Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

  e-ISSN: 2548-1398

Vol. 6, No. 6, Juni 2021

 

ANALISIS KONTRAPRODUKTIVITAS PERDEBATAN-PERDEBATAN TEOLOGIS PARA HAMBA TUHAN DI YOUTUBE SEJAK PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA

 

Djone Georges Nicolas

Sekolah Tinggi Teologi (STT) IKAT Jakarta, Indonesia

Email: djonealexandrenathanael@gmail.com

 

Abstract

The Covid-19 pandemic is not over and is quite draining the energy of the world community, Indonesia including the church community.  However, Youtube is enlivened by theological debates of some people who call themselves "theologians", "pastors", "pastors", "apologists" which lead to misleading each other, berating each other, so that instead of reassuring and strengthening the hearts of the congregation, but on the contrary, it added anxieties and doubts to their hearts.  This study aims to analyze the basis for the counterproductivity of the theological debates of God's servants on Youtube since the Covid-19 Pandemic.  This research method is descriptive qualitative with literature analysis and narrative interpretation, by collecting data through various reference sources related to the problem being studied.  As a result, Youtube, which should be a mission vehicle for spreading the gospel throughout the earth in order to win as many souls as possible for Christ, is precisely through conflicts between fellow servants of God who do not set good examples as a means of worrying about the body of Christ.  In conclusion, the crisis of exemplary and love and service ethics as servants of God which is neglected results in counterproductivity in the implementation of the Great Commission, because persons who claim to be "experts" consider their own teachings correct and convict different teachings, and thus become a disgrace for the achievement of the goal of evangelism alone.

 

Keywords:  counterproductivity; theological debates; servant of god; youtube; covid-19 pandemic

Abstrak

Pandemi Covid-19 belum usai dan cukup menguras energi masyarakat dunia, Indonesia termasuk masyarakat gereja. Namun, Youtube diramaikan dengan perdebatan-perdebatan teologis beberapa oknum yang menyebut diri "teolog", “pendeta”, “pastor”, “apologet” yang berujung kepada saling sesat-menyesatkan, saling mencaci maki, sehingga bukannya menentramkan dan menguatkan hati jemaat, tetapi sebaliknya menambahkan kegaduan dan kebimbangan di hati mereka. Penelitian ini bertujuan menganalisis dasar kontraproduktivitas perdebatan-perdebatan teologis para hamba Tuhan di Youtube sejak Pandemi Covid-19. Metode penelitian ini kualitatif deskriptif dengan analisis pustaka dan tafsir narasi, dengan pengumpulan data melalui berbagai sumber referensi yang berkaitan dengan masalah yang dikaji. Hasilnya, Youtube yang seharusnya menjadi sarana misi untuk penyebaran Injil di seluruh bumi demi memenangkan sebanyak mungkin jiwa bagi Kristus, justru melalui konflik antar sesama hamba Tuhan yang tidak memberi teladan yang baik dijadikan sarana merisaukan tubuh Kristus. Kesimpulannya, krisis keteladanan serta kasih dan etika pelayanan sebagai hamba Tuhan yang diabaikan mengakibatkan kontraproduktivitas dalam pelaksanaan Amanat Agung, sebab para oknum yang mengaku "ahli" menganggap benar ajaran sendiri serta memvonis salah ajaran yang berbeda, dan dengan demikian menjadi cela bagi pencapaian tujuan penginjilan itu sendiri.

 

Kata Kunci:  kontraproduktivitas; perdebatan-perdebatan teologis; hamba tuhan; youtube; pandemi covid-19

 

Pendahuluan

Istilah perdebatan bukanlah hal asing dalam keberlangsungan hidup manusia pada umumnya, seperti dalam instansi dunia sebesar Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), instansi negara seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dalam instansi politik seperti partai politik (PDIP, PKB, GOLKAR dll...), dalam instansi pendidikan, dalam instansi medis hingga dalam instansi yang lebih kecil seperti keluarga atau rumah tangga. Dunia keagamaan pun tidak terluput dari yang namanya perdebatan, sebab dari zaman ke zaman berbagai isu teologis selalu menjadi bahan perdebatan termasuk di dalam keKristenan. 

Perdebatan sendiri berasal dari kata debat yang diartikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kemendikbud, 2019) sebagai bahasan maupun pertukaran pendapat berkaitan dengan sesuatu hal dengan cara memberi alasan masing-masing demi mempertahankan argumennya. Perdebatan sebagai komunikasi di mana adu argumentasi terjadi di antara dua belah pihak dikarenakan di dalam prosesnya, setiap pihak tidak menyetujui pendapat yang lain dan dengan kuat mempertahankan pemikiran yang diyakini. Maka, mengenai vaksin Covid-19 sebagai contoh, Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan Negara Kesatuan Republik Indonesia meminta agar perdebatan berkaitan vaksin Nusantara yang menjadi pokok perdebatan berjalan dalam koridor ilmiah dan bukan politis menurut data berita Kompas.com bertanggal 13 Januari 2021.

Pada hakekatnya, perdebatan merupakan sesuatu yang bermatabat dan bahkan merupakan suatu kebutuhan dalam berbagai aspek kehidupan. (Simarmata & Sulastri, 2018) menyatakan bahwa sekarang di era terbuka, arti debat sangatlah penting oleh karena debat berkontribusi besar dalam dunia demokrasi termasuk di dalam dunia Pendidikan.

Dampak pandemi Covid-19 begitu luas dan sangat berpengaruh terhadap hidup manusia termasuk persekutuan orang percaya di Indonesia. Kurang lebih 1,5 juta orang diputuskan ikatan kerjanya (PHK), pengelolaan industri menurun sebesar 45%, sehingga gereja pun mengalami berbagai krisis: finansial, spiritual, ditambah dengan polemik pengajaran tentang pandemi. Seolah kesusahan tersebut tidaklah cukup, perdebatan demi perdebatan yang tidak bermatabat tanpa henti dipertontonkan oleh sebagian hamba Tuhan kepada masyarakat luas di media sosial online semacam Youtube, facebook dan sebagainya.

 Di channel Youtube bernama CCTV Kristen Bersaksi yang berjudulPerdebatan Sengit: Joshua Tewuh Bodoh dan Mangapul Sagala terlalu sombongbertanggal 9 April 2021, istilah kata “kamu terlalu bodohdiucapkan Dr. Mangapul yang memegang doktrin Tritunggal kepada Dr. Joshua Tewuh yang menganut doktrin Oneness (https://youtu.be/BQynqp2VY54 dikunjungi pada 23 Mei 2021 jam 20:05 wib). Sabtu 08 Mei 2021, respon Dr. Joshua Tewuh melalui channel Kalam Kristus berjudulTanggapan Khusus JT terhadap Fitnah MS (Mangapul Sipanggaron)” mengubah nama Sagala dengan istilah sipanggaron yang dijelaskannya memiliki arti dalam bahasa batak “orang yang suka buat keributan, tidak ada kerjaan, suka campurin urusan orang lain, merasa paling jago.” Diteruskan dengan mengucapkan istilah lain sepertitua bangka dan iri hati” (https://youtu.be/r3J4daXK5xQ, dikunjugi pada 25 Mei 2021 Jam 22.25 wib).

Youtuber Joseph Paul Zhang yang menyebut diri pendeta di sisi lain ditetapkan menjadi tersangka pasal penistaan agama Islam dan juga pasal ujaran kebencian, sekaligus masuk Daftar Pencarian (DPO) oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia, karena mengklaim diri sebagai nabi ke-26 Islam dengan menghina nabi Muhammad sebagai nabi cabul melalui channel Youtubenya sehingga menjadi viral di semua media sosial, dan mendapat respon dan protes masif dari kalangan muslim seperti NU dan lain-lain menurut data Youtube KOMPASTV bertanggal 20 April 2021 berjudul “Joseph Paul Zhang diburu Polri hingga Interpol Usai Lecehkan Islam, Ini Kata Pakar Hukum Pidana” (https://youtu.be/y7Sh796yxcg dikunjungi pada 23 Mei 2021 jam 17:15 wib).

Melalui Channel Youtube bernama Layar Teologi pada 19 Mei 2021 berjudulpdt MYM mahasiswa S3 enggak lulus-lulus, tapi sombong nya rek…”, youtuber yang juga disebut teolog dan dikenal dengan nama Rudi Phan membahas panjang lebar tentang Pdt. Muriwali Yanto Matalu (MYM) dan Pdt. Mangapul Sagala dalam tema bahasan fantastis yang diberi judulPdt. MYM Anak Setan ternyata Hahaha Doyan nge-LONTE soumate Pdt. MS Anak Setan” (https://youtu.be/2zFZjNqWNs0, dikunjungi pada 24 Mei 2021 jam 23:50 wib) sebagai respon terhadap video Pdt. MYM berjudulPesan Tarsi Daradara untuk RUDY PHAN Si Layar Badut diomeli” (https://youtu.be/hED3_GLZbJQ  dikunjungi pada 24 Mei jam 23:58 wib).

Itulah gambaran sebagian kecil kasus perdebatan yang terdapat meramaikan dunia Youtube sejak pandemi Covid-19 berlangsung sehingga memunculkan banyak pertanyaan di kalangan orang percaya. Kenyataan bahwa krisis di dalam kepemimpinan gereja di era global menjadi ancaman bagi gereja sendiri adalah fakta yang tak terbantakan, terlebih bagi umat Tuhan yang sangat memerlukan teladan pemimpin mereka (Nicolas & Manaroinsong, 2021). Firman Tuhan dengan jelas memerintahkan seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan domba-domba Allah yang dipercayakan padanya dengan cara menjadi teladan bagi mereka (1 Petrus 5:1-3). (Benjamin & Biswas, 2019) menggambarkan gembala selaku hamba Tuhan sebagai pemimpin yang eksemplaris atau dengan kata lain pemimpin yang memberi contoh.

Dalam penelitian terdahulu, (Amtiran, 2020) dalam tulisannya menyebut bahwa dari sejumlah media ditemukan debat kusir berkaitan pandemi Covid-19 sehingga menjadi gejala dan masalah teologis yang serius yang memberi petunjuk ancaman berujung pada polarisasi dalam responnya. Menurut (Ronda, 2016), hamba Tuhan sebagai pemimpin harus fokuskan dirinya agar perintah Amanat Agung Yesus Kristus disampaikan melalui sarana dunia digital sebagai tempat di mana banyak orang berkumpul dan bersosialisai, sebab misi pemimpin adalah membawa Injil melalui dunia digital. Bagi (Sitanggang, 2021) Youtube dan berbagai aplikasi media sosial lain menjadi sebuah sarana bagi gereja dalam melaksanakan penginjilan secara virtual. Menurut (Camerling, Lauled, & Eunike, 2020), terdapat sisi positif dari media digital karena kebutuhannya yang tak terpisahkan dari hidup masyarakat dan gereja untuk bermisi saat ini. Namun, sisi negatifnya adalah ujaran kebencian atau hate speech yang merajalela di media sosial.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah menjadi pemaparan di atas dan menindaklanjuti pernyataan Abdon Amtiran, maka penulis hendak menganalisa apa yang menjadi dasar kontraproduktivitas perdebatan-perdebatan para hamba Tuhan di media sosial Youtube agar dapat menghindari perpecahan di dalam persekutuan orang percaya dan memaksimalkan efisiensi pelaksanaan Amanat Agung Yesus Kristus Tuhan.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan analisa pustaka dan tafsir narasi, dengan tujuan menganalisis dasar kontraproduktifitas perdebatan-perdebatan teologis para hamba Tuhan di Youtube sejak pandemi Covid-19 di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui berbagai sumber: Alkitab, buku-buku, jurnal-jurnal, artikel digital, dan dokumen lain yang berkaitan dengan masalah yang dikaji. Penelitian kualitatif menurut Bodgan dan Biklen (Anggito & Setiawan, 2018) adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan tipe  data deskriptif  berupa  ucapan  atau  tulisan  maupun  perilaku  orang-orang  yang  diamati  di dalam  suatu  konteks  dan  dikaji  dari  sudut  pandang  yang  lengkap  dan  komprehensif, maupun menyeluruh atau holistik.

 

Hasil dan Pembahasan

A.    Kontraproduktivitas Perdebatan-perdebatan Para Hamba Tuhan di Youtube Sejak Pandemi Covid-19.

  1. Perdebatan-perdebatan para hamba Tuhan tidaklah memberi teladan yang baik bagi jemaat

Merespon perdebatan yang panas dan penuh kata tidak pantas para hamba Tuhan di media online Youtube, seorang responden yang mengaku dari kalangan jemaat mengutarakan isi hatinya kepada Dr. Joshua Tewuh dengan menyayangkan kualitas konten perdebatan yang ditampilkan para hamba Tuhan yang hanya merisaukan umat, dan bahkan menjadi bahan lelucon bagi orang yang di luar keKristenan (https://youtu.be/r3J4daXK5xQ menit 1:43:33). Di bagian komentar video yang sama, account bernama Cinta Kebenaran dengan panjang lebar meluapkan kekesalannya: “Setelah kurenungkan ada satu 1 hal yang membuat hati ini tidak terima. Kok yang selama ini kita pandang sebagai gembala pada ribut? JT komentari ST vs Niko, JT ribut dengan GL, JT ngomentarin bipang, bukan malah pencerahan malah marah-marah. Merendahkan jubir presiden, Immanuel Ebenezer meragukan kependetaan MS, terlalu percaya diri mengaku sebagai kontribusi ke negara… Oalah, JT juga manusia paling congkak kok, huh… Layar Teologi itulah justru sipengejar suscriber, viewer. Seharusnya saling menutupi kekurangan-kekurangan dia malah mengangkat lagi. Ingatkasih itu menutupi segala kesalahan, bukan menguber. Semakin rendah Kristen di mata para kadrun geragara hamba Tuhan yang merasa diri hebat, paling benar. Tidak meneladani kehidupan sama sekali”. Seorang ibu bernama Listra juga menyebut bahwa hamba Tuhan tidak menggambarkan kualitas hamba Tuhan, tetapi hamba sesat dengan satu seruan pertanyaan: “Harus kali saling menjatuhkan?”

Mengenai Perdebatan-perdebatan para hamba Tuhan di Youtube, (Nicolas, 2020) berpendapat bahwa gereja yang diwakili para hamba Tuhan   lebih   sibuk   berteologi dibanding menyaksikan    kasih    yang    membawa ketentraman   di   tengah   gejolak   kepanikan yang terjadi,  dan  sebaliknya  justru  menjadi  pengacau  bagi  jemaat sendiri    dan    juga    bagi    bangsa. Account bernama Yulius Rusli di kolom komentar video Youtube Rudi Phan menanggapi Pdt. MYM menulis: “kalau saya jadi jemaat kedua pendeta tsb, saya pindah gereja. Karena tidak ada yang bisa diteladani lewat kehidupan di medsosnya yang tidak mencerminkan Kristus dalam hidupnya” (https://youtu.be/2zFZjNqWNs0 dikunjungi pada 25 Mei 2021 jam 16.05 wib). Melalui wawancara dengan salah satu narasumber bernama berinisial RS yang merupakan seorang pendeta, beliau berpendapat bahwa sangat disayangkan melihat orang yang menyebut diri hamba Tuhan justru mempertontonkan kualitas yang tidak berbeda dengan gaya premanisme (wawancara Rabu 25 Mei 2021 jam 17.00 wib). Demikian juga seorang ibu dengan nama berinisial YP menyampaikan adalah lebih baik tidak memanggil para pendebat Youtube sebagai hamba Tuhan, sebab mereka tidak pantas sandang gelar terhormat itu. Sebaliknya mereka cocok disebut Youtubers dikarenakan mereka lebih fokus mencari sensasi, popularitas dan mamon dari sana (wawancara Rabu 26 Mei 2021 jam 15:18).

Fakta terjadinya sebuah krisis oleh karena penyalagunaan media sosial khususnya Youtube oleh para hamba Tuhan yang menyebut diri apologet, pastor, pendeta, berbeda dengan apa yang seharusnya seperti pernyataan Daniel Ronda dan Murni yang berpendapat bahwa dunia digital merupakan sarana penginjilan bagi mereka yang di luar Kristus sekaligus sarana membangun rohani jemaat Tuhan dan kesatuan tubuh Kristus, sehingga justru para hamba Tuhanlah melalui perdebatan kusir di media sosial seperti disampaikan oleh Abdon Amtiran menjadi batu sandungan bagi tubuh Kristus itu sendiri. Maka pemimpin yang buruk adalah dia yang tidak mempunyai integritas dikarenakan perilaku kotor atau amoralitas, sehingga menyimpulkan bahwa dunia sekarang mengalami krisis pemimpin maupun krisis kepemimpinan yang akut.”

Dalam praktiknya di lapangan, masih secara nyata ditemukan pemimpin Kristen yang kurang menyadari esensi panggilan sebagai pemimpin yang menuntut tanggung jawab kepada manusia dan lebih lagi kepada Tuhan (Katarina & Siswanto, 2018). Penginjilan yang adalah kegiatan memberitakan Injil: yaitu Kabar Baik atau Kabar Gembira, tidak dapat dipisahkan dari keteladanan yang ditunjukkan oleh si pemberita Injil seperti pesan Paulus kepada Timotius agar memberi teladan bagi sesama umat Allah dalam hal perkataan, hal tingkah laku, hal kasih, hal kesetiaan dan juga hal kesucian (1 Timotius 4:12 (TB)). Hal ini senada dengan pernyataan (Irawati, Kunci, Kepemimpinan, & Yesus, 2021) bahwa Yesus merupakan teladan bagi para pengikutNya dengan menunjukkan kepada mereka seperti apa menjadi pemimpin. Oleh karena, teladan merupakan faktor kunci yang sangat mempengaruhi kepemimpinan Yesus dalam pelayanan-Nya. 

Keteladan Rasul Paulus sebagai pemimpin yang menjadi panutan bagi jemaat jelas dapat dilihat dari keteladanannya dalam hal karakter dan pengajaran tentang kesatuan jemaat dalam perbedaan dan keragaman yang terdapat di dalam gereja sebagai Satu Tubuh (Efesus 4:1-7). Maka (Luwis, 2020) menekankan bahwa hidup orang percaya menuntutPerilaku yang Layak” oleh karena Allah selalu memadukan antara doktrin dengan praktik, serta antara pengajaran dengan hasil-hasil praktis yang bersumber dari pengajaran itu sendiri. Maka hari ini, menggunakan Youtube pun dalam pendekatan edukatif memerlukan pemimpin yang mewujudkan pedoman etika Kristen di dalam penggunaan media sosial, dan yang menggerakan komunitas bertanggung jawab untuk menghindari menampilkan konten negatif seperti ujaran kebencian dan semacamnya (Ronda, 2019).

Menurut (Perangin Angin & Astuti Yeniretnowati, 2020), semua orang percaya termasuk para pemimpin umat Kristen wajib memastikan bahwa revolusi industri 4.0 tidak tidak mengakibatkan degradasi sifat paling dasar manusia: yakni moral, karakter dan juga iman sebagai pengikut Kristus.

Perdebatan teologis dalam perjalanan keKristenan bukanlah hal baru, sebab sejak abad-abad sebelumnya sejarah membuktikannya bahwa perdebatan demi perdebatan mewarnai dinamika dalam gereja. Walaupun dibalik segala sesuatu Allah tetap bekerja untuk memastikan kebaikan dialami oleh gerejaNya seperti tertulis dalam Kitab Roma 8:28, catatan (Letham, 2021) tentang perdebatan  yang terjadi di abad ketiga menerangkan bahwa dibalik permukaan perdebatan pada masa itu terdapat berbagai masalah yang sedang berdetak selayaknya bom waktu yang siap meledak kapan saja cepat atau lambat pada masa kini pun harus menjadi perhatian gereja dan khususnya mereka yang mengatasnamakan nama Allah terus berdebat dengan cara tidak bermartabat di media sosial online.

 

Kesimpulan

Kesimpulannya, krisis keteladanan serta kasih dan etika pelayanan sebagai hamba Tuhan yang diabaikan mengakibatkan kontraproduktivitas dalam pelaksanaan Amanat Agung, sebab para oknum yang mengaku "ahli" menganggap benar ajaran sendiri serta memvonis salah ajaran yang berbeda, dan dengan demikian menjadi cela bagi pencapaian tujuan penginjilan itu sendiri.


BIBLIOGRAFI

 

Amtiran, Abdon Arnolus. (2020). Pandemi Covid-19 dan Implikasinya terhadap Polarisasi Mazhab Teologi di Indonesia. Magnum Opus: Jurnal Teologi Dan Kepemimpinan Kristen, 1(2), 64-71. https://doi.org/10.52220/magnum.v1i2.49 Google Scholar

 

Anggito, Albi, & Setiawan, Johan. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Sukabumi: CV Jejak (Jejak Publisher). Google Scholar

 

Benjamin, Samuel Jebaraj, & Biswas, Pallab. (2019). Board gender composition, dividend policy and COD: the implications of CEO duality. Accounting Research Journal, 18(1), 51. Google Scholar

 

Camerling, Yosua Feliciano, Lauled, Mershy Ch., & Eunike, Sarah Citra. (2020). Gereja Bermisi Melalui Media Digital Di Era Revolusi Industri 4.0. Visio Dei: Jurnal Teologi Kristen, 2(1), 1-22. https://doi.org/10.35909/visiodei.v2i1.68 Google Scholar

 

Irawati, Enny, Kunci, Kata, Kepemimpinan, Keteladanan ;., & Yesus, ; (2021). Keteladanan Kepemimpinan Yesus Serta Implikasi Terhadap Kepemimpinan Gereja Pada Masa Kini. Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 10(1), 169-184. Google Scholar

 

Katarina, K., & Siswanto, Krido. (2018). Keteladanan Kepemimpinan Yesus Dan Implikasinya Bagi Kepemimpinan Gereja Pada Masa Kini. Evangelikal: Jurnal Teologi Injili Dan Pembinaan Warga Jemaat, 2(2), 87-98. https://doi.org/10.46445/ejti.v2i2.102 Google Scholar

 

Kemendikbud. (2019). KBBI - Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Google Scholar

 

Letham, Robert. (2021). The Holy Trinity in Scripture, history, theology and worship A review article with response by Kevin Giles and Robert Letham Phillipsburg, NJ: P & R, 2004, 551 pp. $24.99 ISBN 0875520006. Evangelical Quarterly. https://doi.org/10.1163/27725472-07801006

 

Luwis, Render. (2020). Keteladanan Kepemimpinan Rasul Paulus sebagai Role Model dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia Berdasarkan Efesus 4:1-16 di Gereja Bahagian Bahasa Melayu di Negara Brunei Darussalam. Jurnal Teologi Berita Hidup 2(2), 142-153. https://doi.org/10.38189/jtbh.v2i2.36 Google Scholar

 

Nicolas, Djone Georges. (2020). Analisis Pandemi Covid 19 dan Pertajaman Polarisasi Gereja Di Indonesia. Jurnal Syntax Transformation, 1(10), 696–702. Google Scholar

 

Nicolas, Djone Georges, & Manaroinsong, Tirza. (2021). Krisis Keteladanan Kepemimpinan Gereja: Fondasi Gembala Sebagai Pemimpin Gereja Berdasarkan 1 Petrus 5:2-4. Syntax Idea, 3(2), 283-290. https://doi.org/10.36418/syntax-idea.v3i2.1038 Google Scholar

 

Perangin Angin, Yakub Hendrawan, & Astuti Yeniretnowati, Tri. (2020). Ketahanan Iman Kristen di Tengah Era Disrupsi. Jurnal Teologi (Juteolog), 1(1), 80-97. https://doi.org/10.52489/juteolog.v1i1.12 Google Scholar

 

Ronda, Daniel. (2016). Pemimpin dan Media: Misi Pemimpin Membawa Injil Melalui Dunia Digital. Jurnal Jaffray 14(2), 189-198. https://doi.org/10.25278/jj71.v14i2.210 Google Scholar

 

Ronda, Daniel. (2019). Kepemimpinan Kristen Di Era Disrupsi Teknologi. Evangelikal: Jurnal Teologi Injili Dan Pembinaan Warga Jemaat, 3(1), 1-8. https://doi.org/10.46445/ejti.v3i1.125 Google Scholar

 

Simarmata, Mai Yuliastri, & Sulastri, Saptiana. (2018). Pengaruh Keterampilan Berbicara Menggunakan Metode Debat Dalam Mata Kuliah Berbicara Dialektik Pada Mahasiswa Ikip Pgri Pontianak. Jurnal Pendidikan Bahasa, 7(1), 49-62. Google Scholar

 

Sitanggang, Murni Hermawaty. (2021). Beradaptasi Dengan Pandemi: Menelisik Arah Pelayanan Gereja Ke Depan. Diegesis : Jurnal Teologi, 6(1), 1-19. https://doi.org/10.46933/dgs.vol6i11-19 Google Scholar

 

Copyright holder:

Djone Georges Nicolas (2021)

 

First publication right:

Journal Syntax Literate

 

This article is licensed under: