Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

e-ISSN: 2548-1398

Vol. 6, No. 8, Agustus 2021

 

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS IV SDN KAPUK MUARA 03, JAKARTA UTARA

 

Lucyana Tri Indriani, Mubarak Ahmad

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta, Indonesia

Email: Lucyanatrindriani2@gmail.com, mubarak@uhamka.ac.id

 

Abstrak

Pola asuh itu sendiri sangat berpengaruh bagi perkembangan serta perilaku dan karakteristik anak. Pola asuh menjadi cara yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak sebagai suatu perwujudan rasa tanggung jawabnya kepada sang anak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan minat belajar siswa kelas IV SDN Kapuk Muara 03, Jakarta Utara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik pengumpulan data menggunakan angket dengan melibatkan siswa kelas IV G SDN Kapuk Muara 03, Jakarta Utara dengan jumlah siswa sebanyak 31 sebagai populasi dan sampel dari penelitian ini. Analisis data yang digunakan memakai uji linearitas, regresi linear sederhana, koefisien korelasi, koefisien determinasi dan uji F simultan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa: adanya hubungan antara pola asuh orang tua dengan minat belajar siswa, hal tersebut dilihat pada uji F hitung sebesar, 1791,4 > 4,17 dengan persentase sebesar 98% yang didominasi oleh pola asuh authoritative.

 

Kata Kunci: pola asuh; minat belajar; minat siswa

 

Abstract

The parenting pattern itself is very ten for as well as the situation and namak child. Parenting patterns become a way that parents can process the child in a manifestation of his sense of responsibility for the child. The purpose of this study is to know the relationship of parenting patterns with the interests of students studying grade IV SDN Kapuk Muara 03, North Jakarta. This study used quantitative correlational method with technical data using questionnaires with grade IV G students at SDN Kapuk Muara 03, North Jakarta with 31 times the number and samples from this study. Data analysis using linearity test, simple linear regression, correlation coefficient, determination coefficient and simultaneous F test. The results of the study were as large: there was a relationship between parenting patterns and students' learning interests, as seen from the F test results of 1791.4 > 4.17 with 98% points courtesy of authoritative parenting patterns.

 

Keywords: parenting styles; interest in learn; student interest

 

 

Pendahuluan

Keluarga ialah lingkungan yang pertama kali menerima adanya kehadiran anak. Keluarga sendiri terdiri atas ayah, ibu, kakak, dan adik. Keluarga sebagai suatu kelompok sosial yang pertama anak dapat berinteraksi secara luas. Faktor terpenting dalam terjadinya pembentukan kepribadian anak dalam keluarga adalah pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Setiap orang tua pasti mempunyai cara tersendiri untuk mendidik anaknya. Dimana pola asuh itu sendiri sangat berpengaruh bagi perkembangan serta perilaku dan karakteristik anak. Pola asuh menjadi cara dimana orang tua memiliki cara yang ditempuhnya untuk mendidik anaknya sebagai suatu perwujudan  rasa tanggung jawabnya kepada sang anak.

Faktor pada penerapan pola asuh oleh orang tua dapat berdasarkan pekerjaan, lingkungan, tempat tinggal, maupun kebiasaannya (Kusumawardani & Fauziah, 2020). Berkaitan dengan itu (Wulansari & Gunarsa, 2013) menyebutkan bahwa ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi pola asuh: (1) pendidikan orang tua, (2) lingkungan, (3) Budaya.

Diana Baumrind dalm (Musman, 2020) membagi pola asuh menjadi 4 kategori: (1) pola asuh authoritative (demokratis), (2) authoritarian (otoriter),  (3) permissive (permisif), dan (4) uninvolved (pelantar). Pola asuh demokratis atau authoritative parenting adalah model atau gaya pengasuhan dimana orang tua lebih bersikap rasional dan cenderung lebih bersikap realistis serta tidak menutut anak dan berharap yang berlebihan terhadap anaknya yang mampu melampaui batas dari kemampuan anaknya.

Seiring dengan itu, (Musman, 2020) menyatakan ciri-ciri dari pola asuh model authoritarian (otoriter) sebagai model pengasuhan dimana orang tua lebih membatasi , menuntut anaknya untuk mengikuti perintah yang dikatakan oleh orang tuanya. Orang tua yang mempunyai model seperti ini cenderung lebih menggunakan ancaman-ancaman terhadap anaknya tetapi masih memperlihatkan sikap yang hangat, berwibawa dan melibatkan anak dalam mengambil keputusan.

Berlainan dengan pola asuh otoriter, pola asuh permisif atau permissive parenting lebih memperbolehkan anak untuk melakukan apa saja. Orang tua yang memakai model pengasuhan seperti ini biasanya lebih sedikit memberikan pengawasan dan mengalemkan anaknya. Anak akan menjadi individu yang kreatif dan percaya diri tetapi anak akan lebih bersifat agresif dan cenderung susah untuk mengendalikan diri mereka.

Lain dengan ketiganya, model pengasuhan uninvolved (pelantar) lebih cenderung kepada model pengasuhan dimana orang tua hanya mementingkan kepentingan nya sendiri dan tidak mau terlibat dalam hal kehidupan anak mereka. Orang tua yang memiliki gaya pengasuhan seperti ini cenderung lebih menelantarkan anaknya, dan tidak mau tau tentang urusan anak mereka.

Tiap pola asuh yang diberikan serta diterapkan pasti sangat mempunyai pengaruh pada anak. Perlakuan orang tua kepada anak dapat mempengaruhi bagaimana tingkah, sikap serta perilaku anak. Terlebih dimasa pandemi ini, anak tentu akan lebih dekat dengan orang tuanya dan cenderung akan terkontrol aktivitasnya oleh orang tua. Salah satu contohnya adalah dengan melaksanakan pembelajaran secara daring di rumah, orang tua akan dituntut untuk mendampingi dan mengajarkan anaknya dalam melaksanakan pembelajaran secara daring. Namun disisi lain, dalam hal mendampingi anak untuk melakukan pembelajaran secara daring, beberapa orang tua pasti mengalami kesulitan dalam mengajarkan, dan mengarahkan anak untuk melakukan pembelajaran sehingga kebanyakan orang tua cenderung mengalami stres. Khususnya bagi Ibu rumah tangga yang secara mendadak harus mendampingi anaknya belajar dalam berbagai kesulitan.

Berkaitan dengan itu dalam kegiatan belajar, tentu terdapat minat yang sangat erat hubungannya dengan belajar. Minat Belajar tentu menjadi faktor utama yang dapat menjadi daya penggerak untuk menimbulkan perbuatan belajar. Karena tanpa adanya minat, pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif yang nantinya dapat membawa dampak yang positif bagi seseorang. 

Minat Belajar itu sendiri terdiri dari kata “Minat” dan “Belajar”, yang dimana minat merupakan suatu keinginan atau ketertarikan dalam diri sendiri terhadap sesuatu hal. Minat tentu sangat berpengaruh dalam diri seseorang, adanya minat tersebut sangat membawa dampak positif bagi diri seseorang. (Slameto, 1988) mengartikan minat sebagai suatu rasa yang dipunyai oleh seseorang untuk  menyukai dan mempunyai rasa ketertarikan terhadap sesuatu perihal ataupun kegiatan yang bisa bermanfaat bagi dirinya, tanpa adanya suruhan dari orang lain.

Sedangkan menurut (Gie, 2002) minat berarti suatu ketertarikan, terlibat pada suatu kegiatan dan menyadari akan kegiatan itu. Demikian menurut (Utama, 2013) pun mengatakan bahwa minat berarti suatu bentuk pemusatan perhatian yang secara spontan terlahir dengan adanya kemauan dalam diri seseorang yang bergantung dari bakat dan lingkungannya. Minat memiliki dua aspek yang dikandungnya, pertama terdapat aspek kognitif yang artinya minat berisikan tentang hasil interaksi dari lingkungannya berdasarkan pada pengetahuan, pemahaman yang dimilikinya. Kedua aspek afektif, dimana minat dapat tertuju pada emosional seorang dalam bentuk proses untuk menilai dan menentukan suatu kegiatan yang disenangi. Minat juga dapat menjadi salah satu aspek dari psikologi yang tertinggi dimana minat dapat berpengaruh oleh beberapa faktor, baik itu dari segi faktor internal dan eksternal.

Sedangkan belajar berarti suatu wujud dari proses aktivitas yang dicoba oleh seseorang untuk memperoleh suatu pengetahuan, meningkatkan keterampilan nya, dan memperbaiki prilaku dan sikap guna mendapatkan suatu perubahan. (Slameto, 1988) mengartikan belajar sebagai usaha dimana dari adanya usaha tersebut terdapat proses yang nantinya akan memperoleh perubahan sehingga membentuk menjadi prilaku yang baru secara kesuluruhan, yang nantinya menjadi hasil dari pengalaman seseorang tersebut dalam berhubungan terhadap lingkungannya

Berdasarkan penerapannya, belajar dapat dikatakan sebagai suatu bentuk kegiatan yang dapat memungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan, prilaku dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar (Komara, 2014). Seperti halnya yang dikatakan Cronbach dalam bukunya Educational Psychology, belajar juga dikatakan sebagai perubahan performansi sebagai hasil dari suatu praktek. Sehingga dapat diberi kesimpulan bahwa  belajar ialah sebuah proses perubahan yang ada pada manusia, dimana bila tidak adanya perubahan tersebut maka tidak dapat dikatakan sebagai suatu proses belajar. Adapun indikator minat belajar menurut (Nurhasanah & Sobandi, 2016) diantaranya: (1) rasa senang, (2) ketertarikan, (3) perhatian, (4) keterlibatan.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Khairunnisa & Kurniatin, 2016) melakukan penelitian terhadap siswa remaja pada paket B di PKBM Mutiara Banten, digunakan sebagai sampel dan populasi terhadap penelitian nya. Dari penelitian tersebut dinyatakan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan minat belajar siswa remaja tersebut, namun masih kedalam kategori hubungan yang sedang atau pola asuh orang tua mempunyai kontribusi terhadap minat belajar siswa tersebut.

Peneliti mencoba melakukan penelitian yang sama namun memakai siswa kelas IV SD sebagai sampel dan populasi untuk penelitiannya dengan tujuan untuk melihat hubungan pola asuh  oleh orang tua pada siswa kelas IV tersebut memiliki kontribusi yang cukup atau malah memiliki kontribusi yang besar pada minat belajar siswa. Terutama pada saat ini ketika pembelajaran secara daring dilaksanakan, para siswa tetap mempunyai rasa keinginan belajar yang tinggi. Namun hal tersebut meniscayakan adanya faktor pendorong, pembiasaan diri, serta komunikasi efektif agar anak dapat tetap optimal belajar meski proses belajar dilakukan sepenuhnya di rumah, maka secara otomatis akan timbul pula rasa ketertarikannya terhadap belajar. Sehingga, peran orang tua yang menjadi faktor utama untuk memberikan pembiasaan terhadap anaknya dan memberikan pemahaman tentang betapa pentingnya belajar dan apa manfaat belajar bagi si anak.

 

Metode Penelitian

Peneliti menggunakan metode kuantitatif korelasional. Dengan objek penelitian, yang terdapat variabel pola asuh dan variabel minat belajar. Pola asuh dalam penelitian ini yaitu suatu bentuk pengasuhan yang diberikan orang tua untuk mengajarkan, mendidik, dan mengasuh anaknya sebagai bentuk dari rasa tanggung jawab terhadap anaknya dan minat belajar dalam penelitian ini yaitu bagaimana siswa menunjukkan minatnya terhadap pelajaran dan senang berdiskusi dengan orang tuanya tentang pelajaran selama berada di rumah (Sugiyono, 2012).  Adapun populasi dan sampel pada penelitian ini memakai siswa kelas IV-G SDN Kapuk Muara 03, Jakarta Utara yang berjumlah 31 siswa dengan teknik pengambilan data menggunakan teknik simple random sampling. Dan metode pengambilan data yang dipakai yaitu metode angket yang dibuat dalam bentuk google form dengan menggunakan skala likert, dengan analisis data yang dipakai yaitu uji linearitas, uji regresi linear sederhana, uji koefisien korelasi, koefisien determinasi dan uji F simultan (Sugiyono, 2015).

 

 

 

 

 

Hasil dan Pembahasan

Analisis data yang digunakan diantaranya:

Tabel 1

Deskripsi Data Pola Asuh dengan Minat Belajar

Variabel

Mean

Std. Deviation

N

Pola asuh

   53.26

  19.440

       31

Minat belajar

   54.90

  18.997

       31

 

Hasil penelitian pada tabel deskripsi data diatas terdapat nilai mean pada pola asuh sebesar 53.26 dengan standar deviasi 19.440, dan nilai mean minat belajar sebesar 54.90 dengan standar deviasi 18.997 pada sampel sejumlah 31 responden.

 

Tabel 2

Uji Normalitas

Variabel

Lhitung

Ltabel

Keterangan

Pola Asuh (X)

0.1552

0.1559

Normal

Minat Belajar (Y)

0.1303

0.1559

Normal

 

Pada tabel perhitungan uji normalitas diatas menunjukkan bahwa hasil dari uji normalitas pada setiap variabel tersebut dinyatakan normal, hal tersebut dilihat oleh jika nilai Ltabel < Lhitung  berarti data tersebut berdistribusi normal.

 

Tabel 3

Variabel

Fhitung

Distribusi F probabilita = 0.05

 

df1

df2

Ftabel 0.05

Keterangan

X – Y

0.97

1

30

4.17

Linear

Uji Linearitas

 

Uji linearitas yang dilakukan pada tabel 3 untuk melihat bagaimana Pola Asuh dengan Minat Belajar Siswa memiliki hubungan yang linear, sehingga dapat dilihat bahwa nilai Fhitung yang terdapat < daripada Ftabel pada taraf probabilita F = 0.05 sehingga disimpulkan kedua variabel dinyatakan linear.

 

Tabel 4

Regresi Linear Sederhana

         Model

       Sum of

       Square

df

Mean Square

F

Sig

  Regression

11157.325

1

1157.325

1791.492

.000

  1   Residual

180.661

29

6.228

       Total

11337.935

30

 

 

 

a. Dependent Variable: Minat Belajar

b. Predictors: (Constant), Pola Asuh

 

 

Tabel 5

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Unstandardized

                                                           Coefficients      

t

Sig.

 

B

Std. Error

Beta

 

 

(Constant)

-2.477

1.391

 

-1.781

0.085

Pola Asuh

1.015

0.24

0.992

42.326

.000

a. Dependent Variable: Minat Belajar

 

Dilihat dari analisis regresi sederhana yang ada di tabel 4 diperoleh bahwa nilai signifikan yang terdapat adalah .000 yang artinya < kriteria signifikan yaitu (0.05) sehingga dinyatakan model persamaan regresi tersebut berdasarkan data penelitian yang di dapat berkriteria atau linear dengan persamaan regresi yang di dapat yaitu Y= 0.085 + 1.015X. hasil dari persamaan tersebut didapat oleh nilai signifikan constant Y sebesar 0.085 dengan nilai coefficients B sebesar 1.015X.

Tabel 6

Uji Koefisien Korelasi

    Model

 

 

 

Adjusted

R Square

 

    Std.     Error

Change statistics

 

 

 

1

   R

       R        

Square

                        F change     df1       df2     sig

 

0.992

      0.984

0.984

    2.496         1791.492       1           29       000

a. Dependent Variable: Minat Belajar

b. Predictors: (Constant), Pola Asuh

 

Pengujian Koefisien Korelasi atau R2 dengan tujuan untuk melihat apakah bagaiamana derajat hubungan antara pola asuh dengan minat belajar siswa. Sehingga diketahui bahwa hasil pengujian korelasi pada tabel 5, diperoleh nilai R 0.992, yang artinya hubungan kedua variabel berada dikategori tinggi. Pada tabel tersebut juga diketahui nilai R square (koefisien determinasi) 0.984 yang berarti variabel x dan variabel y berpengaruh  besar yaitu 98% dan sisanya 1,6% dipengaruhi oleh faktor lain. 

 

Tabel 7

Uji F simultan

Variabel

F

Distribusi F probabilita = 0,05

 

 

Df1

Df2

Ftabel 0.05

X-Y

1791.492

1

30

4.17

 

Untuk hasil perhitungan uji f diatas menunjukkan nilai f 1791.4 dan nilai Ftabel pada taraf probabilita 0.05 sebesar 4.17, sehingga dapat dinyatakan nilai Fhitung > F tabel yang artinya Hipotesis 1 diterima, Hipotesis 0 ditolak yang berarti ada hubungan antara pola asuh dengan minat belajar siswa, dengan pola asuh dominan yang terdapat di penelitian ini adalah pola asuh otoriter karena hasil yang didapat pada pola asuh tersbeut sebesar 68.35% yang lebih besar dibandingkan dengan pola asuh lain, namun tidak berbeda secara signifikan. Hal tersebut juga dapat dibuktikan pada tabel korelasi dan tabel perolehan pola asuh yang ada dibawah ini.

Tabel 8

Rangkuman Hasil Korelasi Dua Variabel

 

 

Minat Belajar

   Pola Asuh

 

   Minat Belajar

      1.000

        .992

Pearson Correlation

   Pola Asuh

       .992

       1.000

Sig. (1-tailed)                   Minat Belajar                          .                             .000       

                                         Pola Asuh                              .000                           .

N                                      Minat Belajar                          31                           31

                                         Pola Asuh                                31                           31

 

Tabel 9

Perolehan Pola Asuh

Tipe Pola Asuh

Skor

Nilai max

Persentase

Authoritative (demokratis)

369

620

59.52%

Authoritarian (otoriter)

678

992

68.35%

Permissive (permisif)

382

620

61.61%

Uninvolved (pelantar)

289

496

58.27%

 

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa kedua variabel tersebut dinyatakan normal dan linear, hal tersebut dibuktikan pada hasil dari uji nomalitas dan linearitas dimana nilai Lhitung yang lebih kecil daripada nilai Ltabel yaitu sebesar 0.1552 < 0.1559 maka data tersebut dinyatakan normal, sebagaimana menurut (Sugiyono, 2015) apabila Lhitung < daripada Ltabel maka data tersebut berdistribusi normal. Sedangkan untuk perhitungan uji linearitas, menurut (Sugiyono, 2017) jika nilai dari data linear < Ftabel dengan taraf signifikansi 0.05, diartikan data tersebut berdistribusi linear, penelitian ini memiliki data berdistribusi linear hal tersebut dilihat oleh nilai Fhitung sebesar 0.97 dengan nilai Ftabel sebesar 4.17 yang artinya kedua data tersebut berdistribusi linear, dengan jumlah butir item kuesioner sebanyak 22 item pola asuh dan 20 item kuesioner untuk minat belajar dengan jumlah responden sebanyak 31 orang tua dan siswa.

Selanjutnya, untuk mengetahui bagaimana hubungan antara keduanya, peneliti menganalisis kembali dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana, maka diketahui bahwa konstanta a dengan nilai siginifikansi 0.085 dan koefisien regresi b 1.015 sehingga dapat diperoleh persamaan regresi Y= 0.085 + 1.015X. Dari data analisis terdapat juga hasil dari koefisien korelasi dengan nilai R 0.992 yang artinya kedua variabel memiliki tingkat hubungan yang tinggi sebagaimana yang dikatakan oleh (Wibowo, 2012). jika R mendekati satu maka bisa dikatakan bahwa keduanya mempunyai hubungan yang sangat kuat dan sebaliknya. Kemudian dari perhitungan koefisien korelasi tersebut terdapat nilai R square atau nilai R2 sebesar 0.984 yang berarti variabel bebas berpengaruh yang besar terhadap keseluruhan dari hasil nilai variabel yang lain, sebagaimana yang dikatakan oleh (Wibowo, 2012) apabila R2 mendekati angka satu, maka akan semakin besar variabel bebas berpengaruh pada variabel terikat. hasil perhitungan koefisien determinasi pada nilai R2 0.984 artinya nilai tersebut mendekati angka satu maka dapat dikatakan variabel bebas memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap variabel terikat.

Kemudian dilanjutkan kembali dengan perhitungan uji signifikasi simultan atau Uji F simultan, sebagaimana menurut (Ghozali, 2011) uji f digunakan untuk menguji apakah variabel bebas terhadap variabel terikat memiliki pengaruh secara simultan. Jika nilai Fhitung > F tabel artinya variabel bebas sangat berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat dengan taraf siginifikan distribusi F 0.05 dan sebaliknya. Dari data tersebut diketahui bahwa nilai Fhitung sebesar 1791.492 dengan nilai Ftabel probabilita 0.05 sebesar 4.17, maka kaidah keputusan tersebut dinyatakan: H1 diterima, H0 ditolak, artinya terdapat hubungan antara pola asuh dengan minat belajar siswa.

Adapun hasil yang dominan dari keempat pola asuh tersebut yang memiliki hubungan yang sangat besar terhadap minat belajar siswa yaitu terdapat pada pola asuh otoriter yang mendapati nilai persentase sebesar 68,35% yang artinya pola asuh otoriter memiliki hubungan yang sangat besar dibandingkan dengan pola asuh yang lainnya namun tidak berbeda secara signifikan hal tersebut dapat dilihat melalui tabel perhitungan hasil korelasi perolehan pola asuh yang terdapat pada tabel 6 dan 7 dimana pola asuh demokratis mendapati nilai persentase sebesar 59.52%, Otoriter 68.35%, Permisif 61.61% dan Pelantar 58.27%. Secara tidak langsung dapat diartikan pola asuh mempunyai hubungan yang signifikan dengan minat belajar siswa. Yang dimana pola asuh juga dapat dapat menumbuhkan dan mendukung pada perkembangan secara fisik, emosional, sosial, finansial dan intelektual seorang anak sejak bayi hingga dewasa. Dimana pola asuh juga dapat dikatakan sebagai bentuk didikan yang dilakukan  orang tua dengan memanfaatkan sumber yang tersedia dalam keluarga serta lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri (Musman, 2020).  Kegiatan belajar mandiri tersebut tentu tidak akan berjalan begitu saja tanpa adanya minat yang dimiliki oleh seorang anak, karena minat sangat berkaitan erat dengan adanya proses belajar. Tanpa adanya minat tersebut proses belajar tidak akan berjalan dan menghasilkan suatu aktifitas yang positif, sebagaimana yang dikatakan oleh (Ista, 2017) bahwa minat belajar sangat berpengaruh dalam diri seseorang atau individu. Dengan adanya minat tersebut maka seseorang akan melakukan sesuatu yang dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri.

 

Kesimpulan

Hasil penelitian ini mempunyai kesimpulan bahwa data yang didapat dari kedua variabel tersebut berdistribusi normal dan linear hal tersebut dapat dilihat oleh tabel 2 dan 3. Pola Asuh sangat berhubungan dengan Minat Belajar Siswa. Hal tersebut dapat dilihat pada  perhitungan nilai R2 bahwa variabel x memiliki hubungan yang kuat dengan variabel y dengan total persentase 0.984% berhubungan sangat kuat dengan gaya pengasuhan otoriter yang lebih dominan. Dengan demikian kaidah keputusan yang terdapat yaitu H1 diterima dan H0 ditolak, artinya terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan minat belajar siswa kelas IV di SDN Kapuk Muara 03, Jakarta Utara.

 


BIBLIOGRAFI

 

Ghozali, Imam. (2011). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. Diponegoro Journal Of Accounting, 1(2), 1–10. Google Scholar

 

Gie, Teh Liang. (2002). Cara Belajar Efisien I. Yogyakarta: PUBIB. Google Scholar

 

Ista, Akram. (2017). Metode Bimbingan dan Penyuluhan dalam Pendampingan Anak yang Bermasalah di Balai Pemasyarakatan (BAPAS) Klas I Makassar. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Google Scholar

 

Khairunnisa, Arin, & Kurniatin, Nia. (2016). Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Minat Belajar Remaja Pada Kejar Paket B Di PKBM Mutiara Bangsa Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. Jurnal Teknologi Pendidikan, 5(1). Google Scholar

 

Komara, Endang. (2014). Belajar dan pembelajaran interaktif. Bandung: Refika Aditama. Google Scholar

 

Kusumawardani, Cindy Tri, & Fauziah, Puji Yanti. (2020). Pola Asuh Orangtua Tentara Nasional Indonesia pada Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 10241034. Google Scholar

 

Musman, Asti. (2020). Seni Mendidik Anak di Era 4.0: Segala Hal yang Perlu Anda Ketahui dalam Mendidik Anak di Era Milenial; Mewujudkan Anak Cerdas, Mandiri, dan Bermental Kuat. Anak Hebat Indonesia. Google Scholar

 

Nurhasanah, Siti, & Sobandi, Ahmad. (2016). Minat belajar sebagai determinan hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran (JPManper), 1(1), 128–135. Google Scholar

 

Slameto. (1988). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Bina Aksara. Google Scholar

 

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B. Bandung: CV. Alfabeta. Google Scholar

 

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian dan Pengembangan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Metode Penelitian Dan Pengembangan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, Dan R&D. Bandung: Alfabeta. Google Scholar

 

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif. Google Scholar

 

Utama, Pustaka. (2013). Ahmadi, A. 2009. Psikologi Umum Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Azwar, S. 2006. Reliabilitas d. International Journal, 1(1), 49–57. Google Scholar

 

Wibowo, Agung Edy. (2012). Aplikasi Praktis SPSS dalam penelitian. Yogyakarta: Gava Media. Google Scholar

 

Wulansari, Catharina Dewi, & Gunarsa, Aep. (2013). Sosiologi: Konsep dan teori. Refika Aditama. Google Scholar

 

Copyright holder:

Lucyana Tri Indriani, Mubarak Ahmad (2021)

 

First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

 

This article is licensed under: