawan di tahun 2018 mengalami pengingkatan sejumlah Rp 419.115.101,-.

Hasil responden pada perspektif kepuasan karyawan yakni sebesar 90,42% responden menyatakan puas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Alimudin, Arasy. (2017). Analisis Pencapaian Strategi Menggunakan Balanced Scorecard. Jurnal Pendidikan Ekonomi Dan Bisnis (JPEB), 5(2), 194–205.

 

Aulia, Dewi, & Ikhwana, Andri. (2012). Perencanaan strategi pengembangan usaha kain tenun sutra dengan pendekatan metode balanced scorecard (Studi kasus di Pabrik Sutra Tiga Putra). Jurnal Kalibrasi, 10(1).

 

Fitriyani, Dewi. (2014). Balanced Scorecard: Alternatif Pengukuran Kinerja Organisasi Sektor Publik. Jurnal Cakrawala Akuntansi ISSN, 1979, 4851.

 

Ghozali, Imam, & Latan, Hengky. (2015). Partial Least Squares, konsep, teknik dan aplikasi menggunakan program Smartpls 3.0 untuk penelitian empiris. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.

 

Hadiyati, Nuniek. (2014). Pengukuran Kinerja Dengan Metode Balanced Scorecard (Studi Empiris Pada Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Delanggu Klaten). Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 

Mulyadi. (2011). Auditing (Edisi keen). Jakarta: Salemba Empat.

 

Nurhayati, Mega Ayu. (2018). Pengaruh Promosi Terhadap Keputusan Konsumen Memilih Jasa Cuci Steam Maju Abadi Cuci Steam Desa Lemahputih Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 3(2), 47–57.

 

Pramadhany, Wahyu Eko Yuzandra, & Rahardjo, Shiddiq Nur. (2011). Penerapan Metode Balanced Scorecard Sebagai Tolok Ukur Penilaian Kinerja Pada Organisasi Nirlaba (Studi Kasus Pada Rumah Sakit Bhayangkara Semarang). Universitas Diponegoro.

 

Radithya, Edwin, & Tin, Se. (2011). Evaluasi Penerapan Balance Scorecard Terhadap Efisiensi Kinerja Karyawan di Divisi Penjualan PT. AUTO 2000. Akurat Jurnal Ilmiah Akuntansi, 2(06).

 

Setianto, Anang Wahyu Eko. (2020). Hukum Tentang Penarikan Uang Kembalian Untuk Program Donasi. AL-IQTISHADY: Jurnal Ekonomi Syariah, 1(1), 17–32.

 

Wijaya, Novia. (2012). Pengaruh Intellectual Capital terhadap kinerja keuangan dan nilai pasar perusahaan perbankan dengan metode Value Added Intellectual Coefficient. Jurnal Bisnis Dan Akuntansi, 14(3), 157–180.