Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No. 12, Desember 2022

 

TINGKAT  PENGGUNAAN  FAKTOR  PRODUKSI  KAKAO (Theobroma Cacao L) DI KECAMATAN DOLO SELATAN

 

Risman, M.Anwar Nasaruddin, Musdayati

Universitas Tadulako, Indonesia

Email: Risman.iesp59@gmail.com, anwarawangnasruddin1977@gmail.com, diazmus22@gmail.com

 

Abstrak

Kabupaten Sigi, aktivitas ekonomi komoditi kakao tidak hanya menjadi sumber pendapatan bagi sebagian besar petani di sentra produksinya (dalam aspek mikro) akan tetapi sekaligus sebagai komoditas perdagangan yang diharapkan mampu menjadi sumber devisa yang sangat potensial (dalam aspek makro). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Strategi apa yang harus dilakukan dalam pengembangan komoditas kakao di Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi. Dalam menganalisis masalah yang diajukan, digunakan analisis SWOT. Alat yang dipakai untuk menyusun faktor strategi sadalah matrik SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki petani. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa : 1) Dari hasil perhitungan berdasarkan analisis general electri model nilai faktor internal 2,62, dan nilai fakktor eksternal 2,13 berada pada kuadran II. Artinya bahwa dalam pengembangan komoditi kakao startegi yang perlu dilakukan adalah startegi menggunakan kekuatan dan memanfaatkan peluang. 2) Dalam pengembangan komoditi kakao ada 4 (empat) faktor kelemahan yang perlu mendapat perhatian yaitu produktivitas, pendidikan, modal dan pemeliharaan.serta yang merupakan ancaman yaitu faktor; tengkulak dan keamanan. Kekuatan yang mendukung adalah faktor lahan yang dimiliki, umur kakao, tenaga kerja keluarga serta umur petani. Peluang yang perlu dimanfaatkan adalah iklim, potensi lahan untuk digarap masih cukup luas, potensi tenaga kerja yang dapat digunakan masih tersedia dan adanya lembaga yang mendukung seperti koperasi unit desa  dan balai penyuluhan pertanian.

 

Kata Kunci:  SWOT; kakao; kabupaten sigi

 

Abstract

In Sigi Regency, the economic activity of the cocoa commodity is not only a source of income for most farmers in their production centers (in the micro aspect) but also as a trading commodity which is expected to be a very potential source of foreign exchange (in the macro aspect). This study aims to determine what strategy should be carried out in the development of cocoa commodities in Dolo Selatan District, Sigi Regency. In analyzing the problems raised, a SWOT analysis is used. The tool used to develop strategic factors is the SWOT matrix. This matrix can clearly describe how the opportunities and threats faced can be adjusted to the strengths and weaknesses of farmers. Based on the results of the analysis it can be concluded that: 1) From the results of calculations based on general electri analysis the internal factor value is 2.62, and the external factor value is 2.13 in quadrant II. This means that in the development of cocoa commodity the strategy that needs to be carried out is the strategy of using strength and taking advantage of opportunities. 2) In the development of cocoa commodity there are 4 (four) weak factors that need attention, namely productivity, education, capital and maintenance. middlemen and security. The supporting strengths are the land owned, the age of the cocoa, the family workforce and the age of the farmer. Opportunities that need to be exploited are the climate, the potential for land to be cultivated is still quite extensive, the potential for manpower that can be used is still available and the existence of supporting institutions such as village unit cooperatives and agricultural extension centers.

 

Keywords: SWOT; cocoa; sigi district

 

Pendahuluan

Strategi pembangunan wilayah Sulawesi Tengah pada Pembangunan Jangka Panjang (PJP) masih tetap diprioritaskan pada pembangunan bidang ekonomi sebagai sektor kunci dalam  menggerakan pilar-pilar pembangunan wilayah (Heriawan, Las, Soedjana, & Soeparno, 2018). Implikasi strategis kebijakan tersebut tidak hanya diharapkan untuk semakin mampu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat akan tetapi sekaligus diarahkan pada upaya untuk semakin memperkokoh struktur perekonomian wilayah (Ulfa & Mulyadi, 2020).

Pada era transformasi ekonomi dan sekaligus konstelasi perdagangan bebas dunia yang semakin kompetitif, salah satu tantangan yang sekaligus merupakan masalah mendasar pembangunan ekonomi adalah bagaimana terus memacu pertumbuhan ekonomi wilayah dengan hasilnya yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat (Romarina, 2016). Salah satu strategi pembangunan ekonomi untuk memenuhi syarat yang demikian adalah melalui pembangunan pertanian (Rozikin, 2012). Karena prinsip pembangunan dari-oleh-untuk masyarakat merupakan prasyarat dalam pembangunan pertanian yang berorientasi pada manusia (Ardiwidjaja, 2018).

Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah yang masih mengandalkan sektor pertanian sebagai pendukung pembangunan ekonominya, strategi pembangunan sektor pertanian dewasa ini tidak hanya diarahkan untuk peningkatan produksi untuk kebutuhan penyediaan pangan dan gizi, tetapi juga diarahkan pada usaha tani yang berwawasan agribisnis dan agroindustri untuk menunjang peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani (Iwan Hermawan et al., 2021).

Berkaitan dengan strategi pemberdayaan sumberdaya di sektor pertanian, salah satu komoditas pertanian yang  perlu  untuk dikembangkan di wilayah Kabupaten Sigi adalah komoditi kakao. Komoditi kakao bagi daerah Kabupaten Sigi, berdasarkan hasil penelitian, mempunyai prospek yang paling besar untuk dikembangkan karena iklim dan tanah sangat mendukung (Pribadi, Laapo, & Asih, 2019).

Di Kabupaten Sigi, aktivitas ekonomi komoditi kakao tidak hanya menjadi sumber pendapatan bagi sebagian besar petani di sentra produksinya (dalam aspek mikro) akan tetapi sekaligus sebagai komoditas perdagangan yang diharapkan mampu menjadi sumber devisa yang sangat potensial (dalam aspek makro) (Rismawati M, 2019). Data statistik menunjukkan nilai ekspor yang berasal dari komoditi kakao pada Tahun 1997 adalah US $ 20.635.771,83, pada Tahun 1998 meningkat menjadi US $ 31.812.342,45, kemudian pada Tahun 1999 US $ 24.782.437,16 dan pada Tahun 2000 adalah sebesar US $ 29.612.124, 90 (Kantor Statistik Kabupaten Sigi).

Mencermati kondisi riil produktivitas kakao yang dicapai petani di wilayah ini perhektar pertahun masih tergolong rendah dibanding dengan produktivitas optimum yang seharusnya dapat dicapai menurut hasil penelitian 2.0 perhektar pertahun di Kabupaten Sigi (Hakim, 2016). Kondisi ini menimbulkan pertanyaan faktor-faktor apa yang menyebabkan, apakah karena penggunaan faktor produksi yang belum optimal atau karena faktor kurangnya pemeliharaan yang dilakukan oleh petani. Pertanyaan-pertanyaan ini perlu mendapat jawaban dalam kerangka pengembangan komoditi ini sebagai pemberi penghidupan bagi petani dan penyumbang devisa bagi daerah Kabupaten Sigi (Irmeilyana, Ngudiantoro, & Maiyanti, 2022).

Menyikapi kondisi riil petani tersebut di atas, maka untuk mengkaji masalah pengembangan komoditi kakao sebagai salah satu komoditi yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan produsen serta  menyumbangkan  devisa bagi kepentingan pembangunan ekonomi daerah, perlu dilakukan  penelitian awal yang berkaitan dengan aspek petani dalam memanfaatkan sumberdaya alam dan faktor produksi lainya untuk menghasilkan kakao sebagai output akhir serta aspek kelembagaan yang berkaitan dengan penyediaan sarana produksi dan sarana kredit serta pembinaan. Didasari pada pemikiran tersebut, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang dirumuskan dalam judul : Tingkat Penggunaan Faktor produksi kakao (theobroma cacao l) di Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : Strategi apa yang harus dilakukan dalam pengembangan komoditas kakao  di Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi.

 

Metode Penelitian

1.    Obyek Penelitian

Untuk memenuhi tujuan penelitian maka obyek penelitian ini diarahkan terutama pada pengidentifikasian berbagai masalah yang dihadapi petani kakao. Hasil identifikasi dipakai untuk mengkaji pengembangan komoditas tersebut dengan mengarahkan sasaran pada beberapa variabel yang mempengaruhi peningkatan produksi komoditas kakao di Kecamatan Dolo Selatan. Pada akhirnya obyek penulisan akan menuju pada analisis penggunaan faktor produksi dan analisis pengembangannya.

 

2.    Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ditetapkan pada Kecamatan Dolo Selatan Provinsi Sulawesi Tengah. Adapun alasan sehingga penulis memilih lokasi ini adalah Kecamatan Dolo Selatan merupakan satu kecamatan pengghasil komoditi kakao di Kabupaten Sigi.Hal ini dapat ditunjukkan oleh data dari 11 Desa yang ada di Kecamatan Dolo Selatan adalah Desa ; Bangga 102 ha, Walatana 98 ha, Bulubete 100 ha, Baluase 99 ha, Rogo 63 ha, Pulu 40 ha, Poi 75 ha, Balongga 100 ha, Sambo 100 ha, dan Jono 2 ha.

3.    Jenis Data

Jenis Data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan komponen utama dari penelitian ini yang diperoleh dari hasil wawancara langsung pada petani, sedangkan data sekunder merupakan komponen penunjang yang erat kaitannya dengan tujuan penelitian, yang diperoleh dari lembaga/instansi formal baik pemerintah maupun swasta. Untuk memperoleh data penelitian pada kecamatan yang dijadikan populasi sasaran, maka penulis menggunakan sampel. Sampel penelitian ini diupayakan sedapat mungkin mencerminkan populasi, sehingga dalam menentukan ukuran sampel dilakukan dengan penuh pertimbangan agar kesalahan atau bias akibat penarikan sampel dapat ditekan sekecil mungkin.

Sesuai dengan maksud penelitian ini, maka teknik pengambilan sampel yaitu berdasarkan Simple Random Sampling. Penarikan sampel dilakukan pada seluruh Desa yang ada di Kecamatan Dolo Selatan Kecuali Desa yang tidak memiliki jumlah resonden. Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan seluruh desa yang ada di kecamatan untuk menjadi sebagai sampel. Alasannya adalah seluruh desa yang ada di kecamatan memiliki jumlah petani dan luas areal tanaman kakao.

4.    Populasi Dan Sampel

Populasi adalah semua obyek dan subyek penelitian yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Aprida, Fitria, & Nurkhalis, 2020). Populasi bukan hanya orang tetapi juga benda-benda alam yang bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek tau subyek yang dipelajari, tetapi meliputi karakteristik atau sifat-sifat yang dimiliki oleh obyek ayau subyek (Sugiyono, 2015). Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah sebesar 626 rumah tangga petani yang berusahatani kakao di Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Arikunto (2006), bahwa apabila subyek yang diteliti kurang dari 100 maka lebih baik subyek tersebut diambil seluruhnya, tetapi aabila subyek tersebut melebihi 100 maka yang boleh diambil adalah sebesar 10% – 15% atau 20% -  25%. Adapun cara pengambilan sampelnya adalah dengan menggunakan formulasi sebagai berikut:

 

Keterangan :

n = Ukuran sampel

d= Presisi yang ditetapkan

N= Ukuran Populasi

1= Konstanta

Karena populasinya melebihi dari 100, maka presisi yang diambil dalam penarikan sampel dalam penelitian ini adalah 15 persen. Artinya dengan tingkat keyakinan 85 persen dan kesalahan 15 persen sampel yang diambil sudah dapat mewakili populasi petani kakao di Kecamatan Dolo Selatan. Adapun sampelnya adalah sebagai berikut:

 = =41,48 (dibulatkan 41)

Karena populasinya tersebar pada 10 desa maka sampelnya berdasarkan 10 desa. Dengan demikian masing-masing sampel setiap desa adalah proosional sesuai dengan jumlah populasi desa. Jadi jumlah sampelnya untuk setiap desa adalah sebagai berikut:

1

Bangga

2

Walatana

3

Bulubete

4

Baluase

5

Rogo

6

Pulu

7

Poi

8

Balongga

9

Wisolo

10

Sambo

11

Jono

 

5.    Model Analisis

Dalam menganalisis masalah yang diajukan, digunakan analisis SWOT. Alat yang dipakai untuk menyusun faktor strategi sadalah matrik SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki petani.  Adapun tahapan dari kegiatan analisis SWOT sebagai berikut :

1)   Menentukan faktor-faktor strategis eksternal (EFAS) yaitu faktor-faktor yang menjadi kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) dalam pengembangan komoditas kakao.

2)   Menentukan faktor-faktor strategis internal (IFAS) yaitu faktor-faktor yang menjadi peluang (opportunities) dan ancaman (Threat) dalam pengembangan komoditas kakao.

3)   Merumuskan alternatif strategi dengan cara membuat matrik SWOT. Matrik ini dapat menghasilkan empat sel kemungkinan alternatif yang disarankan dalam pengembangan komoditi kakao seperti disajikan dalam tabel berikut ini :

Tabel 1

Matrik SWOT

IFAS EFAS

STRENGTHS (S)

Tentukan faktor-faktor

kekuatan internal

WEAKNESSES (W)

Tentukan faktor-

faktor kelemahan internal

OPPORTUNIES (O)

Tentukan

faktor peluang

ekternal

STRATEGI  SO

Ciptakan strategi yang

menggunakan kekuatan

untuk memanfaatkan

peluang

STRATEGI  WO

Ciptakan strategi yang

meminimalkan kelemah-an

untuk memenfaatkan

peluang

TREATHS (T)

Tentukan

ancaman eksternal

 

STRATEGI ST

Ciptakan strategi yang

menggunakan kekuatan

untuk mengatasi

ancaman

STRATEGI WT

Ciptakan strategi yang

meminimalkan kelemahan

dan menghindari ancaman

 

Hasil dan Pembahasan

Dalam menentukan strategi pengembangan komoditi kakao di Kecamatan Dolo Selatan pada penelitian ini digunakan metode SWOT. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil seperti terlihat pada tabel sebagai berikut ;

 

Tabel 2

Matrik Faktor Stratgis Internal

Faktor Strategi Internal

Bobot

Rating

Skor

Kekuatan

 

 

 

Lahan

0,16

3

0,48

Umur Kakao

0,16

3

0,48

Tenaga Kerja Keluarga

0,11

2

0,22

Umur Petani

0,09

2

0,18

Kelemahan

 

 

 

Produktivitas

0,16

3

0,48

Pendidikan

0,06

2

0,12

Modal

0,16

3

0,48

Pemeliharaan

0,09

3

0,18

Total

1,00

 

2,62

 

Tabel 3

Matrik faktor stratgis Eksternal

Faktor Strategi Ekstrernal

Bobot

Rating

Skor

Peluang

 

 

 

Iklim

0,14

3

0,42

Potensi lahan

0,14

4

0,56

Potnsi Tenaga Kerja

0,12

2

0,24

KUD dan BPP

0,11

3

0,33

Ancaman

 

 

 

Harga produk lain

0,15

1

0,15

Harga kakao turun

0,15

1

0,15

Tengkulak

0,10

1

0,10

Keamanan

0,09

2

0,18

Total

1,00

 

2,13

 

Hasil analisis menunjukkan bahwa besarnya skor untuk faktor strategis internal adalah 2,62. Sedangkan untuk faktor strategis ekternal diperoleh skor 2,13. Dengan berdasarkan skor yang diperoleh pada masing-masing faktor tersebut berada pada daerah atau kolom 5 (lima), maka strategi yang terbaik untuk dilaksanakan adalah strategi pertumbuhan melalui strategi horizontal. Artinya suatu kegiatan untuk memperluas usahatani dengan cara ektensifikasi untuk emningkatkan produksi.

Agar produksi dapat ditingkatkan dan kualitas dapat dipertahankan, para petani harus memperhatikan dan mengatasi beberapa kelemahan dan anamatan serta memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada. Secara lengkapnya pada tabel berikut:

 

Total Skor Faktor Strategis Internal

                                    Total Skor Faktor Strategis Eksternal

                                    Strategi SO (Stengh- Opportunities)

 

 

 

 

Strategi penggunaan kekuatan yang ada untuk memanfaatkan peluang melalui program dan kegiatan :

1.    Perbaikan teknologi peremajaan kakao meliputi

a)    Pemilihan varietas kakao

b)   Perbaikan metode peremajaan

2.    Ekstensifikasi lahan meliputi kegiatan:

a)    Pemanfaatan lahan tidur

b)   Tumpangsari kakao dan tanaman lain

3.    Mempebaiki kualitas SDM

Dengan melihat kondisi pendidikan petani yang ada di Kecamatan Dolo Selatan masih ada yang berpendidikan rendah, maka untuk menjadikan petani yang memiliki kemampuan, dibutuhkan:

a)    Penyuluhan

b)   Pelatihan-pelatihan

Strategi ST (Strengh – Threats)

Strategi penggunaan kekuatan yang ada untuk mengatasi ancaman melalui program dan kegiatan :

1.    Meningkatkan semangat kerja

Tujuan pembangunan pertanian bukan sekedar meningkatkan produksi saja, akan tetapi yang terutama adalah meningkatkan gairah dan ksejahteraan petani. Oleh karna itu sifat perangsang dapat diciptakan dalam bentuk seperti ; penghargaan, penurunan harga sarana produksi, perbaikan system tata-niaga, perbaikan pelayanan sarana harus benar-benar dengan tepat sehingga merupakan daya tarik bagi petani.

2.    Menjalin hubungan baik dengan pihak berwajib

Untuk mengatasi gangguan keamanan pada setiap lokasi usaha hal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan sistem keamanan lingkungan melalui ronda baik siang maupun malam hari serta membina hubungan baik dengan dengan pihak yang berwajib yaitu POLRI maupun KAMRA setempat.

Statgi WO (Weaknesses-Opportunities)

Strategi meminimalkan kelemahan untuk memanfatkan peluang, melalui program dan kegiatan:

1.    Perbaikan budidaya melalui kegiatan:

a)    Melaksanakan petunjuk teknis budidaya dalam hal ini meliputi; pemilihan varietas dan penentuan lahan yang sesuai serta pemupukan dan pemberantasan hama

b)   Melaksanakan petunjuk peremajaan dalam hal ini meliputi; kriteria peremajaan yang terdiri dari metode tebang bertahap dan metode tebang habis.

2.    Meningkatkan pengetahuan petani melalui kegiatan:

a)    Pelatihan dan ketrampilan

b)   Pendampingan petani

3.    Meningkatkkan efisiensi biaya melalui kegiatan:

a)    Menyusun prosedur kerja

b)   Membuat rencana pembiayaan

c)    Melakukan pengawasan terhadap pembiayaan dan pekerjaan yang dilaksanakan

4.    Meningkatkan semangat kerja melalui kegiatan:

a)    Menginventarisasi beberapa kelemahan

b)   Memotivasi diri sendiri

c)    Mampu melihat peluang yang dapat diraih

Strategi WT (Weaknesses-Threats)

Strategi meminimalkan kelemahan dan mnghindari ancaman, melalui program dan kegiatan:

1.    Memperbaikan kualitas produk

Dalam budidaya komoditi tanaman perkebunan, pemeliharaan merupakan suatu kegiatan yang tidak kala pentingnya dalam meningkatkan produksi. Pemeliharaan yang dilakukan secara teratur dan rutin akan memberikan manfaat besar bagi petani terutama dalam meningkatkan produksi, dan terawatnya tanaman dari berbagai serangan hama dan penyakit.

2.    Menjalin hubungan baik dengan lebaga keuangan pemerintah

Permasalahan yang terkait dengan produksi memang merupakan permasalahan utama yang dihadapi oleh setiap petani. Untuk mengatasi permasalahan ini petani kadangkala menjalin hubungan dengan para tengkulak untuk meminjam uang. Akan tetapi ternyata upaya yang dilakukan oleh petani telah menjebak mereka dalam ketergantungan dengan pihak tengkulak sekaligus menempatkan pada posisi lemah. Menghadapi kenyataan ini tampaknya perlu dibentuk suatu lembaga ekonomi formal apapun namanya yang jelas berfungsi untuk; 1) menutup utang petani kepada tengkulak dan mengalihkan pinjaman itu sebagai pinjaman kepada lembaga, 2) memberikan kredit kepada petani baik dalam bentuk uang maupun barang, 3) mengadakan pembelian hasil dari usaha mereka.

Berdasakan matrik SWOT, maka strategi SO menjadi strategi utama dalam upaya pengembangan komoditi kakao di Kecamatan Dolo Selatan, yaitu strategi menggunakan kekuatan untuk memanfatkan peluang.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang dikemukakan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang ditarik adalah sebagai berikut: 1) Dari hasil perhitungan berdasarkan analisis general electri model nilai faktor internal 2,62, dan nilai fakktor eksternal 2,13 berada pada kuadran II. Artinya bahwa dalam pengembangan komoditi kakao strtegi yang perlu dilakukan adalah strategi menggunakan kekuatan dan memanfaatkan peluang. 2) Dalam pengembangan komoditi kakao ada 4 (empat) faktor kelemahan yang perlu mendapat perhatian yaitu produktivitas, pendidikan, modal dan pemeliharaan.serta yang merupakan ancaman yaitu faktor; tengkulak dan keamanan. Kekuatan yang mendukung adalah faktor lahan yang dimiliki, umur kakao, tenaga kerja keluarga serta umur petani. Peluang yang perlu dimanfaatkan adalah iklim, potensi lahan untuk digarap masih cukup luas, potensi tenaga kerja yang dapat digunakan masih tersedia dan adanya lembaga yang mendukung seperti koperasi unit desa (KUD) dan balai penyuluhan pertanian (BPP).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Aprida, Yopi, Fitria, Happy, & Nurkhalis, Nurkhalis. (2020). Pengaruh supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja guru terhadap kinerja guru. Journal of Education Research, 1(2), 160–164.

 

Ardiwidjaja, Roby. (2018). Wisata Perdesaan: Β€ Œ Pelestarian Budaya Dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Desa Β€. Sosio Informa: Kajian Permasalahan Sosial Dan Usaha Kesejahteraan Sosial, 4(3).

 

Hakim, Lukman. (2016). Analisis Biaya Transaksi Ekonomi Dan Faktor Determinan Penerapan Kemitraan Usaha Tani Tebu Rakyat Studi Kasus: Mitra Tani PG Pandji, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo.

 

Heriawan, Rusman, Las, Irsal, Soedjana, Tjeppy D., & Soeparno, Haryono. (2018). Sinergi Sistem Penelitian dan Inovasi Pertanian Berkelanjutan. IAARD Press.

 

Irmeilyana, Irmeilyana, Ngudiantoro, Ngudiantoro, & Maiyanti, Sri Indra. (2022). Socialization of sustainable Pagar Alam Coffee Farming using herbicide reductors. Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Merdeka Malang, 7(2), 309–318.

 

Iwan Hermawan, S. P., Izzaty Izzaty ST, M. E., Budiyanti, Eka, Rafika Sari, S. E., Sudarwati, Yuni, IP, S., Teja, Mohammad, & Sos, S. (2021). Efektivitas Program Bantuan Pangan Nontunai di Kota Yogyakarta. Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, 12(2), 131–145.

 

Pribadi, Andi, Laapo, Alimudin, & Asih, Dewi Nur. (2019). Kontribusi Sub Sektor Pertanian Dalam Perekonomian Di Kabupaten Sigi. Agroland: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 26(1), 69–75.

 

Rismawati M, M. (2019). Peran Program Good Agriculture Practice Dalam Meningkatkan Pendapatan Petani Kakao. Institut Agama Islam Negeri Palopo.

 

Romarina, Arina. (2016). Economic Resilience Pada Industri Kreatif Gunamenghadapi Globalisasi Dalam Rangka Ketahanan Nasional. Jurnal Ilmu Sosial, 15(1), 35–52.

 

Rozikin, M. (2012). Analisis pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di Kota Batu. Jurnal Review Politik, 2(2), 219–243.

 

Sugiyono, Prof. Dr. (2015). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. In Alfabeta,cv.

 

Ulfa, Maria, & Mulyadi, Mohammad. (2020). Analisis Dampak Kredit Usaha Rakyat pada Sektor Usaha Mikro terhadap Penanggulangan Kemiskinan di Kota Makassar. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 11(1), 17–28.

 

Copyright holder:

Risman, M.Anwar Nasaruddin, Musdayati (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: