Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p�ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No. 6, Juni 2022

 

PENYIMPANGAN MORFOLOGI DALAM BENTUK PELESAPAN KONFIKS DALAM TEKS SASTRA (PUISI)

 

Indramini, Rukayah, Aziz Thaba, Abdul Kadir, Asriani Abbas

Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Negeri Makassar, Lembaga Swadaya Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Matutu Sulawesi Selatan, Universitas Puangrimaggalatung Sengkang, Universitas Hasanuddin

Email: [email protected][email protected][email protected], [email protected], [email protected]

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penyimpangan morfologi berupa pelesapan konfiks dalam teks sastra berupa puisi yang dikarang oleh Sutardji Calzoum Bachri. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku kumpulan puisi Sutardji Calzoum Bachri, O, Amuk, Kapak yang berisi 69 puisi. Data dianalisis dengan teknik deskriptif interaktif yang meliputi empat tahapan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ditemukan tiga bentuk konfiks yang mengalami pola pelesapan (penyimpangan morfologis) yaitu konfiks me- kan, me- i, dan pe- an. Sutardji sengaja menghilangkan salah satu unsur konfiks untuk mendapatkan efek estetik, sehingga pembaca dapat memaknai secara luas dan mengetahui kesan estetiknya.

 

Kata Kunci: penyimpangan, morfologi, konfiks, sastra, puisi, estetik

 

Pendahuluan

Salah satu cara yang dilakukan oleh penyair seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri dalam berkarya adalah dengan menggunakan deviasi atau penyimpangan bahasa. Deviasi merupakan kelainan konstruksi kata atau penyimpangan terhadap bahasa baku. Seorang penyair memiliki lisensi puitika, yaitu kebebasan seorang penyair melakukan deviasi. Terdapat beberapa bentuk deviasi, yaitu deviasi morfologis, fonologis, sintaksis, dialek, register, semantis, grafologis, serta deviasi historis. Pada penelitian ini penulis akan berfokus pada deviasi morfologis yaitu bentuk deviasi yang ditandai dengan penggunaan afiksasi, reduplikasi maupun komposisi yang tidak tepat.

Kekhasan penyair mempertahankan eksistensinya dengan melakukan deviasi, misalnya pada penyair Amir Hamzah yang terkenal sebagai Raja Penyair Pujangga Baru merupakan sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Amir Hamzah Melakukan deviasi pada puisinya berjudul Sebab Dikau. Pada Baris Maka merupa di datar layar mengalami deviasi dalam bidang morfologi. Kata merupa mengalami pola pertukaran prefiks /ber/ menjadi /me/. Seharusnya kata yang baku adalah berupa bukan merupa.

Kemudian Chairil Anwar yang dikenal sebagai si Binatang Jalang dari karyanya berjudul Aku adalah seorang pelopor angkatan 45 dan puisi modern Indonesia. Chairil Anwar melakukan deviasi pada puisinya berjudul Sajak Putih. Pada Baris Kau depanku bertudung sutra senja kata depanku mengalami deviasi dalam bidang sintaksis yaitu pelesapan kata depan /di/ pada kata di depanku menjadi depanku.

Selanjutnya Sutardji Calzoum Bachri yang merupakan seorang pelopor sastrawan angkatan 1970-an lahir di Riau 1941 (Ensiklopedia Sastra Indonesia, 2021). Kumuplan sajaknya berjudul O Amuk Kapak banyak mengalami deviasi dalam bidang morfologi. Pada puisinya yang berjudul Dapatkau terjadi deviasi morfologi. Baris dapatkau nyeberangkan sungai? mengalami deviasi morfologis pada kata nyeberangkan yaitu pola pelesapan salah satu unsur konfiks me-kan. Seharusnya kata yang baku menyeberangkan. Selanjutnya pada puisinya yang terkenal berjudul Tragedi Winka dan Sikha. Pada kata winka mengalami deviasi morfologis pola variasi urutan, seharusnya kata yang benar adalah kawin namun menjadi winka, dan kata sihka yang juga mengalami deviasi morfologis pola variasi urutan, seharusnya kata yang benar adalah kasih.

Berdasarkan pola pembentukan deviasi, yaitu pola variasi urutan atau pembalikan suku kata, terdapat makna yang ingin disampaikan Sutardji dengan membalik dua kata tersebut yaitu kawin menjadi winka dan kasih menjadi sihka. Makna yang ingin disampaikan dari kata winka mengenai perkawinan yang berantakan dan berujung perpisahan dan kaat sihka yaitu kasih antara suami istri yang telah berbalik menjadi benci. Oleh karena itu, pentingnya melakukan deviasi dapat diketahui dari contoh puisi tersebut, penyair melakukan deviasi untuk mendapatkan makna yang lebih dalam, estetik, serta ciri khas terhadap karyanya.

Karya penyair seperti Sutardji Calzoum Bachri sangat kaya akan deviasi khusunya deviasi morfologis, sehingga penggunaan deviasi yang dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri menjadi hal yang menarik untuk dikaji secara ilmiah.

Penelitian ini difokuskan pada deviasi morfologis karena keunikan karya Sutardji Calzoum Bachri yang lebih banyak bermain pada wilayah morfologi. Penulis akan mengaitkan bentuk deviasi morfologis puisi Sutardji Calzoum Bachri yang mampu mencapai tujuan efek estetik karena puisi merupakan salah satu karya sastra yang mengandung aspek puitik. Selain itu, belum ada penelitian sebelumnya yang mengaitkan deviasi morfologis dengan bentuk estetik karya sastra.

Teori yang penulis gunakan untuk mengkaji bentuk deviasi morfologis� pada penelitian ini adalah teori yang dicetuskan oleh Jan Mukarovsky seorang pengikut aliran strukturalisme praha yang memperkenalkan Teori Estetika dalam bukunya Aesthetic Function Norms. Mukarovsky berpendapat bahwa efek estetik dalam sebuah karya sastra dihasilkan melalui fungsi puitika bahasa, dengan mengubah struktur fonologi, gramatikal dan sintaksis. Selain itu, untuk mengetahui pola penyimpangan gramatikal puisi Sutardji Calzoum Bachri, penulis menggunakan enam pola menurut (Darwis, 2011), yaitu pola pelesapan, pola pertukaran, pola analogi, pola variasi sinonim/bentuk, pola variasi urutan dan pola inkorporasi.

Proses morfologi pada dasarnya adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (dalam proses afiksasi), pengulangan (dalam proses reduplikasi), penggabungan (dalam proses komposisi), pemendekan (dalam proses akronimisasi), dan pengubahan status (dalam proses konversi) (Chaer, 2008). Bentuk deviasi morfologis ditandai dengan penggunaan afiksasi yang tidak tepat, penghilangan dan perubahan pada bentuk dasar dan bentukan struktur morfologi baru (Susanto, 2017). Jadi deviasi morfologi merupakan suatu bentuk penyimpangan dari struktur morfologi baku dan bentukan tersebut belum lazim atau tidak terdapat dalam bahasa sehari-hari (Nurgiyantoro, 2014).

Contoh bentuk deviasi morfologis afikasasi yaitu pada puisi Chairil Anwar Cintaku Jauh di Pulau pada kata berpeluk yang seharusnya berpelukan, dan pada puisi berjudul Sajak Putih pada kata meriak yang seharusnya beriak. Kemudian bentuk deviasi morfologis reduplikasi pada kata tulang-tulang seharusnya kata yang benar adalah tulang-belulang dan kata selam-berselam yang seharusnya saling menyelami. Selanjutnya contoh bentuk deviasi morfologis komposisi pada kata berbiak kata yang benar seharusnya berkembang biak.

Terdapat enam pola dalam penyimpangan gramatikal dalam puisi yaitu, (1) pola pelesapan, (2) pola pertukaran, (3) pola analogi, (4) pola variasi sinonim/bentuk, (5) pola variasi urutan, (6) pola inkorporasi (Darwis, 2010). Penggunaan pola tersebut, terkadang ada pola yang mengikuti pola lain misalnya, pola variasi urutan kata dan pola variasi sinonim/bentuk diikuti pola pelesapan (Akrom, 2012).

a.      Pola pelesapan

Pola pelesapan memiliki tiga kaidah yaitu, (1) pelesapan afiks-afiks tertentu yang terdapat dalam bahasa sehari-hari. Afiks-afiks yang sering mengalami pelesapan yaitu, prefiks me-, ber-, ter- sufiks -i, -kan, -an,-nya, konfiks me-kan, me-i, pe-an, ke-an, dan simulfilks memper-kan. (2) pelesapan morfem atau kata ulang dalam reduplikasi, (3) pelesapan morfem-morfem tertentu dari kata majemuk (Darwis, 2011). Contoh pelesapan atau penghilangan prefiks ber- pada salah satu baris puisi Chairil Anwar waktu jalan. Aku tidak tahu pa nasib waktu? Kata yang seharusnya adalah berjalan.

b.     Pola pertukaran

Pada pola pertukaran, bentuk dasar yang biasanya diberi prefiks ter- seperti pada kata terkesiap diberi prefiks ber- menjadi berkesiap. Atau bentuk dasar yang lazimnya diberi afiks di-kan diberi prefiks ter-. Seperti pada kata disebabkan menjadi tersebab.

c.      Pola analogi

Bentuk analogi diambil dari bentuk yang telah ada. Misalnya bentuk analogi saksi bisu dianalogikan dengan dinding bisu (Akrom, 2012).

d.     Pola variasi sinonim/bentuk

Ditandai oleh usaha subsitusi secara paradigmatis terhadap kata atau frasa yang dianggap klise dengan kata ata frasa lain yang bersinonim. Termasuk dalam pergantian antarafiks yang mempunyai kemiripan dari segi peran semantis. Misalnya variasi sinonim/bentuk prefiks meng- dan ber- (Darwis, 2011). Contoh kata mengering menjadi berkering, dan kata berjuta-juta menjadi menyejuta.

e.      Pola variasi urutan�����������

Pola variasi urutan seperti pada puisi Chairil Anwar yang terkenal dengan judul Tragedi Winka dan Sihka. Pada kata kawin mengalami pola variasi urutan suku kata menjadi Winka, dan kata kasih �menjadi sihka.

f.      Pola inkorporasi

����� Pola inkorporasi meleburkan dua kata atau lebih dari kata yang berlainan untuk memadatkan makna melalui pendayagunaan afiks-afiks tertentu. Contohnya Menjadi berjuta-juta menjadi menyejuta, cari-cari muka �menjadi bermuka-muka (Darwis, 2011). Pada puisi yang berjudul sarapan sebelum tidur karya Aan Mansyur terdapat jenis deviasi dalam karya sastra yaitu deviasi morfologis. Bentuk deviasi morfologis tersebut berupa kata pohonan. Kata tersebut merupakan bentuk deviasi morfologis karena mengalami penghilangan salah satu unsur konfiks pe-an, kata yang seharusnya adalah pepohonan (Susanto, 2017: 7). Penyimpangan morfologis atau deviasi morfologis ini juga sering dilakukan oleh Rendra, dengan menggunakan kata nangis untuk mengganti kata menangis (Solihati, 2014: 43).

 

Metode Penelitian

A.    Jenis Penelitian��

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang didasarkan pada beberapa konsep dan prinsip penelitian kualitatif. Beberapa konsep yang dimaksud adalah (1) data merupakan data verbal, (2) penelitian bersifat deskriptif, (3) diorentasikan pada pemahaman makna, (4) mengutamakan hubungan secara langsung antara peneliti dengan dunia yang diteliti, dan (5) mengutamakan peran peneliti sebagai instrumen kunci (Moleong, 2016).�

B.    Waktu dan Tempat Penelitian�

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari 2022 sampai Maret 2022 mulai dari perencanaan penelitian hingga penulisan laporan. Tempat penelitian dilaksanakan di Makassar.

C.    Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah pendekatan analisis konten. Peneliti terlebih dahulu membaca kumpulan Puisi Sutardji Calzoum Bachri, kemudian mengumpulkan data bentuk deviasi morfologis afiksasi, reduplikasi dan komposisi. Setelah data terkumpul, peneliti kemudian menganalisis bentuk deviasi morfologis tersebut berdasarkan beberapa pola penyimpangan gramatikal menurut Darwis (2011). Selanjutnya, untuk mengetahui bentuk deviasi morfologis yang mencapai efek estetik, peneliti menggunakan pendekatan hermeneutik menurut Schlaiermacher yaitu dengan menganalisis unsur kebahasaan dan menginterpretasi makna dari bentuk deviasi morfologis tersebut.

D.    Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini adalah penemuan wujud deviasi morfologis dan bentuk deviasi yang mampu mencapai efek estetik pada kumpulan puisi Sutardji Calzoum Bachri, O, Amuk, Kapak.

E.    Data dan Sumber Data��

Data penelitian ini adalah keterangan atau bahan nyata yang dijadikan kajian atau analisis. Data tersebut menyangkut kata yang mengandung deviasi morfologis. Sumber data adalah subjek data diperoleh yang menjadi dasar pengambilan atau tempat untuk memeroleh data yang diperlukan. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku kumpulan puisi Sutardji Calzoum Bachri, O, Amuk, Kapak yang berisi 69 puisi.

F.     Instrumen Penelitian�����

Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen utama dengan menggunakan perangkat keras komputer serta perangkat lunak seperti Microsoft Word dan Mendeley.

G.   Teknik Pengumpulan Data�������

Pada tahap ini peneliti melakukan pengumpulan data dengan teknik studi pustaka dan dokumentasi. Berikut langkah-langkah yang penulis lakukan dalam teknik pengumpulan data.

1.     Langkah pertama adalah mengumpulkan data, setelah semua data terkumpul kemudian data yang ada tersebut diperiksa dengan cara membaca dan memahami deviasi morfologis buku kumpulan puisi Sutardji Calzoum Bachri, O, Amuk, Kapak secara berulang-ulang.

2.     Langkah kedua adalah seleksi data, setelah semua data diperiksa, kemudian dilakukan teknik catat yaitu dengan mencatat kata atau kalimat yang ada pada sumber data. kemudian peneliti mengidentifikasikan bentuk penyimpangan bahasa (deviasi) yang terdapat pada objek data serta menandai kata atau kalimat, dilanjutkan dengan mencatatat serta memberi nomor pada kata atau kalimat yang sudah ditandai tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penulis dalam mencari dan mengelompokkan data.

3.     Langkah ketiga yaitu pengelompokan data. Data yang sudah diseleksi kemudian dikelompokkan menjadi satu. Pengelompokan data didasarkan pada bentuk deviasi� morfologis.

H.   Teknik Analisis Data�����

Teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini menurut Miles dan Huberman (dalam Moleong, 2016) yaitu reduksi data, penyajian data, kesimpulan dan verifikasi.

�

Hasil Penelitian Dan Pembahasan

A.    Hasil Penelitian

Bentuk-bentuk konfiks yang mengalami pola pelesapan yaitu konfiks me- kan, me- i, dan pe- an. Uraian lebih lanjut mengenai data tersebut sebagai berikut.

1.     Konfiks Me- kan

Penulis menemukan tujuh data bentuk konfiks me- kan pada kumpulan puisi O, Amuk, Kapak karya Sutardji. Uraian lebih lanjut mengenai pola pelesapan konfiks me- kan sebagai berikut.��

...

bulan di atas kolam kasikan ikan! bulan di jendela��
kasikan remaja! daging di atas paha berikan bosan!

....

(Data 002, puisi 1 Ah, bait 5 baris 2, hlm. 4)

Berdasarkan kutipan data 002, terdapat kata berikan yang merupakan bentuk deviasi morfologis dengan pola pelesapan afiksasi yaitu penghilangan salah satu bagian konfiks yaitu mem- sehingga tidak sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia baku. Kata yang berterima dalam bahasa Indonesia atau sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia baku adalah kata memberikan. Kata memberikan berasal dari kata dasar beri dan merupakan bentuk kata verba.

Setelah menganalisis lebih lanjut kutipan pada data 002 di atas, kata berikan yang dimaksud oleh Sutardji bermakna memberikan, akan tetapi kata berikan apabila sesuai dengan EBI memiliki makna ganda yaitu ada ikannya. Bentuk konfiks yang juga mengalami pola pelesapan� me- kan juga terdapat pada data 009 berikut.

 

nyeberangkan sungai
����������������������������������� ke negeri asal�
����������������������� ....

(Data 009, puisi 4 Dapatkau, bait 1 baris 1, hlm. 6)

 

Berdasarkan kutipan data 009 di atas, terlihat bentuk deviasi morfologis dengan pola pelesapan afiksasi berupa penghilangan salah satu unsur konfiks yaitu me- pada kata nyeberangkan, kata yang lazim digunakan dan berterima dalam bahasa Indonesia seharusnya kata menyeberangkan yang berasal dari kata dasar seberang merupakan bentuk kata nomina, mendapatkan imbuhan berupa konfiks me- kan. Salah satu alasan penyair menggunakan kata nyeberangkan adalah untuk mendapatkan efek estetik dengan kesan pengharapan. pola pelesapan konfiks me- kan diperkuat pada data 049 berikut.

...

jam ngucurkan����������
detak nanah

 

(Data 049, puisi 54 Nuh, bait 1 baris 4, hlm. 49)

 

Hal yang sama pada data 002 dan data 009 juga ditemukan pada data 049 di atas. Kata ngucurkan yang berada pada bentuk klausa jam ngucurkan merupakan bentuk kata yang tidak baku. Kata yang baku atau berterima dalam bahasa Indonesia seharusnya kata mengucurkan. Kata megucurkan berasal dari kata dasar kucur yang merupakan bentuk kata verba. Kata ngucurkan pada kalusa jam ngucurkan berada pada larik terakhir yang mengikuti nomina jam di depannya.

2.     Konfiks Me- i

Bentuk konfiks me- i terdapat pada data 046 dalam kumpulan puisi O, Amuk, Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri yang penulis uraikan sebagai berikut.

 

kemarau parau
arwah ikan ngarung langit

����������� ....

�����������

(Data 046, puisi 46 Sajak Babi III, bait 1 baris 2, hlm. 44)

 

Kata ngarung yang terdapat pada klausa arwah ikan ngarung langit merupakan bentuk kata yang tidak baku. Kata ngarung menjadi tidak baku karena kehilangan unsur konfiks me- i, seharusnya kata yang baku atau sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia adalah kata mengarungi. Kata mengarungi berasal dari kata dasar arung. Kata ngarung yang berada pada tengah larik mengikuti nomina arwah ikan. Sutardji sengaja menggunakan kata arung untuk mendapatkan efek estetik dengan kesan pengaharapan serta sebagai ciri khas dalam berkarya.

3.     Konfiks Pe- an

Bentuk pelesapan konfiks pe- an terdapat pada data 051 dan data 056 pada kumpulan puisi O, Amuk, Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri. Uraian lebih lanjut penulis uraikan sebagai berikut.

 

...

����������������������� sama pohonan
����������������������������������� sama batu-batu

(Data 051, puisi 57 Hujan, bait 1 baris 4, hlm. 50)

 

kubuka jendela taman berjalan����������
di antara pohonan sungai menjalar

...

(Data 056, puisi 65 Siapa, bait 1 baris 2, hlm. 55)

 

Kata pohonan pada data 051 dan 056 merupakan bentuk kata yang tidak baku atau tidak sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia. Kata pohonan tersebut kehilangan salah satu unsur konfiks yaitu pe-. Kata yang baku atau sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia adalah kata Pepohonan. Kata pepohonan berasal dari kata dasar pohon yang merupakan bentuk kata nomina.

Kata pohonan pada data 051 berada pada larik terakhir frasa sama pohonan. Sedangkan, kata pohonan pada data 056 berada pada larik tengah klausa di antara pohonan sungai menjalar. Sutardji sengaja menggunakan kata pohonan dan meletakkan pada akhir dan tengah larik untuk mendapat efek estetik dengan kesan kerinduan serta sebagai ciri khasnya karena berbeda dengan penyair lain.

�

B.    Pembahasan

Pola pelesapan konfiks yang ditemukan dalam penelitian ini disajikan dalam tabel berikut:

 

Tabel 1

Pola Pelesapan Konfiks

No.

Pola Pelesapan Konfiks

Konfiks me-kan

Konfiks me-i

Konfiks pe-an

1.

Berikan

Ngarung

Pohonan

2.

Berikan

 

Pohonan

�3.

Nyeberangkan

 

 

4.

Nuliskan

 

 

5.

Ngucurkan

 

 

6.

Ngucap

 

 

7.

Mancarkan

 

 

 

Berdasarkan Tabel 3. ditemukan tujuh data bentuk deviasi morfologis dengan pola pelesapan konfiks me-kan, satu data pelesapan konfiks me-i, dan dua data pelesapan konfiks pe-an yang ditemukan pada puisi yang berbeda. Konfiks me-kan berfungsi membuat kata kerja aktif transitif dan dapat bermakna melakukan pekerjaan untuk orang lain, melakukan perbuatan, menyebabkan, maupun mengarah ke suatu tempat. Konfiks me-i berfungsi membentuk kata kerja aktif intransitif menjadi kata kerja transitif. Konfiks me-i dapat bermakna menyatakan pekerjaan berulang-ulang, menyatakan membuang, menyatakan memberikan atau membubuhkan, dan menyatakan menyebabkan. Sedangkan konfiks pe-an berfungsi membentuk kata benda, dan bermakna menyatakan proses, menyatakan tempat, menyatakan alat atau indera. Konfiks pe-an dapat bergabung dengan kata kerja, kata sifat, kata benda dan kata bilangan.

Sutardji sengaja menghilangkan salah satu unsur konfiks untuk mendapatkan efek estetik, sehingga pembaca dapat memaknai secara luas dan mengetahui kesan estetiknya. Misalnya, pada kata nyeberangkan yang mengalami pelesapan pada salah satu unsur konfiks me-kan. Dalam bahasa sehari-hari atau bahasa Indonesia baku, kata nyeberangkan memiliki arti sisi di sebelah atau sisi lain. Akan tetapi, makna estetik kata nyeberangkan (menyeberangkan) yang ingin disampaikan Sutardji adalah memindahkan ke seberang atau dapat bermakna sebuah pengampunan.�����

 

Kesimpulan

Ada tiga bentuk konfiks yang mengalami pola pelesapan (penyimpangan morfologis) yaitu konfiks me- kan, me- i, dan pe- an. Sutardji sengaja menghilangkan salah satu unsur konfiks untuk mendapatkan efek estetik, sehingga pembaca dapat memaknai secara luas dan mengetahui kesan estetiknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Darwis, M. (2010). Mengurai keserumpunan: Dunia melayu dalam konteks hubungan bangsa serumpun Indonesia Malaysia (A. R. Hamid & I. D. Makelo, Ed.). Ombak. https://docplayer.info/34056207-Kelainan-ketatabahasaan-dalam-puisi-indonesia-kajian-stilistika-i-oleh-muhammad-darwis-universitas-hasanuddin-abstrak.html

 

Darwis, M. (2011). Kelainan Ketatabahasaan dalam Puisi Indonesia: Kajian Stilistika. Seminar Serumpun. https://docplayer.info/34056207-Kelainan-ketatabahasaan-dalam-puisi-indonesia-kajian-stilistika-i-oleh-muhammad-darwis-universitas-hasanuddin-abstrak.html

 

Simpson, P. (2004). Stylistics: A Resource Book for Students (1 ed.). Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203496589

 

Nurgiyantoro, B. (2014). Stilistika (Cetakan pertama). Gadjah Mada University Press.

 

Muhaiminah, H. (2012). Penyimpangan Gramatikal pada Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar. Linguistika Akademia, 1(1), 59�72.

 

Moleong, L. J. (2016). Metologi penelitian kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.

 

Aldiunanto. 2015. Definisi dan Fungsi Bahasa (online). Aldiunanto. 2015. (http://aldiunanto.com/definisi-dan-fungsi-bahasa.aldi. Diakses 17 Januari 2017).

 

Arifin, E. Zainal dan Farid Hadi. 1993. Seribu Satu Kesalahan Berbahasa. Jakarta: Akademika Pressindo.

 

Badrun, Ahmad. 1983. Pengantar Ilmu Sastra (Teori Sastra). Surabaya: Usaha Nasional.

 

Bindo. 2013. Pengertian Sajak (online). (http://www.e-jurnal.com/2013/11/pengertian-sajak.html?m=1. Diakses 17 Januari 2017).

 

Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia (pendekatan Poses). Jakarta: Rineka Cipta.

 

Darwis, Muhammad. 2012. Morfologi Bahasa Indonesia Bidang Verba. Makassar: CV. Menara Intan.

 

Damono, Sapardi Djoko. 2017. Hujan Bulan Juni (sepilihan Sajak). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Guru Berbahasa. 2016. Pengertian Bahasa Menurut Para Ahli (online). (http://www.guruberbahasa.com/2016/05/pengertian-bahasa-menurut-beberapa-ahli.html?m=1. Diakses 17 Januari 2017).

 

Hambali. 2016. Bahasa Indonesia dan Analisis Kesalahan Berbahasa. Makassar.

 

Islami, Eti. 2017. Analisis Morfologis dalam Novel Sarinah Kewadjiban Waita dalam Perdjoangan Republik Indonesia Karya Ir. Soekarno Beserta Implementasinya di SMA. Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 

Lestari, Deni Indah. 2014. Reduplikasi Semantis pada Novel Sunset Bersama Rosie Karya Tere Liye. Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 

Moleong, Lexy J. 1990. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

 

Mujib, Ahmad. 2017. Analisis Data Kualitatif Model Miles Dan Huberman (online). (http://www.wikipendidikan.com/2017/05/analisis-data-kualitatif.html?m=1. Diakses 17 Januari 2017).

 

Munirah. 2015. Bahan Ajar Morfologi Bahasa Indonesia. Makassar.

 

Murtiani, Desti. 2013. Analisis Pengulangan kata dalam Artikel Motivasi. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro.

 

Muslich, Masnur. 2013. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Malang: Bumi Aksara.

 

Prasetyo, Agung. 2016. Cabang Ilmu Linguistik (online). http://linguistikid.com/cabang-ilmu-linguistik/. Diakses 17 Januari 2017).

 

Copyright holder:

Indramini, Rukayah, Aziz Thaba, Abdul Kadir, Asriani Abbas (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: