Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN: 2548-1398

Vol. 6, No. 7, Juli 2021

 

PENGARUH PENGGUNAAN APLIKASI TIKTOK TERHADAP PERILAKU KECANDUAN MAHASISWA

 

Mela Rahmayani, Muhamad Ramdhani, Fardiah Oktariani Lubis

Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) Jawa Barat, Indonesia

Email: melarahma88@gmail.com, muhamad.ramdhani@staffunsika.ac.id, fardiah.lubis@fisipunsika.ac.id

 

Abstrak

Media sosial merupakan media komunikasi berbasis internet dimana para penggunanya dapat terus berinteraksi tanpa ada batas ruang dan waktu yang menjadi penghambat interaksi manusia pada zaman dulu. Penelitian ini berjudulPengaruh Penggunaan Aplikasi TikTok Terhadap Perilaku Kecanduan Mahasiswa (Studi Analisis Regresi Terhadap Penggunaan Aplikasi TikTok Terhadap Perilaku Kecanduan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang, Angkatan 2018-2019). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh penggunan aplikasi TikTok terhadap perilaku kecanduan Mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang, angkatan 2018 dan 2019. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dan pendekatan analisis regresi linear berganda. Teori yang digunakan adalah teori determinasi teknologi dari McLuhan yang mengasumsikan bahwa setiap teknologi yang diciptakan, maka akan menciptakan pola-pola didalam manusia. Baik pola komunikasi dan perilaku runtunan berpikir, semua pola itu dapat diubah dengan kehadirannya teknologi baru. Hasil yang diperoleh adalah peneliti menemukan bahwa intensitas, dan daya tarik berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kecanduan mahasiswa, sedangkan isi konten pada penggunaan Aplikasi TikTok tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan mahasiswa.

 

Kata Kunci: aplikasi TikTok; media sosial; kecanduan

 

Abstract

Social media is an internet-based communication media where users can continue to interact without space and time limits which are obstacles to human interaction in the past. This study is entitled "The Effect of the Use of TikTok Applications on Student Addiction Behavior (Study of Regression Analysis of the Use of TikTok Applications on Addiction Behavior of Communication Sciences Students of Singaperbangsa Karawang University, Class of 2018-2019). The purpose of this study was to determine how the effect of using the TikTok application on the addiction behavior of the University of Singapore Karawang Students, class of 2018 and 2019. The research method uses quantitative methods and multiple linear regression analysis approaches. The theory used is McLuhan's Technology Determination Theory, which assumes that every technology created, will create patterns in humans. Good communication patterns, behavioral thinking. All patterns can be changed with the presence of new technology. The results obtained are the researchers found that the intensity, and attractiveness significantly influence student addiction behavior, while the content of content on the use of TikTok Application has no significant effect on student addiction behavior.

 

Keywords:  TikTok application; social media; addiction

 

Pendahuluan

Saat ini, keberadaan media sosial menjadi suatu kebutuhan bagi manusia. Media sosial dipandang sebagai perantara yang mampu membuat penggunanya mendapat dan menyebarkan informasi secara cepat kepada pengikutnya. Media sosial  menjadi salah satu media yang banyak digunakan oleh manusia modern baik untuk berkomunikasi maupun menyebarkan informasi dalam bentuk personal maupun berkelompok. Media sosial dipilih menjadi media komunikasi karena tak lagi perlu adanya batas ruang dan waktu yang dimana menjadi sebuah masalah atau penghalang bagi manusia dalam berkomunikasi di masa lalu (Atikah, 2018).

Era modern, manusia dipermudah melakukan berbagai hal dalam berkomunikasi. Contoh kemudahan yang diciptakan adalah berinteraksi melalui internet. Semakin berkembangnya internet memunculkan pola interaksi yang dapat dilakukan tanpa harus berada dalam ruang dan waktu yang sama. Menurut Anthony Giddens, adanya modernitas hubungan ruang dan waktu terputus kemudian ruang perlahan-lahan terpisah dari tempat (Agustriana, 2019).

Dasar media sosial merupakan perkembangan mutakhir dari teknologi-teknologi perkembangan web baru berbasis internet yang memudahkan semua orang untuk dapat berkomunikasi, berpartisipasi, saling berbagi, dan membentuk sebuah jaringan secara online sehingga dapat menyebarluaskan konten mereka sendiri. Post di blog, tweet, atau video Youtube dapat direproduksi dan dapat dilihat secara langsung oleh jutaan orang secara gratis (Tyas, Budiyanto, & Santoso, 2015).

Media sosial adalah sebuah media online yang para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isu meliputi blog, jejaring sosial, Wiki, forum, dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial, dan Wiki merupakan bentuk yang paling umum digunakan masyarakat diseluruh dunia. (Kaplan & Haenlein, 2012) mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun di atas dasar ideologi dan teknologi web yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user generated content (Agustriana, 2019).

Setiap tahunnya para pencipta teknologi berusaha melahirkan inovasi-inovasi terbaru dengan memasukan fitur-fitur menarik ke dalam media sosial yang dapat bersaing dan menjadi media sosial unggulan dari pada media sosial lainnya. Sebut saja seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan masih banyak lagi media sosial yang menawarkan kecanggihan-kecanggihan fitur dari setiap aplikasi mereka demi menarik para peminat media sosial. Tidak hanya digunakan sebagai media berkomunikasi dan menyebarkan informasi, beberapa media sosial sengaja diciptakan sebagai media yang dapat menghibur penggunanya. Saat ini banyak sekali aplikasi media sosial yang diciptakan dengan tujuan menghibur, baik aplikasi berbasis game, audio, visual maupun audio visual. Contohnya adalah aplikasi TikTok yang cukup populer di Indonesia (Hayati, 2020).

Berdasarkan hasil riset Wearesocial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi (Damar, 2019). Pengguna internet jika dilihat berdasarkan jenis kelamin maka sebanyak 48,57% pengguna internet adalah wanita dan 51,43% pengguna internet adalah laki-laki. Jika dilihat dari komposisi pengguna internet berdasarkan usia, sebanyak 49,52% pengguna internet masih tergolong kedalam masa dewasa muda yang berusia sekitar 18 –25 tahun (Santrock, 2011). Menurut (Santrock, 2011) rentang usia masa dewasa muda adalah 18-25 tahun sedangkan menurut (Hurlock & Oldfield, 2015) usia dewasa muda adalah 18-40 tahun. Dewasa muda atau dewasa awal adalah masanya bekerja dan jatuh cinta, terkadang hanya menyisakan waktu sedikit untuk hal-hal lain (Mawardah, 2019).

Terhitung pada bulan November 2019, Aplikasi TikTok menjadi aplikasi non-game yang banyak diunduh. Sebanyak 1,5 Miliar pengguna TikTok dari seluruh dunia, mengalahkan aplikasi Instagram yang diunduh sebanyak 1 Milyar.  Jumlah pengguna TikTok meningkat pesat dari 10 juta unduhan dari tahun sebelumnya (CNN, 2019). Pada Januari 2020, jumlah unduhan Aplikasi TikTok mengalahkan Facebook dan Instagram. Menurut data dari Sensor Tower, TikTok berada diperingkat kedua dengan jumlah unduhan lebih dari 700 juta pengguna didunia pada 2019 sedangkan Facebook diposisi keempat dan Instagram diurutan kelima. Sensor Tower menghitung data ini dari Google Play Store di Android dan App Store di IOS (Ferdiansyah, 2020).

Berdasarkan penelitian ini, peneliti menggunakan teori determinasi teknologi yang diperkenalkan oleh McLuhan. McLuhan dalam (Surahman, 2016) mengenalkan teori determinasi pada tahun 1962 dalam tulisannya yang berjudul “The Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man”. Pokok gagasan teori ini adalah bahwa perubahan yang terjadi dalam berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pola keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir dan berperilaku dalam masyarakat dan teknologi tersebut akhirnya mengarahkan manusia untuk bergerak dari satu abad teknologi ke abad teknologi yang lain. Teori determinasi teknologi yang dikembangkan oleh McLuhan mengungkapkan bagaimana sebuah teknologi baru khususnya teknologi komunikasi yang dibuat dapat menciptakan pola-pola baru yang ada didalam manusia baik itu pola komunikasi, perilaku, dan runtunan berpikir. Semua pola itu dapat berubah atau menghasilkan pola baru yang diciptakan oleh keberadaan teknologi (Tristan, Sadono, & Marta, 2019).

Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judulPengaruh Penggunaan Aplikasi TikTok terhadap Perilaku Kecanduan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang Angkatan 2018 dan angkatan 2019”, penelitian ini pun dibuat untuk mengetahui seberapa pengaruh penggunaan aplikasi TikTok terhadap perilaku kecanduan pada ilmu komunikasi di Universitas Singaperbangsa Karawang.

Peneliti memutuskan untuk menggunakan penelitian terdahulu sebagai referensi dan perbandingan, penelitian yang digunakan penulis sebagai bahan referensi dan bahan perbandingan adalah penelitian yang dilakukan oleh (Prianbodo, 2018), Jurusan Ilmu Komunikasi, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi, almamater Wartawan Surabaya tentangPengaruh TikTok terhadap Kreativitas Remaja Surabaya”. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan Skala Likert. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Tik Tok terhadap kreativitas remaja Surabaya. Hasil dari penelitian ini adalah mayoritas responden yaitu 39 responden (39%) menggunakan aplikasiTikToksampai 6-10 kali sehari. Menunjukkan bahwa mayoritas responden berada kategori “Lama” dalam menggunakan aplikasiTikTok”. Sedangkan 46 responden 46% menggunakan aplikasi tersebut selama 30 menit. Menunjukkan bahwa mayoritas responden berada dikategoriCukup Lama” dalam menggunakan aplikasi tersebut. Pada tabel atensi, mayoritas responden yang menyatakan menarik terhadap aplikasiTikTok”, sebanyak 55 responden atau 55% ketertarikan mereka terhadap aplikasi tersebut. Berdasarkan penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa aplikasiTikTokmemiliki pengaruh sebesar 41,6% terhadap tingkat kreativitas remaja Surabaya, penggunaan Aplikasi TikTok dapat berpengaruh terhadap tingkat kreativitas remaja Surabaya. Persamaan dalam penelitian terdahulu dan penelitian ini yang pertama adalah pada variabel bebas (x) penelitian. Kedua, penelitian sama-sama menggunakan Aplikasi TikTok sebagai variabel bebas (x). Ketiga, penelitian menggunakan metode penelitian kuantitatif. Perbedaan penelitian terdahulu dan penelitian ini yang pertama adalah pada variabel terikat (y) yang digunakan berbeda, pada penelitian terdahulu variabel terikat (y) adalah untuk mengetahui kreativitas remaja Surabaya sedangkan pada penelitian ini variabel terikat (y) yang digunakan adalah mencari tahu pengaruh kecanduan dalam penggunaan Aplikasi Tiktok. Kedua, objek dan tempat yang dilakukan berbeda, pada penelitian pertama dilakukan pada remaja Surabaya sedangkan pada penelitian ini dilakukan pada Mahasiswa Univeristas Singaperbangsa Karawang, Angkatan 2018-2019.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh antara intensitas Aplikasi TikTok terhadap perilaku kecanduan pada mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2018-2019 Universitas Singaperbangsa Karawang. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh antara isi konten Aplikasi TikTok terhadap perilaku kecanduan pada mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2018-2019 Universitas Singaperbangsa Karawang. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh antara daya tarik penggunaan Aplikasi TikTok terhadap perilaku kecanduan pada mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2018-2019 Universitas Singaperbangsa Karawang.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan kuantitatif dan lebih banyak menggunakan metode pengumpulan data, seperti angket, wawancara, angket, focus group discussion, analisis isi kuantitatif, dokumentasi, teknik visualisasi, dan sebagainya tergantung pada objek penelitian mana yang sedang diteliti.

Menurut (Sugiyono, 2017) terdapat dua hal utama yang memengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data. Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber dan berbagai cara. Bila dilihat dari berbagai cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan ketiganya (Bungin, 2009). Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah:

1.    Angket atau kuesioner

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan lisan atau tertulis pada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2017). Responden dalam penelitian adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang angkatan 2018-2019 yang memiliki aplikasi TikTok.

2.    Kepustakaan

Mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan melalui buku-buku dan sumber-sumber tertulis lainnya yang relevan dengan obyek yang diteliti.

Berdasarkan penelitian ini, peneliti menggunakan teknik Nonprobality Sampling yang dikemukakan oleh (Sugiyono, 2017). Nonprobality Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini, peneliti menggunakan sensus atau sampling total. Sampling total adalah teknik pengambilan sampel di mana seluruh anggota populasi dijadikan sampel.

 

Hasil dan Pembahasan

A.  Hasil Penelitian

1.    Identifikasi Responden

Penelitian ini telah disebarkan kuesioner kepada mahasiswa dan mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang. Identifikasi responden yang akan disajikan berikut ini digambarkan berdasarkan jenis kelamin dan angkatan untuk mengetahui bagaimana keadaan responden yang akan diteliti di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang angkatan 2018-2019.

 

Tabel 1

Identifikasi Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis_Kelamin

Frequency

Percent

Perempuan

53

81,5

Laki-Laki

12

18,5

Total

65

100,0

Sumber: Data diolah peneliti

 

Berdasarkan tabel 1 diketahui dari seluruh jumlah responden yang mengakses dan menggunakan aplikasi TikTok, responden perempuan lebih banyak dari pada laki-laki yaitu sebanyak 53 Mahasiswi (81,5%) dan responden mahasiswa sebanyak 12 (18,5%).

 

Tabel 2

Identifikasi Responden Berdasarkan Angkatan

Angkatan

Frequency

Percent

2019

32

49,2

2018

33

50,8

Total

65

100,0

Sumber: Data diolah peneliti

 

Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa seluruh responden yang terbanyak mengisi kuesioner terdapat pada angkatan 2018 dengan 32 responden (50,8%) dan angkatan 2019 dengan 32 responden (49,2%).

2.    Analisis Sub Variabel Intensitas (X1)

Analisis deskripsi variabel penelitian dilakukan untuk mengetahui sebaran nilai dari variabel-variabel penelitian. Hal-hal yang akan dikaji dalam membahas deskripsi variabel penelitian adalah banyaknya responden pada tiap-tiap kategori penilaian. Berikut hasil analisis dari sub variabel intensitas yang memuat delapan variasi pertanyaan:

 

Tabel 3

Tanggapan Responden Pernyataan Tanggapan Responden Pernyataan

Pertanyaan

Jawaban Responden

Frequency

Percent

Saya sering membuka aplikasi TikTok pada ponsel saya

SANGAT SETUJU

12

18,5

SETUJU

18

27,7

KURANG SETUJU

23

35,4

TIDAK SETUJU

5

7,7

SANGAT TIDAK SETUJU

7

10,8

Total

65

100,0

Sumber: Data diolah peneliti

 

Data tabel 3 menunjukkan bahwa jumlah responden yang menjawab sangat setuju terhadap pernyataan tentang saya sering membuka aplikasi TikTok pada ponsel saya adalah sebanyak 12 orang (18,5%), jumlah responden yang menjawab setuju terhadap pernyataan tentang Saya Sering membuka aplikasi TikTok pada ponsel saya adalah sebanyak 18 orang (27,7%), jumlah responden yang menjawab kurang setuju terhadap pernyataan tentang saya sering membuka aplikasi TikTok pada ponsel saya adalah sebanyak 23 orang (35,4%), sedangkan yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju berjumlah 5 dan 7 orang dengan persentase 7,7% dan 10,8%.

 

3.    Analisis Sub Variabel Isi Konten (X2)

Analisis deskripsi variabel penelitian dilakukan untuk mengetahui sebaran nilai dari variabel-variabel penelitian. Hal-hal yang akan dikaji dalam membahas deskripsi variabel penelitian adalah banyaknya responden pada tiap-tiap kategori penilaian. Berikut hasil analisis dari sub variabel isi konten yang memuat sepuluh variasi pertanyaan:

 

Tabel 4

Tanggapan Responden Pernyataan Video dalam Aplikasi TikTok Memberikan Informasi Bagi Pengguna

Pertanyaan

Jawaban Responden

Frequency

Percent

Video dalam aplikasi TikTok memberikan informasi bagi pengguna

SANGAT SETUJU

12

18,5

SETUJU

24

36,9

KURANG SETUJU

20

30,8

TIDAK SETUJU

5

7,7

SANGAT TIDAK SETUJU

4

6,2

Total

65

100,0

Sumber: Data diolah peneliti

 

Data tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah responden yang menjawab sangat setuju terhadap pernyataan tentang video dalam aplikasi TikTok memberikan informasi bagi pengguna adalah sebanyak 12 orang (18,5%), jumlah responden yang menjawab setuju terhadap pernyataan video dalam aplikasi TikTok memberikan informasi bagi pengguna  adalah sebanyak 24 orang (36,9%), jumlah responden yang menjawab kurang setuju terhadap pernyataan tentang video dalam aplikasi TikTok memberikan informasi bagi pengguna adalah sebanyak 20 orang (30,8%), sedangkan yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju berjumlah 5 dan 4 orang dengan persentase 7,7% dan 6,2%.

4.    Analisis Sub Variabel Daya Tarik (X3)

Analisis deskripsi variabel penelitian dilakukan untuk mengetahui sebaran nilai dari variabel-variabel penelitian. Hal-hal yang akan dikaji dalam membahas deskripsi variabel penelitian adalah banyaknya responden pada tiap-tiap kategori penilaian. Berikut hasil analisis dari sub variabel daya tarik yang memuat tujuh variasi pertanyaan.

Tabel 5

Tanggapan Responden Pernyataan Musik di dalam Aplikasi TikTok Sangat Menarik

Pertanyaan

Jawaban Responden

Frequency

Percent

Musik didalam aplikasi TikTok sangat menarik

SANGAT SETUJU

24

36,9

SETUJU

27

41,5

KURANG SETUJU

12

18,5

TIDAK SETUJU

2

3,1

Total

65

100,0

Sumber: Data diolah peneliti

Data diatas menunjukkan bahwa jumlah responden yang menjawab sangat setuju terhadap pernyataan tentang Musik didalam aplikasi TikTok sangat menarik adalah sebanyak 24 orang (36,9%), jumlah responden yang menjawab setuju terhadap Musik didalam aplikasi TikTok sangat menarik adalah sebanyak 27 orang (41,5%), jumlah responden yang menjawab kurang setuju Musik didalam aplikasi TikTok sangat menarik adalah sebanyak 12 orang (18,5%), sedangkan yang menjawab tidak setuju berjumlah 2 orang dengan persentase 3,1%.

5.    Analisis Variabel Perilaku Kecanduan Mahasiswa (Y)

Analisis deskripsi variabel penelitian dilakukan untuk mengetahui sebaran nilai dari variabel-variabel penelitian. Hal-hal yang akan dikaji dalam membahas deskripsi variabel penelitian adalah banyaknya responden pada tiap-tiap kategori penilaian. Berikut hasil analisis dari variabel perilaku kecanduan mahasiswa yang memuat sepuluh variasi pertanyaan:

 

Tabel 6

Tanggapan Responden Pernyataan setelah Mengakses Aplikasi TikTok Pengguna Merasa Ingin Terus Mengakses dan Melihat-Lihat Video didalam Aplikasi TikTok

Pertanyaan

Jawaban Responden

Frequency

Percent

Setelah mengakses aplikasi TikTok pengguna merasa ingin terus mengakses dan melihat-lihat video didalam aplikasi TikTok

SANGAT SETUJU

15

23,1

SETUJU

18

27,7

KURANG SETUJU

18

27,7

TIDAK SETUJU

7

10,8

SANGAT TIDAK SETUJU

7

10,8

Total

65

100,0

Sumber: Data diolah peneliti

 

Data Tabel 6 menunjukkan bahwa jumlah responden yang menjawab sangat setuju terhadap pernyataan tentang setelah mengakses aplikasi TikTok pengguna merasa ingin terus mengakses dan melihat-lihat video didalam aplikasi TikTok  adalah sebanyak 15 orang (23,1%), jumlah responden yang menjawab setuju terhadap Setelah mengakses aplikasi TikTok pengguna merasa ingin terus mengakses dan melihat-lihat video didalam aplikasi TikTok  adalah sebanyak 18 orang (27,7%), jumlah responden yang menjawab kurang setuju Setelah mengakses aplikasi TikTok pengguna merasa ingin terus mengakses dan melihat-lihat video didalam aplikasi TikTok  adalah sebanyak 18 orang (27,7%),  sedangkan yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju berjumlah 7 dan 7 orang dengan persentase 10,8% dan 10,8%.

6.    Uji Asumsi Klasik

a.    Uji Normalitas

Menurut Singgih Susanto dalam (Janie, 2012) mengatakan bahwa uji normalitas data menggunakan statistik SPSS Kolmograv Smirnov dengan dasar pengambilan keputusan bisa dilakukan probabilitas (asymptotic significancy) lebih besar dari 0,05 maka data terdistribusi normal.

Tabel 7

Uji Normalitas

 

 

Unstandardized Residual

N

 

65

Normal Parametersa,b

Mean

0,0000000

 

Std. Deviation

5,42204384

Most Extreme Differences

Absolute

0,078

 

Positive

0,078

 

Negative

-0,070

Test Statistic

 

0,078

Asymp. Sig. (2-tailed)

 

0.797

Sumber: Data diolah peneliti

 

Berdasarkan tabe1 7, hasil Output SPSS 22 dapat dilihat bahwa hasil uji normalitas menyatakan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0.797 > 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat dinyatakan data yang digunakan dalam penelitian ini telah berdistribusi normal.

b.    Uji Multikoliniaritas

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen (Ghozali, 2017). Multikoliniaritas dapat dilihat dari nilai Tolerance dan nilai Variance Inflation Factor (VIF). Jika nilai Tolerance > 0,1 atau sama dengan nilai 91 VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikoliniaritas antar variabel independen dalam model regresi pada penelitian ini.

 

Tabel 8

Uji Multikoliniaritas

Model

 

Collinearity Statistics

 

 

Tolerance

VIF

1

(Constant)

 

 

 

X1 Intensitas

0,633

1,579

 

X2 Isi konten

0,442

2,265

 

X3 Daya Tarik

0,428

2,335

Sumber: Data diolah peneliti

 

Berdasarkan Tabel 8, hasil Output SPSS 22 dapat dilihat bahwa intensitas (X1) nilai VIF 1,579 < 10, Isi konten (X2) nilai VIF 2,265 < 10, dan daya tarik (X3) nilai VIF 2,335 < 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada gejala multikolinearitas antar variabel independen.

c.    Uji Heteroskedastisitas

Heterostisiditas merupakan indikasi pada varian antar residual tidak homogen digunakan uji Rank Spearman. Apabila ada koefisien korelasi yang signifikan pada tingkat kekeliruan 5% mengindikasikan adanya heteroskedastisitas.

 

Tabel 9

Uji Heteroskedastisitas

 

X1

X2

X3

Y

ABS_RES

Correlation Coefficient

-0,043

0,052

0,066

-0,035

1,000

 

Sig. (2-tailed)

0,736

0,681

0,602

0,780

 

N

65

65

65

65

65

Sumber: Data diolah peneliti

 

Berdasarkan Tabel 9, hasil Output SPSS 22 dapat dilihat bahwa intensitas (X1) Sig. (2-tailed) 0,736 > 0,05, isi konten (X2) Sig. (2-tailed) 0,681 > 0,05, daya tarik (X3)Sig. (2-tailed) 0,602 > 0,05, dan perilaku kecanduan Y Sig. (2-tailed) 0,780 > 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada gejala Heteroskedastisitas.

3.      Analisis Regresi Linier Berganda

a.    Persamaan Regresi

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh hubungan variabel intensitas (X1), isi konten (X2), dan daya tarik (X3), terhadap variabel dependen perilaku kecanduan (Y).

Tabel 10

Analisis Linier Berganda

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

2,563

4,044

 

X1

,471

,102

,476

X2

-,127

,142

-,111

X3

,748

,198

,474

Sumber: Data diolah peneliti

 

Berdasarkan tabel 10 hasil Output SPSS 22, maka didapatkan tabel regresi linier berganda sebagai berikut:

 

𝑌 = 2,563+ 0,471𝑋1 - 0,127𝑋2 + 0,748𝑋3

 

Persamaan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.    Koefisien X1 = 0,471

Sub variabel intensitas X1 adalah bernilai positif, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi Intensitas penggunaan aplikasi maka semakin tinggi pula perilaku kecanduan.

b.    Koefisien X2= - 0,127

Sub variabel isi konten X2 adalah bernilai negatif, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi isi konten maka semakin berkurang pula perilaku kecanduan.

c.    Koefisien X3 = 0,748

Sub variabel daya tarik X3 adalah bernilai positif, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi daya tarik maka semakin tinggi pula perilaku kecanduan.

b.    Uji F (Simultan)

Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (terikat). Hipotesis nol (H0) yang hendak diuji adalah apakah semua parameter dalam model sama dengan nol (Ghozali, 2013)). Dari hasil Uji F software SPSS, maka didapatkan uji f seperti yang terdapat pada tabel berikut:

 

Tabel 11

Uji F (simultan)

Model

F

Sig.

1

Regression

28,880

.000b

Sumber: Data diolah peneliti

 

Berdasarkan tabel 11, hasil Output SPSS 22 diatas diketahui nilai signifikan untuk pengaruh intensitas (X1), isi konten (X2), daya tarik (X3) secara simultan terhadap perilaku kecanduan (Y) adalah F hitung 28,880 > 2,75 F tabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, berarti terdapat pengaruh intensitas  (X1), isi konten (X2), daya tarik (X3) secara simultan terhadap perilaku kecanduan (Y).

c.    Uji T (Parsial)

 

Tabel 12

Uji T (Parsial)

Model

T

Sig.

1

(Constant)

,634

,529

X1

4,603

,000

X2

-,894

,375

X3

3,770

,000

Sumber: Data diolah peneliti

 

a.    Variabel Intensitas ( X1)

1)   Ho : b1 < 0 : Intensitas tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan.

2)   Ha : b1 > 0 : Intensitas berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan.

Hasil pengujian dengan tabel hasil Output SPSS 22 diperoleh untuk variabel X1 (intensitas) diperoleh nilai t hitung = 4,60 dengan tingkat T tabel 4,60 > 1,99 yang berarti Ha diterima dan H0 ditolak. Dengan demikian, hipotesis pertama diterima yang berarti intensitas berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan.

 

b.    Variabel Isi konten (X2)

1.    Ho : b1 < 0 : Isi konten tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan

2.    Ha : b1 > 0 : Isi konten berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan

Hasil pengujian dengan tabel hasil Output SPSS 22 diperoleh untuk variabel X2 (isi konten) diperoleh nilai t hitung = -0,89 dengan tingkat Ttabel -0,89 < 1,99 yang berarti Ha ditolak dan H0 diterima. Dengan demikian, hipotesis pertama ditolak yang berarti isi konten tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan.

c.    Variabel Daya tarik (X3)

1.    Ho : b1 < 0 : Daya tarik tidak berpengaruh signifikan terhadap Perilaku kecanduan

2.    Ha : b1 > 0 : Daya tarik berpengaruh signifikan terhadap Perilaku kecanduan

Hasil pengujian dengan tabel hasil Output SPSS 22 diperoleh untuk variabel X3 (daya tarik) diperoleh nilai t hitung = 3,77 dengan tingkat Ttabel 3,77 > 1,99 yang berarti Ha diterima dan H0 ditolak. Dengan demikian, hipotesis pertama diterima yang berarti daya tarik berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan.

d.     Koefisien Determinasi Ganda (R2)

Nilai yang dilakukan pada penelitian ini adalah menggunakan nilai R2 (Adjusted R Square), dikarenakan nilai tersebut dapat naik dan turun apabila satu variabel bebas ditambahkan kedalam model yang diuji dan dapat dilihat model nya seperti berikut:

 

Tabel 13

Koefisien Determinasi Ganda

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.766a

0,587

0,567

5,554

Sumber: Data diolah peneliti

 

Tabel hasil Output SPSS 22 diatas dapat dijelaskan bahwa nilai R2 Adjusted R Square sebesar 0,567. Hal ini dapat diartikan bahwa variabel independen (intensitas, isi konten, dan daya tarik) dapat menjelaskan variabel dependen (perilaku kecanduan) sebesar 56,7%, sedangkan sisa persentase nya adalah diterangkan oleh faktor lain yang tidak diteliti.

 

 

 

 

 

 

a.    Koefisien Determinasi Parsial (r2)

Tabel 14

Koefisien Determinasi Parsial

Model

Correlations

Zero-order

Partial

1

(Constant)

 

 

 

X1

,686

,508

,258

X2

,498

-,114

,013

X3

,666

,435

,189

Sumber: Data diolah peneliti

 

Berdasarkan tabel 14 hasil Output SPSS 22 diatas, diketahui besarnya pengaruh intensitas terhadap tingkat perilaku kecanduan adalah 0,5082 = 25,8%. Besarnya pengaruh isi konten terhadap tingkat perilaku kecanduan adalah -0,1142 =1,3%. Besarnya daya tarik terhadap tingkat perilaku kecanduan adalah 0,4352 =18,9%.

B.  Pembahasan

Setelah menyebarkan kuesioner kepada 65 responden, lalu mengkaji dan menganalisis data yang didapat. Peneliti mendapatkan hasil bahwa penggunaan aplikasi TikTok berpengaruh terhadap perilaku kecanduan pada mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang tahun angkatan 2018-2019. Dari uji regresi linear berganda didapat persamaan sebagai berikut:

 

Y = 2, 653 + 0,471X1 + -0,127X2 + 0,748X3.

 

Persamaan tersebut dapat diperoleh pernyataan bahwa ketiga variabel yang merupakan variabel independent atau bebas dalam penelitian ini adalah bernilai positif terhadap perilaku kecanduan. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa secara bersamaan intensitas, isi pesan, dan daya tarik penggunaan aplikasi TikTok berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG. Besarnya pengaruh ketiga variabel terhadap perilaku kecanduan adalah 56,7%, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima yang berarti terdapat pengaruh intensitas (X1) , isi Konten (X2), daya  tarik (X3) secara simultan terhadap perilaku kacanduan (Y). Fakta tersebut menunjukkan variabel-variabel tersebut merupakan aspek yang sangat dominan dalam memengaruhi penggunaan aplikasi terhadap perilaku kecanduan mahasiswa.

Hasil penelitian menunjukkan intensitas penggunaan aplikasti TikTok secara signifikan terhadap perilaku kecanduan mahasiswa. Besarnya pengaruh intensitas penggunaan aplikasi TikTok terhadap perilaku kencaduan adalah 25,8%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa responden cukup aktif dalam mengakses aplikasi TikTok.

Hasil penelitian menunjukkan isi konten berpengaruh secara negatif atau tidak berpengaruh terhadap perilaku kecanduan mahasiswa. Besarnya pengaruh isi konten terhadap perilaku kecanduan mahasiswa adalah 1,3%, hal tersebut menunjukkan seberapa banyak isi konten didalam aplikasi TikTok tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan responden.

Hasil penelitian menunjukkan daya tarik berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kecanduaan mahasiswa. Besarnya pengaruh daya tarik terhadap perilaku kecanduan mahasiswa adalah 18,9%, hal tersebut menunjukkan bahwa daya tarik didalam aplikasi TikTok baik itu musik, efek kamera, video, dan aktris berpengaruh besar terhadap perilaku kecanduan responden dan pada variabel ini pernyataan kuesioner yang mendapatkan respon sangat baik adalah pada musik dan efek dalam aplikasi TikTok sangat menarik sehingga membuat responden terkesan.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa hasil pengujian hipotesis sub variable pertama, ditemukan bahwa intensitas berpengaruh signifikan terhadap tingkat perilaku kecanduan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Angkatan 2018-2019 Universitas Singaperbangsa Karawang. Sub variabel intensitas berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan mahasiswa karena nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari taraf 5% yaitu 0,000 < 0,05 dan juga Ttabel 4,603 > 1,99 dan ini bisa dilihat dari besarnya angka persentase koefisien determinasi parsial pada variabel ini yaitu 25,8%. Dengan demikian sub variabel intensitas penggunaan aplikasi TikTok berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dilihat bahwa intensitas penggunaan aplikasi TikTok adalah semakin baik intensitas penggunaan aplikasi TikTok, tentu akan semakin meningkatkan perilaku kecanduan. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis sub variabel kedua, ditemukan bahwa isi konten tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat perilaku kecanduan. Sub variabel isi konten tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan mahasiswa karena nilai signifikansi tersebut lebih besar dari taraf 5% yaitu 0,375 < 0,05 dan juga Ttabel-0,894 < 1,99 dan ini biasa dilihat dari kecilnya angka persentase koefisien determinasi parsial pada variabel ini, yaitu 1,3%, dengan demikian sub variabel isi konten berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan mahasiswa. Semakin baik isi konten aplikasi TikTok, tentu akan semakin menurunkan perilaku kecanduan. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis sub variabel ketiga, ditemukan bahwa daya tarik berpengaruh signifikan terhadap tingkat perilaku kecanduan. Sub variabel daya tarik berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan mahasiswa, karena nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari taraf 5% yaitu 0,000 < 0,05 dan juga Ttabel 3,770 > 1,99 dan ini bias dilihat dari besarnya angka persentase koefisien determinasi parsial pada variabel ini, yaitu 18,9%, dengan demikian sub variabel daya tarik berpengaruh signifikan terhadap perilaku kecanduan mahasiswa. Semakin baik daya tarik tentu akan semakin meningkatkan perilaku kecanduan. Berdasarkan uji yang telah dilakukan, peneliti mendapatkan kesimpulan bahwa ketika setiap variabel intensitas, isi konten, dan daya tarik disatukan maka ketiga variabel memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku kecanduan mahasiswa. Besarnya pengaruh ketiga variabel terhadap perilaku kecanduan yaitu F hitung 28,8880 > 2,75 F tabel sehingga disimpulkan bahwa Ha diterima yang berarti terdapat pengaruh intensitas (X1), isi konten (X2), daya tarik (X3) secara simultan terhadap perilaku kacanduan (Y). Fakta tersebut menunjukkan variabel-variabel tersebut merupakan aspek yang sangat dominan dalam memengaruhi penggunaan aplikasi TikTok terhadap perilaku kecanduan mahasiswa. Hal tersebut sesuai dengan aspek-aspek kecanduan yang telah dikemukakan oleh Young yang berpendapat bahwa pecandu internet akan menghabiskan waktu untuk online dengan menggunakan aplikasi komunikasi dan tidak dapat mengontrol penggunaannya saat online. Ningtyas juga mengungkapkan pecandu internet kebanyakan disebabkan oleh kepuasan yang mereka temukan di internet dan tak ditemukan didunia nyata. Internet telah membuat remaja kecanduan karena menawarkan berbagai fasilitas informasi, mainan dan hiburan yang membuat para remaja tak dapat lepas dari efek kecanduan tersebut. Hal ini juga berkaitan dengan teori determinasi teknologi dimana teknologi membentuk individu dala berpikir, berperilaku di masyarakat dan teknologi mengarahkan manusia untuk bergerak dari satu abad menuju abad teknologi selanjutnya. Penggunaan teknologi yang berubah seiring waktu memaksa manusia atau penggunanya untuk ikut berubah mengikuti cara dari bagaimana teknologi itu berkerja, sehingga teknologi yang tecipta akan selalu menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru bagi penggunanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Agustriana, Rizky. (2019). Pengaruh Penggunaan Media Elektronik Dan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Karakter Anak. Online Thesis, Teknik Sipil. Tasikamalaya: Universitas Siliwangi. Google Scholar

 

Atikah, Salsabilla. (2018). Hubungan Kebutuhan Relatedness Dengan Kecanduan Media Sosial Pada Remaja. Tesis, Fakultas Psikologi. Riau: Univeristas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim. Google Scholar

 

Bungin, Burhan. (2009). Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Google Scholar

 

CNN. (2019). Kalahkan Instagram, TikTok Diunduh 1,5 Milyar Pengguna. CNN Indonesia. Retrieved From Https://Www.Cnnindonesia.Com/Teknologi/20191119104916-185 449598/Kalahkan-Instagram-TikTok-Diunduh-15-Miliar-Pengguna. Google Scholar

 

Damar, A. M. (2019). Jumlah Pengguna Instagram Dan Facebook Indonesia Terbesar Ke-4 Di Dunia. Retrieved From Liputan6.Com Website: Https://Www.Liputan6.Com/Tekno/Read/3998624/Jumlah-Pengguna-Instagram-Dan-Facebook-Indonesia-Terbesar-Ke-4-Di-Dunia. Google Scholar

 

Ferdiansyah, M. (2020). Jumlah Unduhan TikTok Kalahkan Facebook Dan Instagram. Retrieved From Oketechno Website: Https://Techno.Okezone.Com/Read/2020/01/16/207/2153835/Jumlah-Unduhan-TikTok-Kalahkan-Facebook-. Google Scholar

 

Ghozali, Imam. (2017). Pengaruh Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja Dan Kemampuan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjar. Jurnal Ilmiah Ekonomi Bisnis, 3(1), 130-137. Google Scholar

 

Hayati, Nurul. (2020). Bersaing Dengan Instgram Dan Youtube, Aplikasi TikTok Asal China Tak Hanya Video Receh. Retrieved From Serambinews.Com Website: Https://Aceh.Tribunnews.Com/2020/01/27/Bersaing-Dengan-Instagram-Dan-Youtube-Aplikasi-TikTok-Asal-China-Tak-Hanya-Video-Receh. Google Scholar

 

Hurlock, Kathryn, & Oldfield, Paul. (2015). Crusading And Pilgrimage In The Norman World. Manchester: Boydell & Brewer. Google Scholar

 

Janie, Dyah Nirmala Arum. (2012). Statistik Deskriptif & Regresi Linier Berganda Dengan SPSS. Edited by Ardiani Ika. Semarang: Semarang University Press. Google Scholar

 

Kaplan, Andreas M., & Haenlein, Michael. (2012). Social Media: Back To The Roots And Back To The Future. Journal Of Systems And Information Technology, 14(1), 101-104. Google Scholar

 

Mawardah, Mutia. (2019). Adiksi Internet Pada Masa Dewasa Awal. Jurnal Ilmiah Psyche, 13(2), 108–119. Google Scholar

 

Prianbodo, Bagus. (2018). Pengaruh “TikTok” Terhadap Kreativitas Remaja Surabaya. Surabaya: Stikosa-Aws. Google Scholar

 

Santrock, John W. (2011). Masa Perkembangan Anak. Jakarta: Salemba Humanika Google Scholar

 

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian. Bandung: Alpabeta. Google Scholar

 

Surahman, Sigit. (2016). Determinisme Teknologi Komunikasi Dan Globalisasi Media Terhadap Seni Budaya Indonesia. Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi, 12(1), 31–42. Google Scholar

 

Tristan, Michael, Sadono, Teguh Priyo, & Marta, Rustono Farady. (2019). Disintermediasi Industri Musik Melalui Konstruksi Pengguna Akhir Most Viral Project. Ettisal: Journal Of Communication, 4(1), 33–42. Google Scholar

 

Tyas, Dyah Listianing, Budiyanto, A. Djoko, & Santoso, Alb Joko. (2015). Pengaruh Kekuatan Media Sosial Dalam Pengembangan Kesenjangan Digital. Scientific Journal Of Informatics, 2(2), 147–154. Google Scholar

 

 

Copyright holder:

Mela Rahmayani, Muhamad Ramdhani, Fardiah Oktariani Lubis (2021)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: