����������� Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia � ISSN : 2541-0849

����������� e-ISSN : 2548-1398

������� ����Vol. 3, No 7 Juli �2018

 

 

PEMANFAATAN MEDIA TELEVISI UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS IX E SMP NEGERI 3 PLERED TAHUN PELAJARAN 2012 / 2013

�����������

Yusup

SMP Negeri 1 Gunung Jati

Email: [email protected]

 

Abstrak

Masalah berbicara bukan saja dialami oleh manusia sejak lahir, namun juga bisa dialami oleh seseorang dalam usia tertentu. Permasalahan yang berbeda dihadapi oleh seseorang dengan porsi yang berbeda juga. Pada usia remaja, masalah yang dihadapi dalam berbicara adalah masalah dalam mengemukakan pendapat. Misalnya pada kasus siswa SMP Negeri 3 Plered, yang kurang mampu berbicara untuk mengemukakan gagasan secara sistematis, penggunaan dan pilihan kata yang tidak tepat, bahkan beberapa tidak berani berbicara. Artinya masalah yang dihadapi oleh remaja adalah pada tataran masalah retorika. Berbagai strategi telah dilakukan dalam meningkatkan kemampuan retorika dalam berbicara seorang remaja, namun dari strategi yang dilakukan belum sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, penulis merasa penelitian ini layak dilakukan, yakni dengan memangangkat judul tentang pemanfaatan media televisi dalam meningkatkan kualitas retorika atau kemampuan remaja dalam berbicara. Untuk mengumpulkan data, pelaksanaan penelitian ini disertai dengan pengamatan, diskusi, dan evaluasi. Dari hasil penelitian, data yang didapatkan kemudian dilakukan analisis dengan metode deskriptif. Sementara evaluasi dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap hasil penilaian serta ketuntasan setelah dilakukan pemanfaatan. Oleh karena itu, dari hasil penelitian yang dilakukan, maka peneliti mendapatkan kesimpulan bahwa pemanfaatan media televisi dapat berpengaruh terhadap kemampuan berbicara remaja. Namun hal tersebut perlu dilakukan dengan penerapan yang tepat. Adapun penerapan yang dilakukan adalah; 1). Membuat persiapan pembelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa untuk menonton dan menyimak televisi yang sesuai minatnya, kemudian setelah itu siswa berusaha mengungkapkan dengan mengulangkan bahasa yang disampaikan dengan caranya sendiri, 2). Memberikan pengetahuan dari hasil pengalaman kepada siswa terkait dengan teknik penyampaian, 3). Materi yang disampaikan agar variatif sehingga proses pembelajarannya tidak monoton dan membosankan, 4). Membuat catatan-catatan garis besar terkait apa yang akan dibicarakan atau disampaikan, sehingga melalui catatan tersebut siswa dapat berbicara secara sistematis, 5). Diberikan waktu tanya jawab dan menanggapi materi pembelajaran. Tahapan tersebut tentu dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam gaya berbicara atau kemampuan retorikanya. Kemudian, selain itu juga melalui tahapan tersebut siswa akan menambah kemampuan menyimaknya, mengingat dua kegiatan tersebut selalu berkaitan.

 

Kata Kunci: Media Televisi, Kemampuan Berbicara

Pendahuluan

Aswin (1999:12) mengungkapkan pada setiap jenjang pendidikan ada delapan kompetensi dasar yang perlu dimantapkan. Kedelapan kompetensi dasar tersebut sangat bermanfaat dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. Dari kedelapan kompetensi dasar itu, tujuh di antaranya dibelajarkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Adapun delapan kompetensi dasar itu adalah 1) membaca, perlu dilatih untuk memantapkan kemampuan pemikiran konsepsional; 2) menulis, guna melatih orang untuk cermat dalam merancang jalan pemikiran yang teratur; 3) mendengar, perlu dilatih untuk mendengar dan memahami orang lain; 4) menghitung, melatih kemampuan berpikir dan memanfaatkan nalar, 5) mengamati yaitu menggunakan indera secara terpadu; 6) menghayati yaitu melatih kemampuan menempatkan diri pada kedudukan orang lain; 7) menghayal yaitu melatih daya cipta dan visualisasi; dan 8) berbicara yaitu melatih kemampuan berkomunikasi secara lisan.

Dari uraian tersebut, tampak bahwa berbicara merupakan salah satu kompetensi dasar yang perlu dimantapkan mengingat akan fungsinya yang sangat penting pada kehidupan sehari-hari. Wiyanto (TT:10) berdasarkan hasil surveinya Paul T. Rankin, menjelaskan berbicara menyita waktu 30 % dari semua kegiatan berbahasa, urutan kedua setelah menyimak 45 %, membaca 16 % dan menulis 9 %.

Upaya melatih keterampilan berbicara siswa sudah dilakukan dengan berbagai cara misalnya, 1) memberi arahan dan motivasi, 2) memancing dengan masalah-masalah tertentu agar siswa memberi tanggapan, 3) menugaskan siswa membaca wacana yang menarik baginya kemudian mengungkapkan secara lisan. Namun upaya ini belum mencapai hasil yang diharapkan.

Berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa (SMP Negeri 3 Plered ) dapat diketahui bahwa kegiatan menonton televisi hampir setiap hari dilakukannya secara rutin. Agar televisi tidak hanya menjadi sekadar tontonan saja, alangkah baiknya kalau dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, dalam hal ini pembelajaran berbicara.

Acara-acara yang ditayangkan di televisi membuat siswa lebih responsif karena apa yang dibahas di kelas bersinggungan dengan hiburan yang dinikmatinya di rumah. Dengan demikian, akan dapat meningkatkan aktifitas belajarnya. Keaktifan dalam belajar sangat diperlukan bahkan menjadi tuntutan utama untuk bisa medapatkan hasil yang diharapkan yaitu kemampuan berbicara.

 

Metodologi Penelitian

Atas dasar pertimbangan dan kondisi kelas yang peneliti temukan, sehingga penelitian ini dilaksanakan di kelas. Jenis� penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas atau bisa dikatakan penelitian deskriptif. penelitian ini dilakukan oleh seorang guru dalam hal ini peneliti adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang melakukan tindakan penelitian dengan� mengamati dan melakukan perubahan terkontrol untuk memecahkan masalah pemblajaran dikelas dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Sejalan dengan pengertian yang disampaikan menurut Suharsimi Arikunto, bahwa jenis penelitian ada 3 diantaranya� adalah penelitian tindakan. Penelitian tindakan adalah peneltian yang dilakukan oleh seorang yang bekerja mengenai apa yang sedang ia laksanakan tanpa mengubah sistem pelaksanaanya (Suahrsimi Arikunto, 2006).� Kurt Lewin telah� mengembangkan penelitian tindakan atas dasar konsep pokok bahwa penelitian tindakan terdiri dari empat komponen pokok yang juga menunjukkan langkah, yaitu : 1.  Perencanaan (planning), 2. Tindakan (acting), 3. Pengamatan (observing), dan 4.  Refleksi (reflecting). (Kurt Lewin, 1990). Apabila digambarkan dalam bentuk vusualisasi, maka model Kurt Lewin akan tergambar dalam bagan lingkaran seperti berikut ini :

��� �Acting

 


  Planning                                        Observing

 

�� Reflecting

 

(Kurt Lewin, 1990)

 

 

 

 

A.  Prosedur Penelitian

1.    Desain Penelitian

Penelitian tindakan kelas dengan refleksi awal untuk mengetahui kondisi objektif keterampilan berbicara siswa kelas IX E SMP Negeri 3 Plered. Dari refleksi ini� dapat disimpulkan bahwa aktifitas belajar berbicara siswa� masih tergolong� rendah, sehingga berpengaruh pula pada kemampuan berbicaranya.

Untuk mengatasi masalah itu dengan memanfaatkan media televisi. Dasar pertimbangannya telah tertera pada 1.2. Penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri atas :

1)      Penyususnan rencana tindakan, yang tidak hanya menyangkut tindakan pembelajaran di dalam kelas tetapi juga tindakan di luar/sebelum PBM (pratindakan) agar siswa memiliki kesiapan untuk belajar,

2)      Pelaksanaan tindakan disertai pengamatan,

3)      Pengamatan dan evaluasi terhadap pelaksanaan tindakan,

4)      Pelaksanaan diskusi tentang tindakan yang sudah dilaksanakan dengan siswa.

5)      Analisis hasil pengamatan, diskusi, dan evaluasi,

6)      Refleksi terhadap pelaksanaan tindakan sampai diperoleh simpulan yang kebenarannya dapat diyakini untuk mengatasi masalah.

Siklus penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.

 

Siklus ke-1����������������������������������������������������� Siklus ke-2����� ���������������� Rekomendasi

1. Perencanaan 1����������������������������� 1. Perencanaan 2

2.Tindakan 1����������������������������������� 2. Tindakan 2

3. Pemantauan dan ������������������������� 3. Pemantauan dan

Evaluasi 1������ ��������������������������������Evaluasi 2

4. Refleksi 1 ����������������������������������� 4. Refleksi 2

 

Hasil dan Pembahasan

1.    Deskripsi Prasiklus

Pada setiap pemberlakuan kurikulum pembelajaran bahasa Indonesia antara lain menekankan pada keterampilan berbicara siswa. Berdasarkan pengalaman di lapangan ternyata banyak siswa yang kurang terampil berbicara dalam arti tidak mampu mengemukakan gagasan secara sistematis, pilihan dan penggunaan kata tidak tepat, bahkan ada di antara mereka tidak berani tampil untuk berbicara.

Upaya melatih keterampilan berbicara siswa sudah dilakukan dengan berbagai cara misalnya, 1) memberi arahan dan motivasi, 2) memancing dengan masalah-masalah tertentu agar siswa memberi tanggapan, 3) menugaskan siswa membaca wacana yang menarik baginya kemudian mengungkapkan secara lisan. Namun upaya ini belum mencapai hasil yang diharapkan.

Refleksi awal yang dilakukan oleh guru/peneliti menghasilkan beberapa simpulan.

1.      Siswa tidak berani berbicara karena tidak tahu harus mulai dari mana dan bagaimana memulai berbicara.

2.      Topik pembelajaran kurang membuat siswa bergairah dalam belajar.

3.      Guru belum menyesuaikan secara optimal metode pembelajaran sehingga pembelajaran kurang bermakna bagi siswa.

4.      Kurang tersedianya media pembelajaran di sekolah (selain buku-buku) sehingga pembelajaran lebih sering bersifat verbal. Ini membuat siswa� menjadi bosan dan menjenuhkan.

 

2.    Deskripsi Siklus I

Hasil Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Aktifitas belajar siswa pada pelaksanaan tindakan siklus I tampak lebih baik dibandingkan dengan aktifitas pembelajaran berbicara sebelumnya (perbandingan nilai aktifitas belajar siswa dapat dilihat pada tabel 1). Walaupun demikian, masih ada beberapa kekurangan yaitu: 1) respon siswa terhadap uraian temannya, 2) banyak siswa ribut saat evaluasi sehingga berpengaruh proses berbicara siswa yang sedang menyampaikan informasi di depan kelas, 3) beberapa siswa tidak memperhatikan uraian temannya karena sibuk menghapal materi yang akan disampaikannya, 4) kelancaran berbicara siswa karena kurangnya penguasaan kosakata.

Hasil belajar siswa pada pelaksanaan tindakan siklus I juga tampak lebih baik dibandingkan dengan hasil pembelajaran berbicara sebelumnya (perbandingan nilai hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel 2. Walaupun demikian, masih terdapat 6 orang siswa nilainya di bawah KKM.� Dari hasil analisis nilai hasil belajar siswa (tabel 4.2) dapat diketahui bahwa nilai rata-rata kelas 81,05 tergolong lebih dari cukup, ketuntasan belajar 80,48 (KKM = 76), nilai tertinggi 95 dan terendah 70.

Dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa persentase perolehan nilai siswa pada komponen 2 (ketepatan memilih dan menggunakan kata dan kalimat) 66,7% (hampir cukup),� komponen 3 (kelancaran berbicara) 68,5% (hampir cukup), dan komponen 9 (pertanyaan/tanggapan) 44,9% (kurang sekali), hal itu karena pada komponen 9 banyak nilai siswa yang kosong.

Berdasarkan hasil evaluasi, hasil pengamatan, dan hasil diskusi peneliti dengan siswa dan pengamat, selanjutnya dilakukan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan siklus I. Dari hasil refleksi disimpulkan penyebab dari kekurangan-kekurangan tersebut sebagai berikut.

1.      Karena siswa dalam satu kelompok membicarakan materi yang sama, umumnya yang mendapat perhatian adalah pembicara pertama saja. Siswa kurang merespon pembicara selanjutnya. Akibatnya, kesempatan bertanya jawab atau menanggapi umumnya hanya terjadi pada pembicara pertama saja.

2.      Banyaknya nilai siswa yang kosong pada komponen 9 (pertanyaan/tanggapan) antara lain disebabkan kurang beragamnya materi pembicaraan sehingga , kesempatan bertanya jawab atau menanggapi juga kurang.

3.      Siswa kurang menguasai perbendaharaan kata-kata sehingga pembicaraan kurang lancar.

Dari hasil refleksi peneliti membuat rancangan atau persiapan pembelajaran untuk penyempurnaan terhadap langkah-langkah pelaksanaan tindakan yang akan diterapkan pada pelaksanaan tindakan siklus II. Adapun rancangan tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut.

a.       Menugaskan kepada siswa untuk menyiapkan materi pembicaraan dari tayangan acara di televisi. Pada kesempatan ini siswa diberikan kebebasan berkelompok atau individual.

b.      Siswa yang memilih cara berkelompok disarankan agar membagi materi pembicaraan dan mendiskusikan cara penyampaiannya.

c.       Menyarankan agar memilih acara yang bervariasi untuk menghidupkan suasana kelas, misalnya ada tayangan berupa cerita, berita, humor, olahraga, entertaiment, dan sebagainya.

d.      Menugaskan kepada siswa untuk berlatih berbicara di rumah agar saat tampil dapat berbicara dengan lancar. Di samping itu, agar siswa respon terhadap uraian temannya dan tidak sibuk menghapal, disarankan juga agar membuat catatan kecil yang berisi garis-garis besar materi yang akan dibicarakan.

e.       Memberikan motivasi dan penekanan lagi tentang cara-cara berbicara yang baik dengan contoh-contoh yang kurang baik sebagaimana dilakukan oleh beberapa siswa saat evaluasi pada siklus I.

f.        Memberikan arahan agar siswa meningkatkan aktifitas belajarnya, juga menyimak uraian temannya agar dapat mengajukan pertanyaan ataupun tanggapan.

g.      Mengingatkan siswa akan hal-hal yang dinilai dari pembelajaran berbicara tersebut. Pada siklus II aspek penilaian nomor 1 (kelengkapan informasi/isi pembicaraan) ditiadakan karena siswa menentukan sendiri acara yang dijadikan materi pembicaraan. Jadi, dalam hal ini guru kemungkinan tidak menonton acara tersebut.

h.      Menyampaikan rencana kegiatan pembelajaran dengan memperhatikan usulan siswa.

 

 

3.    Deskripsi Siklus 2

Hasil Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Aktifitas belajar siswa pada pelaksanaan tindakan siklus II lebih baik dibandingkan dengan aktifitas pembelajaran berbicara pada siklus I. Peningkatan aktifitas ini menyebabkan meningkat pula hasil belajar siswa.

Peningkatan tersebut disebabkan: 1) memberi keleluasaan kepada siswa memilih acara televisi yang disukainya sebagai bahan pembicaraan juga keleluasaan terkait dengan teknik penyampaiannya, 2) memberi arahan dan penekanan cara-cara berbicara yang baik, 3) siswa berlatih berbicara di rumah, 4) kegiatan resiprokal yang dapat mengasah kemampuan berbicara dalam hal bertanya jawab maupun menanggapi. Meskipun demikian, kekurangan masih tetap ada yaitu dua orang siswa mengalami kesulitan berbicara karena kurang mampu menggunakan kata-kata secara tepat.

Walaupun masih ada kekuramgan yang dijumpai pada penelitian ini, permasalahan yang diajukan tentang dapat atau tidaknya pemanfaatan media televisi meningkatkan aktifitas dan kemampuam berbicara siswa serta cara-cara yang harus dilakukan sudah terjawab. Dengan demikian, melalui refleksi diputuskan mengakhiri penelitian ini sampai siklus kedua.

�

Hasil Pelaksanaan Siklus I dan II beserta Pembahasannya

Pada bagian ini akan dibahas tentang temuan-temuan yang dapat dirangkum melalui pengamatan, diskusi, dan evaluasi pada pelaksanaan siklus I dan II.

Berdasarkan pengamatan dapat diuraikan bahwa pemanfaatan media televisi ternyata dapat memotivasi semangat belajar (berbicara) siswa kelas IX E sehingga aktifitas belajarnya meningkat. Peningkatan itu dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1

Perbandingan Nilai Aktifitas Belajar Siswa dari Pembelajaran Pratindakan sampai dengan Tindakan Siklus II

No.

Aktifitas

Pratindakan

Siklus I

Siklus II

Keterangan

Nl

Kt

Nl

Kt

Nl

Kt

1.

Partisipasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran

75

HC

85

LDC

91

BS

Meningkat

2

Respon siswa terhadap uraian guru

75

HC

90

BS

90

B

Meningkat

3.

Respon siswa terhadap uraian temannya

60

K

75

K

90

B

Meningkat

4.

Aktifitas siswa dalam mengikuti pelajaran

60

K

85

LDC

90

B

Meningkat

5.

Aktifitas siswa dalam berdiskusi

65

K

85

B

92

BS

Meningkat

6.

Ketekunan siswa dalam belajar

65

K

85

B

90

B

Meningkat

7.

Perhatian siswa terhadap kegiatan pembelajaran

60

K

80

C

90

B

Meningkat

 

Rata-Rata

65,7

HC

83,6

LDC

90,4

B

Meningkat

Keterangan :

Nl = Nilai������� Kt = Kategori ������������ K = Kurang���������������� C = Cukup

B = Baik��������� BS = baik sekali� ������� LDC = lebih dari cukup���������������������

 

Pada tabel 1 dapat dilihat adanya peningkatan aktifitas siswa dalam belajar berbicara setelah memanfaatkan media televisi sebagai sumber belajar. Peningkatan tersebut terjadi pada setiap komponen aktifitas. Rata-rata nilai aktifitas secara klasikal saat pratindakan hanya 65,7 dikategorikan hampir cukup, sedangkan siklus I 83,6 (lebih dari cukup), dan siklus II 90,4 (baik). Jadi ada peningkatan 17,9 pada siklus I dari pratindakan dan 6,8 pada siklus II dari siklus I. Dari hasil diskusi peneliti dengan siswa dan pengamat dapat diketahui penyebabnya antara lain siswa menyukai teknik pembelajaran ini.

Meningkatnya aktifitas belajar siswa membawa dampak pada hasilnya sehingga kemampuan berbicaranyapun meningkat pula. Pada awalnya, siswa tidak mampu berbicara secara sistematis, pilihan kata tidak tepat, tidak lancar, bahkan ada beberapa siswa tidak berani berbicara secara formal. Setelah memanfaatkan tayangan acara pada media televisi sebagai sumber belajar, kemampuan berbicara siswa meningkat. Pada tabel berikut disajikan perbandingan nilai yang diperoleh siswa dari pembelajaran pratindakan sampai tindakan siklus II.

Tabel 2.

Perbandingan Nilai Hasil Belajar Siswa dari Pratindakan sampai dengan Siklus II

No.

Nama Siswa

Nilai

Keterangan

Pratindakan

Siklus I

Siklus II

1.

Titin Rafitah

60

78

84

Meningkat

2.

Vivin Kurniawati

60

78

83

Meningkat

3.

Putu Meta Listya

78

84

95

Meningkat

4.

Made Rina Y.

70

85

90

Meningkat

5.

G. A. Ade Trisna

65

85

91

Meningkat

6.

I. A.Suara Swati

77

81

90

Meningkat

7.

A. A. Alit Dwi

70

85

89

Meningkat

8.

Kd. Riki A.

60

74

82

Meningkat

9.

Kadek Krisna D.

70

82

90

Meningkat

10.

Md. Ery P.

70

82

95

Meningkat

11.

I G. A Adesty Sri

70

82

89

Meningkat

12.

Dw. Pt Armita P.

77

90

98

Meningkat

13.

Luh Sudiani

60

70

77

Meningkat

14.

Pt Indah Pradnya

61

82

95

Meningkat

15.

Kadek sarah S.

63

81

85

Meningkat

16.

Yunita Rahma D.

80

95

100

Meningkat

17.

Dw. A Dian

77

85

98

Meningkat

18.

Pt A. Utariani

77

85

95

Meningkat

19.

S. A. M Latrini

60

70

79

Meningkat

20.

I. A. Ratih A.

66

81

87

Meningkat

21.

�Km. Widnyani

61

81

83

Meningkat

22.

Pt Sarwinda A.

77

81

91

Meningkat

23.

Pt Wiramaswara

78

82

88

Meningkat

24.

G. Ngr. Alit S. P.

71

90

94

Meningkat

25.

I Md Angga S.

71

79

83

Meningkat

26.

I Gd. Surya D.

77

79

88

Meningkat

27.

Md. Adi Java S.

71

85

93

Meningkat

28.

I Md Budiarta

65

79

83

Meningkat

29.

Wyn. Pradnyana

77

84

91

Meningkat

30.

I Wyn. Novawan

64

79

85

Meningkat

31.

I Wyn. Yogianto

60

70

77

Meningkat

32.

I Km A. Budiana

69

85

90

Meningkat

33.

I Nyn. Usadi P.

64

82

85

Meningkat

34.

Gd. A. Suarya p.

70

86

85

Meningkat

35.

I Wyn Baktiyasa

71

70

77

Meningkat

36.

Rian Fatoni B.

50

70

77

Meningkat

37.

Ngh. Arsa A.

70

78

79

Meningkat

38.

Pt Candra W.

77

81

90

Meningkat

39.

Km. Darma S.

65

82

90

Meningkat

40.

Md. B. Yoga D.

77

85

90

Meningkat

41.

IGN Agung P.

69

81

90

Meningkat

 

 

 

 

 

Meningkat

 

Jml Nilai siswa

2822

3323

3601

Meningkat

 

Daya Seraf (%)

68,83

81,05

87,83

Meningkat

 

Ketuntasan (%)

29,27

80,48

100

Meningkat

 

Dari tabel 2 dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa pada siklus II paling tinggi. Daya seraf pada pelaksanaan tindakan siklus II mencapai 87,83% dikategorikan baik, bahkan ketuntasan belajar mencapai 100%. Perolehan nilai tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan lebih-lebih bila dibandingkan dengan nilai pratindakan. Peningkatan daya seraf belajar siswa dari pratindakan ke siklus I sangat signifikan yaitu sebesar 12,22%, lebih-lebih ketuntasan belajar sebesar 51,21%, sedangkan dari siklus I ke siklus II ada peningkatan daya seraf sebesar 6,78% dan ketuntasan sebesar 19,52%.

Walaupun demikian masih ada lima orang siswa yang memperoleh nilai berkategori cukup. Terhadap lima orang ini akan dilakukan bimbingan individual lebih intensif. Dalam hal ini perlu diperhatikan nilai yang diperoleh lima orang siswa ini merupakan nilai yang sudah mengalami peningkatan dari sebelumnya.

Melalui penelitian ini, berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi peneliti dengan siswa maupun pengamat dapat diuraikan bahwa peningkatan aktifitas dan kemampuan siswa dalam berbicara disebabkan oleh beberapa faktor.

1.      Melakukan persiapan pembelajaran dengan cara menugaskan siswa menonton acara televisi yang disukainya, kemudian berlatih mengungkapkan kembali secara lisan dengan bahasanya sendiri.

2.      Memberi keleluasaan kepada siswa terkait teknik penyampaiannya.

3.      Mengingatkan siswa sedapat mungkin menyampaikan materi pembicaraan yang beragam agar pembelajaran tetap menarik karena informasi yang disimaknya baru dan bervariasi.

4.      Agar bisa berbicara dengan lancar, selain latihan berbicara perlu juga menyiapkan catatan kecil yang berisi garis-garis besar yang akan dibicarakan.

Agar siswa lebih antusias dalam belajar, pembelajaran perlu diselingi dengan kegiatan resiprokal yaitu dengan bertanya jawab atau memberi tanggapan. Hal ini selain dapat meningkatkan aktifitas dan kemampuan siswa dalam berbicara juga dapat meningkatkan kemampuan menyimaknya, mengingat dua kegiatan tersebut selalu berkaitan.

 

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan terhadap hasil yang diperoleh dari pelaksanaan siklus I dan II, dapat ditarik simpulan bahwa hipotesis yang menyatakan �jika proses pembelajaran berbicara memanfaatkan media televisi sebagai sumber belajar dan disertai dengan prosedur penerapan yang tepat , aktifitas belajar siswa akan meningkat� sehingga akan meningkat pula kemampuan berbicaranya� tercapai atau dapat dibuktikan kebenarannya. Pemanfaatan media televisi yang disertai cara penerapan yang tepat terbukti dapat meningkatkan aktifitas belajar dan kemampuan berbicara siswa.

�Peningkatan aktifitas belajar berbicara terjadi pada setiap komponen penilaian aktifitas. Aktifitas yang diberi penilaian secara klasikal dan bersifat kuantitatif saat pratindakan hanya 65,7 dikategorikan hampir cukup, sedangkan siklus I 83,6 (lebih dari cukup), dan siklus II 90,4 (baik). Jadi ada peningkatan 17,9 pada siklus I dari pratindakan dan 6,8 pada siklus II dari siklus I.

�Peningkatan aktifitas belajar mengakibatkan peningkatan kemampuan berbicara siswa. Hal itu terlihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Peningkatan daya seraf belajar siswa dari pratindakan ke siklus I sangat signifikan yaitu sebesar 12,22%, lebih-lebih ketuntasan belajar sebesar 51,21%, sedangkan dari siklus I ke siklus II ada peningkatan daya seraf sebesar 6,78% dan ketuntasan sebesar 19,52%.

Aktifitas belajar dan kemampuan berbicara siswa meningkat karena peneliti telah menerapkan beberapa cara dalam pembelajaran berbicara ini yaitu sebagai berikut.

1.    Membuat persiapan pembelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa untuk menonton dan menyimak televisi yang sesuai minatnya, kemudian setelah itu siswa berusaha mengungkapkan dengan mengulangkan bahasa yang disampaikan dengan caranya sendiri,

2.    Memberikan pengetahuan dari hasil pengalaman kepada siswa terkait dengan teknik penyampaian,

3.    Materi yang disampaikan agar variatif sehingga proses pembelajarannya tidak monoton dan membosankan,

4.    Membuat catatan-catatan garis besar terkait apa yang akan dibicarakan atau disampaikan, sehingga melalui catatan tersebut siswa dapat berbicara secara sistematis,

5.    Diberikan waktu tanya jawab dan menanggapi materi pembelajaran. Tahapan tersebut tentu dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam gaya berbicara atau kemampuan retorikanya. Kemudian, selain itu juga melalui tahapan tersebut siswa akan menambah kemampuan menyimaknya, mengingat dua kegiatan tersebut selalu berkaitan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Aswin. 1999. �Pentingnya Delapan Kompetensi Dasar dalam Pendidikan Menjelang Millenium 3� dalam Buletin Pusat Perbukuan. Edisi November (hlm 12-14)

 

Wiyanto, Asul. tt. Pidato Ceramah dan Diskusi. Gresek: CV. Bintang Jaya.

 

Kurt Lewin, 1990. Action Research Minotiry Problem. Victoria: Deaklin University.

 

 

.