�Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia p�ISSN: 2541-0849

��e-ISSN : 2548-1398

Vol. 7, Special Issue No. 2, Februari 2022

�

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT DALAM MENGADOPSI LAYANAN FINTECH

 

Yulia Eka Riyanti, Apriliani Adeayu Kurniawati, Emil Fawwaz, Herwikson Sitorus, �Farah Margaretha

Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia

Email: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected]

 

Abstrak

Perkembangan teknologi dan informasi cukup pesat menuntut masyarakat untuk menggunakan dan memanfaatkan teknologi-teknologi yang ada dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah dengan penggunaan internet. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan memperoleh bukti empiris terkait faktor-faktor yang mempengaruhi minat seseorang dalam mengadopsi layanan fintech. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 130 sampel. Sampel diperoleh melalui penyebaran kuisioner penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dengan metode kuantitatif dan dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manfaat yang dirasakan, citra merek, dukungan pemerintah berpengaruh terhadap sikap. Selanjutnya, citra merek, dukungan pemerintah dan dan inovasi pengguna berpengaruh terhadap kepercayaan. Di samping itu, kemudahan penggunaan berpengaruh terhadap manfaat yang dirasakan dan sikap berpengaruh terhadap minat. Sedangkan kemudahan penggunaan, kepercayaan dan risiko yang dirasakan tidak berpengaruh terhadap sikap dan risiko yang dirasakan tidak berpengaruh terhadap kepercayaan. Implikasi dari penelitian ini yaitu sebagai perusahaan juga perlu mempertimbangkan pengaruh adopsi layanan fintech dari sisi permintaan dan hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan terkait layanan fintech.

 

Kata Kunci: Manfaat yang dirasakan, minat dalam mengadopsi fintech, sikap, kepercayaan, kemudahan penggunaan, risiko yang dirasakan, dukungan pemerintah, citra merek

 

Abstract

The development of technology and information is quite rapid, requiring people to use and utilize existing technologies in everyday life, one of which is the use of the internet. This study aims to examine and obtain empirical evidence related to the factors that influence a person's interest in adopting fintech services. The sample in this study is 130 samples. The sample was obtained through the distribution of research questionnaires. The data used in this study were primary data with quantitative methods and analyzed using multiple linear regression analysis. The results showed that perceived usefulness, brand image, government support had an effect on attitudes. Furthermore, brand image, government support, and user innovativeness had effect on trust. In addition, perceived ease of use had affects on perceived usefulness and attitudes had effect on intentions. While the perceived ease of use, trust and perceived risk have no effect on attitudes and perceived risk has no effect on trust. The implication of this research is that as a company it is also necessary to consider the influence of fintech service adoption from the demand side and the results of this research are expected to add insight and knowledge related to fintech services.

�

Keywords:� perceived usefulness, interest to adoption fintech, attitude, trust, perceived ease of use, perceived risk, government support, brand image

 

Pendahuluan

Pada era globalisasi ini, perkembangan teknologi dan informasi cukup pesat. Masyarakat pun saat ini menggunakan dan memanfaatkan teknologi-teknologi yang ada dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah dengan penggunaan internet. Saat ini, penggunaan internet tidak hanya digunakan untuk mencari informasi ataupun berita, namun masyarakat juga dapat menggunakan internet sebagai alat komunikasi. Hal ini mengakibatkan banyak sekali masyarakat Indonesia yang menggunakan dan memanfaatkan internet yang akan mendorong persaingan bisnis semakin ketat (Lod & Tessa, 2020).

Fenomena ini dapat menimbulkan dampak negatif berupa tersingkirnya perusahaan yang tidak mampu mengantisipasi persaingan ini. Mereka akhirnya akan runtuh dan menjadi dikalahkan oleh pesaing mereka (Lod & Tessa, 2020). Perkembangan pengguna atau pemakai internet yang pesat ini dikarenakan dukungan teknologi dan koneksi jaringan mobile yang lancar, artinya akses internet dengan menggunakan teknologi yang sangat mudah maka pemakai internet akan berkembang dengan cepat (Prayogo, Ellitan, & Muljani, 2021).

Teknologi financial atau yang suka di sebut Financial technology adalah teknologi digital dengan Blockchain, data yang besar, konsultan investasi dengan kecerdasan buatan dan banyak digunakan di bidang dunia keuangan. Dari perspektif kompetitor, tidak seperti bank yang menawarkan konsumen tiga layanan keuangan utama yaitu deposito, pembayaran, dan pinjaman. Beberapa perusahaan Fintech lebih fokus untuk menyediakan pengalaman pelayanan pelanggan kepada pengguna yang lebih baik. Sebagai perusahaan jasa keuangan tradisional, bank memahami pentingnya pengalaman pengguna dan beberapa di antaranya telah mulai meningkatkan daya saing dan pasar inti mereka dengan mengakuisisi saham atau bekerja sama dengan perusahaan Fintech (Hu, Ding, Li, Chen, & Yang, 2019).

Di dunia digital, penyebaran informasi dan komunikasi telah meningkatkan proses dan aktivitas outsourcing perbankan, namun derajat integrasi vertikal masih sangat tinggi. Selain itu, jumlah karyawan bank terus bertambah, sementara jumlah lembaga perbankan terus berkurang. Hal ini menyebabkan bank menghabiskan lebih banyak biaya untuk teknologi informasi dan komunikasi digital daripada perusahaan lain di industri keuangan. Tingginya investasi teknologi informasi dan komunikasi tidak sejalan dengan transformasi digital proses bisnis perbankan dan model bisnis. Ketidak efisienan akibat situasi ini juga telah mendorong berkembangnya bisnis Fintech Banking seperti yang diwujudkan saat ini. Tujuan penggunaan Fintech dalam perbankan adalah untuk meningkatkan pengalaman pengguna dan efisiensi sistem perbankan (Hu et al., 2019).

Di sisi permintaan, tidak seperti milenial yang merupakan mayoritas pengguna perusahaan Fintech, orang tua dan lansia juga merupakan nasabah bank yang dominan. Dari sudut pandang statis, mempelajari faktor-faktor dampak adopsi Fintech oleh pengguna bank dapat membantu menyediakan layanan dan memperkuat kontak antara bank dan pengguna, memberikan wawasan baru dan lebih banyak lagi pemahaman yang lengkap tentang perhatian adopsi untuk layanan Fintech. Dari sudut dinamis melihat, generasi milenial saat ini kurang mampu secara finansial dibandingkan orang tua mereka, sehingga generasi saat ini bukan merupakan pengguna utama bank. Namun, seiring berjalannya waktu, kemampuan finansial kaum milenial akan secara bertahap menguat, dan mereka akan menjadi pengguna utama. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi minat seseorang dalam mengadopsi layanan fintech.

 

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kausalitas yang menguji hubungan antar variabel berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya (Sekaran & Bougie, 2016). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui faktor-faktor yang akan mempengaruhi minat seseorang dalam mengadopsi layanan fintech. Faktor tersebut di antaranya preceived usefullness, preceived ease of use, trust, attitude, government support, brand image, preceived risk dan user inovativeness.

Adapun Teknik pengumpulan data yaitu melalui penyebaran kuisioner kepada responden dengan memberikan beberapa pertanyaan terkait faktor-faktor yang mempengaruhi minat seseorang dalam mengadopsi layanan fintech. Pada kuisioner akan menggunakan skala likert, guna mengukur presepsi responden mengenai pernyataan maupun pertanyaan tersebut. Adapun bentuk dari skala likert yaitu sebagai berikut:

-��� Sangat Tidak Setuju (STS) = 1

-��� Tidak Setuju (TS) = 2

-��� Setuju (S) = 3

-��� Sangat Setuju (SS) = 4

 

Hasil dan Pembahasan

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer atau data yang diperoleh melalui pengisian kuisioner yang dibagikan kepada masyarakat Jabodetabek. Kuisioner yang disebarkan, mendapat responden sebanyak 180, 49 di antaranya berasal dari luar Jabodetabek, dan 1 (satu) responden tidak menggunakan layanan fintech apapun. Oleh karena itu, sampel dalam penelitian ini berjumlah 130, yang terdiri dari :

 

Tabel 1

�Demografi Responden

Keterangan

Jumlah

Persentase

Jenis Kelamin:

 

 

Laki-laki

40 Orang

30,77%

Perempuan

90 Orang

69,23%

Usia:

 

 

15-20 Tahun

41 Orang

31,54%

21-25 Tahun

51 Orang

39,23%

26-30 Tahun

25 Orang

19,23%

31-35 Tahun

2 Orang

1,54%

>35 Tahun

11 Orang

8,46%

Jenis Pekerjaan:

 

 

Aparatur Sipil Negara

11 Orang

8,46%

Karyawan Swasta

44 Orang

33,84%

Mahasiswa

58 Orang

44,62%

Wiraswasta

9 Orang

6,92%

Lainnya

8 Orang

6,15%

Pendidikan Terakhir:

 

 

D3

16 Orang

12,31%

D4

1 Orang

0,77%

S1

66 Orang

50,77%

S2

7 Orang

5,38%

SMA/SMK

39 Orang

30,00%

Lainnya

1 Orang

0,77%

Jenis Layanan Fintech yang digunakan:

 

 

Crowdfunding dan Peer to Peer Lending (Contoh: Modalku

dan Kitabisa.com)

1 Orang

0,77%

Crowdfunding dan Peer to Peer Lending (Contoh: Modalku

dan Kitabisa.com)

4 Orang

3,08%

Market Aggregator atau Provisioning (Contoh: Cekaja.com, Financer dan Aturduit)

1 Orang

0,77%

Sumber: Hasil olah data 2021

 

Statistik deskriptif memberikan penjelasan mengenai nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), nilai standar deviasi dan range dari variabel independen dan variabel dependen (Ghozali, 2018). Berikut ini adalah hasil uji statistik deskriptif yang telah dilakukan.

 

Tabel 2

Hasil Statistik Deskriptif

 

Variabel

 

N

 

Minimum

 

Maksimum

Nilai Rata-Rata

Standar Deviasi

Preceived Usefullness

130

8,00

20,00

18,51

1,22

Preceived Ease of Use

130

2,00

8,00

7,21

1,08

Trust

130

3,00

12,00

9,99

1,83

Brand Image

130

2,00

8,00

7,20

1,03

Preceived Risk

130

3,00

12,00

9,19

2,28

Government Support

130

3,00

12,00

10,25

1,62

User Innovation

130

3,00

12,00

9,66

1,69

Attitude

130

2,00

8,00

7,04

1,07

Interest

130

3,00

12,00

10,45

1,62

Valid N (listwise)

130

 

 

 

 

Sumber: Hasil olah data 2021

 

Uji normalitas bertujuan untuk menguji variabel independen dengan variabel dependen atau keduanya memiliki distribusi normal atau tidak� . Residual terdistribusi normal dapat dilihat dengan menggunakan one sample kolomogrov smirnov, jika nilai signifikansi lebih dari 0,05. Adapun hasil perhitungan uji normalitas adalah sebagai berikut:

 

Tabel 3

Uji Normalitas

Spesifikasi Model

Signifikansi

Keterangan

Model 1

0,057

Normal

Model 2

0.079

Normal

Model 3

0.072

Normal

Model 4

0.055

Normal

Sumber: Data diolah 2021

 

Dari hasil diata diatas terlihat bahwa hasil uji normalitas terdistribusi normal atau lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa asumsi yang disyaratkan untuk uji regresi harus terdistribusi normal tersebut terpenuhi atau dengan kata lain bahwa model regresi ini dapat dilanjutkan.

 

Tabel 4

Hasil Uji Multikolinearitas

Spesifikasi Model

Statistics VIF

Keterangan

PUATT

2,701

Lolos Uji Multikolinearitas

PEU ATT

3,681

Lolos Uji Multikolinearitas

TRU  ATT

2,432

Lolos Uji Multikolinearitas

BI  ATT

2,161

Lolos Uji Multikolinearitas

PRATT

1,257

Lolos Uji Multikolinearitas

GS ATT

2,629

Lolos Uji Multikolinearitas

UI ATT

2,206

Lolos Uji Multikolinearitas

BI TRU

1,814

Lolos Uji Multikolinearitas

PR  TRU

1,245

Lolos Uji Multikolinearitas

GS  TRU

2,083

Lolos Uji Multikolinearitas

UI  TRU

2,037

Lolos Uji Multikolinearitas

PEU  PU

1.100

Lolos Uji Multikolinearitas

ATT  INT

1.488

Lolos Uji Multikolinearitas

Sumber: Hasil olah data 2021

 

Adapun kriteria yang digunakan yaitu jika nilai VIF < 10 maka terbebas dari gangguan multikolinearitas. Dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel penelitian lolos uji multikolinearitas.

Pengujian autokorelasi dapat diuji menggunakan statistic Durbin-Watson. Pada semua model regresi nilai Durbin-Watson berada diantara nilai dU dan 4-dU (dU<d<4<-dU). Hasil dari pengujian autokorelasi dapat dilihat sebagai berikut:

 

Tabel 5

Uji Autokorelasi

Spesifikasi

Model

Durbin-

Watson

Nilai du

(batas bawah)

Nilai 4 - dU

(batas atas)

Deteksi Autokorelasi

Keterangan

Model 1

1,930

1,8282

2,1718

1,8282< 1,930< 2,1718

Lolos Uji Autokorelasi

Model 2

1,896

1,7774

2,2226

1.7758 < 1.896 < 2.2226

Lolos Uji Autokorelasi

Model 3

1,934

1,8346

2,1636

1.8364 < 1.934 < 2.1636

Lolos Uji Autokorelasi

Model 4

1,935

1,8346

2,1636

1.8364 < 1.934 < 2.1636

Lolos Uji Autokorelasi

Sumber: Hasil olah data 2021

 

Heterokedastisitas adalah keadaan dimana terjadinya ketidaksamaan varian dan residual pada model regresi. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi heterokedastisitas (homokedastisitas). Syarat untuk homokedastisitas adalah apabila nilai sig > 0,05. Untuk uji heterokedastisitas ini menggunakan uji Glejser ditunjukan pada tabel di bawah ini:

 

Tabel 6

Uji Heterokedastisitas

Spesifikasi Model

Signifikansi

Keterangan

PUATT

0,536

Lolos Uji Heterokedastisitas

PEU ATT

0,448

Lolos Uji Heterokedastisitas

TRU  ATT

0,260

Lolos Uji Heterokedastisitas

BI  ATT

0,264

Lolos Uji Heterokedastisitas

PRATT

0,580

Lolos Uji Heterokedastisitas

GS ATT

0,380

Lolos Uji Heterokedastisitas

UI ATT

0,804

Lolos Uji Heterokedastisitas

BI TRU

0,500

Lolos Uji Heterokedastisitas

PR  TRU

0,709

Lolos Uji Heterokedastisitas

GS  TRU

0,235

Lolos Uji Heterokedastisitas

UI  TRU

0,408

Lolos Uji Heterokedastisitas

PEU  PU

0,493

Lolos Uji Heterokedastisitas

ATT  INT

0,489

Lolos Uji Heterokedastisitas

Sumber: Hasil data diolah 2021

 

Menurut (Ghozali, 2018) koefisien determinasi atau nilai adjusted (R2) digunakan untuk mengetahui seberapa besar presentasi sumbangan pengaruh variabel independen secara bersama- sama terhadap variabel dependen, koefisien determinasi memiliki nilai antara 0 (nol) sampai 1 (satu). Hasil pengujian koefisien determinasi dapat dilihat sebagai berikut:

 

Tabel 7

Uji Koefisien Determinasi

Spesifikasi Model

Presentase

Model 1

71,7%

Model 2

48,1%

Model 3

59,1%

Model 4

70,0%

Sumber: Hasil data diolah 2021

 

Uji F menurut (Ghozali, 2018) digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independent secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Tingkat yang digunakan adalah 0,05 atau 5%, jika nilai signifikan F < 0,05 maka H1 diterima dan kesimpulannya adalah variabel independen secara keseluruhan mempengaruhi variabel dependen. Jika nilai signifikan F > 0,05 maka H1 ditolak dan kesimpulannya variabel independen secara keseluruhan tidak mempengaruhi variabel dependen. Tabel 9 menjelaskan hasil pengujian F yang dilakukan.

 

Tabel 8

Hasil Uji F Simultan

Spesifikasi Model

Signifikansi (<0,05)

Keterangan

Model 1

0,000

Ha diterima

Model 2

0,000

Ha diterima

Model 3

0,000

Ha diterima

Model 4

0,000

Ha diterima

Sumber: Hasil data diolah 2021

 

Menurut (Ghozali, 2018) uji parsial (t-Test) digunakan untuk mengetahui apakah variable independen secara parsial memberikan pengaruh terhadap variabel dependen. Hasil uji t dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

 

Tabel 9

Hasil Uji Parsial (t-test)

Spesifikasi Model

β

Signifikansi

Pengaruh

Keterangan

PUATT

0,131

0,001

Signifikan Positif

H1 diterima

PEU ATT

0,058

0,512

Tidak Signifikan

H2 ditolak

TRU  ATT

0,048

0,266

Tidak Signifikan

H3 ditolak

BI  ATT

0,162

0,024

Signifikan Positif

H4 diterima

PRATT

-0,032

0,188

Tidak Signifikan

H5 ditolak

GS ATT

0,113

0,025

Signifikan Positif

H6 diterima

UI ATT

0,203

0,000

Signifikan Positif

H7 diterima

BI TRU

0,360

0,019

Signifikan Positif

H8 diterima

PR  TRU

-0,051

0,367

Tidak Signifikan

H9 ditolak

GS  TRU

0,396

0,000

Signifikan Positif

H10 diterima

UI  TRU

0,305

0,002

Signifikan Positif

H11 diterima

PEU  PU

1,581

0,000

Signifikan Positif

H12 diterima

ATT  INT

1,272

0,000

Signifikan Positif

H13 diterima

Sumber: Hasil data diolah 2021

 

Berdasarkan tabel 9, dapat disimpulkan bahwa perceived usefulness, brand image, governance support berpengaruh terhadap attitude seseorang dalam mengadopsi fintech dengan nilai signifikansi masing-masing variabel di bawah 0,05. Selanjutnya, brand image, governance support dan dan user innovativeness berpengaruh terhadap trust seseorang dalam mengadopsi fintech nilai signifikansi masing-masing variabel di bawah 0,05. Di samping itu, perceived ease of use berpengaruh terhadap perceived usefulness seseorang dalam mengadopsi fintech dan attitude berpengaruh terhadap Interest seseorang dalam mengadopsi fintech dengan nilai signifikansi masing-masing variabel di bawah 0,05. Sedangkan perceived ease of use, trust dan perceived risk tidak berpengaruh terhadap attitude dan perceived risk tidak berpengaruh terhadap trust seseorang dalam mengadopsi fintech karena memiliki nilai signifikansi di atas 0,05.

H1: Pengaruh Perceived Uselfuness terhadap Attitude dalam Mengadopsi Fintech

Berdasarkan hasil uji regresi variabel perceived uselfuness terhadap attitude memiliki nilai signifikan sebesar 0,001 (< 0.05) dan memiliki koefisien positif. Oleh karena itu, H1 diterima yang berarti perceived uselfuness berpengaruh positif terhadap attitude seseorang dalam mengadopsi layanan fintech. Hal ini dikarenakan preceived usefulness adalah faktor yang banyak digunakan dalam proses mengadopsi layanan fintech, dilihat dari sejauh mana penggunanaan ini akan meningkatkan efisiensi kinerja tersebut dan dampak positif yang diberikan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Ryu, 2018) dan (Carlin, Olafsson, & Pagel, 2017) yang menunjukan hasil penelitian bahwa perceived uselfuness berpengaruh terhadap attitude. Konsisten dengan hasil penelitian (Hu et al., 2019) yang menemukan bahwa perceived usefulness berpengaruh terhadap attitude seseorang dalam mengadopsi layanan fintech.

H2: Pengaruh Perceived Ease of Use terhadap Attitude dalam Mengadopsi Layanan Fintech

Berdasarkan hasil uji regresi variabel Perceived ease of use terhadap Attitude memiliki nilai signifikan sebesar 0,512 (>0,05) dan memiliki koefisien positif. Oleh karena itu, perceived ease of use tidak berpengaruh terhadap attitude seseorang dalam mengadopsi layanan fintech, sehingga H2 ditolak. Hasil ini didukung oleh Perangin-angin, (Respati, Yulianto, & Kusumawati, 2016) yang menemukan bahwa perceived ease of use tidak berpengaruh terhadap Attitude. Hasil ini bertolak belakang dengan yang menemukan bahwa trust berpengaruh terhadap attitude dalam mengadopsi layanan fintech. Hal ini dikarenakan bahwa tidak semua kalangan yang diberikan kemudahan akan mempengaruhi sikap mereka dalam mengadopsi layanan fintech (Perangin-angin, Respati, & Kusumawati, 2018).

H3: Pengaruh Trust terhadap Attitude dalam Mengadopsi Layanan Fintech

Berdasarkan hasil uji regresi variabel trust terhadap attitude memiliki nilai signifikan sebesar 0,266 (>0,05). Oleh karena itu, trust tidak berpengaruh terhadap attitude seseorang dalam mengadopsi layanan fintech, sehingga H3 ditolak. Hasil ini bertolak belakang dengan penelitian (Hu et al., 2019) dan (Gupta & Arora, 2017) yang menemukan bahwa trust berpengaruh positif signifikan terhadap attitude mereka dalam mengadopsi layanan fintech. Temuan ini didukung oleh penelitian (Lod & Tessa, 2020) yang menemukan bahwa trust tidak berpengaruh terhadap attitude. Hal ini menyatakan bahwa kepercayaan belum menjadi fokus yang digunakan dalam menarik sikap pengguna untuk mengadopsi layanan fintech.

H4: Pengaruh Brand Image terhadap Attitude dalam Mengadopsi Layanan Fintech

Berdasarkan hasil uji regresi variabel brand image terhadap attitude dalam mengadopsi layanan fintech memiliki nilai signifikan sebesar 0,024 (<0.05) dan memiliki koefisien positif. Oleh karena itu H4 diterima yang berarti brand image berpengaruh positif terhadap attitude dalam mengadopsi layanan fintech. Hal ini dikarenakan brand image merupakan aset tak berwujud dengan nilai ekonomi, yang menunjukkan perbedaannya dengan konsep-konsep yang abstrak dan khas, sehingga menghasilkan refleksi komprehensif dari efek positif pada pengguna. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Hu et al., 2019) dan (Ndari & Setyawan, 2021) yang menunjukan hasil penelitian bahwa brand image berpengaruh positif terhadap attitude. Selain itu, Augtiah (2021) menemukan bahwa green brand image berpengaruh terhadap consumer attitude.

H5: Pengaruh Preceived risk terhadap Attitude dalam Mengadopsi Layanan Fintech

Berdasarkan hasil uji regresi variabel perceived risk terhadap attitude memiliki nilai signifikan sebesar 0,188 (>0,05). Oleh karena itu, perceived risk tidak berpengaruh terhadap attitude seseorang dalam mengadopsi layanan fintech, sehingga H5 ditolak. Hasil ini bertolak belakang dengan penelitian (Hu et al., 2019) yang menemukan bahwa perceived risk berpengaruh terhadap attitude. Namun, hasil ini didukung oleh penelitian (Ashari & Widayanto, 2018) menemukan bahwa perceived risk tidak berpengaruh terhadap attitude. Hal ini dikarenakan pengetahuan konsumen tentang risiko yang akan dihadapi, semakin banyak risiko yang dihadapi akan memberi dampak buruk terhadap penyaluran perasaan berupa sikap dalam mengadopsi layanan fintech (Ashari & Widayanto, 2018).

H6: Pengaruh Government Support terhadap Attitude dalam Mengadopsi Layanan Fintech

Berdasarkan hasil regresi linier berganda government support memiliki nilai signifikan sebesar 0,025 (<0.05) dan memiliki koefisien positif. Oleh karena itu H6 diterima yang berarti government support berpengaruh positif terhadap attitude. Pemerintah memiliki kredibilitas yang baik, maka dapat meningkatkan kredibilitas dan keandalan produk atau layanan. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan publisitas penerapan teknologi dalam inovasi keuangan dan investasi infrastruktur seperti pembangunan jaringan komunikasi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Hu et al., 2019) yang menunjukan hasil penelitian bahwa government support berpengaruh positif terhadap attitude.

H7: Pengaruh User Innovation terhadap Attitude dalam Mengadopsi Layanan Fintech

Berdasarkan hasil uji regresi user innovation memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 (<0.05) dan memiliki koefisien positif. Oleh karena itu H7 diterima yang berarti user innovation berpengaruh positif terhadap attitude. Hal ini dikarenakan inovasi pengguna merupakan sebagai tingkat adopsi awal individu untuk mencoba produk baru, teknologi baru, atau layanan baru, sehingga inovasi yang dimiliki seseorang dapat mempengaruhi sikap merkea untuk beralih menggunakan layanan fintech. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Leicht, Chtourou, & Youssef, 2018), (Hu et al., 2019) dan (Adeiza, Azizi Ismail, & Marissa Malek, 2017) yang menunjukan hasil penelitian bahwa user innovation berpengaruh positif terhadap attitude.

H8: Pengaruh Brand Image terhadap Trust dalam Mengadopsi Layanan Fintech

Berdasarkan hasil uji regresi variabel brand image terhadap trust memiliki nilai signifikan sebesar 0,019 (<0.05) dan memiliki koefisien positif. Oleh karena itu H8 diterima yang berarti brand image berpengaruh positif terhadap trust. Persepsi pengguna terhadap merek telah dikonseptualisasikan dan dilihat sebagai prasyarat untuk kepercayaan suatu organisasi. Dalam proses menerima layanan fintech, pengguna perlu memberikan banyak informasi pribadi yang bersifat pribadi, sehingga brand image yang baik dapat meningkatkan kepercayaan pengguna karena secara efektif mengurangi risiko. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Hu et al., 2019) (Shapiro, Reams, & So, 2019) dan (Basak, Govender, & Govender, 2016) yang menunjukan hasil penelitian bahwa brand image berpengaruh positif terhadap trust.

H9: Pengaruh Preceived Risk terhadap Trust dalam Mengadopsi Layanan Fintech

Berdasarkan hasil uji regresi variabel perceived risk terhadap trust memiliki nilai signifikan sebesar 0,367 (>0,05). Oleh karena itu, perceived risk tidak berpengaruh terhadap trust seseorang dalam mengadopsi layanan fintech, sehingga H9 ditolak. Hasil ini bertolak belakang dengan temuan (Malaquias & Hwang, 2016) dan (Hu et al., 2019) yang menemukan bahwa perceived risk berpengaruh terhadap trust. Namun, hasil ini didukung oleh penelitian (Karnadjaja, Tulipa, & Lukito, 2018) menemukan bahwa perceived risk tidak berpengaruh terhadap trust. Hal ini dikarenakan bahwa risiko yang dirasakan oleh konsumen tidak akan mempengaruhi kepercayaan konsumen dalam mengadopsi layanan fintech, meskipun risiko itu tergolong rendah, konsumen belum sepenuhnya mampu mempercayai berbagai datanya dalam layanan fintech (Karnadjaja et al., 2018).

H10: Pengaruh Government Support terhadap Trust dalam Mengadopsi Layanan Fintech

Berdasarkan hasil uji regresi variabel government support terhadap trust memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 (<0.05) dan memiliki koefisien positif. Oleh karena itu H10 diterima yang berarti government support berpengaruh positif terhadap trust dalam mengadopsi layanan fintech. Hal ini menyatakan bahwa apabila pemerintah merumuskan kebijakan yang relevan pada layanan fintech, maka dukungan pemerintah akan memiliki pengaruh pada adopsi teknologi dan minat penggunaan yang berkelanjutan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Marakarkandy, Yajnik, & Dasgupta, 2017) dan (Hu et al., 2019) yang menunjukan hasil penelitian bahwa government support berpengaruh positif terhadap trust.

H11: Pengaruh User Innovation terhadap Trust dalam Mengadopsi Layanan Fintech

Berdasarkan hasil uji regresi variabel user inovativeness terhadap trust memiliki nilai signifikan sebesar 0,002 (<0.05) dan memiliki koefisien positif. Oleh karena itu H11 diterima yang berarti user innovation berpengaruh positif terhadap trust dalam mengadopsi layanan fintech. Ketika minat pengguna dalam bidang baru meningkat, maka inovasi dapat menanggung tingkat ketidakpastian yang tinggi dan memiliki minat yang lebih positif untuk menggunakan inovasi tersebut. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Leicht et al., 2018) dan (Hu et al., 2019) yang menunjukan hasil penelitian bahwa user innovation berpengaruh positif terhadap trust.

H12: Pengaruh Perceived Ease of Use terhadap Perceived Usefulness dalam Mengadopsi Layanan Fintech

Berdasarkan hasil uji regresi variabel perceived ease of use terhadap perceived usefulness memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 (<0.05) dan memiliki koefisien positif. Oleh karena itu H12 diterima yang berarti perceived ease of use berpengaruh positif terhadap perceived uselfulness. Dalam mengadopsi layanan fintech, pengguna akan merasakan manfaatnya ketika pengguna menggunakan sistem informasi yang mudah dioperasikan, sehingga hal ini akan menjadi suatu kepuasan untuk konsumen. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Hu et al., 2019) menunjukan hasi penelitian bahwa perceived ease of use berpengaruh positif terhadap perceived uselfulness.

H13: Pengaruh Attitude terhadap Interest dalam Mengadopsi Layanan Fintech

Berdasarkan hasil uji regresi variabel variabel attitude terhadap Interest memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 (<0.05) dan memiliki koefisien positif. Oleh karena itu H13 diterima yang berarti attitude berpengaruh positif terhadap Interest dalam mengadopsi layanan fintech. Hal ini menunjukan bahwa penilian subjektif pengguna dan kecenderungan pribadi yang terkait dengan sesuatu dipengaruhi oleh sikap atau perulaku seseorang. Hasil penelitian ini sejalan dengan (Hu et al., 2019), (Prayogo et al., 2021) dan (Szopiński, 2016) yang menunjukan hasil penelitian bahwa attitude berpengaruh positif terhadap Interest dalam mengadopsi fintech.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa Perceived uselfuness berpengaruh positif terhadap attitude dalam mengadopsi layanan fintech. Perceived ease of use tidak berpengaruh terhadap attitude dalam mengadopsi layanan fintech. Trust tidak berpengaruh terhadap attitude dalam mengadopsi layanan fintech. Brand image berpengaruh positif terhadap attitude dalam mengadopsi layanan fintech. Preceived risk tidak berpengaruh terhadap attitude dalam mengadopsi layanan fintech. Government support berpengaruh positif terhadap attitude dalam mengadopsi layanan fintech. User innovation berpengaruh positif terhadap attitude dalam mengadopsi layanan fintech. Brand image berpengaruh positif terhadap trust dalam mengadopsi layanan fintech. Preceived risk tidak berpengaruh terhadap trust dalam mengadopsi layanan fintech. Government support berpengaruh positif terhadap trust dalam mengadopsi layanan fintech. User innovation berpengaruh positif terhadap trust dalam mengadopsi layanan fintech. Perceived ease of use berpengaruh positif terhadap perceived uselfulness dalam mengadopsi layanan fintech. Attitude berpengaruh positif terhadap interest dalam mengadopsi layanan fintech.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Adeiza, Adams, Azizi Ismail, Noor, & Marissa Malek, Marlin. (2017). An empirical examination of the major relationship factors affecting franchisees� overall satisfaction and intention to stay. Iranian Journal of Management Studies, 10(1), 31�62. Google Scholar

 

Ashari, Riko, & Widayanto, Widayanto. (2018). Pengaruh Kepercayaan Dan Risiko Terhadap Keputusan Pembelian Melalui Sikap Pengguna Pada Situs Belanja Online Lazada. Com (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang). Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis, 7(1), 209�218. Google Scholar

 

Basak, Sujit Kumar, Govender, Desmond Wesley, & Govender, Irene. (2016). Examining the impact of privacy, security, and trust on the TAM and TTF models for e-commerce consumers: A pilot study. 2016 14th Annual Conference on Privacy, Security and Trust (PST), 19�26. IEEE. Google Scholar

 

Carlin, Bruce, Olafsson, Arna, & Pagel, Michaela. (2017). Fintech adoption across generations: Financial fitness in the information age. National Bureau of Economic Research. Google Scholar

 

Ghozali, Imam. (2018). Aplikasi analisis multivariate dengan program IBM SPSS 25. Google Scholar

 

Gupta, Anil, & Arora, Neelika. (2017). Consumer adoption of m-banking: a behavioral reasoning theory perspective. International Journal of Bank Marketing. Google Scholar

 

Hu, Zhongqing, Ding, Shuai, Li, Shizheng, Chen, Luting, & Yang, Shanlin. (2019). Adoption intention of fintech services for bank users: An empirical examination with an extended technology acceptance model. Symmetry, 11(3), 340. Google Scholar

 

Karnadjaja, Claudia Cindy, Tulipa, Diyah, & Lukito, Robertus Sigit Haribowo. (2018). Pengaruh persepsi risiko, manfaat, dan kemudahan penggunaan terhadap minat belanja online melalui kepercayaan dan sikap pada konsumen Zalora di Surabaya. Kajian Ilmiah Mahasiswa Manajemen, 6(2), 116�130. Google Scholar

 

Leicht, Thomas, Chtourou, Anis, & Youssef, Kamel Ben. (2018). Consumer innovativeness and intentioned autonomous car adoption. The Journal of High Technology Management Research, 29(1), 1�11. Google Scholar

 

Lod, Sulivyo, & Tessa, Handra. (2020). The Effect of Trust-Worthiness, Epertness, Similarity, and Attractiveness on Brand Attitude and Attitude towards Advertisements as Mediation Variables in Brand. RJOAS: Russian Journal of Agricultural and Socio-Economic Sciences, 10, 52�59. Google Scholar

 

Malaquias, Rodrigo F., & Hwang, Yujong. (2016). An empirical study on trust in mobile banking: A developing country perspective. Computers in Human Behavior, 54, 453�461. Google Scholar

 

Marakarkandy, Bijith, Yajnik, Nilay, & Dasgupta, Chandan. (2017). Enabling internet banking adoption: An empirical examination with an augmented technology acceptance model (TAM). Journal of Enterprise Information Management. Google Scholar

 

Ndari, Rosita Wulan, & Setyawan, Anton Agus. (2021). Pengaruh Brand Image dan Brand Trust Terhadap Brand Attitude pada Merek Produk Make Over di Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Google Scholar

 

Perangin-angin, Widia Afriani, Respati, Agustini Dyah, & Kusumawati, Maharani Dhian. (2018). Pengaruh perceived usefulness dan perceived ease of use terhadap attitude toward using e-faktur. Jurnal Riset Ekonomi Dan Manajemen, 16(2), 307�322. Google Scholar

 

Prayogo, Cornelia, Ellitan, Lena, & Muljani, Ninuk. (2021). Pengaruh Perceived Usefulness, Perceived Risk Dan Perceived Ease Of Use Terhadap Interest Online Purchase Yang Dimediasi Consumer Attitude Pada Aplikasi Dealjava Di Surabaya. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Manajemen, 10(1). Google Scholar

 

Respati, Januarisya, Yulianto, Edy, & Kusumawati, Andriani. (2016). Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Nasabah dan Dampaknya Pada Loyalitas Nasabah (Studi Pada Nasabah Tabungan Bank BCA KCU Pusat Kota Malang). Jurnal Administrasi Bisnis, 41(1), 37�42. Google Scholar

 

Ryu, Hyun Sun. (2018). What makes users willing or hesitant to use Fintech?: the moderating effect of user type. Industrial Management & Data Systems. Google Scholar

 

Sekaran, Uma, & Bougie, Roger. (2016). Research methods for business: A skill building approach. John Wiley & Sons. Google Scholar

 

Shapiro, Stephen L., Reams, Lamar, & So, Kevin Kam Fung. (2019). Is it worth the price? The role of perceived financial risk, identification, and perceived value in purchasing pay-per-view broadcasts of combat sports. Sport Management Review, 22(2), 235�246. Google Scholar

 

Szopiński, Tomasz Stanisław. (2016). Factors affecting the adoption of online banking in Poland. Journal of Business Research, 69(11), 4763�4768. Google Scholar

 

Copyright holder:

Yulia Eka Riyanti, Apriliani Adeayu Kurniawati, Emil Fawwaz, Herwikson Sitorus, Farah Margaretha (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: