Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p�ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No. 7, Juli 2022

 

PENGETAHUAN, PERILAKU DAN KESADARAN PARA DOKTER DALAM PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL

 

Carolina Chloe Gracia Silaban

Siswa Kelas XI SMA YP. MARS, Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia

Email: [email protected]

 

Abstrak

Menurut Organisasi Kesehatan Sedunia, lebih dari setengah obat yang tersedia dan beredar umum yang seharusnya menggunakan resep dijual secara tidak semestinya.Selanjutnya setengah dari pasien yang menerima pengobatan gagal mendapatkan pengobatan yang tepat. Pengetahuan para dokter mengenai obat-obatan adalah suatu hal yang mandatori.Artinya obat yang diresepkan merupakan obat-obatan yang tepat untuk mencapai harapan pengobatan yang efektif dan tepat sasaran serta dapat menjangkau semua lapisan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Menurut dr. Gisheila Ruth Anggita pada ALOMEDIKA bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan menjadi penentu dalam pengambilan keputusan yang akan cenderung menjadi perilaku yang biasa diprakatekkan oleh seorang dokter antara lain: pengaruh dari bagian pemasaran, hubungan dokter dengan pasien, kolaborasi apoteker dan dokter serta faktor kontekstual yang mencakup rasa percaya dokter terhadap apoteker. Penggunaan obat yang tidak rasional akan mengakibatkan bebagai masalah yang tidak diharapkan oleh setiap insan. Penggunaan obat dikatakan rasional menurut WHO apabila pasien menerima obat yang tepat untuk kebutuhan klinis, dalam dosis yang memenuhi kebutuhan untuk jangka waktu yang cukup, dan dengan biaya yang terjangkau baik untuk individu maupun masyarakat. Studi ini menggunakan metode cross-sectional obsevatori dengan besaran quota sampel sebesar 70 responden yang berprofesi dokter.Alasan penggunaan metode kuota adalah anggapan penulis bahwa para dokter akan memiliki pengetahuan, perilaku serta kesadaran terkait penggunaan obat yang rasional yang kurang lebih sama. Studi ini bertujuan untuk mengasses pengetahuan, perilaku serta kesadaran para dokter terkait dengan penggunaan obat yang rasional.Studi ini menunjukkan bahwa para dokter memiliki pengetahuan yang mendekati sesuai.Besaran persentase peringkat pengetahuan dengan respon yang tepat terhadap limabelas pernyataan terkait, menghasilkan nilai rata-rata 60.3 dan 9.67 respon yang kurang tepat dan dalam persentase 86.19% dengan 13.81%.Dalam kaitannya dengan perilaku para dokter terhadap obat-obatan didapatkan angka nilai rata-rata sebesar 59.2 untuk respon yang sesuai dan 10.8 yang tidak sesuai tepat yang dalam bentuk persentase 84.57% dan 15.43%.Secara total nilai dari respon para dokter didapati tingkat rasionalitas penggunaan obat terindikasi mendekati sesuai dimana nilainya sebesar 72.00% berbanding 28% tingkat kesesuaiannya. Dari studi ini dapat disimpulkan bahwa para dokter memiliki pengetahuan, perilaku serta kesadaran dalam rasionalitas penggunaan obat adalah mendekati ideal.

 

Kata Kunci: Pengetahuan tentang obat, Perilaku, Rasionalitas penggunaan obat.

 

Abstract

According to the World Health Organization, more than half of the commonly available and circulating drugs that are supposed to use prescriptions are sold improperly.Furthermore, half of the patients who received treatment failed to get the right treatment. The knowledge of doctors about medicines is mandatory.This means that the prescribed drugs are the right medicines to achieve the expectation of effective and targeted treatment and can reach all levels of society who need health services. According to dr. Gisheila Ruth Anggita in ALOMEDIKA that there are several factors that influence and determine in decision making that will tend to be behaviors that are commonly practiced by a doctor, including: the influence of the marketing department, the doctor's relationship with patients, the collaboration of pharmacists and doctors and contextual factors that include the doctor's trust in pharmacists. Irrational use of drugs will result in various problems that are not expected by everyone. The use of drugs is said to be rational according to WHO if the patient receives the right drug for clinical needs, in doses that meet the needs for a sufficient period of time, and at an affordable cost for both individuals and society. This study used the cross-sectional obsevatory method with a sample quota of 70 respondents who were doctors by profession.The reason for the use of the quota method is the author's assumption that doctors will have more or less the same knowledge, behavior and awareness regarding the rational use of drugs. This study aims to assess the knowledge, behavior and awareness of doctors related to the rational use of drugs.The study showed that the doctors had close knowledge accordingly.The percentage of knowledge ratings with appropriate responses to fifteen related statements, resulted in an average score of 60.3 and 9.67 inappropriate responses and in percentages of 86.19% with 13.81%.In relation to the behavior of the doctors towards drugs, an average value of 59.2 for the corresponding response and 10.8 for the appropriate in accordance with the appropriate 10.8 which was in the form of percentages of 84.57% and 15.43%.In total, the value of the response of the doctors found that the level of rationality of using the drug was indicated to be close to the appropriate where the value was 72.00% versus 28% the degree of suitability. From this study it can be concluded that the doctors have knowledge, behavior as well as awareness in the rationality of the use of drugs is close to the ideal.

 

Keywords: Knowledge of drugs, Behavior, Rationality of drug use.

 


Pendahuluan

Obat adalah sesuatu yang digunakan untuk mengatasi dan memelihara kesehatan. Berbagai jenis obat yang tersedia baik secara resep maupun secara bebas termasuk di dalamnya suplemen kesehatan. Menurut Organisasi Kesehatan Sedunia, lebih dari setengah obat yang tersedia dan beredar umum yang seharusnya menggunakan resep dijual secara tidak semestinya.Selanjutnya setengah dari pasien yang menerima pengobatan gagal mendapatkan pengobatan yang tepat.

Pengetahuan para dokter mengenai obat-obatan adalah suatu hal yang mandatori.Artinya obat yang diresepkan merupakan obat-obatan yang tepat untuk mencapai harapan pengobatan yang efektif dan tepat sasaran serta dapat menjangkau semua lapisan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Menurut dr. Gisheila Ruth Anggita pada ALOMEDIKA bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan menjadi penentu dalam pengambilan keputusan yang akan cenderung menjadi perilaku yang biasa diprakatekkan oleh seorang dokter antara lain: pengaruh dari bagian pemasaran, hubungan dokter dengan pasien, kolaborasi apoteker dan dokter serta faktor kontekstual yang mencakup rasa percaya dokter terhadap apoteker.

Penggunaan obat yang tidak rasional akan mengakibatkan bebagai masalah yang tidak diharapkan oleh setiap insan.Hal yang umum terjadi secara luas sehubungan dengan ketidak tepatan dalam penggunaan obat adalah penggunaan yang berlebihan dan dosis yang kurang serta pemborosan yang mempengaruhi perekonomian serta kemungkinan munculnya gangguan kesehatan yang baru.Pengetahuan yang kurang tentang obat-obatan kerapkali mengakibatkan perilaku yang kurang tepat dalam usaha untuk berobat oleh pasien atau penderita penyakit secara umum yang selanjutnya bermuara pada penggunaan obat yang tidak rasional.Sebagai contoh pengobatan atau penggunaan obat yang tidak rasional antara lain: dosis yang tidak tepat, penggunaan obat yang terlalu mahal, swamedikasi yang tidak tepat, penggunaan antibiotik yang tidak tepat, penggunaan obat bebas yang berkepanjangan, kegagalan mengikuti pola pengobatan yang tepat dan hal hal lain yang bersifat tidak efektif dan efisien.

Penggunaan obat dikatakan rasional menurut WHO apabila pasien menerima obat yang tepat untuk kebutuhan klinis, dalam dosis yang memenuhi kebutuhan untuk jangka waktu yang cukup, dan dengan biaya yang terjangkau baik untuk individu maupun masyarakat.

Terjadinya perilaku penggunaan obat tidak rasional dapat terjadi pada fasilitas pelayanan kesehatan ataupun di masyarakat.Perobabilita terjadinya hal tersebut tidak terbatas pada rendahnya pemahaman masyarakat terhadap obat dan pengobatan namun bisa juga akibat dari faktor peraturan atau dari tenaga pelayan kesehatan itu sendiri bahkan pihak industri farmasi.

Menurut detikhealth (2011) diketahui 50 persen obat yang diberikan dokter baik di rumah sakit maupun puskesmas tidak sesuai atau irasional. "Sekitar 50 persen resep yang diberikan tidak sesuai, hal ini membuat biaya terbuang karena obat yang diberikan tidak efektif," ujar Prof Iwan Dwiprahasto, guru besar Farmakologi UGM dalam acara Workshop Jurnalis Kesehatan di Gedung FISIP UI, Depok, sabtu (26/3/2011). Konsep rasional dalam penggunaan obat merupakan hal yang sangat penting sehingga adalah penting untuk menamkan praktek penggunaan obat yang tepat dan rasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat rasionalitas pemberian obat oleh para dokter kepada pasien serta pengetahuan dan perilaku pelayanan obat yang diterapkan.

 

 

Metode Penelitian

Studi ini menggunakan metode cross-sectional obsevatori dengan besaran quota sampel sebesar 70 responden yang berprofesi dokter.Alasan penggunaan metode kuota adalah anggapan penulis bahwa para dokter akan memiliki pengetahuan, perilaku serta kesadaran terkait penggunaan obat yang rasional yang kurang lebih sama.Adapun para dokter yang menjadi responden adalah secara menyeluruh adalah yang bertugas melayani di poli-rumah sakit di berbagai kota di Indonesia. Studi ini dilakukan pada bulan Maret hingga Mei 2022.

Keseluruhan dokter yang mengambil bagian dalam studi ini telah diberikan penjelasan terlebih dahulu tentang maksud dan tujuan studi ini.Responden dipastikan melakukan dengan sukarela serta kerahasiaanya dijaga.

Pengumpulan informasi dilakukan dengan menerbitkan angket semi terstuktur dengan jumlah penyataan 45 pernyataan yang terdiri dari tiga bagian.Pertama sebanyak 15 pernyataan berhubungan dengan pengetahuan tentang obat. Kedua sehubungan dengan sikap terhadap obat dan ketiga sehubungan dengan kesadaran dalam penggunaan obat yang rasional.Selanjutnya data akan diolah dengan menggunakan MS. Excel.Berikut adalah tabel interpretasi skala Guttman untuk meniai angka hasil respon para responden.


Tabel 1

Tabel Interpretasi Nilai X

Nilai X

Interpretasi

0

Tidak Sesuai

0.01 � 0.49

Mendekati tidak sesuai

0.50

Agak Sesuai

0.51 � 0.99

Mendekati Sesuai

1

Sesuai

 

Hasil Studi Dan Pembahasan

Karalteristik Responden

Studi dilakukan terhadap 70 responden yang menyebar di beberapa provinsi di Indonesia.Responden terdiri dari dokter poli yang dibagi dalam kelompok usia 40 tahun ke atas dan dibawah 40 tahun masing masing 35 responden.Adapun berdasarkan jenis kelamin, maka responden wanita sebanyak 37 orang dan pria sebanyak 33 orang seperti yang digambarkan pada tabel 2.

Tabel 2

Komposisi Responden

 

N

 

%

Jenis Kelamin

 

 

 

Pria

33

 

47%

Wanita

37

 

 

53%

Usia

 

 

 

< 40 tahun

35

 

50%

40 tahun ke atas

35

 

50%

 

 

 

 

Pengetahuan Tentang Obat-Obatan

Hasil pengumpulan data yang dilakukan dengan menghimpun data respon dari responden menunjukkan bahwa para dokter memiliki pengetahuan yang mendekati sesuai baik terkait obat-obatan. Besaran persentase peringkat pengetahuan dengan respon yang tepat terhadap limabelas pernyataan terkait, menghasilkan nilai rata-rata 60.3 dan 9.67 respon yang kurang tepat dan dalam persentase 86.19% dengan 13.81%.Secara detail dapat dilihat pada tabel 3.Ketika ditanyakan mengenai keamanan dalam swamedikasi, ada 33 orang dokter atau 47% menyatakan bahwa hal itu aman dan selebihnya sebanyak 37 orang atau 53% tidak menyetujuinya.Selanjutnya pengetahuan tentang obat-obatan bebas adalah sebesar 60 responden 86% mengatakan sangat memahami dan 10 responden atau 14% mengaku kurang memahami.Sebanyak 74% dokter mengatakan bhwa obat bebas akan aman jika menggunakan resep dokter.


 

Tabel 3

Pengetahuan Responden Tentang Obat-Obatan.

No

Pernyataan

Sesuai

Tidak Sesuai

1

Mengobati diri sendiri adalah aman.

47.14%

52.86%

2

Saya sangat mengenal dan paham dengan obat bebas.

85.71%

14.29%

3

Obat bebas akan aman jika digunakan melalui resep

74.29%

25.71%

4

Mengetahui dengan baik tentang obat generik

94.29%

5.71%

5

Ada berbagai variasi harga dan merek obat-obatan yang sama.

100.00%

0.00%

6

Kandungan generik yang sama tersedia dengan merek yang berbeda

97.14%

2.86%

7

Obat Generik memiliki fungsi dan manfaat yang sama dengan obat non generik.

82.86%

17.14%

8

Sadar akan amaran penggunaan obat yang harus diikuti selama pembelian obat secara online.

97.14%

2.86%

9

Amaran penggunanaan obat-obatan harus dipertimbangkan dengan baik sehubungan dengan pengobatan terhadap anak-anak

100.00%

0.00%

10

Amaran penggunaan obat harus dipertimbangkan dengan baik sehubungan dengan pengobatan terhadap ibu hamil dan sedang menyusui.

98.57%

1.43%

11

Amaran penggunaan obat harus dipertimbangkan dengan baik sehubungan dengan pengobatan terhadap orang tua dan lanjut usia.

100.00%

0.00%

12

Obat memiliki tanggal kadaluwarsa

100.00%

0.00%

13

Semua obat sebaiknya menggunakan resep dokter

58.57%

41.43%

14

Tablet boleh dibelah untuk aplikasi pengobatan pediatri/anak

47.14%

52.86%

15

Penggunaan obat generik adalah sama manjurnya dengan obat paten.

85.71%

14.29%

 

Jumlah

85.19%

13.81%

 

Terkait dengan pengetahuan tentang obat-obatan generik diperoleh nilai 85.98% yang kesesuaiannya yang tidak sesuai 14.02% yang menggambarkan bahwa secara rata-rata pengetahuan tentang obat generik mendekati sesuai.Sedangkan sehubungan dengan amaran yang terdapat pada obat menunjukkan nilai 99.14% dengan interpretasi sangat mendekati sesuai.

Bilamana dilakukan penilaian sesuai kelompok usia, tidak terdapat pengaruh yang signigikan antar kelompok usia.Kelompok usia di bawah 40 tahun memberikan respon yang sesuai sebesar 80.95% dan kelompok usia di atas 40 tahun memberikan jawaban yang sesuai sebesar 81,59%.

 

Perilaku Dokter Terhadap Penggunaan Obat Yang Rasional

Dalam kaitannya dengan perilaku para dokter terhadap obat-obatan didapatkan angka nilai rata-rata sebesar 59.2 untuk respon yang sesuai dan 10.8 yang tidak sesuai tepat yang dalam bentuk persentase 84.57% dan 15.43%.

Tabel 4

Respon Terhadap Pernyataan Terkait Perilaku Reponden

Pernyataan

Sesuai

Tidak Sesuai

1

Resep dokter akan dituliskan dengan mempertimbangkan merek atau produsen.

71.43%

28.57%

2

Obat yang mahal lebih baik daripada obat yang murah

92.86%

7.14%

3

Obat-obat impor adalah lebih baik

95.71%

4.29%


4

Obat-obatan dibutuhkan untuk setiap penyakit.

61.43%

38.57%

5

Pasien penting untuk mengetahui akan efek samping obat yang akan digunakan

98.57%

1.43%

6

Semakin banyak daftar obat-obatan dalam resep berarti semakin lebih baik dan lebih awal untuk sembuh.

94.29%

5.71%

7

Obat-obatan dari rumah sakit pemerintah memiliki kualitas yang lebih terbelakang dibandingkan dari farmasi swasta.

95.71%

4.29%

8

Dokter dapat dengan sempurna bergantung kepada Informasi yang disediakan mengenai obat-obatan oleh produsen obat tersebut.

60.00%

40.00%

9

Pembuatan resep yang irrasional hanyalah memberikan keuntungan yang maksimum kepada industri farmasi.

80.00%

20.00%

10

Komunikasi massal adalah media yang buruk untuk mengedukasi masyarakat tentang obat-obatan

41.43%

58.57%

11

Antibiotik sebaiknya tersedia tanpa menggunakan resep dokter.

100.00%

0.00%

`12

Penggunaan antibiotik yang terlalu sering akan mengakibatkan bakteri tidak respon terhadap antibiotik kedepannya.

97.14%

2.86%

13

Antibiotik boleh dihentikan apabila simptomnya sudah tidak ada.

94.29%

5.71%

14

Pengobatan infeksi virus dapat dilakukan dengan menggunakan antibiotik

91.43%

8.57%

15

Penggunaan antibiotik sangat dianjurkan untuk pengobatan semua penyakit.

94.29%

5.71%

Jumlah

84.57%

15.43%

 

 

 

 

 

Hasil studi ini menunjukkan indikasi bahwa perilaku dokter mendekati sesuai.Namun, terdapat beberapa hal yang cukup tinggi ketidaksesuaiannya berdasarkan respon para dokter antara lain, bahwa 28.57% responden menyatakan bahwa penulisan resep mempertimbangkan merk dan produsen.Terdapat 38.57% responden yang menyatakan bahwa semua penyakit membutuhkan obat obatan.Menurut pendapat para responden bahwa komunikasi massal bukanlah alat yang baik untuk mengkomunikasikan informasi terkait obat-obatan sebesar 41.43%.

 

Kesadaran Para Dokter Terhadap Penggunaan Obat Yang Rasional

Selajutnya responden ditanyakan perihal penggunaan obat yang rasional.Respon yang diberikan adalah seperti yang diuraikan pada tabel 5.Secara total nilai dari respon para dokter didapati tingkat rasionalitas penggunaan obat terindikasi mendekati sesuai dimana nilainya sebesar 72.00% berbanding 28% tingkat kesesuaiannya.

 

Tabel 5

Respon Partisipan Terkait Penggunaan Obat Yang Rasional

 

Pernyataaan

Sesuai

Tidak Sesuai

1

Pengobatan infeksi ringan pun sebaiknya menggunakan resep dokter.

80.00%

20.00%

2

Apakah anda menyarankan pembelian obat tanpa resep dokter untuk jenis penyakit tertentu?

58.57%

41.43%

3

Apakah baik membeli obat secara online?

64.29%

35.71%

4

Apakah pasien anda sering tidak menebus resep sebagai akibat dari pengalam pasien lainnya?

54.29%

45.71%

5

Apakah anda pernah membeli obat karena iklan?

65.71%

34.29%

6

Apakah anda pernah mengkonsumsi obat dari berbagai resep dokter tanpa memberitahukan kepada mereka?

85.71%

14.29%

7

Apakah anda setuju memadukan pengobatan medis dengan pengobatan tradisional?

45.71%

54.29%

8

Apabila anda berobat ke dokter yang lain, Apakah anda membeli seluruh obat yang tertulis pada resep dokter?

72.86%

27.14%

9

Apakah anda akan konsultasi ke dokter sebelum membeli obat?

87.14%

12.86%

10

Dapatkah suplemen nutrisi dituliskan pada resep dokter?

87.14%

12.86%

11

Apakah anda lebih memilih keluarga anda menggunakan resep anda daripada dokter lain?

61.43%

38.57%

12

Apakah anda merasa lebih aman jika anda membuatkan resep untuk diri sendiri?

57.14%

42.86%

13

Apakah anda memberikan obat antibiotik tanpa menanyakan kecocokannya terhadap pasien anda?

94.29%

5.71%

14

Apakah anda akan mengabulkan permintaan pasien untuk diberikan obat tertentu sesuai keinginan mereka?

85.71%

14.29%

15

Apakah anda akan memberikan obat penghilang rasa sakit sesuai permintaan pasien?

80.00%

20.00%

 

72.00%

28.00%

 

Jika dilihat secara rinci maka didapati berbagai item pernyataan yang direspon hampir mendekati kriteria agak sesuai, seperti pembelian obat tanpa resep dokter untuk jenis penyakit tertentu yaitu tingkat kesesuaiannya 58.57% berbanding 41.43%, pemaduan pengobatan medis dengan pengobatan tradisional sebesar 45.71% berbanding 54.29%, menulis resep untuk diri sendiri 57.14% dengan 42,86%, pembelian obat secara online 64.29% dengan 35.71%, pembelian obat karena iklan 65.71% berbanding 34.29% serta pembuatan resep untuk keluarga 61.43% berbanding 38.57%.Untuk hal lainnya terindikasi mendekati ideal.

 

Kesimpulan

Studi ini dilakukan untuk mengetahui pengetahuan dokter tentang obat-obatan yang walaupun suatu keharusan bagi para dokter untuk menguasai akan hal tersebut, demikian juga halnya tentang perilaku dan kesadaran dalam hal penggunaan obat yang rasional.Jika dihubungkan dengan karakteristik responden pada perbedaan usia, tidak didapati adanya perbedaan secara signifikan secara keseluruhan.

Dari hasil studi ini dapat disimpulkan bahwa: 1). Pengetahuan tentang obat obatah adalah mendekati ideal namun masih didapati beberapa responden memberikan respon yang menggambarkan keterbatasan pengetahuannya tentang obat-obatan. 2). Perilaku yang dimiliki responden adalah juga mendekati ideal dengan pengecualian adanya perilaku dalam penulisan resep mempertimbangkan merk ataupun produsen obat tertentu. 3). Penerapan rasionalitas penggunaan obat tergolong baik dalam posisi 72% walaupun agak jauh dibawah ideal.Hasil studi menjukkan angka yang lebih baik jika dibandingkan dengan hasil yang diberitakan pada DetikHealth yang menyatakan 50% resep obat yang diberikan oleh dokter tidak rasional.


BIBLIOGRAFI

 

Detik Health, "50 Persen Resep Obat yang Diberikan Dokter Tidak Rasional" selengkapnya https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-1601917/50-persen-resep-obat-yang-diberikan-dokter-tidak-rasional.

 

World Health Organization: Guide to Good Prescribing, Geneva. World Health Organization. 1994;101-3.

 

Ihsan Saddam Ahmadi, SE, Sejarah Farmasi, https://afi.ac.id/info/1246

 

World Health Organization, Promoting rational use of medicines: core components, Geneve: WHO;2011

 

Sekretariat Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Modul Penggunaan Obat Rasional, Jakarta: Kementerian Kesehatan RI;2020

 

Poonam Khetrapal Singh Direktur WHO untuk Kawasan Asia Tenggara, Menyediakan Akses Obat untuk Semua Sabtu 26 Agustus 2017, https://mediaindonesia.com/opini/119413/menyediakan-akses-obat-untuk-semua

 

dr. Gisheilla,Bagaimana MengatakanTidak� pada Permintaan Resep yang Tidak Perlu dikutip dari https://www.alomedika.com/bagaimana-mengatakan-tidak-pada-permintaan-resep-yang-tidak-perlu ;September 2017

 

Copyright holder:

Carolina Chloe Gracia Silaban (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: