����� Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia p�ISSN: 2541-0849

������ e-ISSN : 2548-1398

������ Vol. 3. No. 10 Oktober 2018

 

 


NILAI-NILAI DAKWAH ISLAM DAN BUDAYA SUNDA DALAM WAYANG GOLEK PADA TOKOH ASTRAJINGGA LAKON CEPOT KEMBAR (ANALISIS SEMIOTIKA UMBERTO ECO)

 

Andri Hendrawan dan Rizka Yulianti

Sekolah Tinggi Ilmu Agama Persatuan Islam (STAIPI) Persis Bandung

Email: [email protected] dan [email protected]

 

Abstrak

Nilai-Nilai dakwah adalah pesan yang berisi intisari ajaran agama Islam yang meliputi aqidah, syariah, dan akhlak yang harus disampaikan kepada seluruh umat manusia khususnya umat Islam. Dalam proses berdakwah seorang da�i harus menguasai pengetahuan tentang kondisi objek dakwahnya. Salah satu objek dakwah. adalah masyarakat Sunda yang bertempat di Jawa Barat. Di samping itu. nilai dakwah dalam proses penyampaiannya diperlukan sebuah media. Salah satu media dakwah yang ada di Jawa Barat adalah wayang golek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai dakwah apa sajakah yang ada dibalik pertunjukkan sebuah wayang. Salah satunya adalahLakon Cepot Kembar sekaligus untuk mengetahui karakteristik masyarakat Sunda sebagai salah satu objek dakwah. Penelitian ini dilakukan dengan mengobservasi video Lakon Cepot Kembar untuk kemudian dianalisis video mana sajakah yang mengandung nilai-nilai dakwah dan budaya Sunda. Hampir semua 11 video dalam lakon Cepot Kembar tersebut teridentifikasi mengandung nilai-nilai dakwah dan budaya Sunda. Yang dapat dilihat dari dialog atau bahasa yang digunakannya. Adapun nilai-nilai dakwah Islam yang ada di dalamnya meliputi [1] Aqidah: iman kepada Allah. [2] iman kepada Kitab-Nya. [3] iman kepada Rasul-Nya. [4] iman kepada takdir (qadha dan qadar). [5] iman kepada hari akhir. Yang tidak dibahas dalam video ini hanyalah iman kepada malaikat. Adapun karakteristik masyarakat suku Sunda sangat terlihat jelas dalam video lakon ini dari segi budaya bahasanya. Lakon Cepot Kembar ini secara kesuluruhan ditinjau dari an�lisis semiotika Umberto Eco dari segi kata-kata dan atau bahasa. banyak mengungkapkan tentang nilai-nilai dakwah Islam yang meliputi akidah. syariah. dan akhlak. Sekaligus mencerminkan bagaimana karakteristik budaya masyarakat Sunda yang tergambar dalam peribahasa-peribahasanya. Sebab itu. kegiatan menulis buku mengenai gagasan dan pengetahuan mengenai wayang golek dan budaya Sunda sudah semestinya untuk lebih giat dilaksanakan lagi guna membangun masyarakat yang berbudaya dan berperadaban.

 

Kata Kunci: Nilai Dakwah, Wayang Gole, Analisis Semiotik.

 

 

 

 

Pendahuluan

Islam diturunkan ke bumi dengan membawa misi rahmatan lil alamin (kesejahteraan untuk seluruh alam). dengan misi tersebut Islam memposisikan diri sebagai agama yang akomodatif dan persuasif dalam menghimpun dan menyempurnakan ajaran keagamaan yang telah ada sebelumnya. Sejak awal kehadirannya di muka bumi. Islam terus melakukan sebuah ekspansi dalam menyebarkan ajaran rahmatnya ke seluruh penjuru bumi. Kegiatan tersebut dikenal dengan istilah Dakwah.

Dakwah adalah upaya mentransformasikan pesan-pesan ajaran keagamaan (Islam). kepada seluruh manusia di penjuru bumi sebagai ajaran yang membawa misi Rahmatan lil alamin (kesejahateraan bagi seluruh alam). Dalam proses menginternalisasikannya. dakwah memiliki materi atau pembahasan tertentu. yang disebut dengan pesan dakwah atau nilai-nilai dakwah. Niali-nilai dakwah Islam sebagai sebuah ajaran agama memiliki tiga dimensi. diantaranya akidah. syariah dan muamalah atau akhlak.

Akidah secara harfiah artinya ialah ikatan. Akidah menjadi sangat urgent untuk diinternalisasikan ke dalam pemahaman manusia karena akidah akan menghasilkan sebuah sikap iman kepada Allah swt. kitab-kitab Allah. rasul-rasul Allah. juga kepada qadha dan qadhar-Nya atau takdir. Dari pemahaman terhadap akidah akan menghasilkan sebuah sikap yang disebut dengan kesadaran bersyari�ah (beribadah kepada Allah dengan ikhlas). Dari kesadaran untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas itulah kemudian menghasilkan sebuah sikap hidup yang lurus dan berintegritas satu sama lain untuk kebenaran dan kesejahteraan yang disebut akhlak.

Sebab itulah dakwah menjadi penting dan merupakan kebutuhan bagi setiap manusia. Tetapi meskipun dakwah adalah sebuah hal yang penting dan dibutuhkan bagi setiap manusia. pada realitanya terdapat anomaly bahwa tidak semua manusia suka dan mau untuk menerima dakwah. Dalam hal ini. dakwah juga erat kaitannya dengan hidayah atau petunjuk dalam berdakwah. juga dibutuhkan sebuah media atau alat yang dapat digunakan sebagai penyampai nilai ajaran Islam. dan salah satu media yang dapat digunakan untuk berdakwah di daerah Jawa Barat (untuk orang Sunda) adalah wayang golek. Wayang golek dalam substansinya sebagai sebuah karya seni yang luhur juga memiliki banyak simbol yang di tunjukkan dalam bentuk warna. ekspresi. bahasa. dan lainnya yang dapat diketahui melalui kajian semiotika.

Di samping itu. wayang golek yang mempunyai fungsi sebagai media komunikasi (penyampai pesan). ternyata memiliki karakteristik yang unik dibandingkan dengan media komunikasi lainnya. sebab didalam setiap lakon dan cerita pewayangan tersebut mengandung unsur kebudayaan yang menjadi sebuah representasi atas kehidupan masyarakat di suatu wilayah tertentu. yang dalam hal ini adalah masyarakat Sunda.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. yaitu dengan memperhatikan permasalahan yang ada. sebuah metode penelitian yang bersifat normatif dan deduktif. Pendekatan yang digunakan dalam metode penelitian ini adalah kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku. persepsi. motivasi. tindakan. dan lain-lain. Secara holistik. dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan menempatkan berbagai metode alamiah.

Pendekatan kualitatifadalah jenis penelitian yang meghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau dengan cara-cara lain atau kuantifikasi (pengukuran).

Penelitian ini dilakukan dengan cara melihat sebuah video mengenai tokoh Astrajingga/Cepot dalam sebuah pertunjukkan wayang yang berjudul �Cepot Kembar�. Untuk kemudian dilakukan sebuah penelitian dalam bentuk metode deskriptif yakni suatu jenis penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan dan mneginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya. Sedangkan tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variabel dan indikator tentang suatu makna dari simbol budaya Sunda yang dimiliki atau dipakai oleh tokoh Astrajingga/Cepot yang memiliki nilai-nilai dakwah. Biasanya. penelitian deskriptif seperti ini menggunakan metode survey.

1. Jenis Data����������������������������������������������������������������������������������

����������� Jenis data yang digunakan adalah kualitatif yang menggambarkan makna-makna dibalik simbol budaya Sunda pada tokoh Astrajingga/Cepot yang memiliki nilai-nilai dakwah didalamnya. dalam sebuah video pertunjukkan atau lakon wayang golek yang berjudul �Cepot Kembar� .

2. Sumber Data

a. Sumber Data Primer : adalah video pertunjukkan wayang golek yang berjudul �Cepot Kembar�.

b. Sumber Data Sekunder : adalah berupa dokumentasi dari catatan. buku-buku. majalah. foto. video. film. dan arsip data juga data lainnya yang ada hubungannya dengan penelitian ini.

3. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan video dan gambar Cepot. peneliti menonton file dari media internet. Gambar atau video itulah yang kemudian dijadikan bahan untuk menganalisis penelitian ini. Untuk melengkapi data penelitian dipergunakan pula studi kepustakaan untuk mencari referensi yang sesuai dengan tujuan penelitian.

����������� Adapun untuk pelaksanaan penelitian ini. teknik pengumpulan data yang akan dilakukan adalah melalui: �����������������������������������

a. Observasi (pengamatan)

����������� Observasi adalah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Observasi adalah pengujian secara intensional atau bertujuan untuk sesuatu hal. khususnya untuk maksud pengumpulan data. yang merupakan satu verbalisasi mengenai hal-hal yang diamati.

����������� Observasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengamati video pertunjukkan wayang golek yang berjudul �Cepot Kembar�.

b.Wawancara

����������� Wawancara (interview) adalah suatu percakapan. tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih yang duduk berhadapan secara fisik dengan bertatap muka dengan tujuan untuk memperoleh informasi faktual.

c. Dokumentasi

����������� Metode dokumentasi adalah suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen berupa catatan yang tersimpan, yaitu catatan, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, agenda. dan sebagainya. Dokumen sebagai sumber data banyak dimanfaatkan oleh para peneliti, terutama untuk menguji, menafsirkan dan bahkan untuk meramalkan.

4. Analisis Data

����������� Analisis data adalah menguraikan data, mencari. mengkaji dan mengolah data yang telah terkumpul dengan sistematis dari pencatatan hasil wawancara, observasi, dokumentasi untuk meningkatkan pemahaman peneliti mengenai masalah yang sedang diteliti sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang bermanfaat dengan cara dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif.

����������� Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan semiotika model Umberto Eco seperti signifikasi dan komunikasi yang dibingkai dalam sebuah metode yang disebut teori kode dan teori produksi tanda, yang digunakan untuk menguraikan makna dibalik sebuah simbol, dalam hal ini simbol-simbol yang terdapat pada tokoh Astrajingga/Cepot dalam sebuah video pertunjukkan wayang golek yang berjudul �Cepot Kembar�. Eco menyebutnya, bahwa signifikasi adalah sebuah metode untuk mengurai makna secara hakikat dari adanya sebuah simbol itu diciptakan. Adapun interpretasi komunikasi adalah sebuah metedo pengurai makna untuk mengetahui maksud (fungsi) dibalik si pembuat tanda dengan yang memberi tanda.

Konten Analisis pada teori semiotika umum menggunakan teori signifikasi dan komunikasi yang terdiri dari teori kode dan teori produksi tanda kemudian menyimpulkan.

 

Hasil dan Pembahasan

1. Sinopsis Lakon Cepot Kembar

Lakon Cepot Kembar ini bukan dalam arti Cepot mempunyai saudara kembar. melainkan ada satu wayang yang menyamar menjadi Cepot, sehingga seolah-olah dalam lakon tersebut Cepot mempunyai saudara kembar. Dewa Sang Hyang Tunggal sengaja menyamar menjadi Cepot untuk memberikan satu pengajaran kepada masyarakat wayang yang tinggal di suatu negeri yang bernama Amarta. Konon di negeri tersebut sering sekali terjadi huru-hara. rakyatnya banyak yang berdemo. alamnya banyak terjadi musibah. dan huru-hara lainnya. Usut punya usut. kekacauan yang terjadi pada saat itu. dikarenakan banyak masyarakatnya yang sudah meninggalkan norma-norma masyarakat yang seharusnya mereka laksanakan. yang sudah tertuang dalam point-point Layang Jamuskalimusada.

Amarta ini merupakan suatu negara bagian dari Hastinapura. Hastinapura merupakan pusat kerajaan dalam cerita pewayangan dalam kitab Mahabharata. Jika dibandingkan dengan kerajaan yang ada di Nusantara. maka Hastinapura ini ibarat kerajaan Majapahit yang mempunyai kerajaan-kerajaan turunan yang memiliki raja dan sistem pemerintahan tersendiri. seperti kerajaan Demak. Mataram. Blambangan dan lainnya.

Amarta ini merupakan kerajaan yang didirikan oleh para Pandawa. karena kerajaan Hastinapura yang merupakan kerajaan peninggalan dari ayah Pandawa dikuasai secara licik oleh saudaranya yakni dari golongan Kurawa.

Amarta adalah sebuah negara yang mempunyai falsafah negara yang disebut Pancadharma. dan diwujudkan dalam bentuk simbol Layang Jamuskalimusada. Layang Jamuskalimusada ini adalah simbol dari keagungan negara Amarta yang berisikan falsafah bernegara. masyarakat Amarta.

Pada suatu waktu. diceritakan di tempat itu banyak masyarakat mulai dari petinggi-petingginya samapai dengan rakyat jelatanya telah banyak melupakan intisari dari Layang Jamuskalimusada tersebut yang mengakibatkan banyak terjadi kehancuran dan kekacauan dalam negara tersebut. Karena itu Dewa Sang Hyang Tunggal turun ke Amarta berwujud si Cepot untuk kemudian mencuri Layang Jamuskalimusada agar kemudian para petinggi pemerintahan sibuk mencarinya. dan pada saat itulah kemudian Dewa Sang Hyang Tunggal bisa menyampaikan suatu pengajaran kepada masyarakat supaya kembali kepada dasar falsafah bernegara mereka.

������ Layang Jamuskalimusada ini merupakan lambang keagungan bagi sebuah negara di pawayangan yakni negara Amarta. Layang Jamuskalimusada ini bisa mempunyai dua makna yakni sebagai simbol keagungan falsafah negara dan kalau dalam keagamaan berupa kitab suci. Masyarakat petinggi dan rakyat selalu membanggakan lambang tersebut tetapi tidak paham terhadap apa yang menjadi isi dari lambang keagungan tersebut. Mereka berbangga dengan Layang Jamuskalimusada ini. sebab hanya kerajaan merekalah yang memiliki lambang keagungan tersebut yang dengannya masyarakat yang plural dapat disatukan dalam satu falsafah negara yang mampu menyatukan mereka dalam ideologi hingga aktivitas diri dalam bernegara.

Point-point yang terkandung dalam Layang Jamuskalimusada ini ada lima yang disebut dengan Pancadharma. Panca artinya lima dharma artinya dasar. Diantaranya ialah: ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.

Setelah mengetahui bahwa Layang Jamuskalimusada telah dicuri oleh si Cepot, kemudian para tentara negara atau wayang dari kalangan ponggawa sibuk mencari keberadaan si Cepot yang konon katanya melarikan diri ke sebuah hutan bernama Tumaritis. Setelah bertemu. Cepot dan para Ponggawa berdebat atau beradu argumen, diantaranya ada yang sadar ada yang tidak, Diantara yang sadar adalah Bima yang berperan sebagai Gubernur dalam kerajaan Amarta.

Kisah akhir dari lakon Cepot Kembar ini ialah, bahwa semua petinggi atau semua staf pemerintahan dalam kerajaan Amarta menjadi sadar, bahwa selama ini mereka terlalu memuja simbol Layang Jamuskalimusada tetapi tidak pernah mengamalkan satu point pun dalam kelima pancadharmanya. Diantaranya. para pemimpin selalu berlaku sewenang-wenang kepada rakyat, selalu main hakim sendiri dan berlaku kasar kepadarakyat jelata, tetapi saling bersatu dan berkasih sayang kepada rakyat yang memang mempunyai kedudukan tinggi dalam kerajaan. Sedangkan Layang Jamuskalimusada mengajarkan agar masyarakat senantiasa berlaku kemanusiaan dengan mengedepankan rasa kasih dan sayang.

 

2. Deskriptif Naratif Lakon Cepot Kembar

a. Backsound: Kawih (Lagu)

Sinden: �Ngawitan bubuka lagu anu asli warisan pujangga urang nu wajib dipusti-pusti dasar pangiring dina pagelaran wayang.�

Nayaga : �Kabudayaan. kasenian ka putra putri Indonesia dangerkeun�

Sinden: �Imarjina seni wayang lir jalma. wayang hirup ku dalangna jalma hirup ku gustina. Lalakon di pawayangan mangrupi hiji gambaran. Timbul seni dina wayang lir jalma nu kumeledang boga ciri anu pasti watek nu ngancik na diri. Wayang simbol keur manusa masing-masing teu sarua gelaran di alam dunya boga watek anu beda. watek anu beda-beda.�

 

 

b. Pembukaan: Narasi

Dalang: �Nyalindung abdi ka gusti dina mangpirang-pirang godaan setan anu dilaknat. Kalayan asma-Na Allah anu kagungan sifat murah sifat asih. Maksad medar carita wayang nu jadi perlambang hirup manusa nu gelar di marcapada. Hasil nulis para wali anu di reka ku para pujangga disusun ku para empu linuhung. Hasil gawe bareng. para leluhur anu parantos ngantunkeun. Margi ieu carita wayang teh teu lepas tina simbul silip sindir siloka jeung sasmita. eta nu jadi pipinding guareun urang sadaya di ieu alam marcapada. Kacarios di hiji tempat. nyaeta hiji tempat anu kalingkung ku gunung-gunung, hejo lemok tutumuhan rajegna, hejo lemok dangdaunan rajegna tutumuhan, cur cor cai anu harerang, margasatwa ti sarada. Manuk gede manuk leutik pasuliweur, kembang-kembang warna-warni mapaes pantes. Teu aya sanes ieu patempatan teh, nyaeta pertapaan parewana dialas Saptarengga.�

 

3. Analisis Semiotika Nilai-Nilai Dakwah dan Budaya Sunda Pada Tokoh Astrajingga Dalam Lakon Cepot Kembar.

Identifikasi dan klasifikasi tanda pada penelitian ini dilakukan dengan mengadaptasi jenis-jenis tanda dalam �Lakon Cepot Kembar� berdasarkan hubungan objek dengan tanda yang dikemukakan oleh Umberto Eco mengenai Teori Kode dan Teori Produksi Tanda (Fungsi-Tanda) pada kata-kata dan makna dengan mengikuti teori Hjelmslev yang membagi kajian linguistik kepada dua objek yakni ekspresi (penanda) dan isi (petanda).

Pada dialog yang dibawakan oleh tokoh Astrajingga dalam �Lakon Cepot Kembar�, dapat diidentifikasi dan diklasifikasikan beberapa jenis tanda yang mempunyai keterkaitan antara objek dengan tanda, diantaranya adalah pada tabel berikut:

a.      naon anu di pi lahir ku nabi eta naon? Nyaeta depe-depe handaap asor, tawadhu, nyaahan, deudeuhan, welasan, asihan.

Artinya: apa yang dilahirkan oleh nabi. Yaitu tawadhu (rendah hati), pengasih dan penyayang.

 

 

Signifikasi (Teori Kode)

Isi

Substansi

Ajaran agama yang disampaikan oleh nabi.

Bentuk

  • Saling tolong menolong dalam kebaikan.
  • Tidak sombong atas keilmuan (tidak riya)

Ekspresi

Bentuk

naon anu di pi lahir ku nabi?

apa yang dilahirkan oleh nabi

Substansi

tawadhu, nyaahan, deudeuhan, welasan, asihan

Tabel 1. Signifikasi (Teori Kode)

Komunikasi (Teori Produksi Tanda)

Pesan

Wahana Tanda (Penanda)

naon anu di pi lahir ku nabi eta naon. Nyaeta depe-depe handaap asor, tawadhu, nyaahan, deudeuhan, welasan, asihan.

apa yang dilahirkan oleh nabi. Yaitu tawadhu (rendah hati), pengasih dan penyayang

Makna (Petanda)

Ajaran agama yang dibawakan oleh nabi itu adalah sebuah sikap berupa tawadhu, dan saling mengasihi.

Tabel 2. Komunikasi (Kode Produksi Tanda)

Substansi ekspresi yang ada dalam teori kode semiotika signifikasi dalam dialog Cepot Kembar tersebut, adalah manifestasi nilai dakwah mengenai aqidah yakni keimanan kepada nabi dan ajarannya. Salah satunya adalah ajaran mengenai urgensi akhlak berupa tawadhu dan saling menyayangi sesama. Agama yang mengajarkan akhlak tersebut adalah Islam, yang disampaikan oleh nabi yang bernama Muhammad SAW. Kemudian, itu pun menjadi makna pesan komunikasi berdasarkan teori produksi tanda (fungsi tanda) dalam fenomena kutipan kata-kata dalam dialog Lakon Cepot Kembar tersebut.Berdasarkan wahana tanda dalam teori produksi tanda semiotika komunikasi, dapat dipastikan bahwa tanda tersebut disampaikan dengan membawa tujuan tertentu sesuai dengan kehendak dari Penanda.

Ungkapan Cepot tersebut, jika dikaitkan dengan realita masyarakat saat ini, bermakna sangat dalam, supaya jangan sampai ketika mengaku cinta kepada nabi kemudian diwujudkan dengan hanya memperingati hari kelahirannya saja. Disamping hal itu memang tidak pernah dicontohkan oleh Rasul dan para sahabat, tetapi makna paling dalam dari mengaku cinta kepada nabi menurut Cepot adalah dengan mengamalkan semua ajaran yang disampaikan-Nya. Pengakuan cinta kepada nabi, akan menjadi batal apabila hanya direfleksikan dalam bentuk hura-hura mengadakan pekan raya dalam rangka memperingati maulid nabi tetapi menjalankan ibadah shalatnya masih jarang, zakat enggan, shaum tidak pernah, maka menurut Cepot hal yang demikian adalah hal yang tidak esensial (tidak bermakna).

 

Kesimpulan

Dari hasil temuan penelitian dan pembahasan simpulan yang diperoleh dari data objek penelitian yakni video dialog dalam Wayang Golek Pada Tokoh Astrajingga Lakon Cepot Kembar, adalah sebagai berikut:

1. Nilai-Nilai Dakwah

����������� Nilai-nilai dakwah yang ditemukan dalam video dialog Wayang Golek Pada Tokoh Astrajingga Lakon Cepot Kembar yang diteliti menyimpulkan bahwa sang dalang maestro alm. Asep Sunandar Sunarya. memasukan nilai-nilai dakwah yang meliputi:

  1. Akidah (rukun-rukun iman dalam Islam) seperti iman kepada Allah, iman kepada kitab-kitab-Nya. iman kepada Rasul-Nya. iman kepada takdir, iman kepada hari akhir. Semua ada dalam dialog tersebut. kecuali iman kepada malaikat yang tidak terdapat dalam video dialog Lakon Cepot Kembar.
  2. Syariah (rukun rukun ibadah atau hukum dalam Islam) juga terdapat dalam video dialog Wayang Golek Pada Tokoh Astrajingga Lakon Cepot Kembar. Diantaranya adalah; nilai mengenai ibadah salat, berdoa. dan menolong sesama.
  3. Akhlak. nilai-nilai akhlak dalam video Wayang Golek Pada Tokoh Astrajingga Lakon Cepot Kembar banyak membahas tentang akhlak kepada tetangga, akhlak pemimpin kepada rakyatnya. akhlak rakyat kepada pemimpin.

2. Budaya Sunda

����������� Nilai mengenai budaya Sunda yang menjelaskan mengenai karakteristik masyarakat Sunda pun terkandung dalam video dialog Wayang Golek Pada Tokoh Astrajingga Lakon Cepot Kembar. diantaranya adalah dialog-dialog yang memakai bahasa Sunda dan peribahasa Sunda. seperti:

  1. Pagirang-pagirang tampian.
  2. Nete semplek nincak semplak.
  3. Kabobodo tenjo kasamara tingal.
  4. Silih asah silih asih silih asuh.
  5. Ngereuyeuh nikreuh sanajan bari pateuh
  6. Mulak cangkeung tina punduk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Abuddin Nata. 2013. Metodologi Studi Islam. Jakarta. Rajawali Pers.

 

Asy Syaikh �Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh.Terjemah Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid. Banyumas. Buana Ilmu Islami. cet. ke-1. Jilid-1.

 

Sobana Hardjasaputra. 2005. Ngahuma: Suatu Pola Pertanian Tradisional di JawaBarat Tinjauan Sejarah. Jurnal Universitas Padjadjaran Fakultas Sastra Jurusan Ilmu Sejarah.

 

Abdullah Gymnastiar. 2012. Istiqamah Jalan Kemuliaan. Bandung. SMS Tauhid. cet.ke- 2.

 

Alex Sobur. 2009. Semiotika Komunikasi. Bandung. Rosdakarya. cet.ke-4.

 

AD. EL. Marzdedeq. 2012. Parasit Akidah. Bandung. Sygma Arkanleema.

 

Ajip Rosidi. 2010. Mencari Sosok Manusia Sunda. Jakarta. Pustaka Jaya. cet. ke-1.

 

Asep Sunandar Sunarya. Wayang Golek Lakon Cepot Kembar. Youtube.

 

Antara Layang Jamuskalimusada dan Pancasila. www.google.com

 

Bambang S. Ma�arif. 2010. Komunikasi Dakwah Paradigma Untuk Aksi. Bandung.Remaja Rosadakarya. cet.ke-1.

 

Chris Jenks. 2013. Culture Studi Kebudayaan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. cet.ke-1.

 

Deden Sumpena. 2012. Islam dan Budaya Lokal: Kajian terhadap Interelasi Islam dan����� Budaya Sunda. Jurnal Ilmu Dakwah Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung. vol. 6 No. 19. Edisi Januari-Juni.

 

Dedi Mulyana. 2015. Pengantar Ilmu Komunikasi. Bandung. Remaja Rosdakarya. Cet.Ke-15.

 

Erni Hastuti. 2015. Petatah Petitih Kearifan Lokal Ekonomi dan Bisnis Masyarakat Minang Pedagang Rantau di Jakarta. Jurnal Prosiding PESAT (Psikologi. Ekonomi. Sastra. Arsitektur & Teknik Sipil) Uiversitas Gunadarma- Depok-20-21 Oktober (2015).

 

Emmanuel Sujatmoko. 2010. Hak Warga Negara Dalam Memperoleh Pendidikan. Jurnal Konstitusi. Volume 7. Nomor 1. Februari.

 

Faizal. 2014. Sosisologi Dakwah: Studi Tentang Obyek Forma dan Material Sosiologi Dakwah. Jurnal Ilmu Dakwah da Perkembangan Komunitas Vol. 9 No.1 Januari.

 

Firdaus Saleh. 2005. Teknologi Tepat Guna. Masyarakat dan Kebudayaan. Bandung.Kreasi Wacana. cet.ke-1.

 

Ghofir. 2013. Nilai Dakwah Dalam Kebudayaan Wayang: Pemaknaan Atas CeritaDewa Ruci. Jurnal Dakwah.

 

Hayu A�la Aslami. 2016. Konsep Tazkiyatun Nafs Dalam Kitab Ihya Ulumuddin Karya Imam Al-Ghazali. Skripsi Fakultas Tarbiyyah Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam. Salatiga: Institut Agama Islam Negeri.

 

John Fiske. 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta. Rajagrafindo Persada. ed. 3.cet.ke-1.

 

Jamalia Idrus. 2011. Makna Fi Sabilillah Dalam Al-Qur�an (Suatu Kajian TafsirMaudu�iy). Skripsi Sarjana Ushuluddin. (Riau: Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim.

 

Ki Moesa A. Machfoeld. 2004. Filsafat Dakwah Ilmu Dakwah dan Penerapannya.Jakarta. Bulan Bintang. cet. ke-2.

 

Mohammad Natsir. 2015. Islam dan Akal Merdeka. Bandung. Sega Arsy. cet.ke-1.

 

Maman Sumantri. Atjep Djamaludin. dkk. 1985. Kamus Sunda-Indonesia. (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Nashruddin Syarief. 2010. Menangkal Virus Islam Liberal. Bandung. Persispers. cet.ke-1.

 

Nurudin. 2012. Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta. Rajawali Pers. ed-1. cet.ke-6.

 

Onong Uchjana Effendy. 2008. Dinamika Komunikasi. Bandung. Remaja Rosdakarya. cet.ke-7.

 

R. Gunawan Djajakusumah. 1973. Pengenalan Wayang Golek Purwa Di Jawa Barat. Bandung. Lembaga Kesenian Bandung/Perpustakaan ASTI � Bandung.

 

Ramdani Wahyu. 2008. Ilmu Budaya Dasar. Bandung. Pustaka Setia. cet.ke-1.

 

Shiddiq Amin. Entang Mukhtar. dkk. 2007. Panduan Hidup Berjama�ah DalamJam�iyyah Persis. Bandung: Pimpinan Pusat Persatuan Islam. cet.ke-1.

 

Surajiyo. Jurnal Desain Keindahan Seni Dalam Perspektif Filsafat. Program Studi Teknik Informatika. Fakultas Teknik danMIPA. Universitas Indraprasta PGRI. Jakarta Selatan.

 

Tata Sukayat. 2005. Ilmu Dakwah. Bandung. Simbiosa Rekatama Media. cet.ke-1.

 

Umberto Eco. 2015. Teori Semiotika Signifikasi Komunikasi. Teori Kode. Serta TeoriProduksi-Tanda. Bantu. Kreasi Wacana. cet.ke-5.

 

Udin (Pecinta Wayang Golek asal Subang). Hasil Wawancara: Bandung 2 Agustus 2018.

 

Wahyu Ilaihi. Hefni Harjani. 2007. Sejarah Dakwah. Jakarta. Kencana. cet. ke-1.

 

Wahidin Saputra. 2011. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta. Rajawali Pers. ed-1.

 

Yusuf al-Wabil. 2006. Yaumul Qiyamah Tanda-tanda dan Gambaran Hari KiamatBerdasarkan Sumber-sumber yang Otentik. Jakarta. Qisthi Press. cet.ke-1.

 

Yuli Kurniat Werdiningsih. Nazla Maharani Umaya. Variasi Nama Tuhan Dalam Teks Serat Sastra Gendhing Kajian Akulturasi Terhadap Sastra Suluk. (Universitas Negeri Semarang).

 

Zakaria. 2004. Materi Dakwah Untuk Da�I dan Muballigh. Bandung:Risalah Press.