Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN:
2541-0849 e-ISSN: 2548-1398
Vol. 9, No.
12, Desember 2024
LAPORAN KASUS: PERLEMAKAN HATI AKUT PADA KEHAMILAN
Jeffy Winarta
Wahjudi1, Sulih Yekti
Ngutamani2, Olyvia Yulyani
Khaerul Putri3, Dewi Permata Sari4
Rumah Sakit
Paru Jember, Indonesia1,2,3,4
Email: jeffy.wahjudi@yahoo.com1, sulihsadjah@gmail.com2, belajar.olyvia@gmail.com3, drdewipermatasari@gmail.com4
Abstrak
Perlemakan
hati akut pada kehamilan atau Acute Fatty Liver
of Pregnancy (AFLP) adalah penyakit
obstetri yang ditandai dengan disfungsi hati ibu. AFLP terjadi pada trimester tiga kehamilan dan merupakan kasus kegawatdaruratan obstetri yang jarang terjadi. Laporan kasus ini bertujuan
untuk mengkaji bagaimana mendiagnosis hingga tatalaksana yang tepat pada pasien AFLP yang didapat pada kasus AFLP RS Paru Jember. Penegakan diagnosis
AFLP adalah dengan kriteria Swansea yang didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Tatalaksana AFLP yaitu dengan stabilisasi
dan terminasi kehamilan.
Diagnosis dan tatalaksana yang cepat
dan tepat akan meningkatkan prognosis ibu dan janin lebih baik.
Kata Kunci : AFLP; Swansea; obstetri; terminasi.
Abstract
Acute
Fatty Liver of Pregnancy (AFLP) is an obstetric disease characterized by
maternal liver dysfunction. AFLP occurs in the third trimester of pregnancy and
is a rare case of obstetric emergency. This case report aims to examine how to
diagnose and properly manage AFLP patients obtained in the case of AFLP at
Jember Lung Hospital. The diagnosis of AFLP is confirmed by Swansea criteria
obtained from anamnesis, physical examination, and supporting examination. The
management of AFLP is by stabilization and termination of pregnancy. Fast and
appropriate diagnosis and management will improve the prognosis of the mother
and fetus better.
Keywords: AFLP; Swansea; obstetric; termination.
Pendahuluan
Perlemakan
hati akut pada kehamilan atau Acute Fatty
Liver of Pregnancy (AFLP) adalah kegawatdaruratan obstetri yang ditandai dengan disfungsi hati ibu yang dapat menyebabkan komplikasi hingga kematian pada ibu dan janin (Rosida, 2016; Zhong et al., 2020). AFLP terjadi pada trimester tiga kehamilan dan merupakan kasus yang jarang terjadi. Berdasarkan penelitian tahun 2020, prevalensi AFLP sebesar 1 dari 7.914 kehamilan (Armanto, 2020; Joueidi et al., 2020). AFLP
dapat menyebabkan komplikasi seperti koagulopati, ensefalopati, hipoglikemia, hingga kematian (Wahyuningtias & Nugroho, 2023). Oleh
sebab itu, diperlukan pemeriksaan,
tatalaksana, dan evaluasi yang
tepat pada kasus
AFLP agar prognosis semakin baik bagi ibu
dan janin. Laporan kasus ini bertujuan
untuk mengkaji bagaimana mendiagnosis hingga tatalaksana yang tepat pada pasien AFLP yang didapat pada kasus AFLP RS Paru Jember.
Metode Penelitian
Ny. N, 29 tahun, primigravida, datang ke IGD RS Paru Jember dengan
keluhan muntah disertai mual terus-menerus
sejak 1 hari sebelum masuk rumah
sakit (SMRS). Pasien juga
mengeluhkan nyeri perut kanan atas sejak 4 hari SMRS. Pasien rajin mengkonumsi
vitamin hamil. Riwayat kehamilan pertama, menarki tidak diketahui, siklus haid
teratur (28 hari), hari pertama haid terakhir 03 Juni 2023, hari perkiraan
lahir 10 Maret 2024, dengan antenatal care (ANC) rutin ke bidan dan
dokter spesialis.
Pemeriksaan fisik
didapatkan tanda vital tekanan darah 129/72 mmHg, nadi 88 kali/menit, respiratory rate 20 kali/menit,
suhu 36,6°C, dan saturasi
97% room air. Pemeriksaan antropometri
didapatkan berat badan 68
kg dan tinggi badan 153 cm. Pemeriksaan
fisik kepala dan/atau leher didapatkan
sklera ikterik, pemeriksaan toraks dalam batas normal, pemeriksaan
abdomen didapatkan nyeri tekan kuadran kanan
atas, dan pemeriksaan ekstrimitas didapatkan edema kedua tungkai. Pemeriksaan status obstetri pasien, yaitu tinggi
fundus uteri (TFU) 24 cm, His (-), dan detak jantung janin (DJJ) 134 kali/menit. Pasien tidak
dilakukan pemeriksaan dalam (vaginal toucher / VT).
Hasil dan Pembahasan
|
|
Hasil USG Abdomen sebelum Operasi Hepar : ukuran normal, intensitas echoparenkim tampak meningkat homogen dengan
gambaran Deep attenuation, tak tampak pelebaran IHBD/EHBD, V.porta/V.hepatica
tampak normal, tak tampak mass/nodul/kista Lien :
ukuran normal, intensitas echoparenkim tampak normal homogen, tak tampak
massa/nodul/kista Pankreas
: ukuran normal, intensitas echo parenkim tampak normal homogen, tak
tampak massa/nodul/kista Kantung empedu: ukuran normal, tak tampak penebalan dinding, tak tampak
batu/kista/massa Ginjal kanan : ukuran normal, intensitas echo parenkim
tampak meningkat, batas echo cortex tampak jelas, tak tampak ectasis system
pelviocalyceal, tak tampak batu/massa/kista Ginjal kiri :
ukuran normal, intensitas echo parenkim tampak meningkat, batas echo cortex
tampak jelas, tak tampak ectasis system pelviocalyceal, tak tampak
batu/massa/kista Buli : terisi cukup cairan, tak tampak penebalan dinding, tak tampak
massa/batu Uterus : ukuran normal, intensitas echo parenkim normal, tak tampak massa/kista Adnexa : tak tampak
massa/kista Tak tampak intensitas
echo cairan bebas di cavum abdomen Kesan Moderate fatty liver Parenchymal kidney disease
bilateral Secara sonografi tak
tampak kelainan pada organ intra abdomen lainnya diatas |
Gambar
1. Hasil USG Abdomen sebelum Operasi
Tabel 1. Pemeriksaan Laboratorium sebelum Operasi
|
Pemeriksaan |
Hasil |
Nilai Rujukan |
Satuan |
|
Hematologi |
|
|
|
|
Hemoglobin |
12,9 |
12,3 - 15,3 |
g//dL |
|
Eritrosit |
4,4 |
4,5 - 5,1 |
juta/uL |
|
Hematokrit |
41 |
36 - 45 |
% |
|
MCV |
92 |
80 - 96 |
fL |
|
MCH |
29 |
28 - 33 |
pg |
|
MCHC |
32 |
33 - 36 |
g/dL |
|
Leukosit |
8.140 |
4.400 - 11.300 |
uL |
|
Trombosit |
160.000 |
150.000 - 450.000 |
uL |
|
Fungsi Hati |
|
|
|
|
Bilirubin Direk |
4,5 |
< 0,2 |
mg/dL |
|
Bilirubin Total |
5,6 |
< 1,2 |
mg/dL |
|
SGOT |
315 |
L: < 35; P: < 31 |
U/L |
|
SGPT |
378 |
L: < 41; P: < 31 |
U/L |
|
Alkali Fosfatase |
435 |
L: < 1,2; P: < 1,0 |
U/L |
|
Fungsi Ginjal |
|
|
|
|
BUN |
16,1 |
7,94 - 20,1 |
mg/dL |
|
Kreatinin |
2,7 |
L: < 1,2; P: < 1,0 |
mg/dL |
|
PTT/APTT |
|
|
|
|
PTT |
12,9 |
11,0 - 13,5 |
detik |
|
APTT |
30,2 |
20,0 - 35,0 |
detik |
|
Gula Darah |
|
|
|
|
GDS |
56 |
70 - 200 |
mg/dL |
Pada pemeriksaan USG abdomen didapatkan kesan moderate fatty
liver. Sedangkan, pada pemeriksaan
laboratorium didapatkan peningkatan bilirubin, SGOT, SGPT, alkali fosfatase, dan kreatinin. Pasien juga diperiksa gula darah sewaktu dan didapatkan hasil di bawah normal (hipoglikemia).
Pasien didiagnosis G1P0A0, UK
34-35 minggu, tunggal hidup, dengan acute fatty liver
(AFLP). Pasien dilakukan stabilisasi dan terminasi kehamilan dengan sectio caesarea (SC). Bayi lahir hidup, berat
badan bayi baru lahir 2500 gram, dengan APGAR skor 7-9. Pasien dipindahkan ke ruang rawat inap
dan bayi dipindahkan ke ruang NICU.
Pasien dilakukan evaluasi dari keluhan,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang setelah operasi. Saat evaluasi, tidak didapatkan keluhan pada pasien, tidak didapatkan nyeri abdomen dan sklera ikterik pada pemeriksaan fisik, serta terdapat
perbaikan pada pemeriksaan penunjang laboratorium. Pemeriksaan laboratorium setelah operasi dapat
dilihat pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Pemeriksaan Laboratorium setelah Operasi.
|
Pemeriksaan |
Hasil |
Nilai Rujukan |
Satuan |
|
Fungsi Hati |
|
|
|
|
Bilirubin Direk |
3,5 |
< 0,2 |
mg/dL |
|
Bilirubin Total |
4,5 |
< 1,2 |
mg/dL |
|
SGOT |
86 |
L: < 35; P: < 31 |
U/L |
|
SGPT |
96 |
L: < 41; P: < 31 |
U/L |
|
Alkali Fosfatase |
276 |
L: < 1,2; P: < 1,0 |
U/L |
|
Fungsi Ginjal |
|
|
|
|
BUN |
30,8 |
7,94 - 20,1 |
mg/dL |
|
Kreatinin |
2,3 |
L: < 1,2; P: < 1,0 |
mg/dL |
Pada pemeriksaan
laboratorium didapatkan bilirubin, SGOT, SGPT, alkali fosfatase, dan kreatinin
mengalami penurunan dibandingkan dengan sebelum operasi. Pasien dipulangkan dan
disarankan kontrol kembali melalui poli.
Dua minggu setelah operasi,
pasien kontrol ke poli dan tidak didapatkan keluhan. Pemeriksaan fisik tidak
didapatkan sklra ikterik, nyeri tekan abdomen, maupun edema pada tungkai.
|
|
Hasil USG Abdomen saat Kontrol Poli Dibandingkan dengan
usg abdomen sebelumnya Hepar : ukuran normal,
intensitas echoparenkim tampak normal, tak tampak pelebaran IHBD/EHBD,
V.porta/V.hepatica tampak normal, tak tampak mass/nodul/kista Lien :
ukuran normal, intensitas echoparenkim tampak normal homogen, tak tampak
massa/nodul/kista Pankreas : ukuran normal, intensitas echo parenkim
tampak normal homogen, tak tampak massa/nodul/kista Kantung empedu : ukuran normal, tak
tampak penebalan dinding, tak tampak batu/kista/massa Ginjal kanan : ukuran normal,
intensitas echo parenkim tampak normal, batas echo cortex tampak jelas, tak
tampak ectasis system pelviocalyceal, tak tampak batu/massa/kista Ginjal kiri : ukuran
normal, intensitas echo parenkim tampak normal, batas echo cortex tampak
jelas, tak tampak ectasis system pelviocalyceal, tak tampak batu/massa/kista Buli : terisi cukup
cairan, tak tampak penebalan dinding, tak tampak massa/batu Uterus : ukuran membesar
(post partum), intensitas echo parenkim normal, tak tampak massa/kista Adnexa : tak tampak
massa/kista Tak tampak intensitas
echo cairan bebas di cavum abdomen Kesan Saat ini tak tampak
gambaran fatty liver Parenkim renal kanan kiri saat ini tampak baik Secara sonografi tak tampak kelainan pada organ intra abdomen lainnya
diatas |
Gambar
2. USG Abdomen saat Kontrol
Poli
Tabel
3. Pemeriksaan Laboratorium
saat Kontrol Poli
|
Pemeriksaan |
Hasil |
Nilai Rujukan |
Satuan |
|
Fungsi Hati |
|
|
|
|
Bilirubin Direk |
0,7 |
< 0,2 |
mg/dL |
|
Bilirubin Total |
1,0 |
< 1,2 |
mg/dL |
|
SGOT |
31 |
L: < 35; P: < 31 |
U/L |
|
SGPT |
30 |
L: < 41; P: < 31 |
U/L |
|
Fungsi Ginjal |
|
|
|
|
BUN |
8,2 |
7,94 - 20,1 |
mg/dL |
|
Kreatinin |
0,7 |
L: < 1,2; P: < 1,0 |
mg/dL |
Pada pemeriksaan USG
abdomen dua minggu setelah operasi, hasil pemeriksaan sudah tidak tampak gambaran
fatty liver. Pemeriksaan laboratorium
juga menunjukkan fungsi hati dan ginjal yang normal. Hal ini menunjukkan perbaikan signifikan pada pasien.
Diskusi
Perlemakan hati
akut pada kehamilan atau dapat disebut
Acute Fatty Liver of Pregnancy (AFLP) adalah penyakit obstetri yang ditandai dengan disfungsi hati ibu (Fitriana & Uyun, 2022; Usta et al., 1994). Kasus AFLP dapat ditemukan pada pasien primigravida trimester tiga
(Joueidi et al, 2020). Temuan klinis yang dapat dijumpai seperti, muntah, nyeri
perut, polidipsia atau poliuria, dan ensefalopati. Sedangkan, temuan
laboratorium yang mendukung antara lain peningkatan bilirubin, urea, leukosit,
transaminase, amonia, kreatinin, koagulopati, serta penurunan kadar gula darah
atau hipoglikemia (Aldika Akbar et al., 2019).
Etiologi dan patogenesis
dari AFLP masih perlu diteliti lebih lanjut. AFLP terjadi karena defek
metabolisme asam lemak pada akhir kehamilan yang diduga berperan dalam proses
perlemakan hati. Pada pasien dengan AFLP, oksidasi asam lemak menjadi terganggu
karena adanya defisiensi heterozigot rantai panjang 3-hidroksiasil-koenzim A
dehidrogenase (LCHAD) yang biasa ditemukan pada membran mitokondria untuk
memecah lemak dalam tubuh (Kaplan, 1986; Nelson et al., 2013). Pada kehamilan trimester tiga, asam lemak bebas
akan meningkat untuk pertumbuhan fetoplasenta (Hadi & Kupec, 2019). Janin tidak mampu mengoksidasi asam lemak tersebut
dan ibu juga tidak dapat memetabolisme asam lemak tambahan karena defisiensi
LCHAD (Meng et al., 2021). Oleh sebab itu, asam lemak bebas akan terakumulasi
pada hepatosit ibu dan berkembang menjadi AFLP.
Pemeriksaan baku
emas untuk pasien AFLP adalah biopsi hati. Pada biopsi hati pasien
AFLP didapatkan steatosis mikrovesikular
difus atau perivenular
(Goel et al, 2018). Contoh hasil
biopsi hati pasien AFLP pada beberapa penelitian dapat dilihat pada Gambar 3 (Shi et al., 2021). Namun,
beberapa penelitian tidak menyarankan biopsi hati sebelum
tatalaksana kedaruratan
pada pasien dilakukan (Shi et al., 2021). Hal ini
dikarenakan adanya koagulopati dan tingkat kesulitan yang tinggi dalam melakukan biopsi hati pada ibu hamil trimester tiga. Biopsi hati
dapat dilakukan setelah persalinan dengan tujuan konsultasi
paska kehamilan dan penanganan bayi selanjutnya. Pada kasus Ny. N, pasien tidak dilakukan
biopsi hati.
Gambar 3. Contoh Biopsi Hati AFLP (hematoxylin-eosin staining, perbesaran
200 kali).
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, biopsi hati tidak menjadi
pilihan utama dalam penegakan diagnosis. AFLP dapat ditegakkan dengan kriteria Swansea (Meng et al., 2021). Pasien didiagnosis AFLP apabila ditemukan enam atau lebih kriteria Swansea tanpa
disertai penyebab lain (Hutauruk et al., 2017). Adapun kriteria Swansea adalah
sebagai berikut.
1.
Muntah
2.
Nyeri perut
3.
Polidipsia/poliuria
4.
Ensefalopati
5.
Bilirubin tinggi >14 µmol/l
6.
Hipoglikemia <4 mmol/l
7.
Urea meningkat >340 µmol/l
8.
Leukositosis >11 x 10⁹ /l
9.
Asites atau bright liver pada pemindaian ultrasound
10.
Peningkatan transaminase (AAT atau ALT) >42 IU/l
11.
Amonia tinggi >47 µmol/l
12.
Gangguan ginjal: kreatinin >150 µmol/l
13.
Koagulopati: waktu protrombin >14 detik atau APPT >34 detik
14.
Steatosis mikrovesikular pada biopsi hati
Pada kasus
Ny. N, kriteria Swansea dapat
dilihat melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada
anamnesis didapatkan pasien
mengeluhkan mual dan nyeri perut. Pasien juga merupakan primigravida dengan usia
kehamilan 34-35 minggu (trimester tiga), dimana sesuai dengan literatur bahwa
AFLP terjadi pada kehamilan trimester tiga (Goel et al., 2018).
Pada pemeriksaan
fisik Ny. N didapatkan sklera ikterik dan edema kedua tungkai. Pemeriksaan fisik tersebut tidak disebutkan pada kriteria Swansea,
namun beberapa penelitian menyebutkan bahwa sklera ikterik
dapat menunjukkan adanya peningkatan bilirubin dan
edema dapat menunjukkan hipoalbumin (Meng et al., 2021).
Pada pemeriksaan
penunjang, telah dilakukan pemeriksaan USG abdomen
dan laboratorium. Pemeriksaan
USG menjadi pemeriksaan penunjang yang paling cepat dan sederhana pada AFLP. Pasien dilakukan USG untuk memastikan apakah terdapat kelainan pada hati dan memastikan kondisi janin (Goel et al., 2018). Pada Ny. N sudah dilakukan USG abdomen dan didapatkan
kesan moderate fatty liver.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan, antara lain pemeriksaan darah lengkap, fungsi hepar, fungsi ginjal,
koagulasi, hingga gula darah dikarenakan banyak kasus AFLP disertai dengan hipoglikemia. Berdasarkan kasus Ny. N, didapatkan peningkatan pada beberapa hasil laboratorium dengan nilai sebagai
berikut: bilirubin direk
(4,5 mg/dL), bilirubin total (5,6 mg/dL), SGOT (315 U/L), SGPT (378 U/L),
alkali fosfatase (435 U/L), dan kreatinin
(2,7 mg/dL). Selain itu, didapatkan nilai gula darah sewaktu Ny. N adalah 56 mg/dL, sehingga dikatakan hipoglikemia (< 70
mg/dL).
Setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, AFLP dapat ditegakkan dengan kriteria Swansea. Berdasarkan kasus Ny. N, telah terpenuhi tujuh dari
empat belas kriteria Swansea. Kriteria yang terpenuhi antara lain muntah, nyeri
perut, bilirubin tinggi, hipogligkemia, bright liver pada USG,
peningkatan transaminase, dan peningkatan kreatinin. Hal ini menunjukkan bahwa
Ny. N memenuhi lebih dari enam kriteria Swansea dan dapat didiagnosis AFLP.
Hasil pemeriksaan serta
kriteria yang sudah dilakukan secara tidak langsung juga menyingkirkan
diagnosis banding AFLP. Diagnosis banding kegawatdaruratan obstetri AFLP antara lain preeklamsia, sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver enzyme, and Low
Platelet count), serta ICP (Intrahepatic
Cholestasis of Pregnancy) (Zhong et al, 2020). Adapun perbedaan AFLP dengan diagnosis
banding dapat dilihat pada Tabel 4 (Zhong et al., 2020).
Tabel
4. Perbedaan AFLP dengan
Diagnosis Banding Lainnya.
|
|
AFLP |
HELLP |
Preeklamsia |
ICP |
|
Kondisi klinis |
Nyeri
perut, muntah, polidipsia/poliuria, ensefalopati |
Nyeri
perut, muntah, proteinuria, nyeri kepala, edema pada ekstrimitas |
Nyeri
perut, hipertensi, proteinuria, nyeri kepala, pandangan kabur, edema pada
ekstrimitas |
Pruritus,
jaundice |
|
Bilirubin |
< 10
m/dL |
< 5
m/dL |
< 5
m/dL |
< 5
m/dL |
|
BA(Basic) |
- |
- |
- |
30-100
kali |
|
Asites |
± |
- |
- |
- |
|
Trombositopenia |
±↓ |
±↓ |
↓ |
- |
|
Hipoglikemia |
± |
- |
- |
- |
|
Proteinuria |
±↑ |
±↑ |
↑ |
|
|
Asam Urat |
↑ dalam 80% |
↑ |
↑ |
- |
|
Hemolisis |
- |
↑ |
±↑ |
|
|
Kreatinin |
↑ |
- |
↑ |
- |
|
Ultrasonografi |
Elastografi transien membedakan sindrom HELLP dan AFLP; Hiperekoik
hati atau lemak |
SWE memberikan evaluasi kuantitatif terhadap elastisitas hati. Penurunan aliran darah; infark hati |
Didapatkan
hasil normal pada hati |
Elastografi transien mengamati kekakuan hati; menyingkirkan batu empedu dan penyakit bilier |
Kondisi klinis pasien AFLP dapat memburuk dengan terjadinya ensefalopati, hipoglikemia, asites, hingga komplikasi ruptur hati dan hemoperitoneum apabila tidak ditatalaksana
dengan tepat (Meng et al., 2021). Tatalaksana utama AFLP
adalah tatalaksana suportif dan terminasi kehamilan (Hutauruk et al., 2017). Pada kasus ini, multidisiplin seperti dokter
spesialis obstetri dan ginekologi, dokter spesialis penyakit dalam, dokter
spesialis anak, dan dokter spesialis anestesi sangat diperlukan. Selain itu,
juga dibutuhkan koordinasi kesiapan ruang perawatan NICU. Perawatan suportif
dengan stabilisasi pasien harus dilakukan terlebih dahulu, seperti terapi
hipoglikemia. Setelah stabil, pasien dilakukan terminasi kehamilan. Pasien
dilakukan terminasi kehamilan pada usia kehamilan 34-35 minggu dengan sectio
caesarea (SC) daripada pervaginam karena persalinan pervaginam memerlukan
durasi persalinan yang lebih lama, sehingga dapat berisiko meningkatkan
disfungsi hati dan/atau multiorgan (Goel et al., 2018).
Pada pasien AFLP diperlukan
evaluasi paska persalinan karena dapat terjadi perburukan fungsi hati dan
ginjal pada hari pertama paska persalinan yang bersifat sementara. Fungsi hati
dan ginjal dapat mengalami pebaikan beberapa hari setelah persalinan (Hutauruk et al., 2017).
Berdasarkan kasus, Ny. N kontrol ke poli dua minggu paska persalinan dan
dilakukan evaluasi keluhan pasien, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan
penunjang USG abdomen dan laboratorium. Pasien tidak didapatkan keluhan dan
pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan sklera ikterik, nyeri abdomen, maupun
edema tungkai. Pada pemeriksaan
USG abdomen tidak tampak gambaran fatty liver. Pada pemeriksaan
laboratorium juga didapatkan
fungsi hati dan ginjal normal. Berdasarkan hal tersebut, multidisiplin
sangat diperlukan dalam mendiagnosis dan melakukan tatalaksana pasien AFLP, sehingga prognosis ibu dan janin lebih baik.
Kesimpulan
Pada kasus perlemakan hati akut pada kehamilan atau Acute
Fatty Liver of Pregnancy (AFLP) sangat diperlukan kerjasama multidisiplin agar
pasien dengan AFLP dapat segera didiagnosis dan ditatalaksana dengan tepat.
Pasien dengan AFLP dapat dilakukan stabilisasi dan terminasi kehamilan atau
dapat dirujuk tepat waktu ke fasiltas kesehatan yang memadai. Apabila AFLP
ditatalaksana dengan cepat dan tepat, maka prognosis ibu dan janin lebih baik.
BIBLIOGRAFI
Aldika,
A. M. I., Mayang, S. I., Aditiawarman, D. E. G., & Dekker, G. (2019).
Clinical characteristics of acute fatty liver of pregnancy in a tertiary
Indonesian hospital. The Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine,
32(5), 826–832.
Armanto, R. P. (2020). Deteksi dini perlemakan hati akut
dalam kehamilan (acute fatty liver of pregnancy (AFLP)) dan penanganannya
dengan diet rendah lemak. Keluwih: Jurnal Kesehatan Dan Kedokteran, 1(2),
29–36.
Fitriana, E., & Uyun, Y. (2022). Manajemen Anestesi pada
Wanita Hamil dengan Acute Fatty Liver yang menjalani Seksio Sesarea. Jurnal
Anestesi Obstetri Indonesia, 5(1).
Goel, A., Ch’ng, C. L., Eapen, C. E., Balasubramanian, K. A.,
& Elias, E. (2018). Acute fatty liver of pregnancy: Better understanding of
pathogenesis and earlier clinical recognition results in improved maternal
outcomes. EMJ Hepatol, 6(1).
Hadi, Y., & Kupec, J. (2019). Fatty liver In pregnancy.
Hutauruk, N. M. A. H., Iswari, W. A., Pardede, T. U., Darus,
F., Puspitasari, B., Santana, S., Abidin, F., & Endjun, J. J. (2017).
Membedakan Acute Fatty Liver of Pregnancy dan HELLP Syndrome. Cermin Dunia
Kedokteran, 44(8), 400342.
Joueidi, Y., Peoc’h, K., Le Lous, M., Bouzille, G., Rousseau,
C., Bardou-Jacquet, E., Bendavid, C., Damaj, L., Fromenty, B., & Lavoué, V.
(2020). Maternal and neonatal outcomes and prognostic factors in acute fatty
liver of pregnancy. European Journal of Obstetrics & Gynecology and
Reproductive Biology, 252, 198–205.
Kaplan, M. M. (1986). Acute fatty liver of pregnancy. Obstetrical
& Gynecological Survey, 41(7), 432–434.
Meng, Z., Fang, W., Meng, M., Zhang, J., Wang, Q., Qie, G.,
Chen, M., & Wang, C. (2021). Risk factors for maternal and fetal mortality
in acute fatty liver of pregnancy and new predictive models. Frontiers in
Medicine, 8, 719906.
Nelson, D. B., Yost, N. P., & Cunningham, F. G. (2013).
Acute fatty liver of pregnancy: clinical outcomes and expected duration of
recovery. American Journal of Obstetrics and Gynecology, 209(5),
456-e1.
Rosida, A. (2016). Pemeriksaan laboratorium penyakit hati. Berkala
Kedokteran, 12(1), 123–131.
Shi, Y., Wu, H., Zhou, X., Xu, Q., Zheng, L., Li, D., &
Yao, L. (2021). Analysis of clinical characteristics and genetic testing in
patients with acute fatty liver of pregnancy: a retrospective study. BMC
Pregnancy and Childbirth, 21, 1–7.
Usta, I. M., Barton, J. R., Amon, E. A., Gonzalez, A., &
Sibai, B. M. (1994). Acute fatty liver of pregnancy: an experience in the
diagnosis and management of fourteen cases. American Journal of Obstetrics
and Gynecology, 171(5), 1342–1347.
Wahyuningtias, A. H., & Nugroho, S. H. (2023). The
Influence Of Transformational Leadership And Person-Organizational Fit On
Innovative Work Behavior Through Knowledge Sharing Behavior In Formal Education
Units. Jurnal Pamator: Jurnal Ilmiah Universitas Trunojoyo, 16(1),
190–204.
Zhong, Y., Zhu, F., & Ding, Y. (2020). Early diagnostic
test for acute fatty liver of pregnancy: a retrospective case control study. BMC
Pregnancy and Childbirth, 20, 1–6.
|
Copyright
holder: Jeffy Winarta Wahjudi,
Sulih Yekti Ngutamani, Olyvia Yulyani Khaerul Putri, Dewi
Permata Sari (2024) |
|
First
publication right: Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia |
|
This
article is licensed under: |