Syntax Literate: Jurnal Ilmiah
Indonesia� p�ISSN: 2541-0849 e-ISSN:
2548-1398
Vol. 7, No. 11, November
2022
PENGETAHUAN, SIKAP, ZAT PENGAWET,
PEWARNA BERBAHAYA TERHADAP TINDAKAN SISWA DALAM PEMILIHAN JAJANAN DI SMP
Chatrine Virginia Tamara, Febriantika
Universitas
Nahdlatul Ulama Sumatera Utara, Indonesia
Email: [email protected],
[email protected]
Abstrak
Jajanan anak sekolah sangat beragam jenisnya, dapat
berupa makanan dan minuman. Kebiasaan orang tua yang tidak menyediakan bekal
dan memberi uang jajan kepada anak-anaknya sudah berlangsung sejak lama.
Meskipun di sekolah ada kantin sekolah, banyak anak-anak sekolah yang jajan
sembarangan dan membeli makanan dan minuman jajanan dari pedagang pangan
jajanan yang menjajakan dagangannya di sekitar sekolahnya. Sampai saat ini
tingkat keamanan jajanan anak sekolah memprihatinkan. Penyalahgunaan bahan
kimia berbahaya seperti formalin, boraks, rhodamin B, dan methanil yellow.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap
tentang zat pengawet dan pewarna berbahaya terhadap tindakan siswa kelas VIII
dalam pemilihan makanan jajanan di SMP Methodist Tanjung Morawa, 2016. Jenis
penelitian ini adalah observasional dengan desain cross sectional dan teknik
sampel yang digunakan dalam penelitian dengan jumlah sampel sebanyak 51 siswa
yang dipilih dengan cara systematic sampling. Data dikumpulkan melalui
wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakakan meliputi
analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi Square.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan pengetahuan tentang zat
pengawet dan pewarna berbahaya terhadap tindakan siswa kelas VIII dalam
pemilihan makanan jajanan di SMP Methodist Tanjung Morawa, 2016 dengan nilai p
0,024 dan adanya sikap tentang zat pengawet dan pewarna berbahaya terhadap
tindakan siswa kelas VIII dalam pemilihan makanan jajanan di SMP Methodist
Tanjung Morawa, 2016 dengan nilai p 0,002.
Kata Kunci: Jajanan; Pengetahuan; Sikap; Siswa;
Tindakan.
Abstract
School
children's snacks come in various kinds like food and beverages. Parents�
habit, not providing home made food and pockey money to their children, has
been going for a long time. Although school cafeteria is available, but many
school children carelessly buy food and beverage snacks from the hawkers out side the school. The safety level of the
snack sold outside the school was still low because of its dangerous chemical
contents such as formalin, borax, rhodamin B, and methanil yellow. The purpose
of this study was to determine the the correlation of knowledge and attitude
about the hazardous food additive and coloring towards the student behavior in
selecting snack in SMP Methodist Tanjung Morawa in 2016. This research used
observational method with cross sectional design and the samples were taken by
systematic sampling technique researching 51 students. The data were collected
through interviews and questionnaires. The data were analysed withunivariate
and bivariate analysis using Chi Square test. The result of this research
showed that there was a correlation between the knowledge about dangerous food
preservative and coloring to the action of VIII grader students when selection
the snak at SMP Methodist Tanjung Morawa, p value= 0,024 and the attitude
showed the valus of p = 0,002.
Keywords: Snack; Knowledge; Attitude;
Student; Behaviour.
Pendahuluan
Pangan jajanan merupakan salah satu jenis makanan yang sangat dikenal dan umum di masyarakat, terutama anak usia sekolah. Anak sekolah biasanya membeli pangan jajanan pada penjaja pangan jajanan di sekitar sekolah atau di kantin sekolah. Oleh karena itu, penjaja berperan penting dalam penyediaan pangan jajanan yang sehat dan bergizi serta terjamin keamanannya (Pratiwi et al., 2020). Anak-anak yang memakan jajanan akan mempunyai konstribusi energi 31%. Jadi 1/3 energinya ketika berada di sekolah didukung oleh makanan yang tidak sehat (Dini et al., 2017).
Ternyata makanan jajanan kaki lima menyumbang asupan energi bagi anak sekolah sebanyak 36%, protein 29% dan zat besi 52%. Akan, tetapi keamanan jajanan tersebut baik dari segi mikrobiologis maupun kimiawi masih dipertanyakan (Priawantiputri et al., 2019). Kebiasaan jajan makanan yang dijual bebas atau tersedia di kantin-kantin sekolah belum tentu memenuhi kebutuhan gizi seorang anak, dan bisa saja makanan yang dijual bebas tersebut belum tentu higienis atau bebas dari penyakit atau terdapat bahan-bahan pengawet makanan (Ratnawaty et al., 2022).
Anak sekolah yang mempunyai kebiasaan makan makanan jajanan, cenderung menjadi budaya dalam keluarga, dalam hal ini berarti kebiasaan anak yang suka jajan makanan salah satu faktor dari keluarga yang mungkin membiasakan atau secara tak langsung mengajarkan anaknya sendiri gemar jajan karena pemberian uang jajan yang berlebihan (Wahyuningsih & Nurhidayah, 2021). Faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi pemilihan makanan jajanan meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal mencakup pengetahuan khususnya pengetahuan gizi, kecerdasan, persepsi, emosi sedangkan faktor eksternal adalah lingkungan, kebudayaan dan motivasi dari luar (Anjani et al., 2021).
Jajanan anak sekolah sangat beragam jenisnya, dapat berupa makanan dan minuman. Kebiasaan orang tua yang tidak menyediakan bekal dan memberi uang jajan kepada anak-anaknya sudah berlangsung sejak lama. Meskipun di sekolah ada kantin sekolah, banyak anak-anak sekolah yang jajan sembarangan dan membeli makanan dan minuman jajanan dari pedagang pangan jajanan yang menjajakan dagangannya di sekitar sekolahnya. Sampai saat ini tingkat keamanan pangan jajanan anak sekolah memprihatinkan. Penyalahgunaan bahan kimia berbahaya seperti formalin dan rhodamin B (Makanan, 2008).
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 239/MENKES/PER/V/1985 menyatakan bahwa zat pewarna seperti: rhodamin B, dengan nomor indeks warna 45170 dan methanil yellow dinyatakan sebagai bahan berbahaya (Permatahati & Yanti, 2021). Pemerintah sudah mengeluarkan larangan penggunaan bahan-bahan tertentu dalam makanan, seperti pewarna tekstil rodamin, pengawet boraks, formalin, atau melamin.� Lalu pemanis buatan siklamat dan sakarin atau bahan pengawet yang melebihi ambang batas juga dilarang. Peraturan Pemerintah yang memuat tentang bahan tambahan pangan antara lain: Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 033 tahun 2012 tentang Bahan Tambahan� Pangan� dalam� peraturan tersebut dijelaskan mengenai 27 jenis bahan tambahan pangan yang diperbolehkan dan peraturan ini� juga� disebutkan� bahan-bahan� yang dilarang� pemakaiannya� dalam� makanan (Nainggolan, 2018).
Pada bulan November 2005, Badan POM menguji makanan jajanan pada 195 sekolah dasar di 18 provinsi. Dari sampel yang diuji yakni: es sirup/ es cendol, minuman ringan, kue, makanan gorengan, kerupuk, dan saus ternyata mengandung rhodamin B (Yuliarti, 2007).
Sementara tahun 2007, Badan POM beserta ke 26 balai POM seluruh provinsi kembali melakukan survei, dari 2000 makanan yang disurvei di lingkungan sekolah, 45% tercemar bahaya pangan yakni: formalin, boraks, dan pewarna tekstil. Wujud fisik makanan berbahaya yang ditemukan disekolah umumnya bentuk bakso, sosis, sirup, kerupuk, dan makanan ringan (Sary et al., 2020).
Terdapat adanya hubungan antara pengetahuan dan sikap mengenai pemilihan makanan jajanan dengan perilaku anak memilih jajanan di SDN Sambikerep II/480 Surabaya. Sedangkan, di SMP Islam kota Malang pengetahuan siswa SMP tentang bahaya akibat mengkonsumsi makanan yang mengandung zat pengawet dan pewarna berbahaya paling banyak berpengetahuan sangat baik yaitu 70%. Pada penelitian (Susiyawati, 2013)
SMP Methodist Tanjung Morawa merupakan Sekolah Menengah Pertama yang terletak di pusat kota Tanjung Morawa, sehingga akses terhadap makanan jajanan sangat mudah. SMP Methodist juga menerapkan kedisiplinan pada murid-muridnya antara lain: tidak boleh terlambat datang ke sekolah, selama proses belajar mengajar murid dilarang keluar kelas kecuali olahraga dan ke kamar mandi, murid dilarang jajan di luar pagar sekolah melainkan jajan dikantin atau membawa bekal sendiri, dan murid diperbolehkan jajan diluar pagar sekolah ketika jam proses belajar telah selesai (pulang sekolah). Berdasarkan survei yang dilakukan pada tanggal 13 September 2016 dan 03 Oktober 2016 di SMP Methodist Tanjung Morawa bahwa sekolah tersebut menjual makanan yang sehat dikantin seperti: nasi goreng + telur dadar, lontong sayur, nasi gurih + sambal tempe dan teri, rujak, dan aqua. Sedangkan diluar pagar sekolah, terdapat 4 orang pedagang menjual makanan jajanan dan minuman jajanan yang tidak sehat antara lain, bakso bakar, sosis tanpa merek dan saus tanpa merek, permen, makanan kemasan (snack), minuman tanpa merek, dan gorengan. Makanan jajanan tersebut dikatakan tidak sehat karena umumnya makanan jajanan yang dijual di sekolah tersebut tidak ada label, sehingga dikhawatirkan mengandung bahan yang dapat berbahaya bagi kesehatan.�
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti ingin
mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap pada zat pengawet dan pewarna
berbahaya terhadap tindakan siswa kelas VIII dalam pemilihan makanan jajanan di
SMP Methodist Tanjung Morawa, 2016.
Mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap tentang zat pengawet dan pewarna berbahaya terhadap tindakan siswa kelas VIII dalam pemilihan makanan jajanan di SMP Methodist Tanjung Morawa, 2016. Memberikan informasi kepada guru dan orangtua tentang tindakan siswa dalam pemilih makanan dan minuman jajanan.
�
Metode Penelitian
Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan observasional dan menggunakan desain cross sectional dimana variabel bebas (pengetahuan dan sikap tentang zat pengawet dan pewarna berbahaya pada pemilihan makanan) dan variabel terikat (tindakan siswa dalam pemilihan makanan jajanan sehat dan tidak sehat) dikumpulkan pada waktu bersamaan. Lokasi penelitian ini dilakukan di SMP Methodist Tanjung Morawa. Alasannya, berdasarkan survei pendahuluan banyak dijumpai penjual makanan jajanan yang tidak sehat di luar pagar sekolah dan menjual makanan yang sehat didalam kantin sekolah. Penjajakan lokasi dilakukan pada bulan September 2016 dan penelitian dilakukan dari bulan November 2016 � Juli 2017. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa/siswi kelas VIII di SMP Methodist Tanjung Morawa yang berjumlah 104 siswa.
Hasil dan Pembahasan
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa didirikan
pada tahun 1993 dengan luas tanah sebesar � 4.500 M� yang jumlah siswa
keseluruhan terdiri dari: laki-laki sebanyak 166 orang dan perempuan sebanyak
139 orang. SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa merupakan Sekolah Menengah
Pertama yang terletak di pusat kota Tanjung Morawa yang berada di Jl. Irian No.
239, Bandar Labuhan, Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, sehingga akses
terhadap makanan jajanan sangat mudah.
SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa menjual makanan
yang sehat dikantin seperti: nasi goreng + telur dadar, lontong sayur, nasi
gurih + sambal tempe dan teri, rujak, dan aqua. Sedangkan diluar pagar sekolah,
terdapat pedagang yang menjual makanan jajanan dan minuman jajanan yang tidak
sehat antara lain, bakso bakar, sosis tanpa merek dan saus tanpa merek, permen,
makanan kemasan (snack), minuman tanpa merek, dan gorengan. Makanan jajanan
tersebut dikatakan tidak sehat karena umumnya makanan jajanan yang dijual di
luar pagar sekolah tersebut tidak ada label, sehingga dikhawatirkan mengandung
bahan yang dapat berbahaya bagi kesehatan (Lampiran 10).
Karakteristik Siswa dan Orangtua
Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan
pengetahuan dan sikap tentang zat pengawet dan pewarna berbahaya terhadap
tindakan siswa kelas VIII dalam pemilihan makanan jajanan di SMP Methodist
Tanjung Morawa, 2016 didapatkan karakteristik umum subyek penelitian yang
ditunjukkan pada tabel dibawah ini:
Tabel 1
Karakteristik Sampel
Karakteristik |
Kategori |
Jumlah |
% |
Jenis Kelamin |
Laki-Laki |
30 |
58,8 |
|
Perempuan |
21 |
41,2 |
|
Total |
51 |
100 |
Umur |
13 tahun |
27 |
52,9 |
|
14 tahun |
22 |
43,1 |
|
15 tahun |
2 |
3,9 |
|
Total |
51 |
100 |
Pekerjaan
Orangtua |
Ibu Rumah Tangga |
5 |
9,8 |
|
Karyawan Swasta |
8 |
15,7 |
|
Petani |
3 |
5,9 |
|
PNS |
8 |
15,7 |
|
POLRI |
4 |
7,8 |
|
Wiraswasta |
23 |
45,1 |
|
Total |
51 |
100 |
Berdasarkan tabel 1, diketahui sebanyak 52,9%
berusia 13 tahun dan hanya 3,9% yang bersusia 15 tahun. Dari tabel tersebut,
siswa/i sampel laki-laki berjumlah 58,8% sedangkan perempuan berjumlah 41,2%
dan pekerjaan orangtua yang paling banyak adalah wiraswasta (45,1%) dan yang
paling sedikit adalah petani (5,9%).
Pengetahuan Dalam Pemilihan Makanan Jajanan
Berdasarkan hasil skoring dari jawaban
responden, maka pengetahuan dikategorikan kedalam 2 kategori yakni kategori
pengetahuan baik, dan kurang. Hasil pengukuran kategori dapat dilihat pada
tabel dibawah ini:
Tabel 2
Kategori Pengetahuan
Responden SMP Methodist Tanjung Morawa Tentang Zat Pengawet Dan Zat Pewarna
Berbahaya Dalam Pemilihan Makanan Jajanan
No |
Kategori Pengetahuan |
Jumlah Responden |
|
n� |
% |
||
1 |
Baik |
12 |
23,5 |
2 |
Kurang |
39 |
76,5 |
Total |
51 |
100 |
Tabel 2 menunjukkan bahwa lebih dari dua per
tiga (76,5%) siswa memiliki kategori pengetahuan kurang tentang zat pengawet
dan zat pewarna berbahaya dalam pemilihan makanan jajanan. Salah satu contoh
yaitu kebanyakan siswa menjawab bahwa zat pengawet adalah zat untuk mempercepat
kerusakan pada bahan makanan.
Sikap Dalam Pemilihan Makanan Jajanan
Tabel 3. Kategori Sikap Responden SMP Methodist
Tanjung Morawa Tentang Zat Pengawet Dan Zat Pewarna Berbahaya Dalam Pemilihan
Makanan Jajanan Berdasarkan hasil wawancara langsung kepada responden dengan menggunakan
alat bantu kuisioner, maka sikap dikelompokkan menjadi baik dan kurang.
Tabel 3
Kategori Sikap Responden SMP Methodist Tanjung Morawa Tentang Zat
Pengawet Dan Zat Pewarna Berbahaya Dalam Pemilihan Makanan Jajanan
No |
Katagori Sikap |
Jumlah Responden |
|
N |
% |
||
1 |
Baik |
21 |
41,2 |
2 |
Kurang |
30 |
58,8 |
Total |
51 |
100 |
Tabel 3 menunjukkan bahwa lebih dari setengah (58,8%) memiliki kategori sikap
kurang tentang zat pengawet dan zat pewarna berbahaya dalam pemilihan makanan
jajanan. Dimana sikap siswa setuju dalam memilih makanan jajanan yang warnanya
mencolok, walaupun siswa tersebut mengetahui makanan yang warnanya sangat
mencolok bisa saja mengandung zat pewarna berbahaya.
Tindakan Dalam Pemilihan Makanan Jajanan
Tabel 4
Kategori Tindakan
Responden SMP Methodist Tanjung Morawa Dalam Pemilihan Makanan Jajanan
No |
Kategori
Tindakan |
Jumlah Responden |
|
n� |
% |
||
1 |
Baik |
9 |
17,6 |
3 |
Kurang |
42 |
82,4 |
Total |
51 |
100 |
Tabel 4 menunjukkan bahwa mayoritas (82,4%)
siswa Methodist Tanjung Morawa� memiliki
tindakan yang kurang dalam pemilihan makanan jajanan. Siswa lebih banyak
memiliki tindakan kurang, karena siswa lebih suka membeli makanan jajanan
seperti, seperti bakso bakar yang menggunakan saus dibandingkan dengan makanan
yang mereka bawa sendiri dari rumah (bekal).
Hubungan Pengetahuan Tentang Zat Pengawet Dan Pewarna Berbahaya Dengan
Tindakan Siswa Kelas VIII Dalam Pemilihan Makanan Jajanan Di SMP Methodist
Tanjung Morawa.
Hasil analisis hubungan pengetahuan tentang zat
pengawet dan pewarna berbahaya dengan tindakan siswa kelas VIII dalam pemilihan
makanan jajanan di SMP Methodist Tanjung Morawa dapat dilihat pada tabel 7
berikut ini:
Tabel 5
Hubungan Pengetahuan
Tentang Zat Pengawet Dan Pewarna Berbahaya Dengan Tindakan Siswa Kelas VIII
Dalam Pemilihan Makanan Jajanan Di SMP Methodist Tanjung Morawa.
Pengetahuan |
Tindakan |
Total |
p value |
||||
Baik |
Kurang |
||||||
n |
% |
n |
% |
n |
% |
||
Baik |
2 |
41,7 |
10 |
58,3 |
12 |
100 |
0,024 |
Kurang |
7 |
10,3 |
32 |
89,7 |
39 |
100 |
|
Total |
9 |
17,6 |
42 |
82,4 |
51 |
100 |
|
Tabel 5 menggambarkan hubungan antara
pengetahuan dan tindakan dalam pemilihan makanan jajanan. Siswa yang
pengetahuannya kurang (89,7%) memiliki tindakan yang kurang dalam pemilihan
makanan jajanan. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan dengan yang pengetahuannya
baik (58,3%) yang tindakannya kurang. Hasil ini menggambarkan apabila seseorang
berpengetahuan kurang akan mengakibatkan tindakan yang kurang pula dalam
pemilihan makanan jajanan.
Hasil statistik menunjukkan ada hubungan yang
bermakna (nilai p 0,024) antara pengetahuan tentang zat pengawet dan pewarna
berbahaya terhadap tindakan siswa kelas VIII dalam pemilihan makanan jajanan di
SMP Methodist Tanjung Morawa, 2016. Artinya, siswa yang memiliki pengetahuan
kurang lebih cenderung membeli makanan jajanan yang mengandung zat pengawet dan
pewarna berbahaya.
Hubungan Sikap Tentang Zat Pengawet Dan Pewarna Berbahaya Dengan
Tindakan Siswa Kelas VIII Dalam Pemilihan Makanan Jajanan Di SMP Methodist
Tanjung Morawa.
Hasil analisis hubungan sikap tentang zat
pengawet dan pewarna berbahaya dengan tindakan siswa kelas VIII dalam pemilihan
makanan jajanan di SMP Methodist Tanjung Morawa dapat dilihat pada tabel 8
berikut ini:
Tabel 6
Hubungan Sikap Tentang
Zat Pengawet Dan Pewarna Berbahaya Dengan Tindakan Siswa Kelas VIII Dalam
Pemilihan Makanan Jajanan Di SMP Methodist Tanjung Morawa.
Sikap |
Tindakan |
Total |
p value |
||||
Baik |
Kurang |
||||||
n |
% |
n |
% |
n� |
% |
||
Baik |
4 |
38,1 |
17 |
61,9 |
21 |
100 |
0,002 |
Kurang |
5 |
3,3 |
25 |
96,7 |
30 |
100 |
|
Total |
9 |
17,6 |
42 |
82,4 |
51 |
100 |
|
Berdasarkan tabel 6, diketahui bahwa sikap yang
kurang lebih banyak dibandingkan sikap yang baik dalam memilih makanan jajanan
yang mengandung zat pengawet dan pewarna berbahaya. Siswa yang sikapnya kurang
memiliki tindakan pemilihan makanan jajanan yang kurang (96,7%) lebih banyak,
dibandingkan siswa yang sikapnya kurang memiliki tindakan pemilihan makanan
jajanan yang baik (3,3%). Responden yang bersikap baik belum tentu mempunyai
perilaku yang baik dalam memilih makanan.
Hasil uji statistik dengan menggunakan uji
chi-square pada (Lampiran 4), nilai p 0,002.�
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada hubungan sikap tentang zat
pengawet dan pewarna berbahaya terhadap tindakan siswa kelas VIII dalam
pemilihan makanan jajanan di SMP Methodist Tanjung Morawa, 2016. Artinya, siswa
memiliki sikap setuju bahwa ciri-ciri jajanan yang mengandung bahan pewarna
yang berbahaya adalah warnanya mencolok, meskipun mereka setuju terhadap sikap
tersebut, siswa tetap saja membeli makanan jajanan tersebut.
�
Pembahasan
Hubungan Pengetahuan Tentang Zat Pengawet Dan Pewarna Berbahaya Dengan
Tindakan Siswa Kelas VIII Dalam Pemilihan Makanan Jajanan Di SMP Methodist
Tanjung Morawa.
Hasil penelitian ini menunjukkan semakin rendah
pengetahuan terhadap zat pengawet dan zat pewarna berbahaya, akan membuat siswa
cenderung membeli makanan jajanan yang mengandung zat pengawet dan pewarna
berbahaya. Keadaan seperti ini saya temukan di SMP Methodist Tanjung Morawa
dari pengetahuan siswa yang kurang (76,5%), 32 siswa diantaranya (89,7%)
memiliki tindakan pemilihan makanan jajanan yang kurang. Artinya, siswa yang
memiliki pengetahuan kurang lebih cenderung membeli makanan jajanan yang
mengandung zat pengawet dan pewarna berbahaya.
Tingkat pengetahuan gizi siswa SMP Negeri 1
Palu kelas VIII sebagian besar mempunyai tingkat pengetahuan gizi yang baik
sebanyak 97,14% dan sebanyak 2,85%�
memiliki tingkat pengetahuan gizi yang sedang, dan 0% yang� pengetahuan�
gizinya� kurang atau� tidak�
ada� siswa yang pengetahuan gizinya
kurang (Laenggeng & Lumalang, 2015). Hal ini disebabkan oleh kuesioner pengetahuan
tentang zat pengawet dan pewarna berbahaya dalam memilih makanan jajanan di SMP
Negeri 1 Palu lebih mudah dimengerti dibandingkan dengan kuesioner pengetahuan
tentang zat pengawet dan pewarna berbahaya dalam memilih makanan jajanan di SMP
Methodist Tanjung Morawa.
Faktor lain yang dapat menambah pengetahuan
anak memilih makanan jajanan adalah tayangan pada media massa. Makanan jajanan
yang sering masuk iklan itulah yang diketahui anak baik� untuk dikonsumsi. Makanan yang sering
ditayangkan di media massa lebih populer di kalangan anak-anak dan membuat anak
tertarik meskipun makanan tersebut tidak sehat (Akbar et al.,
2021).
Penelitian makanan jajanan sekolah di Jakarta
dan Sukabumi menemukan sekitar 74,1% penjaja yang diteliti melakukan praktik
keamanan pangan yang rendah, termasuk penggunaan bahan tambahan pangan yang
berbahaya. Terdapat 107 sampel makanan yang diuji. Jenis makanan jajanan yang
diduga mengandung bahan kimia berbahaya yang paling banyak dijajakan adalah
jenis bakso (bakso, bakso tusuk, bakso goreng) yaitu sejumlah 22,4% dari
seluruh sampel jajanan. Di antara 98 sampel yang diuji kandungan boraks dan
formalinnya, 15 sampel (15,3%) positif mengandung boraks dan 25 sampel (25,5%)
positif mengandung formalin. Di antara 15 sampel yang diuji kandungan
rhodamin-B-nya, 7 sampel (46,7%) positif mengandung rhodamin-B (Kristianto et al., 2013).
Persentase responden yang berperilaku memilih
makanan secara baik sebesar 42,9% berasal dari responden yang berpengetahuan
baik. Angka persentase ini lebih rendah, tetapi selisihnya tidak jauh
dibandingkan dengan yang berpengetahuan tidak baik yaitu sebesar 50% (Akbar et al., 2021).
Pengetahuan anak mengenai pemilihan makanan jajanan� di SMP Methodist Tanjung Morawa sebagian besar adalah kurang. Karena, banyak siswa yang tidak mengetahui bahaya dari zat pengawet dan zat pewarna pada makanan. Pengetahuan anak dapat diperoleh baik secara internal maupun eksternal. Pengetahuan secara internal yaitu pengetahuan yang berasal dari dirinya sendiri. Pengetahuan secara eksternal yaitu pengetahuan yang diperoleh dari orang lain termasuk keluarga dan guru. Pengetahuan baik yang diperoleh secara internal maupun eksternal akan menambah pengetahuan anak tentang gizi (Kristianto et al., 2013).
Hubungan Sikap Tentang Zat Pengawet Dan Pewarna Berbahaya Dengan
Tindakan Siswa Kelas VIII Dalam Pemilihan Makanan Jajanan Di SMP Methodist
Tanjung Morawa
Hasil penelitian ini diketahui bahwa sikap yang
kurang diikuti dengan tindakan untuk memilih makanan jajanan yang mengandung
zat pengawet dan pewarna berbahaya. Siswa yang sikapnya kurang memiliki
tindakan pemilihan makanan jajanan yang kurang (96,7%) lebih banyak,
dibandingkan siswa yang sikapnya kurang memiliki tindakan pemilihan makanan
jajanan yang baik (3,3%). Responden yang bersikap baik belum tentu mempunyai
perilaku yang baik dalam memilih makanan.
Hasil uji statistik dengan menggunakan uji
chi-square pada (Lampiran 4), nilai p 0,002. Dengan demikian dapat dinyatakan
bahwa hubungan sikap tentang zat pengawet dan pewarna berbahaya terhadap
tindakan siswa kelas VIII dalam pemilihan makanan jajanan di SMP Methodist
Tanjung Morawa, 2016. Artinya, siswa memiliki sikap setuju bahwa ciri-ciri
jajanan yang mengandung bahan pewarna yang berbahaya adalah warnanya mencolok,
meskipun mereka setuju terhadap sikap tersebut, siswa tetap saja membeli
makanan jajanan tersebut.
Sikap anak tentang pemilihan makanan jajanan,
sebagian besar mempunyai sikap mendukung yaitu sebanyak 60,3% dan yang
mempunyai sikap tidak mendukung sebanyak 39,7% (Akbar et al., 2021).
Berbeda dengan sikap di SMP Methodist Tanjung Morawa lebih dari setengah siswa
memiliki sikap yang kurang (58,8%) terhadap zat pengawet dan pewarna berbahaya
dalam pemilihan makanan jajanan. Hal ini disebabkan anak yang mempunyai sikap
terpengaruh oleh lingkungan terutama teman sebayanya. Sikapnya mendukung dalam
pemilihan makanan jajanan tetapi timbul keinginan ingin mencicipi makanan yang
di makan temannya. Perilaku yang muncul adalah meniru teman meskipun tidak
sesuai dengan sikap yang dimilkinya.
Kesimpulan
Tingkat pengetahuan siswa/siswi kelas VIII SMP Methodist Tanjung
Morawa tentang zat pengawet dan zat pewarna berbahaya dalam pemilihan makanan
jajanan terdapat pada kategori baik 12 orang (23,5%), dan kategori kurang 39
orang (76,5%). Untuk sikap siswa/siswi kelas VIII SMP Methodist Tanjung Morawa tentang zat pengawet dan zat
pewarna berbahaya dalam pemilihan makanan jajanan yang dikelompokkan baik 21
orang (41,2%), dan kurang 30 orang (58,8%). Tindakan siswa/siswi kelas VIII SMP Methodist Tanjung
Morawa tentang zat pengawet dan zat pewarna berbahaya dalam pemilihan makanan
jajanan terdapat pada kategori baik 9 orang (17,6%), dan kurang� 42 orang (82,4%). Ada hubungan yang signifikan antara
pengetahuan tentang zat pengawet dan pewarna berbahaya terhadap tindakan siswa
kelas VIII dalam pemilihan makanan jajanan di SMP Methodist Tanjung Morawa,
2016 dengan. Ada hubungan yang signifikan antara sikap tentang zat pengawet dan
pewarna berbahaya terhadap tindakan siswa kelas VIII dalam pemilihan makanan
jajanan di SMP Methodist Tanjung Morawa, 2016 dengan nilai.
BIBLIOGRAFI
Akbar, H., Alexander, N., Paundanan, M., &
Agustin, A. (2021). Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Orang Tua dalam Memilih
Jajanan Sehat pada Siswa di SDN 1 Upai Kecamatan Kotamobagu Utara. Promotif :
Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11(1), 24�29. https://doi.org/10.56338/pjkm.v11i1.1514
Anjani,
A. D., Aulia, D. L. N., & Suryanti. (2021). Metodologi Penelitian
Kesehatan. Pena Persada, 1(69), 1�150.
Dini,
N., Pradigdo, S., & Suyatno, S. (2017). Hubungan Konsumsi Makanan Jajanan
Terhadap Status Gizi (Kadar Lemak Tubuh Dan Imt/U) Pada Siswa Sekolah Dasar
(Studi Di Sekolah Dasar Negeri 01 Sumurboto Kota Semarang). Jurnal Kesehatan
Masyarakat (e-Journal), 5(1), 301�306.
Kristianto,
Y., Riyadi, B. D., & Mustafa, A. (2013). Faktor determinan pemilihan
makanan jajanan pada siswa sekolah dasar. Kesmas: Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasional (National Public Health Journal), 7(11),
489�494.
Laenggeng,
A. H., & Lumalang, Y. (2015). Hubungan Pengetahuan Gizi Dan Sikap Memilih
Makanan Jajanan Dengan Status Gizi Siswa Smp Negeri 1 Palu Pendahuluan Remaja
golongan usia 13-18 tahun terjadi pertumbuhan yang sangat cepat sehingga
kebutuhan gizi untuk pertumbuhan dan aktivitas meningkat , g. Jurnal
Kesehatan Tadulako Vol.1 No.1, 1, 49�57.
Makanan,
B. P. O. D. (2008). Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) Serta Upaya
Penanggula-ngannya. Info POM, 9(6).
Nainggolan,
I. (2018). Tanggung Jawab Pidana Bagi Pelaku Usaha Yang Menggunakan Bahan
Tambahan Pangan ( Btp ) Berbahaya Pada Produk Pangan. EduTech, 4(2),
81�90. file:///C:/Users/user/Downloads/Documents/2429-4074-1-PB.pdf
Permatahati,
D. M., & Yanti, L. P. D. (2021). Metode Identifikasi Rhodamine B pada
Makanan dan Kosmetik. Bima Nursing Journal, 2(1), 62.
https://doi.org/10.32807/bnj.v2i1.712
Pratiwi,
R. H., Sulistyaninngsih, E., & Budiarso, I. (2020). Pembinaan Penjaja
Pangan Jajanan Anak Sekolah Melalui Konseling Dan Pemberian Softskill Bahan
Tambahan Pangan. JMM (Jurnal Masyarakat �, 4(4), 6�9.
http://journal.ummat.ac.id/index.php/jmm/article/view/2239
Priawantiputri,
W., Rahmat, M., & Purnawan, A. I. (2019). Efektivitas Pendidikan Gizi
dengan Media Kartu Edukasi Gizi terhadap Peningkatan Pengetahuan, Sikap dan
Perilaku Makanan Jajanan Anak Sekolah Dasar. Jurnal Kesehatan, 10(3),
374. https://doi.org/10.26630/jk.v10i3.1469
Ratnawaty,
G. J., Indrawati, R., & Kamila, L. (2022). Penyuluhan dan aplikasi
penggunaan zat pewarna karotenoid sebagai pewarna makanan dari buah mentawak
(artocarpus anisophyllus) di desa binaan poltekkes pontianak. Budimas:
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT, 5(1).
Sary,
A. N., Harmawati, H., & Azmir, B. (2020). Hubungan Tingkat Pengetahuan dan
Sikap Keamanan Pangan dengan Tindakan Hygiene Penjaja Makanan Jajanan Anak
Sekolah Dasar. Jurnal Endurance: Kajian Ilmiah Problema Kesehatan, 5(3),
550�556.
Susiyawati,
Y. (2013). Pengetahuan siswa tentang makanan yang mengandung zat pengawet dan
pewarna berbahaya di SMP Islam Kota Malang. Jurnal Keperawatan, 4(1).
Wahyuningsih,
S., & Nurhidayah, N. (2021). Analisis Kandungan Zat Pengawet Natrium
Benzoat Pada Sambal Tradisional Khas Bima �Mbohi Dungga� Sambal Jeruk Yang
Difermentasi. Sebatik, 25(2), 311�317.
https://doi.org/10.46984/sebatik.v25i2.1576
Yuliarti,
N. (2007). Awas! Bahaya di Balik Lezatnya Makanan.
Copyright holder: Chatrine Virginia Tamara,
Febriantika (2022) |
First publication
right: Syntax Literate:
Jurnal Ilmiah Indonesia |
This article is
licensed under: |