����������� Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia � ISSN : 2541-0849

����������� e-ISSN : 2548-1398

����������� Vol. 2, No 11 November 2017

 

 

 


ANALISIS DESKRIPTIF INFRASTRUKTUR PELABUHAN PT PELINDO CABANG CIREBON JAWA BARAT

 

Arief Firmanto

Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik UNSWAGATI Cirebon

[email protected]

 

Abstrak

Pelabuhan Cirebon adalah pelabuhan yang dibangun pada masa Kesultanan Cirebon dan terus dikembangkan oleh Belanda hingga masa sekarang. Pelabuhan ini terletak di Jalan Perniagaan 4 Kota Cirebon. Penelitian ini bermetodekan studi kasus dengan pendekatan analisis deskriptif. Tempat penelitian ini adalah Pelabuhan Cirebon yang terletak di Kota Cirebon. Subjek penelitian ini adalah karyawan dan pekerja di Pelabuhan Cirebon. Objek penelitian ini adalah infrastruktur pelabuhan yang menunjang aktivitas pelabuhan. Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa, pelabuhan ini memiliki 3 kolam utama, yakni kolam alur masuk dengan luas 2.500 x 70 meter2, Kolam Pelabuhan dengan luas 10,92 meter2, dan Kola Pelra dengan luas 1.406 meter2, 4 dermaga utama yang masing berukuran 355 meter2, 480 meter2, 179 meter2, dan 150 meter2, dan fasilitas penyimpanan Pelabuhan Cirebon yang terdiri dari lapangan konvensional seluas 14.120 meter2 dan gudang seluas 8.342 meter2. Seluruh infrastruktur ada dalam kondisi cukup baik dan ada beberapa bagian yang harus diperbaharui atau diperbaiki.

 

Kata Kunci: Infrastruktur, Pelabuhan Cirebon

 

Pendahuluan

Pengembangan transportasi adalah sebuah bentuk peminimalisiran kesenjangan daerah-daerah tertinggal. Melalui pengembangan transportasi, diharapkan daerah-daerah tersebut mampu bangkit dan menunjukkan tajinya sebagai sebuah daerah perkembang yang mampu bangkit. Jika pengembangan transportasi tersebut dilakukan secara menyeluruh juga rata, maka bukan hal yang mustahil bila banyak daerah yang tumbuh perekonomiannya. Sedangkan pada sisi lain, melalui pengembangan ini juga, diharapkan pemerintah dapat lebih memeratakan hasil pembangunan (Adris dan Susanti: 2016).

Transportasi laut adalah salah satu transportasi favorit yang banyak disukai oleh masyarakat. Hal tersebut memang menjadi suatu yang lumrah. Sebab bila dilihat dari kondisi geologis, Indonesia memang negara kepulauan. Sehingga untuk meningkatkan pengembangan daerah luar pulau, transportasi laut adalah pilihan terbaik di samping pesawat sebagai transportasi udara.

Transportasi laut merupakan transportasi antarpulau. Transportasi ini memungkinkan pengguna untuk melewati wilayah laut, baik itu laut secara umum maupun hanya sekedar selat kecil. Transportasi laut umumnya menggunakan kapal. Dan sebagaimana angkutan umum di darat, transportasi laut juga membutuhkan dermaga dan pelabuhan sebagai tempat berlabuh.

Pelabuhan adalah tempat berlabuh transportasi laut, baik itu transportasi untuk keperluan angkutan manusia ataupun barang. Pelabuhan memiliki peran penting pada ranah angkutan laut. Pelabuhan adalah tempat awal seseorang melakukan transportasi laut. Melalui juga, pengiriman barang lintas pulau yang dilakukan via laut dilakukan. Lalu, melalui pelabuhan pula, distribusi produk datang yang telah dikirim lintas pulau dilakukan. Dengan kata lain, pelabuhan selain menjadi pusat transportasi laut juga menjadi penyokong sektor ekonomi daerah.

Dalam pengertiannya, pelabuhan diartikan sebagai tempat yang tersusun atas daratan dan laut yang dibatasi suatu batas tertentu, yang dalam penggunaannya, pelabuhan pelabuhan diperuntukkan sebagai kegiatan layanan ekonomi (Gurning dan Budiyanto: 2007). Lanjut Gurning dan Budiyanto, di samping peruntukkan sebagaimana di atas, pelabuhan juga digunakan sebagai tempat berlabuh kapal, tempat dinaikkan dan/atau diturunkannya penumpang serta aktivitas transportasi laut lainnya.

Pengertian sebagaimana yang disampaikan Gurning dan Budiyanto juga diamini oleh Suratno (2004). Menurutnya, pelabuhan adalah tempat kegiatan pelayanan ekonomi, yang tersusun atas daratan dan laut dengan batas-batas tertentu. Lebih lanjut, Suratno (2004) juga mengatakan bahwa, kegiatan ekonomi yang dilakukan di pelabuhan adalah atas dasar peruntukkan dari pemerintah.

Melalui pengertian di atas, penulis dapat berkesimpulan bahwa, suatu pelabuhan adalah tempat yang diperuntukkan sebagai lokasi kegiatan ekonomi. Pelabuhan digunakan sebagai salah satu penyokong ekonomi daerah. Di pelabuhan pula, kegiatan transportasi lautdilakukan, dan menjadi tempat berlabuh untuk kapal-kapal yang telah beroprasi.

Pelabuhan ditunjukan oleh banyak fasilitas dan infrastruktur. Fasilitas dan insfrastrukturyang dimiliki oleh pelabuhan diperuntukkan untuk beragam fungsi. Namun demikian, tidak semua pelabuhan memiliki fasilitas yang lengkap dan menunjang kegiatan operasionalnya. Tidak sedikit pula pelabuhan yang tertinggal dan tidak mempunyai fasilitas juga insfrastruktur yang layak.

Pelabuhan Cirebon adalah salah satu pelabuhan milik PT Pelabuhan Indonesia II. Pelabuhan ini berletak di Jl. Perniagaan No. 4 Kota Cirebon. Pelabuhan ini adalah pelabuhan dengan peruntukkan angkutan barang. Dengan peruntukkan tersebut, pelabuhan ini dapat dipastikan menjadi penyokong perekonomian di wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan mencoba mengkaji mengenai fasilitas yang ada di Pelabuhan Cirebon. Kajian fasilitas tersebut akan penulis sampaikan melalui gambaran deskriptis dengan judul �Analisis Deskriptif Fasilitas Pelabuhan PT Pelindo II Cabang Cirebon Jawa Barat.�

 

Metodologi Penelitian

Penelitian ini bermetodekan studi kasus. Menurut Wibowo (1984) studi kasus merupakan metode dengan pendekatan fenomena yang terjadi di lapangan. Dengan kata lain, studi kasus adalah metode yang mengakat kejadian dan peristiwa yang timbul di lapangan secara langsung. Sambung Wibowo, menurutnya, studi kasus adalah metodologi yang diterapkan atas dasar kepedulian peneliti untuk tindak perbaikan pada objek yang sedang diteliti. Apa yang disampaikan oleh Wibowo nyatanya oleh Depdikbud (1997). Menurut Depdikbud, studi kasus merupakan metodologi yang digunakan untuk mengkaji dan menganalisis permasalahan-permasalahan yang menjadi objek penelitian, dengan pengkajian yang dilakukan adalah pengkajian secara komprehensif melalui teknik dan alat pengumpulan data yang juga baik.

Berbicara mengenai objek penelitian, Sugiyono (2009) menerangkan bahwa, objek penelitian adalah sesuatu yang dipilih untuk kemudian dikaji dan dianalisis pada sebuah penelitian. Sambungnya, objek penelitian yang dimaksud bisa berupa nilai, benda, atau sifat dari subjek penelitian. Sementara menurut Moleong (2010), subjek penelitian sendiri adalah informasi, yang berperan memberi informasi dan data terkait objek penelitian.Dalam penelitian ini subjek penelitian yang dipilih adalah staf dan karyawan baik bagian lapangan maupun administrasi dari PT Pelindo II Cirebon. Adapun objek penelitian yang dipilih disini adalah fasilitas dan insfrastrukturyang ada Pelabuhan Cirebon.

Lokasi penelitian ini adalah Pelabuhan Cirebon Cabang PT Pelindo II. Pelabuhan tersebut terletak di Jalan Perniagaan Nomor 4 Kota Cirebon. Lokasi penelitian sendiri terletak di dekat pusat kota, sehingga mudah dijangkau dan tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai lokasi.

Teknik analisis yang digunakan disini adalah analisis deskriptif. Analisis ini memungkinkan penulis menyampaikan hasil penelitian melalui deskripsi atau penggambaran hasil. Pengolahan data dilakukan sebagaimana rancangan awal penelitian dengan sumber data berupa buku, hasil observasi serta data-data skunder lain semisal data website dan sebagaimnya.

 

Hasil dan Pembahasan

A.    Hasil Penelitian

1.      Sekilas Perusahaan

Pada awalnya Pelabuhan Cirebon hanya pelabuhan kecil yang disandari oleh beberapa tongkang warga. Baru tahun 1865 Pemerintah Kolonial Belanda membangun pelabuhan ini, dan mengembangkannya di tahun 1898 untuk keperluan Pemerintah Kolonial Belanda itu sendiri. Pada masa pengembangan tersebut, pemerintah kala itu membangun beberapa fasilitas seperti kolam parit, pabean juga beberapa gudang.

Pasca pembangunan tersebut, Pelabuhan Belanda digunakan sebagai pusat pengiriman barang-barang dari luar pulau. Atau sebaliknya, penerimaan barang dari luar pulau. 1927 Belanda menentukan batasan kerja Pelabuhan Cirebon. Dan pada tahun yang sama, pihak Belanda pun menentukan struktur organisasi untuk Pelabuhan Cirebon. Namun kala itu, struktur organisasi Pelabuhan Cirebon masuk ke dalam struktur Pelabuhan Semarang, hingga kemudian berdiri sendiri dan menjadi cabang PT Pelindo II.

Pada dasarnya, Pelabuhan Cirebon merupakan pelabuhan internasional. Pelabuhan ini terbukauntuk perdagangan internasional. Dengan kata lain, pelabuhan ini siap melakukan bongkar muat internasional. Fungsi tersebut memungkinkan pelabuhan ini untuk melakukan perdagangan ekspor impor. Dan dengan peran itu pula, Pelabuhan Cirebon juga dapat dijadikan sebagai penyangga Pelabuhan Tanjung Priuk yang juga merupakan pelabuhan ekspor impor di Indonesia.

Dengan status tersebut, Pelabuhan Cirebon seyogyanya dapat menjadi penyokong perekonomian daerah, khususnya daerah Jawa Barat yang merupakan daerah juga provinsi dimana pelabuhan ini berdiri.

2.      Fasilitas Pelabuhan Cirebon

a.      Kolam dan Alur untuk Masuk

Berikut adalah detail terkait kolam dan alur untuk masuk yang ada di Pelabuhan Cirebon, penulis gambarkan melalui tabel sebagai berikut:

Tabel 1

Kolam dan Alur untuk Masuk

No

Uraian

Satuan

Volume

Keterangan

1

Alur Kolam

  1. Panjang
  2. Lebar

 

Meter

Meter

 

2.500

70

Kedalaman (4) M Lws

2

Kolam Pelabuhan

  1. Kolam Muarajati I
  2. Kolam Pelabuhan I
  3. Kolam Pelabuhan II
  4. Kolam Pelra

Ha

Ha

Ha

Ha

Ha

10,92

2,66

2,66

4,30

1,12

 

Kedalaman (4,7) M Lws

Kedalaman (4,7) M Lws

Kedalaman (4,7) M Lws

Kedalaman (4,7) M Lws

3

Penahan Gelombang

  1. Panjang

 

Meter

 

1.406

 

 

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa Pelabuhan Cirebon memiliki alur kolam masuk yang cukup luas. Panjang kolam alur masuk tersebut adalah 2.500 meter dengan lebar sejauh 70 meter. Dengan ukuran tersebut, alur masuk ini mampu menampung banyak aktivitas transportasi laut. Kondisi tersebut tentu dapat mendorong terciptanya efektivitas pekerjaan di Pelabuhan Cirebon.

Di samping jalur masuk yang mencukupi, Pelabuhan Cirebon juga memilki kolam dengan ukuran yang beragam, dan cukup untuk beberapa aktivitas pelabuhan tertentu. Total luas kolam Pelabuhan Cirebon adalah 10,92 Ha. Luas tersebut terbagi ke dalam 4 jenis kolam, antara lain; (1) Kolam Muarajati I dengan luas 2,66 Ha, (2) Kolam Pelabuhan I dengan luas 2,66 Ha, (3) Kolam Pelabuhan II dengan luas 4,30 Ha, dan yang terakhir (4) Kolam Pelra dengan luasyang lebih kecil, yakni 1,12 Ha.

Kolam-kolam yang ada di Pelabuhan Cirebon digunakan untuk beragam keperluan. Luas kolam mendukung setiap aktivitas kegiatan. Dengan luas sebagaimana yang disebutkan, kegiatan Pelabuhan Cirebon sejauh ini berjalan dengan sangat baik, kendati perlu ada perbaikan di beberapa sektor kolam.

Selain daripada kolam Pelabuhan Cirebon, penulis juga mendapati Penahan Gelombang Pelabuhan Cirebon dengan panjang 1.406 meter. Dengan panjang penahan gelombang tersebut, aktivitas pelabuhan di Pelabuhan Cirebon tidak akan terganggu dengan aktivitas gelombang yang ditahan oleh penahan gelombang.

Pada dasarnya, pesisir Cirebon memang tidak memiliki gelombang dengan ukuran yang besar. Namun demikian, penahan gelombang dengan lebar sebagaimana disebut di atas tetap dibutuhkan. Hal ini dilakukan demi meminimalisir gangguan dan permasalahan gelombang yang dapat mengganggu aktivitas pelabuhan.

b.      Dermaga Pelabuhan Cirebon

Sebagaimana pelabuhan pada umumnya, Pelabuhan Cirebon juga memiliki beberapa dermaga sebagaimana yang ditampilkan pada tabel berikut ini:

Tabel 2

Dermaga Pelabuhan Cirebon

No

Uraian

Satuan

Volume

Keterangan

1

Dermaga Kolam Muarajati

  1. Muarajati I & III

 

Meter

 

355

Kedalaman (6) M Lws

2

Dermaga Kolam Pelabuhan II

  1. Muarajati II
  2. Linggarjati
  3. Pelita I � III

 

Meter

Meter

Meter

 

248

131

111

 

Kedalaman (4,7) M Lws

Kedalaman (4,7) M Lws

Kedalaman (4,7) M Lws

3

Dermaga Kolam Pelabuhan I

  1. Surya Sumantri I � IV
  2. Samadikun
  3. Perniagaan I � IV

 

Meter

Meter

Meter

 

68

67

44

 

Kedalaman (3-4) M Lws

Kedalaman (3-4) M Lws

Kedalaman (2-3) M Lws

4

Dermaga Kolam Pelra

  1. Dermaga Pelra

 

Meter

 

150

 

Kedalaman (2) M Lws

 

Dari tabel di atas diketahui bahwa dermaga yang dimiliki Pelabuhan Cirebon berjumlah 4 dermaga utama. Keempat dermaga tersebut adalah dermaga Kolam Muarajati, Pelabuhan II, Pelabuhan I dan Kolam Pelra. Dermaga Kolam Muarajati memiliki dua dermaga utama, yakni Muarajati I dan III, yang keduanya jika digabungkan memiliki luas 355 meter2. Adapun bahan baku dari kedua dermaga tersebut adalah beton, dan memiliki kedalaman yang lebih besar dibanding dermaga lain.

Di samping dermaga Kolam Muarajati, adapula dermaga Kolam Pelabuhan II yang memiliki 3 wilayah, yakni Dermaga Muarajati II, Linggarjati, dan Pelita I � III. Masing-masingdermaga tersebut memiliki luas 248 Meter2 untuk Muarajati II, 131 meter2 untuk Dermaga Linggarjati, dan 111 meter2 untuk Dermaga Pelita I � III. Ketiga dermaga tersebut terbuat dari bahan Sheet Pile Beton untuk Dermaga Muarajati II dan Linggarjati. Adapun bahan yang menyusun Dermaga PelitaI�III adalah bahan beton dengan kedalaman dan memiliki kedalaman hingga 4,7 meter Lws.

Dermaga lain yang ada di Pelabuhan Cirebon adalah dermaga Kolam Pelabuhan I yang terdiri atas Dermaga Surya Sumantri I�IV, Samadikun dan Perniagaan I�IV. Masing-masing dermaga tersebut memiliki luas 68 meter2 untuk Dermaga Surya Sumantri, 67 meter2 untuk Samadikun, dan 44 meter2 untuk Dermaga Perniagaan I�IV. Ketiga dermaga inti ini masing-masing terbuat oleh beton dengan kedalaman 2�4 meter di atas laut.

Dermaga yang terkhir yang dimiliki oleh Pelabuhan Cirebon adalah Dermaga Pelra. Dermaga ini berbeda dengan dermaga kebanyakan di Pelabuhan Cirebon. Dermaga ini hanya terbuat dari kayu dengan kedalaman laut yang hanya 2 meter. Luas keseluruhan dari dermaga ini adalah 150 meter2. Sebagaimana Dermaga Pelra pada umumnya, Dermaga Pelra disini juga berfungsi untuk kegiatan pelayaran rakyat. Bahannya yang hanya terdiri dari kayu tetap kuat dan kokoh menyangga aktivitas pelayaran rakyat yang cukup padat.

c.       Penumpukan Barang

Pelabuhan Cirebon memiliki beberapa fasilitas penumpukan seperti gudang dan lapangan khusus. Fasilitas-fasilitas tersebut penulis gambarkan melalui tabel berikut:

 

 

Tabel 3

Tabel Fasilitas Penumpukan Barang

No

Uraian

Satuan

Volume

Keterangan

1

Gudang

  1. Gudang Konvensional

 

M2

 

8.342

 

2

Lapangan

  1. Konvensional
  2. Petikemas

 

M2

M2

 

14.120

4.000

 

 

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa Pelabuhan Cirebon mempunyai fasilitas penyimpanan dan/atau penumpukkan barang yang cukup baik. Fasilitas penyimpanan barang Pelabuhan Cirebon terbagi atas dua jenis, yakni gudang dan lapangan. Pelabuhan Cirebon mempunyai rangkaian gudang jenis konvensional dengan lebar 8.342 meter2. Gudang tersebut adalah gudang masa lampau. Gudang tersebut dibangun pada masa kolonial Belanda. Namun demikian, telah dilakukan beberapa perbaikan di beberapa sektor, sehingga penggunaannya masih baik dan dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan. Kendati demikian, masih ada beberapa bagian gudang yang telah lapuk dan harus diperbaiki untuk meningkatkan penggunaan gudang.

Selain gudang konvensional, Pelabuhan Cirebon juga memiliki tempat penyimpanan jenis lapangan. Jenis lapangan yang dimiliki Pelabuhan Cirebon memiliki dua jenis yang berbeda. Jenis pertama aadlah lapangan konvensional. Lapangan ini hanya lapangan luas yang dibuat untuk keperluan penyimpanan biasa. Adapun jenis lapangan yang kedua adalah lapangan petikemas. Lapangan ini biasa digunakan untuk menyimpan beberapa petikemas yang diturunkan dari kapal yang telah berlabuh.

Luas lapangan konvensional yang dimiliki Pelabuhan Cirebon adalah 14.120 meter2 dan Lapangan Petikemas Pelabuhan Cirebon adalah 4.000 meter2. Dengan luas seperi itu, lapangan Pelabuhan Cirebon dapat digunakan untuk kegiatan penyimpanan barang dengan jumlah banyak.

 

B.     Pembahasan

Pelabuhan Cirebon adalah salah satu cabang PT Pelindo II. Pelabuhan ini digunakan untuk kegiatan ekspor impor barang. Pelabuhan ini awalnya hanya pelabuhan kecil dengan kapasitas yang juga kecil. Kemudian pada masa Kesultanan Cirebon pelabuhan ini dibangun untuk peruntukkan lebih daripada sekedar aktivitas nelayanan masyarakat. Pembangunan Pelabuhan Cirebon terus berkembang hingga masa kolonial Belanda hingga kini. Terakhir Pelabuhan Cirebon adalah pelabuhan PT Pelindo II dengan peruntukan ekspor impor dan mampu menyokong pergerakan ekonomi daerah.

Pelabuhan Cirebon memiliki beberapa infrastruktur yang memadai, khususnya untuk aktivitas pelabuhan pada sektor bongkar muat barang. Infrastruktur yang dimiliki Pelabuhan Cirebon antara lain; kolam alur masuk, kolam pelabuhan dan penahan gelombang. Kolam alur masuk yang dimiliki pelabuhan ini memiliki luas 2.500 x 70 meter. Adapun total kolam pelabuhan adalah 10,92 yang terdiri atas kolam muarajati I, kolam pelabuhan I, kolam pelabuhan II, dan kolam pelra. Panjang penahan gelombang pelabuhan ini adalah 1.406 meter dan memiliki peran yang sangat baik untuk meminimalisir permasalahan gelombang di Pelabuhan Cirebon.

Pelabuhan Cirebon memiliki beberapa dermaga. Dermaga yang dimiliki pelabuhan ini adalah Dermaga Kolam Muarajati dengan luas 355 meter2. Luas tersebut terdiri dari Dermaga Muarajati I dan III. Dermaga Kolam Pelabuhan II yang terdiri dari Dermaga Muarajati II dengan luas 248 meter2, Dermaga Linggarjati dengan luas 131 meter2 dan Dermaga Pelra dengan luas 111 meter2. Dermaga Pelabuhan I yang terdiri dari Surya Sumantri dengan luas 68 meter2, Samadikum dengan luas 67 meter2, dan dermaga perniagaan I � IV dengan luas 44 meter2. Dermaga terakhir yang dimiliki adalah Dermaga Kolam Pelra dengan luas 150 meter2.

Infrastruktur yang dimiliki Pelabuhan Cirebon lainnya adalah gudang dan lapangan penyimpanan. Keduanya dimiliki Pelabuhan Cirebon dengan kondisi baik meski ada beberapa yang harus diperbaiki. Luas total gudang di pelabuhan ini adalah 8.342 meter2. Kondisi gudang pelabuhan ini pada beberapa bagian terlihat lapuk dan usang. Gudang ini sendiri adalah gudang peninggalan pemerintah Belanda. Namun di luar daripada kelapukkan tersebut, gudang ini masih dapat digunakan dan harus diperbaiki pada beberapa bagiannya.

Selain daripada gudang, Pelabuhan Cirebon juga memiliki lapangan penyimpanan yang cukup luas untuk pelabuhan ekspor impor. Lapangan di pelabuhan ini terbagi ke dalam dua jenis lapangan. Lapangan yang pertama adalah lapangan kosong dengan lebar 14.120 meter2. Lapangan ini dapat digunakan untuk keperluan penyimpanan sementara barang-barang non peti kemas. Kondisi lapangan ini cukup baik dan dapat digunakan untuk kegiatan penyimpanan sederhana.

Lapangan lain daripada lapangan konvensional sebagaimana diuraikan di atas adalah lapangan petikemas. Sebagaimana namanya, lapangan ini digunakan untuk penyimapanan dan bongkar muat petikemas di pelabuhan ini. Luas lapangan petikemas di pelabuan yang berletak di Kota Cirebon ini adalah 4.000 meter2. Dengan luas tersebut, lapangan tersebut dapat digunakan untuk menyimpan banyak petikemas hasil distribusi kapal ekspor impor maupun lokal.

Setiap infrastruktur yang dimiliki Pelabuhan Cirebon adalah infrastruktur dengan kondisi baik. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri juga bahwa beberapa infrastruktur perlu diperbaiki dan diperbaharui. Perbaharuan tersebut dilakukan untuk keperluan peningkatan penggunaan dan penambahan daya jika perlu. Dengan perbaikan dan pembaharuan tersebut, Pelabuhan Cirebon diharapkan memiliki infrastruktur yang lebih baik, yang kemudian berdampak pada keoptimalan infrastruktur itu sendiri.

 

Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pelabuhan Cirebon memiliki beberapa infrastruktur yang dapat mendukung kegiatan pelabuhan;
  2. Pelabuhan Cirebon memiliki 3 kolam utama, yakni kolam alur masuk dengan luas 2.500 x 70 meter2, Kolam Pelabuhan dengan luas 10,92 meter2, dan Kola Pelra dengan luas 1.406 meter2;
  3. Kondisi kolam utama miliki Pelabuhan Cirebon memiliki kondisi baik, namun beberapa bagian harus ada perbaikan;
  4. Pelabuhan Cirebon memiliki 4 dermaga utama. Keempat dermaga tersebut adalah Dermaga Muarajatidengan luas 355 meter2, Dermaga Kolam Pelabuhan II dengan luas 480 meter2, Dermaga Kolam Pelabuhan I dengan luas 179 meter2, dan Dermaga Kolam Pelra dengan luas150 meter2;
  5. Kondisi dermaga Pelabuhan ada pada kondisi cukup baik, kecuali Dermaga Pelra yang telah usang dan harus ada perbaikan. Namun terlepas daripada itu, dermaga tersebut masih bisa digunakan untuk beberapa waktu;
  6. Fasilitas penyimpanan Pelabuhan Cirebon terbagi atas dua jenis, yakni Gudang Konvensional dan Lapangan;
  7. Luas gudang Pelabuhan Cirebon adalah 8.342 meter2;
  8. Kondisi gudang pelabuhan terlihat kurang baik dan usang. Walau demikian, gudang ini masih bisa digunakan dan perlu ada perbaikan juga pembaharuan demi keamanan dan keoptimalan aktivitas pelabuhan;
  9. Lapangan penyimpanan Pelabuhan Cirebon terdiri atas dua jenis, yakni lapangan konvensional dengan luas 14.120 meter2 dan lapangan petikemas dengan luas 4.000 meter2;
  10. Kondisi masing-masing lapangan berada pada kondisi baik dan dapat digunakan untuk aktivitas bongkar muat dan penyimpanan sementara barang;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Adris, A. Putra dan Susanti Djalante. 2016. Pengembangan Infrastruktur Pelabuhan Dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan. Jurnal Ilmiah Media Engeneering, Vol. 6 Nomor 1.

 

Depdikbud. 1997. Studi Kasus. Jakarta: Dirjen Diknas dan Umum.

 

Gurning, Raja Olahan Saut dan Eko Haryadi Budiyanto. 2007. Manajemen Bisnis Pelabuhan. Surabaya: PT Andhika Prasetya Eka Wahana

 

Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Remaja Rosdakarya

 

Sugiyono. 2009. Observasi dan Wawancara. Jakarta: Erlangga.

 

Suratno. 2004. Manajemen Operasional Angkutan Laut dan Kepelabuhan Serta Prosedur Impor Barang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Wibowo. 1984. Studi Kasus. Jakarta: PT Rineka Cipta.