Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

 e-ISSN : 2548-1398

 Vol. 6, No. 2, Februari 2021

 


PERSPEKTIF SOSIOKULTURAL DALAM DUNIA PENDIDIKAN: STUDI KASUS PADA PROSES PEMBELAJARAN “SECOND LANGUAGE” DAN PEMBENTUKAN MOTIVASI DIRI MAHASISWA PENDATANG 

 

Nauvaliana Ashri, Hans Karunia H dan Irwansyah

Universitas Indonesia, Indonesia

Email: nauvaliana.ashri@ui.ac.id, hans.karunia@ui.ac.idb dan irwansyah09@ui.ac.id

 

Abstract

Socioculture Theory is a theory that emphasizes the interaction between people in a culture. In this case, the interaction in question is the existence of continuous conformity regarding a role, rules, and cultural values. This conformity is not only limited to the context of interaction but includes other things, one of which is the context of education. It will be explained how the role of sociocultural theory in the scope of education. In this journal will also be discussed about how the phenomenon of newcomer students who have just come into a new environment, although there are differences in sociocultural conditions but does not affect the formation of one's self-motivation to continue his education. There are factors that make immigrant students have a great motivation, one of which is by self-determination that plays a role in adjustment and maintain the spirit of students to continue learning. While in the phenomenon of learning a new language (second language), will be discussed how cultural background, communication patterns, and interactions will have a big role to the learning process of the second language. Sociocultural perspectives will emerge and be illustrated through the impact of second language and directly affect the social context. The process of discussion through the literature review method, through the journal taken and in accordance with the context of the journal discussion. Through its depiction and review process, the journal tries to explain that sociocultural theory not only focuses on sustainable conformity, but also has a role to create a relationship and influence that occurs in a social structure, one of which is in the context of education.

 

Keywords: sociocultural; education; self motivation; self-determination; second language

 

Abstrak

Teori Sosiokultur merupakan sebuah teori yang menekankan adanya interaksi antar manusia didalam suatu budaya. Dalam hal ini, interaksi yang dimaksud adalah adanya kesesuaian-kesesuaian yang berkesinambungan mengenai sebuah peran, aturan, serta nilai budaya. Kesesuaian ini tidak hanya terbatas pada konteks interaksi saja namun mencakup hal lainnya, salah satunya adalah konteks pendidikan. Akan dijelaskan bagaimana peranan teori sosiokultural di dalam lingkup pendidikan. Pada jurnal ini juga akan dibahas mengenai bagaimana fenomena mahasiswa pendatang yang baru saja hadir ke dalam sebuah lingkungan baru, meskipun terdapat perbedaan kondisi sosiokultural namun tidak mempengaruhi pembentukan motivasi diri seseorang untuk melanjutkan pendidikannya. Terdapat faktor yang membuat mahasiswa pendatang memiliki motivasi yang besar, salah satunya adalah dengan adanya self-determination yang ikut berperan dalam penyesuaian serta menjaga semangat mahasiswa untuk terus belajar. Sedangkan pada fenomena mempelajari bahasa baru (second language), akan dibahas bagaimana latar belakang budaya, pola komunikasi, serta interaksi akan memiliki peran besar terhadap proses pembelajaran second language tersebut. Perspektif sosiokultural akan muncul dan digambarkan melalui dampak dari adanya second language dan berpengaruh langsung kepada konteks sosial. Proses pembahasan melalui metode literature review, melalui jurnal yang diambil dan sesuai dengan konteks pembahasan jurnal. Melalui penggambaran serta proses review, maka jurnal ini mencoba menjelaskan bahwa teori sosiokultural tidak hanya fokus pada kesesuaian yang berkesinambungan, namun juga memiliki peran untuk menciptakan sebuah hubungan dan pengaruh yang terjadi dalam suatu struktur sosial, salah satunya dalam konteks pendidikan.

 

Kata kunci: sosiokultural; pendidikan; motivasi diri; self-determination; second language

 

Pendahuluan

Menempuh pendidikan merupakan salah satu langkah kesuksesan seseorang. Dimulai dari mengejar sekolah formal selama 12 tahun yang diawali tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan berakhir pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) (Somantri, 2014). Setelah menyelesaikan pendidikan formal selama 12 tahun, seorang pelajar berhak menentukan ke jenjang selanjutnya. Ada pelajar yang melanjutkan perjalanan nya ke pendidikan diploma menjadi seorang mahasiswa, ada juga yang memilih langsung bekerja.

Tidak berhenti disitu, seorang pelajar yang hendak melanjutkan jenjang diploma juga bebas menentukan apakah ingin menempuh pendidikan di dalam atau luar negeri. Pro dan kontra dalam menentukan pilihan pun juga akan terlihat. Terlebih bagi pelajar yang hendak melanjutkan pendidikan diluar daerah asli, maka kelak perlu beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru. Ketika berhadapan dengan budaya baru, faktor sosiokultural perlu diperhatikan pada daerah tersebut.

Secara pengertian sosiokultural menurut KBBI berkaitan dengan segi sosial dan budaya masyarakat. Dalam pembahasan ini, ditarik fenomena yang terjadi pada pembentukan motivasi mahasiswa dalam dan luar negeri berdasarkan latar belakang sosiokultural nya. Pembahasan dalam penelitian ini mengacu pada tiga jurnal yang kami teliti. Jurnal pertama mengacu pada jurnal yang ditulis oleh (Aimin, 2013) yang dipublikasikan pada tahun 2013 berjudulThe Study of Second Language Acquisition Under Socio-Cultural Theory”. Jurnal kedua mengacu pada jurnal yang ditulis oleh (Jang & Jiménez, 2011) yang dipublikasikan pada tahun 2011 berjudulA Sociocultural Perspective on Second Language Learner Strategies: Focus on the Impact of Social Context”. Jurnal ketiga mengacu pada jurnal yang ditulis oleh (Kazakova & Shastina, 2019) yang dipublikasikan pada tahun 2019 berjudulThe Impact of Socio-Cultural Differences on Formation of Intrinsic Motivation: The Case of Local And Foreign Students”. Selain itu pada pembahasan ini peneliti juga mengaitkan dengan fenomena yang juga kerap terjadi di kehidupan Indonesia.

Di setiap daerah tentu memiliki nilai, aturan, dan budaya yang berbeda-beda. Jika dihubungkan dengan fenomena yang terjadi di Indonesia, kami sebagai kedua peneliti yang dahulu mengejar pendidikan di luar daerah asli (Jakarta) sangat merasakan bagaimana perbedaan ketika tinggal di Bandung (tempat dimana kami melanjutkan jenjang diploma). Jakarta sebagai Kota yang sangat dinamis dan karakter masyarakat yang independen, berbeda dengan Kota Bandung yang masih kental dengan nilai budaya luhur nya. Namun sebagai mahasiswa pendatang, peneliti merasa perlu untuk mengikuti budaya yang dianut pada kota tersebut.

Sosiokultural merupakan suatu konsep yang menitikberatkan pada adanya interaksi di suatu budaya tertentu (Nugroho, 2019). Interaksi yang dimaksud adalah bagaimana sebuah aturan, peran, serta nilai dalam budaya tersebut saling berkesinambungan (Stephen W. Littlejohn, Foss, & Oetzel, 2017). Tidak hanya di Indonesia, ketika hidup di negara manapun budaya merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan. Berangkat dari hal tersebut, teori sosiokultural membantu dalam melihat bagaimana seseorang dapat menciptakan sebuah realitas, hubungan, serta pengaruh yang terjadi didalam suatu lingkup sosial dan budaya.

Pada studi kasus yang diceritakan di jurnal berjudulThe Study of Second Language Acquisition Under Socio-Cultural Theory” oleh (Aimin, 2013), mengambil perspektif sosiokultural dari teori dasar yang diciptakan oleh (Vygotsky, van der Veer, Valsiner, & Prout, 1994). Teori tersebut menilai bahwa faktor perkembangan manusia (human development) dan kognitif dilihat sebagai fenomena sosial daripada individu. (Kozulin, Gindis, Ageyev, & Miller, 2003) mengembangkan teori sosiokultural dengan menggabungkan teori perkembangan anak dan psikologi pendidikan. Oleh karena itu, teori sosiokultural yang dikembangkan oleh (Vygotsky et al., 1994) banyak digunakan untuk memecahkan permasalahan pendidikan anak.

Hal serupa juga dikatakan pada jurnal yang ditulis oleh (Jang & Jiménez, 2012) bahwa sosiokultural sangat berkaitan erat dengan fenomena sosial dan bagaimana teori tersebut memberikan dampak pada lingkungan didalamnya. Objektif dari jurnal tersebut adalah merancang strategi untuk proses pembelajaran bahasa kedua (second language) menggunakan pendekatan dari teori sosiokultural. Diharapkan strategi yang dihasilkan mampu memberikan proses belajar yang produktif dan efektif.

                                                   

Metode Penelitian

Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yakni dengan model kualitatif (Sugiyono, 2017). Langkah pertama yang dilakukan adalah meninjau fenomena atau peristiwa yang pernah dialami oleh kedua peneliti. Fenomena yang kedua peneliti pernah rasakan ialah berada pada lingkungan serta kultur yang berbeda dari daerah asli. Selanjutnya peneliti mengaitkan fenomena tersebut dengan menentukan teori yang menjadi acuan pada jurnal literatur review ini.

Dalam hal ini teori sosiokultural sebagai konsep yang mempelajari bagaimana manusia menciptakan realitas di dalam suatu lingkup sosial dan budaya (Stephen W. Littlejohn et al., 2017), menjadi acuan teori yang peneliti gunakan. Peneliti juga mencoba mencari tahu serta membuktikan apakah fenomena ini kerap terjadi di kalangan umum atau tidak. Untuk mendapatkan jawaban tersebut, peneliti menggali informasi kembali dengan melakukan analisis jurnal. Hal ini sangat diperlukan pada literatur review untuk menambah kacamata opini dalam mencari tahu keterkaitan hubungan antara konsep dengan fenomena serta kebenarannya.

Dari beberapa jurnal yang ditemukan, peneliti coba mengkategorikan konteks permasalahan berdasarkan kemiripan konsep. Peneliti coba menurunkan beberapa asumsi yang digunakan dalam teori sosiokultural sebagai parameter untuk menulis literature review. Setelah itu peneliti melakukan analisis lebih dalam mengenai implementasi konsep terhadap konteks permasalahan.

                                               

Hasil dan Pembahasan

Sebagaimana yang telah dikatakan pada poin pertama. pendahuluan bahwa sosiokultural fokus kepada interaksi budaya dan sosial serta bagaimana proses komunikasi tercipta di dalamnya (Umanailo, Sos, Umanailo, & Sos, 2016). Menurut (Stephen W. Littlejohn et al., 2017) terdapat enam asumsi yang digunakan teori sosiokultural dalam melakukan sudut pandang suatu fenomena yakni interaksi simbolik, konstruksi sosial, sosiolinguistik, filosofi bahasa, etnografi, dan etnometodologi. Dalam poin empat, hasil penelitian membahas temuan menarik yang akan dihubungkan ke dalam asumsi yang telah dijelaskan sebelumnya.

A.    Interaksi Simbolik (Ahmadi, 2008)

Dalam jurnal (Aimin, 2013), dikatakan bahwa mediasi berupa simbol merupakan konstruk utama yang berperan pada teori sosiokultural. Simbol yang diceritakan dalam jurnal tersebut adalah bahasa dimana menjadi alat untuk melakukan komunikasi. Bahasa mampu menghubungkan antara satu dunia dengan dunia lainnya begitu juga antara satu manusia dengan manusia lainnya. Diceritakan pula bahwa bahasa mampu memberikan kebebasan untuk seseorang dapat berpikir serta berbicara dengan lingkungan terdekatnya.

B.     Konstruksi Sosial

Pada asumsi ini dikatakan bagaimana pengetahuan seseorang mampu membangun interaksi sosial seperti bagaimana seseorang menceritakan pengalaman nya, bahasa apa yang digunakan dalam menceritakan, serta cara mereka memandang pengalaman tersebut. Asumsi ini dibuktikan oleh jurnal yang ditulis oleh (Jang & Jiménez, 2011) bahwa seorang anak akan membangun serta mengontrol pikiran nya berdasarkan objek terdekat yang ada di lingkungan mereka. Karena responden yang diteliti pada jurnal (Aimin, 2013) adalah anak dengan kategori L2 maka peran dari lingkungan terdekat seperti orang tua, saudara, guru menjadi sangat penting dalam proses konstruksi sosial mereka.

Dikutip pula dari jurnal yang ditulis oleh (Kozulin et al., 2003) yang meneliti kasus dampak sosiokultural terhadap motivasi diri bahwa konstruksi sosial terbangun apabila mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru yang sedang ditinggali. Dengan terbentuknya konstruksi sosial yang baik, maka secara linear membangun motivasi diri untuk tetap melanjutkan pendidikan didaerah tersebut. Sehingga proses pembelajaran dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

C.    Sosiolinguistik

Poin penting yang disampaikan oleh (Stephen W. and Karen A. Foss Littlejohn, 2009) dalam asumsi ini adalah bagaimana manusia dapat membentuk kelompok sosial meskipun bahasa yang mereka gunakan sehari-hari di dalam kelompok tersebut berbeda-beda. Asumsi ini dibuktikan dari jurnal yang ditulis oleh (Aimin, 2013) bahwa bahasa dapat sepenuhnya dipahami dengan memahami hirarki serta konteks yang ada didalamnya. Namun karena jurnal (Aimin, 2013) fokus pada pembelajaran second language sehingga diperlukan strategi untuk dapat mencapai tujuan dari terciptanya sosiolinguistik.

D.    Filosofi Bahasa

Masih berhubungan dengan asumsi sebelumnya yakni sosiolinguistik, Littlejohn mengatakan bahwa filosofi fokus kepada makna dari bahasa yang digunakan. Bagaimana seorang dapat terikat dari makna yang disampaikan melalui bahasa. Namun karena keterbatasan penelitian, dari ketiga jurnal yang peneliti bahas belum ada fenomena yang menceritakan asumsi filosofi bahasa (Oktarizka et al., 2018).

E.     Etnografi

Asumsi etnografi berkaitan dengan bagaimana suatu grup membentuk makna berdasarkan faktor linguistik dan non linguistik (Elita, 2018). Adapun pengertian dari linguistik menurut (Aitchison, 1996) adalah studi sistematis tentang bahasa atau disiplin ilmu yang mendeskripsikan bahasa dalam semua aspek nya dan memformulasikan teori bagaimana bahasa dapat bekerja.

                                    

Kesimpulan

Untuk menjawab kesimpulan pada penelitian ini mengacu pada poin 1.1 rumusan masalah: 1) Perspektif sosiokultural dalam proses pembelajaran second language, ditemukan bahwa latar belakang budaya dari para siswa dapat mempengaruhi perilaku dan aktivitas mereka.  Selain peranan latar belakang budaya siswa, proses yang memudahkan pembelajaran siswa adalah melalui pola komunikasi yang sesuai, serta bagaimana interaksi yang terbentuk dengan lingkungan akan berpengaruh secara signifikan. 2) Perspektif sosiokultural bagi mahasiswa pendatang dalam membentuk motivasi diri mereka yakni munculnya semangat lebih untuk mencapai tujuan pendidikan mereka. Meskipun mereka tidak berada pada daerah asli, bukan menjadi halangan untuk membangun motivasi diri. Melainkan mahasiswa pendatang berusaha untuk menyesuaikan dengan lingkungan serta budaya pada sosiokultural yang berbeda.


BIBLIOGRAFI

 

Ahmadi, Dadi. (2008). Interaksi Simbolik: Suatu Pengantar. Mediator: JK, 9(2).

 

Aimin, Liang. (2013). The Study of Second Language Acquisition Under Socio-Cultural Theory. American Journal of Educational Research, 1(5), 162–167.

 

Aitchison, Jean. (1996). Why do Purists Grumble So Much? English: History, Diversity and Change. London: Routledge, 370–371.

 

Elita, Risa Ayu. (2018). Pola Komunikasi Di PT. XYZ (Suatu Kajian Etnografi Komunikaso Organisasi Di PT. XYZ.

 

Jang, Eun Young, & Jiménez, Robert T. (2011). A Sociocultural Perspective on Second Language Learner Strategies: Focus on The Impact of Social Context. Theory into Practice, 50(2), 141–148.

 

Kazakova, Julia Konstantinovna, & Shastina, Elena Mikhailovna. (2019). The Impact of Socio-Cultural Differences on Formation of Intrinsic Motivation: The Case of Local and Foreign Students. Learning and Motivation, 65, 1–9.

 

Kozulin, Alex, Gindis, Boris, Ageyev, Vladimir S., & Miller, Suzanne M. (2003). Introduction: Sociocultural Theory and Education: Students, Teachers, and Knowledge. Vygotsky’s Educational Theory in Cultural Context, 1–14.

 

Littlejohn, Stephen W. and Karen A. Foss. (2009). Theories of Human Communication 9th Edition. Jakarta: Jakarta: Salemba Humanika.

 

Littlejohn, Stephen W., Foss, Karen A., & Oetzel, John G. (2017). Theories of Human Communication. 11th Editions. Waveland Press, Inc, United states of America.

 

Nugroho, Eko. (2019). Teoritisasi Komunikasi dalam Tradisi Sosiokultural. Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi, 7(2), 236–253.

 

Oktarizka, Oktarizka, Endelta, Iis, Lestari, Reni Ellisa, Wita, Wita, Kuntarto, Eko, & Noviyanti, Silvi. (2018). Mengkaji Hakikat Dan Filosofi Bahasa. Repository Unja.

 

Somantri, Manap. (2014). Perencanaan Pendidikan. PT Penerbit IPB Press.

 

Sugiyono, P. D. (2017). Metode Penelitian Bisnis: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi, dan R&D. Penerbit CV. Alfabeta: Bandung.

 

Umanailo, M. Chairul Basrun, Sos, S., Umanailo, M. Chairul Basrun, & Sos, S. (2016). Ilmu Sosial Budaya Dasar.

 

Vygotsky, Lev Semenovich, van der Veer, René Ed, Valsiner, Jaan Ed, & Prout, Theresa Trans. (1994). The Vygotsky Reader. Basil Blackwell.