Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN: 2548-1398

Vol. 6, No. 3, Maret 2021

 

KOMUNIKASI DAKWAH DALAM MENINGKATKAN SELF CONTROL PADA NARAPIDANA NARKOBA DILAPAS KELAS II A PEKANBARU

 

Didin Siskawati

Universitas Riau (UNRI), Indonesia

Email: didinsiskawati28@gmail.com

 

Abstract

The purpose of this study is to describe and analyze the form of communication carried out by prison officers to drug convicts in improving the self-control of drug convicts, to describe and analyze the ustadz da'wah communication techniques used in improving the self-control of drug convicts, and to describe and analyze the Self Control of Drug Prisoners. at the Class II Correctional Institution in Pekanbaru. The data collection technique was done by observing, interviewing and documenting. The data analysis technique was carried out by the stages of data presentation, data reduction, and conclusion / verification. The validity test in qualitative research includes credibility, transferability, dependability, and confirmability tests. The results showed that the visible forms of da'wah communication were personal communication and group communication. The visible forms of personal communication are ustadz and prison guards directly inviting inmates to participate in religious activities, for example in the case of the Koran, prayer, and so on. Then the form of group communication that is carried out is with the inmates participating in the recitation activity which is a routine program and must be followed by inmates at the mosque by listening to religious lectures by the appointed ustadz.

 

Keywords: dakwah communications; selfcontrol; drug convicts

 

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis bentuk komunikasi yang dilakukan petugas lapas kepada narapidana narkoba dalam meningkatkan self control narapidana narkoba, untuk mendeskripsikan dan menganalisis teknik komunikasi dakwah ustadz yang digunakan dalam meningkatkan self control narapidana narkoba, dan untuk mendeskripsikan dan menganalisis Self Control Narapidana Narkoba di Lembaga Permasyarakatan Kelas II Pekanbaru. Dalam penelitian ini diterapkan jenis metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Jenis pendekatan studi kasus ini merupakan jenis pendekatan yang digunakan untuk menyelidiki dan memahami sebuah kejadian atau masalah yang telah terjadi dengan mengumpulkan berbagai macam informasi yang kemudian diolah untuk mendapatkan sebuah solusi agar masalah yang diungkap dapat terselesaikan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan tahapan penyajian data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Uji keabsahan dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility, transferability, dependability, dan confirmability. Hasil penelitian menunjukkan bentuk komunikasi dakwah yang terlihat yaitu komunikasi pribadi dan komunikasi kelompok. Bentuk komunikasi pribadi yang terlihat adalah ustadz dan juga penjaga lapas mengajak secara langsung narapidana untuk mengikuti kegiatan keagamaan, misalnya dalam hal mengaji, sholat, dan sebagainya. Kemudian bentuk komunikasi kelompok yang dilakukan adalah dengan para narapidana mengikuti kegiatan pengajian yang merupakan program rutin dan wajib diikuti oleh narapidana di masjid dengan mendengarkan uraian ceramah agama oleh ustadz yang telah ditunjuk.

 

Kata kunci: komunikasi dakwah; selfcontrol; narapidana narkoba

 

Coresponden Author

Email: didinsiskawati28@gmail.com

Artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi

 

Pendahuluan

Secara Semantik, dakwah berarti ajakan, atau panggilan (Ma’ruf, 2015). Allah SWT mengajak orang-orang beriman pada perkampungan damai’ (Dar Al-salam) yang penuh dengan kebahagiaan yang kekal. Para nabi mengajak umatnya ke jalan yang lurus, di sisi lain syaitan pun mengajak kelompoknya pada kesesatan. Kehadiran nabi merupakan sebentuk kasih sayang Allah terhadap manusia, meski manusia kerap kali mengingkari, menentang, dan bahkan membunuhnya. Allah selalu mengutus nabi berikutnya yang berakhir pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Semua nabi berasal dari manusia, tidak ada jin yang diangkat menjadi nabi. Ajaran nabi berlaku pula bagi jin. Dakwah Islam menyeru manusia kepada fitrah yang hanif sebagai ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Fitrah merupakan kesaksian bahwa tiada Tuhan kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Zat Yang Maha Tunggal dan Maha Kekal.

Secara terminologi, dakwah adalah upaya untuk mengajak orang lain kepada ajaran Islam dengan terlebih dahulu membina diri sendiri. Pembinaan diri sendiri menjadi sesuatu yang mutlak karena dakwah membutuhkan keteladanan. Penyampaian ajaran agama kepada masyarakat dilakukan secara bijak sehingga Islam dipahami dan diamalkan oleh masyarakat. Diperlukan adanya pembimbing kehidupan beragama agar agama menjadi panduan bagi kehidupan manusia (Kafie, 2016).

Manusia membutuhkan ajaran Islam sebab Islam mengajarkan hal yang mendasar, yaitu Tauhidullah. Ajaran Islam merupakan ajaran yang haq (benar) yang melandasi semua aspek yang dilakukan oleh manusia. Manusia akan tertimpa kegelapan batinnya bila tidak memenuhi panggilan Tuhannya. Dengan mengesakan Allah, manusia akan bisa mengetahui dari mana manusia berasal, hendak kemana, dan dengan cara apa menempuhnya. Komunikasi dakwah sebagai kelanjutan dari tugas dakwah Islam berupaya untuk mengenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas dengan format yang lebih cair dan santai (Anshari, 2017).

Pada komunikasi dakwah terdapat faktor teknologi komunikasi dan informasi seperti media massa (televisi, film, novel) dan media sosial. Dengan masuknya teknologi komunikasi, dakwah menjadi sangat fleksibel dan memiliki mobilitas tinggi. Komunikasi dakwah dapat mengantarkan pesan secara tepat dan mendalam, masing-masing dapat mengisi kelemahan yang lain. Komunikasi dakwah dapat digunakan oleh komunitas non-muslim. Tetapi, bila tidak cermat melaksanakan agendanya, komunikasi dakwah akan kontraproduktif bagi kegiatan dakwahnya. Pada komunikasi dakwah, karena adanya faktor media, terutama  media massa dan media jejaring sosial terlihat lebih menghibur. Karena membutuhkan capital yang cukup besar untuk modal pendirian dan operasionalnya, komunikasi dakwah dikemas dengan baik agar menarik sehingga membawa citra yang positif. Komunikasi dakwah dapat membawa pencitraan yang baik dan popularitas, sedangkan dakwah membawa pengamalan Islam secara langsung sehingga terasa hangat dan manfaat (Hafidhuddin, 2018). Aktivitas komunikasi dakwah harus memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mudatsir (74:1-7):

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ  ١ قُمۡ فَأَنذِرۡ  ٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ  ٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ  ٤ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ  ٥ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ  ٦ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ  ٧

 

“Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunglah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkan, dan pakaianmu bersihkan, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan masksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah”.

 

Komunikasi dakwah memiliki tujuan yaitu untuk menciptakan suatu tatanan kehidupan individu dan masyarakat yang aman, damai, serta sejahtera yang dinaungi oleh kebahagiaan jasmani dan rohani dalam sinaran Illahi. Komunikasi dakwah sangat penting dilakukan untuk memperoleh keluaran yang tertukar. Umat Islam berupaya dapat mewujudkan agenda kebajikan, keadilan, dan keindahan dalam kehidupan sehari-hari (Aziz, 2019).

Komunikasi dakwah mencakup semua aktivitas jasmani dan rohani dan mental-intelektial yang diperoleh melalui interaksi positif dengan sentuhan personal, kolektif, atau massal dalam berbagai segi kehidupan. Nabi Muhammad SAW, sebagai figur panutan utama, bersama para sahabat radliyallah ‘anhum (semoga Allah meridai mereka) telah melakukan aktivitas ini dalam rangkaian yang integral. Dakwah Nabi SAW, telah mengubah tatanan sosial, politik, ekonomi, tingkah laku, dan pemikiran di negeri Arab dan non Arab. Keberhasilan dakwah merupakan kesuksesan dalam penyampaian informasi yang aksesibel, selain sebagai taufik dari Allah SWT yang sangat besar (Munir, M, dan Ilahi, 2016).

Komunikasi dakwah berupaya untuk menyegarkan ‘amar ma’ruf dan nahyi munkar’ yang tidak bisa digantikan dengan kenikmatan hidup para dai yang telah sukes dan memperoleh kehidupan gebyar (glamour). Komunikasi dakwah tidak boleh kehilangan jati diri akan kesahajaan hidup karena hakikat kemewahan diperuntukkan bagi orang-orang yang hidup di surga (Munir, M, dan Ilahi, 2016).

Salah satu komunikasi dakwah yang dilakukan adalah di lembaga pemasyarakatan, khususnya pada napi narkoba. Napi narkoba merupakan seseorang yang dihukum karena penyalahgunaan obat psikotropika (narkoba). Narkoba menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintestis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan kedalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang atau yang kemudian ditetapkan sebagaimana keputusan Menteri Kesehatan. Sedangkan Korp Recerce Narkoba mengatakan bahwa narkotika adalah zat yang dapat menimbulkan perubahan perasaan, susunan pengamatan atau penglihatan karena zat tersebut mempengaruhi susunan saraf (Narkoba., 2017).

Undang-undang RI No. 35 tentang narkotika menjelaskan terdapat tiga jenis golongan narkotika, yaitu sebagai berikut:

Tabel 1

Jenis-Jenis Narkotika

No

Jenis-jenis Narkotika ( Narkotika dan Obat-obatan )

1.

Narkotika Golongan 1 Seperti: Ganja, Heroin, Tanaman koka, Opium, Ganja, dan lebih dari 65 macam jenis lainnya.

2.

Narkotika Golongan II, sementara narkotika golongan 2 ini bisa dimanfaatkan untuk pengobatan asalkan sesuai dengan resep dokter. Narkotika golongan 2 ini memiliki kurang lebih ada 85 jenis. Seperti: Morfin, Alfaprodina, petidin, fentanyl, Metadon dan lain-lain. Narkotika golongan 2 (dua) ini bisa berpotensi tinggi yang mengakibatkan ketergantungan.

3.

Golongan III adalah narkotika yang memiliki resiko ketergantungan yang cukup ringan, dan dimanfaatkan untuk pengobatan serta terapi.

Sumber: Undang-Undang RI No.35 Tentang Narkotika

 

Narapidana narkoba yang terjadi di Indonesia saat ini mengalami pertambahan jumlah yang signifikan. Mereka memiliki peran yang beragam yaitu ada yang berperan sebagai bandar, kurir, pengedar dan pemakai. Jumlah narapidana narkoba di Riau khususnya di Lembaga Pemasyarakatan di Jalan Lembaga Pemasyarakatan pada tanggal 13 November 2019 berjumlah 1314. Dari banyaknya jumlah yang terdapat di lapas tersebut pengedar adalah jumlah yang sangat banyak. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Mereka yang ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan (disingkat Lapas) yang telah dijatuhi hukuman oleh penegak hukum. Dengan bertambahnya jumlah narapidana narkoba tersebut menunjukkan bahwa narkoba merupakan problem sosial yang bisa menimpa siapa saja yang berada di dekatnya.

Adanya komunikasi dakwah di sela-sela kehidupan Narapidana narkoba di lapas menjadi suatu bimbingan yang sangat penting. Maka dari itu harapan dan tujuan komunikasi dakwah sebagai upaya untuk melakukan perubahan ke arah yang positif dan menumbuhkan sikap kesadaran para Narapidana narkoba agar dapat menjalani kehidupan yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, baik sesuai aturan agama maupun aturan negara (Lapas Kelas II A Pekanbaru).

Dalam penyampaian komunikasi dakwah yaitu ceramah yang dilaksanakan di Lapas Kelas II A Pekanbaru oleh 17 Ustadz yang mengisi kegiatan dakwah tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari senin sampai dengan hari sabtu. Adapun daftar nama Ustadz yang mengisi ceramah di Masjid At-Taubah Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pekanbaru yaitu:

Tabel 2

Data Ustadz yang Mengisi Kegiatan Dakwah Kepada Narapida Narkoba di Lapas Kelas II A Pekanbaru

No

Nama Ustadz

Materi

1

Ustadz DKM Masjid At-Taubah

Tahsin Al-qur’an

2

Ustadz Apriyadi, S.Ag.

Tilawah Al-Qur’an

3

Buya DR. H. Agustiar, MA

Bahasa Arab

4

Ustadz Drs, Wizard Adnan, Mirwan M.Pd, Buya Makmur, Haromain dan Ali Imron (MDI dan IKMI).

Kajian ilmu Qur’an Hadits, Aqidah Akhlak, Tasawuf dan Khasanah Islam

5

Ustadz DR. H. Mawardi Saleh, Lc.MA

Kajian Ilmu Fiqih

6

Ustadz-ustadz Taboligh

Kajian Fadilah Amal

Sumber: Erik Suranta Ginting (Kasi Binadik) Lapas  Kelas II A Pekanbaru, 2020

 

Menurut Carver dan Scheier, setiap prilaku pasti ada penyebabnya, ada suatu proses yang mengontrol seseorang berprilaku baik yang berasal dari diri sendiri (self regulation/internal regulation). Ketika narapidana narkoba merasa berada di tempat yang salah, tidak merasa bersalah karena bukan pelaku criminal, hanya sebagai pengguna narkoba dan merasa bahwa kasusnya merupakan pengembangan dari kasus orang lain, itu menunjukkan bahwa regulation atau control diri narapidana tersebut lemah (Carver, 2017).

Lembaga Pemasyarakatan adalah sebuah lembaga yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk memberi wadah dalam membina narapidana dan anak didik pemasyarakatan agar mereka mempunyai cukup bekal untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik setelah menjalani masa pidana. Oleh sebab itu, Lembaga Pemasyarakatan merupakan suatu tenpat keadilan yang bertujuan untuk mencapai reintegrasi sosial atau pulihnya hubungan antara narapidana di Lembaga Pemasyarakatan dengan masyarakat (Lapas Kelas II A Pekanbaru).

   Kajian terdahulu yang digunakan peneliti sebagai pendukung dalam penelitian ini ada empat, yaitu yang pertama penelitian oleh Budi Ariyantodari, dkk dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati bandung dengan judul “Pembinaan Mental di Lembaga Pemasyarakatan: Tinjauan Strategi komunikasi Dakwah. Kedua penelitian oleh Muklis dari Universitas Walisongo Semarang dengan judul “Strategi Dakwah Bagi Narapidana Narkoba di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II A Semarang. Penelitian ketiga oleh Faridah dari Universitas Alauddin Masakassar dengan judul “Strategi Dakwah Dalam Pembinaan Spiritual Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Sungguhminasa Gowa. Terakhir adalah penelitian terdahulu oleh Asep Afriansyah dari Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang dengan judulBimbingan Keagamaan Menggunakan terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) untung mengembangkan Self Control (Studi Analisis Warga Binaan di Madrasah Diniyah At-Taubah LapasKelas II A Kedungpane Semarang.  Penelitian yang berjudul pelaksanaan bimbingan agama islam untuk meningkatkan selfcontrol pada narapidana di pondok pesantren nurul hidayah lapas kelas II B tegal yaitu bertjuan untuk mengetahui pelaksanaan bimbingan agama islam pondok pesantren nurul hidayah lapas kelas II B tegal. Kegiatan spiritusl pada kajian terdahulu berbeda dengan kegiatan spiritual yang ada pada penelitian yang telah peneliti laksanakan, sehingga terdapat perbedaan pada konsep bimbingan secara spiritualisme yang ada di lembaga pemasyarakatan kelas II A Pekanbaru.  

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan menganalisis bentuk komunikasi dakwah dalam meningkatkan selfcontrol pada narapidana narkoba di lembaga pemasyarakatan kelas II A Pekanbaru, untuk menjelaskan dan menganalisis teknik komunikasi dakwah dalam meningkatkan selfcontrol pada narapidana narkoba di lembaga pemasyarakatan kelas II A Pekanbaru, dan untuk menjelaskan dan menganailis selfcontrol narapidana narkoba di lembaga pemasyarakatan kelas II A Pekanbaru. Manfaat dari penelitian ini adalah penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber acuan mengenai komunikasi dakwah dan memperoleh data empiris tentang komunikasi dakwah dalam meningkatkan selfcontrol pada narapidana narkoba di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pekanbaru. Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat baik secara langsung maupun secara tidak langsung kegunaans teoritis dan kegunaan praktis. Kegunaan teoritus yaitu penelitian ini berguna untuk menambah pengetahuan mengenai komuniaksi dakwah dan memeproleh data empiris tentangkomunikasi dakwah yang dilakukan ustadz kepada narapidana narkoba dilembaga pemasyarakatan kelas II A Pekanbaru. Kegunaan praktis yaitu penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan informasi kepada smeua pihak lembaga pemasyarakatan kelas II A Pekanbaru dalam menggunakan komuniaksi dakwah sebagai teknik paling efektif dalam meningkatkan selfcontrol pada narapidana narkoba.  

 

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti terdiri dari data primer dan data sekunder. Lokasi penelitian dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pekanbaru, Jalan Lembaga Pemasyarakatan No.19, Provinsi Riau sebagai tempat para Narapidana Narkoba yang dihuni oleh Laki-laki. Sebagai penelitian kualitatif, maka subjek dalam penelitian ini adalan informan yang dijadikan sebagai sumber data. Teknik pemilihan informan yang digunakan adalah teknik purposive (purposive). Teknik ini mencakup orang-orang yang dipilih berdasarkan kriteria-kriteria atau kategori tertentu yang dibuat sesuai kebutuhan tujuan penelitian.

 

Hasil dan Pembahasan

Komunikasi dakwah merupakan penyampaian pesan-pesan keagamaan dalam berbagai tatanan agar jamaahnya terpanggil dan merasakan pentingnya nilai Islam dalam kehidupan. Penyampaian ajaran agama kepada masyarakat dilakukan secara bijak sehingga ajaran Islam dipahami dan diamalkan oleh masyarakat, diperlukan adanya pembimbing kehidupan beragama agar agama menjadi panduan bagi kehidupan manusia.

Demikian pula yang bisa dilihat di Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Pekanbaru terutama terkait dengan Narapidana Narkoba. Di LP tersebut dilakukan pembinaan narapidana oleh seorang ustadz untuk mengajarkan dan membimbing narapidana untuk lebih mendalami ajaran Islam serta mengamalkannya sehingga dapat berdampak bagi dirinya terutama dalam hal self control. Narapidana merupakan sumber daya manusia yang harus diperhatikan dalam konsensus dakwah. Narapidana yang telah melakukan kesalahan tentu harus diarahkan agar tidak mengulang kesalahannya serta setelah selesainya masa hukuman dapat kembali bermasyarakat dan dapat berkompetisi serta berkontribusi kembali seperti sumber daya manusia lainnya.

Narapidana sendiri adalah suatu pidana berupa pembatasan kebebasan bergerak dari seorang terpidana yang dilakukan dengan menutup orang tersebut didalam sebuah Lembaga Pemasyarakatan dengan mewajibkan orang itu untuk mentaati semua peraturan tata tertib yang dilakukan di dalam Lembaga Pemasyarakatan bagi meraka yang telah melanggar norma-norma. Tindak pidana adalah tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindaknya dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum.

Hukuman yang diberikan kepada narapidana bertujuan untuk membina atau memperbaiki perilaku yang menyimpang agar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Pembinaan yang harus dilakukan oleh petugas Lembaga Pemasyarakatan adalah budi pekerti narapidana untuk membangkitkan dirinya sendiri, untuk mengembangkan tanggung jawab, menyesuaikan dinya dengan kehidupan di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Petugas lapas selain membina, wajib juga memberikan hak-hak narapidana yang telah ditetapkan oleh Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 Pasal 14 yang dengan tegas menyatakan narapidana berhak mendapatkan hak seperti melakukan ibadah sesuai dengan agamanya atau keyakinan, mendapatkan perawatan rohani, maupun jasmani, mendapatkan perawatan kesehatan, mendapatkan makanan yang layak, serta berhak menyampaikan keluhan yang dirasakan.

Jumlah narapidana narkoba di Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Pekanbaru adalah sebagai berikut:

 

Tabel 3

Narapidana Narkoba di Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Pekanbaru Tahun 2020

No

Golongan Narapidana

Jumlah

1.

B I

1.158

2.

B IIA

-

3.

B IIB

-

4.

B III

20

5.

Mati

3

6.

S H

15

Jumlah

1.196

Sumber: Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Pekanbaru, 2020

 

A.    Bentuk Komunikasi Dakwah Di Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Pekanbaru

Bentuk komunikasi dakwah yang tertera di lapas kelas II A pekanbaru melalui wawancara petugas lapas yaitu.

Seperti yang telah diungkap oleh Erik Suranta Ginting selaku Kepala Seksi Bimbingan Napi/Anak Didik pada tanggal 7 September 2020 bahwa:

“Dalam pembinaan di LP Kelas II A Pekanbaru diikuti oleh semua tahanan/narapidana yang ada tanpa terkecuali, tidak ada pemisahan maupun pembedaan. Kami selalu memberikan hal yang terbaik agar proses pembinaan dapat berjalan dengan lancar dan dapat betul-betul diterima oleh tahanan/narapidana”.

Pembinaan yang dilakukan merupakan program dari pemerintah pusat yang wajib dijalankan oeh seluruh Lembaga Pemasyarakatan yang ada di seluruh daerah, tanpa terkecuali di LP Kelas II A Pekanbaru. Kemudian program pembinaan yang dilakukan juga terdiri dari 3 tahapan yang berdasarkan kondisi dari narapidana. Proses pembinaan yang dilakukan secara bertahap yaitu pada awal mereka akan melalui proses masa pengenalan lingkungan dan kemudian bergabung dengan tahanan yang lebih dulu masuk ke Rutan untuk pengenalan selama satu minggu.

Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pekanbaru telah sejak lama mengadakan kegiatan pembinaan spiritual dalam hal ini pembinaan dakwah. Khususnya untuk narapidana narkoba yang beragama Islam juga telah rutin diadakan. Kebijakan ini merupakan program dari pemerintah pusat yang wajib dijalankan oleh seluruh Lembaga Pemasyarakatan yang ada di Indonesia. Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pekanbaru pada dasarnya tetap mengacu pada pembinaan Narapidana pada umumnya dan berdasarkan Undang Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang pemasyarakatan yang dimana tujuan dari pembinaan adalah untuk membentuk warga binaan pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahannya, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi hal yang sama yang telah mereka perbuat dan mendapat suatu hukuman sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut warga binaan diwajibkan untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pembinaan yang telah diterapkan di LP Kelas II A Pekanbaru.

Pembinaan yang dilakukan merupakan program dari pemerintah pusat yang wajib dijalankan oeh seluruh Lembaga Pemasyarakatan yang ada di seluruh daerah, tanpa terkecuali di LP Kelas II A Pekanbaru. Kemudian program pembinaan yang dilakukan juga terdiri dari 3 tahapan yang berdasarkan kondisi dari narapidana. Proses pembinaan yang dilakukan secara bertahap yaitu pada awal mereka akan melalui proses masa pengenalan lingkungan dan kemudian bergabung dengan tahanan yang lebih dulu masuk ke rutan untuk pengenalan selama satu minggu. Selain itu mereka juga akan dibimbing untuk melakukan aktivitas olahraga, keterampilan dan program keagamaan. Dalam pelaksanaan pembinaan tahanan di LP Kelas II A Pekanbaru, dilaksanakan berdasarkan tahap pembinaan tahanan sebagai berikut:

1)      Tahap awal (awal masuk s.d. 1/3 masa pidana)

2)      Tahap pembinaan I (1/3 sampai ½ masa pidana)

3)      Tahap pembinaan II (1/2 sampai akhir masa pidana)

Salah satu program pembinaan adalah program pembinaan keagamaan yang dalam hal ini penulis kaji dalam lingkup komunikasi dakwah. Bentuk komunikasi dakwah yang dilakukan di LP Kelas II A Pekanbaru dijelaskan oleh informan sebagai berikut:

1.      Komunikasi Interpersonal

Dalam upaya komunikasi dakwah yang dilakukan terdapat beberapa bentuk komunikasi dakwah yang dilakukan oleh pihak lapas baik yang melibatkan Ustadz selaku pembimbing maupun pegawai lapas lainnya.

“Bentuk komunikasi dakwahnya, ada yang personal (face to face), ada yang komunikasi kelompok lewat penyampaian ceramah di Mesjid lewat Ustadz-ustadz” (Wawancara dengan Erik Suranta Ginting selaku Kepala Seksi Bimbingan Napi/Anak Didik pada tanggal 7 September 2020”.

Bentuk komunikasi dakwah yang pertama adalah melalui komunikasi personal yaitu interpersonal (face to face) antara ustadz dengan narapidana, maupun antara penjaga lapas dengan narapidana. Bentuk komunikasi tersebut dapat dilihat misalnya pada saat adzan sholat lima waktu berkumandang, ustadz maupun penjaga lapas mengajak secara langsung narapidana untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat secara bersama-sama di Mesjid secara bergantian dengan narapidana lain. Hal ini dibenarkan oleh salah satu narapidana narkoba yang menyatakan:

“Pada saat jam-jam waktu sholat baik penjaga lapas mengajak untuk melaksanakan sholat, terkadang juga dari ustadznya sendiri yang mendatangi langsung narapidana” (Wawancara dengan Abizar (29 tahun) selaku narapidana kasus narkoba pada tanggal 3 September 2020)

Hal ini juga senada dengan apa yang disampaikan oleh Ustadz yang bertugas yang dalam wawancaranya menyatakan:

“Iya terkadang saya keliling lapas untuk mengajak secara langsung narapidana untuk melaksanakan sholat pada saat sudah masuk waktu sholat. Kemudian di jam-jam tertentu saya ajak ngobrol dengan narapidana untuk lebih meluangkan waktu, misalnya ketika ada jam kosong untuk mengaji” (Wawancara dengan Happy Noviardi selaku Ustadz di LP pada tanggal 7 September 2020).

Komunikasi interpersonal adalah termasuk pesan pengiriman dan penerimaan pesan antara dua atau lebih individu. Hal ini dapat mencakup semua aspek komunikasi seperti mendengarkan, membujuk, menegaskan, komunikasi nonverbal, dan banyak lagi. Pengertian lain menyatakan bahwa komunikasi antar pribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal.

Komunikasi dapat dikatakan sukses apabila, baik pengirim pesan dan penerima pesan akan menafsirkan dan memahami pesan-pesan yang dikirim dengan makna dan implikasi pada tingkat yang sama. Tujuan komunikasi adalah untuk memberikan keterangan tentang sesuatu kepada penerima, memengaruhi sikap penerima, memberikan dukungan psikologis kepada penerima, atau memengaruhi penerima.

Tujuan penerapan komunikasi interpersonal ini oleh ustadz maupun pegawai lapas adalah untuk mengubah perilaku narapidana narkoba. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan komunikasi interpersonal yaitu dalam komunikasi interpersonal sering terjadi upaya mempengaruhi, merubah sikap dan perilaku orang lain. Seseorang ingin mengikuti cara dan pola yang dimiliki (Sendjaja, 2016).

2.      Komunikasi Kelompok

Selain bentuk komunikasi personal, juga terdapat bentuk komunikasi kelompok yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pekanbaru. Komunikasi kelompok merupakan kegiatan komunikasi yang berlangsung diantara kelompok. Pada tingkatan ini, setiap individu yang terlibat masing-masing berkomunikasi sesuai dengan peran dan kedudukannya dalam kelompok. Pesan atau informasi yang disampaikan juga menyangkut seluruh anggota kelompok, bukan bersifat pribadi. Komunikasi kelompok juga bisa diartikan sebagai kumpulan orang yang mempunyai tujuan yang sama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka menjadi salah satu bagian dari kelompok tersebut. Dimana, komunikasi kelompok dilakukan oleh lebih dari dua orang tetapi dalam jumlah terbatas dan materi komunikasi tersebut juga dikalangan terbatas, khusus bagi anggota kelompok tersebut.

Berdasarkan data yang didapatkan berikut program komunikasi dakwah yang dilakukan di Mesjid At Taubah Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pekanbaru.

a.       Dzikir Asmaul Husna

Komunikasi dakwah yang diiplmentasikan dalam bentuk program atau kegiatan Dzikir Asmaul husna telah lama dijalankan di Lapas Kelas iI  A Pekanbaru. Dzikir Asmaul Husna dilakukan agar narapidana memperoleh ketenangan dna mengurangi tingkat stress selama menjalani masa tahanan di Lapas Kelas A Pekanbaru.

b.      Belajar Tahsin Al-Quran

Tahsin Al-Qur’an merupakan tuntutan agar dalam membaca alqur’an harus benar dan tepat sesuai dengan contohnya demi terjaganya orisinalitas praktik tilawah sesuai dengan sunnah rasulullah S.A.W.

c.       Kajian Aqidah Akhlak

Kajian aqidah akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan narapindana untuk mengenal, memahami, menghayati, dan mengimani Allah SWT., merealisasikanya dalam perilaku Akhlak dalam kehidupan sehari-sehari melalui kegiatan bimbingan, pelatihan, pengajaran, penggunaan pengalaman, keteladanan dan pembiasaan. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk pada bidang keagamaan, penididikan ini juga diarahkan pada peneguhan aqidah di satu sisi dan peningkatan toleransi serta saling menghormati dengan penganut agama lain.

d.      Kajian Khazanah Islam

Kajian Khazanah Islam merupakan kajian atau pembelajaran mengenai sejarah Islam baik sejarah hukum, budaya Islam, dan sebagainya.

e.       Belajar Bahasa Arab

Kegiatan belajar Bahasa Arab juga merupakan program yang dilaksanakan bagi narapidana narkoba di LP Kelas II A Pekanbaru.

f.        Kajian Al-Quran dan Hadits

Kajian Al-Quran dan Hadist adalah kajian mengenai makna dan terjemahan Al-Quran dan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Setiap pertemuan dikatakan oleh ustadz lapas disesuaikan dengan materinya.

g.      Kajian Fadilah Amal

Program lain komunikasi dakwah yang dilakukan adalah Kajian Fadilah Amal. Kajian Fadilah Amal adalah kajian tentang amal-amal dalam Islam yang bermanfaat dan mendatangkan pahala bagi yang mengamalkan

B.     Teknik Komunikasi Dakwah Di Lembaga Permasyarakatan Kelas II Pekanbaru

Teknik komunikasi dakwah yang terjadi di lapas juga dilakukan dengan memaparkan beberapa teknik komunikais dakwah. Seperti yang di jelaskan dalam hasil wawancara berikut:

untuk awal pertama itu lebih ke perintah yang memaksa, karena awal napi masuk mereka belum terbiasa dengan pembinaan pembinaan yang ada di lapas, mereka masih menganggap seperti rumah sendiri, jadi proses komunikasi dalam mengikuti program dakwah yang dilakukan bersifat memaksa dimana para napi wajib mengikuti.. kemudian proses komunikasi juga kita selingi dengan ajakan persuasive misalnya kita ajak shalat dan mengaji dan sebagainya” (wawancara dengan Bapak Erik Suranta Ginting selaku Kepala Seksi Bimbingan Napi/Anak Didik pada tanggal 7 September 2020).

 

Teknik komunikasi dakwah yang digunakan sangat menentukan di dalam keberhasilan pembinaan dakwah para narapidana narkoba. Lembaga Pemasyarakatan dalam hal ini melihat bahwa tingkat keberhasilan yang dicapai sudah cukup baik namun masih tetap perlu ada perbaikan.

Sudah cukup berjalan dengan baik oleh memang untuk mencapai hasil yang diinginkan masih butuh usaha yang ptimal daris emua ihak yang terlibat dalam pembinaan bai itu Ustadz maupun pegawai lapas disini” (wawancara dengan Bapak eruk Suranta Ginting selaku kepala seksi bimbingan napi/anak didik pada tanggal 7 september 2020).

 

Dalam penerapannya sendiri teknik komuniaksi yang dilakukan juga menemui beberapa kendala dan hal tersebut dirasakan pada saat awal narapidana pertama kali masuk.

Kendala yang dihadapi biasanya di awal napi amsuk, mereka masih ada yang ogah-ogaha sehingga biasanya kita beri sanksi bagi yang tidak mau mengikuti kegiatan keagamaan” (Wawancara dengan Bapak Erik Suranta Gintingselaku Kepala Seksi Bimbingan Napi/ Anak Didin pada tanggal 7 september 2020).

 

C.    Self Control Narapidana Narkoba Di Lembaga Permasyarakatan Kelas II Pekanbaru

Self Control (Kontrol diri) merupakan suatu kecakapan individu dalam kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya serta kemampuan untuk mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi untuk menampilkan diri dalam melakukan sosialisasi. Proses pembinaan atau komunikasi dakwah yang dilakukan oleh narapidana telah membawa banyak perubahan dari dalam diri mereka seperti dalam hal perilaku. Kebiasan narapidana pada awal-awal masuk ke lapas belum menunjukkan kontrol diri yang baik. Namun setelah diadakannya pembinaan atau komunikasi dakwah sudah mulai terlihat perubahan dari kontrol yang diinginkan. Keberhasilan dari penerapan atau pelaksanaan program komunikasi dakwah atau pembinaan dakwah sangat diharapkan salah satunya dalam hal mengubah control diri narapindana ke arah yang lebih baik lagi. Dimana narapidana dihaparkan dapat mengontrol setiap perilaku mereka baik selama berada di dalam lapas dalam rangka menjalani masa hukuman maupun setelah nanti keluar dari lapas.

Hasil komunikasi dakwah dalam hal kontrol diri untuk menumbuhkan kepribadian dan kesehatan mental serta terhindar dari gangguan-gangguan kejiwaan dapat ditinjau dari prinsip sebagai berikut: Pertama, gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri (self image). Self image antara lain dapat diperoleh dengan cara penerimaan diri, keyakinan diri dan kepercayaan kepada diri sendiri; Kedua, keterpaduan atau integrasi diri adanya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan jiwa dalam diri, kesatuan pandangan, dan sanggup mengatasi ketegangan emosi atau stres; Ketiga, perwujudan diri sebagai proses kematangan diri dapat berarti sebagai kemampuan mempergunakan potensi jiwa dan memiliki gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri serta peningkatan motivasi dan semangat hidup; Keempat, berkemampuan menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal.

 

Kesimpulan

Kesimpulan pada penelitian ini adalah Bentuk komunikasi dakwah yang terlihat di Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Pekanbaru yaitu komunukasi pribadi dan komunikasi kelompok. Bentuk komunikasi pribadi yang terlihat adalah ustadz dan juga penjaga lapas mengajak secara langsung narapidana untuk mengikuti kegiatan keagamaan, misalnya dalam hal mengaji, sholat, dan sebagainya. Teknik komunikasi dakwah yang terlihat di Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Pekanbaru yaitu Komunikasi koersif (coercive communication) dengan cara memberi perintah, komunikasi ini dilakukan di awal-awal narapidana masuk ke dalam lapas dan diterapkan pada program pembinaan dakwah yang dilakukan di masjid setiap harinya pada pukul 8 atau 9 pagi. Self Control yang terlihat pada diri narapidana yaitu kontrol diri yang terlihat misalnya mereka sudah punya inisiatif sendiri untuk dating tepat waktu jam 8 atau jam 9 mengikuti kegiatan komunikasi dakwah, mereka juga bisa mengontrol emosi dan sikap dalam bergaul dengan sesama napi di lapas.

 

 

BIBLIOGRAFI

 

A Amin, Samsul Munir. 2018. Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Islam. Jakarta: Amzah

 

Anshari, Hafi. (2017). Pemahaman dan Pengalaman Dakwah. Jakarta: Al-ikhlas.

 

Aziz, Moh Ali. (2019). Ilmu Dakwah: Edisi Revisi. Jakarta: Prenada Media.

 

Bukhari, B. (2016). Toleransi Terhadap Umat Kristiani Ditinjau adri Fundamentalisme Agama dan Kontrol diri, Penelitian Individu, IAIN Walisongo, Semarang.

 

Bungin, Burhan, (2017). Metode Penelitian Sosial : Format-Format Kuantitatif  & Kualitatif. Surabaya: Airlangga University Press.

 

Carver, C. S. (2017). Handbook of Positif Psychology. New York: Oxford.

 

Creswell, John W. (2018). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 

Djamal, M. (2015). Paradigma Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Effendy, Onong Uchjana. (2016). Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

 

Fajar M. (2018). Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktik. Yogyakarta: Graham Ilmu.

 

Freud, Sigmun. (2016). A General Introduction to Psychoanalysis (Pskinoanalisis Sigmun Freud), (Ira Puspitorini. Terjemahan). Yogyakarta: Ikon Teralitera.

 

Grayson, Stuart. (2017). Spiritual Healing: Penyembuhan Spiritual. Semarang: Dahara Prize.

 

Ghufron, M  Nur  &  Rini  Risnawati  S. (2018). Teori-Teori Psikologi.  Yogyakarta: Ar-RuzzMedia.

 

Hamzah, A. (2017). Terminologi Hukum Pidana, Jakarta: Sinar Grafika.

 

Ilaihi, Wahyu. (2016). Komunikasi Dakwah. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Hafidhuddin, Didin. (2018). Dakwah Aktual. Jakarta: Gema Insani Press.

 

Kafie, Jamaluddin. (2016). Psikologi Dakwah. Surabaya: Offset Indah.

 

Kriyantono, Rahmat. (2017). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: PT. Kencana Perdana.

 

Ma'arif, Bambang S. 2016. Komunikasi Dakwah Paradigma untuk Aksi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

 

Ma’ruf, Noor Farid. (2015). Dinamika dan Akhlak Dakwah. Surabaya: Bina Ilmu.

 

Munir, M, dan Ilahi, W. (2016). Manajemen Dakwah. Jakarta: Kencana.

 

Narkoba., Korp Reserce Polri Direktorat Reserce. (2017). Peranan Generasi Muda dalam Pemberantasan Narkoba. Jakarta: POLRI.

 

Sendjaja, Sasa Djuarsa. (2016). Pengantar Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka.