Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

  e-ISSN: 2548-1398

Vol. 6, No. 6, Juni 2021

 

ANALISIS MODAL INTELEKTUAL, CUSTOMER RELATIONSHIP DAN INOVASI PRODUK TERHADAP KEUNGGULAN BERSAING GUNA MENINGKATKAN KINERJA PERUSAHAAN PADA USAHA JASA FOTOGRAFI

 

Dias Gilang Persada, Amie Kusumawardhani

Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Jawa Tengah, Indonesia

Email: diasgilangpersada@gmail.com, amiekusumawardhani@gmail.com

 

Abstract

This study took an object in the photography business in Semarang City. This research aims to find out intellectual capital, customer relationships and product innovation to performance with competitive advantages as mediating. Respondents to this research were 50 photography businesses in Semarang City. This study uses Partial Least Square (PLS) with SMART PLS computer program. The results of this study show that competitive advantage has an insignificant influence as a mediating between intellectual capital to performance. But competitive advantages show a significant influence as mediating between customer relationships and product innovation on performance. The study also analyzed how the relationship between latent variables was influenced. The results of this study stated that competitive advantage has no significant effect on business performance, intellectual capital has a significant effect on competitive advantage and business performance, customer relationships have a significant effect on competitive advantage and business performance and product innovation has a significant effect on competitive advantage and business performance.

 

Keywords: competitive advantage; business performance; intellectual capital; customer relationships; product innovation

 

Abstrak

Penelitian ini mengambil objek pada Bisnis fotografi di Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui modal intelektual, hubungan pelanggan dan inovasi produk terhadap kinerja dengan keunggulan bersaing sebagai pemediasi. Responden pada penelitin ini yaitu 50 usaha fotografi di Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan Partial Least Square (PLS) dengan program computer SMART PLS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keunggulan bersaing memiliki pengaruh yang tidak signifikan sebagai pemediasi antara modal intelektual terhadap kinerja. Namun keunggulan bersaing menunjukkan pengaruh signifikan sebagai pemediasi antara hubungan pelanggan dan inovasi produk terhadap kinerja. Penelitian ini juga menganalisis bagaimana pengaruh hubungan antara variable laten yang diteliti. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa keunggulan bersaing tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja bisnis, modal intelektual berpengaruh signifikan terhadap keunggulan bersaing dan kinerja bisnis, hubungan pelanggan berpengaruh signifikan terhadap keunggulan bersaing dan kinerja bisnis dan inovasi produk berpengaruh signifikan terhadap keunggulan bersaing dan kinerja bisnis.

 

Kata Kunci:   keunggulan bersaing; kinerja bisnis; modal intelektual; hubungan pelanggan; inovasi produk

 

Pendahuluan

Industri kreatif di Indonesia, salah satunya adalah fotografi, berpotensi menjadi sebuah bisnis start up yang mengalami perkembangan yang cukup signifikan terutama di kalangan generasi muda. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya tingkat kemajuan teknologi digital di industri tersebut. Fotografi merupakan salah satu subsektor di industri kreatif yang memiliki kontribusi penting pada pertumbuhan ekonomi negara.  Kota Semarang mempunyai letak strategis yang sangat sesuai untuk dikembangkan menjadi daerah perdagangan, industri, pertanian, dan pariwisata. Kota Semarang menjadi salah satu lokasi tujuan wisata di Jawa Tengah yang memiliki beragam daya tarik wisata, seperti wisata alam, sejarah, religi, dan kreatif. Berdasarkan data dari Sisdaporapar Provinsi Jawa Tengah (2018)  jumlah wisatawan domestik dan asing terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2015 sebanyak 2.870.082 orang menjadi 5.769.389 orang tahun 2018. Hal tersebut juga ditunjukkan melalui total pendapatan yang diperoleh telah mencapai lebih dari 30 Milyar pada tahun 2018 atau tumbuh sebesar 67,15% dari tahun 2015-2018. Data Sisdaporapor (2018) menunjukkan bahwa Kawasan Kota Lama dan Lawang Sewu menjadi lokasi favorit bagi para pengunjung domestik maupun asing yang memberikan kontribusi pendapatan lebih dari 9 Milyar pada tahun 2018. Old City 3D Trick Art di Semarang merupakan salah satu contoh objek wisata favorit dari para wisatawan, di mana para pengunjung dapat mengabadikan momen penting dalam sebuah foto dengan menggunakan berbagai macam latar belakang yang unik berbentuk 3D.

Bisnis fotografi di Kota Semarang terus mengalami pertumbuhan yang cukup pesat ditinjau dari jumlah pelaku usaha terus meningkat di tahun 2018 adalah sebanyak 51 pengusaha (Dinas Pariwisata, 2019). Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat dan kemudahan dalam memperoleh informasi menyebabkan bisnis di bidang fotografi mulai diminati oleh masyarakat terutama generasi milenial. Hasil pra-penelitian dalam bentuk observasi dan wawancara terhadap beberapa pelaku bisnis di bidang fotografi dapat disimpulkan bahwa perkembangan bisnis fotografi selama tiga sampai lima tahun belakangan ini sangat cepat. Sebagian kecil dari pelaku usaha di bidang fotografi juga menyediakan studio foto komersial untuk meningkatkan minat pengunjung melakukan foto dalam studi dan dapat meningkatkan omset penjualan. Hasil wawancara tersebut juga menyimpulkan bahwa omset penjualan mulai mengalami penurunan yang disebabkan karena semakin banyak pendatang baru di bisnis fotografi.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui modal intelektual, hubungan pelanggan dan inovasi produk terhadap kinerja dengan keunggulan bersaing sebagai pemediasi dan mengetahui keunggulan bersaing terhadap kinerja bisnis.

Kinerja dalam suatu bisnis merupakan keberhasilan suatu bisnis dalam mencapai keberhasilan yang diperolehnya baik dari segi keungan maupun pasar (Li, Ragu-Nathan, Ragu-Nathan, & Rao, 2006). Kinerja merupakan kemampuan dalam bekerja menyelesaikan keseluruhan pekerjaan, tugas yang menjadi tanggung jawab  yang akan ditunjukkan dengan hasil kerja, menurut (Goyal & Nebebe, 2000) memaparkan tentang kinerja adalah “Performance is: (1) the process or manner of performing, (2) a notable action or achievement, (3) the performing of a playor other entertainment”.  (Ivancevich, Matteson, & Konopaske, 1990) menjelaskan bahwa kinerja merupakan suatu hasil yang didapatkan oleh seorang individua tau karyawan dalam menyelesaikan tanggung jawabnya atau pekerjaan yang sesuai dengan tujuan dari organisasi tersebut baik kuantitas, kualitas dan efisiensi kerja. Sedangkan menurut (Simamora, 2001) kinerja adalah suatu hasil yang didapatkan dari kerja keras pencapaian yang dilakukan karyawan terhadap pekerjaan yang diberikan oleh perusahaan.

Keunggulan bersaing merupakan suatu keunggulan yang terjadi diatas pesaing-pesaing yang didapatkan dari menawarkan suatu nilai yang lebih kepada konsumen, seperti harga yang tidak mahal atau rendah atau bahkan memberikan banyak manfaat yang mendukung dalam penetapan harga yang lebih mahal (Kotler & Armstrong, 2014). Menurut (Agha, Alrubaiee, & Jamhour, 2012) Keunggulan bersaing memiliki arti sebagai berbagai sebuah atribut yang ditawarkan oleh produsen dengan pesaing. Atribut merupakan variabel yang dapat mempengaruhi sebuah persepsi dari konsumen tentang produk, utilisasi dan availability. Sedangkan menurut (Goyal & Nebebe, 2000) merupakan kemampuan suatu organisasi untuk mendapatkan keuntungan di atas laba yang diraih oleh pesaing di pasar dalam industri yang sama.

Suatu perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif yang baik tentu memiliki kemampuan dalam hal memahami setiap perubahan struktur pasar yang ada dan tentunya memiliki kemampuan untuk menentukan strategi pemasaran yang efektif dan berdampak pada kinerja bisnis yang baik pula. Keunggulan bersaing juga dapat dipengaruhi berbagai faktor salah satunya adalah  lokasi yang strategis (Bressler, 2012), selain itu berbagai literatur empiris menjelaskan bahwa dalam mengidentifikasi biaya, kualitas, pengiriman  dan fleksibilitas merupakan salah satu kemampuan bersaing yang penting (Li et al., 2006).

Menurut (Wang & Wang, 2012) modal intelektual adalah pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan atau diperlukan oleh suatu perusahaan untuk mencapai suatu keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Hal ini juga sejalan dengan (Youndt, Subramaniam, & Snell, 2004) bahwa modal intelektual merupakan pengetahuan yang dimiliki oleh perusahaan untuk mencapai keunggulan yang kompetitif. Sedanglan menurut (Gan & Saleh, 2008) modal intelektual merupakan istilah untuk asset tak berwujud yang terdiri dari kekayaan intelektual yang berpusat pada manusia dan infrastruktur untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Menurut (Akhavan, Mehralian, Rasekh, & Sadeh, 2012) modal intelektual memiliki kelebihan yaitu  modal intelektual dapat mengurangi adanya cacat didalam sebuah laporan keuangan yang sifatnya konvensional yang berorientasi pada pasar modal selain itu modal intelektual dapat menciptakan prosi volatilitas yang terbilang kecil, dan tentu dapat meminimalkan biaya modal ekuitas. Studi empiris lainnya yang dilakukan oleh Bakshi (2015) menjelaskan bahwa kontribusi yang diberikan oleh model modal intelektual tentu dalam meningkatkan inovasi, keunggulan yang kompetitif dalam ekonomi berkembang.

Dengan terciptanya hubungan dengan pelanggan, komunikasi yang baik tentu memberikan dampak positif bagi perusahaan. Dengan menjalin hubungan jangka panjang yang baik dengan pelanggan kita dapat mengetahui dengan mudah keinginan pelanggan yang harus kita penuhi, menangani setiap keluhan untuk selalu memperbaiki peningkatan pelayanan dan tentu dapat menciptakan produk baru. Memiliki hubungan jangka panjang dengan pelanggan dapat mengurangi ketidakpastian dalam hal permintaan, meningkatnya layanan pelanggan dan penurunan biaya untuk manajemen persediaan (Ramsay, 2001). Dengan adanya hubungan pelanggan yang baik maka pelanggan akan terus menggunakan produk yang sama (Grönroos, 2000).

Menurut (Öberg, 2014) dalam suatu bisnis hubungan pelanggan memberikan nilai yang cukup besar, yang merupakan hubungan timbal balik baik antara pelanggan dan pemasok. Oleh karena itu betapa pentingnya menjalin hubungan dengan pelanggan dan mengembangkan strategi komunikasi secara maksimal tentu untuk memaksimalkan probabilitas pelanggan (Reinartz, Thomas, & Kumar, 2005). Oleh karena itu hubungan pelanggan merupakan adanya interaksi dan komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung antara pelanggan dengan pemasok.

Inovasi merupakan suatu konsep, ide  yang didapatkan dari sebuah pengetahuan yang baru yang dikombinasi dan dikembangkan dengan pengetahuan yang telah ada sehingga menciptakan suatu produk dengan proses yang baru (Richard, 2013). Terdapat elemen-elemen penting untuk meningkatkan inovasi yang bermanfaat bagi suatu perusahaan atau bisnis yaitu, menjelaskan kualitas dan nilai pelanggan, mengembangakan orientasi pelanggan, focus pada proses bisnis perusahaan, mengembangkan kemitraan pelanggan dan pemasok, mengambil pendekatan pencegahan, mengembangkan perilaku bebas kesalahan, dapatkan faktanya terlebih dahulu, mendukung setiap manajer dan karyawan untuk berpartisipasi, menciptakan suasana keterlibatan total, dan berjuang untuk peningkatan terus menerus (Richard, 2013).

Hipotesis dalam penelitin ini:

H1: Keunggulan bersaing berpengaruh positif terhadap kinerja bisnis

H2: Modal intelektual berpengaruh positif terhadap keunggulan bersaing

H3: Modal Intelektual berpengaruh positif terhadap kinerja bisnis

H4: Hubungan pelanggan berpengaruh positif terhadap keunggulan bersaing

H5: Hubungan Pelanggan berpengaruh positif terhadap kinerja bisnis

H6: Inovasi Produk berpengaruh positif terhadap keunggulan bersaing

H7: Inovasi Produk berpengaruh positif terhadap kinerja bisnis

 

 

Metode Penelitian

Penelitin ini menggunakan kuesioner untuk pengambilan data, adapun populasi dalam penelitian ini adalah pelaku usaha photography di Kota Semarang berjumlah 50 usaha photography sebagai responden dalam penelitian ini data responden didapatkan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan teknik sensus dimana seluruh populasi dijadikan sampel dalam penelitian ini dan selanjutnya metode analisis data yang digunakan adalah Partial Least Square (PLS) dengan melihat evaluasi model yang terdiri dari outer model dan inner model.

 

Hasil dan Pembahasan

Kuesioner yang berhasil diolah pada penelitian ini yaitu sebanyak 50 responden dan jenis kelamin laki-laki mendominasi pada penelitian ini. Selanjutnya, paling lama usaha didirikan yaitu 14 tahun dengan persentase 18% (9) responden dan paling baru yaitu 1 tahun dengan persentase 10% (5) responden. Hasil olah data SMART PLS menunjukkan bahwa, evaluasi model nilai korelasi indikator secara keseluruhan telah memenuhi kriteria yang sudah ditentukan yaitu 0.60. berikut nilai korelasi pada masing-masing indikator:

 

Tabel 1

Nilai Korelasi

Konstruk

Skore

Disyaratkan

M1

0,830

0,60

 

 

M2

0,931

M3

0,935

M4

0,838

M5

0,956

M6

0,904

M7

0,835

M8

0,866

M9

0,915

M10

0,927

M11

0,877

HP1

0,807

HP2

0,792

HP3

0,727

HP4

0,839

IP1

0,850

IP2

0,824

IP3

0,830

IP4

0,833

K1

0,809

K2

0,687

K3

0,844

K4

0,746

KB1

0,817

KB2

0,829

KB3

0,905

KB4

0,915

KB5

0,619

KB6

0,830

Sumber: Output PLS di Olah 2020

Selanjutnya melihat hasil average variance extracted (AVE) dengan kriteria yang sudah ditentuka yaitu 0,5, berikut hasil AVE dapat ditunjukkan pada Tabel 2 sebagai berikut.

 

Tabel 2

Average Variance Extracted (AVE)

Konstruk

AVE

Disyaratkan

Hubungan Pelanggan

0,628

0,50

Inovasi Produk

0,696

Keunggulan Bersaing

0,599

Kinerja Bisnis

0,680

Modal Intelektual

0,757

Modal Manusia

0,809

Modal Rasional

0,822

Modal Struktural

0,755

            Sumber: Output PLS di Olah 2020

 

Tabel 2 menunjukkan bahwa seluruh kontruk pada penelitian ini memenuhi kriteria yang telah ditentukan yaitu diatas 0,50. Tahapan selanjutnya yaitu uji reliabilitas, uji ini diukur dengan melihat nilai composite reliability dan cronbach alpha. Berikut hasil dari composite reliability dan cronbach alpha.

 

Tabel 3

Composite Reliability (CR) dan Cronbach Alpha (CA)

Konstruk

CR

CA

Syarat

Hubungan Pelanggan

0,870

0,803

0,70

Inovasi Produk

0,902

0,854

Keunggulan Bersaing

0,868

0,771

Kinerja Bisnis

0,938

0,917

Modal Intelektual

0,971

0,967

Modal Manusia

0,955

0,940

Modal Rasional

0,933

0,891

Modal Struktural

0,902

0,837

               Sumber: Output PLS di Olah 2020

 

Hasil output yang dihasilkan pada Composite Reliability dan Cronbach Alpha, pada seluruh konstruk telah memenuhi kriteria yang ditentukan yaitu diatas 0,70 artinya seluruh kontruk memiliki reliabilitas yang baik. Tahapan selanjutnya yaitu dengan melihat hasil R- square pada Tabel 4.


Tabel 4

R- Square

Variabel

R- square.

Keungggulan Bersaing

0,505

Kinerja Bisnis

0,960

    Sumber: Output PLS di Olah 2020

 

Hasil ini menunjukkan bahwa keunggulan bersaing, modal intelektual, hubungan pelanggan dan inovasi produk bersama-sama mempengaruhi variabel keunggulan bersaing sebesar 50,5% dan 96 % dan sisanya 49,5 % dan 4 % dipengaruhi faktor lai yang tidak diteliti pada penelitian ini. Tahapan selanjutnya yaitu pengujian hipoteisi dan pembahasan berikut hasil output SMART PLS.

 

Tabel 5

Hasil Output PLS

Hipotesis

Original Sample

T statistik

P-Value

Ket

HI

0,067

1,664

0,106

Ditolak

H2

0,632

2,288

0,023

Diterima

H3

0,542

5,334

0,000

Diterima

H4

0,422

2,109

0,012

Diterima

H5

0,247

2,331

0,020

Diterima

H6

0,398

3,307

0,045

Diterima

H7

0,271

2,863

0,004

Diterima

                 Sumber: Output PLS di Olah 2020

 

Selanjutnya hasil pengaruh mediasi variabel bebas terhadap kinerja bisnis melalui keunggulan bersaing.

 

Tabel 6

Pengaruh Mediasi

Variabel

Test Statistic

Erorr

P-Value

Modal Intelektual Keunggulan Bersaing Kinerja Bisnis

1.709

0.032

0.087

Hubungan Pelanggan Keunggulan Bersaing Kinerja Bisnis

3.951

0.051

0.000

Inovasi Produk Keunggulan Bersaing Kinerja Bisnis

2.719

0.042

0.000

 Sumber: Data Primer di Olah 2020

 

Berdasarkan tabel 6 diatas terlihat bahwa pengaruh modal intelektual terhadap kinerja bisnis dengan pemediasi keunggulan bersaing dapat dilihat dari t statistic 1.709 lebih kecil 1.96 dan p-value 0.087 lebih besar dari 0.05, artinya keunggulan bersaing tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam menjembatani/memediasi antara modal intelektual terhadap kinerja bisnis. Selanjutnya hubungan pelanggan dengan t statistic 3.951 lebih besar dari 1.96 dan p-value 0.000, artinya keunggulan bersaing berpengaruh signifikan dalam menjembatani/memediasi antara hubungan pelanggan terhadap kinerja bisnis. Dan yang terakhir Inovasi produk dengan t statistic 2719 lebih besar dari 1.96 dan p-value 0.000, artinya keunggulan bersaing memiliki pengaruh signifikan dalam menjembatani/memediasi antara inovasi produk terhadap kinerja bisnis.

Berdasarkan table 6 Hasil hipotesis menunjukkan bahwa HI: keunggulan bersaing tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Hal ini dapat disimpulkan bahwa efisiensi biaya, waktu layanan, kontrol kualitas produk dan inovasi pada proses produksi tidak dapat dijadikan acuan bagi keunggulan bersaing suatu usaha khususnya usaha fotografi untuk dapat meningkatkan kinerja bisnis. Hal ini diduga karena usaha fotografi belum mampu menerapkan indikator dari keunggulan bersaing sebagai strategi bisnis tersebut. Oleh karena itu terdapat kesesuaian hasil penelitian terdahulu, yang dilakukan oleh (Setyawati, 2013) bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan antara keunggulan bersaing dengan kinerja bisnis. Selain itu Hasil penelitian ini dapat terjadi dikarenakan beberapa indikasi. yaitu kurangnya pemahaman responden terkait pernyataan dikuesioner, informasi kuesioner yang bias, dan beberapa pertanyaan yang dijawab tidak sesuai konteks. H2: modal intelektual berpengaruh signifikan terhadap keunggulan bersaing. Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini bahwa modal intelektual memiliki tiga dimensi  terdiri dari modal manusia, struktural dan rasional besarnya koefisien jalur dari tiga dimensi tersebut yaitu modal manusia sebesar 0,999 yang kedua modal rasional 0,976 dan yang terakhir modal rasional 0,949 dapat dilihat bahwa dimensi modal manusia memberikan kontribusi paling kuat diantara dimensi lainnya dari modal intelektual terhadap keunggulan bersaing dan dapat dilihat loading faktor tertingi pertama pada dimensi modal manusia terletak pada indikator MI5 loading faktor sebesar 0,956 dengan pernyataan bahwakaryawan yang bekerja di usaha kami memiliki kreatifitas yang tinggipernyataan ini mencerminkan dimensi modal manusia artinya bahwa kreativitas yang tinggi/memiliki pengetahuan yang cemerlang dalam meningktkan usaha merupakan kunci keunggulan bersaing bagi suatu perusahaan.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu Chahal dan Bakshi (2015) bahwa modal intelektual memiliki pengaruh signifikan terhadap keunggulan bersaing. H3: modal intelektual berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Modal intelektual memiliki tiga dimensi yaitu modal manusia, struktural dan rasional. dari ketiga dimensi ini modal manusia merupakan dimensi yang terkuat dari diemnsi lainnya yaitu dengan nilai koefisien jalur sebesar 0,999 dan loading faktor tertinggi kedua yang didapatkan dari dimensi modal manusia yaitu pada indikator MI3 loading faktor sebesar 0,935, dengan pernyataan bahwausaha kami memperkerjakan karyawan yang ahli dibidangnya khususnya fotografipernyataan ini mencerminkan dimensi modal manusia artinya bahwa keahlian dan pengetahuan yang sesuai dengan pekerjaanya yang dimiliki oleh seorang karyawan maka akan berdampak pada hasil yang optimal atau kinerja yang tinggi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yaitu (Sharabati, Jawad, & Bontis, 2010) hasil penelitiannya membuktikan bahwa modal intelektua berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja bisnis. H4: hubungan pelangga berpengaruh signifikan terhadap keunggulan bersaing.

Hubungan pelanggan memiliki 4 indikator untuk mengukur seberapa kuatnya hubungan pelanggan terhadap keunggulan bersaing. Berdasarkan loading faktor yang didapatkan bahwa indikator terbesar terletak pada HP4 dengan pernyataan bahwa “kami mengevaluasi kepuasan pelanggan secara berkala yang telah menggunakna jasa fotograpi”, dengan memiliki hubungan yang baik dengan cara selalu melibatkan pelanggan salah satunya yaitu mengevaluasi hasil kinerja apakah pelanggan merasa puas atau tidak sehingga perusahaantau akan keluh kesah dan memperbaiki setiap kekurangan yang diberikan dan tentu akan berdampak pada keunggulan bersaing berkelanjutan bagi perusahaan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Li et al., 2006) menyatakan bahwa hubungan pelanggan memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap keunggulan bersaing. H5: hubungan pelanggan berpengaruh signifikan terhadap kinerja bisnis.

Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu terkait hubungan pelanggan memberikan hubungan yang positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan yaitu salah satunya penelitian yang dilakukan di negara Poland, hasilnya menyimpulkan bahwa hubungan pelanggan memiliki hubungan yang signifikan terhadap kinerja bisnis (Geigenmüller & Mitrę̨ga, 2012). Hubungan pelanggan menggunakan 4 indikator dan hasilnya menunjukkan bahwa indiaktor tertinggi kedua yang dilihat dari niali loading faktor yang terletak pada indikator HP1 sebesar  0,807 dengan pernyataankami merespon setiap keluhan pelanggan dengan cepatartinya bahwa perusahaan yang dapa bertahan dan mampu bersaing dengan perusahaan sejenis adalah perusahaan salah satunya perusahaan yang memiliki hubungan yang baik dengan pelanggannya, cepat tanggap dalam dalam bekerja menangani setiap permasalahan yang dihadapi dengan cepat mencari solusi setiap ada keluh kesah dari pelanggan sehingga pelanggan merasa puas dengan pelayanan yang diberikan dari banyaknya keluhan dari pelanggan dapat dimanfaatkan perusahan untuk selalu mengevaluasi secara berkala agar kinerja bisnis yang dihasilkan optimal. H6: inovasi produk berpengaruh signifikan terhadap keunggulan bersaing. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu bahwa inovasi produk memiliki hubungan yang positif signifikan terhadap keunggulan bersaing (Kafetzopoulos, Gotzamani, & Gkana, 2015). Untuk mengukur inovasi produk pada penelitian ini menggunakan empat indikator, dan hasil penelitian ini dapat dilihat indikator tertinggi yaitu terletak pada IP1 dengan pernyataanmenyediakna studio foto yang beragamartinya inovasi produk pada usah fotografi sangatlah penting, salah satunya inovasi studio foto dengan bergai macam baground foto yang ditawarkan beserta alat pendukung lainnya sehingga mampu menarik pelanggan untuk menggunakan jasa foto tersebut.

Adanya inovasi produk dalam dunia bisnis khususnya usaha fotografi yang saat ini semakin berkembang pesat didorong teknologi yang semakin canggih diperlukan adanya suatu inovasi agar dapat tetap bertahan dan mampu bersaing dengan usaha-usaha sejenis, dalam persaingan yang cukup ketat, setiap usaha diperlukan strategi untuk mencapai keunggulan bersaing. H7: inovasi produk berpengaruh signifikan terhadap kinerja bisnis. Inovasi produk menggunakan empat indikator dan indikator tertinggi kedua dilihast dari laoding faktor yang terletak pada IP4 dengan pernyataan “Kami mengembangkan berbagai fitur terbaru untuk menunjang produk kami” dalam usaha kecil dan menengah salah satunya jasa fotografi inovasi produk yang ditawarkan salah satunya hasil foto atau video yang telah diedit dengan maksimal mengguankan berbagai macam fitur terbaru mengikuti perkebangan zaman sehingga pelanggan merasa puas dengan hasil yang diberikan ini merupakan kinerja bisnis yang optimal yang diberikan karyawan untuk keberlangsungan usahanya yang mampu bersaing dengan usaha-usaha sejenis lainnya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Prajogo, 2016) bahwa inovasi produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja bisnis.

 

Kesimpulan

Penelitian ini memiliki tujuh hipotesis, berikut kesimpulan hasil analisis hipotesis sebagai berikut.

1.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa keunggulan bersaing tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja bisnis. Sehingga kesimpulan hasil hipotesis H1 ditolak.

2.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antar variabel modal intelektual terhadap keunggulan bersaing. Sehingga kesimpulan hipotesis HII diterima.

3.      Hasil penelititian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel modal intelektual terhadap kinerja bisnis. Sehingga kesimpulan hasil hipotesis HIII diterima.

4.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel hubungan pelanggan terhadap keunggulan bersaing. Sehingga kesimpulan hasil hipotesis HIV diterima.

5.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel hubungan pelanggan terhadap kinerja bisnis. Sehingga kesimpulan hasil hipotesis HV diterima.

6.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel inovasi produk terhadap keunggulan bersaing. Sehingga kesimpulan hasil hipotesis HVI diterima.

7.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel inovasi produk terhadap kinerja bisnis. Sehingga kesimpulan hasil hipotesis HVII diterima.

 


BIBLIOGRAFI

 

Agha, Sabah, Alrubaiee, Laith, & Jamhour, Manar. (2012). Effect Of Core Competence On Competitive Advantage And Organizational Performance. International Journal of Business and Management, 7(1), 192. Google Scholar

 

Akhavan, Peyman, Mehralian, Gholamhossein, Rasekh, Hamid Reza, & Sadeh, Mohammad Reza. (2012). The Impact Of Intellectual Capital Efficiency On Market Value: An Empirical Study From Iranian Pharmaceutical Companies. Iranian Journal of Pharmaceutical Research, 11(1), 195–207. Google Scholar

 

Bressler, Martin S. (2012). How Small Businesses Master The Art Of Competition Through Superior Competitive Advantage. Journal of Management and Marketing Research, 11(1), 2–9. Google Scholar

 

Gan, Kin, & Saleh, Zakiah. (2008). Intellectual Capital And Corporate Performance Of Technology-Intensive Companies: Malaysia Evidence. Asian Journal of Business and Accounting, 1(1), 113–130. Google Scholar

 

Geigenmüller, Anja, & Mitrę̨ga, Maciej. (2012). Network Partner Knowledge And Internal Relationships Influencing Customer Relationship Quality And Company Performance. Journal of Business & Industrial Marketing, 27(6), 212 Google Scholar

 

Goyal, Suresh K., & Nebebe, Fassil. (2000). Determination Of Economic Production–Shipment Policy For A Single-Vendor–Single-Buyer System. European Journal of Operational Research, 121(1), 175–178. Google Scholar

 

Grönroos, Christian. (2000). Service Management And Marketing: A Customer Relationship Management Approach. Google Scholar

 

Ivancevich, John M., Matteson, Michael T., & Konopaske, Robert. (1990). Organizational Behavior And Management. Google Scholar

 

Kafetzopoulos, Dimitrios, Gotzamani, Katerina, & Gkana, Vasiliki. (2015). Relationship Between Quality Management, Innovation And Competitiveness. Evidence From Greek Companies. Journal of Manufacturing Technology Management, 26(8), 141. Google Scholar

 

Kotler, Philip, & Armstrong, Gary. (2014). Principle of Marketing. New Jersey: Pearson Prentice Hall. Google Scholar

 

Li, Suhong, Ragu-Nathan, Bhanu, Ragu-Nathan, T. S., & Rao, S. Subba. (2006). The Impact Of Supply Chain Management Practices On Competitive Advantage And Organizational Performance. Omega, 34(2), 107–124. Google Scholar

 

Öberg, Christina. (2014). Customer Relationship Challenges Following International Acquisitions. International Marketing Review. Google Scholar

 

Prajogo, Daniel. (2016). I.(2016). The Strategic Fit between Innovation Strategies and Business Environment in Delivering Business Performance. International Journal of Production Economics, 171(2), 241-249. Google Scholar

 

Ramsay, John. (2001). The Resource Based Perspective, Rents, And Purchasing’s Contribution To Sustainable Competitive Advantage. Journal of Supply Chain Management, 37(2), 38–47. Google Scholar

 

Reinartz, Werner, Thomas, Jacquelyn S., & Kumar, Viswanathan. (2005). Balancing Acquisition And Retention Resources To Maximize Customer Profitability. Journal of Marketing, 69(1), 63–79. Google Scholar

 

Richard, Robinson. (2013). Manajemen Strategis. Jakarta. Salemba Empat. Google Scholar

 

Setyawati, Harini Abrilia. (2013). Pengaruh Orientasi Kewirausahaan dan Orientasi Pasar terhadap Kinerja Perusahaan Melalui Keunggulan Bersaing dan Persepsi Ketidakpastian Lingkungan Sebagai Prediksi Variabel Moderasi (Survey pada UMKM Perdagangan di Kabupaten Kebumen). Journal Fokus Bisnis: Media Pengkajian Manajemen Dan Akuntansi, 12(2), 20-32. Google Scholar

 

Sharabati, Abdel‐Aziz Ahmad, Jawad, Shawqi Naji, & Bontis, Nick. (2010). Intellectual Capital And Business Performance In The Pharmaceutical Sector Of Jordan. Management Decision, 48(1), 105-131. Google Scholar

 

Simamora, Bilson. (2001). Memenangkan Pasar Dengan Pemasaran Efektif Dan Profitabel. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Google Scholar

 

Wang, Zhining, & Wang, Nianxin. (2012). Knowledge Sharing, Innovation And Firm Performance. Expert Systems with Applications, 39(10), 8899–8908. Google Scholar

 

Youndt, Mark A., Subramaniam, Mohan, & Snell, Scott A. (2004). Intellectual Capital Profiles: An Examination Of Investments And Returns. Journal of Management Studies, 41(2), 335–361. Google Scholar

 

Copyright holder:

Dias Gilang Persada, Amie Kusumawardhani (2021)

 

First publication right:

Journal Syntax Literate

 

This article is licensed under: