Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 9, No. 12, Desember 2024

 

DEVELOPMENT OF A MULTIMEDIA DANCE TEACHING MODULE TO ENHANCE THE COMPETENCE OF FIFTH GRADE ELEMENTARY SCHOOL TEACHERS IN DKI JAKARTA

 

Henny Indriani1, Puryati2, Suroyo3

Universitas Terbuka, Indonesia1,2,3

Email: hennyindrianimuksin@gmail.com1, puryati@ecampus.ut.ac.id2, suroyon1@gmail.com3

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul pengajaran tari multimedia untuk meningkatkan kompetensi guru kelas lima di sekolah dasar di DKI Jakarta. Metode penelitian menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan yang dikembangkan oleh Borg dan Gall. Penilaian ahli melibatkan dosen dari Universitas Negeri Jakarta. Subjek penelitian adalah guru dan siswa dari sekolah-sekolah di DKI Jakarta. Teknik pengumpulan data meliputi kuesioner dan diskusi kelompok terfokus (FGD). Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan metode campuran, di mana data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik nonparametrik dan data kualitatif dideskripsikan untuk mendukung data kuantitatif. Kemampuan guru untuk mengajarkan materi tari sangat penting bagi siswa untuk tidak hanya memperoleh keterampilan menari tetapi juga untuk menghargai tarian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul pengajaran secara signifikan membantu guru dalam memahami materi tari. Dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam proses pembelajaran diperoleh melalui modul pengajaran tari multimedia. Disarankan agar modul tari multimedia dapat digunakan sebagai alternatif sumber belajar bagi guru.

Kata Kunci : multimedia, dance materials, teacher competence.

 

Abstract

This study aims to develop a multimedia dance teaching module to enhance the competence of fifth grade teachers in elementary schools in DKI Jakarta. The research method employs the research and development approach developed by Borg and Gall. Expert judgement involved lecturers from Universitas Negeri Jakarta. The research subjects were teachers and students from schools in DKI Jakarta. Data collection techniques included questionnaires and focus group discussion (FGD). The data analysis technique is carried out using mixed-method, where quantitative data were analyzed using nonparametric statistics and qualitative data were described to support the quantitative data. The ability of teachers to teach dance material is crucial for students to not only acquire dancing skills but also to appreciate dance. The study's results indicate that the teaching module significantly aids teachers in understanding dance material. It can be concluded that teachers' abilities in the learning process are obtained through multimedia dance teaching module. It is recommended that the multimedia dance module can be used as an alternative learning resource for teachers.

Keywords: multimedia dance materials, teacher competence.

 

 

 

 

Pendahuluan

Pendidikan seni merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib dilaksanakan sejak jenjang pendidikan sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). Pada jenjang SD pendidikan seni dilaksanakan melalui mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP). Pada mata pelajaran ini ada empat aspek seni, yaitu seni rupa, seni musik, seni tari, dan kerajinan (Kurikulum et al., 2006). Keempat aspek ini wajib diajarkan kepada peserta didik, melalui pembelajaran pendekatan tematik. Pada pembelajaran di SD semua aspek seni diajarkan oleh guru kelas, bukan oleh guru bidang studi. Pembelajaran di SD yang dilaksanakan oleh guru bidang studi hanya mata pelajaran agama dan olahraga.

Pendekatan pembelajaran dengan menggunakan tematik, memiliki prinsip saling bersinggungan, baik secara tujuan, materi, atau kompetensi. Pendekatan ini memberi kepraktisan dalam pembelajaran, sehingga sesuai dengan taraf perkembangan berpikir peserta didik pada jenjang sekolah dasar. Tujuan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tematik kurang berhasil diterapkan, karena materi terpisah-pisah sesuai dengan mata pelajaran, bukan menjadi satu kesatuan utuh untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pada pembelajaran tematik seharusnya ada bagian-bagian yang dapat diajarkan secara bersama-sama sepanjang tema yang ada, tetapi ada bagian-bagian kompetensi yang hanya dapat diajarkan secara sendiri-sendiri, melalui pengayaan atau teknik pembelajaran lainnya.

Pembelajaran aspek seni tari pada pendekatan pembelajaran tematik pada jenjang pendidikan di SD sebetulnya tidak menjadi kendala, jika buku yang tersedia saat sekarang memadai dari segi materi. Pembelajaran tematik bertujuan agar peserta didik menerima materi secara utuh atau menyeluruh tidak terlepas dari satu konten dengan konten lainnya. Guru dapat menggunakan satu materi untuk menjelaskan beberapa konsep dan kompetensi. Pendekatan ini sering disebut dengan tematik terpadu atau terintegrasi. Pendekatan pembelajaran tematik dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik kelas.

Pada implementasi Kurikulum 2013 memiliki perubahan mendasar pada aktivitas pembelajaran di Sekolah Dasar (SD). Perubahan mendasar tersebut berlaku pada kelas IV, V, dan VI, yaitu dari pembelajaran mata pelajaran berubah menjagi pembelajaran tematik. Praktik pembelajaran pada kelas tersebut tidak lagi menggunakan pendekatan mata pelajaran, tetapi menggunakan pendekatan tematik. Pembelajaran tematik memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan mata pelajaran. Pada pembelajaran tematik, beberapa materi pembelajaran, kompetensim, dan tujuan pembelajaran  pada beberapa mata pelajaran dilebur menjadi satu, diikat melalui tema.

Perubahan pembelajaran tematik pada kelas IV, V, dan VI, berdampak pada keluasan dan kedalam materi pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Perubahan tersebut ditandai dengan materi pembelajaran pada bahan ajar yang dikeluarkan oleh Kemdikbudristek kurang mendalam dalam pembahasan. Materi ini juga terjadi pada mata pelajaran SBdP. Setiap aspek seni kurang sesuai dengan kompetensi yang terdapat kurikulum, sehingga konsep dasar kurang dimiliki oleh peserta didik, baik secara pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Konsep-konsep dasar setiap aspek seni seharusnya terdapat pada bahan ajar baik untuk guru maupun untuk peserta didik.

Hasil pengamatan di SD pada kelas V pelaksanaan pembelajaran SBdP di kecamatan Kebon Jeruk, (Desember, 2021), terutama pada aspek seni tari masih dilaksanakan secara teori, bukan apresiasi atau kreasi. Hal ini tentu kurang seusai dengan tujuan kompetensi yang hendak dicapai. Informasi diperoleh dari para guru karena tidak tersedianya bahan ajar tentang seni tari sehingga memiliki kesulitan untuk mengembangkan materi pembelajaran. Bahan ajar yang terdapat pada buku peserta didik dan buku guru kurang memberi informasi secara mendalam dan sesuai dengan kompetensi pada kelas V. Hal inilah yang menjadikan pembelajaran seni tari di kelas V kurang sesuai dengan tujuan kompetensi pada kompetensi dasar kurikulum 2013.

Pembelajaran aspek seni tari pada pendekatan pembelajaran tematik pada jenjang pendidikan di SD sebetulnya tidak menjadi kendala, jika buku yang tersedia saat sekarang memadai dari segi materi. Pembelajaran tematik bertujuan agar peserta didik menerima materi secara utuh atau menyeluruh tidak terlepas dari satu konten dengan konten lainnya. Guru dapat menggunakan satu materi untuk menjelaskan beberapa konsep dan kompetensi. Pendekatan ini sering disebut dengan tematik terpadu atau terintegrasi. Pendekatan pembelajaran tematik dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik kelas.

Pada saat pengamatan dilakukan (Desember, 2021), guru berpendapat pembelajaran tari memerlukan ruang yang cukup luas sehingga peserta didik dapat melakukan gerakan dengan leluasa. Pendapat ini benar, tetapi juga kurang tepat. Pembelajaran tari tidak harus menggunakan ruang yang luas, dapat dilaksanakan pada ruang sempit, seperti tetap duduk di tempat duduknya. Pada tari ada gerak yang dilakukan di tempat, tetapi ada gerak yang dilakukan berpindah. Guru dapat memulai pembelajaran dengan melakukan gerak di tempat, kemudian baru dilanjutkan melalui gerak berpindah. Konsep ini dapat terlaksana dengan baik jika guru memiliki bahan ajar sebagai pedoman dalam pembelajaran.

Kondisi ini pada akhirnya guru kelas V pada mengajarkan aspek seni tari hanya pada konsep pengetahuan, bukan pada keterampilan, dan sikap. Hal ini dilakukan dengan alasan tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan materi dalam bentuk keterampilan. Guru juga beralasan tidak tersedianya sumber materi sebagai rujukan dalam mengembangkan materi pembelajaran. Materi tentang seni tari yang diperoleh pada saat menjadi mahapeserta didik  kurang mencukupi untuk diberikan kepada peserta didik.

Hasil analisis terhadap buku siswa dan buku guru (Januari, 2022), yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kemdibudristek, kelas V pada semua tema kurang memberi informasi secara baik dan benar. Hal ini ditandai dengan materi terputus ketika sudah berganti dengan tema. Pada kelas V terdapat delapan tema, sehingga materi setiap tema tidak memiliki linieritas dengan materi pada tema berikutnya, terutama untuk aspek seni tari. Pembelajaran tari memiliki karakteristik berbeda dengan pelajaran seni musik atau kerajinan, yang dapat diselesaikan sesuai dengan temanya. Pada menyanyi, misalnya satu lagu dapat dinyanyikan dalam beberapa pertemuan dalam satu tema, tetapi tari tidak dapat diselesaikan hanya satu atau dua pertemuan. Materi tari dapat diselesaikan sesuai dengan tema, jika ragam gerak yang dikembangkan sesuai dengan materi lagu yang diberikan. Hal ini tidak ada pada buku tematik siswa, tidak ada kesatuan di dalam aspek seni. Buku tematik siswa dan guru belum mencerminkan secara utuh pembelajaran tematik yang menyeluruh dan terintegrasi baik materi, tujuan, dan kompetensi.

Materi pembelajaran SBdP kurang memberi informasi kepada guru, tentang dua aspek penting, yaitu apresiasi dan kreasi. Kemampuan apresiasi dapat diberikan kepada semua peserta didik, sedangkan kemampuan kreasi dapat diberikan kesempatan kepada peserta didik yang memiliki minat pada aspek yang yang ada. Apresiasi dan kreasi dapat dilakukan secara bersamaan pada saat proses pembelajaran oleh guru bersama dengan peserta didik. Hal ini dapat terjadi dengan baik, jika tersedia bahan ajar yang memadai bagi guru. Bahan ajar bagi guru penting sebagai sumber insprasi dalam pembelajaran.

Kondisi ini berdampak pada pelaksanaan pembelajaran tematik di kelas. Guru kelas ketika mengajarkan dengan menggunakan pendekatan tematik, lebih menekankan pada konten berbasis mata pelajaran, bukan pada materi sebagai alat untuk mencapai kompetensi yang hendak dicapai. Pada pendekatan tematik, seharusnya ada materi sebagai pintu masuk untuk kemudian mempelajari bermacam-macam materi dari bermacam-macam mata pelajaran. Kondisi inilah yang pada akhirnya pembelajaran seni budaya dan prakarya (SBdP) kurang optimal dilakukan. Materi senantiasa berubah-ubah mengikuti tema yang berlaku, sehingga peserta didik belum memahami satu konsep tentang seni tari yang dipelajari, sudah berganti dengan konsep lain (Khofiatun & Ramli, 2016).

Guru kelas V SD mendapatkan kesulitan memperoleh materi SBdP aspek seni tari karena melebur dalam pembelajaran tematik (Guru et al., n.d.; Restian, 2019). Materi pada setiap tema sering berbeda, tidak ada hubungan dengan materi pada tema sebelumnya. Pada pembelajaran tari seharusnya materi itu merupakan kesatuan utuh sehingga peserta didik memperoleh kompetensi sesuai dengan yang tercantum di dalam KD. Peserta didik pada akhirnya sama sekali tidak memiliki keterampilan yang diharapkan sesuai dengan usia perkembangannya.

Pembelajaran yang dilakukan seharusnya menuju pada tujuan penguasaan konsep dan keterampilan sesuai dengan KD  yang dipelajari. Penguasaan ini penting karena mencakup kompetensi yang harus dimiliki setelah menyelesaikan satu tahun pembelajaran. Kompetensi ini kemudian terbagi-bagi selama setahun mengikuti pembelajaran. Kumpulan-kumpulan konsep dan keterampilan yang diberikan kepada peserta didik pada setiap pertemuan, seperti menyusun bagian-bagian untuk menjadi satu kesatuan utuh. Hasil pengamatan dan analisis terhadap bahan ajar seni tari pada kelas V sekolah dasar, dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, saat sekarang ini buku tematik untuk siswa dan buku tematik untuk guru, kurang memberi bekal kepada guru untuk dapat menguasai konsep dan keterampilan aspek seni tari. Pada kedua buku tersebut materi kurang memadai baik dari aspek konsep atau keterampilan, Kondisi ini semakin tidak memadai ketika materi aspek seni tari berubah mengikuti tema yang sedang diajarkan. Peserta didik tidak utuh menerima konsep dan keterampilan tari. Implikasinya, peserta didik kurang memiliki keterampilan dan konsep tentan tari.

Kedua, penyediaan sumber, media, bahan pembelajaran seni tari merupakan keniscayaan, karena dibutuhkan oleh guru di kelas. Guru merupakan seorang manajer dalam pembelajaran. Guru sebagai manajer harus mampu mengelola kelas dengan baik. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, merupakan salah satu kemampuan yang harus dapat dilakukan oleh guru. Pada sisi lain, keterbatasan sumber, media, dan bahan ajar seni tari, sehingga guru sering mengalami kesulitan untuk memberikan pelayanan pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar (KD) yang diajarkan. Penyediaan  bahan ajar bagi guru dengan cakupan materi seni tari, merupakan kebutuhan mendasar, sehingga guru memiliki sumber yang dapat digunakan untuk diberikan kepada peserta didik.

Ketiga, kondisi ideal belum dapat terwujud sepenuhnya karena kelangkaan dari sumber, dan bahan pembelajaran tari untuk kelas V SD. Guru tidak memiliki dan mempunyai akses untuk mengembangkan materi sesuai dengan tuntutan KD tersebut. Guru hanya mengajarkan tari sesuai dengan materi yang tercantum baik pada buku guru maupun buku tematik siswa. Hal ini tentu kurang memadai bagi kelas V yang sudah menghendaki pada tingkat kemampuan untuk menampilkan tarian kreasi dan memahami konsep tentang tarian tersebut. Ketersediaan bahan ajar, sumber belajar, merupakan keniscayaan, sehingga guru dapat mengembangan sendiri materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan di kelas.

Pengembangan bahan ajar seni tari untuk guru merupakan salah satu upaya memberikan  ketersediaan sumber materi bagi guru. Guru melalui pengembangan modul ini  dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran kepada  peserta didik sesuai dengan materi dan kompetensi pada kurikulum 2013. Guru melalui bahan ajar seni tari ini dapat dijadikan sebagai inspirasi, untuk  mengembangkan materi sesuai dengan kondisi dan lingkungan sekolah. Modul ini bersifat generik sehingga dapat diadaptasi ke lingkungan sekolah sesuai dengan sumber daya yang tersedia. 

Kompetensi menurut menurut undang-undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Ada empat kompet Kompetensi Pedagogik terdiri dari (1) Mengenal karakteristik peserta didik. Pengamatan dan Pemantauan; (2) Menguasasi teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Pengamatan; (3) Pengembangan kurikulum. Pengamatan; (4) Kegiatan pembelajaran yang mendidik. Pengamatan; (5)  Pengembangan potensi peserta didik. Pengamatan dan Pemantauan; (6)  Komunikasi dengan peserta didik. Pengamatan; dan (7) Penilaian dan evaluasi. Pengamatan. Pada aspek ini terdapat tujuah indikator yang harus dikuasai oleh guru.

Pada pembelajaran di ruang-ruang kelas pemanfaatan teknologi belum optimal sehingga pembelajaran sering dilakukan secara tradisional. Pemanfaatan teknologi dalam pengembangan pembelajaran memberi keuntungan baik untuk guru maupun siswa. Pada konteks ini yang menjadi objek adalah guru. Dengan demikian dapat dikatakan guru sebagai siswa atau orang yang belajar. Seperti telah dijelaskan di awal tentang keuntungan menggunakan teknologi dalam pembelajaran Smaldino, et.all (2011, hlm. 173-174) menyatakan bahwa ada keuntungan dalam penggunaan teknologi dalam pembelajaran yaitu individual, kebutuhan khusus, pemantauan, pengalaman multisensorik, dan partisipasi siswa. Buckingham seperti dikutip oleh Jessika  K. Parker (Schrum, 2013, hlm. 99) bahwa media digital menyediakan cara baru untuk menghubungkan dan mewakili dunia dalam berkomunikasi... Masalah yang paling sering terjadi dengan penggunaan media tersebut dalam dunia pendidikan adalah bahwa mereka tertap dianggap media ini terus dianggap bahwa sebagai alat penyampai informasi – padahal sebenarnya, sebagai alat netral atau “alat bantu mengajar”. Inilah kesalahan yang sering terjadi di dunia pendidikan. Teknologi sering dipandang sebagai media penyampai informasi semata. Teknologi belum dipandang sebagai sarana atau media untuk belajar tentang semua hal yang tidak dapat dikembangkan melalui media cetak. Pada teknologi semua pesan dapat disampaikan melalui grafis, audio maupun audio visual sekaligus.

Materi pada pengembangan teknologi di dalam pembelajaran berbasis digital sering disebut dengan objek pembelajaran. Beck seperti dikutip oleh Parkay dan Stanford (2011, hlm. 192-193) menyatakan bahwa objek pembelajaran adalah sumber-sumber digital yang dapat digunakan ulang untuk mendukung pembelajaran. Objek pembelajaran adalah sumber digital kecil yang self contiuned- setiap objek pembelajaran dapat digunakan secara mandiri, bisa digunakan ulang yaitu satu objek pembelajaran bisa digunakan dalam banyak konteks untuk berbagai tujuan, dapat diagregasi yaitu objek-objek pembelajaran dapat digabungkan ke dalam satu kelompok konten, termasuk struktur pelajaran tradisional, dan ditandai dengan metadata yaitu setiap objek pembelajaran memiliki informasi deskriptif yang memungkinkan objek tersebut ditemukan dengan mudah melalui search.

Doering, et.all.  (2010, hlm. 366) menyatakan bahwa Technological pedagogical contens knowledge (TPACK) in any discipline in the perfect union of three knowledge domains (contens, pedagogi, and technology) to develop a knowledge base from which a teacher can view a lesson and see saw technology can enchance learning opportunities and experiences for students while also knowing the correct pedagogy to enchance the learning of the contens. Di dalam pengembangan pembelajaran dengan menggunakan teknologi setidaknya dapat dicakup tiga komponen sekaligus yaitu materi, pembelajaran, dan teknologi. Ketiganya merupakan satu kesatuan utuh.

Somekh menyatakan bahwa the implications of all this research are clear school need to find ways of using ICT the give young people the transformed learning apportunities that same are already experiencing with ICT at home. Implikasi dari penggunaan teknologi memberi pengalaman kepada siswa dan guru baik di sekolah maupun di rumah. Teknologi tidak hanya dapat ditampilkan melalui pembelajaran di sekolah tetapi juga dapat ditampilkan di rumah. Seorang guru atau siswa dapat menggunakan teknologi tersebut kapan pun dan dimana pun. Judy Lever-Duffy, Jeans B. McDonald, Al P. Mizell. menyatakan bahwa Indeed, multimedia today is synonymous with a computer based format that combines text, graphics, audio, an even video into a single, coherent, digital presentation. Pada saat sekarang ini yang sering disebut dengan multimedia sering disamakan dengan komputer dengan format dasar teks, gambar, suara, vidoe, serta presentasi secara digital. Penggunaan multimedia ini dalam pembelajaran belum secara optimal dilakukan oleh guru. Pembelajaran melalui multimedia dalam bentuk presentasi digital memudahkan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Guru lebih sering menggunaan teknologi ini sebatas kebutuhan administrasi saja.

Kellough seperti dikutip oleh Danim (2011, hlm, 109) menyebutkan bahwa salah satu ciri guru yang memiliki kompetensi adalah menguasai pengetahuan tentang materi pelajaran yang diajarkannya. Dengan kata lain, penguasaan materi pembelajaran merupakan kompetensi inti bagi seorang guru. Guru yang tidak memiliki kemampuan dalam penguasaan materi tentu tidak dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi secara optimal. Spencer, McLellanf, dan Spencer (dalam Yulaelawati, 2004, hlm. 16) menyatakan bahwa kompetensi dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu pengetahuan, keterampilan dan karakteristik personal. Kompetensi pengetahuan berhubungan dengan pengetahuan tentang fakta atau prosedural terhadap suatu disiplin ilmu. Keterampilan merupakan keterampilan kognitif atau perilaku seperti membangun pengertian dan membuat orinetasi secara rinci. Kompetensi karakteristik personal merupakan pembawaan individu dalam kemampuan menyesuaikan diri, menyelesaikan permasalahan, prakarsa, kemandirian, integritas, dan kesadaran interpersonal.

Guru pada abad 21 dituntut untuk lebih terbuka terhadap kemajuan teknologi. Jika guru tidak mampu mengikuti teknologi dalam pembelajaran menjadikan siswa tertinggal dengan negara-negara lain dalam persaingan global. McCain & Jukes seperti dikutip oleh Parkay dan Stanford (2011, hlm. 186) menyatakan bahwa berlipatnya kekuatan teknologi selama 1990an mengubah kita menjadi masyarakat kecepatan tinggi dan teknologi tinggi. Akibatnya, kita semua mengalami perubahan yang semakin cepat pada kecepatan yang belum pernah dialami dalam sejarah manusia. Sebagian besar dari kita yang terlibat dalam pendidikan tidak siap untuk ini, dan sebagai akibatnya, kita belum bisa merespons teknologi tersebut secepat dunia di luar dnnia pendidikan. Kita harus dengan cepat mengejarnya atau harus menghadapi kemungkinan menjadi tidak relevan.

Metode Penelitian

Penelitian pengembangan modul bahan ajar tari untuk guru  dilaksanakan dari bulan April 2021 sampai Juni 2021. Tempat penelitian dilakukan di Sekolah Dasar (SD) wilayah Kecamatan Kebun Jeruk  Jakarta Barat,  dengan melibatkan guru kelas V baik untuk uji one to one, uji kelompok kecil, dan uji kelompok besar. Uji pakar dengan melibatkan ahli materi seni tari dosen Program Studi Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Jakara, ahli grafika, dan ahli desain intruksional. Subjek penelitian baik guru maupun pkar dilibatkan pada setiap Langkah metode riset dan pengembangan yang dikembangkan oleh Borg dan Gall. Pada saat penelitian ada sebagian dilalukan dengan tatap muka, tetapi ada sebagian dilakukan dengan menggunakan sistem daring atau dalam jaringan. Guru dan pakar terlibat aktif pada setiap langkah penelitian yang dilakukan, pada proses penelitian. Metode penelitian pengmbangan modulsiswa dan modulguru tematik kontekstual dengan menggunakan riset dan pengembangan Borg dan Gall dengan modifikasi sesuai dengan kebutuhan penelitian. Desain penelitian dapat dilihat pada gambar berikut ini.

 

Gambar 1.  desain penelitian pengembangan modul bahan ajar guru kelas V

 

Hasil dan Pembahasam

Penelitian dengan menggunakan metode riset dan pengembangan dilakukan dengan menggunakan Langkah-langkah yang dikembangkan oleh Borg dan Gall baik untuk mengembangkan modul bahan ajar maupun validitas eksternal melalui subjek penelitian, pakar, dan guru kelas V sekolah dasar (SD). Hasil penelitian sesuai dengan metode yang digunakan dapat dijelaskan sebagai berikut.

 

Peningkatan Kompetensi Guru

Peningkatan kemampuan guru terhadap kemampuan memahami dan melaksanakan bahan ajar tari kelas V dilakukan melalui pretest dan posttest. Pretest dilakukan pada saat dilakukan observasi lapangan pelaksanaan pembelajaran tari kelas V sekolah dasar di lingkungan kecamatan Kebun Jeruk. Ada tiga kompetensi yang terbagi dalam tiga modul bahan ajar tari untuk guru. Pada saat pretest dilakukan, guru menerima lembar pertanyaan tanpa disertai dengan bahan ajar. Guru kemudian diberikan modul bahan ajar untuk dipelajari, dibaca, sesuai dengan petunjuk yang ada di dalam modul. Guru kemudian bertemu kembali setelah satu minggu. Hasil pretest dan postest terhadap kemampuan guru memahami modul bahan ajar tari kelas V dapat dijelaskan sebagai berikut.

 

Modul 1 Karakteristik Kurikulum 2013

Pada modul 1 Perspektif Kurikulum 2013 terdapat dua kegiatan pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran 1 tentang karakteritik kurikulum 2013 dan kegiatan pembelajaran 2 tentang asesmen pembelajaran. Ada 30 subjek penelitian yang melibatkan guru kelas V sekolah dasar. Pada saat pretest guru diminta untuk mengisi lembar evaluasi diri. Hasil evaluasi diri pretest  pada modul 1 dapat dilihat pada tabel  berikut ini.

 

Tabel 1 Hasil evaluasi diri pretest modul 1

No.

Aspek Evaluasi Diri

Penilaian

Total

1

2

3

4

5

1.

Kegiatan Pembelajaran 1

5

5

8

5

7

30

2.

Kegiatan Pembelajaran 2

10

5

8

4

3

30

Pada saat evaluasi diri dilakukan sebelum penelitian dilaksanakan, diperoleh data kegiatan pembelajaran 1 tentang karakteristik kurikulum 2013, pada kategori Sangat Kurang sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7%, kategori Kurang sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7%, kategori Cukup sebanyak 8 guru, atau sebesar 26,6%, kategori Baik sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7%, dan kategori Sangat Baik sebanyak 7 guru, atau sebesar 23,3 %.

Pada kegiatan pembelajaran 2 tentang asesmen pembelajaran diperoleh data kategori Sangat Kurang sebanyak 10 guru, atau sebesar 33,3%, kategori Kurang sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7%, kategori Cukup sebanyak 8 guru, atau sebesar 26,7%, kategori Baik sebanyak 4 guru, atau sebesar 13,3%, dan kategori Sangat Baik sebanyak 3 guru, atau sebesar 10%. Hasil evaluasi diri pada saat pretest dapat digambarkan melalui grafik seperti berikut ini

Gambar 2 Grafik hasil pretest modul 1 Perspektif Kurikulum 2013

Guru kelas V setelah mengikuti pretest atau tes awal kemampuan materi pembelajaran tari, kemudian diberikan modul bahan ajar tari sesuai dengan kompetensi dasar (KD) kurikulum 2013. Guru diminta untuk mempelajari di rumah dan akan dilakukan pertemuan setelah satu minggu. Hasil evaluasi diri pada saat pertemuan dan guru sudah membac modul bahan ajar tari dapat dilihat pada tabel berikut ini.

 

Tabel 2 Hasil posttest modul 1

Pada kegiatan pembelajaran 1 tentang karakteristik kurikulum 2013,  kategori Sangat Kurang sebanyak 0 guru, atau 0%, kategori Kurang, sebanyak 0 guru, atau 0%, kategori Cukup sebanyak 3 guru, atau sebesar 10%, kategori Baik sebanyak 7 guru, atau sebesar 23,3%, dan pada kategori Sangat Baik sebanyak 20 guru, atau sebesar 66,7%   .

Pada kegiatan pembelajaran 2 tentang asesmen pembelajaran, kategori Sangat Kurang sebanyak 0 guru, atau sebesar 0%, kategori Kurang sebanyak 0 guru, atau sebesar 0%, kategori Cukup sebanyak 2 guru, atau sebesar 6,7%, kategori Baik sebanyak 3 guru, atau sebesar 10%, dan kategori Sangat Baik sebesar 25 guru, atau sebesar 83,3%. Hasil evaluasi diri posttest dapat digambarkan melalui grafik seperti berikut ini.

Gambar 3  Grafik hasil posttest modul 1 Perspektif Kurikulum 2013

 

Hasil akhir tes yang dilakukan setelah guru kelas V membaca modul bahan ajar tari menunukkan adanya peningkatan kemampuan guru. Pada kategori Sangat Kurang dan Kurang terjadi penurunan jumlah guru, sedangkan pafa kategori Cukup, Baik, dan Sangat Baik terjadi peningkatan. Hasil ini memberi indikasi adanya peningkatan kemampuan guru terhadap materi pembelajaran seni tari sesuai dengan kurikulum 2013 yang dilaksanakan di sekolah, terutama pada kelas V sekolah dasar.

 

Modul 2 Level dan Pola Lantai

Pada modul 2 tentang level dan pola lantai. Pada modul 1 ada tiga kegiatan pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran 1 tentang level, kegiatan pembelajaran 2 tentang pola lantai, dan kegiatan pembelajaran 3 tentang musik iringan tari. Pada modul ini lebih menekankan pada materi yang terdapat pada kompetensi dasar 3 dan kompetensi dasar 4 pada kurikulum 2013 (Handayani, 2018). Pada saat pretest, guru diberikan lembar evaluasi diri sesuai dengan materi pada setiap kegiatan pembelajaran. Hasil pretes dapat dilihat pada table berikut ini.

 

Tabel 3 Hasil pretest modul 2 tentang level dan pola lantai

No.

Aspek Evaluasi Diri

Penilaian

Total

1

2

3

4

5

1.

Kegiatan Pembelajaran 1

10

8

5

5

2

30

2.

Kegiatan Pembelajaran 2

12

7

9

1

1

30

3.

Kegiatan Pembelajaran 3

14

8

4

2

2

30

 

Pada kegiatan pembelajaran 1 diperoleh data kategori Sangat Kurang sebesatr 10 guru, atau sebesar 33,3%, kategori Kurang sebanyak 8 guru, atau sebesar 26,6%, kategori Cukup sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7%, kategori Baik sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7%, dan kategori Sangat Baik sebanyak 2 guru, atau sebesar6,7%.

Pada kegiatan pembelajaraan 2 diperoleh data kategori Sangat Kurang sebanyak 12 guru, atau sebesar 40%, kategori Kurang sebanyak 7 guru, atau sebesar 23,3%, kategori Cukup seanyak 9 guru, atau sebesar 30%, kategori baik sebanyak 1 guru, atau 3,3%, dan kateogri Sangat Baik sebanyak 1 guru, atau sebesar 3,3%.

Pada kegiatan pembelajaran 3 diperoleh data kategori Sangat Kurang sebanyak 14 guru, atau sebesar 46,7%, kategori Kurang sebanyak 8 guru, atau sebesar 26,6%, kategori Cukup sebanyak 4 guru, atau sebesar 13,3%, kategori Baik sebanyak 2 guru, atau sebesar 6,7%, dan kategori Sangat Baik sebanyak 2 guru, atau sebesar 6,7%. Hasil pretest pada modul 2 dapat digambarkan melalui grafik seperti berikut ini.

Gambar 3 Grafik hasil pretest modul 2 level dan pola lantai

 

Guru diberikan modul bahan ajar tari kelas V, seminggu kemudian berkumpul dan dilakukan test untuk mengukur kemampuan setelah membaca modul tersebut. Guru diminta untuk melakukan evaluasi diri yang terdapat pada setiap akhir kegiatan pembelajaran. Hasil posttest guru pada modul 2 dapat dilihat pada table berikut ini.

 

Tabel 4 Hasil posttest modul 2 level dan pola lantai

No.

Aspek Evaluasi Diri

Penilaian

Total

1

2

3

4

5

1.

Kegiatan Pembelajaran 1

2

4

8

10

8

30

2.

Kegiatan Pembelajaran 2

1

4

10

5

10

30

3.

Kegiatan Pembelajaran 3

4

4

12

5

5

30

 

Pada kegiatan pembelajaran 1 diperoleh data kategori Sangat Kurang sebanyak 2 guru, atau seb5sar 6,7%, kategori Kurang sebanyak 4 guru, atau sebesar 13,3%, kategori Cukup sebanyak 8 guru, atau sebesar 26,6%, kategori Baik sebesar 10 guru, atau sebesar 33,3%, dan kategori Sangat Baik sebanyak 8 guru, atau sebesar 26,6.

Pada kegiatan pembelajaran 2 diperoleh data kategori Sangat Kurang sebanyak 1 guru, atau sebesar 3,3%, kategori Kurang sebanyak 4 guru, atau sebesar 13,3%, kategori Cukup sebanyak 10 guru, atau sebesar 33,3%, kategori Baik sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7%, dan kategori Sangat Baik sebanyak 10 guru, atau sebesar 33,3%

Pada kegiatan pembelajaran 3 diperoleh data kategori Sangat Kurang sebanyak 4 guru, atau sebesar 13,3%, kategori Kurang sebanyak 4 guru, atau sebesar 13,3%, kategori Cukup  sebanyak 12 guru, atau sebesar 40%, kategori Baik sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7%, dan kategori Sangat Baik sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7%. Hasil posttest pada modul 2 dapat digambarkan melalui grafik seperti berikut ini.

Gambar 4 Grafik hasil post test modul 2 level dan pola lantai

 

Hasil post test pada modul 2 menunjukkan adanya penurunan jumlah guru pada kategori Sangat Kurang dan Kurang, tetapi ada peningkatan pada kategori Cukup, Baik, dan Sangat Baik. Pada modul 2 ini merupakan kemampuan inti pada aspek tari yang harus dikuasai oleh guru. Hasil post test guru memiliki kemampuan setelah membaca dan mempelajari modul yang telah dibagikan seminggu sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa materi bahan ajar tari mudah dipahami oleh guru kelas V sekolah dasa.

 

Modul 3 Meragakan Gerak Tari

Pada modul 3 membahas tentang keterampilan melakukan gerak, yaitu melakukan gerak tari sesuai dengan iringan. Pada modul 1 dan 2 lebih bersifat pengetahuan tentang kurikulum dan tari, pada modul 3 menekankan kemampuan guru melakukan ragam gerak tari setelah mengetahui dan memahami tentang tari. Pada modul 3 terdiri dari dua kegiatan pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran 1 tentang berlatih gerak tari, dan kegiatan pembelajaran 2 tentang melakukan ragam gerak tari sesuai iringannya. Guru diminta untuk meragakan beberapa ragam gerak yang dikuasai pada saat pertemuan pertama. Hasil pretest ragam gerak guru dapat dilihat pada table berikut ini (Handayani, 2015).

Tabel 5 Hasil pretest modul 3 meragakan gerak tari

No.

Aspek Evaluasi Diri

Penilaian

Total

1

2

3

4

5

1.

Kegiatan Pembelajaran 1

15

5

3

5

2

30

2.

Kegiatan Pembelajaran 2

17

4

4

3

2

30

 

Pada kegiatan pembelajaran 1 diperoleh kategori Sangat Kurang sebanyak 15 guru, atau 50%, kategori Kurang sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7%, kategori Cukup sebanyak 3 guru, atau 3,3%, kategori Baik sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7, dan kategori Sangat Baik sebanyak 2 guru, atau sebesar 6,7%.

Pada kegiatan pembelajaran 2 diperoleh kategori Sangat Kurang sebanyak 17 guru, atau sebesar 56,7%, kategori Kurang sebanyak 4 guru, atau sebesar 13,3%, kategori Cukup sebanyak 4 guru, atau sebesar 13,3%, kategori Baik sebanyak 3 guru, atau sebesar 3,3%, dan kategori Sangat Baik sebanyak 2 guru, atau sebesar 6,7%. Hasil prestest pada modul 3 dapat digambarkan melalui grafik seperti berikut ini.

Gambar 5  Grafik hasil pretest modul 3 meragakan ragam gerak

 

Guru kemudian diberikan modul bahan ajar tari kelas V sesuai dengan kurikulum 2013. Guru diminta untuk melakukan ragam gerak pada modul 3 baik sesuai dengan hitungan atau iringan lagu yang digunakan. Hasil post test terhadap kemampuan guru setelah melakukan ragam gerak sesuai dengan materi yang terdapat di modul, dapat dilihat pada table berikut ini.

Tabel 6 Hasil post test modul 3 meragakan gerak tari

No.

Aspek Evaluasi Diri

Penilaian

Total

1

2

3

4

5

1.

Kegiatan Pembelajaran 1

5

3

10

6

7

30

2.

Kegiatan Pembelajaran 2

5

3

7

7

8

30

Hasil post test pada kegiatan pembelajaran 1 modul 3 diperoleh data kategori Sangat Kurang sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7%, kategori Kurang sebanyak 3 guru, atau sebesar 3,3%, kategori Cukup sebanyak 10 guru, atau sebesar 33,3%, kategori Baik sebanyak 6 guru, atau sebesar 20%, dan kategori Sangat Baik sebanyak 7 guru, atau sebesar 23,3%.

Pada kegiatan pembelajaran 2 modul 3 diperoleh data kategori Sangat Kurang sebanyak 5 guru, atau sebesar 16,7%, kategori Kurang sebanyak 3 guru, atau sebesar 3,3%, kategori Cukup sebanyak 7 guru, atau sebesar 23,3%, kategori Baik sebanyak 7 guru, atau sebesar 23,3%, dan kategori Sangat Baik sebanyak 8 guru, atau sebesar 26,6%. Hasil post test modul 3 dapat digambarkan melalui grafik seperti berikut ini.

Gambar 7  Grafik hasil post test modul 3 meragakan ragam gerak

 

Hasil post test pada modul 3 mengalami penurunan jumlah guru pada kategori Sangat Kurang dan Kurang, tetapi mengalami peningkatan pada kategori Cukup, Baik, dan Sangat Baik. Ada perbedaan sangat tinggi terutama pada kategori Sangat Kurang pada saat pretest berjumlah 17 guru, tetapi setelah berlatih melakukan ragam gerak berubah mengalami penurunan jumlah guru hanya ada 5 orang guru yang masih pada kategori Sangat Kurang (Diana & Puspasari, 2015). Kondisi ini merupakan hal yang wajar, karena tidak mudah melakukan gerak sesuai dengan lagu yang mengiringinya. Mereka juga bukan lulusan dari prodi tari, tetapi merupakan guru kelas yang berasak dari prodi Pendidikan guru sekolah dasar (PGSD).

Hasil pada modul 3 dengan adanya peningkatan kemampuan guru melakukan gerak, menunjukkan adanya kemudahan bagi guru mengikuti petunjuk yang terdapat pada modul. Kemudahan ini ditandai dengan kemampuan guru melakukan gerak tanpa bimbingan dari orang lain, hanya membaca dan memahami isi modul terutama pada modul 3. Guru yang tidak memiliki latar Pendidikan seni tari tetapi dapat melakukan gerak merupakan sesuatu yang sangat baik sekali untuk meningkatkan kemampuan sesuai dengan materi yang terdapat di kurikulum 2013 kelas V sekolah dasar.

 

Efektivitas Modul Bahan Ajar Tari

Efektivitas modul diukur kelayakan untuk digunakan oleh guru di lapangan. Ada tiga indicator kelayakan, yaitu keterbacaan isi modul, kesesuaian dengan isi kurikulum yang berlaku, dan kemudahan mengimplementasi pada proses pembelajaran. Setiap indikator diberikan empat bobot, yaitu (1) Sangat Kurang Layak; (2) Kurang Layak; (3) Layak; (4) Sangat layak. Guru pada pertemuan untuk melakukan diskusi kelompok terpumpun (DKT) diminta untuk mengisi lembar penilaian terhadap modul bahan ajar tari yang telah dipelajari (Roosmaya & Wahyuno, 2018). Hasil penilaian guru dapat dilihat pada table berikut ini.

 

Tabel 7 Hasil penilaian kelayakan modul bahan ajar tari kelas V

No.

Aspek Kelayakan

Penilaian

Total

1

2

3

4

1.

Keterbacaan isi modul

0

0

3

27

30

2.

Kesesuaian dengan kurikulum

0

0

0

30

30

3.

Kemudahan diimplementasikan

0

0

0

30

30

4.

Memiliki desain menarik

0

0

5

25

30

 

Hasil kuesioner yang diisi oleh guru pada saat dilakukan DKT diperoleh data indicator keterbacaan isi modul kategori Sangat Kurang Layak sebanyak 0 guru, atau sebanyak 0%, kategori Kurang Layak sebanyak 0 guru, atau sebesar 0%, kategori Layak sebanyak 3 guru, atau sebesar 3,3%, dan kategori Sangat layak sebanyak  27 guru, atau sebesar 96,7%.

Pada aspek kelayakan indicator kesesuaian dengan kurikulum diperoleh data Sangat Kurang Layak sebanyak 0 guru, atau sebesar 0%, Kurang Layak sebanyak 0 guru, atau sebesar 0%, Layak sebanyak 0 guru, atau 0%, dan Sangat Layak sebanyak 30 guru, atau sebesar 100%.

Pada aspek kelayakan indicator kemudahan diimplementasikan diperoleh data kategori Sangat Kurang Layak sebanyak 0 guru, atau sebesar 0%, kategori Kurang Layak sebanyak 0 guru, atau sebesar 0%, Layak sebanyak 0 guru, atau sebesar 0%, dan Sangat Layak sebanyak 30 guru, atau sebesar 100%

Pada aspek kelayakan indicator memiliki desain menarik diperoleh data kategori Sangat Kurang Layak sebanyak 0 guru, atau sebesar 0%, kategori Kurang Layak 0 guru, atau sebesar 0%, Layak sebanyak 5 guru, atau sebesar 30%, dan Sangat Layak sebanyak 25%, atau sebesar 75%. Hasil penilaian guru terhadap kelayakan modul bahan ajar tari untuk digunakan di sekolah dapat digambarkan melalui grafik seperti berikut ini.

Gambar 7  Grafik hasil penilaian kelayakan modul 

Hasil penilaian kelayakan modul bahan ajar tari yang dilakukan oleh guru kelas V menunjukkan adanya efektivitas modul digunakan oleh guru. Keempat indicator pada kelayakan merujuk pada efektif atau tidak efektif modul tersebut digunakan. Modul dikatakan memiliki kelayakan sangat tinggi, maka efektif digunakan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan diri dalam proses pembelajaran yang akan dilakukan. Dengan demikian, modul bahan ajar tari untuk guru kelas V sekolah dasar dapat dikatakan memiliki tingkat kelayakan sehingga efektif untuk digunakan.

Penelitian pengembangan modul bahan ajar tari untuk guru bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru kelas V SD dan efektivitas modul tersebut digunakan oleh guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tujuan tersebut berhasil dilakukan pada saat penelitian. Penjelasan terhadap temuan dan hasil peneltian dapat dijelaskan sebagai berikut.

 

Peningkatan Kompetensi  Guru

Pembelajaran tari pada jenjang pendidikan dasar memiliki tujuan agar peserta didik memiliki kepekaan terhadap tubuh, gerak, ritme, dan estetika. Komponen ini penting diberikan baik secara nyata dalam bentuk rangkaian gerak tari, atau tersembunyi melalui proses pembelajaran (Musfah, 2012). Tujuan ini dapat tercapai jika guru kelas memiliki kepekaan terhadap proses pembelajaran tari. Penelitian ini dengan melibatkan guru-guru secara aktif merupakan salah satu upaya dan cara meningkatkan kompetensi guru (Pianda, 2018).

Pembelajaran tari pada prakteknya dapat menggunakan media sangar beragam. Modul cetak merupakan salah satunya. Guru dapat menggunakan media digital untuk memperoleh materi tari untuk kelas IV SD. Masa pandemi merupakan puncak penggunaan media digital untuk semua aspek pembelajaran. Penelitian yang dilakukan juga menggunakan platform digital dengan cetak agar pemahaman guru terhadap ragam gerak tari sesuai dengan KD dapat berjalan secara optimal (Kurnianingsih, 2018). Pembahasan setiap modul dan kegiatan pembelajaran yang ada, diperkaya dengan digital sehingga persepsi guru terhadap ragam gerak yang dikembangkan memiliki konsistensi sama.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan media daring karena masih masa pandemic. Peneliti dan guru melakukan zoom meeting dan berdiskusi secara intesif. Modul sebelumnya telah dikirimkan terlebih dahulu untuk dipelajari, sehingga ketika bertemu melalui media digital fokus pada diskusi yang belum penrah dipahami oleh guru, maupun menjawab pakar saat uji pakar dilakukan. Uji pakar jug dilakukan melalui media daring. Ada dua jenis yang dilakukan oleh kelompok pakar, yaitu melakukan validasi instrumen dan keterbacaan terhadap modul yang telah dikembangkan. Masukan dan saran para pakar sebagai landasan untuk melakukan perbaikan dan uji selanjutnya.

Pada saat uji one to one dilakukan oleh lima orang guru di wilayah Jakarta Barat. Kelima orang ini merupakan guru kelas IV SD. Secara karakteristik memiliki gelar sarjana dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Pada saat mengikuti pendidikan sarjana pernah mendapatkan materi perkuliahan tentang tari, tetapi hanya teori dan sepintas saja. Informasi tentang tari pernah diperoleh tetapi tidak mendalami secara khusus. Elemen-elemen tari bukan merupakan subjek baru, tetapi telah dikenal sebelumnya, dan ketika membaca modul secara konseptual memahami isinya. Pada uji ini guru masih memiliki kemampuan rendah pada saat diskusi tatap muka dengan melakukan evaluasi diri. Diskusi pun belranjut dengan memberikan pengetahuan tentang hubungan antata kompetensi dasar (KD) dengan pengembangam materi dan melakukan praktek tari. Pada akhir diskusi terjadi peningkatan kemampuan baik secara konseptual maupun praktikal.

Pada saat uji kelompok kecil yang diikuti oleh 10 orang guru, pada saat evaluasi diri awal dilakukan, kemampuan secara konseptual rendah. Guru-guru juga pernah mendapatkan mata kuliah tentang tari pada saat kuliah. Selama menjadi guru di kelas IV belum pernah mengajarkan secara konseptual maupun praktikal. Materi pembelajaran tari sering dilewatkan atau hanya mengerjakan soal-soal yang terdapat pada buku tematik. Kondisi ini dilakukan selama pelaksanaan kurikulum 2013 (Suralaga, 2021). Guru belum memiliki keberanian dan keterampilan untuk menerapkan pembelajaran tari. Pada akhir pertemuan, guru-guru lebih memiliki kepercayaan diri terhadap penguasaan konsep dan praktik terhadap ragam gerak tari sesuai dengan KD.

Uji kelompok besar dilakukan dengan melibatkan 20 orang guru kelas IV SD. Pelaksanaan uji klompok besar juga dilakukan secara daring. Kondisi kemampuan aawal tidak berbeda jauh dari semua responden saat uji one to one dan uji kelompok kecil, kemampuan guru berdasarkan hasil evaluasi diri, secara konseptual masih rendah. Diskusi dilakukan secara intensif. Persoalan-persoalan tentang pemahaman konsep tari untuk anak SD sesuai dengan KD dilakukan dengan diskusi secara intensif. Guru-guru diberikan waktu untuk mengemukakan pendapat. Hasil curah pendapat menghasilkan beberapa kesimpulan, antara lain; guru kurang memiliki kemampuan untuk memilih materi yang sesuai dengan KD, kurang memiliki kemampuan untuk menerapkan secara praktik, memiliki persepsi kalau menari harus dengan menggunakan ruang terbuka, serta mencari music iringan yang sesuai kurang tersedia secara luas.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan solusi-solusi alternatif  yang diberikan oleh peneliti. Hal ini dilakukan sesuai dengan butir-butir pertanyaan pada evaluasi diri, sehingga lebih fokus. Pada akhir diskusi, guru-guru kemudian mengisi kembali evaluasi diri, dan hasilnya sangat baik, dibandingkan pada saat awal pertemuan. Guru juga memberikan contoh ragam gerak baik, kepala, tangan, badan, atau koordinasi gerakan tangan dengan kepala atau dengan badan. Kompetensi guru secara tidak langsung meningkat baik secara konseptual maupun praktikal.

Pada modul 1 yang membahas tentang karakteristik kurikulum 2013, responden memiliki pemahaman pada kategori baik untuk materi tentang pendekatan pembelajaran. Guru telah melaksanakan pendekatan sesuai dengan materi pembelajaran yang diajarkan. Ciri-ciri kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya dapat dipahami dengan baik. Responden pada materi evaluasi kurang memahami dengan baik terutama jenis alat evaluasi yang dapat digunakan. Responden sering mengunakan alat evaluasi yang tersedia baik di dalam buku siswa, buku guru, Lembar Kerja Siswa (LKS), atau dari sumber lain. Evaluasi pembelajaran untuk mengukur keterampilan sering menggunakan dari hasil kerja kelompok kerja guru (KKG).

Pada modul 2 membahas tentang konsep level dan pola lantai dalam gerak tari. Responden seperti halnya pada materi tentang tari kurang memahami makna dan fungsi level dan pola lantai pada gerak tari. Pada saat diskusi dilakukan muncul beberapa permasalahan tentang konsep tersebut. Responden memahami tentang level dan pola lantai tetapi mengapa diperlukan di pada ragam gerak tari. Topic tersebut dibahas secara mendalam bahwa level dan pola lantai salah satunya berfungsi untuk mencapai dinamika tari. Pada tari kelompok beberapa penari melakukan gerak sambil duduk atau jongkok tetapi ada juga yang berdiri. Ketika mereka melakukan gerakan tersebut membentuk pola lantai baik garis lurus atau garis lengkung dan dapat kombinasi keduanya. Foto-foto yang terdapat di dalam modul menjadi untuk menjelaskan tentang level dan pola lantai. Berdasarkan hasil diskusi responden dapat  memahami fungsi dan makna dari level dan pola lantai.

Responden pada materi tentang musik iringan tari juga mengalami walaupun diantara mereka ada yang mengajarkan aspek musik. Responden berpendapat bahwa musik iringan tari berbeda dengan materi yang diajarkan pada aspek seni musik. Pembahasan kemudian dimulai dengan menemukan unsur yang sama antara unsur gerak dengan unsur musik. Ritme merupakan unsur yang memiliki kesamaan baik di dalam tari maupun di dalam musik. Ritme ini dapat menyatukan antarz gerak dengan musik iringan. Jadi ketika mengajarkan ritme pada musik dapat diikuti dengan gerakan anggota tubuh atau tubuh. Tarian seperti sama yang tidak memiliki iringan musik maka tepukan tapan dan nyanyian dijadikan sebagai ritme untuk melakukan gerak. Responden kemudian menyaksikan tayangan musik dan mencoba mengerakkan tangan sesuai dengan ritme musiknya.

Responden kemudian melanjutkan pada modul 3 yang merupakan penerapan level dan pola lantai. Diskusi dimulai dengan menyaksikan tayangan video yang terdapat di modul cara menerapkan level dan pola lantai. Responden kemudian menyampaikan permasalahan dan didiskusikan berssama. Pemahaman tentang ruang, waktu, dan tenaga pada awal diskusi membantu responden lebih cepat untuk memahami penerapan level dan pola lantai pada gerak.

Responden masih canggung untuk menirukan gerak tari yang terdapat di dalam video. Namun demikian, responden memiliki gambaran tentang penerapan level dan pola pada ragam gerak tari. Pada akhir diskusi dilakukan evaluasi diri bersama tentang pemahaman materi sebelum dan sesudah melakukan diskusi. Responden menyatakan terjadi peningkatan kepercayaan diri terhadap kemampuan penguasaan materi melalui modul baik dalam bentuk cetak maupun digital. Responden berpendapat bahwa kedua modul tereebut saling melengkapi satu dengan lainnya. Responden berpendapat selama ini kesulitan untuk menentukan materi yang sesuai dalam bentuk tayangan video karena di dalam buku guru tidak memberi panduan jenis video apa yang dapad digunakan untuk memperkaya materi pembelajaran. Tayangan video yang terdapat di modul digital membantu dalam memberikan contoh penerapan tentang ruang, waktu, tenaga, level, dan pola lantai pada ragam gerak tari

.

 Responden hanya memerlukan penguatan lebih mendalam terhadap materi yang terdapat di dalam KD. Pendalaman materi dapat berupa lebih detail membahas tentang ruang, waktu dan tenaga tidak hanya di dalam gerak itu sendiri tetapi menjadi instrumen dalam mengembangkan karakter di dalam interaksi sosial. Pembelajaran tari tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan dan keterampilan tetapi juga sebagai instrument untuk mengembangkan sikap untuk peduli sesame.

Responden yang berasal dari pendidikan linier masih kurang memahami pada bagian evaluasi pembelajaran. Pada praktiknya responden jarang mengembangkan alat evaluasi pembelajaran. Alat evaluasi diperoleh melalui buku siswa, LKS, atau dari sumber lain. Responden secara keseluruhan belum pernah mendapatkan pelatihan tentang pengembangan alat evaluasi pada pembelajaran tari. Pada prinsipnya responden ingin mendapatkan pelatihan yang khusus membahas pengembangan alat evaluasi sehingga dapat disesuaikan dengan materi pembelajaran.

 

Efektivitas Bahan Ajar Tari

Penelitian dengan menggunakan riset dan pengembangan menghasilkan sebuah produk, seperti  media pembelajaran, perkakas atau peralatan, modul, buku, dan sejenisnya. Hasil penelitian ini diharapkan memiliki fungsi atau kegunaan untuk mempermudah menyampaikan atau menggunakan sebagai media dalam pembelajaran. Hasil penelitian pengembangan modul bahan ajar tari untuk guru kelas V sekolah dasar, merupakan hasil produk yang dihasilkan melalui penelitian ini. Modul ini digunakan untuk mempermudah guru mengembangkan dan menjadikan sebagai sumber materi pembelajaran. Modul bahan ajar tari kelas V sekolah dasar dikembangkan karena guru memiliki kebutuhan akan sumber materi sebagai sarana untuk proses pembelajaran (Rosala et al., 2021).

Langkah-langkah penelitian telah dilakukan sesuai dengan Langkah yang dikembangkan oleh Borg dan Gall. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada setiap modul dan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan. Pada modul ada dua jenis materi, yaitu yang berhubunan dengan pengetahuan dan keterampilan. Materi yang berhubungan dengan pengetahuan terdapat pada modul 1 dan modul 2, sedangkan materi yang berhubungan dengan keterampilan terdapat pada modul 3. Ketiga modul ini merupakan satu kessatuan utuh sesuai dengan materi yang terdapat pada kurikulum 2013. Kesatuan ini penting dikembangkan pada modul karena kompetensi pada kurikulum 2013 mengisyarakat satu kesatua utuh, yaitu kompetensi pengetahuan dilaksanakan bersamaan dengan kompetensi keterampilan. Pada kurikulum 2013 disebut dengan kompetensi dasar 3 untuk pengetahuan dan kompetensi dasar 4 untuk keterampilan .

Efektivitas modul hasil penelitian diukur melalui uji kelayakan, yang terdiri dari empat indicator, yaitu; (1) memiliki keterbacaan isi modul; (2) kesesuaian dengan kurikulum; (3) mudah diimplemtasikan; dan (4) memiliki desain menarik. Guru diberi lembar kuesioner untuk menilai modul bahan ajar tari kelas V denan menggunakan indicator tersebut. Hasil penelitian secara umum untuk setiap indicator di atas 90% menyatakan bahwa modul layak untuk digunakan. Hasil penilaian guru tentu berkorelasi dengan efektivitas modul Ketika digunakan dalam proses pembelajaran (Alfiriani & Hutabri, 2017).

Guru ketika melakukan penilaian memberikan masukan terhadap modul bahan ajar tari kelas V. Masukan yang menjadi skala prioritas adalah adanya video sesuai dengan materi yang dikembangkan. Video ini memudahkan bagi guru untuk belajar dan menyampaikan materi kepada peserta didik. Ragam gerak yang hanya dikembangkan dalam bentu gambar sering menimbulkan interpretasi lain, hal inilah yang kemudian terjadi pada saat penelitian dilaksanakan. Materi yang dikembangkan dalam bentuk video memiliki akurassi gerak yang tepat, dapat diakses kapan saja dan dimana saja. Masukan ini tentu menjadi perhatian untuk penelitian lanjutan atau dapat dilakukan melalui gugus kegiatan guru pada setiap kecamatan di wilayah DKI Jakarta. Guru berpendaat pengembangan materi dalam bentuk video dapat dimulai berlatih ragam gerak, melakukan gerak sesuai iringan, mengembangkan pola lantai dan level pada ragam gerak. Contoh melalui tiga mensi jauh lebih efektif dilakukan, sehingga guru dapat belajar dari ragam gerak yang ada di dalam video (Salma, 2024).

Guru memiliki kekhawatiran ketika ingin mengambil materi dari aplikasi youtube. Kekhawatiran ini didasarkan pada undang-uandang hak cipta (Afandi & Afandi, 2018). Guru kurang memahami hal tersebut, sehingga lebih baik untuk tidak mengambil materi dalam bentuk video di youtube. Problematika ini merupakan masukan sangat berharga untuk pengembangkan penelitian lanjutan. Guru melalui aktivitas DKT mengungkapkan kesulitan dan harapan terhadap rencana tindak lanjut dari hasil penelitian. Guru-guru sangat mendukung terhadap hasil penelitian karena setidaknya dapat membantu mengembangkan materi sesuai dengan kompetensi dasar sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Penelitian dengan menggunakan riset dan pengembangkan dapat dijadikan sebagai salah satu metode yang digunakan oleh guru ketika melakukan penelitian terutama untuk peningkatan golongan sebagai pegawai negeri sipil. Penelitian tidak harus menggunakan penelitian Tindakan kelas (PTK) tetapi dapat menggunakan metode riset dan pengembangan tersebut. Guru dapat mengembangkan media pembelajaran, bahan ajar, atau asesmen pembelajaran sesuai dengan kebutuhan. Hasil penelitian ini setidaknya telah memberi inspirasi bagi guru untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah yang lebih bermutu.

 

Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan modul bahan ajar tari dapat meningkatkan kemampuan baik pengetahuan maupun keterampilan. Saran disampaikan kepada beberapa pihak, Guru kelas V hendaknya menggunakan modul bahan ajar tari sebagai pelengkap modul pembelajaran tematik. Guru kelas V hendaknya dapat mengembangkan materi sesuai dengan kebutuhan pembelajaran sesuai dengan potensi peserta didik. Sekolah hendaknya mampu meningkatkan kemampuan guru melalui mengikutsertakan guru dalam pelatihan atau workshop yang berhubungan dengan materi seni budaya, khususnya seni tari.

 

BIBLIOGRAFI

 

Afandi, M., & Afandi, S. A. (2018). Implikasi Tata Kelola Sektor Publik Era Reformasi. Tunas Gemilang.

Alfiriani, A., & Hutabri, E. (2017). Kepraktisan dan keefektifan modul pembelajaran bilingual berbasis komputer. Jurnal Kependidikan, 1(1), 12–23.

Diana, E., & Puspasari, D. (2015). Pengembangan Modul Kurikulum 2013 pada Kompetensi Dasar menjelaskan Cara Membuat Surat Niaga Kelas X. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran, 3(3).

Guru, T. T. K., Rumiyati, M. P., & Tatang, M. P. (n.d.). Kreatif Tematik Tema 7 Peristiwa dalam Kehidupan Kelas V untuk SD/MI. Penerbit Duta.

Handayani, R. A. (2015). Analisis kesesuaian antara materi dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar kurikulum 2013. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Handayani, R. A. (2018). Kesesuaian Materi Terhadap Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar pada Buku Ajar Bahasa Arab. LISANIA: Journal of Arabic Education and Literature, 2(1), 28–43.

Khofiatun, K., & Ramli, M. (2016). Peran Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Pembelajaran Tematik Di Sekolah Dasar. State University of Malang.

Kurikulum, P., Depdiknas, B., & No, J. (2006). Pengembangan model pendidikan kecakapan hidup. Jakarta Pusat.

Kurnianingsih, E. (2018). Peran kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru. Indonesian Journal of Education Management & Administration Review, 1(1), 11–18.

Musfah, J. (2012). Peningkatan kompetensi guru: Melalui pelatihan dan sumber belajar teori dan praktik. Kencana.

Pianda, D. (2018). Kinerja guru: kompetensi guru, motivasi kerja dan kepemimpinan kepala sekolah. CV Jejak (Jejak Publisher).

Restian, A. (2019). Koreografi Seni Tari Berkarakter Islami untuk Anak Sekolah Dasar (Vol. 1). UMMPress.

Roosmaya, A. M., & Wahyuno, E. (2018). Modul seni tari untuk mengoptimalkan pendidikan karakter pada anak tunarungu. Jurnal Ortopedagogia, 2(1), 39–42.

Rosala, D., Masunah, J., Narawati, T., Karyono, T., & Sunaryo, A. (2021). Internalisasi Nilai Tri-Silas melalui Pembelajaran Tari Anak Berbasis Budaya Lokal. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 1973–1986.

Salma, S. (2024). Pagelaran Karya Seni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Suralaga, F. (2021). Psikologi pendidikan: Implikasi dalam pembelajaran. PT Rajagrafindo Persada.

 

Copyright holder:

Henny Indriani, Puryati, Suroyo (2024)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: