Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p�ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 8, No. 3, Maret 2023

 

PENGARUH BRAND AWARENESS, BRAND ASSOCIATION, BRAND ENGAGEMENT TERHADAP BRAND LOYALTY DAN REPURCHASE INTENTION MELALUI KONTEN AKUN INSTAGRAM OFFICIAL WAFER TANGO

 

Gregorius Rivaldo, Amia Luthfia, Arisa Maharani Melati Dewi, Z. Hidayat, Lia Octavia, Muhammad Aras

Fakultas Komunikasi, Bina Nusantara University

Email: [email protected]

 

Abstrak

Dengan perkembangan media sosial saat ini, Instagram menjadi salah satu media sosial yang paling banyak digunakan. Dengan pertumbuhan pengguna Instagram, fitur pembuatan kontennya memberikan peluang bagi banyak produsen dan perusahaan untuk memasarkan produk mereka. Salah satu perusahaan yang membangun brand mereka melalui Instagram adalah Wafer Tango. Wafer Tango menggunakan Instagram untuk membangun konten pemasaran mereka serta mempromosikan item baru yang dikembangkan. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah niat pelanggan untuk membeli kembali Wafer Tango ditimbulkan oleh loyalitas merek mereka yang dipengaruhi oleh kesadaran merek, asosiasi merek dan kualitas produk melalui konten Instagram. Model teoritis yang disajikan dalam penelitian ini meliputi 4 hipotesis dan akan diuji menggunakan Structural Equation Model. Sampel dalam penelitian ini adalah 398 responden yang merupakan pengguna Instagram dan memiliki akun di Instagram serta mengikuti akun Instagram resmi Wafer Tango. Kuesioner dirancang untuk mengumpulkan informasi dari calon pembeli pisau cukur Gillette Mach 3 Turbo berdasarkan iklan YouTube. Hasil analisis menunjukkan bahwa kesadaran merek dan keterlibatan merek berpengaruh positif terhadap niat beli ulang melalui loyalitas merek, sedangkan asosiasi merek tidak berpengaruh terhadap niat beli ulang melalui loyalitas merek. Kesimpulan dari penelitian ini adalah konten Instagram Wafer Tango memberikan loyalitas yang tinggi kepada followers Instagramnya yang akan selalu membeli produk Wafer Tango

 

Kata kunci: brand awareness, brand association, brand engagement, brand loyalty, repurchase intention

Abstract

With the current state of social media growth, Instagram is one of the most used social media. With the growth of Instagram users, its content creating features gave an opportunitiy for many manufacturers and companies to market their products. One of the companies that build their brand through Instagram is Wafer Tango. Wafer Tango uses Instagram to build their marketing content as well as promoting new developed item. The issues raised in this study is to determine whether or not the customer�s intention to repurchase of Wafer Tango inflicted by their brand loyalty inmfluenced by brand awareness, brand association and product quality through Instagram content. The theoretical model presented in this study includes 4 hypotheses and to be tested using Structural Equation Model. The sample in this study were 398 respondents who are an Instagram user and possess an account in Instagram and follows Wafer Tango official Instagram account. A questionnaire is designed to gather information from prospective buyers of Gillette Mach 3 Turbo razor based on the YouTube ad. Results of the analysis showed that brand awareness and brand engagement have positive effect on repurchase intention through brand loyalty, while brand association have no effect on repurchase intention through brand loyalty. The conclusion of this study is that Wafer Tango Instagram content provides high loyalty to their Instagram followers which will always buy Wafer Tango products

Keywords: brand awareness, brand association, brand engagement, brand loyalty, repurchase intention

 

Pendahuluan

Dalam kehidupan manusia, kebutuhan sehari � hari seperti makanan, minuman dan hal kebersihan bersifat esensial. Manusia memenuhi kebutuhan tersebut dengan membeli produk � produk yang memenuhi kebutuhan mereka, maka dari itu produk yang dicari harus selalu tersedia setiap saat. (Maslow, 1943) menjabarkan kebutuhan manusia dipecah menjadi lima yaitu Physiological needs, Safety needs, Belongingness and Love needs, Esteem needs, dan Self-actualization.Lima kebutuhan manusia dikategorisasikan berdasarkan tingkat kepentingan seperti pada gambar 1.1 berikut:

Gambar 1

Maslow�s Hierarchy of Need

Gambar 1 menunjukkan bahwa basic needs (kebutuhan yang paling dasar) adalah Physiological needs dan Safety needs. Maslow menyatakan bahwa individu harus memenuhi kebutuhan yang paling dasar dari hirarki untuk bisa memenuhi kebutuhan paling atas (Maslow, 1943). Physiological needs merupakan kebutuhan biologis yang diperlukan untuk bertahan hidup seperti makanan, minuman dan kebersihan, jika kebutuhan ini tidak terpenuhi maka manusia tidak dapat berfungsi dengan optimal, sehingga kebutuhan lainnya yang berada diatas tingkat Physiological needs tidak akan terpenuhi (Lester, 2013).

FMCG (Fast Moving Consumer Goods) merupakan produk yang terjual dengan cepat karena harga yang relatif murah (Kenton, 2020). FMCG memiliki industri tersendiri dengan kontribusi terhadap ekonomi negara yang cukup besarProduk yang masuk kedalam kategori FMCG memiliki umur simpan (shelf life) yang pendek, terutama dikarenakan cepat habis dibeli oleh pelanggan atau telah mencapai kadaluarsa sehingga bersifat perishable, serta dijual dengan jumlah yang besar (Kenton, 2020). Industri FMCG mengalami perkembangan yang dinamis selama tiga tahun terakhir terutama pada Asia Pasifik, dapat dilihat dari gambar 1.2 sebagai berikut:

 

Gambar 2

FMCG Market Dynamics di Asia Pasifik

Berdasarkan gambar 2, pertumbuhan ekonomi dalam industri FMCG bersifat dinamis. Peningkatan industri diukur pada dua variabel yaitu volume dan value. Volume mengukur total jumlah produk yang telah dibeli oleh konsumen dengan menggunakan pengukuran metrik yang spesifik atas dasar kategori produk seperti gramasi untuk produk padat dan liter untuk produk cair, sedangkan Value mengukur dalam nominal uang yang telah dikeluarkan oleh pelanggan dalam konsumsi produk (Yoo, 2020). Indonesia merupakan negara di asia pasifik yang memiliki penduduk sebesar 267.7 juta penduduk (Data Commons, 2020). Industri FMCG dalam Indonesia menjadi contributor utama dalam pengeluaran untuk basic necessities (kebutuhan dasar) termasuk telekomunikasi dan makanan segar, gambar 1.3 menunjukkan trend tersebut:

 

 

 

 

 

Gambar 3

Household Spending Contribution di Indonesia

Berdasarkan gambar 3, pengeluaran penduduk Indonesia terhadap FMCG dan makanan mengalami pertumbuhan dimana FMCG bertumbuh sebesar 2% (10% � 12%) dan makanan bertumbuh sebesar 2% (20% � 22%). FMCG mengalami peningkatan dalam pengeluaran penduduk Indonesia bersamaan dengan kebutuhan makanan dimana tabungan dan pinjaman mengalami penurunan. Dengan pertumbuhan FMCG maka banyak perusahaan FMCG yang mengambil kesempatan ini untuk meningkatkan performa dan penjualan perusahaan masing � masing, dan untuk bertumbuh maka aktifitas pemasaran harus diolah dan disusun sesuai tujuan yang ingin dicapai.

Seluruh strategi diatas digunakan oleh perusahaan FMCG hingga hari ini karena strategi diatas merupakan hal yang esensial agar produk tetap hidup dalam pasar. Aktifitas marketing yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatan kesadaran dan kehadiran brand tersebut di pasar, hal ini dapat dilaksanakan dengan meningkatan awareness serta memperkuat association dari brand melalui berbagai aktifitas pemasaran. Brand awareness merupakan potensi informasi dan ide dari sebuah merk untuk dapat diingat oleh konsumen (Bilgili & Ozkul, 2015). Brand association memberikan alasan kepada konsumen untuk membeli sebuah produk sesuai dengan keinginan dan preferensi mereka (Bilgili dan Ozkul, 2015). Dengan kegiatan branding yang sudah berjalan, sebuah merk juga harus memiliki komunikasi dengan konsumen sehingga meningkatkan based engagement. Brand engagement merupakan hubungan antara konsumen dan merek yang diperkuat dari waktu ke waktu dan menciptakan relasi yang saling menghargai (Ismail et al., 2020). Sebuah perusahaan yang meningkatkan brand engagement mengalami peningkatan omset sebesar 23% (Vita Kumar et al., 2010).

Salah satu FMCG yang rutin meningkatkan brand awareness dan brand association terhadap produk mereka serta memiliki product quality yang bagus adalah Orang Tua Group. OT (Orang Tua) Group merupakan group perusahaan yang bergerak pada bidang FMCG seperti makanan, minuman dan personal care. Berdiri pada tahun 1948. OT Group mulai masuk industri consumer goods pada tahun 1984 dan pada tahun 2004 OT group telah memiliki unit usaha di bidang makanan (wafer, biskuit, coklat, permen), minuman (ready to drink, minuman kesehatan) dan perawatan diri (oral care, sabun cuci tangan, sabun mandi, hand sanitizer) (OT, 2020). Salah satu produk unggulan OT Group adalah Wafer Tango yang merupakan salah satu brand terkuat OT Group, berkontribusi sebesar 30% dari seluruh sales OT Group (Dwijayanto, 2017). Strategi yang digunakan oleh OT Group dalam memasarkan produk Wafer Tango bertujuan meningkatkan brand awareness serta memperkuat brand association mereka di pasar untuk konsumen.

Gambar 4

Contoh aktifitas branding Wafer Tango dalam meningkatkan brand awareness untuk produk baru

Berdasarkan gambar 4, Produk Wafer Tango sedang menjalankan kampanye memasarkan produk wafer dengan varian rasa yang baru. Dapat dilihat bahwa hal ini bertujuan untuk meningkatkan awareness terhadap produk baru sehingga konsumen dapat mengetauhi adanya produk dengan varian rasa yang baru oleh Wafer Tango.

Gambar 5

Kolaborasi Brand Wafer Tango dengan Brand Rubylicious dalam bentuk apparel

Dari gambar 5, Wafer Tango mengadakan kolaborasi dengan salah satu brand apparel di Indonesia yaitu Rubylicious. Kolaborasi ini menitikberatkan design wafer pada baju � baju yang didesign dan dijual oleh Coconut Island sehingga meningkatkan brand awareness serta brand association terhadap milennial.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6

Konten Instagram Brand Wafer Tango mengundang konsumen untuk berinteraksi dan terlibat

Dari gambar 6 diatas, konten Instagram Wafer Tango mengajak konsumen untuk berinteraksi dan terlibat dalam bentuk teka � teki atau puzzle sehingga brand engagement konsumen terhadap merk Wafer Tango meningkat terhadap konsumen. Konten marketing pada platform Instagram tidak hanya sekedar menciptakan foto atau video tetapi konten yang diciptakan harus relevan dan teteap mengingatkan konsumen terhadap brand, memberikan rasa asosiasi yang relevan dengan target market brand serta melibatkan interaksi dengan konsumen sehingga tercipta brand loyalty yang mengakibatkan konsumen untuk membeli kembali produk dari brand tersebut sehingga merebut pangsa pasar industri tersebut. Oleh karena itu peneliti ingin melihat apakah brand awareness, brand association dan brand engagement mempengaruhi persepsi konsumen terhadap sebuah produk sehingga dapat meningkatkan brand loyalty yang mempengaruhi repurchase intention produk Wafer Tango.

 

Metode Penelitian

Peneliti menggunakan paradigma Positivism yang merupakan paradigm atau pandangan dimana sebuah teori memiliki asumsi yang absolut berdasarkan hasil data empiris (Littlejohn & Foss, 2010). Peneliti menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif karena penelitian dilakukan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang didasarkan pada paradigm postpositivism dengan mengukur sebuah data statistikal yang digunakan untuk mengukur hasil hipotesa dari sebuah penelitian (Gunawan, 2022). Peneliti menggunakan jenis penelitian Eksplanatif dimana mencari hubungan sebab akibat dari beberapa variabel yang akan diteliti (Setiawaty, 2015).

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian descriptive. Penelitian deskriptif yaitu jenis penelitian yang mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan karakteristik maupun sifat pasar serta perilaku konsumen. Penelitian ini menggunakan metode survei, dimana metode ini meneliti sampling unit dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner disusun secara rapi dan terstruktur, kemudian diberikan kepada sample dari sebuah populasi guna mendapatkan informasi spesifik dari responden (Birks & Malhotra, 2012). Penelitian ini secara umum akan meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi purchase intention terhadap Brand Equity, Promotion Activities dan Brand Alliance dari brand Wafer Tango. Adapun variabel yang digunakan adalah Brand Equity, Promotion Activities, Brand Alliance dan purchase intention.

Penentuan target populasi sangatlah penting dalam penelitian ini agar hasil yang didapat lebih akurat. Menurut (Birks & Malhotra, 2012) populasi adalah gabungan atau sekumpulan elemen yang memiliki serangkaian karakteristik tertentu, yang terdiri dari alam semesta lalu ditetapkan untuk menjadi objek penelitian. Populasi pada penelitian ini adalah pengguna media sosial Instagram. Sample unit adalah suatu dasar yang mengandung unsur-unsur dari populasi yang akan dijadikan sampel (Filieri, Chen, & Lal Dey, 2017). Sample unit yang digunakan pada penelitian ini adalah pengguna media sosial Instagram yang merupakan follower akun Instagram Wafer Tango . (Birks & Malhotra, 2012) menyatakan bahwa time frame mengacu pada jangka waktu yang dibutuhkan peneliti untuk mengumpulkan data hingga mengolahnya. Pada penelitian ini, time frame yang dibutuhkan yaitu semester 2 2022

Pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengambilan sampel non-probability sampling technique, dimana tidak semua bagian dari populasi memiliki peluang yang sama untuk dijadikan sampel, tetapi responden ditentukan berdasarkan karakteristik atau kriteria sesuai dengan kebutuhan penulis (Birks & Malhotra, 2012). Untuk teknik yang digunakan adalah purposive/judgmental technique sampling yakni sample unit dipilih berdasarkan kriteria tertentu yang ditentukan penulis (Birks & Malhotra, 2012). Alasan menggunakan purposive/judgemental technique sampling pada proses pengambilan sampel dikarenakan penelitian ini memiliki syarat kriteria yaitu memiliki akun Instagram, merupakan follower akun Instagram Wafer Tango, dan pernah membeli produk Wafer Tango.

Faktor analisis digunakan untuk melihat ada atau tidaknya korelasi antar indikator dan untuk melihat apakah indikator tersebut bisa mewakili sebuah variabel latent. Faktor analisis juga menunjukkan data yang telah didapat tergolong valid dan reliabel atau tidak, teknik faktor analisis juga dapat mengidentifikasi apakah indikator dari setiap variabel menjadi satu kesatuan atau mereka memiliki persepsi yang berbeda (Malhotra & Grover, 1998). �Akan dilakukan beberapa jenis uji untuk mengukur validitas dari data yang sudah dikumpulkan seperti uji validitas, uji reliabilitas. lalu dilakukan metode analisis data dengan structural equation model, kecocokan keseluruhan model (overall of fit). kecocokan model pengukuran (measurement model fit).

 

Hasil dan Pembahasan

Untuk mengetahui respon atas penyataan yang diajukan kepada para responden, maka penulis mengidentifikasi rata-rata jawaban responden terhadap masing-masing penyataan dengan menggunakan skala interval. Berikut ini adalah tabel pembagian interval:

Tabel 1

Skala Interval Lima Kategori

Interval

Kategori

1,00 < a ≤ 1.80

Sangat Tidak Setuju

1.80 < a ≤ 2.60

Tidak Setuju

2.60 < a ≤ 3.40

Cukup

3.40 < a ≤ 4.20

Setuju

4.20 < a ≤ 5.00

Sangat Setuju

Brand Awareness

Berikut ini adalah tanggapan responden atas variabel Brand Awareness yang dapat dilihat pada tabel 2:

Tabel 2

Penilaian Responden Terhadap Variabel Brand Awareness

No

Indikator

Measurement

Frekuensi Skor Jawaban

Mean

1

2

3

4

5

 

1

(BRA1)

Saya mengetahui ada merk Wafer Tango di Instagram karena konten mereka

���� 5

16

21

149

209

4.35

2

(BRA2)

Saat saya memikirkan produk wafer, merk Wafer Tango merupakan salah satu merk yang terlintas di pikiran saya

2

9

105

157

127

3.99

3

(BRA3)

Saya merasa sangat akrab dan dekat� dengan merk Wafer Tango di Instagram

3

13

115

193

76

3.82

4

(BRA4)

Saya tahu seperti apa bentuk produk Wafer Tango dari Instagram

3

16

115

218

48

3.73

5

(BRA5)

Saya dapat mengenali Wafer Tango diantara merk wafer lainnya di Instagram

8

20

107

216

49

3.70

Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer, 2022

Berdasarkan data pada tabel diatas, responden paling banyak menjawab pada kategori skala interval 4 yang artinya setuju dengan pertanyaan brand awareness pada kuisioner yang disebar oleh peneliti. Hal ini menunjukkan bahwa merk Wafer Tango di Instagram sudah diketahui dan mudah dikenali oleh konsumen dan pengguna media sosial Instagram. Responden juga setuju bahwa merk Wafer Tango mudah dikenali diantara merk Wafer lainnya di Instagram.

Brand Association

Berikut ini adalah tanggapan responden atas variabel Brand Awareness yang dapat dilihat pada tabel 3:

Tabel 3

Penilaian Responden Terhadap Variabel Brand Association

No

Indikator

Measurement

Frekuensi Skor Jawaban

Mean

1

2

3

4

5

 

1

(BAS1)

Dibandingkan dengan merk wafer lainnya, merk Wafer Tango memiliki citra yang sangat unik di Instagram

�� 7

21

152

174

46

3.58

2

(BAS2)

Saya menghormati dan mengagumi orang yang menyukai konten merk Wafer Tango di Instagram

3

14

176

192

15

3.51

3

(BAS3)

Saya menyukai citra merk Wafer Tango di Instagram

0

12

142

216

30

3.66

4

(BAS4)

Beberapa karateristik merk Wafer Tango di Instagram dengan cepat muncul dalam benak saya

1

15

147

207

30

3.62

5

(BAS5)

Saya dapat mengingat dengan cepat simbol atau logo merk Wafer Tango di Instagram

1

14

144

219

22

3.62

Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer, 2022

Berdasarkan data pada tabel diatas, responden paling banyak menjawab pada kategori skala interval 4 yang artinya setuju dengan pertanyaan brand association pada kuisioner yang disebar oleh peneliti. Hal ini menunjukkan bahwa merk Wafer Tango di Instagram terasosiasi dengan konsumen baik dari sikap maupun karakteristik brand Wafer Tango tersebut. Responden juga setuju bahwa merk Wafer Tango mudah dikenali diantara merk Wafer lainnya di Instagram.

Brand Engagement

Berikut ini adalah tanggapan responden atas variabel Brand Engagement yang dapat dilihat pada tabel 4:

Tabel 4

Penilaian Responden Terhadap Variabel Brand Engagement

No

Indikator

Measurement

Frekuensi Skor Jawaban

Mean

1

2

3

4

5

1

(BRE1)

Saya sering memikirkan merk Wafer Tango ketika menggunakan Instagram

�� 6

12

98

189

95

4.005

2

(BRE2)

Dengan menyaksikan/menonton konten Instagram merk Wafer Tango mendorong ketertarikan saya untuk lebih memahami merk tersebut

4

14

87

196

99

4.095

3

(BRE3)

Menggunakan Instagram dan melihat konten merk Wafer Tango membuat saya senang

0

0

126

161

113

3.99

4

(BRE4)

Akun Wafer Tango di Instagram adalah salah satu merk dengan konten yang sering saya lihat

0

0

111

181

108

4.069

Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer, 2022

Berdasarkan data pada tabel diatas, responden paling banyak menjawab pada kategori skala interval 4 yang artinya setuju dengan pertanyaan brand engagement pada kuisioner yang disebar oleh peneliti. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna Instagram sering dan suka berinteraksi dengan merk Wafer Tango dengan tujuan untuk lebih memahami dan berinteraksi dengan merk Wafer Tango. Responden juga setuju bahwa konten Instagram Wafer Tango mudah ditemukan dalam feed mereka dibandingkan merk lain.

Brand Loyalty

Berikut ini adalah tanggapan responden atas variabel Brand Engagement yang dapat dilihat pada tabel 5:

Tabel 5

Penilaian Responden Terhadap Variabel Brand Loyalty

No

Indikator

Measurement

Frekuensi Skor Jawaban

Mean

1

2

3

4

5

1

(BLY1)

Karena konten Instagram Wafer Tango, Saya akan rekomendasi merk Wafer Tango kepada teman � teman saya

�� 3

9

108

200

80

4.005

2

(BLY2)

Saya berkomitmen dan akan selalu menyukai konten Wafer Tango di Instagram daripada merk wafer lain

4

11

106

207

72

4.095

3

(BLY3)

Saya akan selalu setia dengan merk Wafer Tango

7

13

100

189

91

3.99

Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer, 2022

Berdasarkan data pada tabel diatas, responden paling banyak menjawab pada kategori skala interval 4 yang artinya setuju dengan pertanyaan brand loyalty pada kuisioner yang disebar oleh peneliti. Hal ini menunjukkan pengguna Instagram yang mengikuti akun Instagram Wafer Tango setia dan tidak akan memilih merk lain selain merk Wafer Tango. Berdasarkan jawaban responden kesetiaan tersebut juga dicerminkan dengan merekomendasikan merk Wafer Tango kepada teman � teman mereka.

Repurchase Intention

Berikut ini adalah tanggapan responden atas variabel Brand Engagement yang dapat dilihat pada tabel 6:

Tabel 6

Penilaian Responden Terhadap Variabel Repurchase Intention

No

Indikator

Measurement

Frekuensi Skor Jawaban

Mean

1

2

3

4

5

1

(RPI1)

Saya berantisipasi untuk membeli produk Wafer Tango di masa depan

�� 0

29

108

209

54

4.005

2

(RPI2)

Kemungkinan besar saya akan membeli kembali produk Wafer Tango di masa depan

0

25

113

198

64

4.095

3

(RPI3)

Di masa depan, saya berharap untuk tetap membeli produk Wafer Tango

8

22

90

235

45

3.99

Berdasarkan data pada tabel diatas, responden paling banyak menjawab pada kategori skala interval 4 yang artinya setuju dengan pertanyaan repurchase intention pada kuisioner yang disebar oleh peneliti. Hal ini menunjukkan pengguna Instagram yang mengikuti akun Instagram Wafer Tango kemungkinan besar akan membeli lagi produk Wafer Tango di masa mendatang. Hasil kuesioner juga menyatakan bahwa responden akan membeli kembali produk Wafer Tango jika ada kesempatan dalam melakukan hal tersebut.

Uji Instrumen untuk Pretest

Sebelum melakukan pengambilan data besar, peneliti terlebih dahulu melakukan uji pretest terhadap 30 responden. Dalam uji instrumen yang terdiri atas uji validitas dan uji reliabilitas, peneliti menggunakan perangkat lunak SPSS Version 25 untuk memudahkan proses pengolahan data. Berikut ini adalah hasil dari uji tersebut yang dirangkum kedalam table 8 dan tabel 9

Uji Validitas data Pretest

Tabel 7

Hasil Uji Validitas Pretest

No.

Variabel

Kode Measurement

KMO

Sig.

MSA

Factor Loading

Uji Validitas

KMO

≥ 0.5

Sig. <

0.05

MSA

≥ 0.5

FL ≥

0.5

Valid/Tidak Valid

1.

Brand Awareness

BRA1

0,575

0,006

0,525

0,593

Valid

BRA2

0,730

0,570

Valid

BRA3

0,577

0,736

Valid

BRA4

0,548

0,757

Valid

 

 

BRA5

 

 

0,572

0,654

Valid

2.

Brand Assocation

BAS1

0,669

0,015

0,669

0,718

Valid

BAS2

0,675

0,581

Valid

BAS3

0,710

0,757

Valid

BAS4

0,655

0,693

Valid

 

 

BAS5

 

 

0,616

0,537

Valid

3.

Brand Engagement

BRE1

0,692

0,002

0,698

0,752

Valid

BRE2

0,697

0,758

Valid

BRE3

0,683

0,720

Valid

 

 

BRE4

 

 

0,687

0,700

Valid

4.

Brand Loyaty

BLY1

0,686

0,000

0,770

0,785

Valid

BLY2

0,654

0,862

Valid

 

 

BLY3

 

 

0,662

0,855

Valid

5.

Repurchase Intention

RPI1

0,599

0,000

0,588

0,881

Valid

RPI2

0,711

0,758

Valid

RPI3

0,560

0,940

Valid

Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer, 2022

Berdasarkan hasil uji validitas dari tabel 4.8, menunjukkan bahwa seluruh indikator memiliki nilai standard factor loadings diatas 0,5 sehingga seluruh indikator tersebut dapat dinyatakan valid karena telah memenuhi syarat sebagai berikut: KMO (Kaiser-Meyer-Olkin) ≥ 0.50, Sig. ≤ 0.05, MSA (Measures of Sampling Adequacy) ≥ 0.50, dan Factor Loading ≥ 0.50 (Farrell & Rudd, 2009).

Uji Reliabilitas Data Pretest

Tabel 8

Hasil Uji Reliabilitas Pretest

No.

Variabel

Kode Measurement

Cronbach's Alpha

Uji Reliabilitas

Cronbach's Alpha ≥

0.6

1.

Brand Awareness

BRA1

0,947

Reliabel

BRA2

0,950

Reliabel

BRA3

0,950

Reliabel

BRA4

0,950

Reliabel

 

 

BRA5

0,950

Reliabel

2.

Brand Assocation

BAS1

0,953

Reliabel

BAS2

0,953

Reliabel

BAS3

0,952

Reliabel

BAS4

0,952

Reliabel

 

 

BAS5

0,952

Reliabel

3.

Brand Engagement

BRE1

0,950

Reliabel

BRE2

0,950

Reliabel

BRE3

0,955

Reliabel

 

 

BRE4

0,955

Reliabel

4.

Brand Loyaty

BLY1

0,950

Reliabel

BLY2

0,950

Reliabel

 

 

BLY3

0,950

Reliabel

5.

Repurchase Intention

RPI1

0,952

Reliabel

RPI2

0,952

Reliabel

RPI3

0,950

Reliabel

Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer, 2022

Berdasarkan data yang terpapar pada tabel 4.9, semua variabel dinyatakan reliabel karena koefisien reliabilitas atau yang ditunjukkan oleh nilai cronbach�s alpha menunjukkan angka ≥ 0.6 (Soetanto, 2017). Maka dari itu penelitian ini layak untuk dilanjutkan.

Hasil Analisis Data Structural Equation Model (SEM)

Pada penelitian ini, untuk melakukan perhitungan dalam menganalisis data SEM penulis menggunakan perangkat lunak yang bernama Lisrel Version 8.80. Program ini dapat mempermudah penulis dalam menguji keterkaitan antar variabel. Hasil perhitungan SEM dengan menggunakan perangkat Lisrel Version 8.80 terdapat pada lampiran. Pada analisis SEM, evaluasi terhadap tingkat kecocokan data dengan model dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu uji kecocokan data dengan model dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu uji kecocokan keseluruhan model, uji model pengukuran, dan uji model struktural (Hair Jr, Black, Babin, & Anderson, 2010).

Hasil Analisis Kecocokan Keseluruhan Model

Tahapan pertama adalah dengan melakukan uji kecocokan keseluruhan model, yang bertujuan untuk mengevaluasisecara umum derajat kecocokan atau Goodness of Fit (GOF) antara data dengan model penelitian (Hair Jr et al., 2010). Berikut ini adalah hasil uji kecocokan keseluruhan model menggunakan Lisrel version 8.8.

Tabel 9

Hasil Analisis Goodness of Fit Seluruh Model

Ukuran Goodness of Fit

(GOF)

Tingkat Kecocokan yang Bisa Diterima

Kriteria Uji

Absolute Fit Indices

Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA)

0.037

Good Fit

Incremental Fit Measure

Comparative Fit Index (CFI)

1.00

Good Fit

Parsimonius Fit Measure

Parsimonius Normed Fit Index (PNFI)

0.85

Good Fit

Normed Fit Measure

Normed Fit Index (NFI)

0.99

Good Fit

Incremental Fit Measure

Incremental Fit Index (IFI)

1.00

Good Fit

Goodness of Fit Measure

Goodness of Fit Index (GFI)

1.00

Good Fit

Berdasarkan hasil uji yang terpapar pada tabel 4.10, dapat dilihat bahwa seluruh kriteria GOF menunjukkan kecocokan baik (good fit), sehingga dapat disimpulkan bahwa kecocokan model secara keseluruhan adalah baik. Maka dari itu, penelitian ini layak untuk dilanjutkan.

Hasil Analisis Model Pengukuran

Pada uji model pengukuran, diukur validitas model pengukuran dan realibilitas model pengukuran. Validitas diukur berdasarkan nilai standardized loading factor di mana menurut (Van Dierendonck & Nuijten, 2011), suatu variabel dapat dikatakan valid apabila nilai standardized loading factor ≥ 0,50. Sedangkan untuk uji realibilitas, digunakan kriteria nilai AVE ≥ 0,50 dan CR ≥ 0,70 (Subkoviak, 1976). Untuk mengukur realibilitas dalam SEM dapat digunakan reliabilitas komposit (composit reliability measure) dan ukuran ekstrak varian (variance extracted measure) dengan rumus perhitungan sebagai berikut:

Hasil Uji Validitas Keseluruhan Data

Berikut ini adalah paparan path diagram yang dihasilkan oleh Lisrel Version 8.8 dari total keseluruhan data yang berjumlah 400 responden.

 

Gambar 4

Path Diagram Standarized Solution

Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer, 2022

 

Gambar 5

Path Diagram T-Values

 

Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer, 2022

Berdasarkan kedua gambar path diagram diatas, penulis menjabarkan hasil uji validitas dari keseluruhan data yang berjumlah 400 responden dan ditunjukan pada tabel 10 berikut ini:

Tabel 10

Uji Validitas Keseluruhan Data

No.

Variabel

Kode Measurement

Standard Factor Loading

T-Values

Kesimpulan Validitas

FL ≥ 0.5

≥ 1.96

1.

Brand Awareness

BRA1

0,79

18.45

Valid

BRA2

0,77

17.80

Valid

BRA3

0,78

17.96

Valid

BRA4

0,71

15.67

Valid

BRA5

0,72

16.13

Valid

2.

Brand Association

BAS1

0,74

16.83

Valid

BAS2

0,75

17.06

Valid

BAS3

0,68

14.96

Valid

BAS4

0,72

16.08

Valid

BAS5

0,73

16.42

Valid

3.

Brand Engagement

BRE1

0,70

15.53

Valid

BRE2

0,69

15.02

Valid

BRE3

0,75

16.80

Valid

BRE4

0,75

16.80

Valid

4.

Brand Loyalty

BLY1

0,72

**

Valid

BLY2

0,75

14.32

Valid

BLY3

0,80

15.31

Valid

5.

Repurchase Intention

RPI1

0,71

**

Valid

RPI2

0,77

14.37

Valid

RPI3

0,80

14.81

Valid

*SLF = Standardized Loading Factors. Target SLF ≥ 0.70 atau 0.50

** = Ditetapkan secara default oleh LISREL, nilai-t tidak diestimasi. Target nilai t ≥ 1.96

Tabel 10 menyatakan bahwa seluruh variabel penelitian telah memenuhi syarat, dikarenakan memiliki nilai factor loading ≥ 0.5 dan memiliki nilai-t ≥ 1.96. Maka dari itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa validitas seluruh variabel teramati terhadap variabel latennya adalah baik.

Hasil Uji Reliabilitas Keseluruhan Data

Penelitian ini menggunakan dua cara untuk mengukur reliabilitas yakni, ukuran reliabilitas komposit (composite reliability measure) dimana nilai construct reliability ≥ 0.7 dan ukuran ekstrak varian (varian extracted measure) dimana nilai extracted variance ≥ 0.5.

Tabel 11

Kesimpulan dan Analisis Reliabilitas

Variabel

CR ≥ 0.70

VE ≥ 0.50

Kesimpulan Reliabilitas

Brand Awareness

0.869

0.570

Reliabel

Brand Association

0.847

0.527

Reliabel

Brand Engagement

0.813

0.521

Reliabel

Brand Loyalty

0.799

0.571

Reliabel

Repurchase Intention

0.806

0.581

Reliabel

 

Dari tabel 11 semua nilai construct reliability (CR) lebih besar dari 0.7, dan semua nilai variance extracted (VE) lebih dari 0.5, sehingga semua variabel layak untuk digunakan pada penelitian selanjutnya.

Hasil Analisis Model Struktural

Model struktural memiliki tujuan untuk memperlihatkan keterkaitan antar variabel yang sesuai dengan model penelitian. Berdasarkan hasil perhitungan SEM dengan menggunakan Lisrel Version 8.80 yang terdapat pada lampiran. Pada penelitian ini, ketika hendak menentukan kriteria pengujian model struktural, maka perlu dilakukan perbandingan antara nilai t-value dengan t-tabel.

Tabel 12

Hasil Analisis Model Struktural

Hipotesis

Path

Estimasi

Nilai

t-value

Nilai

t-tabel

Kesimpulan

1

Brand Awareness → Brand Loyalty

0.26

2.58

1.96

Data mendukung H1

2

Brand Association→ Brand Loyalty

0.03

0.19

1.96

Data tidak mendukung H2

3

Brand Engagement→Brand Loyalty

0.67

4.08

1.96

Data mendukung H3

4

Brand Loyalty→ Repurchase Intention

0.95

13.00

1.96

Data mendukung H4

Pengaruh Brand Awareness terhadap Brand Loyalty

����������� Pada hasil perhitungan model struktural untuk hipotesis satu, menunjukkan nilai t-value sebesar 2.58, nilai tersebut lebih besar dari pada nilai t-tabel sebesar 1.96, maka secara signifikan data pada penelitian ini mendukung pernyataan bahwa terdapat pengaruh positif antara Brand Awareness terhadap Brand Loyalty. Hipotesis satu ingin menguji pengaruh Brand Awareness terhadap Brand Loyalty. Maka dari itu hipotesis penelitian (H1) tertulis sebagai berikut:

H1: �� Brand Awareness memiliki pengaruh positif terhadap Brand Loyalty

��������� Hasil uji model struktural menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif antara brand awareness terhadap brand loyalty. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Bilgin, 2018) dimana Hal yang membantu konsumen untuk membedakan merk dari sebuah produk diantara para kompetitor, memfasilitasi diferensiasi antar merk yang kompetitif ditunjukan dari merk Wafer Tango. (Aldhama, 2022) juga menyatakan bahwa brand awareness memberikan pengaruh positif terhadap brand loyalty.Maka dari itu, dapat dipastikan bahwa brand awareness memiliki pengaruh yang positif terhadap brand loyalty.

Pengaruh Brand Association terhadap Brand Loyalty

����������� Pada hasil perhitungan model struktural untuk hipotesis dua, menunjukkan nilai t-value sebesar 0.19, nilai tersebut lebih kecil dari pada nilai t-tabel sebesar 1.96, maka secara signifikan data pada penelitian ini tidak mendukung penyataan bahwa terdapat pengaruh positif antara Brand Association dengan Brand Loyalty. Hipotesis dua ingin menguji pengaruh Brand Association terhadap Brand Loyalty. Maka dari itu, hipotesis penelitian (H2) tertulis sebagai berikut:

H2:����� Brand Association tidak memiliki pengaruh terhadap Advertising Value.

Hasil uji model struktural menunjukkan bahwa brand association tidak memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap brand loyalty. Hal tersebut sesuai dengan temuan atas studi yang dilakukan oleh Aaker dalam (Sinha & Verma, 2020) dimana brand association adalah informasi tentang merk yang terdapat dalam benak konsumen baik positif ataupun negatif, yang terhubung kepada pikiran atau memori konsumen. Dalam hal ini informasi yang didapatkan oleh konsumen terhadap sebuah merk tidak menentukan bahwa konsumen akan setia terhadap sebuah merk.

Pengaruh Brand Engagement terhadap Brand Loyalty

����������� Pada hasil perhitungan model struktural untuk hipotesis tiga, menunjukkan nilai t-value sebesar 4.08, nilai tersebut lebih besar dari pada nilai t-tabel sebesar 1.96, maka secara signifikan data pada penelitian ini, mendukung penyataan bahwa terdapat pengaruh negatif antara Brand Engagement terhadap Brand Loyalty. Hipotesis tiga ingin menguji pengaruh Brand Engagement terhadap Brand Loyalty. Maka dari itu hipotesis penelitian (H3) tertulis sebagai berikut:

H3:����� Brand Engagement memiliki pengaruh positif terhadap Brand Loyalty.

��������� Hasil uji model struktural menunjukan bahwa terdapat pengaruh antara brand engagement terhadap brand loyalty. Hal ini dikarenakan sebuah merk memiliki sifat kognitif, afektif dan perilaku yang tertanam dalam sebuah interaksi dengan konsumen tertentu yang menghibur dan dapat menarik perhatian pelanggan sehingga memiliki pengaruh positif terhadap loyalitas terhadap merk (Jitender Kumar & Nayak, 2019). Ismail et al. (2019) juga menyatakan bahwa brand engagement memiliki pengaruh yang positif terhadap tingkat brand loyalty sebuah merk.

 

Pengaruh Brand Loyalty terhadap Repurchase Intention

����������� Pada hasil perhitungan model struktural untuk hipotesis empat menunjukkan nilai t-value sebesar 13.00. Nilai tersebut lebih besar dari pada nilai�� t-tabel sebesar 1.96, maka secara signifikan data pada penelitian ini mendukung penyataan bahwa terdapat pengaruh positif antara Brand Loyalty terhadap Repurchase Intention. Maka dari itu hipotesis penelitian (H4) tertulis sebagai berikut:

H4:����� Brand Loyalty memiliki pengaruh positif terhadap Repurchase Intention

Hasil uji model struktural menunjukan bahwa terdapat pengaruh antara brand loyalty terhadap repurchase Intention. Hal ini dikemukakan melalui (Pee, Jiang, & Klein, 2018) dimana mereka menyatakan bahwa brand loyalty memberikan pengaruh kepada niat konsumen untuk membeli sebuah produk atau layanan tertentu berulang kali. Penelitian dari (Filieri et al., 2017) juga memberikan pernyataan bahwa brand loyalty memiliki pengaruh yang positif terhadap repurchase intention dari pelanggan akan sebuah produk atau jasa. Maka dari itu dapat dikonfirmasi bahwa brand loyalty memiliki pengaruh yang positif terhadap repurchase Intention.

 

Kesimpulan

Hasil analisis data dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) menunjukkan data pada penelitian ini semuanya memiliki kecocokan dengan model penelitian yang diajukan dan untuk model pengukuran seluruh indikator memiliki kriteria yang valid dan memiliki reliabilitas atau konsistensi pengukuran yang acceptable. Melalui model, tingkat Goodness of Fit juga telah dicapai oleh setiap variable. Maka hasil data penelitian valid dan reliabel sehingga penelitian dapat dilanjutkan.

Dari empat variable independent, yang berpengaruh adalah variable Branf Awareness dan Brand Engagement secara signfikan pada Brand Loyalty yang juga berpengaruh signifikan pada Repurchase Intention.Variable Brand Association tidak memiliki pengaruh terhadap Brand Loyalty sehingga hasil uji Hipotesis tidak didukung oleh hasil penelitian untuk variable teresebut.

Brand Awareness memiliki pengaruh positif terhadap Brand Loyalty Hal ini menunjukan jika pengguna Instagram mengenal merk Wafer Tango melalui konten Instagram merk dan setia terhadap merk Wafer Tango. Brand Association tidak memiliki pengaruh terhadap Brand Loyalty. Hal ini menunjukan jika pengguna Instagram tidak memiliki kesetiaan kepada merk meski memiliki rasa relevansi dan terasosiasi dengan konten Instagram Wafer Tango.Brand Engagement memiliki pengaruh positif terhadap Brand Loyalty. Hal ini menunjukkan jika pengguna Instagram berinteraksi dengan merk Wafer Tango sehingga menimbulkan rasa kesetiaan terhadap merk Wafer Tango.Brand Loyalty memiliki pengaruh positif terhadap Repurchase Intention. Hal ini menunjukkan jika kesetiaan pada merk Wafer Tango akan meyakinkan konsumen untuk selalu membeli dan mengonsumsi produk Wafer Tango dan bukan merk wafer yang lain.

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

Aldhama, Muhammad Daffa. (2022). Pengaruh Brand Experience, Brand Commitment, Brand Trust, Dan Brand Image Terhadap Brand Loyalty Pada Pengguna Smartphone Samsung Di Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 

Bilgili, Bilsen, & Ozkul, Emrah. (2015). Brand awareness, brand personality, brand loyalty and consumer satisfaction relations in brand positioning strategies (A Torku brand sample). Journal of Global Strategic Management| Volume, 9(2), 10�20460.

 

Bilgin, Yusuf. (2018). The effect of social media marketing activities on brand awareness, brand image and brand loyalty. Business & Management Studies: An International Journal, 6(1), 128�148. https://doi.org/10.15295/bmij.v6i1.229

 

Birks, David F., & Malhotra, Naresh K. (2012). Marketing Research: an applied approach. Pearson Education UK England.

 

Farrell, Andrew M., & Rudd, John M. (2009). Factor analysis and discriminant validity: A brief review of some practical issues. Anzmac.

 

Filieri, Raffaele, Chen, Wenshin, & Lal Dey, Bidit. (2017). The importance of enhancing, maintaining and saving face in smartphone repurchase intentions of Chinese early adopters: an exploratory study. Information Technology & People, 30(3), 629�652. https://doi.org/10.1108/ITP-09-2015-0230

 

Gunawan, Imam. (2022). Metode Penelitian Kualitatif: teori dan praktik. Bumi Aksara.

 

Hair Jr, J. F., Black, W. C., Babin, B. J., & Anderson, R. E. (2010). Multivariate Data Analysis: A Global Perspective, Prentice Hall and Pearson, Upper Saddle River, NJ.

 

Kenton, Will. (2020). Why Fast-Moving Consumer Goods Matter. Investopedia, Https://Www. Investopedia. Com/Terms/f/Fastmoving-Consumer-Goods-Fmcg. Asp.

 

Kumar, Jitender, & Nayak, Jogendra Kumar. (2019). Brand engagement without brand ownership: a case of non-brand owner community members. Journal of Product & Brand Management.

 

Kumar, Vita, Aksoy, Lerzan, Donkers, Bas, Venkatesan, Rajkumar, Wiesel, Thorsten, & Tillmanns, Sebastian. (2010). Undervalued or overvalued customers: Capturing total customer engagement value. Journal of Service Research, 13(3), 297�310.

 

Lester, David. (2013). Measuring Maslow�s hierarchy of needs. Psychological Reports, 113(1), 15�17.

 

Littlejohn, Stephen W., & Foss, Karen A. (2010). Theories of human communication. Waveland press.

 

Malhotra, Manoj K., & Grover, Varun. (1998). An assessment of survey research in POM: from constructs to theory. Journal of Operations Management, 16(4), 407�425. https://doi.org/10.1016/S0272-6963(98)00021-7

 

Maslow, Abraham Harold. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370.

 

Pee, Loo Geok, Jiang, James, & Klein, Gary. (2018). Signaling effect of website usability on repurchase intention. International Journal of Information Management, 39, 228�241. https://doi.org/10.1016/j.ijinfomgt.2017.12.010

 

Setiawaty, Melisa. (2015). Penggunaan Maudy Koesnaedi Sebagai Celebrity Endorser Dalam Iklan Televisi L�oreal Fall Repair 3x Terhadap Brand Image L�oreal Di Surabaya. Jurnal E-Komunikasi, 3(1).

 

Sinha, Somesh Kumar, & Verma, Priyanka. (2020). Impact of sales promotion�s benefits on perceived value: does product category moderate the results? Journal of Retailing and Consumer Services, 52, 101887.

 

Soetanto, Jeffrey. (2017). Pengaruh kepercayaan, kemudahan, kualitas informasi dan persepsi resiko terhadap keputusan pembelian melalui Situs Jejaring Sosial di Semarang. Unika Soegijapranata Semarang.

 

Subkoviak, Michael J. (1976). Estimating reliability from a single administration of a criterion-referenced test. Journal of Educational Measurement, 265�276.

 

Van Dierendonck, Dirk, & Nuijten, Inge. (2011). The servant leadership survey: Development and validation of a multidimensional measure. Journal of Business and Psychology, 26, 249�267. https://doi.org/10.1007/s10869-010-9194-1

 

Yoo, Jungmin. (2020). The effects of perceived quality of augmented reality in mobile commerce�An application of the information systems success model. Informatics, 7(2), 14. MDPI.

 

Copyright holder:

Gregorius Rivaldo, Amia Luthfia, Arisa Maharani Melati Dewi, Z. Hidayat, Lia Octavia, Muhammad Aras (2023)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: