Syntax Literate: Jurnal
Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398
Vol. 9, No. 12, Desember 2024
HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN DENGAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) PADA PASIEN TUBERKULOSIS (TB) PARU DI PUSKESMAS TUGU DAN PUSKESMAS CIKEDUNG KABUPATEN INDRAMAYU
Dosi Ahmad Yani1, Ahmad Azrul Zuniarto2, Dwi Putri Cantika3
Universitas YPIB, Indonesia1,2,3
Email: dosi.ahmadyani@gmail.com1
Abstrak
Indonesia
adalah negara dengan kasus TB tertinggi kedua di dunia dengan insiden sebanyak
397.377 kasus pada tahun 2021. Salah satu kejadian TB terbanyak berasal dari Kabupaten
Indramayu Jawa Barat tercatat 3.142 kasus (Dinkes Provinsi Jawa Barat, 2021). Pemberian OAT sebagai pengobatan pada TB perlu memperhatikan beberapa hal antara lain kepatuhan pengobatan (Kemenkes, 2020). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan dengan efektivitas
penggunaan OAT serta mengetahui
hubungan antara kepatuhan dan efektivitas dengan sosiodemografi
penduduk. Populasi penelitian ini adalah
pasien TB di Puskesmas Tugu dan
Puskesmas Cikedung Kabupaten Indramayu yang melakukan
pengobatan pada September 2023 sampai Maret 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif observatif dengan pengumpulan data secara retrospektif maupun prospektif berdasarkan kartu pengobatan pasien TBC. Data kepatuhan
diambil melalui pengisian kuesioner MMAS-8 dan data efektivitas diambil dengan
mencatat pemeriksaan ulang sputum dari software SITB
(Sistem Informasi Tuberkulosis). Analisis data menggunakan uji Chi square terdiri dari: analisis kepatuhan, analisis
efektivitas, hubungan kepatuhan dan efektivitas serta hubungan kepatuhan dan
efektivitas berdasarkan data sosiodemografi
responden. Hasil penelitian dari
30
responden menunjukan
tingkat kepatuhan penggunaan obat TB sebesar 83,3% termasuk dalam tingkat kepatuhan tinggi, efektivitas penggunaan
obat TB sebesar 93%, terdapat hubungan antara kepatuhan dengan
efektivitas penggunaan obat TB dan tidak ada hubungan pada kepatuhan
dan efektivitas penggunaan obat TB berdasarkan data sosiodemografi
penduduk.
Kata kunci: Efektivitas, Kepatuhan, Tuberkulosis, sosiodemografi
Abstract
Indonesia is the country with
the second most number of TB cases
in the world with an incidence
of 397,377 cases in 2021.
One of the highest incidences of TB came from
Indramayu Regency, West Java, with
3,142 cases recorded (Dinkes Provinsi Jawa Barat, 2021). Giving
OAT as a treatment for TB requires paying attention to several
things, including treatment compliance (Kemkes, 2020). The aim
of this research
is to determine
the relationship between compliance and the effectiveness
of OAT use and to determine
the relationship between compliance and effectiveness with community sociodemographics. The population
of this study was TB patients at the Tugu Primary Health Center and Cikedung Primary Health Center,
Indramayu Regency who underwent
treatment from September
2023 to March 2024. The research
method used was an observational
descriptive method with retrospective and prospective data collection based on TB patient treatment
cards. Data was taken by filling
in the MMAS-8 questionnaire
and effectiveness data was taken by
recording sputum re-examinations
from the SITB (Tuberculosis Information System) software. Data analysis using the Chi square
test consists of: compliance analysis, effectiveness analysis, the relationship
between compliance and effectiveness and the relationship
between compliance and effectiveness based on the
respondent's sociodemographic
data. The results of research
from 30 respondents showed that the
level of compliance with TB drug use
was 83.3%, including a high level of compliance,
the effectiveness of TB drug use
was 93%, there was a relationship between compliance and the effectiveness
of TB drug use and there
was no relationship
between compliance and the effectiveness
of TB drug use based on
sociodemographic data of the population.
Keywords: Adherence, Effectiveness, Tuberculosis, sociodemographic
Pendahuluan
Hingga saat
ini Tuberkulosis (TB) paru masih merupakan masalah kesehatan yang tersebar hampir seluruh negara dimana tingkat kasus tuberkulosis
masih tinggi dan merupakan salah satu penyebab kematian di seluruh dunia
Case Notification Rate (CNR) merupakan jumlah semua
kasus TB yang diobati dan dilaporkan di
antara 100.000 penduduk yang ada di suatu wilayah tertentu. Di Indonesia CNR
tahun 2021 sebesar 146 per 100.000 penduduk. Angka ini meningkat dibanding
dengan CNR tahun 2020 130 per 100.000 penduduk. Hal ini menggambarkan adanya
peningkatan kasus TB Paru pada tahun 2021 berdasarkan Profil Kesehatan Kemenkes
pada tahun 2022.
Pada 2021, Kabupaten
Indramayu melayani 3.142 kasus terduga TB paru, dengan 813 kasus positif TB
paru bakteriologis, termasuk 45 kasus pada kelompok
usia 0-14 tahun. Angka Case Notification Rate
(CNR) mencapai 44 per 100.000 penduduk, mencerminkan tingkat kejadian TB
paru. Tahun sebelumnya, di tahun
2020, terdapat 530 kasus baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis
yang diobati, dengan total 1.057 kasus. Tingkat pengobatan lengkap (Complete Rate) 58,1%, tingkat kesembuhan (Cure Rate) 26%, dan tingkat keberhasilan
pengobatan (Success Rate) 71,1%. Jumlah kematian selama
pengobatan adalah 17 orang atau 1,6% (Dinkes
Kabupaten Indramayu, 2022).
Pasien TB paru dinyatakan sembuh apabila setelah 6 bulan
pengobatan, dilakukan pemeriksaan dahak kembali di laboratorium jika tidak
terdapat bakteri TB (BTA, Bakteri Tahan
Asam) maka penderita dinyatakan sembuh
Ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan berakibat
tingginya angka kegagalan terapi sehingga
dapat meningkatkan resiko kesakitan, kematian dan
semakin banyak ditemukan
penderita tuberkulosis paru yang resistan dengan pengobatan standar. Pasien
resistan tersebut akan menjadi sumber penularan kuman bagi individu lain
Pada penelitian oleh
Jamaluddin tingkat kepatuhan pasien TB Paru sebesar 75%
Berdasarkan gambaran yang
telah diuraikan, TB paru menjadi suatu
penyakit menular sehingga hubungan antara tingkat kepatuhan pasien dan
efektivitas penggunaan OAT merupakan hal yang penting
untuk dianalisis. Peneliti merasa tertarik
untuk melakukan evaluasi mengenai hubungan antara tingkat kepatuhan pasien
dengan efektivitas penggunaan obat TB paru di Puskesmas Tugu dan Puskesmas Cikedung
melalui penelitian ini. Diharapkan, hasil dari penelitian ini akan memberikan
gambaran yang lebih terinci mengenai hubungan antara tingkat kepatuhan pasien
dan efektivitas penggunaan obat pada penderita TB Paru di Puskesmas Tugu dan Puskesmas Cikedung.
Metode Penelitian
Metode penelitian sampel menggunakan deskriptif observatif
dengan pengumpulan data secara retrospektif dan prospektif berdasarkan kartu pengobatan pasien TB. Teknik pengambilan sampel
menggunakan teknik non probability
sampling. Penelitian ini bertempat di
Puskesmas Tugu
dan Puskesmas Cikedung dilaksanakan pada bulan Maret - Mei
2024. Populasi penelitian ini
adalah pasien yang diagnosis tuberkulosis paru di
Puskesmas Tugu dan Puskesmas Cikedung sebanyak 72. Pengambilan data efektivitas
pengobatan dilakukan dengan meilihat data pemeriksaan
sputum pada software SITB di awal pertama,
bulan kedua, bulan kelima, dan atau bulan keenam pengobatan TB paru.
Pengambilan data kepatuhan dilakukan setelah selesai pengambilan data
efektivitas pengobatan dengan cara mengisi kuesioner MMAS-8. Analisis data
menggunakan metode chi square.
Hasil dan Pembahasan
Karakter sosiodemografi Pasien TB Paru
Data karakteristik
demografi pasien dalam penelitian ini terdiri dari
Jenis kelamin, usia, tingkat Pendidikan, pekerjaan, pendapatan, jumlah tanggungan keluarga dan kategori pengobatan.
|
No |
Karakteristik Pasien |
Frekuensi (N=30) |
Presentase (%) |
|
1 |
Jenis Kelamin |
|
|
|
|
a.
Laki-laki b.
Perempuan |
16 |
53,3% |
|
14 |
46,7% |
||
|
2 |
Usia (Tahun) |
|
|
|
|
a.
Remaja
Pertengahan (15-18) b.
Dewasa awal
(20-40) c.
Dewasa madya
(41-60) d.
Dewasa lanjut (> 61) |
2 14 10 4 |
6,7% 46,7% 33,3% 13,3% |
|
3 |
Tingkat Pendidikan |
|
|
|
|
a.
SD b.
SMP c.
SMA d.
S1 |
10 7 8 5 |
33,3% 23,3% 26,7% 16,7% |
|
4 |
Pekerjaan |
|
|
|
|
a.
Tidak bekerja b.
IRT c.
Wiraswasta d.
Pelajar e.
Mahasiswa f.
Petani g.
Buruh |
4 7 13 1 1 3 1 |
13,3% 23,3% 43,3% 3,3% 3,3% 10% 3,3% |
|
5 |
Pendapatan |
|
|
|
|
a. <Rp.
500.000,- |
4 |
13,3% |
|
|
b. Rp.
500.000 – Rp. 2.000.000,- |
14 |
46,7% |
|
|
c. >Rp. 2.000.000,- |
7 |
23,3% |
|
|
d. Tidak memiliki pendapatan |
5 |
16,7% |
|
6 |
Jumlah tanggungan keluarga |
|
|
|
|
a.
Tidak ada tanggungan keluarga b.
Tanggungan keluarga kecil (1-3) c. Tanggungan keluarga besar (4-6) |
16 8 6 |
53,3% 26,7% 20,7% |
|
7 |
Kategori
Pengobatan |
|
|
|
|
a. Pengobatan gagal (Pasien meninggal dunia) |
2 |
6,7% |
|
|
b. Pengobatan
lengkap |
28 |
93,3% |
Sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (53%). Hal ini sejalan dengan laporan WHO (2017) yang menyatakan
bahwa berdasarkan jenis kelamin, laki-laki beresiko lebih tinggi terinfeksi
TB daripada perempuan. Demikian juga pada masing- masing provinsi
di seluruh Indonesia kasus
TB lebih banyak pada laki-laki dibandingkan perempuan. Laporan tahunan program TBC tahun 2022
juga menyebutkan proporsi pasien laki-laki lebih banyak (57,8%). Penelitian yang dilakukan di
Surabaya tahun 2018 juga menemukan
hasil distribusi jenis kelamin laki-laki
lebih besar (56,3%) daripada perempuan.
Distribusi usia pasien TB Paru terbanyak pada pasien dewasa awal
(rentang usia 20-40 tahun) sebanyak 46,7%. TB Paru banyak menyerang pada usia produktif. Faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit penyakit TB pada usia tersebut meliputi faktor lingkungan, malnutrisi, gaya hidup (merokok), serta sanitasi lingkungan. Laporan tahunan program TBC tahun 2022
juga menyebutkan proporsi pasien terbanyak adalah pada usia produktif (15-44 tahun) sebanyak (43,6%).
Persebaran penderita TB Paru sebagian besar adalah berpendidikan SD (33,3%). Berdasarkan Riskesdas (2018) pendidikan yang rendah mempengaruhi tingkat pemahaman terhadap informasi yang sangat penting tentang perilaku kepatuhan dalam menjalani terapi pengobatan TB dan segala dampak negatif yang akan ditimbulkannya. Ulfah (2018) menemukan penderita TB paru dominan pada Pendidikan rendah sebanyak 56%.
Berdasarakan status pekerjaan jumlah pasien terbanyak adalah Wiraswasta (43,3%). Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa
yang dihadapi setiap individu, misalnya terpapar udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru. Status pekerjaan juga mempengaruhi pendapatan keluarga yang selanjutnya dapat berdampak pada pola hidup sehari-hari seperti konsumsi makanan dan pemeliharaan kesehatan
Pasien TB paru
di Puskesmas Tugu dan Puskesmas Cikedung mayoritas berpenghasilan
dibawah UMR (Rp. 500.000 – Rp. 2.000.000) sebanyak 46,7%.
Penghasilan dapat berdampak pada pola hidup sehari-hari seperti konsumsi makanan dan pemeliharaan kesehatan
Sebagian besar (53,3%) pasien tidak memiliki tanggungan. Hal ini dapat disebabkan
karena terdapat pasien yang tidak bekerja, ibu rumah
tangga dan pelajar/mahasiswa yang tidak memiliki tanggungan. Pada responden, tidak memiliki tanggungan bukan berarti memiliki
pendapatan besar. Widyastuti et al.,
Mayoritas pasien melakukan pengobatan lengkap selama 6 bulan (93,3%). Sebanyak 6,7% pasien dengan pengobatan gagal sebanyak dikarenakan pasien meninggal dunia dalam masa pengobatan.
Kepatuhan Pasien dalam Penggunaan OAT
Data kepatuhan penggunaan obat pada pasien diambil melalui kuesioner MMAS-8 dan dikategorikan dalam kepatuhan tinggi, rendah dan sedang.
|
No |
Nilai Kepatuhan |
Jumlah |
Presentase (%) |
|
1 |
Tinggi |
25 |
83,3 |
|
2 |
Sedang |
3 |
10 |
|
3 |
Rendah |
2 |
6,7 |
|
Jumlah Total |
30 |
100 |
|
Penelitian yang dilakukan oleh Ahdiyah
2021 di Puskesmas Putri Yu Jambi juga mendapatkan hasil nilai kepatuhan tinggi dengan jumlah 86,4%. Pasien yang dikatakan patuh minum obat yaitu pasien yang menghabiskan obatnya sesuai dengan anjuran petugas kesehatan dan datang kembali ke Puskesmas untuk
mengambil obat berikutnya sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh petugas kesehatan.
Pengobatan TB dinyatakan efektif apabila terjadi konversi sputum, yang semula positif mengandung Bakteri Tahan Asam (BTA) menjadi negatif. Data konversi didapatkan melalui data pemeriksaan ulang sputum pada 30 responden yang diambil melalui SITB (Sistem Informasi Tuberkulosis) dimana diperoleh hasil konversi sebanyak 93,3% dan tidak konversi sebesar 6,7%.
Hubungan kepatuhan dan efektivitas penggunaan OAT berdasarkan hasil analisis statistic Chi square adalah sebagai berikut:
|
Kepatuhan |
Efektivitas |
Jumlah |
OR (CI 95%) |
r (korelasi) |
P value |
|
|
Tidak efektif |
Efektif |
|||||
|
Tidak patuh |
2 |
0 |
2 |
|
|
|
|
Patuh |
0 |
28 |
28 |
29,00 |
0,707 |
0,002 |
|
Total |
2 |
28 |
30 |
|
|
|
P-values sebesar 0,002 (sig <
0,05) menunjukkan adanya hubungan antara kepatuhan dan efektivitas penggunaan OAT pada sampel penelitian dengan kekuatan hubungan yang kuat (r=0,707). Hasil ini
sejalan dengan penelitian Masiroh (2023) yang menyatakan ada hubungan konversi nilai sputum BTA dan tingkat keberhasilan pengobatan. Penelitian Meyrisca et al.
Nilai Odd Ratio (OR) menunjukkan orang yang patuh menggunakan OAT akan 29 kali lipat lebih efektif dibandingkan dengan orang yang tidak patuh. Hal ini sejalan dengan kesimpulan yang dinyatakan dalam Laporan tahunan program TB (2022) bahwa kepatuhan penggunaan obat menjadi salah satu faktor penentu efektifnya pengobatan, ketidakpatuhan pasien dapat menyebabkan kegagalan terapi TB.
Untuk menjawab
pertanyaan apakah ada hubungan antara
karakteristik sosiodemografi
pasien dan kepatuhan penggunaan OAT, dilakukan juga analisis Chi
Square dari kedua variabel tersebut dan diperoleh hasil sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:
|
Kepatuhan |
||||||
|
Kategori |
Tidak Patuh [n (%)] |
Patuh [n (%)] |
OR (CI 95%) |
Korelasi ( r) |
P- value |
|
|
Jenis Kelamin |
Laki-laki |
2 (12) |
14 (88) |
0,875 (0,727-1,053) |
0,243 |
0,525 |
|
Perempuan |
0 (0) |
14 (100) |
||||
|
Usia |
< 40 |
1(6) |
15 (94) |
0,867 (0,049-15,279) |
0,018 |
1,000 |
|
|
> 40 |
1 (7) |
13 (93) |
|||
|
Tingkat Pendidikan |
SD-SMP |
2 (11) |
16 (89) |
0,889 (0,755-1,047) |
0,213 |
0,654 |
|
SMA-S1 |
0 (0) |
12 (100) |
||||
|
Pekerjaan |
Bekerja |
2 (8) |
24 (92) |
1,083 (0,970-1,210) |
0,104 |
1,000 |
|
|
Tidak bekerja |
0 (0) |
4 (100) |
|||
|
Pendapatan |
Memiliki
pendapatan |
2 (8) |
23 (92) |
1,087 (0,968-1,220) |
0,119 |
1,000 |
|
|
Tidak
memiliki pendapatan |
0 (0) |
5 (100) |
|||
Berdasarkan tabel tersebut di atas tidak ada satupun kategori dari sosiodemografi yang memiliki p-value di bawah 0,05. Dengan demikian dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara karakteristik sosiodemografi pasien yang diteliti dengan kepatuhan penggunaan OAT.
Selanjutnya untuk menjawab pertanyaan apakah ada hubungan antara karakteristik sosiodemografi pasien dengan efektivitas penggunaan obat TB
dilakukan juga analisis Chi Square dari kedua variabel
tersebut dan diperoleh hasil sebagaimana tercantum dalam table di bawahini:
|
Efektivitas |
||||||
|
Kategori |
Tidak Efektif [n (%)] |
Efektif
[n (%)] |
OR (CI 95%) |
r (korelasi) |
P value |
|
|
Jenis Kelamin |
Laki-laki |
2 (12) |
14 (88) |
0,875 (0,727-1,053) |
0,243 |
0,525 |
|
Perempuan |
0 (0) |
14 (100) |
||||
|
Usia |
< 40 |
1(6) |
15 (94) |
0,867 (0,049-15,279) |
0,018 |
1,000 |
|
|
> 40 |
1 (7) |
13 (93) |
|||
|
Tingkat Pendidikan |
SD-SMP |
2 (10) |
17 (90) |
0,895 (0,767-1,044) |
0,199 |
0,723 |
|
SMA-S1 |
0 (0) |
11 (100) |
||||
|
Pekerjaan |
Bekerja |
2 (8) |
24 (92) |
1,083 (0,970-1,210) |
0,104 |
1,000 |
|
|
Tidak bekerja |
0 (0) |
4 (100) |
|||
|
Pendapatan |
Memiliki
pendapatan |
2 (8) |
23 (92) |
1,087 (0,968-1,220) |
0,119 |
1,000 |
|
|
Tidak
memiliki pendapatan |
0 (0) |
5 (100) |
|||
Berdasarkan tabel tersebut di atas tidak ada
satupun kategori dari sosiodemografi yang memiliki p-value di bawah 0,05. Dengan demikian dinyatakan bahwa tidak ada hubungan
antara karakteristik sosiodemografi pasien yang diteliti dengan efektivitas penggunaan OAT.
Kesimpulan
Pasien TB di Puskesmas Tugu dan Puskesmas Cikedung Kabupaten
Indramayu memiliki
kepatuhan yang tinggi dalam menggunakan OAT. Terdapat hubungan
yang era tantara kepatuhan dengan
efektivitas pengobatan TB paru. Namun demikian,
tidak ditemukan adanya hubungan antara karakter sosiodemografi pasien dengan kepatuhan menggunakan OAT maupun dengan efektivitas pengobatan TB paru.
BIBLIOGRAPHY
Fadhillah, A., & Setiyadi,
N. A. (2023). Analisis Spasial
Layanan Tuberkolosis dan Tuberkolosis Resisten Obat TB-MDR. Jurnal Keperawatan, 15(4), 335–344.
Jamaluddin, K. (2019).
Gambaran Tingkat Kepatuhan Berobat
pada Pasien Tuberkulosis
di Puskesmas Samata Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Repository UIN.
Mahendrani, C. R. M., Subkhan,
M., Nurida, A., Prahasanti,
K., & Levani, Y. (2020). Analisis
faktor yang berpengaruh terhadap konversi sputum basil tahan asam pada penderita tuberkulosis. Al-Iqra
Medical Journal: Jurnal Berkala
Ilmiah Kedokteran, 3(1),
1–9.
Mandeka, F., & Flora, R. (2023). Implementasi Photovoice dalam Mengeksplorasi Resiko Kejadian Tb Pada Pekerja Tambang
Emas Tradisional Di Kabupaten Lebong.
Jurnal Endurance, 8(1),
126–137.
Meyrisca, M., Susanti, R., & Nurmainah. (2022). Hubungan Kepatuhan Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Dengan Keberhasilan Pengobatan Pasien Tuberkulosis Di Puskesmas Sungai Betung Bengkayang. Lumbung Farmasi; Jurnal Ilmu Kefarmasian,
3(2).
Ningtyias, F. W., Prasetyowati,
I., Nafikadini, I., & Suandaru,
Y. F. (2024). Strengthening Medication Taking Companion for Children’s TB
Patients with Media Kits. ABDIMAYUDA: Indonesia Journal of Community
Empowerment for Health, 3(1), 41–51.
Pameswari, P., Halim, A., & Yustika,
L. (2016). Tingkat Kepatuhan Penggunaan
Obat pada Pasien Tuberkulosis di Rumah Sakit Mayjen H. A Thalib Kabupaten Kerinci. Jurnal Sains Farmasi & Klinis, 2(2).
https://doi.org/10.29208/jsfk.2016.2.2.60
Papeti, S. M., & Suharto, D. (2022). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Penderita Tb Paru Dengan Kepatuhan
Minum Obat Anti Tuberkulosis Di Puskesmas Kombos. Jurnal Fisioterapi Dan Ilmu Kesehatan Sisthana, 4(1), 43–53.
Supartiningsih, S., & Ainun,
RD. S. R. (2021). Analisis Tingkat Kepatuhan Pasien Tbc Rawat Jalan
Terhadap Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Di Puskesmas Sindar Raya. Jurnal Pengabdian
Masyarakat Multidisiplin, 4(3).
https://doi.org/10.36341/jpm.v4i3.1839
Supriatun, E., & Insani,
U. (2021). Intervensi Health Coaching dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Sikap Pencegahan Penularan Tuberkulosis. Jurnal Keperawatan Silampari, 4(2).
https://doi.org/10.31539/jks.v4i2.1942
Syafruddin, Gobel, A. F., & Arman. (2022). Faktor Risiko Ketidakpatuhan Pengobatan Penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Rangas Kabupaten Mamuju. Journal of Muslim Community Health, 3(3).
Ulfah, U., Windiyaningsih,
C., Abidin, Z., & Murtiani, F. (2018). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Pada Penderita Tuberkulosis Paru. The
Indonesian Journal of Infectious Diseases, 4(1).
https://doi.org/10.32667/ijid.v4i1.44
Widyastuti, S. D., Riyanto, R., & Fauzi, M. (2018). Gambaran Epidemiologi
Penyakit Tuberkolusis Paru (TB Paru) Di Kabupaten Indramayu. Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan, 6(2).
https://doi.org/10.33366/cr.v6i2.911
Yudiana, R., Zulmansyah,
Z., & Garna, H. (2022). Hubungan
Kepatuhan Terapi Obat Anti-Tuberkulosis Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) dengan Kesembuhan Pasien Tuberkulosis Paru Dewasa di Puskesmas Patokebeusi Subang. Jurnal
Integrasi Kesehatan & Sains, 4(1).
https://doi.org/10.29313/jiks.v4i1.9334
Yuniar, I., Sari, K. P., & Yudha, H. T. (2017). Analisa situasi
tuberkulosis (TB) di Kabupaten
Kebumen. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan,
13(1).
|
Copyright holder: Dosi Ahmad Yani, Ahmad Azrul Zuniarto,
Dwi Putri Cantika (2024) |
|
First publication right: Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia |
|
This article is licensed under: |