Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 6, No. 9, September 2021

 

EFEKTIFITAS CHEWING GUM TERHADAP SENSASI RASA HAUS DAN INTERDIALYTIC WEIGHT GAIN (IDWG) PASIEN HEMODIALISIS

 

Yenny, Yohanes Gamayana Trimawang Aji

Akademi Perawatan RS PGI Cikini, Jakarta, Indonesia

Email: yennyoey@akperrscikini.ac.id, yohanes.gamayana@akperrscikini.ac.id

 

Abstrak

Pasien hemodialisis memiliki tugas untuk mengatur diit cairan dalam upaya mencegah kelebihan volume cairan. Pembatasan asupan cairan ini diperlukan untuk meminimalkan resiko timbulnya komplikasi dan tercapainya kualitas hidup yang baik. Rasa haus dan Interdialytic Weight Gain (IDWG) menjadi keluhan yang sering dialami pasien hemodialisis. Oleh karenanya perlu ada intervensi secara praktis, sederhana dan inovatif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas “chewing gum” terhadap sensasi rasa haus dan interdialytic weight gain (IDWG) pasien hemodialisis. Penelitian ini menggunakan quasi eksperimen dengan pendekatan pretest – postest design. Jumlah sampel dalam penelitian ini 64 orang yang terdiri dari 32 orang pada kelompok perlakuan dan 32 orang pada kelompok kontrol. Teknik pengampilan sampel dengan cara purposive sampling. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 minggu di ruang hemodialisis. Hasil penelitian menunjukkan adanya efektifitas chewing gum terhadap sensasi rasa haus dan IDWG pasien hemodialisis di RSAU dr. Esnawan Antariksa Jakarta dengan nilai p-value<0,05 menggunakan uji paired t-test. Kesimpulan penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pelayanan keperawatan khususnya dalam keperawatan medikal bedah di unit hemodialisis dalam memberikan intervensi yang tepat sebagai upaya penurunan sensasi rasa haus dan interdialytic weight gain (IDWG) pasien hemodialisis melalui tindakan chewing gum.

 

Kata Kunci: chewing gum; haus; IDWG; hemodialisis

 

Abstract

Hemodialysis patients must control their fluid diet to prevent excess fluid. This fluid restriction is needed to minimalize the risk of complications and achieving a good quality of life. Feel thirsty and Interdialytic Weight Gain (IDWG) become complaints that are often experienced by hemodialysis patients. Because of that, It is needed to have a practical intervention, simple, and innovative. This research is done to knowing the effectiveness of chewing gum to the sensation of feeling thirsty and Interdialytic Weight Gain (IDWG) on hemodialysis patients. This research is using quasi-experiment with pretest-posttest design. 64 people being the sample in this research, consists of 32 people on the treatment group and 32 people on the control group. Sample taking technique is using the purposive sampling method. This research is done for 4 weeks in a hemodialysis room. The result of this research shows that there is the effectiveness of chewing gum to feeling thirsty sensation and IDWG on hemodialysis patients at RSAU dr. Esnawan Antariksa Jakarta with value of p-value<0,05 using paired t-test. The conclusion of this research is expected to advise on nursing treatment, especially on medical surgical nursing in hemodialysis unit on giving the correct intervention as an effort to decrease the sensation of feeling thirsty and Interdialytic Weight Gain (IDWG) on hemodialysis patients using chewing gum treatment.

 

Keywords: chewing gum; thirst; IDWG; hemodialysis

 

Received: 2021-08-20; Accepted: 2021-09-05; Published: 2021-09-20

 

Pendahuluan

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah gangguan fungsi ginjal yang progresif dan tidak dapat pulih kembali, dimana tubuh tidak mampu memelihara metabolisme dan gagal memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit yang berakibat pada peningkatan ureum. PGK mempunyai karakteristik menetap, tidak bisa disembuhkan dan memerlukan pengobatan berupa, transplantasi ginjal, dialisis peritoneal, hemodialisis dan rawat jalan dalam jangka waktu yang lama (Black, J.M., & Hawks, 2014). (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018) menunjukkan prevalensi PGK mengalami peningkatan seiring bertambahnya umur, yaitu dimulai dari umur 15-24 tahun (1,33%), umur 25-34 tahun (2,28%), umur 35-44 tahun (3,31%), umur 45-54 tahun (5,64%), umur 55-64 tahun (7,21%), dan tertinggi pada umur 65-74 tahun (8,23%). Prevalensi pasien PGK yang pernah/sedang menjalani tindakan dialisis sebesar 19,3%. DKI Jakarta sebagai provinsi yang memiliki persentase tertinggi pasien PGK yang menjalani tindakan dialisis sebesar 38,7%, diikuti Bali dan Yogyakarta.

Pasien PGK yang berada pada tahap akhir harus menjalani terapi pengganti ginjal. Hemodialisis merupakan terapi pengganti ginjal yang paling banyak digunakan saat ini. Pasien hemodialisis memiliki tugas untuk mematuhi diit, minum obat, pembatasan aktivitas, rutin dialisis dan pembatasan cairan. Pembatasan asupan cairan yang gagal berdampak timbulnya kelebihan cairan, sehingga beresiko menyebabkan pasien mengalami penambahan berat badan, edema, peningkatan tekanan darah, sesak napas serta gangguan jantung. Oleh karenanya konsekuensi pembatasan asupan cairan pada pasien hemodialisis adalah timbulnya keluhan rasa haus (Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. L., & Cheever, 2013). Pembatasan asupan cairan pasien hemodialisis juga bertujuan mengurangi kelebihan cairan pada periode interdialitik. Interdialytic Weight Gain (IDWG) merupakan peningkatan volume cairan yang dimanifestasikan dengan peningkatan berat badan sebagai dasar untuk mengetahui jumlah cairan yang masuk selama periode interdialitik.  Penambahan nilai IDWG yang terlalu tinggi menimbulkan dampak buruk bagi tubuh seperti keluhan hipotensi, kram otot, sesak napas, mula dan muntah (Moissl et al., 2013).

Rasa haus dan penambahan nilai IDWG menjadi masalah yang sering didapatkan pada pasien hemodialisis. Perlu adanya intervensi keperawatan yang harus dikembangkan untuk mengatasi kedua hal tersebut. Tindakan “Chewing Gum” atau mengunyah permen karet menjadi salah satu pilihan yang dapat diterapkan. Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan (Intan, Supriati, & Sanatoso, 2017) menunjukkan permen karet rendah gula siginifikan dapat menurunkan laju aliran saliva/ rasa haus. Oleh karenanya peneliti tertarik untuk meneliti tentang efektifitas chewing gum terhadap sensasi rasa haus dan interdialytic weight gain (IDWG) pasien hemodialisis di RSAU dr. Esnawan Antariksa Jakarta.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan quasi eksperimen dengan pendekatan pretest-postest design. Jumlah sampel dalam penelitian ini 64 orang yang terdiri dari 32 orang pada kelompok perlakuan dan 32 orang pada kelompok kontrol. Teknik pengampilan sampel dengan cara purposive sampling. Subjek penelitian dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dengan tahapan sebagai berikut: 1) melakukan skrining rasa haus pada pasien menggunakan lembar penilaian Dialysis Thrist Inventory (DTI), kemudian menghitung rata-rata skor DTI. Pasien yang mendapatkan skor rata-rata DTI > 2,5 merupakan kandidat responden 2) melakukan wawancara pada pasien dengan nilai skrining DTI >2,5 untuk mendapatkan informasi tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi rasa haus. Jika ditemukan pasien menggunakan permen karet dalam mengatasi rasa hausnya, pasien tersebut tidak dipilih sebagai responden 3) menetapkan 64 sampel penelitian berdasarkan skor tertinggi DTI dan hasil wawancara 4) menentukan kelompok perlakuan dan kelompok kontrol berdasarkan jadwal hemodialisis.

Kelompok perlakuan adalah pasien yang menjalani hemodialisis pada hari Senin dan Kamis, sedangkan kelompok kontrol adalah pasien yang menjalani hemodialisis pada hari Selasa dan Jumat. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu: 1) bersedia menjadi responden 2) memiliki kemampuan untuk membaca dan menulis 3) pasien menjalani hemodialisis rutin 2 kali/minggu 4) dapat mengunyah permen karet (gigi dalam keadaan baik) 5) rata-rata skor skrining DTI >2,5 6) pasien kooperatif dengan kesadaran baik. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu: 1) pasien yang menolak/tidak kooperatif/tidak patuh dalam penelitian 2) pasien tidak menyukai permen karet.

Penelitian ini dilaksanakan selama 4 minggu di ruang hemodialisis RSAU dr. Esnawan Antariksa Jakarta. Pada tahap ini peneliti melakukan pengumpulan data melalui tiga tahapan yaitu tahap pretest, tahap intervensi dan post test.

1.      Tahap Pre test

Responden yang telah memenuhi kriteria terlebih dahulu diberikan penjelasan penelitian dan jika pasien bersedia menjadi responden maka pasien diminta untuk menandatangani lembar persetujuan dalam bentuk informed concent. Tindakan pretest dilakukan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan cara menilai sensasi rasa haus menggunakan skala VAS. Instrumen VAS menggunakan rentang nilai dari 0 – 10. Nilai 0 menunjukkan tidak haus dan 10 menunjukkan sangat haus sekali. Skor VAS diklasifikasikan menjadi tidak haus (0), haus ringan (1-3), haus sedang (4 – 6), haus berat (7 – 9) dan haus sangat berat (10). Selain itu, pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, peneliti mencatat berat badan responden sebelum dan sesudah tindakan hemodialisis kemudian dihitung penambahan berat badan diantara dua waktu dialisis (IDWG).

2.      Tahap Intervensi

Tahap intervensi dilakukan dengan cara peneliti memberikan permen karet xylitol (rasa mint dan rendah gula) kepada kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan diminta untuk mengunyah permen karet minimal 1-2 butir setiap hari dan boleh mengunyah lebih dari dua butir disesuaikan dengan tingkat rasa haus yang memunculkan keinganan untuk minum (tidak ada batasan maksimal jumlah permen karet yang dikunyah). Pada kelompok kontrol, responden tidak diberikan permen karet, tetapi diminta untuk mencatat apa yang dilakukan ketika rasa haus muncul.

3.      Tahap Posttest

Tahap posttest dilakukan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan cara menilai kembali sensasi rasa haus menggunakan skala VAS. Instrumen VAS menggunakan rentang nilai dari 0 – 10. Nilai 0 menunjukkan tidak haus dan 10 menunjukkan sangat haus sekali. Skor VAS diklasifikasikan menjadi tidak haus (0), haus ringan (1-3), haus sedang (4 – 6), haus berat (7 – 9) dan haus sangat berat (10). Selain itu, pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, peneliti mencatat kembali berat badan responden sebelum dan sesudah tindakan hemodialisis kemudian dihitung penambahan berat badan diantara dua waktu dialisis (IDWG).

 

Hasil dan Pembahasan

A.    Hasil Penelitian

 

Tabel 1

Distribusi Responden Berdasarkan Usia dan Lama Menjalani Hemodialiasis

Di RSAU dr Esnawan Antariksa Jakarta

Variabel

Mean

Minimum

Maksimum

Usia:

 

 

 

Kelompok Perlakuan

52,6

31

72

Kelompok Kontrol

55,3

28

74

 

Lama menjalani hemodialisis:

 

 

 

Kelompok Perlakuan

24

3

102

Kelompok Kontrol

39,3

2

156

 

Berdasarkan tabel 1 diperoleh rata-rata usia reponden pada kelompok perlakuan adalah 52,6 tahun. Rata-rata usia responden pada kelompok kontrol adalah 55,3 tahun. Data usia termuda responden adalah 28 tahun dan usia tertua adalah 74 tahun. Tabel 1 diperoleh juga rata-rata lama menjalani hemodialisis pada kelompok perlakuan adalah 24 bulan dan rata-rata lama menjalani hemodialisis pada kelompok kontrol adalah 39,3 bulan. Data lama menjalani hemodialisis paling lama selama 156 bulan.

 

Tabel 2

Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin dan tingkat pendidikan

di RSAU dr Esnawan Antariksa Jakarta

Variabel

Kelompok Perlakuan

Kelompok Kontrol

 

n

%

n

%

Jenis Kelamin:

 

 

 

 

Laki-laki

18

56,25

20

62,5

Perempuan

14

43,75

12

37,5

 

 

 

 

 

Tingkat Pendidikan:

 

 

 

 

SD

5

15,63

4

12,5

SMP

6

18,75

7

21,88

SMA

14

43,75

14

43,75

PT

7

21,88

7

21,88

               

Berdasarkan tabel 2, dari total reponden kelompok perlakuan sebanyak 32 orang diperoleh data yang mempunyai jenis kelamin laki-laki sebanyak 18 orang (56,25%) dan perempuan sebanyak 14 orang (43,75%), sedangkan dari total reponden kelompok kontrol sebanyak 32 orang diperoleh data yang mempunyai jenis kelamin laki-laki sebanyak 20 orang (62,5%) dan perempuan sebanyak 12 orang (37,5%). Hal ini menunjukkan mayoritas pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol mempunyai jenis kelamin laki-laki. Tabel 2 didapatkan juga data dari total responden kelompok perlakuan dan kelompok kontrol masing-masing sebanyak 32 orang diperoleh tingkat pendidikan mayoritas yang sama yaitu SMA dengan jumlah yg sama masing-masing 14 orang (43,75%).

 

Tabel 3

Sensasi Rasa Haus Responden Sebelum (Pre-Test) Dan Setelah (Post-Test) Intervensi Tindakan Chewing Gum Di RSAU dr Esnawan Antariksa Jakarta

Tahap

Sensasi Rasa Haus

Kelompok Perlakuan (n=32)

Kelompok Kontrol (n=32)

 

 

n

%

n

%

Pre-test

Tidak haus

0

0

0

0

 

Haus ringan

4

12,5%

5

15,63%

 

Haus sedang

16

50%

17

53,13%

 

Haus berat

11

34,38%

10

31,25%

 

Haus sangat berat

1

3,13%

0

0

 

 

 

 

 

 

Post-test

Tidak haus

3

9,38%

6

18,75%

 

Haus ringan

21

65,63%

17

53,13%

 

Haus sedang

7

21,88%

9

28,13%

 

Haus berat

1

3,13%

0

0

 

Haus sangat berat

0

0

0

0

 

Berdasarkan tabel 3, dari total reponden kelompok perlakuan sebanyak 32 orang diperoleh data pre-test sensasi rasa haus mayoritas berada pada tingkat haus sedang sebanyak 16 responden (50%), sedangkan data post-test sensasi rasa haus mayoritas berada pada tingkat haus ringan sebanyak 21 responden (65,63%). Tabel 3 juga menunjukkan dari total reponden kelompok kontrol sebanyak 32 orang diperoleh data pre-test sensasi rasa haus mayoritas berada pada tingkat haus sedang sebanyak 17 responden (53,13%), sedangkan data post-test sensasi rasa haus mayoritas berada pada tingkat haus ringan sebanyak 17 responden (53,13%).

 

Tabel 4

Sensasi Rasa Haus Responden Sebelum (Pre-Test) Dan Setelah (Post-Test) Pada Kelompok Perlakuan Dan Kelompok Kontrol Di RSAU dr Esnawan Antariksa Jakarta

Sensasi Rasa Haus

Mean

Minimum

Maksimum

P

n

Kelompok Perlakuan

 

 

 

 

 

Pre-test

6

2

10

 

0,000

 

32

Post-test

3

0

7

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelompok Kontrol

 

 

 

 

 

Pre-test

5

2

9

 

0,000

 

32

Post-test

2

0

6

 

 

 

Berdasarkan tabel 4 diperoleh data nilai rata-rata pre-test pada kelompok perlakuan adalah 6 yang menunjukkan sensasi rasa haus sedang sedangkan rata-rata post-test adalah 3 yang menunjukkan sensasi rasa haus ringan. Tabel 4 juga menampilkan data nilai rata-rata pre-test pada kelompok kontrol adalah 5 yang menunjukkan sensasi rasa haus sedang sedangkan rata-rata post-test adalah 2 yang menunjukkan sensasi rasa haus ringan. Pada tabel 4, hasil uji paired samples t-test pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol didapatkan nilai p=0,000 (<0,05) maka Hα diterima dan Ho ditolak artinya tindakan chewing gum berpengaruh efektif terhadap penurunan sensasi rasa haus pada pasien hemodialisis di RSAU dr. Esnawan Antariksa Jakarta.

 

Tabel 5

Perbedaan Sensasi Rasa Haus Responden Pada Kelompok Perlakuan Dan Kelompok Kontrol Di RSAU dr Esnawan Antariksa Jakarta

 

Mean

Standar Devisiasi

Min

Mak

P

n

Kelompok perlakuan

3

1,60

0

7

 

0,000

 

32

 

Kelompok kontrol

2

1,88

0

6

 

32

 

Berdasarkan tabel 5, diperoleh data nilai rata-rata sensasi rasa haus pada kelompok perlakuan adalah 3 yang menunjukkan sensasi rasa haus ringan sedangkan nilai rata-rata sensasi rasa haus pada kelompok kontrol adalah 2 yang menunjukkan sensasi rasa haus ringan. Hasil uji dari paired samples t-test adalah p=0,000 (< 0,05), maka Hα diterima dan Ho ditolak artinya terdapat perbedaan pengaruh tindakan chewing gum terhadap penurunan sensasi rasa haus antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

 

Tabel 6

Nilai IDWG Sebelum (Pre-Test) Dan Setelah (Post-Test) Intervensi Tindakan Chewing Gum Di RSAU dr Esnawan Antariksa Jakarta

 

Klasifikasi IDWG

Kelompok Perlakuan (n=32)

Kelompok Kontrol (n=32)

 

 

n

%

n

%

Pre-test

Ringan (<4%)

12

37,5%

19

59,38%

 

Rata-rata (4-6%)

13

40,63%

8

25%

 

Bahaya (>6%)

7

21,88%

5

15,63%

 

 

 

 

 

 

Post-test

Ringan (<4%)

3

9,38%

11

34,34%

 

Rata-rata (4-6%)

21

65,63%

15

46,88%

 

Bahaya (>6%)

7

21,88%

6

18,75%

 

Berdasarkan tabel 6, dari total reponden kelompok perlakuan sebanyak 32 orang diperoleh data pre-test IDWG mayoritas berada pada tingkat IDWG rata-rata sebanyak 13 responden (40,63%), sedangkan data post-test IDWG mayoritas berada pada tingkat IDWG ringan sebanyak 15 responden (46,88%). Tabel 6 juga menunjukkan dari total reponden kelompok kontrol sebanyak 32 orang diperoleh data pre-test IDWG mayoritas berada pada tingkat IDWG ringan sebanyak 19 responden (59,38%), sedangkan data post-test IDWG mayoritas berada pada tingkat IDWG rata-rata sebanyak 15 responden (46,88%).

 

Tabel 7

Nilai IDWG Responden Sebelum (Pre-Test) Dan Setelah (Post-Test) Pada Kelompok Perlakuan Dan Kelompok Kontrol Di RSAU dr Esnawan Antariksa Jakarta

Klasifikasi IDWG

Mean

Minimum

Maksimum

P

n

Kelompok Perlakuan

 

 

 

 

 

Pre-test

4,78

1,54

7,96

 

0,009

 

32

Post-test

3,89

1,27

7,14

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelompok Kontrol

 

 

 

 

 

Pre-test

4,07

1,54

8,62

 

0,078

 

32

Post-test

4,67

2,44

8

 

 

 

Berdasarkan tabel 7 diperoleh data nilai rata-rata pre-test pada kelompok perlakuan adalah 4,78 yang menunjukkan IDWG rata-rata sedangkan rata-rata post-test adalah 3,89 yang menunjukkan IDWG ringan. Hasil uji dari paired samples t-test didapatkan nilai p=0,009 (<0,05) maka Hα diterima dan Ho ditolak artinya tindakan chewing gum berpengaruh efektif terhadap penurunan IDWG pada kelompok perlakuan pasien hemodialisis di RSAU dr. Esnawan Antariksa Jakarta.

Tabel 7 juga menampilkan data nilai rata-rata pre-test pada kelompok kontrol adalah 4,07 yang menunjukkan IDWG rata-rata sedangkan rata-rata post-test adalah 4,67 yang menunjukkan IDWG rata-rata. Hasil uji dari paired samples t-test didapatkan nilai p=0,078 (>0,05) maka Hα ditolak dan Ho diterima artinya tindakan chewing gum tidak berpengaruh terhadap penurunan IDWG pada kelompok kontrol pasien hemodialisis di RSAU dr. Esnawan Antariksa Jakarta.

 

Tabel 8

Perbedaan Nilai IDWG Responden Pada Kelompok Perlakuan Dan Kelompok Kontrol Di RSAU dr Esnawan Antariksa Jakarta

 

Mean

Standar Devisiasi

Min

Mak

P

n

Kelompok perlakuan

3,89

1,66

1,27

7,14

 

0,005

 

32

 

Kelompok kontrol

4,67

1,38

2,44

8

 

32

 

Berdasarkan tabel 8, diperoleh data nilai rata-rata IDWG pada kelompok perlakuan adalah 3,89 yang menunjukkan IDWG ringan sedangkan nilai rata-rata IDWG pada kelompok kontrol adalah 4,67 yang menunjukkan IDWG rata-rata. Hasil uji dari paired samples t-test adalah p=0,005 (< 0,05), maka Hα diterima dan Ho ditolak artinya terdapat perbedaan pengaruh tindakan chewing gum terhadap penurunan IDWG antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

 

B.     Pembahasan

Pasien hemodialisis harus melakukan pembatasan cairan untuk mengurangi kelebihan cairan pada periode interdialitik. Namun pembatasan cairan ini dapat meningkatkan rasa haus (Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. L., & Cheever, 2013). Rasa haus akan menstimulus asupan cairan, sehingga tidak mudah bagi pasien hemodilisis patuh terhadap pembatasan cairan. Ketidakpatuhan jangka panjang terhadap pembatasan cairan dapat menyebabkan komplikasi, seperti hipertensi, edema paru akut, gagal jantung kongestif dan kematian akibat gangguan kardiovaskuler (Kimmel et al., 2000).

Interdialytic Weight Gain (IDWG) adalah pertambahan berat badan pasien di antara dua waktu dialisis, yang merupakan indikator kepatuhan terhadap pembatasan cairan. IDWG dipengaruhi berbagai faktor diantaranya adalah rasa haus dan mulut kering (Bots et al., 2004). Peningkatan IDWG yang dapat ditoleransi tubuh berkisar 1,0-1,5 kg (Lewis, Stabler, & Welch, 2010). Rasa haus dan penambahan IDWG yang berlebihan menjadi masalah yang sering ditemui pada pasien hemodialisis. Oleh karena itu diperlukan tindakan yang sederhana dan praaktis dalam mengatasi rasa haus dan mengontrol IDWG.

Beberapa penelitian menunjukkan tindakan mengunyah permen karet rendah gula dapat meningkatkan jumlah saliva dan menurunkan rasa haus. (Duruk & Eser, 2016), melakukan penelitian pada 61 pasien hemodialisis dari empat pusat dialisis di Turki. Pasien diminta mengunyah permen karet (chewing gum) selama 15 menit selama sesi hemodialisis. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 81% atau sebanyak 50 pasien mengalami peningkatan jumlah saliva yang signifikan, yang berdampak penurunan rasa haus. Penelitian lain juga menunjukkan tindakan mengunyah permen karet (chewing gum) berpengaruh terhadap penurunan rasa haus dan menurunkan IDWG (Intan et al., 2017). Selain itu, ada perbedaan yang signifikan antara rasa haus dan mulut kering pada pasien hemodialisis sebelum dan sesudah intervensi mengunyah permen karet bebas gula (Dehghanmehr et al., 2018). Dalam penelitian (Bots et al., 2004) tentang efek permen karet bebas gula dan air liur buatan pada 65 pasien hemodialisis yang mengalami mulut kering. Pasien mengungkapkan permen karet lebih mudah digunakan jika dibandingkan dengan air liur buatan, dan lebih efisien dalam meredakan gejala mulut kering. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti menunjukkan efek positif mengunyah permen karet rendah gula terhadap peningkatkan aliran saliva dan menurunkan rasa haus dan Interdialytic Weight Gain (IDWG) yang terkontrol, sehingga pada akhirnya dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis

 

Kesimpulan

Hasil penerapan tindakan “chewing gum” mampu secara efektif menurunkan sensasi rasa haus dan Interdialytic Weight Gain (IDWG) yang terkontrol. Hal ini didasarkan hasil uji paired t-test yang menunjukan nilai p-value<0,05, berarti adanya efektifitas chewing gum terhadap sensasi rasa haus dan IDWG pasien hemodialisis di RSAU dr. Esnawan Antariksa Jakarta. Dengan demikian, institusi pelayanan kesehatan dapat melaksanakan dan mengembangkan tindakan “chewing gum” sebagai bagian dari program edukasi kesehatan untuk menurunkan sensasi rasa haus dan Interdialytic Weight Gain (IDWG) pada pasien yang menjalani hemodialisis.

 

 


BIBLIOGRAFI

 

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2018). Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Jakarta: Badan Litbang Kesehatan. Google Scholar

 

Black, J.M., & Hawks, J. .. (2014). Medical Surgical Nursing Clinical Management for Possitive Outcome ((7th ed.)). Philadelphia: W. B. Saunders Company. Google Scholar

 

Bots, Casper P., Brand, Henk S., Veerman, Enno C. I., Valentijn-Benz, Marianne, Van Amerongen, Barbara M., Valentijn, Robert M., Vos, Pieter F., Bijlsma, Joost A., Bezemer, Pieter D., & Ter Wee, Piet M. (2004). Interdialytic weight gain in patients on hemodialysis is associated with dry mouth and thirst. Kidney International, 66(4), 1662–1668. Google Scholar

 

Dehghanmehr, Sadegh, Sheikh, Ameneh, Siyasari, Ahmadreza, Karimkoshteh, Mohammad Hoseinzadeh, Sheikh, Ghodsieh, Salarzaei, Morteza, & Nooraien, Safoora. (2018). Investigating the impact of sugar free gum on the thirst and dry mouth of patients undergoing hemodialysis. Int J Pharm Sci Res., 9(5), 6–2062. Google Scholar

 

Duruk, Nazike, & Eser, Ismet. (2016). The null effect of chewing gum during hemodialysis on dry mouth. Clinical Nurse Specialist, 30(5), E12–E23. Google Scholar

 

Intan, Cahaya, Supriati, Supriati, & Sanatoso, Budi. (2017). Efek Permen Karet Rendah Gula terhadap Penurunan Keluhan Xerostomia dan Laju Aliran Saliva pada Pasien PGK yang Menjalani Hemodialisis. Majalah Kedokteran Sriwijaya, 49(3), 133–137. Google Scholar

 

Kimmel, Paul L., Varela, Maria P., Peterson, Rolf A., Weihs, Karen L., Simmens, Samuel J., Alleyne, Sylvan, Amarashinge, Amali, Mishkin, Gary J., Cruz, Illuminado, & Veis, Judith H. (2000). Interdialytic weight gain and survival in hemodialysis patients: effects of duration of ESRD and diabetes mellitus. Kidney International, 57(3), 1141–1151. Google Scholar

 

Lewis, Andrea L., Stabler, Kellee A., & Welch, Janet L. (2010). Perceived informational needs, problems, or concerns among patients with stage 4 chronic kidney disease. Nephrology Nursing Journal, 37(2). Google Scholar

 

Moissl, Ulrich, Arias-Guillén, Marta, Wabel, Peter, Fontseré, Néstor, Carrera, Montserrat, Campistol, José Maria, & Maduell, Francisco. (2013). Bioimpedance-guided fluid management in hemodialysis patients. Clinical Journal of the American Society of Nephrology, 8(9), 1575–1582. Google Scholar

 

Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2013). Brunner & Suddarth’s textbook of medical-surgical nursing ((13th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.

 

Copyright holder:

Yenny, Yohanes Gamayana Trimawang Aji (2021)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: