Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No.12, Desember 2022

 

PERAN STRUKTUR FISIK ATRIBUT LINGKUNGAN DALAM MEMBENTUK CITRA DESTINASI WISATA RELIGI KOTA LARANTUKA

 

Olivia Caterine Dora Maran1, Herry Santosa2, Jenny Ernawati3

Universitas Brawijaya, Indonesia

E-mail: olivia_cdm21@student.ub.ac.id, herrysantosa@ub.ac.id, jenny_ernawati@ub.ac.id

 

Abstrak

     Penggunaan peta mental memungkinkan seseorang untuk mengeksplorasi identitas daerah atau citra destinasi sebagai upaya peningkatan pariwisata Kota Larantuka. Proses transformasi psikologis dalam bentuk peta mental dituangkan berdasarkan ingatan seseorang terhadap pengalamannya yang kemudian menghasilkan elemen pembentuk citra destinasi. Sebagai bentuk pendekatan semiologi pada arsitektur terhadap citra maka penting dilakukan telaah untuk mengetahui representasi struktur fisik yang diingat ketika menggambar peta mental. Penelitian ini menekankan pada elemen estetika konfigurasi sebagai aspek yang diingat (memorableness) oleh 32 responden. Berdasarkan analisis mean skor pada ketujuh stimuli terhadap 6 variabel estetika konfigurasi, diketahui bahwa responden menggambarkan Gereja Katedral dengan sangat mengingat “Bentuk dan Wujud Bangunan”, Kapela Tuan Ma dengan agak mengingat “Warna”, Kapela Tuan Ana dengan mengingat “Ornamen dan Detail”, Taman Doa Mater Dolorosa dengan agak mengingat “Ornamen dan Detail” serta “Bukaan dan Penerangan”. Sedangkan 3 stimuli lainnya yakni Pekuburan Kota, Taman Kota serta Armida 1 tidak mempertimbangkan elemen estetika konfigurasi yang digunakan dalam penelitian ini untuk diingat ketika menggambarkan peta mentalnya. Hasil analisis faktor juga menunjukkan bahwa “Wujud dan Bentuk Bangunan” menjadi faktor yang mampu menjelaskan 83% dari aspek apa yang paling diingat ketika menggambarkan peta mental serta memiliki hubungan timbal balik atau dapat merangkum keenam variabel yang ada.

 

Kata kunci: Ingatan, Struktur Fisik, Atribut Lingkungan.

 

Abstract

The use of mental maps allows someone to explore destination image as an effort to increase tourism in Larantuka. The process of psychological transformation in the form of a mental map is outlined based on a person's memories of his experiences which then produce elements that form the image of the destination. As a form of a semiological approach to architecture towards image, it is important to study it to find out the representation of the physical structure that is remembered when drawing a mental map. This study emphasizes the aesthetic elements of configuration as an aspect that is remembered (memorableness) by 32 respondents. Based on the analysis of the mean score on the seven stimuli on the 6 variables of configuration aesthetics, it is known that respondents described the Cathedral Church by remembering "Shape and Form of the Building", Tuan Ma's Chaplain somewhat by remembering "Color", Tuan Ana's Chapel by remembering "Ornaments and Details", Mater Dolorosa Prayer Garden somewhat remembers “Ornaments and Details” and “Apertures and Lighting”. Meanwhile, the other 3 stimuli, namely the Town’s Cemetery, Town’s Park and Armida 1, did not consider the aesthetic elements of the configuration used in this study to be remembered when describing their mental maps. The results of the factor analysis also show that "Shape and Shape of the Building" is a factor that is able to explain 83% of what aspects are most remembered when describing a mental map and has a reciprocal relationship or can summarize the six existing variables.

 

Keywords: Memorableness, Physical Structure, Environmental Attributes.

 

Pendahuluan

Kota Larantuka dahulunya merupakan kerajaan katolik di Indonesia yang memiliki tradisi keagamaan Semana Santa yang sudah berlangsung ratusan tahun dan termasuk dalam salah satu jaringan kota pusaka secara nasional, sehingga menjadi bagian dari pemetaan kawasan wisata skala nasional sebagai kota pusaka. Kegiatan ini diselenggarkan pada pekan hari raya Paskah umat Katolik yang rutin diselenggarakan setiap tahun dan diwariskan oleh para imam Katolik Portugis Ordo Dominikan pada masa kolonial dengan mengadopsi unsur- unsur budaya lokal yang sudah ada sebelumnya di Kota Larantuka dan berlangsung selama ratusan tahun. Dapat dikatakan bahwa Sejarah, ritual keagamaan bersamaan dengan lingkungan secara fisik bersama-sama membentuk citra wisata religi di Kota Larantuka.

 

 

Gambar 1. Ilustrasi Kota Larantuka Tahun 1672 dalam Leupe catalogue, Nationaal Archief, Amsterdam

 

 

Gambar 2. Kota Larantuka Saat Ini

 

Berdasarkan catatan sejarah, ritual prosesi mengelilingi Larantuka dilakukan pertama kali sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan menumpas pemberontakan yang terjadi temasuk menghalau penjajahan dari pihak Belanda. Sehingga kegiatan mengelilingi dan mengunjungi yang dilakukan oleh Raja Larantuka kepada masyarakatnya atau bagian wilayah kekuasaannya dimanifestasikan oleh kegiatan pengusungan arca mengelilingi Kota Larantuka. Baik tata cara pelaksanaan maupun ornament yang digunakan hingga kini masih tetap menggunakan tradisi yang sama sejak dilakukan pertama kali. Walaupun berlangsung selama satu pekan, namun inti dari Semana Sancta dimulai pada hari Rabu yang disebut Rabu Trewa, hari Kamis (Kamis Putih), hari Jumat (Jumat Agung), hari Sabtu (Sabtu Santo), dan hari Minggu Paskah sebagai perayaan kebangkitan Yesus Kristus. Pada zaman dulu, selama masa Semana Sancta, umat di Kota Larantuka menghentikan semua rutinitas pekerjaannya sebagai ungkapan perkabungan. Dewasa ini, kebiasaan tersebut hanya berlangsung pada Hari Jumat Agung. Pemerintah beserta seluruh masyarakat Kota Larantuka mulai mempersiapkan diri untuk menyambut seluruh peziarah yang datang dari berbagai daerah untuk mengikuti Semana Sancta atau pekan suci salah satunya yaitu dengan menaruh spanduk-spanduk yang bertuliskan selamat datang kepada seluruh peziarah.

 

Gambar 3. Prosesi Semana Santa

 

Lingkungan Kota Larantuka yang dahulu merupakan kerajaan katolik kian hari mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara fisik yang ikut mempengaruhi identitas kawasan wisata religi yang dimiliki. Hal ini mendorong diperlukannya pengkajian mengenai karakter lingkungan yang berhubungan dengan struktur fisik elemen pembentuk citra destinasi. Hal ini bertujuan untuk melihat kebutuhan lingkungan fisik yang harus dipenuhi untuk memperkuat citra kawasan wisata religi yang dimiliki oleh Kota Larantuka.

 

Metode Penelitian

Prinsip dari penelitian yang digunakan dalam penelitian mengenai Peran Struktur Fisik Atribut Lingkungan dalam Membentuk Citra Destinasi Wisata Religi Kota Larantuka adalah kuantitatif dimana sebelumnya telah dilakukan pengambilan dan analisis data secara kualitatif menggunakan peta mental dan menghasilkan 7 stimuli dari 58 atribut lingkungan yang digambarkan berdasarkan pengalamannya mengikuti Semana Santa di Kota Larantuka.

 

Hasil dan Pembahasan

Keseluruhan 32 kuesioner yang diperoleh dari 32 responden memiliki deskripsi dan karakteristik sampel yakni :

 

Tabel 1.

 Tabulasi Sampel Valid Berdasarkan Jenis Kelamin(n=32)

No.

Jenis Kelamin

Jumlah

%

1.

Laki-Laki

19

59,4

2.

Perempuan

13

40,6

 

Berdasarkan penjabaran tabel di atas diperoleh karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dengan komposisi persentase sampel laki-laki lebih besar dibandingkan dengan persentase sampel berjenis kelamin perempuan. Sedangkan jika dilihat berdasarkan rentangan usia, penjabaran mengenai tabulasi sampel valid berdasarkan usia dapat dilhat melalui tabel di bawah ini.

 

Tabel 2.

Tabulasi Sampel Valid Berdasarkan Usia (n=32)

No.

Kelompok Usia

Jumlah

%

1.

15-24 Tahun

8

25,0

2.

25-34 Tahun

16

50,0

3.

35-44 Tahun

2

6,3

4.

45-54 Tahun

3

9,4

5.

55-64 Tahun

3

9,4

 

Rentang usia dari terdiri dari 5 klasifikasi yaitu terdiri dari rentang usia “15-24 Tahun”, “25-34 Tahun”, “35-44 Tahun”, “45-54 Tahun” dan “55-64 Tahun” yang didominasi oleh responden dengan rentang usia “25-34 Tahun” sebesar 50% dan paling sedikit yaitu rentang usia 35-44 Tahun dengan jumlah 2 orang. Sedangkan domisili atau tempat tinggal dari masing-masing responden dapat dilihat pada penjabaran tabel di bawah ini.

 

Tabel 3.

abulasi Sampel Valid Berdasarkan Domisili (n=32)

No

Domisili

Jumlah

%

1.

Kabupaten Belu

1

3,1

2.

Kabupaten Ende

2

6,3

3.

Kabupaten Lembata

1

3,1

4.

Kabupaten Nagekeo

1

3,1

5.

Kabupaten Sikka

8

25,0

6.

Kabupaten Tabanan

1

3,1

7.

Kota Ambon

1

3,1

8.

Kota Kupang

10

31,3

9.

Kota Malang

1

3,1

10.

Kota Sorong

1

3,1

11.

Kota Surabaya

1

3,1

12.

Kota Tanggerang

1

3,1

13.

Pulau Adonara

3

9,4

 

Adapun responden merupakan wisatawan dengan domisili yang beragam yang didominasi responden yang berdomisili di Kota Kupang, diikuti oleh responden dari Kabupaten Sikka. Sedangkan responden dengan domisili paling jauh dari lokasi penelitian adalah Kota Sorong dan Kota Tanggerang.

 

Tabel 4.

Tabulasi Sampel Valid Berdasarkan Frekuensi Mengikuti Semana Santa (n=32)

Kategori

Jumlah

%

>2 Kali

17

53,1

2 Kali

14

43,8

Setiap Tahun

1

3,1

 

Responden berdasarkan frekuensi mengikuti prosesi Semana Santa terdiri 3 jenis yaitu “setiap tahun”, “lebih dari 2 kali” dan “2 kali”. Berdasarkan macam frekuensi mengikuti Semana Santa tersebut, total 17 responden mengikuti prosesi Semana Santa lebih dari dua kali atau 53% dari keseluruhan sampel.

Mengetahui peran struktur fisik atribut lingkungan dalam membentuk citra destinasi wisata religi kota larantuka yang diwakili oleh 7 stimuli merupakan jawaban terhadap temuan gambaran lingkungan Kota Larantuka yang diungkapkan oleh peta mental. Tantangan pembangunan Kota Larantuka sehingga tetap mempertahankan identitasnya sebagai Kota Wisata Religi akan terjawab dari sisi mekanisme arsitektural- strukur fisik yang merupakan komponen kognitif pembentuk citra destinasi. Struktur fisik yang dimaksud adalah elemen estetika konfigurasi yang akan membawa penelitian ini pada penarikan kesimpulan berupa faktor apa yang berhubungan elemen yang diperhatikan dalam mengingat atribut lingkungan yang kemudian digambarkan dalam peta mental masing-masing respoden.

 

Keabsahan (Validity) dan Keandalan (Reliability)

Untuk mengetahui memastikan bahwa kesalahan pengukuran seminimal mungkin dapat dijaga terlebih dahulu dilakukan uji validitas kuesioner dimana dasar pengambilan keputusannya adalah :

a)    Pengukuran Bivariate Pearson untuk melihat nilai r tabel pada hasil analisis SPSS. Dimana n=32 (responden) maka r tabel = 0,349 sehingga  R hitung > r tabel dinyatakan valid

b)   Pengukuran Product Moment Pearson untuk melihat nilai signifikansi pada hasil analisis SPSS. Dimana nilai sig < 0,05 maka pearson correlation bernilai positif dan merupakan data valid.

Tabel 5.

Hasil Uji Validitas Kuesioner Penelitian

1.                  Variabel

2.                  r hit

3.                  r tabel

4.                  Sig. (2-tailed)

5.                  Ket

6.                  Bentuk dan Wujud Bangunan

7.                  0,912**

8.                  0,349

9.                  0,000

10.              Valid

11.              Skala

12.              0,955**

13.              0,349

14.              0,000

15.              Valid

16.              Material

17.              0,852**

18.              0,349

19.              0,000

20.              Valid

21.              Warna

22.              0,922**

23.              0,349

24.              0,000

25.              Valid

26.              Bukaan dan Penerangan

27.              0,907**

28.              0,349

29.              0,000

30.              Valid

31.              Ornamen dan Detail

32.              0,917**

33.              0,349

34.              0,000

35.              Valid

 

Hasil uji validitas dengan Korelasi Pearson terhadap kuesioner diperoleh nilai r hitung dari 6 item memenuhi syarat yaitu > 0,349 dan nilai sig. <0,05 sehingga 6 item tersebut valid dan dapat dilanjutkan untuk analisis selanjutnya. Selain menguji validitas dari angket, dilakukan pula pengujian reliabilitas yang bertujuan untuk melihat apakah kuisioner tersebut memiliki konsistensi jika pengukuran dilakukan dengan kuesioner tersebut dilakukan secara berulang. Persyaratan dalam melihat reliabilitas kuesioner adalah melihat nilai Cronbach’s Alpha dimana dinyatakan reliabel apabila nilai Cronbach’s Alpha > 0,6.

Tabel 6.

Hasil Uji Reabilitas Kuesioner Penelitian

No

Variabel

Cronbach's Alpha

Ket.

1

Bentuk dan Wujud Bangunan

0,949

Reliabel

2

Skala

0,942

Reliabel

3

Material

0,959

Reliabel

4

Warna

0,948

Reliabel

5

Bukaan dan Penerangan

0,952

Reliabel

6

Ornamen dan Detail

0,948

Reliabel

 

Berdasarkan penjabaran tabel di atas, hasil uji reliabilitas dengan Cronbach Alpha diperoleh nilai Cronbach Alpha memenuhi syarat yaitu > 0,6 sehingga kuesioner penelitian yang digunakan dalam penelitian ini reliabel dan dapat dilanjutkan.

 

Analisis Mean

Gereja Katedral Larantuka (Stimuli 1)

Hasil analisis mean skor (nilai rata-rata) terhadap estetika atribut lingkungan Gereja Katedral Larantuka (Stimuli 1) dapat dilihat pada penjabaran tabel di bawah ini.

 

Tabel 7.

Hasil Analisis Mean Gereja Katedral Larantuka

No

Variabel

Mean

Kategori

1

Bentuk dan Wujud Bangunan

6.25

Sangat Positif

2

Skala

5.72

Positif

3

Material

1.75

Sangat Negatif

4

Warna

5.22

Agak Positif

5

Bukaan dan Penerangan

3.25

Agak Negatif

6

Ornamen dan Detail

5.50

Positif

 

Berdasarkan penjabaran tabel di atas diketahui bahwa responden menggambarkan Gereja Katedral Larantuka pada mental dengan mengingat “Bentuk dan Wujud Bangunan”, “Skala” serta “Ornamen dan Detail” dari atribut lingkungan tersebut. Nilai 6,25 menunjukkan Bentuk dan Wujud Bangunan merupakan elemen estetika konfigurasi yang sangat diingat ketika menggambarkan Gereja Katedral Larantuka dalam peta mental mereka. Adapun elemen. Sedangkan elemen estetika konfigurasi “Material” sangat tidak diperhatikan atau sangat sulit diingat ketika menggambarkan Gereja Katedral Larantuka pada peta mental.

 

Grafik 1. Analisis Mean Gereja Katedral Larantuka

 

Gambar 2.

Bentuk dan Wujud Bangunan, Skala dan Ornamen dan Detail Gereja Katedral Larantuka

 

Kapela Tuan Ma (Stimuli 2)

Hasil mean skor (nilai rata-rata) terhadap estetika atribut lingkungan Kapela Tuan Ma dapat dilihat pada penjabaran tabel di bawah ini.

 

Tabel 8.

Hasil Analisis Mean Kapela Tuan Ma

No

Variabel

Mean

Kategori

1

Bentuk dan Wujud Bangunan

4.25

Netral

2

Skala

4.38

Netral

3

Material

1.66

Sangat Negatif

4

Warna

4.88

Agak Positif

5

Bukaan dan Penerangan

3.41

Agak Negatif

6

Ornamen dan Detail

4.34

Netral

 

Berdasarkan penjabaran tabel di atas diketahui bahwa responden menggambarkan Kapela Tuan Ma pada mental dengan lebih kurang (agak) mengingat “Warna” dari atribut lingkungan tersebut. Sedangkan elemen estetika konfigurasi lainnya pada Kapela Tuan Ma seperti “Bentuk dan Wujud Bangunan”, “Skala” dan “Ornamen dan Detail” merupakan elemen bebas atau tidak terikat dengan alasan responden dalam mengingat atribut lingkungan dan menggambarkannya pada peta mental. Nilai 1,66 pada elemen “Material” menunjukkan sangat tidak diperhatikan atau sangat sulit diingat ketika menggambarkan Kapela Tuan Ma pada peta mental.

 

Grafik 2. Analisis Mean Kapela Tuan Ma

 

 

Gambar 3. Warna, Bentuk dan Wujud Bangunan, Skala dan Ornamen dan Detail Gereja Kapela Tuan Ma

 

Kapela Tuan Ana (Stimuli 3)

Hasil mean skor (nilai rata-rata) terhadap estetika atribut lingkungan Kapela Tuan Ana dapat dilihat pada penjabaran tabel di bawah ini.

 

Tabel 9.

Hasil Analisis Mean Kapela Tuan Ana

No

Variabel

Mean

Kategori

1

Bentuk dan Wujud Bangunan

5.09

Agak Positif

2

Skala

4.34

Netral

3

Material

1.59

Sangat Negatif

4

Warna

5.12

Agak Positif

5

Bukaan dan Penerangan

2.84

Agak Negatif

6

Ornamen dan Detail

5.34

Positif

 

Berdasarkan penjabaran tabel di atas diketahui bahwa responden menggambarkan Kapela Tuan Ana pada mental dengan mengingat “Ornamen dan Detail” dari atribut lingkungan tersebut. Sedangkan elemen estetika konfigurasi lainnya pada Kapela Tuan Ma seperti “Bentuk dan Wujud Bangunan” dan “Warna” merupakan elemen yang lebih kurang (agak) diingat dalam menggambarkan Kapela Tuan Ana pada peta mental. Adapun elemen “Skala” merupakan elemen bebas atau tidak terikat dengan alasan responden dalam mengingat atribut lingkungan dan menggambarkannya pada peta mental. Nilai 1,59 pada elemen “Material” menunjukkan sangat tidak diperhatikan atau sangat sulit diingat ketika menggambarkan Kapela Tuan Ana pada peta mental.

Grafik 3

Analisis Mean Kapela Tuan Ma

 

Gambar 4. Ornamen dan Detail, Bentuk dan Wujud Bangunan dan Warna Kapela Tuan Ana

 

Taman Doa Mater Dolorosa (Stimuli 4)

Hasil analisis mean terhadap atribut lingkungan Taman Doa Mater Dolorosa dapat dilihat pada penjabaran tabel di bawah ini.

 

Tabel 10.

Hasil Analisis Mean Taman Doa Mater Dolorosa

No

Variabel

Mean

Kategori

1

Bentuk dan Wujud Bangunan

4.13

Netral

2

Skala

3.25

Agak Negatif

3

Material

1.75

Sangat Negatif

4

Warna

3.50

Agak Negatif

5

Bukaan dan Penerangan

4.44

Agak Positif

6

Ornamen dan Detail

4.47

Agak Positif

 

Berdasarkan penjabaran tabel di atas diketahui bahwa elemen “Bukaan dan Penerangan” serta “Ornamen dan Detail pada Taman Mater Dolorosa lebih kurang (agak) diperhatikan dan diingat ketika menggambarkan peta mental oleh responden. Adapun elemen “Skala” dan “Warna” merupakan elemen yang lebih kurang (agak) tidak diperhatikan atau sulit diingat ketika menggambarkan atribut lingkungan ini pada peta mental. Sedangkan elemen yang paling tidak diperhatikan atau diingat yakni “Material” Taman Mater Dolorosa.

 

Grafik 4

Analisis Mean Taman Doa Mater Dolorosa

 

Gambar 5.

Bukaan dan Penerangan serta Ornamen dan Detail Taman Mater Dolorosa

 

Pekuburan Kota Larantuka (Stimuli 5)

Hasil analisis mean terhadap atribut lingkungan Pekuburan Kota Larantuka dapat dilihat pada penjabaran tabel di bawah ini.

 

Tabel 11.

Hasil Analisis Mean Pekuburan Kota Larantuka

No

Variabel

Mean

Kategori

1

Bentuk dan Wujud Bangunan

2.16

Negatif

2

Skala

2.25

Negatif

3

Material

1.59

Sangat Negatif

4

Warna

1.69

Sangat Negatif

5

Bukaan dan Penerangan

2.91

Agak Negatif

6

Ornamen dan Detail

1.81

Sangat Negatif

 

Berdasarkan penjabaran tabel di atas dapat diketahui bahwa 6 elemen estetika konfigurasi yang digunakan dalam penelitian ini sulit diingat ketika menggambarkan atribut lingkungan ini. Hal ini dapat diketahui dari skor mean terbesar dari keenam elemen yang berada pada sisi negatif dari garis kontinum penelitian. Dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat elemen lain yang dipertimbangkan atau diingat dalam menggambarkan atribut ini.

 

Grafik 5

Analisis Mean Taman Pekuburan Kota Larantuka

 

Taman Kota Larantuka (Stimuli 6)

Hasil analisis mean terhadap atribut lingkungan Taman Kota Larantuka dapat dilihat pada penjabaran tabel di bawah ini.

 

Tabel 12.

Hasil Analisis Mean Taman Kota Larantuka

No

Variabel

Mean

Kategori

1

Bentuk dan Wujud Bangunan

2.56

Negatif

2

Skala

2.28

Negatif

3

Material

1.56

Sangat Negatif

4

Warna

1.69

Sangat Negatif

5

Bukaan dan Penerangan

3.00

Agak Negatif

6

Ornamen dan Detail

1.78

Sangat Negatif

 

Berdasarkan penjabaran tabel di atas diketahui bahwa 6 elemen estetika konfigurasi yang digunakan dalam penelitian ini sulit diingat ketika menggambarkan Taman Kota Larantuka. Dapat disimpulkan bahwa terdapat elemen lain yang dipertimbangkan atau diingat dalam menggambarkan atribut ini diluar elemen estetika konfigurasi yang digunakan dalam penelitian ini.

Grafik 6

Analisis Mean Taman Kota Kota Larantuka

 

Armida 1 (Stimuli 7)

Hasil analisis mean terhadap atribut lingkungan Armida 1 dapat dilihat pada penjabaran tabel di bawah ini.

 

Tabel 13.

Hasil Analisis Mean Armida 1

No

Variabel

Mean

Kategori

1

Bentuk dan Wujud Bangunan

1.50

Sangat Negatif

2

Skala

1.53

Sangat Negatif

3

Material

1.37

Sangat Negatif

4

Warna

1.34

Sangat Negatif

5

Bukaan dan Penerangan

2.81

Agak Negatif

6

Ornamen dan Detail

1.91

Sangat Negatif

 

Berdasarkan penjabaran tabel di atas diketahui bahwa 6 elemen estetika konfigurasi yang digunakan dalam penelitian ini sulit diingat ketika menggambarkan Armida 1 dalam peta mental responden. Hal ini dapat diketahui dari skor mean terbesar dari keenam elemen yang berada pada sisi negatif dari garis kontinum penelitian. Sehingga kesimpulannya ialah terdapat elemen lain yang dipertimbangkan atau diingat dalam menggambarkan atribut ini diluar elemen estetika konfigurasi yang digunakan dalam penelitian ini.

Grafik 7

Analisis Mean Armida 1

 

 

Analisis Faktor

Berdasarkan syarat-syarat yang harus dipenuhi maka tahapan pertama reduksi variabel berdasarkan Uji KMO dan Bartkett yakni :

 

Tabel 14.

Hasil Uji KMO dan Bartlet

Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy.

.833

Bartlett's Test of Sphericity

Approx. Chi-Square

219.795

Df

15

Sig.

.000

 

Hasil uji KMO dan Bartlett diperoleh nilai Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy (KMO MSA) sebesar 0,833 sehingga memenuhi syarat lebih dari 0,50. Sedangkan nilai Bartlett's Test of Sphericity sebesar 0,000 dan memenuhi syarat kurang dari 0,05 (Sig. < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa kedua syarat uji KMO dan uji Bartlett terpenuhi sehingga dapat dilanjutkan pada tahap selanjutnya yaitu uji syarat analisis faktor measure of sampling adequacy (MSA).

Untuk menguji syarat analisis faktor MSA, digunakan tabel Anti-Image Matrices dimana fungsi tabel ini adalah mengetahui dan menentukan variabel mana saja yang layak dipakai dalam analisis faktor yang dapat dilihat pada penjabaran tabel di bawah ini.

 

Tabel 15.

Measure of sampling Adequacy (MSA) pada Estetika Konfigurasi Atribut Lingkungan

Variabel

Anti-image Correlation

Bentuk dan Wujud Bangunan

.911a

Skala

.815a

Material

.865a

Warna

.801a

Bukaan dan Penerangan

.750a

Ornamen dan Detail

.881a

 

Berdasarkan penjabaran tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa semua variabel Estetika Konfigurasi layak dilakukan analisis faktor. Hal ini disebabkan oleh nilai MSA semua variabel berada di atas 0,50 dengan nilai MSA paling kecil terdapat pada variabel bukaan dan penerangan sebesar 0,750.

Untuk melihat variabel yang mampu menjelaskan faktor terkait aspek yang diperhatikan (diingat) dalam mengidentifikasi atribut lingkungan lewat peta mental yang telah digambarkan, perlu melhat tabel Communalities yang dihasilkan pada analisis faktor. Jika nilai extraction >0,50 maka variabel dapat dipakai untuk menjelaskan faktor. Faktor yang dimaksud adalah aspek yang diperhatikan (diingat) dalam mengidentifikasi atribut lingkungan lewat peta mental yang telah digambarkan.

 

Tabel 16.

Tabel Communalities

Communalities

 

Initial

Extraction

Bentuk dan Wujud Bangunan Atribut Lingkungan Kota Larantuka

1.000

.845

Skala Atribut Lingkungan Kota Larantuka

1.000

.912

Material Atribut Lingkungan Kota Larantuka

1.000

.712

Warna Atribut Lingkungan Kota Larantuka

1.000

.863

Bukaan dan Penerangan Atribut Lingkungan Kota Larantuka

1.000

.808

Ornamen dan Detail Atribut Lingkungan Kota Larantuka

1.000

.848

Extraction Method: Principal Component Analysis.

 

Berdasarkan uraian tabel di atas dapat diketahui bahwa semua variabel estetika konfigurasi mampu menjelaskan aspek yang diperhatikan (diingat) dalam mengidentifikasi atribut lingkungan lewat peta mental yang telah digambarkan.

Langkah selanjutnya adalah melihat jumlah komponen terbentuk dari Tabel Total Variance Explained yang merupakan output analisis yang dihasilkan SPSS untuk menjelaskan nilai dari masing-masing variabel yang dianalisis Bagian Initial Eigenvalues dalam tabel di bawah ini menunjukkan faktor yang terbentuk. Faktor yang terbentuk yang dimaksud adalah variabel, sehingga jika variabel yang digunakan berjumlah 6 maka, penjumlahan Initial Eigenvalues haruslah berjumlah 6. Adapun syarat untuk menjadi sebuah faktor yaitu nilai eigenvalue harus >1 sedangkan Extraction Sums of Squred Loadings menunjukkan variasi atau faktor yang dapat terbentuk.

 

Tabel 17.

Hasil Analisis Faktor

Total Variance Explained

Component

Initial Eigenvalues

Extraction Sums of Squared Loadings

Total

% of Variance

Cumulative %

Total

% of Variance

Cumulative %

1

4.988

83.137

83.137

4.988

83.137

83.137

2

.432

7.207

90.343

 

 

 

3

.273

4.556

94.899

 

 

 

4

.174

2.903

97.802

 

 

 

5

.085

1.420

99.222

 

 

 

6

.047

.778

100.000

 

 

 

Extraction Method: Principal Component Analysis.

 

Berdasarkan deskripsi tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai Initial Eigenvalues:

(4, 988 +0,432+0,273+0,174+0,085+0,047) = 6, sehingga syarat terhadap jumlah nilai Initial Eigenvalues terpenuhi. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa terdapat 1 komponen dengan nilai eigenvalues pada total extraction sums od squared loading lebih dari 1 sebesar 4,988 sehingga diperoleh 1 komponen faktor yang terbentuk dari 6 variabel asal yang diamati. Komponen tersebut menghasilkan keragaman sebesar 83,137 yang menunjukkan bahwa 1 komponen faktor mampu menjelaskan 83,137 persen dari 6 variabel asal yang diamati. Dimana dalam penelitian ini komponen 1 atau elemen estetika konfigurasi “Wujud dan Bentuk Bangunan” menjadi faktor yang mampu menjelaskan 83,13% aspek apa yang paling diperhatikan (diingat) dalam mengidentifikasi atribut lingkungan lewat peta mental yang telah digambarkan. Hal ini juga dijelaskan oleh grafik Scree Plot yang menunjukkan bahwa komponen 2 sampai 6 berada pada area di bawah nilai eigenvalues 1.

 

Grafik 8.

Scree Plot

 

Setelah mengetahui bahwa faktor maksimal yang bisa terbentuk adalah 1 faktor maka, penting mengetahui hubungan (korelasi) 6 elemen estetika konfigurasi dengan faktor yang terbentuk serta mengetahui kuatnya hubungan tersebut yang dapat dilihat pada hasil analisis berikut :

 

Tabel 18

Analisis Korelasi Variabel dengan Faktor yang Terbentuk

 

Component Matrixa

 

Component

1

Bentuk dan Wujud Bangunan

.919

Skala

.955

Material

.844

Warna

.929

Bukaan dan Penerangan

.899

Ornamen dan Detail

.921

Extraction Method: Principal Component Analysis.

a. 1 components extracted.

 

Tabel Component Matrix di atas menunjukkan loading factor (nilai yang menunjukkan korelasi) masing-masing variabel terhadap faktor “Bentuk dan Wujud Bangunan”. Nilai loading factor yang disarankan sebagai penentu komponen faktor disarankan sesuai dengan pendefinisian koefisien korelasi (0,7≤ r < 0,9). Sehingga dapat diketahui bahwa 6 variabel elemen estetika konfigurasi memiliki hubungan timbal balik atau sebab akibat dengan faktor yang terbentuk atau dengan kata lain faktor yang terbentuk dapat dikatakan tepat dalam merangkum keenam variabel yang ada.

Hasil penelitian terhadap peran struktur fisik atribut lingkungan dalam membentuk citra destinasi wisata religi Kota Larantuka yang diwakili oleh 7 stimuli pada 32 responden diperoleh hasil berupa beberapa elemen estetika konfigurasi yang perlu dipertimbangkan untuk menunjang citra wisata religi yang dimiliki oleh Kota Larantuka. Bentuk dan wujud bangunan pada Gereja Katedral Larantuka merupakan elemen estetika konfigurasi yang sangat diingat ketika menggambarkan Gereja Katedral Larantuka dalam peta mental. Kapela Tuan Ma sebagai stimuli kedua digambarkan pada peta mental dengan agak mengingat warna sedangkan ornament dan detail pada Kapela Tuan diingat untuk menggambarnya pada peta mental. Taman Doa Mater Dolorosa yang masuk dalam kategori pemandangan daratan di Kota Larantuka digambarkan dalam peta mental oleh responden dengan agak mengingat bukaan dan penerangan serta ornament dan detailnya. Adapun 2 kategori pemandangan daratan lainnya yakni Taman Kota Larantuka dan Pekuburan Kota Larantuka digambarkan dalam peta mental berdasarkan ingatannya terhadap keenam elemen estetika konfigurasi sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat elemen lain yang dipertimbangkan atau diingat dalam menggambarkan kedua atribut ini diluar elemen estetika konfigurasi yang digunakan. Hal yang sama juga terjadi pada Armida 1 yang merupakan lokasi wisata yang bersifa sakral.

Dari keenam elemen estetika konfigurasi yang terdapat pada ketujuh stimuli, “Wujud dan Bentuk Bangunan” menjadi faktor yang paling menjelaskan aspek apa yang paling diingat dalam menggambarkan atribut lingkungan pada peta mental yang dihasilkan oleh ke 32 responden. Sedangkan 6 variabel elemen estetika konfigurasi lainnya memiliki hubungan timbal balik atau sebab akibat dengan faktor yang terbentuk atau dengan kata lain faktor yang terbentuk dapat dikatakan tepat dalam merangkum keenam variabel yang ada.

 

Kesimpulan

7 stimuli yang diperoleh melalui penggambaran peta mental yang dihasilkan oleh 32 responden dalam penelitian ini dapat dikatakan merupakan atribut lingkungan yang mewakili citra destinasi wisata religi yang dimiliki oleh Kota Larantuka. Berdasarkan analisis faktor terhadap 6 variabel estetika konfigurasi dapat diketahui bahwa Wujud dan Bentuk Bangunan merupakan faktor yang paling diingat ketika 32 responden mengeksplorasi identitas daerah atau citra destinasi wisata religi Kota Larantuka. Hal ini tentu saja menjadi rekomendasi bagi upaya peningkatan pariwisata Kota Larantuka yang memperhatikan terjaga dan terlindunginya bentuk dan wujud bangunan yang menjadi representasi destinasi wisata religi. Sedangkan analisis pada masing-masing stimuli menunjukkan bahwa bentuk dan wujud bangunan Gereja Katedral Larantuk berdasarkan hasil analisis mean sangat diiingat oleh responden. Hal ini menunjukkan pengaruh bentuk dan wujud bangunan Gereja Katedral memiliki pengaruh yang sangat besar dalam proses transformasi psikologis yang dituangkan berdasarkan ingatan responden terhadap citra destinasi wisata religi Kota Larantuka. Adapun elemen estetika atribut lainnya yakni skala, ornament dan detail Gereja Katedral Larantuka, ornament dan detail Kapela Tuan Ana yang juga diingat ketika responden menggambarkan citra destinasi wisata religi Kota Larantuka lewat peta mental. Sedangkan sisa variabel lain pada 7 stimuli yang belum dibahas dalam kesimpulan penelitian ini masuk dalam kategori agak diingat sampai sangat tidak diingat. Hal ini merupakan temuan dalam penelitian khususnya pada Pekuburan Kota Larantuka (stimuli 5), Taman Kota Larantuka (Stimuli 6) dan Armida 1 (stimuli 7) dimana tidak ditemukannya peran struktur fisik dalam membentuk citra destinasi wisata religi Kota Larantuka. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat elemen lain yang dipertimbangkan atau diingat dalam menggambarkan atribut ini diluar elemen estetika konfigurasi yang digunakan dalam penelitian ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Ceballos, L. M., RojasDeFrancisco, L., & Osorio, J. C. M. (2020). The role of a fashion spotlight event in a process of city image reconstruction. Journal of Destination Marketing & Management, 17, 100464.

 

Ching, F. D. K. (2008). Arsitektur: Bentuk Ruang dan Tatanan Edisi Ketiga. Hanggan S, penerjemah. Jakarta (ID): Erlangga. Terjemahan dari: John Wiley & Son, lnc.

 

Du Bois, P. B., Laguionie, P., Boust, D., Korsakissok, I., Didier, D., & Fiévet, B. (2012). Estimation of marine source-term following Fukushima Dai-ichi accident. Journal of Environmental Radioactivity, 114, 2–9.

 

Ernawati, J., & Moore, G. T. (2014). Tourists’ and residents’ impressions of a heritage tourism site: The case of Kampong Taman Sari, Indonesia. Archnet-IJAR, 8(3), 181–194.

 

Filomena, G., Verstegen, J. A., & Manley, E. (2019). A computational approach to ‘The Image of the City.’ Cities, 89(August 2018), 14–25.

 

Gilboa, S., Jaffe, E. D., Vianelli, D., Pastore, A., & Herstein, R. (2015). A summated rating scale for measuring city image. Cities, 44, 50–59.

 

Griffin, K., & Raj, R. (2018). The importance of religious tourism and pilgrimage: reflecting on definitions, motives and data. The International Journal of Religious Tourism and Pilgrimage, 5(3), 2–9.

 

Lee, M. Y., Hitchcock, M., & Lei, J. W. (2018). Mental mapping and heritage visitors’ spatial perceptions. Journal of Heritage Tourism, 13(4), 305–319.

 

Li, X. (2015). Destination Image Perception of Tourists to Guangzhou—Based on Content Analysis of Online Travels. Journal of Service Science and Management, 08(05), 662–672.

 

Lynch, K. (1960). The Image of The City. In Lynch K (Vol. 11).

 

Meenar, M., Afzalan, N., & Hajrasouliha, A. (2019). Analyzing Lynch’s City Imageability in the Digital Age. Journal of Planning Education and Research.

 

Meenar, M., Afzalan, N., & Hajrasouliha, A. (2022). Analyzing Lynch’s city imageability in the digital age. Journal of Planning Education and Research, 42(4), 611–623.

 

Parsaee, M., Parva, M., & Karimi, B. (2015). Space and place concepts analysis based on semiology approach in residential architecture. HBRC Journal, 11(3), 368–383.

 

Roldan, S. M. (2017). Object recognition in mental representations: Directions for exploring diagnostic features through visual mental imagery. Frontiers in Psychology, 8(MAY), 1–15.

Tan, L. K., & Ujang, N. (2012). The application of mental mapping technique in identifying the legible elements within historical district of Kuala Lumpur city centre. ALAM CIPTA, International Journal of Sustainable Tropical Design Research and Practice, 5(1).

 

Taylor, Z. (2018). Aesthetic Design Thinking Model for Urban Environments : A Survey Based on A Review of Literature. URBAN DESIGN International, 23(1), 64–65.

\

Vitman-Schorr, A., & Ayalon, L. (2020). Older adults’ mental maps of their spatial environment: Exploring differences in attachment to the environment between participants in adult day care centers in rural and urban environments. Journal of Housing and the Built Environment, 35(4), 1037–1054.

 

Copyright holder:

Alisiananda Dewi Nurani, Syamsul Sodiq, Diding Wahyudin (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: