Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

       e-ISSN : 2548-1398

       Vol.4, No.8 Agustus 2019

 


UPAYA PENINGKATAN PENGUASAAN TEKNOLOGI GURU SMK NEGERI DARANG DAN MELALUI SUPERVISI AKADEMIK MULTI METODE

 

Syarif Hidayat

Pengawas Madya SMA, Kabupaten Purwakarta, Balai Pelayanan Dan Pengawasan Pendidikan Wilayah II Disdik Propinsi Jawa Barat

Email:  hidayats269@yahoo.com

 

Abstrak

Pembelajaran yang dilakukan guru harus melibatkan komponen tujuan, media, bahan, dan metode pembelajaran, alat penilaian, serta kemampuan guru dalam memamfaatkan aplikasi teknologi (literasi teknologi). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru SMK Negeri Darangdan Kabupaten Purwakarta dalam menggunakan aplikasi teknologi, khususnya inshot. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian tindakan sekolah, yakni melakukan pembimingan kepada sebagian guru dalam satu sekolah, mengguakan berbagai tahapan, dengan sistem spiral refleksi model Kemmis dan Mc Taggart yang telah dirubah sebagian. Strategi/Metode/Teknik Pembinaan yang dipakai yakni supervisi akademik multi metode. Pada siklus 1 menggunakan Observasi-Refleksi-Rekomendasi, dan Focused Group Discussion, selanjutnya dalam siklus yang ke 2 memakai IHT, Focused Group Discussion, serta Observasi-Refleksi-Rekomendasi. Kesimpulan dalam penelitian ini menghasilkan data bahwa kemampuan guru SMK Negeri Darangdan Kabupaten Purwakarta dalam menggunakan aplikasi inshot, sudah menunjukkan terjadi progres yang baik setelah dilakukan supervisi, dari siklus I ke Siklus II. Siklus II mengakhiri pembinaan, dengan indikator skor guru minimal 80.00 sudah diatas 85%, yaitu sebesar 100%.

 

Kata Kunci: Kemampuan Literasi Teknologi, Supervisi Akademik Multi Metode

 

Pendahuluan

          Proses pembelajaran harus melibatkan komponen: tujuan, media, bahan, dan metode pembelajaran, serta alat penilaian (Arikunto, 2010), (Suherman & Udin, 1992) dan (Winkell, 1993). Apabila salah satu elemen hilang maka proses pembelajaran kurang berhasil (Suherman & Udin, 1992) dan (Sudjana, 2001). Komponen  pendidikan  yang  terkelola  umumnya  memiliki  komponen  yang saling  bersinergi antara satu komponen dengan lainnya.  Dan  dari  komponen  yang  tersedia  sekarang, komponen  yang  berperan  sebagai  penentu  keberhasilan  pendidikan,  tidak  lain  adalah guru atau pendidik (Hermawati, 2017). Namun fakta dilapangan sebagian guru selalu menggunakan metode pembelajaran konvensional yang bersifat satu arah. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya data, masih banyak guru yang belum memamfaatkan aplikasi teknologi untuk memperkaya serta membuat pembelajaran menjadi lebih menarik minat belajar siswa (Neuman & Roskos, 1998) (Hobbs & Frost, 1998) dan (Harris & Hodges, 1995). Pada saat ini aplikasi teknologi berkembang sangat pesat.  

          Aplikasi teknologi akan dengan mudahnya diperoleh dari media internet termasuk informasi media pembelajaran, materi, model, dan metode pembelajaran. Jadi bisa dibanyangkan jika guru tidak menguasai aplikasi teknologi maka guru tersebut, akan mengalami kesulitan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran (Schober, Wagner, Reimann, & Spiel, 2008) (Elain, 2000) (M.T, 2011) & (Retno, 2003). Untuk mencapai proses pembelajaran yang berkualitas, seorang guru harus memiliki inisiatif yang tinggi untuk mengeksplorasi segala bentuk kebutuhan siswa dalam belajar, memperoleh sumber informasi untuk solusi kebutuhan belajar,  kemudian menciptakan dan merealisasikan pengetahuan yang dimiliki berlandaskan sumber informasi yang diperoleh. Dengan persepsi bahwa setiap anak ialah seorang individu yang menarik, maka materi dan metode pembelajaran akan diselaraskan sesuai dengan bakat, kemampuan, strategi belajar dan minat setiap siswa. Adanya pilihan-pilihan agar setiap siswa  dapat menggali motivasi intrinsik pribadi untuk meningkatkan kualitas belajar  sesuai kebutuhannya masing-masing, bukan kebutuhan yang diseragamkan (Schober et al., 2008)  (M.T, 2011) & (Retno, 2003).

          Pelaksaan pembinaan tersebut akan optimal jika guru telah menguasai terlebih dahulu aplikasi teknologi dengan menggunakan internet Kajian penggunaan aplikasi teknologi dalam pembelajaran terbukti meningkatkan hasil pembelajaran. Beberapa penelitian yang menunjukkan hal tersebut diantaranya: (1) Hernani & Ahmad menyimpulkan bahwa keterampilan proses siswa SMP kelas VII meningkat setelah mengaplikasikan metode pembelajaran dengan literasi teknologi (Hernani & Ahmad, 2010); (2)  Bella menyimpulkan bahwa penerapan literasi digital dan teknologi mempunyai dampak yang kuat terhadap kualitas pembelajaran para siswa di SMP Negeri 6 Banda Aceh (Bella, 2018), dan (3) Husain mengatakan bahwasanya dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis literasi teknologi mampu menambah motivasi belajar para peserta didik di kalangan SMA (Husain, 2014), dan (4) Djuniar mengatakan bahwa terjadi perbedaan hasil  antara siswa yang memakai metode  pembelajaran berbasis literasi dengan siswa yang memakai metode pembelajaran konvensional (Haristy, Enawaty, & Lestari, 2013). Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan guru, diantaranya dengan meningkatkan kemampuan guru tersebut dalam membuat media pembelajaran berbasis aplikasi teknologi, khususnya aplikasi inshot. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya pembinaan yang dilakukan oleh pengawas sekolah dengan menerapkan metode atau model supervisi yang bermutu (PMPTK, 2008) dan (Sujana, 2011). Hal inilah yang mendorong peneliti telah melaksanakan penelitian tindakan sekolah dengan menerapkan supervisi akademik multi metode untuk meningkatkan kemampuan guru SMK Negeri Darangdan Kabupaten Purwakarta dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran melalui aplikasi inshot.  

 

Metode Penelitian

Metode penelitian yang pakai dalam penelitian ini yakni Penelitian Tindakan Sekolah, yang mana dilakukan pembimmbingan untuk sebagian guru dalam suatu sekolah deang beberapa tahapan dan memakai system sistem spiral refleksi model Kemmis dan Mc Taggart yang dimodifikasi (Sukidin, 2002) (Sumarno, 2005) & (Wiriaatmadja, 1999), dimulai dengan perencanaan bimbingan pada setiap tahapan, pelaksanaan bimbingan dalam setiap tahapan, pelaksanaan observasi serta refleksi pembinaan pada tiap-tiap tahapan yang dilakukan. Dari tahapan siklus I hingga tahapan sampai siklus II dan seterusnya hingga didapatkkan guru yang terekomendasikan dan mampu mengikuti hingga akhir. Dikatakan tuntas jika sudah mencapai 85 % subjek daya serapnya  ≥ 70 %  (Sudjana, 2001) dan (Arikunto, 2010).

1)        Strategi/Metode/Teknik Pebimbingan

Strategi/Metode/Teknik pembimbingan yang dipakai dalam tahapan siklus 1 adalah Observasi-Refleksi-Rekomendasi, Focused Group Discussion, selanjutnya dalam tahapan siklus 2 yakni IHT, Focused Group Discussion, Observasi-Refleksi-Rekomendasi.  

2)        Setting / Lokasi /Subyek Penelitian

Secara globalnya prosedur siklus dilaksanakan melalui kegiatan perencanaan (plan), siklus (act), observasi (observe) dan refleksi (reflect).

      Prosedur penelitian tersebut dilaksanakan dalam lima tahapan yaitu :

a.                 Rencana tindakan pembinaan, yaitu merumuskan rencana pembinaan setiap kali akan  melaksanakan pembinaan  serta fokus yang akan diamati selama pelaksanaan pembinaan

b.    Penilaian terhadap keterampilan guru dalam membuat materi pelajaran dalam bentuk power point

c.     Observasi pembinaan guru, adalah proses mendokumentasikan pengaruh, kendala, tindakan pembinaan, serta persoalan yang mungkin ada, pada saat pembinaan berlangsung. Observasi dibantu oleh observer (rekan kepala sekolah) sehingga observasi akan menjadi efektif dan efisien, observer mengobservasi peneliti dan guru selama pelaksanaan pembinaan, penelitipun mengamati proses serta kegiatan yang dilaksanakan oleh guru, serta mencatat kendala-kendala yang dihadapi guru. Hasil observasi itu mendasari refleksi untuk siklus yang telah dilakukan dan dijadikan pertimbangan untuk menyusun rencana siklus selajutnya.

d.    Refleksi, yakni mejabarkan setiap efek-efeknya serta  kekurangan dalam pelaksanaan. Rekomendasi ini diperoleh dari kolaborasi antara guru, peneliti dan observer serta dengan kepala sekolah, untuk merundingkan mengenai kelebihan dan kekurangan serta dampaknya pada acara pembinaan pada setiap siklus selama penelitian dilaksanakan Diskusi balikan, dilakukan antara  guru, peneliti,  observer serta dengan kepala sekolah, terhadap hasil observasi. Hasil diskusi balikan merupakan refleksi dari hasil observasi yang kemudian di interpretasi dan dijadikan rencana untuk memperbaiki  kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus yang telah dilaksanakan, untuk diterapkan pada siklus selanjutnya

3)        Subyek dan Waktu Penelitian

Subyek dalam  penelitian ialah tenaga pengajar di  SMK Negeri Darangdan Kabupaten Purwakarta. Penelitian telah dilaksanakan dari Tanggal 2 Juli-6 Agustus 2018.

4)        Instrumen Penelitian

Guna mendapatkan data sesuai yang diinginkan, maka instrumen penelitiannya adalah: (1) merencanakan pelaksanaan bimbingan;(2) acuan data aktivitas guru; (3)  cheking  aktivitas guru; (4) evaluasi guru dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran; (5) format observasi pembinaan; (6) format diskusi balikan; dan (7) daftar hadir guru.

 

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

1)  Persiapan dan Pelaksaan Pembinaan dari Siklus I – II

      Sebelum melaksanakan penelitian siklus I peneliti selalu merencanakan dan mengecek semua aspek meliputi: : (1) merencanakan pelaksanaan bimbingan;(2) acuan data aktivitas guru; (3)  cheking  aktivitas guru; (4) evaluasi guru dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran; (5) format observasi pembinaan; (6) format diskusi balikan; dan (7) daftar hadir guru. Setiap pelaksanaan penelitian, peneliti selalu melakukan diskusi balikan untuk mendapatkan informasi kekurangan-kekurangan yang ada sehingga disempurnakan pada siklus selanjutnya. Catatan lapangan (lembar observasi) telah diisi dengan beberapa perubahan yang terjadi. Perubahan yang ada tidak sekedae hasil pembinaan, namun dari proses pembinaannya, yaitu aktivitas guru. Aktivitas guru dan perolehan skor guru, selama pembinaan dimulai tahapan siklus I hingga tahapan siklus II telah mengalami perbaikan dan peningkatan.

2) Perubahan Aktivitas Guru dari Siklus 1 – Siklus II

Selama pembinaan berlangsung dalam siklus II, menunjukan bahwasannya terjadi  perubahan yang signifikan aktivitas guru dari pada siklus I, mulai dari menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran. Aktifitas guru selama pembinaan pada siklus II dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. 

Aktivitas Guru Selama Pembinaan dari Siklus I – siklus II

Jumlah Guru & Prosentase

Aktivitas Guru Selama Pembinaan pada Siklus I - II

Terampil menginstal inshot

Terampil masuk ke dalam aplikasi inshot

Terampil masuk ke aplikasi video

Terampil membuat video pembelajaran

Terampil mengedit video pembelajaran

I

II

I

II

I

II

I

II

I

II

Jumlah Guru

14

19

13

17

12

16

13

17

14

18

Prosentase

 

66.67

90.48

61.90

80.95

57.14

76.19

61.90

80.95

66.67

85.71

Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam menginstal inshot dengan mahir sejak tahapan siklus I hingga tahapan siklus II terjadi perubahan. Dalam tahapan siklus I seorang tenaga pengajar yang sudah mahir terdapat 14 orang atau sekitar 66.67%, kemudian di tahapan siklus II yang sudah masih terdapat 19 orang atau sekitar 90.48%.  

Keterampilan seorang guru untuk login ke  aplikasi inshot dengan mahir dimulai dari siklus ke I hingga siklus ke II terjadi kenaikan.  Dalam tahapan awal atau siklus I yang sudah sangat mashir ada 13 orang (61.90%), serta pada tahapan selnjutnya atau siklus II ada 17 orang (80.95%).   

Pada Tabel 1 pula menunjukan bahwa   kemampuan guru ketika melakukan    add  folder pada library dengan terampil dari siklus I sampai siklus II terjadi perubahan yang signifian. Dalam  siklus I  guru yang sudah menguasai berjumlah 12 orang atau sekitar 57.14%  serta di siklus ke  II berjumlah 16 orang  atau sekitar 76.19%.

Keterampilan seorang guru ketika membuat video pembelajaran dengan mahir di siklus I hingga siklus II terus mengalami perubahan. Terdapat 13 orang di siklus I atau sekitar 61.90% dan pada siklus II  terdapat 17 orang atau sekitar 80,95%  yang sudah sangat mahir.

Dari tabel 1 diperoleh data bahwasannya kemampuan guru dalam membuat             materi pembelajaran yang akan dipakai dengan mahir pada siklus I hingga pada siklus II terjadi perubaahan yang baik di siklus I terdapat 14 guru (66.67%), kemudian di siklus II terdapat 18 orang (85.71%).

3) Skor  Guru dari Siklus I – II

Menurut hasil skor guru ketika menciptakan media video pembelajaran selama pembinaan, menunjukkan  hasil peningkatan skor guru di siklus II dari pada siklus I. Peningkatan skor tenaga pengajar bisa dilihat dalam Tabel 2.

Tabel 2.

 Skor Guru dari Siklus I – II

No

Kode Guru

Nilai

Siklus I

Siklus II

1

AA

80

90

2

AB

60

70

3

AC

60

70

4

AD

60

70

5

AE

80

80

6

AF

80

90

7

AG

70

80

8

AH

80

90

9

AI

60

70

10

AJ

70

80

11

AK

50

60

12

AL

60

70

13

AM

60

60

14

AN

80

90

21

AO

70

80

16

AP

80

90

17

AQ

60

70

18

AR

70

80

19

AS

50

60

20

AT

80

90

21

AU

70

80

 

Rata-rata

68.10

77.14

 

DSK

57.14%

85.71%

Berdasarkan data pada Tabel 2, maka bisa dijabarkan sebagai berikut:

a)    Pada Siklus I, skor teratas yakni 80.00, terbawah 50.00 dengan rata-rata ialah 68.10 dan 12 (57.14%) tenaga pengajar mengalami ketuntasan belajarnya.

b)   Pada Siklus II, skor tertinggi ialah 90.00, dan terendah 60.00 serta rata-ratanya yakni 77.14 serta jumlah guru yang mengalami ketuntasan belajarnya sebanyak 18 orang (85.71%).

 

B. Pembahasan.

1)  Pengaruh Pembinaan Terhadap Peningkatan Aktivitas Guru dari                       Siklus I – Siklus II

Hasil observasi proses pembinaan dari siklus I sampai Siklus II, menggambarkan bahwa aktivitas guru menunjukan pola yang aktif, serta antusias mengikuti setiap sesi pembinaan.  

Hampir semua guru berperan aktif membuat media pembelajaran                    video pembelajaran, mulai dari menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran. Walaupun pada awalnya banyak yang belum terampil tetapi pada siklus II sudah menunjukkan kemajuan yang sangat pesat.          

 

2)  Pengaruh Pembinaan terhadap Kemampuan dan Keterampilan Guru dalam Membuat media pembelajaran video pembelajaran.

Hasil observasi proses pembinaan dari siklus I sampai siklus II, menggambarkan bahwa skor guru menunjukan adanya peningkatan. Peningkatan itu menunjukkan bahwa setiap guru telah melaksanakan dan mengikuti tahap-tahap jalannya kegiatan pembinaan, serta menunjukan bahwa hampir semua guru berperan aktif mengikuti setiap sesi pembinaan yang dilakukan oleh peneliti. Sehingga pada saat dilaksanakan pengukuran kemampuan dan  keterampilan guru dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran, pada siklus II, sudah 85.71% guru memperoleh skor 70.00 ke atas.  

Selain itu proses bimbingan dan arahan selama proses pembinaan yang dilakukan sudah diupayakan intensif. Sehingga guru tidak mengalami kesulitan dalam melaksanakan proses pembinaan dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran.

Hasil proses pembinaan pada siklus I, menunjukkan bahwa aktivitas guru dalam menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran masih perlu ditingkatkan, kemudian skor rata-rata hasil pembinaan guru, belum memuaskan yaitu 68.10. Aktivitas guru dalam siklus I, perlu ditingkatkan dan harus diperbaiki pada siklus II.

Proses pembinaan pada siklus II, menunjukkan bahwa aktivitas pembinaan guru dalam menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran sudah menunjukkan adanya peningkatan. Skor  rata-rata hasil pembinaan guru sudah meningkat menjadi 77.14, siklus II mengakhiri pembinaan, dengan indikator keaktifan guru telah diatas 70.00% dan Skor  guru minimal 70.00 sudah diatas 85%, yaitu sebesar 85.71%.

Selama proses pembinaan mulai siklus I sampai siklus II, peneliti berusaha memotivasi setiap guru dan melaksanakan bimbingan serta arahan secara intensif dan adil, supaya setiap guru berpartisifasi dalam mengikuti setiap sesi pembinaan, mulai dari menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran.

 

Kesimpulan

Hasil proses pembinaan pada siklus I, menunjukkan bahwa aktivitas guru dalam menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran masih perlu ditingkatkan, kemudian skor rata-rata hasil pembinaan guru, belum memuaskan yaitu 68.10. Aktivitas guru dalam siklus I, perlu ditingkatkan dan harus diperbaiki pada siklus II.

Proses pembinaan pada siklus II, menunjukkan bahwa aktivitas pembinaan guru dalam menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran sudah menunjukkan adanya peningkatan. Skor  rata-rata hasil pembinaan guru sudah meningkat menjadi 77.14, siklus II mengakhiri pembinaan, dengan indikator keaktifan guru telah diatas 70.00% dan Skor  guru minimal 70.00 sudah diatas 85%, yaitu sebesar 85.71%

Selama proses pembinaan mulai siklus I sampai siklus II, peneliti berusaha memotivasi setiap guru dan melaksanakan bimbingan serta arahan secara intensif dan adil, supaya setiap guru berpartisifasi dalam mengikuti setiap sesi pembinaan, mulai dari menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran.

 

 

BLIBIOGRAFI

 

Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian. Jakarta: rineka cipta.

 

Bella, E. (2018). Pengaruh Penerapan Literasi Digital & Teknologi terhadap Peningkatan Pembelajaran Siswa di SMP Negeri 6 Banda Aceh. Skripsi. UIN Ar-Rantry Darussalam–Banda Aceh.

 

Elain, C. (2000). New Approaches to Literacy Learning. UNESCO Consultant.

 

Haristy, D. R., Enawaty, E., & Lestari, I. (2013). Pembelajaran Berbasis Literasi Sains pada Materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit di SMA Negeri 1 Pontianak. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 2(12).

 

Harris, T. L., & Hodges, R. E. (1995). The literacy dictionary: The vocabulary of reading and writing. ERIC.

 

Hermawati, W. (2017). PENGARUH MOTIVASI KERJA GURU DAN IMPLEMENTASI PROGRAM KERJA MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) TERHADAP KINERJA MENGAJAR GURU DI MTS NEGERI MODEL BREBES. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 2(9), 170–193.

 

Hernani & Ahmad, M. (2010). Pengaruh Pembelajaran Berbasis Literasi Sains dan Teknologi terhadap Keterampilan Proses SAINS siswa SMP. Jurnal Pendidikan Matematika Dan Sains Edisi I Tahun XV.

 

Hobbs, R., & Frost, R. (1998). Instructional practices in media literacy education and their impact on students’ learning. Atlantic Journal of Communication, 6(2), 123–148.

 

Husain, C. (2014). Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran di SMA Muhammadiyah Tarakan. Jurnal Kebijakan Dan Pengembangan Pendidikan, 2(2).

 

M.T, M. (2011). Edmodo: Social Network Berbasis Sekolah. Retrieved from Available website: http://p4tkmatematika.org/2011/12/edmodo-social-network-berbasis-sekolah

 

Neuman, S. B., & Roskos, K. A. (1998). Children Achieving: Best Practices in Early Literacy. ERIC.

 

PMPTK, D. (2008). Supervisi Akademik. Jakarta: Depdiknas.

 

Retno. (2003). Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. (Rajawali, Ed.). Retrieved from http://library.fis.uny.ac.id/opac/index.php?p=show_detail&id=3429

 

Schober, B., Wagner, P., Reimann, R., & Spiel, C. (2008). Vienna E-Lecturing (VEL): Learning how to learn self-regulated in an Internet-based blended learning setting. International Journal on E-Learning, 7(4), 703–723.

 

Sudjana, N. (2001). Tuntunan penyusunan karya ilmiah. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

 

Suherman, E., & Udin, S. W. (1992). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.

 

Sujana, D. (2011). Buku Kerja Pengawas. Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, Badan PSDM dan PMP, Kementrian Pendidikan Nasional. Jakarta.

 

Sukidin, D. (2002). Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Insan Cendekia.

 

Sumarno, J. (2005). Pengaruh Komitmen Organisasi dan Gaya Kepemimpinan Terhadap Hubungan Antara Partisipasi Anggaran Dengan Kinerja Manajerial. Jurnal SNA, 8, 586–616.

 

Winkell, W. . (1993). Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

 

Wiriaatmadja. (1999). Penelitian Tindakan dalam Bentuk Siklus Sebagai Upaya Meningkatkan Kemahiran Profesional Dosen di Perguruan Tinggi. Jurnal Mimbar Penelitian, No 30/Juli.