Syntax Literate: Jurnal
Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398
Vol. 9, No.
7, Juli 2024
RANCANG BANGUN CENTRAL MONITORING SISTEM
CEPAT DAN LENGKAP (CEMON CELEP) KESEHATAN PASIEN RAWAT INAP BERBASIS
INTERNET DI KLINIK HS BANGKALAN
Prima Nugroho1, M. Hasinuddin2
STIKES Ngudia
Husada Madura, Bangkalan, Indonesia1,2
Email: prima435.pn@gmail.com1,
hasin3333.nhm@gmail.com2
Abstrak
Untuk memenuhi
kebutuhan dibutuhkan suatu sistem yang dapat memonitoring kesehatan pasien tanpa harus keluar
masuk kamar pasien.
Central Monitor diperlukan untuk otomasi
monitoring kesehatan pasien rawat inap dengan mudah dan real time. Dari hasil pengujian sistem monitoring kesehatan pasien rawat inap berbasis central / terpusat ini dapat memantau detak jantung, respirasi,
saturasi (kadar oksigen dalam darah), dan tekanan darah. Semua parameter tersebut
dimonitoring menggunakan aplikasi
central monitoring dan di kontrol
menggunakan komputer. Sistem ini diharapkan dapat memudahkan dokter dan perawat rumah sakit dalam memonitoring pasien-
pasien rawat inap dengan lebih efisien waktu, cepat, lengkap dan modern.
Pelayanan Publik, Kualitas Pelayanan, Pelayanan Kesehatan dan Teori Inovasi
Pelayanan digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Untuk mengetahui
inovasi pelayanan kesehatan melalui central monitoring sistem, peneliti menggunakan lima
atribut inovasi menurut Rogers dan lima dimensi kualitas pelayanan menurut
Zeithaml, Parasuraman dan Berry. Metode penelitian yang digunakan adalah
kualitatif. Jenis penelitian adalah deskriptif. Tempat penelitian Rawat Inap yang terletak di Klinik HS Kabupaten Bangkalan. Informan ditentukan dengan menggunakan purposive
sampling yaitu perawat, dokter dan petugas, sedangkan penentuan pasien atau
keluarga pasien sebagai informan menggunakan metode Accidental Sampling.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi dan
dokumentasi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa inovasi central monitoring system
cepat dan lengkap (Cemon Celep) telah memenuhi kelengkapan
atribut inovasi yang terdiri dari keunggulan relatif, kompabilitas,
kompleksitas, triabilitas, dan observabilitas. Selain itu, data yang diperoleh
di lapangan menunjukkan bahwa kualitas pelayanan Rawat Inap sudah baik dilihat
dari dimensi kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti nyata, keandalan, daya
tanggap, jaminan dan empati.
Kata kunci: aplikasi
cms, Monitoring, Kesehatan, internet, inovasi, kualitas
Abstract
To
meet the needs, a system is needed that can monitor patient health without
having to go in and out of the patient's room. Central Monitor is needed to
automate inpatient health monitoring easily and in real time. From the test
results, this central/apple-based inpatient health monitoring system can
monitor heart rate, respiration, saturation (oxygen levels in the blood), and
blood pressure. All these parameters are monitored using a central monitoring
application and controlled using a computer. This system is expected to make it
easier for hospital doctors and nurses to monitor inpatients in a more
efficient, fast, complete and modern manner. Public Services, Service Quality,
Health Services and Service Innovation Theory are used to answer research
questions. To determine health service innovation through a central monitoring
system, researchers used five innovation attributes according to Rogers and
five dimensions of service quality according to Zeithaml, Parasuraman and
Berry. The research method used is qualitative. This type of research is
descriptive. The inpatient research site is located at the Bangkalan Regency HS
Clinic. Informants were determined using purposive sampling, namely nurses,
doctors and officers, while determining patients or patient families as
informants used the Accidental Sampling method. Data collection was carried out
through in-depth interviews, observation and documentation. The research
results show that the innovation of the fast and complete central monitoring
system (Cemon Celep) has fulfilled the completeness of the innovation
attributes consisting of relative advantage, compatibility, complexity,
triability and observability. Apart from that, data obtained in the field shows
that the quality of inpatient services is good seen from the dimensions of
service quality which consist of concrete evidence, AC, responsiveness,
assurance and empathy.
Keywords: CMS application, monitoring,
health, internet, innovation, quality
Pendahuluan
Tuntutan masyarakat akan terbentuknya pemerintahan
yang bersih, akuntabel dan transparan, mendorong pemerintah untuk segera
melakukan perubahan terhadap penyusunannya demi mewujudkan tata pemerintahan
yang baik (good governance). Melaui pergeseran paradigma dan praktek
penyelenggaraan Negara dari sentralistik ke arah desentralistik, memberikan
peluang sebesar-besarnya kepada daerah untuk mengatur dan mengurus rumah
tangganya sendiri. Maju mundurnya suatu daerah dalam berbagai hal seperti
pembangunan, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemenuhan layanan
kebutuhan dasar harus menjadi prioritas utama yang dibebankan kepada daerah.
Sejalan dengan pergeseran paradigma tersebut.
Pemerintah pusat telah mengeluarkan berbagai kebijakan yang mendukung terkait
dengan kemajuan pembangunan yang ada di daerah. Lahirnya Undang-undang
pemerintahan daerah, undang undang pelayanan public sebagai contoh produk
politik yang menguatkan posisi daerah sebagai ujung tombak di dalam
pembangunan. Sebagai salah satu bentuk dari desentralisasi tersebut, kemudian
daerah perlu melakukan terobosan dan inovasi di berbagai bidang yang tujuannya
adalah untuk memenuhi kebutuhan dalam layanan baik dalam bentuk barang maupun
jasa.
Inovasi adalah sebuah ide, praktik atau objek yang dianggap
baru oleh individu satu unit adopsi lainnya (Atthahara, 2018). Kemudian menurut
Asian Development Bank inovasi adalah sesuatu yang baru, dapat
diimplementasikan, dan memliki dampak yang menguntungkan. Inovasi bukan sebuah
kejadian ataupun aktivitas; ini adalah konsep, proses, penerapan, dan
kapabilitas yang menentukan kesuksesan organisasi. Inovasi dapat membantu
sektor publik untuk membuat nilaiuntuk masyarakat. Selanjutnya menurut
Damanpour dalam Yogi Suwarno inovasi dapat berupa produk atau jasa yang baru,
teknologi yang baru, teknologi proses produksi yang baru, sistem struktur dan
administrasi baru atau rencana baru bagi anggota organisasi.
Inovasi
pada umumnya sering dilakukan oleh sektor swasta dalam memberikan pelayanan kepada pelanggannya sebagai upaya untuk tetap
eksis dalam persaingan pasar. Oleh karena itu menjadi suatu keharusan bagi
sektor swasta untuk mengembangkan berbagai inovasi. Keberhasilan sektor swasta
dalam berinovasi, mulai dilirik oleh sektor publik untuk dapat menyediakan
pelayanan yang lebih efektif dan efisien. Inovasi dalam sektor publik telah
menjadi wacana penting di berbagai negara, terutama di negara maju karena
dengan adanya inovasi dalam sektor publik dianggap dapat berkontribusi dalam
peningkatan kualitas pelayanan publik dan menjadi solusi dalam pemecahan
masalah publik (Kharisma, 2014). Inovasi dalam sektor publik sangat identik
dan sering dikaitkan dengan perubahan atau reformasi yang dilakukan oleh
pemerintah yang lebih dikenal sebagai konsep new public management (NPM) (Agus, 2019), dan konsep e-government (Abdullah, 2013).
Pentingnya
inovasi dalam sektor publik menjadi kajian menarik di
negara-negara maju, mengingat bahwa persaingan dan perkembangan perubahan
sosial yang semakin kompleks. Dimana persaingan antar lembaga penyedia layanan
semakin meningkat dan berpengaruh satu dengan yang lainnya. Inovasi dalam
sektor publik dilakukan melalui penciptaan ide atau gagasan baru terhadap
pelayanan publik dan melalui proses adopsi terhadap inovasi yang ada (biasanya
inovasi yang dilakukan oleh sektor swasta) (Darmawan et al., 2018). Inovasi dalam sektor publik dilakukan oleh
pemerintah karena adanya proses komunikasi atau penyebaran informasi akan suatu
inovasi (Warman et al., 2022). Proses penyebaran inovasi membutuhkan saluran
komunikasi dan waktu sampai pemerintah memutuskan untuk
melakukan suatu inovasi (Rambocas & Arjoon,
2012). Inovasi dalam sektor publik berkembang menyesuaikan
kebutuhan dan kondisi yang ada, sehingga diperlukan proses tahapan yang panjang
dan diperlukan sikap selektif yang tepat untuk mengadopsi inovasi.
Konsep
inovasi dalam sektor publik mulai dipraktikkan di berbagai negara berkembang
karena adanya perkembangan teknologi canggih yang pesat. Konsep inovasi di
negara berkembang lebih banyak dikaitkan dengan pengadopsian atau penggunaan
teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) ke dalam sistem administrasi publik
oleh pemerintah. Dengan adanya kemajuan teknologi yang dibawa dan dikenalkan
dari negara maju, menyebabkan adanya perubahan yang terlihat dari sistem
pelayanan yang mulai begeser menjadi lebih modern. Proses inovasi dalam sektor
publik di negara berkembang juga melalui penciptaan ide atau gagasan baru,
tetapi lebih banyak melalui proses adopsi inovasi yang sudah ada (Mukhsin, 2020). Di beberapa negara berkembang, inovasi
dianggap sebagai penggunaan teknologi yang canggih ke dalam administrasi publik
yang dikenal sebagai konsep e-government
(Nurhakim, 2014).
Di
Indonesia konsep inovasi dalam sektor publik sudah dilakukan diberbagai sektor,
antara lain sektor pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur, pertanian,
dan lain sebagainya. Inovasi dalam sektor publik di Indosesia telah mengubah
karakteristik organisasi publik yang rigid, kaku, dan cenderung status-quo menjadi sistem yang lebih
luwes dan dinamis (Firdaus et al., 2022). Hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah
dalam berinovasi seperti halnya inovasi yang dilakukan oleh sektor swasta yaitu
penyesuaian dengan budaya organisasi, selain itu juga harus memperhatikan
dinamika yang terjadi pada masyarakat.
Meskipun demikian persoalan penerapan inovasi itu
sendiri tidak semudah seperti yang dibayangkan. Hal ini dikarenakan masih
ditemukannya hambatan dalam inovasi itu sendiri. Mengutip pendapat Mulgan dan Albury (2003) terdapat delapan penghambat dalam tumbuhnya
inovasi : 1. Reluctance to close down failing program or organization
(keengganan untuk menutup program atau organisasi yang gagal) 2. Over- reliance
on high performers as source of innovation (tingginya ketergantungan pada salah
satu pihak sebagai sumber inovasi) 3. Technologies available but constraining
cultural or organizational arrangement (Teknologi tersedia tetapi tidak sesuai dengan budaya
organisasi). 4. No rewards or incentives to innovate or adopt innovations
(Tidak ada imbalan atau insentif untuk berinovasi atau mengadopsi inovasi). 5.
Poor skills in active risk or change management (rendahnya kemampuan) 6.
Short-term budget and planning horizons (perencanaan dan penganggaran jangka
pendek). 7. Delivery pressures and administrative burdens (adanya tekanan
administrasi) 8. Culture of risk aversion (budaya menghidari resiko).
Klinik Heart and Surgery yang terletak di Jl. Sukarno Hatta No.34 Bangkalan adalah klinik swasta yang dimiliki oleh dr. Yusfik Helmi Hidayat, Sp.B yang didirikan pada
tahun 2019. Klinik Heart and
Surgery sering di jadikan sebagai klinik rujukan dikarenakan antusiasme
masyarakat berbagai kalangan terutama masyarakat pedesaan yang merasa nyaman dan tenang untuk melakukan rawat
inap , maka banyak pasien rawat inap yang berada di Klinik Heart and Surgery yang harus dijaga kesehatannya.
Kesehatan
pasien adalah hal yang diutamakan bagi setiap fasilitas Kesehatan, agar pasien terjaga kesehatannya maka harus
termonitoring dengan baik. Pemantauan kesehatan pasien meliputi tiga parameter
yaitu pemantauan suhu tubuh, detak jantung dan respirasi. Ketiga parameter tersebut digunakan sebagai indikasi
perkembangan kesehatan pasien secara signifikan.
Dalam
mengindikasi kesehatan seseorang dapat dilihat dari suhu tubuh, suhu tubuh
normal diperlukan kerena selain bisa menjadi indikator kesehatan seseorang juga
mempunyai kaitan dengan kinerja jantung. Bila suhu tubuh menjauh dari kondisi
suhu tubuh normal hal tersebut mempengaruhi cepat atau lambatnya jantung
memompa darah keseluruh tubuh. Untuk memompa darah ke seluruh tubuh dengan baik
dibutuhkan detak jantung yang normal. Detak jantung normal adalah 60-100 bpm,
bila detak jantung pasien dibawah 60 bpm atau diatas 100 bpm maka detak jantung
tidak normal yang menyebabkan terhambatnya jantung memompa darah keseluruh
tubuh.
Masalah
selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah pemantauan respirasi atau pernafasan
yang termasuk didalamnya pemantauan SPO2 atau kadar oksigen dalam
darah. Pada kenyataannya beberapa tenaga medis terkadang lalai untuk
memonitoring kerena keterbatasan waktu dan tenaga, semua usaha yang dilakukan
tenaga medis (perawat) tanpa dapat dimonitor karena masih dilakukan dengan cara
convensional. padahal hal ini dapat menyebabkan timbulnya berbagai komplikasi
seperti sesak secara tiba – tiba atau masalah dari ketidak puasan pasien karena
merasa diabaikan dan tidak diperhatikan serta ketidaknyamanan pasien untuk
melakukan pengobatan selanjutnya.
Dalam
pemecahan masalah tersebut dibutuhkan suatu konsep yang dapat diimplementasikan
untuk memenuhi kebutuhan pemantauan kesehatan pasien. Konsep tersebut adalah Central Monitoring
Cepat dan Lengkap merupakan
konsep memanfaatkan pemantauan pasien monitor di tiap bed dihubungkan melalui konektivitas internet untuk berbagi data,
pengontrolan jarak jauh benda-benda fisik dan manfaat lainya. Dengan konsep
tersebut maka memungkinkan untuk memanfaatkan aplikasi atau software untuk kebutuhan pemantauan dan jaringan
internet sebagai media pertukaran data untuk melakukan kontrol secara jarak
jauh. Dalam implementasi ini dibutuhkan komputer sebagai pengontrol masing – masing pasien
monitor serta dapat menyimpan serta menganalisis kondisi pasien secara
berkelanjutan.
Berdasarkan
permasalahan yang dihadapi dibutuhkan suatu sistem yang dapat memenuhi
kebutuhan pemantauan suhu tubuh, detak jantung dan respirasi. Dengan konsep Central Monitoring Cepat dan
Lengkap tujuan dari ini tersebut adalah:
1) Untuk mengidentifikasi dan menjelaskan
inovasi pelayanan kesehatan di Klinik Heart and Surgery
2) Kedua adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap inovasi pelayanan kesehatan
3) Memudahkan perawat, dokter dpjp yang bertugas dalam melakukan monitoring atau pemantauan serta pelaporan dari
ruang perawat
dan darimanapun.
4) Meningkatkan efisiensi waktu dan efektifitas pelayanan
secara umum khususnya dalam penanganan pasien.
Metode
Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini
mencakup beberapa tahapan yang terperinci. Tahapan pertama adalah perumusan
masalah, di mana peneliti merumuskan dan membatasi masalah yang akan diteliti
agar penelitian tetap terfokus. Selanjutnya, tahap pengumpulan data dilakukan
dengan membagi menjadi dua metode, yaitu data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh melalui survei langsung kepada stakeholder Klinik Heart and
Surgery Bangkalan, sedangkan data sekunder diperoleh melalui jurnal penelitian,
buku, dan sumber dokumen lainnya. Setelah itu, dilakukan tahapan perancangan
penelitian, yang mencakup pembuatan berbagai diagram seperti Data Flow Diagram
(DFD), Diagram Konteks, Flow Chart, Block Chart, Entity Relationship Diagram (ERD),
dan Kamus Data. Tahap analisis sistem dilakukan untuk memahami sistem yang
sedang berjalan dengan melakukan komunikasi langsung dengan stakeholder
menggunakan metode wawancara dan menganalisis permasalahan serta mengumpulkan
data yang dibutuhkan. Salah satu contoh analisis sistem adalah mekanisme proses
pelaporan kondisi pasien oleh perawat, yang mencakup pengkajian keperawatan,
penyusunan rencana keperawatan, dan pelaksanaan tindakan darurat sesuai dengan
Protap yang berlaku. Sementara mekanisme proses pemantauan kondisi pasien
mencakup kemampuan perawat dan dokter jaga untuk memantau kondisi pasien secara
real-time melalui central monitor.
Populasi dalam penelitian ini adalah stakeholder
Klinik Heart and Surgery Bangkalan, termasuk pemilik, dokter, perawat, petugas,
pasien, serta keluarga pasien yang ada di klinik tersebut. Sampel pengumpulan
data primer adalah seluruh stakeholder yang terlibat dalam operasional klinik.
Sedangkan untuk analisis data, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
dengan menganalisis hasil wawancara dan data yang terkumpul secara mendalam
untuk memahami tantangan dan kebutuhan dalam pengembangan sistem pelaporan dan
pemantauan kondisi pasien di klinik tersebut.
Hasil dan Pembahasan
Hasil
Penelitian
Data Umum
1) Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis
Kelamin Responden
Tabel 1. Distribusi
Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin pada pasien di RANAP Klinik HS
Bangkalan
|
No |
Jenis
Kelamin |
Frekuensi
(f) |
Persentase(%) |
|
1 |
Pria |
32 |
64 |
|
2 |
Wanita |
18 |
36 |
|
Jumlah |
50 |
100 |
|
Pada
tabel 1 menunjukkan bahwa lebih dari setengahnya jenis kelamin responden adalah
pria sebanyak 32 ( 64 % ).
2)
Karakteristik
Responden Berdasarkan Umur Responden
Tabel
2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur pada pasien di RANAP Klinik
HS Bangkalan
|
No |
Umur |
Frekuensi (f) |
Persentase(%) |
|
1 |
20
– 33 |
10 |
20 |
|
2 |
34
– 47 |
33 |
66 |
|
3 |
48
– 60 |
7 |
14 |
|
Jumlah |
50 |
100 |
|
Pada
tabel 2 diatas menunjukkan bahwa lebih dari setengahnya umur responden 34 - 47
tahun sebanyak 33 ( 66 % ).
3)
Karakteristik Responden Berdasarkan
Pendidikan Responden
Tabel
3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan pada pasien di RANAP
Klinik HS Bangkalan
|
No |
Pendidikan |
Frekuensi (f) |
Persentase(%) |
|
1 |
SD |
9 |
18 |
|
2 |
SLTP |
5 |
10 |
|
3 |
SLTA |
26 |
52 |
|
4 |
Perguruan
Tinggi |
10 |
20 |
|
Jumlah |
50 |
100 |
|
Pada
tabel 3 di atas menunjukkan bahwa lebih dari setengahnya pendidikan responden
adalah SLTA sebanyak 26 ( 52 % ).
4)
Karakteristik
Responden Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 4. Distribusi
Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan pada pasien di RANAP Klinik HS
Bangkalan
|
No |
Pekerjaan |
Frekuensi (f) |
Persentase(%) |
|
1 |
Pelajar
/ Mahasiswa |
3 |
6 |
|
2 |
Tidak
Bekerja |
10 |
20 |
|
3 |
Buruh
/ Petani |
8 |
16 |
|
4 |
PNS
/ TNI / Polri |
20 |
40 |
|
5 |
Wiraswasta |
9 |
18 |
|
Jumlah |
50 |
100 |
|
Pada
tabel 4 di atas menunjukkan bahwa hampir setengahnya pekerjaan responden adalah
PNS / TNI / Polri sebanyak 20 ( 40 % ).
5)
Karakteristik
Responden Berdasarkan Status Perkawinan
Tabel
5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Perkawinan pada pasien di RANAP Klinik HS
Bangkalan
|
No |
Status Perkawinan |
Frekuensi (f) |
Persentase(%) |
|
1 |
Belum
Menikah |
7 |
14 |
|
2 |
Menikah |
43 |
86 |
|
Jumlah |
50 |
100 |
|
Pada
tabel 5 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar status perkawinan responden
adalah menikah sebanyak 43 ( 86 % ).
Data Khusus
Pengukuran
mutu pelayanan keperawatan yang diukur adalah 5 aspek dimensi mutu pelayanan
keperawatan yaitu bukti fisik (tangible),
keandalan (reliability), daya tanggap
(responsiveness), jaminan (assurance) dan perhatian (empathy). Secara rinci dijelaskan
sebagai berikut:
Tabel 6. Distribusi responden
tentang aspek – aspek Mutu Pelayanan Keperawatan di RANAP Klinik HS Bangkalan (
n = 50 )
|
Frekuensi Pelayanan Keperawatan |
||||||||||
|
Mutu Pelayanan Keperawatan |
Tangibels |
Reliability |
Responsiveness |
Assurance |
Emphaty |
|||||
|
F |
% |
f |
% |
f |
% |
f |
% |
f |
% |
|
|
Baik |
43 |
86 |
43 |
86 |
49 |
98 |
50 |
100 |
47 |
94 |
|
Sedang |
7 |
14 |
7 |
14 |
1 |
2 |
0 |
0 |
3 |
6 |
|
Kurang |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
Jumlah |
50 |
100 |
50 |
100 |
50 |
100 |
50 |
100 |
50 |
100 |
Berdasarkan
tabel 6 diatas didapatkan kategori untuk masing-masing aspek pada variabel mutu
pelayanan keperawatan dari 50 responden. Untuk aspek tangibels, sebagian besar 43 responden (86%) termasuk kategori
baik, sebagian kecil yaitu 7 responden (14%) termasuk kategori sedang dan tidak
satupun kategori kurang.. Untuk aspek reliability,
sebagian besar responden termasuk kategori baik yaitu 43 responden (86%),
sebagian kecil yaitu 7 responden (14%) termasuk kategori sedang dan tidak
satupun kategori kurang. Untuk aspek responsiveness,
mayoritas 49 responden (98%) termasuk kategori baik, sebagian kecil yaitu 1
responden (2%) termasuk kategori sedang
dan tidak satupun kategori kurang. Untuk aspek assurance, mayoritas 50 responden (100%) termasuk kategori baik,
tidak satupun masuk kategori sedang ataupun kurang. Dan untuk aspek emphaty, mayoritas 47 responden (98%)
termasuk kategori baik, 3 responden (6%) termasuk kategori sedang dan tidak
satupun kategori kurang.
Tabel 7. Tabel ringkasan variabel
Mutu Pelayanan Keperawatan di RANAP Klinik HS Bangkalan (n= 50 )
|
No |
Klasifikasi |
Frekuensi |
Persentase (%) |
|
1 |
Baik |
28 |
56 |
|
2 |
Sedang |
22 |
44 |
|
3 |
Kurang |
0 |
0 |
|
Jumlah |
50 |
100 |
|
Berdasarkan tabel 7 diatas,
didapatkan kategori untuk variabel mutu pelayanan keperawatan dari 50
responden, lebih dari setengahnya
termasuk kategori baik yaitu 28 responden (56%), hampir setengahnya 22
responden (44%) termasuk kategori sedang dan tidak satupun termasuk kategori
kurang.
b. Tingkat kepuasan pasien meliputi Caring, Kolaborasi, Kecepatan, Empati, Courtesy dan Sincerity dapat dijelaskan sebagai berikut :
Tabel
8. Distribusi responden tentang aspek –
aspek tingkat kepuasan pasien di RANAP Klinik HS Bangkalan ( n = 50 )
|
Frekuensi Tingkat Kepuasan Pasien |
||||||||||||
|
Tingkat Kepuasan Pasien |
Caring |
Kolaborasi |
Kecepatan |
Empathy |
Courtesy |
Sincerity |
||||||
|
F |
% |
f |
% |
f |
% |
f |
% |
f |
% |
f |
% |
|
|
Tinggi |
48 |
96 |
47 |
94 |
46 |
92 |
48 |
96 |
46 |
92 |
48 |
96 |
|
Sedang |
2 |
4 |
3 |
6 |
4 |
8 |
2 |
4 |
4 |
8 |
2 |
4 |
|
Kurang |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
Jumlah |
50 |
100 |
50 |
100 |
50 |
100 |
50 |
100 |
50 |
100 |
50 |
100 |
Berdasarkan tabel 8 diatas
didapatkan kategori untuk masing – masing aspek pada variabel kepuasan pasien
dari 50 responden. Untuk aspek caring,
mayoritas 48 responden (96%) termasuk kategori tinggi, sebagian kecil 2
responden (4%) kategori sedang dan tidak
satupun dalam kategori kurang.. Untuk aspek kolaborasi, mayoritas 47 responden
(94%) termasuk kategori tinggi, 3 responden (6%) kategori sedang dan tidak
satupun kategori kurang. Untuk aspek kecepatan, mayoritas 46 responden (92%)
termasuk kategori tinggi dan sebagian kecil yaitu 4 responden (8%) kategori
sedang dan tidak satupun kategori kurang. Untuk aspek emphaty, mayoritas 48 responden (96%) termasuk kategori tinggi,
sebagian kecil yaitu 2 responden (4%) termasuk kategori sedang dan tidak satupun
kategori kurang. Untuk aspek courtesy,
mayoritas 46 responden (92%) termasuk kategori tinggi, sebagian kecil responden
4 (8%) termasuk kategori sedang dan tidak satupun kategori kurang Dan untuk
aspek sincerity, mayoritas 48
responden (96%) termasuk kategori tinggi, 2 responden (4%) sebagian kecil
termasuk kategori sedang dan tidak satupun kategori kurang.
Tabel 9. Tabel RingkasanTingkat Kepuasan Pasien RANAP Klinik HS
Bangkalan( n = 50 )
|
No |
Klasifikasi |
Frekuensi |
Persentase (%) |
|
1 |
Tinggi |
24 |
48 |
|
2 |
Sedang |
26 |
52 |
|
3 |
Rendah |
0 |
0 |
|
Jumlah |
50 |
100 |
|
Berdasarkan tabel 9 diatas,
didapatkan kategori untuk variabel kepuasan pasien dari 50 responden, hampir
setengahnya 24 responden (52%) termasuk
kategori tinggi, lebih dari setengahnya 26 responden (52%) termasuk kategori
sedang dan tidak satupun kategori rendah.
c. Hasil Analisis Uji Korelasi
Spearman
Uji korelasi Spearman digunakan untuk
melihat hubungan antara dua variabel dengan skala data ordinal. Dalam bagian
ini akan dibahas hubungan antara mutu pelayanan keperawatan dengan tingkat
kepuasan pasien. Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
H0 : Tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara variabel;
H1 :
Terdapat hubungan yang signifikan antara variabel.
Kriteria Pengujian :
Jika nilai signifikansi
(p-value) ≤ 0.05, maka H0 ditolak.
Jika nilai signifikansi
(p-value) > 0.05, maka H0 diterima.
Tabel 10.
Distribusi hubungan mutu pelayanan keperawatan dengan tingkat kepuasan pasien
di RANAP Klinik HS Bangkalan ( n = 50 )
|
Kepuasan Pasien Variabel
Rendah Sedang Tinggi Total r
p-value |
|
Kualitas
Pelayanan Keperawatan
Kurang 0 0 0 0 Sedang 0 17 5 22 0,448 0,001 Baik 0 9 19 28 |
|
Jumlah 0 26 24 50 |
Berdasarkan tabel 10 di atas
diketahui bahwa dari 50 responden, lebih dari setengahnya yaitu 26 responden
termasuk dalam kepuasan pasien kategori sedang, dan hampir setengahnya yaitu 24 responden lainnya
termasuk dalam kepuasan pasien kategori tinggi. Dari 26 responden yang termasuk
kepuasan pasien kategori sedang, hampir setengahnya yaitu 17 responden termasuk
mutu pelayanan keperawatan kategori sedang, dan 9 responden sebagian kecil
termasuk mutu pelayanan keperawatan kategori baik. Dan dari 24 responden hampir
setengahnya termasuk kepuasan pasien kategori tinggi, sebagian kecil yaitu 5
responden termasuk mut pelayanan keperawatan kategori sedang, dan 19 responden
hampir setengahnya termasuk mutu pelayanan keperawatan kategori tinggi.
Hubungan antara mutu pelayanan
keperawatan dengan kepuasan pasien dilihat dengan analisis korelasi spearman,
didapatkan nilai p-value sebesar 0.001 yang lebih kecil dari α 5%. Maka dapat disimpulkan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara mutu pelayanan keperawatan dengan
kepuasan pasien. Koefisien korelasi yang diperoleh sebesar 0.448, yang berarti
hubungan antara mutu pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien termasuk
dalam rentang 0.40 – 0.60 yaitu kategori hubungan agak rendah (Arikunto,
2013).
Pembahasan
Pelayanan
Keperawatan
Berdasarkan tabel 7 hasil
penelitian pelayanan keperawatan menunjukkan lebih dari setengah responden
menilai mutu pelayanan keperawatan di Rawat Inap Klinik HS bangkalan dalam kategori baik yaitu sebanyak 28
responden (56%), hampir setengahnya kategori sedang yaitu 22 responden (44%)
dan tidak satupun dalam kategori kurang.
Inti dari konsep kualitas layanan
adalah menunjukkan segala bentuk aktualisasi kegiatan pelayanan yang memuaskan
orang – orang yang menerima pelayanan sesuai daya tanggap (responsiveness), menumbuhkan adanya jaminan (assurance),
menunjukkan bukti fisik (tangible)
yang dapat dilihatnya, menurut empati (emphathy)
dari orang – orang yang memberikan pelayanan sesuai dengan keandalannya (reliability) menjalankan tugas pelayanan
yang diberikan secara konsekuen untuk memuaskan yang menerima pelayanan (Sardi
et al., 2023)
Hasil penelitian ini sejalan dengan
hasil penelitian Aribowo (2018) di Instalasi Rawat Inap Ruang Bangau RSJ. DR.
Radjiman Wedidiningrat Lawang yang mengatakan terdapat hubungan yang bermakna
antara kinerja perawat dengan kepuasan pasien dengan hasil uji korelasi
spearman didapatkan nilai r = 0,528 p = 0,000 (p < 0,05).
Pelayanan keperawatan di RANAP
Klinik HS Bangkalan mayoritas dalam kategori baik karena perawat telah
menjalankan tugasnya sesuai dengan standar prosedur operasional yang ditetapkan,
menerapkan visi misi rumah sakit dalam memberikan pelayanan dan adanya
penghargaan pada perawat mendorong perawat untuk memberikan pelayanan yang
terbaik. .Kualitas atau mutu pelayanan keperawatan yang dimiliki sebuah rumah
sakit mempengaruhi pasien menggunakan jasa pelayanan keperawatan di rumah
sakit.
Bukti fisik (Tangibles
)
Berdasarkan tabel 6 menunjukkan
bahwa pelayanan keperawatan pada bukti fisik di RANAP Klinik HS Bangkalan pada
aspek ini sebagian besar dalam kategori baik 43 responden (86%), sebagian kecil
kategori sedang 7 responden (14%) dan tidak satupun yang memberikan nilai
kurang.
Bukti fisik menggambarkan tampilan
fisik pelayanan keperawatan yang diberikan pihak rumah sakit meliputi
penampilan fisik seperti bangunan fisik, kelengkapan fasilitas, kebersihan
ruangan dan penampilan fisik pegawai rumah sakit yang dapat dilihat dan
dirasakan langsung oleh pasien. Menurut Muhith, Siyoto dan Rahmah (2017) pengertian bukti fisik dalam
kualitas layanan adalah bentuk aktualisasi nyata secara fisik dapat terlihat
atau digunakan oleh pegawai sesuai dengan penggunaan dan pemanfaatannya yang
dapat dirasakan membantu pelayanan yang diterima oleh orang yang menginginkan
pelayanan, sehingga puas atas pelayanan yang dirasakan, yang sekaligus
menunjukan prestasi kerja atas pemberian pelayanan yang diberikan. Kualitas
layanan sangat ditentukan menurut kondisi fisik pelayanan, yang inti pelayananya
yaitu kemampuan menggunakan alat dan perlengkapan kerja yang dapat dilihat
secara fisik, mampu menunjukkan kemampuan secara fisik dalam berbagai
penguasaan tegnologi kerja dan menunjukkan penampuilan yang sesuai dengan
kecakapan, kewibawaan dan dedikasi kerja.
Hasil penelitian ini sama dengan
penelitian yang dilakukan Agustina (2016) di RANAP RSUD DR. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung didapatkan jumlah responden lebih dari setengahnya dari aspek
bukti fisik dengan jumlah responden 249 (54,2%) dan tidak baik hampir
setengahnya sebesar 210 responden (45,8%) dari total 459 responden.
Hasil penelitian di RANAP Klinik HS
Bangkalan menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memberikan penilaian yang
baik atas fasilitas fisik yang diberikan pihak rumah sakit bagi pasien di RANAP
termasuk penampilan dari tenaga medis yang memberikan pelayanan keperawatan. Di
RANAP Klinik HS Bangkalan alat – alat medis lengkap, tersedianya ambulance
emergency dengan fasilitas lengkap didalamnya, kemampuan perawat dalam
mengoperasikan alat-alat seperti syringe pump, infus pump dan alat-alat bantu
nafas serta penggunaan alat pacu jantung. Adanya cleaning service yang menjaga
ruangan tetap bersih, serta perawat di wajibkan melakukan komunikasi efektif
dengan cara perawat wajib memperkenalkan diri pada pasien dan menggunakan
atribut lengkap. Dari hasil penelitian diatas peneliti dapat mengasumsikan
bahwa semakin lengkap fasilitas, kebersihan ruangan dan penampilan perawat yang
rapi maka mutu pelayanan keperawatan yang diberikan akan baik.
Reliability (kehandalan)
Pada tabel 6 digambarkan bahwa pelayanan keperawatan pada kehandalan di
RANAP Klinik HS Bangkalan sebagian besar dalam kategori baik yaitu 43
responden (86% ), sebagian kecil
kategori sedang 7 responden (14%) dan tidak satupun yang memberikan nilai
kurang.
Kehandalan merupakan kemampuan
pihak rumah sakit untuk mewujudkan kemampuan melaksanakan pelayanan keperawatan
dengan terpercaya dan akurat. Menurut Muhith, Siyoto dan Rahmah (2017) setiap pelayanan memerlukan bentuk
pelayanan yang andal, artinya dalam memberikan pelayanan setiap pegawai
diharapkan memiliki kemampuan dalam pengetahuan, keahlian, kemandirian,
penguasaan dan profrsionalisme kerja yang tinggi, sehingga aktivitas kereja
yang dikerjakan mengfhasilkan bentuk pelayanan yang memuaskan, tanpa ada
keluhan dan kesan yang berlebihan atas pelayanan yang diterima oleh masyarakat.
Inti pelayanan keandalan adalah setiap pegawai memiliki kemampuan yang andal,
mengetahui seluk beluk prosedur kerja, mekanisme kerja, memperbaiki kekurangan
atau penyimpangan yang tidak sesuai dengan prosedur kerja dan mampu
menunjukkan, mengarahkan dan memberikan arahan yang benar kepada setiap bentuk
pelayanan yang belum dimengerti oleh masyarakat, sehingga memberikan dampak
positif atas pelayanan tersebut sehingga pegawai memahami, menguasai, andal,
mandiri dan profesiona atas uraian kerja yang ditekuninya.
Hasil penelitian ini sama dengan
penelitian yang dilakukan Agustina (2016) di RANAP RSUD DR. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung didapatkan jumlah responden lebih dari setengahnya memberikan
nilai baik berjumlah 250 responden (54,5%) dari 459 responden.
Hasil penelitian di RANAP Klinik HS
Bangkalan menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memberikan penilaian yang
baik atas kinerja perawat RANAP meliputi proses prosedur, tindakan pemeriksaan
dan perawatan dari perawat. Di RANAP Klinik HS Bangkalan jenjang perawat
dibedakan dalam Perawat Klinik (PK) 1–5 dimana setiap jenjang diatur masa
kerja, ijazah terakhir , pelatihan yang harus dimiliki dan sebagian besar
perawat RANAP adalah perawat PK 2 dengan masa kerja ≥5 th sehingga peneliti
mengasumsikan dalam pemberian pelayanan memiliki kemampuan pengetahuan,
keahlian dan pengalaman kerja akan memberikan kualitas pelayanan yang baik.
Adanya SPO (Standar Prosedur Operasional) setiap tindakan yang menjadi pedoman
kerja perawat dalam melaksanakan tugas keperawatan, sosialisasi setiap
kebijakan dari atasan pada bawahan sehingga mengetahui seluk beluk dalam
penanganan. Selain itu mulai adanya customer service di RANAP yang siap
membantu pasien dalam menjelaskan masalah administratif sehingga pasien tidak
merasa pelayanan berbelit-belit. Pelayanan keperawatan dapat diamati dari
praktik keperawatan yang dilakukan perawat.
Responsiveness (daya tanggap)
Pada tabel 6 menunjukkan hasil
penelitian di RANAP Klinik HS Bangkalan kategori mutu pelayanan pada daya
tanggap mayoritas baik yaitu sebesar 49 responden (98%), sebagian kecil
kategori sedang 1 responden (2%) dan tidak satupun yang memberikan nilai
rendah.
Daya tanggap (responsiveness)
merupakan suatu bentuk pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit yang
meliputi kemampuan perawat menanggapi dan melakukan sesuatu yang diinginkan dan
dibutuhkan oleh pasien. Butar-Butar dan Simamora (2016) berpendapat pada prinsipnya setiap
perawat dalam memberikan bentuk-bentuk pelayanan, mengutamakan aspek pelayanan
sangat mempengaruhi perilaku orang yang mendapatkan pelayanan, sehingga
diperlukan kemampuan daya tanggap dari pegawai untuk melayani pasien sesuai
dengan tingkat penyerapan, pengertian yang sulit untuk diketahuinya. pihak
rumah sakit terutama bagi perawat.
Hasil penelitian Agustina (2016) di RANAP RSUD DR. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung bahwa mutu pelayanan dari segi aspek daya tanggap didapatkan
lebih dari setengahnya kategori mutu pelayanan tinggi dengan 53,4% (245
responden) dari 459 responden. Hal ini didapat karena perawat telah mengikuti Hospital”s Service Excellent.
Hasil
penelitian di RANAP Klinik HS Bangkalan menunjukkan bahwa mayoritas pasien
memberikan penilaian yang baik atas kinerja rumah sakit dalam menangani keluhan
pasien dan menciptakan komunikasi yang tercipta antara pihak rumah sakit
terutama bagi perawat. Di RANAP Klinik HS Bangkalan sebagian besar perawat
telah mendapatkan Pelatihan Komunikasi Efektif yang di adakan secara berkala
oleh rumah sakit dan selanjutnya di sosialisasikan ke semua perawat sehingga
dalam menanggapi keluhan pasien dapat terpenuhi sesuai dengan harapan pasien.
Selain itu kemampuan sebagian besar perawat dalam penguasaan bahasa setempat
yang mayoritas berbahasa madura, sehingga dapat memberikan penjelasan lebih
mendalam dan memahami kebutuhan pasien. Jika mutu pelayanan keperawatan
diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien, semakin tinggi kepuasan pasien
terhadap mutu pelayanan keperawatan.
Assurance (jaminan)
Pada tabel 6 hasil penelitian di
RANAP Klinik HS Bangkalan pada jaminan menunjukkan bahwa pasien merasakan mutu
pelayanan keperawatan pada aspek jaminan mayoritas tinggi sebesar 50 responden (100%) dan tidak
satupun memberikan nilai sedang atau kurang.
Jaminan
merupakan bentuk pelayanan yang diberikan staf rumah sakit yang dapat
menimbulkan kepercayaan dari pasien terhadap rumah sakit. Jaminan (assurance) yaitu pengetahuan, kesopansantunan
dan kemampuan para pegawai rumah sakit menumbuhkan rasa percaya para pasien.
Menurut Butar-Butar dan Simamora (2016) pasien memberikan penilaian sesuai
dengan apa yang diterima oleh pasien dalam hal pengetahuan, kemampuan dan
ketepatan dalam menangani masalah kesehatan mereka dalam menumbuhkan
kepercayaan atas pelayanan keperawatan yang mereka terima.
Hasil penelitian Agustina (2016) di RANAP RSUD DR. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung bahwa mutu pelayanan dari segi aspek jaminan lebih dari
setengahnya menilai baik sebanyak 234 responden (51%) dan hampir setengahnya
menilai tidak baik sebesar 49% (225 responden). Hal ini disebabkan karena
responden yang merasa jaminan perawat RANAP baik ditandai dengan perawat
memberikan informasi tentang segala tindakan dan perawat dapat menciptakan rasa
aman dan nyaman pada pasien. Sedangkan yang tidak baik mengeluhkan kurangnya
informasi tentang segala tindakan yang akan dilaksanakan.
Hasil penelitian di RANAP Klinik HS
Bangkalan dalam aspek ini mayoritas memberikan nilai baik. Artinya bahwa pasien
memberikan penilaian sangat baik atas pengetahuan dan kemampuan rumah sakit
dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada mereka. Di RANAP Klinik HS
Bangkalanterdapat Kelompok Kerja yang berkaitan dengan Hak Pasien dan Keluarga
(HPK) yang bertujuan untuk mengoptimalkan hak pasien dalam pemberian pelayanan
yang berfokus pada pasien dimulai dengan melakukan edukasi pada pasien tentang
hak dan kewajibannya. Pasien diberi
informasi tentang hak dan kewajibannya, para staff kesehatan di didik untuk
mengerti dan menghormati kepercayaan, nilai-nilai pasien dan memberikan
pelayanan dengan penuh perhatian serta hormat guna menjaga martabat dan nilai
diri pasien. Adanya Kelompok Kerja ARK (Akses Ke Rumah Sakit Dan Kontinuitas
Pelayanan) yang memberikan program kerja sejak pasien masuk sampai dengan
pulang yang dapat meningkatkan mutu asuhan pasien dan efisiensi penggunaan
sumber daya yang tersedia di rumah sakit. Tim Kelompok Kerja HPK dan ARK di
RANAP Klinik HS Bangkalanselalu mensosialisasikan program kerja ke tiap bagian
dan memantau pelaksanaannya. Selain itu dalam pelayanan di RANAP ada standar
waktu mulai dari pasien datang sampai dengan tindakan selanjutnya dan semua
terdokumentasi dengan jelas. Pelayanan keperawatan apabila diberikan secara
cepat, tepat, mudah dan lancar dapat dipercaya berkualitas maka penerima jasa
akan mengingat pelayanan yang didapat dan kembali lagi saat mereka membutuhkan
dan begitu juga sebaliknya.
Emphaty (perhatian)
Tabel 6 menunjukkan bahwa pasien di
RANAP Klinik HS Bangkalan merasakan mutu pelayanan keperawatan emphaty mayoritas kategori baik 47
responden (94%), sebagian kecil kategori sedang yaitu 3 responden (6%) dan
tidak satupun yang memberikan penilaian kurang.
Emphaty merupakan ketersediaan rumah sakit
untuk peduli, memberikan perhatian pribadi dan kenyamanan kepada pasien sehingga
pasien merasakan kenyamanan selama menerima perawatan di rumah sakit. Menurut
Muhith, Siyoto dan Rahmah (2017) empati mempunyai inti yaitu memahami orang
yang dilayani dengan penuh perhatian, keseriusan, simpatik, pengertian dan
adanya keterlibatan dalam berbagai permasalahan yang dihadapi orang yang
dilayani.
Hasil penelitian Agustina (2016) di RANAP RSUD DR. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung kategori tinggi lebih dari setengahnya yaitu sebesar 250
responden (54,5%) dari 459 responden. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai
karakteristik responden yang diteliti sehingga memiliki persepsi yang
berbeda-beda.
Hasil penelitian di RANAP Klinik HS
Bangkalan menunjukkan mayoritas pasien memberikan nilai yang baik atas
kepedulian dan perhatian yang diberikan pihak rumah sakit kepada mereka. Hal
ini dikarenakan pelayanan yang diberikan berdasarkan standar operasional
prosedur yang sudah di tetapkan, perawat memberikan perhatian terhadap keadaan
pasien, perawat memberikan senyum dan salam ketika bertemu, perawat menggunakan
bahasa yang mudah dimengerti dalam memberikan penjelasan kepada pasien tentang
kondisi pasien, perawat menerima keluhan pasien dengan baik maka akan
mempengaruhi pasien puas terhadap pelayanan yang diberikan. Selain itu adanya
penghargaan berupa “smile award” yang diberikan oleh rumah sakit kepada perawat
yang ramah, penggunaan pin untuk perawat yang bertuliskan “ tegurlah saya jika
saya tidak senyum” akan memacu perawat untuk memberikan pelayanan yang baik
bagi pasien. Semakin tinggi mutu pelayanan keperawatan yang diberikan rumah
sakit maka semakin tinggi pula tingkat kepuasan pasien yang dirasakan begitu
pula sebaliknya semakin rendah mutu pelayanan keperawatan maka semakin kecil
kepuasan pasien yang dirasakan.
Tingkat
Kepuasan Pasien
Berdasarkan tabel 9 menunjukkan
lebih dari setengah responden memiliki kepuasan dalam kategori yang sedang
yaitu 26 responden (52%), hampir
setengahnya yaitu 24 responden (48%) termasuk dalam kategori tinggi dan tidak
satupun dalam kategori kurang.
Kepuasan pasien adalah persepsi
terhadap produk atau jasa yang telah memenuhi harapannya. Jadi kepuasan pasien
adalah hasil dari akumulasi konsumen atau pelanggan dalam menggunakan produk
atau jasa (Muhith et al., 2017). Kepuasan pasien adalah model kesenjanagan
antara harapan (standar kinerja yang seharusnya) dengan kinerja aktual yang
diterima pelanggan. Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator kualitas
pelayanan yang kita berikan dan suatu modal untuk mendapatkan pasien lebih
banyak dan yang loyal (setia). Pasien yang loyal akan menggunakan kembali
pelayanan kesehatan yang sama bila mereka membutuhkan lagi. Bahkan telah
diketahui bahwa pasien loyal akan mengajak orang lain untuk menggunakan fasilitas
pelayanan kesehatan yang sama (Muhith et a., 2017).
Berdasarkan hasil penelitian
diketahui bahwa pelayanan yang diberikan oleh perawat kepada pasien di RANAP
Klinik HS Bangkalan lebih dari setengahnya menilai dalam kategori sedang,
artinya bahwa perasaan yang diperoleh pasien setelah membandingkan antara
keinginan dan harapannya ternyata cukup mendekati sehingga menimbulkan perasaan
cukup puas atau dengan kata lain bahwa apa yang diharapkan oleh pasien terhadap
pelayanan kesehatan selama di RANAP Klinik HS Bangkalan sudah cukup terpenuhi.
Hubungan
Mutu Pelayanan Keperawatan dengan Tingkat Kepuasan Pasien di RANAP Klinik HS
Bangkalan
Berdasarkan tabel 10 menunjukkan
bahwa dari 50 responden, lebih dari setengahnya yaitu 26 responden termasuk
dalam kepuasan pasien kategori sedang, dan hampir setengahnya yaitu 24
responden lainnya termasuk dalam kepuasan pasien kategori tinggi. Lebih dari
setengahnya total responden yaitu 26 responden yang termasuk kepuasan pasien
kategori sedang, hampir setengahnya yaitu 17 responden termasuk mutu pelayanan
keperawatan kategori sedang, dan sebagian kecil yaitu 9 responden termasuk mutu
pelayanan keperawatan kategori baik. Dan hampir setengahnya dari total
rsponden, 24 responden termasuk kepuasan pasien kategori tinggi, 5 responden
sebagian kecil termasuk mutu pelayanan keperawatan kategori sedang, dan
sebagian kecil yaitu 19 responden termasuk mutu pelayanan keperawatan kategori
tinggi. Berdasarkan dari hasil uji korelasi Spearman didapatkan nilai r=0,448 p=0,001 (p=<0,05), maka dapat disimpulkan
bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara Pelayanan Keperawatan dengan
Tingkat Kepuasan Pasien di RANAP Klinik HS Bangkalan. Jadi hipotesis yang
diajukan diterima.
Menurut Muhith,
Siyoto dan Rahmah (2017) tingkat kepuasan pasien adalah
sangat tergantung pada kinerja penyaji jasa. Kepuasan pasien pelanggan
merupakan respon pelanggan terhadap evaluasi yang ia rasakan antara harapan
sebelumnya dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah pemakaiannya. Jadi
tingkat kepuasan pasien merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang
dirasakan dengan harapan. Apabila kinerja dibawah harapan, maka pelanggan akan
kecewa. Bila kinerja melebihi harapan, pelanggan akan sangat puas.
Hasil penelitian ini sama dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Devi et al. (2016) di Instalasi Rawat Inap Ruang
Bangau RSJ. DR. Radjiman Wedidiningrat Lawang bahwa dari analisis statiska
diperoleh nilai signifikan (p value) sebesar 0,000 sehingga lebih kecil dari nilai (α) = 0,05. Hal ini menunjukan Ho ditolak
sehingga disimpulkan ada hubungan antara Pelayanan Keperawatan dengan Tingkat
Kepuasan Pasien.
Berdasarkan dari hasil analisa tersebut dapat diketahui
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Pelayanan Keperawatan Dengan
Tingkat Kepuasan Pasien Di RANAP Klinik HS Bangkalan. Hal tersebut menunjukkan
bahwa jika mutu pelayanan keperawatan baik maka kepuasan pasien tinggi,
sedangkan jika mutu pelayanan keperawatan tidak baik, maka kepuasan pasien juga
akan rendah.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut; (1) pelayanan
keperawatan di RANAP Klinik HS Bangkalan tahun 2023 di tinjau dari 5 dimensi
mutu pelayanan keperawatan yaitu bukti fisik, kehandalan, daya tanggap, jaminan
dan perhatian memiliki kategori baik sebesar 56% (28 responden) dan kategori
sedang 44% (22 responden), (2) tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan
keperawatan di RANAP Klinik HS Bangkalan tahun 2023 memiliki kategori tinggi sebesar
48% (24 responden) dan kategori sedang 52% (26 responden), dan (3) ada hubungan
mutu pelayanan keperawatan dengan tingkat kepuasan pasien di RANAP Klinik HS Bangkalan tahun 2023 dengan nilai p-value sebesar
0,001.
BIBLIOGRAFI
Abdullah, R. S. (2013). Conceptualization of Electronic
Government Adoption. International Journal of Managing Information
Technology (IJMIT) Vol, 5.
Agus, A. (2019). Patologi Birokrasi dan Agenda Strategi: Kolaborasi
Pendekatan New Public Management dan New Public Service Melalui Model Citizens
Charter. Politea: Jurnal Politik Islam, 2(1), 77–90.
Agustina, R., Hasbie, N. F., & Kurniawan, M. R. (2016).
Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita Di RSUD Dr
H Abdu L Moloek Tahun 2015. Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, 3(4).
Arikunto, S. (2013). Prosedur penelitian suatu pendekatan
praktik.
Atthahara, H. (2018). Inovasi pelayanan publik berbasis
e-government: studi kasus aplikasi Ogan Lopian Dinas Komunikasi dan Informatika
di Kabupaten Purwakarta. Jurnal Politikom Indonesiana, 3(1), 66.
Butar-Butar, J., & Simamora, R. H. (2016). Hubungan mutu
pelayanan keperawatan dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap di RSUD Pandan
Kabupaten Tapanuli Tengah. Jurnal Ners Indonesia, 6(1), 50–63.
Darmawan, D., Sakawati, H., & Ismail, I. (2018). Inovasi
Sektor Publik Dalam Pelayanan Pembayaran Pajak Kendaraaan Bermotor Kota
Makassar. Universitas Negeri Makassar.
Devi, S. S., Rini, N. S. H., & Hakim, L. (2016). Pengaruh
Implementasi Standar Prosedur Operasional Pengembalian Rekam Medis di RSJ Dr.
Radjiman Wediodiningrat Lawang. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 29(3),
265–268.
Firdaus, I. A., Purnamasari, R., Fadhillah, M. R., &
Haskara, M. R. P. (2022). Inovasi pelayanan publik dalam rangka pengembangan
ekonomi inklusif di Kota Bekasi. Jurnal Kebijakan Dan Inovasi Daerah, 1(1),
21–25.
Kharisma, B. (2014). Good Governance Sebagai Suatu Konsep Dan
Mengapa Penting Dalam Sektor Publik Dan Swasta (Suatu Pendekatan Ekonomi
Kelembagaan). Jurnal Buletin Studi Ekonomi, 19(1), 1–34.
Muhith, A., Siyoto, S., & Rahmah, R. E. (2017). Hubungan
Karakteristik Pasien Pengguna Kartu BPJS Dengan Persepsi Tentang Kualitas
Pelayanan Kesehatan Di Puskesmas Deket Kabupaten Lamongan. Medica Majapahit,
9(1), 72–83.
Mukhsin, M. (2020). Peranan teknologi informasi dan
komunikasi menerapkan sistem informasi desa dalam publikasi informasi desa di
era globalisasi. Teknokom, 3(1), 7–15.
Mulgan, G., & Albury, D. (2003). Innovation in the public
sector. Strategy Unit, Cabinet Office, 1(1), 40.
Nurhakim, M. R. S. (2014). Implementasi E-Government Dalam
Mewujudkan Transparansi Dan Akuntabilitas Sistem Pemerintahan Modern. Jurnal
Ilmu Administrasi, 11(3), 403–422.
Rambocas, M., & Arjoon, S. (2012). Using diffusion of
innovation theory to model customer loyalty for Internet banking: A TT
millennial perspective. International Journal of Business and Commerce, 1(8),
1–14.
Sardi, S., Badaruddin, B., & Fitriany, F. (2023).
Pengaruh Kualitas Pelayanan Publik Terhadap Kepuasan Penumpang Pada Pelabuhan
Nusantara Parepare. Jurnal Magister Manajemen Nobel Indonesia, 4(2),
310–324.
Warman, N. S., Syamsir, S., Maldini, M., Nurhasanah, O.,
Oktariandani, N. R., & Syafikruzi, I. H. (2022). Implementasi Inovasi
Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE)
di Kota Pekanbaru. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, Bahasa, Sastra,
Seni, Dan Budaya, 1(2), 132–148.
|
Copyright
holder: Prima Nugroho, M. Hasinuddin (2024) |
|
First publication right: Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia |
|
This article is licensed under: |