Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p�ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 8, No. 5, Mei 2023

 

RESILIENSI MASYARAKAT PENYINTAS BENCANA ALAM DI DESA TOMPE KECAMATAN SIRENJA KABUPATEN DONGGALA

 

Mohammad Aksyar, Suparman Abdullah, Sakaria Anwar

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin Makassar, Indonesia

Email: [email protected]

 

Abstrak

Banyaknya jumlah korban jiwa, dan kerusakan infrastruktur yang hancur akibat bencana alam gempa dan tsunami pada tahun 2018 silam. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kemampuan resiliensi untuk dapat hidup kembali seperti sebelum mengalami bencana alam. Sehingga dapat membagun dan meningkatkan potensi ketahanan dalam masyarakat penyintas bencana alam. Penelitian ini hadir untuk menganalisis bagaimana proses resiliensi masyarakat penyintas bencana alam di Desa Tompe Kecamatan SIRENJA Kabupaten Donggala. Penelitian ini menggunakan� metode� kualitatif� dengan�� analisis�� studi�� kasus.�� Sumber data�� dibagi�� menjadi�� dua kategori, yaitu� sumber� primer dan� sekunder. Teknik� pengumpulan� data� yang digunakan dalam penelitian� ini yaitu,� wawancara mendalam, orbservasi,�� dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah� reduksi� data,� penyajian data atau display,� dan penarikan� kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa proses resiliensi masyarakat penyintas bencana alam sudah terbentuk, Namun mengalami kesulitan disebabkan ketidakmampuan masyarakat penyintas bencana alam dalam beradaptasi maupun menyesuaikan dengan mata pencaharian yang baru dan keterbatasannya sumber daya alam yang tersisah pasca bencana alam gempa dan tsunami terjadi.

 

Kata Kunci: resiliensi; masyarakat penyintas bencana alam

 

Abstract

The large number of victims, and damage to infrastructure destroyed by the earthquake and tsunami natural disasters in 2018. In this case resilience skills are needed to be able to live again as before experiencing a natural disaster. So that it can build and increase the potential for resilience in communities of natural disaster survivors. This research is present to analyze how the resilience process of natural disaster survivors in Tompe Village, SIRENJA District, Donggala Regency. This study uses qualitative methods with case study analysis. Data sources are divided into two categories, namely primary and secondary sources. Data collection techniques used in this study are in-depth interviews, observation, documentation. The data analysis technique used is data reduction, data presentation or display, and drawing conclusions. The results of this study indicate that the process of resilience for natural disaster survivors has been formed, but experiencing difficulties due to the inability of natural disaster survivors to adapt or adjust to new livelihoods and limited natural resources remaining after the earthquake and tsunami natural disasters occurred.

 

Keywords: resilience; natural disaster survivors

 

Pendahuluan

Bencana alam merupakan peristiwa alam yang dapat mengakibatkan kerusakan atau bahkan memusnahkan makhluk hidup. Bencana alam sendiri dapat terjadi karena faktor perubahan dari alam itu sendiri atau bahkan akibat dari ulah manusia. Bencana alam dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, baik itu fisik maupun mental. Kerugian yang ditimbulkan oleh bencana alam diantaranya banyakanya korban jiwa, hilangnya harta benda, rusaknya lingkungan, dan musnahnya ekosistem. Selain itu bencana juga dapat menimbulkan kemiskinan dan pengangguran (Alma, 2010).

Resiliensi merupakan kemampuan sebuah sistem, komunitas atau masyarakat yang terdampak oleh bencana untuk melawan, menyerap, mengakomodasi dan memulihkan diri dari dampak suatu bahaya secara cepat dan efisien, termasuk melestarikan dan memulihkan struktur dan fungsi dasar yang penting sebagai upaya manajemen Resiko bencana (Medina & Santoso, 2019). Sehingga resiliensi mengacu pada tanggapan inheren dan adaptif terhadap bencana yang memungkinkan masyarakat untuk mengurangi atau menghindari kerugian (Rose, 2004). Konsep ini dianggap lebih efektif dan memiliki prespektif jangka panjang sehingga dapat menciptakan pembangunan yang berkelajutan. Sehingga, prinsip pengurangan Resiko bencana saat ini, lebih ditekankan pada upaya peningkatan terhadap resiliensi bencana, baik di tingkat individu, komunitas, dan secara global.

Salah satu peristiwa bencana alam yang perna terjadi dengan dahsyat diwilayah Indonesia tepatnya di Sulawesi Tengah yaitu Kota Palu dan donggala berupa gempa, tsunami, dan likufaksi pada Jumat, 28 September 2018. Gempa bumi berkekuatan 7,4 SR dengan kedalaman 11 km terjadi pada episenter yang terletak pada koordinat 0,180 LS dan 119,850 BT berada di Donggala Sulawesi Tengah dengan pusat gempa berada pada 10 km timur laut. Gempa bumi memicu tsunami disepanjang pesisir Kota Palu dan Kabupaten Donggala salah satunya adalah Kecamatan Sirenja di Desa Tompe (Thahir, 2019).

Selain banyaknya jumlah korban jiwa, juga berimbas pada banyaknya kerusakan bangunan dan infrastruktur yang hancur akibat bencana alam gempa, tsunami, dan likufaksi. Kerusakan tersebut meliputi 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, jembatan 7 unit dan sebagainya (Rosyida & Nurmasari, 2019). Pada UU No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana menjelaskan bahwa dalam manajemen penanggulangan bencana, terbagi menjadi tiga tahapan, yakni manajemen risiko bencana, manajemen kedaruratan, dan manajemen pemulihan. Pada tahapan manajemen pemulihan, inilah pentingnya proses pengembalian kondisi yang rusak baik secara fisik maupun psikologis dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada.

Upaya untuk membangun proses pemulihan dalam meningkatkan potensi ketahanan pada masyarakat, maupun mengatasi segala dampak perubahan yang ditimbulkan oleh bencana alam tsunami maupun gempa, dalam hal ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan potensi ketahanan dalam masyarakat tersebut dinamakan adanya resiliensi pada masyarakat. Resiliensi merupakan hal yang penting bagi penyintas bencana untuk dapat hidup kembali seperti sebelum mengalami bencana. Resiliensi ditentukan beberapa faktor yang merupakan interaksi antara faktor personal yaitu kemampuan individu dalam menghadapi kondisi tidak menyenangkan dan kembali ke kondisi yang lebih baik serta faktor eksternal yaitu ada tidaknya dukungan sosial, fasilitas, dan konstruksi resiliensi secara sosial (Suryadi, n.d.).

Penelitian ini hadir untuk mencoba menganalisis bagaimana proses resiliensi masyarakat penyintas bencana alam di desa tompe kecamatan SIRENJA kabupaten donggala.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dengan dasar penelitian studi kasus, untuk memahami secara mendalam Resiliensi Masyarakat Penyintas Bencana Alam Di Desa Tompe Kecamatan SIRENJA Kabupaten Donggala. Dalam studi kasus peneliti menjelaskan secara mendalam, Jadi studi kasus merupakan penelitian yang mempelajari secara intensif atau mendalam satu anggota dari kelompok sasaran suatu subjek penelitian. Defenisi lain mengatakan bahwa studi kasus merupakan suatu kajian yang rinci tentang satu latar, atau subjek tunggal, atau satu tempat penyimpanan dokumen atau suatu peristiwa tertentu (Hapudin, 2019).

Informan penelitian adalah individu atau kelompok yang menjadi sumber data dalam penelitian kualitatif yang dinilai dapat menyediakan informasi yang diperlukan dalam tujuan penelitian. Ada beberapa cara dalam menentukan informan penelitian. Penentuan informan dalam penelitian ini mengikuti prosedur purposif, yakni menentukan terlebih dahulu kelompok peserta yang akan dijadikan informan, tentu dengan memenuhi kriteria-kriteria yang telah disesuaikan dengan tujuan penelitian (Sayidah, 2018:143).

Sesuai dengan judul dan tujuan penelitian ini maka kriteria informan yang dipakai dalam penelitian ini yakni informan yang merupakan masyarakat penyintas bencana alam. Informan yang dibutuhkan dalam penelitian ini terbagi tiga kategori: pertama, informan dari perwakilan masyarakat penyintas bencana yang terdiri dari sektor pertanian, sektor peternakan dan sektor perikanan. Kedua, yaitu pemerintah desa. Informal penelitian ini berjumlah 10 orang yang terdiri dari masyarakat penyintas bencana alam 6 orang, pemerintah desa 4 orang.

Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua macam kategori:�� primer�� dan� skunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan� dalam penelitian� ini yaitu,� 1. Wawancara mendalam, 2. Orbservasi,�� 3.�� Dokumentasi.�� Sedang�� teknik�� analisis�� data� yang digunakan�� adalah� reduksi� data,� penyajian�� data� atau� display,� dan penarikan��� kesimpulan. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tompe Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah.

Hasil dan Pembahasan

1.   Proses Resiliensi Masyarakat Penyintas Bencana Alam di Desa Tompe

Resiliensi pada masyarakat penyintas bencana alam merupakan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dan pulih dari dampak terburuk dengan memanfaatkan sumber daya lokal mereka saat pra-bencana, bencana, dan pasca bencana (Arif, 2018). Dalam proses resiliensi pada masyarakat penyintas bencana alam di desa Tompe Kabupaten Donggala memilki sumber daya lokal yang sangat terbatas akibat kerusakan pasca bencana terjadi ditahun 2018 yang mengalami tsunami dan gempa. Desa Tompe juga daerah yang paling terdampak dan menjadi pusat bencana alam gempa dan tsunami di Daerah Kabupaten Donggala. Hal tersebut membuat masyarakat penyintas bencana alam desa Tompe mengalami kesulitan dalam proses resiliensi� serta kemampuan untuk� menyesuaikan� dari dampak bencana alam. �Pada awal pasca bencana terjadi tahun 2018 lalu, kami masyarakat disini sangat kesulitan untuk bangkit pak, apalagi pak secara ekonomi karena hampir semua aset-aset lahan mata pencaharian kami itu hilang akibat gempa dan tsunami yang terjadi pak, Jadi memang kami ini agak lambat untuk bisa pulih pak kemarin, apalagi kemarin itu kami berusaha bekerja dengan pekerjaan baru� (Wawancara bersama informan H, tanggal 25 Juli 2022).

Mata pencaharian masyarakat desa tompe yang merupakan salah satu sektor yang terdampak langsung dari kejadian bencana gempa bumi, tsunami di Kabupaten Donggala. Masyarakat penyintas bencana yang terdampak kehilangan mata pencaharian dan aset-aset mata pencaharia. Untuk membangun kembali ketahanan pangan masyarakat terdampak dan mewujudkan kembali mata pencaharian tersebut, Lembaga Human Initiative dengan dukungan dari Oxfam di Indonesia menyelenggarakan Program Pemulihan dan Peningkatan Mata Pencaharian melalui sumber daya lokal yang masih ada. Sehingga sebagaian masyarakat penyintas bencana alam, memulai dari awal untuk mencari mata pencaharian yang baru. Jadi disini pasca bencana itu, pak, hampir semua memulai dari awal untuk mata pencaharian kami pak, karena ada yang hilang semua asetnya, ada juga sudah tidak bisa digunakan asetnya seperti lahan sawahnya pak, � (Wawancara bersama informan H, tanggal 25 Juli 2022).

Merujuk pandangan menjelaskan bahwa dari sumber daya yang bisa digunakan oleh masyarakat merupakan sebagai kapasitas adaptasi untuk bertahan di antaranya keterhubungan antara orang dengan tempat tinggal, nilai dan terbuka. Kemampuan masyarakat penyintas bencana alam desa tompe dalam kepercayaan, ilmu pengetahuan, keterampilan, jaringan sosial, keterlibatan pemerintah (termasuk kolaborasi antarinstitusi), inovasi ekonomi, infrastruktur, dan pikiran yang beradaptasi dengan lingkungan sumber daya lokal yang masih ada, sangat mempengaruhi proses resiliensi pasca bencana alam terjadi. �Untuk pemulihan mata pencaharian masyarakat penyintas bencana itu, yang paling berpengaruh itu pak, dukungan dari masyarakat itu sendiri untuk bangkit dan mau menyesuaikan dari kondisi yang tidak punya apa-apa, berusaha untuk bangkit kembali mencari mata pencahrian baru dengan melibatkan dan mengandalkan berbagai macam sumber daya yang ada baik dari bantuan pemerintah daerah, pemerinta desa serta lembaga Human Initiative lainnya� (Wawancara bersama informan H.H tanggal 27 Juli 2022).

Untuk menilai bahwa proses resiliensi masyarakat, yakni berdasarkan analisis ketahanan sumber daya (resources robustness) dan kapasitas adaptif (adaptive capacity). Ketahanan sumber daya (resources robustness) adalah faktor penting yang menentukan resiliensi masyarakat, yaitu seberapa jauh masyarakat mampu memobilisasi sumber daya yang dimiliki untuk mengembalikan kehidupan seperti semula setelah mengalami guncangan akibat bencana. Upaya yang dapat dilakukan dapat berupa membangun dan merehabilitasi tempat pengungsian, mendukung institusi publik yang menyediakan pelayanan dasar serta meningkatkan akses terhadap lahan, dan fasilitas yang mendukung kelangsungan kegiatan mata pencaharian baik pertanian, peternakan maupun nelayan.

Proses adaptasi itu sendiri merupakan suatu proses dimana suatu kesatuan berubah dan membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan lingkungannya. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Adaptasi juga mempengaruhi pola pikir masyarakat serta kemampuan beradaptasi pada lingkungan fisik, ekonomi, budaya, maupun sosial. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara bersama informan A dengan mengatakan bahwa: �Kami ini masyarakat penyintas bencana kemarin, tentunya mengalami kesulitan juga pak, dengan memanfaatkan yang tersisah dari lahan tani sawah kami, dengan memanfaatkannya menjadi lahan untuk menanam palawija yang sebelumnya lahan petani sawah, dengan adanya bantuan modal untuk beli bibit dari lembaga Human Initiative bisa lah membantu kami untuk bisa kembali menggarap lahan kami yang tersisah bencana� (Wawancara bersama Informan A. tanggal 28 Juli 2022).

Suatu resiliensi masyarakat penyintas bencana alam sangat dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi suatu masyarakat terhadap lingkungan fisik, ekonomi maupun lingkungan sosialnya. Dalam lingkungan fisik, seperti rumah, lahan pertanian dan aset mata pencaharian lainnya yang membutuhkan kemampuan adaptasi masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya yang masih ada dan membangun hubungan kerja sama dari berbagai stakeholder yang saling menguntungkan. �Pada awal pasca bencana terjadi tahun 2018 lalu, kami masyarakat disini sangat kesulitan untuk bangkit secara ekonomi karena hampir semua aset-aset lahan mata pencaharian kami itu hilang akibat gempa dan tsunami jadi kami ini agak lambat untuk bisa pulih pak kemarin, apalagi kemarin itu kami berusaha bekerja dengan pekerjaan baru kami pak� (Wawancara bersama informan H, tanggal 25 Juli 2022).

Mata pencaharian masyarakat desa tompe yang merupakan salah satu sektor yang terdampak langsung dari kejadian bencana gempa bumi, tsunami di Kabupaten Donggala. Masyarakat penyintas bencana yang terdampak kehilangan mata pencaharian dan aset-aset ekonomi. Untuk membangun kembali ketahanan pangan masyarakat terdampak dan mewujudkan kembali mata pencaharian tersebut, Kemampuan masyarakat penyintas bencana alam desa tompe dalam penyesuaian dengan lingkungan sumber daya lokal yang masih ada sangat mempengaruhi proses resiliensi pasca bencana alam terjadi.) Berdasarkan Hasil wawancara diatas, menunjukan bahwa kemampuan masyarakat penyintas bencana alam desa tompe mengalami kesulitan dalam menyesuaikan perubahan mata pencaharian ketikan pasca bencana alam terjadi.

2.   Tahapan Resiliensi Masyarakat Penyintas Bencana Alam Di Desa Tompe

O�Leary dkk dalam (Coulson, 2006) menyebutkan empat tahapan yang terjadi ketika seseorang mengalami situasi dari kondisi yang menekan (significant adversity) antara lain yaitu: Menyerah, Bertahan, Pemulihan dan Berkembang pesat. Pada masyarkat penyintas bencana alam di desa tompe telah melalui tahapan demi tahapan, baik itu dalam tahapan kondisi menyerah, bertahan dan kondisi pemulihan dalam proses resiliensi. �Kalau setelah bencana alam yang menimpah kami pak, kami ini baru bisa pulih kembali, setelah adanya berbagai macam bantuan pak, baik itu pemerintah maupun bantuan dari lembaga kemanusiaan, apalagi dengan bantuan Lembaga Human initiative sudah sangat membantu pemulihan ekonomi mata pencaharian kami disini pak, setidaknya kami ini sudah bisa pulihlah ekonomi kami pak. (Wawancara dengan informan A.A tanggal 26 Juli 2022) Hasil wawancara bersama A.A menjelaskan bahwa untuk tahapan pada resiliensi masyarakat penyintas bencana alam dengan adanya bantuan program dari lembaga Human Initiative hanya dapat memulihkan kembali mata pencaharian masyarakat.

Tahapan dalam proses resiliensi para penyintas bencana alam, hanya berada pada tahapan pemulihan dengan adanya bantuan yang diberikan Lembaga Human Initiative. Hal tersebut belum mencapai tahapan resiliensi pada tahapan yaitu berkembang pesat, yang menurut O�Leary dan Icko vics dalam (Coulson, 2006) menyebutkan empat tahapan yang terjadi ketika seseorang mengalami situasi dari kondisi yang menekan (significant adversity) antara lain yaitu: menyerah, bertahan, pemulihan dan berkembang pesat. "Sebenarnya, kalau dilihat juga hasil evaluasi program oleh internal Human Initiative dan Oxfam Indonesia kemarin, yah memang sih kondisi nya hanya bisa mengembalikan aset-aset mata pencaharian, apalagi para kelompok-kelompok nelayannya hanya bisa dapat memulihkan ekonomi saja pak" (Wawancara Bersama M. tanggala 9 Agustus 2022). Dikuatkan juga oleh hasil wawancara bersama informan M bahwa tahapan resiliensi atau tingkat ketahanan masyarakat penyintas bencana alam di desa tompe hanya dapat memulihkan kembali mata pencaharian ekonomi masyarakat yang bencana ini setelah kehilangan aset-aset mata pencahariannya pasca bencana alam.

3.   Kendala- Kendala Dalam Proses Resiliensi Masyarakat Penyintas Bencana Alam di Desa Tompe

Kendala-kendala dalam proses resiliensi terbagi menjadi dua yaitu kendala internal yang berasal dari dalam masyarakat penyintas bencana dan kendala eksternal yang berasal dari luar masyarakat penyintas bencana. Dalam kendala internal terdapat tiga yaitu pertama, semangat nilai gotong royong (Sintuvu) yang menurun disebabkan tingginya individualis atau mementingkan diri sendiri untuk bisa bertahan hidup pasca bencana. Kedua rendahnya partisipasi dan keterlibatan anggota kelompok usaha dalam mengikuti setiap kegiatan program pemulihan mata pencaharian yang tampaknya kurang menarik. Ketiga terjadinya konflik antar anggota kelompok usaha yang disebabkan oleh kecemburaan sosial adanya penggunaan aset-aset kelompok yang diberikan hanya didominasi oleh satu orang saja.

Adapun kendala eksternal terdapat tiga kendala yaitu : Pertama, adanya perubahan lingkungan alam akibat terjadinya bencana sehingga lahan sawah terendam air laut secara permanen, selain itu mengakibatkan juga para nelayan mengalami kesusahan dalam mencari ikan pasca bencana terjadi, para nelayan harus keluar jauh ketengah laut untuk bisa mendapatkan ikan. Kedua adanya keterbatasan Infrastruktur yaitu banyaknya infrastrktur jalan kantong kantong produksi pertanian yang rusak maupun hilang akibat dari bencana tsunami dan gempa, dan Ketiga yaitu kurangnya dukungan pemerintah daerah kabupaten donggala untuk mendampingi maupun pembinaan sudah tidak berlanjut. Hal ini yang mengakibatkan beberapa kelompok usaha program mata pencaharian disektor pertanian dan peternakan tidak berlanjut pasca program selesai.

Kesimpulan

Proses resiliensi masyarakat penyintas bencana alam melalui program mata pencaharian Human Initiative di Desa Tompe Kabupaten Donggala sudah terbentuk, namun mengalami kesulitan disebabkan ketidakmampuan masyarakat penyintas bencana alam dalam menyesuaikan mata pencaharian yang baru, sehingga masyarakat penyintas bencana alam belum dapat beradaptasi dalam proses resiliensi melalui program pemulihan mata pencaharian� lembaga human Initiative.

Kendala-kendala dalam proses resiliensi terbagi menjadi dua yaitu kendala internal yang berasal dari dalam masyarakat penyintas bencana dan kendala eksternal yang berasal dari luar masyarakat penyintas bencana. Dalam kendala internal terdapat tiga yaitu pertama, semangat nilai gotong royong (Sintuvu) yang menurun. Kedua rendahnya partisipasi. Ketiga terjadinya konflik antar anggota. Adapun kendala eksternal terdapat tiga kendala yaitu : Pertama, adanya perubahan lingkungan alam. Kedua adanya keterbatasan Infrastruktur. Ketiga yaitu kurangnya dukungan pemerintah daerah kabupaten donggala untuk mendampingi maupun pembinaan sudah tidak berlanjut.

Tahapan proses resiliensi masyarakat penyintas bencana alam hanya berada ditahapan pemulihan saja. Belum mampu menjadikan masyarakat penyintas bencana alam berada ditahapan resiliensi yang berkembang pesat (Thriving) pasca bencana alam. Adapun aspek yang mempengaruhi proses resiliensi penyintas bencana alam yaitu kemampuan terhadap kepercayaan diri sendiri untuk bisa bangkit, adanya bantuan modal aset oleh human initiative dan kemampuan untuk menjadikan nilai-nilai keimanan terhadap agama, sehingga menjadi spirit untuk bangkit dan dapat bertahan dari tekanan menghadapi bencana tsunami dan gempa tahun 2018.

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Alma, Buchari. (2010). Pembelajaran studi sosial. Bandung: Alfabeta.

Arif, Ahmad. (2018). Catatan Pemikiran dari Titik Nol Tsunami Aceh: Membangun Negeri Sadar Bencana. Syiah Kuala University Press.

Coulson, Ronaye. (2006). Resilience and self-talk in University Students. University of Calgary.

Hapudin, Muhammad Soleh. (2019). Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Pembangunan Budaya Sekolah (Culture School). Journal of Teaching Dan Learning Research, 1(2), 121�130.

Medina, Amalia, & Santoso, Eko Budi. (2019). Peningkatan Resiliensi Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Tingkat Kerugian Ekonomi di Kawasan Terdampak Kali Lamong Kabupaten Gresik (Increased Community Economic Resilience Based on the Level of Economic Losses in the Kali Lamong Affected Area in Gresik Regency). Jurnal Penataan Ruang, 14(1), 1�5.

Rose, Adam. (2004). Defining and measuring economic resilience to disasters. Disaster Prevention and Management: An International Journal, 13(4), 307�314.

Rosyida, Ainun, & Nurmasari, Ratih. (2019). Analisis Perbandingan Dampak Kejadian Bencana Hidrometeorologi dan Geologi di Indonesia Dilihat Dari Jumlah Korban (Studi: Data Kejadian Bencana Indonesia 2018). Jurnal Dialog Dan Penanggulangan Bencana, 10(1), 12�21.

Suryadi, Bambang. (n.d.). Hubungan antara pesiliensi dengan prestasi belajar anak binaa yayasan SMART Ekselensia Indonesia.

Thahir, Lukman S. (2019). Semua Di Luar Nalar: 7 Kisah Inspiratif Melawan Amarah Gempa & Tsunami Di Palu. Pustaka Harakatuna.

 

Copyright holder:

Mohammad Aksyar, Suparman Abdullah, Sakaria Anwar (2023)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: