Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN : 2548-1398

Vol. 6, No. 6, Juni 2021

 

PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR KONTEMPORER PADA PENATAAN CAGAR BUDAYA SITU TASIKARDI

 

Andiyan, Eddy Budianto

Universitas Faletehan Serang, Banten, Indonesia

Email: andiyanarch@gmail.com, edi_planduk@yahoo.com

 

Abstract

One of the most basic needs in water resource development and management activities is the availability of water. Water is essential for life and is the main factor that is nee. The purpose of this research is to maintain the availability of air, and the local government seeks to rehabilitate irrigation, among others, by handling the Situ. The research method in which efforts to improve conditions along the area, the lake management is one of the alternative solutions to restrain surface runoff during the rainy season and increase water availability.Water in the dry season. The discussion results related to the problems that arise are nee to protect, control, develop, and utilize the potential of existing water resources, especially in Situ Tasikardi in Serang Regency. The conclusion is from several aspects that need to be considered, namely from an aesthetic point of view, and there is a need to restructure the site and rehabilitate the deteriorating condition of the lake, as can be seen from the damaged fences and retaining walls, as well as the poor layout of the surrounding buildings. So it is necessary to plan for Situ Tasikardi.This research is expected to be a reference for his research and can be developed again to a wider scale. Because research on cultural heritage buildings is still quite extensive and there are not many people who take this theme as the theme of their research.

 

Keywords: power; water; rehabilitation, Situ Tasikradi

 

Abstrak

Salah satu kebutuhan yang paling fundamental dalam kegiatan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air adalah ketersediaan air. Air sangat penting bagi kehidupan dan merupakan faktor utama yang sangat dibutuhkan. Tujuan penelitain dalam rangka untuk menjaga ketersediaan air pemerintah daerah berupaya melaksanakan rehabilitasi pengairan antara lain dengan penanganan Situ. Metode penelitian dimana dengan upaya konservasi untuk memperbaiki kondisi di sepanjang daerah tersebut, penanganan Situ merupakan salah satu solusi alternatif untuk menahan aliran permukaan pada musim hujan dan dapat menambah ketersediaan air pada musim kemarau. Hasil pembahasan terkait dengan permasalahan yang timbul, diperlukan serangkaian upaya untuk melindungi, mengendalikan, mengembangkan, dan memanfaatkan potensi Sumber Daya Air yang ada, khususnya di Situ Tasikardi di Kabupaten Serang. Kesimpulan beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan, yaitu dari segi estetika  perlu adanya  penataan  kembali  Situ dan rehabilitasi kondisi Situ yang mulai memburuk, terlihat dari pagar-pagar dan tembok penahan tanah yang telah rusak, serta tata letak bangunan-bangunan disekitar Situ yang kurang baik, maka perlu untuk dilakukan perencanaan Situ Tasikardi.

 

Kata Kunci: sumber; daya; air; rehabilitasi, Situ Tasikradi

 

Pendahuluan

Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, revitalisasi adalah kegiatan pengembangan yang ditujukan untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai penting cagar budaya dengan penyesuaian fungsi ruang baru yang tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian dan budaya masyarakat.  Situ Tasikardi sebagai bagian dari Kawasan Cagar Budaya Banten Lama pun terikat dengan ketentuan tersebut.

Fokus studi terkait dengan permasalahan yang timbul, diperlukan serangkaian upaya untuk melindungi, mengendalikan, mengembangkan, dan memanfaatkan potensi Sumber Daya Air yang ada, khususnya di Situ Tasikardi di Kabupaten Serang. Selain upaya konservasi untuk memperbaiki kondisi di sepanjang daerah tersebut, penanganan situ merupakan salah satu solusi alternatif untuk menahan aliran permukaan pada musim hujan dan dapat menambah ketersediaan air pada musim kemarau. Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan, yaitu dari segi estetika perlu adanya penataan kembali situ dan rehabilitasi kondisi situ yang mulai memburuk, terlihat dari pagar-pagar dan tembok penahan tanah yang telah rusak, serta tata letak bangunan-bangunan di sekitar situ yang kurang          baik. Maka perlu untuk dilakukan perencanaan  Situ Tasikardi (Astiti, 2014).

Peneliti terdahulu menurut Suciati dkk dalam upaya mengelola ojek wisata Situs Tasikardi dihadapkan oleh beberapa masalah diantaranya  yaitu  belum adanya  kesadaran  dari  masyarakat  dalam  melestarikan dan  menjaga  objek  wisata  Situs  Tasikardi,  promosi  yang  dilakukan  belum optimal, sarana dan prasarana yang sudah rusak dan tidak diperbaki, tata kelola yang  belum  tertib  dan  rapi.  Oleh  karenanya,  fokus  penelitian  ini  adalah Manajemen  Pengelolaan  Objek  Wisata  Situs  Tasikardi  oleh  Dinas  Pemuda Olahraga   dan   Pariwisata   Kabupaten   Serang (Suciati, Sjafari, & Handayani, 2017). Peneliti terdahulu selanjutnya Amalia dkk Banten sangat kaya akan potensi wisata. Disamping itu, berkembangnya agama disana banyak meninggalkan situs-situs yang potensial untukdikembangkannya wisata sejarah dan terutama wisata religi. Banten juga memiliki potensi wisata yang cukup banyak dan menarik untuk dikunjungi.Keindahan panorama alam banten semakin lengkap dengan keunikan budayanya.Lokasi provinsi banten yang terletak dipesisir menyimpan banyak pantai dengan keunikan yang berbeda-beda (Amalia, 2020).

Pentingnya penelitian ini dilakukan terkait dengan permasalahan yang timbul, diperlukan serangkaian upaya untuk melindungi, mengendalikan, mengembangkan, dan memanfaatkan potensi Sumber Daya Air yang ada, khususnya di Situ Tasikardi di Kabupaten Serang. Selain upaya konservasi untuk memperbaiki kondisi di sepanjang daerah tersebut, penanganan situ merupakan salah satu solusi alternatif untuk menahan aliran permukaan pada musim hujan dan dapat menambah ketersediaan air pada musim kemarau. Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan, yaitu dari segi estetika perlu adanya penataan kembali situ dan rehabilitasi kondisi situ yang mulai memburuk, terlihat dari pagar-pagar dan tembok penahan tanah yang telah rusak, serta tata letak bangunan-bangunan di sekitar situ yang kurang baik.

Tujuan Penelitian dalam rangka untuk menjaga ketersediaan air  pemerintah  daerah  berupaya  melaksanakan rehabilitasi  pengairan  antara  lain  dengan  penanganan Situ Tasikradi.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu menguraikan, memaparkan data-data, baik data primer maupun data sekunder (Sugiyono, 2012). Penelitian ini adalah melakukan salah satu tahapan dalam upaya menyelesaikan permasalahan di Situ Tasikardi dengan menyusun melakukan penelitian Situ Tasikardi. Penelitian ini adalah untuk menangani Situ Tasikardi dengan melakukan desain penataan situ, pagar-pagar, tampungan yang mulai berkurang dan tembok penahan tanah yang telah mengalami kerusakan. Tinjauan pustaka diperoleh  landasan teori, standar  perancangan, kebijaksanaan  perencanaan  dan  perancangan (survei lapangan, surfing  internet,  studi literatur) Kondisi  fisik Non fisik, Geografi dan lain-lain. Selain itu dilakukan  pula studi banding Kompilasi data hasil studi lapangan dan studi banding dengan studi pustaka (Moleong, 2007).

 

Hasil dan Pembahasan

Kawasan Cagar Budaya Banten Lama merupakan lanskap yang menampilkan sisa-sisa kejayaan masa pemerintahan Kesultanan Banten. Kawasan seluas 800 hektar tersebut menjadi lokasi beberapa peninggalan arkeologi yang beragam, antara lain Masjid Agung Banten Lama, Menara Masjid Agung, Makam Sultan, Keraton Surosowan, Vihara Avalokiteswara, Benteng Speelwijk, Pelabuhan Karangantu, Meriam Ki Amuk, dan Danau (Situ) Tasikardi. Bangunan-bangunan tersebut menjadi bukti perjalanan Kesultanan Banten sejak pertama kali didirikan oleh Sultan Hasanuddin (1552-1570) hingga akhirnya dihancurkan oleh Belanda pada 1808. Sebelumnya kawasan tersebut juga sempat hancur, sebelum dibangun oleh Sultan Haji pada tahun 1680-1681 (Permana, 2004).

 

Gambar 1

Peta Lama Kota Banten (Theodore de Bry, 1598-1613)

Kesultanan Banten merupakan pusat perdagangan sekaligus pusat perkembangan agama Islam di Pantai Utara Jawa Barat. Sepanjang sejarahnya, Kesultanan Banten diperintah oleh 20 sultan dan mencapai masa kejayaannya di abad 16 hingga 17 Masehi. Puncal kejayaan Kesultanan Banten dicapai ketika dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa (Sultan Abdul Fatah) dari tahun 1651 hingga 1672. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pengelolaan saat ini hingga menyebabkan penurunan kualitas hunian Hasil evaluasi digunakan sebagai upaya untuk mempertahankan kualitas hunan supaya tetap layak huni (Andiyan, 2016).

Kawasan Banten Lama tidak hanya merupakan menunjukkan bukti perjalanan sejarah Kesultanan Banten dan pergolakan politik yang terjadi di salah satu kota pelabuhan tertua di Indonesia tersebut, tetapi juga menunjukkan pencapaian teknologi yang luar biasa pada masanya. Pencapaian srsitektur yang luar biasa ditunjukkan oleh keraton Surosowan, keraton tersebut setidaknya mengalami lima kali tahap pembangunan. Indikasi tersebut ditunjukkan dari adanya struktur bangunan yang tumpang tindih, jenis tegel dan bata yang digunakan, dan pola penyusunan bata yang ditemukan dari penggalian arkeologi. Sehingga mereka mau menjalin kerjasama yang harmonis dan co-branding di dunia alam, sehingga fasilitas pelayanan kota lengkap, tanpa harus menyediakan terlalu banyak fasilitas, apalagi jika tidak ada dukungan sumber daya manusia yang profesional dan dapat dijual kepada masyarakat (Andiyan Denny Heriyanto, 2021).

Situs penting lainnya adalah Situ Tasikardi. Danau buatan tersebut merupakan salah satu bukti penguasaan teknologi pengairan yang sudah maju pada masa pemerintahan Kesultanan Banten. Situ Tasikardi, atau yang sebelumnya lebih dikenal sebagai “Situ Kardi” merupakan suatu sistem yang digunakan untuk irigasi air bersih ke keraton Surosowan dan wilayah di sekitarnya.

1.    Tinjauan Arkeologi Situ Tasikardi

Situ Tasikardi merupakan salah satu situs bersejarah di Kawasan Banten Lama. Secara administratif Situs Tasikardi terletak di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, kurang lebih 2 km di sebelah tenggara Keraton Surosowan. Tasikardi berupa danau buatan yang memiliki luas kurang lebih 6.5 Ha dan di seluruh dasarnya dilapisi dengan bata. Danau buatan ini dibuat oleh Sultan Maulana Yusuf (1570-1580), walau beberapa laporan lain menyebutkan Tasikardi sudah mulai dibangun pada tahun 1552.

 

Gambar 2

Situ Tasikardi (Tropen Museum, 1933)

Pada bagian tengah danau terdapat sebuah pulau yang disebut Kaputren. Kaputren ini pada mulanya diperuntukkan bagi Ibu Sultan Maulana Yusuf untuk bertafakur dan mendekatkan diri pada Allah. Sumber lain juga menyampaikan bahwa pulau tersebut juga digunakan sebagai tempat rekreasi bagi keluarga sultan. Laporan pada tahun 1706, menyatakan bahwa Sultan Banten menerima tamu Belanda bernama Cornelis de Bruin di tempat tersebut. Secara fungsional, Situ Tasikardi berfungsi untuk menampung air dari Sungai Cibanten yang kemudian disalurkan ke Keraton Surosowan melalui saluran air. Air yang mengalir di saluran tersebut harus melalui tiga kali proses penyaringan di Pangindelan Abang, Pangindelan Putih, dan Pangindelan Emas, sebelum masuk ke saluran di Keraton Surosowan (Sulistyo & Many, 2012).

Situ Tasikardi merupakan pencapaian teknologi yang sangat maju pada zamannya. Situ berukuran 6.5 ha ini dibangun secara khusus untuk menampung air dari sungai sebagai sumber air bersih di Keraton Surosowan. Sistem pengairan ini diperlukan, karena air sungai di sekitar Keraton Surosowan pada masa itu memiliki kualitas yang buruk. Pelaut Willem Lodewijkz pada 1596 mencatat bahwa air sungai di Banten sangat kotor, keruh, dan menimbulkan bau busuk. Laporan lain pada 1787 oleh pelaut Belanda, van Breugel, juga menyebutkan air sungai yang rasanya tawar, kotor, dan berbau busuk.

Tasikardi, saluran air yang terbuat dari terakotadialirkan menuju ke bagian selatan Keraton. Panjang saluran tersebut kurang lebih sepanjang 1.5 km dengan perbedaan ketinggian tiga meter. Air tersebut disaring sebanyak tiga kali di tiga pangindelan, yaitu pangindelan abang, putih, dan emas. Pangindelan yangdibangun oleh Lucas Cardeel ini merupakan struktur bata berbentuk persegi panjang, dengan atap melengkung, pintu di sisi utara dan lubang berbentuk setengah lingkaran di sisi selatan. Air yang masuk ke dalam saluran ini akan disaring dengan pasir dan ijuk sebelum dialirkan ke pangindelan berikutnya.

 

 

Gambar 3

Pangindelan Abang (Kiri) dan Putih (Kanan)

Sumber: Data Pokok Kebudayaan Tahun 2018

 

Menurut Sonny C. Wibisono, pangindelan ini mampu menampung air sebanyak 56,7–100,24 m³. Secara teknis, pangindelan tidak hanya berfungsi sebagai penyaringan tetapi juga sebagai penampungan untuk mengatur debit air untuk dialirkan ke keraton. Air kemudian dialirkan melalui pipa-pipa terakota berukuran kecil dengan memanfaatkan kemiringanlahan. Di sisi selatan keraton, saluran tersebut terhubung dengan pintu air yang memiliki enam keran. Karena dahulu memiliki keran logam berwarna kuning keemasan, tempat pengambilan air tersebut disebut juga sebagai Pancuran Emas (Wibisono, 2014).

Bagian lain di Situ Tasikardi yang menunjukkan tinggalan arkeologi yang cukup penting adalah reruntuhan bangunan di pulau di tengah danau, atau Kaputren. Pada pulau tersebut terdapat tiga jenis struktur, yaitu struktur turap, struktur kolam, dan sisa-sisa fondasi. Struktur turap berupa dinding keliling pulau berukuran 40 x 40 m, tinggi antara 2-3 m. Sementara struktur kolam berukuran 6 x 4.7 m, dengan kedalaman 3 m, dan bangunan tambahan di utara kolam berukuran 13.35 x 6 m. Sisa-sisa fondasi terdiri dari bangunan induk berupa serambi berukuran 1.45 x 18.1 m dengan lebar fondasi 0.5 m.

 

Gambar 4

Susunan Bata di Sisi Timur Laut Situ Tasikardi

 

Saat ini keadaan Situ Tasikardi sudah mengalami cukup banyak perubahan. Pada sisi Barat Laut dan Selatan sudah mendapat banyak penambahan bangunan baru, namun nuansa hijau pada kawasan tersebut tetap dijaga. Bagian yang masih menunjukkan tinggalan arkeologi, terutama pada bagian Timur Laut, dimana terdapat susunan bata yang memiliki pola susunan dan ukuran yang mirip dengan pola susunan bata yang ditemukan di Keraton Surosowan.

Saat ini keadaan Situ Tasikardi sudah mengalami cukup banyak perubahan. Pada sisi Barat Laut dan Selatan sudah mendapat banyak penambahan bangunan baru, namun nuansa hijau pada kawasan tersebut tetap dijaga. Bagian yang masih menunjukkan tinggalan arkeologi, terutama pada bagian Timur Laut, dimana terdapat susunan bata yang memiliki pola susunan dan ukuran yang mirip dengan pola susunan bata yang ditemukan di Keraton Surosowan.

 

B.  Potensi dan Batasan Revitalisasi Situ Tasikardi

Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, revitalisasi adalah kegiatan pengembangan yang ditujukan untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai penting cagar budaya dengan penyesuaian fungsi ruang baru yang tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian dan budaya masyarakat.  Situ Tasikardi sebagai bagian dari Kawasan Cagar Budaya Banten Lama pun terikat dengan ketentuan tersebut (Republik-Indonesia, 2010).

Perubahan paradigma dalam aspek pemanfaatan dari Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya ke Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya memberikan kesempatan pada pengelola (pemerintah dan swasta) untuk memperbaiki tata kelola dan pemanfaatan pada cagar budaya. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya menekankan pada fungsi ideologi dan pembangunan karakter bangsa, kini cagar budaya dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata. Salah satu konsep arsitektur yang mempengaruhin kebudayaan dan kehidupan sosial adalah Arsitektur Islam (Andiyan & Aldyanto, 2021).

Potensi Situ Tasikardi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sangat besar. Keterkaitannya dengan sejarah Kesultanan Banten dan lokasinya yang tidak terlalu jauh membuat Situ Tasikardi menjadi pilihan yang menarik. Banten Lama sendiri sudah sejak lama menjadi tujuan ziarah bagi banyak peziarah di Indonesia. Revitalisasi Situ Tasikardi menjadi opsi yang baik untuk meningkatkan PAD Provinsi Banten, namun perlu diperhatikan beberapa aspek terkait pelestarian.

Secara prinsip Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya memberikan syarat bahwa revitalisasi harus memperhatikan tata ruang, tata letak, fungsi sosial, dan/atau lanskap budaya asli, dapat dilakukan dengan menata kembali fungsi ruang, nilai budaya, dan penguatan informasi. Sementara dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Serang Tahun 2011-2031, Tasikardi diperuntukkan sebagai kawasan wisata dan kawasan strategis kepentingan sosial budaya. Sistem infrastruktur merupakan pendukung utama fungsi-fungsi system sosial dan sistem ekonomi dalam kehidupan sehari- hari masyarakat (Andiyan, Indra, 2018).

Berdasarkan dua peraturan tersebut, ada tiga fungsi utama yang dapat diakomodasi oleh Situ Tasikardi.

a.    Fungsi sebagai penampungan air, sesuai tujuan awal didirikan Tasikardi sudah seharusnya berfungsi sebagai penampungan air, fungsi yang semakin hilang akibat pendangkalan dan berhentinya aliran air sungai Cibanten ke dalam situ. Pendangkalan tersebut ditunjukkan dengan adanya tanaman air yang cukup banyak di sisi selatan situ. Pengerukan dapat dilakukan sebagai upaya normalisasi, namun harus diperhatikan struktur bata yang ada di dasar situ supaya tidak terganggu dan rusak.

b.    Fungsi religi, secara historis Tasikardi tidak hanya digunakan oleh keluarga sultan sebagai tempat menerima tamu dan berwisata, namun juga sebagai tempat berdoa. Terutama pada bagian kaputren di tengah situ. Hingga saat ini peziarah tetap mengunjungi lokasi tersebut. Revitalisasi Tasikardi dapat mengembalikan fungsi yang semakin hilang ini, sulitnya akses ke kaputren menjadi salah satu kendala yang dihadapi. Namun reruntuhan bangunan yang ada di kaputren sebisa mungkin dipertahankan tanpa membangun kembali sebelum dilakukan kajian yang lebih mendalam. Sementara penguatan pada bagian turap untuk mempertahankan bentuk pulau tersebut dapat dilakukan.

c.    Fungsi pariwisata, Tasikardi menawarkan lokasi wisata yang asri dan hijau. Sesuatu yang jarang bisa ditawarkan di Kawasan Bantan Lama yang relatif terbuka dan panas. Untuk mendukung fungsi wisata tentu diperlukan penyesuaian dengan penambagan beberapa bangunan amenitas, penambahan tersebut diperbolehkan selama tidak merusak karakter situ. Pemilihan jenis bahan dan gaya arsitektur bangunan akan sangat berpengaruh, perubahan seminimal mungkin sangat dianjurkan. Demikian pula dengan jenis pondasi yang digunakan, mengingat Kawasan Banten Lama yang kaya akan tinggalan arkeologi, dalam persiapan pembuatan pondasi yang memerlukan penggalian sebaiknya didahului dengan penggalian arkeologi. Untuk mendukung fungsi wisata dan meningkatkan nilai penting situ, perlu juga ditambahkan papan-papan informasi terkait kesejarahan untuk dibaca oleh pengunjung. Daerah perkotaan cenderung mengindikasikan jumlah pendapatan domestik regional bruto (PDRB) yang besar dibanding dengan Kabupaten/Kota lain, namun hal ini berbeda-beda tergantung pada jenis industri (Andiyan, Rachmat, 2021).

Berdasarkan hasil survei dan tinjauan literatur, ada beberapa bagian di dalam area situ yang harus diperhatikan dalam upaya revitalisasi. Lokasi-lokasi tersebut memiliki signifikansi sejarah dan indikasi adanya tinggalan arkeologi (Rahardjo, 2013).

 

Gambar 5

Lima Bagian Penting dalam Revitalisasi Situ Tasikardi

 

Pada gambar 5 terdapat lima lokasi yang menjadi catatan. Bagian (A) merupakan bagian dari situ yang diperkirakan terhubung dengan saluran air ke arah utara dan sersambung dengan tiga pangindelan. Saluran ini merupakan salah satu bagian paling penting dari Kawasan Banten Lama sebagai bukti sistem pengairan yang ada sejak abad 16. Bagian (B) merupakan sisi timur laut situ yang memiliki indikasi temuan arkeologi berupa bata-bata yang disusun dengan pola yang sama dengan bata yang ditemukan di Keraton Surosowan. Walau sebagian besar sudah tertimbun dengan tanah dan sampah, pekerjaan di bagian ini harus dilakukan dengan hari-hati.

Bagian (C) merupakan area yang saat ini menjadi pusat kegiatan wisata di Tasikardi. Disana terdapat beberapa bangunan amenitas. Pembangunan fasilitas baru terutama sebaiknya dikerjakan pada bagian ini, dengan melakuakn revitalisasi pada bangunan-bangunan yang sudah ada. Bagian (D) merupakan kaputren, lokasi wisata religi di Tasikardi. Keadaan di pulau sebaiknya dipertahankan apa adanya, dengan penguatan pada bagian turap. Sementara bagian (E) merupakan bagian yang menurut warga lokal terhubung ke sungan Cibanten, sementara laporan lain menyatakan saluran tersebut ada di sisi tenggara situ. Pada bagian ini terdapat pendangkalan yang cukup parah, pembersihan dapat dilakukan dengan memperhatikan keberadaan struktur bata di dalam situ (Hizmiakanza, 2018).

 

Gambar 6

Amphitheatre Sebagain Ruang Publik di Situ Tasikradi

 

Pada tapak ini di buat pemisahaan yang jelas antara sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki, sehingga tidak mengganggu kegiatan ke dalam tapak dan menjaga agar ruang-ruang terbuka sebagai ruang penghubung antar kelompok bangunan, tidak terputus oleh sirkulasi kendaraan. Konsep utama Dari hasil pembahasan bangunan ini mampu menciptakan harmoni fungsi utama bangunan Konvesi dan Eksibisi dengan penerapan konsep antara arsitektur kontemporer (Tiaratanto, Excya,Affandi,Kemal, 2021). Tata Sehingga progres pembangunan akan tepat waktu. Dari segi aksesibilitas calon penumpang pihaknya juga optimistis tidak akan terkendala (Andiyan & Rachmat, 2021).

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 7

Gate Sirkulasi Kendaraan di Situ Tasikradi

 

 

Gambar 8

Parkiran Dan Sirkulasi Pejalan Kaki di Situ Tasikradi

 

Titik berat perancangan sirkulasi adalah pada penciptaan jalur pejalan kaki yang aman dan nyaman, yaitu dengan material yang ramahlingkungan.

1)   Kemudahan aksesibilitas masuk dalam kawasan

2)   Keterkaitan antar massa bangunan sesuai fungsinya

3)   Orientasi utama sirkulasi terarah pada fungsi utama yaitu bangunanpenerima, kemudian sirkulasi dialirkan ke fungsi yang lain.

4)   Sirkulasi kendaraan pengunjung hanya dapat mengakses sampai ke area parkir yang berada di zona depan, selanjutnya pengunjung harus berjalan kaki untuk mengakses fasilitas-fasilitas di dalam kawasan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi cross-circulation antara sirkulasi kendaraan dengan sirkulasi manusia di dalam tapak. Sedangkan kendaraan servis dapat mengakses area servis yang berada di zona belakang tapak.

5)   Penentuan sirkulasi dalam bangunan sangat berkaitan dengan penempatan ruang-ruang dan pengelompokan ruang. Perhatian dari beberapa macam sirkulasi tersebut adalah bahwa perencanaannya harus optimal dan terpadu dengan upaya semaksimal mungkin dapat mewujudkan kondisi ideal sesuai bagan organisasi ruang.

 

Gambar 9

Pola Pedestrian di Situ Tasikradi

 

Sebagai bangunan publik, maka ruang luar sangat penting diadakan. Sebagai ruang pemersatu antar massa tempat berkumpul dan pusat orientasi dari aktivitas-aktivitas di kawasan. Pengolahan ruang luar berfungsi sebagai:

1)   Ruang Transisi, adalah ruang antara dari masing-masing fungsi bangunan.

2)   Ruang penghubung antar zona aktifitas

3)   Ruang yang menyatukan antar fungsi.

4)   Ruang interaksi pengunjung, sebagai area berkumpul para pengunjung.

 

Gambar 10

Inner Court Area Parkir dengan Bangunan Penerima

 

 

Gambar 11

Gallery Taman Situ Tasikardi

 

Kesimpulan

Perubahan paradigma dalam aspek pemanfaatan dari Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya ke Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya memberikan kesempatan pada pengelola (pemerintah dan swasta) untuk memperbaiki tata kelola dan pemanfaatan pada cagar budaya. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya menekankan pada fungsi ideologi dan pembangunan karakter bangsa, kini cagar budaya dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata.

 

 

 

 

 

 

 


 

BIBLIOGRAFI

 

Amalia, Shafira. (2020). Keindahan Wisata Situs Kesultanan Banten. Google Scholar

 

Andiyan, Indra, Fahrul. (2018). Penataan Kawasan Kumuh (Kewenangan Provinsi) Di Desa Tanjung Anom Kecamatan Mauk Kabupaten Tangerang. Jurnal Arsitektur Archicentre. Google Scholar

 

Andiyan, Rachmat, Agus. (2021). Analisis Manfaat Pembangunan Infrastruktur Kereta Api Di Pulau Jawa. Jurnal Pendidikan Dan Teknologi Indonesia, 1(3), 121–129. Google Scholar

 

Andiyan. (2016). Post Occupancy Evaluation ( Poe ) Pada Bangunan Rusun Di Prov. Banten ( Studi Kasus “ Pembangunan Rusun Mbr Di Prov.Banten). Jurnal Arsitektur Archicentre. Google Scholar

 

Andiyan, Andiyan, & Aldyanto, Irfan. (2021). Kajian Arsitektur Pada Massa Bangunan Masjid Cipaganti. Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton, 7(2), 189–199. Google Scholar

 

Andiyan, Andiyan, & Rachmat, Agus. (2021). Telaahan Kerjasama Pemerintah Swasta Dalam Pembangunan Bandara Kertajati Di Jawa Barat. Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 7(2), 413–424. Https://Doi.Org/10.37905/Aksara.7.2.413-424.2021. Google Scholar

 

Andiyan Denny Heriyanto. (2021). Kajian Kelayakan Lokasi Tapak Serta Potensi Unggulan Pada Rsud Dr . P . P Margetti Saumlaki Kepulauan Tanimbar. Jurnal Sosial Dan Teknologi, 1(April), 303–318. Google Scholar

 

Astiti, Ni Komang Ayu. (2014). Pengelolaan Kawasan Situs Kota Kuno Banten Sebagai Destinasi Wisata Budaya Untuk Meningkatkan Pergerakan Wisatawan Nusantara. Sumber, 2015, 2019. Google Scholar

 

Hizmiakanza, Aluh Shiba. (2018). Strategi Revitalisasi Kawasan Urban Heritage Banten Lama. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Google Scholar

 

Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Google Scholar

 

Permana, R. (2004). Kajian Arkeologi Mengenai Keraton Surosowan Banten Lama, Banten. Makara Human Behavior Studies In Asia, 8(3), 112–119. Google Scholar

 

Rahardjo, Supratikno. (2013). Beberapa Permasalahan Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Dan Strategi Solusinya. Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, 7(2), 4. Google Scholar

 

Republik-Indonesia, I. (2010). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Jakarta. Google Scholar

 

Suciati, Ari, Sjafari, Agus, & Handayani, Riny. (2017). Manajemen Pengelolaan Objek Wisata Situs Tasikardi Oleh Dinas Pemuda Olahraga Dan Pariwisata Kabupaten Serang. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Google Scholar

 

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&B. Bandung: Cv. Alfabeta. Google Scholar

 

Sulistyo, Budi, & Many, Gita Vemilya. (2012). Revitalisasi Kawasan Banten Lama Sebagai Wisata Ziarah. Planesa, 3(1), 213201. Google Scholar

 

Tiaratanto, Excya,Affandi,Kemal, Andiyan. (2021). Bangunan Konvensi Dan Eksibisi Bandung. Jurnal Arsitektur Archicentre, (126), 1–13. Google Scholar

 

Wibisono, Sonny C. (2014). Arkeologi Natuna: Koridor Maritim Di Perairan Laut Cina Selatan. Kalpataru Majalah Arkeologi, 23(2), 81–150. Google Scholar

 

 

Copyright holder:

Andiyan, Eddy Budianto (2021)

 

First publication right:

Journal Syntax Literate

 

This article is licensed under: