Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN : 2548-1398

Vol. 6, No. 3, Maret 2021

      

EVALUASI OUTCOME KLINIS PENGGUNAAN INSULIN ANALOG DAN INSULIN MANUSIA PADA PASIEN DM TIPE 2 JKN RAWAT JALAN TAHUN 2015-2016 DI RSUD TARAKAN

 

Dyah Retnaningrum, Yusi Anggriani dan Hesty Utami R. Tri Kusumaeni

Fakultas Farmasi Universitas Pancasila Jakarta, Indonesia

Email: dyah.apoteker@gmail.com, yusi1777@yahoo.com dan h.ramadaniati@graduate.curtin.edu.au

 

Abstract

The purpose of this study was to determine the comparison of treatment profiles, clinical outcomes and costs between analog insulin and human insulin. The study used the longitudinal time series method through retrospective data collection using tracing medical records and medical cost receipts.The sample taken was outpatient JKN type 2 diabetes mellitus with insulin therapy for the period January 2015-December 2016 at Tarakan Hospital who met the inclusion criteria as many as 156 people. The analysis results obtained that the most use is single analog insulin (98.19%). Proportion of non DM drugs (56.15%) and DM drugs (43.85%). Mean clinical outcomes of GDP (164.74 mg/dL) and GDPP (200.48 mg/dL). The average clinical outcome for HbA1C insulin analog single users (7.82%) was better than other insulin users. The results of the Mann Whitney test, clinical outcomes of GDP, GDPP and HbA1C single analog insulin and single human insulin gave no significant difference (p value> 0.05). The clinical outcome of GDP and HbA1C single insulin analog compared to the combination human insulin + analogue with significantly different results (p value 0.00), while GDPP was not significantly different (p value 0.222). The average cost of treatment for 30 days of single analog insulin with single human insulin with a significant difference (p value 0.001). The  average cost of treatment for 30 days is single human insulin ​​compared to the analog+analog insulin combination, the analog+analog insulin+OAD combination, the analog+OAD insulin combination and the human insulin+analog combination and gives the results of the difference in cost. significantly (p value 0.00). The combination of analog insulin+analogue+OAD with the combination of human insulin+OAD and the combination of insulin analogue+OAD resulted in a significant difference in cost in the patient's treatment costs (p value 0.00). The average cost of the combination of analog insulin+analog+OAD is higher than the average cost of the combination of insulin analog+OAD and the combination of human insulin + OAD.

 

Keywords: type 2 DM;  insulin analog;  human insulin; BPJS ; clinical outcomes;

                    outpatients; costs

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan profil pengobatan, outcome klinis dan biaya antara insulin analog dengan insulin manusia. Penelitian menggunakan metode longitudinal time series melalui pengumpulan data secara retrospektif menggunakan penelusuran rekam medis dan kuitansi biaya pengobatan. Sampel yang diambil adalah pasien DM tipe 2 JKN rawat jalan dengan terapi insulin periode Januari 2015-Desember 2016 di RSUD Tarakan yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 156 orang. Hasil analisis diperoleh penggunaan terbanyak adalah insulin Analog tunggal (98,19%). Proporsi obat non DM (56,15%)  dan obat DM (43,85%). Rata-rata outcome klinis GDP (164,74 mg/ dL) dan GDPP (200,48 mg/ dL). Rata-rata  outcome klinis HbA1C pengguna insulin analog tunggal (7,82%) lebih baik dibanding pengguna insulin lainnya.  Hasil uji Mann Whitney diperoleh outcome klinis GDP, GDPP dan HbA1C insulin analog tunggal dengan insulin manusia tunggal tidak berbeda nyata (p value >0,05). Hasil Outcome klinis GDP dan HbA1C insulin analog tunggal dibanding kombinasi insulin manusia+analog berbeda secara nyata (p value 0,00) , sedangkan GDPP tidak berbeda nyata (p value 0,222). Rata-rata biaya pengobatan 30 hari Insulin analog tunggal dengan insulin manusia tunggal berbeda nyata (p value 0,001). Rata rata biaya pengobatan 30 hari Insulin manusia tunggal  dengan kombinasi insulin analog+analog, kombinasi insulin analog+analog+OAD, kombinasi insulin analog+OAD dan kombinasi insulin manusia+analog berbeda nyata (p value 0,00). Kombinasi insulin analog+analog+OAD dengan kombinasi insulin manusia+OAD dan kombinasi insulin analog+OAD berbeda nyata (p value 0,00). Biaya rata-rata kombinasi insulin analog+analog+OAD lebih tinggi dibanding biaya rata-rata kombinasi Insulin analog+OAD dan kombinasi insulin manusia+OAD.

 

Kata Kunci: DM tipe 2; insulin analog; insulin manusia; BPJS; outcome klinis; pasien    rawat jalan; biaya

 

Coresponden Author

Email: dyah.apoteker@gmail.com

Artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi

 

 

Pendahuluan

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), di Indonesia jumlah penderita DM  menduduki peringkat keempat di dunia setelah negara India, Cina dan Amerika. Kenaikan jumlah penderita DM di Indonesia diprediksi oleh WHO dari 8,4 juta di tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030 (Perkeni, 2011). Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)  2017, prevalensi DM di Indonesia untuk usia di atas 15 tahun, sebesar 5,7%. penyakit DM terjadi peningkatan dari 1,1% (2013) menjadi 2,4% (2017). Prevalensi DM yang terdiagnosis tertinggi terdapat di Daerah Istimewa Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%) (Rasdianah, Martodiharjo, Andayani, & Hakim, 2016). Salah satu penelitian profil pengobatan pasien DM tipe 2 sesudah JKN di Indonesia menyebutkan bahwa terdapat peningkatan proporsi peresepan obat DM menjadi lebih dari 40% sesudah penerapan JKN dibandingkan sebelum JKN (kurang dari 40%). Terjadi peningkatan selektifitas peresepan obat sesudah JKN sesuai diagnosa DM, sehingga efektifitas, efisiensi dan rasionalitas penggunaan obat dapat tercapai (Restinia, Anggriani, Kusumaeni, & Meryta, 2015).

Penilaian efektifitas dan efisiensi penggunaan insulin analog dibandingkan dengan insulin manusia pada pasien DM tipe 2, dapat dilihat dari profil dan outcome klinis pasien setelah menjalani pengobatan. Penilaian outcome klinis dapat diukur dari hasil pemeriksaan kadar gula darah dan HbA1C. Profil pengobatan merupakan terapi yang digunakan pasien sehubungan dengan penyakit DM yang meliputi obat hiperglikemi dan obat non hiperglikemi.

Berdasarkan penelitian (Keban & Ramdhani, 2017), diperoleh hasil uji statistik  penelitian outcome klinis terhadap pasien DM tipe 2 tidak terdapat hubungan antara rasionalitas pengobatan dengan self care dengan pengendalian glukosa darah. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya faktor lain yang dapat mempengaruhi pengendalian glukosa darah seperti adanya penyakit penyerta atau komplikasi (Keban & Ramdhani, 2017).

Penelitian yang sejalan juga dilakukan tim peneliti Universitas Udayana di Indonesia menyatakan bahwa Regular Human Insulin (RHI) memiliki kemampuan yang signifikan dalam menurunkan kadar glukosa darah sewaktu pasien sebesar 127,20 + 32,18 mg/dL (Dewantara Agung dan Dewi Ayu, 2012). Sabirin dan Rahim melakukan telaah sistematis literatur menyimpulkan bahwa insulin analog hanya memberikan sedikit keuntungan dalam mengendalikan hiperglikemia dibanding dengan insulin manusia namun insulin analog memiliki kelebihan dalam mengurangi terjadinya hipoglikemia, terutama hipoglikemia nokturnal dan hipoglikemia berat. Proporsi Penggunaan insulin analog 99,5 % dibandingkan dengan insulin manusia hanya 0,5%.

Prevalensi DM berdasarkan data dari rekam medik di RSUD Tarakan, saat ini DM menduduki peringkat ke-7 dari 10 penyakit terbesar baik rawat inap maupun rawat jalan RSUD Tarakan Jakarta. Terjadi peningkatan jumlah pasien yang didiagnosa menderita DM tipe 2 sebesar 982 pasien di tahun 2013 meningkat pada tahun 2014 menjadi 1229 pasien.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui evaluasi outcome klinis penggunaan insulin analog dan  insulin manusia pasien DM tipe 2 JKN rawat jalan RSUD Tarakan tahun 2015-2016.

                                                                                

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan non eksperimental komparatif dengan metode Longitudinal Time Series retrospectif. Menurut (Harahap, Kholil, & Zulkarnain, 2020), penelitian  Longitudinal adalah penelitian yang bertujuan untuk melihat perubahan atau pola sikap perilaku, pendapat, masyarakat dalam rentang waktu yang lama. Pada penelitian Longitudinal, data dikumpulkan sekurang-kurangnya dua kali, atau dipandang setara dengan dua kali mengumpulkan data. Waktu penelitian adalah hasil penting dalam penelitian Longitudinal.

Data penelitian retrospektif bersumber dari rekam medis berupa profil pengobatan dan outcome klinis pasien DM tipe 2 periode Januari 2015 hingga Desember 2016 untuk melihat perbandingan profil pengobatan dan outcome klinis berdasarkan perbaikan nilai HbA1C, GDP, dan GDPP antara insulin analog dan insulin manusia pasien DM tipe 2 periode Januari 2015 hingga Desember 2016. Time series atas pemakaian profil insulin digunakan untuk melihat tren penggunaan insulin dari waktu ke waktu. Bahan yang digunakan adalah rekam medik, dokumen dari Sistem Informasi Instalasi Farmasi RSUD Tarakan dengan data  pasien JKN rawat jalan terdiagnosa DM tipe 2. Alat yang digunakan adalah formulir pengumpul data, serta software SPSS versi 22. Peneliti melakukan pengurusan perijinan penelitian, membuat formulir untuk pengumpulan data, proses pengumpulan data, dan analisa data. Format formulir pengumpulan data hasil pengamatan adalah kerangka tabel yang digunakan untuk hasil pengamatan, tabel memuat tentang pasien X dengan kunjungan, nama insulin, golongan insulin, nama obat oral DM, nama obat non DM, biaya adminsitrasi, biaya INA CBGs, jumlah obat yang digunakan 7 hari, junlah obat yang digunakan 23 hari, hasil laboratorium (GDP, GDPP, HbA1C), kejadian hipoglikemia,

 

Hasil dan Pembahasan

1.        Demografi Pasien

Berdasarkan penggunaan insulin pada pengobatan pasien DM tipe 2 rawat jalan di RSUD Tarakan periode 2015-2016 terbanyak adalah insulin Analog tunggal sebesar 92,97% pada 2015 dan meningkat 98,19% pada 2016. Peresepan terbanyak insulin analog ini sejalan dengan penelitian Annisa Widya P bahwa insulin yang paling banyak digunakan oleh pasien DM Tipe 2 rawat jalandi RSUP X adalah insulin jenis analog sekitar 99%  (Anggriani, Rianti, Pratiwi, & Puspitasari, 2020).

Data demografi menunjukkan bahwa pada perempuan prevalensi DM lebih banyak yaitu 54,17% (2015) dan 53,63% (2016). Data penelitian ini sesuai dengan hasil RISKESDAS tahun2013, secara umum di Indonesia prevalensi DM terbesar pada perempuan 2,3% yang terdiagnosa dokter dan gejala, berdasarkan wawancara terdiagnosa dokter 1,7%. Pada laki-laki masing-masing 2% dan 1,4% (Ri, 2013); (Kementrian kesehatan RI, 2018).  Juga oleh penelitian Willer dkk yang menyatakan lingkar pinggang wanita meningkat sejalan dengan bertambahnya umur di banding laki laki. Peningkatan lingkar pinggang 1 cm memiliki peningkatan resiko DM tipe 2 sebesar 31 % pertahun (Kistianita, Yunus, & Gayatri, 2018).

Hasil penelitian pada katagori usia, menunjukkan proporsi terbesar pada usia 55- 64 tahun sebesar 44,44 % (2015) dan 40,58 % (2016), berikutnya proporsi terbesar ke dua terdapat pada rentang usia 65-74 tahun. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya dan RISKESDAS tahun 2018 bahwa prevalensi DM  terbesar adalah usia 55-64 tahun dan 65-74 tahun (Ri, 2013).

Pada tahun 2000, menurut WHO sebanyak 150 juta penduduk dunia menderita DM dan sampai tahun 2025 menjadi dua kali lipat (Organization, 2014). Laporan International Diabetes Federation (2014) menyebutkan bahwa terdapat kematian sebesar 4,6 juta setiap tahunnya dan lebih dari 10 juta pasien DM mengalami kelumpuhan dan komplikasi seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, kebutaan dan amputasi (Meidikayanti & Wahyuni, 2017).

Pasien DM tipe 2 dengan penyakit komplikasi DM terbanyak adalah nefropati DM sebanyak 2,78% (2015) dan 2,9% (2016). Selain nefropati DM, pasien mengalami komplikasi DM lainnya yaitu gangrene sebanyak 1,39% tahun 2015 dan 2,9% tahun 2016. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di RSCM Jakarta didapat bahwa prevalensi komplikasi kronis DM di Poliklinik Rawat Jalan (Tarigan, Yunir, Subekti, Pramono, & Martina, 2015). DM tipe 2 merupakan tipe penyakit diabetes yang sering ditemukan di dunia sebesar 90-95% kasus dari pada tipe diabetes mellitus tipe 1 dan gestasional. Di Amerika Serikat, sekitar 8,1 miliar penderita dari 29,1 miliar penderita tidak menyadari bahwa mereka memiliki penyakit DM tipe 2. Pada kelompok usia 20 tahun keatas, lebih dari 10 orang menderita komplikasi akibat diabetes sedangkan pada usia 65 tahun ke-atas, kasus DM tipe 2 meningkat 1-4 kali lipat (Wariyah, 2010).

Berdasarkan kelompok penyakit penyerta di tahun 2015, hipertensi adalah penyakit penyerta DM type 2 paling banyak yaitu 22,22%, sedangkan tahun 2016 penyakit penyerta non hipertensi dengan 1 penyakit penyerta lainnya paling banyak yaitu 23,19%. Penyakit penyerta DM type 2 non Hipertensi yang paling banyak di alami pasien dalam penelitian ini adalah CKD, CAD, dislipidemia ,ISPA dan gastritis/ dyspepsia. Beberapa komplikasi DM tipe 2 yang menyebabkan prevalensi DM meningkat adalah hipertensi, dyslipidemia dengan kadar kolesterol LDL lebih dari 130 mg/dL (Tarigan et al., 2015). Hal ini akan mempengaruhi jenis dan jumlah obat non DM yang digunakan.

Kejadian hipoglikemi terjadi pada penggunaan insulin manusia tunggal, insulin analog tunggal, dan kombinasi insulin analog-analog serta kombinasi insulin analog- OAD. Kejadian hipoglikemia pada insulin manusia tunggal lebih rendah dibandingkan kejadian hipoglikemia pada insulin analog tunggal dan tidak terdapat kejadian hipoglikemia pada kombinasi insulin manusia dalam penelitian ini.

Hipoglikemi hasil penelitian ini terutama insulin analog bertentangan dengan penelitian  Kristensen PL et al bahwa insulin analog memiliki keuntungan sedikit lebih dari insulin manusia dalam mengurangi hipoglikemia (Andi Makbul Aman Mansyur, 2018). Kejadian hipoglikemia pada penelitian ini sesuai dengan penelitian Marta .,et.all, bahwa hipoglikemia ringan lebih sering terjadi pada pasien yang menerima insulin analog, tetapi tidak meningkatkan kejadian hipoglikemia berat pada pasien dengan terapi insulin intensif. Insulin Analog tidak berbeda dari insulin manusia dalam hal efeknya pada tingkat HbA1c (Wrobel, Wystrychowski, Psurek, Szymborska-Kajanek, & Strojek, 2014).

Menurut (Andi Makbul Aman Mansyur, 2018), penanganan utama pasien hipoglikemia pada pasien diabetes adalah deteksi dini dan atasi kadar glukosa darah yang rendah dengan mengembalikan kadar glukosa darah secepat mungkin ke kadar yang normal sehingga gejala dan keluhan hipoglikemia juga akan segera menghilang. Perlu dihindari tindakan yang berlebihan oleh karena dapat menyebabkan terjadinya rebound hiperglikemia dan peningkatan berat badan. Pemberian 15 gram glukosa (monosakarida) secara oral terbukti akan meningkatkan kadar glukosa darah sekitar 2,1 mmol/l (sekitar 40 mg/dl) dalam waktu 20 menit dan cukup adekuat untuk menghilangkan keluhan hipoglikemia dalam waktu singkat. Lima belas gram glukosa dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti 15 gram tablet glukosa, 15 mil (3 sendok teh) gula yang dilarutkan dalam air minum, 175 ml juice atau soft drink atau 15 ml (1 sendok makan) madu. Pilihan lain seperti susu, namun kekuatannya dalam meningkatkan kadar glukosa darah lebih rendah dan efeknya lebih lambat.

 

2.        Hasil Pemeriksaan Laboratorium

a.    Hasil Pemeriksaan Laboratorium Pasien yang Menggunakan Insulin.

Hasil penelitian pasien DM tipe 2 pada gambar 1, hasil rata rata pemeriksaan periode Januari 2015- Desember 2016 adalah GDP tertinggi 219,38 mg/ dL dan GDPP 303,43 mg/ dL pada Januari 2015. Hasil pemeriksaan GDP rata2 terendah yaitu 144,31 mg/ dL dan GDPP 202,07 mg/ dL pada Desember 2016. Pada gambar 2, rata rata HbA1C tertinggi 9,63 % pada Januari 2015 dan terendah 6,50 % pada November 2016. Rata rata nilai terendah GDP dan GDPP yang didapat dari penelitian ini tidak terkendali berdasarkan PERKENI 2005 ( > 130 mg/dL). Sedangkan HbA1C rata rata terendah dari penelitian ini terkendali yaitu < 7%.

 

          

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Rata Rata Hasil Pemeriksaaan Laboratorium GDP dan GDPP Pasien DM                          

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Rata Rata Hasil Perhitungan Hba1c Pasien DM Tipe 2 Pengguna Insulin Period 2015-2016

 

b.   Hasil Pemeriksaan Laboratorium Pasien Yang Menggunakan Insulin Berdasarkan Jenis Insulin.

Berdasarkan gambar 3, rata rata GDPP pengguna insulin manusia tunggal tertinggi (298 mg/dL) terendah (150,67 mg/dL), GDPP pengguna insulin manusia dalam penelitian ini tidak terkendali sesuai Perkeni 2005 (>130 mg/ dL). Rata rata GDP insulin analog tunggal  tertinggi 210,81 mg/dL tahun 2015 , terendah 132 mg/dL tahun 2016 (terkendali sesuai Perkeni 2005), GDPP tertinggi 306,12 mg/dL, terendah 172,8 mg/dL (tidak terkendali sesuai Perkeni 2005). Rata rata GDP perbulan insulin manusia tunggal (167,43 mg/dL) lebih tinggi dibanding insulin analog tunggal (162,41 mg/dL)). Rata rata GDPP perbulan insulin manusia tunggal (194,67 mg/dL) lebih rendah dibanding insulin analog tunggal (224,80 mg/dL).

Penelitian oleh (Kurniawan & Dewantara, 2012), menyebutkan bahwa insulin manusia dan insulin analog memiliki kemampuan yang signifikan menurunkan kadar glukosa darah pasien yaitu GDP dan GDPP. Penurunan kadar glukosa darah pasien pengguna insulin analog lebih besar dibandingkan dengan insulin manusia pada pasien DM tipe 2 di RSUP Sanglah. Hasil penelitian yang sama ditunjukkan pada penelitian mengenai penggunaan rapid acting insulin yang sebelumnya pernah diteliti oleh Mannucci et al. pada tahun 2008, dimana dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa penggunaan insulin analog memberikan hasil yang lebih baik dalam mengontrol kadar glukosa darah post prandial dan kadar HbA1C pasien DM tipe 2 dibandingkan dengan penggunaan insulin manusia reguler.

 

  

 

Gambar 3. Rata rata hasil pemeriksaan GDP dan GDPP pengguna Insulin manusia tunggal dan Insulin Analog Tunggal

 

Berdasarkan gambar 4 dibawah ini, data rata rata pemeriksaan GDP pengguna kombinasi insulin manusia+OAD dari penelitian ini nilai terendah adalah 142 mg/dL, GDPP terendah 240 mg/dL (tidak terkendali sesuai Perkeni 2005). (1) Rata rata pemeriksaan GDP pengguna insulin analog+OAD terendah 147,67 mg/dL, nilai GDPP terendah 208 mg/dL (tidak terkendali sesuai Perkeni 2005). Nilai rata rata GDP perbulan pengguna kombinasi insulin manusia+OAD (95,5 mg/dL) lebih rendah dibanding kombinasi insulin Analog+OAD (177,49 mg/dL). Nilai rata rata GDPP perbulan pengguna kombinasi insulin manusia+OAD (142,88 mg/dL) lebih rendah dibanding kombinasi insulin Analog+OAD (248,80 mg/dL).

 

    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Rata rata hasil pemeriksaan GDP dan GDPP

 

 

          Gambar 5. Rata rata hasil pemeriksaan GDP dan GDPP

 

Berdasarkan data penelitian diperoleh rata rata pemeriksaan GDP pengguna kombinasi insulin manusia+analog terendah adalah 122 mg/dL (terkendali sesuai Perkeni), rata rata GDPP terendah 160 mg/dL (tidak terkendali sesuai Perkeni) (Perkeni, 2011). Rata rata nilai GDP terendah pengguna kombinasi insulin Analog+analog adalah 109 mg/dL (terkendali sesuai Perkeni)), dan rata rata GDPP terendah 153 mg/dL (tidak terkendali sesuai Perkeni)) (Perkeni, 2011). Nilai rata rata GDP perbulan pengguna kombinasi insulin manusia+analog (138,43 mg/dL) lebih rendah dibanding kombinasi insulin Analog+analog (176,1 mg/dL). Nilai rata rata GDPP perbulan pengguna kombinasi insulin manusia+analog (171,16 mg/dL) lebih rendah dibanding kombinasi insulin Analog+analog (214,06 mg/dL).

Berdasarkan gambar 6, nilai rata rata HbA1C terendah pengguna insulin manusia tunggal dalam penelitian ini (6,6%) November 2015 dan  pengguna insulin analog tunggal (6,3%) Juli 2016. Rata rata HbA1C terendah pengguna insulin manusia dan insulin analog dalam penelitian ini terkendali sesuai Perkeni 2005 (Perkeni, 2011). Berdasarkan gambar 7, nilai rata rata HbA1C terendah pengguna kombinasi insulin manusia+OAD (6,1%) Agustus 2016 dan pengguna kombinsi insulin analog+OAD (5,6%) Agustus 2016, keduanya terkendali sesuai Perkeni 2005 (Perkeni, 2011). Penelitian ini sejalan dengan sebuah review penelitian bahwa terjadi penurunan HbA1C lebih besar dari penggunaan insulin kombinasi insulin analog-oral antidiabetes dibanding kombinasi insulin manusia-OAD. Dalam penelitian Matthew C. Riddl dkk menyakatan bahwa kombinasi Insulin manusia-OAD dengan kombinasi insulin analog-OAD kedua mencapai target hasil gula darah normal dan HbA1C secara siginifikan, tetapi terdapat efek samping hipoglikemia nocturnal lebih besar pada kombinasi insulin manuisa-OAD dibanding insulin analog-OAD.

 

 

    

 

Gambar 6. Rata Rata Hasil Perhitungan HbA1C Pasien DM tipe 2 Rawat Jalan Poliklinik Penyakit dalam RSUD Tarakan Insulin Manusia Tunggal dan Insulin Analog tunggal 

 

Untuk meningkatkan kualitas hidup pasien DM tipe 2, dilakukan upaya terapi non farmakologi dan farmakologi. Terapi farmakologi meliputi terapi antidiabetik oral dan insulin.

Dalam penelitian (Inayah, Hamidy, & Yuki, 2017), dipaparkan bahwa pola penggunaan jenis insulin yang digolongkan berdasarkan banyaknya lama kerja yang digunakan yaitu short-acting insulin. Berdasarkan jumlah dosis harian yaitu dosis ˂ 20 IU dari seluruh jenis insulin. Kombinasi jenis insulin terbanyak adalah long-acting insulin dengan rapid-acting insulin. Kombinasi insulin dan OHO terbanyak digunakan yaitu short acting insulin dengan golongan penghambat glukoneogenesis dan premixed insulin dengan golongan penghambat glukoneogenesis.

Menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) protokol pemberian dosis insulin berdasarkan lama kerja insulin yaitu short-acting insulin atau rapid-acting insulin bisa diberikan sebanyak 0,1 IU/kgBB setiap kali makan atau sesudah makan dengan pola makan penderita DM tipe 2 yang tidak teratur, dan long-acting insulin sebanyak 10 IU sebelum tidur (Perkeni, 2011). Sehingga pemberian dosis harian isulin pada peneltian ini masih sesuai dengan Perkeni, sebagaimana yang diteliti oleh Putra, Udayani, & Meriyani, 2017, dimana pemberian insulin dapat diberikan pada pasien dengan kadar HbA1c lebih dari 9%.

               

Gambar 7.  Rata Rata Hasil Perhitungan HbA1C Pasien DM tipe 2 Rawat Jalan Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Tarakan Kombinasi Insulin Manusia+OAD dan Kombinasi Insulin Analog+OAD 

 

 

Gambar 8. Rata Rata Hasil Perhitungan HbA1C Pasien DM Tipe 2 Rawat Jalan Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Tarakan Kombinasi insulin manusia+analog dan Kombinasi Insulin Analog+

 

Pemberian Insulin yang diuraikan diatas memberikan pengaruh yang positif bagi kualitas hidup pasien, dimana kadar gula darah yang terkontrol dengan penggunaan antidiabetes akan mengurangi gejala hiperglikemia, seperti polidipsia (sering haus), poliuria (sering buang air kecil), polifagia (banyak makan/mudah lapar) dan kelelahan yang parah (fatigue) (Madelina, Untari, & Nansy, 2018).

Berdasarkan gambar 8, nilai rata rata HbA1C terendah pengguna kombinasi insulin manusia+analog (7%) September 2015 (tidak terkendali sesuai Perkeni 2015) dan pengguna kombinsi insulin analog+analog (6%) April 2016 ( terkendali sesuai Perkeni 2005). (1) Berdasarkan gambar 9, nilai rata rata HbA1C terendah pengguna kombinasi insulin analog+analog+OAD (6,8%) September 2015 (terkendali sesuai Perkeni 2005), dan pengguna kombinsi insulin analog + analog (6%) April 2016 (terkendali sesuai Perkeni 2015).

Data penelitian diatas menunjukkan kesesuaian dengan penelitian lainnya, dimana efek perseptif yang dirasakan oleh sebagian besar pasien DM tipe 2 yang menggunakan kombinasi antidiabetes oral insulin yaitu berkurangnya rasa lemas (57,14%). Sebagian besar subjek penelitian ini (69,57%) tidak merasakan efek samping antidiabetes oral-insulin secara perseptif (Madelina et al., 2018).

                                                  

 

Gambar 9 Rata Rata Hasil Perhitungan HbA1C Pasien DM Tipe 2 Rawat Jalan Poliklinik Penyakit dalam RSUD Tarakan Kombinasi Insulin Analog+Analog dan Kombinasi Insulin Analog+analog+OAD 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 10 Rata Rata Hasil Perhitungan HbA1C Pasien DM Tipe 2 Rawat Jalan Poliklinik Penyakit dalam RSUD Tarakan Perbulan Berdasarkan Jenis Insulin 

 

Rata rata hasil HbA1C pasien DM tipe 2 pada gambar 10 terendah adalah 6% (April 2016) berasal dari pengguna kombinasi insulin analog+analog.

 

3.        Outcome Klinis

a.     Outcome Klinis Pasien Pengguna Insulin Tanpa Berdasarkan Jenis Insulin

Proporsi outcome klinis GDP buruk dalam penelitian ini, usia   60 tahun    (45,27%), dan untuk usia > 60 tahun paling banyak 21,61%. Proporsi outcome klinis GDP baik, untuk usia > 60 tahun (7,2 %) lebih banyak dibanding usia ≤ 60 tahun (2,74%). Terlihat pada gambar 11.

 

 

Gambar 11 Proporsi Nilai Rata Rata Outcome Klinis GDP pada Pasien DM Tipe 2 Pengguna

Insulin Rawat Jalan RSUD Tarakan

 

 

Gambar 12 Proporsi Nilai Rata Rata Outcome Klinis GDPP pada Pasien DM Tipe 2 Pengguna Insulin Rawat Jalan RSUD Tarakan

 

Berdasarkan data tabel 3 dan gambar 12 proporsi rata rata hasil outcome klinis GDPP buruk dalam penelitian ini usia ≤ 60 tahun paling banyak (39,22%) dan untuk usia>60 tahun paling banyak (21,11%). Proporsi outcome klinis GDPP baik, untuk usia>60 tahun (7,57%) lebih banyak dibanding usia ≤ 60 tahun (3,24%).

Berdasarkan data tabel 4 dan gambar 13, proporsi rata-rata hasil outcome klinis HbA1C buruk dalam penelitian ini usia ≤ 60 tahun paling banyak (8,25%),  untuk usia >60 tahun paling banyak (2,83%). Proporsi dengan rata-rata hasil outcome klinis HbA1C baik usia > 60 tahun (4,98%) lebih banyak dibanding usia ≤ 60 tahun (2 %). Secara umum hasil penelitian rata-rata outcome klinis pasien usia >60 tahun lebih terkendali baik dibanding usia ≤ 60 tahun. Hal ini sejalan dengan penelitian Masruroh, Eny dan Komariah, K Rahayu, Sri bahwa resiko terkena penyakit DM tipe 2 akan semakin meningkat dimulai dari usia 45 tahun ke atas. Semakin usia bertambah, maka akan mengalami penyusutan sel β pankreas yang progresif. Akibatnya hormon yang dihasilkan terlalu sedikit dan menyebabkan kadar glukosa naik (Masruroh, 2018), (Komariah & Rahayu, 2020). Data RISKESDAS menyatakan prevalensi penderita DM usia 45-64 lebih besar dibanding usia 65 keatas.

 

            

 

Gambar 13 Proporsi Nilai Rata Rata Outcome Klinis HbA1C

pada Pasien DM tipe 2 pengguna insulin

 

b.    Outcome Klinis Pengguna Insulin Berdasarkan Jenis Insulin

Outcome klinis pengguna insulin berdasarkan jenis insulin menunjukkan bahwa insulin manusia tunggal  memberikan data rata rata outcome klinis GDP dan GDPP lebih baik dibanding pengguna insulin lainnya , yaitu rata rata outcome klinis GDP terendah (164,74 mg/dL), GDPP (200,48 mg/dL), sedangkan rata rata outcome klinis HbA1C pengguna insulin analog tunggal (7,82%) lebih baik  dibanding pengguna insulin lainnya. Jenis insulin yang memiliki proporsi nilai outcome klinis  baik paling banyak untuk GDP  adalah insulin analog tunggal (13,08%). Insulin yang memiliki proporsi nilai outcome klinis GDPP baik terbanyak adalah insulin manusia tunggal (21,74%). Sedangkan Insulin yang memiliki proporsi nilai outcome HbA1C baik terbanyak adalah insulin analog tunggal (13,08%).

4.        Uji Beda Outcome Klinis

Hasil uji Kruskall Wallis outcome GDP, GDPP dan HBA1C menghasilkan p value =0,000 (Sig.< 0,05) artinya terdapat perbedaan yang nyata diantara golongan insulin (minimal ada 1 pasang golongan insulin).  Berdasarkan hasil uji lanjut dengan Mann Whitney pada 21 kelompok kombinasi insulin diperoleh ada perbedaan secara nyata outcome klinis GDP dan GDPP. Perbedaan nyata nilai outcome klinis GDP yaitu antara Insulin analog tunggal dengan kombinasi insulin analog+analog (p value 0,00) kombinasi analog+analog+OAD (p value 0,009), kombinasi Analog+OAD (p value 0,003) dan kombinasi manusia+analog (p value 0,007). Hal ini sejalan dengan hasil rata2 outcome klinis GDP insulin analog tunggal (164, 95 mg/dL) lebih baik dibandingkan kombinasi insulin analog+analog (183,22 mg/dL), kombinasi analog+analog+OAD (192,86 mg/dL), kombinasi insulin analog+OAD (182,57 mg/dL) dan kombinasi insulin manusia+analog (186,55 mg/dL). Insulin analog tunggal memiliki proporsi rata rata outcome klinis GDP (13,08%) kategori baik terbanyak dibanding kombinasi insulin analog+analog (10,92%), kombinasi analog+analog+OAD (2,86%), kombinasi insulin analog+OAD (9,71%) dan kombinasi insulin manusia+analog (0%).

Terdapat perbedaan nyata nilai  outcome klinis GDPP antara insulin analog tunggal dengan kelompok kombinasi insulin analog+analog (p value 0,00), kombinasi insulin analog+analog+OAD (p value 0,002), kombinasi insulin analog+OAD (p value 0,00) dan kombinasi insulin manusia+OAD (p value 0,009). Nilai rata rata outcome klinis paling baik diantara golongan insulin analog tunggal dengan kombinasi insulin analog+analog, kombinasi insulin analog+analog+OAD, kombinasi insulin analog+OAD, dan kombinasi insulin manusia +OAD adalah golongan analog insulin analog tunggal (164,95 mg/dL) dengan proporsi nilai outcome klinis baik terbanyak (13,08%). Golongan insulin lain yang berbeda nyata outcome klinis GDPP adalah pasangan golongan insulin manusia tunggal dengan golongan kombinasi insulin analog+analog (p value 0,001), kombinasi analog+analog+OAD (p value 0,000), kombinasi insulin analog+OAD (p value 0,000), kombinasi insulin manusia+insulin analog (p value 0,019) dan kombinasi insulin manusia+OAD (p value 0,003). Golongan insulin manusia tunggal memiliki nilai rata rata outcome klinis GDPP (200,48 mg/dL) paling baik dan proporsi nilai outcome klinis GDPP kategori baik (21,74%) paling banyak di banding golongan kombinasi insulin analog+analog, analog+analog+OAD, kombinasi insulin analog +OAD, kombinasi insulin manusia+insulin analog,  dan insulin manusia +OAD. Golongan insulin lain yang berbeda nyata outcome klinis GDPP adalah pasangan kombinasi insulin analog+analog dengan kombinasi insulin manusia +OAD (p value 0,05). Kombinasi insulin analog+analog paling baik rata rata nilai outcome klinis GDPP (245,94 mg/dL) dan proporsi nilai outcome GDPP kategori baik paling banyak (11,91%) di banding kombinasi insulin manusia +OAD. Pasangan insulin lainnya yang berbeda nyata outcome klinis GDPP adalah golongan kombinasi insulin manusia+analog dengan kombinasi insulin manusia+OAD (p value 0.0049). Kombinasi insulin manusia +analog paling baik rata rata nilai outcome klinis GDPP (242,74 mg/dL) dan proporsi nilai outcome GDPP kategori baik paling banyak (5,26%) dibanding kombinasi insulin manusia+OAD.

Pasien DMT2 yang mendapatkan kombinasi oral-insulin memiliki beberapa kelebihan, di antaranya dosis insulin yang kecil dan berkurangnya risiko kenaikan berat badan, serta terhindar dari komplikasi (Madelina et al., 2018).

Hasil Uji Mann Whitney nilai  outcome klinis HbA1C antara insulin analog tunggal dengan kombinasi insulin analog+analog (p value 0,00), kombinasi insulin analog+OAD (p value 0,001), kombinasi insulin manusia+analog (p value 0,002), kombinasi insulin manusia+OAD (p value 0,003). Nilai rata rata outcome klinis HbA1C pengguna jenis insulin analog tunggal (7,74%) paling baik dibanding insulin lainnya, dan proporsi nilai outcome klinis HbA1C kategori baik (13,08%) paling banyak dibanding insulin lainnya. Pasangan insulin lainnya yang berbeda nyata outcome klinis HbA1C adalah golongan kombinasi insulin manusia+OAD dengan kombinasi insulin analog+analog (p value 0.015), kombinasi insulin analog+analog+OAD (p value 0,02), kombinasi insulin analog+OAD (p value 0,03), dan kombinasi insulin manusia+analog (p value 0.04). Kombinasi insulin analog+analog paling baik rata rata nilai outcome klinis HbA1C (8,39%) dan proporsi nilai outcome HbA1C kategori baik paling banyak (8,19%) dibanding kombinasi insulin manusia+OAD. Kombinasi insulin analog+analog+OAD lebih baik rata rata nilai outcome klinis HbA1C (8,4%) dan proporsi nilai outcome HbA1C kategori baik (5,71%)  lebih banyak dibanding kombinasi insulin manusia+OAD. Rata rata nilai outcome klinis HbA1C kombinasi insulin analog+OAD (8,43%) dan kombinasi insulin manusia+analog (8,47%) lebih baik dari kombinasi Insulin manusia+OAD. proporsi nilai outcome HbA1C kategori baik kombinasi insulin analog+OAD (6,86%%) dan kombinasi insulin manusia+analog (2,63%) lebih banyak dibanding kombinasi insulin manusia+OAD.

Penggunaan antidiabetes oral dan insulin diduga menimbulkan suatu efek perseptif yang sama dengan efek kepuasan pengobatan yang berhubungan dengan penilaian kontrol glikemik dan morbiditas (Jamous et al., 2011). Persepsi yang positif akan berujung pada keinginan pasien untuk patuh dengan pengobatan dan pencapaian kualitas hidup yang lebih baik (Madelina et al., 2018).

 

Kesimpulan

Prevalensi DM tipe 2 pada perempuan lebih banyak dibanding laki-laki dan proporsi usia terbanyak 55-64 tahun. Penggunaan insulin terbanyak adalah insulin analog tunggal.

Kejadian hipoglikemi terjadi pada penggunaan insulin manusia tunggal, insulin analog tunggal, kombinasi insulin analog -analog dan kombinasi insulin analog-OAD. Insulin manusia tunggal  memberikan data rata rata outcome klinis GDP dan GDPP lebih baik dibanding pengguna insulin lainnya, sedangkan rata rata  outcome klinis HbA1C, insulin analog tunggal lebih baik  dibanding pengguna insulin lainnya. Insulin analog tunggal memiliki proporsi nilai outcome klinis  baik paling banyak untuk GDP dan HbA1c, sedangkan untuk outcome klinis GDPP baik adalah insulin manusia tunggal. Proporsi outcome klinis GDP, GDPP dan HbA1c baik, untuk usia > 60 tahun lebih banyak dibanding usia ≤ 60 tahun. Hasil analisis uji Kruskall Wallis pada outcome GDP, GDPP dan HbA1C, menunjukkan ada perbedaan yang signifikan diantara golongan insulin (minimal ada 1 pasang golongan).

Hasil uji lanjut Mann Whirney nilai Outcome klinis GDP pasangan insulin yang berbeda nyata dengan nilai p value < 0,005 yaitu antara Insulin analog tunggal dengan kombinasi insulin analog+analog, kombinasi analog+ analog+OAD, kombinasi Analog+OAD dan dengan kombinasi manusia +analog. Nilai  outcome klinis GDPP yang berbeda nyata dengan P value < 0,05 yaitu antara insulin analog tunggal dengan kelompok kombinasi insulin analog+analog, kombinasi insulin analog+analog+OAD, kombinasi insulin analog+OAD dan kombinasi insulin manusia +OAD. Hasil berbeda nyata untuk nilai  outcome klinis HbA1C dengan p value <0,05 yaitu antara insulin analog tunggal dengan kombinasi insulin analog+analog, kombinasi insulin analog +OAD, kombinasi insulin manusia +analog, kombinasi insulin manusia +OAD.

 

 

 


 

BIBLIOGRAFI

 

Andi Makbul Aman Mansyur. (2018). Hipoglikemia dalam Praktik Sehari-hari. Diakses pada tanggal 13 Juni 2020. Retrieved from http://digilib.unhas.ac.id/uploaded_files/temporary/Dig

 

Anggriani, Yusi, Rianti, Alfina, Pratiwi, Annisa Nadya, & Puspitasari, Wulan. (2020). Evaluasi Penggunaan Insulin pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan di Rumah Sakit X di Jakarta Periode 2016-2017. Jurnal Sains Farmasi & Klinis, 7(1), 52–59.

 

Dewantara agung, dewi ayu. (2012). Perbandingan Penggunaan Regular Human Insulin ( Rhi ) Dan Insulin Aspart Terhadap Outcome Terapi Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan.

 

Harahap, Muhammad Said, Kholil, Syukur, & Zulkarnain, Iskandar. (2020). Construction of Indonesian Muslim Identity in Photo News in National Newspaper in Medan City. Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences, 3(4), 2784–2795.

 

Inayah, Inayah, Hamidy, M. Yulis, & Yuki, Roza Putri Rachma. (2017). Pola penggunaan insulin pada pasien diabetes melitus tipe 2 rawat inap di Rumah Sakit X Pekanbaru tahun 2014. Jurnal Ilmu Kedokteran, 10(1), 38–43.

 

Jamous, Raniah M., Sweileh, Waleed M., Abu-Taha, Adham S., Sawalha, Ansam F., Sa’ed, H. Zyoud, & Morisky, Donald E. (2011). Adherence and satisfaction with oral hypoglycemic medications: a pilot study in Palestine. International Journal of Clinical Pharmacy, 33(6), 942–948.

 

Keban, Sesilia Andriani, & Ramdhani, Ulfa A. Y. U. (2017). Hubungan Rasionalitas Pengobatan dan Self-care dengan Pengendalian Glukosa Darah pada Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 14(1), 66–72.

 

Kementrian kesehatan RI. (2018). Hasil utama riskesdas 2018. 61.

 

Kistianita, Ayu Nindhi, Yunus, Moch, & Gayatri, Rara Warih. (2018). Analisis faktor risiko diabetes mellitus tipe 2 pada usia produktif dengan pendekatan WHO stepwise step 1 (core/inti) di Puskesmas Kendalkerep Kota Malang. Preventia: The Indonesian Journal of Public Health, 3(1), 85–108.

 

Komariah, K., & Rahayu, Sri. (2020). Hubungan Usia, Jenis Kelamin dan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Gula Darah Puasa Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Klinik Pratama Rawat Jalan Proklamasi, Depok, Jawa Barat. Jurnal Kesehatan Kusuma Husada, 41–50.

 

Kurniawan, Arif, & Dewantara, Agung. (2012). Analisa Perbandingan Performansi Skem Scheduling WFQ (Weighted Fair Queuening) dan PQ (Priority Queuening) pada Jaringan IP (Internet Protocol). Jurnal SIFO Mikroskil, 13(1), 1–9.

 

Madelina, Winona, Untari, Eka K., & Nansy, Esy. (2018). Efek Perseptif Penggunaan Kombinasi Antidiabetes Oral-Insulin pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Kota Pontianak dan Sekitarnya. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy, 7(3), 209–216.

 

Masruroh, Eny. (2018). Hubungan Umur Dan Status Gizi Dengan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe II. Jurnal Ilmu Kesehatan, (6).

 

Meidikayanti, Wulan, & Wahyuni, Chatarian Umbul. (2017). Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup Diabetes melitus tipe 2 di puskesmas pademawu. Jurnal Berkala Epidemiologi, 5(2), 240–252.

 

Organization, World Health. (2014). Global status report on noncommunicable diseases 2014. World Health Organization.

 

Perkeni. (2011). Petunjuk praktis terapi insulin pada pasien diabetes melitus. Perkumpulan Endokrinol Indones.

 

Putra, I. Made Agus Sunadi, Udayani, Ni Nyoman Wahyu, & Meriyani, Herleeyana. (2017). Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Terapi Insulin Dan Insulin Kombinasi Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II Rawat Jalan Di RSUP Sanglah. Jurnal Ilmiah Medicamento, 3(2), 97–103.

 

Rasdianah, N., Martodiharjo, S., Andayani, T. M., & Hakim, L. (2016). The Description of Medication Adherence for Patients of Diabetes Mellitus Type 2 in Public Health Center Yogyakarta. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy, 5(4), 249–257.

 

Restinia, Mita, Anggriani, Yusi, Kusumaeni, T. R. I., & Meryta, Aries. (2015). Drug Treatment Profile among Outpatients of Type 2 Diabetes Melitus after Implemented of JKN. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 13(1), 63–68.

 

Ri, Kemenkes. (2013). Badan penelitian dan pengembangan kesehatan. Riset Kesehatan Dasar.

 

Tarigan, Tri J. E., Yunir, Em, Subekti, Imam, Pramono, Laurentius A., & Martina, Diah. (2015). Profile and analysis of diabetes chronic complications in Outpatient Diabetes Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. Medical Journal of Indonesia, 24(3), 156–162.

 

Wariyah, Chatarina. (2010). Vitamin C Retention and Acceptability of Orange (Citrus Nobilis var. microcarpa) Juice During Storage in Refrigerator. Jurnal AgriSains Vol, 1(1).

 

Wrobel, Marta P., Wystrychowski, Grzegorz, Psurek, Anna, Szymborska-Kajanek, Aleksandra, & Strojek, Krzysztof. (2014). Association between hypoglycemia and the type of insulin in diabetic patients treated with multiple injections: an observational study. Pol Arch Med Wewn, 124, 173–179.