Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN: 2548-1398

Vol. 6, No. 8, Agustus 2021

 

PENGARUH PROGRAM KURASSAKI TERHADAP PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) SISWA PADA SEKOLAH PILOT PROJECT BAPPEDA KABUPATEN TANGERANG

 

Yuni Susilowati, Abdul Santoso

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Yatsi Tangerang, Indonesia

Email: yunisusilo07@gmail.com, santoso@smpn14tangerang.sch.id

 

Abstrak

Pengamatan pada beberapa lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat di Kabupaten Tangerang dimana permasalahan tentang sampah belum menemukan solusi yang tepat. Lingkungan sekolah menjadi salah satu agen penghasil sampah yang besar setiap hari. Perilaku masyarakat maupun warga sekolah terhadap sampah manjadi salah satu faktor terciptnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Angka kejadian penyakit yang disebabkan oleh PHBS masih tinggi. Penyakit yang paling banyak diderita terjadi karena kurangnya pemahaman PHBS terutama yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan, hal ini terjadi karena PHBS di Indonesia baru mencapai presentase 56,58%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adakah pengaruh program Kurassaki (Kurangi Sampah Sekolah Kita) terhadap PHBS siswa pada Sekolah Pilot Project Bappeda Kabupaten Tangerang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian Quasi-eksperimen. teknik pengambilan sampel menggunakan Stratified Random Sampling. Sampel pada penelitian ini sebanyak 175 responden pada kelompok eksperimen dan 183 responden pada kelompok control. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Berdasarkan uji Mann-Whitney didapatkan hasil p-value 0,000<0,05 maka dapat disimpulkan bahwa “H1 diterima” yang berarti ada Pengaruh program kurassaki terhadap PHBS siswa pada sekolah Pilot Project Bappeda Kabupaten Tangerang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan program Kurassaki di sekolah membawa pengaruh positif bagi PHBS siswa dan membuat siswa lebih peduli terhadap lingkungan.

 

Kata Kunci: sampah; PHBS; kurassaki; sekolah

 

Abstract

Observations on several school and community environments in Tangerang Regency where the problem of waste has not found the right solution. The school environment becomes one of the biggest waste-producing agents every day. The behavior of the community and school members towards waste is one of the factors in creating a Clean and Healthy Behavior (PHBS). The incidence of diseases caused by PHBS is still high. The most common illnesses occur because of a lack of understanding of PHBS, especially those related to environmental cleanliness, this happens because PHBS in Indonesia has only reached a percentage of 56.58% (Ministry of Health, 2015). The purpose of this study was to determine whether the Kurassaki (Reducing Our School Waste) program had an effect on PHBS students at the Bappeda Pilot Project School, Tangerang Regency. This type of research is a quantitative study with a Quasi-experimental research design. The sampling technique uses stratified random sampling. The sample in this study were 175 respondents in the experimental group and 183 respondents in the control group. This research instrument using a questionnaire. Based on the Mann-Whitney test, the p-value is 0.000 <0.05, it can be concluded that "H1 is accepted", which means that there is an influence of the Kurassaki program on student PHBS at the Bappeda Pilot Project school in Tangerang Regency. Based on the research results, it can be concluded that the implementation of the Kurassaki program in schools has a positive effect on PHBS students and makes students more concerned about the environment.

 

Keywords: waste; PHBS; kurassaki; school

 

 

Pendahuluan

Salah satu upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Kementerian Kesehatan melalui Pusat Promosi Kesehatan menerapkan program perilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dapat dilakukan diberbagai tatanan masyarakat, seperti di tatanan rumah tangga, sekolah, tempat kerja dan tempat – tempat umum (Nugraheni & Indarjo, 2018). Secara Nasional Presentasi PHBS tahun 2014 sebesar 56,58% (Kemenkes RI, 2015). Derajat kesehatan masyarakat dapat tercapai jika prentasi PHBS nya baik, secara langsung PHBS baik akan menimbulkan tatanan hidup yang baik dan sehat. berdasarkan pengamatan pada lingkungan beberapa sekolah beserta lingkungan di Kabupaten Tangerang dimana permasalahan tentang sampah masih sangat memprihatinkan. Lingkungan masyarakat dan sekolah menjadi agen penyumbang yang besar dalam menghasilkan sampah setiap harinya. Sampah yang dihasilkan sekolah dalam satu hari mancapai 10 kg, jenis sampah yang mendominasi adalah sampah plastic, Seperti yang kita ketahui bahwa sampah plastic merupakan sampah yang tidak akan terurai dalam tanah meskipun telah tertimbun lama. Tingginya sampah yang dihasilkan pada setiap instansi baik lingkungan pendidikan, rumah tangga, industry dan perkantoran berbanding terbalik dengan kepedulian masyarakat sekitar terhadap lingkungan,warga sekolah dan kelompok-kelompok lain di berbagai instansi,sehingga sampah menjadi masalah yang belum menemukan solusi yang tepat hingga saat ini. Sampah merupakan sumber masalah yang sampai saat ini belum terselesaikan dengan tuntas. Permasalahan tentang sampah tidak akan pernah menemukan solusi apabila kesadaran masyarakatnya masih rendah.

Perilaku masyarakat maupun warga sekolah terhadap sampah manjadi salah satu faktor Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) (Aulina & Astutik, 2018). Permasalahan sampah dan PHBS merupakan dua hal yang saling berkaitan, kepedulian masyarakat dan warga sekolah teutama peserta didik terhadap sampah menjadi tolak ukur bagaimana PHBS disuatu lingkungan (Wati & Ridlo, 2020). Apabila permasalahan ini tidak mendapatkan penanganan yang serius akan menimbulkan masalah yang lebih besar dikemudian hari. PHBS merupakan strategi dasar dalam ilmu kesehatan yang mana bertujuan untuk untuk membentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan proaktif untuk tindakan preventif (memelihara dan mencegah resiko terjadinya penyakit) serta berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang sehat (Putra, 2016).

Perilaku baik tidaknya PHBS dapat terlihat dari lingkungannya. Indikator yang mudah diamati adalah bagaimana anak memperlakukan sampah yang ada disekitar. Sampah merupakan sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Jannah, 2019). Sampah merupakan masalah yang dianggap penting oleh Indonesia, karena masih banyaknya sampah yang tidak dikelola dengan baik maupun kurangnya kesadaran manusia terhadap sampah (Kahfi, 2017). Buruknya pengelolaan sampah karena ada kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku yang ditampakkan. Data survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2013 menunjukkan bahwa pengetahuan penduduk dalam hal pencemaran udara adalah 80,57%, namun hanya sekitar 43,10% penduduk peduli sampah (Shinta, 2019).

PHBS sekolah merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktekkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat di lingkungan sekolah atas dasar kesadaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan yang sehat (Depkes RI, 2010). PHBS harus ditanamkan sejak dini agar bisa terbawa hingga dewasa. Usia anak sekolah masih tergolong muda sehingga membutuhkan bantuan dari orang sekitar lingkungan terdekat yaitu orang tua, guru dan teman – teman (Sari, Widjanarko, & Kusumawati, 2016). PHBS dapat diterapkan pada semua golongan masyarakat termasuk anak usia sekolah. Anak sekolah merupakan generasi penerus bangsa yang harus dijaga, ditingkatkan, dan dilindungi kesehatannya. Jumlah anak cukup besar, yaitu 30% dari jumlah penduduk Indonesia. Sekitar 73 juta orang merupakan masa keemasan untuk menanamkan nilai – nilai PHBS sehingga berpotensi sebagai agen perubahan untuk mempromosikan PHBS, baik dilingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat (Proverawati, Atikah dan Rahmawati, 2012).

Sejak tahun 2012 pemerintah Kabupaten Tangerang mulai memikirkan konsep bagaimana caranya agar produksi sampah dapat menuurun. Karena sampai kapanpun sampah akan terus ada dan menjadi masalah jika kita tidak peduli, namun pemerintah Kabupaten Tangerang memikirkan konsep dan teknis bagaimana agar hal tersebut dapat diatasi. Setelah bebarapa program yang diterapkan oleh Badan Pengawas Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang berhasil diterapkan salah satunya adalah program Sanisek (air limbah) yang menciptakan toilet yang sehat, bersih dan nyaman. Pemerintah Kabupaten Tangerang bergerak ke sector sampah dan lahirlah program Kurassaki (Kurangi Sampah Sekolah Kita) Program ini merupakan sebuah inovasi di lingkungan pendidikan yang mengedukasi siswa dan seluruh warga sekolah bagaimana perilaku kita terhadap sampah (Putriana, Fitriawan, & Rosyidah, 2021). Program ini memiliki slogan “Buanglah Sampah Dengan Tempatnya”. Menurut Pokja AMPL Bappeda Kabupaten Tangerang Tahun 2019, Program kurassaki merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk merubah pola pikir dan budaya masyarakat yang selama ini acuh terhadap sampah, agar mulai memikirkan permasalahan sampah tersebut.

Program Kurassaki timbul diantaranya karena Sampah belum terkelola dengan baik ditingkat masyarakat, akses layanan sampah di Kabupaten Tangerang baru mencapai 27%, Peraturan teknis terkait pengelolaan sampah, belum disusun sebagai acuan program; GEMARIPAH sebagai salah satu program unggulan untuk menanggulangi sampah belum efektif di tengah – tengah masyarakat; Keterbatasan pengelolaan (tenaga, armada, anggaran, dll) oleh SKPD yang seharusnya bertanggung jawab; Menanamkan kebiasaan PHBS ; Memulai dari tingkat paling dasar; Fakta bahwa sampah dilevel sekolah (Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah) pengelolannya belum ramah; Perlu keberpihakan dan keterlibatan semua pihak dalam hal pengelolaan sampah di Kabupaten Tangerang termasuk di sekolah sekolah; Menciptakan agen PHBS ditingkat masyarakat; Keberhasilan program SANISEK (air limbah) yang sangat memungkinkan pola atau metodenya untuk direplikasikan untuk program lain seperti pengolaan sampah.

Sekolah yang menjadi pilot project program ini tidak diperkenankan menyediakan tempat sampah di lingkungan sekolahnya, kantin sekolah dilarang menyediakan plastic dan siswa dihimbau untuk membawa bekal serta wadah untuk membeli makanan dan minuman di sekolah. Program Kurassaki merupakan program pelengkap dari program unggulan sebelumnya yang juga focus terhadap indicator-indikator peningkatan PHBS.

Apabila program ini dilaksanakan dengan optimal oleh seluruh warga sekolah maka bukan sebuah mimpi untuk menciptakan genarsi yang peduli lingkungan terutama rasa peduli terhadap sampah sebagai masalah. Generasi yang peduli lingkungan maka akan memiliki PHBS yang baik. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh program Kurassaki terhadap PHBS siswa pada sekolah pilot project Bappeda Kabupaten Tangerang? Hipotesis penelitian ini bahwa program ini akan memberikan pengaruh terhadap PHBS siswa baik disekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Berdasarkan pemaparan di atas peneiliti ingin mengetahui pengaruh Program Kurassaki terhadap PHBS siswa pada sekolah pilot project Bappeda Kabupaten Tangerang.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif (Creswell & Creswell, 2017). Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain penelitian yang dipilih adalah Post-test Only Control Group Design. Dalam desain ini baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol dibandingkan. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang melaksanakan program Kurassaki sedangkan kelompok kontrol tidak melaksanakan. Lokasi penelitian ini dilakukan di SDN Kaduagung 2 Tigaraksa, SDN Kosambi 1 Sukadiri dan SDN Mekar Jaya (kelompok eksperimen) dan SDN Serdang kulon dan SDN Gintung 2 Sukadiri (kelompok control). Sampel dalam penelitian ini menggunakan stratified random sampling, dimana sampel dalam penelitian ini memiliki jenjang kelas yang berbeda. Kelompok eksperimen dalam penelitian ini sebanyak 175 responden dari populasi sejumlah 312 responden kelas 4 dan 5 sekolah dasar pada sekolah pilot project, dengan jumlah masing-masing strata kelas yaitu kelas 4 (empat) 87 responden dan kelas 5 (lima) 88 responden, sedangkan pada kelompok kontrol sampel 183 responden dari 337 responden dengan masing-masing strata kelas yaitu kelas 4 (empat) 84 responden dan kelas 5 (lima) 99 responden. Penelitian ini menggunakan dua kuisioner variable PHBS dan Kurassaki yang di berikan kepada responden melalui metode daring dan tatap muka langsung bagi siswa dengan keterbatasan akses daring. Penelitian ini akan mencari jawaban atas sebuah asumsi adanya pengaruh Program Kurassaki terhadap PHBS siswa pada sekolah pilot project Bappeda Kabupaten Tangerang. Hasil tingkat PHBS responden yang diperoleh melalui kuisioner dilakukan analisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney. Penggunaan Uji Mann-Whitney karena data pada penelitian ini tidak berdistribusi normal, Uji Mann-Whitney merupakan salah satu uji statistic non parametric yang bertujuan untuk mencari perbedaan nilai rerata 2 kelompok yang tidak berpasangan. Penelitian ini dikatakan berpengaruh jika p value < 0.05, yang didapatkan dari hasil pengolahan data menggunakan SPSS.

 

Hasil dan Pembahasan

A.    Hasil Penelitian

  1. Analisis Univariat

Berikut adalah hasil penelitian dari variable Kurassaki dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang didaptkan melalui penyebaran Kuisioner

 

Tabel 1

Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Program Kurassaki di Sekolah Pilot Project

 

Pelaksanaan

Sekolah Pilot Project

 

Kurassaki

N

(%)

 

 

 

 

 

Optimal

175

100

 

Tidak Optimal

0

0

 

Total

175

100

 

Berdasarkan table 1 di atas didapatkan hasil bahwa seluruh responden 175 responden (100%) menerapkan program Kurassaki secara optimal.

 

Tabel 2

Distribusi frekuensi tingkat PHBS

 

 

Eksperimen

 

Kontrol

 

PHBS

 

 

 

 

 

 

N

(%)

N

(%)

 

 

 

 

 

 

 

Baik

107

61.14

45

24.59

 

 

 

 

 

 

 

Cukup

68

38.86

76

41.53

 

Kurang

0

0

62

33.88

 

Total

175

100

183

100

 

Berdasarkan Tabel 2 di atas didapatkan hasil tingkat PHBS pada kelompok eksperimen dengan 107 responden (61.14%) berkategori baik, 68 responden (38.86 %) berkategori cukup. Sedangkan pada kelompok control dengan 45 responden (24.59%) berketegori baik, 76 responden (41.53%) berkategori cukup dan 62 responden (33.88%) berkategori cukup.

  1. Analisis Bivariat

Untuk mengetahui pengaruh program Kurassaki terhadap PHBS siswa pada sekolah pilot project Bappeda Kabupaten Tangerang maka dilakukan analis terhadap dua kelompok. Kelompok eksperimen sebagai kelompok sekolah pilot project dan kelompok control sebagai kelompok sekolah nonpilot project Bappeda Kabupaten Tangerang. Analisi ini menggunakan Uji Mann-Whitney. Uji signifikan menggunakan batas kemaknaan Ialpha (0.05). Hasil data tersebut sebagai berikut:

 

Tabel 3

Pengaruh program Kurassaki terhadap PHBS siswa pada sekolah Pilot Project Bappeda Kabupaten Tangerang

 

 

 

 

PHBS

 

 

 

Total

P Value

Kelompok

 

Baik

 

Cukup

 

Kurang

 

 

 

 

 

 

 

 

N

%

N

%

N

%

N

%

 

Eksperimen

107

61.14

68

38.86

0

0

175

100

0

Kontrol

45

24.59

76

41.53

62

33.88

183

100

 

 

Berdasarkan table 5 tingkat PHBS pada sekolah pilot project program Kurassaki, dari 175 siswa sebanyak 107 siswa (61.14%) kategori baik, 68 rsiswa (38.86 %) kategori cukup dan tidak ada yang berkategori kurang. Sedangkan pada sekolah non pilot project program Kurassaki didapatkan hasil dari 183 siswa sebanyak 45 rsiswa (24.59%) kategori baik, 76 rsiswa (41.53 %) kategori cukup dan 62 siswa (33.88 %) kategori cukup. Berdasarkan Uji Mann Whitney bahwa p-value = 0.000 < 0.05 yang artinya H1 diterima atau terdapat pengaruh program Kurassaki terhadap PHBS siswa pada sekolah Pilot Project Bappeda Kabupaten Tangerang.

B.     Pembahasan

Penelitian ini menggunakan alat ukur kuisioner yang terdiri dari 2 bagian: bagian pertama adalah kuisioner Program Kurassaki untuk responden pada sekola

.53%), sedangkan responden yang memiliki PHBS nya buruk sebanyak 62 siswa (33.88%).

Berdasarkan tabel 3 di atas yang telah dianalisis untuk membandingkan rerata kedua kelompok tersebut menggunakan Uji Mann-Whitney diperoleh hasil secara statistik dan didapatkan nilai p-value 0,000 ≥ 0,05 maka dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan rerata sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima artinya ada pengaruh program Kurassaki (Kurangi Sampah Sekolah Kita) terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) siswa pada sekolah pilot project Bappeda Kabupaten Tangerang. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Devi Kurnia tahun 2019 dimana hasil p-value 0,497 ≥ 0,05 yang artinya H1 ditolak atau tidak ada pengaruh program Kurassaki Kurangi Sampah Sekolah Kita) terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) siswa pada sekolah pilot project Bappeda Kabupaten Tangerang.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan sebuah program dapat mempengaruhi subjek atau objek sasarannya. Pada penelitian program Kurassaki ini hasil menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan program Kurassaki terhadap PHBS siswa. Hal ini dapat terjadi karena bebrapa faktor diantaranya konsistensi yang tinggi yang dilakukan oleh sekolah dalam menerapkan program Kurassaki, siswa telah memiliki pengetahuan yang baik tentang PHBS ditambahkan dengan pembinaan program Kurassaki dan rasa kesadaran yang tinggi pada diri siswa untuk peduli terhadap lingkungan sudah tertanam.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian ini dengan melibatkan 5 sekolah, 3 diantaranya merupakan kelompok eksperiman dan 2 diantaranya kelompok kontrol dengan jumlah masing-masing kelompok adalah 175 responden dan 183 responden. Maka peneliti menyimpulkan penelitian ini sebagai berikut: 1). Pelaksanaan program kurassaki di sekolah pilot projectnya menunjukkan bahwa seluruh responden menerapkan program Kurassaki secara optimal. Hal ini dapat terjadi karena adanya konsistensi yang tinggi dari sekolah-sekolah tersebut dalam menerapkan program ini dan sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap lingkungan dan kesehatan. 2). Tingkat PHBS di sekolah pilot project program kurassaki didominasi oleh ketegori PHBS baik. Dan pada sekolah non pilot project program kurassaki didominasi oleh tingkat PHBS cukup dan terdapat 62 siswa dalam ketegori PHBS kurang. Hal ini dapat terjadi karena pada sekolah pilot project program kurassaki selalu dilakukan monitoring untuk menilai sejauh mana program tersebut diterapkan di masing-masing sekolah. Sedangkan pada sekolah non pilot project terdapat 62 siswa (33.88%) kategori PHBS buruk karena tidak adanya monitoring secara periodeik tentang program kurassaki sehingga menyebabkan tingkat PHBS siswa tidak dapat terkontrol dengan optimal. 3). Berdasarkan penjelasan point (b) dan hasil analisis statistic bahwa p-value 0.000 < 0.05 artinya ada pengaruh program kurassaki terhadap PHBS siswa di sekolah pilot project program Kurassaki Bappeda Kabupaten Tangerang.

 

BIBLIOGRAFI

 

Aulina, Choirun Nisak, & Astutik, Yuli. (2018). Peningkatan Kesehatan Anak Usia Dini dengan Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di TK Kecamatan Candi Sidoarjo. Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 50–58. Google Scholar

 

Creswell, John W., & Creswell, J. David. (2017). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage publications. Google Scholar

 

Depkes RI. (2010). Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. Google Scholar

 

Jannah, Miftahul. (2019). Pendidikan Kesehatan: Demosntrasi Terhadap Perilaku Siswa Dalam Membuang Sampah Pada Tempatnya. Nerspedia Journal, 1(2), 114–122. Google Scholar

 

Kahfi, Ashabul. (2017). Tinjauan terhadap pengelolaan sampah. Jurisprudentie: Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah Dan Hukum, 4(1), 12–25. Google Scholar

 

Kemenkes RI. (2015). Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS. Jakarta: Balitbang Kemenkes RI. Google Scholar

 

Nugraheni, Hermien, & Indarjo, Sofwan. (2018). Buku Ajar Promosi Kesehatan Berbasis Sekolah. Deepublish. Google Scholar

 

Proverawati, Atikah dan Rahmawati, Eni. (2012). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Nuha Medika.

 

Putra, Firman Yulian. (2016). Strategi promosi kesehatan dinas kesehatan kabupaten kutai kartanegara tentang pemahaman perilaku hidup bersih dan sehat (phbs) di puskesmas mangkurawang, eJournal Ilmu Komunikasi. E Journal Ilmu Komunikasi, 4(1), 74–87. Google Scholar

 

Putriana, Erlinda, Fitriawan, Fuad, & Rosyidah, Ais. (2021). Kurassaki. Basica: Journal of Arts and Science in Primary Education, 1(1), 72–83. Google Scholar

 

Sari, Nia Indriana, Widjanarko, Bagoes, & Kusumawati, Aditya. (2016). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Sebagai Upaya Untuk Pencegahan Penyakit Diare Pada Siswa Di Sd N Karangtowo Kecamatan Karangtengah Kabupaten Demak. Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip), 4(3), 1051–1058. Google Scholar

 

Shinta, Arundati. (2019). Penguatan pendidikan pro-lingkungan hidup di sekolah-sekolah untuk meningkatkan kepedulian generasi muda pada lingkungan hidup. Yogyakarta: BEST Media. Google Scholar

 

Wati, PDCA, & Ridlo, Ilham Akhsanu. (2020). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Masyarakat di Kelurahan Rangkah Kota Surabaya. Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education, 8(1), 47–58. Google Scholar

 

Copyright holder:

Yuni Susilowati, Abdul Santoso (2021)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: