Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No. 12, Desember 2022

 

Pengaruh Budaya Keselamatan Kerja, Iklim Keselamatan Kerja, Kepemimpinan Dan Motivasi Terhadap Kinerja Pekerja Hulu Migas Di PT “X” Melalui Prilaku Kerja Aman Pekerja Sebagai Variabel Mediasi

 

Teguh Santoso, Merry Citra Sondari, Zainur Hidayah

Universitas Terbuka, Indonesia

Email: santosoteguh19@gmail.com, merry.sondari@unpad.ac.id, zainur@ecampus.ut.ac.id

 

Abstrak

Penelitain ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh budaya keselamatan kerja, iklim keselamatan kerja, kepemimpinan dan motivasi terhadap kinerja pekerja melalui prilaku kerja aman sebagai mediasi. Responden diambil dari perwakilan personil dari semua fungsi dengan total responden sebanyak 410 orang. Adapaun komposisi dari responden tersebut adalah pekerja level pengawas dan kontraktor yang bekerja salah satu perusahaan yang bergerak di oil and gas dengan fokus kegiatan sebagai pusat pengumpul produksi (Main Ghatering Station) crude oil yang berlokasi di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Semua responden yang dipilih telah dibekali materi terkait materi basic safety training dan lulus ujian sebagai syarat sebelum bekerja di lokasi. Hasil data yang didapat kemudian dilakukan pengolahan untuk mengetahui korelasi antar variabel langsung dan tidak langsung dengan menggunakan tools Partial Least Square - Structural Equation Model (PLS-SEM). Temuan dari hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Budaya Keselamatan Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap Prilaku Kerja Aman; (2) Budaya Keselamatan Kerja berpengaruh negative dan signifikan terhadap Kinerja Pekerja; (3) Iklim Keselamatan Kerja tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Prilaku Kerja Aman; (4) Iklim Keselamatan Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pekerja; (5) Kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Prilaku Kerja Aman; (6) Kepemimpinan berpengaruh positif dan sugnifikan terhadap Kinerja Pekerja; (7) Motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Prilaku Kerja Aman; (8) Motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pekerja; (9) Prilaku Kerja Aman berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pekerja; (10) Budaya Keselamatan Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja dengan mediasi penuh dari Prilaku Kerja Aman; (11) Prilaku Kerja Aman tidak mampu memediasi hubungan antara Iklim Keselamatan Kerja terhadap Kinerja Pekerja; (12) Kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerja dengan mediasi penuh Prilaku Kerja Aman; (13) Motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pekerja dengan mediasi penuh dari Prilaku Kerja Aman.

Kata Kunci: budaya keselamatan kerja; iklim keselamatan kerja; kepemimpinan; motivasi; prilaku kerja aman dan kinerja pekerja

 

Abstract

This research was conducted to determine the effect of workplace safety culture, work safety climate, leadership, and motivation on worker performance through safe behavior as a mediation. Respondents were taken from personnel representatives from all functions with a total of 410 respondents. The composition of the respondents is supervisory level workers and contractors who work in a company engaged in oil and gas with a focus on activities as a production center for crude oil (Main Gathering Station) located in Indramayu Regency, West Java. All of the selected respondents had been provided with materials related to basic safety training and passed an exam as a requirement before working on-site. The results of the data obtained are then processed to determine the correlation between variables using the Partial Least Square - Structural Equation Model (PLS-SEM) tools. The findings of the research show that (1) Occupational Safety Culture has a positive and significant effect on Safe Work Behavior; (2) Work Safety Culture has a negative and significant effect on Worker Performance; (3) Work Safety Climate does not have a significant effect on Safe Work Behavior; (4) Work Safety Climate has a positive and significant effect on Worker Performance; (5) Leadership has a positive and significant effect on Safe Work Behavior; (6) Leadership has a positive and significant effect on Worker Performance; (7) Motivation has a positive and significant effect on Safe Work Behavior; (8) Motivation has a positive and significant effect on Worker Performance; (9) Safe Work Behavior has a positive and significant effect on Worker Performance; (10) Work Safety Culture has a positive and significant effect on Performance with full mediation of Safe Work Behavior; (11) Safe Work Behavior is not able to mediate the relationship between Work Safety Climate and Worker Performance; (12) Leadership has a positive and significant effect on worker performance with full mediation of Safe Work Behavior; (13) Motivation has a positive and significant effect on Worker Performance with full mediation of Safe Work Behavior.

 

Keywords:  safety culture; safety climate; leadership; motivation; safe work behavior; performance

 

Pendahuluan

PT “X” yang merupakan salah satu anak perusahaan PT Pertamina (Persero) bergerak di sektor Hulu Migas dengan wilayah operasi tersebar dari Provinsi Aceh hingga Papua. PT “X” adalah salah satu KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) Migas dengan salah satunya adalah mengelola pusat penampungan produksi minyak bumi atau dikenal dengan nama Main Gathering Station (MGS) yang terbesar di Jawa Barat. Asset ini dikelola oleh PT “X” yang berlokasi di Desa Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Tentunya dalam pengelolaan aspek K3 menjadi hal yang utama, terbukti dalam implementasinya dituangkan dalam penilaian KPI (Key Performance Indicator) yang melekat di semua jajaran pekerja, dari level Direksi hingga level Frontliner (pekerja lapangan), serta pihak ketiga aspek pengelolaan K3 dijadikan sebagai penilaian di setiap tahunnya dalam bentuk Implementasi HSE Kontraktor. Hal tersebut diatas membuktikan bahwa Perusahaan “X” telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan operational excellent tanpa terjadi kecelakaan kerja. Adapun upaya – upaya yang sudah dilakukan dalam pengelolaan aspek keselamatan kerja diantaranya: melakukan pencatatan kondisi dan tindakan tidak aman di lokasi kerja, system HSSE untuk kontraktor, pelatihan, SDM, penyediaan peralatan sesuai standar hingga implementasi reward and punishment.

Meskipun usaha – usaha sudah dilakukan guna menghilangkan faktor – faktor penyebab kecelakaan kerja, namun masih ditemukan catatan kejadian insiden yang terjadi di lokasi kerja PT “X” dengan kategori tinggi serta dari laporan Pengamatan Keselamatan Kerja (PEKA) dan laporan kejadian di PT “X” periode 2016 – 2021 tercatat terdapat kenaikan jumlah kejadian medical treatment cased (MTC) dengan kategori hypo. Kejadian kecelakaan kerja walaupun kategori MTC memberikan dampak negatif bagi kinerja karyawan dan perusahaan. Berdasarkan hasil investigasi internal dari kejadian MTC yang terjadi, ditemukan fakta bahwa 63% penyebab langsung dari kejadian tersebut diebabkan oleh prilaku yang tidak aman dan 37% disebabkan oleh kondisi tidak aman, serta faktor motivasi yang tidak tepat terkait dengan keinginan untuk bekerja lebih cepat selesai. Hal ini menggambarkan bahwa masih ada personil-personil yang tidak menjalankan pekerjaan sesuai dengan aspek-aspek keselamatan kerja. Kondisi tersebut diduga berdampak pada capaian kerja PT “X” yang tertuang dalam bentuk realisasi Key Performance Indicator (KPI) yang tertuang dalam Dashboard Realisasi Kinerja (RK) mengalami penurunan pada tahun 2018 - 2021 pada realisasi dibawah 100%.

Oleh sebab itu untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam pelaksanaan keselamatan kerja yang baik dalam perusahaan tidak hanya bergantung pada satu hal, namun membutuhkan keterkaitan berbagai hal, diantaranya faktor komitmen dan kepemimpinan dari manajemen untuk membentuk budaya keselamatan kerja (safety culture). Budaya keselamatan kerja kemudian dapat membentuk iklim keselamatan kerja (safety climate) sehingga dapat memicu motivasi pekerja untuk melakukan pekerjaan dengan memperhatikan aspek-aspek keselamatan kerja yang berlaku di perusahaan sehingga melakukan prilaku kerja aman (Guldenmund :2010).

Penelitian terkait pengaruh budaya keselamatan, iklim keselamatan, kepemimpinan dan motivasi sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh Beni Agus Setiono (2019) dan (Marzuki & Sularso, 2018) yang menyimpulkan bahwa ketiga variabel tersebut memliki pengaruh signifikan terhadap kinerja pekerja sektor Pelabuhan dan Logistik. Penelitian lain yang dilakukan oleh (Susanti & Sugianto, 2019) terkait pengaruh iklim keselamatan kerja terhadap prilaku keselamatan kerja, didapatkan bahwa terdapat pengaruh positif terhadap prilaku kerja aman penelitian ini dilakukan di Industri Perkapalan. Namun penelitian yang dilakukan oleh (Lisnanditha, 2012) menemukan bahwa dalam penelitiannya bahwa kepemimpinan tidak ada pengaruh positif terhadap prilaku keselamatan kerja, namun iklim keselamatan kerja dan budaya keselamatan kerja berpengaruh positif terhadap prilaku keselamatan kerja penelitian ini dilakukan pada insdustri otomotif di Indonesia. Dalam hal ini masih sedikit peneliti yang mengangkat tema penelitainnya terkait pengaruh budaya keselamatan kerja, iklim keselamatan kerja, kepemimpinan dan motivasi terhadap prilaku kerja aman sebagai variabel mediasi terhadap kinerja pekerja yang bekerja di Industri Hulu Minyak dan Gas Bumi. Hal ini lah yang menjadi motivasi bagi penulis untuk melakukan penelitin tersebut.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya keselamatan kerja (X1), iklim keselamatan kerja (X2), kepemimpinan (X3) dan motivasi (X4) terhadap kinerja Pekerja (Y2) melalui prilaku kerja aman (Y1) pekerja Hulu MIGAS di PT “X”. Kerangka konseptual menggambarkan pengaruh antara variabel bebas (independent) dalam penelitian ini adalah budaya keselamatan kerja, iklim keselamatan kerja, kepemimpinan dan motivasi, adapun variabel terikat (dependent) adalah kinerja pekerja pegawai dan variabel Interverning adalah prilaku kerja aman pekerja.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Stratified Random Sampling dengan pendekatan proposional sampling dengan tujuan agar karyawan pada masing masing fungsi dapat terwakili. Adapun hasil pengambilan sampel Stratified Random Sampling dengan pendekatan proposional sampling dengan tujuan agar para pengawas dan kontraktor pada masing masing fungsi di lokasi penelitian dengan jumlah responden minimal sebanyak 300 responden. Lokasi penelitian ini dilakukan di salah satu lapangan (site) dimana sebagai tempat pusat pengumpul (Main Ghatering Station) untuk crude oil, lokasi tersebut merupakan Objek Vital Nasional sebagai pusat penampung minyak bumi yang berasal dari wilayah PT Pertamina EP dari Subang, Tambun dan Jatibarang.

Variabel penelitian yang digunakan terdiri dari epat variabel laten eksogen (Budaya Keselamatan Kerja, Iklim Keselamatan Kerja, Kepemimpinan, Motivasi), satu variabel mediasi (Prilaku Kerja Aman) dan satu variabel endogen (Kinerja). Berikut adalah penjelasan variabel yang digunakan:

 

Tabel 1

Variabel Dalam Penelitian

Variabel

Indikator

Kepemimpinan

(Laten Endogen)

KEP.1

Kegiatan knowledge sharing/ rapat internal

 

KEP.2

Reward terhadap pencapaian kelompok/bawahan

 

KEP.3

Program pengembangan K3 untuk personil

 

KEP.4

Personil menerapkan aspek K3 saat bekerja

 

KEP.5

Tim kerja bekerja dengan baik dan bekerja sesuai dengan kaidah K3

 

KEP.6

Kelompok kerja/fungsi memberikan ide dan masukan terkait K3 terhadap perusahan

 

KEP.7

Diskusi terkait K3 antara pimpinan dan kelompok kerja

 

KEP.8

Kelompok kerja/fungsi andil terhadap perusahaan

 

KEP.9

Pimpinan memberikan teladan bagi kelompok kerja/personil

Iklim Keselamatan Kerja (Laten Endogen)

BK.1

Kebijakan perusahaan memuat aspek-aspek K3

 

BK.2

Tersedianya Sumberdaya untuk K3 di lokasi kerja

 

BK.3

Prosedur kerja perusahaan memuat aspek-aspek K3

 

BK.4

Komunikasi aspek K3 disampaikan oleh pimpinan saat interaksi

 

BK.5

Komunikasi aspek K3 melalui media promosi perusahaan

 

BK.6

Kegiatan pre-job safety meeting/SIKA/ Prosedur untuk bekerja

 

BK.7

Pekerjaan rutin memenuhi persyaratan K3 agar aman

 

BK.8

Pekerjaan non-rutin memenuhi persyaratan K3 agar aman

 

BK.9

Pelatihan K3 untuk karyawan

 

BK.10

Persyaratan dalam rekrutmen pekerja baru

 

BK.11

Lay out peralatan sesuai dengan aspek-aspek K3

 

BK.12

Pemenuhan APD untuk bekerja

 

BK.13

Program Stop Of Work di lingkungan kerja

 

BK.14

Rapat dan pertemuan K3

Iklim Keselamatan Kerja (Laten Endogen)

IK.1

Program-program K3 di lokasi kerja

 

IK.2

Reward dan punishment untuk pekerja

 

IK.3

Personil khusus K3

 

IK.4

Reward terhadap pekerja

 

IK.5

Punishment untuk pekerja yang melanggar K3

 

IK.6

Reward untuk pekerja terkait HSE

 

IK.7

Penggunaan APD oleh pekerja saat bekerja

 

IK.8

Pelaporan PEKA online

 

IK.9

Pelaksanaan Pre Job safety meeting

 

IK.10

Ketersediaan alat keselamatan di lokasi kerja

 

IK.11

Prosedur kondisi emergency

 

IK.12

Komunikasi program-program K3 di lokasi kerja

 

IK.13

Pelaporan HSE Performance

 

IK.14

Implementasi program-program K3

 

IK.15

Drill penanggulangan keadaan darurat

Variabel

 

Indikator

Motivasi

(Laten Endogen)

M.1

Pendapatan/ upah personil

 

M.2

Fasilitas yang diberikan oleh perusahaan

 

M.3

Lingkungan kerja aman

 

M.4

Ketersediaan APD untuk bekerja

 

M.5

Terdapat rekan kerja yang cocok/ partner kerja yang baik

 

M.6

Tim yang kompak/ solid

 

M.7

Apresiasi HSE untuk pekerja

 

M.8

Lokasi kerja di industry MIGAS

 

M.9

Program pengembangan personil (pelatihan, sosialisasi, tugas belajar

 

M.10

Reward dari pimpinan

 

Prilaku Kerja Aman

(Laten Mediasi)

PKA.1

Penggunaan APD oleh personil

 

PKA.2

Prosedur kerja

 

PKA.3

Pemahaman potensi bahaya kerja

 

PKA.4

Kehadiran personil saat kegiatan sosialisasi K3

 

PKA.5

Pelaporan kondisi tidak aman (PEKA)

 

PKA.6

Kehadiran personil saat pelatihan-pelatihan K3

Kinerja

(Laten Eksogen)

KIN.1

Aktifitas yang diselesaikan

 

KIN.2

Dedikasi terhadap pekerjaan

 

KIN.3

Penguasaan pekerjaan

 

KIN.4

Kesalahan dalam pekerjaan

 

KIN.5

Kehadiran dalam pekerjaan

 

KIN.6

Kesediaan untuk bekerjasama

 

Data yang peneliti peroleh melalui penyebaran kuesioner selanjutnya diolah dan dianalisis menggunakan analisis deksriptif dan metode alternatif Partial Least Square (PLS) dengan software Smart-PLS 3.0. Model PLS-SEM terdiri dari tiga komponen diantaranya: model structural, model pengukuran dan skema pembobotan. Dalam penelitian ini model structural dibangun menjadikan aspek Budaya Keselamatan Kerja, Iklim Keselamatan Kerja, Kepemimpinan, Motivasi sebagai variabel laten Eksogen yang dihubungkan dengan variabel laten eksogen-endogen aspek Prilaku Kerja Aman serta variabel endogen aspek Kinerja Pekerja.

PLS merupakan teknik analisis multivariat yang digunakan untuk memproyeksikan hubungan linear antar variabel-variabel pengamatan (Handayani et al., 2012). Tujuan PLS adalah menguji teori yang lemah dan data yang lemah, seperti jumlah sampel yang kecil atau terdapat masalah normalitas data, memprediksikan pengaruh variabel eksogen terhadap variabel endogen, dan menjelaskan hubungan teoritikal di antara kedua variabel tersebut (Abdi, 2003). Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam PLS meliputi: 1).

Perancangan model struktural (inner model) menjelaskan hubungan antara variabel laten yang satu dengan variabel laten lainnya; 2) Perancangan model pengukuran (outer model) yang menjelaskan hubungan antara variabel laten dengan variabel indikatornya yang bersifat reflektif dalam penelitian ini; 3) Penyusunan konstruksi diagram jalur berdasarkan dua model, yaitu model struktural dan model pengukuran; 4) Konversi diagram jalur ke dalam model persamaan struktural (hubungan antar variabel laten yang diteliti) dan model pengukuran (hubungan variabel indikator dengan variabel laten); 5) Pendugaan parameter di dalam PLS (model reflektif) yang dilakukan dengan cara path estimate (estimasi jalur); 6) Evaluasi Goodness of Fit dengan cara pengujian terhadap kesesuaian model, yaitu outer model (Convergent validity, Discriminant validity, dan Composite reliability) dan inner model (R-square, Q-square predictive relevance dan NFI); 7) Pengujian hipotesis yang dilakukan dengan metode resampling bootstrap dan statistic uji yang digunakan adalah uji t.

 

Hasil dan Pembahasan

Statistik Pengukuran

Lokasi penelitian berada di lokasi Terminal yang merupakan Main Gathering Station (MGS) yang terbesar di Jawa Barat. Asset ini dikelola oleh PT “X” yang berlokasi di Desa Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Tentunya dalam pengelolaan aspek K3 menjadi hal yang utama, terbukti dalam implementasinya dituangkan dalam penilaian KPI (Key Performance Indicator) yang melekat di semua jajaran pekerja, dari level Direksi hingga level Frontliner (pekerja lapangan), serta pihak ketiga aspek pengelolaan K3 dijadikan sebagai penilaian di setiap tahunnya dalam bentuk Implementasi HSE Kontraktor. Hal tersebut diatas membuktikan bahwa Perusahaan “X” telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan operational excellent tanpa terjadi kecelakaan kerja. Adapun upaya – upaya yang sudah dilakukan dalam pengelolaan aspek keselamatan kerja diantaranya: melakukan pencatatan kondisi dan tindakan tidak aman di lokasi kerja, system HSSE untuk kontraktor, pelatihan, SDM, penyediaan peralatan sesuai standar hingga implementasi reward and punishment. Hasil dari data primer dapat diketahui bahwa 97% adalah laki-laki dengan tingkat Pendidikan dominan SMA sebesar 71% dengan distribusi rentang usia 30-40 tahun sebesar 61%, rentang usia 21-25 tahun sebesar 17%, rentang usia 26-30 tahun 16% hal ini terlihat bahwa dominan para pekerja yang bekerja di lokasi adalah memiliki usia yang produktif dengan masa kerja memiliki pengalaman >5 tahun dengan presentase 62%.

Adapun hasil kuesioner dapat diketahui bahwa setiap pernyataan yang diberikan pada kuesioner memiliki nilai rata-rata 4.2 hal ini memiliki arti bahwa implementasi terkait aspek-aspek k3 telah diimplementasikan dengan baik di lokasi kerja.

Model Pengukuran

Sebelum melakukan pengujian hipotesis untuk mengetahui hubungan antar variabel laten dalam model structural, maka dilakukan terlebih dahulu evaluasi model pengukuran untuk memverifikasi indicator dan variabel laten yang dapat diuji selanjtnya. Indicatorreliability menunjukan berapa variasi indicator yang dapat dijelaskan oleh variabel laten. Pada indicator reliability, suatu indicato reflektif harus dieliminasi dari model pengukuran jika nilai outer model-nya <0,7 (siswoyo Haryono, 2017). Dibawah ini adalah hasil outer loading dari olah data SEM-PLS:

 

Gambar 1 Diagram Jalur (Outer Model)

 

Berdasarkan hasil data diatas, maka indicator M.1 dan KIN.4 harus dieliminasi dari model dikarenakan memiliki nilai loading faktor <0.7, sehingga dihasilkan diagram sebagai berikut:

 

Gambar 2 Diagram Jalur (Outer Model Kalkulasi Ulang)

 

Dari data diatas secara kesuluruhan masing-masing indicator memiliki nilai loading faktor > 70%, sehingga secara keseluruhan masing-masing variabel laten mampu menjelaskan varian dari setiap indicator-indikatir yang mengukurnya. Selanjutnya untuk uji convergent validty (AVE) dan Composite Reliability ditampilkan pada tabel dibawah ini:

 

Tabel 2

Nilai Convergen Validity (AVE) dan Composite Reliability

 Variabel

AVE

Composite Reliability

Cronbach's Alpha

Budaya Keselamatan Kerja

0.894

0.992

0.991

Iklim Keselamatan Kerja

0.855

0.988

0.987

Kepemimpinan

0.838

0.979

0.976

Kinerja

0.881

0.974

0.966

Motivasi

0.806

0.974

0.970

Prilaku Kerja Aman

0.859

0.973

0.967

 

Dari tabel diatas, menunjukan bahwa semua variabel laten memiliki nilai AVE >0,5 hal ini menunjukan bahwa semua convergent validity sudah baik atau telah memenuhi kriteria convergent validty. Sedangkan untuk nilai composite reliability dan Cronbach’s Alpha >0,7 hal ini menunjukan bahwa indicator yang telah ditetapkan mampu mengukur setiap variabel laten dengan baik dan reliable. Kriteria selanjutnya adalah pengujian discriminant validity, dengan cara membandingkan korelasi antar konstruk dengan akar AVE dengan hasil sebagai berikut:

 

Tabel 3

Korelasi Antar Variabel Laten

 

BK

IK

KEP

KIN

M

PKA

Budaya Keselamatan Kerja

0.946

 

 

 

 

 

Iklim Keselamatan Kerja

0.908

0.925

 

 

 

 

Kepemimpinan

0.874

0.978

0.916

 

 

 

Kinerja

0.805

0.881

0.887

0.939

 

 

Motivasi

0.794

0.866

0.911

0.835

0.898

 

Prilaku Kerja Aman

0.853

0.845

0.843

0.895

0.804

0.927

 

Selanjutnya, nilai korelasi tersebut dibandingkan dengan nilai (√𝑨𝑽𝑬) sebagai berikut:

 

Tabel 4

Nilai 𝑨𝑽𝑬 dan Discrminiant Validity Setiap Variabel Laten

 Variabel

𝑨𝑽𝑬

Discriminat Validity

Budaya Keselamatan Kerja

0.945

Memenuhi

Iklim Keselamatan Kerja

0.924

Memenuhi

Kepemimpinan

0.915

Memenuhi

Kinerja

0.938

Memenuhi

Motivasi

0.897

Memenuhi

Prilaku Kerja Aman

0.926

Memenuhi

 

Model Struktural

Model structural (Inner Model) merupakan model yang mengambarkan hubungan antar variabel laten, dievaluasi menggunakan koefisien jalur, R2, Q2, dan NFI. Uji kelayakan menggunakan nilai R2. Nilai R2 untuk Kinerja sebear 87% dan untuk Prilaku Kerja Aman sebedar 77,5%. Ini menjelaskan bahwa variabilitas variabel endogen dapat dijelaskan oleh variabel eksogen untuk variabel Prilaku Kerja Aman sebesar 77,5% dan variabel Kinerja sebesar 87%. Hasil perhitungan Q2 didapatkan angka sebesar 0,97 atau 97% hal ini menunjukan bahwa model memiliki kemampuan yang tinggi untuk menjelaskan data empiris. Sedangkan untuk nilai NFI dari hasil running data didapatkan sebesar 0,142 nilai NFI >0,1 atau lebih tinggi maka model dapat dikatakan jauh lebih baik. Sehingga secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa model yang terbentuk adalah valid.

Selanjutnya dari koefisien jalur dan nilai t-statistic didapatkan melalui proses bootstrapping dengan jumlah sampel 431, pengulangan sebanyak 5000 kali dan sinifikan level sebesar 5%.

 

Tabel 5

Hasil Pengujian Pengaruh Langsung (Path Coefficient)

Path Construct

Original Sample (O)

T Statistics (|O/STDEV|)

P Values

Hasil

Budaya Keselamatan Kerja -> Kinerja

-0.239

12.482

0.000*

Ho Ditolak

Budaya Keselamatan Kerja -> Prilaku Kerja Aman

0.499

17.958

0.000*

Ho Diterima

Iklim Keselamatan Kerja -> Kinerja

0.382

8.595

0.000*

Ho Diterima

Iklim Keselamatan Kerja -> Prilaku Kerja Aman

-0.011

0.174

0.862

Ho Ditolak

Kepemimpinan -> Kinerja

0.161

4.230

0.000*

Ho Diterima

Kepemimpinan -> Prilaku Kerja Aman

0.221

3.831

0.000*

Ho Diterima

Motivasi -> Kinerja

0.091

4.004

0.000*

Ho Diterima

Motivasi -> Prilaku Kerja Aman

0.215

9.385

0.000*

Ho Diterima

Prilaku Kerja Aman -> Kinerja

0.568

21.068

0.000*

Ho Diterima

*) Signifikansi dengan level 5%

 

Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh secara tidak langsung, dapat dilihat pada tabel dibawah:

 

Tabel 6

Hasil Pengujian Indirect Effect

Path Construct

Original Sample (O)

T Statistics (|O/STDEV|)

P Values

Hasil

Budaya Keselamatan Kerja -> Prilaku Kerja Aman -> Kinerja

0.283

13.897

0.000*

Ho Diterima

Iklim Keselamatan Kerja -> Prilaku Kerja Aman -> Kinerja

-0.006

0.174

0.862

Ho Ditolak

Kepemimpinan -> Prilaku Kerja Aman -> Kinerja

0.126

3.682

0.000*

Ho Diterima

Motivasi -> Prilaku Kerja Aman -> Kinerja

0.122

8.584

0.000*

Ho Diterima

*) Signifikansi dengan level 5%

 

Menurut Ghozali (2009), sebuah variabel dikatakan sebagai mediasi apabila hubungan X ke Y signifikan dan M ke Y juga signifikan. Untuk mengetahui adanya mediasi sempurna/parsial dapat dilakukan dengan melihat nilai VAF (Variance Accounted For), perhitungan VAF dapat menggunakan formula dibawah ini:

 

Tabel 7

Hasil Perhitungan Nilai VAF (Variance Accounted For)

Untuk Variabel Tidak Langsung

 

a

b

c

 (b*c)

 (a+(b*c))

VAF

Kesimpulan

Budaya Keselamatan Kerja -> Prilaku Kerja Aman -> Kinerja

12.79

18.11

20.75

375.87

388.66

97%

Mediasi Penuh

Motivasi -> Prilaku Kerja Aman -> Kinerja

3.979

8.771

20.75

182.00

185.98

98%

Mediasi Penuh

Kepemimpinan -> Prilaku Kerja Aman -> Kinerja

4.28

3.613

20.75

74.97

79.25

95%

Mediasi Penuh

 

Kesimpulan

1.   Budaya keselamatan kerja (Safety Culture) berpengaruh positif dan signifikan terhadap prilaku kerja aman, artinya semakin bagus tinggi budaya K3 yang diterapkan di perusahaan tersebut makan semakin tinggi prilaku kerja aman yang bekerja di lingkungan kerja begitupun sebaliknya.

2.   Budaya keselamatan kerja (Safety Culture) berpengaruh negative namun signifikan terhadap kinerja pekerja, artinya semakin rendah budaya K3 diterapkan diperusahaan maka akan berdampak semakin tinggi kinerja dari pekerja, namu hal ini perlu dipertimbangkan terkait aspek-aspek K3 karena akan berpengaruh pada potensi-potensi kecelakan kerja yang akan terjadi. Oleh sebab itu perlu adanya variabel mediasi terkait kondisi ini.

3.   Iklim keselamatan kerja (Safety climate) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap prilaku kerja aman pekerja, artinya kedua variabel ini tidak ada pengaruh.

4.   Iklim keselamatan kerja (Safety climate) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, artinya semakin bagus iklim keselamatan kerja maka kinerja dari pekerja semakin baik, begitupun sebaliknya.

5.   Kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap prilaku kerja aman, artinya semakin bagus kepemimpinan maka akan berpengaruh pada prilaku kerja aman yang semakin baik, begitupun sebaliknya.

6.   Kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, artinya semakin bagus kepemimpinan maka kinerja pekerja akan semakin baik, begitupun sebaliknya.

7.   Motivasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap prilaku kerja aman, artinya semakin tinggi motivasi pekerja untuk bekerja aman maka semakin tinggi prilaku kerja aman di lokasi kerja, begitupun sebaliknya.

8.   Motivasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerja, artinya semakin tinggi motivasi pekerja untuk bekerja secara aman maka semakin tinggi kinerja pekerja, beitupun sebaliknya.

9.   Prilaku kerja aman pekerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, artinya semakin bagus prilaku kerja aman pekerja maka semakin bagus juga kinerja pekerjanya, begitupun sebaliknya.

10.    Budaya keselamatan kerja (Safety Culture) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerja dengan prilaku kerja aman sebagai variabel mediasi, artinya budaya keselamatan memiliki pengaruh postif dan signifikan terhadap kinerja dengan adanya pengaruh mediasi dari variabel prilaku kerja aman.

11.    Prilaku kerja aman tidak mampu mediasi terhadap hubungan iklim keselamatan kerja (Safety climate) dan kinerja sehingga hubungan ini tidak ada memiliki pengaruh yang signifikan.

12.    Prilaku kerja aman mampu memediasi penuh pada kepemimpinan sehingga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerja artinya semakin bagus kepemimpinan maka semakin bagus juga kinerja pekerja melalui prilaku kerja aman sebagai mediasi.

13.    Prilaku kerja aman memediasi penuh terhadap motivasi sehingga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerja, artinya motivasi bagus akan dapat meningkatkan kinerja pekerja melalui variabel mediasi prilaku kerja aman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Al-Refaie, Abbas. (2013). Factors affect companies’ safety performance in Jordan using structural equation modeling. Safety Science, 57, 169–178. Google Scholar

 

Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur suatu penelitian: pendekatan praktek. Edisi Revisi Kelima. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. Google Scholar

 

Chen, Wei Tong, Wang, Chao Wei, Lu, Shih Tong, & Pan, Nai Hsin. (2018). The Impact Of Safety Culture On Safety Performance-A Case Study Of Taiwan’s Construction Industry. International Journal of Organizational Innovation (Online), 11(1), 1–15. Google Scholar

 

Cooper, Dominic. (2001). Improving Safety Culture: A Pratical Guide, Applied Behavioral Sience. United Kingdom. Google Scholar

 

Cooper, M. Dominic, & Phillips, Robin A. (2004). Exploratory analysis of the safety climate and safety behavior relationship. Journal of Safety Research, 35(5), 497–512.

Glendon, A. Ian, & Stanton, Neville A. (2000). Perspectives on safety culture. Safety Science, 34(1–3), 193–214. Google Scholar

 

Griffin, Mark A., & Curcuruto, Matteo. (2016). Safety climate in organizations. Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior, 3, 191–212. Google Scholar

 

Griffin, Mark A., & Neal, Andrew. (2000). Perceptions of safety at work: a framework for linking safety climate to safety performance, knowledge, and motivation. Journal of Occupational Health Psychology, 5(3), 347. Google Scholar

 

Hastuti, Hastuti. (2021). Pengaruh Motivasi Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Melalui Kepuasan Kerja Sebagai Variable Intervening Pegawai Puskesmas Di Kabupaten Mamuju. Universitas Hasanuddin. Google Scholar

 

Hidayah, Tamriatin, & Tobing, Diana Sulianti K. (2018). The influence of job satisfaction, motivation, and organizational commitment to employee performance. Google Scholar

 

Lisnanditha, Yudithia. (2012). Pengaruh Kepemimpinan, Budaya Keselamatan Kerja, dan Iklim Keselamatan Kerja terhadap Perilaku Keselamatan Kerja: Studi Kasus di PT. Google Scholar

 

Krama Yudha Ratu Motor (KRM). Skripsi Fakultas Ekonomi, Program Studi Ekstensi Manajemen Depok, Universitas Indonesia. Mathis, RL, & Jackson, JH (2002).

Manajemen Sumber Daya Manusia. Salemba Empat, Jakarta. Google Scholar

 

Lu, Chin Shan, & Yang, Chung Shan. (2010). Safety leadership and safety behavior in container terminal operations. Safety Science, 48(2), 123–134. Google Scholar

 

 

Mangkunegara, Anwar Prabu, & Prabu, Anwar. (2009). Manajemen sumber daya manusia. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Google Scholar

 

Marzuki, Hasan, & Sularso, Raden Andi. (2018). The Influnce of Occupational Safety Culture, Leadership and Motivation toward Job Satisfaction and Employee Performance at PT. Total Logistic and Operation Support in Eastern Kalimantan. Google Scholar

 

Marzuki, Hasan, Sularso, Raden Andi, & Purbangkoro, Murdijanto. (2018). Pengaruh Budaya Keselamatan Kerja, Kepimimpinan Dan Motivasi Terhadap Kepuasan Kerja Dan Kinerja Karyawan Pada Perusahaan Minyak Dan Gas Bumi “X” Di Propinsi Kalimantan Timur. BISMA: Jurnal Bisnis Dan Manajemen, 12(1), 51–65. Google Scholar

 

Neal, Andrew, & Griffin, Mark A. (2006). A study of the lagged relationships among safety climate, safety motivation, safety behavior, and accidents at the individual and group levels. Journal of Applied Psychology, 91(4), 946. Google Scholar

 

Oah, Shezeen, Na, Rudia, & Moon, Kwangsu. (2018). The influence of safety climate, safety leadership, workload, and accident experiences on risk perception: A study of Korean manufacturing workers. Safety and Health at Work, 9(4), 427–433. Google Scholar

 

Permanasari, Ragil. (2013). Pengaruh Motivasi dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja PT. Augrah Raharjo Semarang. Management Analysis Journal, 2(2). Google Scholar

 

Pulungan, Delyana Rahmawany. (2020). The Impact of Occupational Health, Safety (K3) Program and Work Environment on Employee Commitment of PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan. International Journal of Economic, Technology and Social Sciences (Injects), 1(2), 40–48. Google Scholar

 

Purnama, Nurul Qomarianing, Sunuharyo, Bambang Swasto, & Prasetya, Arik. (2016). Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Komitmen Organisasional Dan Kinerja Karyawan (Studi Pada Karyawan Bank BRI Cabang Kawi Malang). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), 40(2). Google Scholar

 

Salleh, Suzila Mat, Zahari, Ahmad Suffian Mohd, Said, Nur Shafini Mohd, & Ali, Siti Rapidah Omar. (2016). The influence of work motivation on organizational commitment in the workplace. Journal of Applied Environmental and Biological Sciences, 6(58), 139–143. Google Scholar

 

Setiono, Benny Agus, Brahmasari, Ida Ayu, & Mujanah, Siti. (2018). Effect of Safety Culture, Safety Leadership, and Safety Climate on Employee Commitments and Employee Performance PT. Pelindo III (Persero) East Java Province. Sebelas Maret Business Review, 3(1), 6–10. Google Scholar

 

Subeno, Isni. (2015). Pengaruh Kontrol Pekerjaan Dan Perilaku Aman Terhadap Kinerja Karyawan Pt. Pertamina Hulu Energi Onwj. Universitas Mercu Buana Jakarta-Menteng. Google Scholar

 

Susanti, Elva, & Sugianto, Welly. (2019). Pengaruh Iklim Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Terhadap Perilaku Kerja Aman Pada Pekerja Shipyard Batam. Jurnal Teknik Ibnu Sina (JT-IBSI), 4(02), 23–31. Google Scholar

 

Tengilimoglu, Dilaver, Celik, Elif, & Guzel, Alper. (2014). The effect of safety culture on safety performance: Intermediary role of job satisfaction. Methodology, 15(3), 1–12.

Wahyuni, Dewi Urip, Christiananta, Budiman, & Eliyana, Anis. (2014). Influence of organizational commitment, transactional leadership, and servant leadership to the work motivation, work satisfaction and work performance of teachers at private senior high schools in Surabaya. Educational Research International, 3(2), 82–96. Google Scholar

 

Widagdo, Aryo, Widodo, Djoko Setyo, & Samosir, Partogi Saoloan. (2018). Effect of compensation and motivation to employee performance through commitment. Scholars Journal of Economics, Business and Management (SJEBM), 5(4), 319–325. Google Scholar

 

Widyaningrum, M. Enny, & Rachman, Mochammad Munir. (2019). The Influence of the Work Environment, Organizational Commitment and Organizational Citizenship Behavior on Employee Performance and Motivation as Intervening (Studies in the Matahari Department Store Tbk. Tunjungan Plaza in Surabaya, Indonesia). Https://Www. Iiste. Org/Journals/Index. Php/EJBM/Issue/View/4286, 11(35), 60–68. Google Scholar

 

Yang, Cheng Chia, Wang, Yi Shun, Chang, Sue Ting, Guo, Suh Er, & Huang, Mei Fen. (2009). A study on the leadership behavior, safety culture, and safety performance of the healthcare industry. International Journal of Humanities and Social Sciences, 3(5), 546–553. Google Scholar

 

Copyright holder:

Teguh Santoso, Merry Citra Sondari, Zainur Hidayah (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: