­­­Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN: 2548-1398

Vol. 6, No. 9, September 2021

 

KEPEMIMPINAN PROFETIK BUPATI SLEMAN SAAT PANDEMI COVID-19

 

Heru Setiyaka, Hadi Suyono, Ahmad Muhammad Diponegoro, Khoiruddin Bashori

Magister Psikologi, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Indonesia

Email: hes.langitbumi@gmail.com, hadi.suyono@psy.uad.ac.id, tugaspa@gmail.com, bkhoiruddin@yahoo.com

 

Abstrak

Penanganan musibah di berbagai daerah, salah satunya di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta memerlukan pengelolaan manajemen kepemimpinan yang tarbaik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepemimpinan profetik yang dijalankan Ketua Pengarah Satgas Penanganan Covid-19, Drs H. Sri Purnomo M.Si, serta mengetahui kendala penanganannya. Metodologi yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yang memanfaatkan sebuah studi kasus (case study). Istilah profetik dikenalkan melalui gagasannya mengenai pentingnya ilmu sosial transformatif yang disebut ilmu sosial profetik. Penelitian menunjukkan adanya empat pilar kepemimpinan yaitu sidiq, amanah, fathonah, dan tabligh  yang dapat dijadikan penilaian pada kinerja kepemimpinan seorang pemimpin daerah. Hasilnya, sebagian pilar kepemimpinan sudah optimal dijalankan namun sebagian lainnya kurang efektif. Kekurangfektifan disebabkan dua hal; Satu, kepala daerah merupakan manusia biasa yang sudah pasti ada kekurangan. Kedua, dalam pelaksanaan tugasnya, kepala daerah dibatasi oleh peraturan perundang-undangan sehingga pilar kepemimpinan profetik tidak dapat dieksplore sedalam mungkin.

 

Kata Kunci: kepemimpinan profetik; bupati sleman; pandemi covid-19.

 

Abstract

Handling disasters in various regions, one of which is in the Sleman Regency, Yogyakarta Special Region, requires good leadership management. The purpose of this study was to determine the prophetic leadership carried out by the Head of the Covid-19 Handling Task Force, who is also the Regent, Drs H. Sri Purnomo M.Si, and to find out the obstacles in its handling. The methodology used is descriptive qualitative, using a case study. The term prophetic was introduced by introducing ​​the importance of a transformative social science called prophetic social science. Research shows that there are four pillars of leadership, namely Sidiq, Amanah, Fathonah, and Tabligh, which can be used to assess the leadership performance of a regional leader. As a result, some of the leading pillars have been implemented optimally, but others are less effective. The ineffectiveness is due to two things; One, the regional head is an ordinary human lacking. Second, in carrying out their duties, regional heads are limited by statutory regulations so that the pillars of prophetic leadership cannot be explored as deeply as possible.

 

Keywords: prophetic leadership; regent of sleman; pandemic covid-19.

 

Received: 2021-08-20; Accepted: 2021-09-05; Published: 2021-09-20

 

Pendahuluan

Upaya pemimpin daerah sebagai bentuk penerapan prinsip kepemimpinan yang baik atau good governance (Widjajanti & Sugiyanto, 2017). Good governance dapat dijalankan dengan berdasar pada lima hal, yaitu transparency, responsibility, accountability, participation, dan responsiveness (Tim Editor PSI UII (Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia, 2016). Namun apakah sama antara good governance dengan kepemimpinan profetik? Saat kepemimpinan profetik menonjolkan kemampuan mengendalikan diri dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan dengan tulus sebagaimana dilakukan para nabi.

Kemampuan mengendalikan diri sebagaimana dilaksanakan para Nabi mempunyai arti bahwa kemampuan tersebut diperjuangkan melalui kekuatan pencerahan jiwa dan pembersihan ruhani. Sebelum mempengaruhi orang lain, pemimpin dalam kepemimpinan profetik telah mampu mempengaruhi dan mengatur dirinya. Kekuatan pencerahan jiwa mengandung arti orang yang mempengaruhi berarti sudah atau sedang mempraktekkan apa yang dipengaruhkan sebagai wujud dari jiwanya yang telah tercerahkan dengan  proses mempengaruhi dijalankan dengan keteladanan atau disebut sebagai “lead by example” (Budiharto & Himam, 2006).

Menurut (Widayat, 2014) kepemimpinan profetik merupakan kepemimpinan efektif yang menuntut untuk menempatkan masalah secara obyektif atau pada tempatnya. Ini diperjelas dalam konstruk kepemimpinan profetik yang terdiri pada nurani dan kebenaran (conscience centred) sebagai istilah kunci aspek sidiq, profesional, dan komitmen (highly committed) sebagai istilah kunci aspek amanah, keterampilan komunikasi (communication skills) sebagai istilah kunci aspek tabligh, dan mampu mengatasi masalah (problem solver) sebagai istilah kunci aspek fathonah (Budiharto & Himam, 2006).  

Peneliti ingin memperdalam kepemimpinan profetik dari Ketua Pengarah Satgas Penanganan yaitu Sri Purnomo yang mampu menghadirkan kepemimpinan profetik dengan melibatkan langsung masyarakat dan sadar bahaya dengan metodologi studi kasus karena hanya satu fokus pada kepemimpinan seseorang (Dewi, 2019). Bagaimana kepemimpinan profetik dari Bupati dalam memimpin Satuan Gugus Tugas dan efektivitasnya dalam mencegah dan menangani musibah yang berdampak multi dimensi kehidupan?

 

Metode Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakter kepemimpinan profetik kepala daerah atau bupati yang memimpin wilayah kekuasaannya. Penelitian yang dipilih adalah penelitian kualitatif deskriptif (Moleong, 2013). Penelitian kualitatif deskriptif adalah berupa penelitian dengan metode atau pendekatan studi kasus (casestudy) terhadap Bupati Drs H. Sri Purnomo M.Si. Peneliti mengeksplorasi kepemimpinan dengan memusatkan diri secara intensif pada satu obyek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu kasus. Data studi kasus mengenai kepemimpinan diperoleh dari semua pihak yang bersangkutan atau dikumpulkan dari berbagai sumber (Sugiyono, 2017).

Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berfokus pada aksentuasi terhadap eksplorasi pemaknaan individu atau kelompok terhadap permasalahan sosial atau kemanusiaan (Moustakas, 1994); (Willig, 2013); (Cresswell, 2017). Sedangkan (Sugiyono, 2013) menyatakan penelitian kualitatif adalah merupakan pendekatan yang berfungsi untuk menemukan dan memahami fenomena sentral.

Studi kasus yang baik harus dilakukan secara langsung dalam kehidupan sebenarnya dari kasus yang diselidiki. Data studi kasus dapat diperoleh tidak saja dari kasus yang diteliti, tetapi, juga dapat diperoleh dari semua pihak yang mengetahui dan mengenal kasus tersebut dengan baik. Data dalam studi kasus dapat diperoleh dari berbagai sumber, namun terbatas dalam kasus yang akan diteliti (Nawawi, 2007). Secara ringkas, yang membedakan metode studi kasus dengan metode penelitian kualitatif lainnya adalah kedalaman analisisnya pada kasus yang lebih spesifik (baik kejadian maupun fenomena tertentu). Data penelitian diperoleh dari studi kepustakaan serta wawancara.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2020 sampai Januari 2021. Peneliti memulai dengan mengumpulkan bahan-bahan mengenai kepemimpinan Sri Purnomo (subyek primer) dari media dan mengikuti kegiataan berbarengan dengan tugas liputan. Pada waktu tersebut, peneliti melakukan wawancara tertulis, dikarenakan Bupati Sri Purnomo terpapar virus dan mengharuskannya melakukan isolasi mandiri di rumah dinasnya. Proses pengambilan data yang dilakukan peneliti melalui wawancara semi-terstruktur dengan kelima subjek yang memenuhi kriteria penelitian, dirangkum dalam tabel berikut:

 

Tabel 1

Proses Pengambilan Data

Tempat

Subjek

Metode

Tujuan

Wawancara di Rumah Dinas Bupati Sleman.

Bupati Sleman

Sri Purnomo

Wawancara telepon dan wawancara tertulis.

Wawancara berbarengan dengan liputan.

Melihat pola kepemimpinan profetik Bupati Sri Purnomo

Rumah Ari Wibowo di Berbah

Ari Wibowo

Wawancara telepon dan wawancara tertulis

Mengekplorasi mengenai kepemimpinan profetik Bupati Sri Purnomo

Rumah Darus di Kadisobo, Trimulyo, Sleman

Darus

Wawancara telepon dan wawancara tertulis

Mengekplorasi mengenai kepemimpinan profetik Bupati Sri Purnomo

Rumah Ruling Yulianto di Sedayu, Bantul.

Ruling Yulianto

Wawancara telepon dan wawancara tertulis.

 

Mengekplorasi kepemimpinan profetik Bupati Sri Purnomo

Rumah Agus Singodikaran

(Signifikan Others)

Agus Singodikaran

Wawancara tertulis

Mengekplorasi kepemimpinan profetik Bupati Sri Purnomo

 

Hasil dan Pembahasan

Pengertian profetik identik dengan seseeorang yang memiliki sifat atau ciri layaknya seorang nabi atau dapat orang diperkirakan diprediksikan memiliki sifat seperti seorang nabi (Yasin, 2020). Adapun menurut (Fadhli, 2019) kata profetik berasal dari bahasa Inggris prophet yang berarti nabi atau ramalan. Karena penggunaanya yang sebagai kata sifat maka kata prophet tersebut menjadi kata prophetic atau dalam bahasa indonsesia mejadi profetik yang berarti kenabian. Profetik itu merujuk pada suatu sifat kenabian. Berdasarkan penjabaran kedua istilah tersebut, maka menurut Widayat, kepemimpinan profetik adalah kemampuan mengendalikan diri dan mempengaruhi orang lain dengan tulus untuk mencapai tujuan bersama sebagaimana dilakukan oleh para nabi, dengan pencapaian kepemimpinan berdasarkan empat macam yakni, sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah (Widayat, 2014).

Peneliti dalam hal ini meninjau empat aspek kepemimpinan profetik dalam diri Bupati, yaitu: Pertama, Siddiq, artinya adalah jujur, berkata benar. Bupati terus berusaha untuk jujur dan berkata benar, terkait dengan kondisi penyebaran virus. Sebagai pemimpin dan Ketua Pengarah Satgas Penanganan, setiap hari kondisi penyebaran virus selalu dapat diketahui dari situs yang dibuat untuk mengabarkan dan memperbarui informasi seputar virus dan penanganannya. Bahkan, saat dirinya terpapar virus, Sri Purnomo mengungkapkan dan tidak menyembunyikan. Ada pesan di balik itu, yakni,

“Kita semua mendengar, bahkan bupati mengumumkan secara terbuka, dapat dillihat bahwa bupati jujur dan transparan. Ini dapat dipakai sebagai informasi kepada masyarkaat, bahwa vaksin bukan obat. Orang yang sudah divaksin, harus tetap menerapkan prokes. Karena vaksin bukan tidak hanya sekali, tetapi dua kali. Sudah divaksin, jangan mengabaikan Protokol Kesehatan atau prokes” (Ari Wibowo).

Ini diperkuat oleh jawaban dari Darus: “Bupati sangat terbuka, saat kena Covid-19, beliau jujur dan terbuka, mengakui kena Covid-19. Bupati istilahnya menjaga isolasi mandiri, tetap memberi himbauan bagi yang kena Covid-19 agar selalu semangat, tidak nglokro, tetap semangat biar kuat, imun kuat, cepet sehat, dan selalu berdoa untuk kesembuhannya. Itu dari sisi Kesehatan. Sedangkan secara religious, (mengajak) selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.” (Darus)

Kedua, Amanah, artinya adalah dapat dipercaya, menjalankan sebaik mungkin apa yang diamanatkan atau dipercayakan kepadanya. Kepemimpinan Bupati selama 10 tahun, dan sebelumnya juga menjabat wakil bupati dan Pjs Bupati menandakan kepemimpinannya sangat baik dan dipercaya masyarakat. Dua kali berganti wakil bupati, tetapi tetap saja Sri Purnomo mampu mengalahkan lawan-lawannya saat Pilkada.

“Suatu hari, saya ketemu intel Kodim. Dia bilang, Mas Ruling, beberapa kali “mengawasi” bupati, selain SP juga bupati bupati sebelumnya. Khusus SP, ceritanya, tak totke neng endi endi, yo metu, lha kok keluarnya ke masjid masjid. SP dari sisi agama dekat dia yang diyakini, yaitu Islam. Istilahnya, blusukan ke masjid-masjid yang sepi. Tiwas diinteli, tidak ke mal atau café, justru ke masjid yang terpencil, jauh dari kota. Kalau hidup yang saya alami, pernah di sekda, kantornya berdekatan. Pulang jam 5 atau 6, tidak hanya ngajak sholat, selalu diingatkan, mas sudah sholat belum? Soal empat pilar dalam kepemimpinan, saat terkena Covid-19, dia jujur. Bupati menyampaikan kebenaran, sudah difaksin, sudah mengumumkan bahwa kena virus Corona. Soal, amanah, SP dua periode dipercaya, ya berarti Amanah. Jujur, ya SP menyampaikan bahwa sudah terpapar,” (Ruling Yulianto). Kepemimpinan Amanah juga didukung oleh pernyataan: “Selama 10 tahun memimpin, Bapak Bupati berusaha bertanggungjawab dan memberikan pelayanan tidak membeda-bedakan. Termasuk untuk Covid-19 ini, bupati tetap bekerja. Saat ini saja kena covid, sampai isolasi mandiri tetap memberikan instruksi pada bawahannya.”(Darus)

Ketiga, Fathanah, artinya adalah cerdas atau pandai. Bupati juga dikenal memiliki strategi dalam menghadapi penyebaran Covid-19. Terhadap satgas yang ada di tingkat kabupaten, kapenewon, Bupati memberikan apresiasi dan memberi semangat yang kuat. Bupati tahu, bahwa satgas, di tingkat kabupaten, kapanewon, hingga tingkat desa, dusun, bahkan RT/RW, menjadi ujung tombak dari upaya melawan penyebaran Covid-19 ini. Ini dapat dilihat dari: “Desa diinstruksikan membuat satgas di tingkat kalurahan atau desa. Satgas melibatkan unsur bidan desa, relawan relawan di desa, juga ada dari babin kamtipnas, perangkat desa terlihat dalam satgas tersebut.” (Ari Wibowo)

Juga diungkapkan sebagai berikut: “Untuk kabupaten Sleman, agar pandemi tidak berkembang atau lebih banyak korban. Pemerintah membuat satgas dari kabupaten, kecamatan, hingga desa/kelurahan. Semua bagian dibentuk semacam satgas untuk penanggunalangan covid, dan ini ada yang sampai desa, bahkan ada yang sampai tingkat dusun. Di beberapa desa tertentu, ada yang sampai RT/RW. Menariknya, bagi daerah atau desa yang kena, masing-masing anggota masyarakat bahu-membahu atau saling bekerja sama memberi bantuan.” (Darus). Strategi bupati juga menerapkan kearifan lokal yang cukup efektif. Masyarakat memberi bantuan dan melindungi saudaranya yang terkena virus dan harus mandiri. Pemerintah daerah tidak terlalu berat dari sisi anggaran yang disisihkan guna menangani anggota masyarakat yang terkena virus: “(Sesama anggota masyarakat) saling memberi bantuan, ada yang membantu dalam bentuk beras, ada yang membantu uang, ya uang, fleksible. Mereka yang jadi penderita covid, tidak perlu khawatir, saat isolasi mandiri, dan masih dapat bertahan.(berkat bantuan tersebut). Pola ini sampai desa dan dusun. Bahkan, awal-awal kejadian, (Pemerintah Kabupaten) menyisihkan anggaran untuk penanggulangan Covid-19 sampai desa.” (Darus). Kepada para satgas dan relawan, termasuk para tenaga kesehatan, Bupati menyampaikan apresiasi dan penghargaannya. “Satgas penilaiannya bagus, karena satgas melakiukan pendekatan secara persuasif. Memberi arahan, menghimbau, di tempat lain ada kekerasaan, di Sleman tidak ada. Persuasif, ajakan berdoa pula, jadi tanggapan masyarakat juga bagus. Ajakan menjaga jarak dan lain-lain, masyarakat mulai menyadari, dan mulai memakai prokes. Mereka juga menyadari bahwa, tempat makan, restoran, mall, ada tempat cuci tangan, menyediakan hand sanitizer, alat pengukur suhu badan juga disiapkan selalu.” (Darus). Dukungan pernyataan ini juga datang dari Ari Wibowo: “Iya, di bagian data, menjelang idul Fitri, mengawasi pendatang/ pemudik, sebelum masuk harus membawa surat keterangan bebas atau sudah tes terlebih dahulu. Yang non reaktif, di izinkan. Bupati mendukung semua satgas, biasanya dirapat dirakorpim, dan selalu mengingatkan akan Covid-19, agar semaksimal mungkin penyebaran cobid di wilayah selaman. Di level pimpinan seperti itu,” (Ari Wibowo).

Keempat, Tabligh, artinya adalah menyampaikan. Sifat Tabligh ini wajib dimiliki seorang Rasul, sebab yang membedakannya dari nabi adalah kewajibannya untuk menyampaikan firman Allah yang diturunkan kepada umatnya. Tentu saja, dalam konteks kepemimpinan sekarang tidak bersifat keagamaan (menyampaikan Wahyu), namun lebih pada bagaimana ini bersikap dan bertindak sesuai dengan agama Islam. Bupati Sri Purnomo beragama Islam saat konteks kepemimpinannya, dia bertindak sesuai dengan agama yang dianut. Seperti mengingatkan pada anak buahnya untuk sholat saat waktunya sholat. “Kalau hidup yang saya alami, pernah di sekda, kantornya berdekatan. Pulang jam 5 atau 6, tidak hanya ngajak sholat, selalu diingatkan, mas sudah sholat belum?” (Ruling Yulianto). Dalam konteks luas lagi, dapat jadi Sri Purnomo mempraktekkan keagamaannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat membuat kebijakan. Bupati mengajak untuk selalu berdoa, mendoakan ASN yang tengah positif terpapar Covid-19 dan tidak menghilangkan haknya (atas gaji dan TPP), saat harus isolasi mandiri. “ASN yang mendapatkan Covid-19 diberi kesempatan untuk isolasi mandiri dan tidak bekerja dulu, agar cepat sembuh. Juga Bupati selalu memberi himbauan agar semangat, berdoa, dan meningkatkan imun. Ada yang menarik, untuk yang isolasi mandiri atau yang terkena corona, sebagai contoh nyata, ASN TPP-nya tidak dipotong, dan tetap jalan. Buat ASN, bupati  erhatiannya full. Mereka tetap diberi perhatian agar pelayanan pada masyarakt tidak terganggu. Juga pasti ada ajakan untuk selalu berdoa.” (Darus). Juga keputusan untuk tidak melarang tempat ibadah, bagian dari upaya Bupati “meniru” nabi Muhammad SAW. “Selama ini, himbauan tetap ada, diimbau, disarankan, ada kegiatan keagamaan, dapat berjalan tetapi dengan prokes yang ketat. Tetap dijalankan. Bupati minta, bener-bener menjaga jangan sampai kena (Covid-19).” (Darus). Ini ditambah pernyataan Ruling Yulianto: “SP (Sri Purnomo) kadang ke masjid-masjid yang terpencil dan jauh, seperti di Moyudan, di Minggir, jauh ke sana. Saat ke masjid. SP (Sri Purnomo) biasanya selalu sholat di depan, shaf di depan. Saat sholat wajib selalu dilakukan di Masjid Agung dan selalu di belakang imam. Bupati selalu mengisi pengajian. Dulu sebagai pengurus Muhammadiyah (Sleman) sampai sekarang masih selalu mengisi. Bupati sibuk, masih sering menyempatkan.” (Ruling Yulianto).

Pernyataan tokoh masyarakat Desa Margorejo, Tempel, Sleman, Agus Singodikaran, memperlihatkan bahwa kebijakan dari pemerintah tidak sepenuhnya diterima secara penuh. Agus melihat ada beberapa hal yang tidak dijelaskan secara komplit dan terbuka. Seperti soal bantuan dan penanganan Covid-19 secara umum, Agus merasakan bahwa penduduk lebih banyak bergotong royong sendiri.

“Kepastian soal Covid-19 tidak ada yang tahu. Hanya, semua orang merasakan efeknya. Khusus korban, banyak di tempat lain ada yang kena. Namun, di dusun kami (Kadisono, Margorejo, Tempel, Sleman), masih nol, belum ada yang terpapar. Memang, kami mendengar di desa lain, banyak yang kena, namun secara pasti seperti apa, kami kurang mengerti. Soal penanganan Covid-19, sejauh ini tidak sampai ke desa. Karena, Desa Margorejo sudah memiliki tim satgas dan relawan sendiri. Bahkan, tidak hanya sebatas satgas saja. Karena semuanya saling membantu dan antarwarga memiliki hubungannya erat saling mengingatkan.” (Agus Singodikaran).

Terhadap kebijakan lain, seperti lockdown atau tidak, Agus juga bernada sama, cenderung penduduk lebih mandiri dan memilih mengatur sendiri. “Lockdown atau tidak, kita tidak tahu. Sebagai rakyat, tentu kami hanya mengikuti instruksi dari pemerintah. Khusus di kampung kami, awal Corona masuk Yogyakarta, kami sudah melakukan lockdown. Saat masuk ke sini (lokasi rumah kami), ada bekas bambu dan papan yang dipakai untuk lockdown di kampung ini kan?,” (Agus Singodikaran). Agus tidak memungkiri, bantuan dari pemerintah tetap tersalurkan, seperti bantuan jaminan sosial: “Memang benar, ada bantuan atau jaminan social. Bagi masyarakat ini sangat membantu, ada yang mendapatkan Rp 300 ribu seperti PKH, KMS, dan masyarakat rentan lain, itu apa cukup selama satu bulan? Atau Rp 600 ribulah, untuk bantuan selama tiga bulan. Pertanyaannya, sampai kapan bantuan itu? Bagi masyarakat di desa, lumayan mengganti hilangnya pendapatan selama ini, meski tidak menutup. Semua kebijakan memang harus memperhatikan kepentingan masyarakat. Namun, pemerintah juga harus jujur, sampai kapan kondisi ini, sampai kapan bantuan itu akan terus dilakukan. Sampai kapan, pokoke pertanyaannya itu?” (Agus Singodikaran). Agus juga mengapresiasi Langkah bupati yang cepat merespons kondisi akibat pandemi:

“Kami melihat Bupati Sleman cepat tanggap memberikan tindakan pada dua sektor, ekonomi dan kesehatan. Demikian pada bidang Pendidikan, adanya internet masuk kampung, sebagai bagian dari bantuan yang diberikan pemerintah desa. Memang, mulai bulan depan (Februari 2021), kami diminta iuran sebesar Rp 100 ribu. Tetapi bagi keluarga yang memiliki anak sekolah, beban itu sebanding dengan manfaat yang diberikan. Padalayanan pendidikan, contoh bidang belajar mengajar, sudah lama anak-anak tidak mengikuti Pendidikan secara tatap muka. Kondisi yang belum mengijinkan membuat begitu,” (Agus Singodikaran).

Dari pembahasan tersebut dapat ditarik analisis bahwa secara umum, kepemimpinan Bupati terbukti memang masuk dalam kategori sebagai kepemimpinan profetik. Aspek kepemimpinan profetik yakni empat pilar sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah dapat dijumpai dalam diri Sri Purnomo, namun harus diakui bahwa tidak keseluruhan aspek itu selalu muncul saat memimpin.

Ada dua alasan, yaitu pertama, Sri Purnomo merupakan manusia biasa dan memiliki kekurangan-kekurangan dalam dirinya. Sedangkan alasan kedua adalah Sri Purnomo dibatasi oleh peraturan perundang-undangan dan aturan yang berlaku sebagai eksekutif. Indonesia dengan Trias Politica, yakni eksekutif (pelaksana undang-undang), legislatif (pembuat undang-undang), dan yudikatif atau kehakiman (pengawas pelaksanaan undang-undang) (Umboh, 2020). Sebagai seorang rasul, Muhammad SAW menjalankan tiga hal tersebut, yaitu sebagai membuat undang-undangan, pelaksana undang-undangan dan mengawasi pelaksanaannya. Keterbatasan seperti itu menjadikan Sri Purnomo dan kepala daerah lainnya di Indonesia tidak akan pernah mampu melaksanakan kepemimpinan profetif, sehingga usaha menjalankan sebagian saja dari empat aspek kepemimpinan profetik saja sudah sangat bagus.

Berdasarkan sudut pandang agama Islam, kepemimpinan itu mempunyai dua tugas atau fungsi. Tugas pertama, adalah riayatud dien, artinya menjaga dan mengembangkan agama. Adapun tugas kedua, disebut riayatud daulah yang berarti menjaga negara dan mengembangkan kesejahteraan rakyat dan negara. Kepemimpinan profetik yang baik adalah yang mampu bertindak dalam tiga kriteria, yaitu: (1) yang terbaik (khair, the best), yaitu memiliki semangat amar ma’ruf yang dapat diartikan sebagai humanisasi dan emansispasi, serta semangat nahi mungkar yang dapat diterjemahkan sebagai transformasi dengan dibingkai oleh nilai-nilai transcendental. (2) Moderat, yaitu berada di tengah-tengah, proposional, berimbang secara adil. Karakter ini akan melahirkan terciptanya keadilan sosial, baik di bidang hukum, ekonomi, maupun politik. (3) Mempunyai kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi dengan cara menebarkan kebaikan (konstruktif) serta seoptimal mungkin mencegah kerusakan (Ruchanah, 2015).

Tiga syarat itulah yang diupayakan oleh Bupati Sri Purnomo di tengah krisis Covid-19 yang melanda dengan menduduki rangking pertama jumlah korban penderita di Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Kesimpulan

Beberapa aspek kepemimpinan diidentifikasi sebagai aspek profetik, seperti siddiq yang berarti jujur atau berkata benar, kemudian Amanah atau dapat dipercaya, ia dapat menjalankan sebaik mungkin apa yang diamanatkan atau dipercayakan kepadanya. Dua aspek kepemimpinan lainnya adalah fathanah yang artinya cerdas atau pandai, serta Tabligh artinya adalah menyampaikan menyampaikan firman Allah yang diturunkan kepada umatnya. Kini, pengertian Tabligh mengalami perubahan makna lebih luas lagi, yaitu mampu menterjemahkan ajaran agama Islam dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kepemimpinan profetik adalah kemampuan mengendalikan diri dan mempengaruhi orang lain dengan tulus untuk mencapai tujuan bersama sebagaimana dilakukan oleh para nabi. Dimensi kepemimpinan profetik terdiri dari empat aspek, yaitu sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah.

 


 

BIBLIOGRAFI

 

Budiharto, Sus, & Himam, Fathul. (2006). Konstruk teoritis dan pengukuran kepemimpinan profetik. Jurnal Psikologi, 33(2), 133–145.Google Scholar

 

Cresswell, J. W. (2017). Research Design : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed (Edisi Ketiga). Yogyakarta: Pustaka Belajar. Google Scholar

 

Dewi, Radix Prima. (2019). Studi Kasus-Metode Penelitian Kualitatif. Google Scholar

 

Fadhli, Muhammad. (2019). Internalisasi Nilai-Nilai Kepemimpinan Profetik Dalam Lembaga Pendidikan Islam. At-Ta’dib: Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam, 116–127. Google Scholar

 

Moleong, Lexy J. (2013). Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya. Mosal. Google Scholar

 

Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological research methods. Sage publications. Google Scholar

 

Nawawi, Hadari. (2007). Metode Penelitian di Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Google Scholar

 

Ruchanah, Siti. (2015). Kepemimpinan pendidikan islam dalam perspektif teologis. Cendekia: Jurnal Kependidikan Dan Kemasyarakatan, 13(1), 123–138. Google Scholar

 

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Google Scholar

 

Sugiyono, Cara Mudah Menyusun. (2013). Skripsi. Tesis, dan Disertasi. Penerbit Alfabeta. Bandung. Google Scholar

 

Tim Editor PSI UII (Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia). (2016). Studi Kepemimpinan Profetik. Yogyakarta: Kaukaba Dipantara.

 

Umboh, Christiani Junita. (2020). Penerapan Konsep Trias Politica Dalam Sistem Pemerintahan Republik Indonesia. Lex Administratum, 8(1). Google Scholar

 

Widayat, Prabowo Adi. (2014). Kepemimpinan Profetik. AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam, 19(1), 18–34. Google Scholar

 

Widjajanti, Kesi, & Sugiyanto, Eviatiwi Kusumaningtyas. (2017). Gaya Kepemimpinan dan Good Governance Sebagai Upaya Peningkatan Excellent Service Dan Kepercayaan Masyarakat (Studi Kasus Dinperindag Jawa Tengah). Jurnal Dinamika Sosial Budaya, 17(2), 270–284. Google Scholar

 

Willig, Carla. (2013). Introducing qualitative research in psychology. McGraw-hill education (UK). Google Scholar

 

Yasin, Mahmuddin. (2020). The Role of Prophetic Leadership on Workplace Spirituality At sufism-based Islamic Boarding School. Journal of Business and Behavioural Entrepreneurship, 4(1), 122–129. Google Scholar

 

Copyright holder:

Heru Setiyaka, Hadi Suyono, Ahmad Muhammad Diponegoro, Khoiruddin Bashori (2021)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: