Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p�ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No. 5, Mei 2022

 

TINJAUAN TEOLOGIS IBADAH DALAM� METAVERSE DI ERA PANDEMI DAN KEMAJUAN TEKNOLOGI

 

Bobby Hartono Putra

Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta, Indonesia

Email: [email protected]

 

Abstrak

Dengan adanya pandemi, pelayanan gereja justru� makin maju dengan kehadiran pelayanan secara digital atau online dengan teknologi yang semakin luas di aplikasikan oleh gereja-gereja Tuhan. Banyak inovasi baru bermunculan, salah satunya adalah teknologi metaverse yang berbasis blockchain. Hal ini akhirnya memunculkan suatu bentuk model dalam ibadah yang baru yakni ibadah Gereja� Metaverse yang akhirnya dianggap sebagai salah satu solusi dan bentuk dari panggilan dan pengutusan gereja. Meskipun demikian rupanya masih banyak pro dan kontra dalam konteks ibadah dalam Gereja Metaverse ini yang sudah dilakukan oleh beberapa kalangan. Penelitian ini akan membahas pentingnya redefinisi dari� ibadah dan bolehkah gereja� menyelenggarakan� ibadah dalam bentuk Metaverse� dan�� relevansinya� pada pelayanan masa kini dan masa depan. Melalui penelitian ini penulis berharap bisa� menjadi� bahan untuk pertimbangan sebuah konstruksi teologis bagi umat� dan gereja dalam menyikapi pola badah dengan Metaverse, sehingga umat dan gereja memahami apa yang dilakukan itu dalam kerangka iman Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif dan dengan pendekatan penelitian kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibadah dengan pola gereja Metaverse secara teologis dan biblikal tidaklah bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan, namun tidak boleh dikesampingkan bahwa pola ibadah ini juga memiliki kekurangan dan kelebihan yang dapat menjadi pertimbangan bagi gereja dalam menyikapinya.

 

Kata kunci: tinjauan teologis,� ibadah metaverse, pandemi

 

Pendahuluan

Seiring dengan perkembangan jaman diakui memang banyak hal mulai berubah,� baik secara rohani, sosial dan budaya, maupun perkembangan teknologi yang terus maju dalam setiap masa. Sebagai contoh pada masa sekarang, dimana sejak pandemi covid-19 merebak ditahun 2020 terbukti membuat perubahan dalam hal rohani terutama masalah pola beribadah. Pandemi membuat gereja mau tidak mau beradaptasi dan melakukan perubahan pola ibadah, hal karena berdasarkan penemuan para ahli yang mengemukakan bahwa� penularan�� virus� ini oleh� karena� terjadinya� penularan� antar� manusia.� Virus� menjadi lebih cepat menyebar karena� adanya� orang-orang� sakit� yang� menularkan ke� orang sehat, sehingga� dikarenakan dasar tersebut maka keluarlah kebijakan pemerintah untuk menanggulangi penularan virus�� covid-19 pada masa pandemi ini dengan dengan membatasi mobilitas� dan aktivitas manusia. Seperti kebijakan bahwa setiap�� orang�� harus�� menjauhi�� berbagai acara pertemuan yang melibatkan banyak orang tidak terkecuali kegiatan peribadatan yang pasti melibatkan banyak orang bila dilakukan secara berjamaah.

Kebijakan khusus ini yang dicetuskan pemerintah terkait kegiatan dimasa pandemi yang dikenal dengan pola adaptasi baru atau �new normal� sebagai upayaa penanggulangan, mengakibatkan gereja yang tentu saja adalah salah satu tempat dan lembaga ibadah yang pastinya termasuk dalam hal yang berpotensi menimbulkan perkumpulan orang didalamnya meskipun dalam konteks kerohanian, akhirnya ikut terdampak pada masa pandemi ini. Gereja tidak terkecuali menjadi salah satu objek yang dilarang�� untuk sementara waktu tidak melakukan kegiatan ibadah didalam gedung gereja baik secara umum untuk kebaktian hari� Minggu� maupun� dalam� kegiatan kerohanian lain yang biasa dilakukan gereja bersama jemaatnya.� Tentu saja imbasnya jelas bahwa akhirnya� semua� kegiatan� ibadah� di gereja ditiadakan, hingga mau tidak mau gereja harus memikirkan solusi bagi kelangsungan pelayanan kerohanian jemaat.

Hal ini akhirnya menimbulkan respon yang beragam, ada gereja yang menghentikan pelayanan, dan adapula sebagian� gereja� yang harus memutuskan�� untuk�� menyelenggarakan�� ibadah� dengan bantuan teknologi seperti yang kita kenal sekarang yang disebut kebaktian secara online, sehingga jemaat diharapkan bisa tetap beribadah meskipun tidak didalam gedung gereja secara bersama sama. Sehingga hal ini akhirnya mengubah tatanan kebiasaan ibadah gereja secara onsite menjadi ibadah online untuk menghindari paparan virus SARS COV-2. Ibadah online menjadi tombak bagi gereja dalam menjalankan kegiatan kerohanian. Konsep ibadah yang dipahami sebagai persekutuan dengan berkumpul di ruangan secara bersama� oleh umat Kristiani, telah menjadi pesekutuan di ruangan digital (Surna & Suseno, 2020) Meskipun menurut hasil penelitian� yang dilakukan oleh Langfan mengemukakan bahwa ibadah online diketahui tidak terlalu signifikan karena melalui ibadah online tidak semua umat dapat beribadah dengan khusuk dan dapat mendengarkan firman Tuhan dengan baik karena adanya pengaruh dari situasi yang berbeda disekitarnya. (Langfan, 2021)

Tidak berhenti pada model kebaktian online yang menggunakan berbagai aplikasi teknologi seperti youtube, zoom, sosial media, rupanya kita tidak dapat membendung perkembangan teknologi yang makin maju. Banyak inovasi baru bermunculan, salah satunya adalah teknologi metaverse yang berbasis blockchain yang dipopulerkan oleh salah satu pemilik sosial media terbesar didunia yakni facebook, yang mengembangkan teknologinya sedemikian canggih. Tdak terkecuali fenomena ini akhirnya memunculkan model ibadah baru yakni ibadah dengan teknologi metaverse yang dilakukan dalam Gereja Metaverse dan sudah beroperasi di dunia mapupun diIndonesia saat ini yang dianggap sebagai salah satu solusi dan bentuk dari panggilan dan pengutusan gereja. Meskipun demikian rupanya masih banyak pro dan kontra dalam konteks Gereja Metaverse ini, termasuk perihal bentuk ibadah dalam konsep Gereja Metaverse yang sudah dilakukan oleh beberapa kalangan.

Dari berbagai literatur dan penelitian yang ada saat ini, memang� bahwa untuk menelaah manfaat, maupun kekurangan penggunaan teknologi dalam ibadah sebenarnya sudah di bahas oleh artikel-artikel terdahulu. Namun pada kesempatan ini penulis ingin meneliti kembali mengenai situasi terbaru yakni konsep Gereja Metaverse ini,� karena artikel-artikel terdahulu hanya sebatas menerangkan bagaimana sikap gereja dan pandangan teologis terhadap ibadah online dan bagaimana konsep ibadah yang benar dimasa tertentu. Maka melaui artikel ini penulis khusus memfokuskan penelitian pada konstruksi konseptual dan redefinisi ibadah dalam Gereja Metaverse, dengan mengacu pada pertanyaan pertanyaan� yang muncul dan menjadi kontroversi mengenai ibadah dalam Gereja Metaverse saat ini yaitu, apakah pelaksanaan ibadah dalam konsep Gereja Metaverse tidak bertentangan dengan doktrin gereja? Apakah ada landasan� dasar� Alkitab� bagi� pelaksanaan� ibadah� gereja dalam konsep Gereja Metaverse? Apakah� kelebihan dan kekurangan dari ibadah dalam Gereja Metaverse dibandingkan ibadah pada gereja konvensional? dengan penekanan pada penelitian ini yang lebih menekankan isu ibadah dalam Gereja Metaverse di masa ini terutama di Indonesia. Sehingga� penelitian ini �pada akhirnya akan secara khusus membahas mengenai pandangan teologis redefinisi ibadah termasuk boleh tidaknya gereja� menyelenggarakan� ibadah dalam bentuk Gereja Metaverse� dan� relevansinya� pada� masa kini dan masa depan. Melalui penelitian ini penulis berharap bisa� menjadi� bahan untuk pertimbangan sebuah konstruksi teologis bagi umat� dan gereja dalam menyikapi pola ibadah dengan Metaverse, sehingga umat dan gereja memahami apa yang dilakukan itu dalam kerangka iman Kristen.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif dan dengan pendekatan penelitian kepustakaan (Hamzah, 2020). Penelitian kepustakaan ini memberikan pemahaman konsep ibadah untuk dikontekstualisasikan dengan gejala sosial saat ini dan untuk melihat dan mencari statemen dari ibadah itu sendiri agar mendapatkan konstruksi konseptual dan pandangan terbaru mengenai redefinisi ibadah dalam konsep metaverse ibadah� pada Gereja Metaverse.

 

Hasil dan Pembahasan

Teknologi Metaverse

Dalam sejarah manusia, perubahan pasti akan terus terjadi sehingga untuk bisa berdaptasi memang semua dituntut untuk dapat� mengikuti perubahan yang terjadi. Sebagai contoh dalam hal kemajuan teknologi, perubahan teknologi juga semakin tidak bisa dibendung lagi sehingga �manusia harus dapat memanfaatkan teknologi baru yang hadir dan berinovasi serta berevolusi dalam hidupnya seiring perubahan jaman yang dihadapi.Kita bisa rasakan dan amati bahwa saat ini bahkan kekuatan dan kemajuan teknologi terus berkembang dan merambah semua sektor kehidupan, termasuk gereja. Salah satu contoh terbaru adalah teknologi metaverse yang merambah bidang gereja.

Metaverse pada era saat ini memang kita lihat menjadi populer sejak diumumkan oleh pendiri Facebook. Metaverse sendiri adalah istilah yang terdiri dari dua kata yakni,� �meta = di atas atau melebihi � dan ï¿½universe = alam semesta� sehingga hal ini� akhirnya merujuk pada dunia serba digital yang melampaui dunia yang biasa (Orland, 2021). �Secara umum, berdasarkan pengertiannya metaverse diartikan sebagai ruang digital yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang �secara virtual untuk berinteraksi satu sama lain. Hal ini mencakup semuanya, mulai dari platform media sosial, video game sampai situs perbankan online. Hingga akhirnya terkait hal ini tentu saja dalam kurun waktu beberapa dekade mendatang semakin banyak orang akan memilih hidup dalam metaverse. Pilihan ini dipercayai mau tidak mau akan dialami oleh umat manusia seiring dengan berubahnya zaman dan kemajuan teknologi digital yang akhirnya membuat manusia hidup dalam era digitalisasi.� Dunia baru melalui metaverse ini akan menggabungkan virtual reality dengan kehidupan yang nyata. Bahkan kedepan diprediksikan bahwa �dunia virtual ini akan menjadi jaringan lokasi digital dimana pengguna akan bertemu dengan teman, pergi ke sekolah, pergi berlibur, membeli barang bahkan pergi ke gereja.

 

Ibadah Digital Gereja Metaverse� Dari Sudut Pandang Doktrinal Kristen

Gereja sebagai sebuah lembaga kerohanian, memang tidak dipungkiri bahwa termasuk juga bagian yang sedang berhadapan dengan perubahan sosial akibat kemajuan teknologi saat ini disamping akibat situasional karena pandemi covid -19. Kehadiran teknologi digital yang semakin maju melalui internet ini� akhirnya telah mengubah banyak hal, tidak terkecuali kegiatan pelayanan dalam gereja. Salah satunya dapat kita lihat dengan munculnya pelayanan Gereja Metaverse di Indonesia saat ini.� Pergeseran pola ibadah yang mulanya hanya dalam ruangan persekutuan akhirnya memberikan celah terhadap redefinisi ibadah konvensional terutama dalam masa ini yang sedang terjadi fenomena gereja online , sebagai contoh pergeseran ruang ibadah dalam Gereja Metaverse yang muncul pada masa ini. Ibadah, bagi menurut� Risno, adalah manusia yang melakukan hubungan kepada Allah sebagai elemen yang penting, bukan tempatnya yang esensial. (Risno, 2020) Dengan pemahaman ini, maka pergeseran ruang ibadah ke Gereja Metaverse yang notabene adalah online memerlukan pemahaman yang baru untuk meredefinisi ibadah itu sendiri.

Dalam berbagai penelitian yang telah dilakukan, ibadah selalu diidentikkan dengan bangunan, namun dalam jurnalnya� Irwan Widjaja et. al.� dia menekankan bahwa ibadah dibangun melalui rumah (Widjaja et al., 2020) Dengan demikian, pengertian ibadah� dapat dipahami masih berkisar dengan konsep persekutuan di suatu tempat. di sisi yang lain Dwiraharjo, melihat konsep Gereja digital dengan pendekatan refleksi Biblika mengedepankan bahwa Gereja digital telah menembus konsep bangunan Gereja. Gereja adalah the body of Christ, sehingga Gereja harus berkumpul dalam tubuh Kristus , gereja� harus mampu beradaptasi terhadap perubahan. (Dwiraharjo, 2020) Oleh karena itu, esensi dari ibadah akan tercermin sebagai tubuh Kristus yang tidak sekedar �hanya berupa kegiatan di tempat secara fisik, melainkan lebih dari itu memiliki makna luas menjadi wadah berkumpul atau persekutuan sesama orang percaya di dalam tubuh Kristus. Epistemologi Gereja dapat menjadi katalisator terhadap pemahaman konsep ibadah dengan tekkonologi digital, salah satunya adalah teknologi metaverse. Oleh sebab itu penting bagi gereja di tengah perubahan teknologi dan jaman harus dapat tetap bersikap arif, dan bijaksana. karena memang� di satu sisi dapat berkontekstualisasi dengan perubahan bentuk sosial tersebut, sementara sisi lain tidak boleh sampai meninggalkan nilai-nilai iman yang esensial bagi sebuah gereja, sehingga Gereja tidak keluar dari makna dan fungsi utamanya.

�Ada dua dasar doktrinal yang dapat kita dijadikan acuan untuk menjadi jawaban pada� fenomena yang mengakibatkan terjadinya perubahan pola ibadah dalam gereja saat ini yaitu doktrin eklesiologi dan liturgis. Pertama, kita bisa meninjau dari sisi doktrin eklesiologi� yang merupakan sebuah dasar yang dapat dijadikan acuan untuk melihat proses digitalisasi yang terjadi dalam gereja. Pengertian eklesiologi sendiri adalah� jelas merupakan ajaran yang membahas khusus hal-hal tentang gereja. secara ekslesiologi, makna gereja sendiri diartikan merupakan komunitas semua orang percaya dalam segala abad. (Grudem, 2000) Kata gereja ditinjau dari asal kata berasal dari bahasa Portugis yaitu �igrea� yang merupakan serapan yang �diambil dari bahasa Yunani �kyriake,� dalam bahasa yang serumpun dengan ini adalah �church.� Semua ungkapan ini dapat diartikan �menjadi milik Tuhan.� Mereka adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.� Dengan demikian gereja dapat berarti persekutuan orang percaya. Istilah �kyriake� pada hakekatnya dipakai setelah zaman para rasul untuk menyebut gereja sebagai suatu lembaga dengan segala peraturannya. Istilah Perjanjian Baru untuk gereja adalah eklesia. Kata ini secara harafiah berarti rapat atau perkumpulan yang terdiri dari orang-orang terpanggil untuk berkumpul. Mereka berkumpul karena terpanggil. (Harun Hadiwiyono, 2007)

Dalam Bahasa Yunani klasik� sesudah zaman Herodotus, Thucydides, Xenophon, Plato serta Euripides pada sekitar abad 5 SM ,sebagai pelaksana ibadah, gereja disebut ekklesia dari kata ekkaleo mempunyai pengertian "dipanggil keluar". Hal ini� merupakan istilah yang menunjuk kepada sebuah kelompok atau komunitas masyarakat yang dipanggil keluar, dan dipilih untuk berdiri di pintu gerbang untuk membuat/mengambil keputusan yang mempengaruhi sebuah kota (Mat. 16:18) (Milard J. Erickson, 2004). begitu juga dalam Septuaginta kata �eklesia� juga sering digunakan untuk menterjemahkan �khahal,� yang berarti perkumpulan. Kata �eklesia� merupakan sumber utama untuk mengerti konsep gereja di dalam Perjanjian Baru. Kita bisa lihat sebagai contoh di dalam kitab Kisah Para Rasul kata �eklesia� dipakai untuk merujuk kepada semua orang kristen pada masa itu yang hidup dan berkumpul di kota tertentu, seperti misalnya Yerusalem (Kis. 5:11; 8:1; 11:22). (Milard J. Erickson, 2004) Di sisi lain, Gereja juga dapat dipahami sebagai gereja universal dan juga lokal. Dalam arti universal gereja diartikan perkumpulan yang �terdiri atas semua orang percaya, yang pada zaman ini telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus, dan oleh Roh yang sama juga telah dibaptiskan menjadi anggota tubuh Kristus. (Thiesen, 2008)

Hal ini menjadikan kita memahami bahwa penekanan utama makna ekklesia bisa ditafsirkan bukanlah sekedar tempat atau gedung secara fisik tetapi lebih daripada itu juga berarti kumpulan atau komunitas orang yang percaya kepada Kristus.� Oleh sebab itu secara teologis, gereja dapat dimaknai sebagai suatu kelompok atau komunitas orang percaya yang dipanggil dalam Yesus Kristus. (Enns, 2006) Pengertian ini memberikan esensi pemahaman bahwa gereja juga merupakan komunitas yang kemudian� dikenal sebagai persekutuan atau perkumpulan orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.� Dengan demikian bisa dipahami bahwa unsur dasar dari gereja adalah komunitas atau perkumpulan yak maknanya bukan sekedar tempat atau gedung semata. Norman juga mengungkapkan pendapat bahwa Gereja lokal dapat dipahami sebagai sebuah kelompok komunitas yang terikat pada suatu organisasi kegerejaan. (Geisler, 2005)

Dalam perkembangannya kemudian Gereja juga dinyatakan sebagai tubuh Kristus. Pengertian tubuh Kristus disini bukan sekedar menjelaskan makna Gereja secara universal seperti dalam Efesus 1:23, tetapi juga menunjukkan makna sebagai� satu jemaat tunggal� seperti pada 1 Korintus 12:27 yang lebih menekankan pada kesatuan dari gereja, baik lokal maupun universal,bersifat organis dan organisme, yang memiliki relasi yang penting sekali dengan Tuhan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja yang mulia sekaligus sebagai objek penyembahan dan pengabdian. begitu juga bila ditinjau dari aspek penatalayanannya, gereja memiliki beberapa fungsi, yang bersifat saling melengkapi dan terikat satu dengan lainnya. Karena sebagai tubuh Kristus, salah satu elemen utama tugas gereja sejak semula dari Kristus untuk menyebarkan kabar sukacita dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. (Wiryadinata, 2018) Oleh sebab itu fungsi atau peranan gereja penting untuk dapat dipahami bersama sebagai tugas utama gereja dengan penekanan unsur kesatuan persekutuan dan pengabdian kepada Kristus adalah bagian utama di dalam memaknai gereja sebagai tubuh Kristus.Ada 4 fungsi gereja yang utama diantaranya adalah yang pertama penginjilan yang� merupakan pokok penting yang ditekankan Tuhan Yesus kepada para murid. kedua adalah pembinaan yang dapat dilakukan dengan berbagai strategi seperti persekutuan, pengajaran, dan juga melalui berkotbah. Ketiga, penyembahan yang� berfokus pada Tuhan. Keempat,Sosial yang merupakan tindakan nyata untuk mewujudkan kasih Kristiani terhadap semua orang baik yang sudah percaya pada Tuhan Yesus atau yang belum. (Milard J. Erickson, 2004)

Oleh sebab itu melihat kebenaran eklesiologis ini, gereja harus mampu beradaptasi dengan berbagai hal dan fleksibel dalam pelaksanaan tugas-tugas pelayanannya. Fleksibel dalam arti dapat menyesuaikan diri dengan situasi dimana pun� gereja berada. Gereja� jangan terpaku dengan cara-cara lama. Kita harus berani memahami bahwa gereja dalam� menjalankan salah satu fungsinya yaitu sebagai pelaksana ibadah memahami bahwa �ibadah Kristen bukanlah ibadah yang kaku dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan kondisi. Namun sebaliknya, Ibadah Kristen adalah ibadah yang berpusatkan pada mendatangi Tuhan sebagai wujud respons keselamatan, pemberitaan Injil dan ketaatan kepada firman Tuhan. Sehingga ibadah Kristen yang diselenggarakan secara Digital di tengah fenomena situasi yang menyebabkan pembatasan dan maraknya fenomena gereja online, tidak lagi� menunjuk sebuah bangunan fisik maupun denominasi, tetapi lebih penting� kembali ke maknanya yaitu kumpulan orang-orang yang dipanggil keluar untuk melakukan kehendak Allah terhadap dunia (1Pet. 2:5-9). Sehingga ketika dunia yang dilayani berubah, gereja tidak boleh kehilangan jati dirinya dalam pelayanannya, gereja harus dapat menyesuaikan pelayanannya dengan perubahan itu dengan tetap tidak mengubah tujuan pokoknya dan tidak menggeser makna ibadah itu sendiri. Ketika gereja dapat menyesuaikan diri, maka gereja dapat tetap melaksanakan fungsi dan tugasnya, namun bersedia mengubah cara pelaksanaannya yang perlu untuk menjangkau orang salah satunya dengan memanfaatkan secara positif perkembangan tekonologi, salah satunya metaverse, dengan demikian gereja tetap dapat menjangkau setiap orang secara lebih luas.

Dasar kedua yang perlu diperhatikan sebagai pertimbangan terkait perubahan pola peribadatan dalam fenomena ibadah dalam gereja metaverse pada masa ini� adalah doktrin liturgi gereja. Liturgi merupakan ilmu yang membahas segala yang terkait dengan ibadah baik secara teologi maupun sejarah yang tidak dapat terlepas dari ilmu teologi lain, seperti biblika, dogmatika, maupun sejarah. Oleh karena itu, liturgi harus dibahas dari sudut biblika, sejarah, teologi, praktika, psikologi agama, sosiologi agama, linguistik, ilmu pujian, ilmu dekorasi di ruang ibadah. (Bagio Lee, 2018) Dalam Perjanjian Lama kata liturgi sering dikaitkan dengan ibadah, yang berarti melayani (Kel.3:12; Ul. 6:13) dan shyaha, yang berarti sujud (Kej.18:2) dan� berbaring (2 Taw. 29:30). Sedangkan dalam Perjanjian Baru yang merujuk pada ibadah dikenal dalam beberapa kata yaitu, Pertama, proskuneo yang berarti mencium dengan kehormatan (Yoh. 21-24). Kedua, sebomai yang berarti menghormati, takut (Mat.15:9); Ketiga, latlyuo yang berarti melayani secara agama, dan Keempat, latreia yang berarti pelayanan (Yoh.16:2).�

Selain itu dalam ibadah juga� harus dipahami adanya dua unsur yang saling terkait yaitu antara wahyu dan respon. Unsur wahyu meliputi hal mengenai pembacaan Alkitab, pembacaan Mazmur dan kotbah. Sementara, pada unsur respon meliputi hal mengenai doa, pujian dan persembahan. Selain itu standar utama bagi ibadah orang kristen harus di ingat adalah Alkitab, bukan yang lain. Oleh sebab itu orang percaya harus mengerti ibadah menurut Alkitab. Oleh sebab itu hal pembahasan Alkitab menjadi sebuah hal yang paling diutamakan untuk dasar menyelidiki makna ibadah sendiri. Demikian juga dalam konteks sejarah ibadah perlu dipelajari.� dari historis kita dapat belajar bahwa ibadah pada Perjanjian Lama berpusat pada ibadah bait suci dan pada umat Israel. Tetapi pada� Perjanjian Baru ibadah berpusat pada sejarah pelayanan keselamatan Yesus dan pada Israel baru yang berada di dalam Yahudi dan non-Yahudi. Ibadah Perjanjian Baru� dilakukan berdasarkan standar ibadah agama Yahudi. Jemaat di gereja mula-mula masih mengikuti ibadah di bait suci, sinagoge dan ibadah di rumah-rumah.

Oleh sebab itu jika mengacu pada kedua makna liturgi di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka ibadah baik dari sisi eklesiologi maupun liturgi, dapat diperhatikan bahwa gereja itu bila dicermati dapat dikatakan bersifat �mengalir.� Gereja tidak dimaknai sekedar seperangkat aturan atau tata ibadah yang bersifat kaku, dan tidak dapat berubah akibat terjadinya sebuah berubahan dalam lingkungan sosial.� Sehingga ditengah perkembangan dan perubahan gereja tetap dapat hadir dan mewujud di dalamnya tanpa kehilangan esensinya. Pada konteks inilah tentu saja gereja dapat tetap menjadi saluran berkat Allah yang sesungguhnya bagi dunia. Pelayanan tetap dilaksanakan oleh gereja sebagai komunitas yang tidak sekedar menekankan tempat atau ritus-ritus semata, tetapi lebih dari semua itu yang jauh lebih penting adalah sebagai wujud relasi dengan Tuhan. Menjadi sebuah tindakan untuk menghargai dan menghormati Allah di tempat yang mahatinggi, dan sebuah persekutuan antara Allah dan manusia dalam hadirat Roh Kudus melalui� Yesus Kristus.

�Dari sini jelas bahwa unsur relasi dengan Tuhan bukan hanya dalam literasi saja tetapi jelas terwujud dalam tindakan oleh karena dampak dari pemahaman akan firman Tuhan itu sendiri. Peter Bruner menegaskan bahwa ibadah adalah pelayanan Allah terhadap manusia dan pelayanan manusia terhadap Allah. Tiga dimensi dalam ibadah adalah kehadiran Allah, pertemuan di antara Allah dan manusia, persekutuan di antara Allah dan manusia. dengan demikian Ibadah yang sejati memiliki natur spiritual, yang �sesuai dengan kebenaran yang telah dinyatakan oleh Allah sendiri (Yoh. 4:24) (Enns, 2006).

 

Ibadah� Digital Gereja Metaverse

Realitas perkembangan ibadah memang tercatat dalam alkitab sudah dimulai maulai perjanjian lama, perjanjian baru dan hingga masa kini. Sehingga dengan demikian kita bisa amati perkembangan ibadah yang dicatatkan� dalam Alkitab, baik dari segi tempat dengan ibadah dalam Perjanjian Lama yang dimulai dari rumah, lalu berkembang� pada kemah sampai bait suci, yang mulanya dari bersifat personal di rumah hingga sampai gedung ibadah di dalam Perjanjian Baru. (Luhukay, 2020) Semua perubahan itu terjadi karena memang terjadi perubahan secara situasional yang terjadi sesuai masanya. Artinya perubahan ibadah, baik tempat (lokasi), perorangan atau persekutuan (kuantitas) dan cara terjadi, sebetulnya tidak menjadi masalah bagi sebuah gereja dalam penyelenggaraan ibadahnya tidak terkecuali dengan sentuhan teknologi metaverse. Hal ini dikarenakan kondisi yang terjadi memang menuntut sebuah gereja untuk beradaptasi agar tetap dapat menjalankan fungsinya tanpa menghilangkan makna dan nilai luhur pelayananNya. Inilah pentingnya ibadah untuk dipahami dalam maknanya yang merupakan hidup dan relasi umat secara pribadi atau komunal kepada Tuhan.

Tuhan yang diyakini adalah dinamis, bergerak dalam ibadah yang progresif menunjukkan bahwa ibadah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Jika ibadah dapat berkembang karena tuntutan situasional, dan juga sekaligus menunjukkan kasih kepada sesama, maka ibadah kepada Tuhan dengan perubahan tempat dan bentuk tidaklah masalah.� karena jelas bahwa Ibadah harus tetap merupakan sebuah bentuk relasi pribadi dan atau komunal secara total kepada Tuhan Yesus Kristus yang diwujudkan dalam menerima dan melaksanakan perintah Firman Tuhan, yang teraplikasi kepada sesama sebagai wujud pelayanan kepada Tuhan.

Selain itu sebagai umat Kristus, dengan menjadi� orang yang meyakini eksistensi Tuhan yang menyelamatkan, maka sudah seharusnya ibadah menjadi kebutuhan hakiki. Sehingga jelas bahwa ibadah yang memiliki esensi relasi dengan Tuhan dan tidak lagi ditentukan tempat, namun sebaliknya justru menjadikan ibadah� lebih adaptif dan fleksibel dalam pelaksanaannya yang tentunya tetap tidak melanggar Firman Tuhan, sehingga sekalipun di masa� apapun dan �di mana pun gereja tetap dapat melakukan pelayanan ibadahnya bagi Tuhan dan umat Tuhan tanpa mengubah nilai dan esensi ibadah itu sendiri karena umat tetap memiliki hubungan yang erat dengan Allah dan teraplikasi dalam kepedulian dengan sesamanya. (Luhukay, 2020)� Sehingga tidaklah bijak dan bukanlah sebuah tindakan dan keputusan teologis, jika langsung menolak ibadah dengan batuan teknologi digital, termasuk konsep ibadah dalam gereja metaverse yang memanfaatkan teknologi bagi penatalayannya karena menganggap ibadah hanya harus di gedung Gereja secara fisik terutama dalam kondisi khusus yang membuat gereja tidak dapat melakukan pertemuan secara fisik, terlepas dari perlunya beberapa pelayanan liturgis yang memang tidak bisa dilakukan secara digital,� sehingga tidak melanggar prinsip-prinsip dasar ibadah itu sendiri.

Firman Tuhan dalam Yohanes. 4:24� menuliskan, �Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran�, sehingga bila kita melihat kembali secara konteks dekat, kita dapat memahami� �bahwa dalam nas ini terikat pada ayat sebelumnya yakni terutama pada ayat� 22-26 yang secara khusus berbicara tentang penyembahan yang benar. Dikisahkan bahwa� Tuhan Yesus sedang memberitahu seorang wanita mengenai ibadah, bahwa ibadah itu tidak terbatasi apakah di gunung Gerizim atau Zion. sehingga setiap orang yang mencari Allah dapat menemukan-Nya di mana pun dia berada. Hal ini dapat memebrikan kita paradigma bahwa sebenarnya Allah yang kita sembah tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Memang orang Samaria waktu itu beribadah di gunung Gerizim dengan tidak mengerti kepada siapa mereka beribadah. Bahkan dalam kebenaran faktualnya, orang Samaria rupanya hanya menerima lima kitab pertama dari seluruh Kitab Perjanjian Lama, dimana hal ini membuat mereka menolak berita para nabi dan nyanyian dari kitab-kitab Puisi. Mereka pun menolak pengetahuan yang telah tersedia bagi mereka, sehingga dengan alasan inilah yang membuat para nabi Yahudiakhirnya �membuat tuduhan kepada orang Samaria bahwa mereka telah melakukan ibadah palsu. (Barclay, 2008) Sedangkan di sisi lain orang Yahudi� waktu itu memang melakukan ibadah dengan berpusat di Yerusalem. Orang Yahudi waktu itu juga memiliki peraturan ketat berkenaan dengan doa, sehingga memang waktu itu tidak ada agama lain yang menempatkan keutamaan doa lebih tinggi dari agama Yahudi karena bagi mereka doa itu lebih besar dan melebihi semua perbuatan baik. Doa diatur sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah ketetapan. Meskipun hal ini baik, namun sayangnya doa yang dilakukan mereka rupanya hanya sebatas pemenuhan aspek ritual dan bukan menjadi� media perjumpaan dengan Tuhan yang �nampak dari sikap doa mereka akan selalu� diarahkan ke Yerusalem. Hingga pada akhirnya Tuhan Yesus menegur dengan pola doa seperti ini dan menegaskan bahwa menyembah Allah itu harus dalam Roh dan kebenaran. (Dwiraharjo, 2020)

Dari sudut pandang bahasa aslinya tertulis, πνεῦμα ὁ θεός (pneuma ho Theos), yang dapat ditafsirkan bahwa Allah adalah pribadi Roh. Hakikat �Pribadi� Allah ini diidentifikasi dengan tata bahasa maskulin tunggal. Alkitab �ITB�� kata ini diterjemahkan� dengan diikuti kalimat: �dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.� Sehingga kalau kita perhatikan dalam kalimat ini maka akan ditemukan dua kata yang� berasal dari kata yang sama yakni kata dasar προσκυνέω (proskuneo), yang memiliki arti dasar: fall down and worship, do obeisance to, prostrate oneself before, do reverence to, welcome respectfully depending on the object.� Kata ini digunakan secara berbeda sesuai dalam tata bahasanya. Pertama, kata προσκυνοῦντας (proskunountas), kata kerja partisip present, aktif, akusatif, maskulin jamak. Partisip disebut sebagai kata sifat verbal. Ini tidak lain adalah kata sifat yang digunakan untuk menjelaskan kata kerja, dan menyatakan cara pelaksanaan kegiatan yang dinyatakan kata kerja finit, dengan tekanan pada sikap pelaku tindakan.

Kata kedua adalah: προσκυνεῖν (proskunein) dengan tata bahasa verb-infinitive-present- active sehingga �menyuguhkan fakta tindakan itu sendiri. Jadi dengan� berdasarkan� data gramatikal dan leksikal ini dapat ditafsirkan bahwa ibadah atau penyembahan itu dilakukan sebagai sebuah gaya hidup yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sebagai sebuah kebenaran setiap hari. Selanjutnya dilanjutkan kata ini dirangkai dengan ungkapan �dalam roh dan kebenaran� yang versi bahasa Yunani adalah: ἐν πνεύματι καὶ ἀληθεία (en pneumatic kai aletheia). Bila ditinjau secara gramatikal kedua kata ini sama-sama kata benda datif, namun yang membedakan adalah jenis kelaminnya. Kata pneumatic (roh) menggunakan bentuk netral sementara aletheia (kebenaran) menggunakan bentuk feminim. dimana kata benda datif memberi indikasi akan kepentingan pribadi; yang menyatakan orang atau benda, yang memiliki hubungan, mengambil bagian, atau yang menyertai dalam melaksanakan tindakan yang disebut oleh kata kerja. (Maryono, n.d.) Sehingga akhirnya kedua kata� ini �roh dan kebenaran� akan memiliki makna yang luar biasa ketika dikaitkan dengan kata πνεῦμα ὁ θεός (pneuma ho Theos) yang dapat ditafsirkan� bahwa karena Allah itu Roh, maka jelas� penyembahan yang dilakukan kebenarannya harus di dalam roh.

Allah itu Roh sehingga keberadaan-Nya tidak dibatasi oleh berbagai bentuk ruang atau tempat dan materi termasuk teknologi seperti metaverse.� Dengan demikian stigma pembatasan tempat ibadah yang hanya boleh didalam gedung gereja� atau tempat-tempat lain berarti membatasi Allah yang mahahadir dan tidak terbatas. Karena Allah itu Roh, berarti penyembahan kepada Dia juga di dalam roh yang dapat terefleksi dalam kasih, kesetiaan, ketaatan dan penyerahan diri dihadapanNya termasuk menggunakan teknologi, dalam hal ini metaverse. Dengan demikian dapat diambil pemahaman berkaitan dengan pelaksanaan ibadah secara Metaverse. Dasar pengmbilan keputusan ini, pada intinya bukan sekedar tren teknologi, atau larangan pemerintah terkait dengan pengumpulan masa, maupun tingkat kesulitan perizinan tempat ibadah saja, sekalipun ini telah menjadi pemicunya, namun lebih dari itu didasarkan pada kebenaran secara teologis. Sehingga akhirnya dapat dipahami bahwa pelaksanaan ibadah yang tidak dilakukan dengan menggunakan gedung-gedung gereja secara fisik bukanlah suatu yang bertentangan dengan firman Tuhan, dan juga tidak mengurangi esensi dan upaya manusia untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan. Selama teknologi ini di gunakan sebagai hal positif dalam mensuport sarana suport ibadah dan� tidak menghilangkan esensi dari ibadah sendiri maka teknologi ini seharusnya dapat diterima untuk digunakan dalam penatalayanan gereja, terutama untuk memperluas pengabaran injil dengan tetap tidak menghilangkan esensi utama ibadah.

 

Redefinisi Ibadah Dalam Gereja Metaverse adalah Sebuah Keniscayaan

Ibadah dalam konteksnya sebagai wujud relasi manusia dengan Tuhan, yang mana relasi ini terwujud dalam sikap pengabdian pada Tuhan dan merupakan buah dari mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan yang diterima� dan diwujudkan dengan mengapliaksikannya kepada sesama adalah pokok utama dari ibadah itu sendiri. Sehingga upaya menjangkau jiwa dengan pemberitaan injil dalam pembatasan atau hambatan yang dialami dalam penyelenggaraan ibadah on site� dengan menggantikannya dengan ibadah online dengan menggunakan variasi teknologi yang ada salah satunya melalui tekonolgi metaverse merupakan sebuah tindakan teologis dari definisi ibadah itu sendiri terlepas dari kekurangannya seperti dalam beberapa aspek yang tidak tergantikan kehadiran secara fisik, seperti, baptisan, ataupun aspek liturgis lainnya.

Sehingga berdasarkan penjelasan di atas, maka diperlukan redefinisi ibadah itu sendiri secara teologis yang akan menjadi acuan dikemudian hari. Redefinisi ibadah harus dilakukan dan hal ini tidak mustahil dan bukan hal yang tabu karena fleksibilitas yang terjadi karena kondisi jelas� membawa gereja yaitu umat Tuhan untuk tetap menyembah Tuhannya pada masa situasi yang berbeda oleh karena tuntutan zaman dan keadaan.� Oleh karena itu ibadah dapat didefinisikan sebagai kegiatan memuji Tuhan, menerima permberitaan firman dan melakukan firman sebagai respons keselamatan secara personal atau komunitas (persekutuan) yang tidak di tentukan oleh lokasi dan teknis yang baku dan kaku. Dengan demikian Ibadah akan beresensikan mengenai relasi yang kuat kepada Tuhan dengan menerima firman dan

melakukannya yang teraplikasi dalam bentuk pelayanan jemaat dan sesama. Sehingga ibadah� dalam penggunaan teknologi metaverse ini� tetap dapat berubah menjadi ibadah pribadi, atau persekutuan online yan tujuannya adalah pelayanan kepada jemaat dan sesama sebagai wujud relasi dengan Tuhan.

 

Kekurangan Dan Kelebihan Ibadah Dengan Metaverse

Berbicara mengenai gereja dengan teknologi metaverse memang harus diakui bahwa pelaksanaan ibadah dengan konsep metaverse itu bukan suatu yang mudah, diperlukan persiapan yang matang, baik secara teknologi maupun sumberdaya manusia pelayan yang terlibat. Hal ini penting karena teknologi metaverse sejauh ini adalah teknologi yang baru dan, dibutuhkan perangkat khusus untuk menjalankannya disamping pemahaman teknologi dalam penggunaannya. Hal ini tentu saja akan menimbulkan biaya yang tinggi bila ingin menjalankannya,� sehingga jelas tidak semua gereja siap dengan cara seperti ini selain pendeta, pelayan maupun jemaat masih banyak yang belum terbiasa dengan pola ibadah denga teknologi , termasuk teknologi �metaverse.

Selain itu yang menjadi kekurangan dengan konsep ibadah dalam metaverse adalah tidak terjadinya kontak personal secara fisik antar jemaat karena dalam pelaksanaannya akan menggunakan avatar. Avatar dalam metaverse sendiri pada dasarnya memiliki pada prinsip yang sama seperti avatar pada game game �online lainnya namun memang avatar yang digunakan dalam metaverse bisa dibilang lebih canggih. Avatar dalam teknologi Metaverse rupanya dirasa lebih dari sekadar bentuk wajah karakter dalam game atau personal �yang dibuat pengguna, namun lebih dari itu dapat menjadi seluruh manifestasi pengguna di Metaverse itu sendiri. Hal ini membuat sebuah avatar di Metaverse akan menjadi bentuk identitas pengguna di seluruh dunia metaverse itu. Setiap orang akan akan dapat membuat dan menggunakan avatar di Metaverse sesuka hati. Ini yang berpotensi menimbulkan kerancuan dalam kerohanian karena krisis identitas pada akhirnya. Kesungguhan dalam pertobatan akan menjadi bias manakala terjadi penyalahgunaan identitas.

�Di satu sisi, karena ini merupakan hal baru bagi jemaat, maka kebanyakan dari jemaat akan merasa bahwa kebaktian seperti ini tidak khusuk, tidak serius, dan sulit masuk ke hadirat Allah secara sungguh-sungguh.� Begitu juga dengan kondisi jemaat yang� belum siap baik secara teknologi, mental, spiritual dan fisikal untuk mengikuti ibadah dengan pola ini. Selain kekurangan, penggunaan teknologi metaverse ini diakui juga ada kelebihannya, diantaranya jangkauan pengabaran injil lebih luas dan lebih menyebar ke teritori yang mungkin gereja konvensional selama ini belum memasuki karena keterbatasan baik perizinan pendirian tempat ibadah maupun hambatan sosial budaya lainnya sehingga melalui metaverse memang lebih banyak jemaat dan calon jemaat dapat terlibat, sehingga jelas lebih menjangkau banyak orang dan tidak terbatasi oleh ruang dan waktu.

Ibadah dalam gereja metaverse ini bila kita tinjau dari keuntungan dan kekurangannya memang dari satu isi model ini semakin memperluas jangkauan pelayanan, namun di sisi lain mempersempit relasi personal. Sehingga alangkah baiknya bila teknologi ini penggunaan diposisikan secara positif� dan seimbang dalam upaya sebagai sebuah alternatif pelayanan� gereja dan bukan menggantikan pelayanan gereja yang sudah ada, sehingga sementara masih ada kebaktian di gereja, pelayanan gereja digital melalui metaverse atau digital lainnya dapat juga diselenggarakan.

 

Kesimpulan

Kebaktian dengan pola gereja Metaverse secara teologis dan biblikal tidaklah bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan. Hal ini dikarenakan secara teologis kita tidak boleh mengesampingkan juga kebenaran bahwa pada satu sisi gereja adalah anggota tubuh Kristus yang keberadaan dan kuasaNya jelas tidak bisa dibatasi atau dikerdilkan oleh keterbatasan ruang dan waktu, termasuk juga dalam kajian secara biblikal mengenai menyembah Allah dengan roh dan kebenaran yang juga �tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Sehingga pelayanan ibadah sebuah gereja hendaklah dipahami lebih terbuka agar tidak� sekedar dipahami sebagai sebuah keharusan untuk membatasi pelayanan dengan mutlak seperti harus di dalam sebuah lokasi dan harus memiliki sebuah teknis baku berupa kehadiran secara fisik tanpa mempertimbangkan keadaan sehingga justru rentan terhambat karena situasi. Tetapi hendaknya pelayanan ibadah agar dapat dipahami lebih luas dalam upaya menjangkau sehingga hendaknya bersifat fleksibel sesuai situasi yang menuntut dengan tidak menghilangkan esensi utama sebagai elemennya yaitu pemberitaan firman, melakukan firman dan penyembahan kepada Tuhan sebagai respons atas keselamatan yang teraplikasi dalam bentuk pelayanan dan menjaga sesama.�

Disamping itu kita harus memahami bahwa gereja akan selalu akan diperhadapkan dengan tantangan dengan perubahan zaman. Gereja harus bisa tetap berkontekstual terhadap suatu perubahan tanpa kehilanganan esensinya sebagai tubuh Kristus. �Dengan demikian pelayanan ibadah akan melampaui batasan dimensi lokasi, serta alat-alat yang digunakan tanpa menghalangi kuasa Allah bagi manusia karena ibadah adalah persekutuan dan� relasi antara Allah dan manusia tanpa melihat batasan-batasan yang ada, termasuk dengan Ibadah Metaverse yang memiliki kekurangan dan kelebihan yang dapat menjadi pertimbangan bagi sebuah gereja dalam menyusun strategi pelayanannya.

 

 

 

 

 

 

 


 

BIBLIOGRAFI

 

Alexander Stevanus Luhukay, �Analisis Teologis Mengenai Beribadah Di Rumah Di Tengah Pandemi Covid-19 Di Indonesia,� Visio Dei: Jurnal Teologi Kristen 2, No. 1 (2020): 43�61. Google Scholar

 

Amir Hamzah, Metode Penelitian Kepustakaan (Malang: Literasi Nusantara, 2020).

Bagio Lee, Seminar Ibadah. Jeju: 15-10-2018

B The Old Et Al., Http://Www.Biblecentre.Net/Theology/Books/Lb/St-Bkmrk.Html, 2006.Google Scholar

 

Dwiraharjo, �Konstruksi Teologis Gereja Digital: Sebuah Refleksi Biblis Ibadah Online Di Masa Pandemi Covid-19:, Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani 1, No. 4 (2020). Https://Www.Stttorsina.Ac.Id/Jurnal/Index.Php/Epigraphe/Article/View/145. Google Scholar

 

Erickson, Milard J., Pen. Nugroho. Teologi Kristen, V.3. Jawa Timur: Penerbit Gandum Mas, 2004.

F Risno, �Dampak Dari Ibadah Online Bagi Pertumbuhan Gereja Masa Kini,� OSF, Last Modified 2020, Accessed March 9, 2021, Https://Osf.Io/Preprints/4aqeg. Google Scholar

 

Halim Wiryadinata, �A Theological Implication Of �Humility� In Mark 10: 13-16 From The Perspective Of The Parable Of The Kingdom Of God,� EPIGRAPHE: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani 2, No. 2 (2019): 83. Google Scholar

 

Harun Hadiwiyono, Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 362.

Henry Thiesen, Teologi Sistematika (Malang: Gandum Mas, 2008), 476

Irwan Widjaja Et Al., �Menstimulasi Praktik Gereja Rumah Di Tengah Pandemi Covid19.� Https://Www.Sttpb.Ac.Id/E-Journal/Index.Php/Kurios/Article/View/166. Google Scholar

 

Milard J. Erickson, Pen. Nugroho. Teologi Kristen, V.3. (Malang: Gandum Mas, 2004), 285-288

Norman Geisler, Systematic Thelogy-Church (Minneapolis: Bethany House, 2005), 65. Google Scholar

 

Onisimus� Langfan, �Ibadah Online Di Masa Pandemi Covid-19:� Implementasi Ibrani� 12:28,� Stella:�� Jurnal�� Teologi�� Dan�� Pendidikan�� Kristen1,�� No.�� 1�� (2021):�� 15�18, Http://Sttse.Ac.Id/E-Journal/Index.Php/Stella. Google Scholar

 

Orland, Kyle (2021-11-07). "So What Is "The Metaverse," Exactly?". Ars Technica. Archived From The Original On 2021-11-09. Retrieved 2022-03-09.

 

Paul Enns, The Moody Handbook Of The Theology, Bukupegangan Teologi (Malang: Literatur SAAT, 2003), 432. Google Scholar

 

Paul Enns, The Moody Handbook Of Theology (Malang: Literatur SAAT, 2008), 439. Google Scholar

 

Petrus Maryono, Diktat Bahasa Yunani Sintak. (Yogyakarta: STTII, Tt), 142-143.

Suriawan Surna And Aji Suseno, �Pandangan Teologis Live Streaming Atau Zoom Sebagai Sarana Ibadah Bersama Di Masa Pandemi Covid 19,� Jurnal Teologi Praktika 1, No. 2 (December 30, 2020): 137� 152, Accessed March 2, 2021, Http://Jurnalstttenggarong.Ac.Id/Index.Php/JTP; C. Kavin Rowe, �For Future Generations: Worshipping Jesus And The Integration Of The Theological Disciplines,� Pro Ecclesia: A Journal Of Catholic And Evangelical Theology 17, No. 2 (May 1, 2008): 186�209, Accessed February 27, 2021, Http://Journals.Sagepub.Com/Doi/10.1177/106385120801700204. Google Scholar

 

Susanto Dwiraharjo, Doa Bapa Kami Doa Yang Mengubah Kehidupan Kita (Jakarta: STT Baptis Jakarta, 2018), 13. Google Scholar

 

Wayne Grudem, Systematic Theology (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2000). Google Scholar

 

William Barclay. Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Yohanes. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 269-270. Google Scholar

Copyright holder:

Stevanus Miharso (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: