Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN:
2548-1398
Vol. 9, No. 2, Februari 2024
HEREDITARY PERSISTENCE OF FETAL HEMOGLOBIN
(HPFH) IN COMMUNITY
May Fanny Tanzilia1, Minarni
Wartiningsih2
Department of Clilincal
Pathology, Faculty of Medicine, Universitas Ciputra, Indonesia1
Deparment of Public Health,
School of Medicine, Universitas Ciputra, Indonesia2
Email: [email protected], [email protected]
Abstrak
Hereditary Persistence of Fetal Hemoglobin adalah
kasus yang jarang terjadi di komunitas. Kondisi heterogen ini ditandai dengan
produksi hemoglobin fetus (Hb F) yang menetap hingga dewasa dimana seharusnya
pada usia dewasa produksi hemoglobin dewasa (Hb A) yang mendominasi. HPFH
diklasifikasikan dalam dua bentuk yaitu delesi dan non delesi. HPFH dapat
dianggap sebagai bentuk talasemia β atau δβ ringan karena kegagalan sintesis
rantai β dikompensasi oleh rantai γ setelah periode neonatal. Hb F dapat
meningkat pada dewasa akibat kelainan herediter sintesis hemoglobin maupun
kondisi dapatan (acquired) dari diagnosis banding kelainan hemoglobin lainnya.
Diagnosis HPFH berdasarkan pada keadaan klinis, pemeriksaan darah rutin, dan
pemeriksaan laboratorium khusus yaitu dengan mengukur kadar Hb F dan distribusi
interseluler Hb F. Metode pemeriksaan Hb F dapat dilakukan dengan metode
elektroforesis hemoglobin. Pemeriksaan Hb F bertujuan untuk menegakkan
diagnosis adanya kelainan herediter rantai globin dan kondisi dapatan (acquired) lainnya,
dimana pada keadaan tersebut, kadar Hb F akan meningkat. Untuk itu diperlukan
pengukuran kadar Hb F secara tepat.
Kata kunci: HPFH, Hemoglobin F, Hb
F, komunitas
Abstract
Hereditary
Persistence of Fetal Hemoglobin is a rare case in community. This heterogeneous
condition characterized by the production of fetal hemoglobin (Hb F) that
persists into adulthood where it should be in adulthood that the production of
adult hemoglobin (Hb A) dominates. HPFH is classified in two forms, namely
deletion and non-deletion. HPFH can be considered a mild form of or thalassemia
because failure of chain synthesis is compensated for by chains after the
neonatal period. Hb F can be increased in adults due to hereditary disorders of
hemoglobin synthesis or acquired conditions. from the differential diagnosis of
other hemoglobin disorders. The diagnosis of HPFH is based on clinical conditions,
routine blood tests, and special laboratory tests, namely by measuring Hb F
levels and Hb F intercellular distribution. Method of analysis Hb F is used
with hemoglobin electrophoresis methods. The Hb F examination aims to establish
a diagnosis of hereditary globin chain disorders and other acquired conditions,
in which case the Hb F level will increase. For this reason, it is necessary to
accurately measure Hb F levels.
Keywords: HPFH,
Hemoglobin F, Hb F, community
Pendahuluan
Kelainan sintesis rantai globin
secara kualitas maupun kuantitas menimbulkan berbagai macam kelainan hemoglobin
seperti talasemia, hemoglobinopati, Hereditary
Persistence of Fetal Hemoglobin (HPFH), dan lain sebagainya.
Ada perbedaan komposisi hemoglobin
antara prenatal dan postnatal, antara janin dan dewasa dalam keadaan normal.
Sekitar 60 - 80% hemoglobin janin didominasi oleh Hb F sedangkan pada
dewasa didominasi oleh Hb A. Kadar Hb F dapat meningkat dalam
berbagai kondisi baik herediter maupun dapatan.
Kasus Hereditary
Persistence of Fetal Hemoglobin (HPFH) sangat jarang terjadi di komunitas. Sehingga
kasus tersebut tidak mudah di temukan dimasyarakat (Sharma
et al., 2020). Hereditary Persistence
of Fetal Hemoglobin (HPFH) adalah
suatu kelainan herediter sintesis rantai globin β yang ditandai produksi hemoglobin fetus (Hb F) yang menetap hingga dewasa.
HPFH dapat terjadi karena mutasi kluster gen rantai globin β (Ghani
et al., 2021). Berdasarkan hal ini, HPFH diklasifikasikan
dalam dua bentuk yaitu delesi dan non delesi. HPFH dapat dianggap sebagai bentuk talasemia β atau δβ ringan karena kegagalan sintesis
rantai β dikompensasi oleh rantai γ setelah periode neonatal (Ali
et al., 2021). Pada homozigot didapatkan kadar Hb
F sebesar 100% sedangkan pada heterozigot sebesar 20-30%.
Insiden HPFH pertama kali dicatat
oleh Edington dan Lehmann pada tahun 1955.
Conley et al. (1963) menemukan sekitar 0,1% HPFH terjadi
pada populasi kulit hitam di Baltimore.
Angka kejadian atau insiden HPFH adalah 0,1 per 100.000 populasi di
California (Michlitsch
et al., 2009). Penelitian Singha K, et al pada
tahun 2023 di Thailand yang dilakukan pada 388 subyek penelitian terduga HPFH
non delesi dengan peningkatan ekspresi kadar Hb F, diperoleh hasil ada mutasi gen globin Gγ- dan Aγ- pada pemeriksaan analisis DNA
menggunakan metode PCR. Hasil penelitian tersebut melaporkan adanya 20 subyek
penelitian dengan 5 mutasi berbeda, yang mana tiga diantaranya telah diketahui
mutasinya dan dua merupakan mutasi novel (Singha K et al., 2023).
Diagnosis HPFH berdasarkan pada
keadaan klinis, pemeriksaan darah rutin, dan pemeriksaan laboratorium khusus
yaitu dengan mengukur kadar Hb F, distribusi interseluler Hb F, serta elektroforesis hemoglobin. Pemeriksaan Hb F bertujuan untuk menegakkan diagnosis
adanya kelainan herediter rantai globin dan
kondisi dapatan (acquired) lainnya, dimana pada keadaan tersebut, kadar
Hb F akan meningkat. Untuk itu diperlukan pengukuran kadar Hb F secara tepat.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian
studi literatur. Langkah-langkah dalam melakukan penelitian menggunakan metode
literatur study adalah sebagai berikut:
1) Pemilihan Sumber Literatur: Identifikasi
sumber literatur yang relevan dengan topik penelitian, seperti jurnal ilmiah,
artikel review, dan buku teks yang membahas tentang kelainan sintesis rantai
globin, termasuk talasemia, hemoglobinopati, dan Hereditary Persistence of
Fetal Hemoglobin (HPFH).
2) Pengumpulan Informasi: Lakukan pengumpulan
informasi dari sumber literatur yang terpilih, termasuk data mengenai definisi,
klasifikasi, patofisiologi, diagnosis, dan penatalaksanaan kelainan sintesis
rantai globin, khususnya HPFH. Pastikan informasi yang dikumpulkan sesuai
dengan tujuan penelitian.
3) Analisis Informasi: Lakukan analisis terhadap
informasi yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber literatur. Identifikasi
temuan-temuan penting yang berkaitan dengan kelainan sintesis rantai globin,
termasuk insiden, klasifikasi, dan diagnosis HPFH.
4) Penulisan Laporan: Susun laporan berdasarkan
hasil analisis informasi dari sumber literatur. Pastikan laporan mencakup
tinjauan yang komprehensif mengenai kelainan sintesis rantai globin, khususnya
HPFH, sesuai dengan tujuan penelitian.
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas,
penelitian ini memberikan pemahaman yang mendalam mengenai kelainan sintesis
rantai globin, khususnya HPFH, berdasarkan informasi yang telah dipublikasikan
dalam literatur ilmiah.
Hasil dan Pembahasan
Hemoglobin
Molekul hemoglobin adalah protein
globular terkonjugasi yang terdiri dari empat kelompok heme yang berikatan dengan
dua pasang rantai polipeptida heterogen dan dapat mengangkut empat molekul
oksigen (Dameuli, 2018;
Wartiningsih et al., 2023). Hemoglobin berfungsi menghantarkan
oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh (Gambar 1).
Gambar 1. Hemoglobin: Tetramer empat molekul heme,
masing-masing berikatan dengan rantai polipeptida globin.
Pada tiga bulan pertama kehidupan
embrio, hanya satu gen yang aktif yang menyerupai gen α yaitu ζ dan satu gen menyerupai gen β yaitu ε
sehingga akan terbentuk rantai ζ dan ε. Rantai ζ dan ε akan berpasangan dan membentuk
hemoglobin Gower-1 (ζ2ε2). Kemudian, dalam waktu singkat sintesis
rantai α dan γ dimulai sehingga akan terbentuk Hb Gower-2 (α2ε2) dan Hb Portland (ζ2γ2). Pada akhir kehidupan janin,
sintesis ζ dan ε akan berakhir, meninggalkan rantai α dan γ. Rantai α dan γ akan berpasangan membentu Saat lahir, hemoglobin
didominasi oleh Hb F yaitu sekitar 60-80% dari total
hemoglobin pada janin aterm. Hb F adalah protein transport oksigen
yang utama selama tujuh bulan terakhir janin dalam kandungan dan tetap ada pada
bayi baru lahir hingga usia sekitar 6 bulan setelah kelahiran. Secara
fungsional, kemampuan Hb F dalam mengikat oksigen berbeda dibandingkan
hemoglobin dewasa (Pritišanac
et al., 2021). Hb F memiliki afinitas mengikat oksigen yang
lebih besar dan interaksi yang rendah terhadap 2,3-DPG. Hal ini menyebabkan
fetus dapat berkembang lebih baik karena transport oksigen melalui plasenta
lebih mudah sehingga akses oksigen dari aliran darah ibu menjadi lebih baik.
Hb F (α2γ2), dikenal juga sebagai fetal hemoglobin.
Enam bulan setelah kelahiran,
sintesis rantai γ akan menurun secara perlahan,
diganti sintesis rantai β. Kombinasi dua rantai α dan dua rantai β bersama dengan empat molekul heme
membentuk Hb A (α2β2). Hb A dikenal juga sebagai hemoglobin dewasa (adult hemoglobin)
merupakan hemoglobin yang dominan setelah lahir yang
akan menggantikan Hb F, begitu juga pada dua tahun pertama kehidupan ditemukan
karakteristik hemoglobin dewasa dengan kadar Hb F yang sangat rendah (<1%).
Gen δ diaktifkan saat lahir, menghasilkan rantai δ dengan kadar rendah, kemudian akan berpasangan dengan
rantai α untuk memsintesis Hb A2 (α2δ2). Hal
ini mengakibatkan dalam keadaan normal, hemoglobin dewasa didominasi oleh Hb A
(α2β2) (95%) dengan sejumlah kecil Hb A2
(α2δ2) (<3,5%) dan Hb F (α2γ2) (<1-2%).
Hemoglobin Fetus (Hb F)
Hemoglobin yang dominan
pada janin adalah hemoglobin fetus (Hb F) (Kaufman et al., 2018). Hb F akan menurun secara perlahan dengan
bertambahnya usia, dimana akan menjadi <2% saat usia 1 tahun dan <1% saat
usia 2 tahun. Dalam keadaaan normal, pada dewasa didapatkan Hb F
yang terdistribusi secara heterogen diantara eritrosit meskipun sintesisnya
dibatasi pada populasi kecil eritrosit yang disebut sel F (F-cells). Sekitar 3-7% eritrosit adalah sel F yang
mengandung 20-25% Hb F (Mosca et al., 2009).
Hb F dapat meningkat pada dewasa akibat kelainan
herediter sintesis hemoglobin maupun kondisi dapatan (acquired). Sintesis
Hb F dapat direaktivasi pada kadar rendah dalam keadaan stress hematopoietik dan
kadar yang lebih tinggi didapatkan pada keganasan hematologik seperti juvenile
myeloid leukemia. Pada dewasa, sintesis Hb F yang secara konsisten
tinggi hanya ada pada hemoglobinopati.
Pada talasemia β mayor atau
kombinasi talasemia β dan mutasi Hb F (Hereditary Persistence of Fetal
Hemoglobin/HPFH) didapatkan sekitar 90% dari total hemoglobin adalah Hb F. Peningkatan kadar Hb F yang terjadi dalam
berbagai kondisi tersebut dapat terjadi karena peningkatan eritropoietik yang
mengakibatkan peningkatan sel progenitor eritroid untuk mensintesis Hb F.
Selama kehamilan, Hb F akan meningkat maksimal di awal
trimester kedua mungkin disebabkan karena respon plasenta atau fetus yang akan
menginduksi produksi sel F masuk sirkulasi darah ibu. Kadar Hb F akan perlahan-lahan mencapai kadar
normal di akhir kehamilan. Pada
chronic juvenile myeloid leukemia dilaporkan adanya variasi kadar Hb F (20 –
80%) yang meningkat selama perkembangan penyakit tesebut. Hal ini disebabkan kemungkinan karena adanya
klonal sel yang lepas dari mekanisme kontrol switch normal. Begitu pula pada bentuk leukemia yang lain
terutama leukemia akut pada fase remisi setelah terapi, dilaporkan adanya
peningkatan kadar Hb F hingga 15%. Hb F juga meningkat pada anemia aplastik
kongenital dan hipoplasia eritroid, dengan distribusi sel F heteroseluler dan
rasio Gγ/Aγ menyerupai rasio janin, pada anemia Fanconi nampaknya Hb
F selalu meningkat sekalipun setelah remisi setelah pemberian terapi steroid.
Beberapa agents terapi seperti
eritropoietin, hydroxyurea, cytarabine dan analog butyrate dapat meningkatkan
sintesis Hb F pada pasien talasemia dengan cara menstimulasi populasi sel
progenitor yang memproduksi Hb F. ,
Definisi
Hereditary Persistence of Fetal
Hemoglobin adalah kondisi heterogen ditandai
produksi hemoglobin fetus (Hb F) yang menetap hingga dewasa dimana seharusnya
pada usia dewasa produksi hemoglobin dewasa (Hb A) yang mendominasi.
Patogenesis
Hereditary Persistence of Fetal Hemoglobin adalah suatu
kondisi yang berasal dari kurangnya perubahan dari sintesis rantai globin γ ke
β mengakibatkan meningkatnya rantai
globin γ dan Hb F (Carrocini et al., 2011). Hal ini berhubungan
dengan adanya single point mutation pada regio promoter dari
dua rantai γ yang
menyebabkan peningkatan transkripsi gen γG dan γA atau karena terjadinya delesi
kluster gen globin β yang akan menghilangkan gen globin δ dan β. Delesi pada HPFH berhubungan dengan hilangnya silencer
elements pada regio antara gen γ dan δ atau hilangnya removal elements yang
berada di dekat gen globin γ (Sankaran et al., 2011). Ekspresi gen yang tidak tepat ini
didapatkan pada 10 - 15% (heterozigot) atau 100% dari total hemoglobin (homozigot).
Berbeda dengan talasemia β, pada
HPFH tidak didapatkan manifestasi klinis. Hal ini disebabkan kegagalan sintesis rantai β
dapat dikompensasi secara cukup oleh rantai γ.
Lebih dari tujuh puluh mutasi pada
gen γ atau regio di sekitarnya dapat menyebabkan terjadi HPFH. Beberapa mutasi seperti – 117 G à A pada gen Aγ; - 175 T à C pada Aγ atau Gγ; - 196 C à T pada Aγ dan – 202 C à T pada Gγ berhubungan dengan kadar
Hb F yang relatif tinggi (hingga 35%), terdistribusi di semua eritrosit.5
Mutasi yang lain seperti – 202 C à T pada Aγ berhubungan dengan kadar Hb F yang lebih rendah (hingga 15%),
terdistribusi heteroseluler. Beberapa mutasi yang lain seperti – 37 A à T pada Gγ berhubungan dengan
talasemia δ0 dengan Hb F yang sedikit meningkat (kadar sekitar 2 – 3%) dan
bentuk mutasi lain seperti – 158 C à T pada Gγ dengan kadar Hb F yang
mendekati normal.
Epidemiologi
Terjadinya HPFH pertama kali dicatat
oleh Edington dan Lehmann pada tahun 1955, kemudian ditemukan pada ras kulit
hitam Afrika dan Amerika, ras Portugis-India di Inggris, ras kaukasia Italia
serta keturunan Yunani. Conley et al., (1963) menemukan sekitar 0,1% HPFH terjadi pada populasi kulit hitam di Baltimore.
Prevalensi ini dikonfirmasi oleh
Thompson, Warrington, Odom dan Bell dalam suatu penelitian dari 12.000 ras
kulit hitam di Amerika Serikat bagian selatan. Angka kejadian HPFH adalah 0,1 per 100.000
populasi di California.
Klasifikasi
Dahulu HPFH diklasifikasikan dalam
pancellular dan heterocellular berdasarkan distribusi hemoglobin fetus
interseluler (Zago
et al., 1979). Hb F pada pancellular HPFH terdistribusi
secara seragam (uniform) pada eritrosit, seperti yang didapatkan pada black
HPFH, Greek HPFH dan Hb Kenya. Heterocellular HPFH ditandai
peningkatan Hb F yang terdistribusi secara heteroseluler diantara eritrosit.
Heterocellular HPFH ditemukan pada
banyak kelompok etnik misal pada varian Swiss dan British.
Kini, berdasarkan kelainan
molekuler (mutasi pada kluster gen
globin β) yang terjadi, HPFH dibedakan menjadi dua bentuk yaitu delesi dan non
delesi (Tabel 1). ,
Tabel 1.
Bentuk Hereditary Persistence of Fetal
Hemoglobin (HPFH)
Delesi (pancellular*) (δβ)0 Black (HPFH 1) Ghanaian (HPFH 2) Indian (HPFH 3) Italian (HPFH 4 dan 5) Vietnamese
(HPFH 6) Gγ(Aγβ)+ (Hgb Kenya) |
Non
delesi Linked to β-globin gene cluster (pancellular*) Gγβ+ Black Gγ-202 C à G Tunisian
Gγ-200+C Black/Sardinian
Gγ-175 T à C Japanese
Gγ-114 C à T Australian
Gγ-114 C à G Aγβ+ Greek/Sardinian/Black Aγ-117 G à A British Aγ-198 T à C Black Aγ-202 C à T Italian/Chinese Aγ-196 C à T Brazilian Aγ-195 C à G Black Aγ-175 T à C Black aγ-114 to – 102 (del) Georgia Aγ-114 C à T GγAγβ+ Linked to β-globin gene cluster
(heterocellular*) Atlanta Czech Seattle Lainnya (termasuk beberapa kasus Gγ-158 T à C) Unlinked to β-globin gene cluster (heterocellular*) Kromosom 6 Lainnya |
*Distribusi Hb F
interseluler tidak selalu dilaporkan, dan beberapa inkonsistensi nampak dalam
kelompok yang ada.
Bentuk HPFH delesi sangat heterogen.
Klasifikasi HPFH bentuk delesi
menyerupai talasemia δβ, yaitu (δβ)0 yang kemudian disubklasifikasikan lagi berdasarkan
populasi dimana terjadi kelainan ini dan hubungannya dengan kelainan molekuler
yang terjadi. Bentuk HPFH
delesi sangat mirip dengan thalasemia β, kecuali bahwa pada HPFH sintesis
rantai γ lebih efisien, fenotipe dan ketidakseimbangan sintesis
rantai globin lebih ringan.
Hereditary Persistence of Fetal
Hemoglobin (δβ)0 homozigot memiliki Hb F 100% (Bollekens
& Forget, 1991). Pada pemeriksaan darah menunjukkan
perubahan talasemia ringan dengan MCH dan MCV yang menurun, sangat mirip dengan
talasemia β heterozigot. Keduanya sama-sama memiliki
ketidakseimbangan sintesis rantai globin dengan rasio pada range yang nampak
pada talasemia β heterozigot.
, Berbagai
literatur menyatakan adanya peningkatan kadar Hb F pada HPFH heterozigot. Bentuk
HPFH (δβ)0 heterozigot memiliki kadar Hb F sekitar 16 - 30%
sedangkan pada talasemia δβ adalah 4 – 18,6%. Pada penelitian Carrocini GCS, et al.
didapatkan pada individu Brazilian kadar Hb F yang meningkat mulai dari 22 –
29% untuk mutasi HPFH-1 dan 10 – 38,1% untuk HPFH-2. Hasil yang bervariasi ini (terutama
pada HPFH-2) merefleksikan kemungkinan karakteristik intrinsik dari populasi
yang dianalisis.
Pada HPFH (δβ)0 heterozigot didapatkan Hb A2 sedikit menurun dan
gambaran darah normal. Individu dengan kadar Hb F antara 2 – 15% memiliki
perubahan morfologi eritrosit sedang. Individu dengan kadar Hb F
lebih dari 15% dari total hemoglobin menunjukkan
perubahan morfologi eritrosit yang ringan.
Kondisi ini nampaknya
menjadi bentuk talasemia δβ yang terkompensasi dengan sangat
baik oleh rantai γ namun tidak terkompensasi
seluruhnya pada keadaan tidak adanya rantai β dan δ. Perbedaan bentuk molekuler pada keadaan ini
menunjukkan tidak ada perbedaan fenotipe kecuali pada proporsi rantai Gγ. Ditemukan ada hubungan antara bentuk HPFH (δβ)0 African dengan hemoglobin S dan C atau dengan
talasemia β.6 Kondisi ini memiliki gangguan klinis yang ringan.
Bentuk HPFH non delesi juga
heterogen. Pada beberapa
kasus, ada hubungan dengan terjadinya mutasi kluster gen rantai globin β dan sintesis rantai β cis. Bentuk non delesi
yang berhubungan dengan mutasi kluster gen rantai globin β diklasifikasikan menjadi Gγβ+ dan Aγβ+ (mengindikasikan sintesis rantai Gγ atau rantai Aγ yang persisten), kemudian
disubklasifikasikan lagi berdasarkan populasi dimana kelainan ini terjadi
seperti pada Greek HPFH, British HPFH, dan lain-lain. Ada pula kasus yang
tidak berhubungan dengan mutasi kluster gen rantai globin β. Pada
keadaan ini kadar Hb F yang persisten sangat rendah. Gγβ+ ditemukan pada heterozigot dan gabungan antara
heterozigot dengan varian rantai globin β pada populasi Afrika, namun tidak dilaporkan adanya manifestasi klinis
maupun kelainan hematologik. Gabungan heterozigot Gγβ+ dan Hb S atau C menghasilkan 45% hemoglobin
yang tidak normal, sekitar 30% Hb A, dan sekitar 20% Hb F hanya
mengandung rantai Gγ.
Bentuk HPFH non delesi yang paling
banyak adalah Aγβ+ yang ditemukan di Yunani. Pada kelainan homozigot maupun heterozigot
tidak ditemukan manifestasi klinis maupun kelainan hematologik. Pada homozigot didapatkan Hb F sekitar
25% dan penurunan kadar Hb A2 sekitar 0,8%, sedangkan pada heterozigot kadar Hb
F sekitar 10 – 15%, hampir seluruhnya adalah varian Aγ. Gabungan heterozigot
dan talasemia β memiliki kadar Hb F tinggi dengan manifestasi klinis
yang hanya sedikit lebih berat daripada talasemia β- trait. Pada Aγβ+ British, kelainan heterozigot memiliki Hb F sekitar 5 –
12%, sedangkan pada homozigot 20%. Tidak ada manifestasi klinis dan juga kelainan
hematologik. Pada bentuk ini,
hal yang menakjubkan adalah Hb F tidak terdistribusi secara merata diantara
eritrosit.
Pada beberapa kasus, bentuk HPFH non
delesi lainnya berhubungan dengan perubahan kecil pada struktur
kluster gen rantai globin β. Meskipun bukan bentuk HPFH yang
sesungguhnya, karena sekalipun pada homozigot mungkin tidak berhubungan dengan
peningkatan kadar Hb F, polimorfisme T à C pada posisi 158 ke gen globin Gγ mungkin berhubungan dengan peningkatan output Hb F
dibawah kondisi stress eritropoietik. Bentuk lain dari HPFH ditandai Hb F
persisten dengan kadar rendah dan distribusi heteroseluler. Dari semua populasi studi, sejumlah kecil
individu memiliki jumlah Hb F dan sel F yang meningkat. Meskipun pada awalnya
disebut Swiss HPFH oleh karena kondisi ini pertama kali didapatkan pada tentara
Swiss, namun ternyata dapat terjadi pada semua kelompok ras. Berdasarkan berbagai pendekatan genetik, jelas
nyata sejumlah gen terlibat dalam HPFH heteroseluler, meliputi loci pada
Xp22.2-p22.3, 6q23, 8q dan 2p15. Hubungan yang terakhir
diidentifikasi sebagai onkogen BCL11-α. Mekanisme bagaimana loci yang berbeda dapat
mempengaruhi kadar F cells pada individu normal dan kadarnya meningkat pada
kondisi seperti talasemia dan anemia sel sabit sulit untuk ditentukan, tetapi
koinheriten dengan kondisi ini mungkin memiliki efek yang sangat menguntungkan
secara fenotipe.
HPFH pertama kali ditemukan pada ras
kulit hitam Amerika dan Afrika. Sebagian besar berasal dari delesi gen δ dan β. Pada heterozigot tidak didapatkan manifestasi
klinis. Sekalipun konsentrasi
hemoglobin normal, nilai MCV dan MCH sedikit menurun dan mungkin didapatkan sel
target. Kadar Hb A2 rendah
(1,6 – 2,2%) dan kadar Hb F meningkat menjadi 10 – 36% (rerata 26%) dan
terdistribusi pada hampir seluruh eritrosit (pancellular). Kelainan homozigot juga bersifat
asimptomatis. Dapat dijumpai
adanya splenomegali, retikulositosis, elliptositosis dan eritrositosis. Konsentrasi hemoglobin meningkat (14,8 – 18,2
g/dl) sebagai konsekuensi peningkatan afinitas oksigen oleh Hb F. Kelainan
morfologi eritrosit dapat dijumpai seperti mikrositosis (MCV 68 – 84 fl),
anisositosis dan sel target. 100% konsentrasi hemoglobin adalah Hb F. Tidak
didapatkan Hb A dan Hb A2. Didapatkan
rantai Gγ dan Aγ, terutama pada rasio normal Gγ/ Aγ 3:2.
Terdapat hubungan antara Black HPFH
dengan talasemia β0 dan talasemia β+. Kedua double heterozigot ini berhubungan dengan
gambaran hematologik talasemia minor. Dalam hubungannya dengan Hb S, bentuk
delesi menghasilkan pola elektroforesis hemoglobin yang
sulit dibedakan dengan anemia sel sabit atau Hb S/talasemia β0. Tidak
didapatkan Hb A, didapatkan Hb S sekitar 60 – 85% dan Hb F 13 – 35% dari jumlah
total hemoglobin. Secara klinis, jarang didapatkan gejala sickling dan tidak
didapatkan anemia. Didapatkan distribusi Hb F pada eritrosit yang uniform. Pada bentuk non delesi masih
terdapat sintesis rantai β cis meskipun dalam jumlah yang
menurun. Pada individu double heterozigot HPFH non delesi dan Hb S, diproduksi
sejumlah kecil Hb A dan Hb A2. Double heterozigot HPFH dan Hb C tidak
menunjukkan adanya manifestasi klinis (Amato
et al., 2014).
Seperti pada Black HPFH, pada Greek
HPFH juga tidak didapatkan manifestasi klinis maupun kelainan hematologik. Hb F
pada heterozigot relatif rendah yaitu sekitar 15 – 25% dibandingkan pada Black
HPFH. Distribusi Hb F bersifat pancellular. Pada analisis biokimia Hb F
didapatkan produksi rantai Aγ yang dominan. Hal ini mengindikasikan
bahwa mutasi titik yang terjadi pada varian ini menyebabkan ekspresi gen globin
Aγ saja (Amato
et al., 2014). Kelainan homozigot Greek HPFH
belum diidentifikasi. Pada hubungannya dengan talasemia β heterozigot, Greek HPFH menunjukkan gejala yang
menyerupai talasemia intermediet ringan. Hemoglobin yang dominan adalah Hb A
dan didapatkan peningkatan kadar Hb A2 (3,6 – 5,2%) dan Hb F (20 – 40%) (Hariharan
et al., 2020).
Hb Kenya merupakan hasil ikatan
silang (crossing over) non homolog antara struktur gen γ dan β (Amato
et al., 2014). Didapatkan rantai α yang normal. Rantai non α memiliki urutan asam amino pada N-terminal yaitu rantai γ yang normal dan pada C-terminal rantai β normal. Kelainan heterozigot Hb Kenya memiliki fenotipe
HPFH. Kadar Hb A2 menurun (1,1 – 2,3%), Hb F meningkat (4,7 – 9,8%) dan Hb
Kenya 7 – 23% dari jumlah total hemoglobin. Hb F
terdistribusi secara uniform diantara eritrosit dan merupakan tipe Gγ (Bhukhanvala
et al., 2014).
Kejadian ini jarang ditemukan di
komunitas, seperti penelitian yang dilakukan pada komunitas siswa di Jamaika
Tengah, diperoleh HbAA pada 85,0%, HbAS
pada 9,7%,HbAC pada 3,5% dan HbA-HPFH
pada 0,4%.hal tersebut menunjukkan bahwa HPFH dalam prosentase terendah (Serjeant
et al., 2022). Carrier HPFH adalah orang yang
membawa sifat HPFH. Gen HPFH ini diturunkan dari salah satu orang tuanya yang
menjadi penderita ataupun carrier HPFH. Seorang carrier HPFH tidak menunjukkan
manifestasi klinis. Mereka dapat hidup sehat dan beraktivitas sama seperti orang
normal lainnya. Seseorang yang mewarisi gen HPFH tidak menunjukkan gangguan
kesehatan, sekalipun kedua orang tua adalah pembawa sifat HPFH (Kesuma
& Octavia, 2018).
Berbeda pada talasemia δβ, apabila pasangannya juga carrier
maka akan menimbulkan masalah kesehatan pada keturunannya. Sehingga dikatakan
bahwa HPFH adalah suatu kelainan hemoglobin yang tidak membahayakan (Wulandari,
2018). Seorang carrier HPFH
akan mewarisi satu gen Hb A dari salah satu orang tuanya dan gen HPFH dari
orang tua yang lain dan masih tetap memiliki Hb F di dalam darahnya. Darah
dapat berfungsi secara normal sehingga tidak akan muncul masalah kesehatan pada
seorang carrier HPFH. Seseorang diketahui sebagai carrier melalui hasil
pemeriksaan darah yang ditujukan khusus untuk mencari tahu kemungkinan adanya
kelainan hemoglobin (Steinberg,
2020). Jika salah satu pasangan adalah
carrier HPFH dan yang lain normal maka keturunan mereka tidak akan memiliki
kelainan hemoglobin yang serius (Gambar 2). Pada
setiap kehamilan ada dua kemungkinan yang dapat terjadi yaitu ada anak yang
tidak mempunyai kelainan hemoglobin sama sekali, dan ada anak sebagai carrier
HPFH. Pasangan ini dapat memiliki keluarga yang sehat sama seperti pasangan
yang lain (Wulandari,
2018).
Gambar 3 menunjukkan pewarisan gen HPFH yang
mungkin terjadi pada garis keturunan bila kedua pasangan adalah carrier HPFH.
Tiga kemungkinan yang dapat terjadi pada keturunan mereka yaitu ada anak yang
tidak memiliki kelainan hemoglobin sama sekali, ada yang menjadi carrier dan
ada yang akan mewarisi gen HPFH dari kedua orang tuanya. Anak tersebut adalah
penderita HPFH homozigot, dimana hanya memiliki Hb F. Namun kondisi ini tidak
membahayakan dan dapat tetap memiliki keluarga yang sehat sama seperti pasangan
normal lainnya (Nnodu Oe et al, 2021).
Gambar 2. Pedigree bila salah satu pasangan adalah carrier HPFH 0
Gambar 3. Pedigree
bila kedua pasangan adalah carrier
HPFH (Ojewunmi et al., 2023)
Skrining dan Diagnosis
Skrining carrier dan pendekatan
diagnosis HPFH tidak dapat dipisahkan dari diagnosis banding kelainan
hemoglobin lainnya (Shook
et al., 2021). Diagnosis HPFH berdasarkan pada
keadaan klinis, pemeriksaan darah rutin, dan pemeriksaan laboratorium khusus
yaitu dengan mengukur kadar Hb F, distribusi interseluler Hb F, serta elektroforesis hemoglobin (Patel
et al., 2015). Pemeriksaan Hb F bertujuan untuk
menegakkan diagnosis adanya kelainan herediter rantai globin dan kondisi dapatan (acquired) lainnya, dimana
pada keadaan tersebut, kadar Hb F akan meningkat.Untuk itu diperlukan pengukuran
kadar Hb F secara tepat (Ojewunmi et al., 2023).
Gambar 4. Guidelines untuk
pendekatan diagnosis berbagai kelainan hemoglobin pada carrier
Skrining tahap pertama berdasarkan
gambaran darah lengkap dan elektroforesis Hb serta estimasi kadar Hb A2 dan Hb
F (Gambar 4). Tahap kedua meliputi sickle
solubility, heat stability, serta pemeriksaan status besi (Sharma
et al., 2020). Diagnosis definitif dilakukan
dengan analisis DNA (Shook
et al., 2021).
Nilai cut off yang mengindikasikan
kemungkinan talasemia heterozigot adalah MCV < 78 fL, MCH < 27 pg (Wulandari,
2018). Sebagian besar talasemia
heterozigot baik β0 maupun β+ memiliki gambaran eritrosit hipokromik (MCV 19 –
23 pg) dan mikrositik (MCV 62 – 75 fL) serta peningkatan kadar Hb A2 (4 – 5,5%)
Sebagian dari carrier talasemia β memiliki peningkatan kadar Hb F yang
bervariasi, yang paling banyak antara 2,5 – 3%
(Serjeant
et al., 2022). Deviasi dari fenotipe
hematologik dari talasemia β-trait meliputi, 1) Penurunan MCV dan
MCH dengan kadar Hb A2 borderline atau normal dapat merupakan suatu defisiensi
besi, talasemia α, talasemia β ringan heterozigot, talasemia εγδβ, 2) Nilai MCV
dan MCH borderline atau normal dengan peningkatan kadar Hb A2 dapat merupakan
suatu co-inheritance talasemia α dan β, 3) Indeks eritrosit yang normal atau
menurun dengan kadar Hb A2 normal akan tetapi disertai peningkatan kadar Hb F
dapat merupakan suatu talasemia δβ atau HPFH
(Wulandari,
2018).
Diagnosis prenatal untuk mengetahui
adanya kelainan hemoglobin dapat dilakukan dengan analisis DNA janin (Sharma
et al., 2020). Sampel biasanya berasal dari
chorionic villus, dilakukan pada trimester pertama kehamilan (usia kehamilan 10
– 12 minggu) Selain itu dapat dipakai amniocytes pada trimester kedua akan
tetapi sel fetus seringkali terkontaminasi dengan sel maternal (Shaukat
et al., 2018). Setiapkali diagnosis
prenatal dilakukan harus disertai hasil pemeriksaan hematologi terhadap kedua
orangtua dan sebelumnya dikonfirmasi fenotipe dan genotipe parental, Untuk
mengetahui adanya mutasi parental pada DNA janin dilakukan dengan metode
polymerase chain reaction (PCR) (Garner C et
al., 2000). Parental, kontrol positif dan negatif harus selalu ada pada
tiap kali pemeriksaan. Kontaminasi oleh DNA maternal harus diperiksa
dengan markers DNA polimorfik meliputi variable tandem repeats (VNTRs) seperti
ApoB dan short tandem repeats atau micro satellites. Hal ini berguna apabila genotipe janin sama
dengan fenotipe maternal (Rampersaud E et al, 2021).
Kesimpulan
Kegagalan produksi rantai globin
secara kualitas maupun kuantitas menimbulkan berbagai macam kelainan hemoglobin
seperti talasemia, hemoglobinopati, dan termasuk juga Hereditary Persistence of Fetal Hemoglobin (HPFH). Komposisi hemoglobin antara prenatal
dan postnatal, antara janin dan dewasa berbeda. Sekitar 60 - 80% hemoglobin
janin didominasi oleh Hb F sedangkan pada dewasa didominasi oleh Hb A. Kadar Hb
F dapat meningkat dalam berbagai kondisi baik herediter maupun dapatan (acquired) seperti pada talasemia,
hemoglobinopati, kehamilan, kelainan mieloproliferatif, dan lain-lain.
Hereditary
Persistence of Fetal Hemoglobin (HPFH) adalah suatu kelainan herediter
sintesis rantai globin β yang ditandai produksi Hb F yang menetap hingga
dewasa. HPFH dapat terjadi
karena mutasi kluster gen rantai globin β. Hal ini berhubungan dengan adanya single point mutation pada
regio promoter dari dua rantai γ yang menyebabkan peningkatan transkripsi gen γG dan γA atau karena terjadinya delesi kluster gen globin β yang akan menghilangkan gen globin δ dan β. Delesi pada HPFH berhubungan dengan hilangnya silencer elements pada regio antara gen γ dan δ atau hilangnya removal elements
yang berada dekat gen globin γ. Insiden HPFH pertama
kali dicatat oleh Edington dan Lehmann pada tahun 1955, kemudian ditemukan pada
ras kulit hitam Afrika dan Amerika, ras Portugis-India di Inggris, ras kaukasia
Italia serta keturunan Yunani. Conley, et
al. menemukan sekitar 0,1% HPFH terjadi pada populasi kulit hitam di
Baltimore. Prevalensi ini dikonfirmasi oleh Thompson, Warrington, Odom dan Bell
dalam suatu penelitian pada 12.000 ras kulit hitam di
Amerika Serikat bagian selatan. Angka kejadian atau insiden HPFH adalah 0,1 per
100.000 populasi di California. Dahulu HPFH diklasifikasikan dalam pancellular dan heterocellular berdasarkan distribusi hemoglobin fetus
interseluler. Hb F pada pancellular HPFH terdistribusi
secara seragam (uniform) pada
eritrosit sedangkan pada heterocellular
HPFH ditandai peningkatan Hb F yang terdistribusi secara heteroseluler
diantara eritrosit. Kini, berdasarkan mutasi yang terjadi, HPFH
diklasifikasikan dalam dua bentuk yaitu delesi dan non delesi. Pada homozigot
didapatkan kadar Hb F sebesar 100% sedangkan pada heterozigot sebesar 20-30%.
Berbeda dengan talasemia β, pada HPFH tidak didapatkan manifestasi klinis karena
kegagalan sintesis rantai β dapat dikompensasi secara cukup
oleh rantai γ dan ada keseimbangan rasio sintesis antara rantai α dan non α. Pemeriksaan kadar Hb F berguna
dalam mendiagnosis berbagai kelainan rantai globin dimana kadar Hb F mungkin
bervariasi. Pada talasemia hanya sebagian kecil eritrosit yang mengandung Hb F (heterocellular), sedangkan pada HPFH semua
eritrosit mengandung Hb F (pancellular).
BIBLIOGRAFI
Ali, S., Mumtaz, S., Shakir, H. A., Khan, M., Tahir, H. M.,
Mumtaz, S., Mughal, T. A., Hassan, A., Kazmi, S. A. R., & Sadia. (2021).
Current status of beta‐thalassemia and its treatment strategies. Molecular
Genetics & Genomic Medicine, 9(12), e1788.
Amato, A., Cappabianca,
M. P., Perri, M., Zaghis, I., Grisanti, P., Ponzini, D., & Di Biagio, P.
(2014). Interpreting elevated fetal hemoglobin in pathology and health at the
basic laboratory level: new and known γ‐gene mutations associated with
hereditary persistence of fetal hemoglobin. International Journal of
Laboratory Hematology, 36(1), 13–19.
Bhukhanvala, D. S.,
Sorathiya, S., Surve, R., Nair, S., Italia, K., Colah, R., Ghosh, K., &
Gupte, S. C. (2014). Hemoglobin variants in M uslim community in S outh G
ujarat, W estern I ndia. International Journal of Laboratory Hematology,
36(1), e15–e17.
Bollekens, J. A., &
Forget, B. G. (1991). δβ Thalassemia and hereditary persistence of fetal
hemoglobin. Hematology/Oncology Clinics of North America, 5(3),
399–422.
Carrocini, G. C. de S.,
Zamaro, P. J. A., & Bonini-Domingos, C. R. (2011). What influences Hb fetal
production in adulthood? Revista Brasileira de Hematologia e Hemoterapia,
33, 231–236.
Conley, C. L.,
Weatherall, D. J., Richardson, S. N., Shepard, M. K., & Charache, S.
(1963). Hereditary persistence of fetal hemoglobin: a study of 79 affected
persons in 15 Negro families in Baltimore. Blood, 21(3), 261–281.
Dameuli, S. (2018). Perbedaan
Kadar Hemoglobin Menggunakan Hb Meter, Spektrofotometer Dan Hematology Analyzer
Pada Sampel Segera Diperiksa Dan Ditunda 20 Jam. Universitas Muhammadiyah
Semarang.
Ghani, S., Saleh, R. M.,
Rahman, W., Hassan, M. N., Abdullah, W. Z., Azlan, M., & Zulkafli, Z.
(2021). β-globin gene cluster mutations and large deletions among anaemic
patients with elevated HbF level in a tertiary teaching hospital in Kelantan,
Malaysia. Asia-Pac J MolBiolBiotechnol, 29(1), 10–18.
Hariharan, P., Kishnani,
P., Sawant, P., Gorivale, M., Mehta, P., Kargutkar, N., Colah, R., &
Nadkarni, A. (2020). Genotypic-phenotypic heterogeneity of δβ-thalassemia and
hereditary persistence of fetal hemoglobin (HPFH) in India. Annals of
Hematology, 99, 1475–1483.
Kaufman, D. P., Khattar,
J., & Lappin, S. L. (2018). Physiology, fetal hemoglobin.
Kesuma, S., & Octavia,
E. (2018). Gambaran Fraksi Hemoglobin Penderita Talasemia Menggunakan Metode
Elektroforesis Kapiler. Meditory: The Journal of Medical Laboratory, 6(2),
116–124.
Michlitsch, J., Azimi,
M., Hoppe, C., Walters, M. C., Lubin, B., Lorey, F., & Vichinsky, E. (2009).
Newborn screening for hemoglobinopathies in California. Pediatric Blood
& Cancer, 52(4), 486–490.
Mosca, A., Paleari, R.,
Leone, D., & Ivaldi, G. (2009). The relevance of hemoglobin F measurement
in the diagnosis of thalassemias and related hemoglobinopathies. Clinical
Biochemistry, 42(18), 1797–1801.
Ojewunmi, O. O., Adeyemo,
T. A., Oyetunji, A. I., Inyang, B., Akinrodoye, A., Mkumbe, B. S., Gardner, K.,
Rooks, H., Brewin, J., & Patel, H. (2023). The genetic dissection of fetal
haemoglobin persistence in sickle cell disease in Nigeria. MedRxiv,
2005–2023.
Patel, S., Dehury, S.,
Purohit, P., Meher, S., & Das, K. (2015). Inheritance of hereditary
persistence of fetal Haemoglobin (HPFH) in a family of Western Odisha, India. Journal
of Clinical and Diagnostic Research: JCDR, 9(9), OD09.
Pritišanac, E., Urlesberger,
B., Schwaberger, B., & Pichler, G. (2021). Fetal Hemoglobin and Tissue
Oxygenation Measured With Near-Infrared Spectroscopy—A Systematic Qualitative
Review. Frontiers in Pediatrics, 9, 710465.
Sankaran, V. G., Xu, J.,
Byron, R., Greisman, H. A., Fisher, C., Weatherall, D. J., Sabath, D. E.,
Groudine, M., Orkin, S. H., & Premawardhena, A. (2011). A functional
element necessary for fetal hemoglobin silencing. New England Journal of
Medicine, 365(9), 807–814.
Serjeant, G. R.,
Serjeant, B. E., Mason, K. P., Gibson, F., Osmond, C., Thein, S. L., Happich,
M., & Kulozik, A. E. (2022). The haematology of Jamaicans: red cell indices
in HbAA, HbAS, HbAC, and HbA-HPFH genotypes. Journal of Community Genetics,
13(2), 229–234.
Sharma, D. C., Singhal,
S., Woike, P., Rai, S., Yadav, M., & Gaur, R. (2020). Hereditary
persistence of fetal hemoglobin. Asian Journal of Transfusion Science, 14(2),
185.
Shaukat, I., Paudel, A.,
Yassin, S., Höti, N., & Mustafa, S. (2018). Blessing in disguise; a case of
Hereditary Persistence of Fetal Hemoglobin. Journal of Community Hospital
Internal Medicine Perspectives, 8(6), 380–381.
Shook, L. M., Haygood,
D., & Quinn, C. T. (2021). Clinical utility of the addition of molecular
genetic testing to newborn screening for sickle cell anemia. Frontiers in
Medicine, 8, 734305.
Steinberg, M. H. (2020).
Fetal hemoglobin in sickle hemoglobinopathies: high HbF genotypes and
phenotypes. Journal of Clinical Medicine, 9(11), 3782.
Wartiningsih, M.,
Brotosudarmo, K., Tanzilia, M. F., Kodrat, D. S., & Sugiyatmi, T. A.
(2023). Does Drinking Coffee and Tea Affect to the Hemoglobine Level on
Women of Reproductive Age at Tengger?–A Preliminary Research.
Wulandari, R. D. (2018).
Kelainan pada Sintesis Hemoglobin: Thalassemia dan Epidemiologi Thalassemia. Jurnal
Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma, 5(2), 33–44.
Zago, M. A., Wood, W. G.,
Clegg, J. B., Weatherall, D. J., O’sullivan, M., & Gunson, H. (1979).
Genetic control of F cells in human adults. Blood, 53(5),
977–986.
Copyright
holder: May Fanny Tanzilia, Minarni Wartiningsih (2024) |
First
publication right: Syntax Literate:
Jurnal Ilmiah Indonesia |
This article is
licensed under: |