Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN:
2541-0849 e-ISSN: 2548-1398
Vol. 9, No.
11, November 2024
ANALISIS PENGARUH RASIO KEUANGAN TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN
PERBANKAN DI BURSA EFEK INDONESIA (TAHUN 2011 – 2023)
Mirdal Nobel Hamun1, Fitria Husnatarina2,
Hendrian3
Universitas Terbuka, Indonesia1,3
Universitas Palangka Raya, Indonesia2
Email: mirdalnobel@gmail.com/530030701@ecampus.ut.ac.id1,
fitria.husnatarina@feb.upr.ac.id2, ian@ecampus.ut.ac.id3
Abstrak
Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis pengaruh rasio keuangan terhadap harga saham perusahaan
perbankan yang tercatat di
Bursa Efek Indonesia selama
periode 2011-2023. Rasio keuangan yang diperiksa meliputi Quick Ratio (QR), Loan to Deposit Ratio (LDR),
Loan to Assets Ratio (LAR), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Net
Profit Margin (NPM), Operating Expenses to Operating Income (BOPO), Capital
Adequacy Ratio (CAR), dan Debt to Equity Ratio (DER). Dengan
menggunakan analisis regresi linier berganda, hasil menunjukkan bahwa ROA dan NPM memiliki dampak positif dan signifikan terhadap harga saham, sedangkan
ROE memiliki efek negatif yang signifikan. QR, LDR,
LAR, BOPO, CAR, dan DER tidak menunjukkan
efek yang signifikan terhadap harga saham. Penelitian ini berkontribusi pada literatur tentang investasi di sektor perbankan dan memberikan wawasan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi di pasar saham.
Kata Kunci: Rasio keuangan,
harga saham, perbankan, Bursa Efek Indonesia, regresi linier berganda,
ROA, NPM, ROE.
Abstract
This study aims to analyze the effect of financial ratios on the stock
prices of banking companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the
period 2011-2023. The financial ratios examined include the Quick Ratio (QR),
Loan to Deposit Ratio (LDR), Loan to Assets Ratio (LAR), Return on Assets
(ROA), Return on Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), Operating Expenses to
Operating Income (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), and Debt to Equity Ratio
(DER). Using multiple linear regression analysis, the results indicate that ROA
and NPM have a positive and significant impact on stock prices, while ROE has a
significant negative effect. QR, LDR, LAR, BOPO, CAR, and DER show no
significant effect on stock prices. This research contributes to the literature
on investment in the banking sector and provides insights for investors in
making investment decisions in the stock market.
Keywords: Financial ratios, stock prices, banking, Indonesia
Stock Exchange, multiple linear regression, ROA, NPM, ROE.
Pendahuluan
Investasi saham telah lama menjadi pilihan utama bagi investor yang menginginkan keuntungan dalam jangka pendek
maupun jangka Panjang (Yuliah et al., 2019).
Dua keuntungan utama yang diharapkan dari investasi saham adalah capital gain, yaitu selisih harga jual
saham yang lebih tinggi dari harga
belinya, dan dividen, yang merupakan pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham berdasarkan proporsi kepemilikan saham mereka Namun,
meskipun potensi keuntungan yang ditawarkan saham cukup besar,
risiko yang melekat dalam investasi saham, seperti capital loss dan risiko likuidasi, juga tidak dapat diabaikan
(Iqbal & Rohmah, 2016).
Dalam konteks
pasar modal, investor harus mengambil
keputusan investasi berdasarkan analisis yang komprehensif. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah analisis fundamental, di mana kinerja
keuangan perusahaan menjadi fokus utama
dalam memprediksi harga saham. Analisis
rasio keuangan, seperti Quick Ratio (QR), Loan to Deposit Ratio (LDR),
Return On Assets (ROA), dan lain-lain, sering kali menjadi alat utama
yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan Perusahaan (Putri, 2020).
Di sektor perbankan, rasio-rasio keuangan tersebut memiliki peran penting dalam
mencerminkan kondisi kesehatan finansial perusahaan, yang pada gilirannya mempengaruhi harga saham perusahaan tersebut (Iqbal & Rohmah, 2016).
Sektor perbankan sendiri
merupakan sektor yang
sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi, regulasi, dan kebijakan moneter. Oleh karena itu, memahami bagaimana
rasio-rasio keuangan berpengaruh terhadap harga saham di sektor ini menjadi
penting, terutama bagi investor yang ingin memaksimalkan keuntungan dan meminimalisir risiko. Meskipun banyak penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terkait pengaruh rasio keuangan terhadap harga saham, kesenjangan penelitian tetap ada, khususnya yang berkaitan dengan perkembangan terkini seperti digitalisasi perbankan dan dampak pandemi COVID-19.
Berbagai studi sebelumnya, seperti penelitian (Harahap & Hairunnisah, 2017)
yang mencakup periode
2010-2014, belum memperhitungkan
dinamika terbaru dalam sektor perbankan,
termasuk adopsi teknologi digital dan dampak ekonomi global. Selain itu, penelitian yang lebih mutakhir seperti (Latif et al., 2021)
yang hanya mencakup hingga tahun 2019, belum memasukkan pengaruh perubahan regulasi dan kebijakan pemerintah akibat pandemi COVID-19.
Penelitian ini berfokus pada periode yang lebih luas, yakni dari
tahun 2011 hingga 2023, untuk menggali lebih dalam tentang
pengaruh rasio keuangan terhadap harga saham perusahaan
perbankan di Bursa Efek
Indonesia. Data terkini ini
mencakup berbagai perubahan signifikan yang mempengaruhi sektor perbankan dan kinerja perusahaan-perusahaan di dalamnya.
Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih komprehensif dan relevan.
Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis pengaruh sembilan rasio keuangan utama terhadap harga saham perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia
selama periode 2011-2023. Rasio keuangan yang diteliti meliputi Quick Ratio
(QR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Loan to Assets Ratio (LAR), Return on Assets
(ROA), Return On Equity (ROE), Net Profit Margin
(NPM), Beban Operasi/Pendapatan
Operasi (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan
Debt to Equity Ratio (DER).
Penelitian ini menawarkan kebaruan dalam dua aspek utama. Pertama,
penelitian ini menggunakan data terkini hingga tahun 2023, yang mencakup
perubahan-perubahan besar dalam sektor perbankan, seperti digitalisasi dan
dampak regulasi baru pasca-pandemi COVID-19. Kedua, penelitian ini melakukan
analisis terhadap sembilan rasio keuangan secara simultan dengan menggunakan
model regresi linier berganda, memberikan pemahaman yang lebih komprehensif
tentang pengaruh rasio keuangan terhadap harga saham di sektor perbankan.
Penelitian ini memiliki signifikansi penting, baik secara teoritis
maupun praktis. Dari sisi teoritis, penelitian ini diharapkan dapat mengisi
kesenjangan dalam literatur terkait pengaruh rasio keuangan terhadap harga
saham di sektor perbankan Indonesia, dengan memperhitungkan data dan kondisi
ekonomi terkini. Dari sisi praktis, hasil penelitian ini dapat memberikan
panduan yang lebih akurat bagi investor dalam membuat keputusan investasi,
serta memberikan wawasan bagi regulator dalam mengevaluasi stabilitas sektor
perbankan berdasarkan indikator rasio keuangan.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan
asosiatif untuk menganalisis pengaruh berbagai rasio keuangan terhadap harga
saham perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama
periode 2011-2023 (Sugiyono, 2020).
Desain penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan sebab-akibat antara
variabel independen (rasio keuangan) dan variabel dependen (harga saham). Penelitian
ini termasuk jenis penelitian kausalitas yang bertujuan untuk menguji pengaruh
beberapa variabel independen terhadap satu variabel dependen.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia dari tahun 2011 hingga 2023 (Ghozali, 2016).
Data tersebut meliputi
rasio keuangan seperti Quick Ratio (QR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Loan
to Assets Ratio (LAR), Return On Assets (ROA), Return
On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), Beban Operasi/Pendapatan Operasi (BOPO),
Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Debt to Equity Ratio (DER). Teknik purposive
sampling digunakan untuk memilih perusahaan yang memenuhi kriteria sebagai berikut.
Tabel 1. Kriteria Perusahaan
|
Kriteria |
Utama |
||||||||
|
Badan Hukum |
Perseroan Terbatas (PT) |
||||||||
|
Akuntansi dan Keuangan |
|||||||||
|
Masa Operasional (membukukan Pendapatan
Usaha |
≥ 36 bulan |
||||||||
|
Laba Usaha |
1 Tahun terakhir |
||||||||
|
LK Audited |
Min. 3 Tahun (2 tahun dengan Opini Wajar Tanpa
Modifikasian) |
||||||||
|
Ukuran Keuangan |
Aktiva Berwujud Bersih* ≥ Rp. 100 miliar |
||||||||
|
Struktur Penawaran |
|||||||||
|
Jumlah saham yang ditawarkan kepada publik |
Min. 300 juta saham dan :
|
||||||||
|
Pemegang saham |
≥ 1000 pihak |
||||||||
|
Harga saham perdana |
≥ Rp. 100 |
||||||||
|
Bentuk Penjaminan |
Full Comitment |
||||||||
Data dikumpulkan melalui
metode dokumentasi dengan mengakses laporan keuangan tahunan yang tersedia di situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI),
The Indonesia Capital Market Institute (TICMI), Otoritas
Jasa Keuangan, Stockbit, dan Mirae Asset Sekuritas.
Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk menguji pengaruh
masing-masing rasio keuangan
terhadap harga saham. Uji asumsi klasik seperti uji normalitas, uji multikolinearitas,
uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi
juga dilakukan untuk memastikan validitas model regresi yang digunakan. Model regresi ini dipilih
karena mampu memberikan estimasi yang lebih baik terhadap
hubungan antar variabel dalam data panel.
Hasil dan Pembahasan
Statistik Deskriptif
Tabel 2. Statistik Deskriptif
|
Variables |
N |
Minimum |
Maximum |
Mean |
Std. Deviation |
|
QR |
288 |
0.02 |
157.57 |
9.3450 |
21.03255 |
|
LDR |
288 |
41.22 |
171.32 |
84.8707 |
14.66542 |
|
LAR |
288 |
0.00 |
155.09 |
59.6486 |
17.27173 |
|
ROA |
288 |
-11.23 |
9.10 |
1.2079 |
1.65867 |
|
ROE |
288 |
-353.34 |
66.44 |
8.5256 |
23.63430 |
|
NPM |
288 |
-118.22 |
93.82 |
13.9402 |
16.95466 |
|
BOPO |
288 |
12.03 |
287.86 |
86.5078 |
24.87772 |
|
CAR |
288 |
10.35 |
98.28 |
21.0550 |
9.44950 |
|
DER |
288 |
0.31 |
30.47 |
6.0838 |
3.46982 |
|
Harga saham |
288 |
50.00 |
33850.00 |
2491.1076 |
4278.83932 |
|
Valid N
(listwise) |
288 |
|
|
|
|
Quick Ratio (QR)
Selama periode
2011 hingga 2023, Quick Ratio (QR) menunjukkan fluktuasi signifikan,
dengan rentang nilai dari 0,02 hingga 157,57, yang mencerminkan variabilitas
besar dalam kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek. Rata-rata QR
sebesar 9,3450 memberikan gambaran yang lebih stabil, namun standar deviasi
21,03255 menunjukkan adanya variasi substansial di sekitar rata-rata ini, yang
memerlukan analisis lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi
fluktuasi tersebut.
Loan to Deposit Ratio (LDR)
Selama periode
2011 hingga 2023, Loan to Deposit Ratio (LDR) menunjukkan variasi
signifikan dengan rentang nilai antara 41,22 hingga 171,32, mencerminkan
fluktuasi besar dalam proporsi pinjaman bank terhadap simpanan. Rata-rata LDR
sebesar 84,8707 memberikan gambaran yang lebih representatif, namun standar deviasi
yang tinggi sebesar 14,66542 menandakan adanya perubahan signifikan dalam
proporsi pinjaman dari tahun ke tahun, yang mungkin mencerminkan perubahan
strategi perbankan atau respons terhadap kondisi pasar. Analisis lebih lanjut
diperlukan untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi fluktuasi ini.
Loan to Assets Ratio (LAR)
Selama periode
2011 hingga 2023, Loan to Assets Ratio (LAR) menunjukkan variasi
signifikan dengan rentang nilai dari 0,00 hingga 155,09, mencerminkan fluktuasi
besar dalam proporsi pinjaman terhadap total aset perusahaan. Rata-rata LAR
sebesar 59,6486 memberikan gambaran yang lebih stabil, namun standar deviasi
yang tinggi sebesar 17,27173 menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam
kebijakan peminjaman atau respons terhadap kondisi ekonomi. Analisis lebih
lanjut diperlukan untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi fluktuasi ini.
Return On Asstes (ROA)
Selama periode
2011 hingga 2023, Return On Assets (ROA) menunjukkan variasi signifikan
dengan rentang nilai dari -11,23 hingga 9,10, mencerminkan fluktuasi besar
dalam tingkat pengembalian investasi perusahaan terhadap total aset. Rata-rata
ROA sebesar 1,2079 memberikan gambaran yang lebih stabil, namun standar deviasi
yang tinggi sebesar 1,65867 menunjukkan adanya variasi yang cukup besar dari
tahun ke tahun, yang mungkin mencerminkan perubahan strategi bisnis atau
kondisi pasar. Analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami faktor-faktor
yang memengaruhi fluktuasi ini agar dapat mendukung perencanaan dan pengambilan
keputusan yang lebih tepat.
Return On Equity (ROE)
Selama periode
2011 hingga 2023, Return On Equity (ROE) menunjukkan variasi signifikan
dengan rentang nilai dari -353,34 hingga 66,44, mencerminkan fluktuasi besar
dalam efisiensi perusahaan menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham relatif
terhadap ekuitas. Meskipun ekstrem tersebut mencolok, rata-rata ROE sebesar
8,5256 memberikan gambaran yang lebih seimbang tentang kinerja investasi
perusahaan, namun standar deviasi tinggi sebesar 23,63430 menunjukkan adanya
variasi substansial dari tahun ke tahun. Fluktuasi ini mengindikasikan
perubahan dalam efisiensi penggunaan ekuitas, yang memerlukan analisis lebih
lanjut untuk memahami faktor-faktor yang mendasarinya dan dampaknya terhadap
kesehatan keuangan perusahaan di masa depan.
Net
Profit Margin (NPM)
Selama periode
2011 hingga 2023, Net Profit Margin (NPM) menunjukkan variasi signifikan
dengan rentang nilai dari -118,22 hingga 93,82, mencerminkan fluktuasi besar
dalam kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan bersih relatif terhadap
pendapatan kotor. Meskipun ekstrem ini mencolok, rata-rata NPM sebesar 13,9402
memberikan gambaran yang lebih seimbang tentang efisiensi perusahaan, namun
standar deviasi tinggi sebesar 16,95466 menunjukkan variasi yang substansial
dari tahun ke tahun. Fluktuasi ini menandakan adanya tantangan dalam
mempertahankan profitabilitas, sehingga diperlukan analisis lebih lanjut untuk
memahami faktor-faktor yang memengaruhi dan dampaknya terhadap kinerja serta
strategi bisnis perusahaan di masa depan.
Beban
Operasi Pendapatan Operasi (BOPO)
Selama periode
2011 hingga 2023, Beban Operasi Pendapatan Operasi (BOPO) menunjukkan variasi
signifikan dengan rentang nilai dari 12,03 hingga 287,86, mencerminkan
fluktuasi besar dalam rasio antara beban operasi dan pendapatan operasi
perusahaan. Meskipun ekstrem ini mencolok, rata-rata BOPO sebesar 86,5078
memberikan gambaran yang lebih seimbang tentang proporsi beban operasi terhadap
pendapatan, namun standar deviasi tinggi sebesar 24,87772 menunjukkan variasi
yang substansial dari tahun ke tahun. Fluktuasi ini dapat mengindikasikan
perubahan dalam biaya operasional atau strategi bisnis, sehingga analisis lebih
lanjut diperlukan untuk memahami faktor-faktor yang mendasarinya dan dampaknya
terhadap kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan.
Capital
Adequacy Ratio (CAR)
Selama periode
2011 hingga 2023, Capital Adequacy Ratio (CAR) menunjukkan variasi
signifikan dengan rentang nilai dari 10,35 hingga 98,28, mencerminkan fluktuasi
besar dalam kemampuan perusahaan memenuhi persyaratan modal minimum untuk
melindungi risiko keuangan (Ayem &
Wahyuni, 2017). Meskipun ekstrem ini mencolok, rata-rata CAR sebesar
21,0550 memberikan gambaran yang lebih seimbang tentang kecukupan modal dalam
menghadapi risiko, namun standar deviasi yang tinggi sebesar 9,44950
menunjukkan variasi yang signifikan dari tahun ke tahun. Fluktuasi ini dapat
mengindikasikan perubahan dalam struktur modal atau kondisi pasar, sehingga
analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami faktor-faktor yang mendasarinya
dan dampaknya terhadap stabilitas keuangan perusahaan di masa depan.
Debt
To Equity (DER)
Selama periode
2011 hingga 2023, Debt to Equity Ratio (DER) menunjukkan variabilitas
signifikan dengan rentang nilai dari 0,31 hingga 30,47, mencerminkan fluktuasi
besar dalam proporsi utang terhadap ekuitas perusahaan. Rata-rata DER sebesar
6,0838 memberikan gambaran yang lebih seimbang tentang struktur keuangan
perusahaan, namun standar deviasi yang tinggi sebesar 3,46982 menunjukkan
variasi substansial dari tahun ke tahun, yang mungkin mencerminkan perubahan
kebijakan keuangan atau kondisi ekonomi (Hendri &
Nurhazana, 2019). Analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami
faktor-faktor yang mendasari fluktuasi ini dan dampaknya terhadap kesehatan
finansial perusahaan di masa depan.
Harga
Saham
Selama periode
2011 hingga 2023, harga saham menunjukkan variasi signifikan dengan rentang
dari 50,00 hingga 33.850,00, mencerminkan volatilitas besar dalam nilai saham
selama periode tersebut. Meskipun nilai-nilai ekstrem ini menarik perhatian,
rata-rata harga saham sebesar 2.491,1076 memberikan gambaran yang lebih
seimbang tentang tren harga secara keseluruhan, namun standar deviasi yang
tinggi sebesar 4.278,83932 menyoroti fluktuasi yang signifikan di sekitar
rata-rata. Variasi ini menunjukkan perubahan harga saham yang substansial dari
waktu ke waktu, yang mungkin dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kondisi
pasar, berita industri, atau kebijakan perusahaan, sehingga analisis lebih
lanjut diperlukan untuk memahami dampaknya terhadap kinerja dan nilai
perusahaan di masa depan.
Uji
Normalitas
Tabel 3.
Uji Normalitas
|
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
Unstandardized Residual |
|
|
N |
288 |
|
|
Normal Parametersa,b |
Mean |
.0000000 |
|
Std. Deviation |
1.24543930 |
|
|
Most Extreme Differences |
Absolute |
.044 |
|
Positive |
.036 |
|
|
Negative |
-.044 |
|
|
Test Statistic |
.044 |
|
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
.200c,d |
|
|
a. Test distribution is Normal. |
||
|
b. Calculated from data. |
||
|
c. Lilliefors Significance Correction. |
||
|
d. This is a lower bound of the true significance. |
||
Berdasarkan hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov pada
Tabel 3, nilai signifikansi sebesar 0,200 lebih besar dari 0,05, sehingga dapat
disimpulkan bahwa nilai residual terdistribusi secara
normal.
Tabel 4. Uji Multikolinieritas
|
Coefficientsa |
||||||||
|
Model |
Unstandardized
Coefficients |
Standardized
Coefficients |
t |
Sig. |
Collinearity
Statistics |
|||
|
B |
Std. Error |
Beta |
Tolerance |
VIF |
||||
|
1 |
(Constant) |
4.817 |
.795 |
|
6.056 |
.000 |
|
|
|
QR |
-.004 |
.004 |
-.060 |
-1.075 |
.283 |
.861 |
1.162 |
|
|
LDR |
.009 |
.006 |
.087 |
1.477 |
.141 |
.770 |
1.299 |
|
|
LAR |
.001 |
.005 |
.007 |
.111 |
.911 |
.693 |
1.443 |
|
|
ROA |
.386 |
.077 |
.444 |
5.028 |
.000 |
.344 |
2.903 |
|
|
ROE |
-.013 |
.005 |
-.219 |
-2.528 |
.012 |
.357 |
2.801 |
|
|
NPM |
.029 |
.007 |
.339 |
4.195 |
.000 |
.411 |
2.431 |
|
|
BOPO |
.003 |
.004 |
.053 |
.715 |
.475 |
.483 |
2.070 |
|
|
CAR |
.002 |
.010 |
.016 |
.256 |
.798 |
.690 |
1.449 |
|
|
DER |
.037 |
.027 |
.090 |
1.399 |
.163 |
.645 |
1.550 |
|
|
a. Dependent Variable: lnY |
||||||||
Berdasarkan hasil uji multikolinearitas
pada Tabel 4, nilai VIF untuk variabel independen kurang dari 10, sehingga
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas pada variabel
independen.
Gambar 1. Uji Heterokedastisitas dengan Scatterplot
Tabel 5. Uji
Heterokedastisitas Dengan Glejser
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized
Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
1.808 |
.427 |
|
4.236 |
.000 |
|
QR |
.004 |
.002 |
.127 |
2.056 |
.041 |
|
|
LDR |
-.009 |
.003 |
-.197 |
-3.017 |
.003 |
|
|
LAR |
.001 |
.003 |
.018 |
.264 |
.792 |
|
|
ROA |
-.082 |
.041 |
-.195 |
-2.004 |
.046 |
|
|
ROE |
.002 |
.003 |
.054 |
.563 |
.574 |
|
|
NPM |
.006 |
.004 |
.143 |
1.599 |
.111 |
|
|
BOPO |
.002 |
.002 |
.053 |
.649 |
.517 |
|
|
CAR |
.000 |
.005 |
-.004 |
-.060 |
.952 |
|
|
DER |
-.030 |
.014 |
-.151 |
-2.118 |
.035 |
|
|
a. Dependent Variable: absRes |
||||||
Sumber : Data diolah SPSS, 2024
Berdasarkan hasil scatterplot pada Bagan 1, terlihat bahwa titik-titik tersebar secara acak di
atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, serta hasil uji Glejser pada Tabel 5
menunjukkan nilai signifikansi hampir semua variabel lebih besar dari 0,05,
yang berarti asumsi heteroskedastisitas terpenuhi dengan ragam residual yang
homogen.
Uji
Autokorelasi
Tabel 6. Uji Autokorelasi
|
dL |
dU |
4-dU |
4-dL |
DW |
|
1.751 |
1.864 |
2.136 |
2.249 |
2.299 |
Berdasarkan Tabel 6, nilai Durbin-Watson
berada di atas 4-dL, yang menunjukkan adanya autokorelasi antar residual
(asumsi tidak terpenuhi). Setelah uji asumsi klasik regresi selesai dilakukan,
analisis dilanjutkan dengan menggunakan regresi linier berganda untuk melihat
pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.
Model
Regresi Data Panel
Tabel 7. Ringkasan uji Regresi Linier Berganda
|
Variabel |
B |
t hitung |
P-value t |
Keterangan |
|
Konstanta |
4.817 |
|
|
|
|
Quick Ratio (QR) |
-0.004 |
-1.075 |
0.283 |
Tidak signifikan |
|
Loan to Deposit
Ratio (LDR) |
0.009 |
1.477 |
0.141 |
Tidak signifikan |
|
Loan to Assets
Ratio (LAR) |
0.001 |
0.111 |
0.911 |
Tidak signifikan |
|
Return On Assets (ROA) |
0.386 |
5.028 |
0.000 |
Signifikan |
|
Return On Equity (ROE) |
-0.013 |
-2.528 |
0.012 |
Signifikan |
|
Net Profit
Margin (NPM) |
0.029 |
4.195 |
0.000 |
Signifikan |
|
Beban Operasi Pendapatan Operasi
(BOPO) |
0.003 |
0.715 |
0.475 |
Tidak signifikan |
|
Capital Adequacy
Ratio (CAR) |
0.002 |
0.256 |
0.798 |
Tidak signifikan |
|
Debt to Equity
Ratio (DER) |
0.037 |
1.399 |
0.163 |
Tidak signifikan |
|
α |
= 0.050 |
|||
|
Koefisien Determinasi (R2) |
= 0.254 |
|||
|
F-hitung |
= 10.492 |
|||
|
F-tabel (F9,278,0.05) |
= 1.914 |
|||
|
P-value F |
= 0.000 |
|||
|
t-tabel (t278,0.05) |
= 1.969 |
|||
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh model regresi
sebagai berikut:
Pengujian Hipotesis
Uji t (Uji Parsial/pengaruh masing-masing)
Pengujian model regresi secara parsial digunakan untuk
mengetahui apakah masing-masing variabel independen pembentuk model regresi
secara individu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
Dengan hipotesis sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan
antara masing-masing variabel independent terhadap variabel
dependen;
H1: Terdapat pengaruh yang signifikan antara
masing-masing variabel independent terhadap variabel dependen.
Pengambilan keputusan:
H0 ditolak jika |t hitung| > t tabel, atau p-value < α
H1 diterima jika |t hitung| < t tabel, atau p-value > α
Berdasarkan
Tabel 7 didapatkan hasil sebagai berikut:
1) Konstanta yang didapatkan sebesar 4.817 menunjukkan bahwa sebelum
adanya pengaruh dari variabel bebas, terdapat peningkatan awal variabel ln
harga saham sebesar 4.817 angka (harga saham meningkat 123.59 angka).
2) Variabel Quick Ratio (QR) berpengaruh negatif
dan tidak signifikan terhadap
variabel ln harga saham. Terlihat dari
statisitik uji t dengan |t hitung| lebih kecil dari t tabel (1.075 < 1.969) dan p-value t yang
lebih besar dari α (0.283 > 0.050). Pengujian ini menunjukkan
keputusan bahwa H0 diterima.
Koefisien yang didapatkan sebesar -0.004 menunjukkan bahwa peningkatan 1 angka
variabel QR dapat menurunkan variabel ln harga saham sebesar 0.004 angka (harga
saham menurun sebesar 1.004 angka) tetapi tidak signifikan.
3) Variabel Loan to Deposit
Ratio (LDR) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap variabel ln harga saham. Terlihat dari statisitik uji t dengan |t
hitung| lebih kecil dari t
tabel (1.477 < 1.969) dan p-value t yang lebih besar dari α
(0.141 > 0.050). Pengujian ini menunjukkan keputusan bahwa H0 diterima. Koefisien yang
didapatkan sebesar 0.009 menunjukkan bahwa peningkatan 1 angka variabel LDR
dapat meningkatkan variabel ln harga saham sebesar 0.009 angka (harga saham
meningkat sebesar 1.009 angka) tetapi tidak signifikan.
4) Variabel Loan to Assets
Ratio (LAR) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap variabel ln harga saham. Terlihat dari statisitik uji t dengan |t
hitung| lebih kecil dari t
tabel (0.111 < 1.969) dan p-value t yang lebih besar dari α
(0.911 > 0.050). Pengujian ini menunjukkan keputusan bahwa H0 diterima. Koefisien yang
didapatkan sebesar 0.001 menunjukkan bahwa peningkatan 1 angka variabel LAR
dapat meningkatkan variabel ln harga saham sebesar 0.001 angka (harga saham
meningkat sebesar 1.001 angka) tetapi tidak signifikan.
5) Variabel Return On Assets (ROA) berpengaruh positif
dan signifikan terhadap variabel ln
harga saham. Terlihat dari statisitik
uji t dengan |t hitung| lebih
besar dari t tabel (5.028 > 1.969) dan p-value t yang lebih kecil
dari α (0.000 < 0.050). Pengujian ini menunjukkan keputusan
bahwa H0 ditolak.
Koefisien yang didapatkan sebesar 0.386 menunjukkan bahwa peningkatan 1 angka
variabel ROA dapat meningkatkan variabel ln harga saham sebesar 0.386 angka
(harga saham meningkat sebesar 1.471 angka) secara signifikan.
6) Variabel Return On Equity (ROE) berpengaruh negatif
dan signifikan terhadap variabel ln
harga saham. Terlihat dari statisitik
uji t dengan |t hitung| lebih
besar dari t tabel (2.528 > 1.969) dan p-value t yang lebih kecil
dari α (0.012 < 0.050). Pengujian ini menunjukkan keputusan
bahwa H0 ditolak.
Koefisien yang didapatkan sebesar -0.013 menunjukkan bahwa peningkatan 1 angka
variabel ROE dapat menurunkan variabel ln harga saham sebesar 0.013 angka
(harga saham menurun sebesar 1.013 angka) secara signifikan.
7) Variabel Net Profit Margin (NPM) berpengaruh positif
dan signifikan terhadap variabel ln
harga saham. Terlihat dari statisitik
uji t dengan |t hitung| lebih
besar dari t tabel (4.195 > 1.969) dan p-value t yang lebih kecil
dari α (0.000 < 0.050). Pengujian ini menunjukkan keputusan
bahwa H0 ditolak.
Koefisien yang didapatkan sebesar 0.029 menunjukkan bahwa peningkatan 1 angka
variabel NPM dapat meningkatkan variabel ln harga saham sebesar 0.029 angka
(harga saham meningkat sebesar 1.029 angka) secara signifikan.
8) Variabel Beban Operasi Pendapatan Operasi (BOPO) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap variabel ln harga saham. Terlihat dari statisitik uji t dengan |t
hitung| lebih kecil dari t
tabel (0.715 < 1.969) dan p-value t yang lebih besar dari α
(0.475 > 0.050). Pengujian ini menunjukkan keputusan bahwa H0 diterima. Koefisien yang
didapatkan sebesar 0.003 menunjukkan bahwa peningkatan 1 angka variabel BOPO
dapat meningkatkan variabel ln harga saham sebesar 0.003 angka (harga saham
meningkat sebesar 1.003 angka) tetapi tidak signifikan.
9) Variabel Capital Adequacy
Ratio (CAR) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap variabel ln harga saham. Terlihat dari statisitik uji t dengan |t
hitung| lebih kecil dari t
tabel (0.256 < 1.969) dan p-value t yang lebih besar dari α
(0.798 > 0.050). Pengujian ini menunjukkan keputusan bahwa H0 diterima. Koefisien yang
didapatkan sebesar 0.002 menunjukkan bahwa peningkatan 1 angka variabel CAR
dapat meningkatkan variabel ln harga saham sebesar 0.002 angka (harga saham
meningkat sebesar 1.002 angka) tetapi tidak signifikan.
10) Variabel Debt to Equity
Ratio (DER) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap variabel ln harga saham. Terlihat dari statisitik uji t dengan |t
hitung| lebih kecil dari t
tabel (1.399 < 1.969) dan p-value t yang lebih besar dari α
(0.163 > 0.050). Pengujian ini menunjukkan keputusan bahwa H0 diterima. Koefisien yang
didapatkan sebesar 0.037 menunjukkan bahwa peningkatan 1 angka variabel CAR
dapat meningkatkan variabel ln harga saham sebesar 0.037 angka (harga saham
meningkat sebesar 1.038 angka) tetapi tidak signifikan.
Koefisien Determinasi
Besarnya kontribusi pengaruh dari variabel independen
secara simultan terhadap variabel dependen, berdasarkan hasil perhitungan pada
tabel 7 dengan nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,254. Hasil
tersebut menjelaskan sumbangan atau kontribusi pengaruh dari variabel bebas
(Quick Ratio (QR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Loan to Assets
Ratio (LAR), Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE), Net
Profit Margin (NPM), Beban Operasi Pendapatan Operasi (BOPO), Capital
Adequacy Ratio (CAR), Debt to Equity Ratio (DER)) terhadap variabel ln harga saham adalah
sebesar 25.4%. Sedangkan
74.6% lainnya disumbangkan
oleh variabel bebas lainnya yang tidak dimasukkan ke dalam
persamaan ini.
Pengaruh Quick
Ratio (QR) terhadap Harga Saham
Berdasarkan
evaluasi statistik, nilai t-hitung untuk variabel Quick Ratio (QR) adalah
-1,075 dengan tingkat signifikansi 0,283, yang lebih besar dari alpha 0,05,
sehingga dapat disimpulkan bahwa QR memiliki pengaruh negatif dan tidak
signifikan terhadap harga saham, sehingga hipotesis bahwa QR berpengaruh
positif dan signifikan tidak diterima. QR yang rendah menunjukkan
ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, yang dapat
mengurangi minat investor dan menurunkan nilai saham. Penyebab utamanya adalah
aset likuid yang tidak cukup untuk menutupi utang lancar. Hasil ini sejalan
dengan penelitian Sari et al., (2020)dalam
arah pengaruh, tetapi berbeda dalam tingkat signifikansinya, di mana Sari
menemukan pengaruh negatif dan signifikan QR terhadap volatilitas harga saham.
Pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap
Harga Saham
Berdasarkan evaluasi statistik, nilai t-hitung untuk variabel Loan to Deposit
Ratio (LDR) adalah 1,477 dengan
tingkat signifikansi 0,141,
yang lebih besar dari alpha 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa LDR memiliki pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap harga saham, dan hipotesis bahwa LDR berpengaruh negatif dan signifikan tidak diterima. Meningkatnya LDR menunjukkan peningkatan penyaluran kredit yang berpotensi meningkatkan laba dari pendapatan bunga, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keputusan investasi dan permintaan saham. Namun, hasil penelitian
ini tidak konsisten dengan temuan Latif et al., (2021)
yang menyatakan bahwa LDR memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan di Bursa Efek
Indonesia.
Pengaruh Loan to Assets Ratio (LAR) terhadap
Harga Saham
Berdasarkan evaluasi statistik, nilai t-hitung untuk variabel Loan to Assets
Ratio (LAR) adalah 0,111 dengan
tingkat signifikansi 0,911,
yang lebih besar dari alpha 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa LAR memiliki pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap harga saham, sehingga hipotesis bahwa LAR berpengaruh negatif dan signifikan tidak diterima. LAR yang rendah menunjukkan bahwa aset bank lebih besar dibandingkan total kredit yang disalurkan, menempatkan bank dalam posisi kuat untuk
memenuhi permintaan kredit, yang menjadi pertimbangan penting bagi calon investor. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan arah pengaruh
tetapi sejalan dalam hal tingkat
signifikansi dengan temuan Sudirman et al., (2023),
yang menyatakan bahwa LAR berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan di Bursa Efek
Indonesia.
Pengaruh Return on Assets (ROA) terhadap
Harga Saham
Berdasarkan evaluasi statistik, nilai t-hitung untuk variabel Return On Assets (ROA) adalah 5,028 dengan tingkat signifikansi 0,000, yang lebih kecil dari alpha 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ROA memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham, dan hipotesis ini diterima. Menurut
Asri, (2018),
ROA mencerminkan efisiensi perusahaan dalam mengoptimalkan aset untuk menghasilkan laba bersih, yang menunjukkan seberapa baik perusahaan memanfaatkan sumber daya dari pemegang
saham dan kreditor. ROA
yang tinggi tidak hanya mencerminkan kinerja operasional yang baik, tetapi juga meningkatkan daya tarik perusahaan bagi investor karena menunjukkan potensi pengembalian investasi yang lebih besar. Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan Asri (2018), yang menyatakan
bahwa ROA memiliki dampak positif dan signifikan terhadap harga saham perusahaan-perusahaan
di sektor perbankan di
Bursa Efek Indonesia.
Pengaruh Return On Equity (ROE) terhadap Harga Saham
Berdasarkan evaluasi statistik, nilai t-hitung untuk variabel Return On Equity (ROE) adalah -2,528 dengan tingkat signifikansi 0,012, yang lebih kecil dari alpha 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ROE memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham, sehingga hipotesis bahwa ROE berpengaruh positif dan signifikan tidak diterima. Menurut Fitriano & Herfianti, (2021),
kenaikan ROE biasanya diharapkan dapat meningkatkan harga saham karena investor cenderung tertarik pada perusahaan yang mampu mengelola modal secara efektif. Hasil penelitian ini konsisten dalam
hal tingkat signifikansi dengan temuan Fitriano & Herfianti, (2021),
yang menunjukkan bahwa ROE memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan
perbankan di Bursa Efek
Indonesia, meskipun arah pengaruhnya berbeda.
Pengaruh Net Profit Margin (NPM) terhadap
Harga Saham
Berdasarkan evaluasi statistik, nilai t-hitung untuk variabel Net Profit Margin
(NPM) adalah 4,195 dengan tingkat signifikansi 0,000, yang lebih kecil dari
alpha 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa NPM memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham, dan hipotesis ini diterima. Menurut
(Watung & Ilat, 2016),
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih yang signifikan akan menarik minat investor, yang berdampak pada kenaikan harga saham di pasar. Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan (Watung & Ilat, 2016),
yang menyatakan bahwa NPM memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan
perbankan di Bursa Efek
Indonesia.
Pengaruh Pengaruh
Beban Operasi Pendapatan Operasi (BOPO) terhadap Harga Saham
Berdasarkan
evaluasi statistik, nilai t-hitung untuk variabel Beban Operasi/Pendapatan
Operasi (BOPO) adalah 0,715 dengan tingkat signifikansi 0,475, yang lebih besar
dari alpha 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa BOPO memiliki pengaruh
positif dan tidak signifikan terhadap harga saham, sehingga hipotesis bahwa
BOPO berpengaruh negatif dan signifikan tidak diterima. Menurut (Harahap & Hairunnisah, 2017)rasio
BOPO mengukur efisiensi operasional bank, dan peningkatan rasio ini menandakan
kesulitan dalam mengelola usaha. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan
Harahap, yang menunjukkan bahwa BOPO tidak memiliki pengaruh signifikan
terhadap harga saham perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia.
Pengaruh Capital
Adequacy Ratio (CAR) terhadap Harga Saham
Berdasarkan
evaluasi statistik, nilai t-hitung untuk variabel Capital Adequacy Ratio (CAR)
adalah 0,256 dengan tingkat signifikansi 0,798, yang lebih besar dari alpha
0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa CAR memiliki pengaruh positif dan tidak
signifikan terhadap harga saham, sehingga hipotesis bahwa CAR berpengaruh
positif dan signifikan tidak diterima. Menurut (Husnatarina et al., 2020),
peningkatan rasio CAR menunjukkan bahwa bank memiliki modal yang cukup untuk
mengatasi risiko, namun tidak menjadi faktor utama bagi investor dalam
pengambilan keputusan investasi. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan (Husnatarina et al., 2020),
yang menunjukkan bahwa CAR tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap harga
saham perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia.
Pengaruh Debt to
Equity Ratio (DER) terhadap Harga Saham
Berdasarkan
evaluasi statistik, nilai t-hitung untuk variabel Debt to Equity Ratio (DER)
adalah 1,399 dengan tingkat signifikansi 0,163, yang lebih besar dari alpha
0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa DER memiliki pengaruh positif dan tidak
signifikan terhadap harga saham, sehingga hipotesis bahwa DER berpengaruh
negatif dan signifikan tidak diterima. Menurut (Latif et al., 2021),
investor cenderung lebih memperhatikan tren pasar dan berfokus pada keuntungan
modal (Capital gain) daripada mempertimbangkan rasio DER perusahaan, karena
orientasi mereka lebih pada keuntungan jangka pendek daripada dividen. Hasil
penelitian ini sejalan dengan temuan (Latif et al., 2021),
yang menunjukkan bahwa DER tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap harga
saham perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia.
Kesimpulan
Quick
Ratio (QR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Loan to Assets Ratio (LAR), Beban Operasi Pendapatan Operasi (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Debt to
Equity Ratio (DER) tidak memiliki
pengaruh signifikan terhadap harga saham, sementara Return On Assets (ROA) dan Net Profit Margin (NPM) memiliki pengaruh positif dan signifikan. Return On
Equity (ROE) menunjukkan pengaruh
negatif dan signifikan, menunjukkan potensi risiko terkait leverage tinggi. Dengan nilai R-squared sebesar 0,254,
model regresi ini menjelaskan 25,4% variasi dalam harga saham,
sementara 74,6% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang
tidak termasuk dalam penelitian. Investor disarankan untuk mempertimbangkan pengaruh ROA dan
NPM dalam pengambilan keputusan investasi serta berhati-hati terhadap peningkatan ROE.
Perusahaan perlu fokus pada
efisiensi operasional dan kesehatan keuangan, sementara peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengeksplorasi faktor-faktor tambahan yang dapat memengaruhi hubungan antara variabel-variabel ini dan harga saham, untuk
memberikan pemahaman yang lebih komprehensif bagi pengambilan keputusan di masa depan.
BIBLIOGRAFI
Asri, M. H.
(2018). Analisis Rasio Dengan Variabel Eps (Earning Per Share), Roa (Return on
Assets), Roe (Return on Equity), Bopo (Biaya Operasional Pendapatan
Operasional) Terhadap Harga Saham Perusahaan Perbankan. Jurnal Ilmiah
Ekonomi Bisnis, 22(3).
Ayem, S., &
Wahyuni, S. (2017). Pengaruh Loan To Deposit Ratio, Capital Adequacy Ratio,
Return on Asset Dannon Perfoming Loan Terhadap Return Saham. Jurnal
Akuntansi, 5(1), 71–87.
Fitriano, Y.,
& Herfianti, M. (2021). Analisis Pengaruh Return On Asset (ROA), Return On
Equity (ROE) Dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap Harga Saham (Studi Pada
Perusahaan Perbankan Yang Listed Di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2018). EKOMBIS
REVIEW: Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Bisnis, 9(2), 193–205.
Ghozali, I.
(2016). Aplikasi analisis multivariete dengan program IBM SPSS 23.
Harahap, D. A.,
& Hairunnisah, A. I. (2017). Pengaruh Npl, Ldr, Gcg, Nim, Roa, Roe, Car,
Bopo Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa
Efek Indonesia Dari Tahun 2010-2014. The Effect of Npl, Ldr, Gcg, Nim, Roa,
Roe, Car, Bopo Towards the Stock Price in Banking Companies. Jurnal Dimensi,
6(1).
Hendri, Z., &
Nurhazana, D. (2019). Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Perencanaan Biaya Modal
Ekuitas Dengan Return On Assets (ROA) Sebagai Variabel Moderating Pada
Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI. JAS (Jurnal Akuntansi Syariah),
3(1), 102–117.
Husnatarina, F.,
Rosel, R., & Akhmad, F. R. (2020). Faktor-Faktor Fundamental Keuangan
Perusahaan dan Pengaruhnya Terhadap Return Saham Perusahaan Kelompok Jakarta
Islamic Index Tahun 2011-2016. Jurnal Pasar Modal Dan Bisnis, 2(1),
53–74.
Iqbal, M., &
Rohmah, N. A. (2016). Pengaruh price to book value (pbv) dan return on asset
(roa) terhadap harga saham pada perusahaan industri manufaktur aneka industri
sub sektor otomotif dan komponen lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
tahun 2012-2014. AKURAT| Jurnal Ilmiah Akuntansi FE UNIBBA, 7(3),
20–48.
Latif, I. W.,
Murni, S., & Tawas, H. N. (2021). Analisis Capital Adequacy Ratio (CAR),
Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), Debt to Equity Ratio
(DER), dan Return On Asset (ROA) terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sektor
Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (Periode 2015. Jurnal EMBA:
Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 9(4),
203–215.
Putri, B. G.
(2020). Analisis rasio keuangan untuk mengukur kinerja keuangan. Inspirasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial, 17(1), 214–226.
Sari, W. P., Farida, N., & Jati, S. P. (2020). The influence of
hospital trust and service quality to patient satisfaction and loyalty. Proceedings
of the 2nd International Conference on Inclusive Business in the Changing World
(ICIB 2019), 203–207.
Sudirman, S.,
Sismar, A., & Difinubun, Y. (2023). Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap
Harga Saham pada Industri Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Financial
and Accounting Indonesian Research, 3(1), 35–45.
Sugiyono. (2020). Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. In Alfabeta, Bandung
(Cetakan ke). ALFABETA, cv.
Watung, R. W.,
& Ilat, V. (2016). Pengaruh Return On Asset (Roa), Net Profit Margin (Npm),
Dan Earning Per Share (Eps) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan Di
Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015. Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi,
Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 4(2).
Yuliah, Y.,
Triana, L., & Lesmana, I. S. (2019). Analisis Nilai Saham Dengan Dividend
Discount Model (DDM) (Studi kasus Perusahaan Tekstil Dan Garmen Yang Terdaftar
Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2018). Jurnal Manajemen STIE Muhammadiyah
Palopo, 5(2), 9–13. https://doi.org/10.35906/jm001.v5i2.360
|
Copyright
holder: Mirdal Nobel Hamun, Fitria Husnatarina, Hendrian (2024) |
|
First
publication right: Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia |
|
This
article is licensed under: |