Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN : 2548-1398

Vol. 6, No. 3, Maret 2021

 

RAINFORCEMENT POSITIF UNTUK MENURUNKAN GEJALA IMPULS SUKA MENGGANGU TEMAN PADA ANAK ADHD

 

Grace Latuheru dan Tatik Meiyutariningsih

Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Indonesia

Email: Gracelatuheru8@gmail.com dan tatikmeiyun@untag-sby.ac.id

 

Abstract

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) is an obstacle to focusing attention accompanied by hyperactivity. This behavior disorder then has an impact on the learning process and the relationship with the environment. The result that will be received by someone with ADHD disorder is being shunned by the environment because it is considered disturbing or disturbing. For this reason, behavior modification is carried out to reduce the symptoms of the behavior. In this study, researchers used a research method, namely an experimental method with a case study approach by providing positive reinforcement in order to control children's behavior so as not to disturb or tease their friends. The number of subjects in this study was 1 person who showed ADHD symptoms. Subject age 5 years. Taking subjects based on symptoms or symptoms obtained from the results of observations and interviews and filling out the behavioral checklist by parents. Data collection techniques used observation, interviews, and psychological tests (BINET, CAT, CBCL). The intervention carried out was behavior modification using positive reinforcement. The results obtained are that the subject is able to reduce their behavior that likes to tease their friends, and the subject is able to be responsible for decisions made together.

 

Keywords: ADHD; positive reinforcement.


 

Abstrak

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan hambatan pemusatan perhatian disertai kondisi hiperaktif. Gangguan perilaku ini kemudian berdampak pada proses belajar maupun hubungan dengan lingkungan. Akibat yang akan diterima seseorang yang mengalami gangguan ADHD adalah dijauhi oleh lingkungan karena dianggap meresahkan atau mengganggu. Untuk itu dilakukan modifikasi perilaku untuk menurunkan gejala perilaku tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian yaitu metode eksperimen dengan pendekatan study kasus ini adalah dengan memberikan Reiforcement positif agar dapat mengontrol perilaku anak sehingga tidak mengganggu atau menjaili temannya. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 1 orang yang menunjukkan simptom ADHD. Usia subjek 5 tahun. Pengambilan subjek berdasarkan gejala atau simptom yang didapatkan dari hasil observasi dan wawancara serta pengisian lembar behavioral checklist oleh orang tua. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan tes psikologi (BINET, CAT, CBCL). Intervensi yang dilakukan yaitu modifikasi perilaku menggunakan reinforcement positif. Hasil yang didapat adalah subjek mampu mengurangi perilakunya yang suka menjaili temannya, serta subjek mampu bertanggungjawab atas keputusan yang dibuat bersama.

 

Kata kunci : ADHD; reinforcement positif

 

Coresponden Author

Email: gracelatuheru8@gmail.com

Artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi

 

 

Pendahuluan

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan hambatan pemusatan perhatian disertai kondisi hiperaktif. Sudah banyak dilakukan penelitian tentang penyebab ADHD akan tetapi belum dapat dipastikan faktor utama yang mempengaruhi terjadinya hambatan tersebut. Menurut para ahli secara umum faktor yang mempengaruhi Attention Deficit Hyperactivity Disorder ialah masalah genetikal, bahan-bahan kimia, virus, problem kehamilan dan persalinan serta kondisi yang dapat mengintervensi penyebab rusaknya jaringan otak manusia. Faktor lingkungan sosial memiliki peran cukup besar dalam menimbulkan penyebab terjadi ADHD. Penggunaan barang elektronik seperti televisi, komputer, dan gadget secara tidak tepat juga menyebabkan munculnya sindrom ADHD.

Pada umumnya tidak ada gejala khusus untuk mendiagnosa gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Gejala ADHD tersebut bergantung pada umur, situasi, dan lingkungan anak. Dapat dikatakan, ADHD merupakan suatu gangguan yang kompleks, yang berhubungan dengan kelainan aspek koginitif, psikomotorik, maupun afektif (Serfontein & Lykissas, 1992).

Simptom utama yang muncul pada anak ADHD adalah hambatan konsentrasi, pengendalian diri, serta hiperaktif dan biasanya besifat menahun jika itu terjadi pada anak-anak (Paternotte & Buitelaar, 2010).  Adapun anak sering terlihat mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian (tidak bisa fokus). Konsentrasi mereka sangat terbatas sehingga menghambat penerimaan informasi dari lingkungan. Selain itu, ada gejala Impulsifitas, anak mengalami kelainan sikap atau ketidak harmonisan antara pikiran dengan tindakannya (disorder among think and do). Anak biasanya susah menentukan aktifitas mana yang harus dikerjakan duluan sehingga hal ini mengganggu kepribadian dan aktifitas mereka dengan lingkungan. Pada gejala hiperaktifitas, aktifitas motorik anak terjadi secera berlebihan tidak sebanding dengan anak normal seusianya karena mereka biasanya  sulit untuk ditenangkan.

Pada panelitian kali ini, peneliti ingin melihat apakah gejala impulsif pada anak ADHD bisa mengalami penurunan jika dilakukan modifikasi perilaku dengan pendekatan reinforcement positif. Subjek dengan gejala impulsifitas suka menjaili teman-temannya sehingga membuat resah guru ataupun orang tua murid lainnya karena mengganggu proses belajar mengajar. Proses menjailinya adalah : mengganggu teman-temannya, mengambil barang milik temannya dan tidak mau mengakui.

   Menurut Skinner, perilaku manusia terbentuk atas konsekuensi yang diterima. Jika perilaku akan berulang jika mendapat penguatan positif dan sebaliknya perilaku akan berhenti jika mendapat penguatan negatif (hukuman). Pendekatan behavioral lebih berorientasi pada masa depan dalam menyelesaikan masalah dengan proses belajar dan lingkungan individu.  

Reinforcement adalah konsekuensi yang diberikan untuk memperkuat perilaku. Pemberian reinforcement positif mengacu pada teori operant conditioning dari Skinner yang memandang hadiah (reward) atau penguatan (reinforcement) sebagai unsur yang penting dalam kegiatan pembelajaran, karena dengan pemberin pengukuhan positif memberikan bukti salah satu bentuk perhatian dari konselor kepada klien (Walgito, 2004). Mereka digunakan dalam pengobatan ADHD untuk memberikan struktur untuk anak dan untuk memperkuat perilaku yang sesuai. Dalam penelitian ini, menggunakan teknik reinforcement positif dengan pemberian reward.

Menurut Skinner (Corey, 2010) reinforcement positif yaitu sesuatu rangsangan (stimulus) untuk memperkuat tingkah laku tertentu. Reinforcement positif ini berbentuk reward (hadiah, atau imbalan), baik secara verbal (kata-kata atau ucapan pujian), maupun secara non-verbal (isyarat, senyuman, hadiah berupa benda-benda dan makanan), contohnya: pujian atau hadiah (sebagai rangsangan) yang diberikan kepada anak yang telah berhasil menulis huruf hijaiyah dengan baik, akan memperkuat, memperteguh atau mendorong anak untuk lebih giat lagi dalam belajarnya.

Beberapa penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa modifikasi perilaku adalah salah satu cara efektif untuk menangani gangguan perilaku ADHD seperti penelitian (Suprihatin, 2018) mengungkapkan bahwa modifikasi token ekonomi mampu meningkatkan perilaku memperhatikan pada siswa SD yang mengalami gejala gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). Adapun penelitian yang dilakukan oleh (Calista, Kurniah, & Ardina, 2019) yaitu reinforcement dapat meningkatkan disiplin pada anak di PAUD Negeri Pembina 1 Kota Bengkulu serta penelitian yang dilakukan oleh (Maharani, n.d.) yang menjelaskan bahwa pemberian reiforcement positif akan meningkatkan perilaku disiplin masuk kelas pada anak dengan gangguan disabilitas intelektual.

Dari penelitian terdahulu terdapat perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari beberapa aspek yaitu subjek berbeda, tempat penelitian, perilaku yang hendak dirubah serta jenis modifikasi perilaku yang digunakan. Peneliti menggunakan modifikasi perilaku reinforcement positif untuk menurunkan perilaku suka \/intervensi (Barlow, D. H. & Hersen, 1984). Kondisi A (baseline) peneliti melihat perlakuan subjek tanpa ada pemberian penguatan seperti hadiah. Kondisi ini juga biasa disebut sebagai no behavior modification. Sementara,  Kondisi B (intervensi) subjek akan mendapat perlakuan yaitu dengan pemberian hadiah atau reward jika berhasil merubah perilakunya. Kondisi ini juga biasa disebut dengan high behavior modification. Pada fase intervensi kedua (pengulangan) diharapkan terjadi perubahan pada perilaku target; meningkat untuk perilaku yang diharapkan dan menurun untuk perilaku yang tidak diharapkan (Barlow, D. H. & Hersen, 1984); (Sunanto, Takeuchi, & Nakata, 2005). Data kemudian akan dianalisis secara kualitatif bertujuan untuk melihat apakah ada perubahan yang dialami dengan riwayat perkembangan perilaku atau gangguan sebelum intervensi. Analisis kualitatif dilakukan berdasarkan hasil observasi, laporan harian dan wawancara selama proses penelitian (Creswell & Creswell, 2017).

 

Hasil dan Pembahasan

1.      Profil Subjek

Subjek adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Subjek lahir secara caesar pada sebuah RS dikota Surabaya. Saat masa kehamilannya, ibu subjek mengaku bahwa sering mengidam makan ayam chrispy entah KFC atau mc.Donnals. Jadi selama masa kehamilannya beliau selalu mengkonsumsi makanan cepat saji. Subjek kemudian tidak mendapatkan ASI dari ibunya. Dia mengkonsumsi susu formula. Klien kemudian tumbuh seperti anak seusianya.

Awal mula subjek menunjukkan perilaku yang “aneh” menurut keluarganya yaitu saat subjek berusia 3 tahun. Pada usianya 3 tahun itu, subjek sempat dibawa ke Ambon dan tinggal disana selama satu bulan. Menurut ibunya, subjek dibawa ke Ambon karena ibunya harus ke Malaysia sehingga tidak ada yang merawatnya.  Kedua kakaknya pun masih bersekolah serta ayahnya bekerja sehingga tidak bisa merawat klien. Saat di Ambon, subjek dirawat oleh kakak sepupunya. Saat di Ambon, sudah ada keluhan dari yang merawat subjek, kakak sepupunya menyebutkan bahwa subjek saat ditegur seperti tidak mendengarkan atau mengabaikan saat dia sedang asik bermain di pekarangan rumah yang memang cukup luas.

Saat subjek kembali dari Ambon klien menjadi sangat aktif. Orang tuanya menganggap karena lama tidak berjumpa sehingga subjek berlari kesana-kemari saat didalam rumah. Mereka beranggapan bahwa subjek masih terbawa suasana saat di Ambon bermain di pekarangan rumah yang cukup luas, sehingga saat di Surabaya tinggal di perumahan serta dibatasi oleh pagar membuat subjek tidak bisa tenang. Menurut ibunya juga, subjek suka makan coklat dan permen, karena saat itu masih ada sisa coklat dan permen dari Malaysia. Saat subjek mengkonsumsi coklat atau permen, subjek akan sangat aktif. Namun, belum disadari oleh orang tua. Sampai saat di Gereja, guru sekolah minggu klien memberitahu bahwa subjek ini susah fokus dan tidak bisa tenang serta menganjurkkan untuk mengurangi pemberian permen dan makanan atau minuman yang terlalu manis agar subjek tidak seaktif biasanya.

Subjek saat di sekolah sulit diatur, menurut gurunya harus ditegur berkali-kali baru kemudian subjek akan mendengar. Subjek saat berbaris untuk mau masuk kelas, dia selalu keluar dari barisannya dan berputar-putar menjaili teman-temannya. Menurut gurunya saat didalam kelas, subjek akan berlari kesana-kemari dan mendatangi teman-temannya. Subjek juga tidak bisa disuruh kerjakan bersama dengan teman-temannya. Klien mudah marah dan terpancing emosinya. Subjek beberapa kali dipisahkan dari teman-temannya, dibiarkan kerja tugas di ruang kepala sekolah. Namun, menurut guru subjek memiliki kemampuan akademis yang baik. Dia mampu mengerjakan soal-soal atau tugas yang diberikan di sekolah. Hanya saja, perilakunya yang sulit dikontrol dan konsentrasi yang cepat buyar.

Hal tersebut dibenarkan oleh orang tua subjek, ibu subjek bercerita bahwa subjek saat dirumah akan berlari kesana-kemari. Awalnya dia berpikir, mungkin saat di Ambon, ruang geraknya luas sehingga saat di Surabaya yang halaman rumahnya sempit itu membuat subjek seperti kebingungan. Namun, lama-kelamaan perilaku itu tidak berhenti atau tidak berkurang akan tetapi stabil dan kadang-kadang lebih aktif. Ibunya menyebutkan, subjek sering bertengkar dengan kakaknya yang nomor dua. Subjek saat di rumah, sukanya bermain mobil-mobilan. Namun, tidak seberapa lama, dia berganti bermain handphone hanya saja sekarang dibatasi sehingga dia lebih suka mewarnai atau bermain permainan yang lain. Subjek saat aktif bermain, saat ditegur klien tidak menghiraukan mereka. Terkadang saat sedang berlari, subjek harus dipegang atau peluk erat baru kemudian dia berhenti dan berganti mainanya. Saat disuruh belajar dia menolak. Menurut subjek dia sudah belajar di sekolah jadi tidak mau belajar di rumah.

Subjek sering menjaili teman-temannya di sekolah, seperti memainkan ayunan bersama temannya tetapi sangat kencang sehingga membuat temannya menangis. Kemudian, mengambil penghapus temannya sampai temannya menangis, tetapi saat ditanya subjek tidak mau mengakui perbuatannya. Begitupun saat dia berlari di sekolah, biasanya sambil merobek atau mencabut bunga di sekolahnya. Saat ditanyapun klien tidak mengakuinya. Padahal jelas-jelas dilihat oleh ibunya.

Menurut ibunya, subjek saat ditegur atau dimarahi, dia akan kembali marah dan mengeluarkan kata-kata kasar, misalnya beberapa waktu lalu saat kakinya yang luka dibersihkan kemudian dia merasa perih, dia langsung berteriak dengan kencang dan keras “mama sakit, lio tempeleng ya”. Begitupun saat dia marah dia akan memukul dan berteriak dengan keras. Menurut ibunya, saat menyadari bahwa klien berbeda dari anak normal seusianya ia tidak membiarkan subjek sendiri di sekolah. Subjek tetap diawasi oleh ibunya, karena takut subjek menjaili teman-temannya atau mendapat perlakuan kasar dari guru atau orang tua murid yang lain sehingga membuatnya tidak mau bersekolah lagi.

2.      Hasil Asesmen Alat Tes

Dari hasil asesmen, subjek memang merupakan anak yang cendrung sangat aktif. Subjek saat disekolah lebih sering bergerak seperti tidak kehabisan tenang. Menurut ibunya, subjek sulit saat dtegur, subjek sering mendapat teguran dari gurunya saat disekolah karena subjek mengganggu teman-temannya.

Dari hasil tes intelegensi, menunjukkan subjek memiliki IQ 125 yaitu masuk kategori superior. Dalam aspek pengertian umum serta kemampuan visual motor subjek sudah cukup mampu memahami hal-hal yang berlaku di lingkungannya. Contohnya seperti memahami perintah-perintah sederhana yang disampaikan, walau dalam observasi tes berlangsung memang subjek gampang terpecah konsentrasinya jika harus diminta untuk mengerjakan sesuatu. Subjek mampu menganalisis bagian tubuh dan fungsinya hanya jika digambar itu klien sedikit mengalami kesulitan. Kemudian kemampuan arithmetic reasoning subjek cukup mampu melaksanakan sesuai dengan anak seusianya. Namun, dalam aspek memory & concentration klien belum mampu mengoptimalkan kemampuan mengingat dan berkonsentrasi dengan baik, seperti mengulang angka, subjek mudah lupa karena sulit berkonsentrasi. Akan tetapi jika diulang berkali-kali subjek mampu mengulangnya. Untuk mengingat gambar, serta menyebut benda klien sudah belum maksimal dan mengoptimalkan kemampuannya. Dalam aspek vocabulary & verbal fluency subjek cukup mampu namun hanya perlu didorong untuk lebih baik lagi. Subjek perbendaharaan kata masih cukup, serta menyebut definisi-definisi gambar dan kata-kata sudah sangat baik. Dan yang terakhir untuk aspek judgment & reasoning subjek mampu dalam memahami sesuai dengan baik benda dari pemakaiannya, membandingkan gambar dan sebagainya.

Gambaran diri yang dimiliki subjek adalah ia anak yang membutuhkan perhatian dari orang tuanya. Karena selama ini jauh dari orang tuanya dan bertemunya sebentar membuat subjek merasa kurang kasih sayang. Walaupun subjek mengerti bahwa orang tuanya sibuk mencari uang untuk kebutuhan hidupnya.

Subjek selama ini dirumah dengan mamanya, saudara-saudaranya bersekolah dan pulang lagi sudah sore, sehingga membuatnya kekurangan teman bermain dan berinteraksi. Ini juga didukung dengan rumahnya di daerah perumahan yang otomatis tidak memiliki teman membuat subjek merasa tidak bebas untuk dia mengeksplore keinginannya. Klien pun kadang takut jika harus ditinggal sendiri apalagi ditinggal oleh ibunya. Karena subjek sangat dekat dengan ibunya.

Dan dari hasil pengisian CBCL terlihat subjek memiliki problem pada Thought, attention dan aggressive. Ini memperkuat diagnosis awal yang mengarah pada ADHD, karena gangguan pada perhatian dan keaktifannya

3.      Hasil Analisis

Pada fase baseline subjek menunjukkan sikap impulsif yang tinggi. Subjek sering ditegur oleh gurunya selama 4 hari observasi. Subjek sering meninggalkan tempat duduk. Mengambil penggaris milik temannya, sedangkan penggaris klien sudah disediakan. Subjek pun diarahkan untuk mengerjakan tugas di ruang kepala sekolah agar terpisah dari teman-temannya karena sering mendatangi tempat duduk teman-temannya. Subjek ketahuan mengambil penghapus milik temannya, penghapus tersebut tiba-tiba ada dimejanya. Saat dikonfirmasi subjek tidak mau mengakui, walaupun sudah ada saksi yang melihat perilakunya.

Kemudian saat fase intervensi, awalnya subjek masih sering lupa akan perjanjiannya akan tetapi selalu diingatkan oleh peneliti dan guru. Subjek selalu diarahkan. Sehingga perilakunya menjadi berkurang.

Pada fase selanjutnya subjek akan tetap dikontrol untuk tidak menjaili atau mengganggu teman-temannya. Walaupun tidak mendapatkan hadiah lagi. walaupun ini perilaku meningkat tidak seperti saat baseline pertama.

 

 

 

 

 

4.      Diskusi

Dari riwayat perkembangan dan pertumbuhan subjek maka peneliti mengarahkan diagnosa bahwa subjek mengalami gangguan ADHD. Sebagaimana menurut (Barkley, 2002), (Goldstein & Brooks, 2007) bahwa penyebab ADHD diantaranya adalah faktor biologi dan faktor neurologi. Faktor biologi (abnormalitas dalam perkembangan otak) dianggap sebagai penyebab utama, sedangkan faktor lain (faktor lingkungan dan sosial) memberi kontribusi pada perkembangan gangguan ini. Hal ini juga terjadi pada subjek dimana ibu subjek saat mengandung sudah berusia 40 tahun dimana usia tersebut rentan terjadi kelainan pada janin. Beliau pun membenarkan bahwa selama masa kehamilan sering menikmati makanan cepat saji dan inipun secara tidak langsung berpengaruh pada perkembangan janin.  

Kemudian, pola asuh pun mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan subjek. Subjek sendiri pernah diasuh oleh saudara di Ambon dengan pola pengasuhan yang cendrung membolehkan segala kegiatan subjek (permisif) kemudian dialihkan kembali pada orang tua dengan pola pengasuhan yang tidak bebas sehingga membuat subjek seperti terkurung dan tidak mendapat kebebasan. Hal tersebut dapat menjadi faktor pendukung terjadinya gangguan perilaku seperti yang diutarakan (Baihaqi & Sugiarmin, 2006) faktor keluarga seperti pola asuh, penerapan disiplin/aturan, harapan yang saling bertentangan antara kedua orangtua dan anak, konflik dalam keluarga dan sebagainya memberi pengaruh munculnya gejala ADHD atau semakin memperparah gejala tersebut.

Intervensi yang diberikan pada subjek  menunjukkan adanya perubahan perilaku tenang saat di dalam kelas semakin meningkat, dan dia tidak menjaili temannya dalam ketentuan waktu per 15 menit. Pada fase intervensi, adanya hadiah (reward) menyebabkan subjek berusaha untuk mencapai perilaku yang disepakati untuk dapat mengumpulkan hadiahnya.

Hasil penelitian terhadap subjek terbukti bahwa reinforcement positif dapat menurunkan tingkat kejailan pada anak dengan gejala ADHD. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat (Delphie, 2006) yakni modifikasi perilaku saat pelaksanaan pembelajaran sangat efektif. Hal ini dikarenakan perilaku dapat dikontrol melalui konsekuensi-konsekuensi yang diberikan karena adanya target pembelajaran. Jika perilaku sesuai dengan target maka konsekuensinya akan mendapat reward. Begitupun sebaliknya jika perilaku tidak sesuai target makan tidak akan mendapat reward. Biasanya saat diberikan reward subjek akan bahagia sehingga perilaku tersebut akan diulang sampai dengan intervensi terakhir dimana tidak diberikan reward akan tetapi perilaku sudah mengalami perubahan karena proses pembelajaran.  Hal ini tampak pada grafik perilaku mengganggu atau menjaili teman, saat reward diberikan pada fase intervensi maka frekuensi kemunculan perilaku menurun. Sebaliknya, saat reward tidak diberikan di fase baseline kedua frekuensi perilaku menjaili teman meningkat walau tidak separah baseline I.

Pendekatan perilaku menjelaskan bahwa seseorang akan mengulang aktifitas jika memberikan hasil yang membahagiakan seperti hadiah. Penggunaan hadiah untuk dapat menambah minat atau kesenangan pada suatu hal serta mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan pada perilaku yang tidak tepat (Emmer, E. T., Evertson, C.M., Clements, B. S. & Worsham, 2000).

 

Kesimpulan

Berdasarkan analisis kualitatif seperti yang telah dibahas diatas, dapat disimpulkan bahwa: modifikasi perilaku berupa reinforcement positif dapat dijadikan model pembelajaran untuk anak-anak dengan kondisi khusus, seperti anak dengan ADHD. Reinforcement positif dapat mengurangi perilaku mengganggu atau menjaili teman saat di kelas. Reward berupa hadiah yang sudah disepakati oleh subjek yang diberikan terhadap keberhasilan saat mengurangi perilaku membuat anak semakin meningkatkan usahanya untuk mencapai hasil yang lebih baik.

 

 


BIBLIOGRAFI

Baihaqi, M. I. F., & Sugiarmin, M. (2006). Memahami dan membantu anak ADHD. Bandung: PT. Refika Aditama.

 

Barkley, Russell A. (2002). Psychosocial treatments for attention-deficit/hyperactivity disorder in children. Journal of Clinical Psychiatry, 63, 36–43.

 

Barlow, D. H. & Hersen, M. (1984). Single Case Experimental Designs: Strategies for Studying Behavior Change. USA: Pergamon PreS.

 

Calista, Viona, Kurniah, Nina, & Ardina, Mona. (2019). Hubungan Reinforcement Terhadap Disiplin Anak Usia Dini Di Paud Pembina 1 Kota Bengkulu (Studi Deskriptif Kuantitatif Di PAUD Pembina 1 Kota Bengkulu). Jurnal Ilmiah POTENSIA, 4(1), 13–17.

 

Corey, Gerald. (2010). Teori dan Praktek Konseling Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.

 

Creswell, John W., & Creswell, J. David. (2017). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage publications.

 

Delphie, Bandi. (2006). Pembelajaran anak berkebutuhan khusus. Bandung: Refika Aditama.

 

Emmer, E. T., Evertson, C.M., Clements, B. S. & Worsham, M. E. (2000). Classroom Management for Successful Teachers (4th ed.). Boston : Allyn & Bacon.

 

Goldstein, Sam Ed, & Brooks, Robert B. (2007). Understanding and managing children’s classroom behavior: Creating sustainable, resilient classrooms. John Wiley & Sons, Inc.

 

Maharani, Muthia. (2016). Teknik Positive Reinforcement Untuk Meningkatkan Perilaku Disiplin Masuk Kelas Pada Anak Dengan Gangguan Disabilitas Intelektual.

 

Paternotte, Arga, & Buitelaar, Jan. (2010). ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Penerjemah: Julia Maria Van Tiel. Jakarta: Penerbit Prenada Media Group.

 

Serfontein, Gordon, & Lykissas, Jennifer. (1992). The hidden handicap: How to help children who suffer from dyslexia, hyperactivity and learning difficulties. Royal Victorian Institute for the Blind. Tertiary Resource/Production Service.

 

Sunanto, Juang, Takeuchi, Koji, & Nakata, Hideo. (2005). Pengantar penelitian dengan subjek tunggal. Universitas Tsukuba: Crice.

 

Suprihatin, Titin. (2018). Modifikasi Perilaku Untuk Meningkatkan Perilaku Memperhatikan Pada Siswa Sd Yang Mengalami Gejala Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Hiperaktivitas (Gpph). Proyeksi: Jurnal Psikologi, 9(2), 15–36.

 

Walgito, Bimo. (2004). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Andi Offset.