����������� ����������������������� ����� Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia � ISSN : 2541 0849

����������������������������������������� e-ISSN : 2548-1398

����������������������������������������� Vol. 2, No 6Juni 2017

 

 


MENINGKATKAN KOMPETENSI BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DISKUSI PADA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS XMIPA11 SMAN 2 KOTA CIREBON TAHUN PELAJARAN 2016/2017

 

Rayu Wulandhari

SMA Negeri 2 Cirebon

[email protected]

 

Abstrak

Model pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran kooperatif yang mengarahkan siswa untuk berani berbicara dan menyampaikan gagasan. Dalam kasus lain model pembelajaran ini juga merupakan rangsangan terbaik untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas(PTK) untuk mengetahui peningkatan kemampuan berbicara siswa dan tindak lanjutnya. Pada penelitian ini peneliti menggunakan kelas X MIPA 11 SMA Negeri 2 Cirebon tahun pelajaran 2016/2017 sebagai sampel sekaligus populasi.Menurut pengamatan peneliti, kelas tersebut merupakan kelas dengan kemampuan berbicara yang masih rendah, sehingga tepat jika dijadikan sebagai populasi, sampel, dan/atau subjek penelitian. Nilai kemampuan berbicara kelas X MIPA 11 pada awal penelitian (pra siklus) adalah 61,3. Kemudian nilai tersebut meningkat menjadi 76,08 di siklus I dan menginjak angka 88,2 di siklus II. Merujuk pada peningkatan tersebut, peneliti berkesimpulan bahwa model pembelajarna berbasis diskusi memiliki dampak baik untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas X MIPA 11 SMA Negeri 2 Cirebon tahun pelajaran 2016/2017.

 

Kata kunci: Model Pembelajaran Diskusi, Metode Diskusi, Kemampuan

Berbicara.

 

Pendahuluan

Dalam ranah komunikasi bahasa memiliki peran vital dalam mewujudkan ketercapaian komunikasi yang baik serta komunikatif.Secara umum bahasa berperan sebagai alat atau instrument komunikasi. Tanpa penggunaan bahasa yang baik seorang komunikator tidak akan mampu menyampaikan informasi ke komunikan dengan baik. Peran bahasa sebagai alat dalam berkomunikasi tidak hanya dipaparkan oleh penulis, namun juga oleh Chaer dan Agustina (1995: 14) serta Soeparno (1993).Menurut ketiganya bahasa merupakan alat yang digunakan untuk berkomunikasi. Adapun konsep komunikasi yang dimaksud bersifat umum, meliputi komunikasi sosial, budaya, atau jenis yang lain.

Pengetian bahasa sebagai alat berkomunikasi tidak hanya disampaikan oleh Chaer Agustina dan Soeparno. Sebab, selain ketiga nama di atas, penulis juga menemui Suwarna (2002) yang dapat bukunya mengungkapkan bahwa bahasa merupakan alat utama untuk melakukan komunikasi sehari-hari. Dari kesemua pengertian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa bahasa merupakan instrument penting dalam komunikasi. Jika bahasa merupakan alat berkomunikasi, kegiatan komunikasi tidak akan mungkin berjalan tanpa menggunakan bahasa yang baik dan benar.

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki satu bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia.Penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dilakukan pada momen sumpah pemuda yang terjadi di tanggal 28 Oktober 1928. Di samping ditetapkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional bahasa Indonesia juga diajarkan di instansi pendidikan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik.

Pembelajaran bahasa Indonesia di instansi pendidikan meliputi beberapa aspek, diantaranya adalah menulis, membaca, dan berbicara.Dari ketiga hal tersebut, berbicara merupakan aspek tersulit untuk dicapai.Menurut pengamatan penulis, sebagian siswa belum memiliki mental yang cukup untuk meningkatkan kemampuan berbicaranya.

Berbicara sendiri adalah kegiatan menungkapkan bunyi melalui kata-kata yang keluar dari mulut guna menyampaikan, mengekspresikan, dan/atau mengungkapkan pikiran, gagasan, dan/atau perasaan (Tarigan: 2008).Menurut Haryadi dan Zamzami (1996/1997) berbicara pada dasarnya merupakan proses berkomunikasi yang dilakukan dengan mengirimkan pesan dari satu umber ke sumber lain. Merujuk dari pengertian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa berbicara merupakan aktivitas berbahasa yang dilakukan dengan mengirimkan informasi dari satu pihak ke pihak lain.

Pada pembelajaran bahasa Indonesia berbicara diajarkan melalui kegiatan membaca teks di depan kelas. Setelah kegiatan membaca peserta didik lalu diarahkan untuk menyimpulkan materi bacaan. Dengan cara tersebut, perlahan tapi pasti, peneliti akan mampu meningkatkan kemampuan berbicara dengan sendirinya. Namun demikian, pola-pola seperti yang disebutkan tadi merupakan pola konvensional. Jika disandingkan dengan karakter siswa sekarang, pola di atas tidak begitu efektif meningkatkan kemampuan berbicara, sehingga diperlukan cara baru untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa.

Diskusi adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa.Menurut Hasibuan (1985) diskusi merupakan visi dari dua atau lebih individu yang secara langsung dan bertatap muka melakukan pertukaran informasi dan gagasan.Dalam prosesnya berbicara dilakukan antarkelompok atau individu dengan berbicara dan menyampaikan gagasan terhadap lawan diskusi. Pada proses ini pelaku diskusi akan sangat terangsang untuk berbicara dan mengeluarkan pendapat dan/atau merespon pendapat yang datang dari lawan diskusi.

Kelas X MIPA 11 adalah satu dari sekian kelas dengan kemampuan berbicara di bawah rata-rata. Dari hasil pengamatan yang peneliti lakukan kelas X MIPA 11 merupakan kelas dengan rata-rata siswa yang sedikit pemalu dan enggan berbira di depan kelas. Bahkan, jika dinilai melalui penilaian kemampuan berbicara, kemampuan berbicara siswa hanya mencapai skor 61,3. Jika diklasifikasikan, skor tersebut tergolong kecil dan berkategorikan C atau cukup.

Merujuk dari alasan tersebut penulis berkeinginan melakukan penelitian guna mengungkap alasan kenapa kemampuan berbicara siswa rendah, serta melakukan tindak lanjut guna meningkatkankemampuan berbicara siswa kelas X MIPA 11 SMA Negeri 2 Cirebin tahun pelajaran 2016/2017.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk mengungkap peningkatan kemampuan bericara siswa setelah diterapkannya model pembelajaran berbasis diskusi pada kelas X MIPA 11 SMA Negeri 2 Cirebon tahun pelajaran 2016/2017.Metode penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif.Metode deskriptif analisis adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan objek penelitian untuk kepentingan penarikan kesimpulan.Sedangkan menurut Sugiyono (2005), deskriptif analisis adalah metode penelitian yang digunakan untuk menggambarkan hasil untuk menarik sebuah kesimpulan. Tidak berbeda jauh dengan Sugiyono, dalam bukunya Nazir (1988) mengungkapkan bahwa metode penelitian deskriptif analisis adalah metode yang digunakan untuk meneliti sebuah objek, kelompok manusia, set pemikiran, kondisi maupun peristiwa di masa sekarang untuk keperluan pengambilan kesimpulan.

Tempat yang digunakan untuk penelitian ini adalah kelas X MIPA 11 SMA Negeri 2 Cirebon tahun pelajaran 2016/2017.Menurut pengamatan peneliti, kelas tersebut merupakan kelas yang memiliki siswa dengan kemampuan berbicara yang kurang baik, sehingga cocok dijadikan tempat penelitian.

Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan.Dari kedua bulan tersebut peneliti membagi waktu penelitian menjadi 3 siklus, yakni pra siklus, siklus I, dan siklus. Pra siklus merupakan siklus dimana peneliti belum memberlakukan model pembelajaran berbasis diskusi, sedangkan siklus I dan siklus II merupakan siklus saat peneliti memberlakukan model pembelajaran tersebut. Adapun pembeda antara siklus I dan siklus II adalah tindak lanjut.Siklus II merupakan upaya tindak lanjut atas ketidakmaksimalan yang terjadi pada siklus I.

Populasi yang digunakan di penelitian ini adalah seluruh siswa di kelas X MIPA 11 SMA Negeri 2 Cirebon.Adapun jumlah siswa kelas X MIPA 11 yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah 46 siswa.Berhubungan dengan populasi, sampel yang digunakan pada penelitian ini merupakan jumlah keseluruhan dari populasi.Hal ini dilakukan akibat teknik pengambilan sampel yang digunakan peneliti adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan mempertimbangkan satu dan lain hal. Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK), sampel yang digunakan haruslah keseluruhan siswa, sehingga menjadi pertimbangan kenapa sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan populasi penelitian. Berkaitan dengan populasi dan sampel, subjek yang digunakan pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MIPA 11 dengan objek kemampuan berbicara siswa.

Sumber data dalam penelitian ini didapat dari hasil observasi dan hasil diskusi yang dilakukan siswa.Data-data yang berhasil didapat peneliti kemudian dikaji dan dianalisis menggunakan rerata dan prosentase. Untuk menentukan rerata data dilakukan menggunakan rumus berikut:

 

X = X

����������� ����������������������������������������������� N

Keterangan:

X�������� = rata-rata nilai akhir belajar

N�������� = Banyaknya siswa

X ��� = Jumlah skor seluruh siswa

Rata-rata kemampuan berbicara yang didapat dari perhitungan akan dikategorikan sebagaimana tabel di bawah ini:

Tabel 1

Kriteria Pengelompokan Nilai

 

Nilai

Kriteria

Keterangan

80≤X≤100

A

Baik Sekali

70≤X≤80

B

Baik

60≤X≤70

C

Cukup

50≤X≤60

D

Kurang

0≤X≤50

E

Kurang Sekali

Pada prosesnya nilai rata-rata hasil belajar secara otomatis telah terhitung dalam absensi siswa. Dengan kata lain perhitungan sebagaimana pemaparan di atas tidak terlalu dibutuhkan.

Prosentase peningkatan hasil belajar adalah prosentase yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan yang terjadi dalam suatu Penelitian Tindakan Kelas. Untuk mengetahui prosentase tersebut dilakukan perhitungan dengan rumus sebagai berikut:

Prosentase = aX 100%

b

Keterangan:

a = selisih skor rata-rata hasil belajar siswa pada dua siklus

b = skor rata-rata siswa pada siklus sebelumnya

Hasil dan Pembahasan

A.     Hasil

1.      Pra Siklus

Pra siklus merupakan siklus awal dimana peneliti belum memberlakukan model pembelajaran diskusi. Pada siklus ini peneliti juga melakukan observasi dan pengambilan data. Dari kegiatan tersebut didapat hasil sebagaimana tabel berikut ini:

 

 

 

 

Tabel 2

Kemampuan Berbicara Siswa Pra Siklus

 

No

Kriteria

Nilai

Jumlah

Total

1

Jika argumen yang disampaikan tepat, jumlah argumen yang disampaikan lebih dari 3, dan penyampaian argumen baik

100

3

300

2

Jika argumen yang disampaikan tepat, jumlah argumen kurang dari atau sama dengan 3, dan penyampaian argumen yang baik

80

6

480

3

Jika argumen yang disampaikan tepat, jumlah argumen yang disampaikan kurang dari 3, dan penyampaian kurang baik

60

28

1680

4

Jika argumen yang disampaikan kurang tepat, jumlah argumen yang disampaikan kurang dari 3, dan penyampaian kurang baik

40

9

360

5

Jika argumen yang disampaikan melenceng dari topik dengan penyampaian yang juga kurang baik

20

0

0

 

Total

 

 

2820

 

Rata-Rata Nilai Siswa

 

 

61,3

 

Kategori

 

 

Cukup

 

Dari tabel di atas peneliti mendapati skor kemampuan berbicara yang masih rendah. Menurut tabel di atas skor kemampuan berbicara siswa hanya berada di angka 61,3. Jika dipetakan ke dalam kategori penilaian skor tersebut masuk dalam kategori cukup.

 

 

2.      Siklus I

Siklus I merupakan siklus dimana peneliti dan pendidik telah memberlakukan model pembelajaran berbasis diskusi pada siswa kelas X MIPA 11 SMA Negeri 2 Cirebon tahun pelajaran 2016/2017. Pada siklus yang sama peneliti juga melakukan pengamatan dan pengambilan data yang kemudian dikonversi menjadi tabel seperti berikut:

Tabel 3

Kemampuan Berbicara Siswa Siklus I

 

No

Kriteria

Nilai

Jumlah

Total

1

Jika argumen yang disampaikan tepat, jumlah argumen yang disampaikan lebih dari 3, dan penyampaian argumen baik

100

10

1000

2

Jika argumen yang disampaikan tepat, jumlah argumen kurang dari atau sama dengan 3, dan penyampaian argumen yang baik

80

17

1360

3

Jika argumen yang disampaikan tepat, jumlah argumen yang disampaikan kurang dari 3, dan penyampaian kurang baik

60

19

1140

4

Jika argumen yang disampaikan kurang tepat, jumlah argumen yang disampaikan kurang dari 3, dan penyampaian kurang baik

40

0

0

5

Jika argumen yang disampaikan melenceng dari topik dengan penyampaian yang juga kurang baik

20

0

0

 

Total

 

 

3500

 

Rata-Rata Nilai Siswa

 

 

76,08

 

Kategori

 

 

Baik

 

Jika merujuk dari tabel di atas, peneliti mendapati peningkatan yang cukup signifikan untuk kemampuan berbicara siswa kelas X MIPA 11 SMA Negeri 2 Cirebon. Hal tersebut terlihat melalui analisis seperti berikut:

a.       Rata-rata

Nilai rata-rata kemampuan belajar siswa kelas X MIPA 11 adalah 76,08, meningkat 14,78 angka rata-rata sebelumnya yang berada di angka 61,3. Jika dikaitkan dengan klasifikasi nilai, nilai yang diperoleh siswa kelas X MIPA 11 dari praktek berbicara melalui diskusi sudah cukup baik dan masuk dalam ketegori nilai baik.Namun penulis berkeinginan untuk lebih meningkatkan kemampuan berbicara siswa.Oleh karena alasan tersebut peneliti kemudian memberlakukan siklus lanjutan, yakni siklus 2 untuk digunakan sebagai tindak lanjut atas siklus I.

b.      Prosentase

Prosentase adalah analisis yang dilakukan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berbicara siswa.Melalui analisis ini baik peneliti maupun guru dapat mengetahui sejauh mana pembelajaran diskusi dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa. Untuk memaksimalkan analisis ini dan mengetahui peningkatan yang dimaksud, peneliti menerapkan rumusan sebagaimana berikut:

Prosentase = a x 100%

���������������������� b

Prosentase = (76,08 � 61,3) x 100%

���������������������������������� ����� 61,3

Prosentase = 14,75 x 100%

���������������������������������� 61,3

Posentase = 24,06%

Dari perhitungan di atas peneliti mendapati peningkatan sejumlah 24,06% untuk kemampuan berbicara pra siklus ke siklus I.

3.      Siklus II

Siklus II merupakan tindak lanjut yang dilakukan untuk memaksimalkan hasil dari siklus I. Seperti diketahui, kemampuan berbicara siswa di siklus I masih kurang maksimal, sehingga dibutuhkan sentuhan tindak lanjut yang tepat dan efektif untuk meningkatkannya.Selain merupakan siklus tindak lanjut, siklus II juga merupakan siklus dimana peneliti memberlakukan metode diskusi secara lebih masif. Pada siklus yang sama peneliti juga melakukan observasi dan pengambilan data. Data-data yang dimaksud kemudian peneliti rangkai dalam bentuk tabel seperti berikut:

Tabel 4

Kemampuan Berbicara Siswa Siklus II

 

No

Kriteria

Nilai

Jumlah

Total

1

Jika argumen yang disampaikan tepat, jumlah argumen yang disampaikan lebih dari 3, dan penyampaian argumen baik

100

19

1900

2

Jika argumen yang disampaikan tepat, jumlah argumen kurang dari atau sama dengan 3, dan penyampaian argumen yang baik

80

27

2160

3

Jika argumen yang disampaikan tepat, jumlah argumen yang disampaikan kurang dari 3, dan penyampaian kurang baik

60

0

0

4

Jika argumen yang disampaikan kurang tepat, jumlah argumen yang disampaikan kurang dari 3, dan penyampaian kurang baik

40

0

0

5

Jika argumen yang disampaikan melenceng dari topik dengan penyampaian yang juga kurang baik

20

0

0

 

Total

 

 

4060

 

Rata-Rata Nilai Siswa

 

 

88,2

 

Kategori

 

 

Baik

 

Jika melihat dari tabel di atas, peningkatan yang terjadi antara siklus I dan siklus II terbilang cukup baik. Hal tersebut terlihat dari hasil analisis yang dilakukan dengan pola berikut:

1.      Rata-rata

Jika melihat pada rata-rata nilai siswa, rata-rata nilai tersebut telah mencapai angka 88,2, angka terbesar untuk ukuran kemampuan berbicara. Di samping besar nilai tersebut juga masuk dalam kategori sangat baik.Hal tersebut terjadi karena nilai rata-rata siswa telah menginjak angka 88,2, melibihi limit kategori baik yang berada di angka 80.

Dari kondisi ini peneliti kemudian berkeyakinan bahwa siswa kelas X MIPA 11 SMA Negeri 2 Cirebon tahun pelajaran 2016/2017 memiliki kemampuan berbicara yang sudah sangat baik, sehingga tidak perlu dilakukan tindak lanjut dengan memberlakukan siklus III dan seterusnya.

2.      Prosentase

Perhitungan prosentase peningkatan kemampuan berbicara siklus II dilakukan dengan rumus berikut:

Prosentase = a x 100%

���������������������� b

Prosentase = (88,2 � 76,08) x 100%

���������������������������������� ���� 76,08

Prosentase = 12,12 x 100%

���������������������� �������� 76,08

Prosentase = 15,93%

Perhitungan prosentase di atas menyatakan bahwa dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan sebesar 15,93%. Kendati lebih kecil dari peningkatan sebelumnya, namun peningkatan tersebut mengarahkan peserta didik untuk memiliki nilai rata-rata kemampuan berbicara yang relatiftinggi, yakni 88,2.

B.     Pembahasan

Model pembelajaran berbasis diskusi merupakan model pembelajaran yang mengarahkan peserta didik untuk berbicara dan mampu mengungkapkan pendapatan dalam forum. Lebih lanjut, model pembelajaran dengan orientasi diskusi juga tidak menuntut siswa untuk maju dan menunjukan kemampuan bebicara di depan public, sehingga cocok untuk kebanyakan siswa yang pemalu dan enggan mamu ke depan untuk berbicara.

Menurut hasil observasi dan pengambilan data yang peneliti lakukan di tiga siklus, peneliti mendapati peningkatan di tiap siklusnya. Pada pra siklus nilai kemampuan berbicara siswa berada di angka 61,3. Angka tersebut merupakan angka terendah dari ketiga yang siklus yang ada.Rendahnya nilai kemampuan berbicara diakibatkan oleh minimnya ide guru untuk mengembangkan model pembelajaran. Namun, setelah model pembelajaran berbasis diskusi di terapkan, nilai kemampuan berbicara siswa berangsur meningkat dan berada di angka 76,08. Peningkatan tersebut terjadi akibat antusias peserta didik yang meninggi akibat penerapan model pembelajaran baru.Dari hal tersebut peneliti mendapati kemauan peserta didik untuk ikut berbicara dan menyampaikan pendapatnya di forum. Dengan cara tersebut lambat laun kemampuan berbicara siswa kelas X MIPA 11 mulai terlihat dan meningkat dengan sendirinya.

Melihat dari hasil yang dipaparkan di atas, peneliti kemudian menyimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis diskusi memberi dampak baik untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Namun peningkatan yang terjadi dari pra siklus ke siklus I masih kurang maksimal, sehingga perlu dilakukan siklus lanjutan.

Dalam siklus lanjutan peneliti kembali menerapkan model pembelajaran yang sama namun dengan rangsangan yang sedikit lebih tajam. Pada siklus ini peneliti dan pendidik lebih mengarahkan siswa untuk berani berbicara dan menyampaikan pendapat. Dengan cara tersebut peneliti kembali mendapat peningkatan kemampuan berbicara melalui nilai rata-rata siswa yang meningkat. Jika pada siklus I nilai kemampuan berbicara siswa berada di angka 73,08, pada siklus II nilai tersebut meningkat dan berada pada angka 88,2.

Jika dibandingkan antara peningkatan siklus I dan siklus II, peningkatan terbesar memang dipegang oleh peningkatan siklus I dengan prosentase sebesar 24,6%. Berbeda dengan peningkatan yang terjadi di siklus II. Pada siklus tersebut peningkatan hanya terjadi pada prosentase 15,93%. Jarak keduanya memang terbilang jauh.Tapi terlepas daripada itu, kedua peningkatan tersebut mencirikan bahwa model pembelajaran berbasis diskusi memiliki dampak yang sangat baik untuk peningkatan kemampuan berbicara, khususnya kemampuan berbicara siswa kelas X MIPA 11 SMA Negeri 2 Cirebon tahun pelajaran 2016/2017.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis yang telah dilakukan pada siswa kelas X MIPA 11 SMA Negeri 2 Cirebon tahun pelajaran 2016/2017, peneliti dapat menyimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis proyek memiliki dampak baik dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas X MIPA 11 SMA Negeri 2 Cirebon tahun pelajaran 2016/2017.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

Chaer, Abdul dan Leoni Agustina. 1995. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Soeparno. 1993. Dasar-Dasar Linguistik. Yogyakarta: Mitra Gama Widya

 

Pringgawidagda, Suwarna. 2002. Strategi Penguasaan Bahasa. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

 

Al � Tabany, Trianto Ibnu Badar. 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif dan Kontekstual. Jakarta: Prenadamedia Group

 

Haryadi dan zamami.1996/1997.Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia.Jakarta: Dikti dan Depdikbud

 

Hasibuan. 1985. Proses Belajar Mengajar. Bandung: CV Radja Karya

 

Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

 

Nazir, Mohammad. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.