Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No. 12, Desember 2022

 

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MOTIVASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR: LITERATURE REVIEW

 

I Putu Aditya Perdana, Tience Debora Valentina

Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Indonesia

Email: adityaperdana@student.unud.ac.id, tiencedebora@unud.ac.id

 

Abstrak

Motivasi belajar merupakan salah satu aspek yang memengaruhi hasil belajar siswa. Pada jenjang pendidikan sekolah dasar motivasi menjadi hal yang sangat penting sebab seorang siswa yang belajar tanpa motivasi cenderung mendapatkan hasil pembelajaran yang kurang maksimal. Sehingga beranjak dari hal tersebut memunculkan suatu masalah yakni motivasi belajar yang rendah menyebabkan hasil belajar yang rendah pula. Pertanyaan yang mendasar pada penelitian adalah apa saja yang memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait faktor-faktor yang memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur tipe narrative review dengan cara overview article. Penelusuran dilakukan menggunakan ScienceDirect dan Google Scholar dengan kriteria inklusi penelusuran adalah siswa sekolah dasar dengan tingkatan kelas 3 – 6 Sekolah Dasar (SD), tahun terbit jurnal 2017-2022 dan full text dengan topik motivasi siswa sekolah dasar. Diperoleh hasil penelitian bahwa terdapat faktor internal yang memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar yang meliputi efikasi diri, minat, dan kecerdasan emosional. Sedangkan faktor eksternal yang memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar meliputi kreativitas guru dalam menerapkan ice breaking, peran orang tua, pola asuh orang tua, dukungan teman sebaya, penerapan media pembelajaran visual, model pembelajaran time token, dan model hybrid learning & blended Learning. Motivasi belajar siswa sekolah dasar tidak terbentuk oleh satu faktor saja melainkan terbentuk dari multi faktor yang dimana faktor internal dan eksternal saling berintegrasi. Diharapkan guru, orang tua dan juga lembaga pendidikan lebih memerhatikan aspek internal dan eksternal pada siswa untuk mengoptimalkan motivasi belajar.

 

Kata Kunci: Faktor Motivasi Belajar, Siswa Sekolah Dasar, Kajian Literatur.

 

Abstract

Learning motivation is one aspect that influences student learning outcomes. At the elementary school education level, motivation is very important because a student who studies without motivation tends to get less than optimal learning outcomes. So that moving from this raises a problem, namely low learning motivation causes low learning outcomes as well. The basic question in the research is what influences the learning motivation of elementary school students. This paper aims to provide information regarding the factors that influence the learning motivation of elementary school students. This research uses the method of literature review type of narrative review by means of an overview article. The search was carried out using ScienceDirect and Google Scholar with the search inclusion criteria being elementary school students with grade 3 – 6 elementary school, journal publication year 2017-2022 and full text on the topic of elementary school student motivation. The results of the research show that there are internal factors that influence the learning motivation of elementary school students which include self-efficacy, interest, and emotional intelligence. Meanwhile, external factors that influence elementary school students' learning motivation include teacher creativity in implementing ice breaking, the role of parents, parenting styles, peer support, application of visual learning media, time token learning models, and hybrid learning & blended learning models. Learning motivation of elementary school students is not formed by one factor alone but is formed from multiple factors where internal and external factors are integrated with each other. It is hoped that teachers, parents and also the government will pay more attention to the internal and external aspects of students to optimize learning motivation.

 

Keywords: Learning Motivation Factors, Elementary School Students, Literature Review.

 

Pendahuluan

Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) adalah bagian dari pendidikan nasional yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menjamin kelangsungan pembangunan suatu bangsa. Menurut UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, pendidikan sekolah dasar dilakukan sebelum memasuki pendidikan menengah pertama dan dilakukan di tingkat sekolah selama 6 tahun dimulai dari jenjang kelas 1 hingga kelas 6 (Depdiknas, 2003). Selain itu, terdapat ketentuan baru dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 44 Tahun 2019 menyebutkan bahwa sebagai persyaratan calon peserta didik baru kelas 1 SD adalah berusia 7 (tujuh) sampai dengan 12 (dua belas) tahun. Dengan ketentuan aturan diatas menggambarkan bahwa syarat mutlak untuk mendaftarkan anak pada jenjang sekolah dasar adalah minimal berusia 7 tahun. Disamping itu dalam pendidikan sekolah dasar juga memiliki peranan penting untuk menjadi pondasi awal membentuk karakter anak melalui pembelajaran yang dilakukan di kelas (Fadlillah & Khorida, 2013). Pembelajaran yang dilakukan di kelas tentunya tidak hanya mengandalkan tenaga pendidik yakni guru, namun perlu adanya kolaborasi antara guru dan siswa yang dimana guru harus memperhatikan bagaimana karakteristik anak di usia sekolah dasar.

Karakteristik anak pada usia sekolah dasar di Indonesia saat ini berbeda jauh dengan era sebelumnya yakni pada masa pendidikan dibawah tahun 2013 dengan sebagian besar menerapkan pembelajaran berpusat pada guru yang disebut dengan Teacher Centered Learning atau TCL (Satrianawati, 2018). TCL menekankan bahwa pendidik lebih banyak melakukan kegiatan mengajar dengan bentuk ceramah (lecturing) kemudian peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung hanya pasif mendengarkan ceramah (Satrianawati, 2018). Meskipun peran guru memberikan pembelajaran lebih dominan tapi hal ini justru memberikan kelemahan dari pembelajaran TCL seperti guru kurang mengembangkan bahan ajar dan cenderung menggunakan model pembelajaran yang monoton sehingga menyebabkan siswa tidak terlalu terlibat aktif dalam proses pembelajaran hingga memunculkan rasa malas dalam diri siswa (Sudjana, 2005). Sedangkan, pada kondisi saat ini karakteristik siswa sekolah dasar sangat dipengaruhi oleh globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi yang menyebabkan mulai terjadinya perubahan kurikulum pembelajaran nasional oleh kementerian pendidik di Indonesia yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan juga karakteristik siswa (Wibowo, 2013). Ada beberapa karakteristik anak di usia sekolah dasar, salah satunya berdasarkan teori tahap perkembangan kognitif menurut Piaget yang dimana usia 7-11 tahun merupakan usia ketika anak sudah memasuki masa sekolah dasar dengan tahap pemikiran operasional konkret (Desmita, 2009). Makna operasional konkret yang dimaksud oleh Piaget yaitu kondisi anak-anak yang sudah memasuki kelas 3 hingga 6 sekolah dasar dengan ciri khas mereka dapat memfungsikan akalnya untuk berfikir logis terhadap sesuatu yang bersifat konkret atau nyata (Santrock, 2007). Bila dikorelasikan dengan pendidikan di Indonesia untuk anak sekolah dasar yang sedang duduk di kelas 3 sampai 6 memiliki pemikiran logis menggantikan pemikiran intuitif dengan syarat pemikiran tersebut dapat diaplikasikan menjadi contoh-contoh yang konkret atau spesifik (Santrock, 2007). Menurut Arsyad (2011) anak usia sekolah dasar yang sedang dalam tahap operasional konkret, ketika proses belajar memiliki permasalahan yang bersifat abstrak secara verbal dengan tanpa adanya objek nyata maka anak akan mengalami kesulitan bahkan tidak mampu untuk menyelesaikannya dengan baik suatu tugas yang diberikan oleh gurunya. Sehingga disini sangat diperlukan suatu metode pembelajaran yang konkret untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas (Susanti, 2013).

Pendidikan nasional di Indonesia saat ini memiliki kualitas yang kurang maksimal, hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Magazine (2020) yang melakukan survei di 93 negara dengan mewawancarai 196.300 orang responden yang menilai sejumlah indikator seperti peringkat sekolah tiap negara di tingkat global, sistem penyelenggaraan dan pendanaan pendidikan, profesionalitas pendidik, jumlah lembaga penelitian, produk hasil penelitian, keterkaitan pendidikan dengan industri, hingga tingkat kesediaan warga untuk melanjutkan pendidikan. Berdasarkan penilaian dari beberapa indikator diatas, diperoleh pendidikan terbaik dunia yang dimana negara Inggris menduduki peringkat pertama dengan skor tertinggi 78,2 dari 100. Sedangkan negara Indonesia mendapatkan peringkat 70 dengan skor 46,4 dari 100. Berdasarkan penelitian tersebut negara Indonesia masih banyak memerlukan pembenahan di bidang pendidikan, sehingga beranjak dari kualitas pendidikan yang rendah memberikan dampak yakni sebagian besar siswa memperoleh hasil belajar yang kurang maksimal (Sardiman, 2016). Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kualitas hasil belajar siswa sekolah dasar adalah adanya motivasi belajar. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian meta analisis yang dilakukan oleh Mujiyati & Adiputra (2017) mengenai motivasi dan prestasi belajar siswa sekolah dasar di Indonesia diperoleh nilai rerata korelasi populasi sebesar 0,457 yang membuktikan bahwa terdapat korelasi antara motivasi terhadap prestasi belajar artinya semakin tinggi motivasi belajar siswa maka semakin tinggi pula prestasi belajar siswa.

Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin keberlangsungan dari kegiatan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek dapat tercapai (Sardiman, 2016). Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi berguna untuk meningkatkan keberhasilan peserta didik dalam belajar (Sanjaya, 2013). Sebab, seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar (Mujiyati & Adiputra, 2017). Motivasi bukan saja penting karena menjadi faktor pendorong siswa dalam belajar, namun juga dapat memperlancar belajar dan memengaruhi hasil belajar siswa (Ani, 2006). Seorang siswa yang belajar tanpa motivasi atau kurang informasi, tidak akan berhasil dan maksimal (Kurnianto & Rahmawati, 2020). Hal ini dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh Lina et al. (2021) yang mendapatkan hasil bahwa siswa SD di wilayah DKI Jakarta yang memiliki motivasi belajar rendah mendapat rata-rata nilai 77.40 yang bermakna hasil belajar PKN yang rendah. Hal ini didukung oleh pendapat menurut Sasmita et al. (2020) bahwa motivasi peserta didik yang rendah tampak dalam sejumlah gejala seperti tidak serius dalam belajar, ribut di dalam kelas, bolos, dan tidak mengerjakan tugas. Zakiyah et al. (2013) juga menambahkan motivasi belajar peserta didik di sekolah dasar masih rendah dilihat dari rendahnya minat peserta didik dalam belajar, baik di kelas maupun di rumah, yang dibuktikan juga hasil nilai semester yang kurang memuaskan. Berdasarkan temuan penelitian sebelumnya penulis tertarik melakukan kajian secara mendalam terkait faktor yang memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar. Hasil studi literatur ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan kepada berbagai pihak seperti siswa, guru, orangtua, maupun lembaga pendidikan secara keseluruhan tentang faktor yang memengaruhi motivasi belajar siswa sehingga diharapkan dapat melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya sekolah dasar

 

Metode Penelitian

Desain penelitian ini adalah studi literatur tipe narrative review dengan metode overview article yaitu merangkum berbagai keadaan pemahaman saat ini tentang suatu topik melalui sintesa naratif dari penelitian yang telah dilakukan (Jerrells, 2000). Adapun strategi penelusuran melalui database elektronik menggunakan ScienceDirect dan Google Scholar dengan kata kunci pencarian “motivation to learn”, “learning motivation elementary school”, “Intrinsic motivation student”, dan “extrinsic motivation student”. Dalam pencarian literatur tersebut diperoleh 85 artikel kemudian dilakukan skrining abstrak dengan kriteria inklusi siswa sekolah dasar dengan tingkatan kelas 3 – 6 Sekolah Dasar (SD) dengan pertimbangan bahwa kategori kelas 3 hingga 6 SD telah memasuki tahap operasional konkret menurut teori perkembangan kognitif Piaget (Santrock, 2007), tahun terbit jurnal 2017-2022 dan full text dengan topik motivasi siswa sekolah dasar. Kemudian kriteria eksklusi adalah motivasi belajar siswa kelas 1 dan 2 SD sebab motivasi pada anak sd kelas 1 dan 2 secara signifikan sulit diidentifikasi yang dimana cenderung memasuki tahap perkembangan kognitif praoperasional. Sehingga berdasarkan hal tersebut diperoleh artikel final sebanyak (n=10). Dengan demikian kajian literatur difokuskan pada 10 artikel penelitian tersebut yang secara terperinci dapat dilihat pada tabel 1.

 

Tabel 1

Artikel yang dipergunakan pada literature review

No.

Nama Penulis,

Tahun Terbit, Judul

 

Penerbit

Hasil dalam penelitian

1

(Antonijević, R., & Bojović, I., 2017)

Students’ Motivation   

to Learn in Primary School

 

Open Journal for Psychological Research

Terdapat pengaruh internal terhadap motivasi belajar siswa. Siswa sekolah dasar percaya mereka dapat termotivasi dalam pembelajaran akibat adanya self-efficacy yang tinggi, memiliki tingkat kompetensi persepsi diri yang tinggi, dan harga diri, yaitu pandangan siswa tentang kualitas mereka sendiri.

2

(Fauziah, A., Rosnaningsih, A., & Azhar, S, 2017)

Hubungan antara Motivasi Belajar dengan Minat Belajar Siswa kelas IV SDN Poris Gaga 05 Kota Tangerang

 

Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar (JPSD)

Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan minat belajar siswa kelas IV SDN Poris gaga 05 Kota Tangerang dengan perolehan nilai r hitung 0,889 lebih besar dari r tabel 0,264 atau 0,89 > 0,264 dengan tingkat hubungan sangat kuat.

3

(Febriandari, E.I, Khakiim, U., & Pratama, N. A. E, 2018)

Pengaruh Kreativitas Guru dalam Menerapkan Ice Breaking dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar. 

 

BRILIANT: Jurnal Riset dan

Konseptual

Terdapat pengaruh signifikan antara kreativitas guru dalam menerapkan ice breaking dalam pembelajaran dan motivasi belajar siswa berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, dengan kontribusi sebesar 75.2%. Sedangkan sisanya 24.8% yang lainnya dipengaruhi oleh variabel diluar penelitian. 

4

(Hero, H., & Sni, M.E, 2018)

Peran Orang Tua dalam  Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa kelas V di Sekolah Dasar Inpres Iligetang

 

Jurnal Riset Pendidikan Dasar

Terdapat pengaruh peran dari orang tua dalam belajar siswa dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Peran orang tua meliputi memberikan semangat terhadap diri anak akan pentingnya suatu pendidikan untuk masa depan anak, dan sebagai fasilitator terhadap segala kegiatan anak. Peningkatan prestasi belajar siswa menunjukan suatu hasil yang positif dari sebelumnya. Terbukti dari nilai-nilai yang diperoleh di kelas dan juga melalui tugas yang diberikan oleh guru mengalami peningkatan.

5

(Santi, N.N., & Khan, R.I, 2019)

Pengaruh Dukungan Teman Sebaya terhadap Motivasi Belajar Siswa kelas III  Sekolah Dasar

 

 

Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara

Terdapat pengaruh signifikan antara dukungan teman sebaya terhadap motivasi belajar siswa sekolah dasar dengan nilai probabilitas (sig) < 0,05. Seorang anak memiliki motivasi belajar dan prestasi yang tinggi di sekolahnya apabila ia merasa dihargai dan dihormati oleh teman-teman sebayanya.

6

(Riandini, P.V.A., Sudatha. I.G.W.,& Parmiti, D.P, 2020)

Korelasi antara Kecerdasan Emosional dan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar PPKn

 

Jurnal Mimbar PGSD Undiksha

Terdapat korelasi yang signifikan antara kecerdasan emosional dan motivasi belajar dengan hasil belajar PPKn siswa kelas IV SD dengan diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,713 dan sumbangan kontribusi sebesar 50,3%.

7

(Hae, Y.,Tantu, Y.R.P , & Widiastuti, 2021)

Penerapan Media Pembelajaran Visual dalam Membangun Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

 

Edukatif : Jurnal

Ilmu Pendidikan

Hasil penelitian menunjukkan dengan pemberian media pembelajaran visual yang menekankan kepada prinsip kesederhanaan, penekanan, dan keterpaduan dapat membangun motivasi belajar siswa kelas 5 SD saat belajar. Selain itu, media pembelajaran visual perlu dirancang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditentukan.

8

(Sembiring, A.B, Tanjung, D.S., & Silaban, P.J, 2021)

Pengaruh Model Pembelajaran Time Token terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar pada Pembelajaran Tematik.

 

Jurnal Basicedu

Terdapat pengaruh yang signifikan antara model pembelajaran time token terhadap motivasi belajar siswa sekolah dasar pada pembelajaran tematik. Diperoleh hasil pengujian korelasi yakni nilai koefisien korelasi sebesar 0,841 artinya r hitung (0,841) ˃ r tabel (0,423) maka terdapat pengaruh yang sangat kuat antara model pembelajaran time token terhadap motivasi belajar siswa pada tema lingkungan sahabat kita di kelas V SD Negeri 106144 Sei Mencirim.

9

(Sulthoniyah, I., NurAfianah, V., Afifah, K.R., & Lailiyah, S, 2022)

Efektivitas Model Hybrid Learning dan Blended Learning terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar.

 

Jurnal Basicedu

Terdapat perbedaan rata-rata untuk variabel efektivitas hybrid learning dengan 72% dibanding dengan rata-rata efektivitas blended learning yaitu 83%. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh secara positif antara efektivitas hybrid learning dan efektivitas blended learning terhadap motivasi belajar siswa di MI Al-Karim Surabaya. 

10

(Widyastuti, S., Pangestika, R.R.,& Ngazizah,N, 2022)

Pola Asuh Orang Tua terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Pada Masa Pandemic Covid-19.

 

Jurnal Educatio

Terdapat pengaruh antara pola asuh orang tua terhadap motivasi belajar peserta didik di masa pandemic Covid-19. Persentase yang menunjukkan pola asuh demokratis sebesar 86,67% dan pola asuh permisif sebesar 13,33%. Terlihat dari persentase siswa dengan motivasi baik sebesar 73,33% dan siswa dengan motivasi kurang sebesar 26,67%.

 

Hasil dan Pembahasan

Motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung (Hamzah B. Uno, 2010). Pada pembelajaran di sekolah dasar selama era globalisasi dan perkembangan teknologi terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi motivasi belajar siswa. Menurut Uno (2010) motivasi belajar siswa sekolah dasar dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri peserta didik (internal) maupun dari luar diri peserta didik itu sendiri (eksternal). Disamping itu menurut Slameto (2003) ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu, faktor yang berasal dari dalam diri siswa atau internal dan faktor dari luar atau eksternal. Faktor internal meliputia faktor fisik dan psikis. Sedangkan faktor yang berasal dari luar diri siswa atau eksternal, meliputi fasilitas belajar mencukup sarana yang mendukung proses belajar mengajar, serta keteraturan dan kedisiplinan dalam belajar (Slameto, 2003).

Berdasarkan pendapat beberapa tokoh diatas maka dipilihkan pendapat dari Uno untuk menjadi acuan dalam klasifikasi faktor-faktor motivasi belajar karena pendapat yang disampaikan oleh uno lebih relevan dan terperinci. Selanjutnya peneliti ingin membandingkan faktor internal dan eksternal motivasi belajar siswa dari Uno (2010) dengan hasil overview article atau kajian literatur. Berdasarkan kajian literatur diperoleh 10 artikel penelitian yang membahas mengenai faktor yang memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar. Beranjak dari 10 artikel penelitian tersebut kemudian diklasifikasikan menjadi 3 penelitian yang membahas mengenai faktor internal dan 7 penelitian yang membahas faktor eksternal yang memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar.

A.  Faktor Internal yang Memengaruhi Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

1.    Efikasi Diri

Efikasi diri adalah salah satu aspek pengetahuan tentang diri yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia sehari-hari (Ghufron, N. M. & Risnawita, 2011). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Bojović & Antonijević (2017) dengan metode kualitatif deskriptif menunjukkan hasil bahwa siswa sekolah dasar percaya bahwa mereka dapat mencapai tujuan mereka sehingga termotivasi akibat adanya efikasi diri yang tinggi. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Bandura (2002) yang mengatakan bahwa efikasi diri memengaruhi aspek kognitif yang kemudian berhubungan dengan motivasi seseorang. Siswa yang mempunyai efikasi diri tinggi akan menciptakan motivasi yang lebih tinggi di dalam menjalankan suatu tugas tertentu dibandingkan dengan siswa yang memiliki efikasi diri yang rendah (Bandura, 2002). Seorang siswa yang mempunyai efikasi diri tinggi akan membayangkan kesuksesan dalam tugas yang sedang mereka kerjakan. Hal serupa didukung juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinulingga (2016) dengan menggunakan penelitian kuantitatif korelasional antara hubungan efikasi diri terhadap motivasi  belajar  siswa  sekolah dasar yang diperoleh hasil nilai koefisien korelasi 0.674  (α,  0.001) yang bermakna bahwa terdapat hubungan yang kuat antara efikasi diri terhadap motivasi belajar siswa sekolah dasar serta hubungan korelasional yang bersifat positif artinya semakin kuat efikasi diri seorang siswa maka semakin tinggi motivasi belajar siswa. Sehingga dari berbagai penjelasan diatas dapat ditarik benang merah bahwa efikasi diri memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar.

2.    Minat

Djamarah (2008) mendefinisikan bahwa minat merupakan kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Pada siswa sekolah dasar minat juga memberikan pengaruh terhadap motivasi belajar yang dimana siswa yang memiliki minat belajar akan menunjukan sikap antusiasme yang tinggi, memiliki semangat dan energi selama pembelajaran, serta aktif dalam menjawab dan juga bertanya (Djamarah, 2008). Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Fauziah, A., Rosnaningsih, A,& Azhar (2017) dengan  kuantitatif korelasi yang meneliti minat belajar siswa kelas IV SDN Poris  Gaga 05 Kota Tangerang terdapat hubungan yang kuat antara minat belajar dan motivasi belajar siswa bahwa semakin tinggi minat belajar siswa maka semakin tinggi pula motivasi belajar siswa sekolah dasar (Fauziah, A., Rosnaningsih, A,& Azhar, 2017). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Ermelinda & Benge (2017) bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan secara bersama-sama antara minat dan motivasi belajar dengan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SDI Bajawa. Beranjak dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan, semakin tinggi minat siswa maka semakin tinggi juga motivasi belajar siswa sekolah dasar sehingga dengan demikian minat menjadi komponen yang memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar.

3.    Kecerdasan Emosional

Goleman (2000) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan mengenali perasaan-perasaan diri sendiri dan orang lain dan juga serta mengelola emosi diri sendiri dengan baik maupun dalam melakukan hubungan sosial. Pada jenjang pendidikan sekolah dasar untuk siswa yang memiliki kecerdasan emosional ditandai dengan kemampuan manajemen emosi yang baik dan juga memiliki kemampuan berinteraksi dengan teman sebaya maupun guru (Hamzah B. Uno, 2010). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Riandini, P.V.A., Sudatha. I.G.W.,& Parmiti (2020) dengan model penelitian expost facto didapatkan sebuah hasil penelitian yang menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,713 dan sumbangan kontribusi sebesar 50,3% yang bermakna terdapat korelasi yang positif yang artinya semakin tinggi kecerdasan emosional siswa maka semakin tinggi motivasi belajar siswa. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurlaeliah, R., Prasetyo, T., & Firmansyah (2021) dengan penelitian kuantitatif dengan pendekatan penelitian korelasi fungsional yang memperoleh hasil terdapat pengaruh yang signifikan dari kecerdasan emosional terhadap motivasi belajar peserta didik Sekolah Dasar di Gugus III Kecamatan Caringin. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa kecerdasan emosional memiliki peranan yang signifikan dalam memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar. Siswa yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan cenderung memiliki motivasi belajar yang tinggi.

B.  Faktor Eksternal yang Memengaruhi Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

1.    Kreativitas Guru dalam Menerapkan Ice Breaking

Ice breaking adalah permainan atau aktivitas yang dirancang untuk mengubah suasana kebekuan dalam kelompok (Said, 2010). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Febriandari, E.I, Khakiim, U., & Pratama (2018) bahwa secara bersama-sama kreativitas guru dalam menerapkan ice breaking dalam pembelajaran dan motivasi belajar siswa berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini ditegaskan kembali oleh Suryoharjuno (2012) bahwa pelaksanaan ice breaking dapat memberikan manfaat bagi guru dan khususnya bagi siswa, yaitu dapat menumbuhkan motivasi bagi siswa serta dapat menguatkan interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Adnan, Mislinawati, Sahilni, Husin, M. Husin, & Kurniawati (2020) terdapat pengaruh yang signifikan penerapan ice breaking terhadap hasil belajar pada pembelajaran tematik siswa kelas IV SD Negeri 1 Simpang Ulim. Dalam pemberian ice breaking disini menurut Fransiska (2020) menyarankan untuk diterapkan dalam situasi mengawali pembelajaran dengan bentuk ice breaking seperti mengajak siswa bernyanyi atau menyuarakan yel-yel. Hal ini menjadi penarik minat dan perhatian siswa sehingga siswa mulai memperhatikan saat guru menjelaskan materi. Jadi dengan aktivitas tersebut dapat mengurangi siswa bermain sendiri dan berbicara dengan temannya. Pada saat presentasi, siswa juga terlihat gigih dan semangat dengan menyanyikan yel-yel sebelum mempresentasikan hasil diskusinya (Fransiska, 2020). Selain itu ice breaking juga dapat diterapkan pada bagian akhir pembelajaran sehingga pembelajaran di kelas menjadi lebih menyenangkan dan siswa sangat termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran hingga akhir (Adetya, A., Sakman, & Saefulloh, 2021). Dengan demikian penerapan ice breaking dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan konsentrasi belajar siswa, daya serap siswa, minat belajar, perhatian belajar siswa, hasil belajar siswa dan dapat menumbuhkan semangat belajar siswa yang pada akhirnya memengaruhi motivasi belajar siswa (Fauzan, G. A., & Aripin, 2019).

2.    Peran Orang Tua

Menurut Lestari (2012) menyatakan bahwa peran orang tua adalah cara-cara yang digunakan oleh orang tua mengenai tugas-tugas yang mesti dijalankan dalam mengasuh anak.Orang tua berperan untuk membimbing dan memberikan motivasi kepada anak agar anak tetap bersemangat mengikuti pembelajaran (Kurniati, E., Nur Alfaeni, D. K., & Andriani, 2020). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hero, H., & Sni (2018) dengan penelitian kualitatif deskriptif diperoleh hasil penelitian yang menunjukan bahwa melalui peran orang tua dalam belajar siswa dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.  Hal ini sejalan dengan penelitian Irma, C. N., Nisa, K., & Sururiyah (2019) dengan penelitian deskriptif kualitatif yang menunjukkan hasil orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada masa pembelajaran daring. Cara orang tua dalam meningkatkan motivasi belajar siswa adalah dengan memberikan motivasi, mengontrol waktu belajar, menciptakan suasana yang mendukung, menyediakan waktu untuk terlibat, memantau perkembangan anak, dan memberikan penghargaan (Irma, C. N., Nisa, K., & Sururiyah, 2019). Sedangkan, hambatan yang dirasakan orang tua dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di antaranya adalah anak yang lelah dan jenuh, anak terlalu sering bermain game, dan anak tidak disiplin (Irma & Sururiyah, 2021). Dalam mengatasi hambatan ini adapun salah satu solusi yang dapat dilakukan menurut Ilahi (2013) yaitu mengenai membagi waktu anak tidak hanya dalam belajar saja melainkan dalam segala hal yang dilakukan oleh anak yang meliputi belajar, bermain, istirahat dan beribadah. Pembagian waktu ini dapat diatur dengan tegas yang dimana orang tua memberikan hadiah dan juga pujian bagi anak yang bisa mengatur waktu dengan baik serta juga diberikan sanksi atau hukuman bila anak lalai akan tugasnya sehingga dengan demikian peranan orang tua disini fleksibel yang artinya menyesuaikan dengan karakteristik sang anak (Ilahi, 2013).

3.    Pola Asuh Orang Tua

Gunarsa (2002) mengatakan bahwa pola asuh merupakan cara bertindak sebagai orang tua terhadap anak-anaknya di mana mereka melakukan serangkaian usaha aktif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Widyastuti, Pangestika, & Ngazizah (2022) dengan penelitian kualitatif yang menunjukkan hasil hasil pola asuh orang tua berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi belajar siswa dengan persentase yang menunjukkan pola asuh demokratis sebesar 86,67% dan pola asuh permisif sebesar 13,33% sehingga pola asuh demokratis memengaruhi motivasi belajar peserta didik. Hal ini sejalan dengan penelitian Idrus (2012) melalui penelitian survei dengan hasil penelitian kualitas pola asuh orang tua berbentuk demokratis tergolong sangat baik yaitu diatas rata-rata, pola asuh orang tua berbentuk otoriter kurang baik untuk memotivasi siswa dalam belajar. Fadhilah, T. N., Handayani, D. E., & Rofian (2019) mengatakan bahwa Pola asuh demokratis adalah dimana orang tua memberikan kebebasan pada anak untuk berkreativitas berbagai hal sesuai dengan kemampuan anak dan mendorong anak untuk mandiri akan tetapi diberi batasan dan pengawasan. Orang tua dapat menerapkan pola asuh demokratis untuk meningkatkan motivasi belajar anak yakni dengan menerapkan peraturan-peraturan yang disetujui bersama serta tetapi tetap memperhatikan keadaan dan kebutuhan anak serta pada pola asuh demokratis ini ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya, orang tua memberikan dorongan yang positif untuk membimbing anak kearah yang lebih baik (Fadhilah, T. N., Handayani, D. E., & Rofian, 2019).  Restiani et al (2017) mengemukakan bahwa terdapat 5 cara untuk menerapkan pola asuh demokratis untuk memotivasi belajar yaitu 1) orang tua mendorong anak belajar, 2) kerja sama yang harmonis antara anak dan orang tua dalam pembelajaran, 3) anak mendapatkan dukungan dengan baik, 4) orang tua akan membimbing dan mengarahkan anak-anak mereka, 5) ada pengawasan orang tua yang tidak kaku selama proses pembelajaran. Beranjak dari berbagai penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua memengaruhi motivasi belajar anak dan disarankan untuk menerapkan pola asuh demokratis untuk memperoleh motivasi belajar yang tinggi pada anak.

4.    Dukungan Teman Sebaya

Menurut Santrock (2007), teman-teman sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja yang mempunyai usia atau tingkat kematangan yang hampir sama. Adanya teman-teman sebaya ini dapat memberikan dukungan sosial bagi seorang siswa dan memengaruhi motivasi belajar siswa (Santrock, 2007). Berdasarkan penelitian Santi, N.N., & Khan (2019) dengan penelitian kuantitatif yang menunjukkan hasil penelitian dengan probabilitas sig. < 0,05 yang berarti bahwa dukungan teman sebaya berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian Uyun (2022) melalui penelitian kuantitatif korelasional dengan hasil penelitian nilai koefisien (r =0.527; F=57.66; p<0,01) yang bermakna terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan motivasi belajar. Hal ini didukung juga dari pendapat Huda (2011) menyatakan bahwa siswa yang memiliki intensitas interaksi dalam pergaulan teman sebaya yang luas dan bersifat positif mampu mengembangkan motivasi belajar dalam diri siswa yang akan berpengaruh pula pada hasil belajarnya, dan begitupun sebaliknya. Interaksi atau relasi yang baik antara siswa yang satu dengan yang lainnya yang terjalin di dalam kelompok teman sebaya juga akan memberikan dukungan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, karena dengan adanya relasi yang baik akan terciptanya suasana belajar yang lebih baik pula sehingga akan memberi dampak terhadap prestasi belajar siswa (Huda, 2011). Menciptakan relasi yang baik antar siswa adalah sangat penting agar dapat memberikan pengaruh positif terhadap belajar siswa (Slameto, 2003). Beranjak dari penjelasan diatas maka dukungan teman sebaya disini memiliki pengaruh terhadap motivasi belajar siswa dan juga dengan adanya dukungan dari teman sebaya akan meningkatkan motivasi belajar siswa.

5.    Penerapan Media Pembelajaran Visual

Media pembelajaran visual merupakan suatu media yang digunakan melalui indera penglihatan berupa gambar, komik, poster, majalah, miniatur, alat peraga dan sebagainya (Satrianawati, 2018). Media seperti ini pada dasarnya dibuat dengan tujuan untuk mempermudah para siswa memahami konsep materi, menarik perhatian dan menjadikan mereka lebih semangat atau aktif dalam belajar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hae, Tantu, & Widiastuti (2021) dengan penelitian kualitatif deskriptif yang menunjukkan hasil penelitian bahwa media visual yang berisikan gambar dapat membuat siswa tertarik dalam belajar, lebih memahami materi yang diberikan, dan aktif hingga akhir pembelajaran. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Surwantini (2015) melalui penelitian kuantitatif eksperimen dengan hasil penelitian media visual lebih efektif daripada media konvensional terhadap motivasi belajar siswa dengan adanya perbedaan yang signifikan pada hasil akhir prestasi belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan p < 0.05 dan media visual terbukti efektif terhadap prestasi belajar. Dengan demikian guru harus memperhatikan penggunaan media pembelajaran dalam proses mengajar di kelas karena media pembelajaran memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar, media pembelajaran yang disarankan adalah media pembelajaran visual karena berdasarkan kajian sebelumnya dinilai memiliki efektivitas.

6.   Model Pembelajaran Time Token

Arends (2015) menyatakan bahwa time token merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang bertujuan untuk mengatasi pemerataan kesempatan yang mewarnai kerja kelompok, menghindarkan siswa mendominasi atau diam sama sekali dan menghendaki siswa saling membantu dalam kelompok kecil. Berdasarkan penelitian dari Sembiring, Tanjung, & Silaban (2021) dengan penelitian deskriptif analitik yang menunjukkan hasil penelitian nilai koefisien korelasi sebesar 0,841 atau r hitung (0,841) ˃ r tabel (0,423) yang bermakna bahwa pembelajaran time token berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa sekolah dasar. Hal ini sejalan dengan penelitian Yanti, Mailani, & A.Mualif (2022) melalui penelitian kuantitatif dengan hasil Penerapan model pembelajaran time token dapat meningkatkan motivasi belajar sekaligus hasil belajar siswa kelas V SDN 006 Pangkalan Indarung dengan nilai Pra Siklus 31,03%, Siklus I persentasenya  44,82%  Siklus  II persentasenya  62,06%  dan  Siklus  III  persentasenya  86,20%. Pada Siklus I hingga III terlihat adanya peningkatan hasil persentase hasil belajar dengan metode pembelajaran time token. Pada pembelajaran time token siswa dibentuk ke dalam kelompok belajar, yang dalam pembelajaran ini mengajarkan keterampilan sosial untuk menghindari siswa mendominasi pembicaraan atau menghindarkan siswa diam sama sekali saat berdiskusi (Shoimin, 2019). Model pembelajaran ini mengajak siswa aktif sehingga tepat digunakan dalam situasi apapun karena pembelajaran ini benar-benar mengajak siswa untuk aktif dan belajar berbicara di depan umum, mengungkapkan pendapatnya tanpa harus takut dan malu yang pada akhirnya akan meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik (Pulungan, 2018). Sehingga dengan demikian model pembelajaran time token memengaruhi motivasi belajar siswa dan sangat disarankan untuk diterapkan karena mampu melibatkan seluruh siswa secara merata untuk aktif di kelas.

7.    Model Hybrid Learning dan Blended Learning

Blended learning adalah suatu pendekatan yang fleksibel untuk merancang program yang mendukung campuran dari berbagai waktu dan tempat untuk belajar. Menurut Rovai, A.P. & Jordan (2004) model blended learning pada dasarnya merupakan gabungan keunggulan pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka (face to face learning) dan secara virtual (e-learning). Pembelajaran online atau e-learning dalam blended learning menjadi perpanjangan alami dari pembelajaran ruang kelas tradisional yang menggunakan model tatap muka. Lewat model blended learning, proses pembelajaran akan lebih efektif karena proses belajar mengajar yang biasa dilakukan (conventional) akan dibantu dengan pembelajaran secara e-learning yang dalam hal ini berdiri di atas infrastruktur teknologi informasi dan bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun (Rovai, A.P. & Jordan, 2004). Selain itu menurut Jusoff, K. & Khodabandelou (2009), blended learning bukan hanya mengurangi jarak yang selama ini ada diantara siswa dan guru namun juga meningkatkan interaksi diantara kedua belah pihak dan bisa diterapkan pada semua mata pelajaran. Belajar memakai blended learning gunanya untuk mempertinggi keefektifan serta kemampuan dalam interaksi guru serta siswa pada perubahan dalam belajar yang berlarut-larut (Jusoff & Khodabandelou, 2009). Lain dari pada model belajar blended learning ada juga model belajar hybrid learning. Media hybrid learning terujuk kombinasi dengan sebagian suasana belajar antara bertemu di ruangan serta terhubung dalam internet (Makhin, 2021). Model pembelajaran hybrid learning dan blended learning dapat diterapkan secara bersamaan. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Sulthoniyah, Afianah, Afifah, & Lailiyah (2022) dengan penelitian kuantitatif yang menunjukkan hasil terdapat perbedaan rata-rata untuk variabel efektivitas hybrid learning dengan 72% dibanding dengan rata-rata efektivitas blended learning yaitu 83% sehingga pembelajaran dengan menggunakan model hybrid learning dan blended learning efektif memberikan pengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa sekolah dasar. Beranjak dari berbagai penjelasan diatas maka dapat ditarik benang merah bahwa model pembelajaran hybrid learning dan blended learning efektif untuk diterapkan karena dapat dilaksanakan dimanapun dan kapanpun sehingga memberikan fleksibilitas pada siswa dan juga guru yang kemudian memiliki pengaruh secara signifikan terhadap motivasi belajar siswa sekolah dasar.

Berdasarkan overview article diperoleh tiga faktor internal motivasi belajar siswa yang meliputi efikasi diri, minat, dan kecerdasan Emosional. Kemudian tujuh faktor eksternal motivasi belajar meliputi kreativitas guru dalam menerapkan ice breaking, peran orangtua, pola asuh orang tua, dukungan teman sebaya, penerapan media pembelajaran visual, model pembelajaran time token, dan model hybrid learning dan blended learning.  Menurut pendapat Slameto (2003), siswa sekolah dasar sangat banyak dipengaruhi oleh lingkungan eksternalnya daripada internal dalam pembelajaran. Hal ini sejalan dengan hasil overview article bahwa diperoleh lebih banyak faktor eksternal yakni sejumlah 7 aspek dibandingkan faktor internal yang mencakup 3 aspek.  Meskipun faktor eksternal lebih banyak mempengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar, namun dalam membangun motivasi belajar siswa tidak ada faktor tunggal yang dinyatakan efektif (Hamzah B. Uno, 2010). Aspek internal dan eksternal saling menguatkan satu sama lain untuk mendorong kesuksesan (Hamzah B. Uno, 2010). Sehingga dengan demikian adapun saran yang dapat disampaikan oleh peneliti untuk pihak guru, orangtua maupun dinas pendidikan agar dapat memaksimalkan motivasi belajar siswa sekolah dasar maka adapun hal-hal yang dapat dilakukan yakni:

a.    Menumbuhkan minat belajar siswa dengan cara guru dapat memberikan pembelajaran yang menarik seperti pemberian ice breaking pada saat membuka pembelajaran sebab hal ini dinilai mampu menggungah semangat siswa dan meningkatkan efikasi dirinya yang pada akhirnya siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi (Suryoharjuno, 2012).

b.    Pemberian variasi model pembelajaran sehingga siswa tidak merasa jenuh. Model pembelajaran yang dinilai efektif untuk membuat seluruh siswa aktif adalah timeh token (Yanti et al., 2022). Disamping itu guru juga dapat melakukan kombinasi atau varasi dengan menerapkan pembelajaran Model Hybrid Learning dan Blended Learning untuk mengoptimalisasi kecerdasan emosional dalam berbagai situasi (Nurlaeliah, R., Prasetyo, T., & Firmansyah, 2021).

c.    Guru memanfaatkan media pembelajaran pembelajaran visual berupa gambar, komik, poster, majalah, miniatur, alat peraga dan sebagainya. Media pembelajaran visual memiliki keunggulan yakni mempermudah para siswa memahami konsep materi, menarik perhatian dan menjadikan mereka lebih semangat atau aktif dalam belajar (Satrianawati, 2018).

d.   Guru mendorong siswa untuk saling berinteraksi dalam pergaulan teman sebaya yang luas dan bersifat positif dan untuk saling mendukung satu sama lain sehingga terciptanya lingkungan yang suportif dalam kelas (Huda, 2011).

e.    Orangtua disarankan mendidik anak dengan pola asuh demokratis dengan menerapkan peraturan-peraturan yang disetujui bersama anak tetapi tetap memperhatikan keadaan dan kebutuhan anak. Disini orangtua memberikan dorongan yang positif untuk membimbing anak sehingga anak menjadi termotivasi untuk melakukan sesuatu hal khususnya dalam belajar (Fadhilah, T. N., Handayani, D. E., & Rofian, 2019). 

f.     Peran orang tua sangatlah penting karena keluarga merupakan unit terkecil dan ekosistem yang paling dekat untuk mendorong anak untuk melakukan perubahan. Peran orang tua disini sebaiknya memberikan semangat terhadap diri anak akan pentingnya suatu pendidikan untuk masa depan anak, dan sebagai fasilitator terhadap segala kegiatan anak sehingga anak mampu menghadapi masa-masal sulit dan termotivasi untuk bangkit (Hero, H., & Sni, 2018).

 

Kesimpulan

Motivasi adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam proses belajar siswa sekolah dasar. Motivasi tidak hanya menjadi faktor pendorong siswa dalam belajar, melainkan juga dapat memperlancar belajar dan memengaruhi hasil belajar siswa Berdasarkan kajian literatur yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat faktor internal dan eksternal yang memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar selama masa globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Adapun faktor internal yang memengaruhi motivasi belajar siswa sekolah dasar meliputi self efficacy, minat, dan kecerdasan emosional. Sedangkan faktor eksternal meliputi kreativitas guru dalam menerapkan ice breaking, peran orang tua, pola asuh orang tua, dukungan teman sebaya, penerapan media pembelajaran visual, model pembelajaran time token, dan model hybrid learning dan blended learning. Motivasi belajar siswa sekolah dasar tidak terbentuk oleh satu faktor saja melainkan multi faktor yang dimana faktor internal dan eksternal saling berintegrasi. Beranjak dari hasil penelitian ini kemudian diharapkan mampu memberi jalan awal bagi peneliti lain untuk meneliti lebih lanjut terkait motivasi belajar siswa sekolah dasar. Adapun saran yang dapat disampaikan kepada tenaga pendidik yakni guru diharapkan lebih kreatif dalam menerapkan model pembelajaran dan juga menggunakan media visual agar siswa memiliki minat untuk memperhatikan sehingga mendapatkan hasil belajar secara maksimal. Disamping itu orang tua juga harus mulai memainkan peran yang lebih dalam mendidik anak dan menerapkan pola asuh yang demokratis demi tumbuh kembang anak yang maksimal.

BIBLIOGRAFI

 

Adetya, A., Sakman, & Saefulloh, A. (2021). Bentuk Pelaksanaan Ice Breaking Jenis Storytelling yang Dilakukan oleh Guru Dalam Pembelajaran PPKn Siswa Kelas VIII di SMP Kristen Palangka Raya. AKSARA: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 7(2), 577–588. Google Scholar

 

Adnan, Mislinawati, Sahilni, Husin, M. Husin, & Kurniawati, R. (2020). Pengaruh Ice Breaking Terhadap Hasil Belajar pada Pembelajaran Tematik. Jurnal Kinerja Kependidikan (JKK), 2(4), 799–808. Google Scholar

 

Arends, R. I. (2015). Learning to Teach (Tenth Edition). In McGraw-Hill Education: Vol. Tenth Edit. Google Scholar

 

Bandura, A. (2002). Self Efficacy – The Exercise of Control (Fifth Printing, 2002). New York: W.H. Freeman & Company. Google Scholar

 

Bojović, I., & Antonijević, R. (2017). Students’ Motivation to Learn in Primary School. Open Journal for Psychological Research, 1(1), 11–20. https://doi.org/10.32591/coas.ojpr.0101.02011b. Google Scholar

 

Djamarah, S. B. (2008). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Google Scholar

 

Ermelinda & Benge, K. (2017). Hubungan antara Minat dan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar IPA pada Siswa SD. Journal of Education Technology, 1(4), 231–238. Google Scholar

 

Fadhilah, T. N., Handayani, D. E., & Rofian, R. (2019). Tua, Analisis Pola Asuh Orang Siswa., Terhadap Motivasi Belajar. Jurnal Pedagogi Dan Pembelajaran, 2(2), 249–255. Google Scholar

 

Fauzan, G. A., & Aripin, U. (2019). Penerapan Ice Breaking dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri Siswa VIII B SMP Bina Harapan Bangsa. JPMI (Jurnal Pembelajaran Matematika Inovatif), 2(1), 17–24. Google Scholar

 

Fauziah, A., Rosnaningsih, A,& Azhar, S. (2017). Hubungan antara Motivasi Belajar dengan Minat Belajar Siswa kelas IV SDN Poris Gaga 05 Kota Tangerang. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar (JPSD), 4(1), 47–53. Google Scholar

 

Febriandari, E.I, Khakiim, U., & Pratama, N. A. E. (2018). Pengaruh Kreativitas Guru dalam Menerapkan Ice Breaking dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar. BRILIANT: Jurnal Riset Dan Konseptual, 3(4), 485–494. Google Scholar

 

Fransiska, B. (2020). Pengembangan Teknik Pembelajaran Ice Breaking untuk Meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik pada Kelas IV di SD/MI. Universitas Islam Negeri. Google Scholar

 

Ghufron, N. M. dan Risnawita, R. (2011). Teori-teori Psikologi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Google Scholar

 

Goleman, D. (2000). Kecerdasan Emosional. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Google Scholar

 

Gunarsa, S. D. (2002). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Google Scholar

 

Hae, Y., Tantu, Y. R. P., & Widiastuti, W. (2021). Penerapan Media Pembelajaran Visual Dalam Membangun Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(4), 1177–1184. Google Scholar

 

Hamzah B. Uno, M. (2010). Teori motivasi dan pengukurannya. Jakarta: PT Bumi Aksara. Google Scholar

 

Hero, H., & Sni, M. E. (2018). Peran Orang Tua dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa kelas V di Sekolah Dasar Inpres Iligetang. Jurnal Riset Pendidikan Dasar, 1(2), 129–139. Google Scholar

 

Huda, M. (2011). Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Google Scholar

 

Idrus, A. (2012). Pola Asuh Orangtua dalam Memotivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar. Sekolah Dasar: Kajian Teori Dan Praktik Pendidikan, 21(2), 145–151. Google Scholar

 

Ilahi, T. (2013). QUANTUM PARENTING Kiat Sukses Mengasuh Anak Secara Efektif dan Cerdas. Jogjakarta: KATAHATI. Google Scholar

 

Irma, C. N., Nisa, K., & Sururiyah, S. K. (2019). Keterlibatan Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini di TK Masyithoh 1 Purworejo. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(1), 214-224. Google Scholar

 

Jusoff, K. & Khodabandelou, R. (2009). Preliminary study on the role of social presence in blended learning environment in higher education. Journal of International Education Studies, 2(4), 79-83. Google Scholar

 

Kurniati, E., Nur Alfaeni, D. K., & Andriani, F. (2020). Analisis Peran Orang Tua dalam Mendampingi Anak di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 241–256. Google Scholar

 

Lestari, S. (2012). Psikologi Keluarga. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Google Scholar

 

Makhin, M. (2021). Hybrid Learning: Model Pembelajaran pada Masa Pandemi di SD Negeri Bungurasih Waru Sidoarjo. Mudir : Jurnal Manajemen Pendidikan, 3(2), 95–103. https://doi.org/10.55352/mudir.v3i2.312. Google Scholar

 

Nurlaeliah, R., Prasetyo, T., & Firmansyah, W. (2021). Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Sekolah Dasar Gugus III Kecamatan Caringin. EDUKASI : Jurnal Penelitian Dan Artikel Pendidikan, 13(1), 37–54. Google Scholar

 

Pulungan, I. & I. (2018). Ensiklopedia Pendidikan. Edisi Kedua. Medan: Media Persada. Google Scholar

 

Restiani, Septi,  et al. (2017). Hubungan antara Pola Asuh Demokratis dengan Kemandirian Anak di Kelompok A PAUD IT Bina Iman Kabupaten Bengkulu Utara. Jurnal Potensia: PG-PAUD FKIP UNIB, 2(1), 23–32. Google Scholar

 

Riandini, P.V.A., Sudatha. I.G.W.,& Parmiti, D. P. (2020). Korelasi antara Kecerdasan Emosional dan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar PPKn. Jurnal Mimbar PGSD Undiksha, 8(3), 468–478. Google Scholar

 

Rovai, A.P. and Jordan, M. (2004). Blended Learning and Sense of Community: A Comparative Analysis with Traditional and Fully Online Graduate Courses. The International Review of Research in Open and Distance Learning, 5(2), 1-13. Google Scholar

 

Said, M. (2010). 80+ Ice breaker Games: Kumpulan Permainan Penggugah Semangat. Yogyakarta: Andi Publisher. Google Scholar

 

Santi, N.N., & Khan, R. I. (2019). Pengaruh Dukungan Teman Sebaya terhadap Motivasi Belajar Siswa kelas III Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 4(2), 191-198. Google Scholar

 

Santrock, J. W. (2007). Perkembangan Anak. Jilid 1 Edisi kesebelas. PT. Erlangga. Sinulingga. Google Scholar

 

Satrianawati, M. P. (2018). Media Dan Sumber Belajar. Yogyakarta: CV. Budi Utama. Google Scholar

 

Sembiring, A. B., Tanjung, D. S., & Silaban, P. J. (2021). Pengaruh Model Pembelajaran Time Token terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar pada Pembelajaran Tematik. Jurnal Basicedu, 5(5), 4076–4084. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i5.1289. Google Scholar

 

Shoimin, A. (2019). 68 Model Pembelajaran Inovatif Dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Google Scholar

 

Sinulingga, J. N. (2016). Kepribadian dan Efikasi Diri dengan Motivasi Belajar Siswa kelas V Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar, 7(1), 48–61. Google Scholar

 

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta. Google Scholar

 

Sulthoniyah, I., Afianah, V. N., Afifah, K. R., & Lailiyah, S. (2022). Efektivitas Model Hybrid Learning dan Blended Learning Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 6(2), 2466–2476. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i2.2379. Google Scholar

 

Surwantini, E. (2015). Efektivitas Penggunaan Media Visual Terhadap Motivasi Belajar Dan Prestasi Belajar Siswa Kelas III SD Gugus 01 Imogiri, Bantul. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 8(2), 54–67. Google Scholar

 

Suryoharjuno, K. (2012). 100 (Seratus)+ ice breaker: penyemangat belajar (cet. ke-7). CV. Ilman Nafia.

 

Uyun, M. (2022). Dukungan Sosial Teman Sebaya dan Persepsi Siswa Terhadap Cara Mengajar Guru dengan Motivasi Belajar. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 11(1), 753–778. Google Scholar

 

Widyastuti, S., Pangestika, R. R., & Ngazizah, N. (2022). Pola Asuh Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Pada Masa Pandemic Covid-19. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 8(1), 70–76. https://doi.org/10.31949/educatio.v8i1.1446. Google Scholar

 

Yanti, W., Mailani, I., & A.Mualif. (2022). Penerapan Model Pembelajaran Time Token Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V Pada Mata Pelajaran Pai Dan Budi Pekerti Sdn 006 Pangkalan Indarung Kecamatan Singingi Kabupaten Kuantan Singingi. Jom Ftk Uniks, 3(1), 204–211. Google Scholar

 

Copyright holder:

I Putu Aditya Perdana, Tience Debora Valentina (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: