Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia
p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398
Vol. 9, No.
10, Oktober 2024
STUDI KUALITATIF
TENTANG PERSEPSI DAN PENGALAMAN REMAJA UNTUK BERHENTI MEROKOK
Adelia Maharani¹, Zahro Varisna Rohmadani2
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Indonesia1,2
Email: adeliamhrn2912@gmail.com¹
Abstrak
Remaja awal
merupakan fase perkembangan penting yang ditandai oleh perubahan fisik,
psikologis, dan sosial yang signifikan. Pada periode ini, beberapa remaja
terpapar pada risiko perilaku seperti merokok, yang dapat berdampak negatif
pada kesehatan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi
dan pengalaman remaja dalam program Parts Hypnotherapy (PH) untuk berhenti
merokok. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap
tiga remaja berusia 14-17 tahun, ditemukan bahwa partisipan merasakan perubahan
positif dalam cara mereka mengelola stres dan kebiasaan merokok. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa persepsi positif terhadap program PH dan dukungan
sosial dari keluarga dan teman sebaya sangat berperan dalam keberhasilan
berhenti merokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Parts Hypnotherapy dapat memberikan
pengaruh positif terhadap persepsi dan pengalaman remaja dalam upaya mereka
untuk berhenti merokok.
Kata kunci: remaja, merokok, parts hypnotherapy,
persepsi remaja, dukungan sosial, berhenti merokok
Abstract
Keywords: adolescents,
smoking, parts hypnotherapy, adolescent perception, social support, smoking
cessation
Pendahuluan
Remaja awal, yang umumnya berusia antara 10 hingga 14 tahun, merupakan periode transisi yang sangat penting dalam perkembangan individu. Pada tahap ini, remaja mengalami perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk fisik, psikologis, dan sosial. Perubahan fisik, seperti pertumbuhan tubuh yang pesat dan kematangan seksual, sering kali disertai dengan perubahan psikologis yang melibatkan pencarian identitas, pengembangan kepercayaan diri, dan peningkatan rasa ingin tahu. Secara sosial, remaja mulai menjalin hubungan yang lebih kompleks dengan teman sebaya, keluarga, dan lingkungan mereka. Perubahan-perubahan ini menjadikan remaja awal sebagai periode yang rawan terhadap berbagai tantangan, termasuk pengaruh terhadap perilaku mereka yang dapat bersifat positif maupun negatif (Hendi et al., 2023).
Pada masa remaja awal, individu berada
dalam proses pencarian jati diri, di mana mereka mulai membentuk pandangan
tentang siapa diri mereka dan apa yang mereka yakini. Proses ini sering kali
dipengaruhi oleh tekanan dari lingkungan sekitar, terutama teman sebaya, yang
memainkan peran penting dalam membentuk perilaku dan nilai-nilai remaja. Salah
satu tantangan yang sering muncul dalam fase ini adalah paparan terhadap
perilaku berisiko, termasuk kebiasaan merokok. Bagi sebagian remaja, merokok
dipandang sebagai cara untuk mengekspresikan kebebasan, menunjukkan kedewasaan,
atau mendapatkan penerimaan dari kelompok sosial mereka. Sayangnya, banyak dari
mereka belum sepenuhnya memahami konsekuensi negatif dari merokok, baik dalam
jangka pendek maupun jangka panjang (Aprilia et al., 2024).
Fenomena merokok di kalangan remaja telah
menjadi perhatian global, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Data
dari Global Youth Tobacco Survey (GYTS) menunjukkan bahwa prevalensi merokok di
kalangan remaja Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Selain
itu, pola perilaku merokok di Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan,
di mana usia perokok pemula semakin muda. Pada tahun 2020, misalnya, tercatat
0,13% remaja berusia 10–12 tahun telah menjadi perokok, angka yang sempat menurun
pada tahun 2021 menjadi 0,07% tetapi kembali meningkat pada tahun 2022 menjadi
0,11%. Pola serupa juga terlihat pada kelompok usia 13–15 tahun, di mana
prevalensi perokok remaja mencapai 1,45% pada tahun 2022 (Kemenkes RI, 2024).
Di Kota Yogyakarta, yang dikenal sebagai
kota pelajar, masalah ini juga menjadi perhatian besar. Berdasarkan data Badan
Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, terdapat 278.125 remaja di kota ini, dan
prevalensi perokok remaja menunjukkan tren yang fluktuatif tetapi tetap tinggi.
Pada tahun 2021, prevalensi perokok pelajar mencapai 24,54%, mengalami
penurunan menjadi 23,97% pada tahun 2022, tetapi kembali meningkat pada tahun
2023 menjadi 24,82%. Tingginya angka ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat
berbagai upaya untuk mengurangi kebiasaan merokok di kalangan remaja, tantangan
besar masih dihadapi, terutama dalam hal mempertahankan perubahan perilaku yang
positif (Hastuti et al., 2021).
Meskipun remaja sering kali menyadari dampak buruk dari kebiasaan merokok, banyak dari mereka yang merasa sulit untuk berhenti. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk tekanan sosial, kurangnya dukungan dari keluarga, dan ketergantungan emosional terhadap rokok sebagai mekanisme coping. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang efektif untuk membantu remaja mengatasi kebiasaan ini. Salah satu pendekatan yang mulai mendapatkan perhatian adalah hipnoterapi, terutama Parts Hypnotherapy (PH).
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa intesi merokok adalah niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan menghisap gulungan tembakau yang berbalut kertas lalu dibakar kemudian asap yang dikeluarkan oleh rokok masuk kedalam tubuh dan menghembuskannya kembali keluar.
Menurut Ajzen (2015) intensi dari perilaku yang berdasarkan pada teori perilaku direncanakan (TBP-Theory of planned behavior) dipengaruhi oleh tiga aspek yaitu:
a.
Sikap terhadap perilaku. Aspek ini dapat
dipengaruhi dari keyakinan seseorang pada saat melakukan perilaku tertentu yang
akan membawa pada konsekuensi-konsekuensi tertentu.
b.
Norma subjektif terhadap perilaku. Suatu
persepsi seseorang terhadap norma sosial dan tekanan agar menampilkan/
melakukan perilaku tertentu, seperti merokok, serta evaluasi terhadap individu
apakah seseorang termotivasi agar dapat memenuhi tekanan.
c.
Kontrol perilaku yang dirasakan, beberapa
keyakinan bahwa individu dapat melakukan perilaku tertentu dengan berbagai
pertimbangan faktor pengendalian internal dan faktor kontrol eksternal.
Tahapan-tahapan intensi merokok Seseorang
yang melakukan perilaku merokok melewati berbagai tahapan hingga sampai dengan
seseorang yang dikatakan perokok. Menurut Leventhal dan Cleary (dalam Manafe et al.,
2019) bahwa perilaku merokok dibagi menjadi empat tahapan yaitu:
a.
Tahap
preparatory (pengenalan terhadap rokok).
Pada tahap ini seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai
rokok, tahap ini juga merupakan tahap munculanya nilai positif terhadap rokok.
b.
Tahap initiation
(tahap inisiasi). Pada tahap ini seseorang sudah memulia mencoba rokok dan
memberikan penilaian terhadap rokok, jika seseorang beranggapan merokok baik
baginya dia akan meneruskannya.
c.
Tahap becoming
a smoker (tahap menjadi seorang perokok). Pada tahap ini seseorang sudah
menjadi seorang perokok, jika seseorang sudah menghabiskan 4 batang rokok
sehari, sudah dapat dikatakan bahwa seorang perokok dan cenderung untuk
meneruskan merokok.
d.
Tahap maintenance
of smoking (tahap ketergantungan/tahap tetap menjadi perokok) Pada tahap ini seseorang sudah
menjadikan rokok sebagian dari kehidupannya, sudah masuk dalam pengaturan diri
(Self regulation).
Faktor- faktor yang mempegaruhi Perilaku
merokok dilakukan oleh seseorang dapat
disebabkan dari berbagai faktor berasal dari dalam (internal) seseorang dan
dari luar (eksternal) seseorang. Menurut Aditias (2019) beberapa faktor yang menyebabkan
seseorang melakukan perilaku merokok seperti:
Merokok dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor internal, faktor eksternal
Hipnoterapi adalah teknik psikoterapi yang
memanfaatkan sugesti untuk memengaruhi pikiran bawah sadar individu, membantu
mereka mengidentifikasi dan mengatasi akar masalah yang mendasari kebiasaan
atau perilaku tertentu. Dalam konteks merokok, hipnoterapi dianggap dapat
membantu individu mengenali pemicu emosional atau psikologis yang mendorong
mereka untuk merokok dan menggantinya dengan pola pikir serta kebiasaan yang
lebih sehat. Menurut penelitian, hipnoterapi memiliki potensi untuk membantu
individu berhenti merokok dengan cara yang lebih mendalam dan berkelanjutan
dibandingkan pendekatan konvensional (Haryono, 2023).
Pendekatan ini dianggap relevan karena
merokok bukan hanya masalah fisik tetapi juga psikologis. Banyak remaja yang
merokok untuk mengatasi stres, kecemasan, atau rasa tidak percaya diri. Dengan
hipnoterapi, remaja dapat belajar untuk menghadapi tekanan tersebut tanpa harus
bergantung pada rokok. Selain itu, metode ini juga memberikan ruang bagi remaja
untuk merefleksikan diri mereka, memahami motivasi di balik kebiasaan merokok,
dan menciptakan perubahan dari dalam.
Berdasarkan
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa part therapy merupakan salah
satu teknik dari hipnoterapi. Konsep yang menyatakan bagian-bagian
kepribadian diri seseorang yang merupakan aspek bawah sadar.
Part therapy yang cocok digunakan
untuk menangani kasus-kasus yang bekaitan dengan pertentangan atau kebimbangan dalam diri seseorang
Menurut Hunter (2015) beberapa variasi Parts Therapy seperti:
a.
Terapi keadaan ego, keadaan yang aktif
dalam keadaan permukaan menjadi eksekutif dapat mempengaruhi perilaku kita,
tetapi keadaan ego yang terkubur dalam bawah sadar yang disebut dengan keadaan
pokok (underlying).
b.
Dialog suara tidak adanya induksi resmi
untuk menuju hipnosis, dengan sedikit atau tanpa keadaan trans, akal sadar
lebih mudah untuk membiarkan penolakan analitis
c.
Kinerja jiwa anak-anak, kinerja regresi
usia hipnosis jelas menunjukkan, bahwa setiap tahap perkembangan tetap utuh,
diri kita memiliki diri bayi yang baru belajar belajar berjalan, anak usia
sekolah, atau yang kita alami ketika masih kanak-kanak.
d.
Sub kepribadian diduga akal kita secara
alami terbagi menjadi beberapa bagian dan fase, sehingga memiliki tingkat
historis lebih awal dan lebih akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menggali
lebih dalam mengenai persepsi dan pengalaman remaja yang mengikuti program
Parts Hypnotherapy (PH) sebagai upaya untuk berhenti merokok. Dengan pendekatan
kualitatif, penelitian ini memberikan kesempatan kepada remaja untuk berbagi
cerita mengenai tantangan yang mereka hadapi, perubahan yang mereka alami, dan
faktor-faktor yang memengaruhi proses berhenti merokok. Melalui pemahaman yang
lebih mendalam, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang
efektivitas PH dalam membantu remaja mengatasi kebiasaan merokok serta
menawarkan rekomendasi yang lebih tepat untuk intervensi di masa mendatang.
Dengan semakin kompleksnya tantangan yang
dihadapi remaja dalam mengatasi kebiasaan merokok, penelitian ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung upaya pencegahan dan
penghentian kebiasaan merokok di kalangan remaja. Pemahaman yang lebih baik
tentang dinamika sosial, psikologis, dan emosional yang memengaruhi kebiasaan
ini sangat penting untuk mengembangkan pendekatan yang tidak hanya efektif
tetapi juga berkelanjutan.
Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian
kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan suatu
penemuan yang tidak akan ditemukan bila menggunakan cara kuantitatif atau
dengan prosedur statistik. Penelitian kualitatif dapat menunjukkan
fenomena-fenomena sosial seperti kehidupan sosial, sejarah, tingkah laku,
fungsionalisme organisasi, pergerakan sosial, dan hubungan kekerabatan. Beberapa data bisa dikaji melalui data
sensus, tetapi analisisnya tetap analisis data kualitatif (Sugiyono, 2021). Menurut Kirk dan Miller, metodologi
kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ajaran ilmu pengetahuan sosial yang
bergantung pada pengamatan objek dan berhubungan dengan objek tersebut (Sidiq & Choiri,
2019)
Dalam mengkaji penelitian ini, peneliti
menggunakan Metode penelitian kualitatif jenis studi kasus. Menurut
Azwar mengacu pada pendekatan yang digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami
suatu fenomena secara mendalam dalam konteks tertentu, dengan memfokuskan pada
satu kasus atau beberapa kasus yang relevan. Studi kasus ini tidak hanya
mengumpulkan data dari individu, tetapi juga bisa melibatkan berbagai sumber
data lain, seperti dokumen, observasi, atau wawancara (Haryono, 2023).
Pendekatan ini berguna untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap dan mendalam tentang masalah atau fenomena yang sedang diteliti dalam konteks yang lebih spesifik.Penelitian ini memilih tiga responden yang akan diwawancarai yang pastinya berkompeten untuk menjelaskan dari apa yang akan peneliti kaji dan menambahkan gambar yang akan menguatkan penjelasan dari penelitian ini. Setelah data yang diperlukan cukup, peneliti akan menganalisis data-data pada hasil penelitian tersebut guna menguatkan penelitian yang akan dikaji.
Hasil
dan Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk
menggali persepsi dan pengalaman remaja yang terlibat dalam program Parts
Hypnotherapy (PH) untuk berhenti
merokok. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tiga remaja berusia
antara 14 hingga 17 tahun, yang sebelumnya telah mengikuti program PH selama dua bulan. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur untuk memberikan kebebasan kepada partisipan dalam berbagi pandangan dan pengalaman mereka mengenai proses terapi serta perubahan yang mereka rasakan setelah mengikuti program tersebut.
1)
Persepsi
Remaja terhadap Program Parts Hypnotherapy
Sebagian besar remaja yang
diwawancarai menunjukkan respons positif terhadap program PH. Mereka
menggambarkan pengalaman terapi sebagai sesuatu yang membantu mereka memahami
hubungan mereka dengan kebiasaan merokok dan mengubah pandangan mereka terhadap
rokok. Sebagai contoh, salah satu peserta (R1) mengungkapkan:
"Dulu saya merokok karena
pengaruh teman dan stres, tapi setelah ikut PH, saya jadi lebih sadar kenapa
saya merokok. Terapi ini bikin saya mikir ulang dan lebih bisa kontrol
diri."
Peserta lain (R2) menambahkan bahwa
PH membantu mereka untuk melihat diri mereka dengan cara yang lebih positif,
menghubungkan kebiasaan merokok dengan perasaan atau situasi tertentu yang bisa
diubah:
"PH membuat saya mengerti kalau
saya merokok untuk menutupi perasaan tidak percaya diri. Sekarang saya tahu
cara untuk menghadapinya tanpa harus merokok."
Namun, ada juga beberapa remaja yang
merasa program PH membutuhkan waktu dan kesabaran untuk membuahkan hasil yang
nyata. R3, misalnya, merasa ragu pada awalnya:
"Awalnya saya merasa nggak
yakin, apakah hipnosis bisa bikin saya berhenti merokok. Tapi, setelah beberapa
sesi, saya merasa ada perubahan, meskipun tidak langsung."
Temuan ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya yang menunjukkan bahwa hipnoterapi dapat membantu individu memahami
akar penyebab kebiasaan merokok mereka dan memodifikasi perilaku tersebut.
Menurut Budiman (2016), hipnoterapi teknik anchor efektif dalam mengubah
perilaku merokok pada remaja dengan membantu mereka mengidentifikasi dan
mengatasi pemicu emosional yang terkait dengan kebiasaan merokok
2)
Pengalaman
Remaja dalam Mengikuti Program PH
Selama mengikuti program PH, remaja
mengungkapkan bahwa mereka merasa lebih tenang dan lebih mampu mengelola stres
tanpa harus bergantung pada rokok. Beberapa peserta menggambarkan pengalaman
terapi mereka sebagai perjalanan pribadi yang membawa mereka untuk lebih
memahami diri mereka sendiri. R3 mengungkapkan:
"Selama terapi, saya merasa
lebih lega dan bisa lebih sabar menghadapi masalah. Dulu kalau stres, rokok
jadi pelarian. Sekarang, saya bisa cari cara lain, seperti olahraga atau
ngobrol sama teman."
Namun, beberapa remaja juga mencatat
tantangan dalam mempertahankan perubahan jangka panjang setelah terapi selesai.
R2 berkata:
"Kadang-kadang, pas lagi stres
berat, saya masih ada keinginan buat merokok. Tapi saya coba ingat-ingat lagi
apa yang sudah diajarkan di PH, dan saya nggak mau kembali ke kebiasaan
lama."
Pengalaman ini konsisten dengan
temuan dari penelitian lain yang menunjukkan bahwa hipnoterapi dapat
meningkatkan kemampuan individu dalam mengelola stres dan emosi negatif, yang
pada gilirannya membantu mereka mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Elkins
& Rajab (2004) hipnoterapi menunjukkan tingkat
kepuasan pasien hingga 95% dalam membantu mereka berhenti merokok
3)
Faktor
yang Mempengaruhi Keberhasilan Program PH
Berdasarkan wawancara, terdapat beberapa
faktor yang dianggap penting oleh remaja dalam menentukan keberhasilan program
PH untuk berhenti merokok. Salah satu faktor utama adalah dukungan dari
keluarga dan teman. Beberapa peserta menyatakan bahwa mereka merasa lebih
termotivasi untuk berhenti merokok ketika orang-orang di sekitar mereka
mendukung perubahan tersebut. R1 mengatakan:
"Keluarga saya sangat mendukung
dan mereka nggak mengkritik saya kalau saya lagi coba nggak merokok. Itu bikin
saya lebih semangat."
Selain itu, penguatan dari terapis
juga dianggap penting oleh sebagian besar peserta. R4 mencatat pentingnya
interaksi yang intens dengan terapis selama sesi PH:
"Saya merasa lebih percaya diri
karena terapis selalu memberikan semangat dan mengingatkan saya kalau saya bisa
berhenti merokok. Itu membantu banget."
Faktor-faktor ini sejalan dengan
literatur yang menekankan pentingnya dukungan sosial dan hubungan terapeutik
dalam keberhasilan intervensi berhenti merokok. Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Arsari,
Mediastari, & Suatama (2021) hipnoterapi dapat membantu individu
mengatasi ketergantungan rokok dengan memprogram ulang pikiran bawah sadar
mereka, terutama ketika didukung oleh lingkungan yang positif
Secara keseluruhan, temuan dari
penelitian ini menunjukkan bahwa program Parts Hypnotherapy dapat menjadi
intervensi yang efektif untuk membantu remaja berhenti merokok, terutama ketika
didukung oleh faktor-faktor seperti dukungan keluarga, teman, dan terapis.
Namun, penting untuk diingat bahwa perubahan perilaku memerlukan waktu dan
kesabaran, dan setiap individu mungkin memerlukan pendekatan yang disesuaikan
dengan kebutuhan dan pengalaman mereka.
Pembahasan
1.
Persepsi Remaja terhadap Program Parts Hypnotherapy
Sebagian
besar remaja yang berpartisipasi dalam penelitian ini memiliki persepsi positf terhadap
program Parts Hypnotherapy (PH). Mereka merasa bahwa program ini membantu
mereka menggali dan memahami alasan mendasar di balik kebiasaan merokok yang
telah menjadi bagian dari rutinitas mereka. Selain itu, PH membantu mereka
membangun pemahaman baru yang lebih sehat dalam mengatasi kebiasaan tersebut.
Sebagaimana dijelaskan oleh Azwar (dalam
Haryono, 2023) hipnosis memiliki kemampuan untuk
menjangkau pikiran bawah sadar, yang merupakan tempat penyimpanan kebiasaan
atau pola pikir yang sering kali tidak disadari. Dalam konteks ini, PH
memberikan kesempatan kepada remaja untuk mengganti pola pikir negatif terkait
rokok dengan pola yang lebih sehat.
Hasil ini
juga konsisten dengan Verdi,
Achadi, & Pramesti (2024) yang menunjukkan bahwa hipnosis
dapat memfasilitasi individu dalam menggali akar permasalahan kebiasaan merokok
mereka. Selain itu, hipnosis memberikan kontrol yang lebih besar terhadap
perilaku mereka, membantu mereka melakukan perubahan yang signifikan. Persepsi
remaja tentang PH yang sering kali dikaitkan dengan peningkatan rasa percaya
diri dan pengendalian diri memperkuat efektivitas metode ini dalam mengubah
pola pikir dan kebiasaan. Penelitian oleh Batra
et al., (2024) juga menunjukkan bahwa hipnoterapi
berbasis pendekatan kognitif mampu mengubah keyakinan negatif terkait merokok
menjadi motivasi untuk berhenti secara bertahap.
2.
Pengalaman Remaja dalam Mengikuti Program PH
Pengalaman
remaja selama mengikuti program PH menunjukkan adanya perubahan signifikan
dalam cara mereka mengelola stres dan emosi. Mereka merasa lebih mampu
mengatasi masalah tanpa bergantung pada rokok, yang menunjukkan dampak positif
dari program ini. Selain berhenti merokok, PH juga tampaknya membantu mereka
mengembangkan keterampilan pengelolaan stres yang lebih baik, seperti
menggunakan olahraga atau aktivitas positif lainnya sebagai pelarian dari
tekanan. Hal ini menunjukkan bahwa PH tidak hanya berfungsi sebagai terapi
untuk berhenti merokok, tetapi juga sebagai pendekatan yang berfokus pada
pembentukan kebiasaan mental yang sehat.
Namun,
tantangan tetap ada, terutama dalam mempertahankan perubahan jangka panjang.
Sebagian remaja menyebutkan bahwa mereka masih merasakan dorongan untuk merokok
ketika menghadapi situasi yang sangat menekan. Fenomena ini sejalan dengan
temuan Sidor
& Dubin (2024) yang menunjukkan bahwa faktor-faktor
sosial dan emosional memiliki pengaruh kuat terhadap keberhasilan individu
dalam mempertahankan perubahan perilaku.
Menurut
penelitian Saleha
(2021) keberhasilan intervensi hipnosis
sering kali dipengaruhi oleh tingkat dukungan sosial yang diterima peserta.
Dengan demikian, penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perubahan
tersebut agar dampak positif PH dapat bertahan dalam jangka panjang.
3.
Faktor Pendukung Keberhasilan Program PH
Dukungan
sosial, baik dari keluarga maupun teman sebaya, memainkan peran yang sangat
penting dalam keberhasilan remaja untuk berhenti merokok melalui program PH.
Dalam teori sosial kognitif Bandura, dukungan sosial dan keyakinan diri adalah
faktor kunci dalam pembentukan dan perubahan perilaku (Bandura,
1999). Dalam konteks penelitian ini,
remaja yang mendapatkan dukungan emosional dari keluarga dan teman melaporkan
tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dalam mempertahankan kebiasaan berhenti
merokok.
Selain itu,
hubungan terapeutik yang kuat dengan fasilitator PH juga dianggap penting.
Penelitian terbaru oleh Ismail
(2022) menemukan bahwa komunikasi yang
efektif antara terapis dan peserta dapat meningkatkan kepercayaan diri individu
dalam mengikuti terapi dan menjalani proses perubahan. Hal ini sejalan dengan
temuan di penelitian ini, di mana partisipan merasa didukung oleh terapis yang
memberikan dorongan positif selama sesi terapi.
Dengan
mempertimbangkan temuan ini, pendekatan program PH dapat diperkuat dengan
menambahkan komponen pelibatan keluarga atau komunitas untuk mendukung
perubahan perilaku. Selain itu, memberikan sesi lanjutan atau program
pendampingan dapat membantu peserta mengatasi tantangan yang muncul di kemudian
hari. Kombinasi antara hipnoterapi, dukungan sosial, dan strategi pengelolaan
stres yang berkelanjutan berpotensi memberikan hasil yang lebih konsisten dalam
membantu remaja berhenti merokok.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa program Parts
Hypnotherapy (PH) memiliki potensi yang signifikan dalam membantu remaja
berhenti merokok. Sebagian besar partisipan memiliki persepsi positif terhadap
PH karena program ini membantu mereka memahami akar kebiasaan merokok, seperti
tekanan sosial dan rendahnya kepercayaan diri, serta membangun kemampuan
mengelola stres tanpa bergantung pada rokok. Selain itu, pengalaman mereka
selama terapi menunjukkan adanya perubahan perilaku yang positif, meskipun
beberapa partisipan menghadapi tantangan dalam mempertahankan perubahan jangka
panjang. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan hubungan terapeutik dengan
fasilitator menjadi faktor penting yang memengaruhi keberhasilan program.
Dengan memperkuat komponen pendampingan dan pelibatan lingkungan sosial, PH
berpotensi menjadi intervensi yang efektif dan berkelanjutan dalam mengurangi
kebiasaan merokok di kalangan remaja.
BIBLIOGRAFI
Aditias, S. D. (2019).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilakumerokok Pada Gaya Hidup Anak Usia
Remaja Di Desa Sukasari Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. (Bachelor’s
Thesis, Fakultas Ilmu Dakwah Dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta).
Ajzen. (2015). Attitudes, Personality,
and Behavior. Licensing Agency Limited.
Aprilia, F., Ihsan, W. N., Ginting, A.,
& Arus, K. S. B. (2024). Upaya Mengatasi Perilaku Merokok Remaja Dengan
Edukasi Penyuluhan. Jurnal Intelek Insan Cendikia, 1(10),
6754–6764. https://jicnusantara.com/index.php/jiic/article/view/1825
Arsari, K. S. K.,
Mediastari, A. A. P. A., & Suatama, I. B. (2021). Hipnoterapi Untuk Pecandu Rokok Usia Remaja. Widya
Kesehatan, 3(2), 30–38.
https://doi.org/10.32795/widyakesehatan.v3i2.2087
Bandura, A. (1999). A social cognitive
theory of personality. In Handbook of personality. Guilford
Publications.
Batra, A., Eck, S., Riegel, B., Friedrich,
S., Fuhr, K., Torchalla, I., & Tönnies, S. (2024). Hypnotherapy compared to
cognitive-behavioral therapy for smoking cessation in a randomized controlled
trial. Frontiers in Psychology, 15, 1330362. Frontiers in Psychology, 15,
1330362. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1330362
Elkins, G. R., & Rajab, M. H. (2004).
Clinical hypnosis for smoking cessation: Preliminary results of a three-session
intervention. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis,
52(1), 73–81. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14768970/
Haryono, E. (2023).
Metodologi Penelitian Kualitatif Di Perguruan Tinggi Keagamaaan Islam. An-Nuur, 13(2), 1–10.
Hastuti, R., Soetikno, N., & Heng, P.
H. (2021). Remaja Sejahtera Remaja Nasionalis. Andi.
Hendi, H., Ikhram, D., Suryana, E., &
Abdurrahmansyah, A. (2023). Menavigasi Perkembangan Masa Remaja Awal:
Perkembangan, Tantangan, dan Kesempatan. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan,
6(10), 7629–7639.
Hunter, C. R. (2015). Seni Hipnoterapi,
Penguasaan Teknik yang Berpusat pada Klien. PT Indeks.
Ismail, S. (2022). Pelatihan Hipnoterapi
Dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri Remaja Di Rumah Terapi Dan Belajar Aulia
Rahman Bandar Lampung [UIN Raden Intan Lampung].
http://repository.radenintan.ac.id/22019/
Kemenkes RI. (2024). Perokok Aktif di
Indonesia Tembus 70 Juta Orang, Mayoritas Anak Muda.
https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20240529/1545605/perokok-aktif-di-indonesia-tembus-70-juta-orang-mayoritas-anak-muda/
Manafe, M. W. N., Lerrick, Y. F., &
Effendy, B. S. (2019). Determinan Tingkatan Perilaku Merokok Remaja Kota Kupang
Determinants of Youth Smoking Behavior in Kupang City. Jurnal Inovasi
Kebijakan, 4(2), 51–59. http://www.jurnalinovkebijakan.com/
Saleha, N. (2021). Afirmasi Daring Dan
Dukungan Kelompok Untuk Resiliensi Perawat Garda Terdepan Covid-19. Univet
Bantara.
Sidiq, U., & Choiri, M. (2019). Metode
Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan (A. Mujahidin (ed.)). CV. Nata
Karya.
Sidor, M., & Dubin, K. (2024). Social
Factors and Behavior Change and Motivation.
https://sweetinstitute.com/social-factors-and-behavior-change-and-motivation/
Sugiyono. (2021). Metode Penelitian
Kualitatif : Untuk penelitian yang bersifat ekploratif, enterpretif, interaktif
dan konstruktif. Alfabeta.
Verdi, R., Achadi, A., & Pramesti, D.
P. A. (2024). Peranan Terapi Hipnosis Terhadap Aktivitas Merokok Pada Orang
Dewasa: Sebuah Tinjauan Pustaka. Prepotif: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(1),
1161–1173. https://doi.org/10.31004/prepotif.v8i1.27200
|
Copyright holder: Adelia Maharani, Zahro Varisna Rohmadani (2024) |
|
First publication right: Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia |
|
This article is licensed under: |