Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN: 2548-1398

Vol. 6, No. 2, Februari 2021

 


PENDAMPINGAN SHADOW TEACHER PADA ANAK DENGAN ATTENTION-DIFISIT/HIPERACTIVITY DISORDER (ADHD)

 

Aini Nadhifah Purnamasari dan Suroso

Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia

Email: aini.nadhifah.purnamasari@gmail.com dan suroso@untag-sby.ac.id

 

Abstract

The purpose of this study was to carry out shadow teacher assistance interventions in classroom teaching and learning activities for one of the children with ADHD in a kindergarten in Surabaya. The researcher gave an intervention which consisted of mentoring the shadow teacher 7 times with the aim to be able to improve assistance, understanding of the assignments in the class and work on and complete the assignments given. This research uses qualitative. The case study design used in this study is a case study with a single level analysis or single case study. The results of this study are the shadow teacher assistance that is effective enough to improve concentration, understanding of the assignments in class and preparation that is equipped with the given task

 

Keywords: children with special needs; adhd; shadow teacher

 

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan intervensi berupa pendampingan shadow teacher pada kegiatan belajar mengajar di kelas kepada salah satu anak dengan ADHD di salah TK di Surabaya. Peneliti memberikan intervensi berupa berupa pendampingan shadow teacher sebanyak 7 kali dengan tujuan untuk dapat meningkatkan kuantitas konsentrasi, pemahaman terhadap tugas di kelas dan mengerjakan serta menyelesaikan tugas yang diberikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berupa studi kasus. Desain studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan single level analysis atau studi kasus tunggal. Hasil dari penelitian ini adalah pendampingan shadow teacher cukup efektif untuk meningkatkan kuantitas konsentrasi, pemahaman terhadap tugas di kelas dan mengerjakan serta menyelesaikan tugas yang diberikan.

 

Kata Kunci:: anak berkebutuhan khusus; ADHD; shadow teacher

 

Pendahuluan

ADHD adalah gangguan neuro-behavioral yang umum terjadi pada masa kanak-kanak dan mempengaruhi sebanyak 5-10% dari anak usia sekolah (Konofal dkk, 2008). Gangguan ini seringkali bersifat kronis. Hal tersebut akan mengganggu banyak area perkembangan dan keberfungsian mereka dalam kehidupan anak-anaknya. ADHD pada anak menimbulkan beberapa pengaruh, di antaranya pada bidang pendidikan, perilaku dan aspek sosial. Anak-anak dengan ADHD lebih mungkin daripada teman sebaya untuk mengalami prestasi yang rendah dalam pendidikan, melakukan isolasi sosial dan perilaku antisosial selama sekolah dan untuk terus memiliki signifikan kesulitan di sekolah (Hoseini dkk, 2014). Secara lebih rinci (Baihaqi & Sugirman, 2006) menjelaskan bahwa ADHD dapat memberikan pengaruh kepada anak dalam bidang pendidikan, diantaranya yaitu anak tidak dapat segera memulai sesuatu, prestasi yang rendah, kecepatan kerja yang terlalu lambat atau terlalu cepat, melupakan instruksi dan penjelasan yang diberikan, tidak melaksanakan tugas, selalu meninggalkan benda-benda sampai menit terakhir, seringkali mengalami kebingungan, menunda suatu pekerjaan, kurangnya motivasi serta mudah merasa frustasi, kesulitan dalam menyelesaikan tugas dan menghindari teman serta berperilaku tidak sewajarnya. Anak dengan ADHD dalam berperilaku menunjukkan seperti halnya menuntut, turut campur dengan urusan orang lain, mudah merasa frustasi, kurang mampu untuk mengendalikan diri, cenderung merasa tidak tenang atau gelisah, lebih banyak berbicara, mudah berubah pikiran, melakukan sesuatu yang bersifat mengganggu dan mudah merasa bingung. Pada aspek sosial, anak dengan ADHD cenderung mementingkan diri sendiri dan tidak peka terhadap lingkungan, tidak bersikap dewasa, memiliki harga diri yang rendah, membuat keramaian, tidak berpikir panjang dalam melakukan sesuatu, menarik diri dari kelompok, sering berperilaku tanpa perasaan dan tidak mau menunggu giliran.

Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) atau kalau di Indonesia dikenal dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). Penggunaan istilah ADHD dianggap lebih menggambarkan bahwa keduanya memiliki ciri utama yaitu: inatentif (tidak fokus) dan perilaku hiperaktif-impulsif. Ciri-ciri ini bisa muncul pada awal usia 2-3 tahun. Individu dengan gangguan ini mengalami kesulitan bertahan dalam menyelesaikan tugasnya karena perhatian (atensi) yang rendah dan/atau menunjukkan pergerakan (movement) yang sangat tinggi (hiperaktivitas) (Heward, 2003). Menurut (Novriana, Yanis, & Masri, 2014) mengungkapkan bahwa perilaku yang timbul pada individu yang mengalami ADHD adalah ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian dan/atau hiperaktivitas atau impulsivitas. Gejala tidak mampu memusatkan perhatian dapat dilihat ketika anak menyelesaikan tugas. Misalnya, perhatian anak mudah teralihkan oleh beberapa hal, membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan tugas, dan lain-lain. Sedangkan untuk gejala hiperaktivitas/impulsivitas dapat dilihat dari seringnya melakukan aktivitas yang berlebihan, berlarian, bicara cepat dan berlebihan, dan lain-lain.

Dalam American Psychiatric Association atau APA, Kriteria ADHD adalah:

a.    Kurang perhatian: Enam atau lebih gejala kurangnya perhatian bagi anak-anak hingga usia 16 tahun atau 5 gejala atau lebih bagi remaja usia 17 tahun atau lebih dewasa; gejala kurangnya perhatian muncul selama minimal 6 bulan, dan mereka tidak tepat untuk tingkat perkembangan:

1.    Sering gagal memberikan perhatian penuh atau membuat kecerobohan atau kesalahan di sekolah, tempat kerja, atau pada saat melakukan aktivitas lain.

2.    Sering mengalami kesulitan dalam memperhatikan tugas atau kegiatan bermain.

3.    Seringkali terlihat tidak mendengarkan ketika diajak berbicara secara langsung.

4.    Sering tidak menjalankan intruksi dan gagal menyelesaikan tugas sekolah, pekerjaan, atau tugas di tempat kerja.

5.    Sering mengalami kesulitan mengatur tugas dan aktivitas.

6.    Sering menghindari, tidak menyukai, atau enggan untuk melakukan tugas-tugas yang membutuhkan usaha mental selama jangka waktu yang panjang (seperti sekolah atau pekerjaan rumah).

7.    Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk tugas-tugas dan kegiatan (seperti pensil, buku, dompet, kunci, dokumen, kacamata, telepon seluler).

8.    Sering mudah terganggu.

9.    Sering lupa dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

b.   Hiperaktif dan impulsif: Enam atau lebih gejala hiperaktif-impulsif untuk anak-anak sampai usia 16 tahun, atau lima atau lebih gejala untuk remaja usia 17 tahun dan lebih dewasa; gejala hiperaktif-impulsif muncul selama minimal 6 bulan sampai suatu tingkat mengganggu dan tidak tepat untuk tingkat perkembangan seseorang:

1.    Sering tidak sabar dengan atau menepuk tangan atau kaki, atau menggeliat di kursi.

2.    Sering meninggalkan tempat duduk dalam situasi yang mengharusakan tetap duduk.

3.    Sering berjalan mondar-mandir atau memanjat dalam situasi yang tidak sesuai.

4.    Sering tidak bisa bermain atau mengambil bagian dalam kegiatan dengan tenang.

5.    Sering tidak bisa mengontrol perilakunya sendiri.

6.    Sering berbicara secara berlebihan.

7.    Sering berbicara tanpa berpikir sebelum pertanyaan selesai diutarakan.

8.    Sering mengalami kesulitan dalam kegiatan menunggu atau bergiliran.

9.    Sering memberikan interupsi atau menyela orang lain.

c.    Selain itu, kondisi berikut harus dipenuhi:

1.    Beberapa gejala kurang memperhatikan atau hiperaktif-impulsif muncul sebelum usia 12 tahun.

2.    Beberapa gejala yang muncul terjadi di dalam dua atau lebih situasi (seperti di rumah, sekolah, bekerja, dengan teman sebaya atau kerabat, atau dalam kegiatan lainnya).

3.    Ada bukti jelas bahwa gejala mengganggu, atau mengurangi kualitas, sosial, sekolah, atau fungsi kerja.

4.    Gejala tidak terjadi karena skizoprenia atau gangguan psikotik lainnya. Gejala tersebut tidak diikuti oleh gangguan mental lainnya (misal gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan disasosiatif, atau gangguan kepribadian.

ADHD dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan gejalanya yaitu predominantly inattentive type adalah ADHD yang ditandai dengan tidak adanya perhatian yang cenderung tinggi atau yang seringkali disebut dengan attention-deficit disorder (ADD), predominantly hyperactive-impulsive type adalah ADHD yang ditandai dengan perilaku hiperaktif dan impulsif yang cenderung tinggi, dan combined type adalah ADHD yang ditandai dengan tidak adanya perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas tingkat tinggi.

Perilaku inatensi yang terjadi pada anak dengan ADHD membuat anak kurang dapat menerima informasi yang diberikan di sekolah. Perhatian anak dengan ADHD biasanya hanya dapat bertahan sekitar 5-10 menit (Mulyani, 2013). Selain itu, anak dengan ADHD di dalam kelas sering membuat keributan, gagal dalam mengingat informasi atau pelajaran di dalam kelas, tidak bisa mengikuti instruksi guru dan gagal dalam menyelesaikan tugas. Faraone dkk mengatakan bahwa anak dengan ADHD kemungkinan besar memiliki kesulitan dalam belajar, mengulang kelas, dan ditempatkan pada kelas khusus (Nevid, 2003).

Gangguan ADHD ini sering kali menetap sampai masa remaja dan dewasa (Hoseini dkk, 2014; Nevid, 2003; Selekta, 2013). Oleh karena itu perlu dilakukan intervensi sejak dini, agar ADHD yang dialami oleh individu dapat berkurang dan terkontrol sejak masa anak-anak sehingga tidak mengganggu perkembangan masa anak-anak sampai masa remaja dan dewasa (Nevid, 2003).

Penyebab ADHD masih belum diketahui dengan jelas penyebabnya, namun kemungkinan ada pengaruh dari biologis dan lingkungan. Pada awal abad ke-20 Hallan dkk (Nevid, 2003) mengatakan bahwa ADHD disebabkan oleh masalah neurologikal akibat kerusakan otak. Sebuah penelitian juga mengungkapkan bahwa ADHD banyak disebabkan oleh disfungsi neurologikal daripada kerusakan otak. Perbedaan jenis ADHD yang dialami oleh seorang anak, kemungkinan merefleksikan disfungsi bagian otak yang berbeda pula. Berikut penyebab biologis seseorang dengan ADHD (Mangunsong, 2011):

1.    Area otak yang terkena dampak

Nigg dan Voeller (dalam Mangunsong, 2011) mengungkapkan bahwa terdapat ketidaknormalan yang konsisten pada tiga area otak anak dengan ADHD yaitu lobus prefrontal, lobus frontal, dan basal ganglia. Para peneliti tersebut menemukan bahwa ketiga area otak tersebut berukuran lebih kecil pada anak dengan ADHD dari pada anak umum.

2.    Neurotransmitter yang terlibat

Neurotransmitter yang tidak normal juga dapat mengakibatkan ADHD. Neurotransmitter adalah zat kimia yang mengirimkan pesan ke antar neuron. Dan pada anak dengan ADHD ditemukan bahwa jumlah atau tingkat neurotransmitter tidak normal.

3.    Faktor herediter

Herediter mengambil peran penting dalam penyebab terjadinya ADHD. Anak yang berasal dari orangtua dengan ADHD memiliki resiko sebesar 75% untuk mengalami ADHD. Secara umum, dari studi kasus banyak ditemukan bahwa dalam ADHD, tidak ada satu gen khusus yang menyebabkan ADHD, melainkan disebabkan oleh beberapa gen.

4.    Toksin dan medis

Toksin merupakan zat perantara yang dapat mengakibatkan malformasi perkembangan janin di dalam rahim ibu, merupakan salah satu penyebab terjadinya ADHD. Kecanduan alkohol dan atau rokok pada ibu hamil membuat calon anak memiliki resiko yang tinggi mengalami ADHD. Selain itu, ada kondisi medis lain yang dapat menyebabkan ADHD, seperti komplikasi, dan pada saat melahirkan berat badan bayi yang sangat rendah juga berasosiasi dengan ADHD.

Sedangkan untuk penyebab ADHD dari lingkungan yaitu seperti tingginya konflik dalam keluarga, yang menyebabkan stres emosional selama masa kehamilan, dan buruknya pengasuhan orangtua dalam menangani gangguan perilaku pada anak. Selain itu juga seperti yang dijelaskan terakhir pada penyebab biologis ADHD, ibu yang merokok selama masa hamil memiliki resiko yang tinggi untuk anaknya mengalami ADHD (Nevid, 2003). Paparan Polyclic Aromatic Hidrocarbons (PAH) pada masa prenatal dan awal kehidupan bayi dapat meningkatkan resiko masalah perilaku dan perkembangan motorik yang berkaitan dengan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). PAH sendiri merupakan senyawa yang terdapat pada asap kendaraan bermotor, asap pabrik, asap rokok, asap pembakaran arang, asap hasil kebakaran hutan, asap minyak goreng, aspalpetroleum, beberapa pelarut komersial, creosote (bahan pengawet kayu), dan juga hasilpirolisis karbohidrat, asam amino, serta asam lemak. PAH tersebar luas di lingkungan perkotaan akibat pembakaran bahan bakar fosil. Selain itu, Nuryani (2020) menjelaskan bahwa anak dengan ADHD memiliki kesulitan utama dalam mengikuti peraturan atau menunjukkan penurunan perilaku terhadap aturan dalam mengerjakan tugas. Hal tersebut disebabkan karena faktor neurofisiologis, yakni fungsi kerja otak yang kurang optimal pada bagian lobus frontal khususnya pada korteks prefrontal sehingga menyebabkan masalah dalam melakukan atensi (fungsi kognitif), pengendalian, serta koordinasi gerak tubuh (fungsi motorik).

Klien berinisial A masih memperlihatkan karakteristik anak dengan ADHD dengan sangat jelas. Ia masih suka melakukan hal-hal seperti berjalan, berputar dan gerakan-gerakan yang tidak memiliki tujuan yang jelas. Selain itu, klien dalam kegiatan belajar mengajar mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga menyebabkan klien menunda untuk segera melaksanakan tugas sampai pada sang guru memberikan penjelasan lanjutan. Klien juga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melaksanakan dan menyelesaikan tugas. Berdasarkan permasalahan tersebut, guru selalu berusaha untuk melakukan pendampingan khusus agar klien dapat melaksanakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.

Shadow Teacher atau yang sering disebut dengan guru pendamping adalah guru yang bertugas untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus di dalam kelas untuk mengikuti proses belajar mengajar dan pengerjaan tugas (Manansala & Dizon, 2008). Lima hal yang perlu diperhatikan oleh shadow teacher adalah berkaitan dengan perencanaan kurikulum, pengajaran, manajemen perilaku, manajemen keterampilan sosial, dan kerja tim (Manansala & Dizon, 2008).

1.    Kurikulum

Penyesuaian terhadap kurikulum yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus agar dapat sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak tersebut.

2.    Pengajaran

Pengajaran yang dimaksud adalah pengajaran secara aktual yang dilakukan oleh shadow teacher untuk mengolah, membimbing atau melatih anak berkebutuhan khusus di kelas reguler.

3.    Menejemen Perilaku

Shadow teacher berperan aktif untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku yang tidak pantas dan membentuk perilaku atau meningkatkan perilaku yang sesuai. Selain itu, shadow teacher juga harus memastikan bahwa anak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan kegiatannya secara mandiri dengan bantuan atau dorongan yang paling sedikit.

4.    Menejemen Keterampilan Sosial

Shadow teacher membantu anak berkebutuhan khusus untuk berinteraksi secara tepat dengan anak-anak lain guna menghindari kemarahan dan perilaku yang tidak pantas pada anak yang diakibatkan oleh ketidakmampuan anak untuk memahami isyarat komunikasi yang ada pada lingkungan sosialnya.

5.    Kerja Tim

Shadow teacher merupakan orang yang berhubungan langsung dengan anak berkebutuhan khusus haruslah mencatat tentang perilaku dan kemajuan perkembangan anak. Shadow teacher juga harus berkolaborasi dengan tim yang menangani kemajuan anak, seperti guru reguler, orangtua, terapis dan dokter.

(Kilduff, 2002) mengatakan bahwa shadow teacher haruslah memiliki beberapa hal yang penting, yaitu:

1.    Pengetahuan dan pengalaman yang cukup dalam manajemen perilaku atau terapi analisis perilaku terapan;

2.    Pengalaman bekerja dengan anak-anak berkebutuhan khusus;

3.    Kemampuan untuk mendorong atau meningkatkan asosiasi dan permainan teman sebaya;

4.    Kemampuan untuk mengenali ketika anak dapat mandiri dalam melakukan kegiatan atau ketika ia perlu didorong;

5.    Kemampuan untuk mengetahui berapa banyak dorongan yang dibutuhkan oleh anak pada suatu waktu;

6.    Kemampuan untuk memfasilitasi anak untuk melakukan komunikasi dengan guru reguler dan teman sekelas anak; dan

7.    Kemampuan beradaptasi di kelas sambil mengawasi anak dengan cermat

Penelitian terdahulu yang peneliti jadikan referensi ialah penelitian yang dilakukan oleh Anis Fitriyah dengan judul “shadow teacher: agen profesional pembelajaran bagi siswa dengan disabilitas di smp lazuar di kamila-gis Surakarta”, oleh Manansala dengan penelitiannya yang berjudul “shadow teaching scheme for children with autism and attention deficit-hyperactivity disorder in regular schools education quarterly”, dan penelitian yang dilakukan Tanjung Nasari dengan judulpenelitian dampak “guru shadow” dalam kelas di sekolah inklusi kingdom academy”. Hal itulah yang membuat peneliti tertarik melakukan penelitain lebih lanjut. Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian lain, yakni penggambaran pentingnya dan peran dari shadow teacher secara umum pada anak dengan disabilitas maupun pada anak dengan autisme dan ADHD, sedangkan pada penelitian ini meneliti efektivitas pendampingan shadow teacher pada anak dengan ADHD. Tujuan peneliti melakukan penelitian ini untuk mengidentifikasi gejala-gejala yang ada untuk memastikan permasalahan klien terkait dengan permasalahan yang dihadapi klien. Adapun manfaat yang diharapkan dapat merancang program pendampingan dan melakukan intervensi terhadap permasalahan yang dihadapi klien.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berupa studi kasus. Desain studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan single level analysis atau studi kasus tunggal. Klien dalam penelitian ini adalah seorang siswa TK B di salah satu TK di Surabaya. Berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan, maka dapat dilakukan perbandingan antara perilaku yang dimunculkan oleh klien dengan kriteria ADHD untuk melakukan diagnosa terhadap klien, yaitu:

 

Tabel 1

Penegakan Diagnosa ADHD berdasarkan APA (2013)

Kriteria ADHD dalam APA (2013)

Kemunculan Gejala pada Klien

Checlist

Kurang Perhatian

Sering gagal memberikan perhatian penuh atau membuat kecerobohan atau kesalahan di sekolah, tempat kerja, atau pada saat melakukan aktivitas lain.

Pada saat klien diminta untuk melakukan sesuatu oleh guru, klien seringkali gagal melakukan pada perintah yang pertama dan guru perlu mengulang-ulang perintah hingga klien melakukannya dengan benar

ü   

Sering mengalami kesulitan dalam memperhatikan tugas atau kegiatan bermain

Klien mudah teralihkan perhatiannya saat mendengar penjelasan guru atau pada saat mengerjakan tugas

ü   

Seringkali terlihat tidak mendengarkan ketika diajak berbicara secara langsung

Klien tidak menatap orang yang sedang berbicara kepadanya dan melakukan gerakan lain seperti tangan atau kakinya

ü   

Sering tidak menjalankan intruksi dan gagal menyelesaikan tugas sekolah, pekerjaan, atau tugas di tempat kerja

Klien tidak segera menjalankan intruksi yang diberikan oleh gurunya di depan kelas sampai guru memberikan intruksi tambahan dan klien hanya diam saja saat diminta untuk menggambar sampai guru membantu klien

ü   

Sering mengalami kesulitan mengatur tugas dan aktivitas

Klien memahami jadwal aktivitasnya

-

Sering menghindari, tidak menyukai, atau enggan untuk melakukan tugas-tugas yang membutuhkan usaha mental selama jangka waktu yang panjang

Pada saat klien mengerjakan sesuatu, terkadang kllien meminta bantuan orang yang ada di sekitarnya ditengah ia mengerjakan dengan berteriak dan memegang pekerjaannya

ü   

Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk tugas-tugas dan kegiatan

Klien sangat paham mana barang miliknya dan orang lain. Klien juga perhatian terhadap barang-barangnya dengan menaruh kembali barangnya pada tempatnya

-

Sering mudah terganggu

Klien mudah teralihkan perhatiannya saat ada sesuatu yang terjadi di sekitarnya

ü   

Sering lupa dalam melakukan aktivitas sehari-hari

Klien hafal terhadap jadwal kegiatannya

-

Hiperaktif dan impulsif

Sering tidak sabar dengan atau menepuk tangan atau kaki, atau menggeliat di kursi

Klien tetap menggerakkan bagian-bagian tubuh yang lainnya walaupun ia sedang duduk, seperti kepala, tangan atau kaki

ü   

Sering meninggalkan tempat duduk dalam situasi yang mengharusakan tetap duduk

Klien dapat tetap duduk pada saat berdoa

-

Sering berjalan mondar-mandir atau memanjat dalam situasi yang tidak sesuai

Klien seringkali terlihat berkeliling tanpa tujuan yang jelas

ü   

Sering tidak bisa bermain atau mengambil bagian dalam kegiatan dengan tenang

Klien bergabung dengan teman-temannya pada saat berdoa dengan diam

-

Sering tidak bisa mengontrol perilakunya sendiri

Terkadang klien terlihat memegang tangan temannya dengan erat sambil tersenyum

ü   

Sering berbicara secara berlebihan

Klien hanya berbicara saat ia menginginkan sesuatu atau meminta bantuan

-

Sering berbicara tanpa berpikir sebelum pertanyaan selesai diutarakan

Klien tidak menjawab pertanyaan guru di kelas

-

Sering mengalami kesulitan dalam kegiatan menunggu atau bergiliran

Saat bermain, klien dapat menunggu giliran dengan teman-temannya

-

Sering memberikan interupsi atau menyela orang lain

Klien hanya berbicara saat ia menginginkan sesuatu atau meminta bantuan

-

 

Dari tabel di atas, terlihat bahwa terdapat perilaku yang menggambarkan kriteria ADHD pada diri klien dan terdapat perilaku yang tidak menggambarkan kriteria ADHD pada diri klien. Enam gejala yang muncul pada klien dalam kriteria kurang perhatian memiliki arti bahwa klien memenuhi syarat penegakan diagnosa kurang perhatian sedangkan tiga gejala yang muncul pada klien dalam kriteria hiperaktif dan impulsif memiliki arti bahwa klien tidak memenuhi syarat penegakan diagnosa hiperaktif dan impulsif sehingga berdasarkan ketentuan APA (2013), klien memenuhi kriteria ADHD dengan tipe dominasi pada inatensi atau predominantly inattentive type dimana gangguan dengan tipe ini seringkali juga disebut dengan attention-deficit disorder (ADD). Penelitian ini bertujuan agar klien dapat meningkatkan kuantitas konsentrasi, pemahaman terhadap tugas di kelas dan mengerjakan serta menyelesaikan tugas yang diberikan.

Sebagai upaya yang dilakukan untuk dapat meningkatkan kuantitas konsentrasi, pemahaman terhadap tugas di kelas dan mengerjakan serta menyelesaikan tugas yang diberikan adalah dengan melakukan pendampingan khusus berupa shadow teacher. Shadow teacher melakukan pendampingan sebanyak 7 kali dimana pada klien,  dorongan yang sangat dibutuhkan adalah untuk menambah kuantitas konsentrasi, mengembalikan konsentrasi klien  yang mudah teralihkan pada saat mengerjakan tugas dan memberikan instruksi tambahan kepada klien sesaat setelah guru memberikan instruksi tugas di depan kelas agar klien dapat lebih memahami tugas yang diberikan, mampu  mengerjakan serta menyelesaikan tugasnya.

 

Hasil dan Pembahasan

Tabel 2

Sebelum dan Setelah Intervensi

Target

Sebelum Intervensi

Setelah Intervensi

Klien

-          Pada saat klien diminta untuk melakukan sesuatu oleh guru, klien seringkali gagal melakukan pada perintah yang pertama dan guru perlu mengulang-ulang perintah hingga klien melakukannya dengan benar

-          Klien berhasil melakukan yang diperintahkan oleh guru dengan adanya tambahan instruksi yang diberikan kepada klien oleh shadow teacher sesaat setelah guru memberikan instruksi tugas di depan kelas

-          Saat teman-temannya sudah mulai mengerjakan tugas, klien masih belum bersegera mengerjakan tugasnya

-          Klien segera mengerjakan tugas dalam waktu yang bersamaan dengan teman-temannya

-          Saat klien tidak dapat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, klien tidak melakukan apapun sampai guru memberikan bantuan

-          Klien dapat mengerjakan tugas  karena segera mendapatkan bantuan yang diperlukan dari shadow teacher

-          Konsentrasi klien hanya bertahan selama ± 5 menit dan klien mudah teralih dan berhenti mengerjakan tugas sampai guru mengingatkan klien sehingga dalam mengerjakan tugasnya, klien membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu ± 30 menit dan seringkali mengambil waktu istirahat untuk menyelesaikan tugasnya

-          Konsentrasi klien bertahan ± 10 menit dan saat konsentrasi klien teralih, shadow teacher dapat dengan segera mengingatkan klien untuk berkonsentasi kembali sehingga klien membutuhkan waktu yang lebih singkat dalam mengerjakan tugasnya, yaitu ± 15 menit dan hanya 1 kali menggunakan waktu istirahat untuk menyelesaikan tugas yang belum selesai

 

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa dengan adanya shadow teacher maka klien lebih mampu untuk melakukan yang diperintahkan oleh guru dengan adanya tambahan instruksi yang diberikan kepada klien oleh shadow teacher sesaat setelah guru memberikan instruksi tugas di depan kelas, segera mengerjakan tugas dalam waktu yang bersamaan dengan teman-temannya, klien dapat mengerjakan tugas  karena segera mendapatkan bantuan yang diperlukan dari shadow teacher  dan konsentrasi klien bertahan ± 10 menit dan saat konsentrasi klien teralih, shadow teacher dapat dengan segera mengingatkan klien untuk berkonsentasi kembali sehingga klien membutuhkan waktu yang lebih singkat dalam mengerjakan tugasnya, yaitu ± 15 menit dan hanya 1 kali menggunakan waktu istirahat untuk menyelesaikan tugas yang belum selesai. Hal ini sesuai dengan penjelasan yang dikemukakan oleh (Manansala & Dizon, 2008) bahwa tugas Shadow Teacher atau yang sering disebut dengan guru pendamping adalah untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus di dalam kelas untuk mengikuti proses belajar mengajar dan pengerjaan tugas. (Dizon et al., 2002) menjelaskan lebih lanjut shadow teacher melakukan pengajaran secara aktual yang untuk mengolah, membimbing atau melatih anak berkebutuhan khusus di kelas reguler dimana pada intervensi yang dilakukan berfokus pada penambahan kuantitas konsentrasi, mengembalikan konsentrasi klien  yang mudah teralihkan pada saat mengerjakan tugas dan memberikan instruksi tambahan kepada klien sesaat setelah guru memberikan instruksi tugas di depan kelas agar klien dapat lebih memahami tugas yang diberikan, mampu  mengerjakan serta menyelesaikan tugasnya.

Berdasarkan program intervensi yang telah dilakukan maka disarankan:

A.    Orangtua

1.    Orangtua memantau perkembangan klien ke dokter secara berkala paling tidak 3 sampai 6 bulan sekali.

2.    Orangtua melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter spesialis terkait untuk memastikan penyebab klien mengalami ADHD agar dapat dilakukan upaya maksimal untuk mengoptimalkan perkembangan klien.

3.    Orangtua melakukan konsultasi ke dokter terkait untuk mencaritahu kandungan dalam makanan yang dapat memicu ADHD serta kandungan dan nutrisi dalam makanan yang dapat mengurangi gejala ADHD sehingga orangtua dapat lebih memperhatikan makanan yang diberikan kepada klien agar gejala ADHD yang dimunculkan oleh klien berkurang.

4.    Orangtua bekerjasama dengan terapis untuk meningkatkan konsentasi dan pemahaman klien terhadap tugas.

5.    Meningkatkan konsentrasi klien dengan melakukan berbagai kegiatan yang juga dapat meningkatkan kemampuan skolastik klien dengan bermain puzzle, memberikan mainan klasifikasi huruf, bentuk, angka dan sebagainya.

6.    Orangtua melakukan pembiasaan terhadap berbagai perintah agar klien dapat lebih memahami instruksi.

B.     Guru dan Sekolah

1.    Pada saat pelajaran di kelas, guru menempatkan klien dekat dengan guru agar mudah untuk dipantau.

2.    Menjadikan teman klien sebagai tutor yang akan membantu klien dalam mengerjakan dan menyelesaikan tugas.

3.    Guru memahami dan memperhatikan apa yang dibutuhkan bagi klien di sekolah.

4.    Sekolah merancang dan menerapkan Program Pembelajaran Individu (PPI) agar klien dapat mengoptimalkan perkembangan dan kemampuan yang dimiliki.

5.    Membangun komunikasi yang baik dengan orangtua berkaitan dengan perkembangan klien di sekolah.

6.    Dukungan dari orangtua dan sekolah untuk dapat menyediakan guru pendamping bagi klien yang dapat membantu klien dalam belajar di kelas.

 

Kesimpulan

Berdasarkan rancangan intervensi yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa intervensi yang telah dilaksanakan kepada klien memberikan hasil yang cukup baik. Dalam hal ini, intervensi yang telah diterapkan dapat dikatakan cukup baik dan sesuai dengan tujuan awal yaitu agar klien dapat meningkatkan kuantitas konsentrasi, pemahaman terhadap tugas di kelas dan mengerjakan serta menyelesaikan tugas yang diberikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

 American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (5th ed). Washington, DC: American Psychiatric Association.

 

Baihaqi & Sugirman. (2006). Memahami dan membantu Anak ADHD. Bandung: Refika Aditama.

 

Heward, William L. (2003). Exceptional Children: an Introduction to Special Education, 7th Edition. New Jersey: Pearson Education, Inc.

 

Kilduff, S. (2002). Shadow Teaching. Unveil the Silence, 4 (3), 5.

 

Manansala, Maryola A., & Dizon, Edilberto I. (2008). Shadow Teaching Scheme For Children With Autism And Attention Deficit-Hyperactivity Disorder In Regular Schools. Education Quarterly, 66(1).

 

Mangunsong, Frieda. (2011). Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus :Jilid Kedua. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3).

 

Mulyani, Rila Rahma. (2013). Penerapan Token Ekonomi untuk Meningkatkan Atensi dalam Mengerjakan Tugas pada Anak ADHD. Jurnal Saints dan Praktik Psikologi, 1(1), 37-47.

 

Nevid, Jeffrey S. (2003). Psikologi Abnormal. Edisi Kelima. Jilid, 1. Jakarta: Erlangga.

 

Novriana, Dita Eka, Yanis, Amel, & Masri, Machdawaty. (2014). Prevalensi Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Hiperaktivitas Pada Siswa Dan Siswi Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Padang Timur Kota Padang Tahun 2013. Jurnal Kesehatan Andalas, 3(2).

 

Konofal, E., Lecendreux, M., Deron, J., Marchand, M., Cortese, S., Zaïm, M., & Arnulf, I. (2008). Effects of Iron Supplementation on Attention Deficit Hyperactivity Disorder in Children. Pediatric Neurology, 38 (1), 20–26. doi:10.1016/j.pediatrneurol.2007.08.014 .

 

Hoseini, Bibi Leila,. Abbasi, Maryam Ajilian., Moghaddam, Habibolah Taghizade., Khademi, Gholamreza., & Saeidi, Masumeh. (2014). Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) in Children: A Short Review and Literature. International Journal of Pediatrics, 2 (4), 445-452.

 

Selekta, MC. (2013). Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada Anak Usia 2 Tahun. Medula, 1(3), 19-25.

 

Nuryani, Selfia Darmawati. (2020). Perkembangan Bahasa Pragmatik pada Anak Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD): Kajian Neurolinguistik. JECE (Journal of Early Childhood Education), 2(1), 21-36.

 

Nasari, Tanjung. (2019). Dampak “Guru Shadow” dalam Kelas di Sekolah Inklusi Kingdom Academy. Prosiding Seminar, 1(1), 1-10.

 

Fitriyah, Anis. (2018). Shadow Teacher: Agen Profesional Pembelajaran Bagi Siswa dengan Disabilitas di SMP Lazuar di Kamila-Gis Surakarta. Jurnal Tarbawi, 15(2), 1-20.