Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No. 11, November 2022

 

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG HIBRIDA (Zea mays L.) PADA BERBAGAI DOSIS KOMPOS PUPUK KANDANG AYAM

 

Andi Riwayati, Muh. Farid, Abd Haris Bahcrun

Program Studi Sistem-Sistem Pertanian, Sekolah Pascasarjana, Universitas Hasanuddin Makassar, Indonesia

Email: [email protected], [email protected], [email protected]

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai varietas dan dosis kompos pupuk kandang ayam serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung hibrida.  Penelitian disusun dalam Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan petak utama adalah varietas (V): Pioner 27 (v1), Bisi 226 (v2), JH 29 (v3) dan Nasa 29 (v4) dan Anak Petak adalah dosis kompos pupuk kandang ayam (K) yang terdiri dari 0 ton hektar-1 (k1), 2 ton hektar-1 (k2), 4 ton hektar-1 (k3) dan 6 ton hektar-1 (k4) sehingga terdapat 16 kombinasi dan diulang sebanyak tiga kali.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Pioner 36 menghasilkan rata-rata terbaik pada komponen pertumbuhan: tanaman tertinggi (265,66 cm), jumlah daun terbanyak (13,30 helai) dan diameter batang terlebar (6,63 cm); komponen fisiologis antara lain: kandungan klorofil (245,76 µmol/m2), klorofil b (100,64 µmol/m2) dan kandungan total klorofil (352,96 µmol/m2) serta pada komponen hasil: umur berbunga jantan (50,08 hari) dan betina (52,25 hari), panjang tongkol (15,86 cm), diameter tongkol (4,77 cm), berat tongkol kupasan basah (184,17 g), berat janggel (38,33 g), hasil biji per hektar (11,96 ton).  Sedangkan Varietas JH 29 menghasilkan rata-rata kerapatan stomata tertinggi (73,86 stomata /mm2) dan Varietas Nasa 29 menghasilkan rata-rata bukaan stomata terluas (92,37 μm2) dan rendemen biji tertinggi (82,33%).  pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) menghasilkan rata-rata terbaik pada komponen pertumbuhan: tinggi tanaman (270,60 cm), jumlah daun (13,79 helai), luas daun (9794,73 cm2) dan diameter batang (6,61 cm); komponen fisiologis: kandungan klorofil a (242,43 µmol/m2), kandungan klorofil b (100,64 µmol/m2), kandungan total klorofil tertinggi (352,96 µmol/m2) dan komponen hasil: umur berbunga jantan (50,92 hari), panjang tongkol (15,86 cm), diameter tongkol (4,65 cm), berat tongkol kupasan basah (187,15 g), berat janggel (38,69 g), bobot 1000 biji (319,37 g), jumlah jumlah baris biji per tongkol (16,32 baris) dan hasil biji per hektar (12,08 ton).  Sedangkan dosis kompos pupuk kandang ayam 0 ton ha-1 (k0) menghasilkan rata-rata tertinggi pada kerapatan stomata (73,86 stomata /mm2) dan luas bukaan stomata (92,37 μm2).  Tidak terdapat interaksi varietas dengan dosis kompos pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung  hibrida.

 

Kata Kunci: Jagung, varietas hibrida, dosis kompos pupuk kandang ayam

 

 

 

Abstract

This study aimed to analyze the effect of various varieties and doses of chicken manure compost and their interaction on the growth and production of hybrid maize. The research was arranged in a Divided Plot Design (RPT) with the main plots being varieties (V): Pioner 27 (v1), Bisi 226 (v2), JH 29 (v3) and Nasa 29 (v4) and Sub-plots were doses of chicken manure compost. (K) which consists of 0 tons hectares-1 (k1), 2 tons hectares-1 (k2), 4 tons hectares-1 (k3) and 6 tons hectares-1 (k4) so ​​there are 16 combinations and repeated three times. The results showed that the Pioner 36 variety produced the best average on the components of growth: the highest plant (265.66 cm), the highest number of leaves (13.30 strands) and the widest stem diameter (6.63 cm); physiological components include: chlorophyll content (245.76 mol/m2), chlorophyll b (100.64 mol/m2) and total chlorophyll content (352.96 mol/m2) and the yield component: male flowering age (50.08 days) and females (52.25 days), ear length (15.86 cm), diameter of the ear (4.77 cm), weight of wet-peeled cobs (184.17 g), cob weight (38.33 g), yield seeds per hectare (11.96 tons). While the JH 29 variety produced the highest average stomata density (73.86 stomata /mm2) and the Nasa 29 variety produced the widest average stomata opening (92.37 m2) and the highest seed yield (82.33%). Chicken manure 6 tons ha-1 produced the best average on growth components: plant height (270.60 cm), number of leaves (13.79 pieces), leaf area (9794.73 cm2) and stem diameter ( 6.61 cm); physiological components: chlorophyll a content (242.43 mol/m2), chlorophyll b content (100.64 mol/m2), highest total chlorophyll content (352.96 mol/m2) and yield component: male flowering age (50.92 days), length of cob (15.86 cm), diameter of cob (4.65 cm), weight of wet-peeled cobs (187.15 g), weight of cob (38.69 g), weight of 1000 seeds (319.37 g) , the number of rows of seeds per cob (16.32 rows) and seed yield per hectare (12.08 tons). While the dose of chicken manure compost 0 tons ha-1 produced the highest average stomatal density (73.86 stomata /mm2) and stomata opening area (92.37 m2). There was no interaction between varieties and doses of chicken manure compost on the growth and production of hybrid maize.

 

Keywords: Corn, hybrid varieties, dose of chicken manure compost

 

Pendahuluan

Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia, mengingat komoditas ini mempunyai fungsi multiguna.

Jagung merupakan bahan pangan pokok kedua setelah beras yang digunakan sebagai sumber karbohidrat serta digunakan sebagai bahan baku industri dan pakan ternak, beberapa  daerah  di  Indonesia seperti  Madura  dan  Nusa  Tenggara  banyak  mengkonsumsi jagung  sebagai  sumber  pangan  utama.  Kandungan  gizi  Jagung per 100 gram bahan adalah Kalori: 320 Kalori, Protein: 8,28 gr, Lemak: 3,90 gr, Karbohidrat: 73,7 gr, Kalsium : 10 mg, Fosfor : 256 mg, Ferrum : 2,4 mg, Vitamin A: 510 SI, Vitamin B1: 0,38 mg, Air: 12 gr (Neraca Bahan Makanan BKP, 2019 dalam Kementerian Pertanian, 2020).

Pertumbuhan  luas  panen jagung  untuk  periode  2015  –2019  atau  pada  lima  tahun  terakhir meningkat  dengan  rata-rata  sebesar  4,38%  per  tahun, hal  ini menunjukkan  adanya  upaya  pemerintah  untuk  perluasan  jagung, terutama  dengan  memanfaatkan  lahan  yang  sementara  tidak diusahakan  seperti  lahan  kebun  dan  lahan  hutan.  Selama  periode tersebut  masih  terdapat  penurunan  luas  panen  yang  terjadi  pada tahun 2015 sebesar 1,29% dan tahun 2018 sebesar 26,52%, sedangkan luas panen jagung 2 tahun terakhir (2016-2017) peningkatan rata-rata per tahun cukup tinggi yakni sebesar 17,35% dan 24,50%, sementara tahun  2018  berdasarkan  angka  kesepakatan  antara  BPS,  Direktorat Jenderal  Tanaman  Pangan  dan  Pusdatin  mengalami  penurunan 26,52%. Tahun 2019 luas panen jagung kembali meningkat   sebesar 0,58% atau luas panen naik dari 4,07 juta hektar tahun 2018 menjadi 4,09  juta  hektar.  Peningkatan  kontribusi  luas  panen  periode  2015-2019 terutama terjadi di Luar Pulau Jawa sebesar 54,81%, sementara di Pulau Jawa hanya sebesar 44,03% (Kementerian Pertanian, 2020).

Produksi  jagung  selama  kurun  waktu  1980-2019  tertinggi dicapai pada tahun 2019 ini yaitu sebesar 22,59 juta ton. Jika dilihat perkembangan produksi jagung pada 5 (lima) tahun terakhir, produksi jagung  mengalami  pertumbuhan  positif  dengan  rata-rata pertumbuhan  sebesar  5,06%  per  tahun.  Pada  tahun  2015  produksi jagung  sebesar  19,61  juta  ton,  kemudian  lima  tahun  berikutnya (2019)  produksi  jagung  meningkat  sebanyak    2,97  juta  ton.  Selama periode  tahun  2016  sampai  2017,  terjadi  peningkatan  produksi jagung,  cukup  signifikan  yaitu  tahun  2016  produksi  jagung  naik sebesar 18,23% atau sebesar 23,19 juta ton dimana tahun sebelumnya lebih  rendah  yakni  3,18%  atau  produksi  sebesar  19,61  juta  ton, sementara  terjadi  penurunan  produksi  jagung  cukup  signifikan  pada tahun  2018  yang  disebabkan  oleh  penurunan  luas  panen (Kementerian Pertanian, 2020). 

Jumlah  konsumsi  jagung  per  kapita  penduduk Indonesia  dalam  kurun  waktu  5  tahun  terakhir  (2015-2019)  laju pertumbuhan  cenderung  menurun    5,93%  per  tahun.  Hanya  tahun 2018  hasil  perhitungan  prognosa  Badan  Ketahanan           Pangan  Kementan konsumsi jagung rumah tangga meningkat sebesar 2,66% dibandingkan tahun 2017 dari 0,98 kg/kapita/tahun menjadi 1,00 kg/kapita/tahun, sementara  tahun  2017  konsumsi  jagung  mengalami  penurunan 10,87%.  Pada sisi lain konsumsi jagung untuk pakan cenderung semakin meningkat.  Penggunaan  jagung  untuk  pakan  ternak  langsung  oleh peternak  kecil/mandiri  jauh  melebihi  penggunaan  jagung  untuk rumah tangga dan industri pakan, yaitu berkisar antara 2,52 juta ton hingga  4,69  juta  ton  dengan  laju  pertumbuhan  34,24%  per  tahun.  Total  penggunaan  jagung  untuk  industri,  dimana  pada  kurun  waktu 2015 – 2019 penggunaan jagung pipilan kering naik sebesar 2,63% per tahun (Kementerian Pertanian, 2020).

Sulawesi Selatan menyumbangkan produksi jagung sekitar 1.665.594 ton dari luas panen 334.018 ha (Kementerian Pertanian, 2020), sedangkan Kabupaten Luwu Timur mampu memberikan produksi sebesar 14,922.89 ton dari luas panen sekitar 2,786.00 ha dengan produktivitas 53.56 ku/ha (Distanpan Sul-Sel, 2020).  Nilai produktivitas ini masih lebih rendah dari rata-rata produktivitas nasional.  Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman jagung dapat dilakukan  melalui  penggunaan varietas unggul baru berdaya hasil tinggi.

Varietas  unggul  jagung  dapat dikelompokkan menjadi dua jenis jagung yakni  hibrida  dan  komposit.  Jagung hibrida  adalah  jagung  yang  pada  proses pembuatannya  dengan  cara  pemuliaan dan  penyilangan  antara  jagung  induk jantan dan jagung induk betina sehingga menghasilkan  jagung  jenis  baru  yang memiliki  sifat  keunggulan  dari  kedua induknya.  Keunggulan  jagung  hibrida adalah  kapasitas  produksinya  tinggi sekitar  8-12  ton  per  hektar. Kekurangannya  adalah  harga  jagung mahal  mencapai  20  kali  sampai  40  kali lipat jagung konsumsi, jagung tidak bisa diturunkan  lagi  sebagai  benih  karena produksi  akan  turun  mencapai  30% (SHS, 2010 dalam Mustikawati dan Pujiharti, 2011).  Jagung  hibrida  tidak  bisa diproduksi  oleh  sembarang  penangkar karena  persyaratan  yang  berat.  Selain memiliki  keunggulan  dalam  jumlah produksi,  jagung  hibrida  juga  memiliki ketahanan  terhadap  hama  dan  penyakit yang  sering  menyerang  jagung (Newsroom 2007 dalam Mustikawati dan Pujiharti, 2011).

Peningkatan hasil tanaman jagung juga diperlukan benih yang  berkualitas,  sehingga  diperlukan  varietas jagung yang memiliki sifat unggul.  Kualitas  biji  yang  baik  akan  menjamin harga  jual  yang  tinggi,  sehingga  pendapatan petani akan maksimal (Hariyadi, 2013 dalam Wahyudin et al., 2013).  Di  Indonesia  jagung  dibudidayakan pada lingkungan yang beragam diantaranya ditanami varietas unggul yang  terdiri  dari  jagung  komposit  (bersari bebas)  dan  jagung  hibrida.  Varietas  unggul berdampak  pada  peningkatan  produksi  dan nilai  tambah  usahatani  jagung,  karena daerah  populasi jagung  di  Indonesia  sangat beragam  sifat  agroklimatnya,  yang  masing-masing  membutuhkan  varietas  yang  sesuai.  Varietas merupakan salah satu di antara banyak faktor yang  menentukan dalam pertumbuhan dan hasil tanaman.

Varietas unggul    tidak    akan memperlihatkan  keunggulannya  tanpa  di dukung oleh teknik   budidaya  yang optimal. Salah satunya adalah pemupukan.  Untuk  dapat  tumbuh  dan  berproduksi optimal,  tanaman  jagung  memerlukan  hara yang  cukup selama pertumbuhannya. Karena itu,  pemupukan  merupakan  faktor  penentu keberhasilan  budidaya  jagung.  Dalam  hal pemupukan,  kendala  utama  yang  dihadapi petani  dalam  penerapan  teknologi  adalah tingginya harga pupuk terutama pupuk N, P, dan K. Harga pupuk buatan terus mengalami kenaikan,  sementara  harga  dasar  jagung cenderung  stabil  malah  menurun  terutama pada saat panen raya (Fattah, 2010).

Pemupukan  dengan  pupuk  kimia  hanya menambah  unsur  hara  tanah  tanpa memperbaiki  sifat  fisika  dan  biologi  tanah, bahkan  dapat  menimbulkan  dampak  negatif terhadap tanah. Berpedoman kepada tingginya pemakaian  pupuk  kimia  ditingkat  petani, peningkatan  harga  pupuk  dan  kelangkaan pupuk buatan akhir-akhir ini, maka kita perlu mencari  alternatif  menggantikan  pemakaian pupuk  kimia  tanpa  menurunkan  hasil    (Murni  dan  Arief,  2008).  Alternatif  tersebut adalah  melalui  penggunaan  pupuk  organik seperti dengan penggunaan pupuk kompos. Pengomposan adalah dekomposisi bahan organik segar menjadi bahan yang menyerupai humus(C/N mendekati  10).  Di  dalam pembuatan  kompos,kualitas  bahan  sangat  menentukan  kelancaran dekomposisi. Bahan organik yang baik harus mempunyainisbah  C/N   serendah mungkin   (Indranada,  1994).

Penggunaan bahan organik hingga saat ini dianggap  sebagai  upaya  terbaik  dalam perbaikan  produktifitas  tanah  marginal termasuk  tanah  masam.  Menurut Riley et  al. (2008)  dan Dinesh et  al. (2010) bahwa aplikasi  bahan  organik dapat memperbaiki struktur  tanah,  meningkatkan  kapasitas menahan  air,  dan  meningkatkan kehidupan biologi  tanah.  Lebih  jauh  Acquaah  (2005) menyatakan  bahwa  bahan  organik  berperan penting dalam meningkatkan kesuburan tanah melalui  perbaikan  sifat  fisik,  kimia,  dan biologis  tanah. Menurut  Higa  dan  James (1997)  dalam Tufaila et al., (2014) hasil  fermentasi  bahan  organik  yang dilakukan  oleh  mikroorganisme  efektif  (EM) adalah  asam  laktat,  asam  amino,  yang  dapat diserap  langsung  oleh  tanaman  sebagai antibiotik  yang  mampu  menekan pertumbuhan  mikroorganisme  yang merugikan.  Salah satu bahan organik yang kaya dengan unsur hara adalah pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam.  Menurut Musnamar  (2003), kotoran  ayam  mengandung  unsur  hara lengkap yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhannya  seperti  nitrogen  (N),  fosfor (P) dan kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan sulfur (S).

Pupuk kandang kotoran  ayam dapat terdekomposisi dengan cepat apabila dibantu oleh mikroba antara lain bakteri asam  laktat Lactobacillus,  bakteri fotosintetik  serta Streptomyces sp. dan khamir.  Salah satu aktivator yang dapat digunakan yaitu Effective Mikroorganisme (EM4).  EM4 merupakan mikroorganisme yang dapat mempercepat proses pengomposan, memperbaiki kesehatan dan kualitas tanah (Siburian, 2007).  Hasil penelitian Ariyandi et al. (2016), menyatakan bahwa penggunaan kompos kotoran ayam 1,0 ton ha-1 menghasilkan diameter tongkol terbaik dan berat  pipilan terbanyak 4,6 kg petak-1 pada jagung manis.  Lukiwati dan Yafizham (2020) melaporkan hasil penelitiannya terhadap hasil jagung manis dan nutrisi jerami sebagai pakan ternak akibat pengaruh pukan plus dan pupuk anorganik.  Dilaporkan bahwa pemupukan dengan pukan plus (pukan diperkaya NP-organik)  maupun  pukan+pupuk  anorganik (ZA+TSP)  serta  pemupukan  anorganik  (ZA+TSP) memberikan hasil yang sama terhadap berat tongkol berkelobot  maupun  tanpa  kelobot,  berat  segar  dan bahan  kering  jerami  serta  serapan  P  jerami  jagung manis.  Pukan  plus  menghasilkan  serapan  N  jerami setara  dengan  pukan+pupuk  anorganik.  Namun pukan  kambing  plus  dan  pukan  ayam  plus  mampu menghasilkan serapan N jerami lebih tinggi dibanding pemupukan anorganik (ZA+TSP). Pukan plus mampu menggantikan  peran  pupuk  ZA  dan  TSP  sehingga dapat  menekan  kebergantungan  terhadap  pupuk anorganik

Salah satu daerah di wilayah Kabupaten Luwu Timur yang merupakan sentra pertanaman jagung adalah Kecamatan Angkona, dari  areal luas panen sebesar 4.205,00 ha di Kabupaten  Luwu Timur, 23,33% ada di Kecamatan Angkona atau seluas 981 ha, merupakan wilayah kecamatan yang terluas areal panen jagungnya di Kab.  Luwu Timur dengan produksi 6,133.92 ton.  Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Angkona yakni di Desa Watang Panua.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh dari penanaman berbagai varietas jagung hibrida dengan berbagai pemberian dosis kompos pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung hibrida yang direncanakan dilakukan di Desa Watang Panua, Kecamatan Angkona Kabupaten Luwu Timur.

 

Metode Penelitian

Penelitian disusun dalam bentuk Rancangan Petak Terbagi (RPT) dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan sebagai berikut :

1.   Faktor petak utama adalah berbagai varietas jagung terdiri atas empat taraf yaitu :

v1             :    Pioner 27

v2             :    Bisi 226

v3             :    JH 29

v4             :    Nasa 29

2.   Faktor anak petak adalah dosis kompos pupuk kandang ayam terdiri dari empat taraf yaitu :

k0             :    0 ton ha-1

k1             :    2 ton ha-1

k2             :    4 ton ha-1

k3             :    6 ton ha-1

Setiap faktor petak utama dan anak petak dikombinasikan sehingga terdapat 16 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali, sehingga terdapat 48 unit petak percobaan. 

Model Statistika Penelitian

Model statistik untuk percobaan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) adalah sebagai berikut:

            Yij            = µ  + rk + αi + bj   + gik + (αb)ij + εijk

dimana:

Yij

=

Nilai pengamatan (respon) pada satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan taraf ke-i dari faktor petak utama dan taraf ke-j dari faktor anak petak

µ

=

Nilai tengah populasi

rk

=

Pengaruh aditif dari kelompok ke-k

αi

=

Pengaruh aditif taraf ke-i dari faktor petak utama

bj

=

Pengaruh aditif taraf ke-j dari faktor anak petak

b)ij

=

Pengaruh aditif taraf ke-i dari faktor petak utama dan taraf ke-j dari perlakuan anak petak

gik

=

Pengaruh galat percobaan dari petak utama, yang muncul pada taraf ke-i dari faktor petak utama dalam kelompok ke-k

εijk

=

Pengaruh galat dari satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan ij

 

 

 

 

Rancangan Analisis

Keseluruhan data yang diperoleh pada penelitian dilakukan analisis secara analisa varians yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) atau uji LSD (Least Significance Different).

Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian terdiri dari analisis tanah, penyiapan lahan, persiapan benih, penanaman, aplikasi pupuk, pemeliharaan (pemberian air, pembersihan, penjarangan, dan pengendalian organisme penganggu tanaman (OPT) dan panen.

 

Hasil Dan Pembahasan

Hasil

Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman dan sidik ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 1a dan 1b.  Sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai varietas berpengaruh nyata, dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh sangat nyata, sedangkan interaksi antara varietas dengan dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman.

 

Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman (cm)

Varietas

Dosis Kompos pupuk kandang Ayam (ton ha-1)

Rata-rata

NP BNT0,05

0 (k0)

2 (k1)

4 (k2)

6 (k3)

Pioner 36 (v1)

258,57

261,23

261,87

280,97

265,66a

13,2232

Bisi 226 (v2)

260,58

253,47

256,79

269,44

260,07ab

JH 29 (v3)

246,07

264,12

270,23

272,70

263,28a

Nasa 29 (v4)

237,90

245,94

244,53

259,28

246,91b

Rata-rata

250,78b

256,19b

258,36b

270,60a

NP BNT0,05

10,5565

Keterangan :     Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom (a, b, c) berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji BNTα=0,05

 

Tabel 1 menunjukkan bahwa varietas Pioner 36 (v1) menghasilkan rata-rata tanaman tertinggi (265,66 cm) dan berbeda nyata dengan varietas Nasa 29 (v4) tetapi tidak berbeda nyata dengan varietas Bisi 226 (v2) dan JH 29 (v3).

Dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) menghasilkan rata-rata tanaman tertinggi (270,60 cm) dan berbeda nyata dengan dosis kompos pupuk kandang ayam lainnya.

Jumlah Daun

Jumlah daun dan sidik ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 2a dan 2b.  Sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai varietas berpengaruh nyata, dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh sangat nyata, sedangkan interaksi antara varietas dengan dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun.

 

Tabel 2. Rata-rata jumlah daun (helai)

Varietas

Dosis Kompos pupuk kandang Ayam (ton ha-1)

Rata-rata

NP BNT0,05

0 (k0)

2 (k1)

4 (k2)

6 (k3)

Pioner 36 (v1)

12,53

12,73

13,47

14,47

13,30a

0,2355

Bisi 226 (v2)

12,53

12,87

12,93

13,37

12,93b

JH 29 (v3)

12,67

13,10

13,60

13,70

13,27a

Nasa 29 (v4)

12,50

13,30

13,40

13,63

13,21a

Rata-rata

12,56c

13,00bc

13,35ab

13,79a

 

 

NP BNT0,05

0, 4450

 

 

 

 

 

Keterangan :      Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom (a, b, c) berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji BNTα=0,05

 

Tabel 2 menunjukkan bahwa varietas Pioner 36 (v1) menghasilkan rata-rata jumlah daun terbanyak (13,30 helai) dan berbeda nyata dengan varietas Bisi 226 (v2) tetapi tidak berbeda nyata dengan varietas JH 29 (v3) dan Nasa 29 (v4).

Dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) menghasilkan rata-rata jumlah daun terbanyak (13,79 helai) dan berbeda nyata dengan dosis kompos pupuk kandang ayam 0 ton ha-1 (k0) dan 2 ton ha-1 (k1), tetapi tidak berbeda nyata dengan dosis kompos pupuk kandang ayam 4 ton ha-1 (k2).

Luas Daun

Luas daun dan sidik ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 3a dan 3b.  Sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai varietas berpengaruh tidak nyata, dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh sangat nyata, sedangkan interaksi antara varietas dengan dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman.

 

Tabel 3. Rata-rata luas daun (cm2)

Varietas

Dosis Kompos pupuk kandang Ayam (ton ha-1)

0 (k0)

2 (k1)

4 (k2)

6 (k3)

Pioner 36 (v1)

6497,47

7726,43

8523,23

10859,80

Bisi 226 (v2)

7396,17

7989,17

8390,23

8706,90

JH 29 (v3)

6265,03

8129,33

8238,53

9578,33

Nasa 29 (v4)

6495,47

7421,63

8114,30

10033,87

Rata-rata

6663,53c

7816,64b

8316,58b

9794,73a

NP BNT0,05

733,2423

 

 

 

Keterangan :      Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom (a, b, c) berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji BNTα=0,05

 

Tabel 3 menunjukkan bahwa dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) menghasilkan rata-rata daun terluas (9794,73 cm2) dan berbeda nyata dengan dosis kompos pupuk kandang ayam lainnya.

Diameter Batang

Diameter batang dan sidik ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 4a dan 4b.  Sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai varietas berpengaruh sangat nyata, dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh nyata, sedangkan interaksi antara varietas dengan dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh tidak nyata terhadap diameter batang.

 

 Tabel 4. Rata-rata diameter batang (cm)

Varietas

Dosis Kompos pupuk kandang Ayam (ton ha-1)

Rata-rata

NP BNT0,05

0 (k0)

2 (k1)

4 (k2)

6 (k3)

Pioner 36 (v1)

6,33

6,65

6,73

6,81

6,63a

0, 1967

Bisi 226 (v2)

6,50

6,52

6,59

6,60

6,55a

JH 29 (v3)

6,32

6,45

6,48

6,73

6,50a

Nasa 29 (v4)

6,05

6,13

6,18

6,28

6,16b

Rata-rata

6,30b

6,44ab

6,50a

6,61a

 

 

NP BNT0,05

0, 1802

 

 

 

 

 

Keterangan :      Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom (a, b) berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji BNTα=0,05

 

Tabel 4 menunjukkan bahwa varietas Pioner 36 (v1) menghasilkan rata-rata diameter batang terlebar (6,63 cm) dan berbeda nyata dengan varietas Nasa 29 (v4) tetapi tidak berbeda nyata dengan varietas Bisi 226 (v2) dan JH 29 (v3).

Dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) menghasilkan rata-rata jumlah daun terbanyak (13,79 helai) dan berbeda nyata dengan dosis kompos pupuk kandang ayam 0 ton ha-1 (k0), tetapi tidak berbeda nyata dengan dosis kompos pupuk kandang ayam 2 ton ha-1 (k1) dan 4 ton ha-1 (k2).

Kandungan Klorofil a

Kandungan klorofil a dan sidik ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 5a dan 5b.  Sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai varietas dan dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh sangat nyata, sedangkan interaksi antara varietas dengan dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh tidak nyata terhadap kandungan klorofil a.

 

Tabel 5. Rata-rata kandungan klorofil a (µmol/m2)

Varietas

Dosis Kompos pupuk endang Ayam (ton ha-1)

Rata-rata

NP BNT0,05

0 (k0)

2 (k1)

4 (k2)

6 (k3)

Pioner 36 (v1)

230,40

248,51

250,20

253,94

245,76a

9,9899

Bisi 226 (v2)

193,99

197,94

207,76

233,86

208,39c

JH 29 (v3)

216,15

224,08

230,63

245,30

229,04b

Nasa 29 (v4)

217,38

222,52

236,51

236,63

228,26b

Rata-rata

214,48d

223,26c

231,28b

242,43a

 

 

NP BNT0,05

7,8987

 

 

 

 

 

Keterangan :     Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom (a, b, c, d) berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji BNTα=0,05

 

Tabel 5 menunjukkan bahwa varietas Pioner 36 (v1) menghasilkan rata-rata kandungan klorofil a tertinggi (245,76 µmol/m2) dan berbeda nyata dengan semua varietas lainnya.

Dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) menghasilkan rata-rata kandungan klorofil a tertinggi (242,43 µmol/m2) dan berbeda nyata dengan dosis kompos pupuk kandang ayam lainnya.

Kandungan Klorofil b

Kandungan klorofil b dan sidik ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 5a dan 5b.  Sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai varietas dan dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh sangat nyata, sedangkan interaksi antara varietas dengan dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh tidak nyata terhadap kandungan klorofil b.

 

Tabel 6. Rata-rata kandungan klorofil b (µmol/m2)

Varietas

Dosis Kompos pupuk kandang Ayam (ton ha-1)

Rata-rata

NP BNT0,05

0 (k0)

2 (k1)

4 (k2)

6 (k3)

Pioner 36 (v1)

94,20

101,17

102,04

105,14

100,64a

4,2454

Bisi 226 (v2)

80,44

82,14

86,21

95,14

85,98c

JH 29 (v3)

88,15

91,15

93,32

101,35

93,49b

Nasa 29 (v4)

89,60

90,93

96,05

96,62

93,30b

Rata-rata

88,10d

91,35c

94,41b

99,56a

NP BNT0,05

2,7549

Keterangan :      Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom (a, b, c, d) berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji BNTα=0,05

 

Tabel 6 menunjukkan bahwa varietas Pioner 36 (v1) menghasilkan rata-rata kandungan klorofil b tertinggi (100,64 µmol/m2) dan berbeda nyata dengan semua varietas lainnya.

Dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) menghasilkan rata-rata kandungan klorofil b tertinggi (99,56 µmol/m2) dan berbeda nyata dengan dosis kompos pupuk kandang ayam lainnya.

Kandungan Total Klorofil 

Kandungan total klorofil dan sidik ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran 7a dan 7b.  Sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai varietas dan dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh sangat nyata, sedangkan interaksi antara varietas dengan dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh tidak nyata terhadap kandungan total klorofil.

Tabel 7 menunjukkan bahwa varietas Pioner 36 (v1) menghasilkan rata-rata kandungan total klorofil tertinggi (352,96 µmol/m2) dan berbeda nyata dengan semua varietas lainnya.

Dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) menghasilkan rata-rata kandungan total klorofil tertinggi (348,41 µmol/m2) dan berbeda nyata dengan dosis kompos pupuk kandang ayam lainnya.

 

Tabel 7. Rata-rata kandungan total klorofil (µmol/m2)

Varietas

Dosis Kompos pupuk kandang Ayam (ton ha-1)

Rata-rata

NP BNT0,05

0 (k0)

2 (k1)

4 (k2)

6 (k3)

Pioner 36 (v1)

331,35

356,58

359,03

364,89

352,96a

13,2086

Bisi 226 (v2)

280,75

286,34

300,16

335,98

300,81c

JH 29 (v3)

311,23

318,92

331,22

352,75

328,53b

Nasa 29 (v4)

313,78

320,25

339,62

340,03

328,42b

Rata-rata

309,27d

320,52c

332,51b

348,41a

 

 

NP BNT0,05

10,3633

 

 

 

 

 

Keterangan :      Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom (a, b, c, d) berarti berbeda tidak nyata pada taraf uji BNTα=0,05

 

Pembahasan

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan berbagai varietas berpengaruh nyata pada komponen tinggi tanaman, jumlah daun, kerapatan stomata, umur berbunga jantan dan hasil biji per hektar serta berpengaruh sangat nyata pada diameter batang, kandungan klorofil a dan b serta kandungan total klorofil, luas bukaan stomata, umur berbunga betina, panjang tongkol, diameter tongkol,  berat tongkol kupasan basah, berat janggel, rendemen biji, jumlah baris biji per tongkol.  Sedangkan perlakuan berbagai dosis kompos pupuk kandang ayam berpengaruh nyata pada diameter batang serta berpengaruh sangat nyata pada komponen pertumbuhan: tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kandungan klorofil a dan b serta kandungan total klorofil, kerapatan stomata, luas bukaan stomata, umur berbunga jantan, panjang tongkol, diameter tongkol,  berat tongkol kupasan basah, berat janggel, bobot 1000 biji, jumlah baris biji per tongkol dan hasil biji per hektar.  Sedangkan interaksi antara perlakuan berbagai varietas dan berbagai dosis kompos pupuk kandang ayam tidak berpengaruh pada semua komponen yang diamati.

Pengaruh Perlakuan Varietas

Hasil analisis lanjutan menunjukkan bahwa varietas Pioner 36 menghasilkan rata-rata tertinggi pada komponen pertumbuhan seperti tanaman tertinggi (265,66 cm), jumlah daun terbanyak (13,30 helai) dan diameter batang terlebar (6,63 cm). Fase pertumbuhan  vegetatif  sangat berpengaruh penting untuk  tahap selanjutnya yakni fase  generatif. Pertumbuhan vegetatif yang optimal akan mendorong pertumbuhan generatif yang optimal juga sehingga akan diperoleh  hasil  yang  tinggi.  Pengamatan  tinggi  tanaman  merupakan  salah  satu  parameter  utama  untuk mengetahui tingkat  adaptasi  suatu  varietas  pada  suatu  agroekosistem.  Adanya perbedaan tinggi tanaman dipengaruhi oleh kemampuan masing-masing varietas, dalam hal ini dipengaruhi  faktor genetik yang berbeda serta kemampuan adaptasi terhadap lingkungan tumbuh misalnya tingkat kompetisinya dengan tanaman lain dalam menggunakan sumber daya yang ada.  Menurut Aisah dan Herlina (2018), tinggi tanaman sangat dipengaruhi  oleh  tingkat  kompetisi  antar tanaman  dalam  memperoleh  air,  cahaya matahari  dan    ruang  tumbuh. 

Varietas Pioner 36 memiliki tanaman yang relatif lebih tinggi (± 266 cm) sesuai dengan deskripsi varietas dibandingkan dengan varietas lainnya.  Menurut Mahdiannoor dan Istiqomah (2015), umur tanaman di bawah 42 HST (Hari Setelah Tanam),  maka    pertumbuhan tinggi tanaman dipengaruh oleh faktor genetik dari masing-masing  varietas.  Sedangkan  saat umur  jagung  49  HST  pertumbuhan  tinggi tanaman  sudah  tidak  dipengaruhi  oleh genetik    karena  tanaman  jagung  sudah memasuki masa generatif.

Banyaknya  jumlah  daun  tanaman jagung berbanding lurus dengan pertumbuhan tinggi   tanaman.   Daun merupakan   tempat   terjadinya   proses fotosintesis,   sehingga   fotosintat   akan ditranslokasikan  ke  seluruh  bagian  tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Aisah dan Herlina (2018) bahwa jumlah  daun dipengaruhi  jenis  varietas  dalam  penyerapan cahaya  matahari  untuk  proses  fotosintesis dalam  pertumbuhan  tanaman.  Jumlah  daun menggambarkan  kemampuan  tanaman  dalam melakukan  fotosintesis  dan  memiliki  daun yang lebih banyak menunjukkan pertumbuhan yang baik dalam menghasilkan fotosintat lebih banyak  untuk  pertumbuhan  tanaman  yang optimal.

Jumlah  daun  yang  optimal  akan  memberikan pertumbuhan tinggi dan diameter batang yang proporsional.  Tanaman  yang  banyak  mendapatkan  cahaya matahari  cenderung  diameter  batang  lebih besar akibat hasil fotosintesis ditranskolasikan dalam  pembentukan  batang.  Sedang  tanaman yang  kurang  mendapatkan  cahaya  matahari sehingga  fotosintesis  rendah  sehingga  batang cenderung  lebih  kecil  disamping  karena faktor lain  seperti  cekaman  kekeringan,  kekurangan pupuk  organik  dan  an  organik.  Menurut Wahyudin  et  al., (2015), fotosintesis adalah  proses  dasar  pada  tanaman  untuk menghasilkan  makanan  melalui  daun  dengan bantuan  cahaya  matahari  untuk  menentukan ketersediaan  energi  dalam  pertumbuhan  dan perkembangan  tanaman. 

Hasil analisis uji lanjutan menunjukkan bahwa varietas Pioner 36 menghasilkan rata-rata tertinggi pada pada komponen fisiologis antara lain kandungan klorofil (245,76 µmol/m2), klorofil b (100,64 µmol/m2) dan kandungan total klorofil (352,96 µmol/m2).  Klorofil dibutuhkan tanaman untuk proses fotosintesis, maka klorofil umumnya disintesis pada daun untuk menangkap cahaya matahari.  Jumlah klorofil berbeda pada tiap spesies tergantung dari faktor lingkungan dan genetiknya. Gogahu et al., (2016) menyatakan bahwa kandungan  klorofil  pada  daun  bervariasi  dari satu  jenis  tanaman  dengan  tanaman  lainnya. Kandungan  klorofil  bahkan  bervariasi  antara berbagai  varietas  tanaman  dalam  satu  spesies. Umur daun juga  mempengaruhi adanya  variasi  kandungan  klorofil  pada  tanaman.  Selanjutnya Kamagi et al., (2017) menyatakan bahwa pengukuran  karakter  fisiologi  tanaman  seperti kandungan  klorofil,  merupakan  salah  satu pendekatan  untuk  mempelajari  pengaruh  karakter tersebut  terhadap pertumbuhan dan hasil produksi pada  tanaman  yang  berkaitan  erat  dengan  laju fotosintesis.

Varietas JH 29 (v3) menghasilkan rata-rata kerapatan stomata tertinggi (73,86 stomata /mm2) dan secara statistik sama dengan rata-rata kerapatan stomata yang dihasilkan varietas Nasa 29 (v4).  Sedangkan Varietas Nasa 29 (v4) menghasilkan rata-rata bukaan stomata terluas (92,37 μm2) dan rendemen biji tertinggi (82,33%).   Kerapatan  stomata  merupakan  jumlah stomata  pada  suatu  bidang  pandang.  Jumlah  stomata  mempengaruhi  tingkat  kerapatan  stomata  yaitu  bila  jumlahnya banyak maka tingkat kerapatan stomata juga tinggi.  Tingkat kerapatan stomata berbeda pada setiap  jenis tumbuhan.  Sama halnya dengan jumlah stomata, kerapatan stomata juga dipengaruhi oleh faktor genetik namun fenotipnya juga dipengaruhi oleh lingkungan sehingga diperoleh kerapatan stomata yang berbeda pada setiap varietas yang dicobakan.  Sofianti et al., (2022) menyatakan bahwa semakin tinggi  nilai  kerapatan  stomata  suatu  jenis tumbuhan  maka  semakin  banyak  jumlah stomatanya.   Selanjutnya Boso  et  al.  (2016) menyatakan bahwa tinggi rendahnya  kerapatan  stomata  tidak  selalu dipengaruhi  oleh  ukuran  daun,  karena  stomata yang  sangat  rendah  dapat  dijumpai  pada  daun yang  lebar  seperti  pada  tanaman  Castanal. Beberapa peneliti melaporkan bahwa, perbedaan kerapatan stomata dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan (eksternal), seperti  habitat,  intensitas  cahaya  dan ada  tidaknya  naungan. Zhu et al. (2018) menambahkann bahwa kelembaban  juga  berpengaruh  terhadap kerapatan  stomata,  pada  tempat  yang  lembab maka kerapatan stomata lebih rendah.

Kerapatan mempengaruhi dua  proses  penting  pada  tumbuhan  yaitu transpirasi dan  fotosintesis. Tumbuhan dengan kerapatan tinggi memiliki tingkat transpirasi yang lebih tinggi dari pada tumbuhan dengan  kerapatan  yang  rendah.  Pertumbuhan  optimal  suatu  tumbuhan  akan  tercapai  jika  laju  fotosintesis  yang  terjadi  juga  optimal dengan meningkatkan penyerapan CO2  sebagai bahan baku fotosintesis didukung oleh adanya cahaya matahari yang optimal.  Menurut Budiono et al., (2016) bahwa stomata  dapat  mempengaruhi  efisiensi fotosintesis. Stomata memungkinkan masuknya  dari lingkungan  pada  siang  hari  sebagai  bahan fotosintesis. Fotosintesis hanya dapat dilakukan saat stomata  terbuka.  Kerapatan  stomata  sangat bergantung pada konsentrasi, yaitu bila  naik, jumlah stomata  per  satuan  luas  lebih  sedikit.  Stomata memberikan  respon  pada  cahaya  melalui  efek fotosintesis dari konsentrasi.

Besar kecilnya bukaan stomata diatur oleh tekanan  turgor  dan  volume  sel  dari  sel penjaga.  Stomata  dapat  benar-benar menutup  saat  mengalami  kekeringan sedang  hingga  parah,  tergantung  spesies tumbuhan.  Hal ini juga berarti bahwa luas bukaan stomata dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan.

Stomata adalah jendela utama untuk masuknya CO2 kedalam jaringan tanaman melalui  daun  yang  selanjutnya  dapat berpengaruh  terhadap  kemampuan tanaman  dalam  melakukan  fotosintesis.  Daun berhubungan erat dengan nilai lebar pori  stomata,  jika  lebar  pori  bukaan stomata  menurun  pada  kondisi  kekeringan  akan  mengakibatkan terganggunya proses metabolisme didalam jaringan tanaman sehingga diikuti dengan menurunnya  pertumbuhan  pada  tanaman salah satunya penurunan nilai jumlah daun.  Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Munir et al., (2022) bahwa penyerapan CO2  adalah kemampuan tanaman untuk menyerap CO2  melalui pori stomata  yang  juga  dipengaruhi  oleh banyaknya  jumlah  daun  sehingga  lebar bukaan  dan  penutupan  stomata  dapat mempengaruhi pengaturan aktivitas proses fotosintesis  melalui  daun  yang  diketahui bahwa  tanaman  C4  dengan  menggunakan  CO2 dalam  siklus  calvin  yang  ketersediaanya, pemanfaatan  karbon  dikendalikan langsung  terhadap  jumlah  ketersediaan CO2  dan  tidak  hanya  bergantung ketersediaanya  diatmosfer  tetapi  juga sangat  bergantung  pada  lebar  bukaan stomata.

Rendemen biji yang tinggi diperoleh dari varietas Nasa 29 diduga disebabkan oleh diameter janggel  lebih  kecil  dibandingkan  varietas  lain  maka  varietas  tersebut  memiliki rendemen  hasil  yang  tinggi. Menurut Herawati  et al., (2015), jika  diameter  janggel  jagung  besar  maka  rendemen yang  didapatkan  akan kecil  dan sebaliknya.  Selanjutnya Maintang et al., (2018) menyatakan bahwa rendemen biji yang tinggi menunjukkan partisi asimilat ke biji lebih besar dibanding ke bagian organ lainnya seperti janggel.

Hasil analisis uji lanjutan menunjukkan bahwa varietas Pioner 36 menghasilkan rata-rata tertinggi pada komponen hasil meliputi umur berbunga jantan (50,08 hari) dan betina (52,25 hari), panjang tongkol (15,86 cm), diameter tongkol (4,77 cm), berat tongkol kupasan basah (184,17 g), berat janggel (38,33 g), hasil biji per hektar (11,96 ton).  Sedangkan varietas JH 29 (v3) menghasilkan rata-rata jumlah baris biji per tongkol terbanyak (16,92 baris).  Fase generatif ditandai dengan pengaruh varietas Pioner 36 terhadap umur berbunga jantan dan betina. Hal ini diduga karena umur berbunga lebih dipengaruhi oleh faktor genetic.  Menurut Subekti (2021) bahwa umur  berbunga pada  setiap  varietas  jagung  dipengaruhi  oleh faktor  genetik  dari  setiap  varietas.  Cepat  dan lambatnya  muncul  bunga  pada  setiap  tanaman pada kondisi lingkungan yang sama tidak akan memberikan  perbedaan,  namun  dengan perbedaan  faktor  genetik  dari  setiap  varietas akan  memberikan  respon  yang  berbeda tergantung  pada  masing-masing  sifat  genetik dari  setiap  varietas. 

Panjang dan diameter tongkol yang muncul juga merupakan pengaruh dari faktor genetik dari setiap varietas.  Seperti yang dinyatakan oleh Kartinaty et  al., (2019) bahwa faktor genetik akan mempengaruhi penampilan dari panjang dan diameter tongkol.  Selanjutnya semakin panjang tongkol dan semakin besar diameter tongkol akan meningkatkan berat tongkol yang terbentuk.  Solihin et al., (2019) menyatakan bahwa tongkol panjang, diameter besar dan baris biji yang banyak akan mempengaruhi berat  tongkol  tanaman  jagung.  Varietas  Pioner 36 menghasilkan panjang tongkol lebih tinggi  dibanding  varietas  lainnya.  Menurut Yuyun et. al., (2018), pembentukan  tongkol  dan  merupakan komponen utama dalam proses sintesa protein  yang  berkorelasi  positif  terhadap  peningkatan  ukuran tongkol (panjang dan diameter), salain  itu  faktor  genetik  juga  berpengaruh  terhadap ukuran tongkol.  Ditambahkan oleh Aji et al., (2021) bahwa berat  tongkol  merupakan  salah  satu  komponen  penentu  tingkat  produktivitas jagung.  Semakin besar diameter tongkol dan panjang tongkol akan berpotensi memberikan hasil  yang  lebih  tinggi.  Hal ini tercermin dari berat janggel dan hasil biji jagung yang diperoleh.  

Pengaruh Perlakuan Dosis Kompos Pupuk Kandang Ayam

Hasil analisis statistik lanjutan menunjukkan bahwa dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) menghasilkan rata-rata tertinggi pada komponen pertumbuhan meliputi : tinggi tanaman (270,60 cm), jumlah daun (13,79 helai), luas daun (9794,73 cm2) dan diameter batang (6,61 cm).  Hal tersebut diduga disebabkan dengan pemberian dosis tersebut mampu menyediakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga pertumbuhannya semakin baik.  Pupuk kandang ayam mengandung N yang lebih tinggi yang berperan dalam pertumbuhan vegetatif tanaman. Hasibuan et al., (2022) menyatakan bahwa penggunaan  pupuk  organik  (pupuk kandang  ayam)  dapat  menjadi  pilihan penambahan  sumber  unsur  hara  pada tanah  namun  tanpa  mengurangi  kualitas tanah. Penggunaan pupuk kandang ayam dijadikan pilihan karena di antara pupuk organik  lainnya  pupuk  kandang  ayam memiliki  kadar  hara  N  yang  paling tinggi  dibandingkan  pupuk  kandang lainnya. Pupuk kandang ayam memiliki kandungan hara N  mencapai  1,7%  yang  tiga  kali  lebih tinggi  dari  pupuk  kandang  domba (0,55%)  dan  lima  kali  lebih  tinggi  dari pupuk kandang sapi (0,29%). 

Tanaman yang lebih tinggi dipicu oleh unsur N yang dikandung oleh pupuk kandang ayam, sejalan dengan pendapat Sinuraya dan Melati (2019), bahwa  unsur  N  berperan  dalam  pembelahan dan  pemanjangan  sel,  sehingga  mempengaruhi pertumbuhan  tinggi  tanaman.  Rhezali  dan Lahlali  (2017) menambahkan bahwa  tanaman  jagung tidak  dapat  tumbuh  optimal  apabila  kebutuhan  unsur haranya tidak terpenuhi. Tinggi tanaman sebagian besar dipicu  oleh  ketersediaan  hara  nitrogen  (N)  dan  fosfat (P).   Demikian pula dengan pertambahan jumlah daun seperti yang dilaporkan oleh Irawati (2016) bahwa kandungan  nitrogen  yang  tinggi  pada  pupuk kandang   ayam   memacu   laju   pertumbuhan daun tanaman.  Selanjutnya Nur (2019) menambahkan bahwa unsur  nitrogen  merupakan  unsur  hara  esensial  yang  sangat  dibutuhkan  tanaman  pada  masa pertumbuhan  vegetatif  tanaman,  hal  ini  karena  unsur  hara  nitrogen  sangat  berperan  dalam  proses pembentukan bagian-bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang dan akar.  

Analisis statistik lanjutan menunjukkan bahwa dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) menghasilkan rata-rata tertinggi pada komponen fisiologis meliputi kandungan klorofil a (242,43 µmol/m2), kandungan klorofil b (100,64 µmol/m2), kandungan total klorofil tertinggi (352,96 µmol/m2).    Hal ini diduga karena pupuk kandang ayam dengan dosis tersebut memiliki kandungan nitrogen yang tinggi.  Unsur nitrogen berfungsi dalam menyusun pigmen klorofil sehingga apabila kandungan nitrogen tinggi maka klorofil yang tersusun kemungkinan lebih banyak jumlahnya.  Nur (2019) m,enyatakan bahwa nitrogen juga berperan dalam pembentukan sel tanaman, jaringan organ dan sebagai bahan sintesis protein, klorofil, protein dan asam amino.  Ditambahkan oleh Utami et al., (2020), nitrogen  juga  merupakan  unsur  yang  dapat merangsang pertumbuhan tanaman dan mendorong pembentukan klorofil sehingga daun dapat melakukan fotosintesis.  Kekurangan  nitrogen  pada  tanaman  dapat  menyebabkan  daun  tanaman  mudah  gugur  dan pertumbuhan vegetatifnya menjadi terhambat sehingga menurunkan produksi tanaman, selain itu tanaman yang  memiliki  kandungan  klorofil  yang  rendah  juga  dapat  mengalami  penurunan  kemampuan  dalam mengabsorpsi cahaya sehingga fotosintat yang dihasilkan menjadi rendah.

Kandungan unsur nitrogen pada pupuk kandang ayam dapat meningkatkan produksi zat hijau daun klorofil. Klorofil yang tersedia dalam  jumlah  yang  cukup  pada  daun  tanaman  akan  meningkatkan  kemampuan daun untuk menyerap cahaya matahari, sehingga proses fotosintesis akan berjalan lancar (Nizar, 2017).

Dosis kompos pupuk kandang ayam 0 ton ha-1 (k0) menghasilkan rata-rata tertinggi pada komponen kerapatan stomata (73,86 stomata /mm2) dan bukaan stomata terluas (92,37 μm2).  Tingginya kerapatan stomata dipengaruhi oleh jumlah stomata, semakin banyak jumlah stomata maka akan menyebabkan laju transpirasi juga akan semakin meningkat.  Hal  ini  mengakibatkan  tingginya laju  transpirasi  karena  air  yang  keluar  lebih banyak juga.  Kondisi ini juga memungkinkan bukaan stomata menjadi lebih luas.  Menurut Hepworth et al.  (2015),  tanaman  dengan  kerapatan  stomata  rendah memiliki  tingkat  transpirasi  yang  rendah,  sehingga  lebih toleran  terhadap  kekeringan  dibandingkan  dengan tanaman  yang  memiliki  kerapatan  stomata  lebih  tinggi.  Berkurangnya  kerapatan  stomata  akan berdampak  pada  penurunan  respons  membuka  dan menutupnya stomata.

Komponen hasil yang diamati menunjukkan bahwa dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) menghasilkan rata-rata tercepat pada umur berbunga jantan (50,92 hari).  Umur berbunga jantan yang lebih cepat dipicu oleh unsur P yang dikandung oleh pupuk kandang ayam, dengan dosis yang optimal mampu merangsang pembungaan.   Hal ini sejalan dengan pendapat Aulia et al., (2021), unsur P berperan dalam proses pembungaan,  pembentukan buah dan  pengisian  biji.  Yulianto (2021) menambahkan bahwa unsur P digunakan untuk merangsang pembungaan dan pembuahan,  pertumbuhan  akar  dan  pembentukan  biji  dan  unsur K untuk pertumbuhan batang yang lebih kokoh, sebagai aktivator  enzim  dalam  metabolisme karbohidrat  dan  nitrogen  yang  meliputi pembentukan, pemecahan dan translokasi pati, serta  berpengaruh  terhadap  pengangkutan fosfor.  Setyawan dan  Santoso (2020) menyatakan bahwa pupuk kandang ayam mengandung unsur hara:  C-Organik:  24,8 %, N: 2,15 %, P: 1,23%, dan K: 1,33% sehingga mampu menunjang pertumbuhan  dan  hasil tanaman. 

Dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) juga memberikan hasil rata-rata tertinggi pada komponen hasil: panjang tongkol (15,86 cm), diameter tongkol (4,65 cm), berat tongkol kupasan basah (187,15 g), berat janggel (38,69 g).  Hal ini dfiduga disebabkan dengan pemberian kompos pupuk kandang ayam pada lahan tempat tumbuh tanaman akan meningkatkan uynsur hara pada tanah sehingga menghasilkan pertumbuhan yang baik berupa tanaman semakin tinggi, yang juga akan semakin meningkatkan jumlah daun yang berarti organ untuk melaksanakan fotosintesis lebih banyak yang dapat menyebabkan peningktan hasil tanaman dalam hal ini tongkol yang dihasilkan.  Hal ini didukung oleh Sofyan et al. (2019), bahwa ketersediaan unsur hara  di  dalam  tanah  sangat  mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Semakin  banyak penambahan pupuk  kotoran  hewan  pada  tanaman,  maka pertumbuhan tanaman akan tinggi. Tanaman   yang   relatif   tinggi   akan meningkatkan  jumlah  daun,  sehingga  tempat pembentukan  fotosintesis  menjadi  lebih  optimal. Hal  ini  dapat  menyebabkan  berat tongkol berpengaruh  sangat  nyata dengan  aplikasi pupuk kotoran hewan.   Su’ud dan Lestari (2018) menambahkan bahwa pemberian pupuk dengan kandungan nitrogen dapat menyebabkan peningkatan diameter tongkol jagung

Pranajaya et al. (2018) lebih lanjut menyatakan  pemberian  pupuk  kotoran  hewan berpengaruh sangat nyata terhadap berat tongkol, karena adanya  respons  pertumbuhan  daun  akibat penambahan unsur hara terutama unsur N. Hal ini didukung penelitian  Setiono  dan  Azwarta (2020) bahwa pemberian  pupuk  kotoran hewan  dengan  kandungan  unsur  N  yang  cukup, maka pertumbuhan organ tanaman akan sempurna dan fotosintat yang terbentuk meningkat sehingga mendukung produksi tanaman. 

Pemberian  pupuk kandang sangat diperlukan oleh tanaman karena dapat mensuplai unsur  hara,  selain  itu  pupuk  kandang mempunyai   fungsi   yang   penting   untuk memperbaiki  sifat  fisik  tanah  melalui pembentukan struktur dan agregat tanah. Inonu et al. (2020) menjelaskan bahwa pupuk kandang dapat mengurangi porositas tanah, meningkatkan daya ikat air, meningkatkan pH, dan meningkatkan KTK  sehingga  tanaman  dapat  mengoptimalkan serapan unsur hara. Kehadiran bahan organik akan membantu  mikroorganisme  untuk  berkembang biak  dan  menyediakan  nutrisi  bagi  tanaman. Hardian et  al.  (2020)  menjelaskan  bahan  organik pada pupuk kandang ayam berperan memperbaiki sifat fisik sehingga struktur tanah menjadi lebih baik serta akar tanaman dapat tumbuh lebih optimal.

Dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 (k3) juga menghasilkan rata-rata tertinggi pada komponen hasil: bobot 1000 biji (306,03 g), jumlah jumlah baris biji per tongkol (16,32 baris) dan hasil biji per hektar (11,96 ton).  Hal   ini   menunjukkan   bahwa   dengan menggunakan  pupuk  kandang  ayam  sesuai dosis tersebut akan memberikan hasil produksi yang  baik  karena  unsur  hara  yang  dibutuhkan oleh tanaman dalam proses pertumbuhan  dan produksi dapat terpenuhi.  Bahan  organik akan meningkatkan aktivitas biologis tanah dan juga meningkatkan  ketersediaan  air  tanah.  Dengan semakin  tersedianya  air tanah  maka  absorbsi dan  transportasi  unsur  hara  maupun  air  akan lebih   baik,   sehingga   laju   fotosintesis untuk dapat  meningkatkan  cadangan  makanan  bagi pertumbuhan   tanaman   lebih   terjamin   dan akhirnya  produksi  tanaman  jagung  meningkat yang Nampak pada hasil biji yang diperoleh berupa bobot 100 biji, jumlah jumlah baris biji per tongkol dan hasil biji.  Oktaviyanti   (2016), menyatakan   bahwa   pupuk   kandang   ayam memiliki    sifat    dapat    memperbaiki    tanah walaupun   dalam   kurun   waktu   yang   lama, sehingga   dapat   meningkatkan   pertumbuhan dan produksi tanaman  jagung.

Pupuk kandang ayam sebagaimana jenis pupuk kandang lainnya adalah pupuk organik yang proses pelepasan/pelarutan unsur haranya terjadi dalam waktu yang lama atau lambat setelah pupuk tersebut diaplikasikan, adanya pengomposan menyebabkan bahan organik yang terkandung di dalamnya akan diubah atau diurai menjadi unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman.  Zega et al., (2021) menyatakan bahwa pupuk organik bersifat slow release, oleh karena itu  tanaman  berumur  singkat  kurang  maksimal  dalam memanfaatkan nutrisi pada pupuk sehingga perlu dilakukan  proses  dekomposisi  agar nutrisi  pada pupuk kandang  dapat  diubah  oleh  bantuan  mikroba  menjadi tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh tanaman. 

Pengaruh Interaksi Varietas dengan Dosis Kompos Pupuk Kandang Ayam

Dari  hasil  analisis  data  secara  statistik diketahui bahwa kombinasi pupuk  antara berbagai varietas jagung dan dosis kompos pupuk kandang  ayam  menunjukkan  pengaruh yang  tidak  nyata  terhadap  semua komponen  yang  diamati,  hal  ini  disebabkan  oleh  kedua faktor  yang  diteliti  yaitu  varietas dan dosis kompos pupuk  kandang  ayam  belum  menunjukkan  adanya  kerja sama  untuk  mendukung  pertumbuhan  dan produksi  tanaman  jagung.  Peranan  dari  salah satu  faktor  atau  peranan  dari  masimg-masing perlakuan saling menetralisir sehingga interaksi kedua perlakuan yang diuji tidak mempengaruhi pola aktifitas tanaman secara keseluruhan.

Tenaya (2015) menyatakan bahwa jika  terdapat  perubahan yang  tidak  berarti  antar-perlakuan  kombinasi atau  tidak  signifikan  dikatakan  terdapat interaksi  yang  tidak  nyata.  Apabila  tidak ada  interaksi,  berarti  pengaruh  suatu  faktor sama untuk semua taraf faktor lainnya dan sama dengan  pengaruh  utamanya.  Sesuai  dengan pernyataan  tersebut,  maka  dapat  disimpulkan bahwa  kedudukan  dari  kedua  faktor  adalah sama-sama  mendukung  pertumbuhan  tanaman, tetapi  tidak  saling  mendukung  bila  salah  satu faktor menutupi faktor lainnya.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:

1.       Varietas Pioner 36 menghasilkan rata-rata terbaik pada komponen pertumbuhan: tanaman tertinggi (265,66 cm), jumlah daun terbanyak (13,30 helai) dan diameter batang terlebar (6,63 cm); komponen fisiologis antara lain: kandungan klorofil (245,76 µmol/m2), klorofil b (100,64 µmol/m2) dan kandungan total klorofil (352,96 µmol/m2) serta pada komponen hasil: umur berbunga jantan (50,08 hari) dan betina (52,25 hari), panjang tongkol (15,86 cm), diameter tongkol (4,77 cm), berat tongkol kupasan basah (184,17 g), berat janggel (38,33 g), hasil biji per hektar (11,96 ton).  Sedangkan Varietas JH 29 menghasilkan rata-rata kerapatan stomata tertinggi (73,86 stomata /mm2) dan Varietas Nasa 29 menghasilkan rata-rata bukaan stomata terluas (92,37 μm2) dan rendemen biji tertinggi (82,33%).

2.       Dosis kompos pupuk kandang ayam 6 ton ha-1 menghasilkan rata-rata terbaik pada komponen pertumbuhan: tinggi tanaman (270,60 cm), jumlah daun (13,79 helai), luas daun (9794,73 cm2) dan diameter batang (6,61 cm); komponen fisiologis: kandungan klorofil a (242,43 µmol/m2), kandungan klorofil b (100,64 µmol/m2), kandungan total klorofil tertinggi (352,96 µmol/m2) dan komponen hasil: umur berbunga jantan (50,92 hari), panjang tongkol (15,86 cm), diameter tongkol (4,65 cm), berat tongkol kupasan basah (187,15 g), berat janggel (38,69 g), bobot 1000 biji (319,37 g), jumlah jumlah baris biji per tongkol (16,32 baris) dan hasil biji per hektar (12,08 ton).  Sedangkan dosis kompos pupuk kandang ayam 0 ton ha-1 menghasilkan rata-rata tertinggi pada kerapatan stomata (73,86 stomata /mm2) dan luas bukaan stomata (92,37 μm2). 

3.       Tidak terdapat interaksi antara berbagai varietas dengan berbagai dosis kompos pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung  hibrida


BIBLIOGRAFI

 

Acquaah G.  2005. Principles  of  Crop  Production. Theory,  Technique,  and  Technology. Pearson, Prentice Hall, New Jersey.

 

Aisah, Y., dan N, Herlina. 2018. Pengaruh Jarak Tanam Jagung Manis (Zea mays L. Var saccharata)  pada  Tumpangsari  dengan Tiga  Varietas  Tanaman  Kedelai (Glycine  max  (L)  Merrill).  Jurnal Produksi Tanaman. 6(1): 66-75.

 

Aji,  W.  2016.  Macam-Macam  Kandungan Pupuk  Kandang  Dan  anfaat  Bagi Tanaman. Kabar Tani.

 

Aji, H. B., Suwitono, B., Hidayat, Y., & Lala, F. (2021). Optimalisasi Hasil Jagung melalui Pemupukan dan Penggunaan Varietas Unggul pada Lahan Kering di Bawah Tegakan Kelapa. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan, 5(1): , 37-46.

 

Aprilian,  RI.  2020  . Pengaruh Pemangkasan  Dan  Pemberian  Pupuk Kandang Ayam Terhadap Pertumbuhan Dan  Hasil  Tanaman  Mentimun (Cucumis  sativus  L.)  Disertasi: Universitas  Islam  Negeri  Sultan  Syarif Kasim Riau

 

Ariyandi., N,    Marlina., Rosmiah.    2016.  Pengaruh  Waktu  Inkubasi  dan Takaran  Kompos  Kotoran  Ayam terhadap Pertumbuhan Gulma dan Produksi  Tanaman  Jagung  Hibrida (Zea mays L.) di Lahan Lebak.   Klorofil XI - 1 : 41 – 50, Juni 2016

 

Atmaja,  T  and  Damanik,  MMB.  2017. Pengaruh  Pemberian  Pupuk  Kandang Ayam, Pupuk Hijau, dan  Kapur CaCO3 Pada  Tanah  Ultisol  Terhadap Pertumbuhan  Tanaman  Jagung.  Jurnal Online Agroekoteknologi. Vol. 5 No. 1: 208-215.

 

Aulia,S., D, R, Lukiwati., dan E, Fuskhah.   2021.  Pengaruh Pupuk Kandang Plus Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis di Purwodadi, Kabupaten Grobogan.  Agrosains : Jurnal Penelitian Agronomi 23(2): 99-104

 

Boso,  S.,  P.  Gago,  V.  Alonso-Villaverde,  J.L. Santiago,  and  M.C.  Martinez.  2016. Density and Size of Stomata In The Leaves Of Different Hybrids (Vitis Sp.) And Vitis Vinifera Varieties. Vitis, 55: 17-22

 

Budiono, R., D, Sugiarti., M,. Nurzaman., T, Setiawati., T, Supriatun., A, Z, Mutaqin.  2016. Kerapatan Stomata dan Kadar Klorofil Tumbuhan Clausena Excavata Berdasarkan Perbedaan Intensitas Cahaya. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan dan Saintek 21 Mei 2016 (pp. 61–65). Isu-isu kontemporer sains, lingkungan, dan inovasi pembelajarannya.  Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 

Dinesh, R., Srinivasan., V, Hamza., S, Manjusha, A. 2010.  Short-term  incorporation  of organik manures and  biofertilizers  influences  biochemical  and microbial  characteristics  of  soils  under  an annual  crop  turmeric  (Curcuma  longa L.). Bioresource Technol. 101:4697-4702.

 

Distanpan Sul-Sel.  2020.  Data Produksi Jagung Tahun 2020.  Dinas tanaman pangan Provinsi Sulawesi Selatan.

 

Dowswell,  C.R.,  R.L.  Paliwal.,  R, P, Cantrell.  1996.  Maize  in  the  Third  World. Westview Press.Effendi, 2007). 

 

Fattah.  2010.  Efektifitas  Pupuk  Organik Saputra  Nutrient  pada  Tanaman Jagung.  Balai  Pengkajian  Teknologi Pertanian  (BPTP)  Sulawesi  Selatan.  Dalam:  Prosiding  Pekan  Serealia Nasional : 1-7.

 

Gogahu,  Y.,  N.S.Ai.,  dan  P.Siahaan.  2016. Konsentrasi  Klorofil  pada  Beberapa  Varietas Tanaman  Puring  (Codiaeum  varigatum  L.). Jurnal MIPA UNSRAT Online. 5 : 76-80.

 

Halim, A.  2020.  Pengolahan Limbah Ayam Petelur  Sebagai Pupuk Organik.  E-Prosiding Seminar Nasional Ilmu Peternakan Terapan.  Jurusan Peternakan Politeknik Negeri Jember.  Jember, 19 - 22 September 2020

 

Hardian, M., Basuni, dan Safwan, M. 2020. Pengaruh Kombinasi  Pupuk  Kandang  Ayam  dan  Nitrogen Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung pada  Sistem  Budidaya  Januh  Air.  Pontianak: Universitas Tanjungpura

 

Hasibuan, S, P., S, Febjislami., I, Suliansyah.  2022.  Pengaruh pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan dan kualitas biji tanaman sorgum (Sorghum Bicolor L.).  Jurnal Pertanian Presisi Vol. 6(1) :15-27.

 

Hastini, T.,  dan I, Noviana.  2020. Kinerja Teknologi Budidaya Jagung Hibrida di Indonesia.  Agrotrop, 10 (2): 123 - 141 (2020)

 

Hepworth C, Doheny-Adams T, Hunt L, Cameron DD, Gray, JE.  2015.  Rapid  report:  Manipulating  stomatal density  enhances  drought  tolerance  without deleterious  effect  on  nutrient  uptake.  New Phytologist  208(2):  336–341

 

Herawati,  N.,  Iriany., dan  A, Takdir.  2015.  Keragaan  Agronomis  dan  Hasil Beberapa  Genotipe  Jagung  Hibrida  Umur  Genjah.  Balai  Penelitian  Tanaman Serealia.  Prosiding  Seminar  Nasional  Serealia  2015.

 

Hochholdinger,  F.,  P, Yu.,  C,  Marcon.  2018.  Genetic  control  of  root  system development in maize. Trends in Plant Science. 23(1):79-88.

 

Indranada, H.K. 1994. Pengelolaan Kesuburan Tanah. Semarang : Bumi Aksara. 99 Halaman.

 

Inonu, I., Kusmiadi, R., Yuliana, A. and Nurtahya, E. 2020.  The  amelioration  of  post  tin  mining  sand tailing  medium  with  chicken  manure  for  pepper cultivation. Journal of Suboptimal Lands 9(1):31-40

 

Irawati, T. 2016. Respon Pupuk Kandang Dan Jarak   Tanam   Terhadap   Pertumbuhan Dan   Hasil   Tanaman   Gambas   (Luffa acutangula) varietas Prima.Jurnal Hijau Cendekia. 1(1): 1-5

 

Iriany,  R.N.,  M,  Yasin.,  A,  Takdir.  2007.  Jagung:  Teknik  Produksi  dan Pengembangan  [Asal,  sejarah,  evolusi  dan  taksonomi  tanaman  jagung]. Pusat  Penelitian  dan  Pengembangan  Tanaman  Pangan,  Departemen Pertanian.

 

Kamagi, L., J, Pontoh., L, I, Momuat.  2017.  Analisis Kandungan Klorofil Pada Beberapa Posisi Anak  Daun  Aren (Arenga pinnata) dengan Spektrofotometer UV-Vis.  Jurnal Mipa Unsrat Online 6 (2) 49—54.

 

Kartinaty,  T.,  Haloho,  J.  D.,  &  Puspitasari,  M.  (2019).  Karakter  Agronomis  Tiga  Varietas Jagung dan Dosis Pemupukan Pada Sistem Tanam Tumpangsari di Lahan Kering. Jurnal Ilmiah Hijau Cendekia, 4(2), 78–86

 

Kementerian Pertanian, 2020.  Outlook  Jagung Komoditas  Pertanian  Subsektor  Tanaman  Pangan.  Penyunting : A, A, Susanti dan A, Supriyatna.  Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian.  Sekretariat Jenderal.  Kementerian Pertanian:78 hal.

 

Lauterboom.  2020.  Uji Heterosis Hibrida F1 dan F1R Hasil Persilangan Dua Jenis Tanaman Jagung (Zea mays, L).  Agricola, Vol 10 (1), Maret 2020, Hal. 34 – 43

 

Li,  X.,  Li,  B.,  & Tong,  Q.  2020. The effect  of  drying  temperature  on  nitrogen  loss and  pathogen removal in laying hen manure. Sustainability, 12(1), 1-11.

 

Lukiwati, D, W., dan Yafizham.  2020.  Pengaruh Pukan Plus dan Pupuk Anorganik terhadap hasil jagung manis dan nutrisi jerami sebagai pakan ternak.  Pastura Vol 9 (2): 30-64

 

Mahdiannoor.,  dan  N, Istiqomah.  2015. Pertumbuhan hasil dua varietas jagung hibrida sebagai tanaman sela di bawah tegakan karet. Ziraa’ah.   40:46-53.

 

Maintang., R, Efendi., dan M, Azrai.  2018.  Penampilan Karakter Beberapa Genotipe Jagung Hibrida Pada Kondisi Kekeringan.  Informatika Pertanian Juni 2018, 27(1): 47 – 62

 

Mejaya, M, J., M, Yasin, HG., E, Ishartati.  2017.  Perakitan dan Teknologi Produksi Benih Varietas Unggul Jagung Hibrida.  IAARD Press, Jakarta.

 

Munir, M, S., S, Avivi., S Soeparjono.  2022.  Pengaruh Dosis Pupuk KCl dan Berbagai Level Penyiraman  terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)  di Pre-Nursery.  Agriprima.  Journal of Applied Agricultural Sciences    Maret, 2022.  (6) 1:62 -72

 

Murni, A, M., dan R, W,  Arief.  2008.  Teknologi Budidaya  Jagung.  Balai  Besar Pengkajian  dan  Pengembangan Pertanian. Bogor.

Musnamar.  2003. Pupuk  Organik  Cair  dan  Padat, Pembentukan  dan  Aplikasi.  Penebar  Swadaya. Jakarta.

 

Mustikawati, D. R, dan Y. Pujiharti.  2011.  Introduksi Varietas Unggul Jagung Komposit di Lampung.  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

 

Nizar,  S.C.  2017.  Pengaruh  Pemberian  Pupuk  Kandang  Ayam  terhadap Pertumbuhan  dan  Hasil  Tanaman  Kubis  Bunga  (Brassica  oleracea  L.) pada  Media  Tanam  yang  Berbeda.  Fakultas  Pertanian  dan Peternakan  Universitas  Islam  Negeri  Sultan  Syarif  Kasim  Riau. Pekanbaru.

 

Nur,  M.  2019.  Analisis  Potensi  Limbah  Buah-Buahan  Sebagai  Pupuk  Organik  Cair.  Seminar  Nasional Teknik Industri Universitas Gajah Mada.  Yogyakarta.

 

Oktaviyanti, D.  2016.  Pemberian Macam Pupuk Kotoran Hewan Dan Npk terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea Mays Saccharata Sturt) Varietas Talenta.  Universitas Islam Kadiri. Kediri

 

Pranajaya,  D.,  Zulia, C. dan  Safruddin. 2018.  Respon pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis (Zea mays Saccharata  Strut)  terhadap aplikasi  miracle  gro dan pupuk kandang. Jurnal Agrikultur 14(2):101-113.

 

Purwono dan Hartono, R. 2008. Bertanam Jagung Unggul.  Penebar Swadaya. Jakarta.

 

Putra,  R.  Y.,  P.,  A.  E.,  &  Ruswandi,  D. 2015. Daya Gabung Umum Galur-Galur Jagung Manis Di Jawa Barat. Zuriat,  19(2). https://doi.org/10.24198/zuriat.v19i2.6663

 

Rhezali,  A.  dan  R.  Lahlali.  2017.  Nitrogen  (N)  mineral nutrition  and  imaging  sensors  for  determining  N status and requirements of maize. J. Imaging. 3 (51):: 1 – 10.

 

Riley, H.,  Pommeresche, R.,  Eltun, R.,  Hansen, S., Korsaeth, A. 2008. Soil structure, organik matter and  earthworm  activity  in  a  comparison  of cropping  systems  with  contrasting  tillage, rotations,  fertilizer  levels  and  manure  use.  Agric. Ecosyst. Environ. 124:275-284. 

 

Riwandi, M. Handajaningsih, Hasanudin. 2014. Teknik Budidaya Jagung dengan Sistem Organik di Lahan Marjinal. Bengkulu, Universitas Bengkulu Press.

 

Robani,  A.  2015.  Pengaruh  kombinasi kotoran  ayam  dan  solid  pada  tanah galian  untuk  persemaian  Kelapa  Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). J.  Agrotek    Tropika.    Vol. 7,  No. 2 : 405 – 412

 

Rosmiah., E, Hawayanti., IS, Aminah., dan H, D, P, Putri.  2019.  Aplikasi Takaran Kompos Kotoran Ayam Pada Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) di Lahan Lebak.  Prosiding Seminar Nasional Agroteknologi 2019.  Jurusan Agroteknologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.  Bandung, 2 Maret 2019

Sari,  MP.,  Surahman,  M.,  Budiman,  C. 2018.  Peningkatan  produksi  dan mutu jagung hibrida melalui aplikasi pupuk  N,  P,  K  dan  Bakteri Probiotik.  Bul.  Agrohorti.  6  (3): 412-421.

 

Satata,  B  dan  Kusuma,  ME.  2015. Pengaruh  tiga  jenis  pupuk  kotoran ternak  (sapi,  ayam,  kambing)  terhadap pertumbuhan  dan  produksi  rumput Brachiaria  humidicola.  Jurnal  Ilmu Hewani Tropika Vol. 3 No. 2: 5-9.

 

Setiono., & Azwarta.  2020.  Pengaruh pemberian pupuk kandang sapi terhadappertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis (Zea mays L).  Jurnal Sains Agro 5 (2).

 

Setyawan,  F  dan  M, H, Santoso.  (2020). Pemanfaatan  Pupuk  Organik  Dan Inokulan  Bakteri  Pelarut  Fosfat  Untuk Meningkatkan Serapan P, Pertumbuhan dan  Hasil  Tanaman  Kedelai  (Glycine max L.). J.Agrin. 24(2): 148-158

 

Siburian,  R.  2007.  Pengaruh  Konsentrasi  dan Waktu  Inkubasi  EM4  terhadap  Kualitas Kimia  Kompos.  Fakultas  Sains  dan Tekhnik.  Universitas  Nusa  Cendana. Kupang.

 

Sinuraya, B. A. dan M. Melati. 2019. Pengujian berbagai pupuk  kandang  kambing  untuk  pertumbuhan  dan produksi  jagung  manis  organik  (Zea  mays  var. Saccharata Sturt). Bul. Agrohorti. 7 (1) : 47 – 52.

 

Sofiyanti, N., P, I, Wahyuni.,  D, Iriani.  2022.  Stomatal Characteristics of 5 Citrus L. Species (Rutaceae) From Pekanbaru, Riau Province.  Jurnal Biologi Tropis, 22 (1): 173 – 178

 

Sofyan, E.T., Machfud, Y., Yeni, H. dan Herdiansyah, G. 2019. Penyerapan unsur hara N, P, dan K tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Strut) akibat aplikasi pupuk  Urea,  SP  36,  KCl  dan  pupuk  hayati  pada fluventic eutrudepts asal jatinangor. Jurnal Agrotek Indonesia 4(1):1-7

 

Solihin,  E.,  Sudiraja,  R.,  &  Kamaludin,  N, N.  2019.  Aplikasi  Pupuk  Kalium  dalam Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung (Zea mays L.). Agrikultura, 30(2), 40–45.

 

Su’ud,  M.  dan  D.  A.  Lestari.  2018.  Respon pertumbuhan dan hasil tanaman jagung (Zea mays L.)  terhadap  konsentrasi  dan  interval  waktu pemberian  pupuk  organik  cair  bonggol  pisang.  J. Agrotechbiz. 5 (2) : 37–52.

 

Subekti, A.  2021.  Penampilan fenotipik varietas unggul jagung komposit pada sistem tanam jajar legowo di lahan sub optimal Kalimantan Barat.  Jurnal Agrica Ekstensia 15(1):41-46.

 

Subekti, N.A., Syafruddin, R. Efendi, S. Sunarti. 2007. Jagung: Teknik Produksi dan  Pengembangan  [Morfologi  tanaman  dan  fase  pertumbuhan  jagung]. Pusat  Penelitian  dan  Pengembangan  Tanaman  Pangan,  Departemen Pertanian.

 

Sutoro.   2015.    Determinan    agronomis produktivitas  jagung.  Iptek  Tanaman Pangan. 10(1): 39 – 46.

 

Tenaya, IMN. 2015.  Pengaruh Interaksi dan Nilai Interaksi pada Percobaan Faktorial (Review).  Agrotrop, 5 (1): 9 – 20 (2015):9-20.

 

Tufaila,  M,  Laksana,  DD,  dan  Alam,  S. 2014.  Aplikasi  Kompos  Kotoran  Ayam Untuk  Meningkatkan  Hasil  Tanaman Mentimun  (Cucumis  Sativus  L.)  Di Tanah Masam. Jurnal Agroteknos Vol. 4 No. 2 :120-127

 

Utami, W. R., Barunawati, N., Sitompul, S. M. 2020. Pengaruh pupuk kandang dan nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai (Glycine max (L.) Merr.). Jurnal Produksi Tanaman 8 (1), 172-181.

 

Wahyudin  A.,  Ruminta  dan  D.  C.  Bachtiar. 2015.  Pengaruh  jarak  tanam  berbeda pada  berbagai  dosis  pupuk  organik terhadap pertumbuhan dan hasil jagung hibrida  P-12  di  Jatinangor.Jurnal Kultivasi. 14 (1): 1-8.

 

Wahyudin, A · Ruminta · D.C. Bachtiar.  2013.  Pengaruh jarak tanam berbeda pada berbagai dosis pupuk organik terhadap pertumbuhan dan hasil jagung hibrida P-12 di Jatinangor.  Jurnal Kultivasi Vol. 14(1) Maret 2013.

 

Walida, H,. H, D, E, Harahap., dan M,  Zuhirsyan.  2020.  Pemberian Pupuk Kotoran Ayam dalam Upaya Rehabilitasi Tanah Ultisol Desa Janji Yang Terdegradasi.  Jurnal Agrica Ekstensia  Vol. 14 No. 1 Tahun 2020.

 

Yulianto.,, Y, Y, Bolly., & J, Jeksen. 2021.  Pengaruh pemberian pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun (Cucumis sativus L.)  di Kabupaten Sikka.  Jurnal Inovasi Penelitian Vol.1 No.10 Maret 2021:2165-2170.

 

Yuyun, W.,   A, A, Irwa.,  M, Syaf’I., dan  Dedi, R. 2018.  Pertumbuhan  dan  hasil  jagung hibrida  pada  pola  tanam  tumpangsari dengan  kedelai  di  Arjasari  Kab. Bandung.  Jurnal  Agrotek  Indonesia.  3 (1): 51-65.

 

Zega.  D.,  D.  Okalia,  Maharani.  2021.  Pengaruh pemberian  berbagai  pupuk  kandang  terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi (Brassica juncea L.) pada tanah ultisol. J. Green Swarnadwipa. 10 (1) : 103 – 108.

 

Zhu, H., Li, X. , Zhai, W., Liu, Y., Gao, Q., Liu, J. Ren, L., Chen, H., Zhu, H., 2017. Effects of Low  Light  on  Photosynthetic  Properties, Antioxidant  Enzyme  Activity,  and Anthocyanin  Accumulation  In  Purple  Pak Choi  (Brassica  campestris  ssp.  Chinensis Makino).  PLoS  ONE  12(6),  1-17.

 

Copyright holder:

Andi Riwayati, Muh. Farid, Abd Haris Bahcrun (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: