Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia pISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No. 7, Juli 2022

 

CAMPUR KODE BAHASA ARAB DALAM KOMUNIKASI LISAN SISWA PESANTREN AL-YUSRIYAH

 

Irma Oktavianti, Akmal Walad Ahkas

Universitas Sumatera Utara Medan, Indonesia

Email: irmaoktavianti823@gmail.com, akmalwaladahkas@uinsu.ac.id

 

Abstrak

Campur Kode Bahasa Arab Dalam Komunikasi Lisan Siswa Pesantren Al-Yusriyah. Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan. Penelitian ini membahas tentang campur kode pada komunikasi lisan siswa kelas VII Tsanawiyah Pesantren Al-Yusriyah. Permasalahan yang diteliti adalah apa saja unsur unsur bahasa Arab yang disisipkan dalam campur kode pada komunikasi lisan siswa kelas VII Tsanawiyah Pesantren Al-Yusriyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apa penyebab terjadinya campur kode dalam komunikasi lisan siswa kelas VII Tsanawiyah Pesantren Al-Yusriyah. Penelitian ini menggunakan teori Suwito. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif melalui studi lapangan dan mengumpulkan data dilakukan dengan teknik simak yang tekniknya adalah tekinik simak bebas cakap. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada tiga unsur bahasa yang terlibat dalam campur kode yaitu unsur bahasa yang berwujud kata, unsur bahasa yang berwujud frase, dan unsur bahasa yang berwujud kalusa. Penyebab terjadinya campur kode pada komunikasi lisan siswa kelas VII Pesantren Al-Yusriyah karena banyaknya siswa yang masih kurang memahami kosa kata bahasa Arab itu senidri dikarenakan baru pertama kalinya belajar bahasa Arab dan pihak sekolah yang mewajibkan siswanya mampu berbahasa Arab dan tidak mempermasalahkan siswanya apabila menggunakan dua bahasa pada komunikasi sehari hari.

 

Kata Kunci: kode, komunikasi lisan, bahasa Arab

 

Abstract

Mixing Arabic Codes In Oral Communication Of Modern Boarding School Students Al-Yusriyah. Department of Arabic Education, Faculty of Tarbiyah and Teaching Tranning, Islamic University of North Sumatra, Medan. This study discusses the mixing of codes in the oral communication of class VII students of Tsanawiyah Modern Islamic Boarding School Al-Yusriyah. The problem studied is what are the elements of the Arabic language element inserted in the code mix in the oral communication of grade VII students of Tsanawiyah Modern Islamic Boarding School Al-Yusriyah. This study aims to find out what is the cause of code mixing in the oral communication of class VII students of Tsanawiyah Modern Islamic Boarding School Al-Yusriyah. This research uses Suwito's theory. This research uses a descriptive method through field studies and collects data carried out with a listening technique whose technique is a free listening technique. The results of this study show that there are three elements of language involved in mixing codes, namely language elements in the form of words, language elements in the form of phrases, and language elements in the form of kalusa. The cause of code mixing in the oral communication of class VII students of the Al-Yusriyah Modern Islamic Boarding School is because many students still do not understand the vocabulary of Arabic because it is the first time to learn Arabic and the school requires students to be able to speak Arabic and does not mind their students if they use two languages in daily communication.

 

Keywords: code, oral communication, Arabic

 

Pendahuluan

Di kehidupan bermasyarakat bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau alat interaksi yang hanya di miliki manusia (Chaer 2010:11). Seperti hal yang kita ketahui bahwa bahasa dan masyarakat adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa adanya masyarakat tidak mungkin ada bahasa, begitu juga sebaliknya tanpa bahasa tidak mungkin adanya masyarakat. Hal ini disebabkan oleh adanya masyarakat yang merupakan sekumpulan individu yang saling terhubung dan alat penghubung yang paling efektif bagi masyarakat adalah bahasa.

Chaer (2002:2) mengatakan Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat. Maka, untuk memahami apa sosiolinguistik itu kita perlu terlebih dahulu membicarakan yang dimaksud dengan sosiologi dan linguistik itu. Tentang sosiologi telah banyak batasan yang telah dibuat oleh para sosiolog, yang sangat bervariasi, tetapi yang intinya sosiologi itu adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia di dalam masyarakat. Sosiologi berusaha mengetahui bagaimana masyarakat itu terjadi, berlangsung dan tetap ada. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masalah sosial dalam satu masyarakat, akan diketahui cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, bagaimana mereka bersosialisasi, dan menempatkan diri dalam tempatnya masing-masing di dalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian, secara mudah dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat.

Indonesia adalah negara yang multilingual. Selain bahasa Indonesia yang digunakan secara nasional, terdapat pula ratusan bahasa daerah, besar maupun kecil, yang digunakan oleh para anggota masyarakat bahasa daerah itu untuk keperluan yang bersifat kedaerahan. Dalam masyarakat multilingual yang mobilitas geraknya tinggi, maka anggota-anggota masyarakatnya akan cenderung untuk menggunakan dua bahasa atau lebih, baik sepenuhnya maupun sebagian, sesuai dengan kebutuhannya (Chaer 2012:65). Akibat adanya kontak bahasa (dan juga kontak budaya), dapat terjadi peristiwa atau kasus yang di sebut interferensi, integrasi, alih kode dan campur kode. Interferensi adalah terbawa unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang di gunakan, sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah dari bahasa yang sedang digunakan itu. Interferensi biasanya dibedakan dari integrasi. Dalam integrasi unsur-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk itu, sudah dianggap, diperlakukan, dan dipakai sebagian dari bahasa yang menerimanya atau yang dimasukinya (Chaer 2012:66).

Dalam masyarakat yang multilingual seringkali terjadi peristiwa yang di sebut alih kode, yaitu beralihnya penggunaan satu kode (entah bahasa ataupun ragam bahasa tertentu) kedalam kode yang lain (bahasa atau ragam bahasa lain). Campur kode terjadi tanpa sebab, berbeda dengan Alih kode, dalam masyarakat Indonesia kasus Campur kode ini biasa terjadi. Biasanya dalam berbicara bahasa Indonesia dicampurkan dengan usur-unsur bahasa daerah tercampur unsur-unsur bahasa Indonesia (Chaer 2012:69).

Bahasa asing yang dipelajari dan sering digunakan oleh masyarakat Indonesia satu diantaranya adalah bahasa Arab. Hal ini didukung oleh adanya pelajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi, terutama sekolah di pondok pesantren yang selalu menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa wajib mereka.

Pesantren Al-Yusriyah adalah pesantren yang terletak di Desa Sei Meran Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1990 oleh Haji Muhammad Yusuf Simanjuntak. Pesantren ini dibawah naungan Kementrian Agama dan memiliki akreditasi A pada tahun 2018- 2023. Pada tahun ajaran 2021/2022 siswa Tsanawiyah kelas VII Pesantren Al-Yusriyah berjumlah 38 orang. Sebagai lembaga pendidikan Pesantren Al-Yusriyah ini mempunyai visi dan misi terwujudnya anak didik yang unggul dalam imtaq dan iptek. Saat ini pondok Pesantren Al-Yusriyah ini dipimpin oleh Siti Afnizar, M.Pd.

Bahasa yang digunakan siswa Tsanawiyah Pesantren Al-Yusriyah dalam berkomunikasi adalah bahasa Arab. Bahasa ini digunakan secara aktif di antara sesama mereka, baik antara teman sekelas, adik kelas, kakak kelas bahkan dengan para guru. Bahasa Arab merupakan bahasa kedua bagi siswa Tsanawiyah Pesantren Al-Yusriyah. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti ketika berada di Pesantren Al-Yusriyah, peneliti mendengar para siswa selalu memasukkan unsur-unsur bahasa Indonesia sebagai campur kode ketika berkomunikasi dalam bahasa Arab selalu terdengar adanya unsur- unsur bahasa Arab yang disisipkan.

Dalam sosiolinguistik hal yang demikian itu disebut dengan campur kode, sebagaimana yang dikatakan Kachru dalam Suwito (1983 :76) bahwa pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara bersistem.

Penelitian tentang campur kode ini sudah pernah di teliti oleh Deffi Syafitri Ritonga (2003) dengan judul Campur kode dalam Percakapan Santriwati Kelas VII Pondok Pesantren Al-Ansor Manunggang Kota Padang Sidemnpuan. Hasil penelitiannya menunjukan santriwati banyak menggunakan serpihan-serpihan kata bahasa Arab dalam percakapan mereka sehari-hari. Selain itu mereka juga wajib menggunakan bahasa arab dalam dua minggu setiap bulannya.

Penelitian tentang campur kode ini juga sudah pernah diteliti oleh Aslamiah (2006) dengan judul Pemakaian Campur Kode Dalam Komunikasi Lisan Siswa-Siswi Pesantren Al-Manar Medan Johor. Penelitian yang beliau lakukan berbicara tentang unsur-unsur bahasa serta klasifikasi unsur bahasanya dalam campur kode komunikasi lisan siswa madrasah. Penelitian ini menggunakan teori Soewito, dan metode deskriprif. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini, ada tiga unsur dalam peristiwa campur kode pada komunikasi lisan siswa Pesantren al- Manar yaitu, kata frase, klausa. Dengan klasifikasi kata terdiri atas isim, fil, huruf. Frase terdiri atas idhafah, naat manut, dan jar majrur. Klausa terdiri atas jumlah filiyah dan jumlah ismiyah.

Adapun perbedaan dan kesamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang saat ini adalah pada penelitian terdahulu dan peneliatiaan saat ini sama sama mengkaji tentang campur kode dalam komunikasi. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian ini meneliti tentang unsur-unsur campur kode bahasa yang terjadi dalam komunikasi lisan siswa kelas 2 Tsanawiah Pesantren Al-Yusriyah dan penyebab terjadinya campur kode, kemudian lokasi dan objek penelitian.

 

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yaitu memaparkan dan menggambarkan keadaan serta fenomena yang jelas mengenai situasi yang terjadi dengan menggunakan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode cakap teknik bebas cakap, catat dan rekam. Metode cakap teknik bebas cakap untuk menunjukkan bahwa informan benar melakukan komunikasi campur kode, selain itu peneliti hanya berperan sebagai pengamat pengguna bahasa oleh para informannya. Data yang di peroleh dengan cara dipancing diabadikan dengan mencatatnya pada satu data dan sekaligus direkam.

Menurut Arikunto (2006:130-131) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Jumlah populasi penelitian ini berdasarkan jumlah keseluruhan murid di Tsanawiyah Pesantren Al-Yusriyah yaitu 150 orang. Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dengan demikian yang menajdi populasi dalam penelitian ini adalah siswa perempuan kelas VII Tsanawiyah Pesantren Al-Yusriyah yang berjumlah 38 siswa. Arikunto (2006:134) menyampaikan apabila subjeknya lebih dari 100 orang, maka diambil dapat diambil 10-15% atau 20-25%.

 

Hasil dan Pembahasan

Unsur-Unsur Bahasa yang Dimasukkan dalam Campur Kode pada Komunikasi Lisan Siswa kelas VII Tsanawiyah Pesantren Al-Yusriyah

Berdasarkan data yang peneliti peroleh melalui komunikasi lisan di Pesantren Al-Yusriyah, maka ditemukan unsur bahasa yang disisipkan dalam campur kode sebagai berikut:

Penyisipan Unsur Bahasa yang Berwujud Kata

a.      Penyisipan unsur bahasa yang berwujud kata antara bahasa Arab (BA) dengan bahasa Indonesia (BI)

Dialog (1)

A : ماذ في فصل؟

"Apa yang kelas?"

B : kursi في فصل

"di kelas ada kursi"

A : ماذ في السماء؟

"apa yang ada di langit"

B : bintang في السماء

"di langit ada bintang"

Pada dialog (1) terjadi campur kode bahasa indonesia dalam bahasa arab oleh penutur B: papan tulis في فصل "di kelas ada papan tulis" Dan B: bintang في السماء "di langit ada bintang". Pada kalimat yang di ucapkan oleh penutur B dan B terdapat penyisipan unsur bahasa berupa kata kursi dan binatang yang di dalam bahasa indonesia tergolong dalam kata benda (nomina), dan bahasa arab sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (2)

A : أريد اذهب الى الميدان

"Saya mau ke lapangan"

B : فى الميدان ngapain

"Ngapain di lapangan?"

A : Olah raga فى الميدان

"Di lapangan olahraga"

Pada dialog (2) ini terjadi campur kode bahasa Indonesia dalam bahasa Arab oleh penutur B : ngapai فى الميدان "ngapai di lapangan?" A : olahraga في الميدان "di lapangan olahraga". Terdapat penyisipan unsur bahasa berupa kata ngapai di dalam bahasa Indonesia yang merupakan kata tidak baku yang tergolong dalam kata tanya, sedangkan olahraga di dalam bahasa Indonesia tergolong dalam kata kerja (Verba). Dalam kalimat B dan A menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog(3)

A : استعر قلمك

" saya pinjem pulpenmu"

B : satuقلم انا الا

"pena saya cuma satu"

A : pelitانت

"kamu pelit"

Pada dialog (3) ini terjadi campur kode bahasa indonesia dalam bahasa arab oleh penutur satu قلم انا الا "pena saya cuma satu" dan A : pelit انت "kamu pelit". Terdapat penyisipan unsur bahasa berupa kata satu di dalam bahasa indonesia tergolong dalam kata bilangan (numeralia), dan kata pelit dalam bahasa indonesia tergolong dalam kata sifat (adjektiva). Dalam hal ini kalimat yang di ucapkan oleh B dan A menggunakan bahasa arab sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (4)

A : متى نحن عطلة؟

"Kapan kita libur?"

B : besok نحن عطلة

"Kita libur besok"

Pada dialog (4) ini terjadi campur kode bahasa Indonesia dalam bahasa Arab oleh penutur B: besok نحن عطلة "kita libur besok". Terdapat penyisipan unsur bahasa berupa kata besok dalam bahasa Indonesia tergolong dalam kata keterangan waktu. B menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (5)

A : لماذا هي؟

"Kenapa dia?"

B : Sakit هي

"Dia sakit"

Pada dialog (5) terjadi campur kode bahasa Indonesia dalam bahasa Arab oleh penutur B : sakit هي "dia sakit". Terdapat penyisipan unsur bahasa berupa kata sakit di dalam bahasa Indonesia tergolong dalam kata sifat (adjektiva). Dalam hal ini penutur B menggunakan bahasa Arab sebagai matriknya.

 

b.     Penyisipan unsur bahasa yang berwujud kata antara bahasa Indonesia (BI) dengan bahasa Arab (BA)

Dialog(1)

A : lagi ngapai di kelas?

B : saya lagi ngelap مكتب

"saya lagi ngelap meja"

A : banyak yang di lap?

B : ya, ada عشرة meja

"ya, ada sepuluh meja"

Pada dialog(1) ini terjadi campur kode bahasa arab dan bahasa indonesia oleh penutur B : saya lagi ngelap مكتب dan B ya, ada عشرة meja. Pada kalimat tersebut terdapat penyisipan unsur bahasa berupa kata مكتب "meja" yang di dalam bahasa arab tergolong dalam bahasa arab tergolong dalam "bilangan" dalam hal ini kalimat yang di ucapkan oleh penutur A dan A menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa bahasa matriknya.

 

Dialog (2)

A : saya pinjem قلم

"Saya pinjem pena?"

B : boleh, ada فى lemari

"Boleh, ada di lemari"

A : saya ambil ya

B : نعم

"Ya"

Pada dialog (2) ini terjadi campur kode bahasa Arab dan bahasa Indonesia oleh penutur A : saya pinjem قلم "saya pinjem pena" B : boleh ada فى lemari "Boleh, ada di lemari". Dalam kalimat tersebut terdapat penyisipan unsur bahasa berupa kata قلم "pena" di dalam bahasa tergolong dalam isim mufrod, sedangkan kata فى "di dalam" di dalam bahasa Arab tergolong dalam huruf jar. Dalam hal ini kalimat yang diucapkan oleh siswa A menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa matriknya, sedangkan kalimat yang diucapkan oleh siswa B menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog(3)

A : kamu pergi ke مسجد untuk les alquran?

" kamu pergi ke mesjid untuk les alquran?

B : Tidak saya lagi مريض

"tidak saya lagi sakit"

A : kamu sudah kirim رسالة؟

" kamu sudah kirim surat?"

B : خالص

"sudah"

Pada dialog (3) ini terjadi campur kode bahasa arab dalam bahasa indonesia oleh penutur A : kamu pergi ke masjid مسجد untuk les alquran ? "kamu pergi ke masjid untuk les al-quran ?" B: tidak saya lagi مريض "tidak saya lagi sakit" A : kamu suda kirim رسالة? "kamu sudah kirim surat?. Pada kalimat tersebut terdapat penyisipan unsur bahasa berupa kata مسجد di dalam bahasa arab tergolong dalam isim murfod muzakkar,kata مريض sakit di dalam bahasa arab tergolong dalam isim mufrod muzakkar, dan kata رسالة surat di dalam bahasa arab tergolong isim mufrod. muzakkar. Dalam dialog ini B munggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (4)

A : إلى اين انت؟

"Mau kemana kamu?"

B : Mau ke مقصف

"Mau ke kantin"

A : ماذا تشترين؟

"Mau beli apa?"

B : mau beli شرب

"Mau beli minuman"

A : saya titip satu طعم

"Saya titip satu makanan"

B : Ya boleh, sini فلوس nya

"Ya boleh, sini uangnya"

Pada dialog (4) ini terjadi campur kode bahasa Arab dalam bahasa Indonesia oleh penutur A : mau ke مقصف "mau ke kantin", B : mau beli شرب "mau beli minuman", A : saya titip satu طعم "saya titip satu makanan", B : ya boleh, sini فلوس nya "ya boleh, sini uangnya". Pada kalimat tersebut terdapat penyusupan unsur bahasa berupa kata مقصف "kantin" di dalam bahasa Arab tergolong dalam isim mufrod, طعم "makanan" di dalam bahasa Arab tergolong dalam isim mufrod, فلوس "uang" di dalam bahasa Arab tergolong dalam isim mufrod. Dalam hal ini kalimat yang di ucapkan oleh penutur A, B, A, B. Menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (5)

A : Hari ini ada رياضة

"Hari ini ada olahraga"

B : نعم

"Ya"

A : Dimana?

B : mungkin فى lapangan basket

"Mungkin di lapangan basket"

Pada dialog (5) ini terjadi campur kode bahasa Arab dalam bahasa Indonesia oleh penutur A : hari ini ada رياضة "hari ini ada olahraga?", dan B : mungkin فى lapangan basket "mungkin di lapangan basket". Pada kalimat tersebut terdapat penyisipan unsur bahasa Arab berupa kata رياضة "olahraga" di dalam bahasa Arab tergolong dalam isim mufrod, kata فى "di dalam" dalam bahasa Arab tergolong dalam huruf jar. Dalam hal ini kalimat yang diucapkan oleh siswa A dan B menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (6)

A : Kamu melihat Indah ?

B : Indah baru saja ذهب ke mesjid

"Indah baru saja pergi ke mesjd

A : Sudah berapa lama ?

B : Baru 5 menit

Pada dialog (5) ini terjadi campur kode bahasa Arab dalam bahasa Indonesia oleh penutur A1 : Indah baru saja ذهب ke mesjid ‟Indah baru saja pergi ke mesjd‟. Pada kalimat tersebut terdapat penyisipan unsur bahasa berupa kata ذهب "pergidalam bahasa Arab tergolong dalam fil madi. Dalam hal ini kalimat yang diucapkan oleh penutur A1, A2 dan B2 menggunakan bahasa Indonesia sebagai bajasa matriknya.

 

Penyisipan Unsur Bahasa Yang Berwujud Frase

a.      Penyisipan unsur bahasa yang berwujud frase antara bahasa Arab (BA) dengan bahasa Indonesia (BI)

Dialog (1)

A : في الفصل murid baru أنا انظر

"Saya melihat murid baru di kelas"

B : ولد ام بنت؟

"Laki-laki atau perempuan"

A : بنت

"Perempuan"

Pada dialog (1) ini terjadi campur kode bahasa Indonesia dalam bahasa Arab oleh penutur A : في الفصل murid baru أنا انظر "Saya melihat murid baru di kelas". Pada kalimat yang diucapkan si penutur terdapat penyisipan unsur bahasa Indonesia yaitu murid baru, murid dalam bahasa Indonesia tergolong sebagai inti, sedangkan baru dalam bahasa Indonesia sebagai penjelas. Dalam hal ini kalimat yang di ucapkan oleh penutur A menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (2)

A : ماذا تعملين؟

"apa yang sedang kamu lakukan?"

B : buku cerita انا اقرأ

"saya sedang membaca buku cerita"

A : pinjem ya بعدك أنا

"setelah kamu membaca saya pinjem ya"

B : نعم

"ya"

Pada dialog (2) ini terjadi campur kode bahasa indonesia dalam bahasa arab oleh penutur B: buku cerita انا اقرأ "saya sedang membaca bukucerita". Pada kalimat yang di ucapkan B terdapat penyisipan unsur bahasa berupa frase nomina buku cerita. Di dalam bahasa indonesia buku tergolong sebagai inti, sedangkan kata cerita tergolong sebagai penjelas (modifikator). Dalam hal ini di ucapkan B menggunakan bahasa arab sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (3)

A : ماذا تشترين؟

"Apa yang kamu beli?"

B : bolu أنا أشتري

"Saya membeli bolu"

A : كم تشترين؟

"Berapa yang kamu beli?"

B : 2 bolu أنا أشتري

"Saya beli 2 bolu"

 

Pada dialog (3) ini terjadi campur kode bahasa Indonesia dalam bahasa Arab oleh penutur B : 2 bolu أنا أشتري "Saya beli 2 bolu". Pada kalimat tersebut terdapat penyisipan unsur bahasa berupa frase numeralia dua bolu. Di dalam bahasa Indonesia kaya dua tergolong sebagai inti, sedangkan kata bolu tergolong sebagai penjelas. Dalam hal ini kalimat yang diucapkan oleh penutur B menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (4)

A : ؟baruهذا قميص

"ini baju baru"

B : نعم

"ya"

A : cantik sekali قميص

"bajunya cantik sekali"

B : di kasih ibu نعم انا

"ya, saya di kasih ibu"

Pada dialog (4) ini terjadi campur kode bahasa indonesia dalam bahasa arab oleh penutur A : cantik sekali قميص "bajunya cantik sekali". Terdapat penyisipan unsur bahasa berupa frase adjektif cantik sekali. Di dalam bahasa indonesia kata cantik tergolong sebagai inti, sedangkan kata sekali tergolong sebagai penjelas(modifikator). dalam hal ini kalimat yang di ucapkan oleh penutur Amenggunakan bahasa arab sebagai mattiknya.

 

Dialog (5)

A : الى اين تذهب؟

"Mau pergi kemana kamu?"

B : kamar mandi اذهب الى

"Saya mau pergi ke kamar mandi"

Pada dialog (5) ini terjadi campur kode bahasa Indonesia dalam bahasa Arab oleh penutur B : kamar mandi اذهب الى "Saya mau pergi ke kamar mandi". Pada kalimat yang diucapkan oleh penutur B terdapat penyisipan unsur bahasa berupa frase nomina kamar mandi. Di dalam bahasa Indonesia kata kamar tergolong sebagai inti. Sedangkan kata mandi tergolong sebagai penjelas. Dalam hal ini kalimat yang diucapkan oleh penutur B menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa matriknya.

 

b.     Penyisipan unsur bahasa yang berwujud frase antara bahasa Indonesia (BI) dengan bahasa Arab (BA)

Dialog (1)

A : kamu di suruh ustadz الى الديوان

"kamu di suruh ustadz ke kantor

B : متى؟

"kapan?"

A : sekarang

Pada dialog (1)

Ini terjadi campur kofe dalam bahasa indonesia oleh penutur

A : "kamu di suruh ustadz الى الديوان "kamu di auruh ustadz ke kantor". Pada kalimat tersebut terdapat penyisipan unsur bahasa berupa frase preposisi الى الديوان " ke kantor". Di dalam bahasa arab bentuk ini di sebut jar majrur, bentuk الى sebagai huruf jar dan الديوان sebagai majrur. Dalam hal ini sebagai di ucapkan penutur A menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (2)

A : siapa nama ولي الفصل kelas 1?

"Siapa nama wali kelas 1?"

B : Ustadzah Nuraini

Pada dialog (2) ini terjadi campur kode bahasa Arab dalam bahasa Indonesia oleh penutur A : siapa nama ولي الفصل kelas 1? "Siapa nama wali kelas 1?". Pada kalimat yang diucapkan oleh penutur A terdapat penyisipan unsur bahasa berupa frase nomina yaitu ولي الفصل "wali kelas". Di dalam bahasa Arab bentuk ini disebut idhafah, bentuk ولي sebagai mudhaf dan الفصل sebagai mudhafun ilaihi. Dalam kalimat yang diucapkan oleh penutur B menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (3)

A : besok kita masuk فصل جديد

" besok kita masuk kelas baru"

B : كم غدا ساعة؟

"jam berapa besok?"

A : 08.00

Pada dialog (3) ini terjadi campur kode bahasa indonesia dalam bahasa arab oleh penutur A: besok kita masuk فصل جديد " besok kita masuk kelas baru". Pada kalimat ini terdapat penyisipan unsur berupa frase nomina yaitu فصل جديد " kelas baru". Di dalam bahasa arab bentuk ini di sebut na'at man'at. Bentuk فصل "kelas" sebagai man'ut dan جديد "baru" sebagai na'at. Dalam hal ini kalimat yang di ucapkan oleh penutur A menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (4)

A : kita punya عمل البيت

"kita punya PR"

B : مذا عمل البيت؟

"PR apa?"

A : درس النحو

"pelajaran nahwu"

Pada dialog (4) ini terjadi campur kode bahasa arab dalam bahasa indonesia oleh penutur A : kita punyaعمل البيت "kita punya PR". Pada kalimat tersebut terdapat penyisipan unsur bahasa berupa frase verba yaitu عمل البيت "PR". Di dalam bahasa arab bentuk ini di sebut idhofa, bentuk عمل "pekerjaan" sebagai mudhof dan البيت "rumah" sebagai mudhofun ilahi. Dalam bentuk ini kalimat yang di ucapkan oleh penutur A menggunakan bahasa indonesia sebagi bahasa matriknya.

 

Dialog (5)

A : aku pakai قميص جديد

"saya pakai baju baru"

B : جمل جدا

"bagus sekali"

A : سكر

"terimakasih"

Pada dialog (5) ini terjadi campur kode bahasa arab dalam bahasa indonesia oleh A: aku pakai قميص جديد " saya pakai baju baru" terdapat penyisipan unsur bahasa berupa frase nomina yaitu قميص " baju" sebagai man'ut dan جديد "baru" sebagai na'at. Dalam kalimat yang di ucapkan oleh penutur A menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa matriknya.

 

Penyisipan unsur bahasa yang berwujud klausa

a.      Penyisipan unsur bahasa yang berwujud klausa antara bahasa Arab (BA) dengan bahasa Indonesia (BI)

Dialog (1)

A : اللغة العربية kita pidato بعد ليل

"Nanti malam, kita pidato bahasa Arab"

B : لا، بل اللغة الاندونسي

"Tidak, tapi bahasa Indonesia"

Pada dialog (1) ini terjadi campur kode bahasa Indonesia dalam bahasa Arab oleh penutur A : اللغة العربية kita pidato بعد ليل "Nanti malam, kita pidato bahasa Arab". Pada kalimat yang diucapkan oleh penutur A terdapat penyisipan unsur bahasa berupa klausa kita pidato sebagai predikat. Dalam hal ini kalimat yang diucapkan penutur A menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (2)

A : أنت نوم اين؟

"Kamu tidur dimana?"

B : saya tidur di asrama غدا

"Besok saya tidur di asrama"

Pada dialog (2) ini terjadi campur kode bahasa Indonesia dalam bahasa Arab oleh penutur B : saya tidur di asrama غدا "Besok saya tidur di asrama". Pada kalimat yang diucapkan oleh penutur B terdapat penyisipan unsur bahasa berupa klausa saya tidur di asrama. Di dalam bahasa Indonesia kata saya menduduki jabatan sebagai subjek. Kata tidur sebagai prediket dan kata di asrama sebagai keterangan. Dalam hal ini kalimat yang diucapkan oleh penutur B menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (3)

A : saya sakit batuk استاذ ماذا اللغة العربية

"Ustadz, apa bahasa Arabnya saya sakit batuk?"

B : أنا سعال

"Saya batuk"

Pada dialog (3) ini terjadi campur kode bahasa Indonesia dalam bahasa Arab oleh penutur A : saya sakit batuk استاذ ماذا اللغة العربية "Ustadz, apa bahasa Arabnya saya sakit batuk?". Pada kalimat yang diucapkan oleh penutur A terdapat penyisipan unsur bahasa berupa klausa saya batuk. Di dalam bahasa Indonesia, kata saya menduduki jabatan sebagai subjek dan kata batuk sebagai predikat. Dalam hal ini kalimat yang diucapkan oleh penutur A menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa matriknya.

 

b.     Penyisipan unsur bahasa yang berwujud klausa antara bahasa Indonesia (BI) dengan bahasa Arab (BA)

Dialog (1)

A : أي ساعة الأن؟

"Jam berapa sekarang?"

B : jam 10.30

A : sebentar lagi, استاذ يخرج من الفصل

"Sebentar lagi, ustadz keluar dari kelas"

Pada dialog (1) ini terjadi campur kode bahasa Arab dalam bahasa Indonesia oleh penutur A : sebentar lagi, استاذ يخرج من الفصل "Sebentar lagi, ustadz keluar dari kelas". Pada kalimat yang diucapkan oleh penutur A terdapat penyisipan unsur bahasa berupa klausa, didalam bahasa Arab kalimat استاذ sebagai mubtada dan يخرج من الفصل sebagai Khabar mubtada yang berbentuk jumlah. Dalam hal ini kalimat yang diucapkan oleh penutur A menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (2)

A : انت lihat ani

" kamu lihat ani"

B : tadi, هي تجلس فيالمقصف

"tadi dia duduk di kantin"

Tadi dialog (2) ini terjadi csmpur kode bahasa arab dalam bahasa indonesia oleh penutir B: tadi هي تجلس فيالمقصف "tadi dia duduk di kantin". Pada kalimat yang di ucapkan oleh penutur B terdapat pemyisipan unsur bahasa berupa kalusa. هي "dia (pr) debagai mubtada' yang berbentuk jumlah. Dalam hal ini yang di ucapkan oleh penutur B menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa matriknya.

 

Dialog (3)

A: yuk نحن نأخذالفلوس di administrasi

"yuk kita ngambil uang di administrasi"

B: نعم

"ya"

Pada dialog (3) ini terjadi campur kode bahasa arab dalam bahasa indonesia oleh penutur A : yuk نحن نأخذالفلوس di administrasi " yuk kita ambil uang di administrasi". Pada kalimat yang di ucapkan oleh penutur terdapat unsur bahasa berupa klausa. Di dalam bahasa arab نحن "kita" sebagai mubtada dan نأخذالفلوس "mengambil uang" sebagai khabar mubtada' yang berbentuk jumlah. dalam hal ini kalimat di ucapkan oleh penutur A menggunakan bahasa indonesia matriknya.

 

Penyebab Terjadinya Campur Kode pada Komunikasi Lisan Siswa kelas VII Tsanawiyah Pesantren Al-Yusriyah

Campur kode yang dilakukan siswa Tsanawiyah Pesantren Al-Yusriyah di sebabkan karena keingin tahuan mereka agar dapat berbahasa Arab dengan baik. Kemudian di karenakan banyaknya siswa yang masih kurang kosa kata bahasa arab itu sendiri karenakan baru mengenal bahasa Arab, dan Peraturan dari pihak yayasan yang mewajibkan siswanya mampu berbasa Arab dan tidak mempermasalahkan siswanya apabila menggunakan dua bahasa pada komunikasi sehari-hari, hal ini di anggap mendukung perkembangan siswa dalam memahami bahasa Arab.

 

Kesimpulan

Sebagai penutup dari artikel ini penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan dari uraian-uraian sebelumnya sebagai berikut, yaitu:

Unsur-unsur kebahasaan yang terlibat dalam campur kode ada enam macam yaitu: berupa penyisipan kata, frase, bentuk baster, pengulangan kata, ungkapan atau idiom dan klausa, namun peristiwa camour kode dalam komunikasi lisa siswa Pesantren Al-Yusriyah hanya baru di temukan tiga unsur kebahasaan yaitu berupa penyisipan kata, frase, dan klausa. Unsur- unsur kebahasaan lainnya seperti baster, perulangan kata dan ungkapan atau idiom belum peneliti temukan.

Adapun penyisipan unsur bahasa yang terjadi dalam komunikasi lisan siswa Pesantren Al-Yusriyah sebagai berikut; Penyisipan unsur bahasa yang berwujud kata dalam campur kode antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia terdiri atas: Kata benda, Kata tanya, Kata kerja, Kata sifat, Kata bilangan, Kata keterangan.

Penyisipan unsur bahasa yang berwujud kata dalam campur kode antara bahasa Indonesia dengan bahasa Arab terdiri atas; Ism mufrad muzakkar, Ism mufrod muannas, Ism adat, Harf jar, Fil madi.

Penyisipan unsur bahasa yang berwujud frase dalam campur kode antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia yang teridir atas; Frase nominal, Frase numeralia, Frase adjektiva, Frase verba. Penyisipan unsur bahasa yang berwujud frase dalam campur kode antara bahasa Indonesia dengan bahasa Arab terdiri atas; Naat manut, Jar majrur, Idafah.

Penyisipan unsur bahasa yang berwujud klausa dalam campur kode antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia terdiri atas; Subjek, Predikat. Kata keterangan. Penyisipan unsur bahasa yang berwujud klausa dalam campur kode antara bahasa Indonesia dengan bahasa Arab terdiri atas; Jumlah isimiyah, Mubtada, Khabar.

Faktor penyebab terjadinya campur kode pada komunikasi lisan siswa Pesantren Al-Yusriyah disebabkan karena keingin tahuan mereka agar dapat berbicara bahasa Arab dengan baik dan benar, adanya peraturan yang bersifat ketat yang mengharuskan siswa dapat berbicara bahasa arab, kemudia kurangnya kosa kata bahasa arab.


BIBLIOGRAFI

 

Al-Khuli, Muhammad Ali. 1982. A Dictionary of Theoretical Linguistics (English-Arabic), Lebanon Al-Ghulayaini, Musthafa. 2010. Jāmiu al-Durūs.

 

Anwar, K.H.Moch. 2003. Ilmu Nahwu Terjemahan Matan Al-Ajurumiyyah dan Imrithy Berikut Penjelasannya, Bandung: Percetakan Sinar Baru Algensindo Offset Bandung

 

Arikunto, Suharsini. 1992. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

 

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik: Suatu perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta

 

Chaer, Abdul. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta Gulo, W. 2002. Metode Penelitian, PT. Grasindo, Jakarta.

 

Kailani, Hasan. 2001. Butir-Butir Linguistik Umum Perkenalan Awal. Pekan Baru: UNRI Press

 

Kridalaksana, Harimurti. 1994. Kamus linguistik. Gramedia: Pustaka Johor Utama

 

Mansyurdin. 1994. Sosiologi (Suatu Pengantar Awal) Kelompok Studi Hukum dan Masyarakat I. Medan: Fakultas Hukum USU

 

Mulyanna, Deddy. 2004. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

 

Mulyanna, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

 

M.S, Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

 

Nababan, P. W. J. 1984. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 

Rahardi, Kunjara. 2001. Sosiolinguistik Kode dan Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

Sumarsono. 2004. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA (Lembaga Studi Agama, Budaya dan Perdamaian).

 

Suwito. 1983. Pengantar Awal Sosiolinguistik Teori dan Problema. Surakarta: Henari Offset.

 

Vehaar, J.W.M. 2001. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada. University Press.

 

Yunus, Mahmud. 1967. Kamus Arab Indonesia. Jakarta

Copyright holder:

Irma Oktavianti, Akmal Walad Ahkas (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: