Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p�ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No. 6, Juni 2022

 

DETERMINAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUAK RIBEE KABUPATEN ACEH BARAT

 

Amiruddin, T. Iskandar Faisal, Abdurrahman, Bustami

Dosen Poltekkes Kemenkes Aceh, Indonesia

Email: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected]

 

Abstrak

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit menular yang paling sering terjadi pada anak. Prevalensi ISPA pada balita di Puskesmas Suak Ribee tahun 2020 dapat diketahui sebanyak 873 balita (79,8%), sedangkan yang mengalami ISPA sebanyak 278 balita. Cakupan imunisasi di Puskesmas Suak Ribee sebesar 91,2%, sedangkan cakupan status gizi sebesar 87,1%, serta cakupan asi ekslusif sebesar 80,9%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui determinan kejadian infeksi saluran pernafasan akut pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Suak Ribee Kabupaten Aceh Barat tahun 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan crossectional study. Penelitian telah dilakukan pada Juli sampai September 2021. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai balita (1-5 tahun) yang menderita ISPA yang berkunjung ke puskesmas Suak Ribee Kabupaten Aceh Barat periode Maret s/d Juni 2021 sebanyak 39 orang. Tehnik pengumpulan sampel adalah secara secara total populasi. Analisa data dengan menggunakan univariat dan bivariat. Hasil penelitian didapat bahwa ada hubungan antara kelengkapan imunisasi (p-value 0,034), status gizi (p-value 0,048) dan pemberian ASI eksklusif (p-value 0,022) dengan kejadian infeksi saluran pernafasan akut pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Suak Ribee Kabupaten Aceh Barat tahun 2021. Disarankan kepada Kepala Puskesmas untuk membuat pamflet tentang cara penanganan dan pengobatan terhadap ISPA sehingga orangtua balita dapat meningkatkan pengetahuan tentang penanganan dan pengobatan terhadap ISPA.

 

Kata Kunci: imunisasi, status gizi, ASI eksklusif, ISPA

 

Pendahuluan

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus atau bakteri dan berlangsung selama 14 hari. ISPA merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan bagian atas dan bagian bawah. ISPA dapat menimbulkan gejala ringan (batuk, pilek), gejala sedang (sesak, wheezing) bahkan sampai gejala yang berat (sianosis, pernapasan cuping hidung). ISPA yang berat jika mengenai jaringan paru-paru dapat menyebabkan terjadinya pneumonia. Pneumonia merupakan penyakit infeksi penyebab kematian nomor satu pada balita (Kemenkes, 2021).

Insidens menurut kelompok umur balita diperkirakan 0,29 kasus per anak/tahun di negara berkembang dan 0,05 kasus per anak/tahun di negara maju. Ini menunjukkan bahwa terdapat 156 juta kasus baru di dunia per tahun dimana 151 juta kasus (96,7%) terjadi di negara berkembang. Kasus terbanyak terjadi di India (43 juta), China (21 juta) dan Pakistan (10 juta) dan Bangladesh, Indonesia, Nigeria masingmasing 6 juta kasus. Dari semua kasus yang terjadi di masyarakat, 7-13% kasus berat dan memerlukan perawatan rumah sakit. Kasus batuk-pilek pada Balita di Indonesia diperkirakan 2-3 kali per tahun (Rudan, Boschi-Pinto, Biloglav, Mulholland, & Campbell, 2008).

Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan salah satu penyebab kematian utama pada bayi dan balita di negara berkembang. ISPA di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan utama karena masih tinggi angka kejadian ISPA terutama pada balita. ISPA merupakan jenis penyakit menular yang biasanya menyerang balita dengan rentan usia kurang dari lima tahun (Pratiwi & Wahyuni, 2016).

Berdasarkan hasil Riskesdas (2018) prevalensi ISPA di Indonesia sebesar 9,3% diantaranya 9,0% berjenis kelamin laki-laki dan 9,7% berjenis kelamin perempuan (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada kelompok umur satu sampai empat tahun yaitu sebesar 13,7% (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Kasus ISPA terbanyak di Indonesia yaitu terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur 15,4%, Papua 13,1%, Banten 11,9%, Nusa Tenggara Barat 11,7%, Bali 9,7% (RI, 2018).

Menurut Profil Kesehatan Aceh (2020), diperkirakan jumlah penderita ISPA adalah 5,25% dari keseluruhan jumlah balita di Provinsi Aceh sebanyak 23.002 dari 437.752 balita, jumlah tersebut mengalami peningkatan dari tahun 2019 yang berjumlah 7.266 kasus (1,6%). Sedangkan jumlah balita yang meninggal akibat ISPA sebanyak 1,2%. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat tahun 20120 jumlah balita yang menderita ISPA mencapai 1921 kasus (84,6%) dari 1966 balita. Provinsi Aceh cakupan persentase pemberian ASI eksklusif pada bayi 0 - 6 bulan di Aceh pada tahun 2019 adalah sebesar 61%, pemberian imunisasi dasar sebesar 70,0%, cakupan status giz sebanyak 71,9%. Prevalensi status gizi di Kabupaten Aceh Barat mencapai 2,32 persen, pemberian ASI ekslusif sebanyak 3,2 persen, dan cakupan imunisasi dasar sebesar 94,5% (Dinkes Aceh, 2019).

Data di Puskesmas Suak Ribee jumlah balita tahun 2019 berjumlah 455 balita. Penderita ISPA pada balita tahun 2019 berjumlah 113 (54,1%), dimana balita yang terkena ISPA dengan status gizi sejumlah 45 (9,8%), sedangkan pada balita karena kurangnya pemberian ASI eksklusif sejumlah 189 (41,5%), selebihnya sejumlah 108 (23,7%) balita terkena ISPA oleh penyebab yang lain. Prevalensi ISPA pada balita di Puskesmas Suak Ribee tahun 2020 dapat diketahui sebanyak 873 balita (79,8%), sedangkan yang mengalami ispa sebanyak 278 balita. Cakupan imunisasi di puskesmas Suak Ribee sebesar 91,2%, sedangkan cakupan status gizi sebesar 87,1%, serta cakupan ASI ekslusif sebesar 80,9%. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap ibu yang memiliki balita yang berkunjung ke puskesmas Suak Ribee terhadap 10 anggota keluarga balita penderita ISPA diperoleh informasi bahwa 8 diantaranya orang tuanya adalah tidak memberikan ASI secara eksklusif.

 

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian survey yang bersifat deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai balita (1-5 tahun) yang menderita ISPA yang berkunjung ke puskesmas Suak Ribee Kabupaten Aceh Barat periode Maret s/d Juni 2021 sebanyak 39 orang. Sampel diambil dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel secara total populasi.

 

Hasil dan Pembahasan

Analisis Univariat dalam penelitian ini menunjukkan bahwa dari 39 responden dengan Kejadian ISPA diketahui dari 39 responden sebanyak 53,8% kejadian ISPA pada balita yaitu kategori kejadian ISPA sedang.Kelengkapan imunisasi diketahui dari 39 responden kelengkapan imunisasi paling banyak yaitu kategori tidak lengkap sebanyak 74,3%. Status gizi diketahui dari 39 responden dengan status gizi balita kategori baik sebanyak 53,8%, dan Pemberian ASI Eksklusif diketahui dari 39 responden dengan pemberian ASI Eksklusif sebanyak 56,4% yaitu tidak memberikan ASI eksklusif.

 

Tabel 1

Distribusi Frekuensi Kejadian ISPA pada Balita dan Determinan Kejadian ISPA

No.

Variabel Dependen

Kategori

Frekuensi

Persentase

1.

Kejadian ISPA

pada Balita

Berat

Sedang

Ringan

10

21

8

25,6

53,8

20,5

����������������� Total

Jumlah

39

100

No.

Variabel Independen

Kategori

Frekuensi

Persentase

2.

Kelengkapan Imunisasi

Lengkap

Tidak Lengkap

10

29

25,7

74,3

����������������� Total

Jumlah

39

100

3.

Status Gizi Balita

Baik

Kurang

21

18

53,8

46,2

����������������� Total

Jumlah

39

100

4.

Pemberian ASI Eksklusif

Ya

Tidak

17

22

43,6

56,4

����������������� Total

Jumlah

39

100

pada Balita (n=39)

 

Analisa bivariat diketahui bahwa dari 39 responden kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA berat sebanyak 30,0%, sedang 70,0% dan ringan 0,0%, sedangkan kelengkapan imunisasi tidak lengkap terhadap kejadian ISPA pada balita yang berat sebanyak 24,1%, sedang 48,3% dan ringan sebanyak 27,6%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value = 0,034 (p<0,05). Selanjutnya dari 39 responden status gizi baik dengan kejadian ISPA pada balita dengan kategori berat sebanyak 9,5%, sedang 61,9% dan ringan 28,6%, sedangkan status gizi kurang terhadap kejadian ISPA pada balita dengan kategori berat sebanyak 44,4%, sedang 44,4% dan ringan sebanyak 11,1%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value = 0,048 (p<0,05). Selanjutnya dari 39 responden dengan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada balita dengan kategori berat sebanyak 0,0%, sedang 58,8% dan ringan 4,2%, sedangkan yang tidak memberikan ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada balita dengan kategori berat sebanyak 45,5%, sedang 50,0% dan ringan sebanyak 4,5%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value = 0,022 (p<0,05).

 

Tabel 2

Analisis Faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA pada Balita (n=39)

No.

Variabel

Kategori

Kejadian ISPA pada Balita

Total

 

P value

 

α

Berat

Sedang

Ringan

 

 

 

f

%

f

%

f

%

f

%

 

 

1

Kelengkapan Imunisasi

Lengkap

3

30,0

7

70,0

0

0,0

10

100

 

 

0,034

 

 

0,05

Tidak Lengkap

7

24,1

14

48,3

8

27,6

29

100

 

Total

 

10

 

21

 

8

 

39

100

 

 

2

Status Gizi Balita

Baik

2

9,5

13

61,9

6

28,6

21

100

 

 

0,048

 

 

0,05

Kurang

8

44,4

8

44,4

2

11,1

18

100

 

Total

 

10

 

21

 

8

 

39

100

 

 

3

Pemberian ASI Eksklusif

Ya

0

0,0

10

58,8

7

4,2

17

100

0,022

0,05

Tidak

10

45,4

11

50,0

1

4,5

22

100

 

Total

 

10

 

21

 

8

 

39

100

 

 

 

Pembahasan

Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value = 0,034 (p<0,05) yang berarti ada hubungan kelengkapan imunisasi terhadap kejadian infeksi saluran pernafasan akut pada balita di Puskesmas Suak Ribee Kabupaten Aceh Barat Tahun 2021.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lisdianti, Saparwati & Choiriyah (2015) tentang hubungan status imunisasi terhadap kejadian ISPA pada anak usia Balita di wilayah kerja Puskesmas Pasir Putih Sampit Kalimantan Tengah menyatakan bahwa ada hubungan status imunisasi terhadap kejadian ISPA. Anak yang mendapatkan imunisasi lengkap lebih rendah mengalami kejadian ISPA daripada yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap (Lisdianti, 2015).

Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Laode dkk (2016) tentang hubungan antara riwayat imunisasi dasar dan frekuensi ISPA pada balita yang datang berkunjung ke Puskesmas Sekip Palembang dengan jumlah sampel 180 balita, diketahui bahwa dari 84 balita (46,7%) jarang terkena ISPA dan sebesar 96 balita (53,3%) sering terkena ISPA. Dari hasil analisis bivariat, nilai p value pada penelitian ini sebesar 0,037 dan odd ratio 2,161 (CI 95% = 1,098-4,253). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara riwayat imunisasi dasar dan frekuensi ISPA pada balita yang datang berkunjung ke Puskesmas Sekip Palembang dan balita dengan riwayat imunisasi dasar tidak lengkap berisiko untuk sering terkena ISPA 2,161 kali lebih besar daripada balita dengan riwayat imunisasi dasar lengkap (Hidayatullah, Helmi, & Aulia, 2016).

Imunisasi dasar lengkap yang diberikan bukan untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap ISPA secara langsung, melainkan hanya untuk mencegah faktor yang dapat memacu terjadinya ISPA. Selain imunisasi dasar lengkap terdapat juga beberapa faktor yangdapat menyebabkan ISPA, antara lain pemberian vitamin A, pemberian imunisasi Hib dan status gizi balita. Tidak lengkapnya imunisasi menyebabkan imunitas balita lemah, sehingga mudah untuk terserang ISPA, selain itu masih tingginya penderita ISPA pada balita walaupun telah menerima imunisasi lengkap diakibatkan karena belum ada vaksin yang dapat mencegah ISPA secara langsung.

Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value = 0,048 (p<0,05) yang berarti ada hubungan status gizi terhadap kejadian infeksi saluran pernafasan akut pada balita di Puskesmas Suak Ribee Kabupaten Aceh Barat Tahun 2021. Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lidia Widia (2017) tentang Hubungan Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada Balita yang diteiliti di wilayah Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kabupaten Tanah Bumbu dengan metode penelitian analitik dengan sampel 90 responden didapatkan sebagian besar responden dengan status gizi tidak normal yaitu 74,3% mengalami ISPA Positif sedangkan sebagian besar responden dengan gizi normal yaitu 65,5% mengalami ISPA Negatif. Dalam penelitian ini dinyatakan bahwa ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita diwilayah kerja Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kabupaten Tanah Bumbu (L, 2017).

Menurut asumsi peneliti bahwa dalam hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa balita yang menderita ISPA memiliki gangguan status gizi (TB/U). Untuk itu yang perlu diperhatikan dalam hal perbaikan gizi balita yang menderita ISPA adalah pola makan yang mendukung pertumbuhan balita yang sesuai dengan umur balita. Pola makan yang dimaksudkan adalah balita mengkonsumsi makanan yang mengandung protein untuk mendukung pertumbuhan yang ideal sesuai dengan umur balita. Kebanyakan balita yang terkena ISPA berstatus gizi kurang dikarenakan gizi mempengaruhi terhadap kesehatan tubuh seseorang. Semakin baik status gizi balita maka semakin besar pula peluang balita untuk tidak menderita ISPA karena status gizi balita mempengaruhi daya tahan tubuh balita terhadapserangan infeksibakteriatau virus yang menyebabkan ISPA.

Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value = 0,022 (p<0,05) yang berarti ada hubungan status gizi terhadap kejadian infeksi saluran pernafasan akut pada balita di Puskesmas Suak Ribee Kabupaten Aceh Barat Tahun 2021. Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sinaga (2015) tentang hubungan status gizi dan status imunisasi dengan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita di wilayah kerja puskesmas Soposurung Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir menunjukkan bahwa sebanyak 57,4% balita di wilayah kerja Puskesmas Soposurung tidak mendapat ASI eksklusif. Hal ini dikarenakan karena kondisi ASI si ibu yang tidak cukup diberikan untuk bayi sehingga memaksa si ibu untuk memberikan susu formula secara dini. Dan faktor pengetahuan si ibu tentang pentingnya ASI eksklusif yang masih rendah sehingga kekhawatiran si ibu yang merasa balita akan kelaparan jika si bayi hanya di beri ASI saja mendorong si ibu untuk memberikan makanan/ bubur nasi secara dini kepada bayinya (Sinaga, Lubis, & Siregar, 2015).

Pemberian ASI Eksklusif pada balita sangat penting untuk diperhatikan karena di samping ASI yang merupakan makanan bayi yang paling sempurna, bersih, sehat dan praktis juga mampu memenuhi kebutuhan gizi bayi untuk tumbuh kembang normal sampai bayi berusia 6 bulan. Bayi disebut menerima ASI eksklusif jika bayi memang benar-benar hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan atau makanan apapun seperti susu formula, madu, air teh, air minum, pisang, papaya, roti, bubur nasi, biskuit dan bubur tim (Hersoni, 2019).

Menurut asumsi peneliti bahwa adanya hubungan hal ini dapat disebabkan karena balita yang tidak mendapatkan ASI secara eksklusif maka sistem kekebalan tubuhnya menjadi kurang sehingga akan mudah terserang penyakit atau infeksi pernafasan seperti ISPA. Masih rendahnya pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI eksklusif, ibu yang berangggapan bahwa gizi yang diperoleh dari ASI saja tidak mencukupi gizi untuk anaknya, sehingga ibu-ibu yang lebih banyak memberikan MP-ASI pada anaknya sebelum berumur 6 bulan, sikap dari ibu yang kurang disaat pemberian ASI kepada anaknya, ibu-ibu yang tidak mau menyusui anaknya karena takut gemuk, dan juga karena ibu-ibu yang tidak mau memberikan ASI-nya karena anaknya yang sering tidak mau menyusui kepada dirinya sehingga diberikan susu tambahan, selain itu ibu-ibu dengan pendapatkan keluarga yang rendah, sehingga ibu juga harus membantu perekonimian keluarga yang menyebabkan waktu untuk anak dalam pemberian ASI menjadi berkurang. ASI merupakan makanan terbaik bagi anak terutama pada bulan-bulan pertama karena dapat mencukupi kebutuhan gizi bayi untuk tumbuh kembang dengan normal sampai berusia 6 bulan. ASI juga kaya akan antibody yang dapat melindungi bayi dari berbagai macam infeksi bakteri, virus, dan alergi serta mampu merangsang perkembangan sistem kekebalan bayi.���

 

Kesimpulan

Kesimpulan dalam penelitian ini ada hubungan antara kelengkapan imunisasi (p-value 0,034), status gizi (p-value 0,048) dan pemberian ASI eksklusif (p-value 0,022) terhadap Kejadian ISPA pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Suak Ribee Tahun 2021. Diharapkan kepada orangtua agar memberikan makanan dengan gizi yang baik agar terhindar dari penyakit terutama ISPA dan membuat pamflet tentang cara penanganan dan pengobatan terhadap ISPA baik pada saat Posyandu maupun di fasilitas pelayanan kesehatan dengan menjelaskan kepada orangtua sehingga dapat meningkatkan pengetahuan tentang penanganan dan pengobatan terhadap ISPA. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan peneliti selanjutnya dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai tambahan wawasan dan referensi, selain itu penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan dalam periode yang lebih lama serta mengembangkan variabel yang berbeda.

 

 


BIBLIOGRAFI

 

Dinkes Aceh, D. K. (2019). Profil Kesehatan Aceh. Dinkes Aceh, 53(9), 1689�1699. Google Scholar

 

Hersoni, Soni. (2019). Pengaruh Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Bayi Usia 6-12 Bulan Di Rab Rsu Dr. Soekarjdo Kota Tasikmalaya. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-Ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan Dan Farmasi, 19(1). Google Scholar

 

Hidayatullah, Laode Mohammad, Helmi, Yusmala, & Aulia, Hendarmin. (2016). Hubungan Antara Kelengkapan Imunisasi Dasar dan Frekuensi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita yang Datang Berkunjung ke Puskesmas Sekip Palembang 2014. Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan: Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, 3(3), 182�193. Google Scholar

 

Kemenkes. (2021). Profil Kesehatan Indonesia 2020. Jakarta : Balitbang Kemenkes RI.

 

L, Widian. (2017). Hubungan Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Kuranji Kecamatan Kuranji Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2017. Jurnal Darul Azhar, 3(1), 28�35.

 

Lisdianti, Dkk. (2015). Hubungan Status Imunisasi Terhadap Kejadian ISPA Pada Anak Usia Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Pasir Putih Sampit Kalimantan Tengah Ungaran. Program Studi Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo.

 

Pratiwi, Anis, & Wahyuni, Elyza Gustri. (2016). Sistem Pakar Diagnosis ISPA pada Balita dengan Metode Certainty Factor. Seminar Nasional Informatika Medis (SNIMed), 42�53. Google Scholar

 

RI, Kemenkes. (2018). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 170�173. Google Scholar

 

Rudan, Igor, Boschi-Pinto, Cynthia, Biloglav, Zrinka, Mulholland, Kim, & Campbell, Harry. (2008). Epidemiology and etiology of childhood pneumonia. Bulletin of the World Health Organization, 86, 408-416B. Google Scholar

 

Sinaga, Purnama, Lubis, Zulhaida, & Siregar, Muhammad Arifin. (2015). Hubungan Status Gizi Dan Status Imunisasi Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Ispa) Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Soposurung Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir Tahun 2014. Gizi, Kesehatan Reproduksi Dan Epidemiologi, 1(1). Google Scholar

 

 

 

 

Copyright holder:

Amiruddin, T.Iskandar Faisal, Abdurrahman, Bustami (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: