Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

      e-ISSN : 2548-1398

      Vol. 4, No. 10 Oktober  2019

 


PERAN SELF CONCEPT DAN MOTIVASI BELAJAR DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR

 

Muchlis

Sekolah Tinggi Farmasi (STF) Cirebon

Email: Muchliscirebon@yahoo.com

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola hubungan dan pengaruh konsep diri dan motivasi belajar secara simultan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa MAN 1 Cirebon. Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah metode kuantitatif dengan pengambilan samel menggunakan teknik stratified random sampling. Teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi teoritis dipergunakan studi kepustakaan, observasi lapangan, angket yang berkaitan dengan konsep diri dan motivasi belajar serta melakukan wawancara. Analisis data digunakan uji statistik untuk mengetahui peran antar variable yang diteliti. Konsep diri dan motivasi belajar (X1, X2) secara simultan mempunyai peran yang signifikan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa MAN 1 Cirebon (Y).

 

Kata Kunci: Peran, Self concept, motivasi, prestasi

 

Pendahuluan

Manusia tidak terlepas dari aktivitas belajar. Adapun alasan manusia belajar, semuanya adalah untuk memenuhi kebutuhannya. Namun bila ditelusuri lebih lanjut, belajar seseorang lebih berhubungan erat dengan kebutuhan psikologis seseorang dan tidak hanya berhubungan dengan kebutuhan materi semata. Secara materi, orang dapat memenuh kebutuhan sandang dan pangannya melalui belajar. Namun secara psikologus arti belajar adalah hal yang amat penting bagi manusia, karena dengan belajar akan diperoleh perubahan-perubahan yang ada pada dirinya untuk mengembangkan dan melangsungkan hidupnya. Dengan perkataan lain, orang merasa berharga jika ia bisa mengatakan posisi dan siapa dirinya. Semakin lama seseorang belajar, tentunya identitas itu akan sangat melekat pula. Oleh karena itu konsep diri mencakup harga diri, dan gambaran diri seseorang. Konsep diri merupakan salah satu faktor non intelektual yang terdapat ada masing-masing pribadi manusia. Konsep juga merupakan suatu dorongan untuk lebih mengerti yang pribadinya sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan dengan potensi yang tertaut dalam pribadi tersebut.

Ciri-ciri seseorang yang sudah memiliki konsep diri yang positif antara lain: yakin akan kemapuannya untuk mengatasi suatu masalah; akan merasa sepadan dengan orang lain; menerima pujian tanpa merasa malu; mampu menyadari bahwa setiap individu pasti memiliki berbagai perasaan, keinganan serta dari perilaku yang tidak seluruhnya dapat disetujui oleh masyarakat; dapat memperbaiki diri, karena ia dapat mengungkapkan berbagai aspek kepribadian yang tidak ia disenangi dan sangat berusaha untuk dapat mengubahnya. Dasar dari konsep diri positif merupakan adanya sikap penerimaan diri. Self concept mengandung makna sebagai evaluasi dari tiap individu tentang diri sendiri, penilaian atau penaksiran mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan, seperti yang dikemukakan (Chaplin & Kartono, 1989)

Dalam pencarian identitas diri diharapkan seseorang dapat membentuk konsep dirinya yang positif karena akan berpengaruh terhadap pemikirannya, perilakunya, serta pendidikan dalam pencapaian prestasi belajar. Konsep diri yang ada pada seseorang menentukan juga bagaimana belajarnya. Hal ini berpengaruh terhadap pendidikan yang dilakukan oleh seseorang. Belajar merupakan salah satu hal yang mendukung dalam pendidikan pada remaja.

Belajar akan memunculkan perubahan-perubahan yang ada dalam diri seseorang. Agar dapat mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang telah terjadi, perlu adanya penilaian atau penaksiran. Begitu juga dengan seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan yang selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. Penilaian yang dilakukan dari hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang dinamakan prestasi belajar. Prestasi belajar menurut (Suryabrata, 2005) adalah:

“Hasil yang dicapai seorang siswa dalam usaha belajarnya sebagaimana dicantumkan di dalam nilai rapornya. Melalui prestasi belajar seorang siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.” (Suryabrata, 2018)

Kenakalan remaja ialah permasalahan yang selalu selalu punya daya tarik untuk dikaji, sebab pada belakangan tahun terakhir, kenakalan seakan jadi permasalahan nasional karena peningkatannya yang signifikan, variasi maupun intensitasnya. Juvenile Deliquency (kenakalan remaja) ialah tingkah laku remaja, seperti bolos sekolah, kebosanan, orang tua yang menerlantarkan, kesulitan diri, permasalahan rumah, situasi rumah yang dipandang membosankan, kondisi rumah yang tak sama sekali harmonis, permasalahan sosial, dan dari kesulitan dengan yang lain. Istilah tentang kenakalan remaja sendiri merujuk pada suatu rentang yang cukup luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal.(Sahrudin, 2017)

Seseorang dengan konsep diri yang tinggi lebih banyak memiliki pengalaman yang menyenangkan diri pada seseorang yang memiliki konse diri rendah. Kelompok yang memiliki konse diri yang tinggi cenderung memandang pengalaman negative dapat membantu seseorang ke arah perkembangan yang positif.

(Kartono, 1978b) mengemukakan bahwa salah satu ciri dari kepribadian yang sehat adalah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri. Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai penguasaan dan kematangan emosional. Seseorang yang mempunyai kematangan emosional akan terhindar dari perasaan rendah diri (Kartono, 1978a).

Agama (Islam) datang untuk melengkapi konsep diri yang positif bagi umat manusia. Manusia merupakan makhluk yang paling mulia dari segala ciptaan Tuhan, hal ini sesuai dengan penjelasan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat 17/Al-Israa ayat 70, sebagai berikut.        

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Q.S. Al-Isra: 70) (Departemen Agama, 2006)

 

Karena itu, ia diberi amanah untuk memimpin dunia ini (Q.S. Al-Baqoroh: 30). Walaupun demikian, manusia dapat pula jatuh ke derajat yang paling rendah, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (Q.S. 95:6). Keimanan mampu membimbing kita agar membentuk konsep diri yang positif, dan konsep diri yang positif dapat melahirkan perilaku yang positif pula, yang dalam bahasa agama disebut amal sholeh. Tidak sedikit ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an yang menyebut kata iman dan diiringi oleh kata amal (alladzina amanu wa amilus-sholihat), ini bukan saja menunjukkan eratnya hubungan di antara keduanya, namun juga menunjukkan betapa pentingnya iman dan amal tersebut, sehingga nilai seseorang dapat ditentukan oleh iman dan amalnya juga. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan melihat kepada bentuk (rupa) kamu, tidak pula keturunan (bangsa) kamu, tidak juga harta kamu; tetapi, ia melihat kepada hati kamu dan amal perbuatan kamu. (H.R. At-Thabrani). Semua manusia adalah sama di sisi Allah, yang lebih mulia hanyalah orang yang paling bertakwa (Q.S. 49:13).

Bila individu mempunyai mental yang sehat akan dapat menghadapi masalah yang diterima dan berusaha memecahkan masalah secara baik. Demikian pula sebaliknya, bila individu belum bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi akan mengganggu kesehatan mentalnya. Perasaan rendah diri merupakan salah satu dari gangguan mental tersebut.

Hal lain data dikemukakan bahwa di dalam diri manusia selain ada dorongan yang bersifat biologis terdapat pula dorongan lain yang sangat kuat yang menyangkut motivasi yang merupakan unsur psikologis yang memiliki peran penting dalam mendorong dan meraih prestasi.

Penelitian ini berbentuk penelitian deskriptif yang bertujuan mencari hubungan antara satu variabel independen terhadap dua variabel dependen. Variabel dependennya adalah motivasi belajar (Y1) dan prestasi belajar siswa (Y2) sedangkan variabel independennya adalah Konsep Diri (X). dalam penelitian ini ada tiga variabel. Variabel-variabel tersebut adalah konsep diri, motivasi belajar dan prestasi belajar siswa.

Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan di salah satu Madrasah Aliyah di Kota Cirebon yaitu Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cirebon, terdapat peran konsep diri dalam meningkatan motivasi belajar dan prestasi belajar siswa. Dari hasil pengamatan penulis, nampaknya prestasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cirebon belum menunjukkan hasil yang maksimal, hal ini tampak dari hasil ulangan semester pada kelas X dan XI hanya mencapai rata-rata 3,75. Dari fenomena tersebut penulis tertarik mengadakan penelitian pada masalah sejauh mana konsep diri dan motivasi belajar siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cirebon.

 

 

Metode Penelitian

            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus, yaitu penelitian yang mencobakan perlakuan untuk mengetahui efektivitasnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung hubungan konsep diri dan motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa dan pengaruh konsep diri dan motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cirebon.

 

 Hasil Penelitian

Perhitungan hipotesis untuk menguji kebenaran hipotesis tentang ada atau tidak adanya peran konsep diri dalam meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cirebon. terlebih dahulu dibuat hipotesa alternatif (Ha) dan hipotesa nihil (Ho), sebagai berikut:

Ho              : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan konsep diri dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa

Ha               : Terdapat pengaruh yang signifikan konsep diri dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa.

Setelah diketahui hipotesa alternatif (Ha) dan hipotesa nihil (Ho) di atas, selanjutnya dilakukan perhitungan korelasi dengan menggunakan program aplikasi Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 13.0.

Pedoman yang digunakan untuk menerima atau menolak hipotesis jika menggunakan hipotesis nol (Ho) yang diusulkan:

a.       Ho diterima jika r-hitung < r-tabel, atau nilai p-value pada kolom sig.(2-tailed) > level of significant (a).

b.      Ho ditolak jika r-hitung > r-tabel, atau nilai p-value pada kolom sig.(2-tailed) < level of significant (a).

Pedoman yang digunakan untuk menerima atau menolak hipotesis jika menggunakan hipotesis alternatif (Ha) yang diusulkan:

a.       Ho diterima jika r-hitung > r-tabel, atau nilai p-value pada kolom sig.(2-tailed) < level of significant (a).

b.      Ho ditolak jika r-hitung < r-tabel, atau nilai p-value pada kolom sig.(2-tailed) > level of significant (a).

Berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas, selanjutnya perhitungan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan secara bersama-sama antara variabel konsep diri dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cirebon dapat dilihat dari output ANOVA. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan program SPSS diketahui sebagai berikut:

Tabel

ANOVA untuk Konsep Diri, Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1

 

Regression

Residual

Total

7,205

,179

7,383

2

52

54

3,602

,003

 

1048,878

,000a

a.       Predictors: (Constant), Motivasi_Belajar, Konsep_Diri

b.      Dependent Variable: Prestasi_Belajar

Berdasarkan hasil perhitungan dengan SPSS di atas, tampak nilai p-value (pada kolom sig) lebih kecil dari level of significant (a) atau 0,000 < 0,05. Sehingga Ho ditolak. Artinya terdapat peran yang berarti antara konsep diri dalam meningkatkan motivasi belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa.

Selanjutnya dari hasil statistic uji F berdasarkan taraf nyata a = 0,05 atau a = 5% diperoleh F-hitung = 1048,878, jika dibandingkan dengan F tabel untuk a = 0,05dan derajat kebebasan {3,57} = 2,7664, karena F-hitung > F-tabel (0,05, 3,57), maka hipotesis nol (Ho) ditolak dengan demikian hipotesis alternatif diterima atau Hi. Berdasarkan hasil uji F ini, maka dapat diartikan bahwa peran konsep diri dan motivasi belajar dalam meningkatkan prestasi belajar secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar dari siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Cirebon.

Setelah dilakukan pengujian hipotesis, bagian selanjutnya diuraikan pembahasan hasil penelitian yang penjelasannya didasarkan pada variabel-variable penelitian dan rumusan masalah penelitian, secara sistematis pembahasan hasil penelitian ini diuraikan secara berurutan sesuai dengan penjelasan hasil pengujian hipotesis.

Konsep diri siswa merupakan gambaran diri dari seorang siswa yang bisa positif ataupun negatif tergantung bagaimana siswa sebagai individu memandang dirinya. Oleh karena itu konsep diri, adalah gambaran dari seseorang tentang diri sendirinya yang menggambarkan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, emosional, sosial, aspirasi, dan prestasi yang telah mampu mereka capai dalam hidup.

Konsep diri fisik, ialah bagaimana cara seseorang menilai dirinya dari sudut pandang fisik, kesehatan, penampilan luar, dan gaya motoriknya. Konsep diri seseorang yang dianggap positif jika ia mempunyai pandangan yang positif atas kondisi fisiknya. Penampilannya, kondisi kesehatannya, kulitnya, tampan atau cantiknya serta dari ukuran tubuh yang ideal. Dianggap sebagai konsep dari diri yang negative ketika ia menganggap rendah atau memandang sebelah mata pada kondisi yang sudah melekat pada fisiknya, penampilannya, kondisi kesehatannya, kulitnya, tampan atau cantiknya, serta ukuran tubuh yang ideal. Dari hasil penelitian y diperoleh bahwa terdapat relevansi yang signifikan antara identitas melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat fisik dengan tinggi rendahnya konsep diri fisik individu. Semakin sering individu dapat mengerjakan kegiatan-kegiatan fisik seperti olahraga, bekerja maka ia akan semakin tinggi pula konsep diri fisiknya, demikian pula sebaliknya.

Konsep diri pribadi, ialah cara seseorang dalam mengukur potensi yang ada pada dirinya serta mampu menggambarkan identitas yang dimiliki pada dirinya pula. Konsep diri seseorang dianggap positif jika ia dapat memandang dirinya ialah pribadi yang penuh dengan kebahagiaan, memiliki sikap optimis dalam menjalani kehidupan, dapat mengendalikan diri sendiri, dan penuh akan potensi diri. Dapat dianggap merupakan konsep diri yang negative jika ia menilai dirinya seperti individu yang tidak pernah (jarang) merasakan kebahagiaan,pesimis, dalam menjalani kehidupan, tidak bahkan kurang memiliki control terhadap dirinya sendiri dan potensi diri yang tidak ditumbuh-kembangkan secara optimal.

Konsep diri sosial, ialah persepsi, pikiran, rasa, dan penilaian seseorang terhadap kecenderungan sosial pada dirinya sendiri, berhubungan dengan kapasitasnya dalam dunia di luar darinya, perasaan yang mampu dan sangat berharga dalam lingkup interaksi sosialnya. Konsep diri dapat dianggap positif jika ia merasa sebagai pribadi yang ramah, hangat, memiliki minat pada orang lain, mempunyai sikap empati, supel, merasa diperhatikan, memiliki sikap tenggang rasa, peduli akan nasib orang lain, dan ketika ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dilingkungannya. Konsep diri negatif jika ia merasa tidak berminat dengan keberadaan orang lain, acuh tak acuh, tidak mempunyai sikap empati pada orang lain, kurang bahkan tidak ramah, tidak mampu mengendaliakan perasaannya dan nasib orang lain, dan jarang atau bahkan tidak pernah melibatkan dirinya dalam aktifitas-aktifitas sosial.

Konsep diri moral etik, berhubungan erat dengan persepsi, pemikiran, rasa dalam diri, serta penilaian dari seseorang terhadap moralitas dirinya sangat berhubungan erat dengan hubungan personalnya dengan Tuhan, segala hal yang bersifat normatif, baik nilai ataupun prinsip yang memberi arti serta arah bagi kehidupan seseorang. Konsep diri seseorang dianggap positif jika ia dapat berpegang teguh pada nilai moral etik, baik pada agama yang dianutnya, maupun dari tatanan ataupun norma sosial yang berlaku di tempat tinggalnya. Sebaliknya jika konsep diri individu dapat dikelompokkan sebagai konsep diri yang negatif bila ia menyimpang dan tidak mengindahkan nilai-nilai moral etika yang berlaku baik nilai-nilai agama maupun tatanan social yang seharusnya dia patuhi.

Konsep diri keluarga berkaitan dengan persepsi pikiran, perasaan, serta penilaian seseorang terhadap keluarganya sendiri, dan keberadaan dirinya sendiri sebagai bagian integral dai sebuah keluarga. Seseorang dianggap mempunyai konsep diri yang positif jika ia mencintai dan dicintai oleh keluarganya, dapat merasakan kebahagiaan berada di tengah- tengah keluarganya, merasa bangga dengan keluarga yang dimilikinya serta mendapat banyak bantuan maupun dukungan dari keluarganya. Dianggap negative apabila ia merasa tidak mencintai dan tidak pula dicintai oleh keluarganya, tidak juga merasakan kebahagiaan, berada ditengah-tengah keluarga, tidak tertanam kebanggaan pada keluarganya, serta tidak banyak mendapatkan bantuan dari keluarganya.

Kegiatan belajar mengajar, memang merupakan dua hubungan erat yang tidak dapat dipisahkan, sebab siswa melaksankan kegiatan belajar karena guru mengajar, dan juga guru mengajar agar siswa belajar. Oleh karena keduanya yang merupakan suatu keterpaduan, maka pendekatan atau strategi pembelajaran yang digunakan guru hendaknya memerlukan kegiatan belajar yang dapat dilakukan oleh siswa. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa kemampuan siswa belajar dan kualitas pengajaran merupakan faktor yang dominan. Sedangkan kualitas pengajaran yang dilakukan guru dalam pengajaran merupakan salah satu bagian yang terpenting, hal ini sebagaimana dijelaskan (Sudiana, 1989) bahwa “salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah ialah kualitas pengajaran”.

Berdasarkan uraian diatas, maka tingkat motivasi belajar dan prestasi belajar siswa dipengaruhi cukup besar oleh konsep diri. Dengan demikian kecenderungannya, prestasi belajar siswa akan semakin meningkat malakala konsep diri dan motivasi belajar meningkat pula.

Dalam penelitian ini, konsep diri dan motivasi belajar siswa akan meningkatkan prestasi belajar siswa berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian ternyata terdapat indikasi bahwa variabel konsep diri dan motivasi belajar berpengaruh langsung terhadap variabel prestasi belajar.

Besarnya pengaruh antara konsep diri dan motivasi belajar siswa baik secara arsial maupun bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa, dapat dilihat dari sangat kuatnya hubungan antara konsep diri dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri 1 Cirebon, dari hasil analisis  doperoleh nilai korelasi, dapat disimpulkan bahwa variable konsep diri dan motivasi belajar berpengaruh positif terhadap variable prestasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan besarnya pengaruh konsep diri dan motivasi belajar berdasarkan uji F (F-hitung > F-tabel atau 1048,878 > 2,766), maka dapat dijelaskan bahwa pengaruh konsep diri dan motivasi belajar secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Cirebon.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan peran konse dari dalam meningkatkan motivasi belajar prestasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cirebon, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Pengaruh antara konsep diri dan motivasi belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa berdasarkan hasil perhitungan di atas, dapat disimpulkan bahwa variable konsep diri dan motivasi belajar berpengaruh positif terhadap variable prestasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan besarnya pengaruh konsep diri dan motivasi belajar berdasarkan uji F (F-hitung > F-tabel atau 1048,878 > 2,766), maka dapat dijelaskan bahwa pengaruh konsep diri dan motivasi belajar secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cirebon.

Hasil analisis terhadap data di atas, menunjukkan bahwa konsep diri dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cirebon memiliki pengaruh. Besarnya pengaruh konsep diri dan motivasi belajar berdasarkan hasil uji F (F-hitung > F-tabel atau 1048,878 > 2,766), maka dapat dijelaskan bahwa pengaruh konsep diri dan motivasi belajar secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cirebon. oleh karena itu konsep diri dan motivasi belajar merupakan dua prasyarat untuk meraih prestasi belajar. Maka pada gilirannyalah konsep diri dan motivasi belajar dapat dijadikan modal bagi para siswa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

Chaplin, J. P., & Kartono, K. (1989). Kamus lengkap psikologi. Rajawali Pers.

 

Departemen Agama, R. I. (2006). Al-Qur’an Tajwid dan Terjemahnya. Bandung: PT. Syaamil Cipta Media.

 

Kartono. (1978a). Psikologi Abnormal. Alumni Bandung.

 

Kartono, K. (1978b). Psikologi abnormal dan abnormalitas seksual. Mandar Maju.

 

Sahrudin, S. (2017). Peran Konsep Diri, Religiusitas, Dan Pola Asuh Islami Terhadap Kecenderungan Perilaku Nakal Remaja Di Cirebon. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 2(1), 50–62.

 

Sudiana, N. (1989). Dasar-dasar proses belajar mengajar. PT Sinar Baru Algensindo.

 

Suryabrata, S. (2005). Psikologi pendidikan. PT Rajagrafindo.

 

Suryabrata, S. (2018). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Remaja Gratindo Persada.