Syntax
Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849
e-ISSN: 2548-1398
Vol. 9, No.
12, Desember 2024
PENGARUH
SERVANT LEADERSHIP DAN AUTHENTIC LEADERSHIP TERHADAP EMPLOYEE
ENGAGEMENT DENGAN MEDIASI TRUST (TRUST IN LEADER)
Violeta Mardlatillah R.N.I1,
Zakhyadi Ariffin2, Maruf Kusbianto3
Universitas
Lambung Mangkurat,
Indonesia1,2,3
Email: violetamardlatillah@gmail.com1,
zarifin@ulm.ac.id2, marufkusbianto@iain-palangkaraya.ac.id3
Penelitian ini dilakukan
untuk menganalisis pengaruh servant
leadership dan authentic leadership
terhadap employee
engagement dengan dimediasi
oleh trust (trust in leader) pegawai negeri sipil (PNS) pada 8
Struktur Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) Kota Palangka
Raya. Hal yang mendasari penelitian
ini karena rendahnya employee
engagement pada sektor pemerintahan,
masih ada pegawai yang membaca koran saat jam kerja, masih ada
pegawai yang pergi ke kantin saat
jam kerja dan masih ada pegawai yang merokok saat jam kerja. Sampel dalam
penelitian ini berjumlah 112 orang yang merupakan
pegawai pada 8 SOPD Kota Palangka
Raya. Pengumpulan data dilakukan
dengan menggunakan kuesioner. Metode analisis data menggunakan Partial Least Square (PLS) 3.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa servant
leadership berpengaruh positif
dan signifikan terhadap employee engagement, namun
tidak dengan authentic leadership yang tidak berpengaruh terhadap employee
engagement. Servant leadership
dan authentic leadership memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap trust (trust
in leader) sedangkan trust (trust in leader) tidak berpengaruh terhadap employee engagement. Dalam
penelitian ini trust (trust in leader) tidak memediasi pengaruh servant
leadership terhadap employee engagement dan pengaruh authentic leadership terhadap
employee engagement.
Kata Kunci: Servant Leadership, Authentic Leadership, Trust
(Trust in Leader), Employee
Engagement.
This research was conducted
to analyze the effect of
servant leadership and authentic leadership
on employee involvement mediated by the trust
(trust in leaders) of civil servants
(PNS) in 8 Regional Apparatus Organizational
Structure (SOPD) Palangka Raya City. The reason for this
research is the low involvement
of employees in the government sector, there are still employees who read newspapers
during working hours, there are still employees who go to
the canteen during working hours and there
are still employees who smoke during
working hours. The sample in this study consisted of 112 people who are employees of 8 SOPD in Palangka Raya City. Data collection
was carried out using a questionnaire.
Methods of data analysis using Partial Least Square (PLS)
3.0. The results showed that servant leadership had
a positive and significant effect on employee engagement,
but not authentic leadership which had no effect on
employee engagement. Servant leadership and authentic leadership
have a positive and significant effect on trust
(trust in leaders) while trust (trust
in leaders) has no effect on employee
engagement. In this study, trust (trust in leader) does not mediate the effect
of servant leadership on employee
engagement and the effect of
authentic leadership on employee engagement.
Keywords: Servant Leadership, Authentic Leadership, Trust (Trust in Leader), Employee Engagement.
Employee
engagement merupakan
sikap positif yang ditunjukkan oleh pegawai terhadap organisasi tempatnya bekerja dan nilai dalam organisasi
sehingga pegawai akan memiliki keinginan
untuk memajukan organisasi tersebut
Employee engagement tidak
hanya penting bagi sebuah organisasi,
namun penting juga untuk kepentingan pegawai itu sendiri
yang dimana pegawai tersebut dapat menggunakan ketentuan-ketentuan
yang tercantum dalam perjanjian kontrak untuk mengalangi organisasi mencapai tujuannya sehingga kemampuan manajemen dalam mengelola sumber daya manusia
dianggap sangat penting dalam meningkatkan employee engagement dalam
suatu organisasi
Salah satu cara bagi
pegawai untuk mengungkapkan bahwa mereka loyal terhadap organisasi tempat mereka bekerja adalah dengan engagement, yang artinya
pegawai akan lebih melibatkan diri dalam berbagai
hal yang berhubungan dengan tempat mereka
bekerja dan dalam menanggapi berbagai insentif yang telah mereka terima dari
tempat mereka bekerja
Organisasi
yang berada dalam naungan pemerintahan memiliki tekanan pekerjaan yang ekstrem, mereka diharapkan mampu memberikan sebuah pelayanan dan terus meningkatkan kinerja sebab hal
tersebut dapat memberikan nilai positif terhadap lembaga pemerintah tempat mereka bekerja
Data dalam jurnal semesteran
Gallup Manajemen tentang Employee Engagement Index mengemukakan bahwa 29% pegawai termasuk dalam kategori engaged employee sedangkan
sebuah studi yang dilakukan oleh Gallup tentang employee engagement assessment yang dilakukan terhadap 49,928 unit kerja dengan jumlah
pegawai hampir 1,4 juta menyebutkan bahwa adanya keterikatan
yang jelas antara employee engagement dan 9 performa, yaitu : 1) peringkat pelanggan; 2) profitabilitas; 3) produktivitas;
4) omset; 5) insiden keselamatan; 6) penyusutan; 7) absensi; 8) insiden keselamatan pelanggan; 9) kualitas
Employee engagement tidak hanya
penting dalam sektor ekonomi namun keterikatan pegawai juga penting dalam pemerintahan karena keterikatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kinerja melainkan dapat membantu menciptakan opini publik tentang
pemerintah. Human
resource consulting telah melakukan
penelitian terkait dengan keterikatan pegawai pada sektor publik yang dimana pada hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa keterikatan pegawai di sektor pemerintahan dapat dikatakan rendah, untuk keterikatan pegawai pada sektor swasta sebesar 44% terlibat penuh dan sedangkan keterikatan pegawai pada sektor publik hanya sebesar
38%
Di
Indonesia sendiri data mengenai
employee engagement mengalami peningkatan secara konsisten sebesar 7% dari 64% hingga 71% selama enam tahun terakhir.
Angka tersebut dapat dikatakan sebagai angka tertinggi diantara 11 negara lainnya yang berada di Asia Pasifik selain itu Indonesia juga menjadi negara dengan jumlah terkecil untuk employee
disengaged
Hasil penelitian yang dilakukan oleh human resource consulting menyebutkan bahwa kepemimpinan menjadi pendorong dari employee engagement. Kepemimpinan
tersebut menjadi pendorong keterikatan pegawai dalam sektor pemerintahan yang dimana abilities dan
skill dari seorang pemimpin dapat meningkatkan kinerja pegawai
Hubungan
antara kepercayaan dan keterikatan dapat dijelaskan oleh pertukaran sosial yang dimana pertukaran sosial tersebut berdasar pada keyakinan termasuk persepsi kepercayaan oleh anggotanya yang dapat membentuk hubungan antara organisasi dan karyawan
Dari penelitian terdahulu ditemukan adanya research gap seperti
pada penelitian yang dilakukan
oleh Colbert (2012) yang menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan
bukanlah prediktor dari keterikatan dan penelitian yang dilakukan oleh Yuswardi (2019) menyebutkan bahwa kepemimpinan tidak memiliki pengaruh yang signifikan positif terhadap keterikatan kerja karyawan berbeda dengan penelitian yang dilakukan Orthman et.al. (2017) yang mengungkapkan
bahwa kepemimpinan adalah prediktor yang signifikan terhadap keterikatan pegawai. Selanjutnya terdapat keterbatasan literatur yang meneliti tentang servant leadership, authentic leadership, employee engagement dan trust (trust in leader) sehingga menunjukkan belum ada penelitian terdahulu yang meneliti variabel servant
leadership dan authentic leadership terhadap employee
engagement dengan mediasi
trust (trust in leader) secara bersamaan.
Tabel 1. Asessment Awal
|
Pertanyaan |
Jumlah yang menjawab Ya |
Jumlah yang menjawab Tidak |
Jumlah Keseluruhan |
Persentase yang menjawab Ya |
|
Kepala Dinas akan menegur jika pegawai melakukan kesalahan |
18 |
0 |
18 |
100 % |
|
Ada pegawai
yang membaca koran saat jam kerja |
14 |
4 |
18 |
77,8 % |
|
Ada pegawai
yang pergi ke kantin saat jam kerja |
11 |
7 |
18 |
61,1 % |
|
Ada pegawai
yang merokok saat jam kerja |
13 |
5 |
18 |
72,2 % |
|
Kepala Dinas memberi dukungan kepada pegawai |
18 |
0 |
18 |
100 % |
|
Kepala Dinas memberikan motivasi kepada pegawai |
17 |
1 |
18 |
94,4 % |
|
Kepala Dinas bersedia mendengarkan opini pegawai |
18 |
0 |
18 |
100 % |
|
Kepala Dinas bersedia meminta maaf jika melakukan kesalahan |
17 |
1 |
18 |
94,4 % |
|
Kepala Dinas peduli terhadap kesejahteraan pegawai |
18 |
0 |
18 |
100 % |
Sumber : SOPD Kota Palangka Raya
Berdasarkan
tabel hasil assessment awal
terhadap 18 orang pegawai dari 7 SOPD yaitu Dinas Kesehatan
Kota Palangka Raya, Dinas Perikanan
Kota Palangka Raya, Badan Kesatuan
Bangsa dan Politik Kota Palangka Raya, Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Palangka Raya, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruangan Kota Palangka Raya, Badan
Kepegawaian dan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Kota Palangka Raya dan Dinas Perumahan
Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan
Kota Palangka Raya yang 15 orang pegawai
diantaranya melakukan komunikasi dengan Kepala Dinas >3 kali dalam seminggu dan assessment
tersebut dilakukan secara acak kepada
pegawai yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil menyebutkan bahwa sebesar 77,8% pegawai ada yang membaca koran saat
jam kerja, 61,1% pegawai pergi ke kantin
saat jam kerja, 72,2% pegawai merokok saat jam kerja dan masih ada beberapa
pegawai bekerja hanya untuk menyelesaikan
pekerjaannya tanpa ada keinginan untuk
memajukan instansi tempatnya bekerja, padahal pegawai menjawab sebesar 94,4% untuk Kepala Dinas yang memberikan motivasi kepada pegawai dan Kepala Dinas yang bersedia meminta maaf jika
melakukan kesalahan dan sebesar 100% untuk kepala dinas yang menegur jika pegawai
melakukan kesalahan, kepala dinas memberikan
dukungan kepada pegawai, kepala dinas bersedia mendengarkan opini pegawai dan kepala dinas peduli terhadap
kesejahteraan pegawai.
Pertanyaan
dari assessment
awal yang diajukan diatas merupakan ciri-ciri dari employee disengaged, karakteristik
servant leadership dan karakteristik authentic
leadership yang dimana hasil
tersebut menunjukkan adanya tanda-tanda employee disengaged walaupun
pimpinan telah menjalankan tugasnya dengan baik. Hasil pada assessment awal
tersebut menunjukkan adanya gap terhadap penelitian terdahulu sehingga hal ini menjadi
menarik untuk diteliti, maka penelitian yang akan dilakukan ini mengangkat
judul “Pengaruh
Servant Leadership
dan Authentic Leadership
Terhadap Employee Engagement
dengan Mediasi Trust (trust
in leader)” untuk mengetahui apakah kepercayaan kepada atasan memliki
peran yang berpengaruh terhadap employee engagegement yang dilakukan pada
SOPD Kota Palangka Raya. Penelitian
ini bertujuan: (1) Untuk menganalisa servant leadership berpengaruh
terhadap employee
engagement. (2) Untuk menganalisa
authentic leadership berpengaruh terhadap employee engagement (3) Untuk menganalisa servant leadership berpengaruh
terhadap trust
(trust in leader). (4) Untuk menganalisa authentic
leadership berpengaruh terhadap
trust (trust in leader). (5) Untuk
menganalisa pengaruh trust (trust in leader) terhadap employee
engagement. (6) Untuk menganalisa
pengaruh servant leadership terhadap employee
engagement dengan dimediasi oleh trust (trust in leader). (7) Untuk menganalisa pengaruh authentic leaderhip
terhadap employee
engagement dengan dimediasi
oleh trust (trust in leader).
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bertujuan untuk menguji hipotesis secara empiris dan mengukur hubungan antar variabel penelitian, yaitu servant
leadership, authentic leadership, dan faktor-faktor terkait lainnya. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis skala Likert dengan rentang nilai 1 (sangat tidak setuju) hingga
5 (sangat setuju). Populasi
dalam penelitian ini adalah pegawai
negeri sipil (PNS) dari 8 Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) di Kota Palangka
Raya yang dipilih berdasarkan
kriteria lamanya Kepala Dinas menjabat, yakni minimal 6 bulan. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan simple
random sampling dengan kriteria
sampel merupakan PNS yang bekerja di 8 SOPD tersebut. Jumlah sampel yang dibutuhkan sebanyak 112 responden dari total 471 populasi, dan data kuesioner yang
terkumpul dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis PLS (Partial Least Squares) dengan
bantuan perangkat lunak SmartPLS.
Proses
pengolahan data diawali dengan uji validitas dan reliabilitas untuk memastikan instrumen penelitian mampu mengukur variabel penelitian secara akurat dan konsisten. Uji validitas dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dan r tabel, sedangkan uji reliabilitas menggunakan nilai Cronbach's Alpha dengan ambang batas > 0,6. Setelah instrumen penelitian dinyatakan valid dan reliabel, analisis data dilanjutkan dengan evaluasi outer model untuk menguji validitas
dan reliabilitas konstruk penelitian, serta inner model untuk mengukur hubungan antar variabel laten melalui nilai koefisien jalur dan R-square. Teknik bootstrap digunakan
untuk menguji hipotesis dengan melihat nilai t-hitung dan tingkat signifikansi p-value. Hasil analisis
ini akan memberikan gambaran yang komprehensif mengenai pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dalam konteks penelitian
ini.
Sebelum melakukan uji outer model, dilakukan
pengujian pendahuluan terkait dengan uji validitas dan reliabilitas data. Pengujian tersebut dilakukan sebelum mengumpulkan data penelitian, dimaksudkan untuk uji coba awal agar data yang diperoleh nantinya mampu mengukur suatu hal yang perlu diukur. Pengujian
validitas dan reliabilitas ini menggunakan sampel sebanyak 40 responden sehingga R tabel yang digunakan adalah 0.312. Pengujian validitas diuji menggunakan correlated
item total correlation dengan tekhnik
korelasi person
product moment dan untuk pengujian
reliabilitas menggunakan nilai alpha cronbach. Hasil uji tersebut seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel 2. Hasil Uji Validitas
Variabel Servant
Leadership
|
Indikator |
Item Pertanyaan |
R hitung |
R tabel |
Keterangan |
|
Love |
SL1 |
0.429 |
0.312 |
Valid |
|
SL2 |
0.733 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL3 |
0.400 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL4 |
0.661 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL5 |
0.662 |
0.312 |
Valid |
|
|
Empowerment |
SL6 |
0.622 |
0.312 |
Valid |
|
SL7 |
0.643 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL8 |
0.746 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL9 |
0.818 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL10 |
0.650 |
0.312 |
Valid |
|
|
Vision |
SL11 |
0.590 |
0.312 |
Valid |
|
SL12 |
0.660 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL13 |
0.730 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL14 |
0.727 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL15 |
0.758 |
0.312 |
Valid |
|
|
Humility |
SL16 |
0.766 |
0.312 |
Valid |
|
SL17 |
0.352 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL18 |
0.638 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL19 |
0.802 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL20 |
0.777 |
0.312 |
Valid |
|
|
Trust (trust in leader) |
SL21 |
0.359 |
0.312 |
Valid |
|
SL22 |
0.420 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL23 |
0.586 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL24 |
0.519 |
0.312 |
Valid |
|
|
SL25 |
0.552 |
0.312 |
Valid |
Sumber: Data
Primer Diolah, 2020
Berdasarkan
hasil perhitungan uji validitas pada Tabel 2 di atas maka dapat
diketahui bahwa dari 25 item pertanyaan yang telah diujikan didapatkan hasil untuk keseluruhan item pertanyaan adalah valid sehingga kuesioner dapat dinyatakan valid dan dapat mengukur variabel servant
leadership.
Tabel 3. Hasil Uji Validitas
Variabel Authentic
Leadership
|
Indikator |
Item Pertanyaan |
r hitung |
r tabel |
Keterangan |
|
Self Awareness |
AL1 |
0.620 |
0.312 |
Valid |
|
AL2 |
0.455 |
0.312 |
Valid |
|
|
AL3 |
0.643 |
0.312 |
Valid |
|
|
AL4 |
0.679 |
0.312 |
Valid |
|
|
Transparansi |
AL5 |
0.703 |
0.312 |
Valid |
|
AL6 |
0.736 |
0.312 |
Valid |
|
|
AL7 |
0.735 |
0.312 |
Valid |
|
|
AL8 |
0.765 |
0.312 |
Valid |
|
|
AL9 |
0.784 |
0.312 |
Valid |
|
|
Moral |
AL10 |
0.767 |
0.312 |
Valid |
|
AL11 |
0.800 |
0.312 |
Valid |
|
|
AL12 |
0.649 |
0.312 |
Valid |
|
|
AL13 |
0.711 |
0.312 |
Valid |
|
|
Balanced Processing |
AL14 |
0.775 |
0.312 |
Valid |
|
AL15 |
0.778 |
0.312 |
Valid |
|
|
AL16 |
0.718 |
0.312 |
Valid |
Sumber: Data
Primer Diolah, 2020
Berdasarkan
hasil perhitungan uji validitas pada Tabel 3 di atas maka dapat
diketahui bahwa dari 16 item pertanyaan yang diujikan didapatkan hasil keseluruhannya adalah valid sehingga item pertanyaan tersebut dapat dinyatakan valid untuk mengukur variabel authentic
leadership.
Tabel 4. Hasil Uji Validitas
Variabel Trust
(Trust in Leader)
|
Indikator |
Item Pertanyaan |
r hitung |
r tabel |
Keterangan |
|
Kompetensi Pemimpin |
T1 |
0.818 |
0.312 |
Valid |
|
T2 |
0.648 |
0.312 |
Valid |
|
|
T3 |
0.655 |
0.312 |
Valid |
|
|
T4 |
0.758 |
0.312 |
Valid |
|
|
T5 |
0.476 |
0.312 |
Valid |
|
|
Kebajikan
Pemimpin |
T6 |
0.585 |
0.312 |
Valid |
|
T7 |
0.497 |
0.312 |
Valid |
|
|
T8 |
0.698 |
0.312 |
Valid |
|
|
T9 |
0.596 |
0.312 |
Valid |
|
|
T10 |
0.639 |
0.312 |
Valid |
|
|
Keandalan Pemimpin |
T11 |
0.798 |
0.312 |
Valid |
|
T12 |
0.801 |
0.312 |
Valid |
|
|
T13 |
0.799 |
0.312 |
Valid |
|
|
T14 |
0.827 |
0.312 |
Valid |
|
|
T15 |
0.640 |
0.312 |
Valid |
Sumber : Data
Primer Diolah, 2020
Berdasarkan
hasil perhitungan uji validitas pada Tabel 4 di atas maka dapat
diketahui bahwa dari 15 pertanyaan yang diujikan didapatkan hasil keseluruhan adalah valid sehingga item pertanyaan dalam kuesioner dapat dinyatakan mampu untuk mengukur variabel trust (trust
in leader).
Tabel 5. Hasil Uji Validitas Variabel Employee
Engagement
|
Indikator |
Item Pertanyaan |
r hitung |
r tabel |
Keterangan |
|
Vigor |
EE1 |
0.548 |
0.312 |
Valid |
|
EE2 |
0.572 |
0.312 |
Valid |
|
|
EE3 |
0.689 |
0.312 |
Valid |
|
|
EE4 |
0.722 |
0.312 |
Valid |
|
|
EE5 |
0.726 |
0.312 |
Valid |
|
|
EE6 |
0.710 |
0.312 |
Valid |
|
|
Dedication |
EE7 |
0.543 |
0.312 |
Valid |
|
EE8 |
0.756 |
0.312 |
Valid |
|
|
EE9 |
0.663 |
0.312 |
Valid |
|
|
EE10 |
0.697 |
0.312 |
Valid |
|
|
EE11 |
0.648 |
0.312 |
Valid |
|
|
EE12 |
0.747 |
0.312 |
Valid |
|
|
Absorption |
EE13 |
0.734 |
0.312 |
Valid |
|
EE14 |
0.667 |
0.312 |
Valid |
|
|
EE15 |
0.527 |
0.312 |
Valid |
|
|
EE16 |
0.729 |
0.312 |
Valid |
|
|
EE17 |
0.596 |
0.312 |
Valid |
|
|
EE18 |
0.676 |
0.312 |
Valid |
Sumber: Data
Primer Diolah, 2020
Berdasarkan
hasil perhitungan uji validitas pada Tabel 5 di atas maka dapat
diketahui bahwa dari 18 pertanyaan yang diujikan didapatkan hasil keseluruhan adalah valid sehingga item pertanyaan dalam kuesioner dapat dinyatakan mampu untuk mengukur variabel employee
engagement.
Tabel 6. Hasil Uji Reliabilitas
Variabel
|
Variabel |
Alpha cronbach |
Keterangan |
|
Servant Leadership |
0.918 |
Reliabel |
|
Authentic Leadership |
0.930 |
Reliabel |
|
Trust (trust in leader) |
0.907 |
Reliabel |
|
Employee Engagement |
0.917 |
Reliabel |
Sumber: Data Primer Diolah, 2020
Berdasarkan
hasil perhitungan pada Tabel 6 di atas diketahui bahwa nilai alpha cronbach untuk keseluruhan variabel > 0,60 maka item pertanyaan kuesioner tersebut adalah reliabel sehingga item pertanyaan tersebut dapat dikatakan relatif konsisten jika dilakukan pengujian ulang.
Outer model dilakukan
untuk memastikan apakah pengukuran yang digunakan telah valid dan reliabel. Tahapan yang dilakukan saat uji validitas yaitu convergen validity dan discriminant validity sedangkan untuk mengetahui reliabilitas yaitu composit reliability.
Pada
tahapan ini yang dilihat adalah nilai loading factor
> 0,7 dan nilai AVE > 0,5. Outer model pada penelitian
ini dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini:
Gambar 1. Outer Model Penelitian Awal
Sumber: Output SmartPLS, 2020
Keterangan:
Servant Leadership (SL), Authentic Leadership (AL), Trust (trust in leader) (T), Employee Engagement (EE).
Dari model gambar 1 maka dapat dirumuskan
hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:
1. Servant Leadership berpengaruh
terhadap Employee
Engagement
2. Authentic Leadership berpengaruh
terhadap Employee
Engagement
3. Servant Leadership berpengaruh
terhadap Trust
(trust in leader)
4. Authentic Leadership berpengaruh
terhadap Trust
(trust in leader)
5. Trust (trust in leader) berpengaruh
terhadap Employee
Engagement
6. Servant Leadership berpengaruh
terhadap Employee
Engagement dengan dimediasi
oleh Trust (trust in leader)
7. Authentic Leadership berpengaruh
terhadap Employee
Engagement dengan dimediasi
oleh Trust (trust in leader)
Pengujian outer model
dan inner model akan dilakukan untuk membuktikan hipotesis tersebut.
Gambar 2. Hasil Evaluasi Outer Model
Sumber: Output SmartPLS, 2020
Indikator
akan dikatakan memenuhi kriteria convergen validity jika
memiliki nilai loading factor > 0,7 dan nilai AVE > 0,5 maka dikatakan indikator tersebut valid. Dari gambar diatas diketahui terdapat beberapa item variabel yang memiliki nilai < 0,7 sehingga perlu dilakukan eliminasi dan pengujian ulang.
Gambar 3. Hasil Outer
Model setelah dilakukan
Eliminasi
Sumber: Output SmartPLS, 2020
Setelah dilakukan eliminasi dan pengujian ulang, maka dapat dilihat
pada gambar 3, nilai loading factor untuk
item dari keempat variabel > 0,7 sehingga dapat dilakukan analisa berikutnya. Nilai AVE untuk tiap variabel
dapat dilihat pada tabel 5.14 di bawah ini:
Tabel
7.
Nilai Average
Variance Extracted (AVE)
|
Variabel |
AVE |
|
Servant Leadership |
0.607 |
|
Authentic Leadership |
0.573 |
|
Trust (trust in leader) |
0.590 |
|
Employee Engagement |
0.605 |
Sumber: Output SmartPLS, 2020
Berdasarkan
nilai AVE pada tabel di atas maka dapat
diketahui bahwa nilai AVE masing-masing variabel
> 0,5 sehingga indicator variabel
tersebut memenuhi persyaratan validitas.
Pada
tahapan ini yang dilihat adalah nilai cross loading pada
variabel yang dituju memiliki nilai tertinggi daripada variabel lain maka dapat dikatakan bahwa indikator tersebut dapat menjelaskan mengenai variabel yang dituju.
Tabel
8.
Nilai Cross Loading
|
Indikator |
X1 (SL) |
X2 (AL) |
Z (T) |
Y (EE) |
|
SL12 |
0.775 |
0.393 |
0.439 |
0.492 |
|
SL13 |
0.832 |
0.582 |
0.597 |
0.615 |
|
SL14 |
0.788 |
0.521 |
0.521 |
0.418 |
|
SL15 |
0.762 |
0.444 |
0.413 |
0.479 |
|
SL7 |
0.726 |
0.415 |
0.36 |
0.457 |
|
SL8 |
0.771 |
0.411 |
0.423 |
0.535 |
|
SL9 |
0.796 |
0.439 |
0.48 |
0.532 |
|
AL10 |
0.494 |
0.762 |
0.513 |
0.353 |
|
AL11 |
0.438 |
0.757 |
0.563 |
0.341 |
|
AL15 |
0.509 |
0.761 |
0.544 |
0.399 |
|
AL5 |
0.512 |
0.71 |
0.539 |
0.526 |
|
AL7 |
0.446 |
0.763 |
0.619 |
0.322 |
|
AL8 |
0.363 |
0.785 |
0.543 |
0.326 |
|
AL9 |
0.36 |
0.76 |
0.545 |
0.306 |
|
T1 |
0.388 |
0.566 |
0.779 |
0.378 |
|
T11 |
0.408 |
0.577 |
0.788 |
0.259 |
|
T12 |
0.403 |
0.571 |
0.752 |
0.203 |
|
T13 |
0.49 |
0.555 |
0.775 |
0.376 |
|
T14 |
0.538 |
0.599 |
0.817 |
0.296 |
|
T3 |
0.521 |
0.554 |
0.77 |
0.418 |
|
T4 |
0.502 |
0.563 |
0.763 |
0.342 |
|
EE1 |
0.536 |
0.43 |
0.334 |
0.774 |
|
EE10 |
0.538 |
0.419 |
0.309 |
0.782 |
|
EE12 |
0.505 |
0.44 |
0.329 |
0.754 |
|
EE13 |
0.454 |
0.305 |
0.369 |
0.764 |
|
EE18 |
0.567 |
0.354 |
0.315 |
0.736 |
|
EE4 |
0.408 |
0.316 |
0.387 |
0.758 |
|
EE5 |
0.452 |
0.337 |
0.237 |
0.806 |
Sumber: Output SmartPLS, 2020
Berdasarkan pada tabel 8 dapat diketahui bahwa nilai cross loading setiap indikator
terhadap variabel latennya lebih besar daripada nilai cross loading indikator terhadap variabel laten lainnya sehingga setiap variabel memiliki discriminant validity yang baik.
Pada
tahapan ini yang dilihat adalah nilai composite
reliability, jika nilai
composite reliability > 0,8 maka dianggap memiliki
reliabilitas yang tinggi.
Tabel
9.
Nilai Composite
Reliability
|
Variabel |
Composit Reliability |
Cronbach Alpha |
Keterangan |
|
Servant Leadership |
0.915 |
0.892 |
Reliabel |
|
Authentic Leadership |
0.904 |
0.876 |
Reliabel |
|
Trust (trust in leader) |
0.915 |
0.891 |
Reliabel |
|
Employee Engagement |
0.910 |
0.884 |
Reliabel |
Sumber: Output SmartPLS,
2020
Berdasarkan tabel 9 diketahui jika nilai cronbach alpha dan
composit reliability > 0,8 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua indikator dinyatakan reliabel.
Pada
pengujian Inner
Model, Goodness of Fit Model diukur menggunakan nilai R-square variabel laten dependen.
Tabel
10.
Nilai R-Square
|
Variabel |
Nilai R-Square |
|
Trust (trust in
leader) (Z) |
0.444 |
|
Employee
Engagement (Y) |
0.578 |
Sumber : Output SmartPLS, 2020
Dari
hasil analisis tabel 10, dapat diketahui bahwa nilai R-Square variabel Z sebesar 0.444 itu berarti variabel
trust (trust in leader) dapat dijelaskan oleh servant leadership dan authentic leadership sebesar
44.4%. Kemudian nilai
R-Square yang diperoleh
variabel Y sebesar 0.578
yang berarti variabel Y tersebut dapat dijelaskan oleh servant
leadership, authentic leadership dan trust
(trust in leader) sebesar 57.8%. Adapun kategori dalam menentukan kekuatan model yaitu jika nilai
0.25 menunjukkan model yang lemah,
nilai 0.50 menunjukkan
model yang moderat dan nilai
0.75 menunjukkan model yang kuat
Hasil yang didapatkan pada pengujian hipotesis dapat dilihat pada tabel 11 di bawah ini:
Tabel
11.
Hasil Pengujian Hipotesis
|
|
Sampel Asli |
Sampel
Mean |
Standar Deviasi |
T- Statistik |
P- Values |
Keterangan |
|
|
0.557 |
0.561 |
0.076 |
7.313 |
0.000 |
Diterima |
|
|
0.161 |
0.163 |
0.092 |
1.748 |
0.081 |
Ditolak |
|
|
0.257 |
0.255 |
0.083 |
3.104 |
0.002 |
Diterima |
|
|
0.579 |
0.585 |
0.090 |
6.440 |
0.000 |
Diterima |
|
|
-0.071 |
-0.074 |
0.132 |
0.536 |
0.592 |
Ditolak |
Sumber
: Output SmartPLS, 2020
Hasil pengujian
hipotesis dilakukan dengan estimasi koefisien jalur melalui nilai signifikansi
(t-statistik) dengan prosedur bootstrapping
seperti pada tabel 5.18 dengan ketentuan jika nilai kritis
1,96 pada taraf signifikansi
5% (0,05) maka koefisien jalur dapat dikatakan
signifikan
Dari hasil
tabel di atas maka dapat diketahui
bahwa H1 diterima sebab nilai t-statistik
> 1,96 dan taraf signifikansi
< 0.05 sehingga servant leaderhip berpengaruh
positif dan signifikan terhadap employee
engagement. Uji H2 ditolak karena
< 1,96 dan segnifikan > 0.05 sehingga authentic
leadership memiliki pengaruh
yang positif dan tidak signifikan terhadap employee engagement. Uji H3 diterima yang berarti servant leadership berpengaruh
positif dan signifikan terhadap trust (trust
in leader). Uji H4 diterima yang dimana berarti authentic leadership memiliki
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap trust (trust in leader). Uji H5 ditolak sebab nilai
t-statistik < 1,96 dan signifikansi
> 0,05 sehingga trust (trust in leader) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap employee engagement.
Tabel
12.
Rangkuman
Uji Hipotesis
|
|
Hipotesis |
Kesimpulan |
|
H1 |
Servant leadership berpengaruh terhadap employee engagement |
Diterima |
|
H2 |
Authentic leadership berpengaruh terhadap employee engagement |
Ditolak |
|
H3 |
Servant leadership berpengaruh terhadap trust (trust in leader) |
Diterima |
|
H4 |
Authentic leadership berpengaruh terhadap trust (trust in leader) |
Diterima |
|
H5 |
Trust (trust in leader) berpengaruh terhadap
employee engagement |
Ditolak |
Sumber: Output SmartPLS,
2020
Tabel
13.
Hasil Pengujian Mediasi
|
|
Sampel Asli |
Sampel Mean |
Standar Deviasi |
T- Statistik |
P- Values |
Keterangan |
|
|
-0.018 |
-0.019 |
0.035 |
0.521 |
0.603 |
Ditolak |
|
|
-0.041 |
-0.043 |
0.080 |
0.509 |
0.611 |
Ditolak |
Sumber:
Output SmartPLS, 2020
Dari
hasil analisis pada tabel 5.20 dapat diketahui H6 dan H7 ditolak sebab nilai t-statistik
< 1,96 dan signifikansi > 0,05 maka servant
leadership dan authentic leadership berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap employee
engagement dengan trust (trust in leader) sebagai mediasi sehingga dapat disimpulkan bahwa trust (trust in
leader) merupakan partial mediation.
Tabel 14. Rangkuman Uji Mediasi
|
|
Hipotesis |
Kesimpulan |
|
H6 |
Servant leadership mempengaruhi employee engagement dengan dimediasi oleh trust (trust in leader) |
Ditolak |
|
H7 |
Authentic leadership mempengaruhi employee engagement dengan dimediasi oleh trust (trust in leader) |
Ditolak |
Sumber : Output SmartPLS, 2020
Hasil
pengujian menunjukkan bahwa, servant
leadership yang diterapkan oleh pimpinan pada 8 Instansi Pemerintahan tersebut memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap employee
engagement pada instansi tersebut.
Artinya semakin tinggi servant
leadership yang dirasakan pegawai
maka akan semakin tinggi pula employee engagement. Tingginya
tingkat employee
engagement ini didasari
oleh gaya kepemimpinan yang
dianut oleh pimpinan tersebut dan dirasakan dapat memberikan energi positif pada pegawai. Selain itu pimpinan juga menunjukkan kepeduliannya kepada pegawai dengan menciptakan hubungan kerja yang baik seperti bersedia
mendengarkan opini pegawai, bersedia mendengarkan pendapat ataupun kritik, membantu mencari jalan keluar jika
ada permasalahan dan memberikan motivasi kepada pegawai agar dapat bekerja lebih
baik lagi. Jika pimpinan terus menerapkan gaya kepemimpinan yang melayani (servant leadership) maka
pegawai akan bekerja dengan maksimal dan bukan hanya untuk menyelesaikan
tugasnya namun pegawai tersebut akan berusaha untuk
memajukan instansi tempatnya bekerja. Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Carter dan Baghurst
(2013) mengungkapkan bahwa servant leadership memiliki
pengaruh yang kuat terhadap employee
engagement khususnya dengan
komitmen, loyalitas, kepemilikan dan keseluruhan mitra yang berkontribusi pada keberhasilan organisasi.
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, di dapatkan hasil bahwa authentic leadership tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap employee engagement. Hal ini berarti Pimpinan
belum maksimal menerapkan gaya kepemimpinan yang autentik sehingga employee
engagement tidak tercipta.
Employee engagement dapat timbul karena
pimpinan tersebut mampu menunjukkan perilaku yang dapat meyakinkan pegawainya untuk terus loyal terhadap instansi, maka dari itu
pimpinan dari tiap-tiap instansi perlu menerapkan authentic leadership agar pegawai tersebut merasa terikat dan bertanggungjawab terhadap pekerjaanya. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Hayuningtyas dan
Helmi (2015) bahwa perspektif
pegawai terhadap pimpinan tidak akan mempengaruhi engagement yang dimiliki
dan pegawai akan tetap melakukan tugas sesuai target yang telah ditentukan walaupun tidak mendapatkan pendekatan authentic leadership dari
pimpinan.
Hasil
pengujian yang telah dilakukan menunjukkan servant leadership memiliki
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap trust (trust in leader). Artinya jika nilai
servant leadership semakin tinggi maka kepercayaan pegawai terhadap pimpinan akan semakin
tinggi pula. Seorang pimpinan tidak hanya menjadi perwakilan
dari bagian manajemen namun pimpinan harus bisa menunjukkan keefektifan dalam memimpin, maka dari itu pimpinan
dari masing-masing instansi
harus mampu memberikan dukungan kepada pegawainya agar pegawai tersebut dapat memberikan kepercayaannya kepada pimpinan. Dalam penelitian ini membuktikan bahwa pimpinan telah dapat menunjukkan servant leadership yang baik kepada pegawai
maka secara tidak langsung pegawai tersebut akan merasa bahwa
pimpinannya memberikan energi positif sehingga akan memunculkan
kepercayaan dari pegawai terhadap pimpinan.
Pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa authentic leadership berpengaruh
positif dan signifikan terhadap trust (trust
in leader). Hal ini berarti
senakin tinggi authentic leadership maka
akan semakin tinggi pula trust
(trust in leader) pegawai. Jika pimpinan dari instansi
tersebut terus mengembangkan kepemimpinan authentic yang dimilikinya
maka pegawai akan percaya terhadap
pimpinan sebab authentic leadership telah
diusulkan menjadi salah satu bagian dari
kepemimpinan yang efektif
yang dimana kepemimpinan tersebut akan dapat
membangun rasa percaya antara pegawai dan pimpinan. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pimpinan dari tiap-tiap
SOPD telah mampu menunjukkan authentic
leadership dengan baik sehingga pegawai menaruh kepercayaan pada pemimpinnya, hal ini merupakan respon
yang positif sebab dengan adanya kepercayaan
tersebut pegawai akan sepenuhnya yakin jika pimpinan
mereka mampu mengayomi anggotanya.
Hasil
pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa trust (trust in
leader) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap employee
engagement. Employee engagement muncul karena adanya
kepercayaan dari pegawai terhadap pimpinan serta adanya sikap saling
menghormati antara pegawai dan pimpinan. Maka dari itu pada hal
ini pimpinan dituntut untuk menghargai dan menghormati pegawai sebab rasa menghargai dan menghormati memiliki timbal balik terhadap kepercayaan. Namun, dalam penelitian
ini kepercayaan terhadap pimpinan belum menjadi sebab
munculnya employee
engagement. Hal ini dapat
terjadi karena pegawai belum sepenuhnya
percaya terhadap pimpinan padahal kepercayaan terhadap pimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan suatu instansi. Ketika pegawai menaruh kepercayaan kepada pimpinan maka pegawai tersebut
akan merasakan adanya dukungan dari pimpinan yang pada akhirnya akan mempengaruhi
kinerja pegawai itu sendiri baik
dari sisi sikap, perilaku dan kinerja.
Hasil
pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa servant
leadership tidak berpengaruh
signifikan terhadap employee engagement dengan
dimediasi oleh trust
(trust in leader). Hal ini dapat
terjadi karena kurangnya intensitas berkomunikasi antara pegawai dengan pimpinan sehingga pegawai tersebut belum mengenali pimpinannya dengan baik. Jika pegawai belum mengenali pimpinannya dengan baik maka kepercayaan
tidak dapat muncul dan tidak dapat menciptakan employee engagement, selain
itu bisa pula pegawai tersebut beranggapan bahwa kepercayaan bukanlah hal yang krusial dalam pekerjaannya karena percaya maupun tidak percaya
terhadap pimpinan, pegawai tersebut akan tetap melakukan
pekerjaan yang telah diberikan sesuai dengan jobdesk yang telah ditentukan.
Hasil
pengujian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa authentic
leadership tidak berpengaruh
signifikan terhadap employee engagement dengan
dimediasi oleh trust
(trust in leader). Hasil yang demikian dapat disebabkan karena adanya keterbatasan
pengenalan pegawai atas pimpinannya sehingga kepercayaan tidak muncul dan tidak terciptanya employee engagement, di sisi lain pegawai menilai bahwa kepercayaan
kepada pimpinan tidak memiliki efek terhadap pekerjaannya
yang dimana setiap pegawai telah dibebankan
tugas masing-masing sesuai dengan jobdesk yang telah ditentukan dan pegawai tersebut akan tetap
melaksanakan tugasnya walaupun mereka tidak menaruh kepercayaan
kepada pimpinan. Hal
ini didukung oleh hasil jejak pendapat
yang mengungkapkan bahwa adanya engagement yang
rendah dalam sektor publik khususnya
pemerintahan yang dimana hanya 38% pegawai yang terikat.
Berdasarkan
hasil pengujian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa; (1) Servant
leadership berpengaruh positif
terhadap employee
engagement. Artinya semakin
baik seorang pemimpin menerapkan servant leadership maka
semakin baik pula employee engagement pada tempat kerja. (2) Authentic leadership tidak berpengaruh terhadap employee
engagement. Artinya pemimpin
belum cukup bisa menerapkan authentic leadership dengan
baik sehingga employee engagement tidak
tercipta di tempat kerja. (3) Servant
leadership berpengaruh positif
terhadap trust
(trust in leader).Artinya semakin baik seorang pemimpin
menerapkan servant
leadership di tempat kerja
maka kepercayaan pegawai terhadap pimpinan juga semakin baik. (4) Authentic
leadership berpengaruh positif terhadap trust (trust in leader).Artinya pemimpin belum maksimal menerapkan gaya kepemimpinan yang authentic sehingga
kepercayaan pegawai terhadap pimpinan tidak tecipta. (5) Trust (trust in leader) tidak berpengaruh terhadap employee engagement.Artinya
kepercayaan pegawai terhadap atasan tidak menjadikan alasan munculnya employee engagement di tempat kerja. (6) Servant leadership tidak
berpengaruh terhadap employee engagement dengan
dimediasi oleh trust
(trust in leader). (7) Authentic
leadership tidak berpengaruh
terhadap employee
engagement dengan dimediasi
oleh trust (trust in leader).
BIBLIOGRAFI
Anwar, F. (2018, March 23).
Youngster. Retrieved from https://youngster.id/featured/engagement-tenaga-kerja-milenial-indonesia-hanya-25/
Azeem, M. F.,
Rubina, & Paracha, A. T. (2013). Connecting training and development with
employee engagement: How does it matter? World Applied Sciences Journal,
28(5), 696-703. https://doi.org/10.5829/idosi.wasj.2013.28.05.1230
Blau, P. M. (1989).
Exchange and power in social life. University of Chicago Press.
Carter, D., &
Baghurst, T. (2013). The influence of servant leadership on restaurant
employee engagement. Journal of Business Ethics.
Colbert, E. M.
(2012). The impact of leadership on employee engagement at a chemical
manufacturing company in the United States (Doctoral dissertation,
University of Pennsylvania).
Gulo, Y. (2018,
December 19). Mengapa karyawan tidak mempercayai pimpinanya? Kompasiana.
Retrieved from https://www.kompasiana.com/yupiter/5c18b80143322f7c6a21cf65/mengapa-karyawan-tidak-mempercayai-pimpinanya?page=all
Hair, J., Ringle,
C., & Sarstedt, M. (2011). PLS-SEM: Indeed a silver bullet. Journal
of Marketing Theory and Practice. http://www.tandfonline.com/loi/mmtp20
Hashmi, M. S.,
& Naqvi, I. H. (2012). Psychological empowerment: A key to boost
organizational commitment, evidence from banking sector of Pakistan. International
Journal of Human Resource Studies.
Hassan, A., &
Ahamed, F. (2011). Authentic leadership, trust and work engagement. International
Journal of Human and Social Sciences.
Hayuningtyas, D.
R., & Helmi, A. F. (2015). Peran kepemimpinan otentik terhadap work
engagement dosen dengan efikasi diri sebagai mediator. Gadjah Mada
Journal of Psychology, 1(3), 167-179.
Hewitt, A. (2015). Trends
in global employee engagement. AON Empower Results.
Ilfe, T. M. (2016,
January 25). Penelitian tentang employee engagement. Top Coach Indonesia.
Retrieved from https://www.tommcifle.com/penelitian-tentang-employee-engagement/
Istiharoh, R.
(2013). Peran kepemimpinan dalam peningkatan kinerja pegawai di Badan
Penanaman Modal Daerah (BPMD) Kabupaten Kutai Timur. Jurnal Administrasi
Reform, 1(1), 1-12.
Latan, H., &
Ghozali, I. (2012). Partial least square: Konsep, teknik dan aplikasi
SmartPLS 2.0 M3. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Lavigna, R. (2017,
October 19). Employee engagement low, especially in government. TD.org.
Retrieved from https://www.td.org/insights/employee-engagement-low-especially-in-government
Mishra, K.,
Boynton, L., & Mishra, A. (2014). Driving employee engagement: The
expanded role of internal communications. International Journal of
Business Communication.
Mizne, D. (n.d.). 5
surprising signs of disengaged employees. 15five.com. Retrieved from
https://www.15five.com/blog/5-surprising-signs-of-disengaged-employee/
Oehler, K., &
Adair, C. (2019). 2019 trends in global employee engagement.
Kincentric.
Orthman, A. K.,
Hamzah, M. I., Abas, M. K., & Zakuan, M. N. (2017). The influence of
leadership styles on employee engagement: The moderating effect of
communication styles. International Journal of Advanced and Applied
Sciences, 4(3), 107-116.
Osbone, S., &
Hammoud, M. S. (2017). Effective employee engagement in the workplace. International
Journal of Applied Management and Technology, 16(1).
Robinson, D.,
Perryman, S., & Hayday, S. (2004). The drivers of employee
engagement. Institute for Employment Studies.
Saks, A. M. (2006).
Antecedents and consequences of employee engagement. Journal of
Managerial Psychology, 21(7).
Sorenson, S. (2013,
June 20). Employee engagement drives growth. Gallup. Retrieved from https://www.gallup.com/workplace/236927/employee-engagement-drives-growth.aspx
Vance, R. J.
(2006). Employee engagement and commitment. SHRM Foundation.
Yuswardi. (2019).
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi keterikatan karyawan pada hotel
berbintang di Batam. Jurnal Ekonomi & Ekonomi Syariah, 2(2).
|
Copyright
holder: Violeta Mardlatillah
R.N.I, Zakhyadi
Ariffin, Maruf Kusbianto (2024) |
|
First publication right: Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia |
|
This
article is licensed under: |