Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 9, No. 12, Desember 2024

 

HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN DENGAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) PADA PASIEN TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS TUGU DAN PUSKESMAS CIKEDUNG KABUPATEN INDRAMAYU

 

Dosi Ahmad Yani1,  Ahmad Azrul Zuniarto2, Dwi Putri Cantika3

Universitas YPIB, Indonesia1,2,3

Email: dosi.ahmadyani@gmail.com1

 

Abstrak

Indonesia adalah negara dengan kasus TB tertinggi kedua di dunia dengan insiden sebanyak 397.377 kasus pada tahun 2021. Salah satu kejadian TB terbanyak berasal dari Kabupaten Indramayu Jawa Barat tercatat 3.142 kasus (Dinkes  Provinsi Jawa Barat, 2021). Pemberian OAT sebagai pengobatan pada TB perlu memperhatikan beberapa hal antara lain kepatuhan pengobatan (Kemenkes, 2020). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan dengan efektivitas penggunaan OAT serta mengetahui hubungan antara kepatuhan dan efektivitas dengan sosiodemografi penduduk. Populasi penelitian ini adalah pasien TB di Puskesmas Tugu dan Puskesmas Cikedung Kabupaten Indramayu yang melakukan pengobatan pada September 2023 sampai Maret 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif observatif dengan pengumpulan data secara retrospektif maupun prospektif berdasarkan kartu pengobatan pasien TBC. Data kepatuhan diambil melalui pengisian kuesioner MMAS-8 dan data efektivitas diambil dengan mencatat pemeriksaan ulang sputum dari software SITB (Sistem Informasi Tuberkulosis). Analisis data menggunakan  uji Chi square  terdiri dari: analisis kepatuhan, analisis efektivitas, hubungan kepatuhan dan efektivitas serta hubungan kepatuhan dan efektivitas berdasarkan data sosiodemografi responden. Hasil penelitian dari 30 responden menunjukan tingkat kepatuhan penggunaan obat TB sebesar 83,3% termasuk dalam tingkat kepatuhan tinggi, efektivitas penggunaan obat TB sebesar 93%, terdapat hubungan antara kepatuhan dengan efektivitas penggunaan obat TB dan tidak ada hubungan pada kepatuhan dan efektivitas penggunaan obat TB berdasarkan data sosiodemografi penduduk.

Kata kunci: Efektivitas, Kepatuhan, Tuberkulosis, sosiodemografi

 

Abstract

Indonesia is the country with the second most number of TB cases in the world with an incidence of 397,377 cases in 2021. One of the highest incidences of TB came from Indramayu Regency, West Java, with 3,142 cases recorded (Dinkes Provinsi Jawa Barat, 2021). Giving OAT as a treatment for TB requires paying attention to several things, including treatment compliance (Kemkes, 2020). The aim of this research is to determine the relationship between compliance and the effectiveness of OAT use and to determine the relationship between compliance and effectiveness with community sociodemographics. The population of this study was TB patients at the Tugu Primary Health Center and Cikedung Primary Health Center, Indramayu Regency who underwent treatment from September 2023 to March 2024. The research method used was an observational descriptive method with retrospective and prospective data collection based on TB patient treatment cards. Data was taken by filling in the MMAS-8 questionnaire and effectiveness data was taken by recording sputum re-examinations from the SITB (Tuberculosis Information System) software. Data analysis using the Chi square test consists of: compliance analysis, effectiveness analysis, the relationship between compliance and effectiveness and the relationship between compliance and effectiveness based on the respondent's sociodemographic data. The results of research from 30 respondents showed that the level of compliance with TB drug use was 83.3%, including a high level of compliance, the effectiveness of TB drug use was 93%, there was a relationship between compliance and the effectiveness of TB drug use and there was no relationship between compliance and the effectiveness of TB drug use based on sociodemographic data of the population.

Keywords: Adherence, Effectiveness, Tuberculosis, sociodemographic

 

Pendahuluan

Hingga saat ini Tuberkulosis (TB) paru masih merupakan masalah kesehatan yang tersebar hampir seluruh negara dimana tingkat kasus tuberkulosis masih tinggi dan merupakan salah satu penyebab kematian di seluruh dunia (Fadhillah & Setiyadi, 2023; Mandeka & Flora, 2023; Yuniar et al., 2017). Berdasarkan Global Tuberculosis Report WHO 2022, pada tahun 2021 Indonesia menjadi negara peringkat kedua dengan kasus TB paru terbanyak di dunia setelah India dengan insiden sebanyak 397.377 kasus, jumlah kasus tertinggi dilaporkan dari Provinsi dengan jumlah penduduk yang besar yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Kasus TB paru di ketiga Provinsi tersebut menyumbang angka sebesar 44% dari jumlah seluruh kasus TB di Indonesia (Dinkes Kabupaten Indramayu, 2022).

Case Notification Rate (CNR) merupakan jumlah semua kasus TB yang diobati dan dilaporkan di antara 100.000 penduduk yang ada di suatu wilayah tertentu. Di Indonesia CNR tahun 2021 sebesar 146 per 100.000 penduduk. Angka ini meningkat dibanding dengan CNR tahun 2020 130 per 100.000 penduduk. Hal ini menggambarkan adanya peningkatan kasus TB Paru pada tahun 2021 berdasarkan Profil Kesehatan Kemenkes pada tahun 2022.

Pada 2021, Kabupaten Indramayu melayani 3.142 kasus terduga TB paru, dengan 813 kasus positif TB paru bakteriologis, termasuk 45 kasus pada kelompok usia 0-14 tahun. Angka Case Notification Rate (CNR) mencapai 44 per 100.000 penduduk, mencerminkan tingkat kejadian TB paru. Tahun sebelumnya, di tahun 2020, terdapat 530 kasus baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis yang diobati, dengan total 1.057 kasus. Tingkat pengobatan lengkap (Complete Rate) 58,1%, tingkat kesembuhan (Cure Rate) 26%, dan tingkat keberhasilan pengobatan (Success Rate) 71,1%. Jumlah kematian selama pengobatan adalah 17 orang atau 1,6% (Dinkes Kabupaten Indramayu, 2022).

Pasien TB paru dinyatakan sembuh apabila setelah 6 bulan pengobatan, dilakukan pemeriksaan dahak kembali di laboratorium jika tidak terdapat bakteri TB (BTA, Bakteri Tahan Asam) maka penderita dinyatakan sembuh (Ningtyias et al., 2024). Konversi merupakan perubahan hasil BTA positif pada awal pengobatan dan negatif pada akhir pengobatan intensif, konversi sputum BTA merupakan indikator penting dalam menilai keberhasilan pengobatan TB (Mahendrani et al., 2020).

Ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan berakibat tingginya angka kegagalan terapi sehingga  dapat meningkatkan  resiko  kesakitan, kematian  dan  semakin  banyak ditemukan penderita tuberkulosis paru yang resistan dengan pengobatan standar. Pasien resistan tersebut akan menjadi sumber penularan kuman bagi individu lain (Pameswari et al., 2016).

Pada penelitian oleh Jamaluddin tingkat kepatuhan pasien TB Paru sebesar 75% (Jamaluddin, 2019) kemudian pada penelitian oleh Supartiningsih dan Ainun menunjukkan persentase hasil yang sama TB Paru yaitu sebesar 50% (Supartiningsih & Ainun, 2021) namun pada penelitian Delani tingkat ke Supriatun dan Insani  (2021)patuhan pasien TB Paru menurun menjadi sebesar 46%. Ketidakpatuhan dapat disebabkan oleh lamanya durasi pengobatan TB menyebabkan pasien merasa bosan serta jenuh, lupa minum obat dan berhenti minum obat karena merasa sudah sehat, kurangnya dukungan keluarga khususnya Pengawasan Minum Obat (PMO) dan pengetahuan pengobatan yang kurang (Syafruddin et al., 2022).

Berdasarkan gambaran yang telah diuraikan, TB paru menjadi suatu penyakit menular sehingga hubungan antara tingkat kepatuhan pasien dan efektivitas penggunaan OAT merupakan hal yang penting untuk dianalisis. Peneliti merasa tertarik untuk melakukan evaluasi mengenai hubungan antara tingkat kepatuhan pasien dengan efektivitas penggunaan obat TB paru di Puskesmas Tugu dan Puskesmas Cikedung melalui penelitian ini. Diharapkan, hasil dari penelitian ini akan memberikan gambaran yang lebih terinci mengenai hubungan antara tingkat kepatuhan pasien dan efektivitas penggunaan obat pada penderita TB Paru di Puskesmas Tugu dan Puskesmas Cikedung.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian sampel menggunakan deskriptif observatif dengan pengumpulan data secara retrospektif dan prospektif berdasarkan kartu pengobatan pasien TB. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling. Penelitian ini bertempat di Puskesmas Tugu dan Puskesmas Cikedung dilaksanakan pada bulan Maret - Mei 2024. Populasi penelitian ini adalah  pasien yang diagnosis tuberkulosis paru di Puskesmas Tugu dan Puskesmas Cikedung sebanyak 72. Pengambilan data efektivitas pengobatan dilakukan dengan meilihat data pemeriksaan sputum pada software SITB di awal pertama, bulan kedua, bulan kelima, dan atau bulan keenam pengobatan TB paru. Pengambilan data kepatuhan dilakukan setelah selesai pengambilan data efektivitas pengobatan dengan cara mengisi kuesioner MMAS-8. Analisis data menggunakan metode chi square.

 

Hasil dan Pembahasan

Karakter sosiodemografi Pasien TB Paru

Data karakteristik demografi pasien dalam penelitian ini terdiri dari Jenis kelamin, usia, tingkat Pendidikan, pekerjaan, pendapatan, jumlah tanggungan keluarga dan kategori pengobatan.

 

Tabel 1. Karakteristik Sosiodemografi Pasien TB Paru

No

Karakteristik Pasien

Frekuensi

(N=30)

Presentase

(%)

1

Jenis Kelamin

 

 

 

a.           Laki-laki

b.          Perempuan

16

53,3%

14

46,7%

2

Usia (Tahun)

 

 

 

a.           Remaja Pertengahan (15-18)

b.          Dewasa awal (20-40)

c.           Dewasa madya (41-60)

d.          Dewasa lanjut (> 61)

2

14

10

4

6,7%

46,7%

33,3%

13,3%

3

Tingkat Pendidikan

 

 

 

a.           SD

b.          SMP

c.           SMA

d.          S1

10

7

8

5

         33,3%

23,3%

26,7%

16,7%

4

Pekerjaan

 

 

 

a.           Tidak bekerja

b.          IRT

c.           Wiraswasta

d.          Pelajar

e.           Mahasiswa

f.           Petani

g.          Buruh

4

7

13

1

1

3

1

13,3%

23,3%

43,3%

3,3%

3,3%

10%

3,3%

5

Pendapatan

 

 

 

 a. <Rp. 500.000,-

       4

13,3%

 

b.  Rp. 500.000 – Rp. 2.000.000,-

      14

46,7%

 

c. >Rp. 2.000.000,-

       7

23,3%

 

d. Tidak memiliki pendapatan

       5

16,7%

6

Jumlah tanggungan keluarga

 

 

 

a.     Tidak ada tanggungan keluarga

b.     Tanggungan keluarga kecil (1-3)

c. Tanggungan keluarga besar (4-6)

16

8

6

53,3%

26,7%

 20,7%

7

Kategori Pengobatan

 

 

 

a. Pengobatan gagal (Pasien meninggal dunia)

2

6,7%

 

  b. Pengobatan lengkap

28

93,3%

 

Sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (53%). Hal ini sejalan dengan laporan WHO (2017) yang menyatakan bahwa berdasarkan jenis kelamin, laki-laki beresiko lebih tinggi terinfeksi TB daripada perempuan. Demikian juga pada masing- masing provinsi di seluruh Indonesia kasus TB lebih banyak pada laki-laki dibandingkan perempuan. Laporan tahunan program TBC tahun 2022 juga menyebutkan proporsi pasien laki-laki lebih banyak (57,8%). Penelitian yang dilakukan di Surabaya tahun 2018 juga menemukan hasil distribusi jenis kelamin laki-laki lebih besar (56,3%) daripada perempuan.

Distribusi usia pasien TB Paru terbanyak pada pasien dewasa awal (rentang usia 20-40 tahun) sebanyak 46,7%. TB Paru banyak menyerang pada usia produktif. Faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit penyakit TB pada usia tersebut meliputi faktor lingkungan, malnutrisi, gaya hidup (merokok), serta sanitasi lingkungan. Laporan tahunan program TBC tahun 2022 juga menyebutkan proporsi pasien terbanyak adalah pada usia produktif (15-44 tahun) sebanyak (43,6%).

Persebaran penderita TB Paru sebagian besar adalah berpendidikan SD (33,3%). Berdasarkan Riskesdas (2018) pendidikan yang rendah mempengaruhi tingkat pemahaman terhadap informasi yang sangat penting tentang perilaku kepatuhan dalam menjalani terapi pengobatan TB dan segala dampak negatif yang akan ditimbulkannya. Ulfah (2018) menemukan penderita TB paru dominan pada Pendidikan rendah sebanyak 56%.

Berdasarakan status pekerjaan jumlah pasien terbanyak adalah Wiraswasta (43,3%). Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang dihadapi setiap individu, misalnya terpapar udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru. Status pekerjaan juga mempengaruhi pendapatan keluarga yang selanjutnya dapat berdampak pada pola hidup sehari-hari seperti konsumsi makanan dan pemeliharaan kesehatan (Ulfah et al., 2018). Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Papeti dan Suharto (2022) juga menemukan pada pasien TB paru jenis pekerjaan yang terbanyak adalah wiraswasta.

Pasien TB paru di Puskesmas Tugu dan Puskesmas Cikedung mayoritas berpenghasilan dibawah UMR (Rp. 500.000 – Rp. 2.000.000) sebanyak 46,7%. Penghasilan dapat berdampak pada pola hidup sehari-hari seperti konsumsi makanan dan pemeliharaan kesehatan (Ulfah et al., 2018).

Sebagian besar (53,3%) pasien tidak memiliki tanggungan. Hal ini dapat disebabkan karena terdapat pasien yang tidak bekerja, ibu rumah tangga dan pelajar/mahasiswa yang tidak memiliki tanggungan. Pada responden, tidak memiliki tanggungan bukan berarti memiliki pendapatan besar. Widyastuti et al., (2018) menyebutkan pendapatan mempengaruhi dalam mencukupi kebutuhan keluarga dimana tingkat konsumsi meningkat, jika kurangnya asupan gizi maka akan memudahkan terjadinya infeksi TB paru.

Mayoritas pasien melakukan pengobatan lengkap selama 6 bulan (93,3%). Sebanyak 6,7% pasien dengan pengobatan gagal sebanyak dikarenakan pasien meninggal dunia dalam masa pengobatan. 

 

Kepatuhan Pasien dalam Penggunaan OAT

Data kepatuhan penggunaan obat pada pasien diambil melalui kuesioner MMAS-8 dan dikategorikan dalam kepatuhan tinggi, rendah dan sedang.

 

Tabel 2. Tingkat Kepatuhan Penggunaan OAT

No

Nilai Kepatuhan

Jumlah

Presentase (%)

1

Tinggi

25

83,3

2

Sedang

3

10

3

Rendah

2

6,7

Jumlah Total

30

100

 

Penelitian yang dilakukan oleh Ahdiyah 2021 di Puskesmas Putri Yu Jambi juga mendapatkan hasil nilai kepatuhan tinggi dengan jumlah 86,4%. Pasien yang dikatakan patuh minum obat yaitu pasien yang menghabiskan obatnya sesuai dengan anjuran petugas kesehatan dan datang kembali ke Puskesmas untuk mengambil obat berikutnya sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh petugas kesehatan.

 

Efektivitas Pengobatan TB Paru

Pengobatan TB dinyatakan efektif apabila terjadi konversi sputum, yang semula positif mengandung Bakteri Tahan Asam (BTA) menjadi negatif. Data konversi didapatkan melalui data pemeriksaan ulang sputum pada 30 responden yang diambil melalui SITB (Sistem Informasi Tuberkulosis) dimana diperoleh hasil konversi sebanyak 93,3% dan tidak konversi sebesar 6,7%.

 

Hubungan Kepatuhan dan Efektivitas

Hubungan kepatuhan dan efektivitas penggunaan OAT berdasarkan hasil analisis statistic Chi square adalah sebagai berikut:

 

 

 

Tabel 3. Hubungan Kepatuhan dan Efektivitas Penggunaan Obat TB

Kepatuhan

Efektivitas

Jumlah

OR

(CI 95%)

r

(korelasi)

P

value

Tidak efektif

Efektif

Tidak patuh

2

0

2

 

 

 

Patuh

0

28

28

29,00

0,707

0,002

Total

2

28

30

 

 

 

 

P-values sebesar 0,002 (sig < 0,05) menunjukkan adanya hubungan antara kepatuhan dan efektivitas penggunaan OAT pada sampel penelitian dengan kekuatan hubungan yang kuat (r=0,707). Hasil ini sejalan dengan penelitian Masiroh (2023) yang menyatakan ada hubungan konversi nilai sputum BTA dan tingkat keberhasilan pengobatan. Penelitian Meyrisca et al. (2022) serta Yudiana et al. (2022) juga menunjukkan ada hubungan kepatuhan penggunaan obat dengan keberhasilan pengobatan.

Nilai Odd Ratio (OR) menunjukkan orang yang patuh menggunakan OAT akan 29 kali lipat lebih efektif dibandingkan dengan orang yang tidak patuh. Hal ini sejalan dengan kesimpulan yang dinyatakan dalam Laporan tahunan program TB (2022) bahwa kepatuhan penggunaan obat menjadi salah satu faktor penentu efektifnya pengobatan, ketidakpatuhan pasien dapat menyebabkan kegagalan terapi TB.  

 

Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dan Kepatuhan

Untuk menjawab pertanyaan apakah ada hubungan antara karakteristik sosiodemografi pasien dan kepatuhan penggunaan OAT, dilakukan juga analisis Chi Square dari kedua variabel tersebut dan diperoleh hasil sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:

 

Tabel 4.  Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dengan Kepatuhan Penggunaan OAT

Kepatuhan

Kategori

Tidak Patuh

[n (%)]

Patuh [n (%)]

OR

(CI 95%)

Korelasi

( r)

P-

value

Jenis Kelamin

Laki-laki

2 (12)

14 (88)

0,875

(0,727-1,053)

0,243

0,525

Perempuan

0 (0)

14 (100)

Usia

< 40

1(6)

15 (94)

0,867

(0,049-15,279)

0,018

1,000

 

> 40

1 (7)

13 (93)

Tingkat

Pendidikan

SD-SMP

2 (11)

16 (89)

0,889

(0,755-1,047)

0,213

0,654

SMA-S1

0 (0)

12 (100)

Pekerjaan

Bekerja

2 (8)

24 (92)

1,083

(0,970-1,210)

0,104

1,000

 

Tidak bekerja

0 (0)

4 (100)

Pendapatan

Memiliki pendapatan

2 (8)

23 (92)

1,087

(0,968-1,220)

0,119

1,000

 

Tidak memiliki pendapatan

0 (0)

5 (100)

 

Berdasarkan tabel tersebut di atas tidak ada satupun kategori dari sosiodemografi yang memiliki p-value di bawah 0,05. Dengan demikian dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara karakteristik sosiodemografi pasien yang diteliti dengan kepatuhan penggunaan OAT.

 

 

 

Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dan Efektifitas

Selanjutnya untuk menjawab pertanyaan apakah ada hubungan antara karakteristik sosiodemografi pasien dengan efektivitas penggunaan obat TB dilakukan juga analisis Chi Square dari kedua variabel tersebut dan diperoleh hasil sebagaimana tercantum dalam table di bawahini:

 

Tabel 5. Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dengan Efektivitas Penggunaan OAT

Efektivitas

Kategori

Tidak Efektif

[n (%)]

Efektif [n (%)]

OR (CI 95%)

r

(korelasi)

P

value

Jenis

Kelamin

Laki-laki

2 (12)

14 (88)

0,875

(0,727-1,053)

0,243

0,525

Perempuan

0 (0)

14 (100)

Usia

< 40

1(6)

15 (94)

0,867

(0,049-15,279)

0,018

1,000

 

> 40

1 (7)

13 (93)

Tingkat

Pendidikan

SD-SMP

2 (10)

17 (90)

0,895

(0,767-1,044)

0,199

0,723

SMA-S1

0 (0)

11 (100)

Pekerjaan

Bekerja

2 (8)

24 (92)

1,083

(0,970-1,210)

0,104

1,000

 

Tidak bekerja

0 (0)

4 (100)

Pendapatan

Memiliki pendapatan

2 (8)

23 (92)

1,087

(0,968-1,220)

0,119

1,000

 

Tidak memiliki pendapatan

0 (0)

5 (100)

Berdasarkan tabel tersebut di atas tidak ada satupun kategori dari sosiodemografi yang memiliki p-value di bawah 0,05. Dengan demikian dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara karakteristik sosiodemografi pasien yang diteliti dengan efektivitas penggunaan OAT.

 

Kesimpulan

Pasien TB di Puskesmas Tugu dan Puskesmas Cikedung Kabupaten Indramayu memiliki kepatuhan yang tinggi dalam menggunakan OAT. Terdapat hubungan yang era tantara kepatuhan dengan efektivitas pengobatan TB paru. Namun demikian, tidak ditemukan adanya hubungan antara karakter sosiodemografi pasien dengan kepatuhan menggunakan OAT maupun dengan efektivitas pengobatan TB paru.

 

 

BIBLIOGRAPHY

 

Fadhillah, A., & Setiyadi, N. A. (2023). Analisis Spasial Layanan Tuberkolosis dan Tuberkolosis Resisten Obat TB-MDR. Jurnal Keperawatan, 15(4), 335–344.

Jamaluddin, K. (2019). Gambaran Tingkat Kepatuhan Berobat pada Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Samata Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Repository UIN.

Mahendrani, C. R. M., Subkhan, M., Nurida, A., Prahasanti, K., & Levani, Y. (2020). Analisis faktor yang berpengaruh terhadap konversi sputum basil tahan asam pada penderita tuberkulosis. Al-Iqra Medical Journal: Jurnal Berkala Ilmiah Kedokteran, 3(1), 1–9.

Mandeka, F., & Flora, R. (2023). Implementasi Photovoice dalam Mengeksplorasi Resiko Kejadian Tb Pada Pekerja Tambang Emas Tradisional Di Kabupaten Lebong. Jurnal Endurance, 8(1), 126–137.

Meyrisca, M., Susanti, R., & Nurmainah. (2022). Hubungan Kepatuhan Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Dengan Keberhasilan Pengobatan Pasien Tuberkulosis Di Puskesmas Sungai Betung Bengkayang. Lumbung Farmasi; Jurnal Ilmu Kefarmasian, 3(2).

Ningtyias, F. W., Prasetyowati, I., Nafikadini, I., & Suandaru, Y. F. (2024). Strengthening Medication Taking Companion for Children’s TB Patients with Media Kits. ABDIMAYUDA: Indonesia Journal of Community Empowerment for Health, 3(1), 41–51.

Pameswari, P., Halim, A., & Yustika, L. (2016). Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat pada Pasien Tuberkulosis di Rumah Sakit Mayjen H. A Thalib Kabupaten Kerinci. Jurnal Sains Farmasi & Klinis, 2(2). https://doi.org/10.29208/jsfk.2016.2.2.60

Papeti, S. M., & Suharto, D. (2022). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Penderita Tb Paru Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis Di Puskesmas Kombos. Jurnal Fisioterapi Dan Ilmu Kesehatan Sisthana, 4(1), 43–53.

Supartiningsih, S., & Ainun, RD. S. R. (2021). Analisis Tingkat Kepatuhan Pasien Tbc Rawat Jalan Terhadap Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Di Puskesmas Sindar Raya. Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin, 4(3). https://doi.org/10.36341/jpm.v4i3.1839

Supriatun, E., & Insani, U. (2021). Intervensi Health Coaching dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Sikap Pencegahan Penularan Tuberkulosis. Jurnal Keperawatan Silampari, 4(2). https://doi.org/10.31539/jks.v4i2.1942

Syafruddin, Gobel, A. F., & Arman. (2022). Faktor Risiko Ketidakpatuhan Pengobatan Penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Rangas Kabupaten Mamuju. Journal of Muslim Community Health, 3(3).

Ulfah, U., Windiyaningsih, C., Abidin, Z., & Murtiani, F. (2018). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Pada Penderita Tuberkulosis Paru. The Indonesian Journal of Infectious Diseases, 4(1). https://doi.org/10.32667/ijid.v4i1.44

Widyastuti, S. D., Riyanto, R., & Fauzi, M. (2018). Gambaran Epidemiologi Penyakit Tuberkolusis Paru (TB Paru) Di Kabupaten Indramayu. Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan, 6(2). https://doi.org/10.33366/cr.v6i2.911

Yudiana, R., Zulmansyah, Z., & Garna, H. (2022). Hubungan Kepatuhan Terapi Obat Anti-Tuberkulosis Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) dengan Kesembuhan Pasien Tuberkulosis Paru Dewasa di Puskesmas Patokebeusi Subang. Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains, 4(1). https://doi.org/10.29313/jiks.v4i1.9334

Yuniar, I., Sari, K. P., & Yudha, H. T. (2017). Analisa situasi tuberkulosis (TB) di Kabupaten Kebumen. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, 13(1).

 

Copyright holder:

Dosi Ahmad Yani,  Ahmad Azrul Zuniarto, Dwi Putri Cantika (2024)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: