Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No. 12, Desember 2022

 

ANALISIS KETIMPANGAN WILAYAH PULAU SULAWESI

 

Farida Millias Tuty, Novita Sari, Andi Herman Jaya, Ahmad Syatir

Universitas Tadulako, Indonesia

Email: faridamillias_tuty@yahoo.com, sarinovi9193@gmail.com, andiherman06@gmail.com, syatir.feb.tadulako@gmail.com

 

Abstrak

Ketimpangan antar kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah bisa saja terjadi karena perbedaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan serta tingkat teknologi yang dimilikinya. Hal lain yang juga menyebabkan terjadinya ketimpangan regional adalah terjadinya pemekaran beberapa kabupaten yang diakibatkan oleh perasaan tidak puas terhadap pemerintah. Hal ini disebabkan karena hanya terkonsentrasinya pembangunan di suatu wilayah tertentu. Indeks Wiliamson digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian pertama yakni perhitungan tingkat ketimpangan wilayah menggunakan PDRB per kapita sebagai komponen yang diteliti. Klaseen Typology digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian kedua yaitu untuk mengetahui pola pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan Hasil perhitungan Indeks Williamson diketahui bahwa tingkat ketimpangan di Pulau Sulawesi Tengah masih termasuk kategori tinggi. Berdasarakan hasil Tipologi Klassen diketahui bahwa provinsi yang masih termasuk kategori daerah tertinggal adalah Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Utara.

 

Kata Kunci: klaseen typology; indeks williamson; provinsi sulawesi tengah

 

Abstract

Inequality between districts in Central Sulawesi Province may occur due to differences in natural resources, human resources and artificial resources and the level of technology they have. Another thing that also causes regional inequality is the division of several districts caused by feelings of dissatisfaction with the government. This is because only the concentration of development in a certain area. The Williamson Index is used to answer the first research question, namely the calculation of regional inequality levels using GRDP per capita as the component studied. Klaseen Typology is used to answer the second research question, namely to find out patterns of economic growth. Based on the results of the Williamson Index calculation, it is known that the level of inequality in Central Sulawesi Island is still in the high category. Based on the results of the Klassen Typology it is known that the provinces that are still included in the category of underdeveloped regions are Southeast Sulawesi, Gorontalo, North Sulawesi.

 

Keywords: typology klaseen; williamson index; central sulawesi province

 

Pendahuluan

Pembangunan menjadi suatu proses kegiatan yang dianggap penting dan wajib dilaksanakan oleh semua negara, karena globalisasi yang disertai dengan kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan telah berdampak pada perubahan dan pembaharuan dalam semua aspek kehidupan manusia. Sehingga dalam proses pembangunan harus mencakup seluruh aspek baik ekonomi maupun sosial. Seperti yang terdapat dalam Todaro (2006:28), menyebutkan bahwa pembangunan merupakan suatu kenyataan fisik sekaligus tekad suatu masyarakat untuk berupaya sekeras mungkin melalui serangkaian kombinasi proses sosial, ekonomi dan institusional demi mencapai kehidupan yang serba lebih baik.

Kata kunci dari pembangunan adalah pembentukan modal, karena untuk mencapai target pembangunan yang tinggi pada suatu negara dibutuhkan nilai investasi yang besar. Sehingga strategi pembangunan yang dianggap paling sesuai adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan cara mengundang modal asing dan melakukan industrialisasi (Kuncoro, 2004). Selain itu, kebutuhan akan investasi yang besar dapat diperoleh juga melalui dorongan kondisi negara yang sudah lebih baik terutama sistem pelayanan serta sarana dan prasarana yang mendukung.

Tingginya pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak berarti semua wilayahnya memiliki tingkat pertumbuhan yang sama, karena adanya keterbatasan baik dari sisi potensi sumber daya alam, sumber daya manusia maupun lembaga institusi yang mendukung, sebab pertumbuhan tidak muncul diberbagai daerah pada waktu yang bersamaan, pertumbuhan hanya terjadi dibeberapa tempat yang disebut pusat pertumbuhan dengan intensi yang berbeda Perroux dikutip dalam (Arsyad, 1999:147). Dalam intensi pertumbuhan yang berbeda, pelaksanaan pembangunan sering mengalami perdebatan antara mengutamakan efisiensi dan pertumbuhan disatu pihak dengan efektivitas dan pemerataan dipihak lain (Dumairy, 1996:55-56), dari hal tersebutlah pelaksanaan pembangunan tidak jarang menciptakan adanya ketimpangan.

Ketimpangan pembangunan antar daerah dengan pusat dan antar daerah satu dengan daerah lain merupakan suatu hal wajar, karena adanya perbedaan dalam sumber daya dan awal pelaksanaan pembangunan antar daerah karena itu, tidaklah mengherankan jika pada suatu daerah biasanya terdapat daerah maju dan daerah terbelakang. Terjadinya ketimpangan antar daerah ini membawa implikasi terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat antar daerah.

Perkembangan ekonomi daerah merupakan serangkaian usaha dan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di suatu daerah, perluasan lapangan pekerjaan, meningkatkan hubungan ekonomi dari sektor ekonomi primer ke sektor ekonomi sekunder dan tersier. Hasil pembangunan yang dilakukan oleh setiap daerah dapat dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto.

Faktor tersebut menjadi penyebab terjadinya disparitas (perbedaan) antar daerah, perbedaan potensi sumberdaya alam dan faktor-faktor lainnya. Strategi kebijaksanaan pembangunan yang menetapkan aspek pertumbuhan ekonomi sebagai prioritas pembangunan, kondisi ini nampaknya mengesampingkan aspek pemerataan.

Selanjutnya fenomena ini kemudian disadari atau tidak telah membawa dampak terjadinya kesenjangan antara daerah, antara sektor dan antara golongan masyarakat.

Terkonsentrasinya kegiatan ekonomi hanya secara langsung berdampak pada disparitas (perbedaan) pendapatan daerah yang sangat bervariasi karena dalam pelaksanaan pembangunan daerah (regional) perhatian ditunjukan pada pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan keserasian perkembangan fisik wilayah. Demikian pula pusat pertumbuhan dan pelayanan sangat penting artinya dalam perencanaan pembangunan, sehingga setiap wilayah berkembang sesuai dengan potensi daya yang tersedia.

Ketimpangan antar kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah bisa saja terjadi karena perbedaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan serta tingkat teknologi yang dimilikinya. Hal lain yang juga menyebabkan terjadinya ketimpangan regional adalah terjadinya pemekaran beberapa kabupaten yang diakibatkan oleh perasaan tidak puas terhadap pemerintah. Hal ini disebabkan karena hanya terkonsentrasinya pembangunan di suatu wilayah tertentu.

Sulawesi, dahulu dikenal sebagai Celebes, adalah sebuah pulau di Indonesia. Sulawesi merupakan salah satu dari empat Kepulauan Sunda Besar, dan merupakan pulau terbesar kesebelas di dunia, yang terletak di sebelah timur Kalimantan, sebelah barat Kepulauan Maluku, dan sebelah selatan Mindanao dan Kepulauan Sulu, Filipina. Di Indonesia, hanya Pulau Sumatra, Kalimantan dan Papua yang lebih besar luas wilayahnya, dan hanya Pulau Jawa dan Sumatra yang memiliki populasi lebih banyak dari Sulawesi.

Bentang alam di Sulawesi mencakup empat semenanjung: Semenanjung Minahasa di bagian utara; Semenanjung Timur; Semenanjung Selatan; dan Semenanjung Tenggara. Ada tiga teluk yang memisahkan semenanjung-semenanjung ini : yaitu Teluk Tomini di antara Semenanjung Minahasa dan Timur; Teluk Tolo di antara Semenanjung Timur dan Tenggara; dan Teluk Bone di antara Semenanjung Selatan dan Tenggara. Selat Makassar membentang di sepanjang sisi barat pulau dan memisahkan pulau ini dari Kalimantan.

Ada enam, provinsi di Sulawesi yaitu : Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Gorontalo dan Provinsi Sulawesi Barat.

Sulawesi Utara pada tahun 2012 hingga 2015 mengalami penurunan yang sangat drastis, mulanya dari 6,86 persen pada tahun 2012 turun keposisi angka 6,38 persen pada tahun 2013 dan turun lagi di posisi angka 6,31 persen pada tahun 2014hingga 2015 menjadi titik akhir dalam turunnya laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Utara. Pada tahun 2016 mencetak pertumbuhan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang mengalami perlambatan. Pada tahun 2016 ekonomi Provinsi Sulawesi Utara melaju lebih cepat yakni sebesar 6,17 persen dibanding tahun 2015 sebesar 6,12 persen. Seluruh lapangan usaha mencatat pertumbuhan yang positif di tahun 2016.

Perekonomian Sulawesi Tengah berdasarkan harga konstan 2010 cenderung mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut berfluktuatif selama 5 tahun terakhir. Pada tahun 2017, laju pertumbuhan PDRB mencapai 7,14 persen. Peningkatan ini melambat bila dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB tahun 2016 yang mencapai 9,98 persen. Faktor tersebut menjadi satu penyebab terjadinya disparitas atau perbedaan antar daerah disamping perbedaan potensi sumberdaya alam atau faktor-faktor lainnya, serta kebijakan-kebijakan yang diterapkan selama ini dalam pelaksanaan pembangunan nasional, sehingga tidak disadari mengesampingkan aspek pemerataan.Perkembangan perekonomian yang relatif rendah pada beberapa daerah pada gilirannya menimbulkan kemunduran dalam perkembangan pendapatan per kapita.

Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh sektor Industri Pertambangan dan Penggalian, diikuti oleh sektor Industri Pengolahan, dan sektor Pengadaan Listrik dan Gas. Seluruh sektor ekonomi PDRB pada tahun 2017 mencatat pertumbuhan yang positif. Sektor Pertambangan dan Penggalian mengalami peningkatan sebesar 15,18 persen pada tahun 2017. Peningkatan ini banyak dipengaruhi oleh keberadaan industri smelter nikel di Kabupaten Morowali. Komoditi pada sektor ini, seperti pasir kuarsa, nikel, dan pasir batu merupakan salah satu komoditi andalan, baik yang sering diekspor antar pulau maupun digunakan untuk kebutuhan pembangunan daerah. Dengan masuknya migas sebagai salah satu komoditas andalan, sektor ini akan menjadi salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah.

Kontribusi dari setiap sektor dalam kaitannya dengan peranan sektor tersebut terhadap PDRB Sulawesi Tengah atas dasar harga berlaku, selama periode 2014-2017 mengalami perubahan. Perubahan yang tampak adalah sejak tahun 2015, sektor industri pengolahan menggeser sektor perdagangan yang sebelumnya menjadi salah satu dari empat sektor dominan, sehingga pada tahun 2017 ini, tercatat ada empat sektor kegiatan yang mendominasi kehidupan perekonomian daerah Sulawesi Tengah, antara lain: sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (28,92 persen); sektor Pertambangan dan Penggalian (12,83 persen); sektor Konstruksi (12,50 persen); dan sektor Industri Pengolahan (12,34).

Peranan sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah hingga tahun 2017 masih yang paling dominan. Fenomena ini terlihat dari relatif besarnya distribusi PDRB pada sektor ini, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan 2010. Kedudukannya sebagai leading sector didukung oleh berbagai faktor, diantaranya adalah makin kondusifnya keamanan, stabilnya harga, makin efektifnya pelaksanaan pembangunan pasca krisis, dan penerapan otonomi daerah di Sulawesi Tengah. Peranan tiga sektor dominan lainnya bila dilihat dari distribusi PDRB atas dasar harga konstan, sektor Pertambangan dan Penggalian menempati urutan kedua setelah sektor Pertanian, Kehutaan, dan Perikanan yaitu sebesar 14,67 persen. Kemudian diikuti oleh sektor Industri Pengolahan (12,52 persen), dan sektor Konstruksi (11,01 persen).

Demikian terjadi juga perbedaan yang semakin besar antara tingkat perkembangan ekonomi antar daerah. Salah satu indikator ekonomi untuk melihat tingkat kesejahteraan penduduk suatu daerah biasa menggunakan pengeluaran perkapita, tetapi bisa juga menggunakan pendekatan PDRB per kapita. Produk Domestik Regional Bruto perkapita dihitung dengan membagi nilai PDRB suatu wilayah dengan jumlah penduduk yang tinggal di wilayah tersebut. Selanjutnya untuk perekonomian Sulawesi Selatan Pada triwulan IV tahun 2018 ekonomi Sulsel tercatat, mengalami kontraksi atau penurunan 4,77 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Didik mengatakan, hal ini disebabkan faktor musiman, yakni beberapa komoditas pertanian serta produksi perikanan yang menurun.

Tercatat Kontribusi terbesar disumbangkan oleh kategori Pertanian, kehutanan, dan perikanan yaitu 24,08 Persen atau lebih besar dari kontribusi kategori Pertambangan dan Penggalian. Dari Sisi Pengeluaran Seluruh komponen juga mengalami pertumbuhan yang positif, konsumsi Rumah Tangga masih memberikan kontribusi terbesar yaitu 49,58 Persen sementara pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang tumbuh sebesar 26,93 persen.

Data untuk perekonomian Sulawesi Tenggara yang dirilis Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Kondisi ekonomi konsumen triwulan IV-2017 (nilai indeks sebesar 103,09) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, tingkat optimisme konsumen lebih rendah jika dibandingkan triwulan III-2017 (nilai indeks sebesar 110,03). Meningkatnya kondisi ekonomi konsumen tersebut didorong oleh meningkatnya pendapatan rumah, tidak berpengaruhnya inflasi terhadap tingkat konsumsi, meski volume konsumsi menurun. (Badan Pusat Statistik).

“Di sisi produksi, pertumbuhan ekonomi Gorontalo 2017 didorong oleh sektor pertanian yang meningkat, konstruksi tumbuh, perdagangan tumbuh, serta penyediaan akomodasi dan makanan minum meningkat,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Eko Marsoro, pada press confrece di kantornya, kemarin, Senin (5/2).

Lebih rinci, Eko Marsoro menjelaskan bahwa sektor pertanian masih sangat mendominasi terhadap pembentukan PDRB Gorontalo 2017 jika dilihat dari lapangan usaha. Tercatat, share sektor pertanian sebesar Rp 13,1 Triliun (Rp 13.130,02 Miliar) dari PDRB Gorontalo 2017 sebesar Rp 34,5 Triliun (Rp 34.547,56 Miliar), atau tumbuh sebesar 3,30 persen dari total sumber pertumbuhan PDRB Gorontalo 2017. Dari sisi distribusi lapangan usaha, kontribusi PDRB dari sektor ini pula yang paling dominan, yakni 38,01 persen.

"Perekonomian Sulawesi Barat pada 2017 tumbuh sebesar 6,67 persen. Semua lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif namun yang tertinggi adalah lapangan usaha informasi dan komunikasi, yakni mencapai 9,82 persen diikuti lapangan usaha industri pengolahan sebesar 9,59 persen dan sektor pengadaan listrik dan gas juga sebesar 9,59 persen.

 

 

 

 

Metode Penelitian

1.    Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis indeks wiliamson dan analisis klassen typology. Indeks Wiliamson digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian pertama yakni perhitungan tingkat ketimpangan wilayah menggunakan PDRB per kapita sebagai komponen yang diteliti.

Klaseen Typology digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian kedua yaitu untuk mengetahui pola pertumbuhan ekonomi.

2.    Alat Analisis Pertama Indeks Wiliamson

Indeks Wiliamson, menganalisis tingkat ketimpangan ekonomi antar wilayah di Pulau Sulawesi tahun 2010-2021 secara kuantitatif maka peneliti menggunakan alat analisis model Indeks Wiliamsom. Analisis Indeks Wiliamsom memiliki beberapa kelemahan, diantaranya sensitif terhadap definisi wilayah yang digunakan dalam perhitungan dan menggunakan indikator yang sangat sederhana seperti yang dikemukakan oleh Sjafirzal (2008:108) dengan formulasi berikut :

Keterangan :

IW = Koefisien Ketimpangan (Indeks Wiliamsom)

Yi  = PDRB perkapita (Dalam penelitian ini keempat Kabupaten/Kota)

Y  = PDRB perkapita rata-rata (Provinsi sulawesi tengah)

fi   = Jumlah penduduk (Dalam penelitian ini keempat Kabupaten/Kota)

n   = Jumlah penduduk (Provinsi Sulawesi Tengah)

Besarnya Indeks Williamson ini bernilai positif dan berkisar antara angka nol sampai dengan satu. Semakin besar nilai Index ini (mendekati angka nol) berarti semakin merata tingkat pemerataan pendapatan antara daerah dalam wilayah tersebut. Hasil perhitungan menggunakan formulasi Indeks Williamson, akan didapat suatu indeks antara 0-1. Jika koefisien ketimpangan IW mendekati 0, maka ketimpangan perkonomian rendah, sebaliknya jika mendekati 1, maka ketimpangan perekonomian cenderung semakin tinggi. Sinaga (2009), membagi ketimpangan dalam tiga klasifikasi, yaitu sebagai berikut:

1.    Jika IW < 0,3 artinya ketimpangan rendah

2.    Jika IW >0,3-0,5 artinya ketimpangan sedang

3.    Jika IW >0,5 artinya ketimpangan tinggi

3.    Alat Analisis Kedua Klassen Typology

Untuk mengetahui gambaran tetang pola dan pertumbuhan ekonomi antar kabupaten/kota di Pulau Sulawesi, maka digunakan analisis Klassen Typology (Sjarizal, 2008).

Analisis Klassen Typology digunakan untuk mengetahui klasifikasi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita atau Produk Domestik Regional Bruto per kapita daerah. Rata-rata Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB per kapita sebagai sumbu horizontal dan rata- rata pertumbuhan ekonomi sebagai sumbu vertikal. Dalam hal ini daerah dapat dibagi menjadi empat golongan, yaitu :

a.    Kuadran I : Daerah Cepat Maju dan Cepat Tumbuh (High Growh and High Income) Pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi dan rata-rata pendapatan per kapita Provinsi Sulawesi Tengah.

b.    Kuadran II : Daerah Maju tapi Tertekan (High Income But Low Growth) adalah daerah yang memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi, tetapi tingkat pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah.

c.    Kuadran III : Daerah Berkembang Cepat (High Income But Low Income) adalah daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi, tetapi tingkat pendapatan kepita rendah dibandingkan dengan pedapatan perkapita rata-rata Provinsi Sulawesi Tengah.

d.   Kuadran IV : Daerah Relatif Tertinggal (Low Growth and Low Income) adalah daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita rendah dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita Provinsi Sulawesi Tengah.

Tabel 1

Klasifikasi Wilayah Berdasarkan Klassen Typology

Sumber : Sjafrizaal, 2008

Keterangan :

yi = PDRB per kapita kabupaten/kota

y  = Rata-rata PDRB per kapita seluruh kabupaten/kota

ri  = Laju pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota

r  = Rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah

 

 

 

Hasil dan Pembahasan

1.    Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan pilihan lokasi sebagai unit penelitian adalah Pulau Sulawesi yang terdiri dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, dan Gorontalo dengan didasarkan pada data BPS perdaerah di pulau Sulawesi sebagai daerah diatasnya merupakan pembanding sebagaimana kebutuhan formula pada analisis yang digunakan dalam penelitian.

2.    Distribusi Lapangan Usaha Dalam Perekonomian Provinsi Di Sulawesi

Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah pada periode tertentu adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. PDRB pada dasarnya merupakan nilai tambah (value added) yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun, sedang PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan harga yang berlaku pada satu waktu tertentu sebagai tahun dasar (Adisasmita, 2005).

Perkembangan PDRB ADHB dari tahun ke tahun menggambarkan perkembangan yang disebabkan oleh adanya perubahan dalam volume produksi barang dan jasa yang dihasilkan dan perubahan dalam tingkat harganya dan menunjukkan pendapatan yang dapat dinikmati oleh penduduk suatu daerah serta menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun.

PDRB ADHB ini digunakan untuk melihat struktur ekonomi pada suatu tahun. Oleh karenanya untuk dapat mengukur perubahan volume produksi atau perkembangan produktivitas secara nyata, faktor pengaruh atas perubahan harga perlu dihilangkan dengan cara menghitung PDRB ADHK.

Penghitungan atas dasar harga konstan ini berguna antara lain dalam perencanaan ekonomi, proyeksi dan untuk menilai pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan maupun sektoral. PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan apabila dikaitkan dengan data mengenai tenaga kerja dan barang modal yang dipakai dalam proses produksi, dapat memberikan gambaran tentang tingkat produktivitas dan kapasitas produksi dari masing-masing lapangan usaha tersebut Penghitungan PDRB ada tiga pendekatan yang dapat digunakan, antara lain (Adisasmita, 2005).

Menurut Gilis et al (2004), Produk Nasional Bruto (PNB) adalah penjumlahan nilai produk akhir barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun) tanpa menghitung nilai produk antara. Berikut adalah gambaran sector lapangan usaha di Pulau Sulawesi.

a)    Sulawesi Tengah

Kondisi perekonomian Sulawesi Tengah dalam kurun waktu 2011-2021 didominasi oleh sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Konstruksi, Perdagangan Besar dan Eceran; Repasari Mobil dan Sepeda Motor. Kontribusi sektor-sektor tersebut sangat besar dalam perekonomian Sulawesi Tengah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


      Sumber: Data Diolah

 

Gambar diatas menunjukkan perkembangan tingkat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah selama sebelas tahun terakhir. Dimana pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah terlihat berfluktuasi. Namun, pada tahun 2020 ekonomi Sulawesi Tengah mengalami kemerosotan ekononomi karena adanya Pandemi Covid19. Tapi pada tahun 2021 perekonomian Sulawesi Tengah Kembali membaik ditunjukkan dengan meningkat nya pertumbuhan ekonomi dari 4,86 persen menjadi 11,70 persen.

 

Tabel 2

Pertumbuhan Ekonomi Dan Kontribusi Sektor

Di Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2021-2022

Lapangan Usaha

Rata-Rata Pertumbuhan

Rata-Rata Kontribusi

1. Pertanian,Kehutanan, dan Perikanan

4.32

29.93

2. Pertambangan dan Penggalian

18.20

13.22

3. Industri Pengolahan

29.62

13.82

4. Pengadaan Listrik dan Gas

8.25

0.04

5. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

4.17

0.13

6. Konstruksi

10.20

10.37

7. Perdagangan Besar dan Eceran; Repasari Mobil dan Sepeda Motor

5.23

8.92

8. Transportasi dan Pergudangan

3.06

3.64

9. Penyedian Akomodasi dan Makan Minum

5.64

0.49

10. Informasi dan Komunikasi

9.75

3.71

11. Jasa Keuangan dan Asuransi

7.70

2.16

12. Real Estat

4.93

1.85

13. Jasa Perusahaan

5.35

0.25

14. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

7.21

5.64

15. Jasa Pendidikan

5.04

3.68

16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

7.34

1.35

17. Jasa Lainnya

4.65

0.79

PDRB Berdasar Harga Konstan

10.23

100.00

 Sumber: Data Diolah

 

b)   Sulawesi Utara

Selama kurun waktu tahun 2011-2021 pertumbuhan sektor pertanian mengalami perlambatan namun, masih sebagai penyumbang terbesar dalam perekonomian Sulawesi Utara terbukti sepanjang sebelas tahun terakhir sector pertanian berkontribusi terhadap total PDRB sebesar 29,91 persen. Gambaran perkembangan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara dapat dilihat pada gambar berikut.

 

   Sumber: Data Diolah

Empat sector seperti sector Pengadaan Listrik dan Gas, Informasi dan Komunikasi, Jasa Keuangan dan Asuransi, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, Jasa Lainnya merupakan sector-sektor dengan pertumbuhan yang pesat selama sebelas tahun terakhir namun, kontribusinya kecil terhadap perekonomian. Sementara Sector-sektor yang mendapatkan input dari sector pertanian seperti sector industry pengolahan, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan turut mengalami perlambatan dalam pertumbuhannya seiring dengan perlambatan pertumbuhan pada sector pertanian. Pesatnya pertumbuhan sector-sektor jasa selama kurun waktu sebelas tahun terakhir mengindikasikan bahwa sector tersier di Sulawesi Selatan telah mulai berkembang. Pada tabel berikut tergambarkan pertumbuhan dan kontribusi masing-masing sector ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara.

 

 

 

 

Tabel 3

Pertumbuhan Ekonomi Dan Kontribusi Sektor

Di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2021-2022

Lapangan Usaha

Rata-Rata Pertumbuhan

Rata-Rata Kontribusi

1. Pertanian,Kehutanan, dan Perikanan

3.56

20.91

2. Pertambangan dan Penggalian

6.36

5.02

3. Industri Pengolahan

4.81

10.44

4. Pengadaan Listrik dan Gas

10.03

0.11

5. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

3.88

0.14

6. Konstruksi

6.36

12.98

7. Perdagangan Besar dan Eceran; Repasari Mobil dan Sepeda Motor

6.06

12.70

8. Transportasi dan Pergudangan

4.91

8.31

9. Penyedian Akomodasi dan Makan Minum

5.11

2.10

10. Informasi dan Komunikasi

8.00

4.66

11. Jasa Keuangan dan Asuransi

6.89

3.78

12. Real Estat

5.82

3.66

13. Jasa Perusahaan

6.39

0.08

14. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

4.61

6.92

15. Jasa Pendidikan

5.86

2.58

16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

7.98

3.97

17. Jasa Lainnya

6.56

1.63

PDRB Berdasar Harga Konstan

5.38

100.00

       Sumber: Data Diolah

 

c)    Sulawesi Selatan

Perkembangan ekonomi Sulawesi Selatan selama sebelas tahun terakhir yakni tahun 2011-2021 terlihat mengalami perlambatan. Pada tahun 2020 ekonomi Sulawesi Selatan mengalami kemerosotan dengan nilai pertumbuhan ekonomi -0,71 persen. Hal ini adalah sebagai akibat dari adanya Pandemi Covid19 sehingga setiap wilayah mengalami stagnasi bahkan kemerosotan pada perekonomiannya. Namun, pada tahun 2021 ekonomi Sulawesi Selatan mengalami peningkatan Kembali sehingga pertumbuhan ekonomi naik menjadi 4,65 persen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


                Sumber: Data Diolah

 

Perkembangan sektor-sektor ekonomi yang ada di Sulawesi Tengah selama tahun 2011-2021 terlihat rata-rata pertumbuhan sector pertanian mengalami perlambatan namun masih merupakan sector utama dalam memberi kontribusi pada perekonomian sebesar 21,44 persen. Sektor industry pengolahan juga mengalami perlambatan dalam pertumbuhannya namun masih memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian sebesar 13,73 persen. Sector pengadaan listrik dan gas rata-rata pertumbuhannya mencapai 8,61 persen namun hanya memberikan kontribusi sebesar 0,09 persen pada perekonomian.

Sektor lainnya memiliki rata-rata pertumbuhann yang tinggi dan juga memberikan kontribusi yang cukup besar pada perekonomian Sulawesi Selatan seperti Sector konstruksi pertumbuhannya mencapai 7,35 persen dengan kontribusi sebesar 12,06 persen. Perdagangan Besar dan Eceran; Repasari Mobil dan Sepeda Motor rata-rata pertumbuhan sebesar 8,05 persen dengan kontribusi sebesar 14, 39 persen. Informasi dan Komunikasi rata-rata pertumbuhan sebesar 10,82 persen dengan kontribusi 6,50 persen. Jasa Keuangan dan Asuransi rata-rata pertumbuhannya 8,00 persen, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial rata-rata pertumbuhannya 9,02 persen dengan kontribusi masing-masing hanya sebesar 3,42 dan 1,97 persen.

 

Tabel 4

Pertumbuhan Ekonomi Dan Kontribusi Sektor

Di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2021-2022

Lapangan Usaha

Rata-Rata Pertumbuhan

Rata-Rata Kontribusi

1. Pertanian,Kehutanan, dan Perikanan

5.40

21.44

2. Pertambangan dan Penggalian

3.13

5.93

3. Industri Pengolahan

5.93

13.73

4. Pengadaan Listrik dan Gas

8.61

0.09

5. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

5.04

0.13

6. Konstruksi

7.35

12.06

7. Perdagangan Besar dan Eceran; Repasari Mobil dan Sepeda Motor

8.05

14.39

8. Transportasi dan Pergudangan

4.80

3.59

9. Penyedian Akomodasi dan Makan Minum

6.30

1.37

10. Informasi dan Komunikasi

10.82

6.50

11. Jasa Keuangan dan Asuransi

8.00

3.42

12. Real Estat

6.66

3.56

13. Jasa Perusahaan

6.34

0.43

14. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

4.53

4.58

15. Jasa Pendidikan

7.29

5.52

16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

9.02

1.97

17. Jasa Lainnya

6.94

1.31

PDRB Berdasar Harga Konstan

6.53

100.00

         Sumber: Data Diolah

 

d)   Sulawesi Tenggara

Geliat Perekonomian Sulawesi Tenggara menunjukkan trend yang positif, tercatat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara Tahun 2017 sebesar 6,76 Persen atau meningkat dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 6,51 Persen dan lebih tinggi dari pertumbuhan Nasional 5,07 Persen. Kepala BPS Sulawesi Tenggara Atqo Mardiyanto pada Pers Rilis di aula Vicon BPS Sulawesi Tenggara Senin (5/2) menuturkan bahwa seluruh Kategori Perekonomian Sulawesi Tenggara Tahun 2017 mengalami pertumbuhan positif. “Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHB Tahun 2017 mencapai Rp.107,47 Triliun atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya Rp.97,07 Triliun, dari sisi lapangan Usaha, Kategori pertambangan dan penggalian merupakan kategori yang pertumbuhannya paling tinggi yaitu 13,00 persen dan mampu memberikan kontribusi 20,68 persen pada perekonomian Sulawesi Tenggara” tuturnya.

 

  Sumber: Data Diolah

Tercatat Kontribusi terbesar disumbangkan oleh kategori Pertanian, kehutanan, dan perikanan yaitu 24,19 Persen atau lebih besar dari kontribusi kategori Pertambangan dan Penggalian. Dari Sisi Pengeluaran Seluruh komponen juga mengalami pertumbuhan yang positif, konsumsi Rumah Tangga masih memberikan kontribusi terbesar yaitu 49,58 Persen sementara pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang tumbuh sebesar 26,93 persen.

Data Yang dirilis menunjukkan bahwa Kondisi ekonomi konsumen triwulan IV-2017 (nilai indeks sebesar 103,09) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, tingkat optimisme konsumen lebih rendah jika dibandingkan triwulan III-2017 (nilai indeks sebesar 110,03). Meningkatnya kondisi ekonomi konsumen tersebut didorong oleh meningkatnya pendapatan rumah, tidak berpengaruhnya inflasi terhadap tingkat konsumsi, meski volume konsumsi menurun.(Badan Pusat Statistik) Share perekonomian Sulawesi Tenggara terhadap perekonomian kurun waktu 2010-2017 mengalami peningkatan dikisaran 13 persen, dengan capaian terendah tahun 2010 dan yang tertinggi tahun 2014 masing-masing sebesar 12,98 dan 13,58 persen.

 

Tabel 5

Pertumbuhan Ekonomi Dan Kontribusi Sektor

Di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2021-2022

Lapangan Usaha

Rata-Rata Pertumbuhan

Rata-Rata Kontribusi

1. Pertanian,Kehutanan, dan Perikanan

4.51

24.19

2. Pertambangan dan Penggalian

8.36

20.65

3. Industri Pengolahan

7.16

6.39

4. Pengadaan Listrik dan Gas

9.31

0.05

5. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

5.73

0.19

6. Konstruksi

8.36

12.43

7. Perdagangan Besar dan Eceran; Repasari Mobil dan Sepeda Motor

7.63

12.18

8. Transportasi dan Pergudangan

6.31

4.49

9. Penyedian Akomodasi dan Makan Minum

7.63

0.56

10. Informasi dan Komunikasi

7.55

2.41

11. Jasa Keuangan dan Asuransi

9.27

2.16

12. Real Estat

4.05

1.64

13. Jasa Perusahaan

7.30

0.20

14. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

4.01

5.40

15. Jasa Pendidikan

7.54

4.66

16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

7.63

0.98

17. Jasa Lainnya

6.70

1.40

PDRB Berdasar Harga Konstan

6.60

100.00

       Sumber: Data Diolah

 

e)    Gorontalo

Ekonomi Gorontalo sepanjang 2017 tercatat tumbuh 6,73 persen, meningkat jika dibandingkan tahun 2016 yang tercatat 6,51 persen dan tahun 2015 sebesar 6,23 persen. Pertumbuhan ekonomi Gorontalo 2017 sendiri diukur dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp 34.547,56 Miliar dengan PDRB per Kapita mencapai Rp 29,57 Juta atau US$2.209,59.

 

        Sumber: Data Diolah

 

Di sisi produksi, pertumbuhan ekonomi Gorontalo 2017 didorong oleh sektor pertanian yang meningkat, konstruksi tumbuh, perdagangan tumbuh, serta penyediaan akomodasi dan makanan minum meningkat,”ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Eko Marsoro, pada press confrece di kantornya, kemarin, Senin (5/2).

Lebih rinci, Eko Marsoro menjelaskan bahwa sektor pertanian masih sangat mendominasi terhadap pembentukan PDRB Gorontalo 2017 jika dilihat dari lapangan usaha. Tercatat, share sektor pertanian sebesar Rp 13,1 Triliun (Rp 13.130,02 Miliar) dari PDRB Gorontalo 2017 sebesar Rp 34,5 Triliun (Rp 34.547,56 Miliar), atau tumbuh sebesar 3,30 persen dari total sumber pertumbuhan PDRB Gorontalo 2017. Dari sisi distribusi lapangan usaha, kontribusi PDRB dari sektor ini pula yang paling dominan, yakni 38,01 persen.

Eko Marsoro menjelaskan, bahwa terjadi peningkatan produksi dari sektor pertanian, utamanya padi dan jagung. Pada 2017, produksi padi Gorontalo mencapai 376 Ribu Ton, meningkat dari tahun 2016 sebesar 344 Ribu Ton. Sedangkan jagung, produksinya mencapai 1,5 Juta Ton, naik jika dibandingkan tahun 2016 sebesar 911 Ribu Ton. Meningkatnya produksi pertanian ini juga ikut merangsang sektor perdagangan di Gorontalo 2017, “Dari sisi pengeluaran, ekspor antar daerah meningkat seiring meningkatnya produksi jagung,” lanjut Eko.

Selain itu, meningkatnya realisasi belanja modal pemerintah baik dari sisi APBN maupun ABPD juga mendorong tumbuhnya sektor konstruksi di Gorontalo dari sisi produksi. Bicara dari sisi pengeluaran, Eko Marsoro menjelaskan bahwa, pengeluaran konsumsi rumah tangga juga mengalami pertumbuhan seiring dengan pertumbuhan penduduk di Provinsi Gorontalo, serta meningkatnya volume dari frekwensi konsumsi barang dan jasa berdasarkan komponen Indeks Tendensi Konsumen (ITK).

“Dari PDRB 2017 kita Rp 34,5 Triliun (Rp 34.547,56 Miliar), pengeluaran konsumsi rumah tangga masih memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Gorontalo 2017, yakni sebesar Rp 21,2 Triliun (Rp 21.222,57 Miliar,” kata Eko. Dari sisi pengeluaran pula, pertumbuhan juga terjadi pada Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (PKLNPRT) dari Rp 220,43 Miliar pada 2016 menjadi Rp 246,47 Miliar pada 2017, “Ini karena efek Pilkada di beberapa wilayah selama tahun 2017,” ucap Eko.

Masih dari sisi pengeluaran pula, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga mengalami pertumbuhan dari Rp 9.715,48 Miliar pada Tahun 2016 menjadi Rp 10.309,60 Miliar pada Tahun 2017. Hal itu dikarenakan belanja modal pemerintah baik yang dibiayai dari APBN maupun APBD selama 2017 tercatat mengalami kenaikan.

Berdasarkan data BPS diolah, share perekonomian Gorontalo terhadap perekonomian Total Sulawesi cenderung mengalami penurunan dengan persentase 4,15 persen menurun hingga 3,98 persen di tahun 2017.

 

Kesimpulan

Berdasarkan Hasil perhitungan Indeks Williamson diketahui bahwa tingkat ketimpangan di Pulau Sulawesi Tengah masih termasuk kategori tinggi. Berdasarakan hasil Tipologi Klassen diketahui bahwa provinsi yang masih termasuk kategori daerah tertinggal adalah Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Utara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Bouincha, Mohamed, & Karim, Mohamed. (2018). Income inequality and economic growth: An analysis using a panel data. International Journal of Economics and Finance, 10(5), 242. Google Scholar

 

Cingano, Federico. (2014). Trends in income inequality and its impact on economic growth. Google Scholar

 

Dewanta, Awan Setya. (2004). Otonomi dan pembangunan daerah. Unisia, 325–329. Google Scholar

 

Djojohadikusumo, Sumitro. (1994). Perkembangan Pemikiran Ekonomi Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Google Scholar

 

Dornbusch, Rudiger, Fischer, Stanley, & Startz, Richard. (2008). Makroekonomi, Edisi 10. PT. Media Global Edukasi, Jakarta. Google Scholar

 

Faisal, Basri. (2002). Perekonomian Indonesia: Tantangan dan Harapan Bagi Kebangkitan Indonesia. Jakarta: Erlangga. Google Scholar

 

Idowu, Khadijah A., & Adeneye, Yusuf Babatunde. (2017). Inequality and economic growth: An analysis of 8-Panels. Journal of Economics and Public Finance, 3(2), 173–187. Google Scholar

 

Irawan, M. Suparmoko, & Suparmoko, M. (2002). Ekonomika Pembangunan edisi keenam. Yogyakarta: BPFE. Google Scholar

 

İSAGİLLER, Alpaslan. (2011). A cross-country investigation of inequality and growth with Theil indexes. İstanbul Üniversitesi İktisat Fakültesi Mecmuası, 61(2), 111–142. Google Scholar

 

Islami, Fitrah Sari, & Nugroho, S. B. M. (2018). Faktor-faktor mempengaruhi ketimpangan wilayah di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Media Ekonomi Dan Manajemen, 33(1). Google Scholar

 

Jhingan, M. L. (2010). Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan (Cetakan Ketiga belas). Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Google Scholar

 

Kuncoro, Mudrajad. (2004). Metode Kuantitatif: Teory dan aplikasi untuk Bisnis dan Ekonomi. Ed 2. Google Scholar

 

Mopangga, Herwin. (2014). Analisis ketimpangan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Gorontalo. Trikonomika Journal, 10(1), 40–51. Google Scholar

 

Mubyarto. (1995). Pengantar Ekonomi Pertanian. PT. Pustaka LP3ES Indonesia, anggota IKAPI. Jakarta. Google Scholar

 

Mulyadi, Subri. (2006). Ekonomi sumber daya manusia dalam perspektif pembangunan.

 

Nasir, Moh. (1998). Metode Penelitian, cetakan ketiga. Ghalia, Jakarta. Google Scholar

 

Nurhuda, Rama. (2013). Analisis Ketimpangan Pembangunan (Studi di Provinsi Jawa Timur Tahun 2005-2011). Brawijaya University. Google Scholar

 

Rochana, Siti Herni. (2014). Kesenjangan Ekonomi Antar Wilayah Pada Era Otonomi Daerah Di Indonesia. Tersedia Di Http://Sappk. Itb. Ac. Id/Spe/Wpcontent/Uploads/2013/11/Otonomi Daerah-Sayembara. Pdf, Diakses Pada, 15. Google Scholar

 

Sjafrizal, & Elfindri. (2008). Ekonomi regional: Teori dan aplikasi. Baduose Media. Google Scholar

 

Sjafrizal, S. (2012). Ekonomi Wilayah dan Perkotaan. Raja Grafindo Persada, Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada. Google Scholar

 

Sukirno, Sadono. (2011). Makro ekonomi teori pengantar edisi ketiga. Rajawali Pers, Jakarta. Google Scholar

 

Syarif, Shyahrial. (1991). Industri Kecil dan Kesempatan Kerja. Pusat Penelitian Universitas Andals, Padang. Google Scholar

 

Tambunan, Tulus T. H. (2003). Jakarta: Penerbit: Ghalia. Perekonomian Indonesia: Beberapa Masalah Penting. Google Scholar

 

Tarigan, Robinson. (2005). Ekonomi regional. PT Bumi Aksara. Jakarta. Google Scholar

 

Tjiptoherijanto, Prijono. (1997). Prospek perekonomian Indonesia dalam rangka globalisasi. Rineka Cipta. Google Scholar

 

Copyright holder:

Farida Millias Tuty, Novita Sari, Andi Herman Jaya, Ahmad Syatir (2022)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: