http://dx.doi.org/10.36418/syntax-literate.v5i12.1842 1636
Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia pISSN: 2541-0849
e-ISSN: 2548-1398
Vol. 5, No. 12, Desember 2020
TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KANKER SERVIKS DENGAN
PEMERIKSAAN IVA TEST PADA WANITA USIA SUBUR (WUS)
Lina Siti Nuryawati
Sekolah Tinggi Kesehatan Yayasan Pendidikan Imam Bonjol (STIKes YPIB)
Majalengka Jawa Barat, Indonesia
Abstract
This study aims to find out the relationship of knowledge level about cervical cancer
with IVA Test examination in Women of Childbearing Age (WUS) at uptd
Puskesmas Waringin Majalengka Regency in 2020. This type of research is
quantitative research with cross sectional design approach. The sample in this study
was 90 WUS with case comparison: control (1:1) so that it consists of 45 cases: 45
controls conducted in March-June 2020. Data collection using documentation from
the register form. Univariate analysis uses frequency distribution and bivariate
analysis using chi square and odd ratio (OR) tests. The results showed that the
proportion of knowledgeable WUS was more or less found in WUS who did not
conduct IVA test examination (24.4%) IVA test (6.7%). There is a relationship of
knowledge level about cervical cancer with IVA Test examination in WUS in UPTD
Puskesmas Waringin Majalengka Regency Year 2020 (cient = 0.020) and
knowledgeable WUS less likely 3.29 greater not to check IVA test than wus who are
knowledgeable. Health officers provide counseling about IVA test on WUS with
language that is easy to understand and understand by WUS, make and distribute
brochures about IVA test to WUS who come to UPTD Puskesmas Waringin.
Keywords: knowledge; cervical cancer; iva test; women of childbearing age
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang
kanker serviks dengan pemeriksaan IVA Test pada Wanita Usia Subur (WUS) di
UPTD Puskesmas Waringin Kabupaten Majalengka Tahun 2020. Jenis penelitian ini
merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan desain cross sectional. Sampel
dalam penelitian ini sebanyak 90 WUS dengan perbandingan kasus : kontrol (1 : 1)
sehingga terdiri dari 45 kasus : 45 kontrol Dilakukan pada Bulan Maret-Juni 2020.
Pengumpulan datanya menggunakan dokumentasi dari form register. Analisis
univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariatnya menggunakan
uji chi square dan odd ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi
WUS yang berpengetahuan kurang lebih besar terdapat pada WUS yang tidak
melakukan pemeriksaan IVA test (24,4%) dibanding yang melakukan pemeriksaan
IVA test (6,7%). Terdapat hubungan tingkat pengetahuan tentang kanker serviks
dengan pemeriksaan IVA Test pada WUS di UPTD Puskesmas Waringin Kabupaten
Majalengka Tahun 2020 ( = 0,020) dan WUS yang berpengetahuan kurang
berpeluang 3,29 lebih besar tidak memeriksakan IVA test dibanding WUS yang
Lina Siti Nuryawati
1637 Syntax Literate, Vol. 5, No. 12, Desember 2020
berpengetahuan baik. Petugas kesehatan memberikan penyuluhan tentang IVA test
pada WUS dengan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti oleh WUS,
membuat dan membagikan brosur tentang IVA test kepada WUS yang datang ke
UPTD Puskesmas Waringin.
Kata kunci: pengetahuan; kanker serviks; IVA test; wanita usia subur
Pendahuluan
Kesehatan reproduksi menurut World Health Organization (WHO) adalah
kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau
kecatatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan system reproduksi, fungsi serta
prosesnya. Salah satu masalah kesehatan reproduksi yang menjadi perhatian dunia
khususnya kaum wanita adalah kanker serviks. Hal ini karena kanker serviks merupakan
penyebab utama kedua kematian terkait kanker pada wanita di seluruh dunia
(Kementerian Kesehatan RI, 2019). Laporan WHO pada tahun 2018, di perkirakan
529.828 wanita di diagnosis menderita kanker serviks dan 275.128 meninggal tiap
tahun. Beban yang lebih besar infeksi kanker serviks berada di negara berkembang dan
menyumbang sekitar 83% dari semua kasus baru (Wulandari, Bahar, & Ismail, 2017).
Faktanya, di dunia setiap 2 menit seorang wanita meninggal karena kanker serviks, di
Asia-Pasifik setiap 4 menit seorang wanita meninggal karena kanker serviks, dan di
Indonesia setiap 1 jam seorang wanita meninggal karena kanker serviks (Samadi, 2017).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, penderita kanker serviks di
Indonesia diperkirakan mencapai 90-100 diantara 100.000 penduduk pertahun dan masih
menduduki tingkat pertama dalam urutan keganasan pada wanita. Sekitar 70% kejadian
kanker serviks disebabkan oleh Virus Papiloma Manusia (HPV) tipe 16 dan 18. Di
Indonesia, kanker serviks merupakan kasus terbanyak dan hampir 70% ditemukan dalam
kondisi stadium lanjut. Oleh karena itu, tidak mengejutkan jika jumlah kasus baru
kanker serviks mencapai 40-45 jiwa/hari dan jumlah kematian yang disebabkan kanker
serviks mencapai 20-25 jiwa/hari (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Jumlah penderita
kanker serviks di Provinsi Jawa Barat dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang
fluktuatif. Pada tahun 2018 tercatat 1.011 kasus dan tahun sebelumnya yaitu tahun 2017
sebanyak 1.141 kasus. Hal ini menunjukkan kenaikan sebesar 11,3% (Majalengka,
2019). Sedangkan kejadian kanker serviks di Kabupaten Majalengka pada tahun 2018
sebanyak 11 kasus, yaitu 7 kasus dilaporkan RSUD Majalengka dan 4 kasus dilaporkan
RSUD Cideres (Majalengka, 2019).
Kanker serviks sangat berbahaya karena dapat berdampak pada kematian sehingga
perlu mendapatkan perhatian yang serius. Penyebab kanker serviks adalah infeksi yang
disebabkan oleh Virus Papiloma Manusia, meskipun tidak semua wanita yang terinfeksi
akan menderita kanker serviks (Kusmiran, 2011). Kejadian kanker serviks dipengaruhi
oleh berbagai faktor, antara lain faktor sosio demografi yang meliputi usia, status sosial
ekonomi, dan faktor aktivitas seksual yang meliputi usia pertama kali melakukan
hubungan seksual, pasangan seksual yang berganti-ganti, pasangan seksual yang tidak
disirkumsisi, paritas, kurang menjaga kebersihan genital, merokok, riwayat penyakit
Tingkat Pengetahuan tentang Kanker Serviks dengan Pemeriksaan Iva Test pada Wanita
Usia Subur (WUS)
Syntax Literate, Vol. 5, No. 12, Desember 2020 1638
kelamin, riwayat keluarga penderita kanker serviks, trauma kronis pada serviks,
penggunaan pembalut dan pantyliner, serta penggunaan kontrasepsi oral (Kementerian
Kesehatan RI, 2018).
Salah satu upaya pencegahan kanker serviks pada Wanita Usis Subur (WUS) yaitu
dengan pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) Test. Kesadaran WUS dalam
melakukan pemeriksaan IVA Test saat masih rendah sehingga berisiko meningkatkan
kasus kanker serviks (Delia, 2010). IVA test merupakan salah satu cara melakukan tes
kanker serviks yang mempunyai kelebihan yaitu memiliki sensitivitas hingga 96%,
kelebihan lainnya teknik yang sederhana dan kemampuan memberikan hasil yang segera
kepada WUS yang melakukan pemeriksaan IVA test. Selain itu juga bisa dilakukan oleh
hampir semua tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan terstandar
(Andrijono, 2017). Pemeriksaan IVA Test yang dilakukan oleh WUS merupakan sebuah
jenis perilaku sehat. Menurut Green yang dikutip oleh (Notoatmodjo, 2012b),
menjelaskan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor predisposisi
(predisposing), faktor pemungkin (enabling), dan faktor penguat (reinforcing). Termasuk
faktor predisposisi (predisposing), yaitu faktor yang mempermudah dan mendasari untuk
terjadinya perilaku tertentu seperti pengetahuan, sikap, pendidikan, pendapatan nilai dan
kepercayaan. Termasuk faktor pemungkin (enabling), yaitu faktor yang memungkinkan
untuk terjadinya perilaku tertentu tersebut seperti sarana dan prasarana kesehatan, dan
yang termasuk faktor penguat (reinforcing), yaitu faktor yang memperkuat atau kadang-
kadang justru dapat memperlunak untuk terjadinya perilaku tersebut seperti, informasi,
peran petugas kesehatan, dan dukungan keluarga.
Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan perilaku
dalam pemeriksaan IVA, di mana semakin baik pengetahuan ibu maka semakin baik
juga kesadaran ibu untuk melakukan pemeriksaan IVA sebagai salah satu bentuk deteksi
dini kanker serviks (Notoatmodjo, 2012b). Jadi bila perilaku seseorang terhadap suatu
hal buruk, maka dapat dipastikan bahwa pengetahuan orang terhadap hal tersebut
rendah. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran WUS diperkirakan karena kurangnya
informasi mengenai kanker serviks sehingga tidak banyak wanita yang melakukan
pemeriksaan dini munculnya kanker sehingga apabila muncul sel-sel abnormal di area
serviks tidak diketahui dan tidak dilakukan pengobatan. Hal tersebut menyebabkan
semakin tingginya angka kematian wanita yang disebabkan oleh kanker serviks
(Prawirohardjo, Wiknjosastro, & Sumapraja, 2011). Berdasarkan Dinas Kesehatan
Kabupaten Majalengka, diketahui bahwa Wanita Usis Subur (WUS) sebanyak 183.400
orang dan yang melakukan pemeriksaan IVA Test (Inspeksi Visual Asam Asetat) hanya
270 orang (0,15%). Pada tahun 2019, jumlah WUS yang paling banyak melakukan
pemeriksaan IVA Test terdapat di UPTD Puskesmas Waringin yaitu sebanyak 675
(9,3%) orang dari jumlah WUS sebanyak 7183 orang (Majalengka, 2018).
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan terhadap 10 orang WUS di UPTD
Puskesmas Waringin pada tanggal 21-22 Januari 2020, menunjukkan bahwa 10 orang
WUS terdapat 6 orang belum memahami tentang kanker serviks dengan tepat dan
sisanya dapat memberikan jawaban dengan benar. Dari 10 orang tersebut juga diperoleh
Lina Siti Nuryawati
1639 Syntax Literate, Vol. 5, No. 12, Desember 2020
informasi bahwa hanya 2 orang yang sudah melakukan IVA Test. Hasil penelitian yang
dilakukan oleh (Retnaningtyas, 2017) di Kecamatan Cidadap Kabupaten Sukabumi
menunjukkan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat
pengetahuan tentang kanker serviks dan keikutsertaan dalam melakukan pemeriksaan
inspeksi visual asetat. Juga hasil penelitian (Suratin & Susanti, 2019) di Kecamatan
Sukamulya Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan bahwa ada hubungan Pengetahuan
terhadap deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan IVA. Berdasarkan uraian
diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Tingkat
Pengetahuan tentang Kanker Serviks dengan Pemeriksaan IVA Test pada Wanita Usia
Subur (WUS) di UPTD Puskesmas Waringin Kabupaten Majalengka Tahun 2020.”
Menurut penelitian terdahulu dikutip dari (Globocan pada tahun 2012 dalam
(Rahmadhan, Ade, & Suyanto, 2016), jumlah angka kasus kanker serviks sebanyak
527.600 orang dan jumlah angka kematian sebanyak 265.700 orang di dunia. Di negara
berkembang, jumlah angka kasus kanker serviks sebanyak 444.500 orang dan jumlah
angka kematian sebanyak 230.200 orang. Di Asia Tenggara, jumlah angka kasus kanker
serviks sebanyak 175.000 orang dan jumlah angka kematian kanker serviks sebesar
94.000 orang. Akhirnya penulis terdorong untuk mengkaji Tingkat Pengetahuan Tentang
Kanker Serviks dengan Pemeriksaan Iva Test. Sehingga diharapkan penelitian ini dapat
menambah pengetahuan bagi wanita tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan har
tersebut.
Metode Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan desain
cross sectional. Penelitian initelah dilakukan di UPTD Puskesmas Waringin Kabupaten
Majalengka pada bulan Maret-Juni tahun 2020. Populasi dari penelitian ini adalah
seluruh WUSdi UPTD Puskesmas Waringin Kabupaten. Peneliti mengambil Sampel
dalam penelitian ini sebanyak 90 WUS dengan perbandingan kasus : kontrol (1 : 1)
sehingga terdiri dari 45 kasus: 45 kontrol Pengumpulan datanya menggunakan
dokumentasi dari form register. Analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan
analisis bivariatnya menggunakan uji chi square dan odd ratio (OR).
Tingkat Pengetahuan tentang Kanker Serviks dengan Pemeriksaan Iva Test pada Wanita
Usia Subur (WUS)
Syntax Literate, Vol. 5, No. 12, Desember 2020 1640
Hasil dan Pembahasan
A. Analisis Univariat
1. Gambaran Kasus dan Kontrol Berdasarkan Tingkat Pengetahuan pada
Wanita Usia Subur (WUS) di UPTD Puskesmas Waringin Kabupaten
Majalengka Tahun 2020
Tabel 1
Distribusi Frekuensi pada Kelompok Kasus dan Kontrol Berdasarkan
Tingkat Pengetahuan pada Wanita Usia Subur (WUS)
Tingkat Pengetahuan
pada Wanita Usia
Subur (WUS)
Kasus
(Tidak melaksanakan
IVA test)
Kontrol
(Melaksanakan
IVA test)
n
%
n
Kurang
28
62,2
15
Baik
17
37,8
30
Total
45
100
45
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa terdapat lebih dari setengah
responden yang berpengetahuan kurang sebanyak 28 orang (62,2%) dan kurang
dari setengah yang berpengetahuan baik sebanyak 17 orang (37,8%). Sedangkan
dari jumlah kasus 45 responden yang melaksanakan IVA test terdapat kurang
dari setengah responden yang berpengetahuan kurang sebanyak 15 orang
(33,3%) dan lebih dari setengah yang berpengetahuan baik sebanyak 30 orang
(66,7%). Perbedaan ini dimungkinkan pemeriksaan IVA test dipengaruhi oleh
faktor pengetahuan.
B. Analisis Bivariat
1. Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Kanker Serviks dengan
Pemeriksaan IVA Test pada Wanita Usia Subur (WUS)
Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang kanker serviks
dengan pemeriksaan IVA Test pada Wanita Usia Subur (WUS) dilakukan uji
chi square dan odd ratio, namun untuk odd ratio harus menggunakan tabel 2 x 2,
sehingga kategori pengetahuan dibagi menjadi dua kategori yaitu kurang dan
baik. Untuk pembagian kategori (cut of point) ini berdasarkan hasil uji
normalitas. Jika data normal maka cut of point berdasarkan nilai rata-rata jika
tidak normal berdasarkan nilai median. Hasil uji normalitas menunjukkan
bahwa nilai p = 0,015 yang artinya nilai p < 0,05 sehingga data tidak normal
sehingga cut of point berdasarkan nilai median yaitu 73,3.
Tabel 2
Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Kanker Serviks dengan
Pemeriksaan IVA Test pada Wanita Usia Subur (WUS)
Tingkat Pengetahuan
pada Wanita Usia
Subur (WUS)
Kasus
(IVA test)
Kontrol (Tidak
IVA test)
Total
P value
dan OR
n
%
n
%
N
%
Kurang
15
33,3
28
62,2
43
47,8
0,020
OR = 3,29
(1,38-7,81)
Baik
30
66,7
17
37,8
47
52,2
Total
45
100
45
100
90
100
Lina Siti Nuryawati
1641 Syntax Literate, Vol. 5, No. 12, Desember 2020
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa proporsi responden yang
berpengetahuan kurang lebih besar terdapat pada responden yang tidak
memeriksakan IVA test (62,2%) dibanding yang memeriksakan IVA test
(33,3%). Perbedaan ini terbukti ada hubungan yang bermakna terlihat dari hasil
uji chi squre pada α = 0,05 diperoleh p value = 0,020 dan OR = 3,29 (1,38-7,81),
yang berarti p value < 0,05 dengan demikian maka terdapat hubungan tingkat
pengetahuan tentang kanker serviks dengan pemeriksaan IVA Test pada Wanita
Usia Subur (WUS) di UPTD Puskesmas Waringin Kabupaten Majalengka
Tahun 2020. Berdasarkan nilai OR = 3,29 artinya bahwa responden yang
berpengetahuan kurang berpeluang 3,29 lebih besar tidak akan memeriksakan
IVA test dibanding responden yang berpengetahuan baik.
a. Gambaran Kasus dan Kontrol Berdasarkan Tingkat Pengetahuan pada Wanita
Usia Subur (WUS) di UPTD Puskesmas Waringin Kabupaten Majalengka
Tahun 2020
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi WUS yang
berpengetahuan kurang lebih besar terdapat pada WUS yang tidak melakukan
pemeriksaan IVA test (24,4%) dibanding WUS yang melakukan pemeriksaan
IVA test (6,7%). Pengetahuan yang kurang dapat dikarenakan ibu kurang aktif
mencari informasi sehingga ibu tidak mendapatkan pengetahuan tentang IVA
test akibatnya ibu tidak memahami dengan baik tentang IVA test dan akhirnya
tidak melakukan pemeriksaan IVA test.
Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
tindakan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui indra
manusia yaitu indra penglihatan, pendengaran, rasa dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengukuran
pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan
tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden
(Notoatmodjo, 2012). Pengetahuan tentang kesehatan secara umum dapat
diartikan sebagai alat untuk memperbaiki diri dalam hal kesehatan. Pengetahuan
menyangkut unsur konservatif dan progresif (perubahan). Unsur konservatif dari
pengetahuan memberikan akibat atau sebagai akibat dari generasi sebelumnya
ke generasi sesudahnya. Sedangkan dari unsur progresif akan memberikan
dampak positif dari perubahan sebagai akibat adanya pengetahuan. Pengetahuan
tentang kesehatan yang dimiliki seseorang diharapkan akan membawa
perubahan perilaku yang lebih baik (Ali & Asrori, 2015).
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian (Mirayashi, 2014) di
Puskesmas Cibogo Subang menunjukkan bahwa proporsi ibu yang
berpengetahuan kurang lebih besar terdapat pada ibu yang tidak melakukan
pemeriksaan Inspeksi Visual Asetat (60,5%) dibanding ibu yang melakukan
pemeriksaan Inspeksi Visual Asetat (34,0%). Juga sejalan dengan hasil
penelitian Retnaningtyas (2017) di Kecamatan Cidadap Kabupaten Sukabumi
menunjukkan bahwa proporsi ibu yang berpengetahuan kurang lebih besar
Tingkat Pengetahuan tentang Kanker Serviks dengan Pemeriksaan Iva Test pada Wanita
Usia Subur (WUS)
Syntax Literate, Vol. 5, No. 12, Desember 2020 1642
terdapat pada ibu yang tidak melakukan pemeriksaan IVA Test (55,0%)
dibanding ibu yang melakukan pemeriksaan IVA Test (28,5%).
Maka dari itu, untuk meningkatkan pengetahuan WUS, maka petugas
kesehatan perlu melakukan penyuluhan tentang IVA test pada WUS secara
berkesinambungan agar semua WUS mendapatkan informasi, membuat dan
membagian brosur tentang IVA test kepada WUS yang datang ke UPTD
Puskesmas Waringin. Bagi WUS, agar aktif mencari informasi baik dari petugas
kesehatan maupun dari media.
b. Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Kanker Serviks dengan Pemeriksaan
IVA Test pada Wanita Usia Subur (WUS) di UPTD Puskesmas Waringin
Kabupaten Majalengka Tahun 2020
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan tingkat
pengetahuan tentang kanker serviks dengan pemeriksaan IVA Test pada Wanita
Usia Subur (WUS) di UPTD Puskesmas Waringin Kabupaten Majalengka
Tahun 2020 dan WUS yang berpengetahuan kurang berpeluang 3,29 lebih besar
tidak memeriksakan IVA test dibanding WUS yang berpengetahuan baik.
Adanya hubungan hal ini karena pemeriksaan IVA test merupakan sebuah
perilaku yang didasari oleh adanya pengetahuan terlebih dahulu, sehingga WUS
yang tidak melakukan pemeriksaan IVA test dimungkinkan karena
pengetahuannya kurang.
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori bahwa pemeriksaan IVA Test
yang dilakukan oleh WUS merupakan sebuah jenis perilaku sehat. Menurut
Green yang dikutip oleh (Notoatmodjo, 2012b), menjelaskan bahwa perilaku
manusia dipengaruhi oleh faktor predisposisi (predisposing), faktor pemungkin
(enabling), dan faktor penguat (reinforcing). Termasuk faktor predisposisi
(predisposing), yaitu faktor yang mempermudah dan mendasari untuk terjadinya
perilaku tertentu seperti pengetahuan, sikap, pendidikan, pendapatan nilai dan
kepercayaan. Termasuk faktor pemungkin (enabling), yaitu faktor yang
memungkinkan untuk terjadinya perilaku tertentu tersebut seperti sarana dan
prasarana kesehatan, dan yang termasuk faktor penguat (reinforcing), yaitu
faktor yang memperkuat atau kadang-kadang justru dapat memperlunak untuk
terjadinya perilaku tersebut seperti, informasi, peran petugas kesehatan, dan
dukungan keluarga.
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori bahwa pengetahuan merupakan
salah satu faktor yang berhubungan dengan perilaku dalam pemeriksaan IVA, di
mana semakin baik pengetahuan ibu maka semakin baik juga kesadaran ibu
untuk melakukan pemeriksaan IVA sebagai salah satu bentuk deteksi dini
kanker serviks (Notoatmodjo, 2012b). Jadi bila perilaku seseorang terhadap
suatu hal buruk, maka dapat dipastikan bahwa pengetahuan orang terhadap hal
tersebut rendah. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran WUS diperkirakan
karena kurangnya informasi mengenai kanker serviks sehingga tidak banyak
wanita yang melakukan pemeriksaan dini munculnya kanker sehingga apabila
Lina Siti Nuryawati
1643 Syntax Literate, Vol. 5, No. 12, Desember 2020
muncul sel-sel abnormal di area serviks tidak diketahui dan tidak dilakukan
pengobatan. Hal tersebut menyebabkan semakin tingginya angka kematian
wanita yang disebabkan oleh kanker serviks (Prawirohardjo et al., 2011).
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian (Suratin & Susanti, 2019) di
Kecamatan Sukamulya Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan bahwa ada
hubungan pengetahuan terhadap deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan
IVA, dengan value = 0,000 dan OR = 3,7. Juga sejalan dengan hasil penelitian
(Anggraeni & Muhartati, 2015) di Puskesmas Banguntapan I Bantul”
menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan
tentang kanker serviks dengan perilaku WUS melakukan pemeriksaan IVA
dengan OR = 3,1.
Pada penelitian ini terbukti bahwa terdapat hubungan tingkat pengetahuan
tentang kanker serviks dengan pemeriksaan IVA Test. Upaya yang perlu dilakukan
diantaranya adalah petugas kesehatan memberikan penyuluhan tentang IVA test
pada WUS dengan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti oleh WUS,
membuat dan membagikan brosur tentang IVA test kepada WUS yang datang ke
UPTD Puskesmas Waringin. Bagi WUS, agar aktif mencari informasi baik dari
petugas kesehatan maupun dari media.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut
bahwa proporsi WUS yang berpengetahuan kurang lebih besar terdapat pada WUS yang
tidak melakukan pemeriksaan IVA test (24,4%) dibanding WUS yang melakukan
pemeriksaan IVA test (6,7%). Serta Terdapat hubungan tingkat pengetahuan tentang
kanker serviks dengan pemeriksaan IVA Test pada Wanita Usia Subur (WUS) di UPTD
Puskesmas Waringin Kabupaten Majalengka Tahun 2020.
Tingkat Pengetahuan tentang Kanker Serviks dengan Pemeriksaan Iva Test pada Wanita
Usia Subur (WUS)
Syntax Literate, Vol. 5, No. 12, Desember 2020 1644
BIBLIOGRAFI
Ali, M., & Asrori, M. (2015). Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik.(edisi
keempat). Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Andrijono. (2017). Kanker Serviks. Jakarta: Divisi Onkologi Departemen Obstetri dan
Ginekologi.
Anggraeni, Nobelia, & Muhartati, Mei. (2015). Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang
Kanker Serviks dengan Perilaku WUS Melakukan Pemerikasaan IV A di
Puskesmas Banguntapan Bantul. STIKES’ Skripsi Aisyiyah Yogyakarta .
Delia, Wijaya. (2010). Pembunuh Ganas Itu Bernama Kanker Servik. Yogyakarta: Sinar
Kejora.
Kementerian Kesehatan RI. (2018). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2019). Riskesdas Tahun 2018. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
Kusmiran, Eny. (2011). Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta: Salemba
Medika, 21.
Majalengka, Dinas Kesehatan Kabupaten. (2018). Profil Kesehatan Kabupaten
Majalengka Tahun 2017. Majalengka: Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka.
Majalengka, Dinas Kesehatan Kabupaten. (2019). Profil Kesehatan Kabupaten
Majalengka Tahun 2018. Majalengka: Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka.
Mirayashi, Deasy. (2014). Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan tentang Kanker
Serviks dan Keikutsertaan Melakukan Pemeriksaan Inspeksi Visual Asetat di
Puskesmas Alianyang Pontianak. Jurnal Mahasiswa PSDP FK Tanjungpura
University.1-17.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2012a). Promosi Kesehatan, Teori dan Aplikasi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2012b). Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka
Cipta.
Prawirohardjo, Sarwono, Wiknjosastro, H., & Sumapraja, S. (2011). Ilmu Kandungan
edisi ketiga. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono, 274278.
Rahmadhan, Rifqi, Ade, Wiwit, & Suyanto. (2016). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap
Terhadap Tindakanwanita Pekerja Seksual Tisdak Langsung Tentang Pap Smear
Dan Inspeksi Visual Asetat Pada Sebagai Deteksi Dini Kanker Serviks Di Hotspot
X Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru. Jom FK, Jurnal Online Mahasiswa Fakultas
Lina Siti Nuryawati
1645 Syntax Literate, Vol. 5, No. 12, Desember 2020
Kedokteran Universitas Riau. 3(2), 1-15
Retnaningtyas. (2017). Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Pemeriksaan IVA
Test Pada Pasangan Usia Subur (PUS) di Kecamatan Cidadap Kabupaten
Sukabumi. Jurnal Medika, 2.
Suratin, Suratin, & Susanti, Susanti. (2019). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu
Terhadap Deteksi Dini Kanker Serviks Dengan Pemeriksaan Iva Di Puskesmas
Sekupang. Jurnal Zona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter
Universitas Batam, 7(3), 3844.
Wulandari, Novia, Bahar, Hartati, & Ismail, Cece Suriani. (2017). Gambaran kualitas
hidup pada penderita kanker payudara di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi
Sulawesi Tenggara tahun 2017. (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan
Masyarakat), 2(6).