Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

  e-ISSN : 2548-1398

Vol. 6, No. 6, Juni 2021

 

BAHASA FIGURATIF SEBAGAI SPIRIT SOLIDARITAS DALAM KITAB AMSAL

 

Imelda Oliva Wissang, Nelci Halla, Tobias Nggaruaka, Arsiya Wanaelo

Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL) NTT, Indonesia, Universitas Musamus dan Lembaga Muslim Education Development Association of  Thailand

Email:  imeldaolivawissang@gmail.com, mayella80cij@gmail.com, tobias@unmus.ac.id, arsiyawan@gmail.com

 

Abstract

Figurative language in the poems of the Book of Proverbs is very strong with symbols that introduce wisdom and teaching to the reader, as a guideline on correct behavior and important attitudes towards life, which can be used as a spirit of solidarity in living together. This study aims to describe and explain figurative language as a spirit of solidarity in the Book of Proverbs found in Proverbs poems. This research is a qualitative research. The method used in this study is a qualitative descriptive method. Data analysis uses a hermeneutic approach so that the data can be interpreted and explained. The results show that there are forms of figurative language as a spirit of solidarity in the Book of Proverbs, namely (1) figurative language as a spirit of solidarity to think wisely in the Book of Proverbs, (2) figurative language as a spirit of solidarity and determination in the Book of Proverbs, and (3) figurative language. as a spirit of solidarity with each other in the Book of Proverbs. The discussion of the research results is explained as follows, (1) The form of figurative language as a spirit of solidarity, wise thinking expressed in the symbol of solidarity, among others, a) sincerity, b) sincerity, and c) honesty; (2) The form of figurative language as a spirit of solidarity with determination expressed in symbols of solidarity, among others, a) cooperation, b) loyalty, c) perseverance, and d) self-awareness; and (3) the form of figurative language as a spirit of solidarity by sharing expressed in solidarity symbols, among others, a) responsibility, b) caring, c) sensitivity, and d) patience.

Keywords:  figurative language; spirit of solidarity; book of proverbs

 

Abstrak

Bahasa figurative dalam puisi Kitab Amsal sangat kuat dengan simbol-simbol yang memperkenalkan hikmat dan pengajaran kepada pembaca, sebagai pedoman mengenai perilaku yang benar dan sikap-sikap penting terhadap hidup, yang dapat dijadikan sebagai spirit solidaritas dalam hidup bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dalam Kitab Amsal yang ditemui dalam puisi-puisi Amsal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Analisis data menggunakan ancangan hermeneutik sehingga data dapat diinterpretasi dan dijelaskan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat wujud bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dalam Kitab Amsal, yakni (1) bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas berpikir bijak dalam Kitab Amsal, (2) bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas keteguhan hati dalam Kitab Amsal, dan (3) bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas saling berbagi dalam Kitab Amsal. Pembahasan terhadap hasil penelitian dijelaskan sebagai berikut, (1) wujud bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas berpikir bijak yang diungkapkan dalam simbol hidup solider antara lain,  a) keikhlasan, b) ketulusan, dan c) kejujuran; (2) wujud bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dengan keteguhan hati yang diungkapkan dalam simbol bersolider antara lain,  a) kerja sama, b) kesetiaan, c) ketekunan, dan d) kesadaran diri; dan (3) wujud bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dengan saling berbagi yang diungkapkan dalam simbol bersolider antara lain,  a) tanggung jawab, b) kepedulian, c) kepekaan, dan d) kesabaran.

 

Kata Kunci:  bahasa figuratif; spirit solidaritas; kitab amsal

 

Pendahuluan

Bahasa merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan manusia, terlebih dalam membangun relasi atau komunikasi dengan sesama. Melalui bahasa dapat tumbuh dan berkembang kesadaran dalam diri maupun kelompok sebagai spirit atau semangat untuk membangun kehidupan bersama yang akan tampak dalam sikap saling memahami, saling membantu, memotivasi, mendorong, mengajar, menasihati, dan mendidik kepada hidup yang lebih bermakna. Bahasa juga dapat menjelaskan situasi kehidupan, persoalan, masalah terlebih yang dihadapi masyarakat luas seperti situasi wabah virus corona yang kini melanda dunia, hingga menggerakan masyarakat untuk peduli, aktif berpartisipasi mencegah penularan, saling membantu dalam mengatasi masalah yang terjadi. Bahasa yang digunakan dalam menumbuhkan semangat hidup bersama ini merupakan bahasa yang menggerakan, menggugah, menyadarkan, bahasa bijak, santun, seni, dan sugestif yang diungkapkan secara tidak langsung dengan menggunakan kiasan, perumpamaan dengan imaji yang kuat yang memberikan pesan, nilai serta makna yang berguna. Bahasa seperti ini sering ditemukan dalam karya sastra, bahasa sastra yang dikiaskan, dilambangkan dengan berbagai perumpamaan yang disebut bahasa figuratif.

Bahasa figuratif memberikan daya tarik tersendiri karena penggunaan kiasan-kiasan yang ada. Dijelaskan bahasa kiasan merupakan ungkapan yang digunakan untuk memberi warna atau kekuatan pada ucapan atau tulisan, mengungkapkan tentang sesuatu dengan bahasa yang berbeda dari yang umumnya atau bahasa yang mengungkapkan suatu maksud secara tidak langsung (Meiliana, 2020). Pengungkapan ini melalui perumpamaan, peribahasa berupa kalimat atau kelompok perkataan yang biasanya mengiaskan sesuatu maksud tertentu (Hamidah, 2012).

Bahasa figuratif selalu menampilkan keindahan dalam ungkapan yang menarik, sugestif dalam rangkaian kata atau kalimat dengan makna yang lebih abstrak atau imaginatif dari makna semula atau sebenarnya, bersifat kiasan dalam lambang atau simbol untuk mengungkapkan sesuatu dan menjadi bentuk bahasa kreatif yang membangkitkan semangat, daya juang, kemauan untuk memaknai pesan yang tersirat. Dikatakan bahwa figuratif merupakan salah satu ragam bahasa kias, ungkapan-ungkapan imajinatif dalam karya sastra dengan makna tertentu dan mengandung pesan-pesan serta kandungan nilai yang berguna bagi kehidupan (Hamidah, 2012). Figuratif (Kurniawan et al., 2019); (Hamidah, 2012) berasal dari bahasa Latin figura, berarti form, dan shape. Figura asal katanya fingere yang berarti to fashion. Istilah figuratif sepadan dengan pengertian metafora. Ungkapan figuratif  lebih merupakan language which doesn’t mean what it says, ungkapan yang digunakan untuk menyatakan suatu makna yang tidak langsung dengan cara yang tidak biasa, dan ini merupakan hal baru yang harus ditemukan maksudnya, karena menurut (Benamara et al., 2017) berbeda dengan apa yang diucapkan dan ungkapan seperti ini dalam dunia sastra disebut sebagai bahasa kias, bahasa khas sastrawan atau pengarang yang mengatakan sesuatu secara tidak langsung untuk mengungkapkan makna. Untuk menangkap maksud dibalik ungkapan pengarang (Miswar, 2018) sangat bergantung pada kecakapan manusia sebagai pembaca karya sastra. Dikatakan bahwa manusia merupakan pencipta karya sastra dan sewajarnya karya sastra itu dikembalikan kepada manusia sebagai pembaca untuk dinikmati, dihayati, dimaknai, dan bahkan melalui karya sastra dapat mendidik pembaca melalui pesan-pesan yang ada terlebih dapat memperhalus perasaan dan membentuk kepribadian.  

 Karya sastra dengan medium bahasa terlebih bahasa figuratif sebagai bahasa yang khas dari karya sastra (Sudarti, 2019) dapat mendorong pembaca untuk memaknai, menghayati nilai-nilai yang tersaji seperti, kerohanian, kemanusiaan, kemasyarakatan, dan kebudayaan sehingga dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Karya sastra seperti puisi merupakan salah satu cabang kesenian yang bersifat dinamis dengan bahasa yang khas. Bahasa figuratif sebagai medium untuk mengungkapkan pesan makna tertentu. Karya sastra selalu merupakan suatu tanggapan  pengarang atau sastrawan terhadap dunia sekitarnya dan realitas yang ada, karena itu pula karya sastra dikatakan sebagai realitas sosial budaya, dimana sastra tidak saja dinilai sebagai karya seni yang memiliki imajinasi, budi, dan emosi, tetapi telah dianggap sebagai suatu karya kreatif yang dimanfaatkan untuk konsumsi intelektual (Nuroh, 2011). Karya sastra baik lama maupun modern merupakan gambaran peristiwa yang dianggap sebagai kenyataan oleh masyarakatnya, berdasarkan sistem ideologi yang dianut, dan dalam penciptaannya sering dikaitkan dengan sejarah dan mitos sehingga karya sastra yang dihasilkan menjadi lebih bermakna (Viora, 2017). Sebagai karya seni dan kreatif puisi selalu menggunakan bahasa yang ringkas, padat namun kaya akan makna (Herawani, 2019). Bahasa yang digunakan berupa kata-kata konotatif yang mengandung banyak penafsiran dan pengertian. Puisi lahir dari ekspresi pengalaman sehari-hari dapat berupa kata-kata bijak yang digambarkan dengan asosiasi, perbandingan bahan secara paradoks yang menggerakkan seperti dapat menyelesaikan konflik, atau sebagai ingatan, juga sebagai kecerdasan (Muauz & Saleh, 2017). Hubungan antara pengalaman dengan pengetahuan kebahasaan merupakan kunci awal dalam memahami dan menikmati karya sastra dengan ungkapan-ungkapan estetik figuratif yang menggugah dan mencerahkan dengan kandungan nilai serta makna yang berguna dalam kehidupan.

Bahasa figuratif banyak ditemukan dalam teks kitab suci, seperti dalam kitab suci Katolik yang kaya dengan ungkapan-ungkapan sastra berisi tuturan atau ungkapan nasihat, pesan-pesan serta pengajaran bijak penuh hikmat untuk membangun hidup yang lebih selaras antara spiritual rohaniah dan fisikal jasmaniah. Salah satu kitab yang merupakan kitab sastra puisi dalam kitab suci Katolik adalah kitab Amsal. Kitab Amsal merupakan wakil utama kesusasteraan kebijaksanaan Israel dan merupakan kunci untuk mengerti kesusasteraan kebijaksanaan Israel. Kitab Amsal ditulis oleh para pegawai istana, pengasuh anak raja, guru-guru kebijaksanaan yang pada waktu itu memberikan pendidikan, motivasi kepada anak didik untuk membina mereka menjadi orang bijak. Kitab Amsal sebagai paradigma, model, contoh, tetapi selalu sebagai karya seni. Isi pesan dalam kitab Amsal berupa nasihat, peringatan, teguran berupa syair-syair puisi yang menghantar manusia menjadi bijaksana (F. Y. & E. E. E. Sualang, 2020); (F.Sualang, 2020); (Zaluchu, 2019); (Sin, 2018).

Kitab Amsal yang selanjutnya disingkat (Ams) adalah salah satu dari kitab Perjanjian Lama yang ditulis dalam bentuk puisi yang terdiri dari 17 judul puisi. Bentuk puisi yang paling mendasar dalam kitab Amsal dan yang membedakannya dari kitab-kitab lain ialah puisi dua baris atau dua larik. Hampir semuanya berbentuk pernyataan yang mengungkapkan kebenaran atau kenyataan kehidupan yang mengekspresikan suasana hati serta pengalaman, berupa ucapan didaktik yang pendek, padat, kuat, dan berirama dan itulah yang disebut amsal, dengan ciri-ciri sastranya yang singkat, padat, mudah diingat, berpijak pada pengalaman, kebenaran universal, untuk tujuan praktis, dan lama digunakan (asalnya dari tradisi) yang dapat ditafsir sesuai prinsip hermeneutika (F. Y. Sualang & Tinggi Teologi Injili Indonesia, 2017); (F. Y. & E. E. E. Sualang, 2020).

Amsal selalu dilukiskan sebagai gambaran puitis, berirama, pendek, kuat dan mengena. Kekhasan estetisnya berupa perbandingan yang bagus (F. Y. Sualang & Tinggi Teologi Injili Indonesia, 2017); (F. Y. & E. E. E. Sualang, 2020) dengan menggunakan gambaran dari alam atau hidup keluarga sehingga bahasa figuratif kitab Amsal digambarkan melalui metafora, paralelisme, simile yang tepat atau analogi dari pengalaman biasa untuk menangkap pengajaran dalam amsal. Ciri puitis lain dengan menggunakan pertanyaan retoris, hiperbola, dongeng, ironi, khiasmus, alterasi, sindiran, dan akrostik, seperti kutipan Amsal 25:12 ”Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak”.

Kajian bahasa figuratif dalam karya sastra atau kitab-kitab sastra, seperti Kitab Amsal telah banyak dilakukan oleh pengkaji bahasa dengan beragam bentuk dan teori yang digunakan. Kajian ini difokuskan pada bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dalam kitab Amsal. Solidaritas merupakan sebuah spirit atau semangat dalam membangun hidup bersama, terlebih ketika terjadi musibah, kesulitan, masalah yang menjadi persoalan bersama. Solidaritas memiliki prinsip tertentu terlebih untuk mengungkapkan atau mewujudkannya (Devinna Riskiana Aritonang, 2020). Prinsip solidaritas dalam Kitab Amsal diungkapkan secara figuratif sebagai sastra hikmat yang merupakan pesan-pesan bijak kehidupan, yakni saling tolong menolong, bekerja sama, saling berbagi melalui aksi gotong royong, peka dan peduli terhadap sesama manusia yang tidak hanya diberikan berupa materi secara langsung tetapi lebih bernilai melalui ungkapan sebagai nasihat, peringatan, pesan melalui bahasa yang menggugah, indah, ramah dan santun yang mampu menggerakan, mendorong, memotivasi setiap pribadi maupun kelompok untuk peka, peduli, terlibat, tanggap terhadap situasi atau keadaan yang dialami sesama. Selanjutnya dari ungkapan-ungkapan bernilai ini dapat menjadi ciri, karakter yang melekat dalam kehidupan, menjadi nilai-nilai dasar sebagai panutan dalam kehidupan bersama yang juga dapat menjadi pembelajaran berguna bagi generasi muda, dimana mereka dapat hidup dan belajar dalam aneka keberagaman di tengah masyarakat (Herawani, 2019). 

Realitas sosial seperti yang diuraikan di atas sangat berkaitan dengan apa yang diserukan dalam puisi-puisi Kitab Amsal, sehingga penelitian ini mengangkat masalah bagaimananakah ungkapan figuratif Kitab Amsal menjadi wujud solidaritas, yang selanjutnya dapat dianalisis, dikaji dengan menggunakan teori hermenutika semiotika (hermesemiotika). Menurut (Kurniawan et al., 2019) melihat teks yang hadir dalam puisi dinilai sebagai sebuah tanda untuk ditelusuri, digali lebih dalam maknanya berdasarkan pemahaman bahwa puisi merupakan aktivitas bahasa dan ini berarti ada sesuatu hal yang ingin disampaikan oleh puisi itu, ada pesan yang ingin diungkapkan, ada makna yang terkandung dalam kata-kata yang diungkapan melalui tanda. Hal ini menjawab substansi puisi sebagai karya sastra yang selalu mengatakan pesan secara tidak langsung, dimana bahasa puisi berbeda dengan bahasa umum yang digunakan sehari-hari karena puisi dapat mengatakan tentang satu hal, tetapi yang dimaksud sebenarnya tentang hal lain.

Dalam semiotika Riffatere terdapat tiga hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan penggunaan bahasa dalam puisi dengan penggunaan bahasa sehari-hari, sehingga bahasa puisi dapat menimbulkan ketidaklangsungan makna, yakni (1) penggantian arti (displacing of meaning), (2) pemencongan atau penyimpangan atau perusakan arti (distorting of meaning), dan (3) penciptaan arti (creating of meaning) (Kurniawan et al., 2019). Asumsi dasarnya dijelaskan melalui karyanya (M., 1978) Semiotics of Poetry, yang menyebutkan, The shift from meaning to significance necessitates the concept of interpretant, that is, a sign that translates the text’s surface signs and explains what else the text suggest, dalam menguraikan sebuah arti pemaknaan, dibutuhkan sebuah konsep interpretan untuk menggali makna tanda yang lebih kompleks dan komprehensif. Sedangkan interpretasi dibedakan menjadi lexematic yakni, proses interpretasi dengan menghubungkan kata-kata yang memiliki tanda rangkap karena tanda-tanda itu menghubungkan dua teks (satu teks harus dipahami dengan dua cara yang berbeda), dan textual lebih pada proses hubungan interpretasi dengan teks yang dikutip. Sehingga, interpretasi berfungsi untuk mengungkapkan dan membuka suatu realitas dari suatu teks (Kurniawan et al., 2019). Selain interpretasi, bahasa dalam sastra ditingkatkan menjadi makna (significance) sehingga sastra itu merupakan sistem semiotik.

Dalam semiotika diperlukan kemampuan pembaca untuk menginterpretasi sehingga dapat mengungkapkan makna dari tanda yang hadir dalam teks puisi (Maulana, 2019); (M., 1978). Karena itu proses semiotik muncul ketika pembaca memberi makna terhadap tanda-tanda yang terdapat pada sebuah karya sastra. Tanda-tanda itu akan memiliki makna setelah dilakukan pembacaan dan pemaknaan terhadapnya dan bahasa sebagai sistem tanda memiliki makna, terungkap melalui tanda-tanda dengan kiasan atau bahasa kiasan yang memiliki makna yang sangat luas dan dalam bagi kehidupan.

Secara hermeneutika, melalui proses kerjanya yang ada diketahui bahwa puisi sebagai ekspresi bahasa hanya dapat dipahami oleh pembaca yang memahami atau menguasai konvensi bahasa sehingga dapat menangkap pesan yang disampaikan. Dalam konteks ini dipahami bahwa sebagai fenomena sastra, puisi merupakan suatu dialektika antara teks dengan pembaca, dimana pembaca maupun peneliti puisi dapat menangkap makna atau pesan dengan harus dapat membongkar bentuk-bentuk ketidaklangsungan makna atau semantik yang ada dalam puisi. Pembacaan untuk pemaknaan tidak hanya dengan system semiotik tingkat pertama atau yang bisa disebut dengan first order semiotics system, dimana makna yang diperoleh adalah makna keseluruhan sesuai dengan tata bahasa normatif saja, tetapi harus sampai pada tingkat pembacaan yang didasarkan pada konvensi sastra, dimana ditemukan penyimpangan kode bahasa yang menghasilkan penyimpangan dari makna biasa menjadi makna yang tidak biasa seperti pada bahasa puisi yang disebut sebagai ungramatikalitas (ungrammaticality) (Kurniawan et al., 2019). Dalam kaitan dengan fungsi penafsiran, hermeneutika dipahami sebagai bagian dari seni pikir karena selalu berpusat pada seni dalam memahami teks (Talib, 2018). Dalam mengintepretasi teks sastra, disebutkan (Suwardi, 2016) bahwa makna yang akan diperoleh dari sebuah teks, tidak pernah terbatas dimana teks-teks sastra selalu menyuguhkan hal-hal yang tidak terduga. Pembacaan teks sastra, seperti puisi selalu menawarkan pemaknaan baru bahkan bisa semakin mendalam karena makna selalu hadir pada ketidaklangsungan semantik puisi (Kurniawan et al., 2019).

Dalam konsep hermeneutika Paul Ricoeur menjelaskan bahwa penafsiran selalu ditujukan kepadatanda, atau simbol, yang dianggap sebagai teks(Wachid, 2015). Ini dimaksudkan bahwa interpretasi atas ekspresi-ekspresi kehidupan seperti solidaritas ditentukan secara linguistik karena seluruh aktivitas kehidupan manusia selalu berurusan dengan bahasa hingga apa yang ditampilkan secara visual seperti seni pertunjukan diinterpretasi dengan menggunakan bahasa. Pada dasarnya manusia merupakan bahasa, dan bahasa merupakan pusat, sebagai syarat utama bagi pengalaman manusia. Sejalan dengan konsep ini, maka hermeneutik dapat dipahami sebagai cara atau metode bermain oleh dan dengan bahasa. Karena itu penafsir sesungguhnya bekerja mengurai mata rantai kehidupan dan sejarah secara keseluruhan melalui bahasa meski sudah dianggap laten atau tetap. Dalam sebuah teks sastra, bahasa selalu dinyatakan dalam bentuk simbol, demikian pengalaman dibaca melalui ungkapan simbol. Pemaknaan terhadap simbol dapat lebih luas daripada apa yang disampaikan pengarangnya, sebagaimana dalam retorika Latin atau tradisi neo-Platonik dapat mereduksi simbol menjadi analogi.

Diketahui bahwa simbol sebagai struktur penandaan, di dalamnya terkandung sebuah makna langsung, yang pokok atau literer, yang menunjuk kepada, sebagai tambahan, makna lain yang tidak langsung, sekunder dan figuratif dan yang dapat dipahami hanya melalui yang pertama. Untuk mencapai pemaknaan ini, menurut  (B.S., 2015) interpretasi harus lebih kuat dan dilakukan dengan cara melawan distansi kultural sehingga pemaknaan menjadi lebih luas tetapi tetap pada letak pertama bahwa pembaca bekerja tidak dengan tangan kosong, artinya sudah memiliki pemahaman atas apa yang diinterpretasi, seperti halnya karya sastra tidak dicipta dalam kekosongan budaya, dimana pembaca atau penafsir tetap membawa sesuatu yang disebut Heideger sebagai vorhabe (apa yang ia miliki), vorsicht (apa yang ia lihat), dan vorgriff (apa yang akan menjadi konsepnya kemudian) dimana selanjutnya dalam interpretasi tidak mungkin menghindarkan diri dari apa yang dinamakanprasangkaatas teks, sebagaimana dikatakan (Suwardi, 2016) bahwa pengkaji akan tergoda terus-menerus pada dunia yang asing  dan makna selalu berada dalam tegangan (gonjang-ganjing) yang tak pernah selesai.

Interpretasi tekstual Riffatere yang merupakan proses hubungan interpretasi dengan teks yang dikutip untuk mengungkapkan dan membuka suatu realitas dari suatu teks, digunakan dalam penelitian menganalisis bahasa figuratif Kitab Amsal sebagai spirit solidaritas, sehingga bahasa sastra yang digunakan ditingkatkan menjadi makna (significance) dalam sistem semiotik. Bahasa figuratif dalam puisi Kitab Amsal sangat kuat dengan simbol-simbol yang memperkenalkan hikmat dan pengajaran kepada pembaca, sebagai pedoman mengenai perilaku yang benar dan sikap-sikap penting terhadap hidup, dan Kitab Amsal merupakan sebuah buku pedoman yang sifatnya memberikan pengajaran yang berguna bagi kehidupan, yang selanjutnya dapat diinterpretasi secara luas untuk menemukan makna yang mendalam sesuai konteks yang dikaji, dan memberikan pesan serta nilai yang berguna bagi kehidupan.   

Penelitian tentang bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dalam Kitab Amsal penting dilakukan karena melalui penelitian ini dapat ditemukan kekhasan ungkapan puisi-puisi Amsal yang mengandung spirit kehidupan bagi manusia, seperti spirit solidaritas yang perlu dibangun dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat. Selain itu dapat menjadi pembelajaran akan pentingnya nilai-nilai kehidupan yang bakal menjadi budaya hidup, seperti budaya religius di tengah kehidupan bermasyarakat juga bagi pembentukan karakter bagi generasi penerus. Kekhasan ungkapan bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dalam Kitab Amsal, menjadikan penelitian ini unik dan berbeda dengan penelitian lainnya (Siagian, 2019); (Abdullah, 2016).

Beberapa penelitian tentang Kitab Amsal sebagai kitab sastra hikmat sudah pernah dilakukan oleh  (F. Y. & E. E. E. Sualang, 2020) tentang “Integrasi Integritas dan Lingkungan Sosial untuk membentuk Reputasi: Analisis Sastra Hikmat Amsal 22:1-2”, penelitian menggunakan ancangan hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan adanya (1) faktor integritas (Integritas ke arah Kepribadian, Integritas ke arah Kecerdasan Emosional), dan (2) faktor lingkungan sosial (Lingkungan Sosial ke arah Relasi Sosial dan Lingkungan Sosial ke arah Murah Hati) saling berkaitan satu dengan lainnya. Penelitian yang dilakukan oleh (F. Y. & E. E. E. Sualang, 2020) tentangFaktor-Faktor Pembentukan Karakter berdasarkan Amsal 13:22 tentang Warisan Harta dan Ajaran Moral”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan ancangan hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat faktor pembentukan karakter tentang warisan harta dan ajaran moral, yaitu (1) Faktor Pembawaan Seseorang, (2) Teladan hidup, (3) Komunikasi, dan (4) Literasi Keuangan. Penelitian dilakukan oleh (Zaluchu, 2019) tentang “Pola Hermeneutik Sastra Hikmat Orang Ibrani”. Penelitian ini merupakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan (1) pola hermeneutik kitab Hikmat Orang Ibrani tidak sama dengan pola hermeneutik kitab-kitab lain karena sifat kesusasteraan sangat kuat, (2) bentuk-bentuk genre dari kitab sastra dengan memperhatikan makna utama, gaya bahasa yang digunakan, menempatkan dalam konteks yang tepat, dan (3) menafsirkan kitab Hikmat orang Ibrani membutuhkan seni hermeneutik yang komprehensif. Penelitian (Siagian, 2019) berdasarkan kitab Amsal 31: 10 tentang Figur Istri Yang Bijak Dalam Membina Rumah Tangga Kristen Bahagia”. Hasil penelitian menunjukkan figur istri yang diharapkan adalah (1) Istri yang sudah dilahirkan kembali, (2) Istri yang hidup dalam kekudusan, (3) Istri yang memiliki moral yang baik, (4) Istri yang memiliki kecantikan batiniah. Penelitian oleh (Sin, 2018) tentang Pendekatan Topikal dalam Menafsirkan Kitab Amsal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menafsirkan kitab Amsal diperhatikan karakter kitab Amsal sebagai kitab puisi dan hikmat dengan memperhatikan (1) paralelisme, (2) sifat sastra, (3) kebenaran umum, dan (4) kebenaran tak bersyarat. Penelitian yang dilakukan oleh  (F.Sualang, 2020) tentang Makna FrasaJagalah Hatimu menurut Amsal 4: 23”. Penelitian menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan makna frasa ditemukan dalam (1) tinjauan kontekstual, (2) makna yang sejajar, dan (3) eksposisi Amsal 4: 23.

            Beberapa penelitian terdahulu memiliki kesamaan dengan penelitian ini yakni, meneliti objek yang sama tentang Kitab Amsal sebagai kitab sastra hikmat. Selain itu kesamaan pada metode penelitian kualitatif dan ancangan yang digunakan yakni hermeneutik. Perbedaan dengan penelitian ini yakni pada fokus penelitian dimana penelitian ini secara khusus meneliti tentang bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dalam kitab Amsal dengan teori yang digunakan adalah teori semiotika sastra yang dikemukakan Riffatere, sedangkan penelitian terdahulu menggunakan kajian filsafat dan teologi sesuai dengan fokus penelitian. Karena itu penelitian ini unik dan berbeda dengan penelitian terdahulu. Beberapa penelitian terdahulu menjadi rujukan bagi penelitian ini.

Penelitian ini memiliki tujuan, secara umum untuk mendeskripsikan bahasa figuratif dalam Kitab Amsal. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk menemukan, mendeskripsikan dan menjelaskan tentang bahasa figuratif yang terdapat dalam Kitab Amsal yang menunjukkan spirit solidaritas dalam kehidupan bersama.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan menggunakan beberapa konsep dan prinsip metodologis penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yakni metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dengan mengikuti alur kerja, yakni membaca, mencatat, mengidentifikasi, kodifikasi, validasi, dan verifikasi.

Penelitian ini menggunakan ancangan hermenutik (F. Y. Sualang & Tinggi Teologi Injili Indonesia, 2017) sebagai dasar untuk menafsirkan makna yang erlebnis dan verstehen dalam puisi. Sebagaimana halnya dalam penelitian hermeneutis, data dalam penelitian ini merupakan penghayatan (erlebnis) dan pemahaman (verstehen) arti secara mendalam dan atas fenomena sastra yang dikerjakan secara dialektis atau bolak-balik sesuai keperluan dan kecukupan. Digunakannya ancangan hermenutik karena dalam sastra dan filsafat, hermenutika disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif (Osborne, 2012). Sastra, seperti puisi (Suwardi, 2016) sebagai tafsiran tentang hidup itu ada karena telah melalui proses hermeneutika.           

Data penelitian berupa kata, frase, kalimat, ungkapan figuratif dalam Kitab Amsal berkaitan dengan spirit solidaritas. Sumber data penelitian ini, yakni (Lembaga Alkitab Indonesia, 1974) Kitab Amsal yang terdiri dari 17 judul puisi, dan dalam penelitian ini diambil 2 judul utama yakni, Puisi Berkat dari Hikmat, disingkat PBH terdapat dua puisi, dan Puisi Kumpulan Amsal-Amsal Salomo, disingkat PKAS sebanyak 7 puisi. Puisi yang dipilih adalah puisi yang mengandung bahasa figuratif dengan spirit solidaritas. Kitab Amsal sekaligus merupakan sumber data primer yang mengandung bahasa figuratif. Pustaka lainnya sebagai sumber data sekunder adalah berbagai tulisan yang mengkaji Kitab Amsal dengan berbagai sudut pandang baik berupa buku, hasil penelitian, artikel pada jurnal ilmiah.

Pengumpulan data ditempuh melalui pembacaan dan penghayatan sumber data utama, yakni Kitab Amsal dengan teknik analisis isi (content analysis), meliputi teknik simak dan catat serta teknik pustaka.  Analisis data bahasa figuratif Kitab Amsal sebagai sarana sastra dilaksanakan melalui pembacaan model semiotik yang dapat dijelaskan (Al-Ma’ruf, 2009); (Damono, 2019) sebagai pembacaan heuristik, semiotik tingkat pertama menurut konvensi atau struktur bahasa dan pembacaan hermeneutik, semiotik tingkat kedua, pembacaan ulang dengan memberikan interpretasi berdasarkan konvensi sastra serta metode berpikir induktif. Penarikan kesimpulan dibuat dengan melakukan tahapan keseluruhan diatas, selanjutnya dapat melakukan penarikan kesimpulan atas data yang telah dianalisis.

Dengan demikian, bahasa figuratif Kitab Amsal dengan spirit solidaritas dapat dipahami bukan saja dari arti kebahasaannya melainkan juga fungsi dan tujuan pemanfaatannya oleh pengarang yang memperlihatkan hubungan antara karya, pengarang, kondisi sosial budaya atau realitas, dan pembaca, hingga makna yang terkandung dalam ungkapan simbol yang ada sebagai pesan nilai yang berguna bagi kehidupan.

 

Hasil dan Pembahasan

Bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dalam Kitab Amsal dapat dijelaskan dengan pemahaman bahasa kiasan yang mengatakan tentang suatu hal secara tidak langsung dalam bentuk perumpamaan, perbandingan, metafora, paralelisme, perulangan, pertentangan yang mengandung arti atau makna serta pesan bernilai bagi kehidupan, seperti dijelaskan dalam tabel hasil berikut ini.


Tabel 1

Bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dalam Kitab Amsal

Data

Teks Puisi Kitab Amsal

Kiasan yang digunakan

Wujud bahasa figuratif

Data 1 SSPB Puisi Berkat dari Hikmat, PBH (Ams 3:27)

 

Janganlah menahan kebaikan dari

pada orang-orang yang berhak

menerimanya,

   padahal engkau   

  mampu

  melakukannya (Ams   

3:27)

 

Paralelisme: menahan kebaikan; mampu melakukan

Spirit solidaritas sebagai pikiran bijak (SSPB).Simbol ketulusan, keterbukaan. Bermakna cepat tanggap terhadap kesulitan sesama. Tidak harus dengan benda atau materi tetapi melalui kata-kata nasihat,  peringatan

Data 2 SSPB

Puisi Kumpulan Amsal-Amsal Salomo, PKAS (Ams 10:9)

 

Siapa yang bersih kelakuannya, aman jalannya,

tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui (Ams 10:9)

 

Paralelisme: bersih kelakuannya; aman jalannya, dipertentangkan dengan ungkapan baris kedua berliku-liku jalannya; akan diketahui

Spirit solidaritas sebagai pikiran bijak (SSPB). Simbol Hati yang bersih, niat yang murni. Bermakna tanpa perhitungan, mencari keuntungan diri. Merupakan nasihat dan peringatan

Data 3 SSPB Puisi Kumpulan Amsal-Amsal Salomo, PKAS (Ams 17:17)

 

Seorang sahabat menaruh kasih

setiap waktu,

dan menjadi   

seorang saudara

dalam kesukaran

(Ams 17:17)

 

Paralelisme: sahabat menaruh kasih setiap waktu; menjadi saudara dalam kesukaran

Spirit solidaritas sebagai pikiran bijak (SSPB). Simbol Keberanian, keikhlasan, bermakna membangun relasi dengan tidak menuntut imbalan. Peringatan dan kesadaran sesama adalah saudara yang diciptakan Tuhan

Data 4 SSKH Puisi Kumpulan Amsal-Amsal Salomo, PKAS (Ams 16:21) 

 

Orang yang bijak hati disebut

berpengertian,

    dan berbicara manis

    lebih dapat

    meyakinkan (Ams

    16:21)

 

Metafora: orang bijak hati, berpengertian;

berbicara manis lebih dapat meyakinkan.

Spirit solidaritas sebagai keteguhan hati (SSKH). Simbol Teguh pada prinsip. Bermakna mengerti terhadap keadaan orang lain. Sebagai pesan, nasihat untuk membantu dengan segenap hati

Data 5 SSKH Puisi Kumpulan Amsal-Amsal Salomo, PKAS (Ams 10:5)

 

Siapa yang mengumpulkan pada musim

panas,

ia berakal budi;

     siapa tidur pada

     waktu panen

     membuat malu (Ams

     10:5)

 

Metafora:musim panas; berakal budi Ungkapan tidur pada waktu panen; membuat malu

Spirit solidaritas sebagai keteguhan hati (SSKH). Simbol Tantangan dan kesulitan yang dapat diatasi, termasuk tantang atas kecenderungan diri yang kurang menguntungkan. Pesan, nasihat sekaligus peringatan untuk selalu siaga dan berjuang

Data 6 SSKH Puisi Kumpulan Amsal-Amsal Salomo, PKAS (Ams 15:4)

 

Lidah lembut adalah pohon

kehidupan,

    tetapi licin curang  

    melukai hati (Ams

    15:4)

 

Metafora: lidah lembut; pohon kehidupan licin curang; melukai hati.

 

 

Spirit solidaritas sebagai keteguhan hati (SSKH). Simbol Keramahan, ketulusan. Bermakna kata-kata dapat menjadi penolong sekaligus perusak. Merupakan pesan, nasihat juga peringatan

Data 7 SSSB (Ams 3:28) Puisi Berkat dari Hikmat

 

Janganlah engkau berkata

kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah,

    besok akan kuberi,”

    sedangkan

    yang diminta ada

   padamu (Ams 3:28)

 

Perulangan dan  pleonasme  pergilah, kembalilah; besok  

 

Spirit solidaritas sebagai tindakan saling berbagi (SSSB). Simbol Tanggung jawab terhadap sesama. Bermakna berbagi merupakan bentuk tanggung jawab. Sebagai pesan, nasihat

Data 8 SSSB Puisi Kumpulan Amsal-Amsal Salomo, PKAS (Ams 11:24)

 

 Ada yang menyebar harta, tetapi

bertambah kaya,

     ada yang

     menghemat secara

     luar biasa, namun

     selalu

     berkekurangan

     (Ams 11:24)

 

Perulangan : siapa (baris pertama dan kedua)

pertentangan menyebar harta, bertambah kaya; menghemat secara luar biasa, selalu berkekurangan.

Spirit solidaritas sebagai tindakan saling berbagi (SSSB). Simbol Ketegasan, tanggung jawab, kerelaan. Bermakna sikap kikir bearti tidak bertanggung jawab terhadap diri, sesama dan Tuhan. Pesan dan nasihat untuk selalu tahu dan sadar diri

Data 9 Puisi Kumpulan Amsal-Amsal Salomo, PKAS (Ams 16:32)

 

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan,

   Orang yang

   menguasai dirinya,

   melebihi orang yang

   merebut kota

(Ams 16:32)

 

 

Perulangan: kata orang Paralelisme: kesabaran diparalelkan dengan pahlawan, menguasai diri, dan merebut kota.

Spirit solidaritas sebagai tindakan saling berbagi (SSSB) Simbol kesabaran, penguasaan diri. Bermakna tindakan berbagi bermula dari sikap yang menguasai diri. Pesan, nasihat untuk menjaga keharmonisan diri.

 

Terdapat tiga wujud bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dalam Kitab Amsal yang dapat dijelaskan seperti berikut;

A.    Bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dengan pikiran bijak

Solidaritas merupakan kegiatan, aksi peduli yang dilandasi rasa senasib seperjuangan berupa saling membantu, saling mendukung, saling meringankan beban, tolong-menolong, gotong royong, kerja sama. Tindakan ini tidak saja dilaksanakan secara langsung berupa pemberian bantuan barang material, tetapi solidaritas dapat juga berupa pikiran-pikiran bijak merupakan sebuah ajakan, peringatan, nasihat untuk menanggapi apa yang diserukan untuk kebaikan bersama, spirit yang menggerakan, mendorong setiap orang untuk terlibat dan ambil bagian dalam membangun hidup bersama, nasihat mengatasi masalah atau persoalan, menemukan jalan yang tepat untuk mengatasi kesulitan, peduli, peka dan terbuka terhadap keadaan atau situasi yang terjadi. Pesan, nasihat, peringatan yang diberikan ini  melalui bahasa atau ungkapan yang memiliki daya pikat, sugestif, imajinatif, bahasa figuratif yang dapat menggerakan, menyadarkan.

Bahasa figuratif dalam Kitab Amsal sebagai spirit solidaritas dengan pikiran bijak diungkapkan dengan gaya palalel, membandingkan, perumpamaan, perulangan maupun pertentangan dengan kiasan-kiasan dapat membuat pembaca tergerak untuk menemukan pesan, makna serta nilai yang terkandung dalam ungkapan tesebut seperti dalam kutipan puisi diakronik berikut,

Janganlah menahan kebaikan daripada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya (PBH, Ams 3:27)”.

Bahasa figuratif pada baris puisi di atas menggambarkan spirit solidaritas yang mengajak dan menyadarkan orang untuk peka, terbuka, terlibat dalam berbagi dengan sesama. Tersirat makna berani melepas ketakutan dan berani untuk berbagi, berani melepas sikap egois, pelit, penuh perhitungan, sekaligus mengingatkan untuk berani mengambil bagian dalam situasi yang dialami sesama dengan saling membantu, tolong-menolong dengan keikhlasan, ketulusan, dan kejujuran. Ungkapan figuratif secara paralel dijelaskan dalam kalimat menahan kebaikan dan mampu melakukan merupakan gambaran pikiran bijak yang mengingatkan dan meyakinkan bagaimana relasi berbagi yang seharusnya dilakukan yang dilandasi sikap keikhlasan, ketulusan, dan kejujuran dalam membangun hidup bersama.

Solidaritas selalu dapat diberikan kepada sesama dengan maksud atau niat yang tulus tanpa mengharapkan imbalan, sebagaimana puisi Kitab Amsal mengingatkan,

Siapa yang bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya akan diketahui (PUHUK, Ams 10:9)”.

Ungkapan bersih kelakuannya disandingkan dengan aman jalannya, menggambarkan sikap yang tulus yang selalu diikuti kesuksesan, selalu mendapat hasil dalam usaha atau perjuangan. Ungkapan ini mendapat makna yang dalam ketika dipertentangkan dengan ungkapan baris kedua berliku-liku jalannya yang menggambarkan sikap munafik, tidak tulus, berbelit-belit bahkan bohong, penuh perhitungan untuk diri yang juga akan mencelakan diri. Pikiran bijak yang tersirat dari kutipan puisi ini adalah peringatan untuk menegakkan kejujuran, ketulusan dalam membantu sesama, menghargai sesama dan ini merupakan solidaritas yang sangat bernilai dengan karakter keterbukaan untuk membantu merupakan sikap yang dapat mempertahakan keharmonisan dalam hidup bersama.

Ungkapan lain yang menggambarkan spirit solidaritas senasib, seperjuangan dalam menghadapi situasi kehidupan, seperti dalam kutipan berikut,

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran (PKAS, Ams 17:17)”.

Kesetiakawanan, keikhlasan, ketulusan akan menghapus pertentangan, perbedaan serta berbagai kesulitan dalam hidup bersama karena  diisyaratkan  Amsal, dalam kalimat imajinatif sahabat menaruh kasih setiap waktu; menjadi saudara dalam kesukaran, sebuah paralelisme yang membuka pikiran dan kesadaran tentang manusia sebagai ciptaan Tuhan, dimana terciptanya  relasi sosial, setiap pribadi harus berani keluar dari diri dan membangun relasi, bersolider dengan sesama, menghargai sesama saudara dan sahabat tanpa membeda-bedakan. Terungkap pikiran bijak sebagai pesan moral dari kutipan ini adalah berani menjalin persaudaraan lintas batas sehingga merasa bersatu dan terlibat dalam berbagai situasi atau keadaan demi terciptanya hidup damai.

Wujud bahasa figuratif dalam puisi Kitab Amsal tersirat dalam simbol bersolider dengan spirit solidaritas berpikir bijak antara lain, a) keikhlasan, b) ketulusan, dan c) kejujuran.

B.     Bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dengan keteguhan hati

Bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dapat ditunjukkan melalui keteguhan hati terlebih dalam menghadapi berbagai situasi yang kurang menguntungkan dengan sikap terbuka, siap dan setia menerima situasi atau keadaan, tekun menjalankan, tidak mudah goyah, teguh pada pendirian atau komitmen, penuh pasrah penyerahan dan yakin akan kekuatan Tuhan yang menyelamatkan.

Solidaritas melalui keteguhan hati ini dapat dibangun melalui ungkapan atau bahasa yang penuh simpati, menyejukan, menyadarkan, meneguhkan dilandasi  sikap bijaksana, merendah, jujur, ikhlas, sabar yang membantu orang lain untuk terlibat dan rela membantu, saling mendukung, bekerja sama, peduli, tanggap, peka, optimis serta yakin.

Ungkapan figuratif berkaitan solidaritas sebagai keteguhan hati, digambarkan Kitab Amsal dalam kutipan puisi diakronik berikut,

“Orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat meyakinkan (PKAS, Ams 16:21)”

Sikap bijak merupakan gambaran keteguhan hati untuk tetap setia pada apa yang menjadi prinsip, komitmen atau apa yang harus dikerjakan untuk kebaikan bersama. Spirit solidaritas untuk saling menyadarkan, mengingatkan, meyakinkan terhadap tingginya nilai untuk bertindak benar dan bersikap bijak digambarkan melalui ungkapan figuratif pada baris pertama puisi di atas, orang bijak hati, berpengertian; yang mendapat peneguhan pada baris kedua, berbicara manis lebih dapat meyakinkan. Metafora bijak hati dan berbicara manis, menjadi ungkapan yang menggugah dan mencerahkan sehingga setiap orang selalu memiliki semangat dan teguh hati pada apa yang disebut kebaikan yang dapat dilakukan oleh siapa pun dan hal ini selalu bahkan lebih meyakinkan sesama. Meski ungkapan berbicara manis terkesan hiperbola, tetapi ungkapan ini dapat meneguhkan dan meneduhkan hati, dan melengkapi makna dalam kutipan bait puisi ini yang menggambarkan keteguhan hati yang sangat kuat yakni kesadaran untuk selalu tahu dan memahami keadaan atau situasi sesama, mempertimbangkan apa yang terbaik untuk dilakukan, memberikan jalan keluar yang bijak terhadap situasi terlebih yang butuh ditangani segera. Ungkapan hiperbolis berbicara manis selanjutnya mendapat peneguhan dalam frase lebih dapat meyakinkan sehingga totalitas kalimat figuratif ini ada pada realitas hidup bersama yang terjadi dalam kehidupan bersama. Kepedulian, saling menasihati, saling mengingatkan, saling membantu merupakan jawaban yang paling tampan sebagai wujud solider terhadap sesama.

Pada kutipan lain puisi Kitab Amsal yang menggambarkan spirit solidaritas sebagai keteguhan hati dapat dipahami sebagai sikap ketekukan, kemauan, kerja keras, keberanian, ketekadan, seperti kutipan puisi diakronik berikut,   

    Siapa yang mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu (PKAS, Ams 10:5)”.

Kutipan puisi diatas dengan gaya perulangan kata “siapa” baris pertama dan kedua menegaskan suatu maksud bahwa keteguhan hati sangat bergantung pada subjek atau orang, juga pada ketekadan untuk berjuang, ataukah hanya mengikuti kecenderungan yang melemahkan semangat. Ungkapan figuratif musim panas dan berakal budi merupakan metafora yang menggambarkan suatu kesulitan, tantangan yang dapat diatasi dengan pikiran serta tindakan yang bijak. Ungkapan ini juga menggambarkan perbandingan yang menyadarkan, menggerakan, memotivasi bahwa yang tekun berusaha meski mengalami kesulitan yang disimbolkan musim panas, akan dapat diatasi karena memiliki niat, kemauan, keinginan untuk maju yang disimbolkan berakal budi. Ungkapantidur pada waktu panenmenggambarkan ketidaksetiaan, kealpaan, kecenderungan untuk santai dan menunda sehingga tidak mendapatkan hasil yang disimbolkan dalam kata malu. Ungkapan figuratif dalam seluruh kutipan puisi diakronik ini merupakan gambaran keteguhan hati berupa motivasi, dorongan, nasihat yang membuka kesadaran seseorang untuk membangun spirit solidaritas sebagai gerakan bersama dan ini harus diikuti dengan ketekadan, kesungguhan, keseriusan, teguh hati, selalu berjuang sehingga pada waktunya dapat menerima, mendapat hasil atau keberuntungan dari jerih paya yang telah dilakukan.

Kutipan lain dengan ungkapan figuratif yang mengingatkan akan siapa diri kita ketika berhadapan dengan orang lain dan apa komitmen yang harus tetap teguh untuk dilaksanakan sehingga spirit solidaritas yang diungkapkan berguna bagi sesama, dan tetap menjaga apa yang baik yang tumbuh dan menjadi pengikat yang menenteramkan dalam kebersamaan, seperti kutipan puisi berikut,

Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi licin curang melukai hati (PKAS, Ams 15:4)”.

Keteguhan hati dapat terungkap lewat tutur kata yang mampu mengajak, menyadarkan, meneguhkan. Tutur kata yang lahir dari ketulusan yang disimbolkan dalam ungkapan lidah lembut, dimana kata-kata yang diucapkan merupakan gambaran kepedulian yang tulus kepada sesama sehingga metafora pohon kehidupan dapat dimaknai sebagai lingkungan, perhimpunan, masyarakat luas dimana terdapat keanekaragaman. Keanekaragaman ini harus dipelihara, menjadi sebuah model kehidupan yang kokoh. Ungkapan baris pertama puisi di atas dipertentangkan dengan ungkapan baris kedua, licin curang yang menggambarkan segala hal yang tidak menguntungkan dapat terjadi melalui kata-kata yang kurang bijaksana, luapan kemarahan, tipu muslihat disertai sikap atau perbuatan yang tidak mendukung persaudaraan, yang dapat merusakan keutuhan relasi, tersinggung, tidak saling mendukung yang disimbolkan dengan ungkapan melukai hati.

Wujud bahasa figuratif dalam puisi Kitab Amsal tersirat dalam simbol bersolider dengan spirit solidaritas dengan keteguhan hati antara lain,  a) kerja sama, b) kesetiaan, c) ketekunan, dan d) kesadaran diri.

C.    Bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dengan saling berbagi

Saling berbagi merupakan salah satu prinsip solidaritas yang dijalankan dengan  kerelaan dan rasa tanggung jawab dalam hidup bersama dengan menyadari bahwa solidaritas merupakan ekspresi hati dan budi yang terdorong oleh situasi atau keadaan sekitar dalam kaitan dengan relasi sosial antar warga dan yang perlu segera ditanggapi. Sikap tanggung jawab dalam solidaritas berbagi juga didasari kejujuran, tidak membeda-bedakan, mengutamakan yang sangat membutuhkan. Kesadaran ini akan menjadi spirit solidaritas bersama dimana orang akan dengan antusias tergerak, rela, siap dan ikhlas dengan keyakinan bahwa apa yang diberikan menjadi berguna bagi yang menerima, dan apa yang ada dapat dibagikan karena merupakan anugerah Tuhan yang juga dapat dinikmati orang lain baik langsung maupun tak langsung.

Saling berbagi merupakan karakteristik hidup bersama dimana setiap orang akan ikut mengambil bagian secara aktif, memberi dengan sukarela apa yang dimiliki tanpa perhitungan terlebih dalam kegiatan atau persoalan bersama atau kesulitan yang dialami sesama, seperti kutipan puisi Amsal dengan ungkapan figuratif yang menggerakan serta menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap komitmen berbagi.

Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu (PBH, Ams 3:28”).

Kutipan di atas menyiratkan pesan agar lebih rela, lebih ikhlas dalam memberi bantuan atau dalam berpartisipasi, atau keterlibatan terhadap situasi atau keadaan yang dialami sesama sebagai bentuk tanggung jawab sosial, terlebih tanggung jawab terhadap Tuhan yang terus memberi kelimpahan dalam hidup dan tanggung jawab terhadap sesama yang merupakan saudara. Pemberian tidak selalu berupa materi tetapi spirit, semangat melalui peneguhan, kata-kata yang menguatkan. Ungkapan figuratif berupa perulangan pleonasme dalam kutipan puisi di atas berfungsi menegaskan, seperti ungkapan pada frase pergilah, kembalilah pada baris pertama yang diikuti baris kedua besok akan kuberi.  

Spirit solidaritas saling berbagi juga terungkap dalam kutipan puisi diakronik Kitab Amsal yang mengingatkan bahwa kerelaan memberi akan mendatangkan kebaikan, dan kepeduliaan terhadap sesama terlebih yang sangat membutuhkan akan mendatangkan keberuntungan secara melimpah karena bukan hanya harta kekayaan duniawi semata yang didapat tetapi harta kekayaan spiritual untuk hidup nanti yang  harus dikumpulkan dalam amal kebaikan, seperti kutipan puisi,

“Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan (PKAS, Ams 11:24)”.

Ungkapan figuratif pada puisi di atas berupa pertentangan menyebar harta, bertambah kaya, pertentangan yang menggugah orang untuk bertanggungjawab atas apa yang diberikan Tuhan, rejeki, kemampuan, bakat, dan kebolehan. Ungkapan figuratif baris pertama diperkuat dengan pertentangan pada baris kedua menghemat secara luar biasa, selalu berkekurangan. Ungkapan ini dimaknai  bahwa sikap pelit dan kikir terhadap sesama menggambarkan keadaan diri yang tidak pernah puas terhadap apa yang ada, tetapi sebaliknya kedermawanan selalu merupakan wujud tanggung jawab bernilai tinggi terhadap diri, sesama, lingkungan dan Tuhan.

Spirit solidaritas untuk berbagi perlu dilandasi dengan kesabaran. Kesabaran merupakan wujud kekuatan untuk menaklukan kecenderungn dari berbagai sikap negatif seperti, kecewa, jengkel, dan amarah. Kesabaran juga dapat dimaknai sebagai kemampuan mengendalikan pikiran, perasaan ketika bergolak dan reaktif, kemampuan menguasai diri dalam posisi sulit sekalipun, kemampuan menghadapi dengan tenang segala fitnah dan hujatan, dan kemampuan menghindari perdebatan tanpa kendali, yang diperjuangan dengan serius hanya untuk murninya solidaritas yang diberikan.

Kesabaran menjadi motivasi untuk lebih berani memikirkan sesama, berani meluangkan waktu, berani mengorbankan tenaga serta pikiran bahkan perasaan, berani memberikan apa yang dimiliki tanpa memikirkan imbalan, sebagaimana ungkapan puisi Kitab Amsal berikut,

”Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, Orang yang menguasai dirinya, Melebihi orang yang merebut kota (PKAS, Ams 16:32)”.

Seseorang perlu memiliki sifat sabar apabila ingin hidup bahagia bersama orang lain. Umumnya seseorang berhasil dalam hidupnya karena ia memiliki sifat yang tenang, peduli serta sabar. Kesabaran dapat menyadarkan setiap pribadi atau sesama untuk mengerti dan menghargai keadaan atau situasi orang lain, terlebih ketika situasi menuntut untuk  ditolong. Perulangan dalam puisi di atas pada kata orang yang menunjuk pada diri, pribadi yang sekaligus memberikan penekanan bahwa kesabaran itu tumbuh berawal dari dalam diri, sebagai hal yang penting dan mendasar sehingga mampu memahami, menghadapi sesama dan lingkungan sekitar. Dalam kutipan puisi diatas, kesabaran diparalelkan dengan pahlawan, menguasai diri, dan merebut kota. Ketiga frase figuratif ini merupakan simbol kesabaran yang dimaknai sebagai keberanian, berkorban, dan  yang pertama-tama harus dimulai dari dalam diri yakni menguasai diri sehingga bisa mendapatkan atau mengerjakan sesuatu hal yang luar biasa dengan leluasa, yang memberi kelegaan, kebahagiaan terlebih apa yang dilakukan itu untuk kepentingan orang lain, seperti yang digambarkan dengan ungkapan merebut kota.

Wujud bahasa figuratif  dalam puisi Kitab Amsal tersirat dalam simbol hidup solider dengan spirit solidaritas dengan saling berbagai antara lain,  a) tanggung jawab, b) kepedulian, c) kepekaan, dan d) kesabaran.

 

Kesimpulan

Bahasa sangat berperan dalam kehidupan manusia. Bahasa dapat menjelaskan situasi kehidupan, persoalan, masalah terlebih yang dihadapi masyarakat luas seperti situasi wabah virus corona yang kini melanda dunia, hingga menggerakan masyarakat untuk peduli, aktif berpartisipasi, saling membantu dalam mengatasi masalah ini. Solidaritas tidak hanya melalui pemberian barang, material atau bantuan fisik, tetapi juga melalui kata-kata sebagai pikiran bijak yang menggerakan banyak orang untuk bersolider dengan sebuah spirit yang biasanya lahir dari kesadaran diri. Bahasa yang digunakan dalam menumbuhkan semangat hidup bersama ini merupakan bahasa sugestif yang diungkapkan secara tidak langsung, bahasa figurative dengan menggunakan kiasan, perumpamaan dengan imaji yang kuat yang memberikan pesan, nilai serta makna yang berguna, seperti yang terungkap dalam bahasa puisi Kitab Amsal.

Bahasa figuratif dalam puisi Kitab Amsal sangat kuat dengan simbol-simbol yang memperkenalkan hikmat dan pengajaran kepada pembaca, sebagai pedoman mengenai perilaku yang benar dan sikap-sikap penting terhadap hidup, yang dapat dijadikan sebagai spirit solidaritas dalam hidup bersama. Bahasa figuratif Kitab Amsal yang mengungkapkan spirit solidaritas dapat disimpulkan dalam beberapa wujud spirit solidaritas, seperti berikut, (1) Wujud bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas berpikir bijak yang diungkapkan dalam simbol bersolider antara lain,  a) keikhlasan, b) ketulusan, dan c) kejujuran; (2) Wujud bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dengan keteguhan hati yang diungkapkan dalam simbol hidup solider antara lain,  a) kerja sama, b) kesetiaan, c) ketekunan, dan d) kesadaran diri; dan (3) Wujud bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dengan saling berbagi yang diungkapkan dalam simbol bersolider antara lain,  a) tanggung jawab, b) kepedulian, c) kepekaan, dan d) kesabaran.

 

 

 

 

 

 

 


BIBLIOGRAFI

 

Abdullah, M. A. (2016). Studi agama: normativitas atau historisitas?. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Google Scholar

 

Al-Ma’ruf, A. I. (2009). Kajian Stilistika Aspek Bahasa Figuratif Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari. Kajian Linguistik dan Sastra, 21(1), 67–80. Google Scholar

 

B.S., A. W. B. S. W. (2015). Hermeneutika Sebagai Sistem Interpretasi Paul Ricoeur Dalam Memahami Teks-Teks Seni. Imaji, 4(2). https://doi.org/10.21831/imaji.v4i2.6712 Google Scholar

 

Benamara, F., Grouin, C., & Karoui, J. (2017). Analyse D’opinion Et Langage Figuratif Dans Des Tweets : Présentation Et Résultats Du Défi Fouille De Textes DEFT2017. 24e Conférence Sur Le Traitement Automatique Des Langues Naturelles (TALN), 2017(June), 1–12. Google Scholar

 

Devinna Riskiana Aritonang, L. H. P. (2020). Nilai Kearifan Lokal dan Upaya Pemertahanan Budaya “Marsalap Ari” Dalam Menjalin Solidaritas Antar Sesama Di Desa Paringgonan Sebagai Bahan Ajar Pembentukan Karakter Mahasiswa. Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra, 5(1), 25–28. https://doi.org/10.32696/ojs.v5i1.398 Google Scholar

 

F.Sualang. (2020). Faktor-Faktor Pembentukan Karakter Berdasarkan Amsal 13:22 Tentang Warisan Harta Dan Ajaran Moral. Integrita: Jurnal Teologi, 2(2), 95–113. Google Scholar

 

Hamidah, W. (2012). Bahasa Figuratif dalam Fajar Sarawak. Issues in Language Studies, 1(1), 9–14. Google Scholar

 

Herawani,  Nellly. H. dan Y. F. (2019). Jurnal basicedu. Jurnal Basicedu, 3(2), 524–532.

 

Kurniawan, K., Sholihin, S., & Mulyadi, M. (2019). Figurative of Lo I Keta Spells in Society of Bima: A Riffaterre Semiotics Research. AKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 3(1), 81–92. https://doi.org/10.21009/aksis.030109 Google Scholar

 

Lembaga Alkitab Indonesia. (1974). Alkitab Deutrokanonika. Lembaga Alkitab Indonesia.

 

M., R. (1978). Semiotics of Poetry (1st ed.). Indiana University Press.

 

Maulana, L. (2019). Semiotika Michael Riffaterre (Analisis Pembacaan Heuristik-Hermeneutik atas QS. Ali Imran/3: 14). Qof, Vol. 3(1), 67–78. Google Scholar

 

Meiliana, S. (2020). Eksistensi Tradisi Lisan Cakap Lumat Dalam Upacara Adat Perkawinan Karo. Litera, 19(1), 157–172. https://doi.org/10.21831/ltr.v19i1.30478 Google Scholar

 

Miswar. (2018). Kenangan Masa Lalu, Pendidikan dan Pengajaran Dalam Puisi Chairil Anwar. Jurnal Basicedu, 2(1), 120–134. Google Scholar

 

Muauz, G. A., & Saleh, M. H. (2017).  On the Poetics and Politics of the Afar Kassow . Eastern African Literary and Cultural Studies, 3(1), 19–39. https://doi.org/10.1080/23277408.2017.1323169 Google Scholar

 

Nuroh, E. Z. (2011). Analisis Stilistika Dalam Cerpen. Pedagogia: Jurnal Pendidikan, 1(1), 21. https://doi.org/10.21070/pedagogia.v1i1.30 Google Scholar

 

Osborne, G. R. (2012). Spiral Hermeneutika: Pengantar Komprehensif Bagi Penafsiran Alkitab (E. Gani (ed.); 1st ed.). Momentum Christian. Google Scholar

 

Siagian, F. (2019). Figur Istri Yang Bijak Dalam Membina Rumah Tangga Kristen Bahagia Menurut Amsal 31:10. Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia, 4(12), 104–116. https://doi.org/p–ISSN: 2541-0849e-ISSN : 2548-1398 Google Scholar

 

Sin, S. K. (2018). Pendekatan Topikal Dalam Menafsirkan Kitab Amsal. Jurnal Theologia Aletheia, 20(14), 1–27. Google Scholar

 

Sualang, F. Y. & E. E. E. (2020). Integrasi Integritas dan Lingkungan Sosial untuk membentuk Reputasi: Analisis Sastra Hikmat Amsal 22:1-2. HUPĒRETĒS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 2(1), 52–71. https://doi.org/DOI: 10.46817/huperetes.v2i1.46. Submitted: 04 November 2020 // Revised: 19 November 2020 // Accepted: 13 Desember 2020 Google Scholar

 

Sualang, F. Y., & Tinggi Teologi Injili Indonesia, S. (2017). Prinsip-Prinsip Hermeneutika Genre Hikmat Dalam Kitab Amsal: Suatu Pedoman Eksegesis. Jurnal PISTIS, 50 (Old Testament, Genre of Wisdom, Hermeneutics), 93–112. Google Scholar

 

Sudarti, N. (2019). Analisis Kajian Teori Hermeneutika dan Citraan yang Terkandung Dalam Puisi “Sihir Hujan” Karya Sapardi Djoko Damono. Dialog, VIII(II), 872–881. https://doi.org/ISSN:2406-9401 Google Scholar

 

Suwardi, E. (2016). Metodologi Penelitian Posmodernisme Sastra (1st ed.). Jakarta: Center for Academic Publishing Service. Google Scholar

 

Talib, A. A. (2018). Filsafat Hermeneutika dan Semiotika (D. H. (ed.); 1st ed.). LPP Mitra Edukasi. Google Scholar

 

Viora, D. (2017). Sejarah, Mitos, dan Parodi Dalam Penciptaan Karya Sastra Modern Indonesia Warna Lokal. Jurnal Basicedu, 1(2), 66–75. Google Scholar

 

Wachid, A. B. S. (2015). Hermeneutika Sebagai Sistem Interpretasi Paul Ricoeur Dalam Memahami Teks-Teks Seni. Imaji, 4(2). https://doi.org/10.21831/imaji.v4i2.6712 Google Scholar

 

Zaluchu, S. E. (2019). Pola Hermenetik Sastra Hikmat Orang Ibrani. Evangelikal: Jurnal Teologi Injili Dan Pembinaan Warga Jemaat, 3(1), 21. https://doi.org/10.46445/ejti.v3i1.123 Google Scholar

 

Copyright holder:

Imelda Oliva Wissang, Nelci Halla, Tobias Nggaruaka, Arsiya Wanaelo

(2021)

 

First publication right:

Journal Syntax Literate

 

This article is licensed under: