Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN : 2548-1398

Vol. 4, No. 12 Desember 2019

 

ANALISIS KOMPARATIF KECUKUPAN MODAL (CAR), PENYALURAN KREDIT (LDR), EFISIENSI OPERASIONAL (BOPO) DAN PENDAPATAN BUNGA (NIM) PADA BANK PERSERO

 

Siti Komara

CV. Syntax Corporation Indonesia

Email: arrarhamiz992gmail.com

 

Abstrak

Perbankan memiliki peranan penting dalam mempengaruhi roda perekonomian negara khususnya bank persero yang terdiri dari BRI, Mandiri, BNI dan BTN. Untuk itu, kondisi keuangan ke empat bank persero tersebut merupakan informasi penting yang layak diketahui oleh publik. Dalam penelitian ini digunakan 4 (empat) komponen dalam menentukan kondisi keuangan ke empat bank persero, diantaranya kecukupan modal (CAR), penyaluran kredit (LDR), pendapatan bunga (NIM) dan tingkat efisiensi (BOPO). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan deskriptif dengan sumber data sekunder berupa laporan keuangan ke empat bank persero tahun 2010-2018. Hasil menunjukan bank dengan nilai CAR tertinggi adalah BRI dengan nilai 22,96, artinya BRI merupakan bank yang paling kuat dalam menanggung resiko dari setiap kredit beresiko yang disalurkan. Bank dengan nilai penyaluran kredit tertinggi (LDR) adalah BTN yaitu 108,86% artinya BTN memiliki tingkat likuiditas yang rendah. Untuk bank dengan pendapatan bunga tertinggi (NIM) adalah BRI dengan nilai 10,77. Untuk bank dengan nilai BOPO terendah adalah BNI dengan nilai 59,93%, artinya BNI merupakan bank paling efisien dan sehat dalam kurun waktu 2010-2018.

 

Kata kunci: Penyaluran kredit,Pendapatan bunga,Efisien operasional

 

Pendahuluan

Bank adalah sebuah lembaga intermediasi keuangan, umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan menerbitkan promes atau yang dikenal sebagai bank note (Munajim & Anwar, 2016). Bank memiliki peran signifikan dalam mempengaruhi perekonomian suatu negara baik pada lingkup mikro maupun makro dengan pangsa pasar mencapai 80% dari keseluruhan sistem keuangan yang ada Dunia perbankan di Indonesia pernah mengalami masa terpuruk, terakhir terjadi pada tahun 2008, dimana pada saat itu nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar amerika sampai pada angka Rp 12.500/dollar amerika dengan cadangan devisa hanya US$ 51,6 Miliar atau menguap sebesar 15%. (Indonesia, 2010) Kondisi keuangan perbankan di Indonesia mulai membaik mulai tahun 2009-2014 dengan total asset mencapai 5.615.149.821. Berikut ini perkembangan total asset perbankan Indonesia dalam rentan waktu 2009 – 2014:

Tabel 1.1

Jumlah Asset Perbankan Nasional 2009-2014

No

Tahun

Total Asset (Rp)

1

2009

2.534.106,188

2

2010

3.008.852,554

3

2011

3.652.831.752

4

2012

4.262.587.390

5

2013

4.954.467.192

6

2014

5.615.149.821

Sumber: Pusat Statistik Bank Indonesia

Peningkatan jumlah asset juga terjadi pada kelompok Bank Persero yang terdiri dari BRI, Mandiri, BNI dan BTN. Berdasarkan data yang ada per Desember 2012, jumlah asset Bank Persero sebesar Rp 1.535.343 miliar. Besarnya nilai asset perbankan menunjukan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja perbankan. (Indonesia, 2010) Penilaian terhadap kinerja perbankan, dapat dilakukan dengan menghitung rasio keuangan yang terdapat pada laporan keuangan. Menurut Kasmir kondisi keuangan perbankan dapat dinilai dengan menggunakan rasio; (1) CAR untuk aspek permodalan; (2) LDR untuk aspek likuiditas; (3) NIM untuk pendapatan bunga; (4) BOPO untuk efisiensi operasional. (Kasmir, 2014). Variabel CAR digunakan untuk mengukur kecukupan modal perbankan dalam rangka menunjang aktiva yang menghasilkan resiko. Modal yang dimiliki oleh bank digunakan untuk menunjang kegiatan utamanya yaitu menyalurkan kredit, selain itu juga digunakan untuk biaya operasional dan membackup dana simpanan nasabah. Dengan modal yang besar maka bank juga akan mampu meningkatkan profitabilitasnya secara optimal. Semakin besar nilai CAR suatu bank menunjukan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap bank tersebut. (Fahmi, Sjahruddin, Astuti, & Syakhrun, 2017). Nilai CAR dihitung dari rasio modal terhadap aktiva tertimbang menurut risiko, yang dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:

CAR =

Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, bank dinyatakan sehat yaitu apabila memiliki kecukupan modal minimal 8%. Hal ini bertujuan untuk: (a) Menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, (b) Melindungi dana pihak ketiga bank bersangkutan, (c) Untuk memenuhi ketetapan standar BIS (Bank for International Settlement) (Rahim, 2014)

Komponen selanjutnya, untuk mengukur kondisi keuangan perbankan dapat menggunakan LDR atau Loan to Deposit Ratio. LDR menunjukan besarnya nilai kredit yang disalurkan kepada masyarakat. Semakin tinggi nilai LDR suatu bank, maka profitabilitasnya juga semakin besar, dengan catatan bank tersebut mampu menyalurkan kreditnya secara efektif. Bank Indonesia menetapkan ambang batas LDR antara 80%-110%. (Werdaningtyas, 2002) LDR dihitung dari perbandingan antara total jumlah kredit atau pembiayaan yang diberikan bank dengan dana yang diterima bank, yang dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:

LDR =  x 100%

Indikator berikutnya yang digunakan untuk melihat kondisi keuangan suatu perbankan adalah NIM atau Net Income Margin. NIM atau biasa disebut pendapatan bunga dihitung dengan membandingkan antara pendapatan bunga bersih terhadap jumlah kredit yang diberikan. Pendapatan bunga bersih merupakan hasil pengurangan antara pendapatan bunga dikurangi biaya bunga. (Maria, 2015). Semakin tinggi nilai NIM maka pendapatan bunga atas aktiva produktif semakin meningkat yang berarti kinerja keuangan bank semakin meningkat. (Indonesia, 2010). Bank Indonesia menetapkan kondisi keuangan yang sehat apabila memiliki nilai NIM minimal 2%. (Simanjuntak, 2018)

Komponen terakhir dalam penelitian ini yang digunakan sebagai indikator kesehatan suatu bank adalah BOPO atau Beban Operasional dan Pendapatan Operasional. Nilai BOPO menggambarkan efektifitas dan efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi yang dilakukan oleh manajemen bank. BOPO dihitung dengan membandingkan antara total biaya dengan total pendapatan operasional, yang dinyatakan dalam rumus sebagai berikut:

BOPO =  x 100%

Semakin kecil nilai BOPO sebuah bank maka semakin baik juga kinerja bank tersebut.  (Ponco, 2008) Dalam penelitian ini akan dibandingkan dan dianalisis nilai CAR, LDR, NIM dan BOPO dari Bank-Bank Persero dengan rumusan permasalahan bagaimana perbandingan nilai dan kondisi keuangan keempat bank persero dilihat dari nilai CAR, LDR, NIM dan BOPO

 

Metode Penelitian

Jenis  penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif yang digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis kondisi keuangan keempat bank persero berdasarkan hasil CAR, LDR, NIM dan BOPO. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder berupa publikasi laporan keuangan tahun 2009-2018 Bank Persero yakni Bank Nasional Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN). Populasi dalam penelitian ini adalah bank-bank umum yang telah go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu sebanyak 120 bank. Metode pengambilan sample adalah dengan menggunakan metode purposive sampling. Teknik pengambilan data dengan purposive sampling adalah teknik pengambilan sumber data dalam penelitian berdasarkan pada pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2016). Berdasarkan populasi yang ada, maka kriteria untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

No

Kriteria

1

Bank umum yang telah go public dan terdaftar di BEI

2

Memiliki saham yang sebagian besarnya dimiliki oleh pemerintah

3

Memiliki data laporan keuangan pada tahun 2009-2018 sesuai dengan periode waktu penelitian

4

Bank masih beroperasi selama periode waktu penelitian yakni 2009-2018

 

Berdasarkan tabel di atas, maka bank yang memenuhi kriteria dalam penelitian ini, diantaranya adalah sebagai berikut:

1.    Bank Nasional Indonesia dengan kode BBNI

2.    Bank Mandiri dengan kode BMRI

3.    Bank Tabungan Negara dengan kode BBTN

4.    Bank Rakyat Indonesia dengan kode BBRI

 

 

 

 

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan laporan keuangan ke empat bank persero didapatkan nilai CAR, LDR, NIM dan BOPO sebagai berikut:

  1. CAR

Tabel 1

Nilai CAR Dari Ke Empat Bank BUMN Periode 2010-2018

Bank

TAHUN

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

MANDIRI

13,36

15,34

15,48

14,93

16,60

18,6

21,36

21,64

20,96

BRI

13,76

14,96

16,95

16,99

18,31

20,59

22,91

22,96

21,21

BNI

18,63

17,63

16,67

15,09

16,22

19,5

19,4

18,5

18,5

BTN

16,74

15,03

17,69

15,62

14,64

16,97

20,34

18,87

18,21

Rata-Rata

15,6225

15,74

16,6975

15,6575

16,4425

18,915

21,0025

20,4925

19,72

Max

18,63

17,63

17,69

16,99

18,31

20,59

22,91

22,96

21,21

Min

13,36

14,96

15,48

14,93

14,64

16,97

19,4

18,5

18,21

 

Tabel 1 menunjukan rata-rata kecukupan modal tertinggi ke empat Bank Persero dalam kurun waktu 2010-2018 adalah terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar 21,0025% sedangkan rata-rata terendah pada tahun 2010 yaitu 15,6225. Untuk nilai kecukupan modal tertinggi diraih BRI dengan nilai 22,96 yang terjadi pada tahun 2017. Sedangkan terendah adalah bank Mandiri pada tahun 2010 dengan nilai 13,36. Dengan demikian pada kurun waktu 2010-2018, BRI merupakan bank yang paling kuat dalam menanggung resiko dari setiap kredit beresiko yang disalurkan. Sedangkan Mandiri merupakan paling lemah dalam menanggung resiko, namun demikian Mandiri masih dikatakan mampu menanggung sistem operasionalnya karena ambang batas minimal kecukupan modal adalah 8%.

  1. LDR

Tabel 2

Nilai LDR Dari Ke Empat Bank Persero Dalam Kurun Waktu 2010-2018

Bank

TAHUN

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

MANDIRI

65,44

71,65

77,66

82,97

82,02

87,05

85,86

87,16

95,46

BRI

75,17

76,20

79,85

88,54

81,68

86,88

87,77

88,13

89,57

BNI

70,15

70,37

77,52

85,30

87,8

87,8

90,4

85,6

88,8

BTN

108,42

102,56

100,90

104,42

108,86

108,78

102,66

103,13

103,25

Rata-Rata

79,795

80,195

83,9825

90,3075

90,09

92,6275

91,6725

91,005

94,27

Max

108,42

102,56

100,9

104,42

108,86

108,78

102,66

103,13

103,25

Min

65,44

70,37

77,52

82,97

81,68

86,88

85,86

85,6

88,8

 

Tabel 2 menunjukan bahwa rata-rata penyaluran kredit tertinggi empat bank persero dalam kurun waktu 2010-2018 adalah terjadi pada tahun 2018 dengan rata-rata 94,27%. Sedangkan rata-rata penyaluran kredit terendah terjadi pada tahun 2010 yaitu 79.795%. Diantara ke empat bank persero yang memiliki nilai penyaluran kredit tertinggi selama kurun waktu 2010-2018 adalah BTN pada tahun 2014 yaitu 108,86% dan melampui ambang LDR yang ditetapkanoleh BI yaitu 85%-100%. Sedangkan penyaluran kredit terendah adalah bank Mandiri pada tahun 2010 dengan nilai 65,44%. Dengan demikian bank Mandiri memiliki tingkat likuiditas  yang tinggi sedangkan BTN memiliki tingkat likuiditas yang rendah.

c.       NIM

Tabel 3

Pendapatan Bunga Masing-Masing Bank Persero

Bank

TAHUN

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

MANDIRI

5,39

5,29

5,58

5,68

5,94

5,90

6,29

5,63

5,52

BRI

10,77

9,58

8,42

8,55

8,51

8,13

8,00

7,93

7,45

BNI

5,78

6,03

5,93

6,11

6,2

6,4

6,2

5,5

5,3

BTN

5,99

5,76

5,83

5,44

4,47

4,87

4,98

4,76

4,32

Rata-Rata

6,9825

6,665

6,44

6,445

6,28

6,325

6,3675

5,955

5,6475

Max

10,77

9,58

8,42

8,55

8,51

8,13

8

7,93

7,45

Min

5,39

5,29

5,58

5,44

4,47

4,87

4,98

4,76

4,32

 

Tabel di atas menunjukan rata-rata pendapatan bunga tertinggi ke empat bank BUMN pada periode 2010-2018 terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 6,9825. Sedangkan rata-rata pendapatan bunga terendah terjadi pada tahun 2018 yaitu sebesar 5,6475. Untuk bank dengan pendapatan tertinggi pada kurun waktu 2010-2018 adalah BRI pada tahun 2010 dengan nilai pendapatan tertinggi 10,77. Sedangkan untuk bank dengan nilai pendapatan terendah adalah BTN pada tahun 2018 dengan nilai 4,32

 

 

  1. BOPO

Tabel 4

Nilai BOPO Dari Ke Empat Bank BUMN

Bank

TAHUN

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

MANDIRI

73,9175

72,1275

68,8975

68,075

72,3425

74,49

76,4275

73,495

72,66

 

BRI

82,39

81,75

80,74

82,19

89,19

84,83

82,48

82,06

85,58

 

BNI

66,43

66,96

59,93

60,58

64,98

67,96

68,69

69,14

66,48

 

BTN

73,9175

72,1275

68,8975

68,075

72,3425

74,49

76,4275

73,495

72,66

 

Rata-Rata

73,9175

72,1275

68,8975

68,075

72,3425

74,49

76,4275

73,495

72,66

 

Max

82,39

81,75

80,74

82,19

89,19

84,83

82,48

82,06

85,58

 

Min

66,43

66,96

59,93

60,58

64,98

67,96

68,69

69,14

66,48

 

 

Tabel 4 menunjukan bahwa nilai rata-rata BOPO tertinggi pada kurun waktu 2010-2018 dicapai pada tahun 2016 yaitu sebesar 76,4275% sedangkan terendah pada tahun 2013 yaitu 68,075%. Untuk bank dengan nilai BOPO tertinggi dalam kurun waktu 2010-2018 adalah BRI pada tahun 2014 dengan nilai 89,19%. Sedangkan terendah adalah BNI pada tahun 2012 dengan nilai 59,93%. Dengan demikian BNI merupakan bank paling efisien dan sehat dalam kurun waktu 2010-2018 sedangkan BRI merupakan bank paling tidak efisien dan tidak sehat dalam kurun waktu 2010-2018. Namun demikian tingkat efisiensi BRI masih dalam ambang batas, dimana BI menetapkan ambang batas maksimal nilai BOPO adalah 93,52%

 

Kesimpulan

Nilai kecukupan modal tertinggi (CAR) diraih BRI dengan nilai 22,96, artinya BRI merupakan bank yang paling kuat dalam menanggung resiko dari setiap kredit beresiko yang disalurkan. Bank dengan nilai penyaluran kredit tertinggi (LDR) adalah BTN yaitu 108,86% artinya BTN memiliki tingkat likuiditas yang rendah. Untuk bank dengan pendapatan bunga tertinggi (NIM) adalah BRI dengan nilai 10,77. Untuk bank dengan nilai BOPO terendah adalah BNI dengan nilai 59,93%, artinya BNI merupakan bank paling efisien dan sehat dalam kurun waktu 2010-2018.

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

Fahmi, R. Z., Sjahruddin, H., Astuti, N. P., & Syakhrun, A. M. (2017). Pengaruh Kecukupan Modal Dan Penyaluran Kredit Terhadap Profitabilitas Perbankan.

 

Indonesia, R. (2010). Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Jakarta (ID): Sekretaris Negara.

 

Maria, A. (2015). Pengaruh CAR, BOPO, NIM, NPL, dan LDR Terhadap ROA: Studi Kasus pada 10 Bank Terbaik di Indonesia Periode 2007-2011. CALYPTRA, 4(1), 1–19.

 

Munajim, A., & Anwar, S. (2016). Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Menjadi Nasabah Bank Syariah. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 1(2), 41–52.

 

Ponco, B. (2008). Analisis Pengaruh CAR, NPL, BOPO, NIM dan LDR terhadap ROA (Studi Kasus Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2007). program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

 

Rahim, B. N. (2014). Pengaruh Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio) yang Memperhitungkan Risiko Kredit dan Risiko Pasar Terhadap Profitabilitas, Fungsi Intermediasi dan Risiko Perbankan. Jurnal Sosial Ekonomi Pembangunan, 4(12).

 

Simanjuntak, J. (2018). Inflasi Dan Suku Bunga Terhadap Net Interest Margin Pada Bank Konvensional. Journal of Accounting and Management Innovation, 2(2), 161–169.

 

Sugiyono, H. (2016). Metode kualitatif dan kuantitatif. Cetakan Ke-23. Alfabeta, Bandung.

 

Werdaningtyas, H. (2002). Faktor yang Mempengaruhi Profitabilitas Bank Take Over Pramerger di Indonesia. Jurnal Manajemen Indonesia, 1(2), 24–39.