Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

                              e-ISSN: 2548-1398

                              Vol. 6, No. 3, Maret 2021

 


ANALISIS POTENSI SEBARAN BAHAYA BANJIR AKIBAT KEGAGALAN TAMPUNGAN BENDUNGAN BILI-BILI

 

Muhammad Munawir Syarif

Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia, Indonesia

Email: munawir.syarif@umi.ac.id

 

Abstract

The purpose of this study was to look at the potential for flooding and the affected land use. The method used is the Topographical Wetness Index (TWI) with modification of the slope and distance from the river. Flood hazard analysis uses a Geographical Information System (GIS) based on spatial data to facilitate spatial analysis and visualization of its presentation. The results of this study indicate that the area of ​​flood inundation is around 7,289.48 ha or 41.46% of the research area. The location of the largest flood inundation is in Gowa Regency, Pallangga District, with an area of ​​2,203 ha. The land that is shown to be flooded is productive land in the form of paddy fields, fields and residential land.

 

Keywords: flood; bili-bili dam; topography wetness index

 

Abstrak

Tujuan penelitian ini mengetahui sebaran potensi genangan banjir dan penggunaan lahan yang terdampak. Metode yang digunakan yaitu Topographi Wetness Indeks (TWI) dengan modifikasi pembatasan lereng dan jarak dari sungai. Analisis bahaya banjir menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan berbasis data spasial sehingga memudahkan dalam analisis keruangan serta penyajiannya tervisualisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan luasan genangan banjir berkisar 7.289,48 ha atau 41.46% dari luas penelitian. Lokasi genangan banjir yang terluas berada di Kabupaten Gowa Kecamatan Pallangga dengan luas 2.203 ha. Lahan yang berpotensi terdampak banjir adalah lahan produktif berupa lahan sawah, ladang dan lahan pemukiman.

 

Kata kunci: banjir; bendungan bili-bili; topographi wetness indeks

 

Coresponden Author

Email: munawir.syarif@umi.ac.id

Artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi

 

 

 

Pendahuluan

Bendungan Bili-Bili merupakan salah satu bendungan terbesar di Sulawesi Selatan yang beroperasi mulai pada tahun 2001 dengan luas tampungan efektif 346 juta m3. Letak bendungan ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang yang secara administrasi berada di Kabupaten Gowa yang aliran airnya bermuara di Kota Makassar dan Takalar dipesisir barat daya pulau Sulawesi. Seiring berkembang pesatnya penduduk sehingga pembangunan dan pemanfaatan lahan di area sempadan sungai jeneberang digunakan oleh masyarakat untuk beraktivitas baik sebagai lahan pertanian, pemukiman, kawasan pertokoan maupun perkantoran. Hilangnya fungsi sempadan sungai yang saat ini banyak yang menjadi kawasan permukiman (Yuniartanti, 2018).

Perubahan siklus musim ketika musim penghujan tiba, salah satu bencana hidrologis berupa peristiwa bencana banjir terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Peristiwa ini merupakan fenomena alam yang dapat menimbulkan dampak buruk berupa korban jiwa maupun harta. Banjir menimbulkan dampak kerusakan dan kerugian bisa berupa korban manusia dan harta benda sehingga mengganggu bahkan melumpuhkan kegiatan sosial-ekonomi penduduk (Budiarti, Gravitiani, & Mujiyo, 2017). Begitupun di bagian hilir DAS Jeneberang, dapat dikatakan peristiwa banjir sudah menjadi tamu tahunan yang mengakibatkan kerugian besar bagi penduduk yang berdampak langsung (kerugian harta dan nyawa) maupun tidak langsung yang berdampak pada aktivititas berbagai aspek berupa pendidikan, perkantoran, perdagangan dan lainnya.

Rentang waktu 5 tahun terakhir bila musim peghujan tiba, hilir dari DAS Jeneberang terjadi banjir. Adanya kejadian bencana banjir yang melanda di kota Makassar dan Gowa diawal tahun 2019 menjadi isu nasional yang merupakan bencana banjir terparah dalam satu dekade ini. Sebagian kota Makassar terendam banjir akibat tingginya curah hujan. Salah satu penyebab banjir tahun ini akibat tingginya curah hujan bagian hulu kota Makassar, volume tampngan bendungan Bili-Bili semakin berkurang dan aliran sungai jeneberang meningkat hingga ke level waspada. Fenomena ini menjadi ancaman jebolnya bendungan Bili-Bili dan dapat dikatakan kegagalan dalam menampung debit air sehingga pemerintah setempat memutuskan untuk membuka pintu air bendungan yang mengakibatkan sejumlah wilayah di Gowa dan Makassar banjir (Kurnia, n.d.).

Fenomena banjir umumnya terjadi di daerah cekungan pada bagian hilir dengan topografi datar dan landai. Perbedaan kondisi topografi akan mempengaruhi respon terhadap hujan yang jatuh di suatu daerah (Nucifera & Putro, 2018). Topographic Wetness Index (TWI) merupakan metode kuantifikasi kontrol topografi terhadap proses hidrologi (Pourali, Arrowsmith, Chrisman, Matkan, & Mitchell, 2016), dan TWI dapat digunakan sebagai salah satu alat parameter dalam membuat pemodelan kerawanan banjir (Aksoy, Kirca, Burgan, & Kellecioglu, 2016). Selain faktor topograpi, jarak kedekatan dengan sungai juga ikut andil dalam peristiwa banjir. Semakin dekat jarak suatu wilayah dengan sungai, maka peluang terjadinya banjir akan semakin tinggi (Kusumo & Nursari, 2016).

Salah satu tujuan dibangunnya bendungan Bili-bili sebagai upaya untuk mencegah bahaya banjir. Namun kini menjadi ancaman serius jebolnya atau luapan air bendungan Bili-bili dapat menyebabkan banjir bandang. Sejauh ini belum ada informasi pemetaan risiko berupa data spasial terkait wilayah yang berpotensi ancaman banjir disepanjang daerah aliran sungai akibat kegagalan tampungan air bendungan Bili-Bili. Pemetaan risiko adalah proses pembentukan batas spasial dan temporal risiko yang menggabungkan informasi tentang probabilitas dan konsekuensi (Syarif, Barus, & Effendy, 2013). Olehnya itu, untuk memberikan informasi spasial berupa potensi daerah genangan banjir, maka perlu dilakukan penelitian analisis bahaya banjir akibat kegagalan tampungan bendungan Bili-Bili. Kajian ini sangat penting sebagai langkah penyelenggaraan terpadu dalam penanggulangan bencana banjir.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sebaran genangan daerah yang berpotensi banjir dari luapan air akibat kegagalan tampungan bendungan Bili-bili dan mengetahui penggunaan lahan yang berpotensi tergenang akibat luapan air. Hasil penelitian ini megetahui genangan banjir dari analisis Topographi Wetness Indeks (TWI) dengan modifikasi pembatasan lereng dan jarak dari sungai. Dengan area genangan tersebut, langkah perencanaan dan keterpaduan penyelenggaraan penanggulangan bencana banjir menjadi lebih efektif terkhusus di lokasi penelitian. Manfaat penelitian ini yaitu agar dapat mengetahui potensi sebaran genangan luapan banjir dari kegagalan tampungan bendungan bili-bili dan lahan yang terdampak serta menambahkan parameter analisis berupa pembatasan lereng dan jarak dari sungai. Dengan tambahan kedua parameter tersebut, wilayah yang potensi banjir lebih terpusat

 

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Topographi Wetness Indeks (TWI) dengan modifikasi pembatasan lereng dan jarak dari sungai. Lokasi penelitian dilakukan di DAS Jeneberang dengan batasan analisis dimulai dari aliran pintu DAM Bili-bili. Secara administratif wilayah kajian menempati sebagian wilayah Kabupaten Gowa dan Kota Makassar. Berikut disajikan lokasi penelitian.

Gambar 1

Lokasi penelitian

 

Data yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada kebutuhan analisis yang dianggap menjadi faktor pemicu terjadi genangan banjir. Masing-masing data dari faktor dan variabel tersebut, serta metode analisisnya disajikan pada tabel 1 dan gambar 2.

Tabel 1

Data-Data yang Digunakan dalam analisis

No.

Jenis Data

Bentuk Data

Sumber

1.

Batas Adminsitrasi

Vektor (Polygon)

BPS/BIG

2.

Batas DAS

Vektor (Polyline)

BPDAS / KLHK

3.

DEM SRTM

Raster

NASA/LAPAN

4.

Penggunaan Lahan

Vektor (Polygon)

KLHK

5.

Jaringan Sungai Utama

Vektor (Polyline)

BIG

6.

Histori Banjir

Tabular

BPBD & Masyarakat

 

a.    Analsisi Bahaya Banjir

Sebaran banjir dibuat berdasarkan nilai TWI, serta untuk mengetahui akurasi penggunaan metode ini dalam penentuan kerawanan banjir dilokasi penelitian. Menurut (Pourali et al., 2016) Topographic Wetness Index (TWI) merupakan metode kuantifikasi kontrol topografi terhadap proses hidrologi. Index Wetness Topografi (TWI) dihitung dari model elevasi digital (DEM) adalah sarana untuk memperkirakan jumlah kelembaban di tanah (Hojati & Mokarram, 2016). SIG berbasis algoritma dengan menggunakan data DEM umumnya mensimulasikan banjir dalam dua kasus yaitu berdasarkan volume banjir dan berdasarkan ketinggian banjir (Zhu, 2010). Metode ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi banjir di wilayah penelitian.

Penggunaan lahan yang digunakan merupakan hasil dari digitasi on screen dari citra satelit terbaru. Hasil analisis sebaran banjir kemudian dilakukan overlay untuk melihat sebaran penggunaan lahan yang tergenang. Hasil analysis berikut kemudian dilakukan validasi lapangan. Dari validasi berikut akan menggambarkan informasi tingkat keakuratan pemetaan penggunaan lahan yang berpotensi tergenang. Daerah potensi rawan banjir dapat dibuat dengan menggunakan data raster DEM berdasarkan metode yang dikembangkan oleh (Manfreda, Di Leo, & Sole, 2011) melalui indeks topografi dengan persamaan:

 

 

Dimana TIm adalah indeks topografi modifikasi, ad adalah daerah aliran per satuan panjang kontur (atau nilai akumulasi aliran berdasarkan analisis data DEM; nilai bergantung pada resolusi DEM), tan (β) adalah lereng (berdasarkan analisis data DEM), dan n merupakan nilai eksponensial.  Nilai n dihitung dengan formula n = 0.016x0.46, dimana x adalah resolusi DEM. Setelah dihasilkan indeks topografi, daerah rawan banjir dapat diidentifikasi melalui penggunaan ambang batas (τ) dimana daerah rawan banjir adalah jika nilai indeks topografi lebih besar dari nilai ambang batas (TIm > τ ). Adapun nilai dari τ, yaitu τ = 10.89n + 2.282 (Bencana, 2016). Setelah itu akan dilakukan pembatasan kemiringan lereng dan validasi jarak dari sungai. Hasil dari sebaran bahaya banjir akan di overlay dengan penggunaan lahan.

Gambar 2

Alur Proses Analisis Bahaya Banjir

Hasil dan Pembahasan

1.    Analisis Bahaya Banjir

Model sebaran genangan banjir akibat kegagalan bendungan Bili-Bili yang dihasilkan merupakan pengembangan dari metode indeks topograpi yang kemudian dilakukan pembatasan dari kemiringan lereng < 15% dan jarak dari sungai 1 km kesekeliling tubuh air. Data yang digunakan dalam analisis indeks topograpi adalah data Digital Elevastion Model (DEM) berbentuk grid yang mempresentasikan ketinggian permukaan lahan. Data tersebut kemudian dianalisis untuk menghasilkan data kemiringan lereng dan akumulasi aliran.

Hasil analisis bahaya banjir kemudian dilakukan pembatasan sebaran bahaya banjir dengan kemiringan lereng <15 %. Pembatasan lereng 15% digunakan dengan asumsi morfologi lereng 15 % merupakan perbukitan dengan lereng agak curam. Selain dari itu juga digunakan buffer area 1 km dari tubuh air merupakan area/zona bahaya banjir. Dari hasil wawancara masyarakat akibat dibukanya pintu bendungan Bili-bili pada bulan januari tahun 2019 luapan sungai jeneberang berdampak hingga 1 km. Total luasan bahaya banjir di lokasi penelitian berkisar 7.289,48 ha dari luasan penelitian 17.583,47 ha atau berkisar 41.46%. Sebaran lokasi dan luas sebaran genangan banjir dapat dilihat pada gambar dan table berikut.

 

Gambar 3

Luasan Sebaran Genangan Banjir

 

Gambar 4

Sebaran genangan banjir

 

Gambar 5

Diagram batang sebaran genangan banjir

Kawasan yang memiliki luasan bahaya yang tinggi sepatutnya menjadi ancaman yang serius. Melihat karakteristik posisi kecamatan tersebut yang suatu saat ketika terjadi bendungan jebol dan atau gagal menampung debit air dari hulu maka terjadi banjir bandang. Jenis banjir ini menjadi ancaman yang serius karena dampak yang diakibatkan dapat lebih parah daripada banjir genangan atau luapan air sungai. Jenis banjir bandang tidak hanya air yang mengalir namun material besar berupa lumpur, batu dan pohon besar akan ikut mengalir dan menghantam apapun yang ada pada jalur aliran tersebut.

Hasil dari analisis bahaya banjir masig-masing memiliki luasan bahaya banjir. Lokasi yang memiliki bahaya sebaran yang luas perlu di upayakan perencanaan mitigasinya. Utamanya di Kabupaten Gowa pada Kecamatan Pallangga dengan luas 2.203 ha, Bontomarannu 1.254 ha dan Barombong dengan luas 868 ha. Sama halnya  Kota Makassar di Kecamatan Tamalate dengan luas 1.580. Persentase dari sebaran bahaya banjir dari batas studi antara lain: Kota Makassar 67,05 %, Kabupaten Gowa 37.77% dan Takalar dengan persentase 19,73%. Hal ini menunjukkan yang terluas berdampak adalah Kota Makassar dan Gowa dikarenakan keduanya merupakan hilir dari aliran bendungan Bili-Bili.Sebaran dan tingkat bahaya banjir di lokasi penelitian dapat kita lihat secara rinci pada tabel berikut.

2.    Penggunaan Lahan terdampak

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kerawanan bencana banjir, yaitu diantaranya adalah faktor sosial dan ekonomi. Penggunaan lahan merupakan objek yang tepat berhubungan langsung dengan faktor diatas. Lahan yang terdampak banjir berkaitan langsung dengan kondisi sosial dan ekonomi seperti lahan sawah dan pemukiman. Hasil sebaran banjir yang diperoleh kemudian dilakukan penggabungan parameter penggunaan lahan untuk melihat lahan dan luasan yang terdampak banjir. Dari hasil analisis terdapat beberapa penggunaan lahan yang terdampak yaitu Hutan, Hutan bakau, pemukiman, kebun, sawah, semak belukar dan tegalan lading. Luasan terdampak dapat kita lihat pada gambar berikut.

Berdasarkan pada gambar 6, terlihat luasan masing-masing penggunaan lahan yang terdampak banjir. Luas tertinggi yang terdampak menunjukkan penggunaan lahan sawah dengan persentase 46,30%, selanjutnya lahan tegalan / ladang yang berkisar 17,81% yang kemudian disusul dengan lahan pemukiman sekitar 14,70%. Ketiga lahan tersebut menunjukkan risiko dampak yang besar ketika terjadi luapan genangan banjir akibat kegagalan tampungan bendungan Bili-bili.

 

Gambar 6

Penggunaan Lahan yang terdampak banjir

 

Gambar diagram batang di atas menunjukkan potensi risiko besaran kerugian harta benda dan nyawa ketika terjadi bencana banjir di masing-masing penggunaan lahan di lokasi penelitian. Lahan sawah dan tegalan ladang merupakan lahan prodduktif yang dapat memberikan sumbangsi kesejahteraan ekonomi masyarakat khusunya petani di lokasi tersebut. Begitupun dengan lahan pemukiman, lahan ini tidak hanya sekedar tempat bermukim namun terdapat beberapa yang multifungsi sebagai kantor dan perdagangan. Tentunya ketika lahan tersebut yaitu sawah, ladang dan pemukiman ini terdampak bukan hanya harta benda dan ekonomi masyarakat namun nyawa juga akan terancam. Untuk itu dengan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi untuk melakukan perencanaan terpadu dalam pelaksanaan mitigasi bencana banjir di lokasi penelitian.

 

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:1) Jumlah keseluruhan luasan bahaya banjir mencapai 7.289,48 ha. Potensi bahaya banjir yang terluas terdapat di Kabupaten Gowa Kecamatan Pallangga dan Kota Makassar di Kecamatan Tamalate. 2) Sebaran luas potensi lahan yang berisiko terdampak banjir merupakan lahan produktif dan lokasi tempat tinggal masyarakat yaitu lahan sawah, ladang dan pemukiman. 3) Lahan tersebut menjadi ancaman serius yang dapat menelan kerugian harta benda dan korban nyawa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Aksoy, Hafzullah, Kirca, Veysel Sadan Ozgur, Burgan, Halil Ibrahim, & Kellecioglu, Dorukhan. (2016). Hydrological and hydraulic models for determination of flood-prone and flood inundation areas. Proceedings of the International Association of Hydrological Sciences, 373, 137–141.

 

Bencana, Badan Nasional Penanggulangan. (2016). Risiko Bencana Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana: Jakarta.

 

Budiarti, Wiwin, Gravitiani, Evi, & Mujiyo, Mujiyo. (2017). Upaya Mitigasi Banjir di Sub DAS Samin Melalui Pengembangan Masyarakat Tangguh Bencana. Jurnal Teknologi Lingkungan, 18(2), 241–250.

 

Hojati, Majid, & Mokarram, Marzieh. (2016). Determination of a topographic wetness index using high resolution digital elevation models. European Journal of Geography, 7(4), 41–52.

 

Kurnia, Widya Aprilia. (n.d.). Menuju Permukiman Bebas Septic Tank: Studi Pengolahan Air Limbah Domestik di Perumahan Graha Natura. Sambutan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, 84.

 

Kusumo, Probo, & Nursari, Evi. (2016). Zonasi tingkat kerawanan banjir dengan sistem informasi geografis pada DAS Cidurian Kab. Serang, Banten. STRING (Satuan Tulisan Riset Dan Inovasi Teknologi), 1(1).

 

Manfreda, Salvatore, Di Leo, Margherita, & Sole, Aurelia. (2011). Detection of flood-prone areas using digital elevation models. Journal of Hydrologic Engineering, 16(10), 781–790.

 

Nucifera, Fitria, & Putro, Sutanto Trijuni. (2018). Deteksi Kerawanan Banjir Genangan Menggunakan Topographic Wetness Index (TWI). Media Komunikasi Geografi, 18(2), 107–116.

 

Pourali, S. H., Arrowsmith, C., Chrisman, N., Matkan, A. A., & Mitchell, D. (2016). Topography wetness index application in flood-risk-based land use planning. Applied Spatial Analysis and Policy, 9(1), 39–54.

 

Syarif, Muhammad Munawir, Barus, Baba, & Effendy, Sabri. (2013). Penentuan Indeks Bahaya Kekeringan Agro-Hidrologi: Studi Kasus Wilayah Sungai Kariango Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu Tanah Dan Lingkungan, 15(1), 12–19.

 

Yuniartanti, Rizki Kirana. (2018). Rekomendasi adaptasi dan mitigasi bencana banjir di Kawasan Rawan Bencana (KRB) banjir Kota Bima. Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangunan Wilayah Dan Perdesaan), 2(2), 118–132.

 

Zhu, Jing. (2010). GIS based urban flood inundation modeling. 2010 Second WRI Global Congress on Intelligent Systems, 2, 140–143. IEEE.

 

Aksoy, Hafzullah, Kirca, Veysel Sadan Ozgur, Burgan, Halil Ibrahim, & Kellecioglu, Dorukhan. (2016). Hydrological and hydraulic models for determination of flood-prone and flood inundation areas. Proceedings of the International Association of Hydrological Sciences, 373, 137–141.

 

Bencana, Badan Nasional Penanggulangan. (2016). Risiko Bencana Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana: Jakarta.

 

Budiarti, Wiwin, Gravitiani, Evi, & Mujiyo, Mujiyo. (2017). Upaya Mitigasi Banjir di Sub DAS Samin Melalui Pengembangan Masyarakat Tangguh Bencana. Jurnal Teknologi Lingkungan, 18(2), 241–250.

 

Hojati, Majid, & Mokarram, Marzieh. (2016). Determination of a topographic wetness index using high resolution digital elevation models. European Journal of Geography, 7(4), 41–52.

 

Kurnia, Widya Aprilia. (n.d.). Menuju Permukiman Bebas Septic Tank: Studi Pengolahan Air Limbah Domestik di Perumahan Graha Natura. Sambutan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, 84.

 

Kusumo, Probo, & Nursari, Evi. (2016). Zonasi tingkat kerawanan banjir dengan sistem informasi geografis pada DAS Cidurian Kab. Serang, Banten. STRING (Satuan Tulisan Riset Dan Inovasi Teknologi), 1(1).

 

Manfreda, Salvatore, Di Leo, Margherita, & Sole, Aurelia. (2011). Detection of flood-prone areas using digital elevation models. Journal of Hydrologic Engineering, 16(10), 781–790.

 

Nucifera, Fitria, & Putro, Sutanto Trijuni. (2018). Deteksi Kerawanan Banjir Genangan Menggunakan Topographic Wetness Index (TWI). Media Komunikasi Geografi, 18(2), 107–116.

 

Pourali, S. H., Arrowsmith, C., Chrisman, N., Matkan, A. A., & Mitchell, D. (2016). Topography wetness index application in flood-risk-based land use planning. Applied Spatial Analysis and Policy, 9(1), 39–54.

 

Syarif, Muhammad Munawir, Barus, Baba, & Effendy, Sabri. (2013). Penentuan Indeks Bahaya Kekeringan Agro-Hidrologi: Studi Kasus Wilayah Sungai Kariango Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu Tanah Dan Lingkungan, 15(1), 12–19.

Yuniartanti, Rizki Kirana. (2018). Rekomendasi adaptasi dan mitigasi bencana banjir di Kawasan Rawan Bencana (KRB) banjir Kota Bima. Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangunan Wilayah Dan Perdesaan), 2(2), 118–132.

 

Zhu, Jing. (2010). GIS based urban flood inundation modeling. 2010 Second WRI Global Congress on Intelligent Systems, 2, 140–143. IEEE.