Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No. 7, Juli 2022

 

PEMAHAMAN SISWA TERHADAP PENDIDIKAN SEKSUAL

 

Nurmawati, Afifah Faradhila

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Indonesia

Email: nurmawatimd131@gmail.com, afifahhfaradhila@gmail.com

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Mendeskripsikan tingkat pemahaman siswa terhadap pendidikan seksual, (2) Sebagai informasi dan masukan tentang keadaan prilaku seks bebas dan upaya yang dilakukan guru pembimbing dalam pencegahan prilaku seks bebas. Penelitian ini didesain sebagai penelitian deskriptif dengan metode survey. Sampel diambil dengan cara random sampling. Seluruh data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan besarnya tingkat pemahaman siswa terhadap pendidikan seksual sangat bervariasi, tetapi pada kategori sedang sampai tinggi, dengan rerata persentase terendah 43,5% dan tertinggi 56,5%. Tingkat pemahaman siswa terhadap pendidikan seksual dari jawaban yang diberikan oleh responden perlu ditindak lanjuti dengan memberikan program pendidikan seksual.

 

Kata Kunci: pemahaman, pendidikan seksual, siswa

 

Abstract

This study aims to determine: (1) Describe the level of students' understanding of sexual education, (2) As information and input about the state of free sex behavior and the efforts made by the guidance teacher in preventing free sex behavior. This research is designed as a descriptive research with a survey method. Samples are taken by random sampling. The entire data was analyzed in a quantitative descriptive manner. The results showed that the magnitude of students' level of understanding of sexual education varied greatly, but in the moderate to high category, with the lowest average percentage of 43.5% and the highest of 56.5%. The level of students' understanding of sexual education from the answers given by respondents needs to be followed up by providing sexual education programs.

 

Keywords: understanding, sexual education, students

 

Pendahuluan

Pendidikan ditandai dengan adanya proses pembelajaran pegetahuan, keterampilan untuk mengembangkan potensi dalam diri manusia untuk kemajuan hidup lebih baik. Pendidikan berlangsung seumur hidup tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, di setiap saat selama ada pengaruh lingkungan disitu ada pendidikan. Sebagaimana menurut (Mudyahardjo, 2006:3) dalam (Masluhah & Ratnawati, 2019) pendidikan adalah segala situasi hidup yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan hidup.

Undang – undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Pendidikan utama manusia berasal dari keluarga, dan sekolah adalah lembaga pendidikan penting setelah keluarga yang berfungsi membantu keluarga mendidik anak - anak, agar anak-anak mendapat pendidikan yang tidak didapat dalam keluarga dan di didik oleh pendidik professional yaitu guru. Tugas guru merupakan tugas limpahan dari tanggung jawab orang tua, tujuan pendidikan tersebut untuk membentuk pengembangan kemampuan anak - anak secara optimal baik akademis maupun non akademis yaitu mendidik anak menuju kedewasaan dan perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik dengan tujuan yang bersifat sosial agar anak dapat hidup dan tumbuh bersosialisasi dilingkungan dan kelompok sosial dan bermoral.

Pada masa remaja, individu kan mengalami peralihan dari anak menjadi dewasa. Menurut (Wirawan, 2002) dalam (Putro, 2017) "WHO memberikan batasan mengenai siapa remaja secara konseptual. Dikemukakan oleh WHO ada tiga kriteria yang digunakan; biologis, psikologis dan sosial ekonomi, yakni: (1) individu berkembang saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual, (2) individu yang mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa, dan (3) terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang lebih mandiri.” Perubahan ini dapat mempengaruhi kehidupan pribadi, lingkungan keluarga, maupun masyarakat. Masa peralihan menuju kedewasaan ini memerlukan bimbingan dalam proses mencapai tugas perkembangannya, karena dengan ketidak siapan remaja dalam menghadapi perubahan tersebut dapat menimbulkan perilaku menyimpang. Masa ini memerlukan pembinaan, pembinaan ini baik dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling.

Bimbingan dan Konseling ditandai dengan pemberian bantuan kepada peserta didik sebelum terjadinya masalah dan setelah terjadinya masalah oleh seorang ahli yaitu konselor atau guru Bimbingan dan Konseling. Sebagaimana menurut (ABKIN, 2007) Bimbingan dan Konseling bukanlah kegiatan pembelajaran dalam konteks adegan mengajar yang layaknya dilakukan guru sebagai pembelajaran bidang studi, melainkan layanan ahli dalam konteks memandirikan peserta didik.

Dalam konteks layanan, konselor atau guru BK semestinya mampu memberikan pencegahan pada tindakan atau perilaku seksual pranikah yang dilakukan oleh siswa. Hal ini dikarenakan pada masa ini bisa dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab dengan cara melibatkan remaja tersebut ke dalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai-nilai moral seperti seks bebas. Berdasarkan hasil survey SDKI 2012 Kader Kesehatan Remaja (KKR) menunjukan bahwa sekitar 9,3% atau 3,7 juta remaja menyatakan pernah melakukan hubungan seksual pranikah, angka ini meningkat pada survey SDKI tahun 2017, 50% remaja laki-laki dan perempuan 30% mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah.

Perilaku seks diluar nikah yang dilakukan remaja berakibat kehamilan, yang berdampak pada kehidupan mereka sebagai siswa. Siswa mempunyai kewajiban sekolah dan karena itu jadi terbengkalai, mereka memilih berhenti sekolah karena harus merawat anak.  Menurut (Ikhwaningrum & Harsanti, 2020) kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan mengingat perilaku tersebut dapat menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan kemudian memicu praktik aborsi yang tidak aman, penularan PMS dan HIV/ AIDS, bahkan kematian.

 Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah di kecamatan Tegalwaru beberapa siswa melakukan seks pranikah dan mengakibatkan kehamilan. Factor yang mempengaruhi remaja melakukan seks bebas diantaranya adalah informasi, remaja memiliki keingintahuan yang tinggi, dengan internet sangat memudahkan remaja dalam mencari informasi yang mereka inginkan dan informasi yang di dapat remaja ini ada yang bersifat positive serta negative. Sebagaimana menurut (Maimunah, 2019) yang  menyatakan  bahwa  “media  memberikan  kontribusi  dalam  perilaku  remaja seperti  kekerasan,  gangguan  makan,  penggunaan  alkohol  dan  obat-obatan  serta  perilaku seksual.”

Pendidikan seks sebaikanya diberikan dari lingkungan rumah karena orang tua merupakan lingkungan pertama dalam kehidupan anak. Menurut (Justicia, 2017) namun kenyataannya pendidikan seks pada anak masih dianggap tabu oleh orang tua.  Karena orang tua tidak menjelaskan maka remaja mencari infomasi dari kelompok mana saja. Usia remaja ini usia yang sedang mengutamakan teman banyak remaja memperlihatkan minat mereka terhadap seks dengan membicarakan seks tersebut bersama teman-teman sebaya demikian juga hasil riset yang dilakukan oleh (Kallen, Stephenson, & Doughty, 1983) “menunjukkan bahwa kebanyakan remaja mendapat informasi tentang seks melalui teman temannya tidak melalui orang tuanya.”

Pentingnya pendidikan seks pada remaja merupakan salah satu solusi serta penceghan dalam menghadapi permasalahan yang dialami siswa saat ini. Menurut (Ikhwaningrum & Harsanti, 2020) pendidikan seks mengajarkan dan memberi pengertian serta menjelaskan masalah-masalah yang menyangkut seks, naluri dan perkawinan kepada anak semenjak akalnya mulai tumbuh dan siap memahami hal-hal mengenai seks dan perilaku yang tidak bertanggung jawab.

Lingkungan yang tepat dalam proses pendidikan seks bagi remaja adalah rumah dan sekolah, dukungan remaja dari lingkungan terdekat baik orangtua maupun guru sangat dibutuhkan pada tahapan ini, karena pada fase ini remaja akan mengalami kebingungan dengan perubahan yang mereka alami dan keingitahuan yang tinggi akibat perubahan yang dialami. Sekolah sebagai lembaga pendidikan penting sekali untuk mengoptimalkan bimbingan dan konseling sebagai wadah perkembangan psikologis siswa sebagai pendampingan dan sosialisasi pendidikan seks bagi siswa agar mereka mengetahui, memahami, dampak akan perilaku seks diluar nikah agar mereka dapat berhati-hati.

Metode Penelitian

Penelitian ini didesain sebagai penelitian deskriptif dengan metode survey terhadap peserta didik SMA dan SMK. Variabel pada penelitian ini adalah pendidikan seks. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa tingkat SLTA di Kecamatan Pangkalan, kabupaten karawang, diantaranya SMAN 1 Pangkalan dan SMK Iptek Sanggabuana dengan jumlah sebanyak 1.430 siswa. Sampel diambil secara random sampling. Instrumen berupa angket menggunakan google form. Yang telah di uji validitasnya, berjumlah 33 soal yang terdiri dari 3 aspek yaitu aspek psikologis, biologis dan sosial.

 

Hasil dan Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap pendidikan seksual. Berdasarkan data-data yang telah diperoleh dan diolah menggunakan program SPSS for windows version 26 diketahui tingkat pemahaman siswa terhadap pendidian seksual. Seluruh data yang diperoleh berdasarkan hasil angket yang telah di isi dengan menggunakan google form pada siswa tingkat SLTA di Kecamatan Pangkalan di antaranya SMAN 1 Pangkalan dan SMK Iptek Sanggabuana dengan jumlah 115 sampel. Melalui surat ijin penelitian ke sekolah secara langsung. Diperoleh hasil tingkat pemahaman siswa terhadap pendidikan seksual, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

 

Tabel 1

Rerata Pemahaman Berdasarkan Jenis Kelamin

No

Aspek

Rerata Pemahaman %

 

 

Laki-laki        

Perempuan

  1.  

Psikologis

46,1

53,9

  1.  

Sosial

46,1

53,9

  1.  

Biologis

46,1

53,9

 

Rerata

46,1

53,9

 

Kriteria

Sedang                     

Sedang

 

Tabel 2

Rerata Pemahaman Berdasarkan Tingkat Sekolah

No

Aspek

Rerata Pengetahuan %

 

 

SMA

SMK

  1.  

Psikologis

56,5

43,5

  1.  

Sosial

56,5

43,5

  1.  

Biologis

56,5

43,5

 

Rerata

 

Tinggi

 

Kriteria

 

Sedang

 

Diketahui pada tabel 1 secara keseluruhan berdasarkan hasil pengolahan data dari kuesioner tingkat pemahaman siswa terhadap pendidikan seksual rerata pemahaman pendidikan pada ketiga aspek pengetahuan jika ditinjau dari jenis kelamin maka antara peserta didik laki-laki dan perempuan selisihnya relatif kecil, meskipun peserta didik perempuan memiliki rerata sedikit lebih besar dari rerata peserta didik laki-laki.

Pada tabel 2 peserta didik SMA memiliki rerata pemahaman pendidikan seksual yang jauh lebih tinggi. Sedangkan peserta didik SMK memiliki rerata pemahaman siswa terhadap pendidikan seksual lebih rendah daripada rerata peserta didik SMA.

Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat pemahaman siswa terhadap pendidikan seksual pada siswa berdasarkan jenis kelamin responden, responden perempuan relatif lebih besar dari responden laki-laki. Tingkat pemahaman responden terhadap pendidikan seksual pada tingkat SMA termasuk dalam kategori tinggi (56,5%). Sedangkan responden tingkat SMK termasuk dalam kategori sedang (43,5%).

Responden yang termasuk dalam kategori sedang menunjukan bahwa mereka memiliki pemahaman yang cukup dalam pendidian seksual. Responden yang termasuk dalam kategori sedang karena mereka mendapatkan informasi yang sesuai kebutuhan mereka mengenai pendidikan seksual.

Beberapa pernyataan yang ditanyakan pada bagian angket ini menunjukan respon yang sebagian besar benar atau salah pada beberapa pernyataan. Seperti pernyataan “Saya mendapatkan pendidikan seks dari orang tua” 60% responden menjawab sangat tidak setuju yang memiliki arti mereka tidak mendapatkan pendidikan seks dari orang tua. Hal ini benar adanya karena masih banyak orang tua yang menganggap tabu untuk memberikan pendidikan seks kepada anak,  malu untuk membicarakan hal tersebut.

Kemudian pada pernyataan “Saya mengetahui bahwa kondom aman untuk mencegah kehamilan” 35.7% responden setuju bahwa kondom aman untuk mencegah kehamilan dan benar, bahwa kondom efektif mencegah kehamilan hingga 98%.

Kemudian pada pernyataan “Berhubungan seksual sekali saja tidak dapat mengakibatkan kehamilan”, sebagian besar responden memiliki persepsi yang benar yaitu menjawab “sangat tidak setuju” dan “sidak setuju”, artinya sebagian besar responden mengetahui bahwa berhubungan seksual sekali saja dapat menyebabkan kehamilan.

Kemudian pada pernyataan “Saya mengetahui bahwa masturbasi/ onani dapat menghambat pertumbuhan” sebagian besar persepsi responden menjawab “sangat tidak setuju” dan “tidak setuju” pada pernyataan tersebut, hal ini merupakan suatu yang mengembirakan karena mereka tahu bahwa tidak ada kaitan antara masturbasi/ onani dengan menghambat pertumbuhan.

Beberapa pernyataan yang ditanyakan pada angket ini menunjukan respon yang benar dan ada juga yang salah. Persepsi yang salah dapat berbahaya karena dapat menjerumuskan pada perilaku yang salah. Seperti pernyataan “Saya mengetahui bahwa melakukan hubungan seksual pada pertama kali ditandai dengan keluarnya darah dari vagina” sebagian besar siswa menjawab “setuju” dan “sangat setuju”, padahal persepsi tersebut “salah”, keluarnya darah dari vagina tidak selalu pada saat pertama kali berhubungan seks. Tebal tipisnya selaput dara setiap orang berbeda-beda, seperti seorang atlit yang banyak gerakan yang dapat menyebabkan sobeknya selaput dara. Sebanyak 40.9% atau 47 responden menjawab setuju dan 23.5% atau 27 responden menjawab sangat setuju, kemudian 14.8% atau 17 responden menjawab sangat tidak setuju dan 20.9% atau 24 responden menjawab tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Pada pernytaan “Saya mengetahui bahwa penularahn HIV bukan karena hubungan seks” ternyata sebagian besar responden (47.8%) menyatakan “sangat tidak setuju” dengan penyataan tersebut karena benar adanya kebanyakan orang mengira bahwa penularan HIV karena hubungan seksual yang tidak aman, padahal iahanya salah satu jenisnya saja. Masih banyak cara lain yang bisa menyebabkan penularan HIV seperti penggunaan jarum suntik, proses kehamilan, persalinan atau menyusui dan tranfusi darah.

Pada pernyataan “PMS adalah premenstrual syndrome”, jawabannya sangat variatif, 40.9% menjawab setuju, 23.5% menjawab sangat setuju. Berdasarkan analisis data, PMS dalam pernyataan ini adalah premenstrual syndrome benar adanya, yaitu sindrom pramenstruasi atau gejala-gejala yang dialami wanita sebelum memasuki masa menstruasi. PMS ini masih banyak salah diartikan, banyak yang menyebut ketika sedang menstruasi, haid atau dating bulan adalah sedang PMS.

Tidak semua responden mendapatkan pendidikan seks melalui orang tua, sebagian besar responden mendapatkan pendidikan seks melainkan dari internet atau dari sekolah. Pada pernyataan “Saya mendapatkan pendidikan seks dari sekolah” ternyata sebagian besar responden (47 %) menjawab sangat tidak setuju. Hasil ini menunjukan bahwa sekolah tidak memberikan pendidikan seksual, hal ini perlu menjadi perhatian karena pemahaman pendidikan seks yang diperoleh dari internet belum tentu benar. Respon  menarik diberikan responden yaitu pada pernyataan “Saya mengakses konten pornografi untuk belajar tentang seks” 57.4% responden menjawab sangat tidak setuju, walaupun mereka tidak mendapat pendidikan seks dari orang tua, sekolah mereka tidak belajar tentang seks melalui konten pronografi karena dengan mengakses konten pornografi dapat mengakibatkan pelepasan zat serotonin, zat tersebut dapat memberikan efek tenang. Tetapi bagi mereka yang sudah kecanduan maka otak akan menghubungkan rasa tenang tersebut dengan mengakses konten pornografi, kemudian dapat menciptakan dopamin, dopamin dapat tercipta jika seseorang melakukan sesuatu yang menyenangkan. Walaupun begitu ternyata otak tidak bisa membedakan dopamin alami dan dopamin dari sesuatu yang tidak sehat, salah satunya dari menonton video tidak senonoh.

Pada butir pernyataan yang berkaitan dengan aspek biologis yaitu “Datang bulan sebulan 2 kali itu tidak normal” 43 responden menjawab “tidak setuju”, dan itu merupakan persepsi yang benar, karena menstruasi dua kali dalam sebulan dianggap normal jika disebabkan oleh siklus menstruasi yang memang terbilang pendek atau dibawah 28 hari. Hasil sebaliknya pada pernyataan “Datang bulan sebulan 2 kali itu normal” sebanyak 35.7% atau setara 41 siswa menjawab “setuju” dan 14.8% atau setara 17 siswa menjawab “sangat setuju”, artinya sebagian besar responden mengetahui bahwa menstruasi dua kali dalam sebulan adalah hal yang normal. Penyebab pertama seseorang mengalami menstruasi dua kali sebulan karena siklus menstruasi yang belum teratur, seringnya terjadi pada anak remaja yang baru saja memasuki fase pubertas.

Respon ketika menjawab “Saya mengetahui bahwa pada saat malam pertama itu harus berdarah”, ternyata sebanyak 40 responden (34.8%) menjawab “tidak setuju” dan 27 responden (23.5%) menjawab “sangat tidak setuju”, artinya sebagian besar responden mengetahui bahwa selaput dara tidak harus selalu berdarah saat penetrasi pertama. Ini bisa disebabkan kondisi jaringan vagina setiap wanita berbeda.

Pada aspek pernyataan yang berkaitan dengan aspek biologis “Masturbasi mempengaruhi ukuran alat kelamin pria”, sebagia besar persepsi responden benar dengan menjawab “sangat tidak setuju” dan “tidak setuju”. Ini merupakan sesuatu yang menggembirakan, karena mereka tahu bahwa masturbasi tidak mempengaruhi ukuran alat kelamin pria.

Salah satu pernyataan seputar aspek biologis “Ketika hamil wanita tetap bisa menstruasi” hasilnya menunjukan sebagian besar persepsi responden benar dengan menjawab “sangat tidak setuju”, karena secara ilmiah menstruasi saat hamil tidak mungkin terjadi, akan tetapi seorang wanita yang sedang hamil bisa saja mengalami pendarahan dari vagina yang menyerupai menstruasi.

Pada pernyataan yang berkaitan dengan aspek sosial, yaitu “Ketika hamil kemudian memakan buah nanas akan menyebabkan keguguran”, hasilnya menunjukan sebagian besar salah persepsi sebanyak 40 responden ( 34.8%) menjawab setuju dan sebanyak 27 responden (23.5%) menjawab sangat setuju, padahal harusnya “sangat tidak setuju” atau “tidak setuju”. Karena hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan nanas berbahaya bagi kehamilan.

Untuk pernyataan “Payudara akan membesar apabila diraba oleh lawan jenis” sebagian besar persepsi responden salah dengan menjawab “setuju” (33%)  dan “sangat setuju” (20%). Karena pertumbuhan ukuran payudara wanita pada kenyataannya bukan dipengaruhi oleh sentuhan lawan jenis, melainkan factor genetic dan hormon.

Respon ketika menjawab pertanyaan “Masturbasi hanya dilakukan oleh laki-laki” ternyata sebanyak  50 responden (43.5%) menjawab “sangat tidak setuju” dan 33 responden (28.7%) menjawab “tidak setuju” sebagian besar benar dengan menjawab “sangat tidak setuju”, artinya sebagian besar responden mengetahui bahwa melakukan masturbasi atau seks solo bisa saja dilakukan pria dan wanita.

Untuk pernyataan “Hamil diusia muda beresiko pada kecacatan dan bayi prematur, bahkan kematian pada ibu dan bayi” sebagian besar responden memiliki persepsi yang benar, yaitu menjawab “setuju”, artinya sebagian besar responden mengetahui bahwa hamil diusia muda beresiko pada kecacatan dan bayi prematur.

Pernyataan berikutnya, yaitu “Organ reproduksi wanita hanya vagina dan rahim saja” hasilnya menunjukan persepsi yang salah dengan menjawab “setuju”, padahal harusnya “tidak setuju”, karena organ reproduksi wanita terdiri dari atas organ internal meliputi dua bagian yaitu luar dan dalam, bagian luar yaitu labia majora, labia minora, kelenjar barholin, klitoris, dan bagian dalam, yaitu vagina, ovarium, tuba falopi, rahim, leher rahim.

Sama dengan pernyataan sebelumnya masih dengan aspek biologis yaitu, “Organ reproduksi pria hanya penis dan buah zakar saja” hasilnya menunjukan persepsi yang salah dengan menjawab “setuju”, karena organ reproduksi pria terdiri dari penis, testis, saluran kemih, saluran ejakulasi, kelenjar prostat dan lain lain.

Untuk pernyataan selanjutnya, yaitu “Sering melakukan maturbasi/ onani dapat menyebabkan kemandulan”, sebagian besar responden memiliki persepsi yang benar dengan menjawab “sangat tidak setuju” sebanyak 28 responden (24.3%) dan 37 responden (32.2%) menjawab “tidak setuju”, karena melakukan masturbasi/ onan bukan penyebab dari kemandulan, pada umumnya masturmasi merupakan kegiatan yang wajar. Hingga saat ini belum ada bukti secara medis yang membuktikan secara kuat antara kemandulan dan onani.

Pada pernyataan “Menelan sperma dapat menyebabkan kehamilan” sebagian besar responden menjawab “sangat tidak setuju” dan “tidak setuju”, dan itu merupakan persepsi yang benar, karena sperma yang tertelan akan masuk kedalam saluran pencernaan dan hal tersebut tidak bisa membuat hamil. Karena agar bisa terjadi kehamilan, sel sperma harus bertemu dengan sel telur di organ reproduksi wanita dan ini hanya bisa terjadi melalui hubungan intim, bukan seks oral.

Pernyataan selanjutnya yaitu “Maturbasi tidak dapat dilakukan oleh perempuan” sebagian responden menjawab “sangat tidak setuju” dan “tidak setuju”, dan itu merupakan persepsi yang benar.

Pernyataan berikutnya yaitu, “Penyakit menular seksual dapat ditularkan melalui cairan dari tubuh” ternyata sebanyak  55 responden (47.8%) menjawab “setuju” dan 18 responden (15.7%) menjawab “sangat setuju” sebagian besar benar dengan menjawab “setuju”, artinya sebagian besar responden mengetahui bahwa penyakit menular seksual dapat ditularkan melalui cairan dari tubuh, menyebar melalui hubungan intim, baik secara vaginal, anal, atau oral.

Pada pernyataan “PMS adalah singkatan dari penyakit menular seksual” hasilnya menunjukan kecenderungan persepsi yang sama, yaitu sebagian besar salah persepsi dengan menjawab “sangat tidak setuju”, padahal harusnya “setuju” atau “sangat setuju”.

Respon ketika menjawab “Saya tahu bahwa orgasme hanya dirasakan oleh laki-laki” dimana responden sebagian besar persepsinya benar dengan menjawab “sangat tidak setuju” sebanyak 44 (38.3%) dan “setuju” sebanyak 44 (38.3%) dan jumlah yang menjawab “setuju” sebanyak 20 (17.4%) dan 7 (6.1%).

Pada pernyataan “Cairan putih pada wanita disebut sperma” ternyata sebanyak  56 responden (48.7%) menjawab “sangat tidak setuju” dan 36 responden (31.3%) menjawab “tidak setuju”, artinya sebagian besar responden mengetahui bahwa cairan putih pada wanita bukan disebut sperma melainkan keputihan.

pada pernyataan yang berkaitan dengan aspek sosial, yaitu “Saya mengetahui bahwa kondom aman untuk mencegah penyakit menular seksual” 29 responden (25.2%) menjawab “sangat tidak setuju” dan 26 responden (31.3%), padahal  kondom aman untuk mencegah penakit menular seksual dan terbukti efektif menurunkan tingkat infeksi baik pada pria dan wanita, dengan penggunaa kondom yang benar dan bahan kondom yang berkualitas mengurangi resiko kegagalan penggunaan kondom dan dapat untuk mencegah penyakit menular seksual.

Pada pernyataan “Mengeluarkan sperma diluar vagina tidak menyebabkan kehamilan” sebagian besar responden menjawab “setuju” dan “sanga setuju”, dan itu merupakan persepsi yang salah, karena kehamilan masih mungkin terjadi meskipun sperma dikeluarkan di luar vagina.

Pernyataan berikutnya yaitu, “Saya mengetahui bahwa melakukan hubungan seksual tidak hanya lewat vagina, tapi bisa lewat anus” jawaban pada pernyataan ini sangat bervariatif, 35 responden (30.4%) menjawab “sangat tidak setuju”, kemudian 33 responden (28.7%) menjawab “tidak setuju”, kemudian 38 responden (33%) menjawab “setuju” dan 9 responden (7.8%) menjawab sangat setuju. Artinya sebagian besar responden mengetahui bahwa berhubungan seksual tidak hanya lewat vagina tetapi bisa lewat anus, tetapi perlu diketahui berhubungan lewat anus memiliki resiko terkena infeksi lebih besar salah satunya bisa membuat pendarahan hingga menyebabkan wasir.

Kesimpulan

Berdasarkan data yang telah dianalisis dari responden peserta didik tingkat SLTA yaitu SMA dan SMK, maka dapat disimpulkan tingkat pemahaman siswa terhadap pendidikan seks sangat bervariasi, tetapi berada pada kategori rendah sampai tinggi. Dengan persepsi peserta didik SMK lebih kecil dari pada peserta didik SMA. Dengan rerata persentase terendah (43.5%) dan tertinggi (56,5%). Ditinjau dari jenis kelamin tingkat pemahaman siswa terhadap pendidikan seks pada perempuan jauh lebih besar dari pada laki-laki, dengan rerata persentase terendah (46,1%) dan tertinggi (53,9%). Beberapa persepsi yang ditanyakan pada angket ini menunjukan respon yang sebagian besar benar atau salah pada beberapa pernyataan. Tetapi hal ini perlu diwaspadai, karena bukan tidak mungkin ada responden yang tidak jujur meskipun tidak ada nama yang harus dicantumkan dalam pengisian angket.

Hasil lainnya menunjukan sikap/ perilaku remaja terhadap pendidikan seksual perlu ditindak lanjuti dalam bentuk pemberian program pendidikan seks, karena dari jawaban yang diberikan pada penelitian ini banyak persoalan yang dikhawatirkan berimbas pada hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan hasil penelitian ini diharapkan untuk memikirkan perlunya memasukkan materi pendidikan seks di sekolah tingkat SLTA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Ikhwaningrum, Dian Utami, & Harsanti, Tikka Dessy. (2020). Pendidikan Seks Bagi Mahasiswa Sebagai Upaya Penanggulangan Perilaku Seks Bebas. Jurnal Praksis Dan Dedikasi Sosial (JPDS), 3(2), 68–72. Google Scholar

 

Justicia, Risty. (2017). Pandangan Orang Tua Terkait Pendidikan Seks Untuk Anak Usia Dini. Early Childhood: Jurnal Pendidikan, 1(2), 28–37. Google Scholar

 

Kallen, David J., Stephenson, Judith J., & Doughty, Andrea. (1983). The need to know: Recalled adolescent sources of sexual and contraceptive information and sexual behavior. Journal of Sex Research, 19(2), 137–159. Google Scholar

 

Maimunah, Siti. (2019). Implementasi pendidikan seks berbasis sekolah. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 7(2), 225–234. Google Scholar

 

Masluhah, Dea Misqiyatul, & Ratnawati, Etty. (2019). Pengaruh Pendidikan Alam Bebas Terhadap Kesadaran Kelestarian Lingkungan. Edueksos: Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi, 8(2). Google Scholar

 

Putro, K. Z. (2017). Memahami Ciri dan Tugas Perkembangan Masa Remaja. Aplikasia: Jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama, 17, 25-32. Google Scholar

        

Copyright holder:

Nurmawati, Afifah Faradhila (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: